Cinta kepada Tuhan—I
Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.
AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.
Bahasa Indonesia
Hadirin yang memenuhi auditorium Third Unitarian Church di sudut jalan Laflin dan Monroe mendengarkan Swami Vivekananda berkhotbah kemarin pagi. Pokok khotbahnya adalah cinta kepada Tuhan, dan cara ia memperlakukan tema ini berlangsung dengan fasih dan unik. Ia mengatakan bahwa Tuhan disembah di semua bagian dunia, tetapi dengan nama yang berbeda dan dengan cara yang berbeda-beda. Adalah hal yang alamiah bagi manusia, katanya, untuk menyembah yang agung dan yang elok, dan agama merupakan bagian dari kodrat mereka. Kebutuhan akan Tuhan dirasakan oleh semua orang, dan cinta-Nya mendorong mereka kepada perbuatan amal, belas kasih, dan keadilan. Semua manusia mencintai Tuhan karena Ia adalah cinta itu sendiri. Sang pembicara sejak datang ke Chicago telah mendengar banyak hal tentang persaudaraan manusia. Ia percaya bahwa ada ikatan yang lebih kuat lagi yang menghubungkan mereka, yakni bahwa mereka semua adalah keturunan dari cinta Tuhan. Persaudaraan manusia merupakan konsekuensi logis dari Tuhan sebagai Bapa segala makhluk. Sang pembicara mengatakan bahwa ia telah mengembara di hutan-hutan India dan tidur di dalam lubang-lubang batu, dan dari pengamatannya terhadap alam ia menarik keyakinan bahwa ada sesuatu di atas hukum alam yang menjauhkan manusia dari kekeliruan, dan itu, ia menyimpulkan, adalah cinta Tuhan. Jika Tuhan telah berbicara kepada Kristus, Muhammad, dan para rishi (peresi/pelihat Veda) dari Veda (kitab wahyu tertua), mengapa Ia tidak berbicara pula kepadanya, salah seorang dari anak-anak-Nya? "Sesungguhnya, Ia memang berbicara kepada saya", Sang Swami melanjutkan, "dan kepada semua anak-anak-Nya. Kami melihat-Nya di sekeliling kami dan terus-menerus terkesan oleh keluasan cinta-Nya yang tak terbatas, dan dari cinta itu kami menarik ilham untuk kesejahteraan dan kebaikan kami."
English
An audience that filled the auditorium of the Third Unitarian Church at Laflin and Monroe streets heard Swami Vivekananda preach yesterday morning. The subject of his sermon was the love of God, and his treatment of the theme was eloquent and unique. He said that God was worshipped in all parts of the world, but by different names and in different ways. It is natural for men, he said, to worship the grand and the beautiful, and that religion was a portion of their nature. The need of God was felt by all, and His love prompted them to deeds of charity, mercy, and justice. All men loved God because He was love itself. The speaker had heard since coming to Chicago a great deal about the brotherhood of man. He believed that a still stronger tie connected them, in that all are the offsprings of the love of God. The brotherhood of man was the logical sequence of God as the Father of all. The speaker said he had travelled in the forests of India and slept in caves, and from his observation of nature he had drawn the belief that there was something above the natural law that kept men from wrong, and that, he concluded, was the love of God. If God had spoken to Christ, Mohammed, and the Rishis of the Vedas, why did He not speak also to him, one of his children? "Indeed, he does speak to me", the Swami continued, "and to all His children. We see Him all around us and are impressed continually by the boundlessness of His love, and from that love we draw the inspiration for our well - being and well - doing."
Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.