Bhakti atau Pengabdian
Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.
AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.
Bahasa Indonesia
Gagasan tentang Tuhan Personal telah hadir di hampir setiap agama, kecuali beberapa yang sangat sedikit. Dengan pengecualian penganut Buddha dan Jain, mungkin semua agama di dunia memiliki gagasan tentang Tuhan Personal, dan bersamaan dengannya muncul gagasan tentang pengabdian dan ibadah. Penganut Buddha dan Jain, meskipun tidak memiliki Tuhan Personal, memuja para pendiri agama mereka dengan cara yang persis sama seperti orang lain memuja Tuhan Personal. Gagasan tentang pengabdian dan ibadah kepada suatu wujud yang lebih tinggi yang dapat memantulkan kembali cinta kepada manusia ini bersifat universal. Dalam berbagai agama, cinta dan pengabdian ini terwujud dalam derajat yang beragam, pada tahap yang berbeda-beda. Tahap terendah adalah ritualisme, ketika gagasan-gagasan abstrak hampir tidak mungkin dipahami, lalu diturunkan ke bidang yang paling rendah dan dijadikan konkret. Bentuk-bentuk pun masuk berperan, dan bersamanya pula berbagai simbol. Sepanjang sejarah dunia, kita menemukan bahwa manusia berusaha menggenggam yang abstrak melalui bentuk-bentuk pemikiran atau simbol. Semua perwujudan lahiriah agama — lonceng, musik, ritual, kitab, dan arca — termasuk dalam kategori itu. Apa pun yang menggugah indera, apa pun yang membantu manusia membentuk gambaran konkret tentang yang abstrak, akan dipegang dan dijadikan objek ibadah.
Dari waktu ke waktu, dalam setiap agama telah hadir para pembaru yang menentang segala simbol dan ritual. Namun sia-sialah penentangan mereka, sebab selama manusia tetap sebagaimana adanya, mayoritas besar selalu menginginkan sesuatu yang konkret untuk dipegang, sesuatu yang di sekelilingnya, seolah-olah, mereka menempatkan gagasan-gagasan mereka, sesuatu yang akan menjadi pusat seluruh bentuk pemikiran dalam benak mereka. Upaya besar kaum Muhammadan dan kaum Protestan telah diarahkan pada satu tujuan ini, yakni menghapuskan segala ritual, namun kita menemukan bahwa bahkan pada mereka pun ritual telah menyusup masuk. Ritual itu tidak dapat ditiadakan; setelah perjuangan yang panjang, massa hanya menukar satu simbol dengan simbol yang lain. Penganut Muhammadan, yang berpendapat bahwa setiap ritual, setiap bentuk, arca, atau upacara yang dipakai oleh seorang non-Muhammadan adalah dosa, tidak berpikir demikian ketika ia mendatangi tempat sucinya sendiri, Ka'bah. Setiap penganut Muhammadan yang taat, di mana pun ia berdoa, harus membayangkan dirinya sedang berdiri di hadapan Ka'bah. Ketika ia melakukan ziarah ke sana, ia harus mencium batu hitam di dinding tempat suci itu. Semua ciuman yang telah tertera pada batu itu, oleh jutaan dan jutaan peziarah, akan bangkit sebagai saksi demi manfaat orang-orang beriman pada hari penghakiman terakhir. Lalu ada sumur Zamzam. Penganut Muhammadan percaya bahwa barang siapa menimba sedikit air dari sumur itu, dosanya akan diampuni, dan ia, setelah hari kebangkitan, akan memiliki tubuh yang baru, dan hidup selamanya. Pada yang lain, kita menemukan bahwa simbolisme itu hadir dalam bentuk bangunan. Kaum Protestan berpendapat bahwa gereja-gereja lebih suci daripada tempat-tempat lain. Gereja, sebagaimana adanya, berdiri sebagai simbol. Atau ada Kitab. Gagasan tentang Kitab bagi mereka jauh lebih suci daripada simbol lain mana pun.
Sia-sia berkhotbah menentang penggunaan simbol, dan mengapa kita harus berkhotbah menentangnya? Tidak ada alasan mengapa manusia tidak boleh menggunakan simbol. Mereka memilikinya untuk merepresentasikan gagasan-gagasan yang ditandakan di baliknya. Alam semesta ini adalah sebuah simbol, melalui dan di dalamnya kita berusaha menggenggam hal yang ditandakan, yang berada di luar dan di baliknya. Roh adalah tujuan, bukan materi. Bentuk, arca, lonceng, lilin, kitab, gereja, kuil, dan semua simbol suci sangatlah baik, sangat membantu bagi tumbuhan kerohanian yang sedang bertunas, tetapi sampai di situ saja dan tidak lebih jauh. Pada mayoritas terbesar kasus, kita menemukan bahwa tumbuhan itu tidak tumbuh. Sangat baik dilahirkan dalam gereja, tetapi sangat buruk mati dalam gereja. Sangat baik dilahirkan dalam batas-batas bentuk-bentuk tertentu yang membantu tunas kecil kerohanian, namun jika seorang manusia mati dalam batas-batas bentuk-bentuk ini, hal itu menunjukkan bahwa ia tidak tumbuh, bahwa tidak ada perkembangan jiwa.
Oleh karena itu, jika seseorang mengatakan bahwa simbol, ritual, dan bentuk harus dipertahankan selamanya, ia keliru; tetapi jika ia mengatakan bahwa simbol dan ritual ini merupakan pertolongan bagi pertumbuhan jiwa, dalam keadaannya yang rendah dan belum berkembang, ia benar. Akan tetapi, Anda jangan sampai salah memahami perkembangan jiwa ini sebagai sesuatu yang sifatnya intelektual. Seseorang bisa saja memiliki kecerdasan raksasa, namun secara rohani ia mungkin masih bayi. Anda dapat membuktikannya saat ini juga. Anda semua telah diajarkan untuk percaya kepada Tuhan yang Mahahadir. Cobalah memikirkannya. Betapa sedikit di antara Anda yang dapat memiliki gagasan tentang apa arti kemahahadiran! Jika Anda bersusah payah berusaha, Anda akan memperoleh sesuatu yang menyerupai gagasan tentang samudra, atau langit, atau hamparan luas bumi yang hijau, atau gurun. Semua itu adalah gambaran material, dan selama Anda tidak dapat memahami yang abstrak sebagai abstrak, yang ideal sebagai ideal, Anda akan harus berpaling kepada bentuk-bentuk ini, gambaran-gambaran material ini. Tidak banyak bedanya apakah gambaran-gambaran ini berada di dalam atau di luar pikiran. Kita semua terlahir sebagai pemuja arca, dan pemujaan arca itu baik, sebab hal itu ada dalam kodrat manusia. Siapa yang dapat melampauinya? Hanya manusia sempurna, manusia-Tuhan. Selebihnya semuanya adalah pemuja arca. Selama kita melihat alam semesta ini di hadapan kita, dengan bentuk dan rupanya, kita semua adalah pemuja arca. Ini adalah simbol raksasa yang kita puja. Ia yang mengatakan bahwa dirinya adalah tubuh adalah pemuja arca yang terlahir demikian. Kita adalah roh, roh yang tidak memiliki bentuk atau rupa, roh yang tak terbatas, dan bukan materi. Oleh karena itu, siapa pun yang tidak dapat menggenggam yang abstrak, yang tidak dapat memikirkan dirinya sebagaimana adanya, kecuali di dalam dan melalui materi, sebagai tubuh, adalah pemuja arca. Namun betapa orang-orang saling bertikai, saling menyebut sesamanya pemuja arca! Dengan kata lain, masing-masing mengatakan bahwa arcanya benar, dan arca orang lain salah.
Oleh karena itu, kita harus melepaskan diri dari gagasan-gagasan kekanak-kanakan ini. Kita harus melampaui igauan orang-orang yang menganggap agama hanyalah seonggok kata-kata berbusa, bahwa agama hanyalah sebuah sistem doktrin; bagi mereka agama hanyalah sedikit persetujuan atau ketidaksetujuan intelektual; bagi mereka agama adalah percaya kepada kata-kata tertentu yang dikatakan oleh pendeta mereka sendiri; bagi mereka agama adalah sesuatu yang dipercayai oleh nenek moyang mereka; bagi mereka agama adalah bentuk tertentu dari gagasan-gagasan dan takhayul-takhayul yang mereka pegang teguh karena itu adalah takhayul kebangsaan mereka. Kita harus melampaui semua ini dan memandang umat manusia sebagai satu organisme luas, yang perlahan-lahan menuju cahaya — sebuah tumbuhan menakjubkan, yang perlahan-lahan menyingkapkan dirinya menuju kebenaran menakjubkan yang disebut Tuhan — dan putaran-putaran pertama, gerakan-gerakan pertama, menuju hal ini selalu melalui materi dan melalui ritual.
Di jantung semua ritualisme ini, berdiri satu gagasan yang menonjol di atas yang lain — pemujaan terhadap sebuah nama. Mereka di antara Anda yang telah mempelajari bentuk-bentuk Kristen yang lebih tua, mereka di antara Anda yang telah mempelajari agama-agama lain di dunia, mungkin telah mencatat bahwa gagasan ini ada pada semua agama tersebut, yakni pemujaan terhadap sebuah nama. Sebuah nama dikatakan sangat suci. Dalam Alkitab kita membaca bahwa nama suci Tuhan dianggap suci tanpa banding, suci melampaui segala sesuatu. Itulah yang paling suci dari semua nama, dan dianggap bahwa Sabda itu sendiri adalah Tuhan. Hal ini sungguh benar. Apakah alam semesta ini selain nama dan bentuk? Dapatkah Anda berpikir tanpa kata? Kata dan pikiran tidak terpisahkan. Cobalah jika salah satu di antara Anda dapat memisahkannya. Kapan pun Anda berpikir, Anda melakukannya melalui bentuk-bentuk kata. Yang satu menghadirkan yang lain; pikiran menghadirkan kata, dan kata menghadirkan pikiran. Dengan demikian seluruh alam semesta ini, seolah-olah, adalah simbol lahiriah dari Tuhan, dan di baliknya berdiri nama-Nya yang agung. Setiap tubuh tertentu adalah sebuah bentuk, dan di balik tubuh tertentu itu ada namanya. Begitu Anda memikirkan sahabat kita si Anu, muncullah gagasan tentang tubuhnya, dan begitu Anda memikirkan tubuh sahabat Anda, Anda mendapatkan gagasan tentang namanya. Hal ini ada dalam konstitusi manusia. Artinya, secara psikologis, dalam bahan-pikiran manusia, gagasan tentang nama tidak dapat muncul tanpa gagasan tentang bentuk, dan gagasan tentang bentuk tidak dapat muncul tanpa gagasan tentang nama. Keduanya tak terpisahkan; keduanya adalah sisi luar dan sisi dalam dari gelombang yang sama. Sebagai demikian, nama-nama telah dimuliakan dan dipuja di seluruh dunia — sadar atau tidak sadar, manusia menemukan kemuliaan nama.
Sekali lagi, kita menemukan bahwa dalam banyak agama yang berbeda, tokoh-tokoh suci telah dipuja. Mereka memuja Krishna, mereka memuja Buddha, mereka memuja Yesus, dan seterusnya. Lalu ada pemujaan terhadap para santo; ratusan dari mereka telah dipuja di seluruh dunia, dan mengapa tidak? Getaran cahaya ada di mana-mana. Burung hantu melihatnya dalam kegelapan. Itu menunjukkan bahwa cahaya itu ada, meskipun manusia tidak dapat melihatnya. Bagi manusia, getaran itu hanya tampak di dalam lampu, di matahari, di bulan, dan sebagainya. Tuhan Mahahadir, Ia mewujudkan Diri-Nya di dalam setiap wujud; tetapi bagi manusia, Ia hanya tampak, hanya dapat dikenali, di dalam manusia. Ketika cahaya-Nya, kehadiran-Nya, roh-Nya, bersinar melalui wajah manusia, saat itulah, dan hanya saat itulah, manusia dapat memahami-Nya. Dengan demikian, manusia telah memuja Tuhan melalui manusia sepanjang waktu, dan harus terus melakukannya selama ia adalah manusia. Ia mungkin meratap menentangnya, berjuang menentangnya, tetapi begitu ia berupaya untuk merealisasikan Tuhan, ia akan menemukan keharusan konstitusional untuk memikirkan Tuhan sebagai manusia.
Maka kita menemukan bahwa di hampir setiap agama, inilah tiga hal utama yang kita miliki dalam pemujaan terhadap Tuhan — bentuk atau simbol, nama, manusia-Tuhan. Semua agama memiliki ini, namun Anda menemukan bahwa mereka ingin saling bertarung. Satu pihak mengatakan, "Namaku adalah satu-satunya nama; bentukku adalah satu-satunya bentuk; dan manusia-Tuhanku adalah satu-satunya manusia-Tuhan di dunia; milikmu hanyalah mitos belaka." Pada masa modern, para rohaniwan Kristen telah menjadi sedikit lebih ramah, dan mereka mengakui bahwa pada agama-agama yang lebih tua, bentuk-bentuk pemujaan yang berbeda merupakan bayangan awal dari Kekristenan, yang tentu saja, menurut mereka, adalah satu-satunya bentuk yang benar. Tuhan menguji Diri-Nya sendiri pada masa-masa lampau, menguji kekuasaan-Nya dengan membentuk hal-hal ini, yang berpuncak pada Kekristenan. Setidaknya ini merupakan kemajuan besar. Lima puluh tahun yang lalu mereka bahkan tidak akan mengatakan demikian; tidak ada yang benar selain agama mereka sendiri. Gagasan ini tidak terbatas pada agama, bangsa, atau golongan orang mana pun; orang-orang selalu berpikir bahwa satu-satunya hal yang benar untuk dilakukan oleh orang lain adalah apa yang mereka sendiri lakukan. Dan di sinilah studi tentang berbagai agama menolong kita. Hal itu menunjukkan kepada kita bahwa pemikiran-pemikiran yang sama yang telah kita sebut sebagai milik kita, dan hanya milik kita, telah hadir ratusan tahun yang lalu pada orang lain, dan terkadang bahkan dalam bentuk ungkapan yang lebih baik daripada milik kita sendiri.
Inilah bentuk-bentuk lahiriah pengabdian, yang harus dilalui oleh manusia; tetapi jika ia tulus, jika ia sungguh-sungguh ingin mencapai kebenaran, ia naik lebih tinggi daripada ini, ke suatu bidang di mana bentuk-bentuk tidak ada artinya. Kuil atau gereja, kitab atau bentuk, hanyalah taman kanak-kanak agama, untuk membuat anak rohani cukup kuat mengambil langkah-langkah yang lebih tinggi; dan langkah-langkah pertama ini perlu jika ia menghendaki agama. Bersamaan dengan kehausan, kerinduan akan Tuhan, datanglah pengabdian yang sejati, bhakti (pengabdian kasih) yang sejati. Siapa yang memiliki kerinduan itu? Itulah pertanyaannya. Agama tidak terletak pada doktrin, pada dogma, juga bukan pada argumentasi intelektual; agama adalah ke-beradaan dan ke-menjadi-an, agama adalah realisasi. Kita mendengar begitu banyak orang berbicara tentang Tuhan dan jiwa, dan segala misteri alam semesta, tetapi jika Anda menanyai mereka satu per satu, "Sudahkah Anda merealisasikan Tuhan? Sudahkah Anda melihat Jiwa Anda?" — berapa banyak yang dapat mengatakan bahwa mereka sudah? Namun mereka semua saling bertikai! Pada suatu ketika, di India, perwakilan-perwakilan dari sekte-sekte berbeda bertemu dan mulai berdebat. Yang satu berkata bahwa satu-satunya Tuhan adalah Shiva; yang lain berkata, satu-satunya Tuhan adalah Wisnu, dan seterusnya; dan tidak ada akhir bagi diskusi mereka. Seorang resi sedang lewat di situ, dan diundang oleh para pendebat untuk memutuskan perkara itu. Mula-mula ia bertanya kepada orang yang mengklaim Shiva sebagai Tuhan terbesar, "Sudahkah Anda melihat Shiva? Apakah Anda mengenal-Nya? Jika tidak, bagaimana Anda tahu bahwa Ia adalah Tuhan terbesar?" Lalu berpaling kepada pemuja Wisnu, ia bertanya, "Sudahkah Anda melihat Wisnu?" Dan setelah mengajukan pertanyaan ini kepada mereka semua, ia menemukan bahwa tidak seorang pun di antara mereka mengetahui apa pun tentang Tuhan. Itulah sebabnya mereka begitu banyak berdebat, sebab seandainya mereka benar-benar mengetahui, mereka tidak akan berbantah-bantahan. Ketika sebuah kendi sedang diisi dengan air, ia berbunyi, tetapi ketika sudah penuh, tidak ada bunyi. Demikian pula, kenyataan bahwa terjadi perdebatan dan pertikaian di antara sekte-sekte ini menunjukkan bahwa mereka tidak mengetahui apa pun tentang agama. Agama bagi mereka hanyalah seonggok kata-kata berbusa, untuk ditulis dalam kitab. Setiap orang tergesa-gesa menulis sebuah buku besar, membuatnya seberat mungkin, mencuri bahan-bahannya dari setiap buku yang dapat ia raih, dan tidak pernah mengakui utang budinya. Lalu ia meluncurkan buku ini ke dunia, menambah kekacauan yang sudah ada di sana.
Mayoritas besar manusia adalah ateis. Saya bersyukur bahwa pada masa modern, satu kelas ateis lain telah muncul di dunia Barat — maksud saya kaum materialis. Mereka adalah ateis yang tulus. Mereka lebih baik daripada ateis religius, yang tidak tulus, yang bertikai dan berbicara tentang agama, namun tidak menginginkannya, tidak pernah berusaha merealisasikannya, tidak pernah berusaha memahaminya. Ingatlah perkataan Kristus: "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu." Kata-kata ini benar secara harfiah, bukan kiasan atau fiksi. Itu adalah curahan darah hati dari salah satu putra terbesar Tuhan yang pernah datang ke dunia kita ini; kata-kata yang muncul sebagai buah realisasi, dari seorang manusia yang telah merasakan dan merealisasikan Tuhan sendiri; yang telah berbicara dengan Tuhan, hidup bersama Tuhan, seratus kali lebih intens daripada Anda atau saya melihat bangunan ini. Siapa yang menginginkan Tuhan? Itulah pertanyaannya. Apakah Anda berpikir bahwa semua massa manusia di dunia ini menginginkan Tuhan, dan tidak dapat memperoleh-Nya? Tidak mungkin demikian. Keinginan apa yang ada tanpa objeknya di luar? Manusia ingin bernapas, dan ada udara untuk ia hirup. Manusia ingin makan, dan ada makanan untuk dimakan. Apa yang menciptakan keinginan-keinginan ini? Keberadaan benda-benda eksternal. Cahayalah yang membuat mata; suaralah yang membuat telinga. Demikianlah setiap keinginan dalam diri manusia telah diciptakan oleh sesuatu yang telah ada di luar. Keinginan akan kesempurnaan ini, untuk mencapai tujuan dan melampaui alam, bagaimana mungkin ia ada, sampai sesuatu telah menciptakannya dan menanamkannya ke dalam jiwa manusia, dan membuatnya hidup di sana? Oleh karena itu, ia yang di dalamnya keinginan ini telah terbangkitkan, akan mencapai tujuan. Kita menginginkan segalanya kecuali Tuhan. Ini bukanlah agama yang Anda lihat di sekeliling Anda. Nyonya saya memiliki perabotan di ruang tamunya, dari seluruh dunia, dan kini sedang mode untuk memiliki sesuatu yang berasal dari Jepang; maka ia membeli sebuah vas dan meletakkannya di kamarnya. Demikianlah agama bagi mayoritas besar; mereka memiliki segala macam hal untuk dinikmati, dan jika mereka tidak menambahkan sedikit cita rasa agama, hidup terasa tidak beres, sebab masyarakat akan mengkritik mereka. Masyarakat mengharapkannya; jadi mereka harus memiliki agama tertentu. Inilah keadaan agama saat ini di dunia.
Seorang murid datang kepada gurunya dan berkata kepadanya, "Tuan, saya menginginkan agama." Sang guru memandang pemuda itu, dan tidak berbicara, hanya tersenyum. Pemuda itu datang setiap hari, dan bersikeras bahwa ia menginginkan agama. Tetapi orang tua itu lebih tahu daripada pemuda itu. Suatu hari, ketika cuaca sangat panas, ia meminta pemuda itu untuk pergi bersamanya ke sungai dan terjun. Pemuda itu terjun, dan orang tua itu menyusul, lalu menahan pemuda itu tetap berada di bawah air dengan paksa. Setelah pemuda itu berjuang sebentar, ia melepaskannya dan menanyakan apa yang paling ia inginkan ketika berada di bawah air. "Sehirupan udara," jawab sang murid. "Apakah Anda menginginkan Tuhan dengan cara seperti itu? Jika ya, Anda akan mendapatkan-Nya dalam sekejap," kata sang guru. Sampai Anda memiliki kehausan itu, keinginan itu, Anda tidak dapat memperoleh agama, betapa pun Anda berjuang dengan akal Anda, atau buku-buku Anda, atau bentuk-bentuk Anda. Sampai kehausan itu terbangkitkan dalam diri Anda, Anda tidak lebih baik daripada seorang ateis mana pun; hanya saja sang ateis tulus, sedangkan Anda tidak.
Seorang resi besar biasa berkata, "Andaikan ada seorang pencuri di dalam sebuah kamar, dan entah bagaimana ia tahu bahwa ada setumpuk besar emas di kamar sebelah, dan bahwa hanya ada sekat tipis di antara kedua kamar. Bagaimanakah keadaan pencuri itu? Ia akan tak bisa tidur, ia tak akan dapat makan atau melakukan apa pun. Seluruh pikirannya akan tertuju pada cara mendapatkan emas itu. Apakah Anda hendak mengatakan bahwa, jika semua orang ini benar-benar percaya bahwa Tambang Kebahagiaan, Keberkahan, Kemuliaan ada di sini, mereka akan bertindak sebagaimana yang mereka lakukan di dunia, tanpa berusaha mendapatkan Tuhan?" Begitu seorang manusia mulai percaya bahwa ada Tuhan, ia menjadi gila oleh kerinduan untuk sampai kepada-Nya. Yang lain boleh menempuh jalannya sendiri-sendiri, tetapi begitu seorang manusia yakin bahwa ada kehidupan yang jauh lebih tinggi daripada yang sedang ia jalani di sini, begitu ia merasa yakin bahwa indera bukanlah segalanya, bahwa tubuh material yang terbatas ini bukan apa-apa dibandingkan dengan kebahagiaan baka, kekal, tak terhancurkan dari Diri sejati, ia menjadi gila sampai ia menemukan kebahagiaan ini bagi dirinya sendiri. Dan kegilaan ini, kehausan ini, mania ini, itulah yang disebut "kebangkitan" terhadap agama, dan ketika hal itu telah datang, seorang manusia mulai menjadi religius. Tetapi itu memakan waktu yang lama. Semua bentuk dan upacara ini, doa-doa dan ziarah-ziarah ini, kitab-kitab, lonceng-lonceng, lilin-lilin, dan para pendeta ini, adalah persiapan; semuanya itu mengangkat kekotoran dari jiwa. Dan ketika jiwa sudah menjadi murni, ia secara alami ingin sampai kepada tambang dari segala kemurnian, Tuhan sendiri. Sama seperti sebatang besi, yang telah tertutup oleh debu berabad-abad, mungkin tergeletak di dekat sebuah magnet sepanjang waktu, namun tidak tertarik olehnya, tetapi begitu debu itu disingkirkan, besi itu ditarik oleh magnet; demikian pula, ketika jiwa manusia, yang tertutup oleh debu zaman, kekotoran, kejahatan, dan dosa, setelah banyak kelahiran, menjadi cukup dimurnikan oleh bentuk-bentuk dan upacara-upacara ini, dengan berbuat baik kepada orang lain, mencintai sesama wujud, daya tarik rohaninya yang alami muncul, ia terbangun dan berjuang menuju Tuhan.
Namun, semua bentuk dan simbol ini hanyalah permulaan, bukan cinta sejati kepada Tuhan. Cinta kita dengar dibicarakan di mana-mana. Setiap orang berkata, "Cintailah Tuhan." Manusia tidak tahu apa artinya mencintai; seandainya mereka tahu, mereka tidak akan berbicara begitu mudahnya tentang hal itu. Setiap pria berkata bahwa ia dapat mencintai, lalu dalam sekejap ia mendapati bahwa tidak ada cinta dalam kodratnya. Setiap wanita berkata bahwa ia dapat mencintai, dan segera mendapati bahwa ia tidak dapat. Dunia ini penuh dengan pembicaraan tentang cinta, tetapi sungguh sulit untuk mencintai. Di manakah cinta? Bagaimana Anda tahu bahwa ada cinta? Ujian pertama dari cinta adalah bahwa ia tidak mengenal tawar-menawar. Selama Anda melihat seseorang mencintai orang lain hanya untuk memperoleh sesuatu darinya, Anda tahu bahwa itu bukan cinta; itu adalah perdagangan. Di mana pun ada persoalan jual-beli, itu bukan cinta. Maka, ketika seorang manusia berdoa kepada Tuhan, "Berikanlah aku ini, dan berikanlah aku itu", itu bukan cinta. Bagaimana mungkin itu cinta? Saya menyampaikan kepada-Mu sebuah doa, dan Engkau memberikan sesuatu kepadaku sebagai balasannya; begitulah jadinya, sekadar perdagangan.
Seorang raja besar pergi berburu di sebuah hutan, dan di sana ia kebetulan bertemu dengan seorang resi. Ia berbincang sebentar dengannya dan menjadi sangat senang sehingga ia meminta resi itu menerima sebuah hadiah darinya. "Tidak," kata sang resi, "saya sangat puas dengan keadaan saya; pepohonan ini memberi saya cukup buah untuk dimakan; aliran-aliran sungai yang murni dan indah ini memasok semua air yang saya butuhkan; saya tidur di goa-goa ini. Apa peduli saya dengan hadiah-hadiah Anda, sekalipun Anda seorang kaisar?" Sang kaisar berkata, "Sekadar untuk memurnikan saya, untuk menyenangkan saya, ikutlah dengan saya ke kota dan terimalah sebuah hadiah." Akhirnya sang resi setuju untuk pergi bersama sang kaisar, dan ia dibawa ke istana kaisar, di mana terdapat emas, perhiasan, marmer, dan benda-benda yang paling menakjubkan. Kekayaan dan kekuasaan terpampang di mana-mana. Sang kaisar meminta resi itu menunggu sebentar, sementara ia mengulang doanya, dan ia pergi ke sebuah sudut dan mulai berdoa, "Tuhan, berikanlah aku lebih banyak kekayaan, lebih banyak anak, lebih banyak wilayah." Sementara itu, sang resi bangkit dan mulai berjalan pergi. Sang kaisar melihatnya pergi dan mengejarnya. "Berhentilah, Tuan, Anda belum mengambil hadiah saya dan sudah pergi." Sang resi berpaling kepadanya dan berkata, "Pengemis, saya tidak meminta-minta dari para pengemis. Apa yang dapat Anda berikan? Anda sendiri sepanjang waktu telah mengemis." Itu bukanlah bahasa cinta. Apa bedanya antara cinta dan perdagangan, jika Anda meminta kepada Tuhan untuk memberi Anda ini, dan memberi Anda itu? Ujian pertama dari cinta adalah bahwa ia tidak mengenal tawar-menawar. Cinta selalu adalah pemberi, dan tidak pernah penerima. Berkatalah anak Tuhan, "Jika Tuhan menghendaki, saya berikan kepada-Nya segalanya, tetapi saya tidak menginginkan apa pun dari-Nya. Saya tidak menginginkan apa pun di alam semesta ini. Saya mencintai-Nya, karena saya ingin mencintai-Nya, dan saya tidak meminta balasan apa pun. Siapa peduli apakah Tuhan mahakuasa atau tidak? Saya tidak menginginkan kekuasaan apa pun dari-Nya, juga tidak menginginkan perwujudan apa pun dari kekuasaan-Nya. Cukuplah bagi saya bahwa Ia adalah Tuhan cinta. Saya tidak bertanya lebih jauh lagi."
Ujian kedua adalah bahwa cinta tidak mengenal ketakutan. Selama manusia memikirkan Tuhan sebagai Wujud yang duduk di atas awan, dengan ganjaran di satu tangan dan hukuman di tangan yang lain, tidak mungkin ada cinta. Dapatkah Anda menakut-nakuti seseorang untuk mencintai? Apakah anak domba mencintai singa? Apakah tikus mencintai kucing? Apakah budak mencintai tuannya? Para budak kadang-kadang berpura-pura mencintai, tetapi apakah itu cinta? Di mana pernah Anda melihat cinta dalam ketakutan? Itu selalu palsu. Bersama cinta, gagasan tentang ketakutan tidak pernah muncul. Pikirkanlah seorang ibu muda di jalan: jika seekor anjing menggonggong kepadanya, ia melarikan diri ke rumah terdekat. Hari berikutnya ia berada di jalan bersama anaknya, dan andaikan seekor singa menerkam anaknya, di manakah posisinya? Tepat di mulut singa, melindungi anaknya. Cinta menaklukkan semua ketakutannya. Demikian pula dalam cinta kepada Tuhan. Siapa peduli apakah Tuhan adalah pemberi ganjaran atau penghukum? Itu bukan pikiran seorang pecinta. Pikirkanlah seorang hakim ketika ia pulang ke rumah, apa yang dilihat istrinya pada dirinya? Bukan seorang hakim, atau seorang pemberi ganjaran atau penghukum, melainkan suaminya, cintanya. Apa yang dilihat anak-anaknya pada dirinya? Ayah mereka yang penuh kasih, bukan penghukum atau pemberi ganjaran. Demikianlah anak-anak Tuhan tidak pernah melihat dalam Diri-Nya seorang penghukum atau seorang pemberi ganjaran. Hanya orang-orang yang belum pernah mencicipi cinta yang takut dan gemetar. Buanglah segala ketakutan — meskipun gagasan-gagasan mengerikan tentang Tuhan sebagai penghukum atau pemberi ganjaran mungkin berguna dalam pikiran-pikiran orang biadab. Beberapa orang, bahkan yang paling intelektual sekalipun, adalah orang-orang biadab secara rohani, dan gagasan-gagasan ini mungkin menolong mereka. Tetapi bagi orang-orang yang rohani, orang-orang yang sedang mendekati agama, yang di dalamnya wawasan rohani telah terbangkitkan, gagasan-gagasan demikian hanyalah kekanak-kanakan, hanyalah kebodohan. Orang-orang demikian menolak segala gagasan tentang ketakutan.
Ujian ketiga adalah ujian yang lebih tinggi lagi. Cinta selalu merupakan cita yang tertinggi. Ketika seseorang telah melalui dua tahap pertama, ketika seseorang telah melemparkan segala perdagangan, dan membuang segala ketakutan, ia kemudian mulai menyadari bahwa cinta selalu merupakan cita yang tertinggi. Berapa banyak kali di dunia ini kita melihat seorang wanita cantik mencintai seorang pria yang buruk rupa? Berapa banyak kali kita melihat seorang pria tampan mencintai seorang wanita yang buruk rupa! Apa daya tariknya? Para penonton hanya melihat pria buruk rupa atau wanita buruk rupa itu, tetapi tidak demikian dengan sang pecinta; bagi sang pecinta, sang kekasih adalah wujud paling indah yang pernah ada. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Wanita yang mencintai pria buruk rupa itu mengambil, seolah-olah, cita keindahan yang ada dalam pikirannya sendiri, dan memproyeksikannya pada pria buruk rupa ini; dan yang ia puja dan cintai bukanlah pria buruk rupa itu, melainkan cita-citanya sendiri. Pria itu, seolah-olah, hanya merupakan sugesti, dan di atas sugesti itu ia melemparkan cita-citanya sendiri, dan menyelimutinya; dan jadilah ia objek pemujaannya. Nah, hal ini berlaku dalam setiap kasus di mana kita mencintai. Banyak di antara kita memiliki saudara laki-laki atau saudara perempuan yang berpenampilan sangat biasa; namun gagasan bahwa mereka adalah saudara laki-laki atau saudara perempuan saja sudah membuat mereka indah bagi kita.
Filsafat di latar belakangnya adalah bahwa masing-masing orang memproyeksikan cita-citanya sendiri dan memuja cita itu. Dunia eksternal ini hanyalah dunia sugesti. Semua yang kita lihat, kita proyeksikan dari pikiran kita sendiri. Sebutir pasir terbawa air ke dalam cangkang seekor tiram dan mengiritasinya. Iritasi itu menghasilkan sekresi pada tiram, yang menyelimuti butir pasir tersebut, dan mutiara yang indah itulah hasilnya. Demikian pula, benda-benda eksternal memberi kita sugesti, di atasnya kita memproyeksikan cita-cita kita sendiri dan membuat objek-objek kita. Yang jahat melihat dunia ini sebagai neraka sempurna, dan yang baik sebagai surga sempurna. Para pecinta melihat dunia ini penuh cinta, dan para pembenci penuh kebencian; para petarung tidak melihat selain pertikaian, dan yang damai tidak melihat selain kedamaian. Manusia sempurna tidak melihat apa pun selain Tuhan. Maka kita selalu memuja cita kita yang tertinggi, dan ketika kita telah mencapai titik di mana kita mencintai cita sebagai cita, segala argumen dan keraguan lenyap selamanya. Siapa peduli apakah Tuhan dapat dibuktikan atau tidak? Cita itu tidak pernah dapat hilang, sebab ia adalah bagian dari kodrat saya sendiri. Saya baru akan mempertanyakan cita itu ketika saya mempertanyakan keberadaan saya sendiri, dan karena saya tidak dapat mempertanyakan yang satu, saya tidak dapat mempertanyakan yang lain. Siapa peduli apakah Tuhan dapat sekaligus mahakuasa dan maha pengasih atau tidak? Siapa peduli apakah Ia adalah pemberi ganjaran umat manusia, apakah Ia memandang kita dengan mata seorang tiran ataukah dengan mata seorang raja yang baik hati?
Sang pecinta telah melampaui semua hal ini, melampaui ganjaran dan hukuman, melampaui ketakutan dan keraguan, melampaui bukti ilmiah atau bukti apa pun lainnya. Cukup baginya cita cinta, dan bukankah sudah jelas dengan sendirinya bahwa alam semesta ini hanyalah perwujudan dari cinta ini? Apa yang membuat atom menyatu dengan atom, molekul dengan molekul, dan menyebabkan planet-planet melayang menuju satu sama lain? Apa yang menarik pria kepada pria, pria kepada wanita, wanita kepada pria, dan binatang kepada binatang, menarik seluruh alam semesta, seolah-olah, menuju satu pusat? Itulah yang disebut cinta. Perwujudannya berlangsung dari atom yang terendah hingga wujud yang tertinggi: mahakuasa, meliputi segala, demikianlah cinta ini. Apa yang mewujudkan diri sebagai daya tarik dalam yang berkesadaran dan yang tak berkesadaran, dalam yang khusus dan dalam yang universal, adalah cinta Tuhan. Itulah satu-satunya daya penggerak yang ada di alam semesta. Di bawah dorongan cinta itu, Kristus memberikan hidupnya bagi umat manusia, Buddha memberikan hidupnya bahkan bagi seekor binatang, sang ibu bagi anaknya, sang suami bagi sang istri. Di bawah dorongan cinta yang sama itulah orang-orang bersedia memberikan nyawa mereka bagi tanah air mereka, dan anehnya, di bawah dorongan cinta yang sama itu pula, pencuri mencuri, pembunuh membunuh. Bahkan dalam kasus-kasus ini, rohnya sama, tetapi perwujudannya berbeda. Inilah satu-satunya daya penggerak di alam semesta. Sang pencuri memiliki cinta kepada emas; cinta itu ada, tetapi diarahkan secara keliru. Demikianlah, dalam semua kejahatan, sebagaimana juga dalam semua tindakan yang berbudi, di baliknya berdiri cinta abadi itu. Andaikan seorang manusia menulis sebuah cek senilai seribu dolar untuk kaum miskin New York, dan pada saat yang sama, di kamar yang sama, manusia lain memalsukan nama seorang sahabat. Cahaya yang dipakai keduanya untuk menulis adalah sama, tetapi masing-masing akan bertanggung jawab atas penggunaan yang ia lakukan terhadapnya. Bukan cahaya itu yang patut dipuji atau dicela. Tak terikat, namun bersinar di dalam segala sesuatu, demikianlah cinta, daya penggerak alam semesta, yang tanpanya alam semesta akan berkeping-keping dalam sekejap, dan cinta ini adalah Tuhan.
"Tiada seorang pun, wahai yang terkasih, mencintai sang suami demi kepentingan suami itu sendiri, melainkan demi Diri yang ada di dalam sang suami; tiada seorang pun, wahai yang terkasih, pernah mencintai sang istri demi kepentingan istri itu sendiri, melainkan demi Diri yang ada di dalam sang istri. Tiada seorang pun pernah mencintai apa pun yang lain, kecuali demi Diri itu sendiri." Bahkan keegoisan ini, yang begitu banyak dicela, hanyalah satu manifestasi dari cinta yang sama. Berdirilah di samping, terpisah dari permainan ini, jangan turut bercampur di dalamnya, melainkan saksikanlah panorama yang menakjubkan ini, drama agung ini, yang dimainkan adegan demi adegan, dan dengarkanlah harmoni yang menakjubkan ini; semuanya adalah manifestasi dari cinta yang sama. Bahkan dalam keegoisan, diri itu akan berlipat ganda, tumbuh dan terus tumbuh. Diri yang satu itu, manusia yang satu itu, akan menjadi dua diri ketika ia menikah; menjadi beberapa, ketika ia memperoleh anak-anak; dan dengan demikian ia tumbuh hingga ia merasakan seluruh dunia sebagai Diri-nya, seluruh alam semesta sebagai Diri-nya. Ia berkembang menjadi satu massa cinta universal, cinta tanpa batas — cinta yang adalah Tuhan.
Dengan demikian, kita sampai pada apa yang disebut bhakti (pengabdian kasih) tertinggi, pengabdian yang tertinggi, di mana segala bentuk dan simbol berguguran. Seseorang yang telah mencapai keadaan itu tidak dapat menjadi milik sekte mana pun, sebab segala sekte berada di dalam dirinya. Kepada apakah ia harus berafiliasi? Sebab segala gereja dan kuil berada di dalam dirinya. Di manakah gereja yang cukup besar untuknya? Manusia semacam itu tidak dapat membelenggu dirinya pada bentuk-bentuk tertentu yang terbatas. Di manakah batas bagi cinta tanpa batas, yang dengannya ia telah menjadi satu? Dalam semua agama yang mengangkat cita-cita cinta ini, kita menemukan perjuangan untuk mengungkapkannya. Walaupun kita memahami apa arti cinta ini dan melihat bahwa segala sesuatu di dunia kasih sayang dan ketertarikan ini adalah manifestasi dari Cinta Tanpa Batas itu, yang ungkapannya telah dicoba oleh para resi dan orang suci dari berbagai bangsa, namun kita mendapati mereka memakai segenap kekuatan bahasa, mengubah bahkan ungkapan yang paling badaniah sekalipun menjadi sesuatu yang ilahi.
Demikianlah resi raja bangsa Ibrani melantunkan, demikianlah orang-orang India melantunkan. "Wahai Yang Terkasih, satu kecupan dari bibir-Mu! Dikecup oleh-Mu, dahaga seseorang akan Engkau bertambah selamanya! Segala duka berakhir, ia melupakan masa lalu, masa kini, dan masa depan, dan hanya memikirkan Engkau seorang saja." Itulah kegilaan sang pencinta, ketika segala hasrat telah lenyap. "Siapakah yang peduli pada keselamatan? Siapakah yang peduli untuk diselamatkan? Siapakah yang peduli bahkan untuk menjadi sempurna? Siapakah yang peduli pada kebebasan?" — kata sang pencinta. "Saya tidak menginginkan kekayaan, ataupun kesehatan; saya tidak menginginkan keindahan, saya tidak menginginkan kecerdasan: biarkanlah saya dilahirkan kembali berulang-ulang, di tengah segala kejahatan yang ada di dunia; saya tidak akan mengeluh, tetapi biarkanlah saya mencintai Engkau, dan itu pun semata demi cinta itu sendiri."
Itulah kegilaan cinta yang menemukan ungkapannya dalam nyanyian-nyanyian ini. Cinta manusia yang tertinggi, paling ekspresif, terkuat, dan paling memikat adalah cinta antara lelaki dan perempuan, dan oleh karena itu, bahasa itulah yang dipakai untuk mengungkapkan pengabdian yang terdalam. Kegilaan cinta manusiawi ini hanyalah gema paling samar dari cinta gila para orang suci. Para pencinta sejati Tuhan ingin menjadi gila, mabuk oleh cinta Tuhan, menjadi "manusia-manusia yang mabuk oleh Tuhan". Mereka ingin meneguk cawan cinta yang telah disiapkan oleh para orang suci dan resi dari setiap agama, yang telah mencurahkan darah hatinya ke dalamnya, dan di dalamnya telah terhimpun segala harapan dari mereka yang telah mencintai Tuhan tanpa mencari pahala, dari mereka yang menghendaki cinta semata demi cinta itu sendiri. Pahala dari cinta adalah cinta, dan sungguh agung pahala itu! Itulah satu-satunya hal yang menyingkirkan segala duka, satu-satunya cawan, yang dengan meminumnya penyakit dunia ini lenyap. Manusia menjadi gila secara ilahi dan melupakan bahwa dirinya adalah manusia.
Akhirnya, kita mendapati bahwa segala sistem yang beraneka ragam ini, pada ujungnya, menyatu pada satu titik itu, yakni penyatuan yang sempurna itu. Kita selalu memulai sebagai kaum dualis. Tuhan adalah Wujud yang terpisah, dan saya adalah wujud yang terpisah. Cinta hadir di antara keduanya, dan manusia mulai mendekati Tuhan, dan Tuhan, seakan-akan, mulai mendekati manusia. Manusia mengambil segala hubungan kehidupan yang beraneka ragam, sebagai bapa, ibu, sahabat, atau kekasih; dan titik terakhir tercapai ketika ia menjadi satu dengan objek pemujaannya. "Aku adalah Engkau, dan Engkau adalah aku; dan dengan memuja Engkau, aku memuja diriku sendiri; dan dengan memuja diriku sendiri, aku memuja Engkau." Di sanalah kita mendapati puncak tertinggi dari sesuatu yang manusia mulai dengannya. Pada permulaan, ia adalah cinta bagi diri, tetapi tuntutan dari diri yang kecil itu menjadikan cinta itu egois; pada akhirnya datanglah cahaya yang gilang-gemilang, ketika diri itu telah menjadi Yang Tanpa Batas. Tuhan yang pada mulanya merupakan Wujud yang berada di suatu tempat, larut, seakan-akan, ke dalam Cinta Tanpa Batas. Manusia sendiri pun ikut bertransformasi. Ia tengah mendekati Tuhan, ia melemparkan segala hasrat sia-sia, yang dahulu memenuhi dirinya. Bersama lenyapnya hasrat, lenyap pula keegoisan, dan, pada puncaknya, ia mendapati bahwa Cinta, Pencinta, dan Yang Dicinta adalah Satu.
English
The idea of a Personal God has obtained in almost every religion, except a very few. With the exception of the Buddhist and the Jain, perhaps all the religions of the world have the idea of a Personal God, and with it comes the idea of devotion and worship. The Buddhists and the Jains, although they have no Personal God, worship the founders of their religions in precisely the same way as others worship a Personal God. This idea of devotion and worship to some higher being who can reflect back the love to man is universal. In various religions this love and devotion is manifested in various degrees, at different stages. The lowest stage is that of ritualism, when abstract ideas are almost impossible, and are dragged down to the lowest plane, and made concrete. Forms come into play, and, along with them, various symbols. Throughout the history of the world, we find that man is trying to grasp the abstract through thought-forms, or symbols. All the external manifestations of religion — bells, music, rituals, books, and images — come under that head. Anything that appeals to the senses, anything that helps man to form a concrete image of the abstract, is taken hold of, and worshipped.
From time to time, there have been reformers in every religion who have stood against all symbols and rituals. But vain has been their opposition, for so long as man will remain as he is, the vast majority will always want something concrete to hold on to, something around which, as it were, to place their ideas, something which will be the centre of all the thought-forms in their minds. The great attempts of the Mohammedans and of the Protestants have been directed to this one end, of doing away with all rituals, and yet we find that even with them, rituals have crept in. They cannot be kept out; after long struggle, the masses simply change one symbol for another. The Mohammedan, who thinks that every ritual, every form, image, or ceremony, used by a non-Mohammedan is sinful, does not think so when he comes to his own shrine, the Caaba. Every religious Mohammedan wherever he prays, must imagine that he is standing before the Caaba. When he makes a pilgrimage there, he must kiss the black stone in the wall of the shrine. All the kisses that have been imprinted on that stone, by millions and millions of pilgrims, will stand up as witnesses for the benefit of the faithful on the last day of judgment. Then, there is the well of Zimzim. Mohammedans believe that whoever draws a little water out of that well will have his sins pardoned, and he will, after the day of resurrection, have a fresh body, and live for ever. In others, we find that the symbology comes in the form of buildings. Protestants hold that churches are more sacred than other places. The church, as it is, stands for a symbol. Or there is the Book. The idea of the Book to them, is much holier than any other symbol.
It is vain to preach against the use of symbols, and why should we preach against them? There is no reason why man should not use symbols. They have them in order to represent the ideas signified behind them. This universe is a symbol, in and through which we are trying to grasp the thing signified, which is beyond and behind. The spirit is the goal, and not matter. Forms, images, bells, candles, books, churches, temples, and all holy symbols are very good, very helpful to the growing plant of spirituality, but thus far and no farther. In the test majority of cases, we find that the plant does not grow. It is very good to be born in a church, but it is very bad to die in a church. It is very good to be born within the limits of certain forms that help the little plant of spirituality, but if a man dies within the bounds of these forms, it shows that he has not grown, that there has been no development of the soul.
If, therefore, any one says that symbols, rituals, and forms are to be kept for ever, he is wrong; but if he says, that these symbols and rituals are a help to the growth of the soul, in its low and undeveloped state, he is right. But, you must not mistake this development of the soul as meaning anything intellectual. A man can be of gigantic intellect, yet spiritually he may be a baby. You can verify it this moment. All of you have been taught to believe in an Omnipresent God. Try to think of it. How few of you can have any idea of what omnipresence means! If you struggle hard, you will get something like the idea of the ocean, or of the sky, or of a vast stretch of green earth, or of a desert. All these are material images, and so long as you cannot conceive of the abstract as abstract, of the ideal as the ideal, you will have to resort to these forms, these material images. It does not make much difference whether these images are inside or outside the mind. We are all born idolaters, and idolatry is good, because it is in the nature of man. Who can get beyond it? Only the perfect man, the God-man. The rest are all idolaters. So long as we see this universe before us, with its forms and shapes, we are all idolaters. This is a gigantic symbol we are worshipping. He who says he is the body is a born idolater. We are spirit, spirit that has no form or shape, spirit that is infinite, and not matter. Therefore, anyone who cannot grasp the abstract, who cannot think of himself as he is, except in and through matter, as the body, is an idolater. And yet how people fight among themselves, calling one another idolaters! In other words, each says, his idol is right, and the others' are wrong.
Therefore, we should get rid of these childish notions. We should get beyond the prattle of men who think that religion is merely a mass of frothy words, that it is only a system of doctrines; to whom religion is only a little intellectual assent or dissent; to whom religion is believing in certain words which their own priests tell them; to whom religion is something which their forefathers believed; to whom religion is a certain form of ideas and superstitions to which they cling because they are their national superstitions. We should get beyond all these and look at humanity as one vast organism, slowly coming towards light — a wonderful plant, slowly unfolding itself to that wonderful truth which is called God — and the first gyrations, the first motions, towards this are always through matter and through ritual.
In the heart of all these ritualisms, there stands one idea prominent above all the rest — the worship of a name. Those of you who have studied the older forms of Christianity, those of you who have studied the other religions of the world, perhaps have marked that there is this idea with them all, the worship of a name. A name is said to be very sacred. In the Bible we read that the holy name of God was considered sacred beyond compare, holy beyond everything. It was the holiest of all names, and it was thought that this very Word was God. This is quite true. What is this universe but name and form? Can you think without words? Word and thought are inseparable. Try if any one of you can separate them. Whenever you think, you are doing so through word forms. The one brings the other; thought brings the word, and the word brings the thought. Thus the whole universe is, as it were, the external symbol of God, and behind that stands His grand name. Each particular body is a form, and behind that particular body is its name. As soon as you think of our friend So-and-so, there comes the idea of his body, and as soon as you think of your friend's body, you get the idea of his name. This is in the constitution of man. That is to say, psychologically, in the mind-stuff of man, there cannot come the idea of name without the idea of form, and there cannot come the idea of form without the idea of name. They are inseparable; they are the external and the internal sides of the same wave. As such, names have been exalted and worshipped all over the world — consciously or unconsciously, man found the glory of names.
Again, we find that in many different religions, holy personages have been worshipped. They worship Krishna, they worship Buddha, they worship Jesus, and so forth. Then, there is the worship of saints; hundreds of them have been worshipped all over the world, and why not? The vibration of light is everywhere. The owl sees it in the dark. That shows it is there, though man cannot see it. To man, that vibration is only visible in the lamp, in the sun, in the moon, etc. God is omnipresent, He is manifesting Himself in every being; but for men, He is only visible, recognisable, in man. When His light, His presence, His spirit, shines through the human face, then and then alone, can man understand Him. Thus, man has been worshipping God through men all the time, and must do so as long as he is a man. He may cry against it, struggle against it, but as soon as he attempts to realise God, he will find the constitutional necessity of thinking of God as a man.
So we find that in almost every religion these are the three primary things which we have in the worship of God — forms or symbols, names, God-men. All religions have these, but you find that they want to fight with each other. One says, "My name is the only name; my form is the only form; and my God-men are the only God-men in the world; yours are simply myths." In modern times, Christian clergymen have become a little kinder, and they allow that in the older religions, the different forms of worship were foreshadowings of Christianity, which of course, they consider, is the only true form. God tested Himself in older times, tested His powers by getting these things into shape which culminated in Christianity. This, at least, is a great advance. Fifty years ago they would not have said even that; nothing was true except their own religion. This idea is not limited to any religion, nation, or class of persons; people are always thinking that the only right thing to be done by others is what they themselves are doing. And it is here that the study of different religions helps us. It shows us that the same thoughts that we have been calling ours, and ours alone, were present hundreds of years ago in others, and sometimes even in a better form of expression than our own.
These are the external forms of devotion, through which man has to pass; but if he is sincere, if he really wants to reach the truth, he goes higher than these, to a plane where forms are as nothing. Temples or churches, books or forms, are simply the kindergarten of religion, to make the spiritual child strong enough to take higher steps; and these first steps are necessary if he wants religion. With the thirst, the longing for God, comes real devotion, real Bhakti. Who has the longing? That is the question. Religion is not in doctrines, in dogmas, nor in intellectual argumentation; it is being and becoming, it is realisation. We hear so many talking about God and the soul, and all the mysteries of the universe, but if you take them one by one, and ask them, "Have you realised God? Have you seen your Soul?" — how many can say they have? And yet they are all fighting with one another! At one time, in India, representatives of different sects met together and began to dispute. One said that the only God was Shiva; another said, the only God was Vishnu, and so on; and there was no end to their discussion. A sage was passing that way, and was invited by the disputants to decide the matter. He first asked the man who was claiming Shiva as the greatest God, "Have you seen Shiva? Are you acquainted with Him? If not, how do you know He is the greatest God?" Then turning to the worshipper of Vishnu, he asked, "Have you seen Vishnu?" And after asking this question to all of them, he found out that not one of them knew anything of God. That was why they were disputing so much, for had they really known, they would not have argued. When a jar is being filled with water, it makes a noise, but when it is full, there is no noise. So, the very fact of these disputations and fighting among sects shows that they do not know anything about religion. Religion to them is a mere mass of frothy words, to be written in books. Each one hurries to write a big book, to make it as massive as possible, stealing his materials from every book he can lay his hands upon, and never acknowledging his indebtedness. Then he launches this book upon the world, adding to the disturbance that is already existing there.
The vast majority of men are atheists. I am glad that, in modern times, another class of atheists has come into existence in the Western world — I mean the materialists. They are sincere atheists. They are better than the religious atheists, who are insincere, who fight and talk about religion, and yet do not want it, never try to realise it, never try to understand it. Remember the words of Christ: "Ask, and it shall be given you; seek, and ye shall find; knock, and it shall be opened unto you." These words are literally true, not figures or fiction. They were the outflow of the heart's blood of one of the greatest sons of God who have ever come to this world of ours; words which came as the fruit of realisation, from a man who had felt and realised God himself; who had spoken with God, lived with God, a hundred times more intensely than you or I see this building. Who wants God? That is the question. Do you think that all this mass of people in the world want God, and cannot get Him? That cannot be. What want is there without its object outside? Man wants to breathe, and there is air for him to breathe. Man wants to eat, and there is food to eat. What creates these desires? The existence of external things. It was the light that made the eyes; it was the sound that made the ears. So every desire in human beings has been created by something which already existed outside. This desire for perfection, for reaching the goal and getting beyond nature, how can it be there, until something has created it and drilled it into the soul of man, and makes it live there? He, therefore, in whom this desire is awakened, will reach the goal. We want everything but God. This is not religion that you see all around you. My lady has furniture in her parlour, from all over the world, and now it is the fashion to have something Japanese; so she buys a vase and puts it in her room. Such is religion with the vast majority; they have all sorts of things for enjoyment, and unless they add a little flavour of religion, life is not all right, because society would criticise them. Society expects it; so they must have some religion. This is the present state of religion in the world.
A disciple went to his master and said to him, "Sir, I want religion." The master looked at the young man, and did not speak, but only smiled. The young man came every day, and insisted that he wanted religion. But the old man knew better than the young man. One day, when it was very hot, he asked the young man to go to the river with him and take a plunge. The young man plunged in, and the old man followed him and held the young man down under the water by force. After the young man had struggled for a while, he let him go and asked him what he wanted most while he was under the water. "A breath of air", the disciple answered. "Do you want God in that way? If you do, you will get Him in a moment," said the master. Until you have that thirst, that desire, you cannot get religion, however you may struggle with your intellect, or your books, or your forms. Until that thirst is awakened in you, you are no better than any atheist; only the atheist is sincere, and you are not.
A great sage used to say, "Suppose there is a thief in a room, and somehow he comes to know that there is a vast mass of gold in the next room, and that there is only a thin partition between the two rooms What would be the condition of that thief? He would be sleepless, he would not be able to eat or do anything. His whole mind would be on getting that gold. Do you mean to say that, if all these people really believed that the Mine of Happiness, of Blessedness, of Glory were here, they would act as they do in the world, without trying to get God?" As soon as a man begins to believe there is a God, he becomes mad with longing to get to Him. Others may go their way, but as soon as a man is sure that there is a much higher life than that which he is leading here, as soon as he feels sure that the senses are not all, that this limited, material body is as nothing compared with the immortal, eternal, undying bliss of the Self, he becomes mad until he finds out this bliss for himself. And this madness, this thirst, this mania, is what is called the "awakening" to religion, and when that has come, a man is beginning to be religious. But it takes a long time. All these forms and ceremonies, these prayers and pilgrimages, these books, bells, candles, and priests, are the preparations; they take off the impurities from the soul. And when the soul has become pure, it naturally wants to get to the mine of all purity, God Himself. Just as a piece of iron, which had been covered with the dust of centuries, might be lying near a magnet all the time, and yet not be attracted by it, but as soon as the dust is cleared away, the iron is drawn by the magnet; so, when the human soul, covered with the dust of ages, impurities, wickednesses, and sins, after many births, becomes purified enough by these forms and ceremonies, by doing good to others, loving other beings, its natural spiritual attraction comes, it wakes up and struggles towards God.
Yet, all these forms and symbols are simply the beginning, not true love of God. Love we hear spoken of everywhere Everyone says, "Love God." Men do not know what it is to love; if they did, they would not talk so glibly about it. Every man says he can love, and then, in no time, finds out that there is no love in his nature. Every woman says she can love and soon finds out that she cannot. The world is full of the talk of love, but it is hard to love. Where is love? How do you know that there is love? The first test of love is that it knows no bargaining. So long as you see a man love another only to get something from him, you know that that is not love; it is shopkeeping. Wherever there is any question of buying and selling, it is not love. So, when a man prays to God, "Give me this, and give me that", it is not love. How can it be? I offer you a prayer, and you give me something in return; that is what it is, mere shopkeeping.
A certain great king went to hunt in a forest, and there he happened to meet a sage. He had a little conversation with him and became so pleased with him that he asked him to accept a present from him. "No," said the sage, "I am perfectly satisfied with my condition; these trees give me enough fruit to eat; these beautiful pure streams supply me with all the water I want; I sleep in these caves. What do I care for your presents, though you be an emperor?" The emperor said, "Just to purify me, to gratify me, come with me into the city and take some present." At last the sage consented to go with the emperor, and he was taken into the emperor's palace, where there were gold, jewellery, marble, and most wonderful things. Wealth and power were manifest everywhere. The emperor asked the sage to wait a minute, while he repeated his prayer, and he went into a corner and began to pray, "Lord, give me more wealth, more children, more territory." In the meanwhile, the sage got up and began to walk away. The emperor saw him going and went after him. "Stay, Sir, you did not take my present and are going away." The sage turned to him and said, "Beggar, I do not beg of beggars. What can you give? You have been begging yourself all the time." That is not the language of love. What is the difference between love and shopkeeping, if you ask God to give you this, and give you that? The first test of love is that it knows no bargaining. Love is always the giver, and never the taker. Says the child of God, "If God wants, I give Him my everything, but I do not want anything of Him. I want nothing in this universe. I love Him, because I want to love Him, and I ask no favour in return. Who cares whether God is almighty or not? I do not want any power from Him nor any manifestation of His power. Sufficient for me that He is the God of love. I ask no more question."
The second test is that love knows no fear. So long as man thinks of God as a Being sitting above the clouds, with rewards in one hand and punishments in the other, there can be no love. Can you frighten one into love? Does the lamb love the lion? The mouse, the cat? The slave, the master? Slaves sometimes simulate love, but is it love? Where do you ever see love in fear? It is always a sham. With love never comes the idea of fear. Think of a young mother in the street: if a dog barks at her, she flees into the nearest house. The next day she is in the street with her child, and suppose a lion rushes upon the child, where will be her position? Just at the mouth of the lion, protecting her child. Love conquered all her fear. So also in the love of God. Who cares whether God is a rewarder or a punisher? That is not the thought of a lover. Think of a judge when he comes home, what does his wife see in him? Not a judge, or a rewarder or punisher, but her husband, her love. What do his children see in him? Their loving father, not the punisher or rewarder. So the children of God never see in Him a punisher or a rewarder. It is only people who have never tasted of love that fear and quake. Cast off all fear — though these horrible ideas of God as a punisher or rewarder may have their use in savage minds. Some men, even the most intellectual, are spiritual savages, and these ideas may help them. But to men who are spiritual, men who are approaching religion, in whom spiritual insight is awakened, such ideas are simply childish, simply foolish. Such men reject all ideas of fear.
The third is a still higher test. Love is always the highest ideal. When one has passed through the first two stages, when one has thrown off all shopkeeping, and cast off all fear, one then begins to realise that love is always the highest ideal. How many times in this world we see a beautiful woman loving an ugly man? How many times we see a handsome man loving an ugly woman! What is the attraction? Lookers-on only see the ugly man or the ugly woman, but not so the lover; to the lover the beloved is the most beautiful being that ever existed. How is it? The woman who loves the ugly man takes, as it were, the ideal of beauty which is in her own mind, and projects it on this ugly man; and what she worships and loves is not the ugly man, but her own ideal. That man is, as it were, only the suggestion, and upon that suggestion she throws her own ideal, and covers it; and it becomes her object of worship. Now, this applies in every case where we love. Many of us have very ordinary looking brothers or sisters; yet the very idea of their being brothers or sisters makes them beautiful to us.
The philosophy in the background is that each one projects his own ideal and worships that. This external world is only the world of suggestion. All that we see, we project out of our own minds. A grain of sand gets washed into the shell of an oyster and irritates it. The irritation produces a secretion in the oyster, which covers the grain of sand and the beautiful pearl is the result. Similarly, external things furnish us with suggestions, over which we project our own ideals and make our objects. The wicked see this world as a perfect hell, and the good as a perfect heaven. Lovers see this world as full of love, and haters as full of hatred; fighters see nothing but strife, and the peaceful nothing but peace. The perfect man sees nothing but God. So we always worship our highest ideal, and when we have reached the point, when we love the ideal as the ideal, all arguments and doubts vanish for ever. Who cares whether God can be demonstrated or not? The ideal can never go, because it is a part of my own nature. I shall only question the ideal when I question my own existence, and as I cannot question the one, I cannot question the other. Who cares whether God can be almighty and all-merciful at the same time or not ? Who cares whether He is the rewarder of mankind, whether He looks at us with the eyes of a tyrant or with the eyes of a beneficent monarch?
The lover has passed beyond all these things, beyond rewards and punishments, beyond fears and doubts, beyond scientific or any other demonstration. Sufficient unto him is the ideal of love, and is it not self-evident that this universe is but a manifestation of this love? What is it that makes atoms unite with atoms, molecules with molecules, and causes planets to fly towards each other? What is it that attracts man to man, man to woman, woman to man, and animals to animals, drawing the whole universe, as it were, towards one centre? It is what is called love. Its manifestation is from the lowest atom to the highest being: omnipotent, all-pervading, is this love. What manifests itself as attraction in the sentient and the insentient, in the particular and in the universal, is the love of God. It is the one motive power that is in the universe. Under the impetus of that love, Christ gives his life for humanity, Buddha even for an animal, the mother for the child, the husband for the wife. It is under the impetus of the same love that men are ready to give up their lives for their country, and strange to say, under the impetus of the same love, the thief steals, the murderer murders. Even in these cases, the spirit is the same, but the manifestation is different. This is the one motive power in the universe. The thief has love for gold; the love is there, but it is misdirected. So, in all crimes, as well as in all virtuous actions, behind stands that eternal love. Suppose a man writes a cheque for a thousand dollars for the poor of New York, and at the same time, in the same room, another man forges the name of a friend. The light by which both of them write is the same, but each one will be responsible for the use he makes of it. It is not the light that is to be praised or blamed. Unattached, yet shining in everything, is love, the motive power of the universe, without which the universe would fall to pieces in a moment, and this love is God.
"None, O beloved, loves the husband for the husband's sake, but for the Self that is in the husband; none, O beloved, ever loves the wife for the wife's sake, but for the Self that is in the wife. None ever loves anything else, except for the Self." Even this selfishness, which is so much condemned, is but a manifestation of the same love. Stand aside from this play, do not mix in it, but see this wonderful panorama, this grand drama, played scene after scene, and hear this wonderful harmony; all are the manifestation of the same love. Even in selfishness, that self will multiply, grow and grow. That one self, the one man, will become two selves when he gets married; several, when he gets children; and thus he grows until he feels the whole world as his Self, the whole universe as his Self. He expands into one mass of universal love, infinite love — the love that is God.
Thus we come to what is called supreme Bhakti, supreme devotion, in which forms and symbols fall off. One who has reached that cannot belong to any sect, for all sects are in him. To what shall he belong? For all churches and temples are in him. Where is the church big enough for him? Such a man cannot bind himself down to certain limited forms. Where is the limit for unlimited love, with which he has become one? In all religions which take up this ideal of love, we find the struggle to express it. Although we understand what this love means and see that everything in this world of affections and attractions is a manifestation of that Infinite Love, the expression of which has been attempted by sages and saints of different nations, yet we find them using all the powers of language, transfiguring even the most carnal expression into the divine.
Thus sang the royal Hebrew sage, thus sang they of India. "O beloved, one kiss of Thy lips! Kissed by Thee, one's thirst for Thee increaseth for ever! All sorrows cease, one forgets the past, present, and future, and only thinks of Thee alone." That is the madness of the lover, when all desires have vanished. "Who cares for salvation? Who cares to be saved? Who cares to be perfect even? Who cares for freedom?" — says the lover. "I do not want wealth, nor even health; I do not want beauty, I do not want intellect: let me be born again and again, amid all the evils that are in the world; I will not complain, but let me love Thee, and that for love's sake."
That is the madness of love which finds expression in these songs. The highest, most expressive, strongest, and most attractive human love is that between man and woman, and, therefore, that language was used in expressing the deepest devotion. The madness of this human love was the faintest echo of the mad love of the saints. The true lovers of God want to become mad, inebriated with the love of God, to become "God-intoxicated men". They want to drink of the cup of love which has been prepared by the saints and sages of every religion, who have poured their heart's blood into it, and in which hare been concentrated all the hopes of those who have loved God without seeking reward, who wanted love for itself only. The reward of love is love, and what a reward it is! It is the only thing that takes off all sorrows, the only cup, by the drinking of which this disease of the world vanishes Man becomes divinely mad and forgets that be is man.
Lastly, we find that all these various systems, in the end, converge to that one point, that perfect union. We always begin as dualists. God is a separate Being, and I am a separate being. Love comes between, and man begins to approach God, and God, as it were, begins to approach man. Man takes up all the various relationships of life, as father, mother, friend, or lover; and the last point is reached when he becomes one with the object of worship. "I am you, and you are I; and worshipping you, I worship myself; and in worshipping myself, I worship you." There we find the highest culmination of that with which man begins. At the beginning it was love for the self, but the claims of the little self made love selfish; at the end came the full blaze of light, when that self had become the Infinite. That God who at first was a Being somewhere, became resolved, as it were, into Infinite Love. Man himself was also transformed. He was approaching God, he was throwing off all vain desires, of which he was full before. With desires vanished selfishness, and, at the apex, he found that Love, Lover, and Beloved were One.
Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.