Pesan India kepada Dunia
Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.
AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.
Bahasa Indonesia
PESAN INDIA UNTUK DUNIA
Catatan berikut ditemukan di antara kertas-kertas Swami Vivekananda. Beliau berniat menulis sebuah buku dan menuliskan empat puluh dua butir sebagai silabus pekerjaan tersebut, tetapi hanya beberapa butir yang sempat dibahasnya sebagai pendahuluan, dan karya itu ditinggalkan dalam keadaan belum selesai. Kami menyajikan naskah tersebut sebagaimana ditemukan.
Silabus
1. Berani telah pesan saya kepada bangsa-bangsa Barat. Lebih berani lagi pesan saya kepada mereka di tanah air.
2. Empat tahun tinggal di Barat yang menakjubkan justru membuat India semakin saya pahami. Bayangannya menjadi lebih pekat dan cahayanya lebih cemerlang.
3. Tinjauan — tidak benar bahwa bangsa India telah merosot.
4. Persoalan di sini sama dengan persoalan yang ada di tempat lain mana pun — yakni asimilasi berbagai bangsa, tetapi tidak pernah di mana pun persoalan itu sebesar di sini.
5. Kesamaan bahasa, pemerintahan, dan terutama agama telah menjadi kekuatan peleburan.
6. Di negeri-negeri lain hal ini diusahakan dengan "paksaan", yakni pemaksaan kebudayaan satu bangsa atas yang lainnya. Hasilnya adalah lahirnya kehidupan nasional yang berkobar-kobar tetapi berumur pendek; lalu, kehancuran.
7. Di India, sebaliknya, upaya-upaya itu selembut persoalannya itu besar, dan sejak masa paling awal, adat istiadat, dan terutama agama-agama dari unsur-unsur yang berbeda, ditoleransi.
8. Di mana persoalan itu kecil dan paksaan cukup untuk membentuk kesatuan, akibatnya sesungguhnya adalah pemupusan dalam tunas berbagai tipe yang sehat di dalam benih dari semua unsur kecuali yang dominan. Hanya satu rangkaian otak yang memanfaatkan mayoritas besar demi kebaikannya sendiri, sehingga sebagian besar kemungkinan perkembangan yang dapat dicapai hilang, dan dengan demikian ketika tipe dominan itu sudah menghabiskan dirinya, bangunan yang tampaknya tak tertembus itu goyah dan runtuh menjadi reruntuhan, misalnya Yunani, Romawi, dan Norman.
9. Bahasa bersama akan menjadi sesuatu yang sangat diinginkan; tetapi kritik yang sama berlaku padanya, yakni penghancuran daya hidup dari bahasa-bahasa yang sudah ada.
10. Satu-satunya solusi yang dapat dicapai adalah menemukan suatu bahasa suci yang agung yang darinya semua bahasa lain dianggap sebagai manifestasi, dan itulah yang ditemukan dalam bahasa Sanskerta.
11. Bahasa-bahasa Dravida mungkin atau mungkin tidak berasal dari Sanskerta, tetapi untuk tujuan praktis kini mereka demikian adanya, dan setiap hari kita melihat mereka semakin mendekati cita-cita itu, namun tetap mempertahankan kekhasan vital yang membedakannya.
12. Suatu latar belakang rasial pun ditemukan — yakni bangsa Arya.
13. Spekulasi apakah ada suatu bangsa yang berbeda dan terpisah yang disebut Arya yang hidup di Asia Tengah hingga Baltik.
14. Apa yang disebut tipe-tipe itu. Ras-ras selalu bercampur.
15. Si "pirang" dan si "berambut gelap".
16. Beralih kepada akal sehat praktis dari yang disebut imajinasi historis. Bangsa Arya, dalam catatan tertua mereka, berada di tanah antara Turkistan dan Punjab dan Tibet Barat Laut.
17. Hal ini mengarah pada upaya peleburan di antara berbagai ras dan suku dengan beragam tingkat kebudayaan.
18. Sebagaimana bahasa Sanskerta menjadi solusi kebahasaan, maka Arya menjadi solusi rasial. Maka kebrahmanaan adalah solusi atas beragamnya tingkat kemajuan dan kebudayaan, demikian pula atas seluruh persoalan sosial dan politik.
19. Cita-cita agung India — kebrahmanaan.
20. Tanpa harta, tanpa pamrih, tidak tunduk pada hukum apa pun, tidak ada raja kecuali yang moral.
21. Kebrahmanaan menurut keturunan — berbagai ras telah mengeklaim dan memperoleh hak tersebut, baik di masa lalu maupun masa kini.
22. Tidak ada klaim yang dibuat oleh pelaku perbuatan-perbuatan besar, hanya oleh orang-orang dungu yang malas dan tidak berharga.
23. Kemerosotan kebrahmanaan dan kekshatriyaan. Purana mengatakan bahwa hanya akan ada non-brahmana di Kali-Yuga, dan itu benar, menjadi semakin benar setiap hari. Namun masih ada sedikit brahmana, dan hanya di India.
24. Kekshatriyaan — kita harus melewatinya untuk menjadi seorang brahmana. Sebagian mungkin telah melewatinya di masa lalu, tetapi masa kini harus membuktikannya.
25. Tetapi pengungkapan seluruh rencana itu terdapat dalam agama.
26. Suku-suku berbeda dari satu ras yang sama memuja dewa-dewa serupa di bawah satu nama generik, seperti para Baal bangsa Babilonia, dan para Molokh bangsa Ibrani.
27. Upaya di Babilonia untuk menjadikan semua Baal melebur ke dalam Baal-Merodakh — upaya bangsa Israel untuk menjadikan semua Molokh melebur ke dalam Molokh Yawah atau Yahu.
28. Bangsa Babilonia dihancurkan oleh bangsa Persia; dan bangsa Ibrani, yang mengambil mitologi Babilonia dan menyesuaikannya dengan kebutuhan mereka sendiri, berhasil menghasilkan agama monoteistik yang ketat.
29. Monoteisme, seperti monarki mutlak, cepat dalam melaksanakan perintah, dan merupakan pemusatan kekuatan yang besar, tetapi ia tidak tumbuh lebih jauh, dan keburukannya yang terburuk adalah kekejaman dan penganiayaannya. Semua bangsa yang berada di bawah pengaruhnya binasa sangat cepat setelah berkobar selama beberapa tahun.
30. Di India, persoalan yang sama menampakkan dirinya — solusi yang ditemukan — एकं सद्विप्रा बहुधा वदन्ति ।
Inilah nada kunci bagi segala sesuatu yang telah berhasil, dan batu kunci dari lengkungan itu.
31. Hasilnya adalah toleransi luar biasa dari para penganut Vedanta (tradisi filsafat Vedanta).
32. Persoalan besar oleh karena itu adalah menyelaraskan dan menyatukan tanpa menghancurkan kepribadian dari berbagai unsur tersebut.
33. Tidak ada bentuk agama yang bergantung pada pribadi, baik dari bumi ini maupun bahkan dari surga, yang mampu melakukan itu.
34. Di sinilah kemuliaan sistem Advaita (non-dualitas), yang mengajarkan suatu asas, bukan suatu pribadi, namun memberi ruang penuh bagi pribadi-pribadi, baik manusiawi maupun ilahi, untuk memerankan peran mereka sepenuhnya.
35. Hal ini telah berlangsung sepanjang masa; dalam pengertian inilah kita selalu mengalami kemajuan. Para Nabi pada masa pemerintahan Muhammadan.
36. Hal itu sepenuhnya sadar dan bertenaga pada masa lampau, dan kurang demikian belakangan ini; hanya dalam pengertian inilah kita telah merosot.
37. Hal ini akan terjadi di masa depan. Jika manifestasi kekuatan satu suku yang memanfaatkan tenaga kerja suku-suku lainnya menghasilkan hal-hal yang menakjubkan setidaknya untuk jangka waktu tertentu, di sini akan terjadi penumpukan dan pemusatan dari semua ras yang secara perlahan dan tak terhindarkan telah saling bercampur dalam darah dan gagasan, dan di mata pikiran saya, saya melihat sang raksasa masa depan perlahan-lahan menjadi matang. Masa depan India, yang termuda sekaligus yang paling jaya di antara bangsa-bangsa bumi sekaligus juga yang tertua.
38. Caranya — kita harus bekerja. Adat istiadat sosial sebagai pembatas, sebagian berlandaskan smriti (tradisi yang diingat). Tetapi tidak ada satu pun yang berasal dari shruti (wahyu yang didengar). Smriti harus berubah seiring waktu. Inilah hukum yang diakui.
39. Asas-asas Vedanta tidak hanya harus disebarkan ke seluruh India, tetapi juga ke luar negeri. Pikiran kita harus masuk ke dalam susunan pikiran setiap bangsa, bukan melalui tulisan, melainkan melalui pribadi-pribadi.
40. Pemberian adalah satu-satunya karma (hukum tindakan dan akibatnya) di Kali-Yuga. Tidak seorang pun mencapai pengetahuan hingga disucikan oleh karma.
41. Pemberian pengetahuan spiritual dan sekuler.
42. Pelepasan — para pelepas dunia — panggilan nasional.
Pendahuluan
Berani telah pesan saya kepada bangsa-bangsa Barat, lebih berani lagi pesan saya kepada Anda, saudara-saudara setanah air yang saya kasihi. Pesan India kuno kepada bangsa-bangsa Barat yang baru telah saya usahakan sekuat tenaga untuk saya sampaikan — entah baik entah buruk hasilnya, masa depan tentu akan menunjukkannya; tetapi suara perkasa dari masa depan yang sama itu telah menyampaikan ke depan gumam-gumam yang lembut tetapi jelas, yang menguat seiring berjalannya hari, yakni pesan India yang akan datang bagi India sebagaimana ia sekarang ini.
Banyak lembaga dan adat istiadat yang menakjubkan, serta banyak manifestasi kekuatan dan daya yang luar biasa, telah menjadi nasib baik saya untuk dipelajari di tengah-tengah berbagai bangsa yang telah saya jumpai, tetapi yang paling menakjubkan dari semuanya adalah menemukan bahwa di balik semua variasi tampak luar dari tata krama dan adat istiadat, dari kebudayaan dan kekuatan, berdetak satu hati manusiawi yang perkasa yang sama, di bawah dorongan kegembiraan dan kesedihan yang sama, dari kelemahan dan kekuatan yang sama.
Baik dan buruk ada di mana-mana, dan keseimbangannya secara menakjubkan setara; tetapi, di atas segalanya, ada jiwa manusia yang mulia di mana-mana, yang tidak pernah gagal memahami siapa pun yang tahu bagaimana berbicara dalam bahasanya sendiri. Pria dan wanita dapat ditemukan di setiap bangsa, yang hidupnya adalah berkat bagi kemanusiaan, membuktikan kata-kata Kaisar ilahi Ashoka: "Di setiap negeri tinggallah para brahmana (kasta pendeta) dan para shramana."
Saya berterima kasih kepada negeri-negeri Barat atas banyaknya hati yang hangat yang menyambut saya dengan segala kasih yang hanya dapat diberikan oleh jiwa-jiwa yang murni dan tanpa pamrih; tetapi kesetiaan hidup saya adalah kepada tanah air saya ini; dan jika saya memiliki seribu kehidupan, setiap saat dari seluruh rangkaiannya akan saya persembahkan untuk pengabdian kepada Anda, saudara-saudara setanah air saya, sahabat-sahabat saya.
Sebab kepada tanah ini saya berutang apa pun yang saya miliki, baik jasmani, mental, maupun spiritual; dan jika saya telah berhasil dalam hal apa pun, kemuliaan itu milik Anda, bukan milik saya. Yang menjadi milik saya semata hanyalah kelemahan dan kegagalan saya, sebagaimana keduanya muncul melalui ketidakmampuan saya memetik manfaat dari pelajaran-pelajaran perkasa yang dibentangkan oleh tanah ini di sekeliling seseorang, bahkan sejak saat ia lahir.
Dan sungguh suatu negeri! Siapa pun yang berdiri di tanah suci ini, baik orang asing maupun anak negeri, merasa dirinya dikelilingi — kecuali jika jiwanya telah merosot ke tingkat binatang buas — oleh pikiran-pikiran hidup dari putra-putra terbaik dan termurni bumi, yang telah bekerja untuk mengangkat hewan menjadi ilahi sepanjang berabad-abad, yang awal mulanya tidak dapat ditelusuri sejarah. Udara itu sendiri penuh dengan denyut-denyut spiritualitas. Tanah ini suci bagi filsafat, bagi etika dan spiritualitas, bagi segala sesuatu yang cenderung memberikan kelegaan kepada manusia dalam pergulatannya yang tiada henti untuk mempertahankan binatangiahnya, bagi segala latihan yang membuat manusia melepaskan jubah kebuasannya dan tampil terungkap sebagai roh yang baka, yang tak terlahirkan, yang tak terkalahkan oleh maut, yang senantiasa diberkati — tanah tempat cawan kenikmatan pernah penuh, dan lebih penuh lagi cawan kesengsaraan, hingga di sinilah, untuk pertama kalinya, manusia menemukan bahwa semuanya itu sia-sia; di sinilah, untuk pertama kalinya pada usia muda yang prima, di pangkuan kemewahan, di puncak kemuliaan, dan kepenuhan kekuasaan, ia mematahkan belenggu khayal. Di sini, di samudra kemanusiaan ini, di tengah-tengah benturan tajam arus-arus kuat kenikmatan dan derita, kekuatan dan kelemahan, kekayaan dan kemiskinan, sukacita dan duka, senyum dan air mata, kehidupan dan kematian, dalam irama yang melebur dari kedamaian dan ketenangan abadi, bangkitlah singgasana pelepasan! Di sini, di tanah ini, persoalan-persoalan besar tentang hidup dan mati, tentang dahaga akan kehidupan, dan perjuangan gila yang sia-sia untuk mempertahankannya yang hanya berakibat pada penumpukan kesengsaraan, untuk pertama kalinya digumuli dan dipecahkan — dipecahkan sebagaimana belum pernah dipecahkan sebelumnya dan tidak akan pernah dipecahkan lagi setelahnya; sebab di sinilah, dan hanya di sinilah, ditemukan bahwa bahkan kehidupan itu sendiri pun adalah suatu keburukan, bayangan saja dari sesuatu yang satu-satunya sungguh nyata. Inilah tanah tempat agama satu-satunya bersifat praktis dan nyata, dan di sinilah satu-satunya pria dan wanita dengan berani terjun ke dalam untuk merealisasikan tujuan, sebagaimana di negeri-negeri lain mereka terjun secara gila-gilaan untuk merealisasikan kenikmatan-kenikmatan hidup dengan merampok saudara-saudara mereka yang lebih lemah. Di sini, dan hanya di sini, hati manusia mengembang hingga merangkul bukan hanya manusia, melainkan juga burung-burung, binatang, dan tumbuhan; dari dewa-dewa tertinggi sampai butiran-butiran pasir, yang tertinggi dan yang terendah, semua menemukan tempat di hati manusia yang telah tumbuh besar dan tak terhingga. Dan di sinilah satu-satunya, jiwa manusia menelaah alam semesta sebagai satu kesatuan yang tak terpecahkan, yang setiap denyutnya adalah denyutnya sendiri.
Kita semua banyak mendengar tentang kemerosotan India. Pernah ada satu masa ketika saya pun memercayainya. Tetapi hari ini, berdiri di atas pijakan pengalaman yang menguntungkan, dengan mata yang telah dibersihkan dari prasangka-prasangka yang menghalangi, dan terutama, dengan gambaran-gambaran negeri-negeri lain yang penuh warna gemerlap kini diredam ke nada dan bayangannya yang semestinya oleh persentuhan langsung, saya mengaku dengan segala kerendahan hati bahwa saya keliru. Wahai tanah Arya yang diberkati, engkau tidak pernah merosot. Tongkat-tongkat kerajaan telah dipatahkan dan dibuang, bola kekuasaan telah berpindah dari tangan ke tangan, tetapi di India, istana dan raja-raja selalu hanya menyentuh segelintir orang; massa rakyat yang luas, dari yang tertinggi hingga yang terendah, dibiarkan menjalani jalannya yang tak terhindarkan, arus kehidupan nasional yang mengalir kadang lambat dan setengah sadar, di waktu lain kuat dan terjaga. Saya berdiri dalam kekaguman di hadapan barisan tak terputus dari berpuluh-puluh abad yang berkilau, dengan di sana-sini satu mata rantai yang redup, hanya untuk berkobar kembali dengan kecemerlangan tambahan pada mata rantai berikutnya, dan di sanalah ia berjalan dengan langkah-langkahnya yang megah — tanah air saya — untuk memenuhi takdirnya yang mulia, yang tidak ada kekuatan di bumi atau di surga yang dapat menghalanginya — yakni pembaruan manusia-binatang menjadi manusia-Tuhan.
Ya, suatu takdir yang mulia, saudara-saudara saya, sebab sejak kembali jauh ke masa Upanishad (risalah filsafat penutup Veda) kami telah melontarkan tantangan kepada dunia: न प्रजया धनेन त्यागेनैके अमृतत्वमानशुः— "Bukan dengan keturunan, bukan dengan kekayaan, melainkan hanya dengan pelepasan, keabadian dicapai." Ras demi ras telah mengangkat tantangan itu dan mencoba sekuat-kuatnya untuk memecahkan teka-teki dunia di tataran keinginan. Mereka semua telah gagal di masa lalu — yang lama-lama telah punah di bawah beban kejahatan dan kesengsaraan, yang dibawa serta oleh nafsu akan kekuasaan dan emas, dan yang baru sedang goyah menuju keruntuhannya. Pertanyaan itu masih harus diputuskan, apakah kedamaian akan bertahan ataukah perang; apakah kesabaran akan bertahan ataukah ketidaksabaran; apakah kebaikan akan bertahan ataukah kejahatan; apakah otot akan bertahan ataukah otak; apakah keduniawian akan bertahan ataukah spiritualitas. Kami telah memecahkan persoalan kami berabad-abad lalu, dan berpegang teguh padanya melalui suka maupun duka, dan bermaksud berpegang padanya hingga akhir zaman. Solusi kami adalah ketidakduniawian — pelepasan.
Inilah tema kerja hidup India, beban nyanyian-nyanyiannya yang abadi, tulang punggung keberadaannya, fondasi dari adanya, raison d'être dari keberadaannya itu sendiri — yakni penyepiritualan umat manusia. Dalam perjalanan hidupnya ini ia tidak pernah menyimpang, baik ketika bangsa Tartar yang berkuasa maupun bangsa Turki, baik ketika bangsa Mogul yang memerintah maupun bangsa Inggris.
Dan saya menantang siapa pun untuk menunjukkan satu pun periode dalam kehidupan nasionalnya ketika India kekurangan raksasa-raksasa spiritual yang mampu menggerakkan dunia. Tetapi pekerjaannya bersifat spiritual, dan hal itu tidak dapat dilakukan dengan tiupan terompet perang atau langkah pasukan-pasukan. Pengaruhnya selalu jatuh ke atas dunia laksana embun yang lembut, tak terdengar dan hampir tak terlihat, namun membuat bermekaran bunga-bunga terindah di bumi. Pengaruh ini, yang pada hakikatnya lembut, harus menunggu suatu perpaduan keadaan yang menguntungkan untuk keluar dari negerinya menuju negeri-negeri lain, meskipun ia tidak pernah berhenti bekerja di dalam batas-batas tanah asalnya. Karena itu, setiap orang terdidik mengetahui bahwa setiap kali bangsa Tartar, Persia, Yunani, atau Arab yang membangun kekaisaran membawa tanah ini berhubungan dengan dunia luar, suatu massa pengaruh spiritual segera membanjiri dunia dari sini. Keadaan yang sama persis kini sekali lagi menyajikan dirinya di hadapan kita. Jalan-jalan raya bangsa Inggris di darat dan laut serta kekuatan luar biasa yang dimanifestasikan oleh penduduk pulau kecil itu sekali lagi telah membawa India berhubungan dengan dunia lainnya, dan pekerjaan yang sama telah dimulai. Camkanlah kata-kata saya, ini barulah permulaan kecil, hal-hal besar akan menyusul; bagaimana hasil pekerjaan saat ini di luar India tidak dapat saya nyatakan secara persis, tetapi yang saya ketahui dengan pasti adalah bahwa jutaan, saya katakan dengan sengaja, jutaan orang di setiap negeri yang beradab sedang menanti pesan yang akan menyelamatkan mereka dari jurang materialisme yang mengerikan, yang ke dalamnya pemujaan uang modern sedang menyeret mereka dengan tergesa-gesa, dan banyak pemimpin gerakan sosial baru telah menemukan bahwa Vedanta dalam bentuknya yang tertinggi sajalah yang dapat menyepiritualkan aspirasi-aspirasi sosial mereka. Saya harus kembali kepada hal ini menjelang akhir; oleh karena itu, saya mengangkat subjek besar yang lain, yakni pekerjaan di dalam negeri.
Persoalan itu menampakkan dua aspek, bukan hanya penyepiritualan, tetapi juga asimilasi berbagai unsur yang menyusun bangsa ini. Asimilasi berbagai bangsa menjadi satu telah menjadi tugas bersama dalam kehidupan setiap bangsa.
English
INDIA'S MESSAGE TO THE WORLD
The following notes were discovered among Swami Vivekananda's papers. He intended to write a book and jotted down forty-two points as a syllabus for the work, but only a few points were dealt with as an introduction by him and the work was left unfinished. We give the manuscript as found.
Syllabus
1. Bold has been my message to the people of the West. Bolder to those at home.
2. Four years of residence in the marvellous West has made India only the better understood. The shades are deeper and the lights brighter.
3. The survey — it is not true that the Indians have degenerated.
4. The problem here has been as it has been everywhere else — the assimilation of various races, but nowhere has it been so vast as here.
5. Community of language, government and, above all, religion has been the power of fusion.
6. In other lands this has been attempted by "force", that is, the enforcement of the culture of one race only over the rest. The result being the production of a short-lived vigorous national life; then, dissolution.
7. In India, on the other hand, the attempts have been as gentle as the problem vast, and from the earliest times, the customs, and especially the religions, of the different elements tolerated.
8. Where it was a small problem and force was sufficient to form a unity, the effect really was the nipping in the bud of various healthy types in the germ of all the elements except the dominant one. It was only one set of brains using the vast majority for its own good, thus losing the major portion of the possible amount of development, and thus when the dominant type had spent itself, the apparently impregnable building tottered to its ruins, e.g., Greece, Rome, the Norman.
9. A common language would be a great desideratum; but the same criticism applies to it, the destruction of the vitality of the various existing ones.
10. The only solution to be reached was the finding of a great sacred language of which all the others would be considered as manifestations, and that was found in the Sanskrit.
11. The Dravidian languages may or may not have been originally Sanskritic, but for practical purposes they are so now, and every day we see them approaching the ideal more and more, yet keeping their distinctive vital peculiarities.
12. A racial background was found — the Âryas.
13. The speculation whether there was a distinct, separate race called the Aryas living in Central Asia to the Baltic.
14. The so-called types. Races were always mixed.
15. The "blonde" and the "brunette".
16. Coming to practical common sense from so-called historical imagination. The Aryas in their oldest records were in the land between Turkistan and the Punjab and N. W. Tibet.
17. This leads to the attempt at fusion between races and tribes of various degrees of culture.
18. Just as Sanskrit has been the linguistic solution, so the Arya the racial solution. So the Brâhminhood is the solution of the varying degrees of progress and culture as well as that of all social and political problems.
19. The great ideal of India — Brahminhood.
20. Property-less, selfless, subject to no laws, no king except the moral.
21. Brahminhood by descent — various races have claimed and acquired the right in the past as well as in the present.
22. No claim is made by the doer of great deeds, only by lazy worthless fools.
23. Degradation of Brahminhood and Kshatriyahood. The Puranas said there will be only non-Brahmins in the Kali Yuga, and that is true, becoming truer every day. Yet a few Brahmins remain, and in India alone.
24. Kshatriyahood — we must pass through that to become a Brahmin. Some may have passed through in the past, but the present must show that.
25. But the disclosure of the whole plan is to be found in religion.
26. The different tribes of the same race worship similar gods, under a generic name as the Baals of the Babylonians, the Molochs of the Hebrews.
27. The attempt in Babylonia of making all the Baals merge in Baal-Merodach — the attempt of the Israelites to merge all the Molochs in the Moloch Yavah or Yahu.
28. The Babylonians destroyed by the Persians; and the Hebrews who took the Babylonian mythology and adapted it to their own needs, succeeded in producing a strict monotheistic religion.
29. Monotheism like absolute monarchy is quick in executing orders, and a great centralization of force, but it grows no farther, and its worst feature is its cruelty and persecution. All nations coming within its influence perish very soon after a flaring up of a few years.
30. In India the same problem presented itself - the solution found — एकं सद्विप्रा बहुधा वदन्ति ।
This is the keynote to everything which has succeeded, and the keystone of the arch.
31. The result is that wonderful toleration of the Vedantist.
32. The great problem therefore is to harmonise and unify without destroying the individuality of these various elements.
33. No form of religion which depends Upon persons, either of this earth or even of heaven, is able to do that.
34. Here is the glory of the Advaita system preaching a principle, not a person, yet allowing persons, both human and divine, to have their full play.
35. This has been going on all the time; in this sense we have been always progressing. The Prophets during the Mohammedan rule.
36. It was fully conscious and vigorous in old days, and less so of late; in this sense alone we have degenerated.
37. This is going to be in the future. If the manifestation of the power of one tribe utilising the labours of the rest produced wonderful results at least for a certain length of time, here is going to be the accumulation and the concentration of all the races that have been slowly and inevitably getting mixed up in blood and ideas, and in my mind's eye, I see the future giant slowly maturing. The future of India, the youngest and the most glorious of the nations of earth as well as the oldest.
38. The way — we will have to work. Social customs as barriers, some as founded upon the Smritis. But none from the Shrutis. The Smritis must change with time. This is the admitted law.
39. The principles of the Vedanta not only should be preached everywhere in India, but also outside. Our thought must enter into the make-up of the minds of every nation, not through writings, but through persons.
40. Gift is the only Karma in Kali Yuga. None attaining knowledge until purified by Karma.
41. Gift of spiritual and secular knowledge.
42. Renunciation — Renouncers — the national call.
Introduction
Bold has been my message to the people of the West, bolder is my message to you, my beloved countrymen. The message of ancient India to new Western nations I have tried my best to voice — ill done or well done the future is sure to show; but the mighty voice of the same future is already sending forward soft but distinct murmurs, gaining strength as the days go by, the message of India that is to be to India as she is at present.
Many wonderful institutions and customs, and many wonderful manifestations of strength and power it has been my good fortune to study in the midst of the various races I have seen, but the most wonderful of all was to find that beneath all these apparent variations of manners and customs, of culture and power, beats the same mighty human heart under the impulsion of the same joys and sorrows, of the same weakness and strength
Good and evil are everywhere and the balance is wondrously even; but, above all, is the glorious soul of man everywhere which never fails to understand any one who knows how to speak its own language. Men and women are to be found in every race whose lives are blessings to humanity, verifying the words of the divine Emperor Asoka: "In every land dwell Brâhmins and Shramanas."
I am grateful to the lands of the West for the many warm hearts that received me with all the love that pure and disinterested souls alone could give; but my life's allegiance is to this my motherland; and if I had a thousand lives, every moment of the whole series would be consecrated to your service, my countrymen, my friends.
For to this land I owe whatever I possess, physical, mental, and spiritual; and if I have been successful in anything, the glory is yours, not mine. Mine alone are my weaknesses and failures, as they come through my inability of profiting by the mighty lessons with which this land surrounds one, even from his very birth.
And what a land! Whosoever stands on this sacred land, whether alien or a child of the soil, feels himself surrounded — unless his soul is degraded to the level of brute animals — by the living thoughts of the earth's best and purest sons, who have been working to raise the animal to the divine through centuries, whose beginning history fails to trace. The very air is full of the pulsations of spirituality. This land is sacred to philosophy, to ethics and spirituality, to all that tends to give a respite to man in his incessant struggle for the preservation of the animal to all training that makes man throw off the garment of brutality and stand revealed as the spirit immortal, the birthless, the deathless, the ever-blessed — the land where the cup of pleasure was full, and fuller has been the cup of misery, until here, first of all, man found out that it was all vanity; here, first of all in the prime of youth, in the lap of luxury, in the height of glory and plenitude of power, he broke through the fetters of delusion. Here, in this ocean of humanity, amidst the sharp interaction of strong currents of pleasure and pain, of strength and weakness, of wealth and poverty, of joy and sorrow, of smile and tear, of life and death, in the melting rhythm of eternal peace and calmness, arose the throne of renunciation! Here in this land, the great problems of life and death, of the thirst for life, and the vain mad struggles to preserve it only resulting in the accumulation of woes were first grappled with and solved — solved as they never were before and never will be hereafter; for here and here alone was discovered that even life itself is an evil, the shadow only of something which alone is real. This is the land where alone religion was practical and real, and here alone men and women plunged boldly in to realise the goal, just as in other lands they madly plunge in to realise the pleasures of life by robbing their weaker brethren. Here and here alone the human heart expanded till it included not only the human, but birds, beasts, and plants; from the highest gods to grains of sand, the highest and the lowest, all find a place in the heart of man, grown great, infinite. And here alone, the human soul studied the universe as one unbroken unity whose every pulse was his own pulse.
We all hear so much about the degradation of India. There was a time when I also believed in it. But today standing on the vantage-ground of experience, with eyes cleared of obstructive predispositions and above all, of the highly-coloured pictures of other countries toned down to their proper shade and light by actual contact, I confess in all humility that I was wrong. Thou blessed land of the Aryas, thou wast never degraded. Sceptres have been broken and thrown away, the ball of power has passed from hand to hand, but in India, courts and kings always touched only a few; the vast mass of the people, from the highest to the lowest, has been left to pursue its own inevitable course, the current of national life flowing at times slow and half-conscious, at others, strong and awakened. I stand in awe before the unbroken procession of scores of shining centuries, with here and there a dim link in the chain, only to flare up with added brilliance in the next, and there she is walking with her own majestic steps — my motherland — to fulfil her glorious destiny, which no power on earth or in heaven can check — the regeneration of man the brute into man the God.
Ay, a glorious destiny, my brethren, for as far back as the days of the Upanishads we have thrown the challenge to the world: न प्रजया धनेन त्यागेनैके अमृतत्वमानशुः— "Not by progeny, not by wealth, but by renunciation alone immortality is reached." Race after race has taken the challenge up and tried their utmost to solve the world-riddle on the plane of desires. They have all failed in the past — the old ones have become extinct under the weight of wickedness and misery, which lust for power and gold brings in its train, and the new ones are tottering to their fall. The question has yet to be decided whether peace will survive or war; whether patience will survive or non-forbearance, whether goodness will survive or wickedness; whether muscle will survive or brain; whether worldliness will survive or spirituality. We have solved our problem ages ago, and held on to it through good or evil fortune, and mean to hold on to it till the end of time. Our solution is unworldliness — renunciation.
This is the theme of Indian life-work, the burden of her eternal songs, the backbone of her existence, the foundation of her being, the raison d'être of her very existence — the spiritualisation of the human race. In this her life-course she has never deviated, whether the Tartar ruled or the Turk, whether the Mogul ruled or the English.
And I challenge anybody to show one single period of her national life when India was lacking in spiritual giants capable of moving the world. But her work is spiritual, and that cannot be done with blasts of war-trumpets or the march of cohorts. Her influence has always fallen upon the world like that of the gentle dew, unheard and scarcely marked, yet bringing into bloom the fairest flowers of the earth. This influence, being in its nature gentle, would have to wait for a fortunate combination of circumstances, to go out of the country into other lands, though it never ceased to work within the limits of its native land. As such, every educated person knows that whenever the empire-building Tartar or Persian or Greek or Arab brought this land in contact with the outside world, a mass of spiritual influence immediately flooded the world from here. The very same circumstances have presented themselves once more before us. The English high roads over land and sea and the wonderful power manifested by the inhabitants of that little island have once more brought India in contact with the rest of the world, and the same work has already begun. Mark my words, this is but the small beginning, big things are to follow; what the result of the present work outside India will be I cannot exactly state, but this I know for certain that millions, I say deliberately, millions in every civilised land are waiting for the message that will save them from the hideous abyss of materialism into which modern money-worship is driving them headlong, and many of the leaders of the new social movements have already discovered that Vedanta in its highest form can alone spiritualise their social aspirations. I shall have to return to this towards the end I take up therefore the other great subject, the work within the country.
The problem assumes a twofold aspect, not only spiritualisation but assimilation of the various elements of which the nation is composed. The assimilation of different races into one has been the common task in the life of every nation.
Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.