XI Tuan
Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.
AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.
Bahasa Indonesia
XI[6]*
(Diterjemahkan dari Bahasa Bengali)
BAGHBAZAR,
3 Desember 1889.
TUAN YANG TERHORMAT,
Sudah lama saya tidak menerima kabar dari Tuan; semoga Tuan senantiasa sehat lahir dan batin. Dua orang saudara seperjalanan saya dalam perguruan akan segera berangkat ke Varanasi. Yang satu bernama Rakhal, yang lainnya Subodh. Yang pertama adalah kekasih Guru saya dan kerap tinggal bersamanya. Kiranya Tuan sudi merekomendasikan mereka kepada sebuah Satra (rumah sedekah) selama mereka berada di kota itu, apabila hal itu tidak menyulitkan Tuan. Dari mereka Tuan akan mendengar segala berita tentang saya.
Dengan hormat dan salam tulus.
Hormat saya,
VIVEKANANDA.
PS. Gangadhar kini sedang dalam perjalanan menuju Kailas. Orang-orang Tibet hendak menyerangnya di tengah jalan karena menyangkanya sebagai mata-mata orang asing. Akhirnya beberapa Lama dengan kebaikan hati membebaskannya. Berita ini kami peroleh dari seorang pedagang yang sering bepergian ke Tibet. Gairah Gangadhar tidak akan padam sebelum ia melihat Lhasa. Keuntungannya ialah daya tahan fisiknya bertumbuh luar biasa — suatu malam ia tidur tanpa selimut di atas hamparan salju, dan itu tanpa terlalu banyak kesulitan.
VIVEKANANDA.
English
XI[6]*
(Translated from Bengali)
BAGHBAZAR,
3rd Dec., 1889.
DEAR SIR,
I have not heard from you for a long time, I hope you are doing well in body and mind. Two of my brother disciples are shortly leaving for Varanasi. One is Rakhal by name, the other is Subodh. The first-named was beloved of my Master and used to stay much with him. Please recommend them to some Satra (house of alms.) during their stay in the city, if you find it convenient. You will hear from them all my news.
With my best regards and greetings.
Yours etc.,
VIVEKANANDA.
PS. Gangadhar is now proceeding to Kailas. The Tibetans wanted to slash him up on the way, taking him to be a spy of the foreigners. Eventually some Lamas kindly set him free. We obtain this news from a Tibet-going trader. Gangadhar's blood won't cool down before seeing Lhasa. The gain is that his physical endurance has grown immensely — one night he passed uncovered on a bed of snow, and that without much hardship.
VIVEKANANDA.
Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.