Arsip Vivekananda

Vedanta Praktis: Bagian III

Jilid2 lecture
4,486 kata · 18 menit baca · Practical Vedanta and other lectures

Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.

AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.

Bahasa Indonesia

VEDANTA PRAKTIS

BAGIAN III

(Disampaikan di London, 17 November 1896)

Dalam Chhandogya Upanishad kita membaca bahwa seorang resi bernama Narada datang kepada resi lain yang bernama Sanatkumara, dan mengajukan berbagai pertanyaan kepadanya, salah satunya adalah apakah agama merupakan penyebab segala sesuatu sebagaimana adanya. Lalu Sanatkumara membimbingnya, seolah-olah selangkah demi selangkah, dengan mengatakan kepadanya bahwa ada sesuatu yang lebih tinggi daripada bumi ini, dan ada sesuatu yang lebih tinggi daripada itu, dan seterusnya, hingga sampai pada Akasha, yakni eter. Eter lebih tinggi daripada cahaya, sebab di dalam eter terdapat matahari dan bulan, kilat dan bintang-bintang; di dalam eter kita hidup, dan di dalam eter pula kita mati. Lalu muncul pertanyaan, apakah ada sesuatu yang lebih tinggi daripada itu, dan Sanatkumara menjelaskan kepadanya tentang Prana. Prana ini, menurut Vedanta, adalah asas kehidupan. Sebagaimana eter, ia adalah asas yang hadir di mana-mana; dan segala gerak, baik di dalam tubuh maupun di tempat lain mana pun, adalah hasil kerja Prana ini. Ia lebih besar daripada Akasha, dan melalui ia segala sesuatu hidup. Prana ada pada ibu, pada bapak, pada saudari, pada guru; Prana adalah yang mengetahui.

Saya akan membacakan satu petikan lain, di mana Shvetaketu bertanya kepada ayahnya tentang Kebenaran, dan sang ayah mengajarinya berbagai hal, dan menyimpulkan dengan berkata, "Itu yang merupakan sebab halus dalam segala sesuatu ini, dari Itulah segala sesuatu ini dibuat. Itulah Segalanya, itulah Kebenaran, engkau adalah Itu, wahai Shvetaketu." Dan kemudian sang ayah memberikan berbagai contoh. "Sebagaimana seekor lebah, wahai Shvetaketu, mengumpulkan madu dari berbagai bunga, dan sebagaimana madu yang berbeda-beda itu tidak mengetahui bahwa ia berasal dari berbagai pohon dan dari berbagai bunga, demikian pula kita semua, setelah datang kepada Keberadaan itu, tidak mengetahui bahwa kita telah melakukannya. Kini, sesuatu yang merupakan inti halus itu, di dalam-Nya segala yang ada memiliki diri-Nya. Itulah Yang Benar. Itulah Diri, dan engkau, wahai Shvetaketu, adalah Itu." Ia memberikan contoh lain tentang sungai-sungai yang mengalir ke samudra. "Sebagaimana sungai-sungai, ketika mereka berada di samudra, tidak mengetahui bahwa mereka pernah menjadi berbagai sungai, demikian pula ketika kita keluar dari Keberadaan itu, kita tidak mengetahui bahwa kita adalah Itu. Wahai Shvetaketu, engkau adalah Itu." Demikianlah ia melanjutkan ajarannya.

Kini ada dua asas pengetahuan. Asas pertama adalah bahwa kita mengetahui dengan merujuk yang khusus kepada yang umum, dan yang umum kepada yang universal; dan asas kedua adalah bahwa segala sesuatu yang penjelasannya dicari haruslah dijelaskan sejauh mungkin dari hakikatnya sendiri. Mengambil asas pertama, kita melihat bahwa seluruh pengetahuan kita sesungguhnya terdiri dari penggolongan, yang naik semakin tinggi. Apabila sesuatu terjadi hanya sekali, kita seolah-olah merasa tidak puas. Apabila dapat ditunjukkan bahwa hal yang sama terjadi berulang kali, kita merasa puas dan menyebutnya hukum. Apabila kita mendapati bahwa satu apel jatuh, kita tidak puas; tetapi apabila kita mendapati bahwa semua apel jatuh, kita menyebutnya hukum gravitasi dan merasa puas. Kenyataannya adalah bahwa dari yang khusus kita menyimpulkan yang umum.

Apabila kita hendak mengkaji agama, kita harus menerapkan proses ilmiah ini. Asas yang sama juga berlaku di sini, dan sebagai sebuah fakta kita mendapati bahwa itulah metode yang berlaku sepanjang masa. Dalam membaca kitab-kitab yang darinya saya telah menerjemahkan untuk Anda, gagasan paling awal yang dapat saya telusuri adalah asas berangkat dari yang khusus menuju yang umum. Kita melihat bagaimana "para terang" disatukan ke dalam satu asas; dan demikian pula dalam gagasan tentang kosmos kita menemukan para pemikir kuno naik semakin tinggi — dari unsur-unsur halus mereka beranjak ke unsur-unsur yang lebih halus dan lebih merangkum, dan dari yang khusus-khusus ini mereka sampai pada satu eter yang hadir di mana-mana, dan dari sana pun mereka beranjak ke satu daya yang merangkum segala sesuatu, atau Prana; dan melalui semua ini berjalanlah asas bahwa yang satu tidak terpisah dari yang lain. Eter yang sama itulah yang ada dalam bentuk Prana yang lebih tinggi, atau bentuk Prana yang lebih tinggi itu memadat, dapat dikatakan demikian, dan menjadi eter; dan eter itu menjadi semakin kasar, dan demikian seterusnya.

Penggeneralan Tuhan Pribadi adalah contoh lain yang relevan. Kita telah melihat bagaimana penggeneralan ini dicapai, dan disebut sebagai jumlah total dari segala kesadaran. Namun timbul kesulitan — penggeneralan itu tidak lengkap. Kita hanya mengambil satu sisi dari fakta-fakta alam, yakni fakta kesadaran, dan atas dasar itu kita menggeneralisasi, tetapi sisi yang lain ditinggalkan. Maka, pertama-tama, ini adalah penggeneralan yang cacat. Ada pula ketakcukupan lain, dan itu berkaitan dengan asas kedua. Segala sesuatu harus dijelaskan dari hakikatnya sendiri. Mungkin ada orang-orang yang berpikir bahwa setiap apel yang jatuh ke tanah ditarik turun oleh suatu hantu, tetapi penjelasannya adalah hukum gravitasi; dan meskipun kita tahu bahwa itu bukanlah penjelasan yang sempurna, namun ia jauh lebih baik daripada yang sebelumnya, sebab ia diturunkan dari hakikat benda itu sendiri, sedangkan yang lainnya menempatkan suatu sebab di luarnya. Demikianlah di seluruh jangkauan pengetahuan kita; penjelasan yang berdasarkan hakikat benda itu sendiri adalah penjelasan ilmiah, sementara penjelasan yang mendatangkan agen dari luar adalah penjelasan yang tidak ilmiah.

Maka penjelasan tentang Tuhan Pribadi sebagai pencipta alam semesta harus tahan terhadap ujian itu. Apabila Tuhan itu berada di luar alam, tidak berkaitan dengan alam, dan alam ini adalah hasil dari perintah Tuhan itu serta dihasilkan dari ketiadaan, maka itu adalah teori yang sangat tidak ilmiah, dan inilah titik lemah dari setiap agama teistik sepanjang masa. Kedua kekurangan ini kita temukan dalam apa yang umumnya disebut teori monoteisme, yakni teori tentang Tuhan Pribadi yang memiliki semua sifat manusia yang dilipatgandakan, yang dengan kehendak-Nya menciptakan alam semesta ini dari ketiadaan dan namun terpisah darinya. Hal ini membawa kita ke dalam dua kesulitan.

Sebagaimana telah kita lihat, ia bukanlah penggeneralan yang cukup, dan kedua, ia bukanlah penjelasan tentang alam yang berasal dari alam. Ia berpandangan bahwa akibat bukanlah sebab, bahwa sebab sepenuhnya terpisah dari akibat. Namun seluruh pengetahuan manusia menunjukkan bahwa akibat tidak lain adalah sebab dalam bentuk lain. Ke arah gagasan inilah penemuan-penemuan ilmu pengetahuan modern condong setiap harinya, dan teori terbaru yang telah diterima di segala penjuru adalah teori evolusi, yang asasnya adalah bahwa akibat tidak lain adalah sebab dalam bentuk lain, yakni penataan ulang dari sebab, dan sebab itu mengambil bentuk akibat. Teori penciptaan dari ketiadaan akan ditertawakan oleh para ilmuwan modern.

Kini, dapatkah agama lulus dari ujian-ujian ini? Apabila ada teori-teori agama yang dapat tahan terhadap kedua ujian ini, ia akan dapat diterima oleh akal modern, oleh pikiran yang berpikir. Teori lain mana pun yang kita minta agar diterima oleh manusia modern berdasarkan otoritas pendeta, gereja, atau kitab, tidak dapat ia terima, dan akibatnya adalah suatu tumpukan ketidakpercayaan yang mengerikan. Bahkan pada mereka yang lahiriahnya menampilkan kepercayaan, di dalam hati mereka terdapat ketidakpercayaan dalam jumlah yang luar biasa. Sisanya menjauh dari agama, seolah-olah meninggalkannya, menganggapnya semata-mata sebagai tipu daya kependetaan.

Agama telah direduksi menjadi semacam bentuk kebangsaan. Ia adalah salah satu sisa sosial terbaik kita; biarlah ia tetap ada. Namun kebutuhan nyata yang dirasakan oleh kakek manusia modern terhadapnya telah hilang; ia tidak lagi mendapati agama itu memuaskan bagi akalnya. Gagasan tentang Tuhan Pribadi semacam itu, dan tentang penciptaan semacam itu, gagasan yang umumnya dikenal sebagai monoteisme di setiap agama, tidak dapat lagi mempertahankan dirinya. Di India ia tidak dapat mempertahankan dirinya karena kaum Buddhis, dan justru di titik itulah mereka meraih kemenangan mereka pada zaman dahulu. Mereka menunjukkan bahwa apabila kita mengakui bahwa alam memiliki daya yang tak terbatas, dan bahwa alam dapat memenuhi segala kebutuhannya sendiri, maka sungguh tidak perlu untuk bersikeras bahwa ada sesuatu di luar alam. Bahkan jiwa pun tidak diperlukan.

Pembahasan tentang substansi dan kualitas sudah sangat tua, dan kadang-kadang Anda akan mendapati bahwa takhayul lama itu masih hidup sampai sekarang. Sebagian besar dari Anda telah membaca bahwa, pada Abad Pertengahan, dan, sayang sekali harus saya katakan, bahkan jauh sesudahnya, inilah salah satu pokok pembahasan, yakni apakah kualitas melekat pada substansi, apakah panjang, lebar, dan tebal melekat pada substansi yang kita sebut materi mati, apakah, ketika substansi itu tetap, kualitas-kualitas itu masih ada atau tidak. Terhadap hal ini sang Buddhis kita berkata, "Anda tidak memiliki dasar untuk mempertahankan keberadaan substansi semacam itu; kualitas-kualitas itulah satu-satunya yang ada; Anda tidak melihat melampauinya." Inilah persisnya pendirian sebagian besar agnostik modern kita. Sebab pertarungan antara substansi dan kualitas inilah yang, pada tataran yang lebih tinggi, mengambil bentuk pertarungan antara noumenon dan fenomena. Ada dunia fenomenal, yakni alam semesta dengan perubahan yang terus-menerus, dan ada sesuatu di baliknya yang tidak berubah; dan dualitas keberadaan ini, noumenon dan fenomena, sebagian berpegang, adalah benar, dan yang lain dengan alasan yang lebih baik mengklaim bahwa Anda tidak berhak mengakui keduanya, sebab apa yang kita lihat, rasakan, dan pikirkan hanyalah fenomena. Anda tidak berhak menegaskan bahwa ada sesuatu di luar fenomena; dan terhadap ini tidak ada jawaban. Satu-satunya jawaban yang kita dapatkan adalah dari teori monistik Vedanta. Benar bahwa hanya satu yang ada, dan yang satu itu adalah entah fenomena atau noumenon. Tidaklah benar bahwa ada dua — sesuatu yang berubah, dan, di dalam serta melalui itu, sesuatu yang tidak berubah; melainkan satu dan sama yang tampak sebagai berubah, namun pada hakikatnya tidak dapat berubah. Kita sudah terbiasa menganggap tubuh, pikiran, dan jiwa sebagai banyak, tetapi sesungguhnya hanya ada satu; dan yang satu itu tampil dalam segala bentuk yang beragam ini. Ambillah ilustrasi terkenal dari kaum monis, yakni tali yang tampak sebagai ular. Sebagian orang, dalam kegelapan atau karena sebab lain, mengira tali itu sebagai ular, tetapi ketika pengetahuan datang, ular itu lenyap dan ternyata ia adalah tali. Melalui ilustrasi ini kita melihat bahwa ketika ular itu ada di dalam pikiran, talinya telah lenyap, dan ketika tali itu ada, ularnya telah pergi. Apabila kita melihat fenomena, dan hanya fenomena, di sekeliling kita, maka noumenon telah lenyap, tetapi apabila kita melihat noumenon, yakni yang tak berubah, maka secara wajar fenomena pun telah lenyap. Kini, kita memahami dengan lebih baik pendirian baik realis maupun idealis. Sang realis hanya melihat fenomena, dan sang idealis memandang noumenon. Bagi sang idealis, idealis yang sungguh sejati, yang benar-benar telah sampai pada daya persepsi yang dengannya ia dapat melepaskan diri dari segala gagasan tentang perubahan, baginya alam semesta yang berubah-ubah telah lenyap, dan ia berhak berkata bahwa semua itu adalah ilusi belaka, tidak ada perubahan. Sang realis pada saat yang sama memandang yang berubah-ubah. Baginya yang tak berubah telah lenyap, dan ia berhak berkata bahwa semua ini nyata.

Apa hasil dari filsafat ini? Ialah bahwa gagasan tentang Tuhan Pribadi tidaklah memadai. Kita harus sampai pada sesuatu yang lebih tinggi, yakni kepada gagasan Yang Tak Berpribadi. Itulah satu-satunya langkah logis yang dapat kita ambil. Bukan berarti gagasan personal itu akan dihancurkan olehnya, bukan berarti kita memberikan bukti bahwa Tuhan Pribadi itu tidak ada, melainkan kita harus pergi kepada Yang Tak Berpribadi sebagai penjelasan bagi yang berpribadi, sebab Yang Tak Berpribadi adalah penggeneralan yang jauh lebih tinggi daripada yang berpribadi. Hanya Yang Tak Berpribadi yang dapat menjadi Tak Terbatas, sedangkan yang berpribadi terbatas. Dengan demikian kita memelihara yang berpribadi dan tidak menghancurkannya. Sering kali timbul keraguan pada kita bahwa apabila kita sampai pada gagasan Tuhan Yang Tak Berpribadi, maka yang berpribadi akan dihancurkan; apabila kita sampai pada gagasan tentang manusia Yang Tak Berpribadi, maka yang berpribadi akan hilang. Tetapi gagasan Vedantik bukanlah penghancuran individu, melainkan pemeliharaan sejatinya. Kita tidak dapat membuktikan individu dengan cara lain mana pun selain dengan merujuk kepada yang universal, dengan membuktikan bahwa individu ini sesungguhnya adalah yang universal. Apabila kita memikirkan individu sebagai terpisah dari segala sesuatu lainnya di alam semesta, ia tidak akan dapat bertahan sekejap pun. Hal semacam itu tidak pernah ada.

Kedua, dengan menerapkan asas kedua, yakni bahwa penjelasan tentang segala sesuatu harus keluar dari hakikat benda itu sendiri, kita digiring kepada gagasan yang lebih berani lagi, dan lebih sulit untuk dipahami. Ia tidak kurang dari ini, bahwa Wujud Yang Tak Berpribadi, yakni penggeneralan tertinggi kita, ada di dalam diri kita sendiri, dan kita adalah Itu. "Wahai Shvetaketu, engkau adalah Itu." Anda adalah Wujud Yang Tak Berpribadi itu; Tuhan yang selama ini Anda cari di seluruh alam semesta sepanjang waktu adalah Anda sendiri — Anda bukan dalam pengertian personal, melainkan dalam pengertian Tak Berpribadi. Manusia yang kita kenal sekarang, yang termanifestasi, dipersonifikasikan, tetapi hakikatnya adalah Yang Tak Berpribadi. Untuk memahami yang berpribadi kita harus merujuknya kepada Yang Tak Berpribadi, yang khusus harus dirujuk kepada yang umum, dan Yang Tak Berpribadi itulah Kebenaran, yakni Diri manusia.

Akan ada berbagai pertanyaan sehubungan dengan hal ini, dan saya akan mencoba menjawabnya seiring kita berjalan. Banyak kesulitan akan timbul, tetapi pertama-tama marilah kita memahami dengan jelas pendirian monisme. Sebagai makhluk yang termanifestasi, kita tampak terpisah, tetapi hakikat kita adalah satu, dan semakin sedikit kita memikirkan diri kita sebagai terpisah dari Yang Satu itu, semakin baik bagi kita. Semakin kita memikirkan diri kita sebagai terpisah dari Keseluruhan, semakin sengsara jadinya kita. Dari asas monistik ini kita memperoleh landasan etika, dan saya berani mengatakan bahwa kita tidak dapat memperoleh etika dari tempat lain mana pun. Kita tahu bahwa gagasan tertua tentang etika adalah kehendak suatu wujud atau wujud-wujud tertentu, tetapi sedikit yang siap menerima itu sekarang, sebab itu hanya akan menjadi penggeneralan yang parsial. Orang Hindu berkata kita tidak boleh melakukan ini atau itu karena Veda berkata demikian, tetapi orang Kristen tidak akan menaati otoritas Veda. Orang Kristen berkata Anda harus melakukan ini dan tidak melakukan itu karena Alkitab berkata demikian. Itu tidak akan mengikat mereka yang tidak percaya pada Alkitab. Tetapi kita harus memiliki sebuah teori yang cukup luas untuk merangkum semua landasan yang beragam ini. Sebagaimana ada jutaan orang yang siap mempercayai seorang Pencipta yang Berpribadi, demikian pula telah ada ribuan pikiran paling cemerlang di dunia ini yang merasakan bahwa gagasan semacam itu tidak cukup bagi mereka, dan menginginkan sesuatu yang lebih tinggi, dan di mana pun agama tidak cukup luas untuk merangkum semua pikiran ini, hasilnya adalah bahwa pikiran-pikiran paling cemerlang dalam masyarakat selalu berada di luar agama; dan tidak pernah hal ini begitu menonjol seperti pada masa sekarang ini, terutama di Eropa.

Untuk merangkum pikiran-pikiran ini, oleh karena itu, agama harus menjadi cukup luas. Segala yang diklaimnya harus dinilai dari sudut pandang akal. Mengapa agama-agama harus mengklaim bahwa mereka tidak terikat untuk mematuhi sudut pandang akal, tidak ada yang tahu. Apabila orang tidak mengambil ukuran akal, tidak akan ada penghakiman yang sejati, bahkan dalam hal agama sekalipun. Suatu agama mungkin menetapkan sesuatu yang sangat mengerikan. Misalnya, agama Muhammad memperbolehkan kaum Muhammadan membunuh semua orang yang bukan dari agama mereka. Hal itu dinyatakan dengan jelas dalam Al-Qur'an, "Bunuhlah orang-orang kafir apabila mereka tidak menjadi Muhammadan." Mereka harus dibinasakan dengan api dan pedang. Kini apabila kita mengatakan kepada seorang Muhammadan bahwa ini salah, ia secara wajar akan bertanya, "Bagaimana Anda tahu? Bagaimana Anda tahu bahwa ini tidak baik? Kitab saya mengatakan demikian." Apabila Anda mengatakan bahwa kitab Anda lebih tua, maka akan datang sang Buddhis, dan berkata, kitab saya jauh lebih tua lagi. Lalu akan datang sang Hindu, dan berkata, kitab-kitab saya yang tertua dari semuanya. Oleh karena itu merujuk kepada kitab tidak akan menyelesaikan masalah. Di manakah ukuran yang dengannya Anda dapat membandingkan? Anda akan berkata, lihatlah Khotbah di Bukit, dan sang Muhammadan akan menjawab, lihatlah Etika Al-Qur'an. Sang Muhammadan akan berkata, siapakah penengah mengenai yang mana yang lebih baik dari keduanya? Baik Perjanjian Baru maupun Al-Qur'an tidak dapat menjadi penengah dalam perselisihan di antara keduanya. Harus ada otoritas yang independen, dan itu tidak dapat berupa kitab apa pun, melainkan sesuatu yang universal; dan apa yang lebih universal daripada akal? Telah dikatakan bahwa akal tidak cukup kuat; ia tidak selalu membantu kita untuk mencapai Kebenaran; berkali-kali ia membuat kesalahan, dan, oleh karena itu, kesimpulannya adalah kita harus percaya kepada otoritas suatu gereja! Itu dikatakan kepada saya oleh seorang Katolik Roma, tetapi saya tidak dapat melihat logikanya. Sebaliknya, saya akan berkata, apabila akal begitu lemah, maka sekumpulan pendeta akan lebih lemah lagi, dan saya tidak akan menerima keputusan mereka, melainkan saya akan berpegang pada akal saya, sebab dengan segala kelemahannya masih ada peluang bagi saya untuk mencapai kebenaran melaluinya; sementara, melalui cara yang lain, tidak ada harapan semacam itu sama sekali.

Oleh karena itu kita harus mengikuti akal dan juga bersimpati kepada mereka yang, dengan mengikuti akal, tidak sampai pada jenis kepercayaan apa pun. Sebab lebih baik manusia menjadi ateis dengan mengikuti akal daripada percaya secara buta kepada dua ratus juta dewa atas otoritas siapa pun. Apa yang kita inginkan adalah kemajuan, perkembangan, perealisasian. Tidak ada teori yang pernah membuat manusia menjadi lebih tinggi. Tidak ada banyaknya kitab yang dapat membantu kita menjadi lebih murni. Satu-satunya daya ada dalam perealisasian, dan itu terletak di dalam diri kita sendiri dan datang dari pemikiran. Biarlah manusia berpikir. Segumpal tanah tidak pernah berpikir; maka ia tetap hanya menjadi segumpal tanah. Kemuliaan manusia adalah bahwa ia adalah makhluk yang berpikir. Memang sudah hakikat manusia untuk berpikir, dan di sanalah ia berbeda dari hewan. Saya percaya pada akal dan mengikuti akal, karena telah cukup melihat kejahatan-kejahatan otoritas, sebab saya dilahirkan di sebuah negeri di mana mereka telah pergi sampai ke ujung dari otoritas.

Orang-orang Hindu percaya bahwa penciptaan berasal dari Veda. Bagaimana Anda tahu ada seekor sapi? Karena kata sapi ada dalam Veda. Bagaimana Anda tahu ada seorang manusia di luar sana? Karena kata manusia ada di sana. Sekiranya ia tidak ada, niscaya tidak akan ada manusia di luar sana. Itulah yang mereka katakan. Otoritas yang ekstrem! Dan itu tidak dipelajari sebagaimana saya telah mempelajarinya, melainkan sebagian dari pikiran-pikiran yang paling kuat telah mengambilnya dan membentangkan teori-teori logis yang luar biasa di sekitarnya. Mereka telah menalarnya, dan di sanalah ia berdiri — suatu sistem filsafat yang utuh; dan ribuan kecerdasan paling cemerlang telah didedikasikan selama ribuan tahun untuk merumuskan teori ini. Begitulah daya otoritas, dan besarlah bahayanya. Ia menghambat pertumbuhan kemanusiaan, dan kita tidak boleh lupa bahwa kita menginginkan pertumbuhan. Bahkan dalam segala kebenaran relatif, lebih daripada kebenaran itu sendiri, yang kita inginkan adalah latihannya. Itulah kehidupan kita.

Teori monistik ini memiliki keunggulan bahwa ia adalah yang paling rasional dari semua teori agama yang dapat kita bayangkan. Setiap teori lain, setiap pemahaman tentang Tuhan yang parsial, sempit, dan berpribadi, tidaklah rasional. Namun monisme memiliki keagungan ini bahwa ia merangkul semua pemahaman parsial tentang Tuhan ini sebagai sesuatu yang diperlukan bagi banyak orang. Sebagian orang berkata bahwa penjelasan personal ini tidak rasional. Tetapi ia menghibur; mereka menginginkan agama yang menghibur dan kita memahami bahwa itu diperlukan bagi mereka. Cahaya terang kebenaran sangat sedikit yang dapat menanggungnya dalam kehidupan ini, apalagi menghidupinya. Oleh karena itu, perlu bahwa agama yang menyenangkan ini tetap ada; ia membantu banyak jiwa untuk menuju yang lebih baik. Pikiran-pikiran kecil yang lingkupnya sangat terbatas, dan yang memerlukan hal-hal kecil untuk membangun mereka, tidak pernah berani membubung tinggi dalam pemikiran. Pemahaman mereka sangat baik dan membantu bagi mereka, sekalipun hanya tentang dewa-dewa dan simbol-simbol kecil. Tetapi Anda harus memahami Yang Tak Berpribadi, sebab hanya di dalam dan melalui Itulah yang lain-lain dapat dijelaskan. Ambillah, misalnya, gagasan tentang Tuhan Pribadi. Seseorang yang memahami dan percaya pada Yang Tak Berpribadi — John Stuart Mill, misalnya — boleh saja berkata bahwa Tuhan Pribadi itu mustahil, dan tidak dapat dibuktikan. Saya sepakat dengannya bahwa Tuhan Pribadi tidak dapat dibuktikan. Tetapi Dia adalah pembacaan tertinggi tentang Yang Tak Berpribadi yang dapat dicapai oleh kecerdasan manusia, dan apakah alam semesta ini selain berbagai pembacaan tentang Yang Absolut? Ia bagaikan sebuah kitab yang ada di hadapan kita, dan setiap orang membawa kecerdasannya untuk membacanya, dan setiap orang harus membacanya untuk dirinya sendiri. Ada sesuatu yang umum dalam kecerdasan semua orang; oleh karena itu hal-hal tertentu tampak sama bagi kecerdasan umat manusia. Bahwa Anda dan saya melihat sebuah kursi membuktikan bahwa ada sesuatu yang umum bagi pikiran kita berdua. Andaikan datang suatu wujud dengan indra yang lain, ia tidak akan melihat kursi itu sama sekali; tetapi semua wujud yang serupa susunannya akan melihat hal-hal yang sama. Dengan demikian alam semesta ini sendiri adalah Yang Absolut, yang tak berubah, yakni noumenon; dan fenomena merupakan pembacaan terhadapnya. Sebab pertama-tama Anda akan mendapati bahwa segala fenomena itu terhingga. Setiap fenomena yang dapat kita lihat, rasakan, atau pikirkan, adalah terhingga, dibatasi oleh pengetahuan kita, dan Tuhan Pribadi sebagaimana kita memahami-Nya pada kenyataannya adalah suatu fenomena. Gagasan tentang sebab-akibat sendiri hanya ada di dunia fenomenal, dan Tuhan sebagai sebab dari alam semesta ini secara wajar harus dipikirkan sebagai terbatas, namun Dia adalah Tuhan Yang Tak Berpribadi yang sama. Alam semesta ini sendiri, sebagaimana telah kita lihat, adalah Wujud Yang Tak Berpribadi yang sama yang dibaca oleh kecerdasan kita. Apa pun yang merupakan realitas di alam semesta, itu adalah Wujud Yang Tak Berpribadi itu, dan bentuk-bentuk serta pemahaman-pemahaman diberikan kepadanya oleh kecerdasan kita. Apa pun yang nyata pada meja ini, itu adalah Wujud itu, dan bentuk meja serta semua bentuk lainnya diberikan oleh kecerdasan kita.

Kini, gerak, misalnya, yang merupakan pengiring yang niscaya bagi yang fenomenal, tidak dapat dipredikasikan terhadap Yang Universal. Setiap bagian kecil, setiap atom di dalam alam semesta, berada dalam keadaan perubahan dan gerak yang terus-menerus, tetapi alam semesta secara keseluruhan tidak dapat berubah, sebab gerak atau perubahan adalah hal yang relatif; kita hanya dapat memikirkan sesuatu sebagai bergerak dalam perbandingan dengan sesuatu yang tidak bergerak. Harus ada dua hal untuk memahami gerak. Seluruh massa alam semesta, yang dianggap sebagai satu kesatuan, tidak dapat bergerak. Terhadap apa ia akan bergerak? Ia tidak dapat dikatakan berubah. Terhadap apa ia akan berubah? Maka keseluruhannya adalah Yang Absolut; tetapi di dalamnya setiap partikel berada dalam keadaan aliran dan perubahan yang terus-menerus. Ia sekaligus tak berubah dan berubah, Tak Berpribadi dan Berpribadi dalam satu. Inilah pemahaman kita tentang alam semesta, tentang gerak, dan tentang Tuhan, dan itulah yang dimaksud dengan "Engkau adalah Itu". Dengan demikian kita melihat bahwa Yang Tak Berpribadi alih-alih meniadakan yang berpribadi, Yang Absolut alih-alih merobohkan yang relatif, justru menjelaskannya hingga sepenuhnya memuaskan akal dan hati kita. Tuhan Pribadi dan segala yang ada di alam semesta adalah Wujud Yang Tak Berpribadi yang sama, yang dilihat melalui pikiran kita. Ketika kita telah terbebas dari pikiran kita, dari kepribadian-kepribadian kecil kita, kita akan menjadi satu dengan-Nya. Inilah yang dimaksud dengan "Engkau adalah Itu". Sebab kita harus mengetahui hakikat sejati kita, yakni Yang Absolut.

Manusia yang terhingga dan termanifestasi melupakan sumbernya dan mengira dirinya sepenuhnya terpisah. Kita, sebagai wujud yang dipersonifikasikan dan dibedakan, melupakan hakikat kita, dan ajaran monisme bukanlah bahwa kita harus meninggalkan pembedaan-pembedaan ini, melainkan kita harus belajar memahami apa adanya. Pada hakikatnya kita adalah Wujud Yang Tak Terbatas itu, dan kepribadian-kepribadian kita merupakan begitu banyak saluran yang melaluinya Realitas Yang Tak Terbatas ini memanifestasikan Diri-Nya; dan seluruh massa perubahan yang kita sebut evolusi terjadi karena jiwa berusaha memanifestasikan semakin banyak dari energinya yang tak terbatas. Kita tidak dapat berhenti di mana pun di sisi sebelum Yang Tak Terbatas; daya kita, dan keberkahan kita, dan kebijaksanaan kita, tidak dapat tidak akan tumbuh hingga ke Yang Tak Terbatas. Daya, keberadaan, dan keberkahan yang tak terbatas adalah milik kita, dan kita tidak perlu memperolehnya; ia adalah milik kita sendiri, dan kita hanya harus memanifestasikannya.

Inilah gagasan pusat monisme, dan salah satu yang sangat sulit untuk dipahami. Sejak kecil setiap orang di sekitar saya mengajarkan kelemahan; saya telah diberi tahu sejak saya lahir bahwa saya adalah sesuatu yang lemah. Sangat sulit bagi saya sekarang untuk merealisasikan kekuatan saya sendiri, tetapi melalui analisis dan penalaran saya memperoleh pengetahuan tentang kekuatan saya sendiri, saya merealisasikannya. Seluruh pengetahuan yang kita miliki di dunia ini, dari manakah ia berasal? Ia ada di dalam diri kita. Pengetahuan apa yang ada di luar? Tidak ada. Pengetahuan bukan ada di dalam materi; ia selama ini ada di dalam manusia. Tidak ada seorang pun yang pernah menciptakan pengetahuan; manusia membawanya dari dalam. Ia terletak di sana. Seluruh pohon beringin besar yang menaungi berhektare-hektare tanah, dahulu ada di dalam biji kecil yang, mungkin, tidak lebih besar dari seperdelapan biji moster; seluruh massa energi itu terkurung di sana. Kecerdasan raksasa, kita tahu, terlipat di dalam sel protoplasma, dan mengapa energi tak terbatas tidak demikian halnya? Kita tahu memang demikian adanya. Hal itu mungkin tampak seperti paradoks, tetapi itu benar. Setiap orang dari kita telah keluar dari satu sel protoplasma, dan segala daya yang kita miliki terlipat di sana. Anda tidak dapat mengatakan ia berasal dari makanan; sebab apabila Anda menimbun makanan setinggi gunung, daya apa yang keluar darinya? Energi itu ada di sana, secara potensial tanpa diragukan, tetapi ia ada di sana. Demikian pula daya yang tak terbatas ada di dalam jiwa manusia, baik ia mengetahuinya maupun tidak. Manifestasinya semata-mata soal menyadarinya. Perlahan-lahan raksasa yang tak terbatas ini, seolah-olah, terbangun, menyadari dayanya, dan membangkitkan dirinya; dan dengan kesadarannya yang tumbuh, semakin banyak dari belenggunya yang putus, rantai-rantai pecah berderak, dan hari itu pasti akan datang ketika, dengan kesadaran penuh akan daya dan kebijaksanaannya yang tak terbatas, sang raksasa akan bangkit berdiri tegak. Marilah kita semua membantu untuk mempercepat penyempurnaan yang gemilang itu.

English

PRACTICAL VEDANTA

PART III

(Delivered in London, 17th November 1896)

In the Chhâdogya Upanishad we read that a sage called Nârada came to another called Sanatkumâra, and asked him various questions, of which one was, if religion was the cause of things as they are. And Sanatkumara leads him, as it were, step by step, telling him that there is something higher than this earth, and something higher than that, and so on, till he comes to Âkâsha, ether. Ether is higher than light, because in the ether are the sun and the moon, lightning and the stars; in ether we live, and in ether we die. Then the question arises, if there is anything higher than that, and Sanatkumara tells him of Prâna. This Prana, according to the Vedanta, is the principle of life. It is like ether, an omnipresent principle; and all motion, either in the body or anywhere else, is the work of this Prana. It is greater than Akasha, and through it everything lives. Prana is in the mother, in the father, in the sister, in the teacher, Prana is the knower.

I will read another passage, where Shvetaketu asks his father about the Truth, and the father teaches him different things, and concludes by saying, "That which is the fine cause in all these things, of It are all these things made. That is the All, that is Truth, thou art That, O Shvetaketu." And then he gives various examples. "As a bee, O Shvetaketu, gathers honey from different flowers, and as the different honeys do not know that they are from various trees, and from various flowers, so all of us, having come to that Existence, know not that we have done so. Now, that which is that subtle essence, in It all that exists has its self. It is the True. It is the Self and thou, O Shvetaketu, are That." He gives another example of the rivers running down to the ocean. "As the rivers, when they are in the ocean, do not know that they have been various rivers, even so when we come out of that Existence, we do not know that we are That. O Shvetaketu, thou art That." So on he goes with his teachings.

Now there are two principles of knowledge. The one principle is that we know by referring the particular to the general, and the general to the universal; and the second is that anything of which the explanation is sought is to be explained so far as possible from its own nature. Taking up the first principle, we see that all our knowledge really consists of classifications, going higher and higher. When something happens singly, we are, as it were, dissatisfied. When it can be shown that the same thing happens again and again, we are satisfied and call it law. When we find that one apple falls, we are dissatisfied; but when we find that all apples fall, we call it the law of gravitation and are satisfied. The fact is that from the particular we deduce the general.

When we want to study religion, we should apply this scientific process. The same principle also holds good here, and as a fact we find that that has been the method all through. In reading these books from which I have been translating to you, the earliest idea that I can trace is this principle of going from the particular to the general. We see how the "bright ones" became merged into one principle; and likewise in the ideas of the cosmos we find the ancient thinkers going higher and higher — from the fine elements they go to finer and more embracing elements, and from these particulars they come to one omnipresent ether, and from that even they go to an all embracing force, or Prana; and through all this runs the principle, that one is not separate from the others. It is the very ether that exists in the higher form of Prana, or the higher form of Prana concretes, so to say, and becomes ether; and that ether becomes still grosser, and so on.

The generalization of the Personal God is another case in point. We have seen how this generalization was reached, and was called the sum total of all consciousness. But a difficulty arises — it is an incomplete generalization. We take up only one side of the facts of nature, the fact of consciousness, and upon that we generalise, but the other side is left out. So, in the first place it is a defective generalization. There is another insufficiency, and that relates to the second principle. Everything should be explained from its own nature. There may have been people who thought that every apple that fell to the ground was dragged down by a ghost, but the explanation is the law of gravitation; and although we know it is not a perfect explanation, yet it is much better than the other, because it is derived from the nature of the thing itself, while the other posits an extraneous cause. So throughout the whole range of our knowledge; the explanation which is based upon the nature of the thing itself is a scientific explanation, and an explanation which brings in an outside agent is unscientific.

So the explanation of a Personal God as the creator of the universe has to stand that test. If that God is outside of nature, having nothing to do with nature, and this nature is the outcome of the command of that God and produced from nothing, it is a very unscientific theory, and this has been the weak point of every Theistic religion throughout the ages. These two defects we find in what is generally called the theory of monotheism, the theory of a Personal God, with all the qualities of a human being multiplied very much, who, by His will, created this universe out of nothing and yet is separate from it. This leads us into two difficulties.

As we have seen, it is not a sufficient generalization, and secondly, it is not an explanation of nature from nature. It holds that the effect is not the cause, that the cause is entirely separate from the effect. Yet all human knowledge shows that the effect is but the cause in another form. To this idea the discoveries of modern science are tending every day, and the latest theory that has been accepted on all sides is the theory of evolution, the principle of which is that the effect is but the cause in another form, a readjustment of the cause, and the cause takes the form of the effect. The theory of creation out of nothing would be laughed at by modern scientists.

Now, can religion stand these tests? If there be any religious theories which can stand these two tests, they will be acceptable to the modern mind, to the thinking mind. Any other theory which we ask the modern man to believe, on the authority of priests, or churches, or books, he is unable to accept, and the result is a hideous mass of unbelief. Even in those in whom there is an external display of belief, in their hearts there is a tremendous amount of unbelief. The rest shrink away from religion, as it were, give it up, regarding it as priestcraft only.

Religion has been reduced to a sort of national form. It is one of our very best social remnants; let it remain. But the real necessity which the grandfather of the modern man felt for it is gone; he no longer finds it satisfactory to his reason. The idea of such a Personal God, and such a creation, the idea which is generally known as monotheism in every religion, cannot hold its own any longer. In India it could not hold its own because of the Buddhists, and that was the very point where they gained their victory in ancient times. They showed that if we allow that nature is possessed of infinite power, and that nature can work out all its wants, it is simply unnecessary to insist that there is something besides nature. Even the soul is unnecessary.

The discussion about substance and qualities is very old, and you will sometimes find that the old superstition lives even at the present day. Most of you have read how, during the Middle Ages, and, I am sorry to say, even much later, this was one of the subjects of discussion, whether qualities adhered to substance, whether length, breadth, and thickness adhered to the substance which we call dead matter, whether, the substance remaining, the qualities are there or not. To this our Buddhist says, "You have no ground for maintaining the existence of such a substance; the qualities are all that exist; you do not see beyond them." This is just the position of most of our modern agnostics. For it is this fight of the substance and qualities that, on a higher plane, takes the form of the fight between noumenon and phenomenon. There is the phenomenal world, the universe of continuous change, and there is something behind which does not change; and this duality of existence, noumenon and phenomenon, some hold, is true, and others with better reason claim that you have no right to admit the two, for what we see, feel, and think is only the phenomenon. You have no right to assert there is anything beyond phenomenon; and there is no answer to this. The only answer we get is from the monistic theory of the Vedanta. It is true that only one exists, and that one is either phenomenon or noumenon. It is not true that there are two — something changing, and, in and through that, something which does not change; but it is the one and the same thing which appears as changing, and which is in reality unchangeable. We have come to think of the body, and mind, and soul as many, but really there is only one; and that one is appearing in all these various forms. Take the well-known illustration of the monists, the rope appearing as the snake. Some people, in the dark or through some other cause, mistake the rope for the snake, but when knowledge comes, the snake vanishes and it is found to be a rope. By this illustration we see that when the snake exists in the mind, the rope has vanished, and when the rope exists, the snake has gone. When we see phenomenon, and phenomenon only, around us, the noumenon has vanished, but when we see the noumenon, the unchangeable, it naturally follows that the phenomenon has vanished. Now, we understand better the position of both the realist and the idealist. The realist sees the phenomenon only, and the idealist looks to the noumenon. For the idealist, the really genuine idealist, who has truly arrived at the power of perception, whereby he can get away from all ideas of change, for him the changeful universe has vanished, and he has the right to say it is all delusion, there is no change. The realist at the same time looks at the changeful. For him the unchangeable has vanished, and he has a right to say this is all real.

What is the outcome of this philosophy? It is that the idea of Personal God is not sufficient. We have to get to something higher, to the Impersonal idea. It is the only logical step that we can take. Not that the personal idea would be destroyed by that, not that we supply proof that the Personal God does not exist, but we must go to the Impersonal for the explanation of the personal, for the Impersonal is a much higher generalization than the personal. The Impersonal only can be Infinite, the personal is limited. Thus we preserve the personal and do not destroy it. Often the doubt comes to us that if we arrive at the idea of the Impersonal God, the personal will be destroyed, if we arrive at the idea of the Impersonal man, the personal will be lost. But the Vedantic idea is not the destruction of the individual, but its real preservation. We cannot prove the individual by any other means but by referring to the universal, by proving that this individual is really the universal. If we think of the individual as separate from everything else in the universe, it cannot stand a minute. Such a thing never existed.

Secondly, by the application of the second principle, that the explanation of everything must come out of the nature of the thing, we are led to a still bolder idea, and one more difficult to understand. It is nothing less than this, that the Impersonal Being, our highest generalization, is in ourselves, and we are That. "O Shvetaketu, thou art That." You are that Impersonal Being; that God for whom you have been searching all over the universe is all the time yourself — yourself not in the personal sense but in the Impersonal. The man we know now, the manifested, is personalised, but the reality of this is the Impersonal. To understand the personal we have to refer it to the Impersonal, the particular must be referred to the general, and that Impersonal is the Truth, the Self of man.

There will be various questions in connection with this, and I shall try to answer them as we go on. Many difficulties will arise, but first let us clearly understand the position of monism. As manifested beings we appear to be separate, but our reality is one, and the less we think of ourselves as separate from that One, the better for us. The more we think of ourselves as separate from the Whole, the more miserable we become. From this monistic principle we get at the basis of ethics, and I venture to say that we cannot get any ethics from anywhere else. We know that the oldest idea of ethics was the will of some particular being or beings, but few are ready to accept that now, because it would be only a partial generalization. The Hindus say we must not do this or that because the Vedas say so, but the Christian is not going to obey the authority of the Vedas. The Christian says you must do this and not do that because the Bible says so. That will not be binding on those who do not believe in the Bible. But we must have a theory which is large enough to take in all these various grounds. Just as there are millions of people who are ready to believe in a Personal Creator, there have also been thousands of the brightest minds in this world who felt that such ideas were not sufficient for them, and wanted something higher, and wherever religion was not broad enough to include all these minds, the result was that the brightest minds in society were always outside of religion; and never was this so marked as at the present time, especially in Europe.

To include these minds, therefore, religion must become broad enough. Everything it claims must be judged from the standpoint of reason. Why religions should claim that they are not bound to abide by the standpoint of reason, no one knows. If one does not take the standard of reason, there cannot be any true judgment, even in the case of religions. One religion may ordain something very hideous. For instance, the Mohammedan religion allows Mohammedans to kill all who are not of their religion. It is clearly stated in the Koran, "Kill the infidels if they do not become Mohammedans." They must be put to fire and sword. Now if we tell a Mohammedan that this is wrong, he will naturally ask, "How do you know that? How do you know it is not good? My book says it is." If you say your book is older, there will come the Buddhist, and say, my book is much older still. Then will come the Hindu, and say, my books are the oldest of all. Therefore referring to books will not do. Where is the standard by which you can compare? You will say, look at the Sermon on the Mount, and the Mohammedan will reply, look at the Ethics of the Koran. The Mohammedan will say, who is the arbiter as to which is the better of the two? Neither the New Testament nor the Koran can be the arbiter in a quarrel between them. There must be some independent authority, and that cannot be any book, but something which is universal; and what is more universal than reason? It has been said that reason is not strong enough; it does not always help us to get at the Truth; many times it makes mistakes, and, therefore, the conclusion is that we must believe in the authority of a church! That was said to me by a Roman Catholic, but I could not see the logic of it. On the other hand I should say, if reason be so weak, a body of priests would be weaker, and I am not going to accept their verdict, but I will abide by my reason, because with all its weakness there is some chance of my getting at truth through it; while, by the other means, there is no such hope at all.

We should, therefore, follow reason and also sympathise with those who do not come to any sort of belief, following reason. For it is better that mankind should become atheist by following reason than blindly believe in two hundred millions of gods on the authority of anybody. What we want is progress, development, realisation. No theories ever made men higher. No amount of books can help us to become purer. The only power is in realisation, and that lies in ourselves and comes from thinking. Let men think. A clod of earth never thinks; but it remains only a lump of earth. The glory of man is that he is a thinking being. It is the nature of man to think and therein he differs from animals. I believe in reason and follow reason having seen enough of the evils of authority, for I was born in a country where they have gone to the extreme of authority.

The Hindus believe that creation has come out of the Vedas. How do you know there is a cow? Because the word cow is in the Vedas. How do you know there is a man outside? Because the word man is there. If it had not been, there would have been no man outside. That is what they say. Authority with a vengeance! And it is not studied as I have studied it, but some of the most powerful minds have taken it up and spun out wonderful logical theories round it. They have reasoned it out, and there it stands — a whole system of philosophy; and thousands of the brightest intellects hare been dedicated through thousands of years to the working out of this theory. Such has been the power of authority, and great are the dangers thereof. It stunts the growth of humanity, and we must not forget that we want growth. Even in all relative truth, more than the truth itself, we want the exercise. That is our life.

The monistic theory has this merit that it is the most rational of all the religious theories that we can conceive of. Every other theory, every conception of God which is partial and little and personal is not rational. And yet monism has this grandeur that it embraces all these partial conceptions of God as being necessary for many. Some people say that this personal explanation is irrational. But it is consoling; they want a consoling religion and we understand that it is necessary for them. The clear light of truth very few in this life can bear, much less live up to. It is necessary, therefore, that this comfortable religion should exist; it helps many souls to a better one. Small minds whose circumference is very limited and which require little things to build them up, never venture to soar high in thought. Their conceptions are very good and helpful to them, even if only of little gods and symbols. But you have to understand the Impersonal, for it is in and through that alone that these others can be explained. Take, for instance, the idea of a Personal God. A man who understands and believes in the Impersonal — John Stuart Mill, for example — may say that a Personal God is impossible, and cannot be proved. I admit with him that a Personal God cannot be demonstrated. But He is the highest reading of the Impersonal that can be reached by the human intellect, and what else is the universe but various readings of the Absolute? It is like a book before us, and each one has brought his intellect to read it, and each one has to read it for himself. There is something which is common in the intellect of all men; therefore certain things appear to be the same to the intellect of mankind. That you and I see a chair proves that there is something common to both our minds. Suppose a being comes with another sense, he will not see the chair at all; but all beings similarly constituted will see the same things. Thus this universe itself is the Absolute, the unchangeable, the noumenon; and the phenomenon constitutes the reading thereof. For you will first find that all phenomena are finite. Every phenomenon that we can see, feel, or think of, is finite, limited by our knowledge, and the Personal God as we conceive of Him is in fact a phenomenon. The very idea of causation exists only in the phenomenal world, and God as the cause of this universe must naturally be thought of as limited, and yet He is the same Impersonal God. This very universe, as we have seen, is the same Impersonal Being read by our intellect. Whatever is reality in the universe is that Impersonal Being, and the forms and conceptions are given to it by our intellects. Whatever is real in this table is that Being, and the table form and all other forms are given by our intellects.

Now, motion, for instance, which is a necessary adjunct of the phenomenal, cannot be predicated of the Universal. Every little bit, every atom inside the universe, is in a constant state of change and motion, but the universe as a whole is unchangeable, because motion or change is a relative thing; we can only think of something in motion in comparison with something which is not moving. There must be two things in order to understand motion. The whole mass of the universe, taken as a unit, cannot move. In regard to what will it move? It cannot be said to change. With regard to what will it change? So the whole is the Absolute; but within it every particle is in a constant state of flux and change. It is unchangeable and changeable at the same time, Impersonal and Personal in one. This is our conception of the universe, of motion and of God, and that is what is meant by "Thou art That". Thus we see that the Impersonal instead of doing away with the personal, the Absolute instead of pulling down the relative, only explains it to the full satisfaction of our reason and heart. The Personal God and all that exists in the universe are the same Impersonal Being seen through our minds. When we shall be rid of our minds, our little personalities, we shall become one with It. This is what is meant by "Thou art That". For we must know our true nature, the Absolute.

The finite, manifested man forgets his source and thinks himself to be entirely separate. We, as personalised, differentiated beings, forget our reality, and the teaching of monism is not that we shall give up these differentiations, but we must learn to understand what they are. We are in reality that Infinite Being, and our personalities represent so many channels through which this Infinite Reality is manifesting Itself; and the whole mass of changes which we call evolution is brought about by the soul trying to manifest more and more of its infinite energy. We cannot stop anywhere on this side of the Infinite; our power, and blessedness, and wisdom, cannot but grow into the Infinite. Infinite power and existence and blessedness are ours, and we have not to acquire them; they are our own, and we have only to manifest them.

This is the central idea of monism, and one that is so hard to understand. From my childhood everyone around me taught weakness; I have been told ever since I was born that I was a weak thing. It is very difficult for me now to realise my own strength, but by analysis and reasoning I gain knowledge of my own strength, I realise it. All the knowledge that we have in this world, where did it come from? It was within us. What knowledge is outside? None. Knowledge was not in matter; it was in man all the time. Nobody ever created knowledge; man brings it from within. It is lying there. The whole of that big banyan tree which covers acres of ground, was in the little seed which was, perhaps, no bigger than one eighth of a mustard seed; all that mass of energy was there confined. The gigantic intellect, we know, lies coiled up in the protoplasmic cell, and why should not the infinite energy? We know that it is so. It may seem like a paradox, but is true. Each one of us has come out of one protoplasmic cell, and all the powers we possess were coiled up there. You cannot say they came from food; for if you heap up food mountains high, what power comes out of it? The energy was there, potentially no doubt, but still there. So is infinite power in the soul of man, whether he knows it or not. Its manifestation is only a question of being conscious of it. Slowly this infinite giant is, as it were, waking up, becoming conscious of his power, and arousing himself; and with his growing consciousness, more and more of his bonds are breaking, chains are bursting asunder, and the day is sure to come when, with the full consciousness of his infinite power and wisdom, the giant will rise to his feet and stand erect. Let us all help to hasten that glorious consummation.


Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.