II Di Twentieth Century Club di Boston
Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.
AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.
Bahasa Indonesia
II
(Di Twentieth Century Club of Boston, A. S.)
T.—Apakah Vedanta memberikan pengaruh terhadap Islam?
J.—Semangat Vedanta yang liberal secara keagamaan ini sangat mempengaruhi Islam. Islam di India adalah sesuatu yang sama sekali berbeda dari Islam di negeri mana pun. Hanya ketika orang-orang Muslim datang dari negeri lain dan berkhotbah kepada sesama pemeluknya di India tentang hidup bersama orang-orang yang bukan seagama, barulah massa Muslim terpancing dan terlibat bentrokan.
T.—Apakah Vedanta mengakui sistem kasta?
J.—Sistem kasta bertentangan dengan agama Vedanta. Kasta adalah adat sosial, dan semua pengkhotbah besar kita telah berusaha menghancurkannya. Sejak Buddhisme dan seterusnya, setiap aliran telah berkhotbah menentang kasta, namun setiap kali hal itu justru semakin memperkuat rantai kasta. Kasta hanyalah hasil pertumbuhan dari lembaga-lembaga politik India; ia merupakan serikat dagang berdasarkan keturunan. Persaingan dagang dengan Eropa telah memecahkan kasta lebih dari pengajaran apa pun.
T.—Apakah keistimewaan Veda?
J.—Salah satu keistimewaan Veda adalah bahwa Veda merupakan satu-satunya kitab suci yang berulang kali menyatakan bahwa Anda harus melampaui Veda itu sendiri. Veda menyatakan bahwa Veda ditulis hanya untuk pikiran yang masih seperti anak-anak; dan ketika Anda telah dewasa, Anda harus melampauinya.
T.—Apakah Anda berpendapat bahwa jiwa individual bersifat nyata secara abadi?
J.—Jiwa individual terdiri dari pikiran-pikiran manusia, dan pikiran-pikiran itu berubah setiap saat. Oleh karena itu, jiwa individual tidak dapat bersifat nyata secara abadi. Ia hanya nyata dalam tataran fenomenal. Individu terdiri dari ingatan dan pikiran; bagaimana hal itu bisa nyata?
T.—Mengapa Buddhisme sebagai agama mengalami kemunduran di India?
J.—Buddhisme sesungguhnya tidak mengalami kemunduran di India; ia hanyalah sebuah gerakan sosial yang sangat besar. Sebelum Buddha, sejumlah besar hewan disembelih untuk kurban dan keperluan lain, dan orang-orang meminum minuman keras serta makan daging dalam jumlah besar. Sejak ajaran Buddha, kemabukan hampir lenyap, dan penyembelihan hewan hampir tidak ada lagi.
English
II
(At the Twentieth Century Club of Boston, U. S. A.)
Q.—Did Vedanta exert any influence over Mohammedanism?
A.—This Vedantic spirit of religious liberality has very much affected Mohammedanism. Mohammedanism in India is quite a different thing from that in any other country. It is only when Mohammedans come from other countries and preach to their co-religionists in India about living with men who are not of their faith that a Mohammedan mob is aroused and fights.
Q.—Does Vedanta recognise caste?
A.—The caste system is opposed to the religion of the Vedanta. Caste is a social custom, and all our great preachers have tried to break it down. From Buddhism downwards, every sect has preached against caste, and every time it has only riveted the chains. Caste is simply the outgrowth of the political institutions of India; it is a hereditary trade guild. Trade competition with Europe has broken caste more than any teaching.
Q.—What is the peculiarity of the Vedas?
A.—One peculiarity of the Vedas is that they are the only scriptures that again and again declare that you must go beyond them. The Vedas say that they were written just for the child mind; and when you have grown, you must go beyond them.
Q.—Do you hold the individual soul to be eternally real?
A.—The individual soul consists of a man's thoughts, and they are changing every moment. Therefore, it cannot be eternally real. It is real only in the phenomenal. The individual consists of memory and thought, how can that be real?
Q.—Why did Buddhism as a religion decline in India?
A.—Buddhism did not really decline in India; it was only a gigantic social movement. Before Buddha great numbers of animals were killed for sacrifice and other reasons, and people drank wine and ate meat in large quantities. Since Buddha's teaching drunkenness has almost disappeared, and the killing of animals has almost gone.
Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.