Arsip Vivekananda

Reinkarnasi

Jilid4 essay
4,818 kata · 19 menit baca · Writings: Prose

Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.

AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.

Bahasa Indonesia

Di antara sekian banyak teka-teki yang telah membingungkan akal budi manusia di segala iklim dan zaman, yang paling rumit adalah dirinya sendiri. Di antara segudang misteri yang telah membangkitkan segenap daya upayanya untuk dipecahkan sejak fajar sejarah, yang paling misterius adalah hakikatnya sendiri. Ia sekaligus merupakan enigma yang paling tidak terpecahkan dan persoalan dari segala persoalan. Sebagai titik tolak dan tempat penyimpanan segala yang kita ketahui, kita rasakan, dan kita lakukan, tidak pernah ada, dan tidak akan pernah ada, suatu masa ketika hakikat diri manusia berhenti menuntut perhatiannya yang utama dan terdepan.

Meskipun karena lapar akan kebenaran itu, yang di antara segala kebenaran lain memiliki kaitan paling intim dengan keberadaannya sendiri, meskipun karena hasrat yang menguasai segalanya untuk memperoleh suatu tolok ukur batiniah guna mengukur alam semesta lahiriah, meskipun karena kebutuhan mutlak dan inheren untuk menemukan suatu titik tetap di alam semesta yang serba berubah, manusia kadang-kadang telah meraup segenggam debu menyangkanya emas, dan bahkan ketika didorong oleh suara yang lebih tinggi daripada nalar atau akal, ia berkali-kali gagal menafsirkan dengan tepat makna sejati dari keilahian di dalam dirinya — namun tetap saja tidak pernah ada suatu masa sejak pencarian itu dimulai, ketika sebagian ras, atau sebagian individu, tidak mengangkat tinggi-tinggi pelita kebenaran.

Dengan memandang lingkungan sekitar dan rincian yang tidak hakiki secara sepihak, sekilas pandang, dan penuh prasangka, kadang-kadang juga muak dengan kekaburan banyak mazhab dan sekte, dan kerap kali, sayang sekali, terdorong ke ekstrem yang berlawanan oleh takhayul-takhayul keras dari kependetaan yang terorganisasi — selalu ada orang, terutama di antara para intelektual maju, baik di zaman kuno maupun modern, yang bukan saja menyerah dalam pencarian itu dengan putus asa, tetapi juga menyatakannya tidak berbuah dan sia-sia. Para filsuf boleh saja jengkel dan mencibir, dan para pendeta boleh saja menjalankan dagangan mereka bahkan dengan ujung pedang, tetapi kebenaran hanya datang kepada mereka yang menyembah di altarnya semata demi kebenaran itu sendiri, tanpa rasa takut dan tanpa berdagang.

Cahaya datang kepada perorangan melalui upaya sadar dari akal budi mereka; cahaya itu datang, meski perlahan, kepada seluruh ras melalui perembesan yang tidak disadari. Para filsuf memperlihatkan perjuangan kehendak dari pikiran-pikiran besar; sejarah menyingkapkan proses peresapan yang sunyi, yang melaluinya kebenaran diserap oleh khalayak banyak.

Dari semua teori yang pernah dianut manusia tentang dirinya sendiri, teori tentang adanya suatu entitas jiwa, terpisah dari tubuh dan abadi, telah menjadi yang paling tersebar luas; dan di antara mereka yang menganut keyakinan akan adanya jiwa semacam itu, sebagian besar dari kalangan pemikir senantiasa juga meyakini adanya eksistensi jiwa sebelum kelahiran.

Pada saat ini sebagian besar umat manusia, yang memiliki agama terorganisasi, meyakininya; dan banyak pemikir terbaik di negeri-negeri yang paling diberkati, walaupun dibesarkan dalam agama-agama yang secara terbuka memusuhi setiap gagasan tentang pra-eksistensi jiwa, telah mengakuinya. Hindu dan Buddha menjadikannya sebagai fondasi mereka; kalangan terdidik di antara bangsa Mesir kuno meyakininya; bangsa Persia kuno sampai pada keyakinan itu; para filsuf Yunani menjadikannya batu penjuru filsafat mereka; kaum Farisi di antara orang Ibrani menerimanya; dan kaum Sufi di kalangan umat Muhammadan hampir secara universal mengakui kebenarannya.

Pasti ada lingkungan khas yang melahirkan dan memelihara bentuk-bentuk keyakinan tertentu di antara bangsa-bangsa. Dibutuhkan berabad-abad bagi ras-ras kuno untuk sampai pada gagasan apa pun tentang adanya bagian, bahkan dari tubuh, yang bertahan setelah kematian; dibutuhkan berabad-abad lagi untuk sampai pada gagasan yang rasional tentang sesuatu yang bertahan dan hidup terpisah dari tubuh. Hanya ketika gagasan tercapai mengenai suatu entitas yang hubungannya dengan tubuh hanyalah untuk sementara waktu, dan hanya di antara bangsa-bangsa yang sampai pada kesimpulan demikian, pertanyaan yang tak terhindarkan pun muncul: Ke mana? Dari mana?

Bangsa Ibrani kuno tidak pernah mengganggu ketenangan mereka dengan mempertanyakan diri tentang jiwa. Bagi mereka, kematian mengakhiri segalanya. Karl Heckel dengan tepat mengatakan, "Meskipun benar bahwa dalam Perjanjian Lama, sebelum pembuangan, bangsa Ibrani membedakan suatu prinsip kehidupan, yang berbeda dari tubuh, yang kadang-kadang disebut 'Nephesh', atau 'Ruakh', atau 'Neshama', namun semua kata ini lebih sesuai dengan gagasan napas daripada dengan gagasan roh atau jiwa. Demikian pula dalam tulisan-tulisan orang Yahudi Palestina, setelah pembuangan, tidak pernah disebutkan tentang jiwa abadi yang bersifat individual, melainkan selalu hanya tentang napas kehidupan yang berasal dari Tuhan, yang setelah tubuh terurai, diserap kembali ke dalam 'Ruakh' Ilahi."

Bangsa Mesir kuno dan bangsa Kasdim memiliki keyakinan khas mereka sendiri tentang jiwa; tetapi gagasan mereka tentang bagian yang hidup setelah kematian ini tidak boleh dicampuradukkan dengan gagasan bangsa Hindu kuno, Persia, Yunani, atau ras Arya lainnya. Sejak zaman paling awal, terdapat perbedaan tajam antara bangsa Arya dan bangsa Mlechchha yang tidak berbahasa Sanskerta dalam konsepsi tentang jiwa. Secara lahiriah, hal ini ditandai oleh cara mereka memperlakukan jenazah — bangsa Mlechchha umumnya berusaha sekuat tenaga mengawetkan jasad orang mati, baik melalui penguburan yang cermat maupun melalui proses mumifikasi yang lebih rumit, sedangkan bangsa Arya umumnya membakar jenazah mereka.

Di sinilah terletak kunci suatu rahasia besar — fakta bahwa tidak ada satu pun ras Mlechchha, baik Mesir, Asyur, maupun Babilonia, yang pernah sampai pada gagasan tentang jiwa sebagai entitas terpisah yang dapat hidup mandiri dari tubuh, tanpa bantuan dari bangsa Arya, khususnya bangsa Hindu.

Walaupun Herodotus menyatakan bahwa bangsa Mesir adalah yang pertama mengonsepsikan gagasan tentang keabadian jiwa, dan menyatakan sebagai doktrin bangsa Mesir "bahwa jiwa setelah peluruhan tubuh masuk berulang-ulang ke dalam makhluk yang dilahirkan; kemudian, bahwa jiwa itu mengembara melalui semua binatang darat dan laut serta melalui semua burung, dan akhirnya setelah tiga ribu tahun kembali ke tubuh manusia," namun penelitian modern terhadap Egyptologi sampai saat ini tidak menemukan jejak metempsikosis dalam agama Mesir yang populer. Sebaliknya, penelitian terbaru oleh Maspero, A. Erman, dan para Egyptolog terkemuka lainnya cenderung memperkuat dugaan bahwa doktrin palingenesis bukan berasal dari bangsa Mesir.

Bagi bangsa Mesir kuno, jiwa hanyalah suatu kembaran, tanpa individualitas tersendiri, dan tidak pernah mampu memutuskan hubungannya dengan tubuh. Ia hanya bertahan selama tubuh masih ada; dan jika kebetulan jenazah itu dihancurkan, jiwa yang telah pergi harus mengalami kematian kedua dan kemusnahan. Setelah kematian, jiwa diizinkan berkelana bebas ke seluruh dunia, tetapi selalu kembali pada malam hari ke tempat jenazah berada, selalu sengsara, selalu lapar dan haus, selalu sangat berhasrat untuk menikmati hidup sekali lagi, dan tidak pernah mampu memenuhi hasrat itu. Jika ada bagian dari tubuh lamanya yang rusak, jiwa pun selalu terluka pada bagian yang bersangkutan. Dan gagasan inilah yang menjelaskan kepedulian bangsa Mesir kuno untuk mengawetkan jenazah mereka. Pada mulanya gurun dipilih sebagai tempat pemakaman, karena kekeringan udara mencegah tubuh segera membusuk, sehingga memberikan kepada jiwa yang telah pergi suatu masa keberadaan yang panjang. Seiring berjalannya waktu, salah satu dewa menemukan proses pembuatan mumi, yang melaluinya orang-orang saleh berharap dapat mengawetkan jasad leluhur mereka untuk jangka waktu yang nyaris tak terhingga, sehingga menjamin keabadian bagi roh yang telah pergi, betapapun sengsaranya roh itu.

Penyesalan tiada henti terhadap dunia, di mana jiwa tidak dapat lagi memiliki minat apa pun, tidak pernah berhenti menyiksa yang telah meninggal. "Wahai saudaraku," seru yang telah pergi, "janganlah engkau menahan diri dari minum dan makan, dari kemabukan, dari cinta, dari segala kenikmatan, dari mengikuti hasratmu siang dan malam; jangan biarkan kesedihan di dalam hatimu, karena, berapakah usia manusia di atas bumi? Barat adalah negeri tidur dan bayang-bayang yang pekat, suatu tempat yang penghuninya, sekali dimakamkan, terus tertidur dalam wujud mumi mereka, tidak pernah lagi terbangun untuk melihat saudara-saudara mereka; tidak pernah lagi mengenali bapak dan ibu mereka, dengan hati yang lupa akan istri dan anak-anak mereka. Air kehidupan, yang dianugerahkan bumi kepada semua yang berdiam di atasnya, bagiku diam dan mati; air itu mengalir kepada semua yang berada di bumi, sementara bagiku ia hanyalah pembusukan cair, air yang menjadi milikku ini. Sejak aku datang ke lembah pemakaman ini, aku tidak tahu di mana atau apa diriku. Berilah aku minum dari air yang mengalir . . . letakkanlah aku di tepi air dengan wajahku menghadap ke Utara, agar angin sepoi membelai diriku dan hatiku disegarkan dari kesedihannya."

Di kalangan bangsa Kasdim juga, walaupun mereka tidak begitu banyak berspekulasi seperti bangsa Mesir mengenai kondisi jiwa setelah kematian, jiwa tetaplah suatu kembaran dan terikat pada makamnya. Mereka pun tidak dapat membayangkan suatu keadaan tanpa tubuh fisik ini, dan mengharapkan kebangkitan jenazah kembali hidup; dan walaupun dewi Ishtar, setelah melalui bahaya dan petualangan besar, berhasil membangkitkan suami gembalanya, Dumuzi, putra Ea dan Damkina, "Para pemuja yang paling saleh memohon dengan sia-sia dari kuil ke kuil, demi kebangkitan para sahabat mereka yang telah mati."

Demikianlah kita dapati bahwa bangsa Mesir kuno maupun bangsa Kasdim tidak pernah dapat sepenuhnya melepaskan gagasan tentang jiwa dari jenazah yang telah pergi atau dari makam. Keadaan eksistensi duniawi adalah yang terbaik bagaimanapun juga; dan yang telah pergi selalu mendambakan kesempatan sekali lagi untuk memperbaruinya; dan yang masih hidup berharap dengan tulus untuk membantu mereka dalam memperpanjang eksistensi kembaran yang sengsara itu serta berjuang sekuat mungkin untuk menolong mereka.

Ini bukanlah tanah yang darinya pengetahuan yang lebih tinggi tentang jiwa dapat tumbuh. Pertama-tama, ia bersifat materialistis yang kasar, dan bahkan demikian, ia adalah pengetahuan yang penuh teror dan derita. Ditakuti oleh hampir tak terhitung banyaknya kekuatan jahat, dan dengan upaya yang putus asa dan menyiksa untuk menghindarinya, jiwa yang masih hidup, seperti gagasan mereka tentang jiwa yang telah pergi — sekalipun mereka mengembara ke seluruh dunia — tidak pernah dapat melampaui makam dan jenazah yang terurai.

Kita harus beralih sekarang demi mencari sumber gagasan-gagasan yang lebih tinggi tentang jiwa kepada ras lain, yang Tuhannya adalah Sosok Yang Maha Penyayang dan Maha Meliputi, yang memanifestasikan Diri-Nya melalui berbagai Deva yang cerah, ramah, dan menolong, ras manusia pertama yang menyapa Tuhan mereka sebagai Bapa "Oh, peganglah aku pada tangan-Mu sebagaimana seorang bapa memegang putranya yang terkasih"; yang bagi mereka hidup adalah harapan, bukan keputusasaan; yang agamanya bukanlah rintihan yang sesekali terlontar dari bibir manusia yang menderita di sela-sela kehidupan yang penuh keriangan gila-gilaan; melainkan yang gagasan-gagasannya sampai kepada kita dengan harum padang dan hutan; yang lagu-lagu pujiannya — spontan, bebas, riang, seperti lagu yang menyembur dari tenggorokan burung-burung ketika menyambut dunia yang indah ini yang diterangi oleh sinar pertama sang penguasa siang — sampai kepada kita bahkan sekarang melalui rentang delapan puluh abad sebagai panggilan-panggilan segar dari surga; kita beralih kepada bangsa Arya kuno.

"Tempatkanlah aku di dunia yang tak mengenal kematian dan tak melapuk itu, tempat cahaya surga berada, dan kemilau abadi bersinar"; "Jadikanlah aku abadi di alam tempat putra Raja Vivasvân berdiam, tempat altar rahasia surga berada"; "Jadikanlah aku abadi di alam tempat mereka bergerak sesuka hati"; "Di sfera ketiga surga terdalam, tempat dunia-dunia penuh cahaya, jadikanlah aku abadi di alam kebahagiaan itu" — Inilah doa-doa bangsa Arya dalam catatan tertua mereka, Rig-Veda Samhita.

Kita segera menemukan perbedaan seluruh dunia antara cita-cita Mlechchha dan cita-cita Arya. Bagi yang satu, tubuh ini dan dunia ini adalah segala yang nyata, dan segala yang diinginkan. Sedikit cairan kehidupan yang terbang keluar dari tubuh saat mati, untuk merasakan siksaan dan derita atas hilangnya kenikmatan indrawi, dengan harapan penuh sayang mereka, dapat dipulihkan jika tubuh dipelihara dengan saksama; dengan demikian sebuah jenazah menjadi objek perhatian lebih daripada manusia yang masih hidup. Yang lain menemukan bahwa apa yang meninggalkan tubuh itulah manusia yang sesungguhnya; dan ketika terpisah dari tubuh, ia menikmati keadaan kebahagiaan yang lebih tinggi daripada yang pernah dinikmatinya selagi berada di dalam tubuh. Maka mereka pun bergegas memusnahkan jenazah yang membusuk itu dengan membakarnya.

Di sinilah kita temukan benih yang darinya gagasan sejati tentang jiwa dapat tumbuh. Di sinilah — di mana manusia sejati bukanlah tubuh, melainkan jiwa, di mana semua gagasan tentang hubungan yang tidak terpisahkan antara manusia sejati dan tubuh sama sekali tidak ada — sebuah gagasan luhur tentang kebebasan jiwa dapat muncul. Dan ketika bangsa Arya menembus bahkan melampaui selubung tubuh yang bercahaya tempat jiwa yang telah pergi terbungkus, dan menemukan hakikat sejatinya sebagai prinsip kesatuan yang tak berbentuk, individual, maka pertanyaan itu tak terelakkan muncul: Dari mana?

Di India dan di antara bangsa Arya-lah doktrin tentang pra-eksistensi, keabadian, dan individualitas jiwa pertama kali muncul. Penelitian-penelitian terbaru di Mesir gagal menunjukkan jejak doktrin tentang jiwa yang mandiri dan individual yang ada sebelum dan sesudah fase eksistensi duniawi. Beberapa misteri tentu saja menguasai gagasan ini, tetapi pada misteri-misteri itu telah dilacak asalnya ke India.

"Saya yakin," kata Karl Heckel, "bahwa semakin dalam kita memasuki studi tentang agama Mesir, semakin jelas terlihat bahwa doktrin metempsikosis sama sekali asing bagi agama Mesir yang populer; dan bahwa bahkan apa yang dimiliki oleh beberapa misteri tunggal tentangnya bukanlah inheren dalam ajaran Osiris, melainkan diturunkan dari sumber-sumber Hindu."

Belakangan, kita dapati orang Yahudi Aleksandria diresapi doktrin tentang jiwa yang individual, dan kaum Farisi pada zaman Yesus, sebagaimana telah disebutkan, bukan saja memiliki keyakinan pada jiwa yang individual, tetapi juga meyakini pengembaraannya melalui berbagai tubuh; dan dengan demikian mudah dipahami mengapa Kristus dikenali sebagai inkarnasi seorang Nabi yang lebih tua, dan Yesus sendiri secara langsung menyatakan bahwa Yohanes Pembaptis adalah Nabi Elias yang kembali lagi. "Jika kamu mau menerimanya, dialah Elias, yang akan datang." — Mat. XI. 14.

Gagasan tentang jiwa dan individualitasnya di kalangan orang Ibrani jelas datang melalui ajaran mistis yang lebih tinggi dari bangsa Mesir, yang pada gilirannya memperolehnya dari India. Dan bahwa hal itu harus datang melalui Aleksandria adalah signifikan, sebab catatan-catatan Buddhis dengan jelas menunjukkan aktivitas misionaris Buddhis di Aleksandria dan Asia Kecil.

Pythagoras dikatakan sebagai orang Yunani pertama yang mengajarkan doktrin palingenesis di antara bangsa Hellen. Sebagai ras Arya, yang sudah membakar jenazah mereka dan meyakini doktrin jiwa yang individual, mudah bagi bangsa Yunani untuk menerima doktrin reinkarnasi melalui ajaran Pythagoras. Menurut Apuleius, Pythagoras telah datang ke India, di mana ia telah diajar oleh para Brahmin.

Sejauh ini kita telah belajar bahwa di mana pun jiwa diyakini sebagai sesuatu yang individual, manusia yang sesungguhnya, dan bukan sekadar bagian yang menghidupkan tubuh, doktrin tentang pra-eksistensinya tak terhindarkan muncul, dan bahwa secara lahiriah bangsa-bangsa yang meyakini individualitas mandiri dari jiwa hampir selalu mengisyaratkannya dengan membakar jenazah orang yang telah pergi. Walaupun salah satu dari ras Arya kuno, yaitu bangsa Persia, mengembangkan pada masa awal dan tanpa pengaruh Semit apa pun suatu metode khas dalam memperlakukan jenazah orang mati, nama yang mereka berikan untuk "Menara Keheningan" mereka itu sendiri berasal dari akar kata Dah, yaitu membakar.

Singkatnya, ras-ras yang tidak banyak menaruh perhatian pada analisis terhadap hakikat diri mereka sendiri, tidak pernah melampaui tubuh material sebagai seluruh segalanya bagi mereka, dan bahkan ketika didorong oleh cahaya yang lebih tinggi untuk menembus melampauinya, mereka hanya sampai pada kesimpulan bahwa entah bagaimana, pada suatu masa yang jauh di kemudian hari, tubuh ini akan menjadi tidak dapat membusuk.

Sebaliknya, ras yang mencurahkan bagian terbaik dari energinya pada penyelidikan tentang hakikat manusia sebagai makhluk yang berpikir — yaitu Indo-Arya — segera menemukan bahwa di balik tubuh ini, bahkan di balik tubuh bercahaya yang didambakan oleh leluhur mereka, terdapatlah manusia yang sesungguhnya, prinsip, individu yang membungkus dirinya dengan tubuh ini, dan kemudian melepaskannya ketika sudah usang. Apakah prinsip semacam itu diciptakan? Jika penciptaan berarti sesuatu yang muncul dari ketiadaan, jawaban mereka adalah "Tidak" yang tegas. Jiwa ini tidak berkelahiran dan tidak berkematian; ia bukanlah suatu campuran atau kombinasi, melainkan suatu individu yang mandiri, dan sebagai demikian ia tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan. Ia hanya mengembara melalui berbagai keadaan.

Wajar pertanyaan muncul: Di manakah ia selama ini? Para filsuf Hindu mengatakan, "Ia sedang melalui berbagai tubuh dalam pengertian fisik, atau, sungguh dan secara metafisis, sedang melalui berbagai bidang mental."

Adakah bukti-bukti apa pun selain ajaran Veda yang menjadi landasan doktrin reinkarnasi sebagaimana yang dibangun oleh para filsuf Hindu? Ada, dan kami berharap dapat menunjukkan nanti bahwa terdapat dasar-dasar yang sah baginya sebagaimana baginya doktrin lain yang diterima secara universal. Tetapi pertama-tama kita akan melihat apa yang dipikirkan oleh sebagian pemikir Eropa modern terbesar tentang reinkarnasi.

I. H. Fichte, ketika berbicara tentang keabadian jiwa, mengatakan:

"Memang benar ada satu analogi di alam yang dapat diajukan untuk menyangkal kelangsungan tersebut. Yaitu argumen yang terkenal bahwa segala sesuatu yang memiliki awal dalam waktu pasti juga binasa pada suatu masa; oleh karena itu, klaim adanya eksistensi jiwa di masa lampau niscaya menyiratkan pra-eksistensinya. Ini adalah kesimpulan yang adil, tetapi alih-alih menjadi keberatan terhadapnya, ia justru merupakan argumen tambahan bagi kelangsungannya. Sungguh, kita hanya perlu memahami makna penuh dari aksioma metafisis-fisiologis bahwa pada kenyataannya tidak ada sesuatu pun yang dapat diciptakan atau dimusnahkan, untuk mengakui bahwa jiwa pasti telah ada sebelum ia menjadi terlihat dalam tubuh fisik."

Schopenhauer, dalam bukunya, Die Welt als Wille und Vorstellung, ketika berbicara tentang palingenesis, mengatakan:

"Apa tidur bagi individu, kematian adalah bagi 'kehendak'. Ia tidak akan tahan untuk terus melakukan tindakan dan penderitaan yang sama sepanjang keabadian tanpa keuntungan sejati, jika ingatan dan individualitas tetap padanya. Ia melepaskannya, dan inilah Lethe, dan melalui tidur kematian ini ia muncul kembali, dilengkapi dengan akal budi lain sebagai makhluk baru; sebuah hari baru menggoda ke pantai baru. Kelahiran-kelahiran baru yang terus-menerus ini, kemudian, merupakan rangkaian mimpi-mimpi kehidupan dari suatu kehendak yang pada dirinya sendiri tak terhancurkan, hingga, setelah diajar dan diperbaiki oleh begitu banyak dan begitu beragam pengetahuan yang berurutan dalam bentuk yang senantiasa baru, ia menghapuskan dan meniadakan dirinya sendiri.... Tidak boleh dilupakan bahwa bahkan dasar empiris pun mendukung palingenesis semacam ini. Sebagai fakta, memang ada keterkaitan antara kelahiran makhluk-makhluk yang baru muncul dan kematian mereka yang sudah usang. Hal itu menampakkan diri dalam kesuburan besar umat manusia yang muncul sebagai akibat penyakit-penyakit yang menghancurkan. Ketika pada abad keempat belas Maut Hitam sebagian besar telah mengosongkan Dunia Lama, suatu kesuburan yang sama sekali tidak normal muncul di antara umat manusia, dan kelahiran kembar sangat sering terjadi. Yang juga patut diperhatikan adalah keadaan bahwa tidak ada anak yang lahir pada masa itu memperoleh jumlah gigi lengkap mereka; demikianlah alam, dengan mengerahkan dirinya semaksimal mungkin, menjadi pelit dalam rincian. Hal ini diceritakan oleh F. Schnurrer dalam Chronik der Seuchen-nya, 1825. Casper pula, dalam Ueber die Wahrscheinliche Lebensdauer des Menschen-nya, 1835, mengukuhkan prinsip bahwa jumlah kelahiran dalam suatu populasi memiliki pengaruh yang paling menentukan terhadap panjang hidup dan angka kematian di dalamnya, sebab hal ini selalu berjalan seiring dengan angka kematian; sehingga selalu dan di mana-mana kematian dan kelahiran meningkat dan menurun dalam proporsi yang sama, yang ia tempatkan di luar keraguan melalui penumpukan bukti yang dikumpulkan dari banyak negeri dan berbagai provinsinya. Namun mustahil bahwa dapat ada keterkaitan fisik, kausal antara kematian saya yang dini dan kesuburan suatu pernikahan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan saya, atau sebaliknya. Maka di sini metafisika tampak tak terbantahkan, dan dengan cara yang menakjubkan, sebagai dasar penjelasan langsung dari fisika. Setiap makhluk yang baru lahir datang dengan segar dan ceria ke dalam eksistensi baru, dan menikmatinya sebagai hadiah cuma-cuma; tetapi tidak ada dan tidak mungkin ada sesuatu yang diberikan secara cuma-cuma. Eksistensinya yang segar itu dibayar oleh usia tua dan kematian dari suatu eksistensi yang usang yang telah binasa, tetapi yang mengandung benih tak terhancurkan dari mana eksistensi yang baru itu telah muncul; keduanya adalah satu makhluk."

Filsuf besar Inggris, Hume, betapapun nihilistisnya dia, mengatakan dalam esai skeptisnya tentang keabadian, "Metempsikosis oleh karenanya adalah satu-satunya sistem semacam ini yang dapat didengarkan oleh filsafat." Filsuf Lessing, dengan wawasan puitis yang dalam, bertanya, "Apakah hipotesis ini begitu menggelikan semata-mata karena ia yang tertua, karena pemahaman manusia, sebelum sofistik-sofistik mazhab-mazhab membubarkan dan melemahkannya, langsung sampai padanya? . . . Mengapa saya tidak boleh kembali sesering saya mampu memperoleh pengetahuan baru, pengalaman baru? Apakah saya membawa pulang begitu banyak sekaligus sehingga tidak ada lagi yang sepadan dengan kesusahan untuk kembali?"

Argumen mendukung dan menentang doktrin tentang jiwa yang pra-ada yang berinkarnasi melalui banyak kehidupan telah banyak, dan beberapa pemikir terbesar sepanjang zaman telah mengangkat sarung tangan untuk membelanya; dan sejauh yang dapat kita lihat, jika ada jiwa yang individual, maka bahwa ia telah ada sebelumnya tampak tak terhindarkan. Jika jiwa bukanlah individu, melainkan kombinasi "Skandha" (gugus persepsi), sebagaimana yang ditegaskan oleh kaum Madhyamika di antara umat Buddha, mereka pun tetap mendapati pra-eksistensi mutlak diperlukan untuk menjelaskan posisi mereka.

Argumen yang menunjukkan ketidakmungkinan adanya eksistensi tak berhingga yang dimulai dalam waktu tidak dapat dijawab, walaupun upaya-upaya telah dilakukan untuk menangkalnya dengan mengimbau kemahakuasaan Tuhan untuk melakukan apa pun, betapapun bertentangannya dengan akal. Kami menyesal mendapati argumen yang paling keliru ini berasal dari beberapa pribadi yang paling pemikir.

Pertama, karena Tuhan adalah sebab universal dan umum dari semua fenomena, pertanyaannya adalah menemukan sebab-sebab alamiah dari fenomena tertentu dalam jiwa manusia, dan teori Deus ex machina, oleh karena itu, sama sekali tidak relevan. Itu tidak lebih dari pengakuan ketidaktahuan. Kita dapat memberikan jawaban itu untuk setiap pertanyaan yang diajukan dalam setiap cabang pengetahuan manusia dan menghentikan segala penyelidikan dan, oleh karena itu, pengetahuan sama sekali.

Kedua, imbauan terus-menerus kepada kemahakuasaan Tuhan ini hanyalah teka-teki kata-kata. Sebab, sebagai sebab, hanya dapat dan hanya boleh diketahui oleh kita sejauh ia mencukupi untuk akibat, dan tidak lebih dari itu. Sebagai demikian, kita tidak memiliki gagasan tentang akibat yang tak berhingga lebih daripada tentang sebab yang mahakuasa. Lebih jauh lagi, semua gagasan kita tentang Tuhan hanyalah terbatas; bahkan gagasan tentang sebab membatasi gagasan kita tentang Tuhan. Ketiga, walaupun posisi itu diterima sebagai diberikan, kita tidak berkewajiban mengakui teori-teori absurd seperti "Sesuatu muncul dari ketiadaan", atau "Ketakberhinggaan dimulai dalam waktu", sepanjang kita dapat memberikan penjelasan yang lebih baik.

Suatu yang disebut argumen besar diajukan terhadap gagasan tentang pra-eksistensi dengan menegaskan bahwa mayoritas umat manusia tidak menyadarinya. Untuk membuktikan kesahihan argumen ini, pihak yang menawarkannya harus membuktikan bahwa seluruh jiwa manusia terikat dalam fakultas ingatan. Jika ingatan adalah uji eksistensi, maka semua bagian hidup kita yang tidak ada di dalamnya sekarang pasti tidak ada, dan setiap orang yang dalam keadaan koma atau lainnya kehilangan ingatannya pasti juga tidak ada.

Premis-premis yang darinya disimpulkan adanya eksistensi sebelumnya, dan itu pun di bidang tindakan yang sadar, sebagaimana yang dikemukakan oleh para filsuf Hindu, terutama adalah ini:

Pertama, bagaimana lagi menjelaskan dunia ketimpangan ini? Inilah seorang anak dilahirkan di wilayah Tuhan yang adil dan pengasih, dengan setiap keadaan yang mendukung agar ia menjadi anggota umat manusia yang baik dan berguna, dan barangkali pada saat yang sama dan di kota yang sama anak lain dilahirkan dengan keadaan yang setiap unsurnya melawan agar ia menjadi baik. Kita melihat anak-anak dilahirkan untuk menderita, mungkin sepanjang hidup mereka, dan itu disebabkan tanpa kesalahan apa pun dari pihak mereka. Mengapa harus demikian? Apa sebabnya? Atas ketidaktahuan siapa hal itu adalah akibatnya? Jika bukan ketidaktahuan anak itu, mengapa ia harus menderita atas perbuatan orang tuanya?

Jauh lebih baik mengakui ketidaktahuan daripada mencoba mengelak dari pertanyaan dengan iming-iming kenikmatan di masa depan sebanding dengan kejahatan di sini, atau dengan menjadikannya "misteri". Bukan saja penderitaan yang tidak pantas yang dipaksakan kepada kita oleh agen mana pun adalah tidak bermoral — tidak perlu dikatakan tidak adil — tetapi bahkan teori penggantian-di-masa-depan pun tidak memiliki kaki untuk berdiri.

Berapa banyak dari yang dilahirkan dengan sengsara berjuang menuju kehidupan yang lebih tinggi, dan berapa banyak lagi yang menyerah pada keadaan tempat mereka ditempatkan? Haruskah mereka yang tumbuh lebih buruk dan lebih jahat karena dipaksa dilahirkan dalam keadaan jahat dianugerahi di masa depan atas kejahatan hidup mereka? Dalam kasus itu, semakin jahat seseorang di sini, semakin baik pula imbalannya nanti.

Tidak ada cara lain untuk menegakkan kemuliaan dan kebebasan jiwa manusia serta mendamaikan ketimpangan dan kengerian dunia ini selain dengan meletakkan seluruh beban itu pada sebab yang sah — yaitu tindakan-tindakan kita sendiri yang mandiri, atau karma. Tidak hanya itu, tetapi setiap teori penciptaan jiwa dari ketiadaan tak terhindarkan mengarah pada fatalisme dan penentuan terlebih dahulu, dan alih-alih seorang Bapa Yang Maha Pengasih, ia meletakkan di hadapan kita seorang Tuhan yang mengerikan, kejam, dan senantiasa marah untuk disembah. Dan sejauh kuasa agama untuk kebaikan atau kejahatan dipersoalkan, teori jiwa yang diciptakan ini, yang mengarah pada korolarinya berupa fatalisme dan predestinasi, bertanggung jawab atas gagasan mengerikan yang berlaku di antara sebagian umat Kristen dan Muhammadan bahwa kaum kafir adalah korban yang sah dari pedang mereka, dan segala kengerian yang telah menyusul dan masih menyusul hingga kini.

Tetapi suatu argumen yang selalu diajukan oleh para filsuf mazhab Nyaya untuk mendukung reinkarnasi dan yang menurut kami bersifat menentukan, adalah ini: Pengalaman-pengalaman kita tidak dapat dimusnahkan. Tindakan-tindakan kita (karma) walaupun tampaknya menghilang, tetap tinggal tak terlihat (Adrishta), dan muncul kembali dalam akibatnya sebagai kecenderungan-kecenderungan (Pravritti). Bahkan bayi-bayi mungil datang dengan kecenderungan tertentu — misalnya, takut akan kematian.

Sekarang, jika kecenderungan adalah akibat dari tindakan-tindakan yang berulang, maka kecenderungan yang dengannya kita dilahirkan harus dijelaskan dengan dasar itu pula. Jelas kita tidak mungkin memperolehnya dalam kehidupan ini; oleh karena itu kita harus mencari asal-usulnya di masa lampau. Kini juga jelas bahwa beberapa kecenderungan kita adalah akibat dari upaya-upaya sadar diri yang khas pada manusia; dan jika benar bahwa kita dilahirkan dengan kecenderungan-kecenderungan demikian, maka secara ketat berarti bahwa sebab-sebabnya adalah upaya-upaya sadar di masa lampau — yaitu, kita pasti pernah berada di bidang mental yang sama yang kita sebut bidang manusia, sebelum kehidupan sekarang ini.

Sejauh menjelaskan kecenderungan-kecenderungan kehidupan sekarang melalui upaya-upaya sadar di masa lampau, kaum reinkarnasionis India dan mazhab evolusionis termutakhir bersepakat sekaligus; satu-satunya perbedaan adalah bahwa orang Hindu, sebagai spiritualis, menjelaskannya melalui upaya-upaya sadar dari jiwa-jiwa individual, dan mazhab evolusionis materialistis, melalui penerusan fisik secara turun-temurun. Mazhab-mazhab yang berpegang pada teori penciptaan dari ketiadaan sama sekali tidak relevan.

Permasalahannya harus diselesaikan antara kaum reinkarnasionis yang berpendapat bahwa semua pengalaman disimpan sebagai kecenderungan dalam subjek pengalaman-pengalaman itu, yaitu jiwa individu, dan ditransmisikan melalui reinkarnasi dari individualitas yang tidak terputus itu — dan kaum materialis yang berpendapat bahwa otak adalah subjek dari semua tindakan dan teori transmisi melalui sel-sel.

Demikianlah doktrin reinkarnasi mengandung kepentingan tak terhingga bagi pikiran kita, sebab pertarungan antara reinkarnasi dan sekadar transmisi seluler adalah, pada kenyataannya, pertarungan antara spiritualisme dan materialisme. Jika transmisi seluler adalah penjelasan yang serba mencukupi, materialisme tak terhindarkan, dan tidak ada keperluan untuk teori tentang jiwa. Jika ia bukan penjelasan yang mencukupi, maka teori tentang jiwa individual yang membawa ke dalam kehidupan ini pengalaman-pengalaman masa lampau adalah sepenuhnya benar secara mutlak. Tidak ada jalan keluar dari alternatif itu, reinkarnasi atau materialisme. Mana yang akan kita terima?

Catatan

English

Of the many riddles that have perplexed the intellect of man in all climes and times, the most intricate is himself. Of the myriad mysteries that have called forth his energies to struggle for solution from the very dawn of history, the most mysterious is his own nature. It is at once the most insoluble enigma and the problem of all problems. As the starting-point and the repository of all we know and feel and do, there never has been, nor will be, a time when man's own nature will cease to demand his best and foremost attention.

Though through hunger after that truth, which of all others has the most intimate connection with his very existence, though through an all-absorbing desire for an inward standard by which to measure the outward universe though through the absolute and inherent necessity of finding a fixed point in a universe of change, man has sometimes clutched at handfuls of dust for gold, and even when urged on by a voice higher than reason or intellect, he has many times failed rightly to interpret the real meaning of the divinity within — still there never was a time since the search began, when some race, or some individuals, did not hold aloft the lamp of truth.

Taking a one-sided, cursory and prejudiced view of the surroundings and the unessential details, sometimes disgusted also with the vagueness of many schools and sects, and often, alas, driven to the opposite extreme by the violent superstitions of organised priestcraft — men have not been wanting, especially among advanced intellects, in either ancient or modern times, who not only gave up the search in despair, but declared it fruitless and useless. Philosophers might fret and sneer, and priests ply their trade even at the point of the sword, but truth comes to those alone who worship at her shrine for her sake only, without fear and without shopkeeping.

Light comes to individuals through the conscious efforts of their intellect; it comes, slowly though, to the whole race through unconscious percolations. The philosophers show the volitional struggles of great minds; history reveals the silent process of permeation through which truth is absorbed by the masses.

Of all the theories that have been held by man about himself, that of a soul entity, separate from the body and immortal, has been the most widespread; and among those that held the belief in such a soul, the majority of the thoughtful had always believed also in its pre-existence.

At present the greater portion of the human race, having organised religion, believe in it; and many of the best thinkers in the most favoured lands, though nurtured in religions avowedly hostile to every idea of the preexistence of the soul, have endorsed it. Hinduism and Buddhism have it for their foundation; the educated classes among the ancient Egyptians believed in it; the ancient Persians arrived at it; the Greek philosophers made it the corner-stone of their philosophy; the Pharisees among the Hebrews accepted it; and the Sufis among the Mohammedans almost universally acknowledged its truth.

There must be peculiar surroundings which generate and foster certain forms of belief among nations. It required ages for the ancient races to arrive at any idea about a part, even of the body, surviving after death; it took ages more to come to any rational idea about this something which persists and lives apart from the body. It was only when the idea was reached of an entity whose connection with the body was only for a time, and only among those nations who arrived at such a conclusion, that the unavoidable question arose: Whither? Whence?

The ancient Hebrews never disturbed their equanimity by questioning themselves about the soul. With them death ended all. Karl Heckel justly says, "Though it is true that in the Old Testament, preceding the exile, the Hebrews distinguish a life-principle, different from the body, which is sometimes called 'Nephesh', or 'Ruakh', or 'Neshama', yet all these words correspond rather to the idea of breath than to that of spirit or soul. Also in the writings of the Palestinean Jews, after the exile, there is never made mention of an individual immortal soul, but always only of a life-breath emanating from God, which, after the body is dissolved, is reabsorbed into the Divine 'Ruakh'."

The ancient Egyptians and the Chaldeans had peculiar beliefs of their own about the soul; but their ideas about this living part after death must not be confused with those of the ancient Hindu, the Persian, the Greek, or any other Aryan race. There was, from the earliest times, a broad distinction between the Âryas and the non-Sanskrit speaking Mlechchhas in the conception of the soul. Externally it was typified by their disposal of the dead — the Mlechchhas mostly trying their best to preserve the dead bodies either by careful burial or by the more elaborate processes of mummifying, and the Aryas generally burning their dead.

Herein lies the key to a great secret — the fact that no Mlechchha race, whether Egyptian, Assyrian, or Babylonian, ever attained to the idea of the soul as a separate entity which can live independent of the body, without the help of the Aryas, especially of the Hindus.

Although Herodotus states that the Egyptians were the first to conceive the idea of the immortality of the soul, and states as a doctrine of the Egyptians "that the soul after the dissolution of the body enters again and again into a creature that comes to life; then, that the soul wanders through all the animals of the land and the sea and through all the birds, and finally after three thousand years returns to a human body," yet, modern researches into Egyptology have hitherto found no trace of metempsychosis in the popular Egyptian religion. On the other hand, the most recent researches of Maspero, A. Erman, and other eminent Egyptologists tend to confirm the supposition that the doctrine of palingenesis was not at home with the Egyptians.

With the ancient Egyptians the soul was only a double, having no individuality of its own, and never able to break its connection with the body. It persists only so long as the body lasts; and if by chance the corpse is destroyed, the departed soul must suffer a second death and annihilation. The soul after death was allowed to roam freely all over the world, but always returning at night to where the corpse was, always miserable, always hungry and thirsty, always extremely desirous to enjoy life once more, and never being able to fulfil the desire. If any part of its old body was injured, the soul was also invariably injured in its corresponding part. And this idea explains the solicitude of the ancient Egyptians to preserve their dead. At first the deserts were chosen as the burial-place, because the dryness of the air did not allow the body to perish soon, thus granting to the departed soul a long lease of existence. In course of time one of the gods discovered the process of making mummies, through which the devout hoped to preserve the dead bodies of their ancestors for almost an infinite length of time, thus securing immortality to the departed ghost, however miserable it might be.

The perpetual regret for the world, in which the soul can take no further interest, never ceased to torture the deceased. "O. my brother," exclaims the departed "withhold not thyself from drinking and eating, from drunkenness, from love, from all enjoyment, from following thy desire by night and by day; put not sorrow within thy heart, for, what are the years of man upon earth? The West is a land of sleep and of heavy shadows, a place wherein the inhabitants, when once installed, slumber on in their mummy forms, never more waking to see their brethren; never more to recognise their fathers and mothers, with hearts forgetful of their wives and children The living water, which earth giveth to all who dwell upon it, is for me stagnant and dead; that water floweth to all who are on earth, while for me it is but liquid putrefaction, this water that is mine. Since I came into this funeral valley I know not where nor what I am. Give me to drink of running water . . . let me be placed by the edge of the water with my face to the North, that the breeze may caress me and my heart be refreshed from its sorrow."

Among the Chaldeans also, although they did not speculate so much as the Egyptians as to the condition of the soul after death, the soul is still a double and is bound to its sepulchre. They also could not conceive of a state without this physical body, and expected a resurrection of the corpse again to life; and though the goddess Ishtar, after great perils and adventures, procured the resurrection of her shepherd, husband, Dumuzi, the son of Ea and Damkina, "The most pious votaries pleaded in rain from temple to temple, for the resurrection of their dead friends."

Thus we find, that the ancient Egyptians or Chaldeans never could entirely dissociate the idea of the soul from the corpse of the departed or the sepulchre. The state of earthly existence was best after all; and the departed are always longing to have a chance once more to renew it; and the living are fervently hoping to help them in prolonging the existence of the miserable double and striving the best they can to help them.

This is not the soil out of which any higher knowledge of the soul could spring. In the first place it is grossly materialistic, and even then it is one of terror and agony. Frightened by the almost innumerable powers of evil, and with hopeless, agonised efforts to avoid them, the souls of the living, like their ideas of the souls of the departed — wander all over the world though they might — could never get beyond the sepulchre and the crumbling corpse.

We must turn now for the source of the higher ideas of the soul to another race, whose God was an all-merciful, all-pervading Being manifesting Himself through various bright, benign, and helpful Devas, the first of all the human race who addressed their God as Father "Oh, take me by the hands even as a father takes his dear son"; with whom life was a hope and not a despair; whose religion was not the intermittent groans escaping from the lips of an agonised man during the intervals of a life of mad excitement; but whose ideas come to us redolent with the aroma of the field and forest; whose songs of praise — spontaneous, free, joyful, like the songs which burst forth from the throats of the birds when they hail this beautiful world illuminated by the first rays of the lord of the day — come down to us even now through the vista of eighty centuries as fresh calls from heaven; we turn to the ancient Aryas.

"Place me in that deathless, undecaying world where is the light of heaven, and everlasting lustre shines"; "Make me immortal in that realm where dwells the King Vivasvân's son, where is the secret shrine of heaven"; "Make me immortal in that realm where they move even as they list"; "In the third sphere of inmost heaven, where worlds are full of light, make me immortal in that realm of bliss"— These are the prayers of the Aryas in their oldest record, the Rig-Veda Samhitâ.

We find at once a whole world of difference between the Mlechchha and the Aryan ideals. To the one, this body and this world are all that are real, and all that are desirable. A little life-fluid which flies off from the body at death, to feel torture and agony at the loss of the enjoyments of the senses, can, they fondly hope, be brought back if the body is carefully preserved; and thus a corpse became more an object of care than the living man. The other found out that, that which left the body was the real man; and when separated from the body, it enjoyed a state of bliss higher than it ever enjoyed when in the body. And they hastened to annihilate the corrupted corpse by burning it.

Here we find the germ out of which a true idea of the soul could come. Here it was — where the real man was not the body, but the soul, where all ideas of an inseparable connection between the real man and the body were utterly absent — that a noble idea of the freedom of the soul could rise. And it was when the Aryas penetrated even beyond the shining cloth of the body with which the departed soul was enveloped, and found its real nature of a formless, individual, unit principle, that the question inevitably arose: Whence?

It was in India and among the Aryas that the doctrine of the pre-existence, the immortality, and the individuality of the soul first arose. Recent researches in Egypt have failed to show any trace of the doctrines of an independent and individual soul existing before and after the earthly phase of existence. Some of the mysteries were no doubt in possession of this idea, but in those it has been traced to India.

"I am convinced", says Karl Heckel, "that the deeper we enter into the study of the Egyptian religion, the clearer it is shown that the doctrine of metempsychosis was entirely foreign to the popular Egyptian religion; and that even that which single mysteries possessed of it was not inherent to the Osiris teachings, but derived from Hindu sources."

Later on, we find the Alexandrian Jews imbued with the doctrine of an individual soul, and the Pharisees of the time of Jesus, as already stated, not only had faith in an individual soul, but believed in its wandering through various bodies; and thus it is easy to find how Christ was recognised as the incarnation of an older Prophet, and Jesus himself directly asserted that John the Baptist was the Prophet Elias come back again. "If ye will receive it, this is Elias, which was for to come." — Matt. XI. 14.

The ideas of a soul and of its individuality among the Hebrews, evidently came through the higher mystical teachings of the Egyptians, who in their turn derived it from India. And that it should come through Alexandria is significant, as the Buddhistic records clearly show Buddhistic missionary activity in Alexandria and Asia Minor.

Pythagoras is said to have been the first Greek who taught the doctrine of palingenesis among the Hellenes. As an Aryan race, already burning their dead and believing in the doctrine of an individual soul, it was easy for the Greeks to accept the doctrine of reincarnation through the Pythagorean teachings. According to Apuleius, Pythagoras had come to India, where he had been instructed by the Brâhmins.

So far we have learnt that wherever the soul was held to be an individual, the real man, and not a vivifying part of the body only, the doctrine of its pre-existence had inevitably come, and that externally those nations that believed in the independent individuality of the soul had almost always signified it by burning the bodies of the departed. Though one of the ancient Aryan races, the Persian, developed at an early period and without any; Semitic influence a peculiar method of disposing of the bodies of the dead, the very name by which they call their "Towers of silence", comes from the root Dah, to burn.

In short, the races who did not pay much attention to the analysis of their own nature, never went beyond the material body as their all in all, and even when driven by higher light to penetrate beyond, they only came to the conclusion that somehow or other, at some distant period of time, this body will become incorruptible.

On the other hand, that race which spent the best part of its energies in the inquiry into the nature of man as a thinking being — the Indo-Aryan — soon found out that beyond this body, beyond even the shining body which their forefathers longed after, is the real man, the principle, the individual who clothes himself with this body, and then throws it off when worn out. Was such a principle created? If creation means something coming out of nothing, their answer is a decisive "No". This soul is without birth and without death; it is not a compound or combination but an independent individual, and as such it cannot be created or destroyed. It is only travelling through various states.

Naturally, the question arises: Where was it all this time? The Hindu philosophers say, "It was passing through different bodies in the physical sense, or, really and metaphysically speaking, passing through different mental planes."

Are there any proofs apart from the teachings of the Vedas upon which the doctrine of reincarnation has been founded by the Hindu philosophers? There are, and we hope to show later on that there are grounds as valid for it as for any other universally accepted doctrine. But first we will see what some of the greatest of modern European thinkers have thought about reincarnation.

I. H. Fichte, speaking about the immortality of the soul, says:

"It is true there is one analogy in nature which might be brought forth in refutation of the continuance. It is the well-known argument that everything that has a beginning in time must also perish at some period of time; hence, that the claimed past existence of the soul necessarily implies its pre-existence. This is a fair conclusion, but instead of being an objection to, it is rather an additional argument for its continuance. Indeed, one needs only to understand the full meaning of the metaphysico-physiological axiom that in reality nothing can be created or annihilated, to recognise that the soul must have existed prior to its becoming visible in a physical body."

Schopenhauer, in his book, Die Welt als Wille und Vorstellung, speaking about palingenesis, says:

"What sleep is for the individual, death is for the 'will'. It would not endure to continue the same actions and sufferings throughout an eternity without true gain, if memory and individuality remained to it. It flings them off, and this is Lethe, and through this sleep of death it reappears fitted out with another intellect as a new being; a new day tempts to new shores. These constant new births, then, constitute the succession of the life-dreams of a will which in itself is indestructible, until instructed and improved by so much and such various successive knowledge in a constantly new form, it abolishes and abrogates itself.... It must not be neglected that even empirical grounds support a palingenesis of this kind. As a matter of fact, there does exist a connection between the birth of the newly appearing beings and the death of those that are worn out. It shows itself in the great fruitfulness of the human race which appears as a consequence of devastating diseases. When in the fourteenth century the Black Death had for the most part depopulated the Old World, a quite abnormal fruitfulness appeared among the human race, and twin-births were very frequent. The circumstance was also remarkable that none of the children born at this time obtained their full number of teeth; thus nature, exerting itself to the utmost, was niggardly in details. This is related by F. Schnurrer in his Chronik der Seuchen, 1825. Casper, also, in his Ueber die Wahrscheinliche Lebensdauer des Menschen, 1835, confirms the principle that the number of births in a given population has the most decided influence upon the length of life and mortality in it, as this always keeps pace with mortality; so that always and everywhere the deaths and the births increase and decrease in like proportion, which he places beyond doubt by an accumulation of evidence collected from many lands and their various provinces. And yet it is impossible that there can be physical, causal connection between my early death and the fruitfulness of a marriage with which I have nothing to do, or conversely. Thus here the metaphysical appears undeniable, and in a stupendous manner, as the immediate ground of explanation of the physical. Every new-born being comes fresh and blithe into the new existence, and enjoys it as a free gift; but there is and can be nothing freely given. Its fresh existence is paid for by the old age and death of a worn-out existence which has perished, but which contained the indestructible seed out of which the new existence has arisen; they are one being."

The great English philosopher Hume, nihilistic though he was, says in the sceptical essay on immortality, "The metempsychosis is therefore the only system of this kind that philosophy can listen to." The philosopher Lessing, with a deep poetical insight, asks, "Is this hypothesis so laughable merely because it is the oldest, because the human understanding, before the sophistries of the schools had dissipated and debilitated it, lighted upon it at once? . . . Why should not I come back as often as I am capable of acquiring fresh knowledge, fresh experience? Do I bring away so much from once that there is nothing to repay the trouble of coming back?"

The arguments for and against the doctrine of a preexisting soul reincarnating through many lives have been many, and some of the greatest thinkers of all ages have taken up the gauntlet to defend it; and so far as we can see, if there is an individual soul, that it existed before seems inevitable. If the soul is not an individual but a combination of "Skandhas" (notions), as the Mâdhyamikas among the Buddhists insist, still they find pre-existence absolutely necessary to explain their position.

The argument showing the impossibility of an infinite existence beginning in time is unanswerable, though attempts have been made to ward it off by appealing to the omnipotence of God to do anything, however contrary to reason it may be. We are sorry to find this most fallacious argument proceeding from some of the most thoughtful persons.

In the first place, God being the universal and common cause of all phenomena, the question was to find the natural causes of certain phenomena in the human soul, and the Deus ex machina theory is, therefore, quite irrelevant. It amounts to nothing less than confession of ignorance. We can give that answer to every question asked in every branch of human knowledge and stop all inquiry and, therefore, knowledge altogether.

Secondly, this constant appeal to the omnipotence of God is only a word-puzzle. The cause, as cause, is and can only be known to us as sufficient for the effect, and nothing more. As such we have no more idea of an infinite effect than of an omnipotent cause. Moreover, all our ideas of God are only limited; even the idea of cause limits our idea of God. Thirdly, even taking the position for granted, we are not bound to allow any such absurd theories as "Something coming out of nothing", or "Infinity beginning in time", so long as we can give a better explanation.

A so-called great argument is made against the idea of pre-existence by asserting that the majority of mankind are not conscious of it. To prove the validity of this argument, the party who offers it must prove that the whole of the soul of man is bound up in the faculty of memory. If memory be the test of existence, then all that part of our lives which is not now in it must be non-existent, and every, person who in a state of coma or otherwise loses his memory must be non-existent also.

The premises from which the inference is drawn of a previous existence, and that too on the plane of conscious' action, as adduced by the Hindu philosophers, are chiefly these:

First, how else to explain this world of inequalities? Here is one child born in the province of a just and merciful God, with every circumstance conducing to his becoming a good and useful member of the human race, and perhaps at the same instant and in the same city another child is born under circumstances every one of which is against his becoming good. We see children born to suffer, perhaps all their lives, and that owing to no fault of theirs. Why should it be so? What is the cause? Of whose ignorance is it the result? If not the child's, why should it suffer for its parents' actions?

It is much better to confess ignorance than to try to evade the question by the allurements of future enjoyments in proportion to the evil here, or by posing "mysteries". Not only undeserved suffering forced upon us by any agent is immoral — not to say unjust — but even the future-makingup theory has no legs to stand upon.

How many of the miserably born struggle towards a higher life, and how many more succumb to the circumstances they are placed under? Should those who grow worse and more wicked by being forced to be born under evil circumstances be rewarded in the future for the wickedness of their lives? In that case the more wicked the man is here, the better will be his deserts hereafter.

There is no other way to vindicate the glory and the liberty of the human soul and reconcile the inequalities and the horrors of this world than by placing the whole burden upon the legitimate cause — our own independent actions or Karma. Not only so, but every theory of the creation of the soul from nothing inevitably leads to fatalism and preordination, and instead of a Merciful Father, places before us a hideous, cruel, and an ever-angry God to worship. And so far as the power of religion for good or evil is concerned, this theory of a created soul, leading to its corollaries of fatalism and predestination, is responsible for the horrible idea prevailing among some Christians and Mohammedans that the heathens are the lawful victims of their swords, and all the horrors that have followed and are following it still.

But an argument which the philosophers of the Nyâya school have always advanced in favour of reincarnations and which to us seems conclusive, is this: Our experiences cannot be annihilated. Our actions (Karma) though apparently disappearing, remain still unperceived (Adrishta), and reappear again in their effect as tendencies (Pravrittis). Even little babies come with certain tendencies — fear of death, for example.

Now if a tendency is the result of repeated actions, the tendencies with which we are born must be explained on that ground too. Evidently we could not have got them in this life; therefore we must have to seek for their genesis in the past. Now it is also evident that some of our tendencies are the effects of the self-conscious efforts peculiar to man; and if it is true that we are born with such tendencies, it rigorously follows that their causes were conscious efforts in the past — that is, we must have been on the same mental plane which we call the human plane, before this present life.

So far as explaining the tendencies of the present life by past conscious efforts goes, the reincarnationists of India and the latest school of evolutionists are at once; the only difference is that the Hindus, as spiritualists, explain it by the conscious efforts of individual souls, and the materialistic school of evolutionists, by a hereditary physical transmission. The schools which hold to the theory of creation out of nothing are entirely out of court.

The issue has to be fought out between the reincarnationists who hold that all experiences are stored up as; tendencies in the subject of those experiences, the individual soul, and are transmitted by reincarnation of that unbroken individuality — and the materialists who hold that the brain is the subject of all actions and the theory of the transmission through cells.

It is thus that the doctrine of reincarnation assumes an infinite importance to our mind, for the fight between reincarnation and mere cellular transmission is, in reality, the fight between spiritualism and materialism. If cellular transmission is the all-sufficient explanation, materialism is inevitable, and there is no necessity for the theory of a soul. If it is not a sufficient explanation, the theory of an individual soul bringing into this life the experiences of the past is as absolutely true. There is no escape from the alternative, reincarnation or materialism. Which shall we accept?

Notes


Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.