XVIII Alasinga
Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.
AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.
Bahasa Indonesia
XVIII
Amerika Serikat, 29 September 1894.
Alasinga yang terhormat,
Kalian semua telah berbuat dengan baik, anak-anakku yang pemberani dan tidak mementingkan diri sendiri. Aku sangat bangga kepada kalian. . . . Berharaplah dan jangan berputus asa. Setelah awal yang sedemikian rupa, jika kalian berputus asa, kalian adalah orang yang tidak bijaksana. . . .
Medan kita adalah India, dan nilai penghargaan dari luar negeri terletak pada kemampuannya membangkitkan India. Hanya itu. . . . Kita harus memiliki landasan yang kokoh sebagai titik tolak untuk menyebar. . . . Jangan sekejap pun menjadi gentar. Segalanya akan berjalan dengan baik. Kehendaklah yang menggerakkan dunia.
Putraku, Anda tidak perlu berduka atas pemuda-pemuda yang memeluk agama Kristen. Apa lagi yang dapat mereka lakukan dalam kondisi belenggu sosial yang ada, terutama di Madras? Kebebasan adalah syarat pertama bagi pertumbuhan. Leluhur Anda memberikan setiap kebebasan kepada jiwa, dan agama pun berkembang. Mereka membelenggu raga dengan segala ikatan, dan masyarakat tidak berkembang. Sebaliknya terjadi di Barat — setiap kebebasan diberikan kepada masyarakat, namun tidak kepada agama. Kini belenggu itu mulai terlepas dari kaki masyarakat Timur, sebagaimana halnya dari agama Barat.
Masing-masing pada akhirnya akan memiliki coraknya sendiri: yang bersifat religius atau introspektif di India, yang bersifat ilmiah atau berorientasi ke luar di Barat. Barat menginginkan setiap percikan kerohanian melalui kemajuan sosial. Timur menginginkan setiap kekuatan sosial melalui kerohanian. Itulah sebabnya para pembaru zaman modern tidak melihat jalan lain untuk melakukan pembaruan selain dengan terlebih dahulu menghancurkan agama India. Mereka mencoba, dan mereka gagal. Mengapa? Karena hanya sedikit di antara mereka yang pernah mempelajari agama mereka sendiri, dan tidak satu pun yang pernah menjalani latihan yang diperlukan untuk memahami Induk segala agama. Saya menyatakan bahwa tidak diperlukan penghancuran agama apa pun untuk memperbaiki masyarakat Hindu, dan bahwa keadaan masyarakat ini ada bukan karena agama, melainkan karena agama belum diterapkan pada masyarakat sebagaimana mestinya. Hal ini siap saya buktikan dari buku-buku kuno kita, setiap katanya. Inilah yang saya ajarkan, dan inilah yang harus kita perjuangkan sepanjang hidup kita untuk diwujudkan. Namun itu memerlukan waktu, waktu yang panjang untuk dipelajari. Bersabarlah dan bekerjalah. उध्दरेदात्मनात्मानम् — Selamatkanlah dirimu oleh dirimu sendiri.
Hormat saya,
Vivekananda.
PS. Masyarakat Hindu masa kini hanya terorganisasi untuk orang-orang rohani, dan tanpa ampun menghancurkan semua orang lainnya. Mengapa? Ke manakah mereka yang ingin menikmati sedikit kesenangan dunia dengan segala kebersahajaannya? Sebagaimana agama kita merangkul semua, demikian pula seharusnya masyarakat kita. Hal ini harus diwujudkan dengan terlebih dahulu memahami prinsip-prinsip sejati agama kita, kemudian menerapkannya pada masyarakat. Inilah pekerjaan yang lambat namun pasti yang harus dilakukan.
English
XVIII
U. S. A., 29th September, 1894.
Dear Alasinga,
You all have done well, my brave unselfish children. I am so proud of you. . . . Hope and do not despair. After such a start, if you despair you are a fool. . . .
Our field is India, and the value of foreign appreciation is in rousing India up. That is all. . . . We must have a strong base from which to spread. . . . Do not for a moment quail. Everything will come all right. It is will that moves the world.
You need not be sorry, my son, on account of the young men becoming Christians. What else can they be under the existing social bandages, especially in Madras? Liberty is the first condition of growth. Your ancestors gave every liberty to the soul, and religion grew. They put the body under every bondage, and society did not grow. The opposite is the case in the West — every liberty to society, none to religion. Now are falling off the shackles from the feet of Eastern society as from those of Western religion.
Each again will have its type; the religious or introspective in India, the scientific or out-seeing in the West. The West wants every bit of spirituality through social improvement. The East wants every bit of social power through spirituality. Thus it was that the modern reformers saw no way to reform but by first crushing out the religion of India. They tried, and they failed. Why? Because few of them ever studied their own religion, and not one ever underwent the training necessary to understand the Mother of all religions. I claim that no destruction of religion is necessary to improve the Hindu society, and that this state of society exists not on account of religion, but because religion has not been applied to society as it should have been. This I am ready to prove from our old books, every word of it. This is what I teach, and this is what we must struggle all our lives to carry out. But it will take time, a long time to study. Have patience and work. उध्दरेदात्मनात्मानम् — Save yourself by yourself.
Yours etc.,
Vivekananda.
PS. The present Hindu society is organised only for spiritual men, and hopelessly crushes out everybody else. Why? Where shall they go who want to enjoy the world a little with its frivolities? Just as our religion takes in all, so should our society. This is to be worked out by first understanding the true principles of our religion and then applying them to society. This is the slow but sure work to be done.
Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.