Tidak Ada yang Patut Disalahkan
Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.
AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.
Bahasa Indonesia
Matahari terbenam, sinar-sinar merahnya yang kirmizi
Menerangi hari yang sedang sekarat;
Tatapan terkejut kulemparkan ke belakang
Dan kuhitung kemenanganku sebagai aib;
Tiada yang patut disalahkan selain diriku.
Setiap hari hidupku kubangun atau kuhancurkan,
Setiap perbuatan melahirkan sejenisnya,
Yang baik baik, yang buruk buruk, arus yang sekali bergerak
Tiada yang dapat menghentikan atau membendungnya;
Tiada yang patut disalahkan selain diriku.
Aku adalah masa laluku yang menjelma menjadi tubuh;
Di situlah rencananya telah dibuat;
Kehendak, pikiran, kepada itu menyesuaikan diri,
Kepada itu pula kerangka luar ini;
Tiada yang patut disalahkan selain diriku.
Cinta datang dipantulkan kembali sebagai cinta,
Benci membiakkan kebencian yang lebih ganas,
Mereka menakar timbangan mereka, membebankan padaku
Sepanjang hidup dan kematian tuntutan mereka;
Tiada yang patut disalahkan selain diriku.
Kubuang rasa takut dan penyesalan yang sia-sia,
Kurasakan kuasa karmaku
Kuhadapi hantu-hantu yang dibangkitkan oleh perbuatanku —
Suka, duka, celaan, ketenaran;
Tiada yang patut disalahkan selain diriku.
Baik, buruk, cinta, benci, dan kesenangan, kesakitan
Selamanya bertaut berjalan,
Aku bermimpi kesenangan tanpa kesakitan,
Mimpi itu tidak pernah, tidak pernah datang;
Tiada yang patut disalahkan selain diriku.
Kulepaskan kebencian, kulepaskan cinta,
Dahagaku akan hidup telah lenyap;
Kematian abadi adalah yang kuinginkan,
Nirvanam padamlah nyala kehidupan;
Tiada lagi yang tersisa untuk disalahkan.
Hanya satu manusia, hanya satu Tuhan, hanya satu jiwa yang selalu sempurna,
Hanya satu orang bijak yang pernah mencemooh jalan-jalan gelap dan meragukan,
Hanya satu manusia yang berani berpikir dan berani menunjukkan tujuan —
Bahwa kematian adalah kutukan, dan demikian pula hidup, dan paling baik tatkala berhenti menjadi.
Om Nama Bhagavate Sambuddhaya
Om, saya bersujud kepada Sang Mahamulia, Yang Telah Bangkit.
## Referensi
English
The sun goes down, its crimson rays
Light up the dying day;
A startled glance I throw behind
And count my triumph shame;
No one but me to blame.
Each day my life I make or mar,
Each deed begets its kind,
Good good, bad bad, the tide once set
No one can stop or stem;
No one but me to blame.
I am my own embodied past;
Therein the plan was made;
The will, the thought, to that conform,
To that the outer frame;
No one but me to blame.
Love comes reflected back as love,
Hate breeds more fierce hate,
They mete their measures, lay on me
Through life and death their claim;
No one but me to blame.
I cast off fear and vain remorse,
I feel my Karma's sway
I face the ghosts my deeds have raised --
Joy, sorrow, censure, fame;
No one but me to blame.
Good, bad, love, hate, and pleasure, pain
Forever linked go,
I dream of pleasure without pain,
It never, never came;
No one but me to blame.
I give up hate, I give up love,
My thirst for life is gone;
Eternal death is what I want,
Nirvanam goes life's flame;
No one is left to blame.
One only man, one only God, one ever perfect soul,
One only sage who ever scorned the dark and dubious ways,
One only man who dared think and dared show the goal --
That death is curse, and so is life, and best when stops to be.
Om Nama Bhagavate Sambuddhaya
Om, I salute the Lord, the awakened.
## References
Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.