Arsip Vivekananda

Dasar bagi Penelitian Psikis atau Spiritual

Jilid4 lecture
1,357 kata · 5 menit baca · Lectures and Discourses

Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.

AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.

Bahasa Indonesia

DASAR BAGI PENELITIAN PSIKIS ATAU SPIRITUAL

Tidak sering Swami Vivekananda, ketika berada di Barat, ikut serta dalam perdebatan. Salah satu kesempatan di London ketika beliau melakukannya adalah pada saat diskusi mengenai sebuah ceramah berjudul, "Dapatkah Fenomena Psikis Dibuktikan atas Dasar Ilmiah?" Pertama-tama beliau menyinggung suatu pernyataan yang didengarnya selama perdebatan itu, dan yang bukan untuk pertama kalinya beliau dengar di Barat. Beliau berkata:

Ada satu hal yang ingin saya komentari. Pernyataan yang disampaikan kepada kami bahwa kaum Muslim tidak percaya bahwa perempuan memiliki jiwa adalah pernyataan yang keliru. Saya sangat menyayangkan bahwa ini adalah kesalahpahaman lama di kalangan umat Kristen, dan tampaknya mereka menyenangi kekeliruan tersebut. Suatu kekhasan dalam sifat manusia bahwa orang ingin mengatakan sesuatu yang sangat buruk tentang pihak lain yang tidak mereka sukai. Sebagai catatan, Anda tahu bahwa saya bukan seorang Muslim, namun saya pernah memiliki kesempatan untuk mempelajari agama ini, dan tidak ada satu kata pun di dalam Al-Qur'an yang menyatakan bahwa perempuan tidak memiliki jiwa; sebaliknya, di sana justru dinyatakan bahwa mereka memilikinya.

Mengenai hal-hal psikis yang menjadi pokok bahasan, saya hanya memiliki sedikit hal untuk dikatakan di sini, sebab pertama-tama, pertanyaannya adalah apakah pokok-pokok psikis itu dapat dibuktikan secara ilmiah. Apa yang Anda maksudkan dengan pembuktian ini? Pertama-tama, harus ada sisi subjektif dan sisi objektif. Mengambil contoh kimia dan fisika, yang sudah sangat kita kenal, dan yang banyak kita baca, apakah benar bahwa setiap orang di dunia ini mampu memahami pembuktian bahkan untuk pokok-pokok yang paling biasa sekalipun? Ambillah seorang yang kasar dan tunjukkan kepadanya salah satu eksperimen Anda. Apa yang akan ia pahami darinya? Tidak ada. Diperlukan latihan pendahuluan yang cukup banyak untuk dapat mencapai titik pemahaman terhadap suatu eksperimen. Sebelum itu, ia sama sekali tidak akan dapat memahaminya. Itulah kesulitan besar yang menghadang. Jika pembuktian ilmiah berarti menurunkan fakta-fakta tertentu ke suatu bidang yang universal bagi semua manusia, di mana semua makhluk dapat memahaminya, saya menolak bahwa pembuktian ilmiah semacam itu dapat dilakukan untuk pokok apa pun di dunia. Jika demikian halnya, segenap universitas dan pendidikan kita akan sia-sia belaka. Mengapa kita harus dididik jika dengan kelahiran saja kita dapat memahami segala sesuatu yang ilmiah? Mengapa harus belajar begitu banyak? Itu sama sekali tidak ada gunanya. Maka, dilihat sepintas saja, sungguh tidak masuk akal apabila inilah yang dimaksud dengan pembuktian ilmiah, yaitu penurunan fakta-fakta yang rumit ke bidang tempat kita berada sekarang ini. Pengertian berikutnya barangkali yang lebih tepat, yakni bahwa fakta-fakta tertentu hendaknya diajukan sebagai bukti bagi fakta-fakta lain yang lebih rumit. Ada gejala-gejala tertentu yang lebih kompleks dan lebih rumit, yang kita jelaskan melalui gejala yang kurang rumit, dan dengan demikian, mungkin, kita semakin mendekatinya; dengan cara ini, gejala tersebut secara bertahap diturunkan ke bidang kesadaran biasa kita saat ini. Namun bahkan ini pun sangat kompleks dan sangat sulit, serta menuntut pelatihan, suatu pendidikan dalam jumlah yang luar biasa besar. Maka, yang harus saya katakan adalah bahwa untuk memperoleh penjelasan ilmiah mengenai fenomena psikis, kita membutuhkan bukan hanya bukti yang sempurna dari sisi fenomena itu sendiri, melainkan juga pelatihan yang memadai bagi pihak yang ingin melihatnya. Setelah semua ini diterima, barulah kita berada dalam posisi untuk mengatakan ya atau tidak, mengenai pembuktian atau penyangkalan terhadap fenomena apa pun yang dihadirkan di hadapan kita. Namun, sebelum hal itu, fenomena yang paling luar biasa atau yang paling sering tercatat dalam masyarakat manusia, menurut pendapat saya, akan sangat sulit untuk dibuktikan, bahkan secara serampangan sekalipun.

Selanjutnya, mengenai penjelasan tergesa-gesa bahwa agama-agama merupakan hasil dari mimpi, mereka yang telah membuat kajian khusus tentang agama-agama tersebut akan menganggap penjelasan demikian sekadar terkaan belaka. Kita tidak punya alasan untuk menduga bahwa agama-agama merupakan hasil mimpi, sebagaimana telah dijelaskan dengan begitu gampangnya. Dalam hal ini, akan sangat mudah bagi seseorang untuk mengambil posisi seorang agnostik, namun sayangnya persoalan ini tidak dapat dijelaskan dengan begitu mudah. Ada banyak fenomena menakjubkan lainnya yang terjadi, bahkan pada masa sekarang ini, dan semuanya perlu diselidiki; dan bukan hanya perlu, melainkan sesungguhnya telah diselidiki sejak lama. Orang buta berkata bahwa tidak ada matahari. Hal itu tidak membuktikan bahwa matahari memang tidak ada. Fenomena-fenomena ini telah diselidiki sejak bertahun-tahun yang lalu. Seluruh bangsa umat manusia telah melatih diri selama berabad-abad untuk menjadi instrumen yang layak guna menyingkap kerja halus saraf; catatan mereka telah dipublikasikan berabad-abad yang lampau, perguruan-perguruan telah didirikan untuk mempelajari pokok-pokok ini, dan masih terdapat pria dan perempuan yang merupakan bukti hidup atas fenomena tersebut. Tentu saja saya mengakui bahwa terdapat banyak tipu daya di dalam keseluruhan hal ini, banyak hal yang salah dan tidak benar; namun terhadap hal apakah ini tidak terjadi? Ambillah fenomena ilmiah biasa mana pun; ada dua atau tiga fakta yang oleh ilmuwan ataupun orang awam dianggap sebagai kebenaran mutlak, dan selebihnya hanyalah dugaan-dugaan yang hampa. Sekarang, biarlah si agnostik menerapkan ujian yang sama pada ilmunya sendiri sebagaimana ia menerapkannya pada apa yang tidak ingin ia percayai. Separuh dari ilmunya itu akan langsung terguncang sampai ke dasarnya. Kita memang terikat untuk hidup berdasarkan dugaan-dugaan. Kita tidak dapat hidup dengan puas di tempat kita berada saat ini; itulah pertumbuhan alamiah jiwa manusia. Kita tidak dapat menjadi agnostik di satu sisi dan pada saat yang sama berkeliling mencari sesuatu di sini; kita harus memilih. Dan karena alasan inilah kita harus melampaui batas-batas kita, berjuang untuk mengetahui apa yang tampaknya tidak dapat diketahui; dan perjuangan ini harus terus berlanjut.

Menurut pendapat saya, oleh karena itu, saya benar-benar melangkah satu langkah lebih jauh daripada penceramah, dan mengajukan pendapat bahwa sebagian besar fenomena psikis — bukan hanya hal-hal kecil seperti ketukan roh atau ketukan meja yang sekadar permainan anak-anak, bukan pula sekadar hal-hal kecil seperti telepati yang pernah saya saksikan dilakukan bahkan oleh anak-anak — sebagian besar fenomena psikis yang oleh pembicara terakhir disebut sebagai clairvoyance tingkat tinggi, tetapi yang lebih saya sukai untuk disebut sebagai pengalaman keadaan adisadar pikiran, merupakan batu loncatan menuju penyelidikan psikologis yang sesungguhnya. Hal pertama yang harus dilihat adalah apakah pikiran dapat mencapai keadaan tersebut atau tidak. Penjelasan saya, tentu saja, akan sedikit berbeda dengan penjelasan beliau, namun kita kemungkinan besar akan sepakat ketika kita menjelaskan istilah-istilahnya. Tidak banyak yang bergantung pada pertanyaan apakah kesadaran kita yang sekarang ini berlanjut setelah kematian atau tidak, mengingat bahwa alam semesta ini, sebagaimana adanya sekarang, tidaklah terikat pada keadaan kesadaran ini. Kesadaran tidak berdampingan dengan keberadaan. Di dalam tubuh saya sendiri, dan di dalam tubuh kita semua, kita harus mengakui bahwa kita hanya sadar akan sebagian kecil dari tubuh kita, sedangkan sebagian besar lainnya tidak kita sadari. Namun ia tetap ada. Tidak ada orang yang pernah sadar akan otaknya, misalnya. Saya tidak pernah melihat otak saya, dan saya tidak pernah sadar akannya. Namun saya tahu bahwa ia ada. Oleh karena itu, kita dapat mengatakan bahwa bukan kesadaran yang kita inginkan, melainkan keberadaan sesuatu yang bukan merupakan materi kasar ini; dan bahwa pengetahuan demikian dapat diperoleh bahkan dalam kehidupan ini, dan bahwa pengetahuan tersebut telah diperoleh dan dibuktikan, sejauh ilmu apa pun pernah dibuktikan, merupakan suatu fakta. Kita harus menyelidiki hal-hal ini, dan saya ingin menegaskan kembali kepada mereka yang hadir di sini satu hal lagi. Patut diingat bahwa kita acap kali tertipu dalam hal ini. Orang-orang tertentu menyajikan kepada kita pembuktian suatu fakta yang tidak biasa bagi sifat spiritual, dan kita menolak fakta itu karena kita berkata bahwa kita tidak dapat menemukannya sebagai benar. Dalam banyak kasus, fakta itu mungkin memang tidak benar. Namun dalam banyak kasus pula, kita lupa untuk mempertimbangkan apakah kita layak menerima pembuktian tersebut atau tidak, apakah kita telah mengizinkan tubuh dan pikiran kita menjadi subjek yang layak bagi penemuannya.

English

THE BASIS FOR PSYCHIC OR SPIRITUAL RESEARCH

It was not often that Swami Vivekananda, while in the West, took part in debates. One such occasion in London when he did so was during the discussion of a lecture on, "Can Psychic Phenomena be proved from a Scientific Basis?" Referring first to a remark which he had heard in the course of this debate, not for the first time in the West, he said:

One point I want to remark upon. It is a mistaken statement that has been made to us that the Mohammedans do not believe that women have souls. I am very sorry to say it is an old mistake among Christian people, and they seem to like the mistake. That is a peculiarity in human nature, that people want to say something very bad about others whom they do not like. By the by, you know I am not a Mohammedan, but yet I have had opportunity for studying this religion, and there is not one word in the Koran which says that women have no souls, but in fact it says they have.

About the psychical things that have been the subject of discussion, I have very little to say here, for in the first place, the question is whether psychical subjects are capable of scientific demonstration. What do you mean by this demonstration? First of all, there will be the subjective and the objective side necessary. Taking chemistry and physics, with which we are so familiar, and of which we have read so much, is it true that everyone in this world is able to understand the demonstration even of the commonest subjects? Take any boor and show him one of your experiments. What will he understand of it? Nothing. It requires a good deal of previous training to be brought up to the point of understanding an experiment. Before that he cannot understand it at all. That is a area difficulty in the way. If scientific demonstration mean bringing down certain facts to a plane which is universe for all human beings, where all beings can understand it I deny that there can be any such scientific demonstration for any subject in the world. If it were so, all our universities and education would be in vain. Why are we educated if by birth we can understand everything scientific? Why so much study? It is of no use whatsoever. So, on the face of it, it is absurd if this be the meaning of scientific demonstration, the bringing down of intricate facts to the plane on which we are now. The next meaning should be the correct one, perhaps, that certain facts should be adduced as proving certain more intricate facts. There are certain more complicated intricate phenomena, which we explain by less intricate ones, and thus get, perhaps, nearer to them; in this way they are gradually brought down to the plane of our present ordinary consciousness. But even this is very complicated and very difficult, and means a training also, a tremendous amount of education. So an I have to say is that in order to have scientific explanation of psychical phenomena, we require not only perfect evidence on the side of the phenomena themselves, but a good deal of training on the part of those who want to see. All this being granted, we shall be in a position to say yea or nay, about the proof or disproof of any phenomena which are presented before us. But, before that, the most remarkable phenomena or the most oft-recorded phenomena that have happened in human society, in my opinion, would be very hard indeed to prove even in an offhand manner.

Next, as to those hasty explanations that religions are the outcome of dreams, those who have made a particular study of them would think of them but as mere guesses. We no reason to suppose that religions were the outcome of dreams as has been so easily explained. Then it would be very easy indeed to take even the agnostic's position, but unfortunately the matter cannot be explained so easily. There are many other wonderful phenomena happening, even at the present time, and these have all to be investigated, and not only have to be, but have been investigated all along. The blind man says there is no sun. That does not prove that there is no sun. These phenomena have been investigated years before. Whole races of mankind have trained themselves for centuries to become fit instruments for discovering the fine workings of the nerves; their records have been published ages ago, colleges have been created to study these subjects, and men and women there are still who are living demonstrations of these phenomena. Of course I admit that there is a good deal of hoax in the whole thing, a good deal of what is wrong and untrue in these things; but with what is this not the case? Take any common scientific phenomenon; there are two or three facts which either scientists or ordinary men may regard as absolute truths, and the rest as mere frothy suppositions. Now let the agnostic apply the same test to his own science which he would apply to what he does not want to believe. Half of it would be shaken to its foundation at once. We are bound to live on suppositions. We cannot live satisfied where we are; that is the natural growth of the human soul. We cannot become agnostics on this side and at the same time go about seeking for anything here; we have to pick. And, for this reason, we have to get beyond our limits, struggle to know what seems to be unknowable; and this struggle must continue.

In my opinion, therefore, I go really one step further than the lecturer, and advance the opinion that most of the psychical phenomena — not only little things like spirit-rappings or table-rappings which are mere child's play, not merely little things like telepathy which I have seen boys do even — most of the psychical phenomenal which the last speaker calls the higher clairvoyance, but which I would rather beg to call the experiences of the superconscious state of the mind, are the very stepping-stones to real psychological investigation. The first thing to be; seen is whether the mind can attain to that state or not. My explanation would, of course, be a little different from his, but we should probably agree when we explain terms. Not much depends on the question whether this present consciousness continues after death or not, seeing that this universe, as it is now, is not bound to this state of consciousness. Consciousness is not co-existent with existence. In my own body, and in all of our bodies, we must all admit that we are conscious of very little of the body, and of the greater part of it we are unconscious. Yet it exists. Nobody is ever conscious of his brain, for example. I never saw my brain, and I am never conscious of it. Yet I know that it exists. Therefore we may say that it is not consciousness that we want, but the existence of something which is not this gross matter; and that that knowledge can be gained even in this life, and that that knowledge has been gained and demonstrated, as far as any science has been demonstrated, is a fact. We have to look into these things, and I would insist on reminding those who are here present on one other point. It is well to remember that very many times we are deluded on this. Certain people place before us the demonstration of a fact which is not ordinary to the spiritual nature, and we reject that fact because we say we cannot find it to be true. In many cases the fact may not be correct. But in many cases also we forget to consider whether we are fit to receive the demonstration or not, whether we have permitted our bodies and our minds to become fit subjects for their discovery.


Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.