IV Petikan dari Buku Harian Math
Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.
AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.
Bahasa Indonesia
IV
(Pilihan dari Buku Harian Math)
T.—Siapakah yang dapat kita sebut Guru?
J.—Ia yang dapat menceritakan masa lalu dan masa depan Anda adalah Guru Anda.
T.—Bagaimana seseorang dapat memiliki Bhakti (pengabdian kasih)?
J.—Bhakti sudah ada di dalam diri Anda; hanya sebuah tabir nafsu dan kekayaan yang menutupinya, dan segera setelah tabir itu disingkirkan, Bhakti akan termanifestasi dengan sendirinya.
T.—Apakah makna sesungguhnya dari pernyataan bahwa kita harus bergantung pada diri sendiri?
J.—Di sini, "diri" berarti Diri yang kekal. Namun bahkan ketergantungan pada diri yang tidak kekal pun dapat secara bertahap mengarah ke tujuan yang benar, karena diri individual sesungguhnya adalah Diri yang kekal yang berada dalam kekeliruan.
T.—Jika kesatuan adalah satu-satunya kenyataan, bagaimana dualitas yang dirasakan oleh semua orang setiap saat bisa muncul?
J.—Persepsi tidak pernah bersifat ganda; hanya representasi dari persepsi yang melibatkan dualitas. Jika persepsi bersifat ganda, yang diketahui dapat eksis secara mandiri dari yang mengetahui, dan sebaliknya.
T.—Bagaimana cara terbaik mewujudkan perkembangan karakter yang harmonis?
J.—Dengan bergaul bersama orang-orang yang karakternya telah berkembang demikian.
T.—Bagaimana sikap kita seharusnya terhadap Weda?
J.—Weda, yakni hanya bagian-bagian yang selaras dengan akal, harus diterima sebagai otoritas. Kitab suci lain, seperti Purana dan sebagainya, hanya diterima sejauh tidak bertentangan dengan Weda. Semua pemikiran keagamaan yang muncul setelah Weda, di seluruh penjuru dunia, di mana pun letaknya, bersumber dari Weda.
T.—Apakah pembagian waktu menjadi empat Yuga merupakan perhitungan astronomis atau perhitungan sembarang?
J.—Tidak ada penyebutan tentang pembagian semacam itu dalam Weda. Pembagian tersebut adalah asumsi sembarang dari zaman Paurana.
T.—Apakah hubungan antara konsep dan kata-kata bersifat niscaya dan tidak berubah, ataukah bersifat kebetulan dan konvensional?
J.—Soal ini sangat dapat diperdebatkan. Tampaknya ada suatu hubungan yang niscaya, namun tidak secara mutlak, sebagaimana tampak dari keanekaragaman bahasa. Mungkin ada semacam hubungan halus yang belum mampu kita temukan.
T.—Prinsip apakah yang harus diikuti dalam bekerja di India?
J.—Pertama-tama, orang harus diajarkan untuk menjadi praktis dan kuat secara fisik. Selusin singa semacam itu akan menaklukkan dunia, sedangkan jutaan domba tidak mampu melakukannya. Kedua, orang tidak boleh diajarkan untuk meniru sosok ideal personal, betapapun agungnya.
Kemudian Swamiji melanjutkan pembicaraan tentang kerusakan sejumlah simbol Hindu. Beliau membedakan antara jalan pengetahuan dan jalan pengabdian. Yang pertama dengan tepat adalah milik kaum Arya, dan oleh karena itu sangat ketat dalam pemilihan Adhikari (calon yang memenuhi syarat), sedangkan yang kedua berasal dari Selatan, atau sumber-sumber non-Arya, dan tidak membuat pembedaan semacam itu.
T.—Peran apa yang akan dimainkan Misi Ramakrishna dalam karya pembaruan India?
J.—Dari Math ini akan keluar orang-orang berkarakter yang akan membanjiri dunia dengan spiritualitas. Ini akan diikuti oleh kebangkitan di bidang-bidang lain. Dengan demikian, kaum Brahmana, Ksatria, dan Waisya akan terbentuk. Kasta Sudra tidak akan ada lagi—pekerjaan mereka dilakukan oleh mesin. Kebutuhan India saat ini adalah kekuatan Ksatria.
T.—Apakah reinkarnasi yang mundur dari tahap manusia mungkin terjadi?
J.—Ya. Reinkarnasi bergantung pada Karma. Jika seseorang mengumpulkan Karma yang serupa dengan sifat binatang, ia akan ditarik ke sana.
Dalam salah satu kelas tanya-jawab (1898), Swamiji menelusuri asal-usul pemujaan arca hingga ke sumber Buddha. Pertama, ada Chaitya; kedua, Stupa; dan kemudian datanglah kuil Buddha. Seiring dengan itu, muncul pula kuil-kuil para dewa Hindu.
T.—Apakah Kundalini benar-benar ada di dalam tubuh fisik?
J.—Sri Ramakrishna biasa mengatakan bahwa apa yang disebut teratai Yogi sesungguhnya tidak ada di dalam tubuh manusia, melainkan diciptakan dalam diri seseorang melalui kekuatan Yoga.
T.—Dapatkah seseorang mencapai Mukti (pembebasan) melalui pemujaan arca?
J.—Pemujaan arca tidak dapat secara langsung memberikan Mukti; ia mungkin menjadi sebab tidak langsung, sebuah pertolongan di jalan. Pemujaan arca tidak seharusnya dicela, karena bagi banyak orang, hal itu mempersiapkan pikiran untuk menghayati Adwaita yang seorang diri menjadikan manusia sempurna.
T.—Apakah cita-cita karakter tertinggi kita?
J.—Pelepasan.
T.—Bagaimana Buddhisme mewariskan kemerosotan di India?
J.—Kaum Bauddha berusaha menjadikan setiap orang di India sebagai biksu atau biksuni. Kita tidak dapat mengharapkan hal itu dari semua orang. Hal ini menyebabkan pelonggaran bertahap di kalangan para biksu dan biksuni. Keadaan ini juga disebabkan oleh peniruan mereka terhadap adat-istiadat Tibet dan adat-istiadat barbar lainnya atas nama agama. Mereka pergi berdakwah di tempat-tempat tersebut, menyerap berbagai kemerosotannya, lalu memperkenalkannya ke India.
T.—Apakah Maya (ilusi kosmik) tidak berawal dan tidak berakhir?
J.—Maya bersifat kekal dari kedua arah, jika dilihat secara universal, sebagai genus; namun tidak kekal secara individual.
T.—Brahman dan Maya tidak dapat dipahami secara bersamaan. Bagaimana realitas mutlak salah satu dari keduanya dapat dibuktikan sebagai yang muncul dari yang satu atau yang lainnya?
J.—Hal itu hanya dapat dibuktikan melalui realisasi. Ketika seseorang merealisasikan Brahman, baginya Maya tidak lagi ada, sama seperti begitu identitas tali ditemukan, ilusi tentang ular tidak datang lagi.
T.—Apakah Maya itu?
J.—Hanya ada satu hal, sebut saja dengan nama apa pun—materi atau roh. Sulit, atau lebih tepatnya mustahil, untuk memahami yang satu secara terpisah dari yang lain. Inilah Maya, atau ketidaktahuan.
T.—Apakah Mukti itu?
J.—Mukti berarti kebebasan sepenuhnya—kebebasan dari belenggu kebaikan dan keburukan. Rantai emas sama beratnya sebagai rantai seperti rantai besi. Sri Ramakrishna biasa berkata bahwa untuk mencabut satu duri yang menancap di kaki, duri lain diperlukan; dan setelah duri itu dicabut, keduanya dibuang. Demikian pula kecenderungan buruk harus dilawan dengan kecenderungan baik, namun setelah itu kecenderungan baik pun harus diatasi.
T.—Apakah keselamatan (Mukti) dapat diperoleh tanpa anugerah Tuhan?
J.—Keselamatan tidak ada hubungannya dengan Tuhan. Kebebasan sudah ada sejak semula.
T.—Apakah bukti bahwa diri dalam diri kita bukan merupakan produk dari tubuh dan sebagainya?
J.—"Ego", seperti korelatinya "non-ego", adalah produk dari tubuh, pikiran, dan sebagainya. Satu-satunya bukti keberadaan Diri sejati adalah realisasi.
T.—Siapakah Jnani sejati, dan siapakah Bhakta sejati?
J.—Jnani sejati adalah ia yang memiliki kasih yang paling dalam di dalam hatinya dan pada saat yang sama merupakan pelihat Adwaita yang praktis dalam hubungan-hubungan lahiriahnya. Dan Bhakta sejati adalah ia yang, merealisasikan jiwanya sendiri sebagai identik dengan Jiwa universal, dan dengan demikian memiliki Jnana sejati di dalam dirinya, merasakan dan mencintai semua orang. Di antara Jnana dan Bhakti, barangsiapa menganjurkan yang satu dan mengecam yang lain, tidak dapat disebut Jnani maupun Bhakta, melainkan ia adalah seorang pencuri dan penipu.
T.—Mengapa seseorang harus mengabdi kepada Iswara?
J.—Jika Anda mengakui bahwa ada sesuatu yang bernama Iswara (Tuhan), Anda memiliki kesempatan yang tak terhitung untuk mengabdi kepada-Nya. Pengabdian kepada Tuhan berarti, menurut semua otoritas kitab suci, ingatan (Smarana). Jika Anda percaya pada keberadaan Tuhan, Anda akan selalu diingatkan kepada-Nya di setiap langkah kehidupan Anda.
T.—Apakah Mayavada berbeda dari Adwaitavada?
J.—Tidak. Keduanya identik. Sama sekali tidak ada penjelasan lain tentang Adwaitavada selain Mayavada.
T.—Bagaimana mungkin Tuhan yang tidak terbatas dibatasi dalam wujud manusia (sebagai Avatara)?
J.—Memang benar bahwa Tuhan tidak terbatas, namun bukan dalam pengertian yang Anda pahami. Anda telah mencampuradukkan gagasan Anda tentang ketidakterbatasan dengan gagasan materialistis tentang keluasan. Ketika Anda mengatakan bahwa Tuhan tidak dapat mengambil wujud manusia, Anda memahami bahwa suatu zat atau wujud yang sangat, sangat besar (seolah bersifat materi), tidak dapat dipadatkan ke dalam ruang yang sangat, sangat kecil. Ketidakterbatasan Tuhan mengacu pada ketakberbatasan suatu entitas yang murni spiritual, dan sebagai demikian, tidak berkurang sedikit pun dengan mengekspresikan diri dalam wujud manusia.
T.—Ada yang mengatakan, "Pertama-tama jadilah Siddha (orang yang telah merealisasikan Kebenaran), baru kemudian Anda berhak atas Karma, atau bekerja untuk orang lain," sementara yang lain mengatakan bahwa seseorang harus bekerja untuk orang lain bahkan sejak awal. Bagaimana kedua pandangan ini dapat didamaikan?
J.—Anda sedang mencampuradukkan satu hal dengan hal lain. Karma berarti pengabdian kepada umat manusia atau penyebaran ajaran. Untuk penyebaran ajaran yang sejati, tidak diragukan lagi, tidak seorang pun berhak kecuali Siddha Purusha, yakni orang yang telah merealisasikan Kebenaran. Namun untuk pengabdian, setiap orang berhak, dan bukan hanya itu, setiap orang berkewajiban untuk melayani orang lain, selama ia menerima pelayanan dari orang lain.
English
IV
(Selections from the Math Diary)
Q.—Whom can we call a Guru?
A.—He who can tell your past and future is your Guru.
Q.—How can one have Bhakti?
A.—There is Bhakti within you, only a veil of lust-and-wealth covers it, and as soon as that is removed Bhakti will manifest by itself.
Q.—What is the true meaning of the assertion that we should depend on ourselves?
A.—Here self means the eternal Self. But even dependence on the non-eternal self may lead gradually to the right goal, as the individual self is really the eternal Self under delusion.
Q.—If unity is the only reality, how could duality which is perceived by all every moment have arisen?
A.—Perception is never dual; it is only the representation of perception that involves duality. If perception were dual, the known could have existed independently of the knower, and vice versa.
Q.—How is harmonious development of character to be best effected?
A.—By association with persons whose character has been so developed.
Q.—What should be our attitude to the Vedas?
A.—The Vedas, i.e. only those portions of them which agree with reason, are to be accepted as authority. Other Shâstras, such as the Purânas etc., are only to be accepted so far as they do not go against the Vedas. All the religious thoughts that have come subsequent to the Vedas, in the world, in whatever part of it have been derived from the Vedas.
Q.—Is the division of time into four Yugas astronomical or arbitrary calculation?
A.—There is no mention of such divisions in the Vedas. They are arbitrary assumptions of Paurânika times.
Q.—Is the relation between concepts and words necessary and immutable, or accidental and conventional?
A.—The point is exceedingly debatable. It seems that there is a necessary relation, but not absolutely so, as appears from the diversity of language. There may be some subtle relation which we are not yet able to detect.
Q.—What should be the principle to be followed in working within India?
A.— First of all, men should be taught to be practical and physically strong. A dozen of such lions will conquer the world, and not millions of sheep can do so. Secondly, men should not be taught to imitate a personal ideal, however great.
Then Swamiji went on to speak of the corruptions of some of the Hindu symbols. He distinguished between the path of knowledge and the path of devotion. The former belonged properly to the Aryas, and therefore was so strict in the selection of Adhikâris (qualified aspirants), and the latter coming from the South, or non-Aryan sources, made no such distinction.
Q.—What part will the Ramakrishna Mission take in the regenerating work of India?
A.—From this Math will go out men of character who will deluge the world with spirituality. This will be followed by revivals in other lines. Thus Brahmins, Kshatriyas, and Vaishyas will be produced. The Shudra caste will exist no longer—their work being done by machinery. The present want of India is the Kshatriya force.
Q.—Is retrograde reincarnation from the human stage possible?
A.—Yes. Reincarnation depends on Karma. If a man accumulates Karma akin to the beastly nature, he will be drawn thereto.
In one of the question-classes (1898) Swamiji traced image-worship to Buddhistic sources. First, there was the Chaitya; second, the Stupa ; and then came the temple of Buddha. Along with it arose the temples of the Hindu deities.
Q.—Does the Kundalini really exist in the physical body?
A.—Shri Ramakrishna used to say that the so called lotuses of the Yogi do not really exist in the human body, but that they are created within oneself by Yoga powers.
Q.—Can a man attain Mukti by image-worship?
A.—Image-worship cannot directly give Mukti; it may be an indirect cause, a help on the way. Image-worship should not be condemned, for, with many, it prepares the mind for the realisation of the Advaita which alone makes man perfect.
Q.—What should be our highest ideal of character?
A.—Renunciation.
Q.—How did Buddhism leave the legacy of corruption in India?
A.—The Bauddhas tried to make everyone in India a monk or a nun. We cannot expect that from every one. This led to gradual relaxation among monks and nuns. It was also caused by their imitating Tibetan and other barbarous customs in the name of religion. They went, to preach in those places and assimilated their corruptions, and then introduced them into India.
Q.—Is Mâyâ without beginning and end?
A.—Maya is eternal both ways, taken universally, ask genus; but it is non-eternal individually.
Q.—Brahman and Maya cannot be cognised simultaneously. How could the absolute reality of either be proved as arising out of the one or the other?
A.—It could be proved only by realisation. When one realises Brahman, for him Maya exists no longer, just as once the identity of the rope is found out, the illusion of the serpent comes no more.
Q.—What is Maya?
A.—There is only one thing, call it by any name—matter, or spirit. It is difficult or rather impossible to think the one independent of the other. This is Maya, or ignorance.
Q.—What is Mukti (liberation)?
A.—Mukti means entire freedom—freedom from the bondages of good and evil. A golden chain is as much a chain as an iron one. Shri Ramakrishna used to say that, to pick out one thorn which has stuck into the foot, another thorn is requisitioned, and when the thorn is taken out, both are thrown away. So the bad tendencies are to be counteracted by the good ones, but after that, the good tendencies have also to be conquered.
Q.—Can salvation (Mukti) be obtained without the grace of God?
A.—Salvation has nothing to do with God. Freedom already is.
Q.—What is the proof of the self in us not being the product of the body etc.?
A.—The "ego" like its correlative "non-ego", is the product of the body, mind etc. The only proof of the existence of the real Self is realisation.
Q.—Who is a true Jnâni, and who is a true Bhakta?
A.—The true Jnani is he who has the deepest love within his heart and at the same time is a practical seer of Advaita in his outward relations. And the true Bhakta (lover) is he who, realising his own soul as identified with the universal Soul, and thus possessed of the true Jnana within, feels for and loves everyone. Of Jnana and Bhakti he who advocates one and denounces the other cannot be either a Jnani or a Bhakta, but he is a thief and a cheat.
Q.—Why should a man serve Ishvara?
A.—If you once admit that there is such a thing as Ishvara (God), you have numberless occasions to serve Him. Service of the Lord means, according to all the scriptural authorities, remembrance (Smarana). If you believe in the existence of God, you will be reminded of Him at every step of your life.
Q.—Is Mâyâvâda different from Advaitâvada?
A.—No. They are identical. There is absolutely no other explanation of Advaitavada except Mayavada.
Q.—How is it possible for God who is infinite to be limited in the form of a man (as an Avatâra)?
A.—It is true that God is infinite, but not in the sense in which you comprehend it. You have confounded your idea of infinity with the materialistic idea of vastness. When you say that God cannot take the form of a man, you understand that a very, very large substance or form (as if material in nature), cannot be compressed into a very, very small compass. God's infinitude refers to the unlimitedness of a purely spiritual entity, and as such, does not suffer in the least by expressing itself in a human form.
Q.—Some say, "First of all become a Siddha (one who has realised the Truth), and then you have the right to Karma, or work for others", while others say that one should work for others even from the beginning. How can both these views be reconciled?
A.—You are confusing one thing with the other. Karma means either service to humanity or preaching. To real preaching, no doubt, none has the right except the Siddha Purusha, i.e. one who has realised the Truth. But to service every one has the right, and not only so, but every one is under obligation to serve others, so long as he is accepting service from others.
Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.