Arsip Vivekananda

Persiapan

Jilid4 lecture
3,248 kata · 13 menit baca · Addresses on Bhakti-Yoga

Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.

AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.

Bahasa Indonesia

PERSIAPAN

Definisi terbaik dari Bhakti-Yoga (jalan pengabdian) barangkali terangkum dalam bait berikut: "Semoga cinta tak pernah padam yang dimiliki oleh mereka yang tak memiliki kearifan pembeda terhadap objek-objek indra yang fana itu tidak pernah meninggalkan hatiku ini — hati saya yang mencari-Mu!" Kita melihat betapa kuatnya cinta yang dimiliki manusia, yang belum mengenal hal yang lebih tinggi, terhadap objek-objek indra, terhadap uang, pakaian, istri, anak-anak, sahabat, dan harta benda mereka. Betapa luar biasa kelekatan mereka terhadap semua hal itu! Maka di dalam doa di atas, sang bijak berkata, "Aku akan memiliki kelekatan itu, kelekatan yang luar biasa itu, hanya kepada-Mu." Cinta semacam ini, ketika diarahkan kepada Tuhan, disebut bhakti (pengabdian kasih). Bhakti tidak bersifat merusak; ia mengajarkan kepada kita bahwa tidak satu pun dari kemampuan yang kita miliki diberikan dengan sia-sia, bahwa melalui kemampuan-kemampuan itulah jalan alamiah untuk mencapai pembebasan. Bhakti tidak membunuh kecenderungan-kecenderungan kita, ia tidak menentang kodrat, melainkan hanya memberinya arah yang lebih tinggi dan lebih perkasa. Betapa alaminya kita mencintai objek-objek indra! Kita tidak dapat tidak melakukannya, sebab hal-hal itu begitu nyata bagi kita. Pada umumnya kita tidak melihat sesuatu yang nyata pada hal-hal yang lebih tinggi; namun ketika seseorang telah melihat sesuatu yang nyata di balik indra, di balik alam semesta indra, gagasannya adalah bahwa ia dapat memiliki kelekatan yang kuat, hanya saja kelekatan itu harus dialihkan kepada objek di luar indra, yakni Tuhan. Dan apabila cinta yang sama yang sebelumnya diberikan kepada objek-objek indra itu diberikan kepada Tuhan, maka itu disebut bhakti. Menurut sang bijak Ramanuja, berikut ini adalah persiapan-persiapan untuk memperoleh cinta yang menggebu itu.

Yang pertama adalah viveka (kearifan pembeda). Ini adalah hal yang sangat ganjil, terutama bagi orang-orang Barat. Menurut Ramanuja, ia berarti "pembedaan tentang makanan". Makanan mengandung segala energi yang membentuk daya-daya tubuh dan pikiran kita; energi itu telah dialihkan, dilestarikan, dan diberi arah baru di dalam tubuh saya, tetapi tubuh dan pikiran saya pada hakikatnya tidak berbeda dari makanan yang saya santap. Sebagaimana daya dan materi yang kita temukan di dunia material menjadi tubuh dan pikiran di dalam diri kita, demikian pula pada hakikatnya, perbedaan antara tubuh dan pikiran dengan makanan yang kita makan hanyalah pada perwujudannya. Karena demikian halnya, dari partikel-partikel material makanan kita, kita menyusun instrumen pemikiran, dan dari daya-daya yang lebih halus yang terkandung dalam partikel-partikel ini, kita menghasilkan pemikiran itu sendiri, maka sudah barang tentu, baik pemikiran maupun instrumennya akan dimodifikasi oleh makanan yang kita santap. Ada jenis-jenis makanan tertentu yang menghasilkan perubahan tertentu pada pikiran; kita menyaksikannya setiap hari. Ada jenis-jenis lain yang menghasilkan perubahan pada tubuh, dan dalam jangka panjang memberi pengaruh luar biasa pada pikiran. Ini hal yang penting untuk dipelajari; sebagian besar penderitaan yang kita alami disebabkan oleh makanan yang kita santap. Anda akan menemukan bahwa setelah makan yang berat dan sukar dicerna, sangatlah sulit mengendalikan pikiran; ia berlari, terus-menerus berlari. Ada makanan-makanan tertentu yang merangsang; jika Anda menyantap makanan demikian, Anda akan mendapati bahwa Anda tidak dapat mengendalikan pikiran. Jelas bahwa setelah meminum anggur dalam jumlah besar, atau minuman beralkohol lainnya, seseorang akan mendapati bahwa pikirannya tidak akan dapat dikendalikan; pikiran itu lepas dari kendalinya.

Menurut Ramanuja, ada tiga hal dalam makanan yang harus kita hindari. Pertama, ada Jati, sifat atau jenis makanan, yang harus dipertimbangkan. Semua makanan yang merangsang harus dihindari, seperti daging, misalnya; daging tidak seharusnya disantap karena pada hakikatnya tidak murni. Kita hanya bisa memperolehnya dengan mengambil nyawa makhluk lain. Kita mendapatkan kenikmatan sesaat, dan makhluk lain harus menyerahkan nyawanya untuk memberi kita kenikmatan itu. Tidak hanya itu, kita juga merusak akhlak sesama manusia. Akan lebih baik jika setiap orang yang menyantap daging menyembelih sendiri binatang itu; tetapi alih-alih melakukannya, masyarakat mempekerjakan sekelompok orang untuk melakukan urusan itu bagi mereka, dan karena mengerjakan hal itu, masyarakat justru membenci mereka. Di Inggris, seorang penjagal tidak boleh menjadi anggota juri, dengan gagasan bahwa ia bersifat kejam karena tabiatnya. Siapa yang membuatnya kejam? Masyarakat. Andaikan kita tidak menyantap daging sapi dan daging kambing, niscaya tidak akan ada penjagal. Memakan daging hanya dapat dibenarkan bagi orang-orang yang melakukan pekerjaan yang sangat berat, dan yang tidak hendak menjadi seorang bhakta; namun jika Anda hendak menjadi seorang bhakta, Anda harus menghindari daging. Demikian pula, semua makanan yang merangsang, seperti bawang merah, bawang putih, dan semua makanan yang berbau busuk, seperti "sauerkraut". Setiap makanan yang telah dibiarkan berhari-hari, sehingga kondisinya berubah, setiap makanan yang sari-sari alaminya hampir mengering, setiap makanan yang berbau tidak sedap, harus dihindari.

Hal berikutnya yang harus dipertimbangkan mengenai makanan terasa lebih rumit lagi bagi pikiran Barat — yaitu apa yang disebut Ashraya, yakni orang dari mana makanan itu berasal. Ini adalah teori orang Hindu yang agak misterius. Gagasannya adalah bahwa setiap manusia memiliki semacam aura di sekelilingnya, dan apa pun yang ia sentuh, sebagian dari watak, seolah-olah, pengaruhnya, tertinggal pada benda itu. Diandaikan bahwa watak seseorang memancar darinya, seolah-olah, seperti suatu daya fisik, dan apa pun yang ia sentuh akan terpengaruh olehnya. Maka kita harus memperhatikan siapa yang menyentuh makanan kita ketika sudah dimasak; orang yang jahat atau tidak bermoral tidak boleh menyentuhnya. Orang yang hendak menjadi seorang bhakta tidak boleh makan bersama orang-orang yang ia tahu sangat jahat, sebab penularan dari mereka akan datang melalui makanan.

Bentuk lain dari kesucian yang harus diperhatikan adalah Nimitta, atau instrumen. Kotoran dan debu tidak boleh ada dalam makanan. Makanan tidak boleh dibawa dari pasar dan diletakkan di meja tanpa dicuci. Kita juga harus berhati-hati mengenai air liur dan sekresi lainnya. Bibir tidak pernah seharusnya, misalnya, disentuh dengan jari. Selaput lendir adalah bagian tubuh yang paling halus, dan semua kecenderungan sangat mudah ditularkan melalui air liur. Karena itu, persentuhannya harus dipandang bukan hanya menjijikkan, tetapi juga berbahaya. Selanjutnya, kita tidak boleh menyantap makanan yang separuhnya telah dimakan oleh orang lain. Apabila hal-hal ini dihindari dalam makanan, maka makanan itu menjadi murni; makanan yang murni mendatangkan pikiran yang murni, dan dalam pikiran yang murni terdapat ingatan yang tetap akan Tuhan.

Izinkan saya menyampaikan hal yang sama sebagaimana dijelaskan oleh penafsir lain, Shankaracharya, yang mengambil pandangan yang sama sekali berbeda. Kata untuk makanan dalam bahasa Sanskerta ini berasal dari akar kata yang berarti mengumpulkan. Ahara berarti "yang dikumpulkan". Apa penjelasannya? Ia berkata bahwa ucapan yang menyatakan ketika makanan murni maka pikiran akan menjadi murni, sesungguhnya bermakna bahwa agar kita tidak tunduk kepada indra, kita harus menghindari hal-hal berikut: Pertama, mengenai kelekatan; kita tidak boleh sangat terlekat kepada apa pun kecuali kepada Tuhan. Lihatlah segala sesuatu, lakukanlah segala sesuatu, tetapi jangan terlekat. Begitu kelekatan yang ekstrem itu datang, seseorang kehilangan dirinya, ia bukan lagi tuan atas dirinya sendiri, ia menjadi budak. Apabila seorang perempuan sangat terlekat kepada seorang laki-laki, ia menjadi budak laki-laki itu. Tidak ada gunanya menjadi budak. Ada hal-hal yang lebih tinggi di dunia ini daripada menjadi budak seorang manusia. Cintailah dan berbuat baiklah kepada setiap orang, tetapi jangan menjadi budak. Pertama, kelekatan merosotkan kita secara pribadi, dan kedua, menjadikan kita sangat mementingkan diri sendiri. Karena kelemahan ini, kita ingin melukai orang lain demi berbuat baik kepada mereka yang kita kasihi. Banyak sekali perbuatan jahat yang dilakukan di dunia ini sesungguhnya dilakukan karena kelekatan terhadap orang-orang tertentu. Oleh karena itu, segala kelekatan kecuali kelekatan pada perbuatan baik harus dihindari; tetapi cinta harus diberikan kepada setiap orang. Selanjutnya mengenai kecemburuan. Tidak boleh ada kecemburuan terhadap objek-objek indra; kecemburuan adalah akar dari segala kejahatan, dan hal yang paling sulit untuk ditaklukkan. Berikutnya, delusi. Kita selalu menganggap satu hal sebagai hal yang lain, dan bertindak berdasarkan itu, dengan akibat bahwa kita menimpakan penderitaan atas diri kita sendiri. Kita menganggap yang buruk sebagai yang baik. Apa pun yang sejenak merangsang saraf kita, kita anggap sebagai kebaikan tertinggi, dan kita segera terjun ke dalamnya, namun mendapati, ketika sudah terlambat, bahwa hal itu telah memberi kita pukulan yang dahsyat. Setiap hari kita terjerumus ke dalam kesalahan ini, dan kita seringkali tetap di dalamnya seumur hidup kita. Ketika indra-indra, tanpa terlekat berlebihan, tanpa kecemburuan, atau tanpa delusi, bekerja di dunia, maka pekerjaan atau kumpulan kesan semacam itu disebut makanan yang murni, menurut Shankaracharya. Apabila makanan yang murni disantap, pikiran mampu menerima objek-objek dan memikirkannya tanpa kelekatan, kecemburuan, atau delusi; kemudian pikiran menjadi murni, dan kemudian ada ingatan yang tetap akan Tuhan di dalam pikiran itu.

Wajar saja jika seseorang mengatakan bahwa makna Shankara adalah yang terbaik, namun saya ingin menambahkan bahwa orang tidak boleh mengabaikan penafsiran Ramanuja juga. Hanya apabila Anda memperhatikan makanan material yang sesungguhnya, barulah yang lain akan menyusul. Memang benar bahwa pikiran adalah tuannya, tetapi sedikit sekali di antara kita yang tidak terikat oleh indra. Kita semua dikendalikan oleh materi; dan selama kita dikendalikan demikian, kita harus menggunakan bantuan material; baru kemudian, ketika kita telah menjadi kuat, kita dapat makan atau minum apa pun yang kita sukai. Kita harus mengikuti Ramanuja dalam memperhatikan makanan dan minuman; sekaligus kita juga harus memperhatikan makanan mental kita. Sangat mudah memperhatikan makanan material, tetapi pekerjaan mental harus berjalan beriringan dengannya; kemudian secara bertahap diri spiritual kita akan menjadi semakin kuat, dan diri fisik akan kurang menonjolkan diri. Maka makanan tidak akan menyakiti Anda lagi. Bahaya besarnya adalah bahwa setiap orang ingin melompat ke cita-cita tertinggi, tetapi melompat bukanlah jalannya. Itu hanya berakhir dengan terjatuh. Kita terikat di sini, dan kita harus memutuskan rantai kita secara perlahan-lahan. Inilah yang disebut viveka, kearifan pembeda.

Berikutnya disebut Vimoka, kebebasan dari hasrat. Ia yang ingin mencintai Tuhan harus melepaskan hasrat-hasrat yang ekstrem, tidak menginginkan apa pun kecuali Tuhan. Dunia ini baik sejauh ia menolong seseorang untuk pergi ke dunia yang lebih tinggi. Objek-objek indra baik sejauh ia menolong kita mencapai objek-objek yang lebih tinggi. Kita selalu lupa bahwa dunia ini adalah sarana menuju tujuan, dan bukanlah tujuan itu sendiri. Andaikan ini adalah tujuannya, niscaya kita akan abadi di sini dalam tubuh fisik kita; kita tidak akan pernah mati. Tetapi kita melihat orang setiap saat meninggal di sekitar kita, namun, dengan bodohnya, kita berpikir bahwa kita tidak akan pernah mati; dan dari keyakinan itu kita sampai pada anggapan bahwa kehidupan ini adalah tujuannya. Demikianlah keadaan sembilan puluh sembilan persen dari kita. Anggapan ini harus segera ditinggalkan. Dunia ini baik sejauh ia merupakan sarana untuk menyempurnakan diri kita; dan begitu ia tidak lagi demikian, ia menjadi jahat. Demikian pula istri, suami, anak-anak, uang, dan ilmu, semuanya baik selama ia membantu kita maju; tetapi begitu ia berhenti melakukan itu, semuanya tidak lain hanyalah kejahatan. Apabila istri menolong kita mencapai Tuhan, ia adalah istri yang baik; demikian pula dengan suami atau anak. Apabila uang menolong seseorang berbuat baik kepada orang lain, ia memiliki nilai tertentu; tetapi jika tidak, ia hanyalah segumpal kejahatan, dan semakin cepat ia disingkirkan, semakin baik.

Berikutnya adalah Abhyasa, latihan. Pikiran harus selalu menuju Tuhan. Tidak ada hal lain yang berhak menahannya. Ia harus terus-menerus memikirkan Tuhan, meskipun ini tugas yang sangat berat; namun ia dapat dilakukan dengan latihan yang gigih. Apa adanya kita sekarang adalah hasil latihan kita di masa lalu. Sekali lagi, latihan menjadikan kita seperti apa kita kelak. Maka berlatihlah ke arah yang berlawanan; satu macam berputar telah membawa kita ke jalan ini, berputarlah ke arah yang lain dan keluarlah darinya secepat mungkin. Memikirkan indra-indra telah menjatuhkan kita ke sini — menangis sesaat, bersuka cita di saat berikutnya, berada dalam belas kasihan setiap embusan angin, budak dari segala hal. Ini memalukan, namun kita menyebut diri kita roh. Pergilah ke arah yang lain, pikirkanlah Tuhan; jangan biarkan pikiran memikirkan kenikmatan fisik atau mental apa pun, melainkan hanya Tuhan saja. Ketika ia mencoba memikirkan hal lain, berilah ia pukulan yang baik, agar ia berbalik dan memikirkan Tuhan. Sebagaimana minyak yang dituang dari satu wadah ke wadah lain jatuh dalam garis yang tidak terputus, sebagaimana dentang lonceng yang datang dari kejauhan jatuh ke telinga sebagai satu bunyi yang berkesinambungan, demikianlah pikiran harus mengalir menuju Tuhan dalam satu aliran yang tidak terputus. Kita tidak hanya harus memberlakukan latihan ini pada pikiran, tetapi indra-indra juga harus dipekerjakan. Alih-alih mendengar hal-hal yang bodoh, kita harus mendengar tentang Tuhan; alih-alih mengucapkan kata-kata yang bodoh, kita harus berbicara tentang Tuhan. Alih-alih membaca buku-buku yang bodoh, kita harus membaca buku-buku yang baik yang menceritakan tentang Tuhan.

Bantuan terbesar untuk latihan menjaga ingatan akan Tuhan ini barangkali adalah musik. Sang Hyang berkata kepada Narada, guru bhakti yang agung, "Aku tidak tinggal di surga, juga tidak tinggal di dalam hati sang Yogi, melainkan di mana para pemuja-Ku menyanyikan pujian-Ku, di situlah Aku." Musik memiliki kekuatan yang luar biasa atas pikiran manusia; ia membawanya pada pemusatan dalam sekejap. Anda akan menemukan manusia yang tumpul, bodoh, rendah, dan menyerupai binatang, yang tidak pernah menstabilkan pikiran mereka sesaat pun pada waktu lain, ketika mereka mendengar musik yang memikat, segera menjadi terpesona dan terpusat. Bahkan pikiran binatang, seperti anjing, singa, kucing, dan ular, menjadi terpesona oleh musik.

Berikutnya adalah Kriya, pekerjaan — berbuat baik kepada orang lain. Ingatan akan Tuhan tidak akan datang kepada orang yang mementingkan diri sendiri. Semakin kita keluar dan berbuat baik kepada orang lain, semakin hati kita akan dimurnikan, dan Tuhan akan ada di dalamnya. Menurut kitab-kitab suci kita, ada lima macam pekerjaan, yang disebut pengorbanan lima lipat. Pertama, mempelajari. Seseorang harus mempelajari setiap hari sesuatu yang suci dan baik. Kedua, pemujaan kepada Tuhan, para malaikat, atau para suci, sebagaimana mestinya. Ketiga, kewajiban kita kepada para leluhur kita. Keempat, kewajiban kita kepada sesama manusia. Manusia tidak berhak tinggal di rumah sendiri, sampai ia juga membangun bagi mereka yang miskin, atau bagi siapa pun yang membutuhkannya. Rumah seorang perumah tangga harus terbuka bagi setiap orang yang miskin dan menderita; barulah ia menjadi perumah tangga yang sesungguhnya. Apabila ia membangun rumah hanya untuk dirinya dan istrinya untuk dinikmati, ia tidak akan pernah menjadi pecinta Tuhan. Tidak ada orang yang berhak memasak makanan hanya untuk dirinya sendiri; makanan itu untuk orang lain, dan ia harus mengambil apa yang tersisa. Sudah merupakan kebiasaan umum di India bahwa ketika hasil panen pertama musim itu masuk ke pasar, seperti stroberi atau mangga, seseorang membeli sebagian dan memberikan kepada yang miskin. Kemudian ia memakannya; dan ini adalah teladan yang sangat baik untuk diikuti di negeri ini. Pelatihan ini akan menjadikan seseorang tidak mementingkan diri sendiri, dan sekaligus, menjadi pelajaran yang sangat baik bagi istri dan anak-anaknya. Bangsa Ibrani pada zaman dahulu biasa mempersembahkan buah pertama kepada Tuhan. Yang pertama dari segala sesuatu harus diberikan kepada yang miskin; kita hanya berhak atas apa yang tersisa. Yang miskin adalah perwakilan Tuhan; siapa pun yang menderita adalah perwakilan-Nya. Tanpa memberi, ia yang makan dan menikmati makan, menikmati dosa. Kelima, kewajiban kita kepada binatang-binatang yang lebih rendah. Adalah kejahatan untuk mengatakan bahwa semua binatang diciptakan bagi manusia untuk dibunuh dan dipakai dengan cara apa pun yang manusia sukai. Itu adalah injil iblis, bukan injil Tuhan. Pikirkanlah betapa keji memotong-motong mereka untuk melihat apakah suatu saraf bergetar atau tidak, pada bagian tubuh tertentu. Saya bersyukur bahwa di negeri kami hal-hal semacam itu tidak direstui oleh orang-orang Hindu, betapapun dorongan yang mungkin mereka terima dari pemerintah asing yang berkuasa atas mereka. Sebagian dari makanan yang dimasak di sebuah rumah tangga juga merupakan milik binatang. Mereka harus diberi makan setiap hari; harus ada rumah sakit di setiap kota di negeri ini untuk kuda, sapi, anjing, dan kucing yang miskin, pincang, atau buta, di mana mereka harus diberi makan dan dirawat.

Lalu ada Kalyana, kesucian, yang meliputi hal-hal berikut: Satya, kebenaran. Ia yang benar, kepadanya Tuhan kebenaran akan datang. Pikiran, perkataan, dan perbuatan harus benar secara sempurna. Berikutnya Arjava, ketulusan, kelurusan hati. Kata itu berarti, bersikap sederhana, tidak ada kebengkokan di hati, tidak ada permainan dua sisi. Bahkan jika agak keras, berlakulah lurus, dan bukan bengkok. Daya, belas kasihan, welas asih. Ahimsa, tidak melukai makhluk apa pun dengan pikiran, perkataan, atau perbuatan. Dana, kedermawanan. Tidak ada kebajikan yang lebih tinggi daripada kedermawanan. Orang yang paling rendah adalah ia yang tangannya menarik masuk, dalam menerima; dan ia adalah orang yang paling tinggi yang tangannya terjulur dalam memberi. Tangan diciptakan untuk selalu memberi. Berikanlah sepotong roti terakhir yang Anda miliki sekalipun Anda kelaparan. Anda akan bebas dalam sekejap apabila Anda membiarkan diri Anda sendiri kelaparan sampai mati karena memberi kepada orang lain. Seketika Anda akan sempurna, Anda akan menjadi Tuhan. Orang-orang yang memiliki anak sudah terikat. Mereka tidak dapat memberi pergi. Mereka ingin menikmati anak-anak mereka, dan mereka harus membayarnya. Tidakkah sudah cukup banyak anak di dunia ini? Hanyalah keegoisan yang mengatakan, "Aku akan memiliki seorang anak untuk diriku sendiri".

Berikutnya adalah Anavasada — tidak berkeluh kesah, keceriaan. Keputusasaan bukanlah agama, apa pun mungkin ia itu. Dengan selalu menyenangkan dan tersenyum, ia membawa Anda lebih dekat kepada Tuhan, lebih dekat daripada doa apa pun. Bagaimana pikiran-pikiran yang muram dan tumpul dapat mencintai? Apabila mereka berbicara tentang cinta, itu palsu; mereka ingin melukai orang lain. Pikirkanlah para fanatik; mereka memasang wajah yang paling masam, dan seluruh agama mereka adalah berperang melawan orang lain dengan perkataan dan perbuatan. Pikirkanlah apa yang telah mereka lakukan di masa lalu, dan apa yang akan mereka lakukan sekarang andaikata mereka diberi tangan yang bebas. Mereka akan membanjiri seluruh dunia dengan darah esok hari apabila itu akan membawa mereka kekuasaan. Dengan memuja kekuasaan dan memasang wajah masam, mereka kehilangan setiap setitik cinta dari hati mereka. Maka orang yang selalu merasa sengsara tidak akan pernah sampai kepada Tuhan. Bukan agama, melainkan kejahatan untuk mengatakan, "Saya sangat sengsara." Setiap orang memiliki bebannya sendiri untuk dipikul. Apabila Anda sengsara, cobalah untuk berbahagia, cobalah untuk menaklukkannya.

Tuhan tidak dapat dicapai oleh yang lemah. Janganlah pernah lemah. Anda harus kuat; Anda memiliki kekuatan tak terbatas di dalam diri Anda. Bagaimana lagi Anda akan menaklukkan apa pun? Bagaimana lagi Anda akan sampai kepada Tuhan? Pada saat yang sama Anda harus menghindari keceriaan yang berlebihan, Uddharsha, sebagaimana ia disebut. Pikiran dalam keadaan demikian tidak pernah menjadi tenang; ia menjadi labil. Keceriaan yang berlebihan akan selalu diikuti oleh kesedihan. Air mata dan tawa adalah kerabat dekat. Orang seringkali berlari dari satu ujung ekstrem ke ujung yang lain. Biarkanlah pikiran ceria, tetapi tenang. Janganlah pernah membiarkannya jatuh ke dalam yang berlebihan, sebab setiap yang berlebihan akan diikuti oleh reaksi.

Inilah, menurut Ramanuja, persiapan-persiapan untuk bhakti.

English

THE PREPARATION

The best definition given of Bhakti-Yoga is perhaps embodied in the verse: "May that love undying which the non-discriminating have for the fleeting objects of the senses never leave this heart of mine — of me who seek after Thee!" We see what a strong love men, who do not know any better, have for sense-objects, for money, dress, their wives, children, friends, and possessions. What a tremendous clinging they have to all these things! So in the above prayer the sage says, "I will have that attachment, that tremendous clinging, only to Thee." This love, when given to God, is called Bhakti. Bhakti is not destructive; it teaches us that no one of the faculties we have has been given in vain, that through them is the natural way to come to liberation. Bhakti does not kill out our tendencies, it does not go against nature, but only gives it a higher and more powerful direction. How naturally we love objects of the senses! We cannot but do so, because they are so real to us. We do not ordinarily see anything real about higher things, but when a man has seen something real beyond the senses, beyond the universe of senses, the idea is that he can have a strong attachment, only it should be transferred to the object beyond the senses, which is God. And when the same kind of love that has before been given to sense-objects is given to God, it is called Bhakti. According to the sage Râmânuja, the following are the preparations for getting that intense love.

The first is Viveka. It is a very curious thing, especially to people of the West. It means, according to Ramanuja, "discrimination of food". Food contains all the energies that go to make up the forces of our body and mind; it has been transferred, and conserved, and given new directions in my body, but my body and mind have nothing essentially different from the food that I ate. Just as the force and matter we find in the material world become body and mind in us, so, essentially, the difference between body and mind and the food we eat is only in manifestation. It being so, that out of the material particles of our food we construct the instrument of thought, and that from the finer forces lodged in these particles we manufacture thought itself, it naturally follows, that both this thought and the instrument will be modified by the food we take. There are certain kinds of food that produce a certain change in the mind; we see it every day. There are other sorts which produce a change in the body, and in the long run have a tremendous effect on the mind. It is a great thing to learn; a good deal of the misery we suffer is occasioned by the food we take. You find that after a heavy and indigestible meal it is very hard to control the mind; it is running, running all the time. There are certain foods which are exciting; if you eat such food, you find that you cannot control the mind. It is obvious that after drinking a large quantity of wine, or other alcoholic beverage, a man finds that his mind would not be controlled; it runs away from his control.

According to Ramanuja, there are three things in food we must avoid. First, there is Jâti, the nature, or species of the food, that must be considered. All exciting food should be avoided, as meat, for instance; this should not be taken because it is by its very nature impure. We can get it only by taking the life of another. We get pleasure for a moment, and another creature has to give up its life to give us that pleasure. Not only so, but we demoralise other human beings. It would be rather better if every man who eats meat killed the animal himself; but, instead of doing so, society gets a class of persons to do that business for them, for doing which, it hates them. In England no butcher can serve on a jury, the idea being that he is cruel by nature. Who makes him cruel? Society. If we did not eat beef and mutton, there would be no butchers. Eating meat is only allowable for people who do very hard work, and who are not going to be Bhaktas; but if you are going to be Bhaktas, you should avoid meat. Also, all exciting foods, such as onions, garlic, and all evil-smelling food, as "sauerkraut". Any food that has been standing for days, till its condition is changed, any food whose natural juices have been almost dried ups any food that is malodorous, should be avoided.

The next thing that is to be considered as regards food is still more intricate to Western minds — it is what is called Âshraya, i.e. the person from whom it comes This is rather a mysterious theory of the Hindus. The idea is that each man has a certain aura round him, and whatever thing he touches, a part of his character, as it were, his influence, is left on it. It is supposed that a man's character emanates from him, as it were, like a physical force, and whatever he touches is affected by it. So we must take care who touches our food when it is cooked; a wicked or immoral person must not touch it. One who wants to be a Bhakta must not dine with people whom he knows to be very wicked, because their infection will come through the food.

The other form of purity to be observed is Nimitta, or instruments. Dirt and dust must not be in food. Food should not be brought from the market and placed on the table unwashed. We must be careful also about the saliva and other secretions. The lips ought never, for instance, to be touched with the fingers. The mucous membrane is the most delicate part of the body, and all tendencies are conveyed very easily by the saliva. Its contact, therefore, is to be regarded as not only offensive, but dangerous. Again, we must not eat food, half of which has been eaten by someone else. When these things are avoided in food, it becomes pure; pure food brings a pure mind, and in a pure mind is a constant memory of God.

Let me tell you the same thing as explained by another commentator, Shankarâchârya, who takes quite another view. This word for food, in Sanskrit, is derived from the root, meaning to gather. Âhâra means "gathered in". What is his explanation? He says, the passage that when food is pure the mind will become pure really means that lest we become subject to the senses we should avoid the following: First as to attachment; we must not be extremely attached to anything excepting God. See everything, do everything, but be not attached. As soon as extreme attachment comes, a man loses himself, he is no more master of himself, he is a slave. If a woman is tremendously attached to a man, she becomes a slave to that man. There is no use in being a slave. There are higher things in this world than becoming a slave to a human being. Love and do good to everybody, but do not become a slave. In the first place, attachment degenerates us, individually, and in the second place, makes us extremely selfish. Owing to this failing, we want to injure others to do good to those we love. A good many of the wicked deeds done in this world are really done through attachment to certain persons. So all attachment excepting that for good works should be avoided; but love should be given to everybody. Then as to jealousy. There should be no jealousy in regard to objects of the senses; jealousy is the root of all evil, and a most difficult thing to conquer. Next, delusion. We always take one thing for another, and act upon that, with the result that we bring misery upon ourselves. We take the bad for the good. Anything that titillates our nerves for a moment we think; as the highest good, and plunge into it immediately, but find, when it is too late, that it has given us a tremendous blow. Every day, we run into this error, and we often continue in it all our lives. When the senses, without being extremely attached, without jealousy, or without delusion, work in the world, such work or collection of impressions is called pure food, according to Shankaracharya. When pure food is taken, the mind is able to take in objects and think about them without attachment, jealousy or delusion; then the mind becomes pure, and then there is constant memory of God in that mind.

It is quite natural for one to say that Shankara's meaning is the best, but I wish to add that one should not neglect Ramanuja's interpretation either. It is only when you take care of the real material food that the rest will come. It is very true that mind is the master, but very few of us are not bound by the senses. We are all controlled by matter; and as long as we are so controlled, we must take material aids; and then, when we have become strong, we can eat or drink anything we like. We have to follow Ramanuja in taking care about food and drink; at the same time we must also take care about our mental food. It is very easy to take care about material food, but mental work must go along with it; then gradually our spiritual self will become stronger and stronger, and the physical self less assertive. Then will food hurt you no more. The great danger is that every man wants to jump at the highest ideal, but jumping is not the way. That ends only in a fall. We are bound down here, and we have to break our chains slowly. This is called Viveka, discrimination.

The next is called Vimoka, freedom from desires. He who wants to love God must get rid of extreme desires, desire nothing except God. This world is good so far as it helps one to go to the higher world. The objects of the senses are good so far as they help us to attain higher objects. We always forget that this world is a means to an end, and not an end itself. If this were the end we should be immortal here in our physical body; we should never die. But we see people every moment dying around us, and yet, foolishly, we think we shall never die; and from that conviction we come to think that this life is the goal. That is the case with ninety-nine per cent of us. This notion should be given up at once. This world is good so far as it is a means to perfect ourselves; and as soon as it has ceased to be so, it is evil. So wife, husband, children, money and learning, are good so long as they help us forward; but as soon as they cease to do that, they are nothing but evil. If the wife help us to attain God, she is a good wife; so with a husband or a child. If money help a man to do good to others, it is of some value; but if not, it is simply a mass of evil, and the sooner it is got rid of, the better.

The next is Abhyâsa, practice. The mind should always go towards God. No other things have any right to withhold it. It should continuously think of God, though this is a very hard task; yet it can be done by persistent practice. What we are now is the result of our past practice. Again, practice makes us what we shall be. So practice the other way; one sort of turning round has brought us this way, turn the other way and get out of it as soon as you can. Thinking of the senses has brought us down here — to cry one moment, to rejoice the next, to be at the mercy of every breeze, slave to everything. This is shameful, and yet we call ourselves spirits. Go the other way, think of God; let the mind not think of any physical or mental enjoyment, but of God alone. When it tries to think of anything else, give it a good blow, so that it may turn round and think of God. As oil poured from one vessel to another falls in an unbroken line, as chimes coming from a distance fall upon the ear as one continuous sound, so should the mind flow towards God in one continuous stream. We should not only impose this practice on the mind, but the senses too should be employed. Instead of hearing foolish things, we must hear about God; instead of talking foolish words, we must talk of God. Instead of reading foolish books, we must read good ones which tell of God.

The greatest aid to this practice of keeping God in memory is, perhaps, music. The Lord says to Nârada, the great teacher of Bhakti, "I do not live in heaven, nor do I live in the heart of the Yogi, but where My devotees sing My praise, there am I". Music has such tremendous power over the human mind; it brings it to concentration in a moment. You will find the dull, ignorant, low, brute-like human beings, who never steady their mind for a moment at other times, when they hear attractive music, immediately become charmed and concentrated. Even the minds of animals, such as dogs, lions, cats, and serpents, become charmed with music.

The next is Kriyâ, work — doing good to others. The memory of God will not come to the selfish man. The more we come out and do good to others, the more our hearts will be purified, and God will be in them. According to our scriptures, there are five sorts of work, called the fivefold sacrifice. First, study. A man must study every day something holy and good. Second, worship of God, angels, or saints, as it may be. Third, our duty to our forefathers. Fourth, our duty to human beings. Man has no right to live in a house himself, until he builds for the poor also, or for anybody who needs it. The householder's house should be open to everybody that is poor and suffering; then he is a real householder. If he builds a house only for himself and his wife to enjoy, he will never be a lover of God. No man has the right to cook food only for himself; it is for others, and he should have what remains. It is a common practice in India that when the season's produce first comes into the market, such as strawberries or mangoes, a man buys some of them and gives to the poor. Then he eats of them; and it is a very good example to follow in this country. This training will make a man unselfish, and at the same time, be an excellent object-lesson to his wife and children. The Hebrews in olden times used to give the first fruits to God. The first of everything should go to the poor; we have only a right to what remains. The poor are God's representatives; anyone that suffers is His representative. Without giving, he who eats and enjoys eating, enjoys sin. Fifth, our duty to the lower animals. It is diabolical to say that all animals are created for men to be killed and used in any way man likes. It is the devil's gospel, not God's. Think how diabolical it is to cut them up to see whether a nerve quivers or not, in a certain part of the body. I am glad that in our country such things are not countenanced by the Hindus, whatever encouragement they may get from the foreign government they are under. One portion of the food cooked in a household belongs to the animals also. They should be given food every day; there ought to be hospitals in every city in this country for poor, lame, or blind horses, cows, dogs, and cats, where they should be fed and taken care of.

Then there is Kalyâna, purity, which comprises the following: Satya, truthfulness. He who is true, unto him the God of truth comes. Thought, word, and deed should be perfectly true. Next Ârjava, straightforwardness, rectitude. The word means, to be simple, no crookedness in the heart, no double-dealing. Even if it is a little harsh, go straightforward, and not crookedly. Dayâ, pity, compassion. Ahimsâ, not injuring any being by thought, word, or deed. Dâna, charity. There is no higher virtue than charity. The lowest man is he whose hand draws in, in receiving; and he is the highest man whose hand goes out in giving. The hand was made to give always. Give the last bit of bread you have even if you are starving. You will be free in a moment if you starve yourself to death by giving to another. Immediately you will be perfect, you will become God. People who have children are bound already. They cannot give away. They want to enjoy their children, and they must pay for it. Are there not enough children in the world? It is only selfishness which says, "I'll have a child for myself".

The next is Anavasâda — not desponding, cheerfulness. Despondency is not religion, whatever else it may be. By being pleasant always and smiling, it takes you nearer to God, nearer than any prayer. How can those minds that are gloomy and dull love? If they talk of love, it is false; they want to hurt others. Think of the fanatics; they make the longest faces, and all their religion is to fight against others in word and act. Think of what they have done in the past, and of what they would do now if they were given a free hand. They would deluge the whole world in blood tomorrow if it would bring them power. By worshipping power and making long faces, they lose every bit of love from their hearts. So the man who always feels miserable will never come to God. It is not religion, it is diabolism to say, "I am so miserable." Every man has his own burden to bear. If you are miserable, try to be happy, try to conquer it.

God is not to be reached by the weak. Never be weak. You must be strong; you have infinite strength within you. How else will you conquer anything? How else will you come to God? At the same time you must avoid excessive merriment, Uddharsha, as it is called. A mind in that state never becomes calm; it becomes fickle. Excessive merriment will always be followed by sorrow. Tears and laughter are near kin. People so often run from one extreme to the other. Let the mind be cheerful, but calm. Never let it run into excesses, because every excess will be followed by a reaction.

These, according to Ramanuja, are the preparations for Bhakti.


Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.