Arsip Vivekananda

Dasar-Dasar Agama

Jilid4 essay
2,947 kata · 12 menit baca · Writings: Prose

Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.

AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.

Bahasa Indonesia

DASAR-DASAR AGAMA

Pikiran saya paling baik dapat memahami agama-agama dunia, baik kuno maupun modern, yang telah mati maupun yang masih hidup, melalui pembagian empat lipat ini:

1. Simbologi — Penggunaan berbagai sarana lahiriah untuk memelihara dan mengembangkan kemampuan religius manusia.

2. Sejarah — Filsafat dari setiap agama sebagaimana digambarkan dalam kehidupan para guru ilahi atau manusiawi yang diakui oleh masing-masing agama. Hal ini mencakup mitologi; sebab apa yang merupakan mitologi bagi satu bangsa atau zaman, adalah atau pernah menjadi sejarah bagi bangsa atau zaman yang lain. Bahkan dalam kasus para guru manusia, sebagian besar sejarah mereka dianggap sebagai mitologi oleh generasi-generasi berikutnya.

3. Filsafat — Penjelasan rasional dari seluruh ruang lingkup setiap agama.

4. Mistisisme — Penegasan akan adanya sesuatu yang lebih tinggi daripada pengetahuan indrawi dan akal, yang dimiliki oleh orang-orang tertentu, atau oleh semua orang dalam keadaan tertentu; hal ini juga merembesi pembagian-pembagian yang lain.

Semua agama di dunia, baik di masa lalu maupun masa kini, merangkum satu atau lebih prinsip-prinsip ini, dan agama-agama yang sangat berkembang memiliki keempat-empatnya.

Dari agama-agama yang sangat berkembang ini pula, ada yang tidak memiliki kitab suci atau kitab-kitab suci, dan agama-agama tersebut telah lenyap; namun yang berlandaskan pada kitab-kitab suci tetap hidup hingga hari ini. Demikianlah, semua agama besar dunia saat ini didirikan di atas kitab-kitab suci.

Agama Veda di atas Veda (yang keliru disebut Hindu atau Brahmanik).

Agama Avesta di atas Avesta.

Agama Musa di atas Perjanjian Lama.

Agama Buddhis di atas Tripitaka.

Agama Kristen di atas Perjanjian Baru.

Agama Muhammad di atas Al-Quran.

Para penganut Taoisme dan Konfusianisme di Tiongkok, yang juga memiliki kitab-kitab, telah bercampur baur sedemikian erat dengan bentuk agama Buddhis sehingga dapat dikatalogkan bersama Buddhisme.

Selanjutnya, meskipun secara ketat tidak ada agama yang sepenuhnya bersifat kebangsaan, namun dapat dikatakan bahwa, dari kelompok ini, agama Veda, agama Musa, dan agama Avesta terbatas pada bangsa-bangsa tempat agama-agama itu semula berasal; sedangkan agama Buddhis, Kristen, dan Muhammad sejak awal mulanya merupakan agama-agama yang menyebar.

Pertarungan akan terjadi antara penganut Buddhisme, Kristen, dan Muhammad untuk menaklukkan dunia, dan agama-agama kebangsaan pun mau tidak mau harus turut serta dalam pertarungan itu. Setiap agama, baik yang bersifat kebangsaan maupun yang menyebar, telah terpecah menjadi berbagai cabang dan telah mengalami perubahan besar, baik secara sadar maupun tidak sadar, untuk menyesuaikan diri dengan keadaan yang berbeda-beda. Fakta inilah yang menunjukkan bahwa tidak satu pun dari agama-agama itu yang layak sendirian menjadi agama bagi seluruh umat manusia. Karena setiap agama merupakan akibat dari keistimewaan tertentu bangsa tempat ia muncul, dan pada gilirannya menjadi sebab penguatan dan pelestarian keistimewaan-keistimewaan itu sendiri, maka tidak satu pun dari agama-agama itu yang cocok bagi kodrat manusia universal. Bukan hanya demikian, melainkan terdapat pula unsur negatif dalam setiap agama. Masing-masing membantu pertumbuhan bagian tertentu dari kodrat manusia, namun menekan segala sesuatu lainnya yang tidak dimiliki oleh bangsa tempat agama itu lahir. Oleh karena itu, satu agama yang menjadi universal akan berbahaya dan merosotkan manusia.

Sekarang, sejarah dunia menunjukkan bahwa kedua impian ini — yaitu Kekaisaran politik universal dan Kekaisaran religius universal — telah lama ada di hadapan umat manusia, tetapi berulang kali rencana penakluk-penakluk terbesar pun digagalkan oleh terpecah-belahnya wilayah kekuasaannya bahkan sebelum ia dapat menaklukkan sebagian kecil dari bumi; dan demikian pula setiap agama telah terpecah menjadi sekte-sekte bahkan sebelum agama itu cukup beranjak dari buaiannya.

Namun tampaknya benar bahwa solidaritas umat manusia, baik secara sosial maupun religius, dengan ruang bagi variasi yang tak terbatas, adalah rencana alam; dan jika garis perlawanan terkecil adalah garis tindakan yang benar, maka tampaknya bagi saya bahwa terpecah-belahnya setiap agama menjadi sekte-sekte adalah pemeliharaan agama itu sendiri dengan menggagalkan kecenderungan ke arah keseragaman yang kaku, sekaligus merupakan petunjuk yang jelas bagi kita tentang garis tindakan yang harus ditempuh.

Dengan demikian, akhir dari semuanya tampaknya bukan kehancuran, melainkan pelipatgandaan sekte-sekte hingga setiap individu menjadi sekte bagi dirinya sendiri. Selanjutnya, suatu latar belakang kesatuan akan muncul melalui peleburan semua agama yang ada menjadi satu filsafat agung. Dalam mitologi atau dalam upacara-upacara tidak akan pernah ada kesatuan, sebab kita lebih berbeda dalam hal yang konkret daripada dalam hal yang abstrak. Bahkan ketika mengakui prinsip yang sama, manusia akan berbeda pendapat mengenai keagungan guru ideal masing-masing.

Maka, melalui peleburan inilah akan ditemukan suatu kesatuan filsafat sebagai landasan persatuan, dengan tetap memberi kebebasan kepada setiap orang untuk memilih gurunya sendiri atau bentuk pemujaannya sendiri sebagai gambaran dari kesatuan tersebut. Peleburan ini adalah sesuatu yang secara alamiah telah berlangsung selama ribuan tahun; hanya saja, karena pertentangan timbal balik, ia terhambat secara menyedihkan.

Oleh karena itu, alih-alih saling menentang, kita harus membantu segala pertukaran gagasan semacam itu di antara berbagai bangsa, dengan saling mengirim guru-guru, sehingga umat manusia dapat dididik dalam semua agama yang berbeda-beda di dunia; tetapi kita harus bersikukuh, seperti yang dilakukan oleh Kaisar Buddhis besar India, Asoka, pada abad kedua sebelum Masehi, untuk tidak menjelek-jelekkan orang lain, atau berusaha hidup dari kesalahan orang lain; melainkan untuk membantu, bersimpati, dan mencerahkan.

Sekarang ada teriakan keras di seluruh dunia menentang pengetahuan metafisika sebagai lawan dari apa yang disebut pengetahuan fisik. Perang salib menentang yang metafisis dan yang melampaui kehidupan ini, demi membangun kehidupan sekarang dan dunia sekarang di atas landasan yang lebih kokoh, telah dengan cepat menjadi mode yang bahkan para pengkhotbah agama, satu demi satu, dengan cepat tunduk kepadanya. Tentu saja, kerumunan orang yang tidak berpikir selalu mengikuti hal-hal yang menampilkan permukaan menyenangkan kepada mereka; tetapi ketika mereka yang seharusnya lebih tahu juga mengikuti mode-mode tanpa makna, walaupun mereka mengaku berfilsafat semu, hal itu menjadi fakta yang menyedihkan.

Tidak ada seorang pun yang menyangkal bahwa indra-indra kita, selama masih normal, adalah pemandu yang paling dapat dipercaya yang kita miliki, dan fakta-fakta yang dikumpulkan oleh indra-indra itu bagi kita merupakan landasan dasar dari bangunan pengetahuan manusia. Tetapi apabila yang dimaksud adalah bahwa semua pengetahuan manusia hanyalah persepsi indrawi dan tidak lain dari itu, kami menyangkalnya. Apabila yang dimaksud dengan ilmu-ilmu fisika adalah sistem-sistem pengetahuan yang sepenuhnya didasarkan dan dibangun di atas persepsi indrawi semata, kami menegaskan bahwa ilmu semacam itu tidak pernah ada, dan tidak akan pernah ada. Demikian pula, tidak akan pernah ada sistem pengetahuan, yang dibangun semata-mata di atas persepsi indrawi, yang dapat disebut ilmu.

Tidak diragukan lagi, indra-indra mengumpulkan bahan-bahan pengetahuan serta menemukan kesamaan dan ketidaksamaan; tetapi di situlah mereka harus berhenti. Pertama-tama, pengumpulan fisik atas fakta-fakta itu dikondisikan oleh konsep-konsep metafisis tertentu, seperti ruang dan waktu. Kedua, pengelompokan fakta atau penggeneralisasian mustahil dilakukan tanpa suatu pengertian abstrak sebagai latar belakangnya. Semakin tinggi penggeneralisasian, semakin metafisis pula latar belakang abstrak tempat fakta-fakta yang terpisah-pisah itu disusun. Sekarang, gagasan-gagasan seperti materi, kekuatan, pikiran, hukum, sebab-akibat, waktu, dan ruang adalah hasil dari penggeneralisasian yang sangat tinggi, dan tidak seorang pun pernah menginderai satu pun dari hal-hal itu; dengan kata lain, semuanya sepenuhnya bersifat metafisis. Namun tanpa konsep-konsep metafisis ini, tidak ada fakta fisik yang dapat dipahami. Demikianlah suatu gerak tertentu menjadi dapat dipahami ketika dihubungkan dengan suatu kekuatan; sensasi-sensasi tertentu dihubungkan dengan materi; perubahan-perubahan tertentu di luar dihubungkan dengan hukum; perubahan-perubahan tertentu dalam pemikiran dihubungkan dengan pikiran; tatanan tertentu secara tunggal dihubungkan dengan sebab-akibat — dan bila disatukan dengan waktu, dihubungkan dengan hukum. Namun tidak seorang pun pernah melihat atau bahkan membayangkan materi atau kekuatan, hukum atau sebab-akibat, waktu atau ruang.

Mungkin akan didesakkan bahwa hal-hal ini, sebagai konsep-konsep abstrak, tidak ada, dan bahwa abstraksi-abstraksi ini bukanlah sesuatu yang terpisah atau dapat dipisahkan dari kelompok-kelompok yang — boleh dikatakan — hanya merupakan kualitasnya.

Terlepas dari pertanyaan apakah abstraksi mungkin atau tidak, atau apakah ada sesuatu yang lain selain kelompok-kelompok yang digeneralisasi itu atau tidak, jelaslah bahwa gagasan-gagasan tentang materi atau kekuatan, waktu atau ruang, sebab-akibat, hukum, atau pikiran, diperlakukan sebagai satuan-satuan yang diabstraksikan dan berdiri sendiri (terlepas) dari kelompok-kelompok itu, dan hanya ketika gagasan-gagasan itu dipikirkan demikian, barulah mereka menampilkan diri sebagai penjelasan atas fakta-fakta dalam persepsi indrawi. Artinya, terlepas dari keabsahan gagasan-gagasan ini, kita melihat dua fakta mengenainya — pertama, gagasan-gagasan itu bersifat metafisis; kedua, hanya sebagai sesuatu yang metafisis mereka dapat menjelaskan yang fisik, dan tidak dengan cara lain.

Apakah yang lahiriah itu menyesuaikan diri dengan yang batiniah, atau yang batiniah dengan yang lahiriah, apakah materi menyesuaikan diri dengan pikiran, atau pikiran dengan materi, apakah lingkungan yang membentuk pikiran, atau pikiran yang membentuk keadaan, adalah pertanyaan lama, sangat lama, dan hingga hari ini masih sama segarnya dan sama bersemangatnya seperti dahulu. Terlepas dari pertanyaan tentang urutan atau sebab-akibat — tanpa berusaha memecahkan persoalan apakah pikiran adalah sebab dari materi atau materi sebab dari pikiran — jelaslah bahwa apakah yang lahiriah itu dibentuk oleh yang batiniah atau tidak, ia tentu harus menyesuaikan diri dengan yang batiniah agar kita dapat mengenalinya. Andaikata dunia luar adalah sebab dari yang batiniah, kita tetap harus mengakui bahwa dunia luar, sebagai sebab dari pikiran kita, tidak diketahui dan tidak dapat diketahui, sebab pikiran hanya dapat mengetahui sebanyak itu, atau pandangan terhadap dunia luar yang menyesuaikan diri dengan atau merupakan pantulan dari kodratnya sendiri. Sesuatu yang merupakan pantulannya sendiri tidak mungkin menjadi sebabnya. Sekarang, pandangan tersebut, atas seluruh kumpulan eksistensi, yang dipotong-potong dan dikenali oleh pikiran, jelas tidak mungkin menjadi sebab dari pikiran, karena eksistensinya sendiri dikenali di dalam dan melalui pikiran.

Dengan demikian, mustahil menyimpulkan pikiran dari materi. Bahkan lebih dari itu, hal itu mustahil. Sebab pada pandangan pertama, bagian eksistensi yang dikosongkan dari kualitas pemikiran dan kehidupan serta dianugerahi kualitas keluarwujudan disebut materi, dan bagian yang dikosongkan dari keluarwujudan serta dianugerahi kualitas pemikiran dan kehidupan disebut pikiran. Sekarang, untuk membuktikan materi dari pikiran, atau pikiran dari materi, sama saja dengan menyimpulkan dari masing-masing justru kualitas-kualitas yang telah kita ambil dari masing-masing; oleh karena itu, semua perdebatan tentang kausalitas pikiran atau materi hanyalah suatu permainan kata-kata dan tidak lebih dari itu. Selanjutnya, di sepanjang semua kontroversi ini, sebagai suatu kaidah, mengalir kekeliruan berupa pemberian arti yang berbeda-beda pada kata-kata "pikiran" dan "materi". Jika kadang-kadang kata "pikiran" digunakan sebagai sesuatu yang berlawanan dan lahiriah terhadap materi, di waktu lain ia digunakan sebagai sesuatu yang merangkum baik pikiran maupun materi, yakni sesuatu yang baik yang lahiriah maupun yang batiniah merupakan bagian-bagiannya, dari sisi materialistis; kata "materi" kadang-kadang digunakan dalam arti terbatas sebagai sesuatu yang lahiriah yang kita inderai, dan di lain waktu ia berarti sesuatu yang menjadi sebab dari segenap fenomena, baik yang lahiriah maupun yang batiniah. Si materialis menakut-nakuti si idealis dengan mengaku dapat menurunkan pikirannya dari unsur-unsur laboratorium, padahal sepanjang waktu ia tengah berjuang untuk mengungkapkan sesuatu yang lebih tinggi daripada semua unsur dan atom, sesuatu yang baik fenomena lahiriah maupun batiniah merupakan hasilnya, dan yang ia sebut sebagai materi. Si idealis, di sisi lain, ingin menurunkan semua unsur dan atom si materialis dari pemikirannya sendiri, sekalipun ia sesekali menangkap kilasan-kilasan tentang sesuatu yang menjadi sebab baik dari pikiran maupun materi, dan yang sering kali ia sebut sebagai Tuhan. Artinya, satu pihak ingin menjelaskan seluruh alam semesta melalui suatu bagiannya yang lahiriah, sedang pihak lain melalui bagian lain yang batiniah. Kedua usaha ini sama-sama mustahil. Pikiran dan materi tidak dapat saling menjelaskan satu sama lain. Satu-satunya penjelasan haruslah dicari pada sesuatu yang akan merangkum baik materi maupun pikiran.

Mungkin akan dikatakan bahwa pemikiran tidak dapat ada tanpa pikiran, sebab andaikata ada masa ketika tidak ada pemikiran, maka materi, sebagaimana yang kita kenal, jelas tidak mungkin ada. Di sisi lain, mungkin pula dikatakan bahwa karena pengetahuan mustahil tanpa pengalaman, dan pengalaman mengandaikan adanya dunia luar, maka keberadaan pikiran, sebagaimana yang kita kenal, mustahil tanpa keberadaan materi.

Tidak mungkin pula salah satu dari keduanya memiliki suatu permulaan. Penggeneralisasian adalah inti pengetahuan. Penggeneralisasian mustahil tanpa adanya penimbunan kesamaan-kesamaan. Bahkan fakta perbandingan saja mustahil tanpa pengalaman sebelumnya. Dengan demikian, pengetahuan mustahil tanpa pengetahuan sebelumnya — dan karena pengetahuan mengharuskan adanya baik pemikiran maupun materi, maka keduanya tidak berpermulaan.

Sekali lagi, penggeneralisasian, yakni inti dari pengetahuan indrawi, mustahil tanpa sesuatu yang menjadi tempat fakta-fakta persepsi yang terpisah-pisah itu dipersatukan. Seluruh dunia persepsi lahiriah memerlukan sesuatu yang menjadi tempat untuk dipersatukan agar terbentuk konsep tentang dunia, sebagaimana lukisan harus memiliki kanvasnya. Jika pemikiran atau pikiran adalah kanvas bagi dunia luar, maka ia, pada gilirannya, memerlukan kanvas yang lain. Karena pikiran adalah rangkaian berbagai perasaan dan kehendak — dan bukan suatu kesatuan, ia memerlukan sesuatu di luar dirinya sebagai latar belakang kesatuannya. Di sinilah semua analisis pasti berhenti, sebab suatu kesatuan yang nyata telah ditemukan. Analisis terhadap suatu paduan tidak dapat berhenti hingga suatu satuan yang tidak dapat dibagi-bagi tercapai. Fakta yang menghadirkan kepada kita kesatuan demikian bagi baik pemikiran maupun materi, harus dengan sendirinya merupakan landasan terakhir yang tak dapat dibagi-bagi dari setiap fenomena, sebab kita tidak dapat membayangkan analisis lebih lanjut; tidak pula diperlukan analisis lebih lanjut, karena hal ini mencakup analisis atas semua persepsi lahiriah dan batiniah kita.

Sejauh ini, kita melihat bahwa keseluruhan fenomena mental dan material, dan sesuatu yang melampauinya, yang menjadi tempat keduanya bermain, adalah hasil dari penyelidikan kita.

Sekarang, sesuatu yang melampaui ini tidak terdapat dalam persepsi indrawi; ia adalah suatu keniscayaan logis, dan suatu perasaan akan kehadirannya yang tak terdefinisikan mengalir melalui semua persepsi indrawi kita. Kita juga melihat bahwa kita digiring kepada sesuatu ini oleh kebutuhan mutlak untuk setia pada akal dan kemampuan menggeneralisasi kita.

Mungkin akan didesakkan bahwa sama sekali tidak ada keharusan untuk mempostulatkan substansi atau wujud semacam itu di luar massa fenomena mental dan material. Keseluruhan fenomena adalah semua yang kita ketahui atau dapat ketahui, dan ia tidak memerlukan sesuatu di luar dirinya untuk menjelaskan dirinya sendiri. Analisis melampaui indra-indra adalah mustahil, dan perasaan akan adanya suatu substansi tempat segala sesuatu melekat hanyalah suatu ilusi.

Kita melihat bahwa, sejak zaman yang paling kuno, terdapat dua aliran ini di kalangan para pemikir. Satu pihak menyatakan bahwa keharusan yang tak terelakkan dari pikiran manusia untuk membentuk konsep-konsep dan abstraksi-abstraksi adalah pemandu alamiah menuju pengetahuan, dan bahwa ia tidak dapat berhenti di titik mana pun sampai kita telah melampaui semua fenomena dan membentuk suatu konsep yang mutlak ke segala arah, melampaui waktu dan ruang dan sebab-akibat. Sekarang, jika konsep terakhir ini dicapai dengan menganalisis seluruh fenomena pemikiran dan materi, selangkah demi selangkah, dengan mengambil yang lebih kasar terlebih dahulu dan memecahkannya menjadi yang lebih halus, dan yang lebih halus lagi, sampai kita tiba pada sesuatu yang berdiri sebagai pemecahan bagi segala sesuatu yang lain, maka jelaslah bahwa segala sesuatu lainnya di luar hasil akhir ini hanyalah modifikasi sesaat dari dirinya sendiri, dan oleh karena itu, hasil akhir inilah satu-satunya yang nyata, sedangkan segala sesuatu lainnya hanyalah bayangannya. Realitas, oleh karena itu, tidak terdapat dalam indra-indra, melainkan di luar mereka.

Di sisi lain, pihak yang lain berpendapat bahwa satu-satunya realitas di alam semesta adalah apa yang dibawa oleh indra-indra kita kepada kita, dan walaupun perasaan akan adanya sesuatu yang melampaui itu melekat pada semua persepsi indrawi kita, hal itu hanyalah suatu tipuan pikiran, dan oleh karena itu tidak nyata.

Sekarang, sesuatu yang berubah tidak akan pernah dapat dipahami tanpa gagasan tentang sesuatu yang tidak berubah; dan apabila dikatakan bahwa sesuatu yang tidak berubah, yang menjadi rujukan bagi yang berubah, itu pun adalah fenomena yang berubah yang hanya secara relatif tidak berubah, sehingga harus pula dirujukkan pada sesuatu yang lain, dan seterusnya, kami menjawab bahwa betapapun panjangnya rangkaian ini tak terhingga, justru fakta ketidakmampuan kita untuk memahami yang berubah tanpa yang tidak berubah memaksa kita untuk mempostulatkan satu hal sebagai latar belakang dari segala yang berubah. Dan tidak seorang pun berhak mengambil satu bagian dari suatu keseluruhan sebagai benar dan menolak bagian lainnya sesuka hati. Apabila seseorang mengambil sisi muka, ia harus pula mengambil sisi belakang dari mata uang yang sama, betapapun tidak sukanya ia akan hal itu.

Selanjutnya, dengan setiap gerakan, manusia menegaskan kebebasannya. Dari pemikir tertinggi sampai orang paling bodoh, setiap orang tahu bahwa dirinya bebas. Sekarang, setiap orang pada saat yang sama, dengan sedikit perenungan, menemukan bahwa setiap perbuatannya memiliki motif dan kondisi-kondisi, dan dengan adanya motif serta kondisi-kondisi tersebut, tindakannya yang khusus itu dapat disimpulkan secara setegas-tegasnya seperti fakta lain mana pun dalam sebab-akibat.

Di sini sekali lagi, kesulitan yang sama muncul. Kehendak manusia terikat secara ketat oleh hukum sebab-akibat, sebagaimana pertumbuhan tanaman kecil mana pun atau jatuhnya sebuah batu, namun di sepanjang seluruh belenggu ini mengalir gagasan kebebasan yang tak dapat dihancurkan. Di sini pun pihak ketotalitasan akan menyatakan bahwa gagasan kebebasan itu adalah ilusi dan bahwa manusia sepenuhnya merupakan makhluk keniscayaan.

Sekarang, di satu pihak, penyangkalan terhadap kebebasan sebagai suatu ilusi sama sekali bukanlah suatu penjelasan; di pihak lain, mengapa tidak dikatakan saja bahwa gagasan tentang keniscayaan atau belenggu atau sebab-akibat itulah yang merupakan ilusi orang-orang yang tidak tahu? Suatu teori apa pun yang dapat menyesuaikan dirinya dengan fakta-fakta yang ingin dijelaskannya, dengan pertama-tama memangkas sebanyak mungkin fakta yang menghalangi penyesuaian dirinya itu, sudah pada pandangan pertama keliru. Oleh karena itu, satu-satunya jalan yang tersisa bagi kita adalah pertama-tama mengakui bahwa tubuh tidaklah bebas, demikian pula kehendak, tetapi harus ada sesuatu yang melampaui baik pikiran maupun tubuh yang adalah bebas dan

Catatan

English

FUNDAMENTALS OF RELIGION

My mind can best grasp the religions of the world, ancient or modern, dead or living, through this fourfold division:

1. Symbology — The employment of various external aids to preserve and develop the religious faculty of man.

2. History — The philosophy of each religion as illustrated in the lives of divine or human teachers acknowledged by each religion. This includes mythology; for what is mythology to one race, or period, is or was history to other races or periods. Even in cases of human teachers, much of their history is taken as mythology by successive generations.

3. Philosophy — The rationale of the whole scope of each religion.

4. Mysticism — The assertion of something superior to sense-knowledge and reason which particular persons, or all persons under certain circumstances, possess; runs through the other divisions also.

All the religions of the world, past or present, embrace one or more of these principles, the highly developed ones having all the four.

Of these highly developed religions again, some had no sacred book or books and they have disappeared; but those which were based on sacred books are living to the present day. As such, all the great religions of the world today are founded on sacred books.

The Vedic on the Vedas (misnamed the Hindu or Brahminic).

The Avestic on the Avesta.

The Mosaic on the Old Testament.

The Buddhistic on the Tripitaka.

The Christian on the New Testament.

The Mohammedan on the Koran.

The Taoists and the Confucianists in China, having also books, are so inextricably mixed up with the Buddhistic form of religion as to be catalogued with Buddhism.

Again, although strictly speaking there are no absolutely racial religions, yet it may be said that, of this group, the Vedic, the Mosaic, and the Avestic religions are confined to the races to which they originally belonged; while the Buddhistic, the Christian, and the Mohammedan religions have been from their very beginning spreading religions.

The struggle will be between the Buddhists and Christians and Mohammedans to conquer the world, and the racial religions also will have unavoidably to join in the struggle. Each one of these religions, racial or spreading, has been already split into various branches and has undergone vast changes consciously or unconsciously to adapt itself to varying circumstances. This very fact shows that not one of them is fitted alone to be the religion of the entire human race. Each religion being the effect of certain peculiarities of the race it sprang from, and being in turn the cause of the intensification and preservation of those very peculiarities, not one of them can fit the universal human nature. Not only so, but there is a negative element in each. Each one helps the growth of a certain part of human nature, but represses everything else which the race from which it sprang had not. Thus one religion to become universal would be dangerous and degenerating to man.

Now the history of the world shows that these two dreams — that of a universal political Empire and that of a universal religious Empire — have been long before mankind, but that again and again the plans of the greatest conquerors had been frustrated by the splitting up of his territories before he could conquer only a little part of the earth; and similarly every religion has been split into sects before it was fairly out of its cradle.

Yet it seems to be true, that the solidarity of the human race, social as well as religious, with a scope for infinite variation, is the plan of nature; and if the line of least resistance is the true line of action, it seems to me that this splitting up of each religion into sects is the preservation of religion by frustrating the tendency to rigid sameness, as well as the dear indication to us of the line of procedure.

The end seems, therefore, to be not destruction but a multiplication of sects until each individual is a sect unto himself. Again a background of unity will come by the fusion of all the existing religions into one grand philosophy. In the mythologies or the ceremonials there never will be unity, because we differ more in the concrete than in the abstract. Even while admitting the same principle, men will differ as to the greatness of each of his ideal teacher.

So, by this fusion will be found out a union of philosophy as the basis of union, leaving each at liberty to choose his teacher or his form as illustrations of that unity. This fusion is what is naturally going on for thousands of years; only, by mutual antagonism, it has been woefully held back.

Instead of antagonising, therefore, we must help all such interchange of ideas between different races, by sending teachers to each other, so as to educate humanity in all the various religions of the world; but we must insist as the great Buddhist Emperor of India, Asoka, did, in the second century before Christ, not to abuse others, or to try to make a living out of others' faults; but to help, to sympathise, and to enlighten.

There is a great outcry going over the world against metaphysical knowledge as opposed to what is styled physical knowledge. This crusade against the metaphysical and the beyond-this-life, to establish the present life and the present world on a firmer basis, is fast becoming a fashion to which even the preachers of religion one after the other are fast succumbing. Of course, the unthinking multitude are always following things which present to them a pleasing surface; but when those who ought to know better, follow unmeaning fashions, pseudo-philosophical though they profess to be, it becomes a mournful fact.

Now, no one denies that our senses, as long as they are normal, are the most trustworthy guides we have, and the facts they gather in for us form the very foundation of the structure of human knowledge. But if they mean that all human knowledge is only sense-perception and nothing but that, we deny it. If by physical sciences are meant systems of knowledge which are entirely based and built upon sense-perception, and nothing but that, we contend that such a science never existed nor will ever exist. Nor will any system of knowledge, built upon sense-perception alone, ever be a science.

Senses no doubt cull the materials of knowledge and find similarities and dissimilarities; but there they have to stop. In the first place the physical gatherings of facts are conditioned by certain metaphysical conceptions, such as space and time. Secondly, grouping facts, or generalisation, is impossible without some abstract notion as the background. The higher the generalization, the more metaphysical is the abstract background upon which the detached facts are arranged. Now, such ideas as matter, force, mind, law, causation, time, and space are the results of very high abstractions, and nobody has ever sensed any one of them; in other words, they are entirely metaphysical. Yet without these metaphysical conceptions, no physical fact is possible to be understood. Thus a certain motion becomes understood when it is referred to a force; certain sensations, to matter; certain changes outside, to law; certain changes in thought, to mind; certain order singly, to causation — and joined to time, to law. Yet nobody has seen or even imagined matter or force, law or causation, time or space.

It may be urged that these, as abstracted concepts do not exist, and that these abstractions are nothing separate or separable from the groups of which they are, so to say, only qualities.

Apart from the question whether abstractions are possible or not, or whether there is something besides the generalized groups or not, it is plain that these notions of matter or force, time or space, causation, law, or mind, are held to be units abstracted and independent (by themselves) of the groups, and that it is only when they are thought of as such, they furnish themselves as explanations of the facts in sense-perception. That is to say, apart from the validity of these notions, we see two facts about them — first, they are metaphysical; second, that only as metaphysical do they explain the physical and not otherwise.

Whether the external conforms to the internal, or the internal to the external, whether matter conforms to mind, or mind to matter, whether the surroundings mould the mind, or the mind moulds the circumstances, is old, old question, and is still today as new and vigorous as it ever was. Apart from the question of precedence or causation — without trying to solve the problem as to whether the mind is the cause of matter or matter the cause of mind — it is evident that whether the external was formed by the internal or not, it must conform itself to the internal for us to be able to know it. Supposing that the external world is the cause of the internal, yet we shall of have to admit that the external world, as cause of ours mind, is unknown and unknowable, because the mind can only know that much or that view of the external or that view which conforms to or is a reflection of its own nature. That which is its own reflection could not have been its cause. Now that view of the whole mass of existence, which is cut off by mind and known, certainly cannot be the cause of mind, as its very existence is known in and through the mind.

Thus it is impossible to deduce a mind from matter. Nay, it is absurd. Because on the very face of it that portion of existence which is bereft of the qualities of thought and life and endowed with the quality of externality is called matter, and that portion which is bereft of externality and endowed with the qualities of thought and life is called mind. Now to prove matter from mind, or mind from matter, is to deduce from each the very qualities we have taken away from each; and, therefore, all the fight about the causality of mind or matter is merely a word puzzle and nothing more. Again, throughout all these controversies runs, as a rule, the fallacy of imparting different meanings to the words mind and matter. If sometimes the word mind is used as something opposed and external to matter, at others as something which embraces both the mind and matter, i.e. of which both the external and internal are parts on the materialistic side; the word matter is sometimes used in is the restricted sense of something external which we sense, and again it means something which is the cause of all the phenomena both external and internal. The materialist frightens the idealist by claiming to derive his mind from the elements of the laboratory, while all the time he is struggling to express something higher than all elements and atoms, something of which both the external and the internal phenomena are results, and which he terms matter. The idealist, on the other hand, wants to derive all the elements and atoms of the materialist from his own thought, even while catching glimpses of something which is the cause of both mind and matter, and which he oft-times calls God. That is to say, one party wants to explain the whole universe by a portion of it which is external, the other by another portion which is internal. Both of these attempts are impossible. Mind and matter cannot explain each other. The only explanation is to be sought for in something which will embrace both matter and mind.

It may be argued that thought cannot exist without mind, for supposing there was a time when there was no thought, matter, as we know it, certainly could not have existed. On the other hand, it may be said that knowledge being impossible without experience, and experience presupposing the external world, the existence of mind, as we know it, is impossible without the existence of matter.

Nor is it possible that either of them had a beginning. Generalisation is the essence of knowledge. Generalisation is impossible without a storage of similarities. Even the fact of comparison is impossible without previous experience. Knowledge thus is impossible without previous knowledge — and knowledge necessitating the existence of both thought and matter, both of them are without beginning.

Again generalization, the essence of sense-knowledge, is impossible without something upon which the detached facts of perception unite. The whole world of external perceptions requires something upon which to unite in order to form a concept of the world, as painting must have its canvas. If thought or mind be this canvas to the external world, it, in its turn requires another. Mind being a series of different feelings and willing — and not a unit, requires something besides itself as its background of unity. Here all analysis is bound to stop, for a real unity has been found. The analysis of a compound cannot stop until an indivisible unit has been reached. The fact that presents us with such a unity for both thought and matter must necessarily be the last indivisible basis of every phenomenon, for we cannot conceive any further analysis; nor is any further analysis necessary, as this includes an analysis of all our external and internal perceptions.

So far then, we see that a totality of mental and material phenomena, and something beyond, upon which they are both playing, are the results of our investigation.

Now this something beyond is not in sense-perception; it is a logical necessity, and a feeling of its indefinable presence runs through all our sense-perceptions. We see also that to this something we are driven by the sheer necessity of being true to our reason and generalising faculty.

It may be urged that there is no necessity whatsoever of postulating any such substance or being beyond the mass of mental and material phenomena. The totality of phenomena is all that we know or can know, and it requires nothing beyond itself to explain itself. An analysis beyond the senses is impossible, and the feeling of a substance in which everything inheres is simply an illusion.

We see, that from the most ancient times, there has been these two schools among thinkers. One party claims that the unavoidable necessity of the human mind to form concepts and abstractions is the natural guide to knowledge, and that it can stop nowhere until we have transcended all phenomena and formed a concept which is absolute in all directions, transcending time and space and causality. Now if this ultimate concept is arrived at by analysing the whole phenomena of thought and matter, step by step, taking the cruder first and resolving it into a finer, and still finer, until we arrive at something which stands as the solution of everything else, it is obvious that everything else beyond this final result is a momentary modification of itself, and as such, this final result alone is real and everything else is but its shadow. The reality, therefore, is not in the senses but beyond them.

On the other hand, the other party holds that the only reality in the universe is what our senses bring to us, and although a sense of something beyond hangs on to all our sense-perceptions, that is only a trick of the mind, and therefore unreal.

Now a changing something can never be understood, without the idea of something unchanging; and if it be said that that unchanging something, to which the changing is referred, is also a changing phenomenon only relatively unchanging, and is therefore to be referred to something else, and so on, we say that however infinitely long this series be, the very fact of our inability to understand a changeable without an unchangeable forces us to postulate one as the background of all the changeable. And no one has the right to take one part of a whole as right and reject the other at will. If one takes the obverse he must take the reverse of the same coin also, however he may dislike it.

Again, with every movement, man asserts his freedom. From the highest thinker to the most ignorant man everyone knows that he is free. Now every man at the same time finds out with a little thinking that every action of his had motives and conditions, and given those motives and conditions his particular action can be as rigorously deduced as any other fact in causation.

Here, again, the same difficulty occurs. Man's will is as rigorously bound by the law of causation as the growth of any little plant or the falling of a stone, and yet, through all this bondage runs the indestructible idea of freedom. Here also the totality side will declare that the idea of freedom is an illusion and man is wholly a creature of necessity.

Now, on one hand, this denial of freedom as an illusion is no explanation; on the other hand, why not say that the idea of necessity or bondage or causation is an illusion of the ignorant? Any theory which can fit itself to facts which it wants to explain, by first cutting as many of them as prevents its fitting itself into them, is on the face of it wrong. Therefore the only way left to us is to admit first that the body is not free, neither is the will but that there must be something beyond both the mind and body which is free and

Notes


Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.