Sannyasin
Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.
AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.
Bahasa Indonesia
SANG SANNYASIN
Dalam penjelasan mengenai istilah Sannyasin, Swami dalam salah satu ceramahnya di Boston berkata:
Apabila seorang pria telah memenuhi kewajiban dan tanggung jawab yang melekat pada tahap kehidupan tempat ia dilahirkan, dan aspirasinya mendorongnya untuk menjalani kehidupan rohani serta meninggalkan sepenuhnya segala upaya duniawi demi harta, kemasyhuran, atau kekuasaan — apabila, melalui berkembangnya pemahaman tentang hakikat dunia, ia melihat ketidakkekalan, pertikaian, kesengsaraan, dan betapa rendahnya nilai hadiah-hadiah yang ditawarkan dunia, lalu berpaling dari semua itu — maka ia pun mencari Yang Sejati, Kasih Yang Abadi, Sang Pelindung. Ia melakukan pelepasan (Sannyasa) secara menyeluruh atas seluruh kedudukan, harta benda, dan nama duniawi, lalu mengembara ke seluruh penjuru dunia untuk menjalani kehidupan pengorbanan diri dan terus-menerus mencari pengetahuan rohani, berusaha keras untuk unggul dalam kasih dan belas kasih serta memperoleh pemahaman yang abadi. Setelah meraih mutiara-mutiara kebijaksanaan melalui bertahun-tahun meditasi, disiplin, dan penyelidikan, ia pun pada gilirannya menjadi seorang guru dan mewariskan kepada para murid — baik awam maupun yang telah bersumpah — yang mungkin mencari darinya, segala kebijaksanaan dan kebaikan yang dapat ia berikan.
Seorang Sannyasin tidak dapat menjadi milik agama mana pun, sebab hidupnya adalah kehidupan pemikiran bebas yang menyerap dari semua agama; hidupnya adalah kehidupan realisasi, bukan sekadar teori atau kepercayaan, apalagi dogma.
English
THE SANNYASIN
In explanation of the term Sannyâsin, the Swami in the course of one of his lectures in Boston said:
When a man has fulfilled the duties and obligations of that stage of life in which he is born, and his aspirations lead him to seek a spiritual life and to abandon altogether the worldly pursuits of possession, fame, or power, when, by the growth of insight into the nature of the world, he sees its impermanence, its strife, its misery, and the paltry nature of its prizes, and turns away from all these — then he seeks the True, the Eternal Love, the Refuge. He makes complete renunciation (Sannyâsa) of all worldly position, property, and name, and wanders forth into the world to live a life of self-sacrifice and to persistently seek spiritual knowledge, striving to excel in love and compassion and to acquire lasting insight. Gaining these pearls of wisdom by years of meditation, discipline, and inquiry, he in his turn becomes a teacher and hands on to disciples, lay or professed, who may seek them from him, all that he can of wisdom and beneficence.
A Sannyasin cannot belong to any religion, for his is a life of independent thought, which draws from all religions; his is a life of realisation, not merely of theory or belief, much less of dogma.
Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.