Agama dan Sains
Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.
AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.
Bahasa Indonesia
Pengalaman adalah satu-satunya sumber pengetahuan. Di dunia ini, agama adalah satu-satunya bidang di mana tidak ada kepastian, karena agama tidak diajarkan sebagai ilmu pengalaman. Ini seharusnya tidak demikian. Selalu ada, bagaimanapun, sekelompok kecil orang yang mengajarkan agama berdasarkan pengalaman. Mereka disebut para mistikus, dan para mistikus ini dalam setiap agama berbicara dalam bahasa yang sama dan mengajarkan kebenaran yang sama. Inilah ilmu pengetahuan agama yang sejati. Sebagaimana matematika di setiap bagian dunia tidak berbeda, demikian pula para mistikus tidak berbeda. Mereka semua memiliki konstitusi yang serupa dan berada dalam situasi yang serupa. Pengalaman mereka adalah sama; dan hal ini menjadi hukum.
Di dalam gereja, para penganut agama pertama-tama mempelajari sebuah agama, kemudian mulai mempraktikkannya; mereka tidak mengambil pengalaman sebagai dasar kepercayaan mereka. Tetapi sang mistikus memulai dengan mencari kebenaran, mengalaminya terlebih dahulu, kemudian merumuskan kepercayaannya. Gereja mengambil pengalaman orang lain; sang mistikus memiliki pengalamannya sendiri. Gereja bergerak dari luar ke dalam; sang mistikus bergerak dari dalam ke luar.
Agama berkaitan dengan kebenaran-kebenaran dunia metafisika sebagaimana kimia dan ilmu-ilmu pengetahuan alam lainnya berkaitan dengan kebenaran-kebenaran dunia fisik. Buku yang harus dibaca untuk mempelajari kimia adalah buku alam. Buku dari mana agama harus dipelajari adalah benak dan hati Anda sendiri. Sang bijak sering tidak menguasai ilmu pengetahuan fisik, karena ia membaca buku yang salah — buku di dalam; dan sang ilmuwan terlalu sering tidak mengenal agama, karena ia pun membaca buku yang salah — buku di luar.
Semua ilmu pengetahuan memiliki metode-metodenya yang khusus; demikian pula ilmu pengetahuan agama. Ilmu ini bahkan memiliki lebih banyak metode, karena ia memiliki lebih banyak bahan untuk dikerjakan. Benak manusia tidaklah homogen seperti dunia luar. Sesuai dengan sifat yang berbeda-beda, harus ada metode yang berbeda-beda. Sebagaimana indera tertentu lebih dominan pada seseorang — satu orang akan lebih banyak melihat, yang lain akan lebih banyak mendengar — demikian pula ada indera mental yang paling dominan; dan melalui pintu gerbang inilah masing-masing harus mencapai benaknya sendiri. Namun melalui semua benak mengalir suatu kesatuan, dan terdapat suatu ilmu yang dapat diterapkan kepada semua. Ilmu pengetahuan agama ini didasarkan pada analisis jiwa manusia. Ia tidak memiliki dogma.
Tidak ada satu bentuk agama yang akan cocok untuk semua orang. Masing-masing adalah mutiara dalam seutas tali. Kita harus sangat memperhatikan terutama untuk menemukan keistimewaan individu dalam masing-masing. Tidak ada manusia yang dilahirkan untuk agama tertentu; ia memiliki agama dalam jiwanya sendiri. Setiap sistem yang berupaya menghancurkan keistimewaan individu pada akhirnya akan mendatangkan malapetaka. Setiap kehidupan memiliki arus yang mengalir melaluinya, dan arus ini pada akhirnya akan membawanya kepada Tuhan. Tujuan dan sasaran akhir semua agama adalah merealisasikan Tuhan. Latihan terbesar dari semua latihan adalah memuja Tuhan semata. Jika setiap orang memilih cita-citanya sendiri dan berpegang teguh padanya, semua pertentangan keagamaan akan lenyap.
English
Experience is the only source of knowledge. In the world, religion is the only source where there is no surety, because it is not taught as a science of experience. This should not be. There is always, however, a small group of men who teach religion from experience. They are called mystics, and these mystics in every religion speak the same tongue and teach the same truth. This is the real science of religion. As mathematics in every part of the world does not differ, so the mystics do not differ. They are all similarly constituted and similarly situated. Their experience is the same; and this becomes law.
In the church, religionists first learn a religion, then begin to practise it; they do not take experience as the basis of their belief. But the mystic starts out in search of truth, experiences it first, and then formulates his creed. The church takes the experience of others; the mystic has his own experience. The church goes from the outside in; the mystic goes from the inside out.
Religion deals with the truths of the metaphysical world just as chemistry and the other natural sciences deal with the truths of the physical world. The book one must read to learn chemistry is the book of nature. The book from which to learn religion is your own mind and heart. The sage is often ignorant of physical science, because he reads the wrong book—the book within; and the scientist is too often ignorant of religion, because he too reads the wrong book—the book without.
All science has its particular methods; so has the science of religion. It has more methods also, because it has more material to work upon. The human mind is not homogeneous like the external world. According to the different nature, there must be different methods. As some special sense predominates in a person—one person will see most, another will hear most—so there is a predominant mental sense; and through this gate must each reach his own mind. Yet through all minds runs a unity, and there is a science which may be applied to all. This science of religion is based on the analysis of the human soul. It has no creed.
No one form of religion will do for all. Each is a pearl on a string. We must be particular above all else to find individuality in each. No man is born to any religion; he has a religion in his own soul. Any system which seeks to destroy individuality is in the long run disastrous. Each life has a current running though it, and this current will eventually take it to God. The end and aim of all religions is to realise God. The greatest of all training is to worship God alone. If each man chose his own ideal and stuck to it, all religious controversy would vanish.
Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.