Wedanta dalam Semua Aspeknya
Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.
AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.
Bahasa Indonesia
VEDANTA DALAM SEGALA FASENYA
(Disampaikan di Kalkuta)
Jauh di masa silam, di mana tidak ada sejarah tercatat, bahkan tidak pula cahaya redup tradisi yang dapat menembusnya, telah bersinar dengan mantap suatu cahaya, kadang-kadang diredupkan oleh keadaan-keadaan lahiriah, kadang-kadang berkilauan, tetapi tidak pernah padam dan selalu mantap, memancarkan kilaunya bukan hanya ke atas India, melainkan menembus seluruh dunia pemikiran dengan kekuatannya, yang sunyi, tak terasa, lembut, namun mahakuasa, bagaikan embun yang turun di pagi hari, tak terlihat dan tak diperhatikan, namun membuat mawar yang paling indah merekah: inilah pemikiran Upanisad, yakni filsafat Vedanta (filsafat puncak Veda). Tidak ada seorang pun yang tahu kapan pertama kalinya ia mulai berkembang di tanah India. Segala dugaan telah sia-sia. Dugaan-dugaan itu, terutama dari para penulis Barat, demikian saling bertentangan sehingga tidak ada tarikh pasti yang dapat ditetapkan kepadanya. Akan tetapi, kami orang Hindu, dari sudut pandang spiritual, tidak mengakui bahwa Upanisad itu pernah memiliki suatu asal-mula. Vedanta ini, yakni filsafat Upanisad, dengan berani saya nyatakan, adalah pemikiran pertama sekaligus pemikiran terakhir pada tataran spiritual yang pernah dikaruniakan kepada manusia.
Dari samudra Vedanta inilah, dari masa ke masa, gelombang-gelombang cahaya telah menuju ke Barat dan ke Timur. Pada zaman dahulu, ia mengembara ke Barat dan memberikan dorongan bagi pikiran orang-orang Yunani, baik di Athena, di Aleksandria, maupun di Antiokhia. Sistem Sankhya tentunya telah meninggalkan jejaknya pada pikiran orang-orang Yunani kuno; dan Sankhya serta seluruh sistem lainnya di India tunduk pada satu otoritas, yakni Upanisad, yakni Vedanta. Di India pun, di tengah semua mazhab yang saling berselisih yang kita lihat sekarang dan semua yang pernah ada di masa lalu, satu otoritas tunggal, yakni landasan dari seluruh sistem itu, tetaplah Upanisad, yakni Vedanta. Entah Anda seorang dualis, atau monis yang berkualifikasi, seorang Adwaitin, atau seorang Wisistadwaitin, seorang Suddhadwaitin, atau Adwaitin macam apa pun lainnya, atau Dwaitin, atau apa pun Anda menyebut diri Anda, di belakang Anda berdiri sebagai otoritas Sastra Anda, kitab-kitab suci Anda, yakni Upanisad. Sistem apa pun di India yang tidak mematuhi Upanisad tidak dapat disebut ortodoks, dan bahkan sistem-sistem kaum Jain dan kaum Buddha telah ditolak dari tanah India hanya karena mereka tidak berkesetiaan kepada Upanisad. Dengan demikian, Vedanta, entah kita mengetahuinya atau tidak, telah meresap ke dalam segenap mazhab di India, dan apa yang kita sebut sebagai Hinduisme, pohon beringin raksasa dengan cabang-cabangnya yang besar dan nyaris tak berhingga ini, secara menyeluruh telah ditembusi oleh pengaruh Vedanta. Entah kita menyadarinya atau tidak, kita memikirkan Vedanta, kita hidup dalam Vedanta, kita bernapas dalam Vedanta, dan kita mati dalam Vedanta, dan setiap orang Hindu melakukan hal yang demikian. Memberitakan Vedanta di tanah India, dan di hadapan khalayak India, oleh karena itu, tampak seperti suatu hal yang janggal. Akan tetapi, justru itulah satu-satunya hal yang harus diberitakan, dan zaman ini menuntut bahwa ia harus diberitakan. Sebab, seperti baru saja saya katakan kepada Anda, seluruh mazhab India harus berkesetiaan kepada Upanisad; namun di antara mazhab-mazhab ini terdapat banyak pertentangan yang tampak di permukaan. Berkali-kali para resi agung di zaman dahulu pun tidak dapat memahami keselarasan yang mendasari Upanisad. Berkali-kali, bahkan para resi pun berselisih, sedemikian rupa sehingga timbullah pepatah bahwa tidak ada resi yang tidak berbeda pendapat. Akan tetapi, zaman ini menuntut diberikannya tafsiran yang lebih baik atas keselarasan yang mendasari teks-teks Upanisad ini, baik mereka itu bersifat dualistik, non-dualistik, semi-dualistik, dan seterusnya. Hal itu harus diperlihatkan di hadapan seluruh dunia, dan pekerjaan ini dibutuhkan baik di dalam maupun di luar India; dan saya, melalui rahmat Tuhan, memperoleh keberuntungan agung untuk duduk di kaki seseorang yang seluruh hidupnya merupakan sebuah tafsiran yang demikian, yang hidupnya, seribu kali lebih banyak dibandingkan ajarannya, merupakan komentar yang hidup atas teks-teks Upanisad, yang pada hakikatnya adalah ruh Upanisad yang hidup dalam wujud manusia. Mungkin saya telah memperoleh sedikit dari keselarasan itu; saya tidak tahu apakah saya akan mampu mengungkapkannya atau tidak. Namun, inilah ikhtiar saya, inilah misi hidup saya, untuk menunjukkan bahwa mazhab-mazhab Vedantik tidaklah saling bertentangan, bahwa semuanya saling memerlukan, semuanya saling melengkapi, dan yang satu, boleh dikatakan, adalah batu loncatan menuju yang lain, hingga tercapai tujuan akhir, yakni Adwaita, yakni Tat Twam Asi (Itulah Engkau). Pernah ada suatu masa di India ketika Karma Kanda (bagian ritual Veda) menguasai segalanya. Tentu saja terdapat banyak cita-cita agung dalam bagian Veda itu. Sebagian dari ibadah harian kita yang sekarang masih dilakukan menurut ketetapan Karma Kanda. Akan tetapi, dengan semua itu, Karma Kanda dari Veda nyaris telah lenyap dari India. Sangat sedikit dari kehidupan kita sekarang yang terikat dan diatur oleh perintah Karma Kanda dari Veda. Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita umumnya adalah para Pauranika atau Tantrika, dan bahkan ketika beberapa teks Vedik dipergunakan oleh para Brahmana di India, penyesuaian teks-teks itu kebanyakan tidak menurut Veda, melainkan menurut Tantra atau Purana. Dengan demikian, untuk menyebut diri kita Vaidika dalam arti mengikuti Karma Kanda dari Veda, saya kira, tidaklah tepat. Akan tetapi, kenyataan yang lain tetap berdiri, yakni bahwa kita semua adalah orang Vedantin. Orang-orang yang menyebut diri mereka Hindu lebih baik disebut Vedantin, dan, seperti telah saya tunjukkan kepada Anda, di bawah nama tunggal Vaidantika itu termasuklah seluruh berbagai mazhab kita, baik kaum dualis maupun kaum non-dualis.
Mazhab-mazhab yang ada di India pada masa kini secara umum terbagi ke dalam dua golongan besar, yakni kaum dualis dan kaum monis. Perbedaan-perbedaan kecil yang sebagian mazhab ini bersikeras mempertahankannya, dan atas dasar otoritas tersebut mereka ingin mengambil nama-nama baru sebagai Adwaitin murni, atau Adwaitin yang berkualifikasi, dan sebagainya, tidaklah terlalu berarti. Sebagai suatu penggolongan, mereka adalah kaum dualis atau kaum monis, dan dari mazhab-mazhab yang ada pada masa kini, sebagian sangat baru, sedangkan yang lain tampak seperti perulangan dari mazhab-mazhab yang sangat kuno. Golongan yang satu akan saya hadirkan melalui kehidupan dan filsafat Ramanuja, sedangkan yang lainnya melalui Sankaracarya.
Ramanuja adalah filsuf dualistik terkemuka di India belakangan, yang diikuti oleh semua mazhab dualistik lainnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, baik dalam pokok ajaran mereka maupun dalam pengorganisasian mazhab mereka, bahkan hingga ke beberapa hal yang paling kecil dari organisasi mereka. Anda akan tercengang apabila membandingkan Ramanuja dan karyanya dengan mazhab-mazhab Waisnawa dualistik lainnya di India, untuk melihat betapa miripnya mereka satu sama lain dalam pengorganisasian, ajaran, dan metode. Ada pengkhotbah agung dari Selatan, Madhwa Muni, dan mengikutinya, Caitanya agung kita dari Bengal yang mengambil filsafat kaum Madhwa dan memberitakannya di Bengal. Ada pula beberapa mazhab lain di India Selatan, seperti kaum Saiwa dualistik yang berkualifikasi. Kaum Saiwa di sebagian besar wilayah India adalah Adwaitin, kecuali di beberapa bagian India Selatan dan di Ceylon. Akan tetapi, mereka pun hanya menggantikan Siwa dengan Wisnu dan dalam segala aspek mereka adalah pengikut Ramanuja, kecuali dalam doktrin tentang jiwa. Para pengikut Ramanuja berpendapat bahwa jiwa adalah Anu, seperti sebuah partikel, sangat kecil, sedangkan para pengikut Sankaracarya berpendapat bahwa ia adalah Vibhu, yakni mahahadir. Telah ada beberapa mazhab non-dualistik. Tampaknya pernah ada mazhab-mazhab di zaman kuno yang oleh gerakan Sankara telah sepenuhnya ditelan dan diserap. Anda kadang-kadang menemukan sentilan terhadap Sankara sendiri dalam beberapa komentar, terutama dalam komentar Vijnana Bhiksu yang, walaupun seorang Adwaitin, berupaya menggulingkan Mayawada (doktrin maya) dari Sankara. Tampaknya ada mazhab-mazhab yang tidak meyakini Mayawada ini, dan mereka bahkan sampai menyebut Sankara sebagai seorang Buddhis terselubung, yakni Pracchanna Bauddha, dan mereka beranggapan Mayawada ini diambil dari kaum Buddhis dan dimasukkan ke dalam pangkuan Vedanta. Bagaimana pun keadaannya, pada masa modern ini, semua Adwaitin telah berbaris di bawah Sankaracarya; dan Sankaracarya beserta murid-muridnya telah menjadi para pemberita agung Adwaita baik di India Selatan maupun di India Utara. Pengaruh Sankaracarya tidak banyak menembus ke negeri kita Bengal dan ke Kasymir maupun Punjab, tetapi di India Selatan kaum Smarta semuanya adalah pengikut Sankaracarya, dan dengan Varanasi sebagai pusatnya, pengaruhnya benar-benar sangat besar bahkan di banyak bagian India Utara.
Nah, baik Sankara maupun Ramanuja melepaskan segala klaim akan keaslian. Ramanuja secara tegas mengatakan kepada kita bahwa ia hanya mengikuti komentar besar dari Bodhayana. भगवद् बोधायनकृतां विस्तीर्णां ब्रह्मसूत्रवृत्तिं पूर्वाचार्याः संचिक्षिपुः तन्मतानुसारेण सूत्राक्षराणि व्याख्यास्यन्ते। — "Para guru zaman dahulu telah memendekkan komentar yang luas atas Brahma-sutra itu yang disusun oleh Bhagawan Bodhayana; sesuai dengan pendapat mereka, kata-kata Sutra itu dijelaskan." Demikianlah yang dikatakan Ramanuja pada awal komentarnya, yakni Sri-Bhasya. Ia mengambilnya dan membuatnya menjadi sebuah Samksepa (ringkasan), dan itulah yang kita miliki sekarang. Saya sendiri tidak pernah berkesempatan melihat komentar Bodhayana ini. Mendiang Swami Dayananda Saraswati hendak menolak setiap komentar lain atas Vyasa-Sutra kecuali komentar Bodhayana; dan walaupun ia tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menyentil Ramanuja, ia sendiri tidak pernah mampu menampilkan Bodhayana itu. Saya telah mencarinya di seluruh penjuru India, dan sampai sekarang belum pernah dapat melihatnya. Akan tetapi, Ramanuja sangat jelas pada hal ini, dan ia mengatakan kepada kita bahwa ia mengambil gagasan-gagasannya, dan kadang-kadang petikan-petikan persisnya, dari Bodhayana, dan memadatkannya ke dalam Ramanuja Bhasya yang sekarang ini. Tampaknya Sankaracarya juga melakukan hal yang sama. Ada beberapa tempat dalam Bhasya-nya yang menyebut komentar-komentar yang lebih tua, dan ketika kita tahu bahwa Guru-nya dan Guru dari Guru-nya itu adalah Vedantin dari mazhab yang sama dengannya, kadang-kadang bahkan lebih tuntas, lebih berani daripada Sankara sendiri pada beberapa hal, tampak cukup jelas bahwa ia pun tidak memberitakan sesuatu yang sangat orisinal, dan bahwa bahkan dalam Bhasya-nya ia sendiri telah melakukan pekerjaan yang sama yang dilakukan Ramanuja dengan Bodhayana, tetapi dari Bhasya yang mana, tidak dapat ditemukan pada masa sekarang.
Semua Darsana yang pernah Anda lihat atau dengar didasarkan pada otoritas Upanisad. Kapan pun mereka hendak mengutip suatu Sruti, yang mereka maksud adalah Upanisad. Mereka senantiasa mengutip Upanisad. Mengikuti Upanisad, datanglah filsafat-filsafat lain di India, tetapi setiap satu di antaranya gagal memperoleh genggaman atas India seperti yang diperoleh oleh filsafat Vyasa, walaupun filsafat Vyasa itu sendiri merupakan suatu pengembangan dari filsafat yang lebih tua, yakni Sankhya, dan setiap filsafat dan setiap sistem di India — yang saya maksud di seluruh dunia — berhutang banyak kepada Kapila, yang barangkali merupakan nama terbesar dalam sejarah India dalam ranah psikologi dan filsafat. Pengaruh Kapila tampak di mana-mana di seluruh dunia. Di mana pun terdapat sistem pemikiran yang diakui, di situ Anda dapat menelusuri pengaruhnya; sekalipun pengaruh itu berasal dari ribuan tahun yang lampau, namun ia tetap berdiri di sana, yakni Kapila yang berkilau, mulia, dan menakjubkan. Psikologinya dan sebagian besar filsafatnya telah diterima oleh seluruh mazhab di India dengan hanya sedikit sekali perbedaan. Di negeri kita sendiri, para filsuf Nayayika kita tidak banyak meninggalkan kesan pada dunia filsafat India. Mereka terlalu sibuk dengan perkara-perkara kecil seperti jenis dan kategori, dan sebagainya, dan dengan peristilahan yang paling rumit itu, yang mempelajarinya menjadi pekerjaan seumur hidup. Dengan demikian, mereka sangat sibuk dengan logika dan menyerahkan filsafat kepada kaum Vedantin, tetapi setiap satu mazhab filsafat India pada masa modern ini telah mengadopsi peristilahan logis kaum Nayayika dari Bengal. Jagadisa, Gadadhara, dan Siromani sama dikenalnya di Nadia seperti di beberapa kota di Malabar. Akan tetapi, filsafat Vyasa, yakni Vyasa-Sutra, telah tertanam kokoh dan telah mencapai kelanggengan dari hal yang hendak diperkenalkannya kepada manusia, yakni Brahman dari sisi filsafat Vedantik. Akal budi sepenuhnya ditundukkan kepada Sruti, dan sebagaimana dinyatakan Sankaracarya, Vyasa sama sekali tidak peduli untuk bernalar. Gagasannya dalam menulis Sutra hanyalah untuk menghimpun, dan dengan satu benang, membuat sebuah untaian dari bunga-bunga teks Vedantik. Sutra-sutranya diterima sejauh mereka tunduk kepada otoritas Upanisad, dan tidak lebih dari itu.
Dan, sebagaimana telah saya katakan, semua mazhab di India sekarang memegang Vyasa-Sutra ini sebagai otoritas yang besar, dan setiap mazhab baru di India memulai dengan suatu komentar baru atas Vyasa-Sutra menurut pemahamannya. Perbedaan di antara sebagian penulis komentar ini kadang-kadang sangat besar, kadang-kadang pemerkosaan teks itu sungguh menjijikkan. Vyasa-Sutra telah memperoleh tempat sebagai otoritas, dan tidak seorang pun dapat berharap mendirikan suatu mazhab di India sampai ia dapat menulis suatu komentar baru atas Vyasa-Sutra.
Berikutnya dalam hal otoritas adalah Gita yang termasyhur itu. Kemuliaan besar Sankaracarya adalah pemberitaannya tentang Gita. Itu adalah salah satu karya terbesar yang dilakukan oleh manusia agung ini di antara banyak karya mulia dari hidupnya yang mulia — yakni pemberitaan Gita dan penulisan komentar yang paling indah atasnya. Dan ia diikuti oleh semua pendiri mazhab ortodoks di India, dan masing-masing dari mereka telah menulis komentar atas Gita.
Upanisad jumlahnya banyak, dan dikatakan ada seratus delapan, tetapi sebagian menyatakan jumlahnya masih lebih besar daripada itu. Sebagian di antaranya jelas berasal dari masa yang jauh lebih kemudian, seperti misalnya Allopanisad yang di dalamnya Allah dipuji dan Muhammad disebut Rajasulla. Saya diberitahu bahwa ini ditulis pada masa pemerintahan Akbar untuk menyatukan orang-orang Hindu dan orang-orang Muhammadan, dan kadang-kadang mereka menangkap suatu kata, seperti Allah, atau Illa dalam Samhita, dan membuat sebuah Upanisad atasnya. Maka, dalam Allopanisad ini, Muhammad adalah Rajasulla, apa pun arti hal itu. Ada Upanisad-Upanisad sektarian lain dari jenis yang sama, yang Anda jumpai sepenuhnya bersifat modern, dan begitu mudahnya menulisnya, mengingat bahwa bahasa dari bagian Samhita dari Veda itu demikian arkaiknya sehingga tidak ada tata bahasa baginya. Bertahun-tahun yang lalu saya memiliki gagasan untuk mempelajari tata bahasa Veda, dan saya mulai dengan segenap kesungguhan mempelajari Panini dan Mahabhasya, tetapi alangkah terkejutnya saya mendapati bahwa bagian terbaik dari tata bahasa Vedik hanya berisi pengecualian-pengecualian terhadap kaidah. Suatu kaidah dibuat, dan setelah itu datang suatu pernyataan yang menyatakan, "Kaidah ini akan menjadi pengecualian." Maka Anda lihat betapa besarnya kebebasan yang terbuka bagi siapa saja untuk menulis apa pun, satu-satunya pengaman adalah kamus Yaska. Namun, di dalam kamus ini Anda akan mendapati, sebagian besarnya, hanya sejumlah besar sinonim. Mengingat semua itu, betapa mudahnya menulis sebanyak Upanisad yang Anda kehendaki. Cukup memiliki sedikit pengetahuan tentang bahasa Sanskerta, secukupnya untuk membuat kata-kata tampak seperti kata-kata arkaik lama, dan Anda tidak perlu takut akan tata bahasa. Kemudian Anda masukkan Rajasulla atau Sulla apa pun yang Anda suka. Dengan cara demikian banyak Upanisad telah dibuat-buat, dan saya diberitahu bahwa hal itu dilakukan bahkan sekarang ini. Di beberapa bagian India, saya sangat yakin, mereka tengah berupaya membuat-buat Upanisad-Upanisad demikian di antara berbagai mazhab. Akan tetapi, di antara Upanisad-Upanisad ada yang, dari tampilannya, menyandang bukti keaslian, dan inilah yang telah diambil oleh para penulis komentar agung dan ditafsirkan, terutama oleh Sankara, diikuti oleh Ramanuja dan semua yang lainnya.
Ada satu atau dua gagasan lain mengenai Upanisad yang ingin saya sampaikan kepada perhatian Anda, sebab Upanisad ini adalah samudra pengetahuan, dan untuk membicarakan Upanisad, bahkan bagi seorang yang tidak kompeten seperti saya, dibutuhkan bertahun-tahun, bukan hanya satu kuliah saja. Oleh karena itu, saya ingin menyampaikan kepada perhatian Anda satu atau dua hal dalam mempelajari Upanisad. Pertama, Upanisad merupakan puisi-puisi yang paling menakjubkan di dunia. Apabila Anda membaca bagian Samhita dari Veda, sesekali Anda menemukan petikan-petikan dengan keindahan yang paling menakjubkan. Sebagai contoh, Sloka yang termasyhur yang menggambarkan Kekacauan (Kaos) — तम आसीत्तमसा गूढमगे dan seterusnya — "Ketika kegelapan disembunyikan di dalam kegelapan", begitulah ia berlanjut. Seseorang membacanya dan merasakan keagungan puisi itu yang menakjubkan. Apakah Anda memperhatikan hal ini bahwa di luar India, dan di dalam India pula, telah ada usaha-usaha untuk melukiskan keagungan. Akan tetapi, di luar, ia selalu berupa ketakberhinggaan dalam otot-otot dunia lahiriah, ketakberhinggaan dari materi, atau dari ruang. Ketika Milton atau Dante, atau penyair Eropa besar lainnya, baik kuno maupun modern, hendak melukiskan suatu gambaran tentang yang takberhingga, ia berupaya melambung ke luar, untuk membuat Anda merasakan yang takberhingga melalui otot-otot. Usaha itu telah dilakukan pula di sini. Anda menemukannya dalam Samhita, yakni ketakberhinggaan perentangan yang paling menakjubkan dilukiskan dan ditempatkan di hadapan pembaca, sebagaimana belum pernah dilakukan di tempat lain. Perhatikan satu kalimat itu — तम आसीत् तमसा गूढम् , — dan sekarang perhatikan gambaran tentang kegelapan oleh tiga penyair. Ambil Kalidasa kita sendiri — "Kegelapan yang dapat ditembus dengan ujung sebatang jarum"; lalu Milton — "Tiada cahaya melainkan kegelapan yang kasat mata"; tetapi sekarang datanglah ke Upanisad, "Kegelapan menyelimuti kegelapan", "Kegelapan disembunyikan di dalam kegelapan". Kita yang hidup di daerah tropis dapat memahaminya, yakni meledaknya hujan muson secara tiba-tiba, ketika dalam sekejap, ufuk menjadi gelap dan awan-awan tertutupi oleh awan hitam yang lebih banyak yang bergulung-gulung. Demikianlah, puisi itu berlanjut; namun begitu, dalam bagian Samhita, semua usaha ini bersifat lahiriah. Sebagaimana di mana pun lainnya, usaha untuk menemukan jawaban atas persoalan-persoalan besar kehidupan dilakukan melalui dunia lahiriah. Sebagaimana pikiran Yunani atau pikiran Eropa modern ingin menemukan jawaban atas kehidupan dan atas semua persoalan suci tentang Keberadaan dengan menyelidiki dunia lahiriah. Demikian pula nenek moyang kita, dan sebagaimana orang Eropa gagal, mereka juga gagal. Akan tetapi, orang-orang Barat tidak pernah membuat langkah lebih lanjut, mereka tetap di sana, mereka gagal dalam pencarian jawaban atas persoalan-persoalan besar tentang hidup dan kematian di dunia lahiriah, dan di sana mereka tetap, terdampar; nenek moyang kita pun mendapati hal itu mustahil, tetapi lebih berani dalam menyatakan ketidakberdayaan total dari indra-indra untuk menemukan jawabannya. Tidak di tempat lain mana pun jawaban itu diungkapkan dengan lebih baik daripada dalam Upanisad: यतो वाचो निवर्तन्ते अप्राप्य मनसा सह। — "Dari mana kata-kata kembali terpantul, bersama dengan pikiran"; न तत्रचक्षुर्गच्छति न वाग्गच्छति। — "Di sana mata tidak dapat pergi, ucapan pun tidak dapat mencapai". Ada berbagai kalimat yang menyatakan ketidakberdayaan total dari indra-indra, tetapi mereka tidak berhenti di situ; mereka beralih kepada hakikat batin manusia, mereka pergi untuk memperoleh jawaban dari jiwa mereka sendiri, mereka menjadi introspektif; mereka melepaskan alam lahiriah sebagai suatu kegagalan, karena tidak ada yang dapat dilakukan di sana, karena tidak ada harapan, tidak ada jawaban yang dapat ditemukan; mereka mendapati bahwa materi yang tumpul dan mati tidak akan memberikan mereka kebenaran, dan mereka beralih kepada jiwa manusia yang berkilauan, dan di sanalah jawaban itu ditemukan.
तमेवैकं जानथ आत्मानम् अन्या वाचो विमुञ्चथ। — "Kenalilah Atman ini saja," demikian mereka nyatakan, "lepaskanlah segala kata-kata sia-sia lainnya, dan jangan dengarkan yang lain." Dalam Atman (Diri sejati) mereka menemukan jawabannya — yakni yang paling agung dari segala Atman, yakni Tuhan, Junjungan alam semesta ini, hubungan-Nya dengan Atman manusia, kewajiban kita kepada-Nya, dan melalui itu hubungan kita satu sama lain. Dan di sinilah Anda menemukan puisi yang paling agung di dunia. Tidak lagi dilakukan usaha untuk melukiskan Atman ini dalam bahasa materi. Tidak, untuk itu mereka bahkan telah melepaskan semua bahasa yang afirmatif. Tidak lagi ada usaha untuk datang kepada indra-indra untuk memberikan kepada mereka gagasan tentang yang takberhingga, tidak lagi ada yang takberhingga yang lahiriah, tumpul, mati, kebendaan, ruang, indrawi, melainkan sebagai gantinya datanglah sesuatu yang halusnya seperti yang disebutkan dalam perkataan berikut —
न तत्र सूर्यो भाति न चन्द्रतारकं नेमा वेद्युतो भान्ति कुतोऽयमग्निः।
तमेव भान्तमनुभाति सर्वं तस्य भासा सर्वमिदं विभाति॥
न तत्र सूर्यो भाति न चन्द्रतारकं नेमा वेद्युतो भान्ति कुतोऽयमग्निः।
तमेव भान्तमनुभाति सर्वं तस्य भासा सर्वमिदं विभाति॥
Puisi apa di dunia ini yang bisa lebih agung daripada ini! "Di sana matahari tidak dapat menerangi, bulan pun tidak, demikian pula bintang-bintang, di sana kilatan halilintar ini pun tidak dapat menerangi; apatah lagi bicara tentang api fana ini!" Puisi semacam ini tidak akan Anda temukan di tempat lain. Ambillah Upanisad yang paling menakjubkan itu, yakni Kathopanisad. Suatu penyelesaian yang menakjubkan, suatu seni yang paling memukau yang ditampilkan dalam puisi itu! Betapa menakjubkannya ia dibuka dengan anak laki-laki kecil itu yang kepadanya Sraddha datang, yang ingin menemui Yama, dan betapa guru yang paling menakjubkan dari semua guru itu, yakni Kematian sendiri, mengajarkan kepadanya pelajaran-pelajaran besar tentang hidup dan kematian! Dan apa pencariannya? Untuk mengetahui rahasia kematian.
Hal kedua yang ingin saya minta Anda ingat adalah sifat yang sepenuhnya impersonal dari Upanisad. Walaupun kita menjumpai banyak nama, dan banyak pembicara, dan banyak guru dalam Upanisad, tidak seorang pun dari mereka berdiri sebagai otoritas Upanisad, tidak satu ayat pun didasarkan pada kehidupan salah satu dari mereka. Mereka hanyalah sosok-sosok seperti bayang-bayang yang bergerak di latar belakang, tak terasa, tak terlihat, tak terealisasi, tetapi kekuatan yang sebenarnya ada dalam teks-teks Upanisad yang menakjubkan, cemerlang, dan berkilau, yakni sepenuhnya impersonal. Seandainya dua puluh orang Yajnawalkya datang dan hidup dan mati, hal itu tidak menjadi soal; teks-teksnya tetap ada. Namun, ia tidak menentang kepribadian apa pun; ia luas dan lapang cukup untuk merangkul semua kepribadian yang telah dihasilkan dunia, dan semua yang masih akan datang. Ia tidak menentang penyembahan terhadap pribadi-pribadi, atau Awatara, atau para resi. Sebaliknya, ia senantiasa menjunjung tinggi hal itu. Pada saat yang sama, ia sepenuhnya impersonal. Itu adalah gagasan yang paling menakjubkan, seperti Tuhan yang ia khotbahkan, yakni gagasan impersonal dari Upanisad. Bagi resi, bagi pemikir, bagi filsuf, bagi rasionalis, ia adalah seimpersonal yang dapat diidamkan oleh ilmuwan modern mana pun. Dan inilah kitab-kitab suci kita. Anda harus ingat bahwa apa yang Alkitab bagi orang Kristen, apa yang Quran bagi orang Muhammadan, apa yang Tripitaka bagi orang Buddha, apa yang Zend Avesta bagi orang Parsi, Upanisad ini bagi kami. Inilah, dan tidak ada yang lain selain ini, kitab-kitab suci kami. Purana, Tantra, dan seluruh kitab lainnya, bahkan Vyasa-Sutra, memiliki otoritas yang sekunder, tersier, tetapi yang utama adalah Veda. Manu, dan Purana, dan seluruh kitab lainnya harus diterima sejauh mereka selaras dengan otoritas Upanisad, dan ketika mereka tidak selaras, mereka harus ditolak tanpa belas kasihan. Hal ini harus selalu kita ingat, tetapi malang bagi India, pada masa kini kita telah melupakannya. Suatu kebiasaan desa yang remeh sekarang tampak menjadi otoritas yang sebenarnya, bukan ajaran Upanisad. Suatu gagasan remeh yang berlaku di suatu desa tepi jalan di Bengal tampak memiliki otoritas Veda, bahkan sesuatu yang lebih baik. Dan kata itu, "ortodoks", betapa menakjubkan pengaruhnya! Bagi penduduk desa, mengikuti setiap bagian kecil dari Karma Kanda adalah puncak tertinggi dari "ortodoksi", dan orang yang tidak melakukannya dikatakan, "Pergilah, Anda bukan lagi seorang Hindu." Maka ada, dengan sangat malang di tanah air saya, orang-orang yang akan mengambil salah satu dari Tantra ini dan mengatakan, bahwa pengamalan Tantra ini harus ditaati; orang yang tidak melakukannya tidak lagi ortodoks dalam pandangannya. Oleh karena itu, lebih baik bagi kita untuk mengingat bahwa dalam Upanisad terletak otoritas yang utama, bahkan Grhya-Sutra dan Srauta-Sutra pun tunduk kepada otoritas Veda. Mereka adalah perkataan para Resi, yakni nenek moyang kita, dan Anda harus memercayainya jika Anda ingin menjadi seorang Hindu. Anda boleh saja memercayai gagasan-gagasan yang paling ganjil tentang Ketuhanan, tetapi jika Anda menyangkal otoritas Veda, maka Anda adalah seorang Nastika. Di situlah letak perbedaan antara kitab-kitab suci orang Kristen atau orang Buddha dan kitab-kitab suci kami; kitab-kitab mereka semuanya adalah Purana, bukan kitab suci, sebab kitab-kitab itu menggambarkan sejarah banjir besar, dan sejarah raja-raja dan dinasti yang berkuasa, dan mencatat hidup orang-orang besar, dan sebagainya. Inilah pekerjaan Purana, dan sejauh kitab-kitab itu selaras dengan Veda, kitab-kitab itu baik. Sejauh Alkitab dan kitab-kitab suci bangsa-bangsa lain selaras dengan Veda, mereka sungguh baik, tetapi ketika mereka tidak selaras, mereka tidak lagi dapat diterima. Demikian pula dengan Quran. Ada banyak ajaran moral di dalamnya, dan sejauh mereka selaras dengan Veda, mereka memiliki otoritas Purana, tetapi tidak lebih dari itu. Gagasannya adalah bahwa Veda tidak pernah ditulis; gagasannya adalah, Veda tidak pernah muncul menjadi ada. Saya pernah diberitahu oleh seorang misionaris Kristen bahwa kitab-kitab suci mereka memiliki karakter historis, dan oleh karena itu benar adanya, kepadanya saya menjawab, "Kitab-kitab saya tidak memiliki karakter historis dan oleh karena itu kitab-kitab itu benar; kitab-kitab Anda yang bersifat historis, jelas dibuat oleh seseorang baru-baru ini saja. Kitab-kitab Anda adalah buatan manusia dan kitab-kitab saya bukan; ketidakhistorisan kitab-kitab kami justru menjadi keunggulannya." Demikianlah hubungan Veda dengan semua kitab suci lainnya pada masa kini.
Sekarang kita sampai pada ajaran-ajaran Upanisad. Terdapat berbagai teks di sana. Sebagian sepenuhnya bersifat dualistik, sementara yang lain bersifat monistik. Akan tetapi, terdapat beberapa doktrin yang disepakati oleh semua mazhab di India. Pertama, ada doktrin tentang Samsara atau reinkarnasi jiwa. Kedua, mereka semua sepakat dalam psikologi mereka; pertama-tama ada tubuh, di belakangnya, apa yang mereka sebut Suksma Sarira, yakni pikiran, dan di belakang itu pun, terdapat Jiwa (Jiva). Inilah perbedaan besar antara psikologi Barat dan psikologi India; dalam psikologi Barat, pikiran (mind) adalah jiwa, di sini bukan demikian. Antahkarana, yakni instrumen batin, sebagaimana pikiran itu disebut, hanyalah suatu instrumen di tangan Jiva itu, yang melaluinya Jiva itu bekerja pada tubuh atau pada dunia lahiriah. Di sini mereka semua sepakat, dan mereka semua juga sepakat bahwa Jiva atau Atman ini, atau Jiwatman sebagaimana ia disebut oleh berbagai mazhab, adalah kekal, tanpa permulaan; dan bahwa ia berpindah dari kelahiran ke kelahiran, hingga ia memperoleh pembebasan terakhir. Mereka semua sepakat dalam hal ini, dan mereka semua juga sepakat dalam satu hal lain yang paling vital, yang sendiri menandai secara khas, paling menonjol, dan paling vital, perbedaan antara pikiran India dan pikiran Barat, dan inilah, yakni bahwa segala sesuatu ada dalam jiwa. Tidak ada inspirasi, tetapi sebenarnya, ekspirasi (peniupan keluar). Segala kekuatan dan segala kemurnian dan segala keagungan — segala sesuatu ada dalam jiwa. Sang Yogi akan mengatakan kepada Anda bahwa Siddhi — yakni Anima, Laghima, dan sebagainya — yang ingin ia capai itu bukan untuk dicapai, dalam arti kata yang sebenarnya, melainkan sudah ada di sana dalam jiwa; pekerjaannya hanyalah untuk membuatnya termanifestasi. Patanjali, misalnya, akan mengatakan kepada Anda bahwa bahkan dalam cacing yang paling rendah yang merangkak di bawah kaki Anda, semua kekuatan delapan-cabang Yogi sudah ada. Perbedaannya dibuat oleh tubuh. Begitu ia memperoleh tubuh yang lebih baik, kekuatan-kekuatan itu akan menjadi termanifestasi, tetapi mereka memang sudah ada di sana.
निमित्तमप्रयोजकं प्रकृतीनां वरणभेदस्तु ततः क्षेत्रिकवत्। — "Perbuatan baik dan buruk bukanlah penyebab langsung dalam transformasi alam, tetapi mereka bertindak sebagai pemecah penghalang bagi evolusi alam: seperti seorang petani memecah penghalang terhadap aliran air, yang kemudian mengalir turun karena hakikatnya sendiri." Di sini Patanjali memberikan contoh termasyhur tentang seorang petani yang mendatangkan air ke ladangnya dari sebuah waduk besar di suatu tempat. Waduk itu sudah penuh dan airnya akan menggenangi tanahnya dalam sekejap, hanya saja ada sebuah dinding lumpur antara waduk itu dan ladangnya. Begitu penghalang itu dipecahkan, air pun menyerbu masuk karena kekuatan dan dayanya sendiri. Massa kekuatan dan kemurnian dan kesempurnaan ini sudah ada dalam jiwa. Satu-satunya perbedaan adalah Awarana ini — yakni selubung ini — yang telah dilemparkan menutupinya. Begitu selubung itu disingkirkan, jiwa mencapai kemurnian, dan kekuatan-kekuatannya menjadi termanifestasi. Hal ini, harus Anda ingat, adalah perbedaan besar antara pemikiran Timur dan pemikiran Barat. Oleh karena itu, Anda menemukan orang-orang yang mengajarkan doktrin-doktrin yang mengerikan, seperti bahwa kita semua lahir sebagai pendosa, dan karena kita tidak meyakini doktrin-doktrin yang mengerikan demikian, kita semua lahir sebagai orang jahat. Mereka tidak pernah berhenti untuk memikirkan bahwa jika kita memang menurut hakikat kita adalah jahat, kita tidak akan pernah dapat menjadi baik — sebab bagaimana hakikat dapat berubah? Jika ia berubah, ia bertentangan dengan dirinya sendiri; ia bukan lagi hakikat. Hal ini harus kita ingat. Di sini kaum dualis, dan kaum Adwaitin, dan semua yang lain di India sepakat.
Pokok berikutnya, yang dipercayai oleh semua mazhab di India, adalah Tuhan. Tentu saja gagasan mereka tentang Tuhan berbeda-beda. Kaum dualis percaya pada Tuhan Pribadi, dan hanya yang bersifat pribadi. Saya ingin Anda memahami kata "pribadi" ini sedikit lebih jauh. Kata "pribadi" ini tidak berarti bahwa Tuhan memiliki tubuh, duduk di atas takhta di suatu tempat, dan memerintah dunia ini, melainkan berarti Saguna, yaitu yang memiliki kualitas. Ada banyak gambaran tentang Tuhan Pribadi. Tuhan Pribadi sebagai Penguasa, Pencipta, Pemelihara, dan Pemusnah alam semesta ini diyakini oleh semua mazhab. Kaum Adwaita percaya pada sesuatu yang lebih jauh. Mereka percaya pada tahap yang lebih tinggi lagi dari Tuhan Pribadi ini, yaitu yang bersifat pribadi-tak-pribadi. Tidak ada kata sifat yang dapat menggambarkan apa yang tidak memiliki kualifikasi, dan kaum Adwaita tidak akan memberikan-Nya sifat apa pun selain ketiga ini — Sat-Chit-Ananda, Keberadaan, Pengetahuan, dan Kebahagiaan Mutlak. Inilah yang dilakukan Shankara. Akan tetapi, dalam Upanisad sendiri Anda akan menemukan bahwa mereka menembus lebih jauh lagi, dan berkata, tidak ada yang dapat diatributkan kepada-Nya kecuali Neti, Neti, "Bukan ini, Bukan ini".
Di sini semua mazhab yang berbeda di India sepakat. Namun, dengan mengambil sisi dualistik, sebagaimana telah saya katakan, saya akan mengambil Ramanuja sebagai dualis tipikal India, wakil modern terbesar dari sistem dualistik. Sangat disayangkan bahwa orang-orang kita di Bengal hanya tahu sangat sedikit tentang para pemimpin agama besar di India yang lahir di bagian-bagian lain negeri ini; dan terkait hal itu, selama keseluruhan periode Muhammadan, kecuali Chaitanya kita, seluruh pemimpin agama besar lahir di India Selatan, dan justru kecerdasan India Selatan-lah yang benar-benar memerintah India saat ini; sebab bahkan Chaitanya pun termasuk ke dalam salah satu mazhab ini, yakni mazhab Madhwa. Menurut Ramanuja, tiga entitas ini bersifat kekal — Tuhan, jiwa, dan alam. Jiwa-jiwa itu kekal, dan akan tetap eksis secara kekal, terindividualisasi melalui keabadian, dan akan mempertahankan keindividualan mereka sepanjang masa. Jiwa Anda akan berbeda dari jiwa saya sepanjang keabadian, kata Ramanuja, dan demikian pula alam ini — yang merupakan fakta yang ada, sama nyatanya dengan keberadaan jiwa atau keberadaan Tuhan — akan selalu tetap berbeda. Dan Tuhan menembus segala sesuatu, esensi dari jiwa, Dia adalah Antaryamin. Dalam pengertian inilah Ramanuja kadang berpikir bahwa Tuhan adalah satu dengan jiwa, esensi jiwa, dan jiwa-jiwa ini — pada saat Pralaya, ketika seluruh alam menjadi apa yang ia sebut Sankuchita, yakni menyusut — menjadi menyusut dan amat halus dan tetap demikian untuk suatu waktu. Dan pada permulaan siklus berikutnya mereka semua keluar, sesuai dengan Karma masa lalu mereka, dan menjalani akibat dari Karma itu. Setiap tindakan yang membuat kesucian dan kesempurnaan alami bawaan jiwa menjadi menyusut adalah tindakan buruk, dan setiap tindakan yang membuatnya keluar dan berkembang adalah tindakan baik, kata Ramanuja. Apa pun yang membantu terjadinya Wikasha pada jiwa adalah baik, dan apa pun yang membuatnya menjadi Sankuchita adalah buruk. Dan demikianlah jiwa terus berjalan, berkembang atau menyusut dalam tindakan-tindakannya, hingga melalui rahmat Tuhan datanglah keselamatan. Dan rahmat itu datang kepada semua jiwa, kata Ramanuja, yang murni dan yang berjuang untuk rahmat itu.
Ada sebuah ayat termasyhur dalam Sruti, आहारशुध्दौ सत्त्वशुध्दिः सत्त्वशुध्दौ ध्रुवास्मृतिः "Apabila makanan murni, maka Sattwa menjadi murni; apabila Sattwa murni, maka Smriti" — ingatan akan Tuhan, atau ingatan akan kesempurnaan kita sendiri — jika Anda seorang Adwaitis — "menjadi lebih benar, lebih teguh, dan mutlak". Di sini terdapat diskusi besar. Pertama-tama, apakah Sattwa ini? Kita tahu bahwa menurut Sankhya — dan ini telah diakui oleh seluruh mazhab filsafat kita — tubuh tersusun dari tiga jenis bahan — bukan kualitas. Sudah menjadi anggapan umum bahwa Sattwa, Rajas, dan Tamas adalah kualitas. Sama sekali bukan, bukan kualitas melainkan bahan-bahan dari alam semesta ini, dan dengan Ahara-shuddhi, ketika makanan murni, bahan Sattwa menjadi murni. Satu tema dari Wedanta adalah memperoleh Sattwa ini. Sebagaimana telah saya katakan kepada Anda, jiwa pada dasarnya sudah murni dan sempurna, dan, menurut Wedanta, ia tertutupi oleh partikel Rajas dan Tamas. Partikel Sattwa adalah yang paling bercahaya, dan pancaran jiwa menembus melalui partikel-partikel itu semudah cahaya menembus kaca. Maka jika partikel Rajas dan Tamas pergi, dan meninggalkan partikel Sattwa, dalam keadaan ini kekuatan dan kesucian jiwa akan tampak, dan membuat jiwa menjadi lebih nyata-manifes.
Oleh karena itu, perlu untuk memiliki Sattwa ini. Dan teks tersebut berkata, "Apabila Ahara menjadi murni". Ramanuja menafsirkan kata Ahara ini sebagai makanan, dan ia menjadikannya salah satu titik balik dari filsafatnya. Tidak hanya itu, hal ini telah memengaruhi seluruh India, dan semua mazhab yang berbeda-beda. Oleh karena itu, perlu bagi kita untuk memahami apa artinya, sebab hal itu, menurut Ramanuja, adalah salah satu faktor pokok dalam kehidupan kita, yakni Ahara-shuddhi. Apa yang membuat makanan menjadi tidak murni? tanya Ramanuja. Tiga macam cacat yang membuat makanan tidak murni — pertama, Jati-dosha, cacat dalam kodrat asali kelas tempat makanan itu berasal, seperti bau pada bawang merah, bawang putih, dan sejenisnya. Berikutnya adalah Ashraya-dosha, cacat pada orang yang darinya makanan itu berasal; makanan yang berasal dari orang jahat akan membuat Anda tidak murni. Saya sendiri telah menyaksikan banyak orang bijak besar di India yang dengan ketat menjalankan nasihat itu sepanjang hidup mereka. Tentu saja mereka memiliki kemampuan untuk mengetahui siapa yang membawa makanan, dan bahkan siapa yang telah menyentuh makanan itu, dan saya telah menyaksikannya dalam hidup saya sendiri, bukan sekali, melainkan ratusan kali. Kemudian Nimitta-dosha, cacat akibat benda-benda tidak murni atau pengaruh-pengaruh yang bersentuhan dengan makanan, adalah yang berikutnya. Sebaiknya kita memperhatikan hal itu sedikit lebih jauh sekarang. Telah terlalu lazim di India untuk memakan makanan yang mengandung kotoran dan debu serta helai-helai rambut. Jika makanan diambil setelah ketiga cacat ini disingkirkan, hal itu menghasilkan Sattwa-shuddhi, memurnikan Sattwa. Agama tampaknya menjadi tugas yang sangat mudah kalau begitu. Maka setiap orang dapat memiliki agama jika agama itu datang hanya dengan memakan makanan murni. Tidak ada orang yang demikian lemah atau tidak mampu di dunia ini, yang saya ketahui, yang tidak dapat menyelamatkan dirinya dari cacat-cacat ini. Kemudian datanglah Shankaracharya, yang berkata bahwa kata Ahara ini berarti pikiran yang terhimpun dalam batin; ketika pikiran itu menjadi murni, Sattwa menjadi murni, dan bukan sebelum itu. Anda boleh memakan apa pun yang Anda sukai. Jika makanan saja dapat memurnikan Sattwa, maka beri makan kera dengan susu dan nasi sepanjang hidupnya; apakah ia akan menjadi seorang Yogi besar? Maka sapi dan rusa akan menjadi Yogi-Yogi besar. Sebagaimana telah dikatakan, "Jika dengan banyak mandi surga dapat dicapai, ikan-ikan akan tiba di surga terlebih dahulu. Jika dengan memakan sayur-sayuran manusia tiba di surga, sapi dan rusa akan tiba di surga terlebih dahulu."
Namun, apa solusinya? Keduanya diperlukan. Tentu saja gagasan yang diberikan Shankaracharya kepada kita tentang Ahara adalah gagasan utamanya. Akan tetapi, makanan yang murni, tidak diragukan lagi, membantu pikiran yang murni; keduanya memiliki kaitan yang erat; keduanya seharusnya ada. Akan tetapi cacatnya ialah bahwa di India modern kita telah melupakan nasihat Shankaracharya dan hanya mengambil makna "makanan murni" saja. Itulah sebabnya orang-orang menjadi marah kepada saya ketika saya berkata, agama telah masuk ke dapur; dan seandainya Anda berada di Madras bersama saya, Anda akan sependapat dengan saya. Orang Bengali lebih baik daripada itu. Di Madras mereka membuang makanan jika ada yang melihatnya. Dan dengan semua itu, saya tidak melihat bahwa rakyat di sana menjadi lebih baik. Seandainya hanya dengan memakan jenis makanan ini dan itu serta menyelamatkannya dari pandangan orang ini dan orang itu sudah dapat memberi mereka kesempurnaan, Anda tentu mengharapkan mereka semua menjadi manusia sempurna, padahal mereka tidaklah demikian.
Demikianlah, walaupun keduanya harus digabungkan dan dipadukan untuk membentuk satu keseluruhan yang sempurna, jangan menempatkan kereta di depan kuda. Ada teriakan akhir-akhir ini tentang ini dan itu mengenai makanan dan tentang Warnashrama, dan orang-orang Bengali yang paling lantang dalam teriakan-teriakan ini. Saya ingin bertanya kepada setiap orang dari Anda, apa yang Anda ketahui tentang Warnashrama ini? Di manakah empat kasta di negeri ini hari ini? Jawablah saya; saya tidak melihat empat kasta itu. Seperti peribahasa Bengali kita yang berbunyi, "Sakit kepala tanpa kepala", demikianlah Anda hendak membuat Warnashrama ini di sini. Tidak ada empat kasta di sini. Saya hanya melihat Brahmana dan Sudra. Jika ada Ksatria dan Waisya, di manakah mereka dan mengapa Anda para Brahmana tidak memerintahkan mereka untuk menerima Yajnopawita dan mempelajari Weda, sebagaimana yang seharusnya dilakukan oleh setiap orang Hindu? Dan jika Waisya dan Ksatria tidak ada, melainkan hanya Brahmana dan Sudra, maka Sastra mengatakan bahwa Brahmana tidak boleh hidup di negeri yang hanya berisi Sudra; jadi pergilah dengan seluruh barang bawaan Anda! Tahukah Anda apa yang dikatakan Sastra mengenai orang-orang yang telah memakan makanan Mlechchha dan hidup di bawah pemerintahan Mlechchha, sebagaimana telah Anda jalani selama seribu tahun terakhir? Tahukah Anda hukuman penebusannya? Penebusannya adalah membakar diri sendiri dengan tangannya sendiri. Apakah Anda hendak tampil sebagai guru dan berjalan layaknya orang munafik? Jika Anda percaya pada Sastra Anda, bakarlah diri Anda terlebih dahulu seperti satu Brahmana besar yang menyertai Alexander Agung dan membakar dirinya karena ia merasa telah memakan makanan seorang Mlechchha. Lakukanlah demikian, dan Anda akan melihat bahwa seluruh bangsa akan berada di kaki Anda. Anda tidak percaya pada Sastra Anda sendiri tetapi ingin membuat orang lain percaya kepadanya. Jika Anda merasa tidak mampu melakukan itu pada zaman ini, akuilah kelemahan Anda dan maafkanlah kelemahan orang lain, angkatlah kasta-kasta yang lain, ulurkanlah tangan kepada mereka, biarkan mereka mempelajari Weda dan menjadi sama-sama Arya yang baik seperti Arya mana pun di dunia, dan jadilah Anda pun juga Arya yang demikian, wahai para Brahmana Bengal.
Lepaskanlah Wamachara yang menjijikkan ini yang sedang membunuh negeri Anda. Anda belum melihat bagian-bagian lain dari India. Ketika saya melihat seberapa jauh Wamachara telah memasuki masyarakat kita, saya merasa tempat ini sangat memalukan dengan segala kebanggaannya akan budaya. Mazhab-mazhab Wamachara ini sedang menggerogoti masyarakat kita di Bengal. Mereka yang muncul di siang hari dan berkhotbah paling lantang tentang Achara, justru merekalah yang menjalankan pergelaran cabul yang mengerikan di malam hari dan didukung oleh kitab-kitab yang paling menakutkan. Mereka diperintahkan oleh kitab-kitab itu untuk melakukan hal-hal ini. Anda yang berasal dari Bengal mengetahuinya. Kitab-kitab Sastra Bengali ialah Tantra Wamachara. Kitab-kitab itu diterbitkan dalam jumlah satu gerobak penuh, dan Anda meracuni pikiran anak-anak Anda dengannya alih-alih mengajarkan Sruti kepada mereka. Wahai para bapak di Calcutta, tidakkah Anda merasa malu bahwa barang yang menjijikkan seperti Tantra Wamachara ini, beserta terjemahan-terjemahannya, harus diletakkan di tangan anak laki-laki dan anak perempuan Anda, dan pikiran mereka diracuni, dan bahwa mereka harus dibesarkan dengan gagasan bahwa kitab-kitab ini adalah Sastra orang Hindu? Jika Anda malu, ambillah kitab-kitab itu dari anak-anak Anda, dan biarkan mereka membaca Sastra yang sejati, yaitu Weda, Gita, dan Upanisad.
Menurut mazhab-mazhab dualistik di India, jiwa-jiwa individu tetap sebagai individu sepanjang masa, dan Tuhan menciptakan alam semesta dari bahan yang sudah ada sebelumnya hanya sebagai sebab efisien. Sebaliknya, menurut kaum Adwaita, Tuhan adalah sekaligus sebab material maupun sebab efisien dari alam semesta. Dia bukan saja Pencipta alam semesta, melainkan Dia menciptakannya dari Diri-Nya sendiri. Itulah posisi Adwaita. Ada mazhab-mazhab dualistik yang kasar yang percaya bahwa dunia ini telah diciptakan oleh Tuhan dari Diri-Nya sendiri, dan pada saat yang sama Tuhan secara kekal terpisah dari alam semesta, dan segala sesuatu secara kekal tunduk pada Penguasa alam semesta. Ada juga mazhab-mazhab yang percaya bahwa Tuhan telah mengevolusikan alam semesta ini dari Diri-Nya, dan individu-individu pada akhirnya mencapai Nirwana untuk melepaskan yang terbatas dan menjadi Yang Tak Terbatas. Namun, mazhab-mazhab ini telah lenyap. Satu mazhab Adwaita yang Anda jumpai di India modern terdiri atas para pengikut Shankara. Menurut Shankara, Tuhan adalah sekaligus sebab material maupun sebab efisien melalui Maya, tetapi tidak dalam kenyataan. Tuhan tidak menjadi alam semesta ini; melainkan alam semesta itu tidak ada, dan Tuhan-lah yang ada. Ini adalah salah satu titik tertinggi yang harus dipahami dari Wedanta Adwaita, yaitu gagasan tentang Maya ini. Saya khawatir saya tidak memiliki waktu untuk membahas titik tersulit dalam filsafat kita ini. Mereka di antara Anda yang akrab dengan filsafat Barat akan menemukan sesuatu yang sangat serupa pada Kant. Akan tetapi, saya harus memperingatkan Anda, Anda yang telah membaca tulisan-tulisan Profesor Max Müller tentang Kant, bahwa ada satu gagasan yang sangat menyesatkan. Shankaralah yang pertama kali menemukan gagasan tentang identitas waktu, ruang, dan kausalitas dengan Maya, dan saya beruntung dapat menemukan satu atau dua kutipan dalam komentar-komentar Shankara dan mengirimkannya kepada teman saya, sang Profesor. Jadi bahkan gagasan itu pun sudah ada di India. Nah, ini adalah teori yang khas — teori Maya dari kaum Wedanta Adwaita. Brahman adalah segala yang ada, tetapi diferensiasi telah ditimbulkan oleh Maya ini. Kesatuan, satu Brahman, adalah yang puncak, tujuan akhir, dan di sinilah kembali terletak perselisihan abadi antara pemikiran India dan pemikiran Barat. India telah melemparkan tantangan ini kepada dunia selama ribuan tahun, dan tantangan itu telah disambut oleh berbagai bangsa, dan hasilnya adalah semuanya tumbang sedangkan Anda tetap hidup. Inilah tantangannya: bahwa dunia ini adalah delusi, bahwa semuanya adalah Maya, bahwa apakah Anda makan dari atas tanah dengan jari-jari Anda atau bersantap di atas piring emas, apakah Anda hidup di istana dan menjadi salah seorang raja yang paling perkasa atau menjadi pengemis yang paling miskin, kematian adalah satu hasil yang sama; semuanya sama, semuanya Maya. Itulah tema India yang lama, dan berulang kali bangsa-bangsa bermunculan mencoba membantahnya, mencoba menyangkalnya; mereka menjadi besar, dengan kenikmatan sebagai semboyan mereka, dengan kekuasaan di tangan, mereka menggunakan kekuasaan itu sepenuhnya, menikmati sepenuhnya, dan saat berikutnya mereka mati. Kita berdiri selamanya karena kita melihat bahwa segala sesuatu adalah Maya. Anak-anak Maya hidup selamanya, sedangkan anak-anak kenikmatan mati.
Di sini sekali lagi terdapat perbedaan besar yang lain. Sebagaimana Anda menemukan upaya-upaya Hegel dan Schopenhauer dalam filsafat Jerman, demikian pula Anda akan menemukan gagasan-gagasan yang sangat sama ini telah dikemukakan di India kuno. Beruntunglah bagi kita, Hegelianisme telah dipatahkan sejak tunas dan tidak diizinkan bertumbuh serta menebarkan cabang-cabangnya yang merusak ke atas tanah ibu pertiwi kita ini. Satu gagasan Hegel ialah bahwa yang satu, yang absolut, hanyalah kekacauan, dan bahwa wujud yang terindividualisasi lebih besar daripadanya. Dunia lebih besar daripada bukan-dunia, Samsara lebih besar daripada keselamatan. Itulah satu gagasannya, dan semakin Anda terjun ke dalam Samsara ini, semakin jiwa Anda tertutup oleh kerja-kerja kehidupan, semakin baik bagi Anda. Mereka berkata, tidakkah Anda melihat bagaimana kami membangun rumah, membersihkan jalan, menikmati indra-indra? Ya, di balik itu mereka mungkin menyembunyikan dengki, kesengsaraan, kengerian — di balik setiap secuil kenikmatan itu.
Sebaliknya, para filsuf kita sejak semula telah menyatakan bahwa setiap perwujudan, yang Anda sebut evolusi, adalah sia-sia, suatu upaya yang sia-sia dari yang belum termanifestasi untuk memanifestasikan diri. Ya, Anda, sebab agung dari alam semesta ini, mencoba memantulkan diri Anda di kubangan-kubangan lumpur kecil! Akan tetapi, setelah melakukan upaya itu untuk beberapa waktu Anda mendapati bahwa semuanya sia-sia dan Anda mundur kembali ke tempat asal Anda datang. Inilah Wairagya, atau pelepasan, dan permulaan agama itu sendiri. Bagaimana mungkin agama atau moralitas bermula tanpa pelepasan itu sendiri? Alfa dan Omega-nya adalah pelepasan. "Lepaskanlah," kata Weda, "lepaskanlah." Itulah satu-satunya jalan, "Lepaskanlah". न प्रजया धनेन त्यागेनैकेऽमृतत्वमानशुः — "Bukan melalui kekayaan, bukan pula melalui keturunan, melainkan hanya melalui pelepasan saja keabadian itu dapat dicapai." Itulah aturan dari kitab-kitab India. Tentu saja, telah ada pelepas-pelepas besar dari dunia, bahkan yang duduk di atas takhta. Namun, bahkan (Raja) Janaka sendiri harus melepaskan; siapakah yang lebih besar sebagai pelepas daripada beliau? Akan tetapi, pada masa modern kita semua ingin disebut Janaka! Mereka semua adalah Janaka (secara harfiah berarti ayah) dari anak-anak — yang tidak berpakaian, kurang makan, dan menyedihkan. Kata Janaka hanya dapat diterapkan kepada mereka dalam pengertian itu; mereka tidak memiliki sedikit pun pikiran yang bercahaya dan menyerupai Tuhan seperti yang dimiliki oleh Janaka tempo dulu. Inilah Janaka-Janaka modern kita! Kurangilah sedikit Janakisme ini sekarang, dan menujulah langsung ke sasaran! Jika Anda mampu melepaskan, Anda akan memiliki agama. Jika tidak, Anda boleh saja membaca semua kitab yang ada di dunia, dari Timur sampai Barat, melahap seluruh perpustakaan, dan menjadi Pandita yang terbesar, tetapi jika Anda hanya memiliki Karma Kanda, Anda bukanlah apa-apa; tidak ada kerohanian di situ. Hanya melalui pelepasan saja keabadian ini dapat dicapai. Itulah kekuatan, kekuatan agung, yang bahkan tidak mempedulikan alam semesta; saat itulah ब्रह्माण्डम् गोष्पदायते। "Seluruh alam semesta menjadi seperti lubang yang dibuat oleh kaki sapi."
Pelepasan, itulah panji, bendera India, yang berkibar di atas dunia, satu pikiran yang tak akan pernah mati yang dikirimkan India berulang kali sebagai peringatan kepada bangsa-bangsa yang sedang sekarat, sebagai peringatan kepada segala tirani, sebagai peringatan kepada kejahatan di dunia. Ya, wahai orang Hindu, jangan biarkan pegangan Anda pada panji itu lepas. Junjunglah ia tinggi-tinggi. Bahkan jika Anda lemah dan tidak dapat melepaskan, jangan rendahkan idealnya. Katakanlah, "Saya lemah dan tidak dapat melepaskan dunia", tetapi jangan mencoba menjadi orang munafik, memutar-balik teks, mengajukan argumen yang palsu meyakinkan, dan mencoba melemparkan debu ke mata orang-orang yang tidak tahu. Jangan lakukan itu, melainkan akuilah bahwa Anda lemah. Sebab gagasan itu agung, yaitu gagasan tentang pelepasan. Apa artinya jika jutaan orang gagal dalam upayanya, asalkan sepuluh prajurit atau bahkan dua kembali dengan kemenangan! Berbahagialah jutaan yang telah mati! Darah mereka telah membeli kemenangan itu. Pelepasan inilah satu ideal yang melintasi berbagai mazhab Weda, kecuali satu, yaitu mazhab Wallabhacharya di Karesidenan Bombay, dan kebanyakan dari Anda sudah tahu apa yang terjadi bila pelepasan tidak ada. Kita menginginkan ortodoksi — bahkan yang sangat ortodoks secara mengerikan, bahkan mereka yang melumuri diri dengan abu, bahkan mereka yang berdiri dengan tangan terangkat ke atas. Ya, kita menginginkan mereka, sealamiah apa pun mereka tidaknya, karena mereka berdiri demi gagasan tentang pelepasan itu, dan bertindak sebagai peringatan bagi bangsa ini agar tidak tunduk pada kemewahan-kemewahan yang melemahkan yang sedang merayap masuk ke India, menggerogoti bagian terdalam kita, dan cenderung menjadikan seluruh bangsa ini sebagai bangsa orang-orang munafik. Kita menginginkan sedikit askese. Pelepasan menaklukkan India di hari-hari kuno, ia masih harus menaklukkan India. Hingga kini ia berdiri sebagai ideal India yang terbesar dan tertinggi — yaitu pelepasan ini. Negeri Buddha, negeri Ramanuja, negeri Ramakrishna Paramahamsa, negeri pelepasan, negeri yang sejak hari-hari kuno menjadi tempat khotbah menentang Karma Kanda, dan bahkan hari ini terdapat ratusan orang yang telah melepaskan segalanya dan menjadi Jiwanmukta — ya, akankah negeri itu meninggalkan ideal-idealnya? Tentu tidak. Mungkin ada orang-orang yang otaknya telah dipalingkan oleh ideal-ideal kemewahan Barat; mungkin ada ribuan dan ratusan ribu orang yang telah meneguk dalam-dalam dari kenikmatan ini, kutukan Barat ini — yaitu indra-indra — kutukan dunia; namun demikian, akan tetap ada ribuan orang lain di tanah ibu pertiwi saya ini yang baginya agama akan selalu menjadi suatu kenyataan, dan yang akan selalu siap untuk melepaskan tanpa menghitung-hitung harganya, jika memang diperlukan.
Sebuah ideal lain yang sangat lazim dalam semua mazhab kita, hendak saya hadirkan di hadapan Anda; ini juga merupakan topik yang luas. Gagasan unik ini, bahwa agama harus direalisasikan, hanya ada di India saja. नायमात्मा प्रवचनेन लभ्यो न मेधया न बहुना श्रुतेन — "Atman ini tidak dapat dicapai oleh terlalu banyak berbicara, tidak pula dicapai oleh kekuatan akal budi, tidak pula oleh banyak pembelajaran kitab suci." Tidak, kitab suci kitalah satu-satunya kitab suci di dunia yang menyatakan, bahkan dengan mempelajari kitab suci pun Atman tidak dapat direalisasikan — bukan dengan berbicara, bukan dengan berceramah, bukan satu pun dari itu, melainkan Ia harus direalisasikan. Hal itu datang dari guru kepada murid. Ketika wawasan ini datang kepada murid, segala sesuatu menjadi jernih dan realisasi mengikutinya.
Satu gagasan lagi. Ada sebuah kebiasaan yang khas di Bengal, yang mereka sebut Kula-Guru, atau Keguruan turun-temurun. "Ayah saya adalah Guru Anda, sekarang sayalah yang akan menjadi Guru Anda. Ayah saya adalah Guru dari ayah Anda, maka sayalah pula yang akan menjadi Guru Anda." Apakah seorang Guru itu? Mari kita kembali kepada Sruti — "Ia yang mengetahui rahasia Weda", bukan kutu buku, bukan ahli tata bahasa, bukan pula Pandita secara umum, melainkan ia yang mengetahui maknanya. यथा खरश्चन्दनभारवाही भारस्य वेत्ता न तु चन्दनस्य। — "Seekor keledai yang memikul muatan kayu cendana hanya mengetahui beratnya kayu itu, tetapi tidak mengetahui kualitasnya yang berharga"; demikianlah Pandita-Pandita ini. Bukan yang demikian yang kita inginkan. Apa yang dapat mereka ajarkan bila mereka tidak memiliki realisasi? Ketika saya masih anak-anak di sini, di kota Calcutta ini, saya biasa pergi dari satu tempat ke tempat lain mencari agama, dan di mana pun saya bertanya kepada para penceramah setelah mendengarkan ceramah yang sangat panjang, "Pernahkah Anda melihat Tuhan?" Orang itu tertegun mendengar gagasan tentang melihat Tuhan; dan satu-satunya orang yang berkata kepada saya, "Saya pernah", adalah Ramakrishna Paramahamsa, dan bukan hanya itu, melainkan beliau juga berkata, "Saya akan menempatkan Anda pada jalan untuk melihat-Nya pula". Sang Guru bukanlah orang yang memutar-balik dan menyiksa teks. वाग्वैखरी शब्दझरी शास्त्रव्याख्यानकौशलं वैदुष्यं विदुषां तव्दद् भुक्तये न तु मुक्तये। — "Berbagai cara melontarkan kata, berbagai cara menjelaskan teks kitab suci, semua ini adalah untuk kenikmatan para terpelajar, bukan untuk kebebasan." Srotriya, ia yang mengetahui rahasia Sruti, Awrijina, yang tanpa dosa, dan Akamahata, yang tidak tertusuk oleh hasrat — ia yang tidak ingin mencari uang dengan mengajar Anda — dialah Shanta, sang Sadhu, yang datang seperti musim semi yang membawa daun dan bunga pada berbagai tanaman tetapi tidak meminta apa-apa dari tanaman itu, sebab kodratnya sendiri adalah berbuat baik. Ia berbuat baik dan begitulah adanya. Demikianlah Guru itu, तीर्णाः स्वयं भीमभवार्णवं जनानहेतुनान्यानपि तारयन्तः — "Yang telah dirinya sendiri menyeberangi lautan kehidupan yang mengerikan ini, dan tanpa sedikit pun gagasan akan keuntungan bagi dirinya, membantu orang lain pula menyeberangi lautan itu." Inilah Guru, dan camkanlah bahwa tidak ada yang lain yang dapat menjadi Guru, sebab अविद्यायामन्तरे वर्तमानाः स्वयं धीराः पण्डितम्मन्यमानाः। दन्द्रम्यमाणाः परियन्ति मूढाः अन्धेनैव नीयमाना यथान्धाः — "Diri mereka sendiri terendam dalam kegelapan, tetapi dengan kesombongan hati, mengira bahwa mereka mengetahui segalanya, orang-orang bodoh itu ingin menolong orang lain, dan mereka berputar-putar dalam banyak jalan yang berliku, tersandung ke sana ke mari, dan demikianlah seperti orang buta menuntun orang buta, keduanya pun jatuh ke parit." Demikianlah kata Weda. Bandingkanlah hal itu dengan kebiasaan Anda sekarang. Anda adalah para Wedantis, Anda sangat ortodoks, bukankah demikian? Anda adalah orang Hindu yang besar dan sangat ortodoks. Ya, yang ingin saya lakukan adalah menjadikan Anda lebih ortodoks. Semakin Anda ortodoks, semakin masuk akal; dan semakin Anda memikirkan ortodoksi modern, semakin bodoh Anda jadinya. Kembalilah kepada ortodoksi lama Anda, sebab pada hari-hari itu setiap bunyi yang keluar dari kitab-kitab ini, setiap denyutan, berasal dari hati yang kuat, mantap, dan tulus; setiap nada adalah benar. Setelah itu datanglah kemerosotan dalam seni, dalam ilmu, dalam agama, dalam segala hal, yakni kemerosotan nasional. Kita tidak memiliki waktu untuk membahas sebab-sebabnya, tetapi semua kitab yang ditulis pada periode itu menebarkan bau wabah — yakni pembusukan nasional; alih-alih semangat yang penuh tenaga, yang ada hanyalah ratapan dan tangisan. Kembalilah, kembalilah kepada hari-hari lama ketika ada kekuatan dan daya hidup. Jadilah kuat sekali lagi, teguklah dalam-dalam dari mata air zaman dulu ini, dan itulah satu-satunya syarat untuk kehidupan di India.
Menurut kaum Adwaita, keindividualan yang kita miliki hari ini ini adalah suatu delusi. Inilah persoalan keras yang sulit dipecahkan di seluruh dunia. Begitu Anda mengatakan kepada seseorang bahwa ia bukan suatu individu, ia akan begitu takut bahwa keindividualannya, apa pun itu, akan hilang! Akan tetapi, kaum Adwaita berkata bahwa tidak pernah ada keindividualan, Anda telah berubah pada setiap saat dalam hidup Anda. Anda dahulu adalah seorang anak dan berpikir dengan satu cara, sekarang Anda adalah seorang dewasa dan berpikir dengan cara lain, kelak Anda akan menjadi orang tua dan berpikir secara berbeda lagi. Setiap orang berubah. Jika demikian, di manakah keindividualan Anda? Pasti bukan di tubuh, bukan pula di pikiran, atau di gagasan. Dan di luar itu ada Atman Anda, dan, kata kaum Adwaita, Atman ini adalah Brahman itu sendiri. Tidak mungkin ada dua yang tak terbatas. Yang ada hanyalah satu individu dan ia tak terbatas. Dengan kata lain yang jelas, kita adalah makhluk yang berakal budi, dan kita ingin menalar. Dan apakah penalaran itu? Sedikit banyak adalah klasifikasi, sampai Anda tidak dapat lagi terus melakukannya. Dan yang terbatas hanya dapat menemukan ketenteraman akhirnya ketika ia diklasifikasikan ke dalam yang tak terbatas. Ambillah sebuah benda yang terbatas dan teruslah menganalisisnya, namun Anda tidak akan menemukan ketenteraman di mana pun sampai Anda mencapai yang utama atau yang tak terbatas, dan yang tak terbatas itu, kata kaum Adwaita, adalah satu-satunya yang ada. Segala sesuatu yang lain adalah Maya, tidak ada hal lain yang memiliki keberadaan yang nyata; apa pun yang berkaitan dengan keberadaan dalam segala benda materi adalah Brahman ini; kita adalah Brahman ini, dan bentuk serta segala sesuatu yang lain itu adalah Maya. Lepaskanlah bentuk dan wujud, dan Anda serta saya semuanya adalah satu. Akan tetapi, kita harus berhati-hati terhadap kata "saya". Pada umumnya orang berkata, "Jika saya adalah Brahman, mengapa saya tidak dapat melakukan ini dan itu?" Akan tetapi, ini berarti menggunakan kata itu dalam pengertian yang berbeda. Begitu Anda berpikir bahwa Anda terikat, Anda tidak lagi menjadi Brahman, Sang Diri, yang tidak menginginkan apa-apa, yang cahayanya ada di dalam. Segala kesenangan dan kebahagiaan-Nya ada di dalam; merasa sepenuhnya puas dengan Diri-Nya sendiri, Dia tidak menginginkan apa-apa, tidak mengharapkan apa-apa, sepenuhnya tanpa rasa takut, sepenuhnya bebas. Itulah Brahman. Di dalam Itulah kita semua menjadi satu.
Sekarang ini, oleh karena itu, tampaknya menjadi titik perbedaan besar antara kaum dualis dan kaum Adwaita. Anda akan menemukan bahwa bahkan para komentator besar seperti Shankaracharya pun memberikan makna atas teks-teks yang, menurut pikiran saya, kadang-kadang tampaknya tidak dapat dibenarkan. Kadang-kadang Anda menjumpai Ramanuja menangani teks dengan cara yang tidak terlalu jelas. Bahkan telah ada gagasan di antara para Pandita kita bahwa hanya satu di antara mazhab-mazhab ini yang dapat benar dan sisanya pasti salah, walaupun dalam Sruti telah ada gagasan ini, gagasan paling menakjubkan yang masih harus diberikan India kepada dunia: एकं सव्दिप्रा बहुधा वदन्ति। — "Yang ada itu Satu adanya; para bijak menyebut-Nya dengan berbagai nama." Itulah temanya, dan penjabaran seluruh persoalan hidup bangsa ini adalah penjabaran tema itu — एकं सव्दिप्रा बहुधा वदन्ति। Ya, kecuali sedikit orang terpelajar, maksud saya, kecuali sedikit orang spiritual, di India, kita selalu melupakan hal ini. Kita melupakan gagasan agung ini, dan Anda akan menemukan bahwa ada orang-orang di antara para Pandita — saya kira sembilan puluh delapan persen — yang berpendapat bahwa entah kaum Adwaita yang benar, atau kaum Wisistadwaita yang benar, atau kaum Dwaita yang benar; dan jika Anda pergi ke Varanasi, dan duduk selama lima menit di salah satu Ghat di sana, Anda akan mendapatkan peragaan dari apa yang saya katakan. Anda akan melihat suatu pertarungan banteng yang seru sedang berlangsung mengenai berbagai mazhab dan hal-hal ini.
Demikianlah keadaannya. Lalu datanglah seseorang yang hidupnya adalah penjelasan itu sendiri, yang hidupnya adalah penjabaran dari keharmonisan yang menjadi latar belakang semua mazhab India yang berbeda-beda, yaitu Ramakrishna Paramahamsa. Hidup beliaulah yang menjelaskan bahwa kedua-duanya diperlukan, bahwa keduanya seperti teori geosentris dan heliosentris dalam astronomi. Ketika seorang anak diajari astronomi, ia diajari yang geosentris terlebih dahulu, dan ia menjabarkan gagasan-gagasan astronomi yang serupa dengan yang geosentris. Akan tetapi, ketika ia tiba pada titik-titik yang lebih halus dalam astronomi, yang heliosentris akan diperlukan, dan ia akan memahaminya dengan lebih baik. Dualisme adalah gagasan alami dari indra-indra; selama kita masih terikat oleh indra-indra, kita pasti melihat Tuhan yang hanya bersifat Pribadi, dan tidak lain selain Pribadi, dan kita pasti melihat dunia ini sebagaimana adanya. Kata Ramanuja, "Selama Anda berpikir Anda adalah tubuh, dan Anda berpikir Anda adalah pikiran, dan Anda berpikir Anda adalah Jiwa, setiap tindakan persepsi akan memberi Anda ketiganya — Jiwa, dan alam, dan sesuatu sebagai penyebab keduanya." Akan tetapi, pada saat yang sama, bahkan gagasan tentang tubuh pun lenyap ketika pikiran itu sendiri menjadi semakin halus dan semakin halus, hingga ia hampir lenyap, ketika segala hal yang berbeda-beda yang membuat kita merasa takut, membuat kita lemah, dan mengikat kita pada kehidupan tubuh ini telah lenyap. Maka, dan hanya saat itulah, seseorang menemukan kebenaran dari ajaran lama yang agung itu. Apakah ajaran itu?
इहैव तैर्जितः सर्गो येषां साम्ये स्थितं मनः।
निर्दोषं हि समं ब्रह्म तस्माद् ब्रह्मणि ते स्थिताः॥
इहैव तैर्जितः सर्गो येषां साम्ये स्थितं मनः।
निर्दोषं हि समं ब्रह्म तस्माद् ब्रह्मणि ते स्थिताः॥
"Bahkan dalam kehidupan ini, mereka yang pikirannya teguh terpaut pada kesamaan segala sesuatu telah menaklukkan lingkaran kelahiran dan kematian, sebab Tuhan adalah suci dan sama bagi semua, dan karena itu mereka dikatakan hidup di dalam Tuhan."
समं पश्यन् हि सर्वत्रि समवस्थितमीश्वरम्।
न हिनस्त्यात्मनात्मानं ततो याति परां गतिम्॥
समं पश्यन् हि सर्वत्रि समवस्थितमीश्वरम्।
न हिनस्त्यात्मनात्मानं ततो याति परां गतिम्॥
"Demikianlah, dengan melihat Tuhan yang sama di mana-mana, sang bijak tidak melukai Diri oleh diri, dan dengan demikian mencapai tujuan tertinggi."
English
THE VEDANTA IN ALL ITS PHASES
(Delivered in Calcutta)
Away back, where no recorded history, nay, not even the dim light of tradition, can penetrate, has been steadily shining the light, sometimes dimmed by external circumstances, at others effulgent, but undying and steady, shedding its lustre not only over India, but permeating the whole thought-world with its power, silent, unperceived, gentle, yet omnipotent, like the dew that falls in the morning, unseen and unnoticed, yet bringing into bloom the fairest of roses: this has been the thought of the Upanishads, the philosophy of the Vedanta. Nobody knows when it first came to flourish on the soil of India. Guesswork has been vain. The guesses, especially of Western writers, have been so conflicting that no certain date can be ascribed to them. But we Hindus, from the spiritual standpoint, do not admit that they had any origin. This Vedanta, the philosophy of the Upanishads, I would make bold to state, has been the first as well as the final thought on the spiritual plane that has ever been vouchsafed to man.
From this ocean of the Vedanta, waves of light from time to time have been going Westward and Eastward. In the days of yore it travelled Westward and gave its impetus to the mind of the Greeks, either in Athens, or in Alexandria, or in Antioch. The Sânkhya system must clearly have made its mark on the minds of the ancient Greeks; and the Sankhya and all other systems in India hail that one authority, the Upanishads, the Vedanta. In India, too, in spite of all these jarring sects that we see today and all those that have been in the past, the one authority, the basis of all these systems, has yet been the Upanishads, the Vedanta. Whether you are a dualist, or a qualified monist, an Advaitist, or a Vishishtâdvaitist, a Shuddhâdvaitist, or any other Advaitist, or Dvaitist, or whatever you may call yourself, there stand behind you as authority, your Shastras, your scriptures, the Upanishads. Whatever system in India does not obey the Upanishads cannot be called orthodox, and even the systems of the Jains and the Buddhists have been rejected from the soil of India only because they did not bear allegiance to the Upanishads. Thus the Vedanta, whether we know it or not, has penetrated all the sects in India, and what we call Hinduism, this mighty banyan with its immense, almost infinite ramifications, has been throughout interpenetrated by the influence of the Vedanta. Whether we are conscious of it or not, we think the Vedanta, we live in the Vedanta, we breathe the Vedanta, and we die in the Vedanta, and every Hindu does that. To preach Vedanta in the land of India, and before an Indian audience, seems, therefore, to be an anomaly. But it is the one thing that has to be preached, and it is the necessity of the age that it must be preached. For, as I have just told you, all the Indian sects must bear allegiance to the Upanishads; but among these sects there are many apparent contradictions. Many times the great sages of yore themselves could not understand the underlying harmony of the Upanishads. Many times, even sages quarrelled, so much so that it became a proverb that there are no sages who do not differ. But the time requires that a better interpretation should be given to this underlying harmony of the Upanishadic texts, whether they are dualistic, or non-dualistic, quasi-dualistic, or so forth. That has to be shown before the world at large, and this work is required as much in India as outside of India; and I, through the grace of God, had the great good fortune to sit at the feet of one whose whole life was such an interpretation, whose life, a thousandfold more than whose teaching, was a living commentary on the texts of the Upanishads, was in fact the spirit of the Upanishads living in a human form. Perhaps I have got a little of that harmony; I do not know whether I shall be able to express it or not. But this is my attempt, my mission in life, to show that the Vedantic schools are not contradictory, that they all necessitate each other, all fulfil each other, and one, as it were, is the stepping-stone to the other, until the goal, the Advaita, the Tat Tvam Asi, is reached. There was a time in India when the Karma Kânda had its sway. There are many grand ideals, no doubt, in that portion of the Vedas. Some of our present daily worship is still according to the precepts of the Karma Kanda. But with all that, the Karma Kanda of the Vedas has almost disappeared from India. Very little of our life today is bound and regulated by the orders of the Karma Kanda of the Vedas. In our ordinary lives we are mostly Paurânikas or Tântrikas, and, even where some Vedic texts are used by the Brahmins of India, the adjustment of the texts is mostly not according to the Vedas, but according to the Tantras or the Puranas. As such, to call ourselves Vaidikas in the sense of following the Karma Kanda of the Vedas, I do not think, would be proper. But the other fact stands that we are all of us Vedantists. The people who call themselves Hindus had better be called Vedantists, and, as I have shown you, under that one name Vaidantika come in all our various sects, whether dualists or non-dualists.
The sects that are at the present time in India come to be divided in general into the two great classes of dualists and monists. The little differences which some of these sects insist upon, and upon the authority of which want to take new names as pure Advaitists, or qualified Advaitists, and so forth, do not matter much. As a classification, either they are dualists or monists, and of the sects existing at the present time, some of them are very new, and others seem to be reproductions of very ancient sects. The one class I would present by the life and philosophy of Râmânuja, and the other by Shankarâchârya.
Ramanuja is the leading dualistic philosopher of later India, whom all the other dualistic sects have followed, directly or indirectly, both in the substance of their teaching and in the organization of their sects even down to some of the most minute points of their organization. You will be astonished if you compare Ramanuja and his work with the other dualistic Vaishnava sects in India, to see how much they resemble each other in organization, teaching, and method. There is the great Southern preacher Madhva Muni, and following him, our great Chaitanya of Bengal who took up the philosophy of the Madhvas and preached it in Bengal. There are some other sects also in Southern India, as the qualified dualistic Shaivas. The Shaivas in most parts of India are Advaitists, except in some portions of Southern India and in Ceylon. But they also only substitute Shiva for Vishnu and are Ramanujists in every sense of the term except in the doctrine of the soul. The followers of Ramanuja hold that the soul is Anu, like a particle, very small, and the followers of Shankaracharya hold that it is Vibhu, omnipresent. There have been several non-dualistic sects. It seems that there have been sects in ancient times which Shankara's movement has entirely swallowed up and assimilated. You find sometimes a fling at Shankara himself in some of the commentaries, especially in that of Vijnâna Bhikshu who, although an Advaitist, attempts to upset the Mâyâvâda of Shankara. It seems there were schools who did not believe in this Mayavada, and they went so far as to call Shankara a crypto-Buddhist, Prachchhanna Bauddha, and they thought this Mayavada was taken from the Buddhists and brought within the Vedantic fold. However that may be, in modern times the Advaitists have all ranged themselves under Shankaracharya; and Shankaracharya and his disciples have been the great preachers of Advaita both in Southern and in Northern India. The influence of Shankaracharya did not penetrate much into our country of Bengal and in Kashmir and the Punjab, but in Southern India the Smârtas are all followers of Shankaracharya, and with Varanasi as the centre, his influence is simply immense even in many parts of Northern India.
Now both Shankara and Ramanuja laid aside all claim to originality. Ramanuja expressly tells us he is only following the great commentary of Bodhâyana. भगवद् बोधायनकृतां विस्तीर्णां ब्रह्मसूत्रवृत्तिं पूर्वाचार्याः संचिक्षिपुः तन्मतानुसारेण सूत्राक्षराणि व्याख्यास्यन्ते। — "Ancient teachers abridged that extensive commentary on the Brahma-sutras which was composed by the Bhagavân Bodhayana; in accordance with their opinion, the words of the Sutra are explained." That is what Ramanuja says at the beginning of his commentary, the Shri-Bhâshya. He takes it up and makes of it a Samkshepa, and that is what we have today. I myself never had an opportunity of seeing this commentary of Bodhayana. The late Swami Dayânanda Saraswati wanted to reject every other commentary of the Vyâsa-Sutras except that of Bodhayana; and although he never lost an opportunity of having a fling at Ramanuja, he himself could never produce the Bodhayana. I have sought for it all over India, and never yet have been able to see it. But Ramanuja is very plain on the point, and he tells us that he is taking the ideas, and sometimes the very passages out of Bodhayana, and condensing them into the present Ramanuja Bhashya. It seems that Shankaracharya was also doing the same. There are a few places in his Bhashya which mention older commentaries, and when we know that his Guru and his Guru's Guru had been Vedantists of the same school as he, sometimes corn more thorough-going, bolder even than Shankara himself on certain points, it seems pretty plain that he also was not preaching anything very original, and that even in his Bhashya he himself had been doing the same work that Ramanuja did with Bodhayana, but from what Bhashya, it cannot be discovered at the present time.
All these Darshanas that you have ever seen or heard of are based upon Upanishadic authority. Whenever they want to quote a Shruti, they mean the Upanishads. They are always quoting the Upanishads. Following the Upanishads there come other philosophies of India, but every one of them failed in getting that hold on India which the philosophy of Vyasa got, although the philosophy of Vyasa is a development out of an older one, the Sankhya, and every philosophy and every system in India — I mean throughout the world — owes much to Kapila, perhaps the greatest name in the history of India in psychological and philosophical lines. The influence of Kapila is everywhere seen throughout the world. Wherever there is a recognised system of thought, there you can trace his influence; even if it be thousands of years back, yet he stands there, the shining, glorious, wonderful Kapila. His psychology and a good deal of his philosophy have been accepted by all the sects of India with but very little differences. In our own country, our Naiyâyika philosophers could not make much impression on the philosophical world of India. They were too busy with little things like species and genus, and so forth, and that most cumbersome terminology, which it is a life's work to study. As such, they were very busy with logic and left philosophy to the Vedantists, but every one of the Indian philosophic sects in modern times has adopted the logical terminology of the Naiyayikas of Bengal. Jagadisha, Gadadhara, and Shiromani are as well known at Nadia as in some of the cities in Malabar. But the philosophy of Vyasa, the Vyasa-Sutras, is firm-seated and has attained the permanence of that which it intended to present to men, the Brahman of the Vedantic side of philosophy. Reason was entirely subordinated to the Shrutis, and as Shankaracharya declares, Vyasa did not care to reason at all. His idea in writing the Sutras was just to bring together, and with one thread to make a garland of the flowers of Vedantic texts. His Sutras are admitted so far as they are subordinate to the authority of the Upanishads, and no further.
And, as I have said, all the sects of India now hold these Vyasa-Sutras to be the great authority, and every new sect in India starts with a fresh commentary on the Vyasa-Sutras according to its light. The difference between some of these commentators is sometimes very great, sometimes the text-torturing is quite disgusting. The Vyasa-Sutras have got the place of authority, and no one can expect to found a sect in India until he can write a fresh commentary on the Vyasa-Sutras.
Next in authority is the celebrated Gita. The great glory of Shankaracharya was his preaching of the Gita. It is one of the greatest works that this great man did among the many noble works of his noble life — the preaching of the Gita and writing the most beautiful commentary upon it. And he has been followed by all founders of the orthodox sects in India, each of whom has written a commentary on the Gita.
The Upanishads are many, and said to be one hundred and eight, but some declare them to be still larger in number. Some of them are evidently of a much later date, as for instance, the Allopanishad in which Allah is praised and Mohammed is called the Rajasulla. I have been told that this was written during the reign of Akbar to bring the Hindus and Mohammedans together, and sometimes they got hold of some word, as Allah, or Illa in the Samhitâs, and made an Upanishad on it. So in this Allopanishad, Mohammed is the Rajasulla, whatever that may mean. There are other sectarian Upanishads of the same species, which you find to be entirely modern, and it has been so easy to write them, seeing that this language of the Samhitâ portion of the Vedas is so archaic that there is no grammar to it. Years ago I had an idea of studying the grammar of the Vedas, and I began with all earnestness to study Panini and the Mahâbhâshya, but to my surprise I found that the best part of the Vedic grammar consists only of exceptions to rules. A rule is made, and after that comes a statement to the effect, "This rule will be an exception". So you see what an amount of liberty there is for anybody to write anything, the only safeguard being the dictionary of Yâska. Still, in this you will find, for the most part, but a large number of synonyms. Given all that, how easy it is to write any number of Upanishads you please. Just have a little knowledge of Sanskrit, enough to make words look like the old archaic words, and you have no fear of grammar. Then you bring in Rajasulla or any other Sulla you like. In that way many Upanishads have been manufactured, and I am told that that is being done even now. In some parts of India, I am perfectly certain, they are trying to manufacture such Upanishads among the different sects. But among the Upanishads are those, which, on the face of them, bear the evidence of genuineness, and these have been taken up by the great commentators and commented upon, especially by Shankara, followed by Ramanuja and all the rest.
There are one or two more ideas with regard to the Upanishads which I want to bring to your notice, for these are an ocean of knowledge, and to talk about the Upanishads, even for an incompetent person like myself, takes years and not one lecture only. I want, therefore, to bring to your notice one or two points in the study of the Upanishads. In the first place, they are the most wonderful poems in the world. If you read the Samhita portion of the Vedas, you now and then find passages of most marvellous beauty. For instance, the famous Shloka which describes Chaos — तम आसीत्तमसा गूढमगे etc. — "When darkness was hidden in darkness", so on it goes. One reads and feels the wonderful sublimity of the poetry. Do you mark this that outside of India, and inside also, there have been attempts at painting the sublime. But outside, it has always been the infinite in the muscles the external world, the infinite of matter, or of space. When Milton or Dante, or any other great European poet, either ancient or modern, wants to paint a picture of the infinite, he tries to soar outside, to make you feel the infinite through the muscles. That attempt has been made here also. You find it in the Samhitas, the infinite of extension most marvellously painted and placed before the readers, such as has been done nowhere else. Mark that one sentence — तम आसीत् तमसा गूढम् , — and now mark the description of darkness by three poets. Take our own Kâlidâsa — "Darkness which can be penetrated with the point of a needle"; then Milton — "No light but rather darkness visible"; but come now to the Upanishad, "Darkness was covering darkness", "Darkness was hidden in darkness". We who live in the tropics can understand it, the sudden outburst of the monsoon, when in a moment, the horizon becomes darkened and clouds become covered with more rolling black clouds. So on, the poem goes; but yet, in the Samhita portion, all these attempts are external. As everywhere else, the attempts at finding the solution of the great problems of life have been through the external world. Just as the Greek mind or the modern European mind wants to find the solution of life and of all the sacred problems of Being by searching into the external world. So also did our forefathers, and just as the Europeans failed, they failed also. But the Western people never made a move more, they remained there, they failed in the search for the solution of the great problems of life and death in the external world, and there they remained, stranded; our forefathers also found it impossible, but were bolder in declaring the utter helplessness of the senses to find the solution. Nowhere else was the answer better put than in the Upanishad: यतो वाचो निवर्तन्ते अप्राप्य मनसा सह। — "From whence words come back reflected, together with the mind"; न तत्रचक्षुर्गच्छति न वाग्गच्छति। — "There the eye cannot go, nor can speech reach". There are various sentences which declare the utter helplessness of the senses, but they did not stop there; they fell back upon the internal nature of man, they went to get the answer from their own soul, they became introspective; they gave up external nature as a failure, as nothing could be done there, as no hope, no answer could be found; they discovered that dull, dead matter would not give them truth, and they fell back upon the shining soul of man, and there the answer was found.
तमेवैकं जानथ आत्मानम् अन्या वाचो विमुञ्चथ। — "Know this Atman alone," they declared, "give up all other vain words, and hear no other." In the Atman they found the solution — the greatest of all Atmans, the God, the Lord of this universe, His relation to the Atman of man, our duty to Him, and through that our relation to each other. And herein you find the most sublime poetry in the world. No more is the attempt made to paint this Atman in the language of matter. Nay, for it they have given up even all positive language. No more is there any attempt to come to the senses to give them the idea of the infinite, no more is there an external, dull, dead, material, spacious, sensuous infinite, but instead of that comes something which is as fine as even that mentioned in the saying —
न तत्र सूर्यो भाति न चन्द्रतारकं नेमा वेद्युतो भान्ति कुतोऽयमग्निः।
तमेव भान्तमनुभाति सर्वं तस्य भासा सर्वमिदं विभाति॥
न तत्र सूर्यो भाति न चन्द्रतारकं नेमा वेद्युतो भान्ति कुतोऽयमग्निः।
तमेव भान्तमनुभाति सर्वं तस्य भासा सर्वमिदं विभाति॥
What poetry in the world can be more sublime than this! "There the sun cannot illumine, nor the moon, nor the stars, there this flash of lightning cannot illumine; what to speak of this mortal fire!" Such poetry you find nowhere else. Take that most marvellous Upanishad, the Katha. What a wonderful finish, what a most marvellous art displayed in that poem! How wonderfully it opens with that little boy to whom Shraddhâ came, who wanted to see Yama, and how that most marvellous of all teachers, Death himself, teaches him the great lessons of life and death! And what was his quest? To know the secret of death.
The second point that I want you to remember is the perfectly impersonal character of the Upanishads. Although we find many names, and many speakers, and many teachers in the Upanishads, not one of them stands as an authority of the Upanishads, not one verse is based upon the life of any one of them. These are simply figures like shadows moving in the background, unfelt, unseen, unrealised, but the real force is in the marvellous, the brilliant, the effulgent texts of the Upanishads, perfectly impersonal. If twenty Yâjnavalkyas came and lived and died, it does not matter; the texts are there. And yet it is against no personality; it is broad and expansive enough to embrace all the personalities that the world has yet produced, and all that are yet to come. It has nothing to say against the worship of persons, or Avataras, or sages. On the other hand, it is always upholding it. At the same time, it is perfectly impersonal. It is a most marvellous idea, like the God it preaches, the impersonal idea of the Upanishads. For the sage, the thinker, the philosopher, for the rationalist, it is as much impersonal as any modern scientist can wish. And these are our scriptures. You must remember that what the Bible is to the Christians, what the Koran is to the Mohammedans, what the Tripitaka is to the Buddhist, what the Zend Avesta is to the Parsees, these Upanishads are to us. These and nothing but these are our scriptures. The Purânas, the Tantras, and all the other books, even the Vyasa-Sutras, are of secondary, tertiary authority, but primary are the Vedas. Manu, and the Puranas, and all the other books are to be taken so far as they agree with the authority of the Upanishads, and when they disagree they are to be rejected without mercy. This we ought to remember always, but unfortunately for India, at the present time we have forgotten it. A petty village custom seems now the real authority and not the teaching of the Upanishads. A petty idea current in a wayside village in Bengal seems to have the authority of the Vedas, and even something better. And that word "orthodox", how wonderful its influence! To the villager, the following of every little bit of the Karma Kanda is the very height of "orthodoxy", and one who does not do it is told, "Go away, you are no more a Hindu." So there are, most unfortunately in my motherland, persons who will take up one of these Tantras and say, that the practice of this Tantra is to be obeyed; he who does not do so is no more orthodox in his views. Therefore it is better for us to remember that in the Upanishads is the primary authority, even the Grihya and Shrauta Sutras are subordinate to the authority of the Vedas. They are the words of the Rishis, our forefathers, and you have to believe them if you want to become a Hindu. You may even believe the most peculiar ideas about the Godhead, but if you deny the authority of the Vedas, you are a Nâstika. Therein lies the difference between the scriptures of the Christians or the Buddhists and ours; theirs are all Puranas, and not scriptures, because they describe the history of the deluge, and the history of kings and reigning families, and record the lives of great men, and so on. This is the work of the Puranas, and so far as they agree with the Vedas, they are good. So far as the Bible and the scriptures of other nations agree with the Vedas, they are perfectly good, but when they do not agree, they are no more to be accepted. So with the Koran. There are many moral teachings in these, and so far as they agree with the Vedas they have the authority of the Puranas, but no more. The idea is that the Vedas were never written; the idea is, they never came into existence. I was told once by a Christian missionary that their scriptures have a historical character, and therefore are true, to which I replied, "Mine have no historical character and therefore they are true; yours being historical, they were evidently made by some man the other day. Yours are man-made and mine are not; their non-historicity is in their favour." Such is the relation of the Vedas with all the other scriptures at the present day.
We now come to the teachings of the Upanishads. Various texts are there. Some are perfectly dualistic, while others are monistic. But there are certain doctrines which are agreed to by all the different sects of India. First, there is the doctrine of Samsâra or reincarnation of the soul. Secondly, they all agree in their psychology; first there is the body, behind that, what they call the Sukshma Sharira, the mind, and behind that even, is the Jiva. That is the great difference between Western and Indian psychology; in the Western psychology the mind is the soul, here it is not. The Antahkarana, the internal instrument, as the mind is called, is only an instrument in the hands of that Jiva, through which the Jiva works on the body or on the external world. Here they all agree, and they all also agree that this Jiva or Atman, Jivatman as it is called by various sects, is eternal, without beginning; and that it is going from birth to birth, until it gets a final release. They all agree in this, and they also all agree in one other most vital point, which alone marks characteristically, most prominently, most vitally, the difference between the Indian and the Western mind, and it is this, that everything is in the soul. There is no inspiration, but properly speaking, expiration. All powers and all purity and all greatness — everything is in the soul. The Yogi would tell you that the Siddhis - Animâ, Laghimâ, and so on — that he wants to attain to are not to be attained, in the proper sense of the word, but are already there in the soul; the work is to make them manifest. Patanjali, for instance, would tell you that even in the lowest worm that crawls under your feet, all the eightfold Yogi's powers are already existing. The difference has been made by the body. As soon as it gets a better body, the powers will become manifest, but they are there.
निमित्तमप्रयोजकं प्रकृतीनां वरणभेदस्तु ततः क्षेत्रिकवत्। — "Good and bad deeds are not the direct causes in the transformations of nature, but they act as breakers of obstacles to the evolutions of nature: as a farmer breaks the obstacles to the course of water, which then runs down by its own nature." Here Patanjali gives the celebrated example of the cultivator bringing water into his field from a huge tank somewhere. The tank is already filled and the water would flood his land in a moment, only there is a mud-wall between the tank and his field. As soon as the barrier is broken, in rushes the water out of its own power and force. This mass of power and purity and perfection is in the soul already. The only difference is the Âvarana — this veil — that has been cast over it. Once the veil is removed, the soul attains to purity, and its powers become manifest. This, you ought to remember, is the great difference between Eastern and Western thought. Hence you find people teaching such awful doctrines as that we are all born sinners, and because we do not believe in such awful doctrines we are all born wicked. They never stop to think that if we are by our very nature wicked, we can never be good — for how can nature change? If it changes, it contradicts itself; it is not nature. We ought to remember this. Here the dualist, and the Advaitist, and all others in India agree.
The next point, which all the sects in India believe in, is God. Of course their ideas of God will be different. The dualists believe in a Personal God, and a personal only. I want you to understand this word personal a little more. This word personal does not mean that God has a body, sits on a throne somewhere, and rules this world, but means Saguna, with qualities. There are many descriptions of the Personal God. This Personal God as the Ruler, the Creator, the Preserver, and the Destroyer of this universe is believed in by all the sects. The Advaitists believe something more. They believe in a still higher phase of this Personal God, which is personal-impersonal. No adjective can illustrate where there is no qualification, and the Advaitist would not give Him any qualities except the three —Sat-Chit-Ananda, Existence, Knowledge, and Bliss Absolute. This is what Shankara did. But in the Upanishads themselves you find they penetrate even further, and say, nothing can be predicated of it except Neti, Neti, "Not this, Not this".
Here all the different sects of India agree. But taking the dualistic side, as I have said, I will take Ramanuja as the typical dualist of India, the great modern representative of the dualistic system. It is a pity that our people in Bengal know so very little about the great religious leaders in India, who have been born in other parts of the country; and for the matter of that, during the whole of the Mohammedan period, with the exception of our Chaitanya, all the great religious leaders were born in Southern India, and it is the intellect of Southern India that is really governing India now; for even Chaitanya belonged to one of these sects, a sect of the Mâdhvas. According to Ramanuja, these three entities are eternal — God, and soul, and nature. The souls are eternal, and they will remain eternally existing, individualised through eternity, and will retain their individuality all through. Your soul will be different from my soul through all eternity, says Ramanuja, and so will this nature — which is an existing fact, as much a fact as the existence of soul or the existence of God — remain always different. And God is interpenetrating, the essence of the soul, He is the Antaryâmin. In this sense Ramanuja sometimes thinks that God is one with the soul, the essence of the soul, and these souls — at the time of Pralaya, when the whole of nature becomes what he calls Sankuchita, contracted — become contracted and minute and remain so for a time. And at the beginning of the next cycle they all come out, according to their past Karma, and undergo the effect of that Karma. Every action that makes the natural inborn purity and perfection of the soul get contracted is a bad action, and every action that makes it come out and expand itself is a good action, says Ramanuja. Whatever helps to make the Vikâsha of the soul is good, and whatever makes it Sankuchita is bad. And thus the soul is going on, expanding or contracting in its actions, till through the grace of God comes salvation. And that grace comes to all souls, says Ramanuja, that are pure and struggle for that grace.
There is a celebrated verse in the Shrutis,आहारशुध्दौ सत्त्वशुध्दिः सत्त्वशुध्दौ ध्रुवास्मृतिः "When the food is pure, then the Sattva becomes pure; when the Sattva is pure, then the Smriti" — the memory of the Lord, or the memory of our own perfection — if you are an Advaitist — "becomes truer, steadier, and absolute". Here is a great discussion. First of all, what is this Sattva? We know that according to the Sankhya — and it has been admitted by all our sects of philosophy — the body is composed of three sorts of materials — not qualities. It is the general idea that Sattva, Rajas, and Tamas are qualities. Not at all, not qualities but the materials of this universe, and with Âhâra-shuddhi, when the food is pure, the Sattva material becomes pure. The one theme of the Vedanta is to get this Sattva. As I have told you, the soul is already pure and perfect, and it is, according to the Vedanta, covered up by Rajas and Tamas particles. The Sattva particles are the most luminous, and the effulgence of the soul penetrates through them as easily as light through glass. So if the Rajas and Tamas particles go, and leave the Sattva particles, in this state the power and purity of the soul will appear, and leave the soul more manifest.
Therefore it is necessary to have this Sattva. And the text says, "When Ahara becomes pure". Ramanuja takes this word Ahara to mean food, and he has made it one of the turning points of his philosophy. Not only so, it has affected the whole of India, and all the different sects. Therefore it is necessary for us to understand what it means, for that, according to Ramanuja, is one of the principal factors in our life, Ahara-shuddhi. What makes food impure? asks Ramanuja. Three sorts of defects make food impure — first, Jâti-dosha, the defect in the very nature of the class to which the food belongs, as the smell in onions, garlic, and suchlike. The next is Âshraya-dosha, the defect in the person from whom the food comes; food coming from a wicked person will make you impure. I myself have seen many great sages in India following strictly that advice all their lives. Of course they had the power to know who brought the food, and even who had touched the food, and I have seen it in my own life, not once, but hundreds of times. Then Nimitta-dosha, the defect of impure things or influences coming in contact with food is another. We had better attend to that a little more now. It has become too prevalent in India to take food with dirt and dust and bits of hair in it. If food is taken from which these three defects have been removed, that makes Sattva-shuddhi, purifies the Sattva. Religion seems to be a very easy task then. Then every one can have religion if it comes by eating pure food only. There is none so weak or incompetent in this world, that I know, who cannot save himself from these defects. Then comes Shankaracharya, who says this word Ahara means thought collected in the mind; when that becomes pure, the Sattva becomes pure, and not before that. You may eat what you like. If food alone would purify the Sattva, then feed the monkey with milk and rice all its life; would it become a great Yogi? Then the cows and the deer would be great Yogis. As has been said, "If it is by bathing much that heaven is reached, the fishes will get to heaven first. If by eating vegetables a man gets to heaven, the cows and the deer will get to heaven first."
But what is the solution? Both are necessary. Of course the idea that Shankaracharya gives us of Ahara is the primary idea. But pure food, no doubt, helps pure thought; it has an intimate connection; both ought to be there. But the defect is that in modern India we have forgotten the advice of Shankaracharya and taken only the "pure food" meaning. That is why people get mad with me when I say, religion has got into the kitchen; and if you had been in Madras with me, you would have agreed with me. The Bengalis are better than that. In Madras they throw away food if anybody looks at it. And with all this, I do not see that the people are any the better there. If only eating this and that sort of food and saving it from the looks of this person and that person would give them perfection, you would expect them all to be perfect men, which they are not.
Thus, although these are to be combined and linked together to make a perfect whole, do not put the cart before the horse. There is a cry nowadays about this and that food and about Varnâshrama, and the Bengalis are the most vociferous in these cries. I would ask every one of you, what do you know about this Varnashrama? Where are the four castes today in this country? Answer me; I do not see the four castes. Just as our Bengali proverb has it, "A headache without a head", so you want to make this Varnashrama here. There are not four castes here. I see only the Brâhmin and the Shudra. If there are the Kshatriyas and the Vaishyas, where are they and why do not you Brahmins order them to take the Yajnopavita and study the Vedas, as every Hindu ought to do? And if the Vaishyas and the Kshatriyas do not exist, but only the Brahmins and the Shudras, the Shastras say that the Brahmin must not live in a country where there are only Shudras; so depart bag and baggage! Do you know what the Shastras say about people who have been eating Mlechchha food and living under a government of the Mlechchhas, as you have for the past thousand years? Do you know the penance for that? The penance would be burning oneself with one's own hands. Do you want to pass as teachers and walk like hypocrisies? If you believe in your Shastras, burn yourselves first like the one great Brahmin did who went with Alexander the Great and burnt himself because he thought he had eaten the food of a Mlechchha. Do like that, and you will see that the whole nation will be at your feet. You do not believe in your own Shastras and yet want to make others believe in them. If you think you are not able to do that in this age, admit your weakness and excuse the weakness of others, take the other castes up, give them a helping hand, let them study the Vedas and become just as good Aryans as any other Aryans in the world, and be you likewise Aryans, you Brahmins of Bengal.
Give up this filthy Vâmâchâra that is killing your country. You have not seen the other parts of India. When I see how much the Vamachara has entered our society, I find it a most disgraceful place with all its boast of culture. These Vamachara sects are honeycombing our society in Bengal. Those who come out in the daytime and preach most loudly about Âchâra, it is they who carry on the horrible debauchery at night and are backed by the most dreadful books. They are ordered by the books to do these things. You who are of Bengal know it. The Bengali Shastras are the Vamachara Tantras. They are published by the cart-load, and you poison the minds of your children with them instead of teaching them your Shrutis. Fathers of Calcutta, do you not feel ashamed that such horrible stuff as these Vamachara Tantras, with translations too, should be put into the hands of your boys and girls, and their minds poisoned, and that they should be brought up with the idea that these are the Shastras of the Hindus? If you are ashamed, take them away from your children, and let them read the true Shastras, the Vedas, the Gita, the Upanishads.
According to the dualistic sects of India, the individual souls remain as individuals throughout, and God creates the universe out of pre-existing material only as the efficient cause. According to the Advaitists, on the other hand, God is both the material and the efficient cause of the universe. He is not only the Creator of the universe, but He creates it out of Himself. That is the Advaitist position. There are crude dualistic sects who believe that this world has been created by God out of Himself, and at the same time God is eternally separate from the universe, and everything is eternally subordinate to the Ruler of the universe. There are sects too who also believe that out of Himself God has evolved this universe, and individuals in the long run attain to Nirvâna to give up the finite and become the Infinite. But these sects have disappeared. The one sect of Advaitists that you see in modern India is composed of the followers of Shankara. According to Shankara, God is both the material and the efficient cause through Mâyâ, but not in reality. God has not become this universe; but the universe is not, and God is. This is one of the highest points to understand of Advaita Vedanta, this idea of Maya. I am afraid I have no time to discuss this one most difficult point in our philosophy. Those of you who are acquainted with Western philosophy will find something very similar in Kant. But I must warn you, those of you who have studied Professor Max Müller's writings on Kant, that there is one idea most misleading. It was Shankara who first found out the idea of the identity of time, space, and causation with Maya, and I had the good fortune to find one or two passages in Shankara's commentaries and send them to my friend the Professor. So even that idea was here in India. Now this is a peculiar theory — this Maya theory of the Advaita Vedantists. The Brahman is all that exists, but differentiation has been caused by this Maya. Unity, the one Brahman, is the ultimate, the goal, and herein is an eternal dissension again between Indian and Western thought. India has thrown this challenge to the world for thousands of years, and the challenge has been taken up by different nations, and the result is that they all succumbed and you live. This is the challenge that this world is a delusion, that it is all Maya, that whether you eat off the ground with your fingers or dine off golden plates, whether you live in palaces and are one of the mightiest monarchs or are the poorest of beggars, death is the one result; it is all the same, all Maya. That is the old Indian theme, and again and again nations are springing up trying to unsay it, to disprove it; becoming great, with enjoyment as their watchword, power in their hands, they use that power to the utmost, enjoy to the utmost, and the next moment they die. We stand for ever because we see that everything is Maya. The children of Maya live for ever, but the children of enjoyment die.
Here again is another great difference. Just as you find the attempts of Hegel and Schopenhauer in German philosophy, so you will find the very same ideas brought forward in ancient India. Fortunately for us, Hegelianism was nipped in the bud and not allowed to sprout and cast its baneful shoots over this motherland of ours. Hegel's one idea is that the one, the absolute, is only chaos, and that the individualized form is the greater. The world is greater than the non-world, Samsâra is greater than salvation. That is the one idea, and the more you plunge into this Samsara the more your soul is covered with the workings of life, the better you are. They say, do you not see how we build houses, cleanse the streets, enjoy the senses? Ay, behind that they may hide rancour, misery, horror — behind every bit of that enjoyment.
On the other hand, our philosophers have from the very first declared that every manifestation, what you call evolution, is vain, a vain attempt of the unmanifested to manifest itself. Ay, you the mighty cause of this universe, trying to reflect yourself in little mud puddles! But after making the attempt for a time you find out it was all in vain and beat a retreat to the place from whence you came. This is Vairâgya, or renunciation, and the very beginning of religion. How can religion or morality begin without renunciation itself ? The Alpha and Omega is renunciation. "Give up," says the Veda, "give up." That is the one way, "Give up".न प्रजया धनेन त्यागेनैकेऽमृतत्वमानशुः — "Neither through wealth, nor through progeny, but by giving up alone that immortality is to be reached." That is the dictate of the Indian books. Of course, there have been great givers-up of the world, even sitting on thrones. But even (King) Janaka himself had to renounce; who was a greater renouncer than he? But in modern times we all want to be called Janakas! They are all Janakas (lit. fathers) of children — unclad, ill-fed, miserable children. The word Janaka can be applied to them in that sense only; they have none of the shining, Godlike thoughts as the old Janaka had. These are our modern Janakas! A little less of this Janakism now, and come straight to the mark! If you can give up, you will have religion. If you cannot, you may read all the books that are in the world, from East to West, swallow all the libraries, and become the greatest of Pandits, but if you have Karma Kanda only, you are nothing; there is no spirituality. Through renunciation alone this immortality is to be reached. It is the power, the great power, that cares not even for the universe; then it is that ब्रह्माण्डम् गोष्पदायते। "The whole universe becomes like a hollow made by a cow's foot."
Renunciation, that is the flag, the banner of India, floating over the world, the one undying thought which India sends again and again as a warning to dying races, as a warning to all tyranny, as a warning to wickedness in the world. Ay, Hindus, let not your hold of that banner go. Hold it aloft. Even if you are weak and cannot renounce, do not lower the ideal. Say, "I am weak and cannot renounce the world", but do not try to be hypocrites, torturing texts, and making specious arguments, and trying to throw dust in the eyes of people who are ignorant. Do not do that, but own you are weak. For the idea is great, that of renunciation. What matters it if millions fail in the attempt, if ten soldiers or even two return victorious! Blessed be the millions dead! Their blood has bought the victory. This renunciation is the one ideal throughout the different Vedic sects except one, and that is the Vallabhâchârya sect in Bombay Presidency, and most of you are aware what comes where renunciation does not exist. We want orthodoxy — even the hideously orthodox, even those who smother themselves with ashes, even those who stand with their hands uplifted. Ay, we want them, unnatural though they be, for standing for that idea of giving up, and acting as a warning to the race against succumbing to the effeminate luxuries that are creeping into India, eating into our very vitals, and tending to make the whole race a race of hypocrites. We want to have a little of asceticism. Renunciation conquered India in days of yore, it has still to conquer India. Still it stands as the greatest and highest of Indian ideals — this renunciation. The land of Buddha, the land of Ramanuja, of Ramakrishna Paramahamsa, the land of renunciation, the land where, from the days of yore, Karma Kanda was preached against, and even today there are hundreds who have given up everything, and become Jivanmuktas — ay, will that land give up its ideals? Certainly not. There may be people whose brains have become turned by the Western luxurious ideals; there may be thousands and hundreds of thousands who have drunk deep of enjoyment, this curse of the West — the senses — the curse of the world; yet for all that, there will be other thousands in this motherland of mine to whom religion will ever be a reality, and who will be ever ready to give up without counting the cost, if need be.
Another ideal very common in all our sects, I want to place before you; it is also a vast subject. This unique idea that religion is to be realised is in India alone.नायमात्मा प्रवचनेन लभ्यो न मेधया न बहुना श्रुतेन — "This Atman is not to be reached by too much talking, nor is it to be reached by the power of intellect, nor by much study of the scriptures." Nay, ours is the only scripture in the world that declares, not even by the study of the scriptures can the Atman be realised — not talks, not lecturing, none of that, but It is to be realised. It comes from the teacher to the disciple. When this insight comes to the disciple, everything is cleared up and realisation follows.
One more idea. There is a peculiar custom in Bengal, which they call Kula-Guru, or hereditary Guruship. "My father was your Guru, now I shall be your Guru. My father was the Guru of your father, so shall I be yours." What is a Guru? Let us go back to the Shrutis — "He who knows the secret of the Vedas", not bookworms, not grammarians, not Pandits in general, but he who knows the meaning. यथा खरश्चन्दनभारवाही भारस्य वेत्ता न तु चन्दनस्य। — "An ass laden with a load of sandalwood knows only the weight of the wood, but not its precious qualities"; so are these Pandits. We do not want such. What can they teach if they have no realisation? When I was a boy here, in this city of Calcutta, I used to go from place to place in search of religion, and everywhere I asked the lecturer after hearing very big lectures, "Have you seen God?" The man was taken aback at the idea of seeing God; and the only man who told me, "I have", was Ramakrishna Paramahamsa, and not only so, but he said, "I will put you in the way of seeing Him too". The Guru is not a man who twists and tortures texts. वाग्वैखरी शब्दझरी शास्त्रव्याख्यानकौशलं वैदुष्यं विदुषां तव्दद् भुक्तये न तु मुक्तये। — "Different ways of throwing out words, different ways of explaining texts of the scriptures, these are for the enjoyment of the learned, not for freedom." Shrotriya, he who knows the secret of the Shrutis, Avrijina, the sinless, and Akâmahata, unpierced by desire — he who does not want to make money by teaching you — he is the Shânta, the Sâdhu, who comes as the spring which brings the leaves and blossoms to various plants but does not ask anything from the plant, for its very nature is to do good. It does good and there it is. Such is the Guru, तीर्णाः स्वयं भीमभवार्णवं जनानहेतुनान्यानपि तारयन्तः — "Who has himself crossed this terrible ocean of life, and without any idea of gain to himself, helps others also to cross the ocean." This is the Guru, and mark that none else can be a Guru, for अविद्यायामन्तरे वर्तमानाः स्वयं धीराः पण्डितम्मन्यमानाः। दन्द्रम्यमाणाः परियन्ति मूढाः अन्धेनैव नीयमाना यथान्धाः — "Themselves steeped in darkness, but in the pride of their hearts, thinking they know everything, the fools want to help others, and they go round and round in many crooked ways, staggering to and fro, and thus like the blind leading the blind, both fall into the ditch." Thus say the Vedas. Compare that and your present custom. You are Vedantists, you are very orthodox, are you not? You are great Hindus and very orthodox. Ay, what I want to do is to make you more orthodox. The more orthodox you are, the more sensible; and the more you think of modern orthodoxy, the more foolish you are. Go back to your old orthodoxy, for in those days every sound that came from these books, every pulsation, was out of a strong, steady, and sincere heart; every note was true. After that came degradation in art, in science, in religion, in everything, national degradation. We have no time to discuss the causes, but all the books written about that period breathe of the pestilence — the national decay; instead of vigour, only wails and cries. Go back, go back to the old days when there was strength and vitality. Be strong once more, drink deep of this fountain of yore, and that is the only condition of life in India.
According to the Advaitist, this individuality which we have today is a delusion. This has been a hard nut to crack all over the world. Forthwith you tell a man he is not an individual, he is so much afraid that his individuality, whatever that may be, will be lost! But the Advaitist says there never has been an individuality, you have been changing every moment of your life. You were a child and thought in one way, now you are a man and think another way, again you will be an old man and think differently. Everybody is changing. If so, where is your individuality? Certainly not in the body, or in the mind, or in thought. And beyond that is your Atman, and, says the Advaitist, this Atman is the Brahman Itself. There cannot be two infinites. There is only one individual and it is infinite. In plain words, we are rational beings, and we want to reason. And what is reason? More or less of classification, until you cannot go on any further. And the finite can only find its ultimate rest when it is classified into the infinite. Take up a finite thing and go on analysing it, but you will find rest nowhere until you reach the ultimate or infinite, and that infinite, says the Advaitist, is what alone exists. Everything else is Maya, nothing else has real existence; whatever is of existence in any material thing is this Brahman; we are this Brahman, and the shape and everything else is Maya. Take away the form and shape, and you and I are all one. But we have to guard against the word, "I". Generally people say, "If I am the Brahman, why cannot I do this and that?" But this is using the word in a different sense. As soon as you think you are bound, no more you are Brahman, the Self, who wants nothing, whose light is inside. All His pleasures and bliss are inside; perfectly satisfied with Himself, He wants nothing, expects nothing, perfectly fearless, perfectly free. That is Brahman. In That we are all one.
Now this seems, therefore, to be the great point of difference between the dualist and the Advaitist. You find even great commentators like Shankaracharya making meanings of texts, which, to my mind, sometimes do not seem to be justified. Sometimes you find Ramanuja dealing with texts in a way that is not very clear. The idea has been even among our Pandits that only one of these sects can be true and the rest must be false, although they have the idea in the Shrutis, the most wonderful idea that India has yet to give to the world: एकं सव्दिप्रा बहुधा वदन्ति। — "That which exists is One; sages call It by various names." That has been the theme, and the working out of the whole of this life-problem of the nation is the working out of that theme — एकं सव्दिप्रा बहुधा वदन्ति। Yea, except a very few learned men, I mean, barring a very few spiritual men, in India, we always forget this. We forget this great idea, and you will find that there are persons among Pandits — I should think ninety-eight per cent — who are of opinion that either the Advaitist will be true, or the Vishishtadvaitist will be true, or the Dvaitist will be true; and if you go to Varanasi, and sit for five minutes in one of the Ghats there, you will have demonstration of what I say. You will see a regular bull-fight going on about these various sects and things.
Thus it remains. Then came one whose life was the explanation, whose life was the working out of the harmony that is the background of all the different sects of India, I mean Ramakrishna Paramahamsa. It is his life that explains that both of these are necessary, that they are like the geocentric and the heliocentric theories in astronomy. When a child is taught astronomy, he is taught the geocentric first, and works out similar ideas of astronomy to the geocentric. But when he comes to finer points of astronomy, the heliocentric will be necessary, and he will understand it better. Dualism is the natural idea of the senses; as long as we are bound by the senses we are bound to see a God who is only Personal, and nothing but Personal, we are bound to see the world as it is. Says Ramanuja, "So long as you think you are a body, and you think you are a mind, and you think you are a Jiva, every act of perception will give you the three — Soul, and nature, and something as causing both." But yet, at the same time, even the idea of the body disappears where the mind itself becomes finer and finer, till it has almost disappeared, when all the different things that make us fear, make us weak, and bind us down to this body-life have disappeared. Then and then alone one finds out the truth of that grand old teaching. What is the teaching?
इहैव तैर्जितः सर्गो येषां साम्ये स्थितं मनः।
निर्दोषं हि समं ब्रह्म तस्माद् ब्रह्मणि ते स्थिताः॥
इहैव तैर्जितः सर्गो येषां साम्ये स्थितं मनः।
निर्दोषं हि समं ब्रह्म तस्माद् ब्रह्मणि ते स्थिताः॥
"Even in this life they have conquered the round of birth and death whose minds are firm-fixed on the sameness of everything, for God is pure and the same to all, and therefore such are said to be living in God."
समं पश्यन् हि सर्वत्रि समवस्थितमीश्वरम्।
न हिनस्त्यात्मनात्मानं ततो याति परां गतिम्॥
समं पश्यन् हि सर्वत्रि समवस्थितमीश्वरम्।
न हिनस्त्यात्मनात्मानं ततो याति परां गतिम्॥
"Thus seeing the Lord the same everywhere, he, the sage, does not hurt the Self by the self, and so goes to the highest goal."
Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.