Arsip Vivekananda

Pemikiran Religius India

Jilid4 lecture
1,311 kata · 5 menit baca · Lectures and Discourses

Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.

AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.

Bahasa Indonesia

PEMIKIRAN KEAGAMAAN INDIA

(Disampaikan di bawah naungan Brooklyn Ethical Society, di Galeri Seni Pouch Mansion, Clinton Avenue, Brooklyn, Amerika Serikat.)

India, meskipun hanya berukuran separuh dari Amerika Serikat, menampung penduduk lebih dari dua ratus sembilan puluh juta jiwa, dan ada tiga agama yang berkuasa atas mereka — agama Muslim, agama Buddha, dan agama Hindu. Penganut yang pertama berjumlah sekitar enam puluh juta orang, yang kedua sekitar sembilan juta orang, sedangkan yang terakhir mencakup hampir dua ratus enam juta orang. Ciri-ciri utama agama Hindu didasarkan pada filsafat meditatif dan spekulatif serta ajaran-ajaran etika yang termuat di dalam berbagai kitab Weda, yang menegaskan bahwa alam semesta tidak terbatas dalam ruang dan kekal dalam masa. Ia tidak pernah memiliki permulaan, dan tidak akan pernah memiliki akhir. Tak terbilang banyaknya perwujudan kekuatan roh di dalam ranah materi, kekuatan Yang Tak Terbatas di dalam wilayah yang terbatas; namun Roh Yang Tak Terbatas itu sendiri berada karena diri-Nya sendiri, kekal, dan tidak berubah. Perjalanan waktu sama sekali tidak meninggalkan tanda apa pun pada jam keabadian. Di dalam ranah-Nya yang melampaui indra, yang sama sekali tidak dapat dijangkau oleh pemahaman manusia, tidak ada masa lalu, dan tidak ada masa depan. Weda mengajarkan bahwa jiwa manusia adalah abadi. Tubuh tunduk pada hukum pertumbuhan dan kemerosotan; apa yang tumbuh, sudah pasti akan merosot. Tetapi roh yang berdiam di dalamnya berhubungan dengan kehidupan yang tak terbatas dan kekal; ia tidak pernah memiliki permulaan dan tidak akan pernah memiliki akhir. Salah satu perbedaan utama antara agama Hindu dan agama Kristen ialah bahwa agama Kristen mengajarkan bahwa setiap jiwa manusia bermula pada saat kelahirannya ke dunia ini, sedangkan agama Hindu menegaskan bahwa roh manusia merupakan pancaran dari Wujud Yang Kekal, dan tidak lebih memiliki permulaan daripada Tuhan sendiri. Tak terbilang banyaknya perwujudannya, dan akan tak terbilang pula, dalam perjalanannya dari satu kepribadian ke kepribadian lain, tunduk pada hukum besar evolusi spiritual, sampai ia mencapai kesempurnaan, ketika tidak ada lagi perubahan.

Sering ditanyakan: Jika demikian, mengapa kita tidak ingat apa pun dari kehidupan-kehidupan kita yang lampau? Inilah penjelasan kami: Kesadaran hanyalah nama bagi permukaan samudra batin, namun di dalam kedalamannya tersimpan segenap pengalaman kita, baik yang menyenangkan maupun yang menyakitkan. Hasrat jiwa manusia adalah menemukan sesuatu yang teguh. Pikiran dan tubuh, sebenarnya seluruh gejala alam yang beraneka ragam, berada dalam keadaan perubahan yang tiada henti. Tetapi cita-cita tertinggi roh kita adalah menemukan sesuatu yang tidak berubah, yang telah mencapai keadaan kesempurnaan yang langgeng. Dan inilah aspirasi jiwa manusia akan Yang Tak Terbatas! Semakin halus perkembangan moral dan intelektual kita, semakin kuat pula aspirasi ini akan Yang Kekal yang tidak berubah.

Para penganut Buddha modern mengajarkan bahwa segala sesuatu yang tidak dapat diketahui melalui kelima indra adalah tidak ada, dan bahwa anggapan manusia sebagai entitas yang mandiri merupakan suatu khayalan. Sebaliknya, kaum idealis menyatakan bahwa setiap individu adalah entitas yang mandiri, dan dunia eksternal tidak ada di luar konsepsi mentalnya. Tetapi pemecahan yang pasti atas persoalan ini adalah bahwa alam merupakan campuran antara kemandirian dan ketergantungan, antara realitas dan idealisme. Pikiran dan tubuh kita bergantung pada dunia eksternal, dan ketergantungan ini bervariasi sesuai dengan sifat hubungannya dengan dunia tersebut; tetapi roh yang berdiam di dalamnya adalah bebas, sebagaimana Tuhan bebas, dan mampu mengarahkan, dalam derajat yang lebih besar atau lebih kecil sesuai dengan keadaan perkembangannya, gerakan pikiran dan tubuh kita.

Kematian hanyalah pergantian keadaan. Kita tetap berada di alam semesta yang sama, dan tunduk pada hukum yang sama seperti sebelumnya. Mereka yang telah melampauinya dan telah mencapai tingkat perkembangan yang tinggi dalam keindahan dan kebijaksanaan hanyalah pasukan pelopor dari suatu pasukan semesta yang sedang mengikuti mereka. Roh dari yang tertinggi berhubungan dengan roh dari yang terendah, dan benih dari kesempurnaan yang tak terbatas terdapat di dalam segalanya. Kita harus memupuk perangai yang optimis, dan berusaha melihat kebaikan yang berdiam di dalam segala hal. Jika kita duduk dan meratapi ketidaksempurnaan tubuh dan pikiran kita, kita tidak akan memperoleh apa pun; usaha kepahlawanan untuk menaklukkan keadaan yang merugikanlah yang membawa roh kita ke atas. Tujuan kehidupan adalah mempelajari hukum-hukum kemajuan spiritual. Kaum Kristen dapat belajar dari kaum Hindu, dan kaum Hindu dapat belajar dari kaum Kristen. Masing-masing telah memberikan sumbangan yang berharga bagi kebijaksanaan dunia.

Tanamkanlah pada anak-anak Anda bahwa agama yang sejati bersifat positif dan bukan negatif, bahwa ia tidak terdiri atas sekadar menahan diri dari kejahatan, melainkan dalam pelaksanaan yang gigih atas perbuatan-perbuatan mulia. Agama yang sejati tidak datang dari ajaran manusia atau dari pembacaan buku-buku; ia adalah bangkitnya roh di dalam diri kita, sebagai akibat dari tindakan yang suci dan heroik. Setiap anak yang lahir ke dunia membawa serta sejumlah pengalaman yang terakumulasi dari penjelmaan-penjelmaan sebelumnya; dan jejak pengalaman itu tampak pada struktur pikiran dan tubuhnya. Tetapi perasaan kemandirian yang dimiliki oleh kita semua menunjukkan bahwa ada sesuatu di dalam diri kita di samping pikiran dan tubuh. Jiwa yang bertahta di dalam adalah mandiri dan melahirkan hasrat akan kebebasan. Jika kita tidak bebas, bagaimana mungkin kita berharap untuk membuat dunia menjadi lebih baik? Kami berpegang bahwa kemajuan manusia adalah hasil dari tindakan roh manusia. Bagaimana keadaan dunia, dan bagaimana keadaan diri kita sendiri, adalah buah dari kebebasan roh.

Kami percaya pada satu Tuhan, Bapa kita semua, yang Maha Hadir dan Maha Kuasa, yang membimbing dan melindungi anak-anak-Nya dengan kasih yang tak terbatas. Kami percaya pada Tuhan yang Berpribadi sebagaimana dipercayai oleh kaum Kristen, tetapi kami melangkah lebih jauh: kami percaya bahwa kita adalah Dia! Bahwa kepribadian-Nya terwujud di dalam diri kita, bahwa Tuhan ada di dalam diri kita, dan bahwa kita ada di dalam Tuhan. Kami percaya bahwa terdapat benih kebenaran di dalam segenap agama, dan kaum Hindu memberi hormat kepada semuanya; sebab di dunia ini, kebenaran tidaklah ditemukan melalui pengurangan, melainkan melalui penambahan. Kami akan mempersembahkan kepada Tuhan serangkai bunga terindah dari segenap kepercayaan yang beraneka ragam. Kita harus mengasihi Tuhan demi kasih itu sendiri, bukan demi harapan akan ganjaran. Kita harus menjalankan tugas demi tugas itu sendiri, bukan demi harapan akan ganjaran. Kita harus memuja keindahan demi keindahan itu sendiri, bukan demi harapan akan ganjaran. Dengan demikianlah, dalam kesucian hati kita, kita akan melihat Tuhan. Pengorbanan, sujud, gumaman, dan bisikan bukanlah agama. Hal-hal itu hanya baik apabila membangkitkan kita pada pelaksanaan yang berani atas perbuatan-perbuatan indah dan heroik serta mengangkat pikiran kita kepada penangkapan akan kesempurnaan ilahi.

Apa gunanya, jika dalam doa kita mengakui bahwa Tuhan adalah Bapa kita semua, namun dalam kehidupan sehari-hari kita tidak memperlakukan setiap orang sebagai saudara kita? Buku-buku hanya dibuat agar dapat menunjukkan jalan menuju kehidupan yang lebih tinggi; tetapi tidak ada hasil yang baik kecuali jika jalan itu dilalui dengan langkah yang tegar! Setiap kepribadian manusia dapat diumpamakan sebagai bola kaca. Terdapat cahaya putih murni yang sama — pancaran dari Wujud ilahi — di pusat masing-masingnya, tetapi karena kaca tersebut berbeda-beda warnanya dan ketebalannya, maka berkas cahaya itu mengambil rupa yang beragam ketika dipancarkan. Kesetaraan dan keindahan setiap nyala yang berpusat itu adalah sama, dan ketidaksetaraan yang tampak itu hanya terletak pada ketidaksempurnaan alat sementara yang menjadi sarana penyalurannya. Seiring kita naik semakin tinggi dalam tangga keberadaan, medium tersebut menjadi semakin tembus cahaya.

Catatan

English

INDIAN RELIGIOUS THOUGHT

(Delivered under the auspices of tile Brooklyn Ethical Society, in the Art Gallery of tile Pouch Mansion, Clinton Avenue, Brooklyn, U.S.A.)

India, although only half the size of the United States, contains a population of over two hundred and ninety millions, and there are three religions which hold sway over them — the Mohammedan, the Buddhist , and the Hindu. The adherents of the first mentioned number about sixty millions, of the second about nine millions, while the last embrace nearly two hundred and six millions. The cardinal features of the Hindu religion are founded on the meditative and speculative philosophy and on the ethical teachings contained in the various books of the Vedas, which assert that the universe is infinite in space and eternal in duration. It never had a beginning, and it never will have an end. Innumerable have been the manifestations of the power of the spirit in the realm of matter, of the force of the Infinite in the domain of the finite; but the Infinite Spirit Itself is self-existent, eternal, and unchangeable. The passage of time makes no mark whatever on the dial of eternity. In its supersensuous region which cannot be comprehended at all by the human understanding, there is no past, and there is no future. The Vedas teach that the soul of man is immortal. The body is subject to the law of growth and decay, what grows must of necessity decay. But the in dwelling spirit is related to the infinite and eternal life; it never had a beginning and it never will have an end, One of the chief distinctions between the Hindu and the (Christian religions is that the Christian religion teaches that each human soul had its beginning at its birth into this world, whereas the Hindu religion asserts that the spirit of man is an emanation of the Eternal Being, and had no more a beginning than God Himself. Innumerable have been and will be its manifestations in its passage from one personality to another, subject to the great law of spiritual evolution, until it reaches perfection, when there is no more change.

It has been often asked: If this be so, why is it we do not remember anything of our past lives? This is our explanation: Consciousness is the name of the surface only of the mental ocean, but within its depths are stored up all our experiences, both pleasant and painful. The desire of the human soul is to find out something that is stable. The mind and the body, in fact all the various phenomena of nature, are in a condition of incessant change. But the highest aspiration of our spirit is to find out something that does not change, that has reached a state of permanent perfection. And this is the aspiration of the human soul after the Infinite! The finer our moral and intellectual development, the stronger will become this aspiration after the Eternal that changes not.

The modern Buddhists teach that everything that cannot be known by the five senses is non-existent, and that it is a delusion to suppose that man is an independent entity. The idealists, on the contrary, claim that each individual is an independent entity, and the external world does not exist outside of his mental conception. But the sure solution of this problem is that nature is a mixture of independence and dependence, of reality and idealism. Our mind and bodies are dependent on the external world, and this dependence varies according to the nature of their relation to it; but the indwelling spirit is free, as God is free, and is able to direct in a greater or lesser degree, according to the state of their development, the movements of our minds and bodies.

Death is but a change of condition. We remain in the same universe, and are subject to the same laws as before. Those who have passed beyond and have attained high planes of development in beauty and wisdom are but the advance-guard of a universal army who are following after them. The spirit of the highest is related to the spirit of the lowest, and the germ of infinite perfection exists in all. We should cultivate the optimistic temperament, and endeavour to see the good that dwells in everything. If we sit down and lament over the imperfection of our bodies and minds, we profit nothing; it is the heroic endeavour to subdue adverse circumstances that carries our spirit upwards. The object of life is to learn the laws of spiritual progress. Christians can learn from Hindus, and Hindus can learn from Christians. Each has made a contribution of value to the wisdom of the world.

Impress upon your children that true religion is positive and not negative, that it does not consist in merely refraining from evil, but in a persistent performance of noble decals. True religion comes not from the teaching of men or the reading of books; it is the awakening of the spirit within us, consequent upon pure and heroic action. Every child born into the world brings with it a certain accumulated experience from previous incarnations; and the impress of this experience is seen in the structure of its mind and body. But the feeling of independence which possesses us all shows there is something in us besides mind and body. The soul that reigns within is independent stud creates the desire for freedom. If we are not free, how can we hope to make the world better? We hold that human progress is the result of the action of the human spirit. What the world is, and what we ourselves are, are the fruits of the freedom of the spirit.

We believe in one God, the Father of us all, who is omnipresent and omnipotent, and who guides and preserves His children with infinite love. We believe in a Personal God as the Christians do, but we go further: we below that we are He! That His personality is manifested in us, that God is in us, and that we are in God We believe there is a germ of truth in all religions, and the Hindu bows down to them all; for in this world, truth is to be found not in subtraction but in addition. We would offer God a bouquet of the most beautiful flowers of all the diverse faiths. We must love God for love's sake, not for the hope of reward. We must do our duty for duty's sake not for the hope of reward. We must worship the beautiful for beauty's sake, not for the hope of reward. Thus in the purity of our hearts shall we see God. Sacrifices genuflexions, mumblings, and mutterings are not religion. They are only good if they stimulate us to the brave performance of beautiful and heroic deeds and lift our thoughts to the apprehension of the divine perfection

What good is it, if we acknowledge in our prayers that God is the Father of us all, and in our daily lives do not treat every man as our brother? Books are only made so that they may point the way to a higher life; but no good results unless the path is trodden with unflinching steps! Every human personality may be compared to a glass globe. There is the same pure white light — an emission of the divine Being — in the centre of each, but the glass being of different colours and thickness, the rays assume diverse aspects in the transmission. The equality and beauty of each central flame is the same, and the apparent inequality is only in the imperfection of the temporal instrument of its expression. As we rise higher and higher in the scale of being, the medium becomes more and more translucent.

Notes


Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.