Wedantisme
Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.
AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.
Bahasa Indonesia
VEDANTISME
Berikut adalah pidato sambutan dari umat Hindu Jaffna yang disampaikan kepada Swami Wiwekananda:
SRIMAT VIVEKANANDA SWAMI
Tuan yang terhormat,
Kami, para penduduk Jaffna yang memeluk agama Hindu, hendak menyampaikan sambutan yang paling tulus kepada Anda di tanah kami, pusat utama agama Hindu di Ceylon, dan mengungkapkan rasa terima kasih kami atas kesediaan Anda yang berkenan memenuhi undangan kami untuk berkunjung ke bagian Lanka ini.
Para leluhur kami menetap di sini sejak dari India Selatan, lebih dari dua ribu tahun yang silam, dan membawa serta agama mereka, yang dilindungi oleh raja-raja Tamil di Jaffna; namun ketika pemerintahan mereka digantikan oleh pemerintahan Portugis dan Belanda, pelaksanaan ritus-ritus keagamaan diganggu, ibadat keagamaan umum dilarang, dan kuil-kuil suci, termasuk dua di antara tempat pemujaan yang paling tersohor, dirobohkan oleh tangan kejam penganiayaan. Meskipun ada upaya gigih dari bangsa-bangsa tersebut untuk memaksakan agama Kristen kepada nenek moyang kami, mereka berpegang teguh pada keyakinan lama mereka, dan telah mewariskannya kepada kami sebagai warisan kami yang paling luhur. Kini, di bawah pemerintahan Inggris Raya, tidak hanya telah terjadi kebangkitan kembali yang besar dan tercerahkan, melainkan bangunan-bangunan suci tersebut telah, dan sedang, dipugar kembali.
Kami menggunakan kesempatan ini untuk mengungkapkan rasa syukur kami yang paling dalam atas jerih payah Anda yang mulia dan tanpa pamrih demi agama kami, dengan membawa cahaya kebenaran, sebagaimana yang diwahyukan dalam Weda, ke Parlemen Agama-Agama, dengan menyebarluaskan kebenaran-kebenaran Filsafat Ilahi India di Amerika dan Inggris, dan dengan memperkenalkan dunia Barat pada kebenaran-kebenaran agama Hindu, sehingga dengan demikian mendekatkan Barat dengan Timur. Kami juga menyampaikan rasa terima kasih kami atas prakarsa Anda dalam menggerakkan kebangkitan kembali agama purba kami di zaman materialistis ini, ketika keimanan tengah merosot dan terdapat sikap acuh tak acuh terhadap pencarian kebenaran rohani.
Kami tidak dapat sepenuhnya menyampaikan rasa hutang budi kami kepada Anda atas jasa Anda memperkenalkan kepada masyarakat Barat sifat universal agama kami, dan atas keberhasilan Anda menanamkan dalam benak para cendekiawan Barat kebenaran bahwa dalam Filsafat Hindu terdapat lebih banyak hal daripada yang diimpikan dalam Filsafat Barat.
Tidak perlu kiranya kami menegaskan bahwa kami telah dengan saksama mengikuti perkembangan Misi Anda di Barat dan senantiasa bersukacita dengan sepenuh hati atas pengabdian dan keberhasilan jerih payah Anda dalam medan keagamaan. Penghargaan yang disampaikan oleh pers di pusat-pusat besar kegiatan intelektual, perkembangan moral, dan penyelidikan keagamaan di Barat, kepada Anda dan kepada sumbangan-sumbangan berharga Anda terhadap kepustakaan keagamaan kami, merupakan kesaksian yang fasih bagi upaya Anda yang luhur dan agung.
Kami mohon untuk mengungkapkan kegembiraan kami yang sebesar-besarnya atas kunjungan Anda ke tanah kami dan berharap bahwa kami, yang bersama dengan Anda memandang Weda sebagai landasan dari segala pengetahuan rohani sejati, masih akan memiliki banyak kesempatan lagi untuk menyaksikan Anda di tengah-tengah kami.
Semoga Tuhan, yang sampai saat ini telah memahkotai karya luhur Anda dengan keberhasilan yang nyata, memanjangkan usia Anda, dengan memberikan kekuatan dan ketabahan untuk meneruskan Misi mulia Anda.
Kami tetap, Tuan yang terhormat,
Hamba Anda yang setia,
. . .
untuk dan atas nama Umat Hindu Jaffna.
Sebuah balasan yang fasih telah diberikan, dan pada keesokan malamnya Swami menyampaikan ceramah tentang Vedantisme, yang laporannya dilampirkan di sini:
Pokok bahasan ini sangat luas dan waktunya singkat; sebuah analisis lengkap mengenai agama umat Hindu mustahil dilakukan dalam satu ceramah. Oleh karena itu, saya akan menyajikan di hadapan Anda pokok-pokok utama agama kami dalam bahasa yang sesederhana mungkin. Kata Hindu, yang dengannya kami kini lazim menyebut diri kami, telah kehilangan seluruh maknanya, sebab kata ini sebenarnya hanya menunjuk kepada mereka yang tinggal di seberang sungai Indus (dalam bahasa Sanskerta, Sindhu). Nama ini diubah secara serampangan menjadi Hindu oleh bangsa Persia kuno, dan seluruh penduduk yang tinggal di seberang sungai Sindhu disebut oleh mereka sebagai orang Hindu. Demikianlah kata ini turun kepada kita; dan pada masa pemerintahan Muhammadan, kami sendiri mengambil kata tersebut. Tentu saja tidak ada salahnya menggunakan kata itu; namun, sebagaimana telah saya katakan, kata itu telah kehilangan maknanya, sebab Anda mungkin menyadari bahwa semua orang yang kini tinggal di sisi sungai Indus ini tidak menganut agama yang sama dengan yang dianut pada masa lampau. Oleh karena itu, kata tersebut mencakup bukan hanya orang Hindu yang sesungguhnya, melainkan juga orang Muhammadan, Kristen, Jaina, dan masyarakat lain yang tinggal di India. Karena itu, saya tidak akan menggunakan kata Hindu. Lalu kata apa yang seharusnya kita gunakan? Kata-kata lain yang dapat kita pakai adalah Waidika, para pengikut Weda, atau lebih baik lagi, kaum Vedantis, para pengikut Vedanta. Sebagian besar agama-agama besar di dunia berpegang teguh pada kitab-kitab tertentu yang mereka yakini sebagai firman Tuhan atau makhluk-makhluk adikodrati lainnya, dan yang menjadi dasar dari agama mereka. Nah, di antara semua kitab tersebut, menurut para cendekiawan modern Barat, yang paling tua adalah Weda milik umat Hindu. Karena itu, sedikit pemahaman mengenai Weda perlu kita miliki.
Tumpukan tulisan yang disebut Weda ini bukanlah ucapan dari pribadi-pribadi. Penanggalannya tidak pernah ditetapkan, tidak akan pernah dapat ditetapkan, dan menurut kami, Weda itu kekal abadi. Ada satu pokok penting yang ingin saya minta Anda ingat, yaitu bahwa semua agama lain di dunia menyatakan kewenangan ajarannya sebagai sesuatu yang disampaikan oleh Tuhan Pribadi atau oleh sejumlah pribadi adikodrati, malaikat, atau utusan khusus Tuhan, kepada orang-orang tertentu; sedangkan klaim umat Hindu adalah bahwa Weda tidak menggantungkan kewenangannya pada siapa pun, ia sendirilah yang merupakan kewenangan, karena bersifat kekal — yaitu pengetahuan tentang Tuhan. Weda tidak pernah ditulis, tidak pernah diciptakan, ia ada sepanjang masa; sebagaimana penciptaan itu tak terhingga dan kekal, tanpa awal dan tanpa akhir, demikian pula pengetahuan tentang Tuhan tanpa awal dan tanpa akhir. Dan pengetahuan inilah yang dimaksudkan oleh kata Weda (Wid, mengetahui). Tumpukan pengetahuan yang disebut Vedanta ini ditemukan oleh tokoh-tokoh yang disebut para Resi, dan Resi didefinisikan sebagai Mantra-drashta, seorang pelihat pikiran; bukan berarti pemikiran itu miliknya. Setiap kali Anda mendengar bahwa suatu bagian tertentu dari Weda berasal dari seorang Resi tertentu, jangan sekali-kali mengira bahwa ia menulisnya atau menciptakannya dari pikirannya sendiri; ia adalah pelihat dari pemikiran yang telah ada; pemikiran itu telah ada di alam semesta secara kekal. Resi tersebut adalah penemunya; para Resi adalah para penemu rohani.
Tumpukan tulisan ini, yaitu Weda, dibagi terutama menjadi dua bagian, yakni Karma Kanda dan Jnana Kanda — bagian amal dan bagian pengetahuan, bagian seremonial dan bagian rohani. Bagian amal terdiri atas berbagai persembahan kurban; sebagian besar di antaranya pada masa belakangan ini telah ditinggalkan karena tidak dapat lagi dilaksanakan dalam keadaan masa kini, namun yang lain tetap bertahan hingga sekarang dalam satu bentuk atau bentuk lain. Gagasan-gagasan utama dari Karma Kanda, yang berisi kewajiban-kewajiban manusia, kewajiban pelajar, perumah tangga, pertapa, dan berbagai kewajiban dari berbagai tahap kehidupan, sedikit banyak masih dijalankan hingga zaman ini. Akan tetapi, bagian rohani dari agama kami terdapat pada bagian yang kedua, yakni Jnana Kanda, Vedanta, akhir dari Weda, intisari, tujuan dari Weda. Inti dari pengetahuan Weda diberi nama Vedanta, yang mencakup Upanishad; dan seluruh aliran di India — kaum Dualis, kaum Monis-Bersyarat, kaum Monis, atau kaum Saiwa, Waisnawa, Sakta, Saura, Ganapatya, setiap kelompok yang berani masuk ke dalam lingkungan agama Hindu — harus mengakui Upanishad dari Weda. Mereka boleh memiliki tafsirnya sendiri-sendiri dan boleh menafsirkannya menurut cara mereka, namun mereka harus tunduk pada kewenangannya. Itulah sebabnya kami ingin menggunakan kata Vedantis sebagai pengganti Hindu. Semua filsuf India yang ortodoks harus mengakui kewenangan Vedanta; dan semua agama kita pada masa kini, betapa pun beberapa di antaranya tampak mentah, betapa pun sebagian tujuannya tampak sukar dijelaskan, seseorang yang memahaminya dan mempelajarinya dapat menelusurinya kembali sampai pada gagasan-gagasan Upanishad. Sedemikian dalamnya Upanishad ini telah meresap ke dalam bangsa kami, sehingga Anda yang mempelajari simbolisme dari agama paling sederhana umat Hindu akan terkejut menemukan kadang-kadang ungkapan kiasan dari Upanishad — Upanishad lambat laun terlambangkan menjadi gambaran-gambaran dan sebagainya. Gagasan-gagasan rohani dan filosofis yang besar dalam Upanishad ada bersama kita hari ini, yang telah diubah menjadi ibadat rumah tangga dalam bentuk simbol-simbol. Demikianlah berbagai lambang yang kini kami gunakan, seluruhnya berasal dari Vedanta, sebab dalam Vedanta lambang-lambang itu digunakan sebagai kiasan, dan gagasan-gagasan ini menyebar di kalangan bangsa dan meresap menyeluruh hingga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka sebagai simbol.
Selanjutnya, setelah Vedanta datanglah Smriti. Smriti juga merupakan kitab-kitab yang ditulis oleh para resi, namun kewenangan Smriti tunduk di bawah Vedanta, sebab kedudukan Smriti bagi kami sama dengan kedudukan kitab-kitab suci agama-agama lain bagi pemeluknya. Kami mengakui bahwa Smriti telah ditulis oleh resi-resi tertentu; dalam arti itu, kedudukannya sama dengan kitab-kitab suci agama-agama lain, namun Smriti ini bukanlah kewenangan yang terakhir. Apabila ada sesuatu dalam Smriti yang bertentangan dengan Vedanta, maka Smriti tersebut harus ditolak — kewenangannya gugur. Smriti ini, sebagaimana kita lihat lagi, telah berubah-ubah dari waktu ke waktu. Kita membaca bahwa Smriti tertentu memegang kewenangan pada Satya Yuga, yang lain pada Treta Yuga, yang lain lagi pada Dwapara Yuga, dan yang lain lagi pada Kali Yuga, dan seterusnya. Seiring dengan perubahan keadaan yang mendasar, seiring dengan berbagai situasi yang mulai memengaruhi bangsa, tata krama dan adat istiadat harus diubah, dan Smriti ini, yang terutama mengatur tata krama dan adat istiadat bangsa, juga harus diubah dari waktu ke waktu. Ini adalah sebuah pokok yang secara khusus saya minta Anda ingat. Prinsip-prinsip agama yang terdapat dalam Vedanta tidak dapat diubah. Mengapa? Karena semuanya dibangun di atas prinsip-prinsip kekal yang ada pada manusia dan alam; semuanya tidak akan pernah berubah. Gagasan-gagasan tentang jiwa, perihal pergi ke surga, dan sebagainya tidak akan pernah berubah; semuanya tetap sama seperti ribuan tahun yang lalu, sama hari ini, dan akan tetap sama berjuta-juta tahun mendatang. Akan tetapi, praktik-praktik keagamaan yang seluruhnya didasarkan pada kedudukan sosial dan hubungan timbal balik kita harus berubah seiring perubahan dalam masyarakat. Karena itu, sebuah ketetapan tertentu akan benar dan baik pada suatu masa tertentu, namun tidak demikian pada masa lain. Karena itu, kita mendapati bahwa makanan tertentu diperbolehkan pada suatu masa namun tidak pada masa lain, sebab makanan tersebut sesuai untuk masa itu; tetapi iklim dan hal-hal lainnya berubah, berbagai keadaan lain yang harus dihadapi pun berubah, sehingga Smriti mengubah ketentuan tentang makanan dan hal-hal lain. Maka, dengan sendirinya, apabila pada zaman modern ini masyarakat kita menuntut perubahan untuk dilakukan, perubahan tersebut harus dihadapi, dan para resi akan datang dan menunjukkan kepada kita jalan untuk menghadapinya; namun tidak satu titik pun dari prinsip-prinsip agama kami yang akan diubah; semuanya akan tetap utuh.
Kemudian terdapat pula Purana. पुराणं पञ्चलक्षणम् — yang berarti, Purana memiliki lima ciri — yaitu yang membahas sejarah, kosmologi, dengan berbagai ilustrasi simbolik dari prinsip-prinsip filsafat, dan sebagainya. Purana ditulis untuk memasyarakatkan agama Weda. Bahasa yang digunakan untuk menulis Weda sangat kuno, dan bahkan di antara para sarjana, hanya sedikit yang dapat menelusuri tarikh kitab-kitab tersebut. Purana ditulis dalam bahasa rakyat pada masa itu, yang kami sebut Sanskerta modern. Purana pada masa itu tidak ditujukan untuk para sarjana, melainkan untuk masyarakat biasa; dan masyarakat biasa tidak dapat memahami filsafat. Hal-hal semacam itu diberikan kepada mereka dalam wujud yang nyata, melalui kehidupan para orang suci, raja-raja, tokoh-tokoh besar, serta peristiwa-peristiwa sejarah yang menimpa bangsa, dan sebagainya. Para resi memanfaatkan hal-hal ini untuk menggambarkan prinsip-prinsip kekal dari agama.
Masih terdapat kitab-kitab lain, yaitu Tantra. Kitab-kitab ini dalam beberapa segi sangat mirip dengan Purana, dan dalam sebagian di antaranya terdapat upaya untuk menghidupkan kembali gagasan-gagasan kurban lama dari Karma Kanda.
Seluruh kitab ini merupakan kitab suci umat Hindu. Apabila terdapat begitu banyak kitab suci pada sebuah bangsa dan ras yang telah mencurahkan sebagian terbesar dari segenap tenaganya untuk pemikiran filsafat dan kerohanian (entah sudah berapa ribu tahun lamanya), sudah barang tentu wajar jika terdapat begitu banyak aliran; bahkan, mengherankan jika tidak ada beribu-ribu lagi. Aliran-aliran tersebut sangat berbeda satu dengan yang lain dalam beberapa hal tertentu. Kita tidak akan memiliki waktu untuk memahami perbedaan-perbedaan di antara aliran-aliran tersebut dan semua perincian rohaninya; oleh karena itu, saya akan mengambil pokok-pokok yang menjadi landasan bersama, yaitu prinsip-prinsip pokok dari seluruh aliran ini yang harus diyakini oleh setiap umat Hindu.
Yang pertama adalah masalah penciptaan, yaitu bahwa alam ini, Prakriti, Maya (ilusi kosmik), bersifat tak terhingga, tanpa awal. Bukan berarti bahwa dunia ini diciptakan kemarin, bukan pula bahwa Tuhan datang dan menciptakan dunia ini lalu sejak itu beristirahat; sebab hal demikian tidak mungkin. Tenaga kreatif tetap berlangsung. Tuhan menciptakan secara kekal — tidak pernah beristirahat. Ingatlah akan ayat dalam Gita di mana Krisna berkata, "Jika Aku beristirahat sekejap saja, alam semesta ini akan hancur." Apabila tenaga kreatif yang bekerja di sekeliling kita siang dan malam ini berhenti untuk sedetik saja, segala sesuatu akan runtuh berantakan. Tidak pernah ada masa di mana tenaga itu tidak bekerja di seluruh alam semesta, namun terdapat hukum siklus, yaitu Pralaya. Kata Sanskerta kami untuk penciptaan, jika diterjemahkan dengan tepat, seharusnya adalah pemroyeksian dan bukan penciptaan. Sebab kata "creation" dalam bahasa Inggris sayangnya telah memuat gagasan yang menakutkan dan paling mentah tentang sesuatu yang muncul dari ketiadaan, penciptaan dari kenirwujudan, ketiadaan yang menjadi keberadaan, yang tentu saja tidak akan saya hina Anda dengan meminta Anda meyakininya. Oleh karena itu, kata kami adalah pemroyeksian. Seluruh alam ini telah ada, ia menjadi semakin halus, lalu mereda; dan kemudian setelah suatu masa istirahat, segala sesuatu kembali diproyeksikan ke depan, dan paduan yang sama, evolusi yang sama, perwujudan yang sama pun muncul dan tetap bermain, untuk suatu waktu tertentu, hanya untuk kemudian pecah berkeping-keping lagi, menjadi semakin halus dan halus, sampai keseluruhannya mereda, dan kemudian muncul lagi. Demikianlah ia berlangsung maju dan mundur dengan gerakan seperti gelombang sepanjang kekekalan. Waktu, ruang, dan sebab-akibat semuanya berada di dalam alam ini. Oleh karena itu, mengatakan bahwa alam ini memiliki awal sungguhlah tidak masuk akal. Tidak ada pertanyaan yang dapat diajukan mengenai awal atau akhirnya. Karena itu, di mana pun dalam kitab-kitab suci kami kata awal dan akhir digunakan, Anda harus ingat bahwa yang dimaksudkan adalah awal dan akhir dari suatu siklus tertentu; tidak lebih dari itu.
Apa yang menjadikan penciptaan ini? Tuhan. Apa yang saya maksudkan dengan penggunaan kata Inggris God? Tentu saja bukan kata itu sebagaimana lazim digunakan dalam bahasa Inggris — ada banyak perbedaan. Tidak ada kata lain yang sesuai dalam bahasa Inggris. Saya lebih suka membatasi diri pada kata Sanskerta, yaitu Brahman. Dia adalah penyebab umum dari semua perwujudan ini. Apakah Brahman ini? Dia kekal, kekal murni, kekal terjaga, mahakuasa, mahatahu, maha penyayang, mahahadir, tidak berbentuk, tidak terbagi-bagi. Dia menciptakan alam semesta ini. Apabila Dia selalu mencipta dan menopang alam semesta ini, timbullah dua kesulitan. Kita melihat bahwa terdapat keberpihakan dalam alam semesta. Seseorang dilahirkan bahagia, dan yang lain tidak bahagia; yang seorang kaya, dan yang lain miskin; ini menunjukkan keberpihakan. Kemudian terdapat pula kekejaman, sebab di sini hakikat kehidupan adalah kematian. Seekor hewan mencabik-cabik hewan lain, dan setiap manusia berusaha mengungguli saudaranya sendiri. Persaingan, kekejaman, kengerian, dan keluhan yang merobek-robek hati siang dan malam ini merupakan keadaan dunia kita. Apabila ini adalah ciptaan Tuhan, maka Tuhan itu lebih buruk daripada kejam, lebih buruk daripada iblis mana pun yang pernah digambarkan oleh manusia. Ah! kata Vedanta, bukanlah kesalahan Tuhan bahwa keberpihakan ini ada, bahwa persaingan ini ada. Siapa yang menjadikannya? Kita sendiri. Ada awan yang menjatuhkan hujannya pada semua ladang secara merata. Tetapi hanya ladang yang digarap dengan baik yang memperoleh manfaat dari hujan tersebut; ladang lain yang tidak dibajak atau tidak dirawat tidak dapat memperoleh manfaat itu. Itu bukanlah kesalahan awan. Belas kasih Tuhan itu kekal dan tidak berubah; kitalah yang menciptakan perbedaan. Akan tetapi, bagaimana perbedaan tentang sebagian orang yang dilahirkan bahagia dan sebagian lagi tidak bahagia ini dapat dijelaskan? Mereka tidak berbuat apa-apa untuk menjadikan perbedaan itu! Tidak dalam hidup ini, tetapi mereka melakukannya pada kelahiran mereka yang lampau, dan perbedaan tersebut dijelaskan oleh perbuatan pada kehidupan sebelumnya itu.
Kini kita sampai pada prinsip kedua yang kita semua sepakati, bukan hanya seluruh umat Hindu, melainkan juga seluruh umat Buddha dan seluruh umat Jaina. Kita semua sepakat bahwa kehidupan itu kekal. Bukanlah bahwa kehidupan muncul dari ketiadaan, sebab hal itu tidak mungkin. Kehidupan semacam itu tidak akan layak untuk dimiliki. Segala sesuatu yang memiliki awal dalam waktu pasti akan berakhir dalam waktu pula. Apabila kehidupan baru dimulai kemarin, ia pasti akan berakhir esok hari, dan kemusnahan adalah hasilnya. Kehidupan pasti telah ada sebelumnya. Tidak diperlukan banyak ketajaman pikiran untuk menyadari hal itu sekarang, sebab semua ilmu pengetahuan modern telah datang membantu kita, menggambarkan dari dunia material prinsip-prinsip yang termuat dalam kitab-kitab suci kami. Anda telah mengetahui bahwa setiap kita merupakan hasil dari masa lampau yang tak terhingga; seorang anak dihadirkan ke dunia bukan sebagai sesuatu yang melesat dari tangan alam, sebagaimana yang sangat disukai para penyair untuk digambarkan, melainkan ia membawa beban dari masa lampau yang tak terhingga; untuk kebaikan ataupun keburukan, ia datang untuk menyelesaikan perbuatan-perbuatan masa lampaunya sendiri. Itulah yang menjadikan perbedaan. Inilah hukum karma. Setiap kita adalah penjadi nasibnya sendiri. Hukum ini sekaligus meruntuhkan semua doktrin tentang takdir yang telah ditetapkan sebelumnya dan nasib, dan memberi kita satu-satunya sarana pendamai antara Tuhan dan manusia. Kami, kami, dan bukan yang lain, bertanggung jawab atas apa yang kami derita. Kami adalah akibatnya, dan kami pula penyebabnya. Karena itu, kami bebas. Apabila saya tidak bahagia, itu adalah perbuatan saya sendiri, dan justru hal itu menunjukkan bahwa saya dapat bahagia apabila saya menghendakinya. Apabila saya tidak murni, itu pun perbuatan saya sendiri, dan justru hal itu menunjukkan bahwa saya dapat menjadi murni apabila saya menghendakinya. Kehendak manusia berdiri melampaui segala keadaan. Di hadapannya — yakni kehendak yang kuat, raksasa, tak terhingga, dan kebebasan dalam diri manusia — segala kekuatan, bahkan kekuatan alam, harus tunduk, menyerah, dan menjadi pelayannya. Inilah hasil dari hukum karma.
Pertanyaan berikutnya, tentu saja secara alamiah, adalah: Apakah jiwa itu? Kita tidak akan dapat memahami Tuhan dalam kitab-kitab suci kami tanpa mengetahui jiwa. Telah ada upaya-upaya di India, dan juga di luar India, untuk menangkap sekilas pandang akan yang melampaui dengan mempelajari alam lahiriah, dan kita semua mengetahui betapa mengerikan kegagalan yang dihasilkannya. Alih-alih memberi kita sekilas pandang akan yang melampaui, semakin kita mempelajari dunia material, semakin cenderung kita menjadi materialistis. Semakin kita menangani dunia material, bahkan sedikit kerohanian yang dahulu kita miliki pun lenyap. Oleh karena itu, jalan tersebut bukanlah jalan menuju kerohanian, menuju pengetahuan akan Yang Mahatinggi; melainkan ia harus datang melalui hati, melalui jiwa manusia. Pekerjaan lahiriah tidak mengajarkan apa pun kepada kita tentang yang melampaui, tentang Yang Tak Terhingga; hanya yang batiniahlah yang dapat melakukannya. Oleh karena itu, melalui jiwa, hanya melalui analisis terhadap jiwa manusia sajalah, kita dapat memahami Tuhan. Terdapat perbedaan pendapat mengenai sifat jiwa manusia di antara berbagai aliran di India, namun terdapat beberapa pokok kesepakatan. Kita semua sepakat bahwa jiwa-jiwa itu tanpa awal dan tanpa akhir, serta secara hakikatnya bersifat abadi; demikian pula bahwa segala kekuatan, berkat, kemurnian, kemahahadiran, kemahatahuan terkubur di dalam setiap jiwa. Itulah gagasan agung yang harus kita ingat. Di dalam setiap manusia dan di dalam setiap hewan, betapa pun lemah atau jahatnya, betapa pun besar atau kecilnya, bersemayam jiwa yang sama yang mahahadir dan mahatahu. Perbedaannya tidak terletak pada jiwa, melainkan pada perwujudannya. Antara saya dan hewan terkecil, perbedaannya hanya pada perwujudan, namun sebagai prinsip, ia sama dengan saya, ia adalah saudara saya, ia memiliki jiwa yang sama dengan saya. Inilah prinsip terbesar yang telah diajarkan India. Pembicaraan tentang persaudaraan manusia di India menjadi persaudaraan kehidupan universal, persaudaraan hewan-hewan, dan dari segala kehidupan sampai ke semut-semut kecil — semuanya itu adalah tubuh kita. Sebagaimana kitab suci kami berkata, "Demikianlah orang bijak, dengan mengetahui bahwa Tuhan yang sama berdiam di dalam semua tubuh, akan menyembah setiap tubuh seperti itu." Itulah sebabnya di India terdapat gagasan-gagasan yang demikian penuh belas kasih tentang orang miskin, tentang hewan, tentang setiap orang, dan tentang segala sesuatu. Inilah salah satu landasan bersama dari gagasan kita tentang jiwa.
Secara wajar, kita sampai pada gagasan tentang Tuhan. Satu hal lagi mengenai jiwa. Mereka yang mempelajari bahasa Inggris kerap kali tertipu oleh kata-kata soul dan mind. Atman (Diri sejati) kita dan soul itu hal yang sama sekali berbeda. Apa yang kami sebut Manas, yaitu pikiran, oleh orang Barat disebut soul. Orang Barat tidak pernah memiliki gagasan tentang jiwa hingga mereka memperolehnya melalui filsafat Sanskerta, sekitar dua puluh tahun yang lalu. Tubuh ada di sini, di luar tubuh terdapat pikiran, namun pikiran bukanlah Atman; pikiran adalah tubuh halus, Sukshma Sharira, yang terbuat dari partikel-partikel halus, yang berpindah dari kelahiran ke kematian, dan seterusnya; tetapi di balik pikiran terdapat Atman, yakni jiwa, Diri manusia. Atman tidak dapat diterjemahkan dengan kata soul atau mind, oleh karena itu kami harus menggunakan kata Atman, atau, sebagaimana yang diberi nama oleh para filsuf Barat, dengan kata Self. Kata apa pun yang Anda gunakan, Anda harus tetap menjernihkannya dalam benak Anda bahwa Atman itu terpisah dari pikiran, demikian pula dari tubuh, dan bahwa Atman ini menjalani kelahiran dan kematian, ditemani oleh pikiran, yakni Sukshma Sharira. Dan apabila tiba saatnya ia telah mencapai segala pengetahuan dan mewujudkan dirinya pada kesempurnaan, maka perjalanan dari kelahiran ke kematian itu pun berhenti baginya. Kemudian ia bebas untuk memilih, apakah hendak mempertahankan pikiran itu, yakni Sukshma Sharira, ataukah melepaskannya untuk selama-lamanya, dan tetap merdeka dan bebas sepanjang kekekalan. Tujuan jiwa adalah kebebasan. Itulah salah satu keistimewaan agama kami. Kami juga mengenal surga dan neraka; namun semuanya itu tidaklah tak terhingga, sebab pada hakikatnya tidak mungkin demikian. Seandainya ada surga-surga, surga-surga itu hanyalah pengulangan dari dunia kita ini dalam skala yang lebih besar, dengan sedikit lebih banyak kebahagiaan dan sedikit lebih banyak kenikmatan, namun justru itu lebih buruk bagi jiwa. Terdapat banyak surga semacam itu. Orang-orang yang berbuat amal baik di sini dengan niat akan ganjaran, ketika mereka meninggal, terlahir kembali sebagai dewa di salah satu surga itu, seperti Indra dan dewa-dewa lain. Dewa-dewa ini adalah nama-nama dari keadaan tertentu. Mereka pun dahulunya manusia, dan melalui perbuatan baik mereka menjadi dewa; dan nama-nama berbeda yang Anda baca, seperti Indra dan sebagainya, bukanlah nama-nama dari pribadi yang sama. Akan ada ribuan Indra. Nahusha adalah seorang raja besar, dan ketika ia meninggal, ia menjadi Indra. Itu adalah sebuah kedudukan; satu jiwa naik tinggi dan menempati kedudukan Indra dan tinggal di situ hanya untuk waktu tertentu; kemudian ia mati dan terlahir kembali sebagai manusia. Akan tetapi, tubuh manusia adalah yang tertinggi di antara semuanya. Sebagian dewa mungkin berusaha untuk pergi lebih tinggi dan melepaskan segala gagasan kenikmatan di surga; tetapi sebagaimana di dunia ini, kekayaan, kedudukan, dan kenikmatan menipu sebagian besar manusia, demikian pula sebagian besar dewa pun tertipu, dan setelah menyelesaikan karma baik mereka, mereka jatuh kembali dan menjadi manusia lagi. Oleh karena itu, bumi inilah yang merupakan Karma Bhumi; dari bumi inilah kita mencapai pembebasan. Maka, surga-surga itu pun tidak layak untuk dicapai.
Lalu apakah yang layak untuk dimiliki? Mukti, kebebasan. Bahkan di surga yang tertinggi sekalipun, kata kitab suci kami, Anda tetaplah seorang budak; apa artinya apabila Anda menjadi raja selama dua puluh ribu tahun? Selama Anda masih memiliki tubuh, selama Anda masih menjadi budak kebahagiaan, selama waktu masih bekerja atas diri Anda, ruang masih bekerja atas diri Anda, Anda adalah seorang budak. Oleh karena itu, gagasannya adalah agar bebas dari alam lahiriah dan batiniah. Alam haruslah jatuh di kaki Anda, dan Anda harus menginjaknya dan menjadi bebas serta mulia dengan pergi melampauinya. Tidak ada lagi kehidupan; oleh karena itu tidak ada lagi kematian. Tidak ada lagi kenikmatan; oleh karena itu tidak ada lagi penderitaan. Itulah kebahagiaan yang tak terkatakan, yang tak dapat dihancurkan, melampaui segala sesuatu. Apa yang kita sebut kebahagiaan dan kebaikan di dunia ini tidak lebih daripada partikel-partikel dari Kebahagiaan kekal itu. Dan Kebahagiaan kekal inilah tujuan kita.
Jiwa juga tidak berjenis kelamin; kita tidak dapat mengatakan tentang Atman bahwa ia laki-laki atau perempuan. Jenis kelamin hanya milik tubuh. Karena itu, semua gagasan semacam itu, baik laki-laki maupun perempuan, merupakan ilusi apabila dikatakan berkenaan dengan Diri, dan hanya tepat apabila dikatakan tentang tubuh. Demikian pula halnya dengan gagasan tentang usia. Atman tidak pernah menua; Yang Purba selalu sama. Bagaimanakah Ia turun ke bumi? Hanya ada satu jawaban untuk itu dalam kitab-kitab suci kami. Kebodohan adalah penyebab dari segala perbudakan ini. Melalui kebodohanlah kita menjadi terbelenggu; pengetahuan akan menyembuhkannya dengan membawa kita ke sisi yang lain. Bagaimanakah pengetahuan itu akan datang? Melalui cinta, bhakti (pengabdian kasih); melalui pemujaan kepada Tuhan, dengan mencintai seluruh makhluk sebagai kuil Tuhan. Dia bersemayam di dalam mereka. Demikianlah, dengan cinta yang demikian mendalam itu akan datang pengetahuan, dan kebodohan akan lenyap, belenggu-belenggu akan patah, dan jiwa akan menjadi bebas.
Terdapat dua gagasan tentang Tuhan dalam kitab-kitab suci kami — yang satu, Tuhan Pribadi; dan yang lainnya, Tuhan Tanpa Pribadi. Gagasan tentang Tuhan Pribadi adalah bahwa Dia adalah Pencipta, Pemelihara, dan Penghancur dari segala sesuatu yang mahahadir, Bapak dan Ibu kekal alam semesta, namun Yang secara kekal terpisah dari kita dan dari semua jiwa; dan pembebasan terdiri atas mendekat kepada-Nya dan hidup di dalam-Nya. Kemudian ada gagasan yang lain, yaitu Tuhan Tanpa Pribadi, di mana semua sifat tersebut dilepaskan karena dianggap berlebihan, tidak logis, dan yang tinggal adalah suatu Wujud Tanpa Pribadi yang mahahadir, yang tidak dapat disebut sebagai wujud yang mengetahui, sebab pengetahuan hanya merupakan milik pikiran manusia. Ia tidak dapat disebut wujud yang berpikir, sebab itu adalah proses milik yang lemah saja. Ia tidak dapat disebut wujud yang menalar, sebab penalaran adalah pertanda kelemahan. Ia tidak dapat disebut wujud yang mencipta, sebab tidak ada yang mencipta kecuali dalam belenggu. Belenggu apakah yang dimiliki-Nya? Tidak ada yang berkarya kecuali untuk memenuhi keinginan; keinginan apakah yang dimiliki-Nya? Tidak ada yang berkarya kecuali untuk memenuhi kekurangan; kekurangan apakah yang dimiliki-Nya? Dalam Weda, kata yang digunakan bukanlah "Dia", melainkan "Itu", sebab "Dia" akan membuat perbedaan yang melecehkan, seolah-olah Tuhan adalah manusia. "Itu", yang tanpa pribadi, digunakan, dan "Itu" yang tanpa pribadi inilah yang diajarkan. Sistem ini disebut Adwaita.
Lalu bagaimanakah hubungan kita dengan Wujud Tanpa Pribadi ini? — yaitu bahwa kita adalah Dia. Kita dan Dia adalah satu. Setiap orang tidak lain hanyalah perwujudan dari Yang Tanpa Pribadi itu, landasan dari segala keberadaan, dan penderitaan terletak pada anggapan bahwa diri kita berbeda dari Wujud Tak Terhingga Tanpa Pribadi ini; dan pembebasan terletak pada pengetahuan akan kesatuan kita dengan Tanpa Kepribadian yang menakjubkan ini. Inilah, secara singkat, dua gagasan tentang Tuhan yang kita temukan dalam kitab-kitab suci kami.
Beberapa catatan perlu disampaikan di sini. Hanya melalui gagasan tentang Tuhan Yang Impersonal Anda dapat memiliki suatu sistem etika apa pun. Di setiap bangsa, kebenaran telah diberitakan sejak masa yang paling kuno — cintailah sesama Anda sebagaimana diri Anda sendiri — yang saya maksudkan, cintailah sesama manusia seperti diri Anda sendiri. Di India telah diberitakan, "cintailah segala makhluk seperti diri Anda sendiri"; kami tidak membuat pembedaan antara manusia dan hewan. Tetapi tidak ada alasan yang diberikan, tidak seorang pun mengetahui mengapa baik untuk mencintai makhluk-makhluk lain seperti diri kami sendiri. Dan alasan, mengapa, terletak pada gagasan tentang Tuhan Yang Impersonal; Anda akan memahaminya ketika Anda belajar bahwa seluruh dunia adalah satu — kesatuan alam semesta — solidaritas seluruh kehidupan — bahwa dengan melukai siapa pun saya melukai diri saya sendiri, dengan mencintai siapa pun saya mencintai diri saya sendiri. Karenanya kita memahami mengapa kita tidak boleh menyakiti orang lain. Oleh karena itu, alasan bagi etika hanya dapat diperoleh dari cita ideal tentang Tuhan Yang Impersonal ini. Kemudian timbul pertanyaan tentang kedudukan Tuhan Yang Personal di dalamnya. Saya memahami aliran cinta yang menakjubkan yang muncul dari gagasan tentang Tuhan Yang Personal, saya benar-benar menghargai daya dan kekuatan bhakti (pengabdian kasih) atas manusia agar sesuai dengan kebutuhan zaman yang berbeda-beda. Namun, yang kini kami butuhkan di negeri kami bukanlah banyak meratap, melainkan sedikit kekuatan. Betapa besar tambang kekuatan terdapat dalam Tuhan Yang Impersonal ini, ketika semua takhayul telah dilemparkan ke laut, dan manusia berdiri di atas kakinya sendiri dengan pengetahuan — Saya adalah Wujud Yang Impersonal dari dunia! Apakah yang dapat membuat saya takut? Bahkan terhadap hukum-hukum alam pun saya tidak mempedulikannya. Kematian merupakan suatu lelucon bagi saya. Manusia berdiri di atas kemuliaan jiwanya sendiri, yang tak terhingga, yang kekal, yang tak terbinasakan — jiwa yang tidak dapat ditembus oleh alat apa pun, yang tidak dapat dikeringkan oleh udara, tidak dapat dibakar oleh api, tidak dapat dilelehkan oleh air, yang tak terhingga, tanpa kelahiran, tanpa kematian, tanpa awal dan tanpa akhir, yang di hadapan kebesarannya matahari-matahari dan bulan-bulan dan seluruh sistemnya tampak seperti tetes-tetes di samudra, yang di hadapan kemuliaannya ruang melebur menjadi kekosongan dan waktu lenyap menjadi tiada. Pada jiwa yang mulia ini kita harus percaya. Dari sanalah akan muncul kekuatan. Apa pun yang Anda pikirkan, itulah yang akan Anda jadi. Jika Anda menganggap diri Anda lemah, maka lemahlah Anda; jika Anda menganggap diri Anda kuat, maka kuatlah Anda; jika Anda menganggap diri Anda tidak murni, maka tidak murnilah Anda; jika Anda menganggap diri Anda murni, maka murnilah Anda. Hal ini mengajarkan kita untuk tidak memikirkan diri kita sebagai lemah, melainkan sebagai kuat, mahakuasa, mahatahu. Tidak menjadi soal bahwa saya belum mengungkapkannya, ia ada di dalam diri saya. Seluruh pengetahuan ada di dalam diri saya, seluruh kekuatan, seluruh kemurnian, dan seluruh kebebasan. Mengapa saya tidak dapat mengungkapkan pengetahuan ini? Karena saya tidak mempercayainya. Marilah saya mempercayainya, dan ia pasti akan keluar dan akan keluar. Inilah yang diajarkan oleh gagasan tentang Yang Impersonal. Buatlah anak-anak Anda kuat sejak masa kanak-kanak mereka; ajarkan mereka bukan kelemahan, bukan pula bentuk-bentuk lahiriah, melainkan buatlah mereka kuat; biarkanlah mereka berdiri di atas kaki mereka sendiri — pemberani, penakluk segalanya, penanggung segala penderitaan; dan pertama-tama dari semuanya, biarkanlah mereka belajar tentang kemuliaan jiwa. Hal itu hanya akan Anda dapatkan di dalam Vedanta — dan hanya di sana. Vedanta memiliki gagasan-gagasan tentang cinta, ibadah, dan hal-hal lain yang kami miliki dalam agama-agama lain, dan masih lebih banyak lagi; tetapi gagasan tentang jiwa inilah pemikiran yang memberi hidup, yang paling menakjubkan. Di sana dan hanya di sanalah terdapat pemikiran besar yang akan merevolusi dunia dan mendamaikan pengetahuan tentang dunia material dengan agama.
Demikianlah saya telah berusaha menyajikan kepada Anda pokok-pokok utama dari agama kami — yaitu prinsip-prinsipnya. Saya hanya perlu mengatakan beberapa patah kata mengenai praktik dan penerapannya. Sebagaimana telah kita saksikan, di bawah keadaan yang ada di India, sudah sewajarnya banyak sekte harus bermunculan. Sebagai fakta, kami mendapati bahwa terdapat begitu banyak sekte di India, dan pada saat yang sama kami mengetahui fakta misterius bahwa sekte-sekte ini tidak saling bertengkar. Penganut Siwa tidak mengatakan bahwa setiap penganut Wisnu akan terkutuk, dan penganut Wisnu pun tidak mengatakan bahwa setiap penganut Siwa akan terkutuk. Penganut Siwa berkata, ini adalah jalan saya, dan Anda memiliki jalan Anda; pada akhirnya kita harus bertemu kembali. Mereka semua mengetahui hal itu di India. Inilah teori Ishta (bentuk pemujaan pilihan pribadi). Sejak masa yang paling kuno telah diakui bahwa terdapat berbagai bentuk pemujaan Tuhan. Diakui pula bahwa watak-watak yang berbeda membutuhkan metode yang berbeda pula. Metode Anda untuk datang kepada Tuhan boleh jadi bukan metode saya, dan boleh jadi metode itu akan melukai saya. Gagasan bahwa hanya ada satu jalan bagi semua orang adalah gagasan yang merugikan, tidak bermakna, dan sepenuhnya harus dihindari. Celakalah dunia apabila setiap orang memiliki pendapat keagamaan yang sama dan menempuh jalan yang sama. Maka seluruh agama dan seluruh pemikiran akan hancur. Keberagaman adalah jiwa kehidupan itu sendiri. Apabila ia mati sepenuhnya, maka penciptaan pun akan mati. Apabila keberagaman pemikiran ini tetap terpelihara, kita akan terus ada; dan kita tidak perlu bertengkar karena keberagaman itu. Jalan Anda sangat baik bagi Anda, tetapi tidak bagi saya. Jalan saya baik bagi saya, tetapi tidak bagi Anda. Jalan saya disebut dalam bahasa Sanskerta sebagai "Ishta" saya. Camkanlah, kami tidak bertikai dengan agama mana pun di dunia. Masing-masing dari kami memiliki Ishta kami sendiri. Tetapi ketika kami melihat orang-orang datang dan berkata, "Inilah satu-satunya jalan", dan berusaha memaksakannya kepada kami di India, kami punya sepatah kata untuk dikatakan; kami menertawakan mereka. Bagi orang-orang demikian yang ingin menghancurkan saudara-saudaranya hanya karena mereka tampak mengikuti jalan yang berbeda menuju Tuhan — bagi mereka untuk berbicara tentang cinta adalah kemustahilan. Cinta mereka tidak banyak berarti. Bagaimana mungkin orang-orang yang tidak tahan melihat orang lain mengikuti jalan yang berbeda dari jalan mereka sendiri itu memberitakan cinta? Jika itu cinta, maka apa lagi yang disebut kebencian? Kami tidak bertikai dengan agama mana pun di dunia, baik agama itu mengajar orang untuk memuja Kristus, Buddha, atau Muhammad, ataupun nabi-nabi lainnya. "Selamat datang, saudaraku," kata orang Hindu, "saya akan membantumu; tetapi engkau harus mengizinkan saya menempuh jalan saya pula. Itulah Ishta saya. Jalanmu sangat baik, tidak diragukan lagi; tetapi mungkin ia berbahaya bagi saya. Pengalaman saya sendiri memberi tahu saya makanan apa yang baik bagi saya, dan tidak ada bala tentara dokter pun yang dapat memberi tahu saya. Maka saya tahu dari pengalaman saya sendiri jalan manakah yang terbaik bagi saya." Itulah tujuan, Ishta, dan oleh karena itu, kami berkata bahwa jika sebuah kuil, atau sebuah lambang, atau sebuah arca membantu Anda untuk merealisasikan Yang Ilahi di dalam, Anda dipersilakan untuk memilikinya. Milikilah dua ratus arca jika Anda mau. Jika bentuk-bentuk dan rumusan-rumusan tertentu membantu Anda untuk merealisasikan Yang Ilahi, semoga Tuhan menyertai Anda; milikilah, dengan segala cara, bentuk apa pun, kuil apa pun, dan upacara apa pun yang Anda inginkan untuk membawa Anda lebih dekat kepada Tuhan. Tetapi jangan bertengkar mengenai hal-hal itu; saat Anda bertengkar, Anda tidak lagi berjalan menuju Tuhan, Anda berjalan mundur, menuju binatang.
Inilah beberapa gagasan dalam agama kami. Agama ini adalah agama yang mencakup setiap orang, dan tidak mengecualikan siapa pun. Meskipun kasta-kasta dan lembaga-lembaga kami tampaknya terkait dengan agama kami, sesungguhnya tidaklah demikian. Lembaga-lembaga ini telah diperlukan untuk melindungi kami sebagai sebuah bangsa, dan ketika kebutuhan akan pemeliharaan diri ini tidak lagi ada, maka lembaga-lembaga itu akan mati dengan sendirinya. Tetapi semakin saya menua, semakin baik saya tampaknya memandang lembaga-lembaga India yang dihormati sepanjang masa ini. Pernah ada suatu masa ketika saya biasa berpikir bahwa banyak dari lembaga-lembaga itu tidak berguna dan tidak bernilai; tetapi semakin tua usia saya, semakin saya merasa ragu untuk mengutuk salah satunya, sebab masing-masing dari lembaga itu adalah perwujudan dari pengalaman berabad-abad. Seorang anak kemarin sore, yang ditakdirkan mati lusa, datang kepada saya dan meminta saya mengubah seluruh rencana saya; dan jika saya mendengar nasihat anak kecil itu dan mengubah seluruh lingkungan saya menurut gagasannya, maka saya sendirilah yang akan menjadi orang dungu, dan bukan orang lain. Banyak nasihat yang datang kepada kami dari berbagai negeri serupa dengan ini. Katakanlah kepada para tukang sok bijak ini: "Saya akan mendengarkan Anda apabila Anda sendiri telah membentuk suatu masyarakat yang stabil. Anda tidak dapat berpegang pada satu gagasan untuk dua hari, Anda bertengkar dan gagal; Anda dilahirkan seperti ngengat pada musim semi dan mati seperti mereka dalam lima menit. Anda muncul seperti gelembung-gelembung dan pecah seperti gelembung-gelembung pula. Bentuklah terlebih dahulu suatu masyarakat yang stabil seperti masyarakat kami. Buatlah terlebih dahulu hukum-hukum dan lembaga-lembaga yang tetap kuat tidak tergoyahkan melewati berpuluh-puluh abad. Maka itulah saatnya untuk berbicara dengan Anda mengenai masalah ini, tetapi hingga saat itu, sahabatku, Anda hanyalah seorang anak yang gegabah."
Saya telah menyelesaikan apa yang harus saya katakan tentang agama kami. Saya akan mengakhirinya dengan mengingatkan Anda akan satu kebutuhan mendesak pada masa ini. Pujian bagi Wyasa, pengarang agung Mahabharata, bahwa pada Kali Yuga (zaman kegelapan) ini terdapat satu karya yang besar. Tapas (pertapaan keras) dan yoga-yoga berat lainnya yang dipraktikkan pada Yuga-Yuga lain tidak berfungsi pada masa ini. Yang dibutuhkan pada Yuga ini adalah memberi, menolong sesama. Apakah yang dimaksud dengan Dana (memberi)? Yang tertinggi dari semua pemberian adalah memberi pengetahuan spiritual, berikutnya adalah memberi pengetahuan duniawi, kemudian menyelamatkan nyawa, dan yang terakhir adalah memberi makanan dan minuman. Ia yang memberi pengetahuan spiritual menyelamatkan jiwa dari banyak sekali kelahiran. Ia yang memberi pengetahuan duniawi membuka mata umat manusia ke arah pengetahuan spiritual, dan jauh di bawah pemberian-pemberian itulah segala jenis pemberian lain berada peringkatnya, bahkan termasuk penyelamatan nyawa. Oleh karena itu, perlu bagi Anda mempelajari hal ini dan mencatat bahwa semua jenis pekerjaan lain memiliki nilai yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan pekerjaan menyebarkan pengetahuan spiritual. Pertolongan tertinggi dan terbesar adalah pertolongan yang diberikan dalam penyebaran pengetahuan spiritual. Ada sebuah mata air kekal spiritualitas di dalam kitab-kitab suci kami, dan tidak di mana pun di muka bumi, kecuali di tanah pelepasan ini, kita dapat menemukan teladan-teladan spiritualitas praktis yang demikian agungnya. Saya memiliki sedikit pengalaman tentang dunia. Percayalah kepada saya, banyak omongan di negeri-negeri lain; tetapi manusia praktik agama, yang telah membawa agama ke dalam kehidupannya, ada di sini dan hanya di sini. Berbicara bukanlah agama; burung beo dapat berbicara, mesin pun di masa ini dapat berbicara. Tetapi tunjukkan kepada saya kehidupan pelepasan, kehidupan spiritualitas, kehidupan penanggungan segala penderitaan, kehidupan cinta yang tak terhingga. Kehidupan semacam inilah yang menandai seorang manusia spiritual. Dengan gagasan-gagasan demikian dan teladan-teladan praktis yang mulia demikian di negeri kami, akan sangat disayangkan apabila harta-harta dalam otak dan hati semua Yogi agung ini tidak dikeluarkan untuk menjadi milik bersama setiap orang, kaya dan miskin, tinggi dan rendah; tidak hanya di India, melainkan harus dilemparkan secara luas ke seluruh dunia. Inilah salah satu tugas terbesar kita, dan Anda akan mendapati bahwa semakin Anda bekerja menolong orang lain, semakin Anda menolong diri Anda sendiri. Satu kewajiban hidup yang dibebankan kepada Anda, apabila Anda benar-benar mencintai agama Anda, apabila Anda benar-benar mencintai negeri Anda, adalah bahwa Anda harus berjuang keras untuk bangkit dan bertindak, dengan satu gagasan agung ini, yaitu mengeluarkan harta-harta dari buku-buku Anda yang terkunci dan menyerahkannya kepada para pewaris yang sah.
Dan di atas segalanya, satu hal saja yang diperlukan. Ya, selama berabad-abad kami telah dijejali oleh rasa iri yang mengerikan; kami selalu cemburu satu sama lain. Mengapa pria ini didahulukan sedikit, dan bukan saya? Bahkan dalam pemujaan Tuhan pun kami menginginkan dikedepankan, sedemikian parahnya keadaan perbudakan yang telah kami alami. Hal ini harus dihindari. Apabila ada satu dosa yang menjerit-jerit di India pada masa ini, maka itulah perbudakan ini. Setiap orang ingin memerintah, dan tidak seorang pun yang ingin taat; dan hal ini disebabkan oleh ketiadaan sistem Brahmacarya (kemurnian dan kemudaan suci) yang menakjubkan dari zaman lampau itu. Pertama-tama, belajarlah untuk taat. Perintah akan datang dengan sendirinya. Selalulah pertama-tama belajar menjadi seorang pelayan, dan kemudian Anda akan layak menjadi seorang tuan. Hindarilah rasa iri ini dan Anda akan melaksanakan karya-karya besar yang masih harus dilaksanakan. Leluhur-leluhur kami telah melakukan karya-karya yang paling menakjubkan, dan kami memandang ke belakang pada karya mereka dengan penghormatan dan kebanggaan. Tetapi kami pun akan melaksanakan perbuatan-perbuatan besar, dan biarlah generasi-generasi lain di kemudian hari memandang ke belakang dengan berkat dan kebanggaan kepada kami sebagai leluhur mereka. Dengan berkat dari Yang Mahakuasa, setiap orang di sini akan melaksanakan perbuatan-perbuatan yang akan mengalahkan perbuatan-perbuatan leluhur kami, betapapun agung dan mulianya perbuatan mereka itu.
English
VEDANTISM
The following address of welcome from the Hindus of Jaffna was presented to Swami Vivekananda:
SRIMAT VIVEKANANDA SWAMI
Revered Sir,
We, the inhabitants of Jaffna professing the Hindu religion, desire to offer you a most hearty welcome to our land, the chief centre of Hinduism in Ceylon, and to express our thankfulness for your kind acceptance of our invitation to visit this part of Lanka.
Our ancestors settled here from Southern India, more than two thousand years ago, and brought with them their religion, which was patronised by the Tamil kings of Jaffna; but when their government was displaced by that of the Portuguese and the Dutch, the observance of religious rites was interfered with, public religious worship was prohibited, and the Sacred Temples, including two of the most far-famed Shrines, were razed to the ground by the cruel hand of persecution. In spite of the persistent attempts of these nations to force upon our forefathers the Christian religion, they clung to their old faith firmly, and have transmitted it to us as the noblest of our heritages Now under the rule of Great Britain, not only has there been a great and intelligent revival, but the sacred edifices have been, and are being, restored.
We take this opportunity to express our deep-felt gratitude for your noble and disinterested labours in the cause of our religion in carrying the light of truth, as revealed in the Vedas, to the Parliament of Religions, in disseminating the truths of the Divine Philosophy of India in America and England, and in making the Western world acquainted with the truths of Hinduism and thereby bringing the West in closer touch with the East. We also express our thankfulness to you for initiating a movement for the revival of our ancient religion in this materialistic age when there is a decadence of faith and a disregard for search after spiritual truth.
We cannot adequately express our indebtedness to you for making the people of the West know the catholicity of our religion and for impressing upon the minds of the savants of the West the truth that there are more things in the Philosophy of the Hindus than are dreamt of in the Philosophy of the West.
We need hardly assure you that we have been carefully watching the progress of your Mission in the West and always heartily rejoicing at your devotedness and successful labours in the field of religion. The appreciative references made by the press in the great centres of intellectual activity, moral growth, and religious inquiry in the West, to you and to your valuable contributions to our religious literature, bear eloquent testimony to your noble and magnificent efforts.
We beg to express our heartfelt gratification at your visit to our land and to hope that we, who, in common with you, look to the Vedas as the foundation of all true spiritual knowledge, may have many more occasions of seeing you in our midst.
May God, who has hitherto crowned your noble work with conspicuous success, spare you long, giving you vigour and strength to continue your noble Mission.
We remain, Revered Sir,
Yours faithfully,
. . .
for and on behalf of the Hindus Of Jaffna.
An eloquent reply was given, and on the following evening the Swami lectured on Vedantism, a report of which is here appended:
The subject is very large and the time is short; a full analysis of the religion of the Hindus is impossible in one lecture. I will, therefore, present before you the salient points of our religion in as simple language as I can. The word Hindu, by which it is the fashion nowadays to style ourselves, has lost all its meaning, for this word merely meant those who lived on the other side of the river Indus (in Sanskrit, Sindhu). This name was murdered into Hindu by the ancient Persians, and all people living on the other side of the river Sindhu were called by them Hindus. Thus this word has come down to us; and during the Mohammedan rule we took up the word ourselves. There may not be any harm in using the word of course; but, as I have said, it has lost its significance, for you may mark that all the people who live on this side of the Indus in modern times do not follow the same religion as they did in ancient times. The word, therefore, covers not only Hindus proper, but Mohammedans, Christians, Jains, and other people who live in India. I therefore, would not use the word Hindu. What word should we use then? The other words which alone we can use are either the Vaidikas, followers of the Vedas, or better still, the Vedantists, followers of the Vedanta. Most of the great religions of the world owe allegiance to certain books which they believe are the words of God or some other supernatural beings, and which are the basis of their religion. Now of all these books, according to the modern savants of the West, the oldest are the Vedas of the Hindus. A little understanding, therefore, is necessary about the Vedas.
This mass of writing called the Vedas is not the utterance of persons. Its date has never been fixed, can never be fixed, and, according to us, the Vedas are eternal. There is one salient point which I want you to remember, that all the other religions of the world claim their authority as being delivered by a Personal God or a number of personal beings, angels, or special messengers of God, unto certain persons; while the claim of the Hindus is that the Vedas do not owe their authority to anybody, they are themselves the authority, being eternal — the knowledge of God. They were never written, never created, they have existed throughout time; just as creation is infinite and eternal, without beginning and without end, so is the knowledge of God without beginning and without end. And this knowledge is what is meant by the Vedas (Vid to know). The mass of knowledge called the Vedanta was discovered by personages called Rishis, and the Rishi is defined as a Mantra-drashtâ, a seer of thought; not that the thought was his own. Whenever you hear that a certain passage of the Vedas came from a certain Rishi never think that he wrote it or created it out of his mind; he was the seer of the thought which already existed; it existed in the universe eternally. This sage was the discoverer; the Rishis were spiritual discoverers.
This mass of writing, the Vedas, is divided principally into two parts, the Karma Kânda and the Jnâna Kânda — the work portion and the knowledge portion, the ceremonial and the spiritual. The work portion consists of various sacrifices; most of them of late have been given up as not practicable under present circumstances, but others remain to the present day in some shape or other. The main ideas of the Karma Kanda, which consists of the duties of man, the duties of the student, of the householder, of the recluse, and the various duties of the different stations of life, are followed more or less down to the present day. But the spiritual portion of our religion is in the second part, the Jnana Kanda, the Vedanta, the end of the Vedas, the gist, the goal of the Vedas. The essence of the knowledge of the Vedas was called by the name of Vedanta, which comprises the Upanishads; and all the sects of India — Dualists, Qualified-Monists, Monists, or the Shaivites, Vaishnavites, Shâktas, Sauras, Gânapatyas, each one that dares to come within the fold of Hinduism — must acknowledge the Upanishads of the Vedas. They can have their own interpretations and can interpret them in their own way, but they must obey the authority. That is why we want to use the word Vedantist instead of Hindu. All the philosophers of India who are orthodox have to acknowledge the authority of the Vedanta; and all our present-day religions, however crude some of them may appear to be, however inexplicable some of their purposes may seem, one who understands them and studies them can trace them back to the ideas of the Upanishads. So deeply have these Upanishads sunk into our race that those of you who study the symbology of the crudest religion of the Hindus will be astonished to find sometimes figurative expressions of the Upanishads — the Upanishads become symbolised after a time into figures and so forth. Great spiritual and philosophical ideas in the Upanishads are today with us, converted into household worship in the form of symbols. Thus the various symbols now used by us, all come from the Vedanta, because in the Vedanta they are used as figures, and these ideas spread among the nation and permeated it throughout until they became part of their everyday life as symbols.
Next to the Vedanta come the Smritis. These also are books written by sages, but the authority of the Smritis is subordinate to that of the Vedanta, because they stand in the same relation with us as the scriptures of the other religions stand with regard to them. We admit that the Smritis have been written by particular sages; in that sense they are the same as the scriptures of other religions, but these Smritis are not final authority. If there is any thing in a Smriti which contradicts the Vedanta, the Smriti is to be rejected — its authority is gone. These Smritis, we see again, have varied from time to time. We read that such and such Smriti should have authority in the Satya Yuga, such and such in the Tretâ Yuga, some in the Dwâpara Yuga, and some in the Kali Yuga, and so on. As essential conditions changed, as various circumstances came to have their influence on the race, manners and customs had to be changed, and these Smritis, as mainly regulating the manners and customs of the nation, had also to be changed from time to time. This is a point I specially ask you to remember. The principles of religion that are in the Vedanta are unchangeable. Why? Because they are all built upon the eternal principles that are in man and nature; they can never change. Ideas about the soul, going to heaven, and so on can never change; they were the same thousands of years ago, they are the same today, they will be the same millions of years hence. But those religious practices which are based entirely upon our social position and correlation must change with the changes in society. Such an order, therefore, would be good and true at a certain period and not at another. We find accordingly that a certain food is allowed at one time and not another, because the food was suitable for that time; but climate and other things changed various other circumstances required to be met, so the Smriti changed the food and other things. Thus it naturally follows that if in modern times our society requires changes to be made, they must be met, and sages will come and show us the way how to meet them; but not one jot of the principles of our religion will be changed; they will remain intact.
Then there are the Purânas. पुराणं पञ्चलक्षणम् — which means, the Puranas are of five characteristics — that which treats of history, of cosmology, with various symbological illustration of philosophical principles, and so forth. These were written to popularise the religion of the Vedas. The language in which the Vedas are written is very ancient, and even among scholars very few can trace the date of these books. The Puranas were written in the language of the people of that time, what we call modern Sanskrit. They were then meant not for scholars, but for the ordinary people; and ordinary people cannot understand philosophy. Such things were given unto them in concrete form, by means of the lives of saints and kinds and great men and historical events that happened to the race etc. The sages made use of these things to illustrate the eternal principles of religion.
There are still other books, the Tantras. These are very much like Puranas in some respects, and in some of them there is an attempt to revive the old sacrificial ideas of the Karma Kanda.
All these books constitute the scriptures of the Hindus. When there is such a mass of sacred books in a nation and a race which has devoted the greatest part of its energies to the thought of philosophy and spirituality (nobody knows for how many thousands of years), it is quite natural that there should be so many sects; indeed it is a wonder that there are not thousands more. These sects differ very much from each other in certain points. We shall not have time to understand the differences between these sects and all the spiritual details about them; therefore I shall take up the common grounds, the essential principles of all these sects which every Hindu must believe.
The first is the question of creation, that this nature, Prakriti, Mâyâ is infinite, without beginning. It is not that this world was created the other day, not that a God came and created the world and since that time has been sleeping; for that cannot be. The creative energy is still going on. God is eternally creating — is never at rest. Remember the passage in the Gita where Krishna says, "If I remain at rest for one moment, this universe will be destroyed." If that creative energy which is working all around us, day and night, stops for a second, the whole thing falls to the ground. There never was a time when that energy did not work throughout the universe, but there is the law of cycles, Pralaya. Our Sanskrit word for creation, properly translated, should be projection and not creation. For the word creation in the English language has unhappily got that fearful, that most crude idea of something coming out of nothing, creation out of nonentity, non-existence becoming existence, which, of course, I would not insult you by asking you to believe. Our word, therefore, is projection. The whole of this nature exists, it becomes finer, subsides; and then after a period of rest, as it were, the whole thing is again projected forward, and the same combination, the same evolution, the same manifestations appear and remain playing, as it were, for a certain time, only again to break into pieces, to become finer and finer, until the whole thing subsides, and again comes out. Thus it goes on backwards and forwards with a wave-like motion throughout eternity. Time, space, and causation are all within this nature. To say, therefore, that it had a beginning is utter nonsense. No question can occur as to its beginning or its end. Therefore wherever in our scriptures the words beginning and end are used, you must remember that it means the beginning and the end of one particular cycle; no more than that.
What makes this creation? God. What do I mean by the use of the English word God? Certainly not the word as ordinarily used in English — a good deal of difference. There is no other suitable word in English. I would rather confine myself to the Sanskrit word Brahman. He is the general cause of all these manifestations. What is this Brahman? He is eternal, eternally pure, eternally awake, the almighty, the all-knowing, the all-merciful, the omnipresent, the formless, the partless. He creates this universe. If he is always creating and holding up this universe, two difficulties arise. We see that there is partiality in the universe. One person is born happy, and another unhappy; one is rich, and another poor; this shows partiality. Then there is cruelty also, for here the very condition of life is death. One animal tears another to pieces, and every man tries to get the better of his own brother. This competition, cruelty, horror, and sighs rending hearts day and night is the state of things in this world of ours. If this be the creation of a God, that God is worse than cruel, worse than any devil that man ever imagined. Ay! says the Vedanta, it is not the fault of God that this partiality exists, that this competition exists. Who makes it? We ourselves. There is a cloud shedding its rain on all fields alike. But it is only the field that is well cultivated, which gets the advantage of the shower; another field, which has not been tilled or taken care of cannot get that advantage. It is not the fault of the cloud. The mercy of God is eternal and unchangeable; it is we that make the differentiation. But how can this difference of some being born happy and some unhappy be explained? They do nothing to make out that differences! Not in this life, but they did in their last birth and the difference is explained by this action in the previous life.
We now come to the second principle on which we all agree, not only all Hindus, but all Buddhists and all Jains. We all agree that life is eternal. It is not that it has sprung out of nothing, for that cannot be. Such a life would not be worth having. Everything that has a beginning in time must end in time. Of life began but yesterday, it must end tomorrow, and annihilation is the result. Life must have been existing. It does not now require much acumen to see that, for all the sciences of modern times have been coming round to our help, illustrating from the material world the principles embodied in our scriptures. You know it already that each one of us is the effect of the infinite past; the child is ushered into the world not as something flashing from the hands of nature, as poets delight so much to depict, but he has the burden of an infinite past; for good or evil he comes to work out his own past deeds. That makes the differentiation. This is the law of Karma. Each one of us is the maker of his own fate. This law knocks on the head at once all doctrines of predestination and fate and gives us the only means of reconciliation between God and man. We, we, and none else, are responsible for what we suffer. We are the effects, and we are the causes. We are free therefore. If I am unhappy, it has been of my own making, and that very thing shows that I can be happy if I will. If I am impure, that is also of my own making, and that very thing shows that I can be pure if I will. The human will stands beyond all circumstance. Before it — the strong, gigantic, infinite will and freedom in man — all the powers, even of nature, must bow down, succumb, and become its servants. This is the result of the law of Karma.
The next question, of course, naturally would be: What is the soul? We cannot understand God in our scriptures without knowing the soul. There have been attempts in India, and outside of India too, to catch a glimpse of the beyond by studying external nature, and we all know what an awful failure has been the result. Instead of giving us a glimpse of the beyond, the more we study the material world, the more we tend to become materialised. The more we handle the material world, even the little spirituality which we possessed before vanishes. Therefore that is not the way to spirituality, to knowledge of the Highest; but it must come through the heart, the human soul. The external workings do not teach us anything about the beyond, about the Infinite, it is only the internal that can do so. Through soul, therefore, the analysis of the human soul alone, can we understand God. There are differences of opinion as to the nature of the human soul among the various sects in India, but there are certain points of agreement. We all agree that souls are without beginning and without end, and immortal by their very nature; also that all powers, blessing, purity, omnipresence, omniscience are buried in each soul. That is a grand idea we ought to remember. In every man and in every animal, however weak or wicked, great or small, resides the same omnipresent, omniscient soul. The difference is not in the soul, but in the manifestation. Between me and the smallest animal, the difference is only in manifestation, but as a principle he is the same as I am, he is my brother, he has the same soul as I have. This is the greatest principle that India has preached. The talk of the brotherhood of man becomes in India the brotherhood of universal life, of animals, and of all life down to the little ants — all these are our bodies. Even as our scripture says, "Thus the sage, knowing that the same Lord inhabits all bodies, will worship every body as such." That is why in India there have been such merciful ideas about the poor, about animals, about everybody, and everything else. This is one of the common grounds about our ideas of the soul.
Naturally, we come to the idea of God. One thing more about the soul. Those who study the English language are often deluded by the words, soul and mind. Our Âtman and soul are entirely different things. What we call Manas, the mind, the Western people call soul. The West never had the idea of soul until they got it through Sanskrit philosophy, some twenty years ago. The body is here, beyond that is the mind, yet the mind is not the Atman; it is the fine body, the Sukshma Sharira, made of fine particles, which goes from birth to death, and so on; but behind the mind is the Atman, the soul, the Self of man. It cannot be translated by the word soul or mind, so we have to use the word Atman, or, as Western philosophers have designated it, by the word Self. Whatever word you use, you must keep it clear in your mind that the Atman is separate from the mind, as well as from the body, and that this Atman goes through birth and death, accompanied by the mind, the Sukshma Sharira. And when the time comes that it has attained to all knowledge and manifested itself to perfection, then this going from birth to death ceases for it. Then it is at liberty either to keep that mind, the Sukshma Sharira, or to let it go for ever, and remain independent and free throughout all eternity. The goal of the soul is freedom. That is one peculiarity of our religion. We also have heavens and hells too; but these are not infinite, for in the very nature of things they cannot be. If there were any heavens, they would be only repetitions of this world of ours on a bigger scale, with a little more happiness and a little more enjoyment, but that is all the worse for the soul. There are many of these heavens. Persons who do good works here with the thought of reward, when they die, are born again as gods in one of these heavens, as Indra and others. These gods are the names of certain states. They also had been men, and by good work they have become gods; and those different names that you read of, such as Indra and so on, are not the names of the same person. There will be thousands of Indras. Nahusha was a great king, and when he died, he became Indra. It is a position; one soul becomes high and takes the Indra position and remains in it only a certain time; he then dies and is born again as man. But the human body is the highest of all. Some of the gods may try to go higher and give up all ideas of enjoyment in heavens; but, as in this world, wealth and position and enjoyment delude the vast majority, so do most of the gods become deluded also, and after working out their good Karma, they fall down and become human beings again. This earth, therefore, is the Karma Bhumi; it is this earth from which we attain to liberation. So even these heavens are not worth attaining to.
What is then worth having? Mukti, freedom. Even in the highest of heavens, says our scripture, you are a slave; what matters it if you are a king for twenty thousand years? So long as you have a body, so long as you are a slave to happiness, so long as time works on you, space works on you, you are a slave. The idea, therefore, is to be free of external and internal nature. Nature must fall at your feet, and you must trample on it and be free and glorious by going beyond. No more is there life; therefore more is there death. No more enjoyment; therefore no more misery. It is bliss unspeakable, in destructible, beyond everything. What we call happiness and good here are but particles of that eternal Bliss. And this eternal Bliss is our goal.
The soul is also sexless; we cannot say of the Atman that it is a man or a woman. Sex belongs to the body alone. All such ideas, therefore, as man or woman, are a delusion when spoken with regard to the Self, and are only proper when spoken of the body. So are the ideas of age. It never ages; the ancient One is always the same. How did It come down to earth? There is but one answer to that in our scriptures. Ignorance is the cause of all this bondage. It is through ignorance that we have become bound; knowledge will cure it by taking us to the other side. How will that knowledge come? Through love, Bhakti; by the worship of God, by loving all beings as the temples of God. He resides within them. Thus, with that intense love will come knowledge, and ignorance will disappear, the bonds will break, and the soul will be free.
There are two ideas of God in our scriptures — the one, the personal; and the other, the impersonal. The idea of the Personal God is that He is the omnipresent creator, preserver, and destroyer of everything, the eternal Father and Mother of the universe, but One who is eternally separate from us and from all souls; and liberation consists in coming near to Him and living in Him. Then there is the other idea of the Impersonal, where all those adjectives are taken away as superfluous, as illogical and there remains an impersonal, omnipresent Being who cannot be called a knowing being, because knowledge only belongs to the human mind. He cannot be called a thinking being, because that is a process of the weak only. He cannot be called a reasoning being, because reasoning is a sign of weakness. He cannot be called a creating being, because none creates except in bondage. What bondage has He? None works except for the fulfilment of desires; what desires has He? None works except it be to supply some wants; what wants has He? In the Vedas it is not the word "He" that is used, but "It", for "He" would make an invidious distinction, as if God were a man. "It", the impersonal, is used, and this impersonal "It" is preached. This system is called the Advaita.
And what are our relations with this Impersonal Being? — that we are He. We and He are one. Every one is but a manifestation of that Impersonal, the basis of all being, and misery consists in thinking of ourselves as different from this Infinite, Impersonal Being; and liberation consists in knowing our unity with this wonderful Impersonality. These, in short, are the two ideas of God that we find in our scriptures.
Some remarks ought to be made here. It is only through the idea of the Impersonal God that you can have any system of ethics. In every nation the truth has been preached from the most ancient times — love your fellow-beings as yourselves — I mean, love human beings as yourselves. In India it has been preached, "love all beings as yourselves"; we make no distinction between men and animals. But no reason was forthcoming, no one knew why it would be good to love other beings as ourselves. And the reason, why, is there in the idea of the Impersonal God; you understand it when you learn that the whole world is one — the oneness of the universe — the solidarity of all life — that in hurting any one I am hurting myself, in loving any one I am loving myself. Hence we understand why it is that we ought not to hurt others. The reason for ethics, therefore, can only be had from this ideal of the Impersonal God. Then there is the question of the position of the Personal God in it. I understand the wonderful flow of love that comes from the idea of a Personal God, I thoroughly appreciate the power and potency of Bhakti on men to suit the needs of different times. What we now want in our country, however, is not so much of weeping, but a little strength. What a mine of strength is in this Impersonal God, when all superstitions have been thrown overboard, and man stands on his feet with the knowledge — I am the Impersonal Being of the world! What can make me afraid? I care not even for nature's laws. Death is a joke to me. Man stands on the glory of his own soul, the infinite, the eternal, the deathless — that soul which no instruments can pierce, which no air can dry, nor fire burn, no water melt, the infinite, the birthless, the deathless, without beginning and without end, before whose magnitude the suns and moons and all their systems appear like drops in the ocean, before whose glory space melts away into nothingness and time vanishes into non-existence. This glorious soul we must believe in. Out of that will come power. Whatever you think, that you will be. If you think yourselves weak, weak you will be; if you think yourselves strong, strong you will be; if you think yourselves impure, impure you will be; if you think yourselves pure, pure you will be. This teaches us not to think ourselves as weak, but as strong, omnipotent, omniscient. No matter that I have not expressed it yet, it is in me. All knowledge is in me, all power, all purity, and all freedom. Why cannot I express this knowledge? Because I do not believe in it. Let me believe in it, and it must and will come out. This is what the idea of the Impersonal teaches. Make your children strong from their very childhood; teach them not weakness, nor forms, but make them strong; let them stand on their feet — bold, all-conquering, all-suffering; and first of all, let them learn of the glory of the soul. That you get alone in the Vedanta — and there alone. It has ideas of love and worship and other things which we have in other religions, and more besides; but this idea of the soul is the life-giving thought, the most wonderful. There and there alone is the great thought that is going to revolutionist the world and reconcile the knowledge of the material world with religion.
Thus I have tried to bring before you the salient points of our religion — the principles. I have only to say a few words about the practice and the application As we have seen, under the circumstances existing in India, naturally many sects must appear. As a fact, we find that there are so many sects in India, and at the same time we know this mysterious fact that these sects do not quarrel with each other. The Shaivite does not say that every Vaishnavite is going to be damned, nor the Vaishnavite that every Shaivite will be damned. The Shaivite says, this is my path, and you have yours; at the end we must come together. They all know that in India. This is the theory of Ishta. It has been recognised in the most ancient times that there are various forms of worshipping God. It is also recognised that different natures require different methods. Your method of coming to God may not be my method, possibly it might hurt me. Such an idea as that there is but one way for everybody is injurious, meaningless, and entirely to be avoided. Woe unto the world when everyone is of the same religious opinion and takes to the same path. Then all religions and all thought will be destroyed. Variety is the very soul of life. When it dies out entirely, creation will die. When this variation in thought is kept up, we must exist; and we need not quarrel because of that variety. Your way is very good for you, but not for me. My way is good for me, but not for you My way is called in Sanskrit, my "Ishta". Mind you, we have no quarrel with any religion in the world. We have each our Ishta. But when we see men coming and saying, "This is the only way", and trying to force it on us in India, we have a word to say; we laugh at them. For such people who want to destroy their brothers because they seem to follow a different path towards God — for them to talk of love is absurd. Their love does not count for much. How can they preach of love who cannot bean another man to follow a different path from their own? If that is love, what is hatred? We have no quarrel with any religion in the world, whether it teaches men to worship Christ, Buddha, or Mohammed, or any other prophet. "Welcome, my brother," the Hindu says, "I am going to help you; but you must allow me to follow my way too. That is my Ishta. Your way is very good, no doubt; but it may be dangerous for me. My own experience tells me what food is good for me, and no army of doctors can tell me that. So I know from my own experience what path is the best for me." That is the goal, the Ishta, and, therefore, we say that if a temple, or a symbol, or an image helps you to realise the Divinity within, you are welcome to it. Have two hundred images if you like. If certain forms and formularies help you to realise the Divine, God speed you; have, by all means, whatever forms, and whatever temples, and whatever ceremonies you want to bring you nearer to God. But do not quarrel about them; the moment you quarrel, you are not going Godward, you are going backward, towards the brutes.
These are a few ideas in our religion. It is one of inclusion of every one, exclusion of none. Though our castes and our institutions are apparently linked with our religion, they are not so. These institutions have been necessary to protect us as a nation, and when this necessity for self-preservation will no more exist, they will die a natural death. But the older I grow, the better I seem to think of these time-honoured institutions of India. There was a time when I used to think that many of them were useless and worthless; but the older I grew, the more I seem to feel a diffidence in cursing any one of them, for each one of them is the embodiment of the experience of centuries. A child of but yesterday, destined to die the day after tomorrow, comes to me and asks me to change all my plans; and if I hear the advice of that baby and change all my surroundings according to his ideas, I myself should be a fool, and no one else. Much of the advice that is coming to us from different countries is similar to this. Tell these wiseacres: "I will hear you when you have made a stable society yourselves. You cannot hold on to one idea for two days, you quarrel and fail; you are born like moths in the spring and die like them in five minutes. You come up like bubbles and burst like bubbles too. First form a stable society like ours. First make laws and institutions that remain undiminished in their power through scores of centuries. Then will be the time to talk on the subject with you, but till then, my friend, you are only a giddy child."
I have finished what I had to say about our religion. I will end by reminding you of the one pressing necessity of the day. Praise be to Vyâsa, the great author of the Mahâbhârata, that in this Kali Yuga there is one great work. The Tapas and the other hard Yogas that were practiced in other Yugas do not work now. What is needed in this Yuga is giving, helping others. What is meant by Dana? The highest of gifts is the giving of spiritual knowledge, the next is the giving of secular knowledge, and the next is the saving of life, the last is giving food and drink. He who gives spiritual knowledge, saves the soul from many end many a birth. He who gives secular knowledge opens the eyes of human beings to wards spiritual knowledge, and far below these rank all other gifts, even the saving of life. Therefore it is necessary that you learn this and note that all other kinds of work are of much less value than that of imparting spiritual knowledge. The highest and greatest help is that given in the dissemination of spiritual knowledge. There is an eternal fountain of spirituality in our scriptures, and nowhere on earth, except in this land of renunciation, do we find such noble examples of practical spirituality. I have had a little experience of the world. Believe me, there is much talking in other lands; but the practical man of religion, who has carried it into his life, is here and here alone. Talking is not religion; parrots may talk, machines may talk nowadays. But show me the life of renunciation, of spirituality, of all-suffering, of love infinite. This kind of life indicates a spiritual man. With such ideas and such noble practical examples in our country, it would be a great pity if the treasures in the brains and hearts of all these great Yogis were not brought out to become the common property of every one, rich and poor, high and low; not only in India, but they must be thrown broadcast all over the world. This is one of our greatest duties, and you will find that the more you work to help others, the more you help yourselves. The one vital duty incumbent on you, if you really love your religion, if you really love your country, is that you must struggle hard to be up and doing, with this one great idea of bringing out the treasures from your closed books and delivering them over to their rightful heirs.
And above all, one thing is necessary. Ay, for ages we have been saturated with awful jealousy; we are always getting jealous of each other. Why has this man a little precedence, and not I? Even in the worship of God we want precedence, to such a state of slavery have we come. This is to be avoided. If there is any crying sin in India at this time it is this slavery. Every one wants to command, and no one wants to obey; and this is owing to the absence of that wonderful Brahmacharya system of yore. First, learn to obey. The command will come by itself. Always first learn to be a servant, and then you will be fit to be a master. Avoid this jealousy and you will do great works that have yet to be done. Our ancestors did most wonderful works, and we look back upon their work with veneration and pride. But we also are going to do great deeds, and let others look back with blessings and pride upon us as their ancestors. With the blessing of the Lord every one here will yet do such deeds that will eclipse those of our ancestors, great and glorious as they may have been.
Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.