Arsip Vivekananda

Misi Wedanta

Jilid3 lecture
8,648 kata · 35 menit baca · Lectures from Colombo to Almora

Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.

AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.

Bahasa Indonesia

MISI WEDANTA

Pada kesempatan kunjungannya ke Kumbakonam, Swamiji disambut dengan sambutan berikut oleh komunitas Hindu setempat:

Swamin yang kami hormati,

Atas nama penduduk Hindu kota Kumbakonam yang kuno dan penting secara religius ini, kami memohon izin untuk menyampaikan sambutan yang paling hangat kepada Anda atas kepulangan Anda dari Dunia Barat ke tanah suci kami sendiri yang penuh kuil-kuil agung serta para suci dan resi yang termasyhur. Kami sangat bersyukur kepada Tuhan atas keberhasilan luar biasa dari misi keagamaan Anda di Amerika dan di Eropa, dan atas pertolongan-Nya yang memampukan Anda untuk menanamkan kesan kepada para wakil terpilih dari agama-agama besar dunia yang berhimpun di Chicago bahwa baik filsafat maupun agama Hindu sedemikian luasnya dan sedemikian katoliknya secara rasional, sehingga di dalamnya terkandung kekuatan untuk meninggikan dan menyelaraskan segala gagasan tentang Tuhan dan tentang spiritualitas manusia.

Keyakinan bahwa perkara Kebenaran selalu aman di tangan Dia yang merupakan hidup dan jiwa alam semesta telah selama beribu-ribu tahun menjadi bagian dari iman hidup kami; dan jika hari ini kami bersukacita atas hasil karya suci Anda di tanah-tanah Kristen, hal itu disebabkan karena dengan demikian mata manusia, baik di dalam maupun di luar India, terbuka kepada nilai yang tak ternilai dari warisan spiritual bangsa Hindu yang sangat religius ini. Keberhasilan karya Anda secara wajar telah menambah kemilau besar pada nama Guru agung Anda yang sudah termasyhur; hal itu juga telah mengangkat kedudukan kami dalam penghargaan dunia yang beradab; lebih dari semuanya, hal itu telah membuat kami merasa bahwa kami pun, sebagai sebuah bangsa, memiliki alasan untuk berbangga atas pencapaian masa lalu kami, dan bahwa tiadanya agresivitas yang menonjol dalam peradaban kami sama sekali bukanlah pertanda bahwa peradaban itu telah letih atau lapuk. Dengan para pekerja yang berpandangan tajam, penuh pengabdian, dan sepenuhnya tanpa pamrih seperti Anda di tengah-tengah kami, masa depan bangsa Hindu tidak mungkin lain selain cerah dan penuh harapan. Semoga Tuhan alam semesta, yang juga merupakan Tuhan agung dari segala bangsa, melimpahkan kepada Anda kesehatan dan umur panjang, serta menjadikan Anda semakin kuat dan bijaksana dalam menjalankan tugas Anda yang tinggi dan mulia sebagai guru yang layak bagi agama dan filsafat Hindu.

Sebuah sambutan kedua juga disampaikan oleh para pelajar Hindu kota tersebut.

Swami kemudian menyampaikan pidato berikut tentang Misi Wedanta:

Sedikit pekerjaan keagamaan yang dilakukan mendatangkan hasil yang besar. Jika pernyataan Gita ini memerlukan sebuah ilustrasi, setiap hari saya menemukan kebenaran ucapan agung itu di dalam kehidupan saya yang sederhana. Pekerjaan saya sesungguhnya sangat tidak berarti, tetapi kebaikan dan kehangatan sambutan yang menemui saya pada setiap langkah perjalanan saya dari Kolombo hingga ke kota ini benar-benar di luar segala dugaan. Namun, pada saat yang sama, semua itu pantas bagi tradisi kita sebagai orang Hindu, pantas bagi bangsa kita; sebab di sinilah kita berada, bangsa Hindu, yang vitalitasnya, asas hidupnya, jiwanya yang sejati, boleh dikatakan, terletak di dalam agama. Saya telah melihat sedikit dunia, mengembara di antara bangsa-bangsa Timur dan Barat; dan di mana pun saya menemukan di antara bangsa-bangsa satu cita-cita agung yang membentuk tulang punggung, boleh dikatakan, dari bangsa itu. Pada sebagian bangsa, cita-cita itu adalah politik; pada sebagian lainnya, kebudayaan sosial; pada yang lain lagi, mungkin kebudayaan intelektual, dan seterusnya sebagai latar belakang nasional mereka. Akan tetapi tanah air kita ini hanya memiliki agama, agama semata, sebagai landasannya, sebagai tulang punggungnya, sebagai dasar batu di atasnya seluruh bangunan kehidupannya berdiri. Sebagian dari Anda mungkin masih ingat bahwa di dalam balasan saya kepada sambutan ramah yang dikirim oleh orang-orang Madras kepada saya di Amerika, saya menunjukkan kenyataan bahwa seorang petani di India, dalam banyak hal, memiliki pendidikan keagamaan yang lebih baik daripada banyak orang terhormat di Barat, dan hari ini, tanpa keraguan sedikit pun, saya sendiri membuktikan kebenaran kata-kata saya itu. Pernah ada masa ketika saya merasa agak tidak puas dengan kurangnya informasi di kalangan rakyat India dan kurangnya kehausan mereka akan informasi, tetapi kini saya memahaminya. Di mana letak kepentingan mereka, di sana mereka justru lebih bersemangat untuk memperoleh informasi dibandingkan rakyat bangsa mana pun yang pernah saya lihat atau pernah saya jelajahi. Tanyakan kepada para petani kita tentang perubahan-perubahan politik yang penting di Eropa, tentang pergolakan-pergolakan yang terjadi di masyarakat Eropa — mereka tidak tahu apa pun tentang itu, dan mereka pun tidak peduli untuk mengetahuinya; tetapi para petani, bahkan di Ceylon, yang dalam banyak hal terpisah dari India, terputus dari minat yang hidup terhadap India — saya menemukan para petani yang sedang bekerja di ladang-ladang di sana telah mengetahui bahwa pernah diadakan sebuah Parlemen Agama-agama di Amerika, bahwa seorang Sannyasin India telah pergi ke sana, dan bahwa ia telah meraih sedikit keberhasilan.

Oleh karena itu, di mana letak kepentingan mereka, di sana mereka sama bersemangatnya untuk memperoleh informasi seperti bangsa mana pun; dan agama adalah satu-satunya kepentingan rakyat India. Saya tidak sedang membahas saat ini apakah baik atau tidak memiliki vitalitas bangsa di dalam cita-cita keagamaan ataukah di dalam cita-cita politik, namun sejauh ini jelas bagi kita bahwa, untuk baik atau untuk buruk, vitalitas kita terpusat di dalam agama kita. Anda tidak dapat mengubahnya. Anda tidak dapat memusnahkannya dan menggantinya dengan yang lain. Anda tidak dapat memindahkan sebuah pohon besar yang sedang tumbuh dari satu tanah ke tanah lain dan membuatnya segera mengakar di tempat itu. Untuk baik atau untuk buruk, cita-cita keagamaan telah mengalir ke India selama beribu-ribu tahun; untuk baik atau untuk buruk, atmosfer India telah dipenuhi dengan cita-cita keagamaan selama berabad-abad yang cemerlang; untuk baik atau untuk buruk, kita telah dilahirkan dan dibesarkan di tengah-tengah gagasan-gagasan keagamaan ini, sehingga gagasan-gagasan itu telah memasuki darah kita sendiri dan berdenyut bersama setiap tetes di dalam pembuluh-pembuluh kita, dan telah menjadi satu dengan susunan kita, menjadi vitalitas yang sebenarnya dari kehidupan kita. Dapatkah Anda menyerahkan agama semacam itu tanpa membangkitkan energi yang sama di dalam reaksi, tanpa mengisi saluran yang telah digali sendiri oleh sungai yang perkasa itu sepanjang beribu-ribu tahun? Apakah Anda menghendaki agar Sungai Gangâ kembali ke palung esnya dan memulai jalur yang baru? Bahkan sekiranya itu mungkin, mustahil bagi negeri ini untuk meninggalkan jalur kehidupan keagamaannya yang khas dan memulai bagi dirinya sendiri sebuah karier baru dalam politik atau hal lainnya. Anda hanya dapat bekerja menurut hukum hambatan terkecil, dan jalur keagamaan inilah jalur hambatan terkecil di India. Inilah jalur kehidupan, inilah jalur pertumbuhan, dan inilah jalur kesejahteraan di India — yaitu mengikuti jejak agama.

Ya, di negara-negara lain agama hanyalah salah satu di antara banyak kebutuhan dalam hidup. Untuk menggunakan sebuah ilustrasi umum yang biasa saya pakai, nyonya saya memiliki banyak benda di kamar tamunya, dan kini menjadi mode untuk memiliki sebuah vas Jepang, maka ia harus memperolehnya; tampak kurang patut bila tanpa benda itu. Demikian pula nyonya saya, atau tuan saya, memiliki banyak kesibukan lain dalam hidup, dan juga sedikit agama harus turut hadir untuk melengkapinya. Akibatnya ia memiliki sedikit agama. Politik, perbaikan sosial, dengan satu kata, dunia ini, adalah tujuan umat manusia di Barat, dan Tuhan serta agama hadir dengan tenang sebagai penolong untuk mencapai tujuan itu. Tuhan mereka, boleh dikatakan, adalah Wujud yang membantu membersihkan dan melengkapi dunia ini bagi mereka; itu rupanya seluruh nilai Tuhan bagi mereka. Tidakkah Anda tahu bagaimana selama seratus atau dua ratus tahun terakhir ini Anda telah berulang kali mendengar dari bibir orang-orang yang seharusnya lebih tahu, dari mulut mereka yang setidaknya berpura-pura lebih tahu, bahwa segala argumen yang mereka kemukakan menentang agama India adalah sebagai berikut — bahwa agama kita tidak menunjang kesejahteraan di dunia ini, bahwa agama kita tidak mendatangkan emas bagi kita, bahwa agama kita tidak menjadikan kita perampok bangsa-bangsa, bahwa agama kita tidak menjadikan yang kuat berdiri di atas tubuh yang lemah serta mengenyangkan diri dengan darah kehidupan yang lemah. Tentu saja agama kita tidak berbuat demikian. Agama kita tidak dapat mengirim pasukan-pasukan yang di bawah kaki mereka bumi gemetar, demi tujuan penghancuran, penjarahan, dan kebinasaan bangsa-bangsa. Oleh karena itu mereka berkata — apa yang ada di dalam agama ini? Agama ini tidak membawa gandum apa pun ke kincir penggilingan, tidak membawa kekuatan apa pun kepada otot-otot; apa yang ada di dalam agama semacam itu?

Mereka tidak menyadari sedikit pun bahwa itulah justru argumen yang dengannya kita membuktikan agama kita, sebab agama kita tidak diperuntukkan bagi dunia ini. Agama kitalah satu-satunya agama yang sejati, sebab menurutnya, dunia indra yang kecil ini, yang berusia hanya tiga hari, tidaklah dijadikan tujuan akhir dan sasaran segalanya, tidaklah menjadi sasaran agung kita. Cakrawala duniawi yang kecil sepanjang beberapa kaki ini bukanlah yang membatasi pandangan agama kita. Agama kita berada jauh melampaui itu, dan masih lebih jauh lagi; melampaui indra, melampaui ruang, dan melampaui waktu, jauh, jauh melampaui, hingga tidak ada lagi dari dunia ini yang tertinggal dan alam semesta itu sendiri menjadi laksana setetes air di dalam samudra transenden kemuliaan jiwa. Agama kita adalah agama yang sejati sebab ia mengajarkan bahwa hanya Tuhan saja yang sejati, bahwa dunia ini palsu dan fana, bahwa segala emas Anda hanyalah seperti debu, bahwa segala kekuasaan Anda terbatas, dan bahwa hidup itu sendiri seringkali merupakan kejahatan; oleh karena itulah, agama kita adalah agama yang sejati. Agama kita adalah agama yang sejati sebab, di atas segalanya, ia mengajarkan pelepasan dan berdiri dengan kebijaksanaan zaman-zaman untuk berkata dan menyatakan kepada bangsa-bangsa yang hanyalah anak-anak kemarin sore jika dibandingkan dengan kita orang Hindu — yang memiliki kepurbaan yang teramat tua dari kebijaksanaan yang ditemukan oleh nenek moyang kita di India ini — untuk berkata kepada mereka dengan kata-kata yang sederhana: "Anak-anak, kalian adalah budak indra; di dalam indra hanya ada keterbatasan, di dalam indra hanya ada kebinasaan; tiga hari yang singkat penuh kemewahan di sini akhirnya hanya mendatangkan kehancuran. Lepaskanlah semua itu, tinggalkanlah kecintaan kepada indra dan kepada dunia; itulah jalan agama." Melalui pelepasanlah terdapat jalan menuju tujuan, dan bukan melalui kenikmatan. Oleh karena itu, agama kita adalah satu-satunya agama yang sejati.

Ya, adalah sebuah fakta yang menarik bahwa sementara bangsa demi bangsa telah muncul di atas panggung dunia, memainkan peran mereka dengan penuh semangat selama beberapa saat, dan mati hampir tanpa meninggalkan jejak atau riak di samudra waktu, di sinilah kita masih hidup, seolah-olah, menjalani sebuah kehidupan yang kekal. Mereka banyak berbicara tentang teori-teori baru mengenai kelestarian yang terkuat, dan mereka mengira bahwa kekuatan otot itulah yang paling pantas untuk lestari. Jika hal itu benar, salah satu bangsa kuno dunia yang dikenal agresif tentu akan hidup dalam kemuliaan hari ini, dan kita, orang Hindu yang lemah, yang tidak pernah menaklukkan bahkan satu pun bangsa atau ras lain, seharusnya sudah punah; namun di sini kita masih hidup, tiga ratus juta jiwa yang kuat! (Seorang nyonya muda Inggris pernah berkata kepada saya: Apa yang telah dilakukan oleh orang-orang Hindu? Mereka bahkan tidak pernah menaklukkan satu ras pun!) Dan sama sekali tidak benar bahwa segala energinya telah habis, bahwa atrofi telah menimpa tubuhnya: itu tidaklah benar. Vitalitas masih cukup, dan ia memancar keluar laksana banjir dan air bah membanjiri dunia ketika saatnya telah matang dan menuntutnya.

Kita, boleh dikatakan, telah melemparkan sebuah tantangan kepada seluruh dunia sejak masa yang paling kuno. Di Barat, mereka mencoba memecahkan persoalan seberapa banyak yang dapat dimiliki seseorang, dan kita di sini mencoba memecahkan persoalan seberapa sedikit seseorang dapat hidup. Pergumulan dan perbedaan ini akan terus berlangsung selama beberapa abad lagi. Akan tetapi jika sejarah mengandung kebenaran apa pun di dalamnya dan jika ramalan-ramalan terbukti benar, pastilah bahwa mereka yang melatih diri untuk hidup dengan sesedikit mungkin dan mengendalikan diri dengan baik pada akhirnya akan memenangkan pertempuran, dan bahwa mereka yang mengejar kenikmatan dan kemewahan, betapapun penuh semangat mereka tampak untuk sesaat, akan harus mati dan musnah. Ada masa-masa dalam sejarah hidup seorang manusia, bahkan dalam sejarah kehidupan bangsa-bangsa, ketika sejenis kebosanan terhadap dunia menjadi sangat dominan dengan menyakitkan. Tampaknya gelombang kebosanan terhadap dunia semacam itu telah datang menghampiri dunia Barat. Di sana pun, mereka memiliki pemikir-pemikir mereka, orang-orang besar; dan mereka sudah mulai menemukan bahwa perlombaan demi emas dan kekuasaan ini semuanya kesia-siaan belaka; banyak, bahkan sebagian besar dari kaum pria dan wanita terpelajar di sana, sudah lelah dengan persaingan ini, dengan pergumulan ini, dengan kebrutalan dari peradaban dagang mereka, dan mereka sedang menantikan sesuatu yang lebih baik. Ada satu golongan yang masih berpegang teguh pada perubahan-perubahan politik dan sosial sebagai satu-satunya obat mujarab bagi kejahatan-kejahatan di Eropa, tetapi di antara para pemikir besar di sana, cita-cita lain sedang tumbuh. Mereka telah menemukan bahwa tidak ada jumlah manipulasi politik atau sosial atas keadaan manusia yang dapat menyembuhkan kejahatan-kejahatan hidup. Hanyalah perubahan dari jiwa itu sendiri menjadi lebih baik yang akan menyembuhkan kejahatan-kejahatan hidup. Tidak ada jumlah kekerasan, atau pemerintahan, atau kekejaman legislatif yang akan mengubah keadaan suatu bangsa, melainkan kebudayaan spiritual dan kebudayaan etis sajalah yang dapat mengubah kecenderungan rasial yang keliru menjadi lebih baik. Demikianlah bangsa-bangsa Barat ini menginginkan suatu pemikiran baru, suatu filsafat baru; agama yang telah mereka miliki, Kekristenan, walaupun baik dan mulia dalam banyak hal, telah dipahami secara tidak sempurna, dan dalam pemahaman yang ada hingga kini, didapati tidak memadai. Para pemikir di Barat menemukan dalam filsafat kuno kita, terutama dalam Wedanta, dorongan pemikiran baru yang mereka cari, makanan dan minuman spiritual yang sangat mereka lapari dan haus akan kehadirannya. Dan tidak mengherankan bahwa hal ini terjadi demikian.

Saya telah terbiasa mendengar berbagai macam klaim yang menakjubkan yang diajukan untuk membela setiap agama di kolong langit. Anda pun telah mendengar, baru-baru ini, klaim yang diajukan oleh Dr. Barrows, seorang sahabat saya yang baik, bahwa Kekristenan adalah satu-satunya agama universal. Izinkan saya merenungkan pertanyaan ini sejenak dan menyampaikan kepada Anda alasan-alasan saya mengapa saya berpikir bahwa Wedantalah, dan hanya Wedanta sajalah, yang dapat menjadi agama universal bagi manusia, dan bahwa tidak ada yang lain yang cocok untuk peran itu. Kecuali agama kita sendiri, hampir semua agama besar lainnya di dunia tak terhindarkan berkaitan dengan kehidupan dari seorang atau beberapa pendirinya. Segala teori mereka, ajaran-ajaran mereka, doktrin-doktrin mereka, dan etika mereka dibangun di sekeliling kehidupan seorang pendiri pribadi, dari siapa mereka memperoleh persetujuan, kewenangan, dan kekuasaan mereka; dan anehnya, di atas historisitas dari kehidupan sang pendiri terbangunlah, boleh dikatakan, seluruh bangunan agama-agama semacam itu. Jika ada satu pukulan saja yang dilancarkan pada historisitas dari kehidupan itu, sebagaimana telah terjadi pada masa modern terhadap kehidupan hampir semua pendiri agama yang disebut demikian — kita tahu bahwa separuh dari rincian kehidupan semacam itu kini tidak lagi dipercayai secara serius, dan separuh lainnya sangat diragukan — jika hal ini terjadi, jika batu karang historisitas itu, sebagaimana mereka berlagak menamainya, terguncang dan hancur, seluruh bangunan itu pun runtuh, hancur sama sekali, tak akan pernah lagi memperoleh kembali kedudukannya yang telah hilang.

Setiap agama besar di dunia kecuali agama kita, dibangun di atas tokoh-tokoh sejarah semacam itu; tetapi agama kita berlandaskan pada prinsip-prinsip. Tidak ada pria atau wanita yang dapat mengaku telah menciptakan kitab-kitab Weda. Kitab-kitab itu adalah perwujudan prinsip-prinsip yang kekal; para resi menemukannya; dan sesekali nama-nama para resi itu disebut — hanya sebatas nama mereka; kita bahkan tidak tahu siapa atau apa mereka. Dalam banyak hal kita tidak tahu siapa ayah-ayah mereka, dan hampir dalam setiap hal kita tidak tahu kapan dan di mana mereka dilahirkan. Tetapi apa peduli mereka, para resi itu, tentang nama-nama mereka? Mereka adalah para pengajar prinsip-prinsip, dan mereka sendiri, sejauh kemampuan mereka, mencoba menjadi ilustrasi dari prinsip-prinsip yang mereka ajarkan. Pada saat yang sama, sebagaimana Tuhan kita adalah Tuhan yang Tak Berpribadi sekaligus Berpribadi, demikian pula agama kita adalah agama yang paling intens tak berpribadi — sebuah agama yang berlandaskan prinsip-prinsip — namun dengan ruang gerak yang tak terbatas bagi permainan pribadi-pribadi; sebab agama mana yang memberikan Anda lebih banyak Inkarnasi, lebih banyak nabi dan penyingkap, dan masih menanti lebih banyak lagi tanpa batas? Bhâgavata mengatakan bahwa Inkarnasi-inkarnasi itu tak terbatas, sehingga memberi ruang yang luas bagi sebanyak yang Anda inginkan untuk datang. Oleh karena itu, jika salah seorang atau beberapa dari pribadi-pribadi ini dalam sejarah keagamaan India, salah seorang atau beberapa dari Inkarnasi-inkarnasi ini, dan salah seorang atau beberapa dari nabi-nabi kita ternyata bukan tokoh historis, hal itu sama sekali tidak melukai agama kita; bahkan ketika itu pun ia tetap kokoh seperti semula, karena ia berlandaskan pada prinsip-prinsip, dan bukan pada pribadi-pribadi. Sia-sialah kita berupaya mengumpulkan semua bangsa di dunia di sekeliling satu kepribadian. Sulit untuk membuat mereka berkumpul bahkan di sekeliling prinsip-prinsip yang kekal dan universal. Jika kelak menjadi mungkin untuk membawa bagian terbesar umat manusia kepada satu cara berpikir mengenai agama, perhatikanlah baik-baik, hal itu pasti akan terjadi selalu melalui prinsip-prinsip dan bukan melalui pribadi-pribadi. Namun, sebagaimana telah saya katakan, agama kita memiliki ruang gerak yang luas bagi kewenangan dan pengaruh pribadi-pribadi. Ada teori yang paling menakjubkan tentang Ishta, yang memberikan Anda pilihan yang paling penuh dan paling bebas di antara kepribadian-kepribadian keagamaan yang agung ini. Anda dapat memilih salah satu dari para nabi atau para guru sebagai pembimbing dan obyek pemujaan khusus Anda; Anda bahkan diizinkan berpikir bahwa orang yang Anda pilih adalah nabi yang terbesar, yang terbesar di antara segala Avatâra; tidak ada salahnya dalam hal itu, namun Anda harus tetap berpegang pada latar belakang yang kokoh berupa prinsip-prinsip yang kekal-benar. Fakta yang aneh di sini adalah bahwa kekuatan Inkarnasi-inkarnasi kita tetap bertahan baik pada kita hanya sejauh mereka merupakan ilustrasi dari prinsip-prinsip dalam kitab Weda. Kemuliaan Shri Krisna adalah bahwa ia merupakan pengkhotbah terbaik dari agama kita yang kekal yang berlandaskan prinsip-prinsip, serta penafsir terbaik dari Wedanta yang pernah hidup di India.

Klaim kedua dari Wedanta yang menarik perhatian dunia adalah bahwa, dari segala kitab suci di dunia, Wedanta merupakan satu-satunya kitab suci yang ajarannya sepenuhnya selaras dengan hasil-hasil yang telah dicapai oleh penyelidikan ilmiah modern atas alam lahiriah. Dua pikiran di masa silam yang remang-remang dari sejarah, sehakikat satu sama lain dalam bentuk, kekerabatan, dan simpati, memulai langkahnya dengan ditempatkan pada jalur-jalur yang berbeda. Yang satu adalah pikiran Hindu kuno, dan yang lain adalah pikiran Yunani kuno. Yang terdahulu memulai dengan menganalisis dunia batiniah. Yang kemudian memulai pencarian akan tujuan yang melampaui itu dengan menganalisis dunia lahiriah. Dan bahkan melalui berbagai pasang surut sejarah mereka, mudah untuk mengenali kedua getaran pemikiran ini sebagai cenderung menghasilkan gema-gema serupa tentang tujuan yang melampaui. Tampak jelas bahwa kesimpulan-kesimpulan ilmu materialistik modern dapat diterima, dengan selaras bersama agama mereka, hanya oleh kaum Wedanti atau orang-orang Hindu sebagaimana mereka disebut. Tampak jelas bahwa materialisme modern dapat mempertahankan dirinya dan pada saat yang sama mendekati spiritualitas dengan mengambil kesimpulan-kesimpulan Wedanta. Tampaknya bagi kita, dan bagi semua orang yang peduli untuk mengetahui, bahwa kesimpulan-kesimpulan ilmu pengetahuan modern adalah justru kesimpulan-kesimpulan yang telah dicapai oleh Wedanta berabad-abad yang lalu; hanya saja, dalam ilmu modern semua itu ditulis dalam bahasa materi. Ini, kemudian, adalah klaim Wedanta yang lain yang menarik perhatian benak Barat modern, rasionalitasnya, rasionalisme yang menakjubkan dari Wedanta. Saya sendiri telah dikatakan oleh sebagian dari benak-benak ilmiah Barat yang terbaik di masa ini, betapa rasionalnya kesimpulan-kesimpulan Wedanta secara menakjubkan. Saya mengenal salah seorang dari mereka secara pribadi, yang nyaris tak memiliki waktu untuk menyantap makanannya atau keluar dari laboratoriumnya, namun yang mau berdiri berjam-jam untuk menghadiri ceramah-ceramah saya tentang Wedanta; sebab, sebagaimana ia ungkapkan, ceramah-ceramah itu sedemikian ilmiahnya, sedemikian tepatnya selaras dengan aspirasi zaman ini dan dengan kesimpulan-kesimpulan yang sedang dicapai oleh ilmu modern pada masa kini.

Dua kesimpulan ilmiah seperti itu yang ditarik dari perbandingan agama, secara khusus ingin saya minta perhatian Anda: yang satu berkaitan dengan gagasan tentang keuniversalan agama-agama, dan yang lain dengan gagasan tentang keesaan segala sesuatu. Kita mengamati dalam sejarah Babilonia dan di antara orang-orang Yahudi sebuah fenomena keagamaan yang menarik. Kita mendapati bahwa baik bangsa Babilonia maupun Yahudi terbagi menjadi banyak suku, setiap suku memiliki tuhannya sendiri, dan bahwa tuhan-tuhan suku yang kecil ini seringkali memiliki nama generik. Para tuhan di antara orang Babilonia semuanya disebut Baal, dan di antara mereka Baal Merodakh adalah yang utama. Dengan berjalannya waktu, salah satu dari sekian banyak suku ini akan menaklukkan dan menyatukan suku-suku lain yang berkerabat rasial dengannya, dan akibat yang wajar adalah bahwa tuhan dari suku yang menaklukkan akan ditempatkan di puncak segala tuhan dari suku-suku lainnya. Dengan demikianlah monoteisme yang dibangga-banggakan dari bangsa Semit itu diciptakan. Di kalangan orang Yahudi, para tuhan dikenal dengan nama Molokh. Dari mereka ada satu Molokh yang berasal dari suku yang disebut Israel, dan ia disebut Molokh-Yahveh atau Molokh-Yava. Lama-kelamaan, suku Israel ini perlahan-lahan menaklukkan beberapa suku lain dari ras yang sama, menghancurkan Molokh-molokh mereka, dan menyatakan Molokhnya sendiri sebagai Molokh Tertinggi dari segala Molokh. Dan saya yakin, sebagian besar dari Anda mengetahui besarnya pertumpahan darah, tirani, dan kebiadaban brutal yang ditimbulkan oleh penaklukan keagamaan ini. Belakangan, orang-orang Babilonia mencoba menghancurkan keunggulan Molokh-Yahveh ini, tetapi tidak berhasil melakukannya.

Tampak bagi saya, bahwa upaya semacam itu untuk pemberlakuan-diri kesukuan dalam urusan keagamaan mungkin pernah terjadi pula di perbatasan-perbatasan dan di India. Di sini pun, segala suku Arya yang beragam mungkin pernah berbenturan satu sama lain demi menyatakan keunggulan dari masing-masing tuhan suku mereka; tetapi sejarah India ditakdirkan menjadi lain, ditakdirkan berbeda dari sejarah bangsa Yahudi. India saja yang ditakdirkan, dari segala negeri, menjadi negeri toleransi dan spiritualitas; dan oleh karena itu pertarungan antara suku-suku dan tuhan-tuhan mereka tidak lama berlangsung di sini. Sebab salah satu resi terbesar yang pernah lahir menemukan di India ini, bahkan pada masa yang jauh itu, yang tak terjangkau oleh sejarah, dan ke dalam keremangannya sekalipun tradisi sendiri tak berani mengintip — pada masa yang jauh itu sang resi bangkit dan menyatakan, एकं सद् विप्रा बहुधा वदन्ति — "Ia yang ada adalah Satu; para resi menyebut-Nya dengan berbagai nama." Inilah salah satu kalimat paling berkesan yang pernah diucapkan, salah satu kebenaran teragung yang pernah ditemukan. Dan bagi kita orang Hindu, kebenaran ini telah menjadi tulang punggung yang sesungguhnya dari keberadaan nasional kita. Sebab sepanjang panorama abad demi abad dari kehidupan nasional kita, satu gagasan ini — एकं सद् विप्रा बहुधा वदन्ति — turun temurun, semakin bertambah volume dan kepenuhannya hingga ia merembesi seluruh keberadaan nasional kita, hingga ia berbaur dalam darah kita, dan menjadi satu dengan diri kita. Kita hidup dalam kebenaran agung itu di setiap pembuluh, dan negeri kita telah menjadi tanah toleransi keagamaan yang mulia. Hanyalah di sini, dan di sini sajalah, orang membangun kuil-kuil dan gereja-gereja bagi agama-agama yang datang dengan maksud mengutuk agama kita sendiri. Inilah salah satu prinsip yang sangat agung yang sedang menanti dunia untuk dipelajari dari kita. Ya, sedikit sekali Anda mengetahui betapa banyak ketidaktoleransian yang masih merebak di luar sana. Lebih dari sekali terbersit dalam pikiran saya bahwa saya mungkin harus meninggalkan tulang-belulang saya di tepian asing karena merajalelanya ketidaktoleransian keagamaan. Membunuh seseorang bukanlah apa-apa demi agama; besok mereka mungkin melakukannya di tengah-tengah hati peradaban Barat yang dibangga-banggakan, jika hari ini mereka belum benar-benar melakukannya. Pengucilan dalam bentuk-bentuknya yang paling mengerikan seringkali akan menimpa kepala seseorang di Barat jika ia berani mengucapkan sepatah kata pun yang menentang agama yang diterima oleh negaranya. Mereka berbicara dengan fasih dan lancar di sini dalam mengkritik hukum-hukum kasta kita. Jika Anda pergi ke Barat dan tinggal di sana sebagaimana telah saya lakukan, Anda akan mengetahui bahwa bahkan sebagian dari profesor-profesor terbesar yang Anda dengar adalah pengecut-pengecut sejati dan tak berani mengucapkan, karena takut akan opini publik, seperseratus pun dari apa yang sebenarnya mereka pandang benar dalam soal keagamaan.

Oleh karena itu, dunia sedang menantikan gagasan agung tentang toleransi universal ini. Hal itu akan menjadi sebuah perolehan besar bagi peradaban. Sungguh, tidak ada peradaban yang dapat lama bertahan kecuali gagasan ini masuk ke dalamnya. Tidak ada peradaban yang dapat tumbuh kecuali kaum fanatik, pertumpahan darah, dan kebiadaban berhenti. Tidak ada peradaban yang dapat mulai mengangkat kepalanya hingga kita memandang satu sama lain dengan sikap kasih; dan langkah pertama menuju kasih yang sangat dibutuhkan itu adalah memandang dengan kasih dan kelembutan kepada keyakinan-keyakinan keagamaan orang lain. Bahkan lebih dari itu, memahami bahwa kita tidak hanya harus berbelas kasih, tetapi secara positif harus saling menolong, betapapun berbedanya gagasan dan keyakinan keagamaan kita. Dan itulah persisnya yang kami lakukan di India sebagaimana baru saja saya ceritakan kepada Anda. Di India inilah orang-orang Hindu telah membangun dan masih sedang membangun gereja-gereja untuk orang-orang Kristen dan masjid-masjid untuk orang-orang Muslim. Itulah yang harus dilakukan. Walaupun ada kebencian mereka, walaupun ada kebiadaban mereka, walaupun ada kekejaman mereka, walaupun ada tirani mereka, dan walaupun ada bahasa yang keji yang biasa mereka lontarkan, kita akan dan harus terus membangun gereja-gereja bagi orang Kristen dan masjid-masjid bagi orang Muslim hingga kita menaklukkan melalui kasih, hingga kita telah menunjukkan kepada dunia bahwa hanya kasihlah yang paling pantas untuk lestari dan bukan kebencian, bahwa kelembutanlah yang memiliki kekuatan untuk terus hidup dan berbuah, dan bukan sekadar kebiadaban serta kekuatan fisik.

Gagasan agung lainnya yang dikehendaki dunia dari kita hari ini, bagian Eropa yang berpikir, bahkan seluruh dunia — lebih, mungkin, kelas-kelas bawah daripada yang lebih tinggi, lebih banyak rakyat jelata daripada yang terpelajar, lebih banyak yang awam daripada yang terdidik, lebih banyak yang lemah daripada yang kuat — adalah gagasan agung yang kekal tentang keesaan spiritual dari seluruh alam semesta. Saya tidak perlu memberi tahu Anda hari ini, para pria dari Universitas Madras, bagaimana penelitian-penelitian modern di Barat telah memperagakan melalui sarana-sarana fisik akan keesaan dan kepaduan seluruh alam semesta; bagaimana, secara fisik, Anda dan saya, matahari, bulan, dan bintang-bintang hanyalah riak kecil atau gelombang kecil di tengah-tengah samudra materi yang tak terbatas; bagaimana psikologi India telah memperagakan berabad-abad yang lalu bahwa, dengan cara serupa, baik tubuh maupun pikiran hanyalah sekadar nama-nama atau gelombang-gelombang kecil di dalam samudra materi, sang Samashti; dan bagaimana, melangkah satu langkah lebih jauh, juga ditunjukkan dalam Wedanta bahwa di balik gagasan tentang kesatuan seluruh pertunjukan ini, Jiwa yang sesungguhnya adalah satu. Hanya ada satu Jiwa di seluruh alam semesta, segalanya hanyalah Satu Eksistensi. Gagasan agung tentang kepaduan yang nyata dan mendasar dari seluruh alam semesta ini telah membuat takut banyak orang, bahkan di negeri ini. Bahkan sekarang gagasan itu kadang-kadang menemukan lebih banyak penentang daripada penganut. Meskipun demikian, saya katakan kepada Anda, bahwa inilah satu gagasan agung yang memberikan kehidupan, yang dikehendaki dunia dari kita hari ini, dan yang dikehendaki oleh rakyat India yang bisu untuk pengangkatan mereka, sebab tidak seorang pun dapat membangkitkan kembali tanah air kita ini tanpa penerapan praktis dan operasi efektif dari cita-cita keesaan segala sesuatu ini.

Dunia Barat yang rasional dengan sungguh-sungguh berupaya menemukan rasionalitas, raison d'être dari seluruh filsafat dan etikanya; dan Anda semua mengetahui dengan baik bahwa etika tidak dapat diturunkan hanya dari pengesahan seorang tokoh, betapapun agung dan ilahinya ia. Penjelasan semacam itu tentang otoritas etika tidak lagi memikat para pemikir tertinggi di dunia; mereka menginginkan sesuatu yang lebih dari sekadar pengesahan manusiawi agar kaidah etika dan moral menjadi mengikat, mereka menginginkan suatu prinsip kebenaran yang kekal sebagai pengesahan etika. Dan di manakah pengesahan kekal itu dapat ditemukan kecuali di dalam satu-satunya Realitas Tak Terhingga yang ada di dalam Anda, di dalam saya, dan di dalam semuanya, di dalam Diri sejati, di dalam Jiwa? Kesatuan tak terhingga dari Jiwa itulah pengesahan kekal dari segala moralitas, bahwa Anda dan saya bukan sekadar saudara — setiap kesusastraan yang menyuarakan perjuangan manusia menuju kebebasan telah mengajarkan hal itu kepada Anda — melainkan bahwa Anda dan saya sesungguhnya satu. Inilah penegasan filsafat India. Kesatuan inilah dasar rasional dari seluruh etika dan seluruh spiritualitas. Eropa membutuhkannya hari ini sama besarnya dengan kebutuhan massa rakyat kita yang tertindas, dan prinsip agung ini bahkan kini secara tak sadar tengah membentuk dasar dari segala aspirasi politik dan sosial terbaru yang sedang bangkit di Inggris, di Jerman, di Prancis, dan di Amerika. Dan perhatikanlah, kawan-kawanku, bahwa di dalam dan melalui seluruh kesusastraan yang menyuarakan perjuangan manusia menuju kebebasan, menuju kebebasan universal, berulang kali Anda mendapati cita-cita Wedantik India tampil dengan menonjol. Dalam beberapa kasus para penulisnya tidak menyadari sumber inspirasi mereka, dalam beberapa kasus lain mereka berusaha tampak sangat orisinal, dan ada beberapa yang cukup berani serta cukup berterima kasih untuk menyebut sumbernya dan mengakui hutang budi mereka kepadanya.

Ketika saya berada di Amerika, suatu kali saya mendengar keluhan bahwa saya terlalu banyak mengajarkan Adwaita (non-dualisme), dan terlalu sedikit mengajarkan dualisme. Sungguh, saya tahu betapa agungnya, betapa lautan cinta, betapa tak terhingganya berkat dan sukacita yang ekstatik yang terdapat dalam teori-teori cinta-pemujaan dualistik dalam ibadah dan agama. Saya tahu semua itu. Namun ini bukanlah saatnya bagi kita untuk menangis sekalipun dalam sukacita; kita telah cukup menangis; ini bukan lagi saatnya bagi kita untuk menjadi lembek. Kelembekan ini telah menyertai kita sampai kita menjadi seperti gumpalan kapas dan mati. Yang dibutuhkan negeri kita sekarang adalah otot-otot besi dan saraf-saraf baja, kehendak-kehendak raksasa yang tidak dapat ditahan oleh apa pun, yang dapat menembus misteri dan rahasia alam semesta, dan akan menggenapi tujuannya dengan cara apa pun bahkan jika itu berarti turun ke dasar samudra dan menghadap maut muka dengan muka. Itulah yang kita butuhkan, dan itu hanya dapat diciptakan, ditegakkan, dan dikuatkan melalui pemahaman dan perealisasian cita-cita Adwaita, cita-cita kesatuan segala sesuatu. Iman, iman, iman pada diri sendiri, iman, iman pada Tuhan — inilah rahasia kebesaran. Jika Anda memiliki iman pada ketiga ratus tiga puluh juta dewa mitologis Anda, dan pada semua tuhan yang dari waktu ke waktu diperkenalkan oleh orang asing ke tengah-tengah Anda, namun tetap tidak memiliki iman pada diri sendiri, maka tidak ada keselamatan bagi Anda. Milikilah iman pada diri sendiri, dan berdirilah di atas iman itu serta jadilah kuat; itulah yang kita butuhkan. Mengapa kita tiga ratus tiga puluh juta orang ini telah diperintah selama seribu tahun terakhir oleh segelintir orang asing mana pun yang memilih untuk menginjak tubuh kita yang tersungkur? Karena mereka memiliki iman pada diri sendiri sedangkan kita tidak. Apa yang saya pelajari di Barat, dan apa yang saya lihat di balik ucapan-ucapan kosong sekte-sekte Kristen yang mengulang-ulang bahwa manusia adalah pendosa yang jatuh dan jatuh tanpa harapan? Di sana saya melihat bahwa di dalam jantung nasional Eropa dan Amerika bersemayam kekuatan dahsyat berupa iman manusia pada diri sendiri. Seorang anak laki-laki Inggris akan berkata kepada Anda, "Saya orang Inggris, dan saya dapat melakukan apa saja." Anak laki-laki Amerika akan berkata hal yang sama, demikian pula anak laki-laki Eropa mana pun. Dapatkah anak-anak kita di sini berkata hal yang sama? Tidak, bahkan ayah-ayah dari anak-anak itu pun tidak. Kita telah kehilangan iman pada diri sendiri. Oleh karena itu, mengajarkan aspek Adwaita dari Wedanta adalah perlu untuk membangkitkan hati manusia, untuk menunjukkan kepada mereka kemuliaan jiwa mereka. Karena itulah saya mengajarkan Adwaita ini; dan saya melakukannya bukan sebagai seorang sektarian, melainkan atas dasar yang universal dan dapat diterima secara luas.

Mudah menemukan jalan rekonsiliasi yang tidak akan melukai kaum dualis atau kaum monis dengan kualifikasi. Tidak ada satu sistem pun di India yang tidak memegang doktrin bahwa Tuhan ada di dalam, bahwa Keilahian bersemayam di dalam segala sesuatu. Setiap sistem Wedantik kita mengakui bahwa segala kemurnian, kesempurnaan, dan kekuatan sudah ada di dalam jiwa. Menurut sebagian, kesempurnaan ini terkadang seolah-olah mengerut, dan pada saat lain mengembang kembali. Namun ia tetap ada di sana. Menurut Adwaita, ia tidak mengerut maupun mengembang, melainkan menjadi tersembunyi dan tersingkap dari waktu ke waktu. Pada dasarnya hal yang sama. Yang satu mungkin merupakan pernyataan yang lebih logis dibanding yang lain, namun mengenai hasil, kesimpulan praktisnya, keduanya kurang lebih sama; dan inilah satu gagasan sentral yang dibutuhkan dunia, dan tidak ada tempat di mana kebutuhan itu lebih terasa selain di sini, di tanah air kita sendiri.

Sungguh, kawan-kawanku, saya harus menyampaikan kepada Anda beberapa kebenaran yang pahit. Saya membaca di surat kabar bagaimana, ketika salah seorang dari kita dibunuh atau diperlakukan dengan buruk oleh seorang Inggris, raungan terdengar di seluruh negeri; saya membaca dan saya menangis, dan saat berikutnya muncul pertanyaan di benak saya: Siapakah yang bertanggung jawab atas semua itu? Sebagai seorang Wedantis saya tidak bisa tidak mengajukan pertanyaan itu kepada diri sendiri. Orang Hindu adalah seorang yang introspektif; ia ingin melihat segala sesuatu di dalam dan melalui dirinya sendiri, melalui penglihatan subjektif. Oleh karena itu, saya bertanya pada diri sendiri: Siapakah yang bertanggung jawab? Dan jawabannya selalu sama: Bukan orang Inggris; tidak, mereka tidak bertanggung jawab; kitalah yang bertanggung jawab atas seluruh kesengsaraan dan kemerosotan kita, dan hanya kita yang bertanggung jawab. Para leluhur aristokrat kita terus-menerus menginjak-injak massa rakyat jelata di negeri kita, sampai mereka menjadi tak berdaya, sampai di bawah siksaan ini rakyat miskin yang malang itu hampir lupa bahwa mereka adalah manusia. Mereka telah dipaksa selama berabad-abad menjadi sekadar penebang kayu dan pengambil air, sedemikian rupa, sehingga mereka dibuat percaya bahwa mereka dilahirkan sebagai budak, dilahirkan sebagai penebang kayu dan pengambil air. Dengan segala pendidikan modern yang kita banggakan, jika seseorang berkata satu kata yang baik untuk mereka, saya sering mendapati orang-orang kita segera menghindar dari kewajiban mengangkat mereka, rakyat tertindas yang malang itu. Tidak hanya itu, saya juga mendapati segala macam argumen yang paling iblis dan brutal, yang dipungut dari gagasan-gagasan mentah tentang pewarisan turun-temurun dan racauan semacamnya dari dunia Barat, diajukan untuk semakin membrutalkan dan menindas rakyat miskin. Pada Parlemen Agama-Agama di Amerika, di antara yang hadir ada seorang pemuda, seorang Negro tulen, seorang Negro Afrika sejati, dan ia menyampaikan pidato yang indah. Saya menjadi tertarik kepada pemuda itu dan sesekali berbicara dengannya, tetapi tidak dapat mengetahui apa pun tentangnya. Namun suatu hari di Inggris, saya bertemu beberapa orang Amerika; dan inilah yang mereka ceritakan kepada saya. Anak ini adalah putra seorang kepala suku Negro yang tinggal di jantung Afrika, dan suatu hari kepala suku lain marah kepada ayah anak ini lalu membunuhnya dan membunuh ibunya juga, dan mereka dimasak serta dimakan; ia memerintahkan agar anak itu juga dibunuh dan dimasak serta dimakan; tetapi anak itu melarikan diri, dan setelah melalui kesulitan besar serta menempuh jarak beberapa ratus mil, ia sampai di pantai, dan di sana ia diangkut ke sebuah kapal Amerika dan dibawa ke Amerika. Dan anak inilah yang menyampaikan pidato itu! Setelah itu, apa yang harus saya pikirkan tentang doktrin pewarisan turun-temurun Anda!

Sungguh, hai para Brahmana, jika sang Brahmana memiliki kecakapan belajar yang lebih besar atas dasar pewarisan turun-temurun dibanding sang Paria, jangan lagi keluarkan uang untuk pendidikan sang Brahmana, melainkan keluarkan semuanya untuk sang Paria. Berikanlah kepada yang lemah, sebab di sanalah seluruh pemberian itu dibutuhkan. Jika sang Brahmana terlahir cerdas, ia dapat mendidik dirinya sendiri tanpa bantuan. Jika yang lain tidak terlahir cerdas, biarkanlah mereka mendapatkan seluruh pengajaran dan para guru yang mereka butuhkan. Inilah keadilan dan akal sehat sebagaimana saya memahaminya. Rakyat miskin kita, massa tertindas India ini, oleh karena itu, perlu mendengar dan mengetahui siapa diri mereka yang sesungguhnya. Sungguh, biarlah setiap pria, wanita, dan anak, tanpa memandang kasta atau kelahiran, kelemahan atau kekuatan, mendengar dan mempelajari bahwa di balik yang kuat dan yang lemah, di balik yang tinggi dan yang rendah, di balik setiap orang, ada Jiwa Tak Terhingga itu, yang menjamin kemungkinan tak terhingga dan kapasitas tak terhingga bagi semuanya untuk menjadi besar dan baik. Mari kita maklumkan kepada setiap jiwa: उत्तिष्ठत जाग्रत प्राप्य वरान्निबोधत — Bangkitlah, bangunlah, dan jangan berhenti sampai tujuan tercapai. Bangkitlah, bangunlah! Bangunlah dari hipnotisme kelemahan ini. Tidak ada yang sungguh-sungguh lemah; jiwa itu tak terhingga, mahakuasa, dan mahatahu. Berdirilah, tegakkanlah diri Anda, maklumkanlah Tuhan yang ada di dalam diri Anda, jangan sangkal Dia! Terlalu banyak ketidakaktifan, terlalu banyak kelemahan, terlalu banyak hipnotisme telah dan masih ada pada ras kita. Wahai orang-orang Hindu modern, lepaskanlah diri Anda dari hipnotisme. Cara untuk melakukannya terdapat dalam kitab-kitab suci Anda sendiri. Ajarilah diri Anda, ajarilah setiap orang kodrat sejatinya, panggillah jiwa yang sedang tidur dan lihatlah bagaimana ia bangun. Kekuatan akan datang, kemuliaan akan datang, kebaikan akan datang, kemurnian akan datang, dan segala sesuatu yang utama akan datang ketika jiwa yang tidur ini dibangunkan menuju aktivitas yang sadar akan diri. Sungguh, jika ada sesuatu dalam Gita yang saya sukai, maka itu adalah dua bait ini, yang muncul dengan kuat sebagai inti, sebagai sari, dari ajaran Krisna — "Ia yang melihat Tuhan Yang Mahatinggi bersemayam sama di dalam segala makhluk, Yang Tak Termusnahkan di dalam hal-hal yang musnah, ia sungguh-sungguh melihat. Sebab dengan melihat Tuhan sebagai yang sama, hadir di mana-mana, ia tidak menghancurkan Diri sejati oleh Diri sejati, dan dengan demikian ia menuju tujuan yang tertinggi."

Dengan demikian, ada peluang besar bagi Wedanta untuk melakukan pekerjaan yang berfaedah baik di sini maupun di tempat lain. Gagasan yang menakjubkan tentang kesamaan dan kehadiran di mana-mana dari Jiwa Yang Mahatinggi ini harus diajarkan untuk perbaikan dan peninggian ras manusia di sini maupun di tempat lain. Di mana pun ada kejahatan dan di mana pun ada ketidaktahuan serta kekurangan pengetahuan, saya telah menemukan melalui pengalaman bahwa semua kejahatan datang, sebagaimana kitab suci kita katakan, dengan bersandar pada perbedaan-perbedaan, dan bahwa semua kebaikan datang dari iman pada kesetaraan, pada kesamaan dan kesatuan segala sesuatu yang mendasarinya. Inilah cita-cita Wedantik yang agung. Memiliki cita-cita adalah satu hal, dan menerapkannya secara praktis pada perincian kehidupan sehari-hari adalah hal yang berbeda lagi. Sangat baik untuk menunjukkan suatu cita-cita, tetapi di manakah jalan praktis untuk mencapainya?

Di sinilah dengan sendirinya muncul persoalan yang sulit dan pelik tentang kasta dan reformasi sosial, yang selama berabad-abad telah menjadi perhatian utama dalam benak rakyat kita. Saya harus terus terang menyampaikan kepada Anda bahwa saya bukan seorang pembongkar kasta maupun sekadar seorang reformator sosial. Saya tidak punya urusan langsung dengan kasta-kasta Anda atau dengan reformasi sosial Anda. Hiduplah dalam kasta mana pun yang Anda sukai, tetapi itu bukan alasan untuk membenci orang lain atau kasta lain. Cinta dan hanya cintalah yang saya ajarkan, dan saya mendasarkan ajaran saya pada kebenaran Wedantik agung tentang kesamaan dan kehadiran di mana-mana dari Jiwa Alam Semesta. Selama hampir seratus tahun terakhir, negeri kita telah dibanjiri oleh para reformator sosial dan berbagai usulan reformasi sosial. Secara pribadi, saya tidak punya kesalahan untuk dicarikan pada para reformator ini. Sebagian besar dari mereka adalah orang-orang baik dan berniat baik, dan tujuan-tujuan mereka pun sangat terpuji pada beberapa hal; namun sudah merupakan fakta yang nyata bahwa seratus tahun reformasi sosial ini tidak menghasilkan hasil permanen dan berharga yang dapat dirasakan di seluruh negeri. Pidato-pidato di mimbar telah disampaikan beribu-ribu kali, kecaman-kecaman dalam jilid demi jilid telah ditimpakan ke atas kepala ras Hindu dan peradabannya yang setia, namun tidak ada hasil praktis yang baik yang dicapai; dan di manakah letak alasannya? Alasannya tidak sulit ditemukan. Ia ada pada kecaman itu sendiri. Sebagaimana telah saya sampaikan sebelumnya, pertama-tama, kita harus berupaya mempertahankan karakter kita sebagai suatu bangsa yang diperoleh secara historis. Saya akui bahwa kita harus mengambil banyak hal dari bangsa-bangsa lain, bahwa kita harus belajar banyak pelajaran dari luar; tetapi saya sayangkan harus mengatakan bahwa sebagian besar gerakan reformasi modern kita merupakan peniruan yang tidak bijaksana terhadap sarana dan metode kerja Barat; dan hal itu pasti tidak akan berhasil untuk India; oleh karena itulah seluruh gerakan reformasi kita yang baru tidak menghasilkan apa pun.

Kedua, kecaman sama sekali bukanlah cara untuk berbuat baik. Bahwa ada kejahatan-kejahatan dalam masyarakat kita, bahkan seorang anak pun dapat melihatnya; dan di masyarakat mana pun tidak ada kejahatan? Dan izinkanlah saya menggunakan kesempatan ini, wahai para sebangsaku, untuk menyampaikan kepada Anda bahwa dalam membandingkan berbagai ras dan bangsa di dunia yang pernah saya datangi, saya telah sampai pada kesimpulan bahwa rakyat kita secara keseluruhan adalah yang paling bermoral dan paling religius, dan lembaga-lembaga kita, dalam rancangan dan tujuannya, paling sesuai untuk membuat umat manusia bahagia. Oleh karena itu, saya tidak menginginkan reformasi apa pun. Cita-cita saya adalah pertumbuhan, perluasan, perkembangan menurut garis-garis nasional. Ketika saya menengok kembali sejarah negeri saya, saya tidak menemukan di seluruh dunia negeri lain yang telah berbuat sebanyak ini bagi penyempurnaan pikiran manusia. Oleh karena itu, saya tidak memiliki kata-kata celaan untuk bangsa saya. Saya berkata kepada mereka, "Anda telah berbuat baik; cobalah hanya untuk berbuat yang lebih baik." Hal-hal besar telah dilakukan di masa lalu di tanah ini, dan masih ada waktu dan ruang untuk hal-hal yang lebih besar lagi yang dapat dilakukan. Saya yakin Anda tahu bahwa kita tidak dapat diam di tempat. Jika kita diam di tempat, kita mati. Kita harus maju atau mundur. Kita harus maju atau merosot. Para leluhur kita telah melakukan hal-hal besar di masa lalu, tetapi kita harus tumbuh menjadi kehidupan yang lebih penuh dan melangkah melampaui pencapaian besar mereka sekalipun. Bagaimana mungkin sekarang kita mundur dan merosotkan diri? Itu tidak boleh terjadi; itu tidak boleh dibiarkan; mundur akan menuntun pada kemerosotan dan kematian nasional. Oleh karena itu mari kita maju dan melakukan hal-hal yang lebih besar lagi; itulah yang harus saya sampaikan kepada Anda.

Saya bukan pengkhotbah reformasi sosial yang bersifat sesaat. Saya tidak sedang mencoba menyembuhkan kejahatan-kejahatan, saya hanya meminta Anda untuk maju dan untuk merampungkan realisasi praktis dari skema kemajuan manusia yang telah disusun dalam tatanan yang paling sempurna oleh para leluhur kita. Saya hanya meminta Anda untuk berkarya merealisasikan semakin banyak cita-cita Wedantik tentang solidaritas manusia dan kodrat ilahi yang bawaan. Andai saya memiliki waktu, dengan senang hati akan saya tunjukkan kepada Anda bagaimana segala sesuatu yang harus kita lakukan sekarang telah disusun bertahun-tahun yang lalu oleh para pemberi hukum kuno kita, dan bagaimana mereka sesungguhnya telah mengantisipasi semua perubahan yang telah dan masih akan terjadi pada lembaga-lembaga nasional kita. Mereka pun adalah para pembongkar kasta, tetapi mereka tidak seperti orang-orang modern kita. Yang mereka maksud dengan pembongkaran kasta bukanlah bahwa semua orang dalam suatu kota harus duduk bersama untuk makan malam berupa beef-steak dan sampanye, bukan pula bahwa semua orang bodoh dan orang gila di negeri ini harus menikah kapan, di mana, dan dengan siapa pun yang mereka pilih sehingga menjadikan negeri ini sebagai rumah sakit jiwa, juga bukan bahwa mereka percaya bahwa kemakmuran suatu bangsa diukur dari banyaknya suami yang diperoleh para jandanya. Saya belum pernah melihat bangsa yang makmur seperti itu.

Manusia ideal menurut para leluhur kita adalah sang Brahmana. Dalam semua kitab kita menonjol dengan jelas cita-cita Brahmana ini. Di Eropa ada yang mulia Kardinal, yang berjuang keras dan menghabiskan ribuan pound untuk membuktikan keluhuran para leluhurnya, dan ia tidak akan puas sampai ia berhasil melacak silsilahnya hingga seorang tiran mengerikan yang tinggal di sebuah bukit dan mengamati orang-orang yang lewat, dan setiap kali ada kesempatan, ia menerkam mereka dan merampok mereka. Itulah pekerjaan para leluhur pemberi keluhuran tersebut, dan yang mulia Kardinal tidak akan puas sampai ia dapat melacak silsilahnya hingga salah satu dari mereka. Di India, sebaliknya, para pangeran terbesar pun berupaya menelusuri keturunannya hingga ke seorang resi kuno yang berpakaian secarik cawat, tinggal di hutan, makan akar-akaran dan mempelajari Weda. Di sanalah pangeran India menelusuri silsilahnya. Anda termasuk kasta yang tinggi bila Anda dapat menelusuri silsilah Anda hingga ke seorang Rishi (resi), dan tidak selain itu.

Cita-cita kita tentang kelahiran yang tinggi, oleh karena itu, berbeda dari cita-cita orang lain. Cita-cita kita adalah Brahmana dengan kultur spiritual dan penyangkalan diri. Dengan cita-cita Brahmana, apa yang saya maksud? Yang saya maksud adalah ke-Brahmana-an ideal yang di dalamnya keduniawian sama sekali tidak ada dan kebijaksanaan sejati hadir berlimpah. Itulah cita-cita ras Hindu. Tidakkah Anda pernah mendengar bagaimana dinyatakan bahwa ia, sang Brahmana, tidak tunduk pada hukum, bahwa ia tidak memiliki hukum, bahwa ia tidak diperintah oleh raja-raja, dan bahwa tubuhnya tidak dapat dilukai? Itu sepenuhnya benar. Janganlah memahaminya dalam cahaya yang dilemparkan padanya oleh orang-orang bodoh yang berkepentingan dan jahil, melainkan pahamilah dalam cahaya konsepsi Wedantik yang sejati dan orisinal. Jika sang Brahmana adalah ia yang telah membunuh segala keegoisan dan yang hidup serta berkarya untuk memperoleh dan menyebarkan kebijaksanaan dan kekuatan cinta — jika suatu negeri sepenuhnya dihuni oleh Brahmana-Brahmana semacam itu, oleh pria dan wanita yang spiritual dan bermoral dan baik, anehkah memikirkan negeri itu sebagai berada di atas dan di luar segala hukum? Polisi apa, militer apa yang diperlukan untuk memerintah mereka? Mengapa siapa pun harus memerintah mereka? Mengapa mereka harus hidup di bawah suatu pemerintahan? Mereka baik dan luhur, dan mereka adalah orang-orang Tuhan; merekalah para Brahmana ideal kita, dan kita membaca bahwa pada Satya Yuga hanya ada satu kasta, dan itu adalah Brahmana. Kita membaca dalam Mahabharata bahwa seluruh dunia pada mulanya dihuni oleh para Brahmana, dan ketika mereka mulai merosot, mereka menjadi terbagi-bagi menjadi berbagai kasta, dan ketika siklus berputar kembali, mereka semua akan kembali ke asal-usul keBrahmanaan itu. Siklus ini kini sedang berputar kembali, dan saya menarik perhatian Anda pada kenyataan ini. Oleh karena itu, solusi kita atas persoalan kasta bukanlah merendahkan mereka yang sudah berada di atas, bukan pula mengamuk soal makanan dan minuman, bukan pula melompat keluar dari batas-batas kita sendiri untuk memperoleh lebih banyak kenikmatan, melainkan datang melalui setiap dari kita memenuhi ketetapan agama Wedantik kita, melalui pencapaian spiritualitas kita, dan melalui kita menjadi Brahmana ideal. Ada hukum yang dibebankan pada setiap dari Anda di tanah ini oleh para leluhur Anda, baik Anda orang Arya atau bukan Arya, Rishi atau Brahmana, atau orang-orang paria yang paling rendah sekalipun. Perintahnya sama bagi Anda semua, yaitu bahwa Anda harus mengalami kemajuan tanpa henti, dan bahwa dari manusia yang tertinggi hingga Paria yang terendah, setiap orang di negeri ini harus berusaha dan menjadi Brahmana yang ideal. Gagasan Wedantik ini berlaku tidak hanya di sini melainkan di seluruh dunia. Demikianlah cita-cita kita tentang kasta sebagaimana dimaksudkan untuk mengangkat seluruh umat manusia perlahan dan lembut menuju realisasi cita-cita agung tentang manusia spiritual yang tidak melawan, tenang, mantap, penuh ibadah, murni, dan meditatif. Dalam cita-cita itu ada Tuhan.

Bagaimana hal-hal ini harus diwujudkan? Saya harus sekali lagi menarik perhatian Anda pada kenyataan bahwa mengutuk dan mencerca serta mencaci tidak dan tidak akan dapat menghasilkan sesuatu yang baik. Hal itu telah dicoba bertahun-tahun, dan tidak ada hasil yang berharga yang diperoleh. Hasil yang baik hanya dapat dihasilkan melalui cinta, melalui simpati. Ini adalah pokok pembicaraan yang besar, dan ia memerlukan beberapa ceramah untuk menjelaskan semua rencana yang ada dalam pandangan saya, dan semua gagasan yang, sehubungan dengan hal ini, datang ke benak saya hari demi hari. Oleh karena itu saya harus mengakhiri, dengan hanya mengingatkan Anda akan kenyataan bahwa kapal bangsa kita ini, wahai orang-orang Hindu, telah berlayar dengan berguna di sini selama berabad-abad. Hari ini, mungkin, ia mengalami kebocoran; hari ini, mungkin, ia menjadi sedikit usang. Dan jika demikian halnya, sudah selayaknya Anda dan saya berupaya sebaik mungkin untuk menambal kebocoran dan lubang itu. Marilah kita beri tahu sebangsa kita tentang bahaya itu, biarlah mereka bangun dan menolong kita. Saya akan berteriak sekuat-kuatnya dari satu bagian negeri ini ke bagian yang lain, untuk membangunkan rakyat akan keadaan dan kewajibannya. Andai mereka tidak mendengarkan saya, tetap saya tidak akan memiliki sepatah kata pun cacian untuk mereka, tidak sepatah kata pun kutukan. Besar telah pekerjaan bangsa kita di masa lalu; dan jika kita tidak dapat melakukan hal-hal yang lebih besar di masa depan, biarlah kita memiliki penghiburan ini, bahwa kita dapat tenggelam dan mati bersama-sama dalam damai. Jadilah patriot, cintailah ras yang telah berbuat hal-hal besar bagi kita di masa lalu. Sungguh, semakin saya membandingkan, semakin saya mencintai Anda, wahai saudara sebangsaku; Anda baik dan murni dan lembut. Anda selalu ditindas, dan demikianlah ironi dunia material maya (ilusi kosmik) ini. Tidak mengapa; Roh akan menang pada akhirnya. Sementara itu mari kita berkarya dan janganlah kita mencaci negeri kita, janganlah kita mengutuk dan mencerca lembaga-lembaga yang telah lapuk oleh cuaca dan letih oleh kerja dari tanah air kita yang tiga kali suci. Janganlah memiliki sepatah kata pun celaan bahkan untuk yang paling tahayul dan paling tidak rasional dari lembaga-lembaganya, sebab mereka pun pasti pernah memberi suatu kebaikan di masa lalu. Ingatlah selalu bahwa tidak ada di dunia ini negeri lain yang lembaga-lembaganya sungguh-sungguh lebih baik dalam tujuan dan sasarannya dibanding lembaga-lembaga tanah ini. Saya telah melihat kasta di hampir setiap negeri di dunia, tetapi tidak ada tempat di mana rancangan dan tujuannya begitu mulia seperti di sini. Jika kasta memang tak terhindarkan, saya lebih memilih kasta yang berciri kemurnian, kultur, dan pengorbanan diri, daripada kasta dolar. Oleh karena itu, ucapkanlah jangan satu pun kata celaan. Tutuplah bibir Anda dan biarlah hati Anda terbuka. Kerjakanlah keselamatan tanah ini dan seluruh dunia, masing-masing dari Anda berpikir bahwa seluruh beban itu ada di pundak Anda. Bawalah cahaya dan kehidupan Wedanta ke setiap pintu, dan bangkitkanlah keilahian yang tersembunyi di dalam setiap jiwa. Maka, betapapun besarnya ukuran keberhasilan Anda, Anda akan memiliki kepuasan ini bahwa Anda telah hidup, berkarya, dan mati untuk perkara yang agung. Dalam keberhasilan perkara ini, bagaimanapun ia diwujudkan, terpusat keselamatan umat manusia di dunia ini dan di alam baka.

English

THE MISSION OF THE VEDANTA

On the occasion of his visit to Kumbakonam, the Swamiji was presented with the following address by the local Hindu community:

Revered Swamin ,

On behalf of the Hindu inhabitants of this ancient and religiously important town of Kumbakonam, we request permission to offer you a most hearty welcome on your return from the Western World to our own holy land of great temples and famous saints and sages. We are highly thankful to God for the remarkable success of your religious mission in America and in Europe, and for His having enabled you to impress upon the choicest representatives of the world's great religions assembled at Chicago that both the Hindu philosophy and religion are so broad and so rationally catholic as to have in them the power to exalt and to harmonise all ideas of God and of human spirituality.

The conviction that the cause of Truth is always safe in the hands of Him who is the life and soul of the universe has been for thousands of years part of our living faith; and if today we rejoice at the results of your holy work in Christian lands, it is because the eyes of men in and outside of India are thereby being opened to the inestimable value of the spiritual heritage of the preeminently religious Hindu nation. The success of your work has naturally added great lustre to the already renowned name of your great Guru; it has also raised us in the estimation of the civilised world; more than all, it has made us feel that we too, as a people, have reason to be proud of the achievements of our past, and that the absence of telling aggressiveness in our civilisation is in no way a sign of its exhausted or decaying condition. With clear-sighted, devoted, and altogether unselfish workers like you in our midst, the future of the Hindu nation cannot but be bright and hopeful. May the God of the universe who is also the great God of all nations bestow on you health and long life, and make you increasingly strong and wise in the discharge of your high and noble function as a worthy teacher of Hindu religion and philosophy.

A second address was also presented by the Hindu students of the town.

The Swami then delivered the following address on the Mission of the Vedanta:

A very small amount of religious work performed brings a large amount of result. If this statement of the Gita wanted an illustration, I am finding every day the truth of that great saying in my humble life. My work has been very insignificant indeed, but the kindness and the cordiality of welcome that have met me at every step of my journey from Colombo to this city are simply beyond all expectation. Yet, at the same time, it is worthy of our traditions as Hindus, it is worthy of our race; for here we are, the Hindu race, whose vitality, whose life-principle, whose very soul, as it were, is in religion. I have seen a little of the world, travelling among the races of the East and the West; and everywhere I find among nations one great ideal which forms the backbone, so to speak, of that race. With some it is politics, with others it is social culture; others again may have intellectual culture and so on for their national background. But this, our motherland, has religion and religion alone for its basis, for its backbone, for the bed-rock upon which the whole building of its life has been based. Some of you may remember that in my reply to the kind address which the people of Madras sent over to me in America, I pointed out the fact that a peasant in India has, in many respects, a better religious education than many a gentleman in the West, and today, beyond all doubt, I myself am verifying my own words. There was a time when I did feel rather discontented at the want of information among the masses of India and the lack of thirst among them for information, but now I understand it. Where their interest lies, there they are more eager for information than the masses of any other race that I have seen or have travelled among. Ask our peasants about the momentous political changes in Europe, the upheavals that are going on in European society — they do not know anything of them, nor do they care to know; but the peasants, even in Ceylon, detached from India in many ways, cut off from a living interest in India — I found the very peasants working in the fields there were already acquainted with the fact that there had been a Parliament of Religions in America, that an Indian Sannyasin had gone over there, and that he had had some success.

Where, therefore, their interest is, there they are as eager for information as any other race; and religion is the one and sole interest of the people of India. I am not just now discussing whether it is good to have the vitality of the race in religious ideals or in political ideals, but so far it is clear to us that, for good or for evil, our vitality is concentrated in our religion. You cannot change it. You cannot destroy it and put in its place another. You cannot transplant a large growing tree from one soil to another and make it immediately take root there. For good or for evil, the religious ideal has been flowing into India for thousands of years; for good or for evil, the Indian atmosphere has been filled with ideals of religion for shining scores of centuries; for good or for evil, we have been born and brought up in the very midst of these ideas of religion, till it has entered into our very blood and tingled with every drop in our veins, and has become one with our constitution, become the very vitality of our lives. Can you give such religion up without the rousing of the same energy in reaction, without filling the channel which that mighty river has cut out for itself in the course of thousands of years? Do you want that the Gangâ should go back to its icy bed and begin a new course? Even if that were possible, it would be impossible for this country to give up her characteristic course of religious life and take up for herself a new career of politics or something else. You can work only under the law of least resistance, and this religious line is the line of least resistance in India. This is the line of life, this is the line of growth, and this is the line of well-being in India — to follow the track of religion.

Ay, in other countries religion is only one of the many necessities in life. To use a common illustration which I am in the habit of using, my lady has many things in her parlour, and it is the fashion nowadays to have a Japanese vase, and she must procure it; it does not look well to be without it. So my lady, or my gentleman, has many other occupations in life, and also a little bit of religion must come in to complete it. Consequently he or she has a little religion. Politics, social improvement, in one word, this world, is the goal of mankind in the West, and God and religion come in quietly as helpers to attain that goal. Their God is, so to speak, the Being who helps to cleanse and to furnish this world for them; that is apparently all the value of God for them. Do you not know how for the last hundred or two hundred years you have been hearing again and again out of the lips of men who ought to have known better, from the mouths of those who pretend at least to know better, that all the arguments they produce against the Indian religion is this — that our religion does not conduce to well-being in this world, that it does not bring gold to us, that it does not make us robbers of nations, that it does not make the strong stand upon the bodies of the weak and feed themselves with the life-blood of the weak. Certainly our religion does not do that. It cannot send cohorts, under whose feet the earth trembles, for the purpose of destruction and pillage and the ruination of races. Therefore they say — what is there in this religion? It does not bring any grist to the grinding mill, any strength to the muscles; what is there in such a religion?

They little dream that that is the very argument with which we prove out religion, because it does not make for this world. Ours is the only true religion because, according to it, this little sense-world of three days' duration is not to be made the end and aim of all, is not to be our great goal. This little earthly horizon of a few feet is not that which bounds the view of our religion. Ours is away beyond, and still beyond; beyond the senses, beyond space, and beyond time, away, away beyond, till nothing of this world is left and the universe itself becomes like a drop in the transcendent ocean of the glory of the soul. Ours is the true religion because it teaches that God alone is true, that this world is false and fleeting, that all your gold is but as dust, that all your power is finite, and that life itself is oftentimes an evil; therefore it is, that ours is the true religion. Ours is the true religion because, above all, it teaches renunciation and stands up with the wisdom of ages to tell and to declare to the nations who are mere children of yesterday in comparison with us Hindus — who own the hoary antiquity of the wisdom, discovered by our ancestors here in India — to tell them in plain words: "Children, you are slaves of the senses; there is only finiteness in the senses, there is only ruination in the senses; the three short days of luxury here bring only ruin at last. Give it all up, renounce the love of the senses and of the world; that is the way of religion." Through renunciation is the way to the goal and not through enjoyment. Therefore ours is the only true religion.

Ay, it is a curious fact that while nations after nations have come upon the stage of the world, played their parts vigorously for a few moments, and died almost without leaving a mark or a ripple on the ocean of time, here we are living, as it were, an eternal life. They talk a great deal of the new theories about the survival of the fittest, and they think that it is the strength of the muscles which is the fittest to survive. If that were true, any one of the aggressively known old world nations would have lived in glory today, and we, the weak Hindus, who never conquered even one other race or nation, ought to have died out; yet we live here three hundred million strong! (A young English lady once told me: What have the Hindus done? They never even conquered a single race!) And it is not at all true that all its energies are spent, that atrophy has overtaken its body: that is not true. There is vitality enough, and it comes out in torrents and deluges the world when the time is ripe and requires it.

We have, as it were, thrown a challenge to the whole world from the most ancient times. In the West, they are trying to solve the problem how much a man can possess, and we are trying here to solve the problem on how little a man can live. This struggle and this difference will still go on for some centuries. But if history has any truth in it and if prognostications ever prove true, it must be that those who train themselves to live on the least and control themselves well will in the end gain the battle, and that those who run after enjoyment and luxury, however vigorous they may seem for the moment, will have to die and become annihilated. There are times in the history of a man's life, nay, in the history of the lives of nations, when a sort of world-weariness becomes painfully predominant. It seems that such a tide of world-weariness has come upon the Western world. There, too, they have their thinkers, great men; and they are already finding out that this race after gold and power is all vanity of vanities; many, nay, most of the cultured men and women there, are already weary of this competition, this struggle, this brutality of their commercial civilisation, and they are looking forward towards something better. There is a class which still clings on to political and social changes as the only panacea for the evils in Europe, but among the great thinkers there, other ideals are growing. They have found out that no amount of political or social manipulation of human conditions can cure the evils of life. It is a change of the soul itself for the better that alone will cure the evils of life. No amount of force, or government, or legislative cruelty will change the conditions of a race, but it is spiritual culture and ethical culture alone that can change wrong racial tendencies for the better. Thus these races of the West are eager for some new thought, for some new philosophy; the religion they have had, Christianity, although good and glorious in many respects, has been imperfectly understood, and is, as understood hitherto, found to be insufficient. The thoughtful men of the West find in our ancient philosophy, especially in the Vedanta, the new impulse of thought they are seeking, the very spiritual food and drink for which they are hungering and thirsting. And it is no wonder that this is so.

I have become used to hear all sorts of wonderful claims put forward in favour of every religion under the sun. You have also heard, quite within recent times, the claims put forward by Dr. Barrows, a great friend of mine, that Christianity is the only universal religion. Let me consider this question awhile and lay before you my reasons why I think that it is Vedanta, and Vedanta alone that can become the universal religion of man, and that no other is fitted for the role. Excepting our own almost all the other great religions in the world are inevitably connected with the life or lives of one or more of their founders. All their theories, their teachings, their doctrines, and their ethics are built round the life of a personal founder, from whom they get their sanction, their authority, and their power; and strangely enough, upon the historicity of the founder's life is built, as it were, all the fabric of such religions. If there is one blow dealt to the historicity of that life, as has been the case in modern times with the lives of almost all the so-called founders of religion — we know that half of the details of such lives is not now seriously believed in, and that the other half is seriously doubted — if this becomes the case, if that rock of historicity, as they pretend to call it, is shaken and shattered, the whole building tumbles down, broken absolutely, never to regain its lost status.

Every one of the great religions in the world excepting our own, is built upon such historical characters; but ours rests upon principles. There is no man or woman who can claim to have created the Vedas. They are the embodiment of eternal principles; sages discovered them; and now and then the names of these sages are mentioned — just their names; we do not even know who or what they were. In many cases we do not know who their fathers were, and almost in every case we do not know when and where they were born. But what cared they, these sages, for their names? They were the preachers of principles, and they themselves, so far as they went, tried to become illustrations of the principles they preached. At the same time, just as our God is an Impersonal and yet a Personal God, so is our religion a most intensely impersonal one — a religion based upon principles — and yet with an infinite scope for the play of persons; for what religion gives you more Incarnations, more prophets and seers, and still waits for infinitely more? The Bhâgavata says that Incarnations are infinite, leaving ample scope for as many as you like to come. Therefore if any one or more of these persons in India's religious history, any one or more of these Incarnations, and any one or more of our prophets proved not to have been historical, it does not injure our religion at all; even then it remains firm as ever, because it is based upon principles, and not upon persons. It is in vain we try to gather all the peoples of the world around a single personality. It is difficult to make them gather together even round eternal and universal principles. If it ever becomes possible to bring the largest portion of humanity to one way of thinking in regard to religion, mark you, it must be always through principles and not through persons. Yet as I have said, our religion has ample scope for the authority and influence of persons. There is that most wonderful theory of Ishta which gives you the fullest and the freest choice possible among these great religious personalities. You may take up any one of the prophets or teachers as your guide and the object of your special adoration; you are even allowed to think that he whom you have chosen is the greatest of the prophets, greatest of all the Avatâras; there is no harm in that, but you must keep to a firm background of eternally true principles. The strange fact here is that the power of our Incarnations has been holding good with us only so far as they are illustrations of the principles in the Vedas. The glory of Shri Krishna is that he has been the best preacher of our eternal religion of principles and the best commentator on the Vedanta that ever lived in India.

The second claim of the Vedanta upon the attention of the world is that, of all the scriptures in the world, it is the one scripture the teaching of which is in entire harmony with the results that have been attained by the modern scientific investigations of external nature. Two minds in the dim past of history, cognate to each other in form and kinship and sympathy, started, being placed in different routes. The one was the ancient Hindu mind, and the other the ancient Greek mind. The former started by analysing the internal world. The latter started in search of that goal beyond by analysing the external world. And even through the various vicissitudes of their history, it is easy to make out these two vibrations of thought as tending to produce similar echoes of the goal beyond. It seems clear that the conclusions of modern materialistic science can be acceptable, harmoniously with their religion, only to the Vedantins or Hindus as they are called. It seems clear that modern materialism can hold its own and at the same time approach spirituality by taking up the conclusions of the Vedanta. It seems to us, and to all who care to know, that the conclusions of modern science are the very conclusions the Vedanta reached ages ago; only, in modern science they are written in the language of matter. This then is another claim of the Vedanta upon modern Western minds, its rationality, the wonderful rationalism of the Vedanta. I have myself been told by some of the best Western scientific minds of the day, how wonderfully rational the conclusions of the Vedanta are. I know one of them personally who scarcely has time to eat his meal or go out of his laboratory, but who yet would stand by the hour to attend my lectures on the Vedanta; for, as he expresses it, they are so scientific, they so exactly harmonise with the aspirations of the age and with the conclusions to which modern science is coming at the present time.

Two such scientific conclusions drawn from comparative religion, I would specially like to draw your attention to: the one bears upon the idea of the universality of religions, and the other on the idea of the oneness of things. We observe in the histories of Babylon and among the Jews an interesting religious phenomenon happening. We find that each of these Babylonian and Jewish peoples was divided into so many tribes, each tribe having a god of its own, and that these little tribal gods had often a generic name. The gods among the Babylonians were all called Baals, and among them Baal Merodach was the chief. In course of time one of these many tribes would conquer and assimilate the other racially allied tribes, and the natural result would be that the god of the conquering tribe would be placed at the head of all the gods of the other tribes. Thus the so-called boasted monotheism of the Semites was created. Among the Jews the gods went by the name of Molochs. Of these there was one Moloch who belonged to the tribe called Israel, and he was called the Moloch-Yahveh or Moloch-Yava. In time, this tribe of Israel slowly conquered some of the other tribes of the same race, destroyed their Molochs, and declared its own Moloch to be the Supreme Moloch of all the Molochs. And I am sure, most of you know the amount of bloodshed, of tyranny, and of brutal savagery that this religious conquest entailed. Later on, the Babylonians tried to destroy this supremacy of Moloch-Yahveh, but could not succeed in doing so.

It seems to me, that such an attempt at tribal self-assertion in religious matters might have taken place on the frontiers and India also. Here, too, all the various tribes of the Aryans might have come into conflict with one another for declaring the supremacy of their several tribal gods; but India's history was to be otherwise, was to be different from that of the Jews. India alone was to be, of all lands, the land of toleration and of spirituality; and therefore the fight between tribes and their gods did not long take place here. For one of the greatest sages that was ever born found out here in India even at that distant time, which history cannot reach, and into whose gloom even tradition itself dares not peep — in that distant time the sage arose and declared, एकं सद् विप्रा बहुधा वदन्ति — "He who exists is one; the sages call Him variously." This is one of the most memorable sentences that was ever uttered, one of the grandest truths that was ever discovered. And for us Hindus this truth has been the very backbone of our national existence. For throughout the vistas of the centuries of our national life, this one idea — एकं सद् विप्रा बहुधा वदन्ति — comes down, gaining in volume and in fullness till it has permeated the whole of our national existence, till it has mingled in our blood, and has become one with us. We live that grand truth in every vein, and our country has become the glorious land of religious toleration. It is here and here alone that they build temples and churches for the religions which have come with the object of condemning our own religion. This is one very great principle that the world is waiting to learn from us. Ay, you little know how much of intolerance is yet abroad. It struck me more than once that I should have to leave my bones on foreign shores owing to the prevalence of religious intolerance. Killing a man is nothing for religion's sake; tomorrow they may do it in the very heart of the boasted civilisation of the West, if today they are not really doing so. Outcasting in its most horrible forms would often come down upon the head of a man in the West if he dared to say a word against his country's accepted religion. They talk glibly and smoothly here in criticism of our caste laws. If you go, to the West and live there as I have done, you will know that even some of the biggest professors you hear of are arrant cowards and dare not say, for fear of public opinion, a hundredth part of what they hold to be really true in religious matter.

Therefore the world is waiting for this grand idea of universal toleration. It will be a great acquisition to civilisation. Nay, no civilisation can long exist unless this idea enters into it. No civilisation can grow unless fanatics, bloodshed, and brutality stop. No civilisation can begin to lift up its head until we look charitably upon one another; and the first step towards that much-needed charity is to look charitably and kindly upon the religious convictions of others. Nay more, to understand that not only should we be charitable, but positively helpful to each other, however different our religious ideas and convictions may be. And that is exactly what we do in India as I have just related to you. It is here in India that Hindus have built and are still building churches for Christians and mosques for Mohammedans. That is the thing to do. In spite of their hatred, in spite of their brutality, in spite of their cruelly, in spite of their tyranny, and in spite of the vile language they are given to uttering, we will and must go on building churches for the Christians and mosques for the Mohammedans until we conquer through love, until we have demonstrated to the world that love alone is the fittest thing to survive and not hatred, that it is gentleness that has the strength to live on and to fructify, and not mere brutality and physical force.

The other great idea that the world wants from us today, the thinking part of Europe, nay, the whole world — more, perhaps, the lower classes than the higher, more the masses than the cultured, more the ignorant than the educated, more the weak than the strong — is that eternal grand idea of the spiritual oneness of the whole universe. I need not tell you today, men from Madras University, how the modern researches of the West have demonstrated through physical means the oneness and the solidarity of the whole universe; how, physically speaking, you and I, the sun, moon, and stars are but little waves or waveless in the midst of an infinite ocean of matter; how Indian psychology demonstrated ages ago that, similarly, both body and mind are but mere names or little waveless in the ocean of matter, the Samashti; and how, going one step further, it is also shown in the Vedanta that behind that idea of the unity of the whole show, the real Soul is one. There is but one Soul throughout the universe, all is but One Existence This great idea of the real and basic solidarity of the whole universe has frightened many, even in this country. It even now finds sometimes more opponents than adherents. I tell you, nevertheless, that it is the one great life-giving idea which the world wants from us today, and which the mute masses of India want for their uplifting, for none can regenerate this land of ours without the practical application and effective operation of this ideal of the oneness of things.

The rational West is earnestly bent upon seeking out the rationality, the raison d' être of all its philosophy and its ethics; and you all know well that ethics cannot be derived from the mere sanction of any personage, however great and divine he may have been. Such an explanation of the authority of ethics appeals no more to the highest of the world's thinkers; they want something more than human sanction for ethical and moral codes to be binding, they want some eternal principle of truth as the sanction of ethics. And where is that eternal sanction to be found except in the only Infinite Reality that exists in you and in me and in all, in the Self, in the Soul? The infinite oneness of the Soul is the eternal sanction of all morality, that you and I are not only brothers — every literature voicing man's struggle towards freedom has preached that for you — but that you and I are really one. This is the dictate of Indian philosophy. This oneness is the rationale of all ethics and all spirituality. Europe wants it today just as much as our downtrodden masses do, and this great principle is even now unconsciously forming the basis of all the latest political and social aspirations that are coming up in England, in Germany, in France, and in America. And mark it, my friends, that in and through all the literature voicing man's struggle towards freedom, towards universal freedom, again and again you find the Indian Vedantic ideals coming out prominently. In some cases the writers do not know the source of their inspiration, in some cases they try to appear very original, and a few there are, bold and grateful enough to mention the source and acknowledge their indebtedness to it.

When I was in America, I heard once the complaint made that I was preaching too much of Advaita, and too little of dualism. Ay, I know what grandeur, what oceans of love, what infinite, ecstatic blessings and joy there are in the dualistic love-theories of worship and religion. I know it all. But this is not the time with us to weep even in joy; we have had weeping enough; no more is this the time for us to become soft. This softness has been with us till we have become like masses of cotton and are dead. What our country now wants are muscles of iron and nerves of steel, gigantic wills which nothing can resist, which can penetrate into the mysteries and the secrets of the universe, and will accomplish their purpose in any fashion even if it meant going down to the bottom of the ocean and meeting death face to face. That is what we want, and that can only be created, established, and strengthened by understanding and realising the ideal of the Advaita, that ideal of the oneness of all. Faith, faith, faith in ourselves, faith, faith in God — this is the secret of greatness. If you have faith in all the three hundred and thirty millions of your mythological gods, and in all the gods which foreigners have now and again introduced into your midst, and still have no faith in yourselves, there is no salvation for you. Have faith in yourselves, and stand up on that faith and be strong; that is what we need. Why is it that we three hundred and thirty millions of people have been ruled for the last one thousand years by any and every handful of foreigners who chose to walk over our prostrate bodies? Because they had faith in themselves and we had not. What did I learn in the West, and what did I see behind those frothy sayings of the Christian sects repeating that man was a fallen and hopelessly fallen sinner? There I saw that inside the national hearts of both Europe and America reside the tremendous power of the men's faith in themselves. An English boy will tell you, "I am an Englishman, and I can do anything." The American boy will tell you the same thing, and so will any European boy. Can our boys say the same thing here? No, nor even the boy's fathers. We have lost faith in ourselves. Therefore to preach the Advaita aspect of the Vedanta is necessary to rouse up the hearts of men, to show them the glory of their souls. It is, therefore, that I preach this Advaita; and I do so not as a sectarian, but upon universal and widely acceptable grounds.

It is easy to find out the way of reconciliation that will not hurt the dualist or the qualified monist. There is not one system in India which does not hold the doctrine that God is within, that Divinity resides within all things. Every one of our Vedantic systems admits that all purity and perfection and strength are in the soul already. According to some, this perfection sometimes becomes, as it were, contracted, and at other times it becomes expanded again. Yet it is there. According to the Advaita, it neither contracts nor expands, but becomes hidden and uncovered now and again. Pretty much the same thing in effect. The one may be a more logical statement than the other, but as to the result, the practical conclusions, both are about the same; and this is the one central idea which the world stands in need of, and nowhere is the want more felt than in this, our own motherland.

Ay, my friends, I must tell you a few harsh truths. I read in the newspaper how, when one of our fellows is murdered or ill-treated by an Englishman, howls go up all over the country; I read and I weep, and the next moment comes to my mind the question: Who is responsible for it all? As a Vedantist I cannot but put that question to myself. The Hindu is a man of introspection; he wants to see things in and through himself, through the subjective vision. I, therefore, ask myself: Who is responsible? And the answer comes every time: Not the English; no, they are not responsible; it is we who are responsible for all our misery and all our degradation, and we alone are responsible. Our aristocratic ancestors went on treading the common masses of our country underfoot, till they became helpless, till under this torment the poor, poor people nearly forgot that they were human beings. They have been compelled to be merely hewers of wood and drawers of water for centuries, so much so, that they are made to believe that they are born as slaves, born as hewers of wood and drawers of water. With all our boasted education of modern times, if anybody says a kind word for them, I often find our men shrink at once from the duty of lifting them up, these poor downtrodden people. Not only so, but I also find that all sorts of most demoniacal and brutal arguments, culled from the crude ideas of hereditary transmission and other such gibberish from the Western world, are brought forward in order to brutalise and tyrannise over the poor all the more. At the Parliament of Religions in America, there came among others a young man, a born Negro, a real African Negro, and he made a beautiful speech. I became interested in the young man and now and then talked to him, but could learn nothing about him. But one day in England, I met some Americans; and this is what they told me. This boy was the son of a Negro chief who lived in the heart of Africa, and that one day another chief became angry with the father of this boy and murdered him and murdered the mother also, and they were cooked and eaten; he ordered the child to be killed also and cooked and eaten; but the boy fled, and after passing through great hardships and having travelled a distance of several hundreds of miles, he reached the seashore, and there he was taken into an American vessel and brought over to America. And this boy made that speech! After that, what was I to think of your doctrine of heredity!

Ay, Brâhmins, if the Brahmin has more aptitude for learning on the ground of heredity than the Pariah, spend no more money on the Brahmin's education, but spend all on the Pariah. Give to the weak, for there all the gift is needed. If the Brahmin is born clever, he can educate himself without help. If the others are not born clever, let them have all the teaching and the teachers they want. This is justice and reason as I understand it. Our poor people, these downtrodden masses of India, therefore, require to hear and to know what they really are. Ay, let every man and woman and child, without respect of caste or birth, weakness or strength, hear and learn that behind the strong and the weak, behind the high and the low, behind every one, there is that Infinite Soul, assuring the infinite possibility and the infinite capacity of all to become great and good. Let us proclaim to every soul:उत्तिष्ठत जाग्रत प्राप्य वरान्निबोधत — Arise, awake, and stop not till the goal is reached. Arise, awake! Awake from this hypnotism of weakness. None is really weak; the soul is infinite, omnipotent, and omniscient. Stand up, assert yourself, proclaim the God within you, do not deny Him! Too much of inactivity, too much of weakness, too much of hypnotism has been and is upon our race. O ye modern Hindus, de-hypnotise yourselves. The way to do that is found in your own sacred books. Teach yourselves, teach every one his real nature, call upon the sleeping soul and see how it awakes. Power will come, glory will come, goodness will come, purity will come, and everything that is excellent will come when this sleeping soul is roused to self-conscious activity. Ay, if there is anything in the Gita that I like, it is these two verses, coming out strong as the very gist, the very essence, of Krishna's teaching — "He who sees the Supreme Lord dwelling alike in all beings, the Imperishable in things that perish, he sees indeed. For seeing the Lord as the same, everywhere present, he does not destroy the Self by the Self, and thus he goes to the highest goal."

Thus there is a great opening for the Vedanta to do beneficent work both here and elsewhere. This wonderful idea of the sameness and omnipresence of the Supreme Soul has to be preached for the amelioration and elevation of the human race here as elsewhere. Wherever there is evil and wherever there is ignorance and want of knowledge, I have found out by experience that all evil comes, as our scriptures say, relying upon differences, and that all good comes from faith in equality, in the underlying sameness and oneness of things. This is the great Vedantic ideal. To have the ideal is one thing, and to apply it practically to the details of daily life is quite another thing. It is very good to point out an ideal, but where is the practical way to reach it?

Here naturally comes the difficult and the vexed question of caste and of social reformation, which has been uppermost for centuries in the minds of our people. I must frankly tell you that I am neither a caste-breaker nor a mere social reformer. I have nothing to do directly with your castes or with your social reformation. Live in any caste you like, but that is no reason why you should hate another man or another caste. It is love and love alone that I preach, and I base my teaching on the great Vedantic truth of the sameness and omnipresence of the Soul of the Universe. For nearly the past one hundred years, our country has been flooded with social reformers and various social reform proposals. Personally, I have no fault to find with these reformers. Most of them are good, well-meaning men, and their aims too are very laudable on certain points; but it is quite a patent fact that this one hundred years of social reform has produced no permanent and valuable result appreciable throughout the country. Platform speeches have been made by the thousand, denunciations in volumes after volumes have been hurled upon the devoted head of the Hindu race and its civilisation, and yet no good practical result has been achieved; and where is the reason for that? The reason is not hard to find. It is in the denunciation itself. As I told you before, in the first place, we must try to keep our historically acquired character as a people. I grant that we have to take a great many things from other nations, that we have to learn many lessons from outside; but I am sorry to say that most of our modern reform movements have been inconsiderate imitations of Western means and methods of work; and that surely will not do for India; therefore, it is that all our recent reform movements have had no result.

In the second place, denunciation is not at all the way to do good. That there are evils in our society even a child can see; and in what society are there no evils? And let me take this opportunity, my countrymen, of telling you that in comparing the different races and nations of the world I have been among, I have come to the conclusion that our people are on the whole the most moral and the most godly, and our institutions are, in their plan and purpose, best suited to make mankind happy. I do not, therefore, want any reformation. My ideal is growth, expansion, development on national lines. As I look back upon the history of my country, I do not find in the whole world another country which has done quite so much for the improvement of the human mind. Therefore I have no words of condemnation for my nation. I tell them, "You have done well; only try to do better." Great things have been done in the past in this land, and there is both time and room for greater things to be done yet. I am sure you know that we cannot stand still. If we stand still, we die. We have either to go forward or to go backward. We have either to progress or to degenerate. Our ancestors did great things in the past, but we have to grow into a fuller life and march beyond even their great achievements. How can we now go back and degenerate ourselves? That cannot be; that must not be; going back will lead to national decay and death. Therefore let us go forward and do yet greater things; that is what I have to tell you.

I am no preacher of any momentary social reform. I am not trying to remedy evils, I only ask you to go forward and to complete the practical realisation of the scheme of human progress that has been laid out in the most perfect order by our ancestors. I only ask you to work to realise more and more the Vedantic ideal of the solidarity of man and his inborn divine nature. Had I the time, I would gladly show you how everything we have now to do was laid out years ago by our ancient law-givers, and how they actually anticipated all the different changes that have taken place and are still to take place in our national institutions. They also were breakers of caste, but they were not like our modern men. They did not mean by the breaking of caste that all the people in a city should sit down together to a dinner of beef-steak and champagne, nor that all fools and lunatics in the country should marry when, where, and whom they chose and reduce the country to a lunatic asylum, nor did they believe that the prosperity of a nation is to be gauged by the number of husbands its widows get. I have yet to see such a prosperous nation.

The ideal man of our ancestors was the Brahmin. In all our books stands out prominently this ideal of the Brahmin. In Europe there is my Lord the Cardinal, who is struggling hard and spending thousands of pounds to prove the nobility of his ancestors, and he will not be satisfied until he has traced his ancestry to some dreadful tyrant who lived on a hill and watched the people passing by, and whenever he had the opportunity, sprang out on them and robbed them. That was the business of these nobility-bestowing ancestors, and my Lord Cardinal is not satisfied until he can trace his ancestry to one of these. In India, on the other hand, the greatest princes seek to trace their descent to some ancient sage who dressed in a bit of loin cloth, lived in a forest, eating roots and studying the Vedas. It is there that the Indian prince goes to trace his ancestry. You are of the high caste when you can trace your ancestry to a Rishi, and not otherwise.

Our ideal of high birth, therefore, is different from, that of others. Our ideal is the Brahmin of spiritual culture and renunciation. By the Brahmin ideal what do I mean? I mean the ideal Brahmin-ness in which worldliness is altogether absent and true wisdom is abundantly present. That is the ideal of the Hindu race. Have you not heard how it is declared that he, the Brahmin, is not amenable to law, that he has no law, that he is not governed by kings, and that his body cannot be hurt? That is perfectly true. Do not understand it in the light thrown upon it by interested and ignorant fools, but understand it in the light of the true and original Vedantic conception. If the Brahmin is he who has killed all selfishness and who lives and works to acquire and propagate wisdom and the power of love — if a country is altogether inhabited by such Brahmins, by men and women who are spiritual and moral and good, is it strange to think of that country as being above and beyond all law? What police, what military are necessary to govern them? Why should any one govern them at all? Why should they live under a government? They are good and noble, and they are the men of God; these are our ideal Brahmins, and we read that in the Satya Yuga there was only one caste, and that was the Brahmin. We read in the Mahâbhârata that the whole world was in the beginning peopled with Brahmins, and that as they began to degenerate, they became divided into different castes, and that when the cycle turns round, they will all go back to that Brahminical origin. This cycle is turning round now, and I draw your attention to this fact. Therefore our solution of the caste question is not degrading those who are already high up, is not running amuck through food and drink, is not jumping out of our own limits in order to have more enjoyment, but it comes by every one of us, fulfilling the dictates of our Vedantic religion, by our attaining spirituality, and by our becoming the ideal Brahmin. There is a law laid on each one of you in this land by your ancestors, whether you are Aryans or non-Aryans, Rishis or Brahmins, or the very lowest outcasts. The command is the same to you all, that you must make progress without stopping, and that from the highest man to the lowest Pariah, every one in this country has to try and become the ideal Brahmin. This Vedantic idea is applicable not only here but over the whole world. Such is our ideal of caste as meant for raising all humanity slowly and gently towards the realisation of that great ideal of the spiritual man who is non-resisting, calm, steady, worshipful, pure, and meditative. In that ideal there is God.

How are these things to be brought about? I must again draw your attention to the fact that cursing and vilifying and abusing do not and cannot produce anything good. They have been tried for years and years, and no valuable result has been obtained. Good results can be produced only through love, through sympathy. It is a great subject, and it requires several lectures to elucidate all the plans that I have in view, and all the ideas that are, in this connection, coming to my mind day after day I must, therefore, conclude, only reminding you of this fact that this ship of our nation, O Hindus, has been usefully plying here for ages. Today, perhaps, it has sprung a leak; today, perhaps, it has become a little worn out. And if such is the case, it behaves you and me to try our best to stop the leak and holes. Let us tell our countrymen of the danger, let them awake and help us. I will cry at the top of my voice from one part of this country to the other, to awaken the people to the situation and their duty. Suppose they do not hear me, still I shall not have one word of abuse for them, not one word of cursing. Great has been our nation's work in the past; and if we cannot do greater things in the future, let us have this consolation that we can sink and die together in peace. Be patriots, love the race which has done such great things for us in the past. Ay, the more I compare notes, the more I love you, my fellow-countrymen; you are good and pure and gentle. You have been always tyrannised over, and such is the irony of this material world of Mâyâ. Never mind that; the Spirit will triumph in the long run. In the meanwhile let us work and let us not abuse our country, let us not curse and abuse the weather-beaten and work-worn institutions of our thrice-holy motherland. Have no word of condemnation even for the most superstitious and the most irrational of its institutions, for they also must have served some good in the past. Remember always that there is not in the world any other country whose institutions are really better in their aims and objects than the institutions of this land. I have seen castes in almost every country in the world, but nowhere is their plan and purpose so glorious as here. If caste is thus unavoidable, I would rather have a caste of purity and culture and self-sacrifice, than a caste of dollars. Therefore utter no words of condemnation. Close your lips and let your hearts open. Work out the salvation of this land and of the whole world, each of you thinking that the entire burden is on your shoulders. Carry the light and the life of the Vedanta to every door, and rouse up the divinity that is hidden within every soul. Then, whatever may be the measure of your success, you will have this satisfaction that you have lived, worked, and died for a great cause. In the success of this cause, howsoever brought about, is centred the salvation of humanity here and hereafter.


Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.