Kamis, 18 Juli
Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.
AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.
Bahasa Indonesia
(DICATAT OLEH NONA S. E. WALDO, SEORANG MURID)
KAMIS, 18 Juli 1895.
(Pelajaran hari ini terutama mengenai argumen Shankara melawan kesimpulan filsafat Sankhya.)
Mazhab Sankhya berpendapat bahwa kesadaran adalah suatu hal yang majemuk, dan di luar itu, analisis terakhir memberi kita Purusha, Sang Saksi, tetapi terdapat banyak Purusha — kita masing-masing adalah satu. Sebaliknya, Advaita menegaskan bahwa Purusha hanya dapat berupa Yang Tunggal, bahwa Purusha tidak dapat sadar, tidak sadar, ataupun memiliki kualifikasi apa pun, sebab kualitas-kualitas tersebut akan mengikat, atau akhirnya akan lenyap; jadi Yang Tunggal itu pasti tanpa kualitas apa pun, bahkan tanpa pengetahuan, dan Ia tidak dapat menjadi sebab alam semesta atau sebab apa pun. "Pada mulanya, hanya keberadaan, Yang Tunggal tanpa yang kedua," demikianlah firman Veda.
* * *
Hadirnya Sattva bersama dengan pengetahuan tidak membuktikan bahwa Sattva adalah penyebab pengetahuan; sebaliknya, Sattva memanggil keluar apa yang sudah ada di dalam diri manusia, sebagaimana api memanaskan bola besi yang diletakkan di dekatnya dengan membangkitkan panas yang laten di dalamnya, bukan dengan masuk ke dalam bola itu.
Shankara mengatakan, pengetahuan bukanlah suatu belenggu, karena ia adalah hakikat Tuhan. Dunia ini selalu ada, baik termanifestasi maupun tidak termanifestasi; jadi terdapat obyek yang kekal.
Jnana-bala-kriya (pengetahuan, kekuatan, aktivitas) adalah Tuhan. Ia pun tidak memerlukan wujud, karena yang terbatas saja yang memerlukan wujud untuk menyela sebagai penghalang guna menangkap dan menampung pengetahuan tak terhingga; tetapi Tuhan sesungguhnya tidak memerlukan bantuan semacam itu. Tidak ada "jiwa yang bergerak", hanya ada satu Atman. Jiva (jiwa individu) adalah pengatur sadar dari tubuh ini, di dalamnya lima asas kehidupan menyatu, namun Jiva itu sendiri adalah Atman, karena segalanya adalah Atman. Apa yang Anda pikirkan mengenainya adalah khayalan Anda dan bukan berada di dalam Jiva. Anda adalah Tuhan, dan apa pun selain itu yang mungkin Anda pikirkan adalah keliru. Anda harus memuja Diri sejati di dalam Krishna, bukan Krishna sebagai Krishna. Hanya dengan memuja Diri sejati itulah kebebasan dapat diraih. Bahkan Tuhan personal pun hanyalah Diri sejati yang diobjektivasi. "Pencarian yang sungguh-sungguh terhadap kenyataan saya sendiri adalah Bhakti," kata Shankara.
Segala sarana yang kita ambil untuk mencapai Tuhan adalah benar; hal itu seperti mencoba menemukan bintang kutub dengan menempatkannya melalui bintang-bintang yang ada di sekitarnya.
* * *
Bhagavad-Gita adalah otoritas terbaik mengenai Vedanta.
English
(RECORDED BY MISS S. E. WALDO, A DISCIPLE)
THURSDAY, July 18, 1895.
(The lesson today was mainly Shankara's argument against the conclusion of the Sânkhya philosophy.)
The Sankhyas say that consciousness is a compound, and beyond that, the last analysis gives us the Purusha, Witness, but that there are many Purushas — each of us is one. Advaita, on the contrary, affirms that Purushas can be only One, that Purusha cannot be conscious, unconscious, or have any qualification, for either these qualities would bind, or they would eventually cease; so the One must be without any qualities, even knowledge, and It cannot be the cause of the universe or of anything. "In the beginning, existence only, One without a second", says the Vedas.
* * *
The presence of Sattva with knowledge does not prove that Sattva is the cause of knowledge; on the contrary, Sattva calls out what was already existing in man, as the fire heats an iron ball placed near it by arousing the heat latent in it, not by entering into the ball.
Shankara says, knowledge is not a bondage, because it is the nature of God. The world ever is, whether manifested or unmanifested; so an eternal object exists.
Jnâna-bala-kriyâ (knowledge, power, activity) is God. Nor does He need form, because the finite only needs form to interpose as an obstruction to catch and hold infinite knowledge; but God really needs no such help. There is no "moving soul", there is only one Atman. Jiva (individual soul) is the conscious ruler of this body, in whom the five life principles come into unity, and yet that very Jiva is the Atman, because all is Atman. What you think about it is your delusion and not in the Jiva. You are God, and whatever else you may think is wrong. You must worship the Self in Krishna, not Krishna as Krishna. Only by worshipping the Self can freedom be won. Even personal God is but the Self objectified. "Intense search after my own reality is Bhakti", says Shankara.
All the means we take to reach God are true; it is only like trying to find the pole-star by locating it through the stars that are around it.
* * *
The Bhagavad-Gita is the best authority on Vedanta.
Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.