II - V Shri Surendra Nath Sen
Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.
AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.
Bahasa Indonesia
II
Hilangnya Shraddha di India dan Perlunya Kebangkitannya Kembali — Manusia yang Kita Butuhkan — Reformasi Sosial yang Sejati
Sabtu, 22 Januari 1898.
Pagi-pagi sekali saya datang menemui Swamiji yang ketika itu tinggal di rumah Balaram Babu di Jalan Ramkanta Bose No. 57, Kalkuta. Ruangan itu sesak dipenuhi para pendengar. Swamiji sedang berkata, "Kita membutuhkan Shraddha (keyakinan yang tulus), kita membutuhkan iman kepada diri kita sendiri. Kekuatan adalah kehidupan, kelemahan adalah kematian. 'Kita adalah Atman (Diri sejati), tidak mengenal maut dan bebas; murni, murni pada dasarnya. Mungkinkah kita pernah berbuat dosa? Mustahil!'—itulah iman yang diperlukan. Iman seperti itulah yang menjadikan kita manusia sejati, yang menjadikan kita bagaikan para dewa. Justru karena kita telah kehilangan gagasan Shraddha inilah maka negeri ini telah jatuh hancur."
Pertanyaan: Bagaimana kita sampai kehilangan Shraddha ini?
Swamiji: Kita telah mendapat pendidikan yang bersifat negatif sepanjang masa sejak kecil. Kita hanya diajarkan bahwa kita bukanlah siapa-siapa. Jarang sekali kita diberi pemahaman bahwa orang-orang besar pernah lahir di negeri kita. Tidak ada yang bersifat positif yang diajarkan kepada kita. Kita bahkan tidak tahu cara menggunakan tangan dan kaki kita sendiri! Kita hafal segala fakta dan angka tentang leluhur bangsa Inggris, tetapi kita sungguh lalai tentang leluhur kita sendiri. Kita hanya mempelajari kelemahan. Sebagai bangsa yang takluk, kita telah membawa diri kita pada keyakinan bahwa kita lemah dan tidak memiliki kebebasan dalam hal apa pun. Maka, bagaimana mungkin Shraddha itu tidak hilang? Gagasan Shraddha yang sejati harus dikembalikan kepada kita sekali lagi, iman kepada diri kita sendiri harus dihidupkan kembali, dan hanya dengan demikian semua masalah yang dihadapi negeri kita akan berangsur-angsur terpecahkan oleh kita sendiri.
P. Bagaimana hal itu mungkin terjadi? Bagaimana Shraddha semata-mata dapat menjadi obat bagi berbagai kejahatan yang tak terhitung yang membelenggu masyarakat kita? Selain itu, terdapat begitu banyak kejahatan nyata di negeri ini, yang untuk menghapusnya Kongres Nasional India dan berbagai perkumpulan patriotik lainnya tengah menjalankan agitasi keras dan mengajukan petisi kepada pemerintah Inggris. Bagaimana cara yang lebih baik untuk menyuarakan kebutuhan mereka? Apa hubungan Shraddha dengan persoalan ini?
Swamiji: Katakan kepada saya, kepunyaan siapakah kebutuhan-kebutuhan itu — kepunyaan Anda atau kepunyaan sang penguasa? Jika kepunyaan Anda, apakah sang penguasa yang akan memenuhinya untuk Anda, ataukah Anda sendiri yang harus melakukannya?
P. Akan tetapi, adalah kewajiban sang penguasa untuk memperhatikan kebutuhan rakyat yang dikuasainya. Kepada siapa lagi kita harus bergantung untuk segala sesuatunya, jika bukan kepada raja?
Swamiji: Kebutuhan seorang pengemis tidak pernah terpenuhi sepenuhnya. Andaikan pemerintah memberi Anda semua yang Anda butuhkan, di manakah orang-orang yang mampu mempertahankan apa yang diminta itu? Maka, jadikanlah dulu manusia-manusia yang berdaya. Manusia yang kita butuhkan, dan bagaimana manusia dapat dibentuk tanpa adanya Shraddha?
P. Akan tetapi, pandangan seperti itu bukanlah pandangan mayoritas, Tuan.
Swamiji: Apa yang Anda sebut mayoritas sebagian besar terdiri dari orang-orang bodoh dan mereka yang berpikiran biasa. Orang-orang yang memiliki akal untuk berpikir sendiri hanyalah sedikit, di mana pun. Segelintir orang yang berotak inilah yang menjadi pemimpin sejati dalam segala hal dan di setiap bidang pekerjaan; mayoritas dipandu oleh mereka bagaikan dengan seutas tali, dan hal itu memang baik, karena segala sesuatunya berjalan dengan baik ketika mereka mengikuti jejak para pemimpin ini. Hanya orang bodoh saja yang merasa dirinya terlalu tinggi untuk menundukkan kepala kepada siapa pun, dan mereka menjatuhkan kehancuran atas diri mereka sendiri dengan bertindak menurut pertimbangan mereka sendiri. Anda berbicara tentang reformasi sosial? Tetapi apa yang Anda lakukan sebenarnya? Semua yang Anda maksudkan dengan reformasi sosial Anda tidak lain adalah pernikahan janda, atau emansipasi perempuan, atau sesuatu yang serupa itu. Bukankah demikian? Dan hal-hal ini pun hanya ditujukan pada lingkup beberapa kasta saja. Suatu rancangan reformasi semacam itu mungkin memberikan manfaat bagi segelintir orang, tidak diragukan, tetapi apa gunanya bagi seluruh bangsa? Apakah itu reformasi atau hanya bentuk keegoisan — entah bagaimana membersihkan ruangan Anda sendiri dan menjaganya agar rapi, sementara membiarkan orang lain terus terpuruk!
P. Kalau begitu, Anda bermaksud mengatakan bahwa tidak ada kebutuhan sama sekali akan reformasi sosial?
Swamiji: Siapa yang berkata demikian? Tentu saja ada kebutuhan akan hal itu. Sebagian besar dari apa yang Anda bicarakan sebagai reformasi sosial tidak menyentuh rakyat miskin; mereka sudah memiliki hal-hal itu — pernikahan janda, emansipasi perempuan, dan sebagainya — yang Anda perjuangkan. Karena alasan itulah mereka tidak akan menganggap hal-hal tersebut sebagai reformasi sama sekali. Yang ingin saya katakan adalah bahwa kurangnya Shraddha telah mendatangkan semua kejahatan di antara kita, dan terus mendatangkan semakin banyak lagi. Metode pengobatan saya adalah mencabut sampai ke akar-akarnya penyebab penyakit itu, bukan sekadar menekannya. Reformasi memang perlu dalam banyak hal; siapa yang cukup bodoh untuk menyangkal itu? Ada, misalnya, alasan yang kuat untuk perkawinan antargolongan di India, yang ketiadaannya membuat ras ini semakin lemah secara fisik dari hari ke hari.
Karena hari itu adalah hari gerhana matahari, tuan yang sedang mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu memberi hormat kepada Swamiji dan pamit dengan berkata, "Saya harus pergi sekarang untuk mandi di Sungai Gangga. Namun, saya akan datang lagi di lain hari."
III
Rekonsiliasi Jnana-Yoga dan Bhakti-Yoga — Tuhan dalam Kebaikan dan dalam Kejahatan pun — Penggunaan yang Menjadikan Sesuatu Baik atau Buruk — Karma — Penciptaan — Tuhan — Maya
Minggu, 23 Januari 1898.
Hari itu petang dan merupakan pertemuan mingguan Ramakrishna Mission di rumah Balaram Babu di Baghbazar. Swami Turiyananda, Swami Yogananda, Swami Premananda, dan yang lainnya telah datang dari Math. Swamiji duduk di beranda sebelah timur yang kini penuh sesak dengan orang, demikian pula bagian utara dan selatan beranda. Tetapi memang demikianlah keadaannya setiap hari ketika Swamiji tinggal di Kalkuta.
Banyak dari orang-orang yang datang ke pertemuan itu telah mendengar bahwa Swamiji pandai bernyanyi, sehingga mereka ingin mendengarnya. Mengetahui hal ini, Master Mahashaya (M.) berbisik kepada beberapa tuan yang ada di dekatnya untuk meminta Swamiji bernyanyi; tetapi Swamiji melihat tembus maksud mereka dan dengan bergurau bertanya, "Master Mahashaya, apa yang sedang Anda bicarakan di antara Anda sendiri dengan berbisik-bisik? Katakanlah dengan terang." Atas permintaan Master Mahashaya, Swamiji pun mulai menyanyikan dengan suaranya yang memesona lagu — "Jagalah dengan penuh kasih sayang Bunda Syama yang tercinta di dalam hatimu. . . ." Rasanya seolah-olah sebuah Vina sedang dimainkan. Setelah lagu selesai, Swamiji berkata kepada Master Mahashaya, "Nah, apakah Anda sekarang sudah puas? Tetapi jangan ada nyanyian lagi! Kalau tidak, terbawa oleh alunannya, saya akan larut dalam kegembiraannya. Selain itu, suara saya kini sudah rusak akibat sering berpidato di Barat. Suara saya gemetar sekali. . . ."
Swamiji kemudian meminta salah seorang murid Brahmacarinnya untuk berbicara tentang hakikat sejati Mukti (pembebasan). Maka, sang Brahmacarin berdiri dan berbicara cukup panjang. Beberapa orang lain mengikutinya. Swamiji kemudian mengundang diskusi mengenai pokok pembicaraan tersebut, dan meminta salah seorang muridnya yang berumah tangga untuk memimpinnya; tetapi ketika yang terakhir ini mencoba menganjurkan Advaita dan Jnana serta menempatkan dualisme dan Bhakti pada kedudukan yang lebih rendah, ia mendapat protes dari salah seorang hadirin. Ketika masing-masing dari dua pihak yang berselisih berusaha menegakkan sudut pandangnya sendiri, terjadilah perdebatan sengit. Swamiji memperhatikan mereka sebentar, tetapi melihat bahwa mereka semakin terhasut, Swamiji menenangkan mereka dengan kata-kata berikut:
Mengapa Anda menjadi terhasut dalam berdebat dan merusak segalanya? Dengarkanlah! Shri Ramakrishna biasa berkata bahwa pengetahuan murni dan Bhakti murni adalah satu dan sama. Menurut ajaran Bhakti (pengabdian kasih), Tuhan diyakini sebagai "Cinta Semesta". Seseorang bahkan tidak dapat mengatakan, "Saya mencintai-Nya," karena alasan bahwa Dia adalah Cinta Semesta. Tidak ada cinta di luar Diri-Nya; cinta yang ada di dalam hati yang dengan cinta itu Anda mencintai-Nya adalah Dia sendiri juga. Dengan cara yang serupa, apa pun ketertarikan atau kecenderungan yang dirasakan seseorang, semuanya adalah Dia sendiri. Si pencuri mencuri, perempuan penghibur menjual tubuhnya untuk pelacuran, sang ibu menyayangi anaknya — dalam masing-masing hal itu pun ada Dia! Satu sistem dunia menarik yang lain — di sana pun ada Dia. Di mana-mana ada Dia. Menurut ajaran Jnana pun, Dia diwujudkan oleh seseorang di mana-mana. Di sinilah letak rekonsiliasi antara Jnana dan Bhakti. Ketika seseorang terbenam dalam ekstasi tertinggi penglihatan ilahi (Bhava), atau berada dalam keadaan Samadhi (meditasi mendalam), hanya pada saat itulah gagasan dualitas lenyap, dan perbedaan antara sang pemuja dan Tuhannya sirna. Dalam kitab suci tentang Bhakti, lima jalan hubungan yang berbeda disebutkan, yang melalui salah satunya seseorang dapat mencapai Tuhan; tetapi satu lagi dapat dengan mudah ditambahkan kepada kelimannya, yaitu jalan meditasi tentang ketidakterpisahan, atau kesatuan dengan Tuhan. Dengan demikian, sang Bhakta dapat menyebut para Advaitin sebagai Bhakta pula, tetapi dari jenis yang tidak membedakan. Selama seseorang masih berada dalam ranah Maya (ilusi kosmik), selama itu pula gagasan dualitas tentu masih akan tetap ada. Ruang-waktu-kausalitas, atau nama-dan-rupa, itulah yang disebut Maya. Ketika seseorang melampauinya, barulah Kesatuan itu terwujud, dan pada saat itu manusia bukan lagi seorang dualis ataupun seorang Advaitin — baginya semua adalah Satu. Semua perbedaan yang Anda perhatikan antara seorang Bhakta dan seorang Jnani ada dalam tahap persiapan — yang satu melihat Tuhan di luar, dan yang lainnya melihat-Nya di dalam. Tetapi ada satu hal lagi: Shri Ramakrishna biasa berkata bahwa ada tahap lain dari Bhakti yang disebut Pengabdian Tertinggi (Parabhakti) yakni mencintai-Nya setelah menjadi kokoh dalam kesadaran Advaita dan setelah mencapai Mukti. Hal itu mungkin terkesan paradoks, dan pertanyaan mungkin diajukan di sini mengapa seseorang yang telah mencapai Mukti masih ingin mempertahankan semangat Bhakti? Jawabannya adalah: Yang Mukta atau Yang Bebas berada di luar semua hukum; tidak ada hukum yang berlaku dalam kasusnya, dan oleh karena itu tidak ada pertanyaan yang dapat diajukan tentangnya. Bahkan setelah menjadi Mukta, sebagian, atas kehendak bebasnya sendiri, mempertahankan Bhakti untuk menikmati kemanisannya.
P. Tuhan mungkin ada dalam cinta seorang ibu kepada anaknya; tetapi, Tuan, gagasan ini sungguh membingungkan bahwa Tuhan bahkan ada pada para pencuri dan perempuan penghibur dalam bentuk kecenderungan alami mereka untuk berbuat dosa! Maka, berarti Tuhan pun bertanggung jawab atas dosa sebagaimana atas semua kebajikan di dunia ini.
Swamiji: Kesadaran itu datang pada tahap realisasi tertinggi, ketika seseorang melihat bahwa apa pun yang bersifat cinta atau daya tarik adalah Tuhan. Tetapi seseorang harus mencapai keadaan itu untuk melihat dan mewujudkan gagasan itu bagi dirinya sendiri dalam kehidupan nyata.
P. Tetapi masih harus diakui bahwa Tuhan pun ada dalam dosa!
Swamiji: Anda lihat, sebenarnya tidak ada hal-hal berbeda seperti baik dan buruk. Keduanya hanyalah istilah konvensional. Hal yang sama kita sebut buruk, dan pada waktu lain kita sebut baik, tergantung pada cara kita menggunakannya. Ambil contoh cahaya lampu ini; karena ia menyala, kita dapat melihat dan melakukan berbagai pekerjaan yang berguna; itulah satu cara menggunakan cahaya itu. Lagi, jika Anda memasukkan jari Anda ke dalamnya, jari Anda akan terbakar; itulah cara lain menggunakan cahaya yang sama. Maka kita harus tahu bahwa sesuatu menjadi baik atau buruk tergantung pada cara kita menggunakannya. Demikian pula dengan kebajikan dan kejahatan. Secara umum, penggunaan yang tepat dari salah satu dari kemampuan pikiran dan tubuh kita disebut kebajikan, dan penggunaan yang tidak tepat atau pemborosannya disebut kejahatan.
Demikianlah pertanyaan demi pertanyaan diajukan dan dijawab. Seseorang berkomentar, "Teori bahwa Tuhan hadir bahkan di sana, di mana satu benda langit menarik yang lain, mungkin benar atau mungkin tidak benar sebagai fakta, tetapi tidak dapat disangkal betapa indahnya puisi yang disampaikan oleh gagasan itu."
Swamiji: Tidak, Tuan, itu bukan puisi. Seseorang dapat melihat sendiri kebenarannya ketika ia mencapai pengetahuan.
Dari apa yang lebih lanjut dikatakan Swamiji mengenai hal ini, saya memahaminya bermaksud bahwa materi dan roh, meskipun secara kasat mata tampak seperti dua hal yang berbeda, sebenarnya adalah dua bentuk yang berbeda dari satu substansi; dan demikian pula, semua kekuatan berbeda yang kita kenal, baik dalam dunia material maupun dalam dunia batin, hanyalah bentuk-bentuk yang bervariasi dari manifestasi satu Kekuatan. Kita menyebut sesuatu materi, ketika kekuatan roh itu bermanifestasi lebih sedikit; dan hidup, ketika ia menampakkan dirinya lebih banyak; tetapi tidak ada sesuatu pun yang secara mutlak bersifat materi setiap saat dan dalam segala keadaan. Kekuatan yang sama yang menampilkan dirinya dalam dunia material sebagai tarikan atau gravitasi, dirasakan dalam keadaannya yang lebih halus dan lebih lembut sebagai cinta dan sejenisnya dalam tahap-tahap spiritual yang lebih tinggi dari realisasi.
P. Mengapa harus ada pun perbedaan yang berkaitan dengan penggunaan individual ini? Mengapa sama sekali harus ada kecenderungan pada manusia untuk menggunakan secara buruk atau tidak tepat salah satu kemampuannya?
Swamiji: Kecenderungan itu datang sebagai hasil dari perbuatan-perbuatan seseorang di masa lalu (karma); semua yang dimiliki seseorang adalah buah dari perbuatannya sendiri. Oleh karena itu, berarti bahwa sepenuhnya ada di tangan setiap individu untuk mengendalikan kecenderungan-kecenderungannya dan membimbingnya dengan tepat.
P. Meskipun segala sesuatu adalah hasil dari karma kita, tetap saja harus ada permulaannya, dan mengapa kecenderungan kita harus baik atau buruk pada awalnya?
Swamiji: Dari mana Anda tahu bahwa ada permulaan? Srishti (penciptaan) adalah tanpa permulaan — inilah ajaran Veda. Selama ada Tuhan, ada pula penciptaan.
P. Baiklah, Tuan, mengapa ada Maya ini, dan dari mana ia berasal?
Swamiji: Adalah kesalahan untuk bertanya "mengapa" sehubungan dengan Tuhan; kita hanya dapat melakukan itu kepada seseorang yang memiliki kekurangan atau ketidaksempurnaan. Bagaimana mungkin ada "mengapa" tentang Dia yang tidak memiliki kekurangan dan yang merupakan Satu Keseluruhan? Tidak ada pertanyaan seperti "Dari mana Maya berasal?" yang dapat diajukan. Waktu-ruang-kausalitas itulah yang disebut Maya. Anda, saya, dan semua orang berada dalam Maya ini; dan Anda bertanya tentang apa yang berada di luar Maya! Bagaimana Anda dapat melakukan itu selagi hidup dalam Maya?
Kembali, banyak pertanyaan mengikutinya. Pembicaraan beralih ke filsafat Mill, Hamilton, Herbert Spencer, dan lainnya, dan Swamiji membicarakannya hingga memuaskan semua orang. Setiap orang terkagum-kagum akan luasnya beasiswa filsafat Barat yang dimilikinya dan cepatnya jawaban yang ia berikan.
Pertemuan itu bubar setelah percakapan singkat tentang berbagai macam topik.
IV
Perkawinan Antargolongan di Dalam Satu Varna — Menentang Perkawinan Dini — Pendidikan yang Dibutuhkan Bangsa India — Brahmacarya
Senin, 24 Januari 1898.
Tuan yang sama yang mengajukan pertanyaan kepada Swamiji pada Sabtu lalu datang kembali. Ia mengangkat kembali topik perkawinan antargolongan dan menanyakan, "Bagaimana seharusnya perkawinan antargolongan diperkenalkan di antara berbagai bangsa yang berbeda?"
Swamiji: Saya tidak menyarankan perkawinan kita dengan bangsa-bangsa yang memeluk agama yang berbeda. Setidaknya untuk saat ini, hal itu pasti akan mengendorkan ikatan-ikatan masyarakat dan menjadi sumber berbagai macam keburukan. Perkawinan antara orang-orang yang seagama itulah yang saya anjurkan.
P. Meski demikian, hal itu akan menimbulkan banyak kerumitan. Andaikan saya memiliki seorang anak perempuan yang lahir dan dibesarkan di Bengal, dan saya menikahkannya dengan seorang Marathi atau seorang Madrasi. Tidak akan ada si gadis yang memahami bahasa suaminya, maupun sang suami yang memahami bahasa si gadis. Selain itu, perbedaan dalam kebiasaan dan adat istiadat mereka masing-masing sangat besar. Itulah beberapa kesulitan dalam kasus pasangan yang menikah. Kemudian, bagi masyarakat, hal itu akan membuat kekacauan semakin memburuk.
Swamiji: Masih sangat lama datangnya waktu di mana perkawinan semacam itu akan menjadi sangat mungkin secara luas. Selain itu, tidaklah bijaksana untuk tiba-tiba melakukannya secara menyeluruh sekarang. Salah satu rahasia bekerja adalah berjalan menurut jalur yang paling sedikit hambatannya. Maka, pertama-tama, biarlah ada perkawinan dalam lingkup orang-orang dengan kasta yang sama. Ambil contoh orang Kayastha di Bengal. Mereka memiliki beberapa subgolongan di antara mereka, seperti Uttar-rarhi, Dakshin-rarhi, Bangaja, dan sebagainya, dan mereka tidak saling menikah satu sama lain. Sekarang, biarlah ada perkawinan antara orang-orang Uttar-rarhi dan Dakshin-rarhi, dan jika itu belum mungkin saat ini, biarlah antara orang-orang Bangaja dan Dakshin-rarhi. Dengan demikian kita harus membangun atas dasar apa yang sudah ada, dan yang ada dalam kemampuan kita untuk dipraktikkan — reformasi tidak berarti penghancuran total.
P. Baiklah, biarlah seperti yang Anda katakan: tetapi kebaikan apa yang sebanding yang bisa diperoleh dari itu?
Swamiji: Tidakkah Anda melihat bagaimana dalam masyarakat kita, perkawinan, yang telah dibatasi selama beberapa ratus tahun dalam subgolongan yang sama dari setiap kasta, telah sampai pada keadaan sekarang yang secara praktis berarti perkawinan antara sepupu dan kerabat dekat; dan bagaimana karena alasan inilah ras ini semakin merosot secara fisik, dan akibatnya semua macam penyakit dan kejahatan lainnya dengan mudah masuk ke dalamnya? Darah yang harus beredar dalam lingkaran sempit sejumlah terbatas individu telah menjadi rusak; sehingga anak-anak yang baru lahir mewarisi sejak lahir penyakit bawaan ayah mereka. Dengan demikian, terlahir dengan darah yang lemah, tubuh mereka memiliki sedikit sekali kemampuan untuk melawan kuman penyakit apa pun, yang selalu siap memangsa mereka. Hanya dengan memperluas lingkaran perkawinan kita dapat memasukkan jenis darah baru dan berbeda ke dalam keturunan kita, sehingga mereka dapat terbebas dari cengkeraman banyak penyakit kita masa kini dan berbagai keburukan yang mengikutinya.
P. Bolehkah saya bertanya kepada Anda, Tuan, apa pendapat Anda tentang perkawinan dini?
Swamiji: Di antara kelas terpelajar di Bengal, kebiasaan menikahkan anak laki-laki mereka terlalu dini lambat laun menghilang. Para gadis pun dinikahkan satu atau dua tahun lebih tua dari sebelumnya, tetapi hal itu terjadi karena terpaksa — akibat kesulitan keuangan. Apa pun alasannya, usia pernikahan para gadis harus ditingkatkan lebih tinggi lagi. Tetapi apa yang dapat dilakukan sang ayah yang miskin? Begitu sang gadis sedikit tumbuh dewasa, setiap orang dari kaum perempuan, mulai dari ibunya sampai kepada para kerabat dan tetangga, akan mulai berseru kepadanya bahwa ia harus mencarikan menantu laki-laki, dan tidak akan membiarkannya dalam ketenangan sampai ia melakukannya! Dan, tentang para munafik agama Anda, semakin sedikit yang dikatakan semakin baik. Pada masa-masa ini tidak ada yang mendengarkan mereka, tetapi mereka tetap akan memerankan peran pemimpin sendiri. Penguasa meloloskan Undang-Undang Usia Persetujuan yang melarang seorang pria dengan ancaman hukuman untuk hidup bersama seorang gadis berusia dua belas tahun, dan seketika itu semua pemimpin agama yang sekadar berwajah itu mengangkat suara protes yang luar biasa terhadapnya, membunyikan alarm, "Aduhai, agama kita hilang!" Seolah-olah agama terdiri dari menjadikan seorang gadis seorang ibu pada usia dua belas atau tiga belas tahun! Maka, para penguasa pun tentu saja berpikir, "Ya ampun! Agama macam apa yang mereka miliki! Dan orang-orang ini memimpin agitasi politik dan menuntut hak-hak politik!"
P. Kalau begitu, menurut pendapat Anda, baik pria maupun wanita seharusnya menikah pada usia yang lebih matang?
Swamiji: Tentu saja. Tetapi pendidikan harus diberikan bersamaan dengan itu, jika tidak, ketidakaturan dan kerusakan moral akan timbul. Yang saya maksud dengan pendidikan bukanlah sistem yang ada sekarang, melainkan sesuatu yang bercorak pengajaran positif. Sekadar belajar dari buku tidaklah cukup. Kita menginginkan pendidikan yang dengannya karakter dibentuk, kekuatan pikiran ditingkatkan, kecerdasan diperluas, dan yang dengannya seseorang dapat berdiri di atas kakinya sendiri.
P. Kita harus mereformasi kaum wanita kita dalam banyak hal.
Swamiji: Dengan pendidikan semacam itu, para wanita akan memecahkan masalah mereka sendiri. Mereka sepanjang masa telah dilatih dalam ketidakberdayaan, ketergantungan yang merendahkan diri kepada orang lain, sehingga mereka hanya pandai menangis tersedu-sedu pada pendekatan bahaya atau musibah sekecil apa pun. Selain hal-hal lain, mereka harus memperoleh semangat keberanian dan kepahlawanan. Pada masa kini, bagi mereka pun menjadi perlu untuk belajar membela diri. Lihatlah betapa agungnya Ratu Jhansi!
P. Apa yang Anda sarankan merupakan langkah baru yang sangat berbeda, dan saya khawatir masih akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk melatih kaum wanita kita dengan cara demikian.
Swamiji: Bagaimanapun, kita harus berusaha sebaik mungkin. Kita tidak hanya harus mengajar mereka tetapi juga mengajar diri kita sendiri. Sekadar membegetkan anak-anak tidak menjadikan seseorang seorang ayah; banyak sekali tanggung jawab yang harus dipikul di atas pundak seseorang. Untuk membuat suatu permulaan dalam pendidikan wanita: wanita Hindu kita dengan mudah memahami apa artinya kesucian, karena itu adalah warisan mereka. Sekarang, pertama-tama, perkuatkanlah cita-cita itu di dalam diri mereka di atas segalanya, sehingga mereka dapat mengembangkan karakter yang kuat yang dengan kekuatannya, dalam setiap tahap kehidupan mereka, baik yang sudah menikah, maupun yang masih lajang jika mereka lebih memilih demikian, mereka tidak akan takut sedikit pun bahkan untuk mengorbankan nyawa mereka daripada mundur sejengkal pun dari kesucian mereka. Apakah itu bukan kepahlawanan yang besar untuk dapat mengorbankan nyawa demi cita-citanya, apa pun cita-cita itu? Dengan mempelajari kebutuhan zaman sekarang ini, tampaknya sangat mendesak untuk melatih sebagian wanita dalam cita-cita pelepasan, sehingga mereka akan mengambil sumpah keperawanan seumur hidup, digerakkan oleh kekuatan kebajikan kesucian yang sejak dahulu kala telah tertanam dalam aliran darah kehidupan mereka. Bersamaan dengan itu, mereka harus diajarkan ilmu pengetahuan dan hal-hal lain yang akan memberi manfaat, tidak hanya bagi mereka tetapi juga bagi orang lain, dan dengan mengetahui ini mereka akan dengan mudah mempelajari hal-hal tersebut dan merasa senang melakukannya. Tanah air kita membutuhkan beberapa putranya untuk menjadi Brahmacarin dan Brahmacarini (penganut hidup suci) yang berjiwa murni semacam itu demi kesejahteraannya.
P. Dengan cara apakah hal itu akan berkontribusi bagi kesejahteraannya?
Swamiji: Melalui teladan mereka dan melalui upaya mereka untuk menjaga cita-cita nasional di depan mata rakyat, sebuah revolusi dalam pemikiran dan cita-cita akan terjadi. Bagaimana keadaannya sekarang? Entah bagaimanapun, orang tua harus menikahkan seorang gadis, baik ia berusia sembilan atau sepuluh tahun! Dan betapa gembiranya seluruh keluarga jika seorang anak lahir darinya pada usia tiga belas tahun! Jika arah gagasan semacam itu dibalikkan, barulah ada harapan bagi Shraddha kuno untuk kembali. Dan apa yang perlu dibicarakan tentang mereka yang akan mempraktikkan Brahmacharya sebagaimana yang didefinisikan di atas — bayangkan betapa besar iman kepada diri mereka sendiri yang akan mereka miliki! Dan betapa besarnya kekuatan kebaikan yang akan mereka jadi!
Sang penanya kini memberi hormat kepada Swamiji dan bersiap untuk pamit. Swamiji memintanya untuk datang sewaktu-waktu "Tentu, Tuan," jawab tuan itu, "Saya merasa banyak mendapat manfaat. Saya telah mendengar dari Anda banyak hal baru, yang belum pernah diceritakan kepada saya di mana pun sebelumnya." Saya pun pulang ke rumah karena sudah hampir waktunya makan malam.
V
Madhura-Bhava — Prema — Namakirtana — Bahayanya — Bhakti yang Dipadukan dengan Jnana — Mimpi yang Aneh
Senin, 24 Januari 1898.
Pada sore harinya saya datang lagi kepada Swamiji dan melihat cukup banyak orang berkumpul di sekitarnya. Topiknya adalah Madhura-Bhava (sikap manis) atau cara menyembah Tuhan sebagai suami, sebagaimana lazim di kalangan sebagian pengikut Shri Chaitanya. Ucapan-ucapannya yang jenaka sesekali membangkitkan gelak tawa, ketika seseorang berkomentar, "Apa yang perlu dipermainkan begitu banyak tentang perbuatan-perbuatan Tuhan itu? Apakah menurut Anda ia bukan orang suci yang agung, dan bahwa ia tidak melakukan segala sesuatunya demi kebaikan umat manusia?"
Swamiji: Siapa itu! Haruskah saya menggoda Anda kalau begitu, Tuan! Anda hanya melihat kelucuannya, begitu? Dan Anda, Tuan, tidak melihat perjuangan seumur hidup yang telah saya jalani untuk membentuk kehidupan ini sesuai dengan cita-cita pelepasannya yang bernyala-nyala akan kekayaan dan nafsu, serta upaya-upaya saya untuk menanamkan cita-cita itu ke dalam masyarakat luas! Shri Chaitanya adalah seorang yang memiliki pelepasan yang luar biasa dan tidak ada hubungannya dengan wanita dan nafsu badaniah. Tetapi, di kemudian hari, para muridnya mengizinkan wanita masuk ke dalam ordo mereka, berbaur tanpa pandang bulu dengan mereka atas namanya, dan membuat kekacauan yang mengerikan dari seluruhnya. Dan cita-cita cinta yang dicontohkan Tuhan dalam hidupnya sungguh-sungguh tanpa pamrih dan bebas dari segala sedikit pun nafsu; cinta yang bebas dari seks itu tidak pernah bisa menjadi milik kaum awam. Tetapi para Guru Waishnawa yang datang kemudian, alih-alih pertama-tama menekankan secara khusus aspek pelepasan dalam kehidupan Sang Guru, mencurahkan seluruh semangat mereka untuk menyebarkan dan menanamkan cita-cita cintanya di antara kaum awam, dan akibatnya adalah bahwa orang biasa tidak dapat memahami dan menyerap cita-cita cinta ilahi yang tinggi itu, dan secara alami menjadikannya bentuk cinta terburuk antara pria dan wanita.
P. Tetapi, Tuan, ia menyebarkan nama Tuhan Hari kepada semua orang, bahkan kepada kaum Candala; lalu mengapa kaum awam tidak berhak atasnya?
Swamiji: Saya tidak berbicara tentang dakwahnya, melainkan tentang cita-cita cintanya yang agung — Radha-prema (cinta Radha), yang di dalamnya ia biasa tetap terhanyut siang dan malam, kehilangan dirinya dalam Radha.
P. Mengapa itu tidak dapat dijadikan milik umum semua orang?
Swamiji: Lihatlah bangsa ini dan lihatlah apa yang telah menjadi hasil dari upaya semacam itu. Melalui penyebaran cinta itu secara meluas, seluruh bangsa telah menjadi lemah lembut seperti wanita — suatu ras kaum wanita! Seluruh Orissa telah berubah menjadi tanah kaum pengecut; dan Bengal, yang mengejar Radha-prema selama empat ratus tahun ini, hampir kehilangan semua rasa kejantanan! Orang-orang sangat pandai hanya dalam menangis dan meratap; itulah yang telah menjadi ciri khas nasional mereka. Lihatlah sastranya, cerminan paling tepat dari pemikiran dan gagasan suatu bangsa. Mengapa, refrain sastra Bengali selama empat ratus tahun ini dirangkai pada nada yang sama, yaitu nada ratapan dan tangisan. Sastra itu gagal melahirkan puisi apa pun yang menghembuskan semangat kepahlawanan yang sejati!
P. Siapakah yang sejatinya berhak memiliki Prema (cinta) itu?
Swamiji: Tidak akan ada cinta selama ada nafsu — bahkan jika hanya setitik, seolah-olah, di dalam hati. Tidak ada selain pria-pria yang memiliki pelepasan yang agung, tidak ada selain para raksasa perkasa di antara manusia, yang berhak atas Cinta Ilahi itu. Jika cita-cita cinta yang tertinggi itu disodorkan kepada kaum awam, hal itu secara tidak langsung cenderung akan merangsang prototipe duniawinya yang mendominasi hati manusia — karena, dengan bermeditasi tentang cinta kepada Tuhan dengan memikirkan diri sendiri sebagai istri atau kekasih-Nya, seseorang kemungkinan besar akan sebagian besar waktu memikirkan istrinya sendiri — hasilnya terlalu jelas untuk dijabarkan.
P. Kalau begitu, apakah tidak mungkin bagi para penghuni rumah tangga untuk mewujudkan Tuhan melalui jalan cinta itu, menyembah Tuhan sebagai suami atau kekasih seseorang dan menganggap diri sendiri sebagai pasangan-Nya?
Swamiji: Dengan beberapa pengecualian; bagi penghuni rumah tangga biasa, hal itu tentu tidak mungkin. Dan mengapa menaruh begitu banyak tekanan pada jalan yang halus ini, di atas semua jalan yang lain? Apakah tidak ada hubungan lain yang dapat digunakan untuk menyembah Tuhan, selain gagasan Madhura cinta ini? Mengapa tidak mengikuti empat jalan yang lain, dan menyebut nama Tuhan dengan sepenuh hati? Biarlah hati terbuka lebih dulu, dan segala sesuatunya akan mengikuti dengan sendirinya. Tetapi ketahuilah ini dengan pasti, bahwa Prema tidak dapat datang selagi ada nafsu. Mengapa tidak mencoba lebih dulu untuk menyingkirkan keinginan-keinginan badaniah? Anda akan berkata, "Bagaimana itu mungkin? Saya adalah seorang penghuni rumah tangga." Omong kosong! Karena seseorang adalah penghuni rumah tangga, apakah itu berarti bahwa ia harus menjadi penjelmaan ketidakbertarakan diri, atau bahwa ia harus hidup dalam hubungan perkawinan sepanjang hidupnya? Dan, betapapun juga, betapa tidak patutnya seorang pria menjadikan dirinya seorang wanita, sehingga ia dapat mempraktikkan Madhura cinta ini!
P. Benar, Tuan. Menyanyikan nama Tuhan bersama-sama (Namakirtana) adalah bantuan yang luar biasa dan memberikan perasaan gembira. Demikianlah kata-kata kitab suci kita, dan demikianlah yang juga diajarkan Shri Chaitanya Deva kepada kaum awam. Ketika Khole (gendang) dimainkan, ia membuat hati melonjak dengan kegembiraan yang sedemikian rupa sehingga seseorang merasa terdorong untuk menari.
Swamiji: Itu memang baik, tetapi jangan berpikir bahwa Kirtana hanya berarti menari. Kirtana berarti menyanyikan kemuliaan Tuhan, dengan cara apa pun yang cocok bagi Anda. Gairah kuat yang membangkitkan perasaan dan tarian para Waishnawa itu memang baik dan sangat menular; tetapi ada juga bahaya dalam mempraktikkannya, yang harus Anda hindarkan. Bahayanya terletak di sini — dalam reaksinya. Di satu sisi, perasaan-perasaan langsung tergerak ke puncak tertingginya, air mata mengalir dari mata, kepala terasa berputar bagaikan dalam keterhanyutan — di sisi lain, begitu Sankirtan berhenti, massa perasaan itu tenggelam kembali setajam naiknya. Semakin tinggi ombak naik di lautan, semakin dalam ia jatuh, dengan kekuatan yang sama. Pada tahap itu sangat sulit untuk menahan diri dari guncangan reaksi; kecuali jika seseorang memiliki pembedaan yang tepat, ia cenderung akan tunduk pada kecenderungan-kecenderungan rendah dari nafsu dan sebagainya. Saya telah memperhatikan hal yang sama di Amerika juga. Banyak yang pergi ke gereja, berdoa dengan banyak kebaktian, bernyanyi dengan perasaan yang kuat, dan bahkan meledak dalam tangisan ketika mendengarkan khotbah; tetapi setelah keluar dari gereja, mereka akan mengalami reaksi yang kuat dan tunduk pada kecenderungan badaniah.
P. Maka, Tuan, tolong ajarkanlah kepada kami gagasan-gagasan mana yang diajarkan Shri Chaitanya yang harus kami ambil sebagai yang paling cocok bagi kami, sehingga kami tidak jatuh dalam kesalahan.
Swamiji: Sembahlah Tuhan dengan Bhakti yang dipadukan dengan Jnana. Pertahankan semangat pembedaan bersama Bhakti. Selain ini, ambillah dari Shri Chaitanya hatinya, kebaikan hatinya yang penuh kasih sayang kepada semua makhluk, semangatnya yang berkobar akan Tuhan, dan jadikanlah pelepasannya sebagai cita-cita hidup Anda.
Sang penanya kini menyapa Swamiji dengan tangan terkatup, "Saya memohon maaf, Tuan. Sekarang saya melihat bahwa Anda benar. Melihat Anda mengkritik dengan sikap bersenda gurau cinta Madhura para Waishnawa, saya pada mulanya tidak dapat memahami arah dari kata-kata Anda; oleh karena itu saya mengajukan keberatan terhadapnya."
Swamiji: Nah, perhatikanlah, jika kita harus mengkritik sama sekali, lebih baik mengkritik Tuhan atau manusia-manusia Tuhan. Jika Anda memaki saya, saya kemungkinan besar akan marah kepada Anda, dan jika saya memaki Anda, Anda akan berusaha membalasnya. Bukankah demikian? Tetapi Tuhan atau manusia-manusia Tuhan tidak akan pernah membalas kejahatan dengan kejahatan.
Tuan itu kini pergi, setelah bersujud di kaki Swamiji. Saya sudah mengatakan bahwa perkumpulan semacam itu adalah kejadian sehari-hari ketika Swamiji tinggal di Kalkuta. Dari pagi-pagi sekali hingga pukul delapan atau sembilan malam, orang-orang akan berdatangan kepadanya di setiap jam sepanjang hari. Hal ini secara alami menyebabkan banyak ketidakaturan dalam waktu makan makannya; maka, banyak yang ingin menghentikan keadaan ini mendesak Swamiji dengan keras untuk tidak menerima tamu kecuali pada jam-jam yang sudah ditentukan. Tetapi hati Swamiji yang penuh kasih, yang selalu siap melakukan apa pun untuk membantu orang lain, begitu tergerak oleh belas kasih ketika melihat dahaga akan agama yang sedemikian kuat pada rakyat, sehingga meskipun dalam keadaan sakit, ia tidak mematuhi permintaan semacam itu. Jawabannya hanya satu, "Mereka mengambil banyak kesusahan untuk datang berjalan kaki dari rumah mereka, dan mungkinkah saya, demi pertimbangan sedikit membahayakan kesehatan saya, duduk di sini dan tidak mengucapkan beberapa patah kata kepada mereka?"
Sekitar pukul empat sore percakapan umum berakhir, dan perkumpulan itu bubar, kecuali beberapa tuan yang bersama Swamiji ia meneruskan pembicaraannya tentang berbagai macam topik, seperti Inggris dan Amerika, dan seterusnya. Dalam jalannya percakapan ia berkata:
"Saya mengalami mimpi yang aneh dalam perjalanan kembali saya dari Inggris. Ketika kapal kami sedang melintas Laut Mediterania, dalam tidur saya, seseorang yang sangat tua dan terhormat, berwajah seperti Rishi, berdiri di hadapan saya dan berkata, 'Datanglah dan laksanakanlah pemulihan kami. Saya adalah salah satu dari ordo Theraputa (Therapeutae) kuno itu yang berasal dari ajaran para Rishi India. Kebenaran-kebenaran dan cita-cita yang kami khotbahkan telah dikemukakan oleh orang-orang Kristen sebagai yang diajarkan oleh Yesus; tetapi yang sebenarnya, tidak ada kepribadian seperti itu dengan nama Yesus yang pernah lahir. Berbagai bukti yang menyaksikan fakta ini akan terungkap melalui penggalian di sini.' 'Dengan menggali di tempat mana bukti-bukti dan peninggalan-peninggalan yang Anda sebutkan itu dapat ditemukan?' Saya bertanya. Sosok yang berambut putih itu, sambil menunjuk ke suatu tempat di sekitar Turki, berkata, 'Lihat di sini.' Segera setelah itu, saya terbangun, dan seketika berlari ke dek atas dan bertanya kepada Kapten, 'Di sekitar mana sekarang kapal ini berada?' 'Lihatlah ke sana,' jawab sang Kapten, 'itu Turki dan Pulau Kreta.'"
Apakah itu hanya mimpi belaka, ataukah ada sesuatu dalam penglihatan di atas? Siapa yang tahu!
——
Catatan
English
II
The Loss of Shraddha in India and Need of Its Revival—Men We Want—Real Social Reform
Saturday, the 22nd January, 1898.
Early in the morning I came to Swamiji who was then staying in the house of Balaram Babu at 57 Ramkanta Bose Street, Calcutta. The room was packed full with listeners. Swamiji was saying, "We want Shraddhâ, we want faith in our own selves. Strength is life, weakness is death. 'We are the Âtman, deathless and free; pure, pure by nature. Can we ever commit any sin? Impossible!'—such a faith is needed. Such a faith makes men of us, makes gods of us. It is by losing this idea of Shraddha that the country has gone to ruin."
Question: How did we come to lose this Shraddha?
Swamiji: We have had a negative education all along from our boyhood. We have only learnt that we are nobodies. Seldom are we given to understand that great men were ever born in our country. Nothing positive has been taught to us. We do not even know how to use our hands and feet! We master all the facts and figures concerning the ancestors of the English, but we are sadly unmindful about our own. We have learnt only weakness. Being a conquered race, we have brought ourselves to believe that we are weak and have no independence in anything. So, how can it be but that the Shraddha is lost? The idea of true Shraddha must be brought back once more to us, the faith in our own selves must be reawakened, and, then only, all the problems which face our country will gradually be solved by ourselves.
Q. How can that ever be? How will Shraddha alone remedy the innumerable evils with which our society is beset? Besides, there are so many crying evils in the country, to remove which the Indian National Congress and other patriotic associations are carrying on a strenuous agitation and petitioning the British government. How better can their wants be made known? What has Shraddha to do with the matter?
Swamiji: Tell me, whose wants are those—yours or the ruler's? If yours, will the ruler supply them for you, or will you have to do that for yourselves?
Q. But it is the ruler's duty to see to the wants of the subject people. Whom should we look up to for everything, if not to the king?
Swamiji: Never are the wants of a beggar fulfilled. Suppose the government give you all you need, where are the men who are able to keep up the things demanded? So make men first. Men we want, and how can men be made unless Shraddha is there?
Q. But such is not the view Of the majority, sir.
Swamiji: What you call majority is mainly composed of fools and men of common intellect. Men who have brains to think for themselves are few, everywhere. These few men with brains are the real leaders in everything and in every department of work; the majority are guided by them as with a string, and that is good, for everything goes all right when they follow in the footsteps of these leaders. Those are only fools who think themselves too high to bend their heads to anyone, and they bring on their own ruin by acting on their own judgment. You talk of social reform? But what do you do? All that you mean by your social reform is either widow remarriage, or female emancipation, or something of that sort. Do you not? And these again are directed within the confines of a few of the castes only. Such a scheme of reform may do good to a few no doubt, but of what avail is that to the whole nation? Is that reform or only a form of selfishness—somehow to cleanse your own room and keep it tidy and let others go from bad to worse!
Q. Then, you mean to say that there is no need of social reform at all?
Swamiji: Who says so? Of course there is need of it. Most of what you talk of as social reform does not touch the poor masses; they have already those things—the widow remarriage, female emancipation, etc.—which you cry for. For this reason they will not think of those things as reforms at all. What I mean to say is that want of Shraddha has brought in all the evils among us, and is bringing in more and more. My method of treatment is to take out by the roots the very causes of the disease and not to keep them merely suppressed. Reforms we should have in many ways; who will be so foolish as to deny it? There is, for example, a good reason for intermarriage in India, in the absence of which the race is becoming physically weaker day by day.
Since it was a day of a solar eclipse, the gentleman who was asking these questions saluted Swamiji and left saying "I must go now for a bath in the Ganga. I shall, however, come another day."
III
Reconciliation of Jnana-Yoga and Bhakti-Yoga—God in Good and in Evil Too—Use Makes a Thing Good or Evil—Karma—Creation—God—Maya
Sunday, The 23rd January, 1898.
It was evening and the occasion of the weekly meeting of the Ramakrishna Mission, at the house of Balaram Babu of Baghbazar. Swami Turiyananda, Swami Yogananda, Swami Premananda, and others had come from the Math. Swamiji was seated in the verandah to the east, which was now full of people, as were the northern and the southern sections of the verandah. But such used to be the case every day when Swamiji stayed in Calcutta.
Many of the people who came to the meeting had heard that Swamiji could sing well, and so were desirous of hearing him. Knowing this, Master Mahâshaya (M.) whispered to a few gentlemen near him to request Swamiji to sing; but he saw through their intention and playfully asked, "Master Mahashaya, what are you talking about among yourselves in whispers? Do speak out." At the request of Master Mahashaya, Swamiji now began in his charming voice the song—"Keep with loving care the darling Mother Shyâmâ in thy heart. . . ." It seemed as if a Vinâ was playing. At its close, he said to Master Mahashaya, "Well, are you now satisfied? But no more singing! Otherwise, being in the swing of it, I shall be carried away by its intoxication. Moreover, my voice is now spoilt be frequent lecturing in the West. My voice trembles a great deal. . . ."
Swamiji then asked one of his Brahmacharin disciples to speak on the real nature of Mukti. So, the Brahmacharin stood up and spoke at some length. A few others followed him. Swamiji then invited discussion on the subject of the discourse, and called upon one of his householder disciples to lead it; but as the latter tried to advocate the Advaita and Jnâna and assign a lower place to dualism and Bhakti, he met with a protest from one of the audience. As each of the two opponents tried to establish his own viewpoint, a lively word-fight ensued. Swamiji watched them for a while but, seeing that they were getting excited, silenced them with the following words:
Why do you get excited in argument and spoil everything? Listen! Shri Ramakrishna used to say that pure knowledge and pure Bhakti are one and the same. According to the doctrine of Bhakti, God is held to be "All-Love". One cannot even say, "I love Him", for the reason that He is All-Love. There is no love outside of Himself; the love that is in the heart with which you love Him is even He Himself. In a similar way, whatever attractions or inclinations one feels drawn by, are all He Himself. The thief steals, the harlot sells her body to prostitution, the mother loves her child—in each of these too is He! One world system attracts another—there also is He. Everywhere is He. According to the doctrine of Jnana also, He is realised by one everywhere. Here lies the reconciliation of Jnana and Bhakti. When one is immersed in the highest ecstasy of divine vision (Bhâva), or is in the state of Samâdhi, then alone the idea of duality ceases, and the distinction between the devotee and his God vanishes. In the scriptures on Bhakti, five different paths of relationship are mentioned, by any of which one can attain to God; but another one can very well be added to them, viz. the path of meditation on the non-separateness, or oneness with God. Thus the Bhakta can call the Advaitins Bhaktas as well, but of the non-differentiating type. As long as one is within the region of Mâya, so long the idea of duality will no doubt remain. Space-time-causation, or name-and-form, is what is called Maya. When one goes beyond this Maya, then only the Oneness is realised, and then man is neither a dualist nor an Advaitist—to him all is One. All this difference that you notice between a Bhakta and a Jnani is in the preparatory stage—one sees God outside, and the other sees Him within. But there is another point: Shri Ramakrishna used to say that there is another stage of Bhakti which is called the Supreme Devotion (Parâbhakti) i.e. to love Him after becoming established in the consciousness of Advaita and after having attained Mukti. It may seem paradoxical, and the question may be raised here why such a one who has already attained Mukti should be desirous of retaining the spirit of Bhakti? The answer is: The Mukta or the Free is beyond all law; no law applies in his case, and hence no question can be asked regarding him. Even becoming Mukta, some, out of their own free will, retain Bhakti to taste of its sweetness.
Q. God may be in the love of the mother for her child; but, sir, this idea is really perplexing that God is even in thieves and the harlots in the form of their natural inclinations to sin! It follows then that God is as responsible for the sin as for all the virtue in this world.
Swamiji: That consciousness comes in a stage of highest realization, when one sees that whatever is of the nature of love or attraction is God. But one has to reach that state to see and realise that idea for oneself in actual life.
Q. But still one has to admit that God is also in the sin!
Swamiji: You see, there are, in reality, no such different things as good and evil. They are mere conventional terms. The same thing we call bad, and again another time we call good, according to the way we make use of it. Take for example this lamplight; because of its burning, we are able to see and do various works of utility; this is one mode of using the light. Again, if you put your fingers in it, they will be burnt; that is another mode of using the same light. So we should know that a thing becomes good or bad according to the way we use it. Similarly with virtue and vice. Broadly speaking, the proper use of any of the faculties of our mind and body is termed virtue, and its improper application or waste is called vice.
Thus questions after questions were put and answered. Someone remarked, "The theory that God is even there, where one heavenly body attracts another, may or may not be true as a fact, but there is no denying the exquisite poetry the idea conveys."
Swamiji: No, my dear sir, that is not poetry. One can see for oneself its truth when one attains knowledge.
From what Swamiji further said on this point, I understood him to mean that matter and spirit, though to all appearances they seem to be two distinct things, are really two different forms of one substance; and similarly, all the different forces that are known to us, whether in the material or in the internal world, are but varying forms of the manifestation of one Force. We call a thing matter, where that spirit force is manifested less; and living, where it shows itself more; but there is nothing which is absolutely matter at all times and in all conditions. The same Force which presents itself in the material world as attraction or gravitation is felt in its finer and subtler state as love and the like in the higher spiritual stages of realisation.
Q. Why should there be even this difference relating to individual use? Why should there be at all this tendency in man to make bad or improper use of any of his faculties?
Swamiji: That tendency comes as a result of one's own past actions (Karma); everything one has is of his own doing. Hence it follows that it is solely in the hands of every individual to control his tendencies and to guide them properly.
Q. Even if everything is the result of our Karma, still it must have had a beginning, and why should our tendencies have been good or bad at the beginning?
Swamiji: How do you know that there is a beginning? The Srishti (creation) is without beginning—this is the doctrine of the Vedas. So long as there is God, there is creation as well.
Q. Well, sir, why is this Maya here, and whence has it come?
Swamiji: It is a mistake to ask "why" with respect to God; we can only do so regarding one who has wants or imperfections. How can there be an, "why" concerning Him who has no wants and who is the One Whole? No such question as "Whence has Maya come?" can be asked. Time-space-causation is what is called Maya. You, I, and everyone else are within this Maya; and you are asking about what is beyond Maya! How can you do so while living within Maya?
Again, many questions followed. The conversation turned on the philosophies of Mill, Hamilton, Herbert Spencer, etc., and Swamiji dwelt on them to the satisfaction of all. Everyone wondered at the vastness of his Western philosophical scholarship and the promptness of his replies.
The meeting dispersed after a short conversation on miscellaneous subjects.
IV
Intermarriage Among Subdivisions of a Varna—Against Early Marriage—The Education that Indians Need—Brahmacharya
Monday, The 24th January, 1898.
The same gentleman who was asking questions of Swamiji on Saturday last came again. He raised again the topic of intermarriage and enquired, "How should intermarriage be introduced between different nationalities?"
Swamiji: I do not advise our intermarriage with nations professing an alien religion. At least for the present, that will, of a certainty, slacken the ties of society and be a cause of manifold mischief. It is the intermarriage between people of the same religion that I advocate.
Q. Even then, it will involve much perplexity. Suppose I have a daughter who is born and brought up in Bengal, and I marry her to a Marathi or a Madrasi. Neither will the girl understand her husband's language nor the husband the girl's. Again, the difference in their individual habits and customs is so great. Such are a few of the troubles in the case of the married couple. Then as regards society, it will make confusion worse confounded.
Swamiji: The time is yet very long in coming when marriages of that kind will be widely possible. Besides, it is not judicious now to go in for that all of a sudden. One of the secrets of work is to go along the line of least resistance. So, first of all, let there be marriages within the sphere of one's own caste-people. Take for instance, the Kayasthas of Bengal. They have several subdivisions amongst them, such as, the Uttar-rârhi, Dakshin-rârhi, Bangaja, etc., and they do not intermarry with each other. Now, let there be intermarriages between the Uttar-rarhis and the Dakshin-rarhis, and if that is not possible at present, let it be between the Bangajas and the Dakshin-rarhis. Thus we are to build up that which is already existing, and which is in our hands to reduce into practice—reform does not mean wholesale breaking down.
Q. Very well, let it be as you say: but what corresponding good can come of it?
Swamiji: Don't you see how in our society, marriage, being restricted for several hundreds of years within the same subdivisions of each caste, has come to such a pass nowadays as virtually to mean marital alliance between cousins and near relations; and how for this very reason the race is getting deteriorated physically, and consequently all sorts of disease and other evils are finding a ready entrance into it? The blood having had to circulate within the narrow circle of a limited number of individuals has become vitiated; so the new-born children inherit from their very birth the constitutional diseases of their fathers. Thus, born with poor blood, their bodies have very little power to resist the microbes of any disease, which are ever ready to prey upon them. It is only by widening the circle of marriage that we can infuse a new and a different kind of blood into our progeny, so that they may be saved from the clutches of many of our present-day diseases and other consequent evils.
Q. May I ask you, sir, what is your opinion about early marriage?
Swamiji: Amongst the educated classes in Bengal, the custom of marrying their boys too early is dying out gradually. The girls are also given in marriage a year or two older than before, but that has been under compulsion —from pecuniary want. Whatever might be the reason for it, the age of marrying girls should be raised still higher. But what will the poor father do? As soon as the girl grows up a little, every one of the female sex, beginning with the mother down to the relatives and neighbours even, will begin to cry out that he must find a bridegroom for her, and will not leave him in peace until he does so! And, about your religious hypocrites, the less said the better. In these days no one hears them, but still they will take up the role of leaders themselves. The rulers passed the Age of Consent Bill prohibiting a man under the threat of penalty to live with a girl of twelve years, and at once all these so-called leaders of your religion raised a tremendous hue and cry against it, sounding the alarm, "Alas, our religion is lost! As if religion consisted in making a girl a mother at the age of twelve or thirteen! So the rulers also naturally think, "Goodness gracious! What a religion is theirs! And these people lead political agitations and demand political rights!"
Q. Then, in your opinion, both men and women should be married at an advanced age?
Swamiji: Certainly. But education should be imparted along with it, otherwise irregularity and corruption will ensue. By education I do not mean the present system, but something in the line of positive teaching. Mere book-learning won't do. We want that education by which character is formed, strength of mind is increased, the intellect is expanded, and by which one can stand on one's own feet.
Q. We have to reform our women in many ways.
Swamiji: With such an education women will solve their own problems. They have all the time been trained in helplessness, servile dependence on others, and so they are good only to weep their eyes out at the slightest approach of a mishap or danger. Along with other things they should acquire the spirit of valour and heroism. In the present day it has become necessary for them also to learn self-defence. See how grand was the Queen of Jhansi!
Q. What you advise is quite a new departure, and it will, I am afraid, take a very long time yet to train our women in that way.
Swamiji: Anyhow, we have to try our best. We have not only to teach them but to teach ourselves also. Mere begetting children does not make a father; a great many responsibilities have to be taken upon one's shoulders as well. To make a beginning in women's education: our Hindu women easily understand what chastity means, because it is their heritage. Now, first of all, intensify that ideal within them above everything else, so that they may develop a strong character by the force of which, in every stage of their life, whether married, or single if they prefer to remain so, they will not be in the least afraid even to give up their lives rather than flinch an inch from their chastity. Is it little heroism to be able to sacrifice one's life for the sake of one's ideal whatever that ideal may be? Studying the present needs of the age, it seems imperative to train some women up in the ideal of renunciation, so that they will take up the vow of lifelong virginity, fired with the strength of that virtue of chastity which is innate in their life-blood from hoary antiquity. Along with that they should be taught sciences and other things which would be of benefit, not only to them but to others as well, and knowing this they would easily learn these things and feel pleasure in doing so. Our motherland requires for her well-being some of her children to become such pure-souled Brahmachârins and Brahmachârinis.
Q. In what way will that conduce to her well-being?
Swamiji: By their example and through their endeavours to hold the national ideal before the eyes of the people, a revolution in thoughts and aspirations will take place. How do matters stand now? Somehow, the parents must dispose of a girl in marriage, if she he nine or ten years of age! And what a rejoicing of the whole family if a child is born to her at the age of thirteen! If the trend of such ideas is reversed, then only there is some hope for the ancient Shraddhâ to return. And what to talk of those who will practice Brahmacharya as defined above—think how much faith in themselves will be theirs! And what a power for good they will be!
The questioner now saluted Swamiji and was ready to take leave. Swamiji asked him to come now and then "Certainly, sir," replied the gentleman, "I feel so much benefited. I have heard from you many new things, which I have not been told anywhere before." I also went home as it was about time for dinner.
V
Madhura-Bhava—Prema—Namakirtana—Its Danger—Bhakti Tempered With Jnana—A Curious Dream
Monday, The 24th January, 1898.
In the afternoon I came again to Swamiji and saw quite a good gathering round him. The topic was the Madhura-Bhâva or the way of worshipping God as husband, as in vogue with some followers of Shri Chaitanya. His occasional bons mots were raising laughter, when someone remarked, "What is there to make so much fun of about the Lord's doings? Do you think that he was not a great saint, and that he did not do everything for the good of humanity?"
Swamiji: Who is that! Should I poke fun at you then, my dear sir! You only see the fun of it, do you? And you, sir, do not see the lifelong struggle through which I have passed to mould this life after his burning ideal of renunciation of wealth and lust, and my endeavours to infuse that ideal into the people at large! Shri Chaitanya was a man of tremendous renunciation and had nothing to do with woman and carnal appetites. But, in later times, his disciples admitted women into their order, mixed indiscriminately with them in his name, and made an awful mess of the whole thing. And the ideal of love which the Lord exemplified in his life was perfectly selfless and bereft of any vestige of lust; that sexless love can never be the property of the masses. But the subsequent Vaishnava Gurus, instead of laying particular stress first on the aspect of renunciation in the Master's life, bestowed all their zeal on preaching and infusing his ideal of love among the masses, and the consequence was that the common people could not grasp and assimilate that high ideal of divine love, and naturally made of it the worst form of love between man and woman.
Q. But, sir, he preached the name of the Lord Hari to all, even to the Chandâlas; so why should not the common masses have a right to it?
Swamiji: I am talking not of his preaching, but of his great ideal of love —the Râdhâ-prema, with which he used to remain intoxicated day and night, losing his individuality in Radha.
Q. Why may not that be made the common property of all?
Swamiji: Look at this nation and see what has been the outcome of such an attempt. Through the preaching of that love broadcast, the whole nation has become effeminate—a race of women! The whole of Orissa has been turned into a land of cowards; and Bengal, running after the Radha-prema, these past four hundred years, has almost lost all sense of manliness! The people are very good only at crying and weeping; that has become their national trait. Look at their literature, the sure index of a nation's thoughts and ideas. Why, the refrain of the Bengali literature for these four hundred years is strung to that same tune of moaning and crying. It has failed to give birth to any poetry which breathes a true heroic spirit!
Q. Who are then truly entitled to possess that Prema (love)?
Swamiji: There can be no love so long as there is lust—even as speck of it, as it were, in the heart. None but men of great renunciation, none but mighty giants among men, have a right to that Love Divine. If that highest ideal of love is held out to the masses, it will indirectly tend to stimulate its worldly prototype which dominates the heart of man—for, meditating on love to God by thinking of oneself as His wife or beloved, one would very likely be thinking most of the time of one's own wife—the result is too obvious to point out.
Q. Then is it impossible for householders to realise God through that path of love, worshipping God as one's husband or lover and considering oneself as His spouse?
Swamiji : With a few exceptions; for ordinary householders it is impossible no doubt. And why lay so much stress on this delicate path, above all others? Are there no other relationships by which to worship God, except this Madhura idea of love? Why not follow the four other paths, and take the name of the Lord with all your heart? Let the heart be opened first, and all else will follow of itself. But know this for certain, that Prema cannot come while there is lust. Why not try first to get rid of carnal desires? You will say, "How is that possible? I am a householder." Nonsense! Because one is a householder, does it mean that one should be a personification of incontinence, or that one has to live in marital relations all one's life? And, after all, how unbecoming of a man to make of himself a woman, so that he may practice this Madhura love!
Q. True, sir. Singing God's name in a party (Nâmakirtana) is an excellent help and gives one a joyous feeling. So say our scriptures, and so did Shri Chaitanya Deva also preach to the masses. When the Khole (drum) is played upon, it makes the heart leap with such a transport that one feels inclined to dance.
Swamiji: That is all right, but don't think that Kirtana means dancing only. It means singing the glories of God, in whatever way that suits you. That vehement stirring up of feeling and that dancing of the Vaishnavas are good and very catching no doubt; but there is also a danger in practising them, from which you must save yourself. The danger lies here—in the reaction. On the one hand, the feelings are at once roused to the highest pitch, tears flow from the eyes, the head reels as it were under intoxication—on the other hand, as soon as the Sankirtan stops, that mass of feeling sinks down as precipitately as it rose. The higher the wave rises on the ocean, the lower it falls, with equal force. It is very difficult at that stage to contain oneself against the shock of reaction; unless one has proper discrimination, one is likely to succumb to the lower propensities of lust etc. I have noticed the same thing in America also. Many would go to church, pray with much devotion, sing with great feeling, and even burst into tears when hearing the sermons; but after coming out of church, they would have a great reaction and succumb to carnal tendencies.
Q. Then, sir, do instruct us which of the ideas preached by Shri Chaitanya we should take up as well suited to us, so that we may not fall into errors.
Swamiji: Worship God with Bhakti tempered with Jnâna. Keep the spirit of discrimination along with Bhakti. Besides this, gather from Shri Chaitanya, his heart, his loving kindness to all beings, his burning passion for God, and make his renunciation the ideal of your life.
The questioner now addressed the Swamiji with folded hands, "I beg your pardon, sir. Now I come to see you are right. Seeing you criticise in a playful mood the Madhura love of the Vaishnavas, I could not at first understand the drift of your remarks; hence I took exception to them."
Swamiji: Well, look here, if we are to criticise at all, it is better to criticise God or God-men. If you abuse me I shall very likely get angry with you, and if I abuse you, you will try to retaliate. Isn't it so? But God or God-men will never return evil for evil. The gentleman now left, after bowing down at the feet of Swamiji. I have already said that such a gathering was an everyday occurrence when Swamiji used to stay in Calcutta. From early in the morning till eight or nine at night, men would flock to him at every hour of the day. This naturally occasioned much irregularity in the time of his taking his meals; so, many desiring to put a stop to this state of things, strongly advised Swamiji not to receive visitors except at appointed hours. But the loving heart of Swamiji, ever ready to go to any length to help others, was so melted with compassion at the sight of such a thirst for religion in the people, that in spite of ill health, he did not comply with any request of the kind. His only reply was, "They take so much trouble to come walking all the way from their homes, and can I, for the consideration of risking my health a little, sit here and not speak a few words to them?"
At about 4 p.m. the general conversation came to a close, and the gathering dispersed, except for a few gentlemen with whom Swamiji continued his talk on different subjects, such as England and America, and so on. In the course of conversation he said:
"I had a curious dream on my return voyage from England. While our ship was passing through the Mediterranean Sea, in my sleep, a very old and venerable looking person, Rishi-like in appearance, stood before me and said, 'Do ye come and effect our restoration. I am one of that ancient order of Therâputtas (Theraputae) which had its origin in the teachings of the Indian Rishis. The truths and ideals preached by us have been given out by Christians as taught by Jesus; but for the matter of that, there was no such personality by the name of Jesus ever born. Various evidences testifying to this fact will be brought to light by excavating here.' 'By excavating which place can those proofs and relics you speak of be found?' I asked. The hoary-headed one, pointing to a locality in the vicinity of Turkey, said, 'See here.' Immediately after, I woke up, and at once rushed to the upper deck and asked the Captain, 'What neighbourhood is the ship in just now?' 'Look yonder', the Captain replied, 'there is Turkey and the Island of Crete.'"
Was it but a dream, or is there anything in the above vision? Who knows!
——
Notes
Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.