Arsip Vivekananda

Rencana Perjuangan Saya

Jilid3 lecture
7,676 kata · 31 menit baca · Lectures from Colombo to Almora

Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.

AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.

Bahasa Indonesia

RENCANA PERJUANGANKU

(Disampaikan di Victoria Hall, Madras)

Karena pada hari itu kita tidak dapat melanjutkan akibat kerumunan massa, saya akan memanfaatkan kesempatan ini untuk mengucapkan terima kasih kepada penduduk Madras atas kebaikan yang konsisten saya terima dari tangan mereka. Saya tidak tahu cara yang lebih baik untuk mengungkapkan rasa syukur saya atas kata-kata indah yang telah disampaikan dalam alamat-alamat penghormatan itu selain dengan berdoa kepada Tuhan agar saya layak menerima ungkapan yang demikian ramah dan murah hati, serta dengan bekerja sepanjang hidup saya bagi perjuangan agama kita dan untuk mengabdi kepada tanah air kita; dan kiranya Tuhan menjadikan saya layak menerimanya.

Dengan segala kekurangan saya, saya kira saya memiliki sedikit keberanian. Saya membawa pesan dari India ke Barat, dan dengan berani saya sampaikan kepada bangsa Amerika dan bangsa Inggris. Sebelum memasuki pokok bahasan hari ini, saya ingin menyampaikan beberapa kata yang berani kepada Anda sekalian. Telah muncul keadaan-keadaan tertentu di sekeliling saya yang cenderung menghalangi saya, menentang kemajuan saya, dan, jika mungkin, melenyapkan saya dari muka bumi ini. Syukur kepada Tuhan, mereka telah gagal, sebagaimana upaya-upaya semacam itu akan selalu gagal. Namun selama tiga tahun terakhir, telah terjadi sejumlah kesalahpahaman, dan selama saya berada di negeri asing, saya membungkam diri dan tidak mengucapkan sepatah kata pun; tetapi kini, berdiri di atas tanah ibu pertiwi saya, saya hendak memberikan beberapa kata penjelasan. Bukan karena saya peduli akan hasil dari kata-kata ini — bukan karena saya peduli akan perasaan apa yang akan saya bangkitkan dari Anda melalui kata-kata ini. Saya sungguh tidak terlalu peduli, sebab saya adalah Sanyasin (pertapa pelepas dunia) yang sama yang memasuki kota Anda kira-kira empat tahun lalu dengan tongkat dan Kamandalu (kendi air bertangan) ini; dunia luas yang sama membentang di hadapan saya. Tanpa kata pengantar lebih lanjut, izinkan saya memulai.

Pertama-tama, saya harus mengatakan beberapa kata mengenai Theosophical Society. Tidak perlu dikatakan bahwa sejumlah pekerjaan baik telah dilakukan oleh Society itu bagi India; karena itu, setiap pemeluk Hindu berterima kasih kepadanya, terutama kepada Ny. Besant; sebab meskipun saya hanya sedikit mengenalnya, namun sedikit yang saya ketahui itu telah memberi saya kesan bahwa ia adalah seorang yang tulus berniat baik bagi tanah air kita ini, dan bahwa ia melakukan yang terbaik yang ada dalam kekuasaannya untuk mengangkat negeri kita. Untuk itu, terima kasih abadi dari setiap orang India yang sejati menjadi miliknya, dan semoga segala berkat dilimpahkan kepadanya dan keluarganya selamanya. Tetapi itu satu hal — dan bergabung dengan Theosophical Society adalah hal lain. Penghargaan, penilaian, dan kasih adalah satu hal, dan menelan mentah-mentah segala sesuatu yang diucapkan seseorang, tanpa menalar, tanpa mengkritisi, tanpa menganalisis, adalah hal yang sama sekali berbeda. Beredar sebuah kabar bahwa para Theosof telah membantu pencapaian kecil saya di Amerika dan Inggris. Saya harus mengatakan kepada Anda dengan terus terang bahwa setiap kata dari kabar itu keliru, setiap kata darinya tidak benar. Kita banyak mendengar pembicaraan muluk di dunia ini tentang gagasan-gagasan yang lapang dan simpati terhadap perbedaan pendapat. Itu sangat baik, tetapi kenyataannya, kita mendapati bahwa seseorang bersimpati kepada orang lain hanya selama orang lain itu mempercayai segala sesuatu yang ia katakan; namun begitu orang itu berani berbeda pendapat, simpati itu hilang, kasih itu lenyap. Ada pula yang memiliki kepentingan pribadi yang ingin diasahnya, dan apabila timbul sesuatu di suatu negeri yang menghalangi pengasahan kepentingan itu, hati mereka terbakar, kebencian dalam jumlah berapa pun keluar, dan mereka tidak tahu harus berbuat apa. Apa ruginya bagi misionaris Kristen jika orang Hindu berupaya membersihkan rumahnya sendiri? Cedera apa yang ditimbulkan bagi Brahmo Samaj dan badan-badan pembaru lainnya jika orang Hindu berusaha sekuat tenaga membaharui dirinya sendiri? Mengapa mereka harus berdiri menentang? Mengapa mereka harus menjadi musuh terbesar gerakan-gerakan ini? Mengapa? — saya bertanya. Tampaknya bagi saya bahwa kebencian dan kecemburuan mereka begitu pahit sehingga tidak ada lagi pertanyaan mengapa atau bagaimana yang dapat diajukan di sana.

Empat tahun lalu, ketika saya, seorang Sanyasin yang miskin, tak dikenal, dan tanpa teman, hendak pergi ke Amerika, menyeberangi samudra menuju Amerika tanpa surat perkenalan atau teman di sana, saya menemui pemimpin Theosophical Society. Wajar saya berpikir bahwa ia, sebagai seorang Amerika sekaligus pencinta India, mungkin akan memberi saya sepucuk surat perkenalan kepada seseorang di sana. Ia bertanya kepada saya, "Maukah Anda bergabung dengan Society saya?" "Tidak," saya menjawab, "bagaimana saya bisa? Sebab saya tidak mempercayai sebagian besar dari doktrin Anda." "Kalau begitu, saya menyesal, saya tidak dapat berbuat apa-apa bagi Anda," jawabnya. Itu bukanlah cara membuka jalan bagi saya. Saya tiba di Amerika, sebagaimana Anda ketahui, melalui pertolongan beberapa kawan dari Madras. Sebagian besar dari mereka hadir di sini. Hanya satu yang tidak hadir, yaitu Mr. Justice Subramania Iyer, kepada siapa rasa syukur terdalam saya tertuju. Ia memiliki ketajaman pandang seorang jenius dan ia adalah salah satu sahabat paling setia yang saya miliki dalam hidup ini, sungguh seorang sahabat sejati, seorang putra sejati India. Saya tiba di Amerika beberapa bulan sebelum Parliament of Religions dimulai. Uang yang saya bawa sedikit, dan dengan cepat habis. Musim dingin mendekat, dan saya hanya memiliki pakaian musim panas yang tipis. Saya tidak tahu harus berbuat apa di iklim yang dingin dan suram itu, sebab apabila saya pergi mengemis di jalan-jalan, akibatnya saya akan dijebloskan ke penjara. Di sanalah saya, dengan beberapa dolar terakhir di saku saya. Saya mengirim telegram kepada para sahabat saya di Madras. Hal ini sampai diketahui oleh para Theosof, dan salah seorang dari mereka menulis, "Sekarang setan itu akan mati; Tuhan memberkati kita semua." Apakah itu cara membuka jalan bagi saya? Saya tidak akan menyebut hal ini sekarang; tetapi karena rekan-rekan sebangsa saya ingin mengetahuinya, hal itu harus keluar. Selama tiga tahun saya tidak membuka mulut tentang hal-hal ini; diam telah menjadi semboyan saya; tetapi hari ini hal itu telah keluar. Itu belumlah semuanya. Saya bertemu beberapa Theosof dalam Parliament of Religions, dan saya ingin berbicara dan bergaul dengan mereka. Saya ingat tatapan penuh penghinaan yang ada di wajah mereka, seolah-olah berkata, "Apa urusan cacing ini berada di sini di tengah-tengah para dewa?" Setelah saya memperoleh nama dan ketenaran di Parliament of Religions, datanglah pekerjaan yang luar biasa banyak bagi saya; tetapi pada setiap kesempatan para Theosof berupaya menjatuhkan saya. Para Theosof dinasihatkan agar tidak datang dan mendengarkan ceramah saya, sebab dengan demikian mereka akan kehilangan seluruh simpati Society, karena hukum bagian esoteris menyatakan bahwa setiap orang yang bergabung dengan bagian esoteris itu harus menerima ajaran dari Kuthumi dan Moria, tentu saja melalui wakil-wakil mereka yang kasatmata — Mr. Judge dan Ny. Besant — sehingga, bergabung dengan bagian esoteris berarti menyerahkan kemerdekaannya sendiri. Tentu saya tidak dapat melakukan hal semacam itu, dan saya pun tidak dapat menyebut Hindu siapa pun yang melakukan hal semacam itu. Saya memiliki rasa hormat besar kepada Mr. Judge. Ia seorang yang patut dihargai, terbuka, jujur, sederhana, dan ia adalah wakil terbaik yang pernah dimiliki para Theosof. Saya tidak berhak mengkritik perselisihan antara dia dan Ny. Besant ketika masing-masing mengaku bahwa Mahatma-nya benar. Dan bagian anehnya adalah bahwa Mahatma yang sama diakui oleh keduanya. Tuhan mengetahui kebenarannya: Dialah Hakim, dan tidak seorang pun berhak menjatuhkan vonis ketika neraca seimbang. Begitulah cara mereka mempersiapkan jalan bagi saya di seluruh Amerika!

Mereka bergabung dengan oposisi yang lain — para misionaris Kristen. Tidak ada satu dusta hitam pun yang dapat dibayangkan yang tidak direka-reka oleh para misionaris itu terhadap saya. Mereka mencemarkan watak saya dari kota ke kota, meskipun saya miskin dan tanpa sahabat di negeri asing. Mereka berupaya mengusir saya dari setiap rumah dan menjadikan setiap orang yang berteman dengan saya sebagai musuh saya. Mereka berusaha membuat saya kelaparan; dan saya menyesal mengatakan bahwa salah seorang sebangsa saya turut ambil bagian melawan saya dalam hal ini. Ia adalah pemimpin sebuah partai pembaruan di India. Tuan ini setiap hari menyatakan, "Kristus telah datang ke India." Apakah seperti inikah cara Kristus datang ke India? Apakah seperti inikah cara membaharui India? Dan tuan ini telah saya kenal sejak masa kanak-kanak; ia adalah salah seorang sahabat terbaik saya; ketika saya melihatnya — saya sudah lama tidak bertemu dengan rekan sebangsa — saya begitu bersukacita, dan inilah perlakuan yang saya terima darinya. Pada hari Parliament menyambut saya dengan sorak-sorai, pada hari saya menjadi populer di Chicago, sejak hari itu nadanya berubah; dan secara tersembunyi, ia berupaya melakukan segala yang dapat ia lakukan untuk mencelakakan saya. Apakah seperti itu cara Kristus akan datang ke India? Apakah itu pelajaran yang ia peroleh setelah duduk selama dua puluh tahun di kaki Kristus? Para pembaru besar kita menyatakan bahwa kekristenan dan kekuasaan Kristen akan mengangkat rakyat India. Apakah seperti itu caranya? Sungguh, jika tuan itu menjadi contoh, hal itu tidak tampak terlalu menjanjikan.

Satu kata lagi: saya membaca dalam corong para pembaru sosial bahwa saya disebut sebagai seorang Sudra dan dipertanyakan apa hak seorang Sudra menjadi Sanyasin. Terhadap hal itu saya menjawab: saya menelusuri silsilah keturunan saya hingga kepada seseorang yang di kakinya setiap Brahmana meletakkan bunga ketika mengucapkan kata-kata — यमाय धर्मराजाय चित्रगुप्ताय वै नमः — dan keturunan-keturunannya adalah Ksatria yang paling murni. Jika Anda mempercayai mitologi Anda atau kitab-kitab Pauranika Anda, biarlah para pembaru itu mengetahui bahwa kasta saya, selain berbagai jasa lain di masa lalu, telah memerintah separuh India selama berabad-abad. Jika kasta saya dikesampingkan dari pertimbangan, apa yang akan tersisa dari peradaban India masa kini? Hanya di Benggala saja, darah saya telah memberi mereka filsuf terbesar, penyair terbesar, sejarawan terbesar, arkeolog terbesar, pengkhotbah agama terbesar; darah saya telah memberi India ilmuwan modernnya yang terbesar. Para pencela ini seharusnya mengetahui sedikit tentang sejarah kita sendiri, dan mempelajari ketiga kasta kita, dan belajar bahwa Brahmana, Ksatria, dan Waisya memiliki hak yang sama untuk menjadi Sanyasin: ketiga Traiwarnika memiliki hak yang sama atas Weda. Ini hanya sekadar selingan. Saya hanya menyinggungnya, tetapi saya sama sekali tidak tersinggung jika mereka menyebut saya Sudra. Itu akan menjadi sedikit penebusan atas kezaliman leluhur saya terhadap kaum miskin. Jika saya seorang Pariah, saya akan lebih bersukacita lagi, sebab saya adalah murid seorang yang — Brahmana di antara para Brahmana — ingin membersihkan rumah seorang Pariah. Tentu saja Pariah itu tidak akan mengizinkannya; bagaimana mungkin ia membiarkan Brahmana Sanyasin ini datang dan membersihkan rumahnya! Maka orang ini bangun di tengah malam buta, secara diam-diam memasuki rumah Pariah itu, membersihkan jambannya, dan dengan rambutnya yang panjang ia mengelap tempat itu, dan itu ia lakukan hari demi hari agar ia dapat menjadikan dirinya pelayan bagi semua orang. Saya menyunggi kaki orang itu di atas kepala saya; dialah pahlawan saya; kehidupan pahlawan itulah yang akan saya coba teladani. Dengan menjadi pelayan bagi semua, seorang Hindu berupaya mengangkat dirinya sendiri. Begitulah seharusnya orang Hindu mengangkat massa, dan bukan dengan mencari-cari pengaruh asing. Dua puluh tahun peradaban Barat membawa ke benak saya gambaran seorang yang ingin membiarkan sahabatnya sendiri kelaparan di negeri asing, semata-mata karena sahabat ini populer, semata-mata karena ia mengira sahabat ini menghalanginya mencari uang. Dan yang satunya lagi adalah gambaran apa yang akan dilakukan oleh Hinduisme yang sejati dan ortodoks di rumahnya sendiri. Biarlah seorang pun di antara para pembaru kita memunculkan kehidupan semacam itu, siap mengabdi bahkan kepada seorang Pariah, dan barulah saya akan duduk di kakinya dan belajar, bukan sebelum itu. Satu ons praktik bernilai dua puluh ribu ton omongan besar.

Sekarang saya beralih ke perkumpulan-perkumpulan pembaruan di Madras. Mereka telah bersikap sangat baik kepada saya. Mereka telah memberi saya kata-kata yang sangat ramah, dan mereka telah menunjukkan, dan saya sepenuh hati sependapat dengan mereka, bahwa ada perbedaan antara para pembaru Benggala dan para pembaru Madras. Banyak di antara Anda akan mengingat apa yang sering kali saya katakan kepada Anda, bahwa Madras saat ini berada dalam keadaan yang sangat indah. Ia belum terjebak ke dalam permainan aksi dan reaksi sebagaimana Benggala. Di sini terdapat kemajuan yang mantap dan perlahan di seluruh bidang; di sini ada pertumbuhan, dan bukan reaksi. Dalam banyak kasus, sampai batas tertentu, ada kebangkitan kembali di Benggala; tetapi di Madras itu bukanlah kebangkitan kembali, melainkan pertumbuhan, suatu pertumbuhan yang alami. Karena itu, saya sepenuhnya sependapat dengan apa yang ditunjukkan oleh para pembaru sebagai perbedaan antara kedua bangsa itu; namun ada satu perbedaan yang tidak mereka pahami. Saya khawatir, beberapa dari perkumpulan ini mencoba mengintimidasi saya untuk bergabung dengan mereka. Itu adalah hal yang aneh untuk mereka coba. Seseorang yang telah berhadapan muka dengan kelaparan selama empat belas tahun hidupnya, yang tidak tahu di mana ia akan mendapat makan keesokan harinya dan di mana ia akan tidur, tidak dapat diintimidasi dengan begitu mudah. Seseorang yang hampir tanpa pakaian, yang berani hidup di tempat termometer menunjuk tiga puluh derajat di bawah nol, tanpa mengetahui dari mana makan berikutnya akan datang, tidak dapat diintimidasi semudah itu di India. Inilah hal pertama yang akan saya katakan kepada mereka — saya memiliki sedikit kemauan saya sendiri. Saya juga memiliki sedikit pengalaman saya sendiri; dan saya memiliki pesan untuk dunia yang akan saya sampaikan tanpa rasa takut dan tanpa kepedulian terhadap masa depan. Kepada para pembaru saya akan menunjukkan bahwa saya adalah pembaru yang lebih besar daripada siapa pun di antara mereka. Mereka hanya ingin memperbaiki sedikit-sedikit. Saya menginginkan pembaruan menyeluruh dari akar hingga ranting. Tempat kami berbeda adalah pada metodenya. Metode mereka adalah metode penghancuran, metode saya adalah metode pembangunan. Saya tidak percaya pada pembaruan; saya percaya pada pertumbuhan. Saya tidak berani menempatkan diri saya pada posisi Tuhan dan mendiktekan kepada masyarakat kita, "Ke arah ini engkau harus bergerak dan bukan ke arah itu." Saya hanya ingin menjadi seperti bajing dalam pembangunan jembatan Rama, yang sangat puas dapat meletakkan di atas jembatan itu sumbangan kecilnya berupa debu pasir. Itulah kedudukan saya. Mesin nasional yang menakjubkan ini telah bekerja selama berabad-abad, sungai kehidupan nasional yang menakjubkan ini sedang mengalir di hadapan kita. Siapa yang tahu, dan siapa yang berani mengatakan apakah ia baik dan bagaimana ia harus bergerak? Ribuan keadaan berkerumun di sekitarnya, memberinya dorongan khusus, membuatnya lamban pada suatu saat dan lebih cepat pada saat yang lain. Siapa yang berani memerintahkan geraknya? Tugas kita hanyalah bekerja, sebagaimana Gita berkata, tanpa mengharap hasil. Berilah kehidupan nasional bahan bakar yang dibutuhkannya, tetapi pertumbuhan adalah miliknya sendiri; tidak seorang pun dapat mendiktekan pertumbuhannya kepadanya. Keburukan-keburukan berlimpah dalam masyarakat kita, tetapi demikian pula keburukan-keburukan ada dalam setiap masyarakat lain. Di sini tanah kadang-kadang basah oleh air mata para janda; di sana di Barat, udara terkoyak oleh keluh kesah orang-orang yang tidak menikah. Di sini kemiskinan adalah laknat besar dalam kehidupan; di sana kejemuan hidup akibat kemewahan adalah laknat besar yang menimpa bangsa itu. Di sini orang ingin bunuh diri karena tidak ada yang dimakan; di sana orang bunuh diri karena terlalu banyak yang harus dimakan. Keburukan ada di mana-mana; ia seperti rematik kronis. Usir ia dari kaki, ia pergi ke kepala; usir ia dari sana, ia pergi ke tempat lain. Itu adalah persoalan mengejarnya dari satu tempat ke tempat lain; itu saja. Sungguh, anak-anakku, mencoba mengobati keburukan bukanlah cara yang sejati. Filsafat kita mengajarkan bahwa keburukan dan kebaikan selalu terangkai abadi, bagian muka dan bagian belakang dari mata uang yang sama. Jika Anda memiliki yang satu, Anda pasti memiliki yang lain; sebuah gelombang di samudra mesti dibayar dengan lekukan di tempat lain. Bahkan, seluruh kehidupan adalah keburukan. Tidak ada napas yang dapat dihirup tanpa membunuh sesuatu yang lain; tidak segigit makanan pun dapat disantap tanpa merampas sesuatu dari orang lain. Inilah hukumnya; inilah filsafatnya. Oleh karena itu, satu-satunya hal yang dapat kita lakukan adalah memahami bahwa segala pekerjaan melawan keburukan ini lebih bersifat subjektif daripada objektif. Pekerjaan melawan keburukan lebih bersifat edukatif daripada aktual, betapa pun besarnya kita berbicara. Inilah, pertama-tama, gagasan tentang pekerjaan melawan keburukan; dan itu seharusnya membuat kita lebih tenang, itu seharusnya mengeluarkan fanatisme dari darah kita. Sejarah dunia mengajarkan kepada kita bahwa di mana pun ada pembaruan-pembaruan yang fanatik, satu-satunya hasilnya adalah bahwa mereka menggagalkan tujuan mereka sendiri. Tidak ada pergolakan yang lebih besar bagi penegakan hak dan kebebasan yang dapat dibayangkan selain perang penghapusan perbudakan di Amerika. Anda semua mengetahuinya. Dan apa hasilnya? Para budak hari ini seratus kali lebih buruk keadaannya daripada sebelum penghapusan itu. Sebelum penghapusan, orang-orang negro yang malang ini adalah milik seseorang, dan, sebagai milik, mereka harus dirawat agar tidak rusak nilainya. Hari ini mereka bukan milik siapa-siapa. Hidup mereka tidak ada nilainya; mereka dibakar hidup-hidup hanya dengan dalih semata. Mereka ditembak mati tanpa adanya hukum bagi para pembunuhnya; sebab mereka adalah orang negro, mereka bukan manusia, bahkan bukan pula binatang; dan itulah akibat dari pelenyapan keburukan yang penuh kekerasan melalui hukum atau melalui fanatisme. Demikianlah kesaksian sejarah terhadap setiap gerakan fanatik, bahkan untuk berbuat baik sekalipun. Saya telah melihatnya. Pengalaman saya sendiri telah mengajarkannya kepada saya. Oleh karena itu, saya tidak dapat bergabung dengan satu pun dari perkumpulan-perkumpulan yang gemar mencela ini. Mengapa mencela? Ada keburukan dalam setiap masyarakat; semua orang mengetahuinya. Setiap anak hari ini mengetahuinya; ia dapat berdiri di atas mimbar dan memberi kita pidato yang menggebu-gebu tentang keburukan yang dahsyat dalam masyarakat Hindu. Setiap orang asing yang tidak terdidik yang datang ke sini untuk berkeliling dunia memperoleh pandangan India yang berkelebat dari atas kereta api dan berceramah dengan amat alim tentang keburukan yang dahsyat di India. Kami mengakui bahwa ada keburukan. Setiap orang dapat menunjukkan apa itu keburukan, tetapi ia adalah sahabat umat manusia yang menemukan jalan keluar dari kesulitan. Seperti anak yang tenggelam dan sang filsuf — ketika sang filsuf sedang menceramahinya, anak itu berteriak, "Tolong angkat aku dari air ini dahulu" — demikian pula rakyat kita berseru: "Kami telah cukup mendapatkan ceramah, cukup banyak perkumpulan, cukup banyak surat kabar; di manakah orang yang akan mengulurkan tangan untuk menarik kami keluar? Di manakah orang yang benar-benar mencintai kami? Di manakah orang yang memiliki simpati kepada kami?" Sungguh, orang itulah yang dibutuhkan. Di situlah saya sepenuhnya berbeda dari gerakan-gerakan pembaruan ini. Selama seratus tahun mereka telah berada di sini. Kebaikan apa yang telah dilakukan kecuali penciptaan kesusastraan yang paling penuh cercaan, yang paling penuh celaan? Andai saja kesusastraan itu tidak pernah ada! Mereka telah mengkritik, mencela, mencaci kaum ortodoks, sampai kaum ortodoks meniru nada mereka dan membalas mereka dengan mata uang yang sama; dan hasilnya adalah penciptaan kesusastraan dalam setiap bahasa daerah yang menjadi aib bagi bangsa, aib bagi negeri ini. Apakah inikah pembaruan? Apakah inikah cara memimpin bangsa menuju kemuliaan? Salah siapa ini?

Lalu ada pertimbangan besar yang lain. Di sini di India, kita selalu diperintah oleh raja-raja; raja-rajalah yang telah membuat semua hukum kita. Sekarang raja-raja telah pergi, dan tidak ada lagi yang tersisa untuk membuat suatu gerakan. Pemerintah tidak berani; ia harus menyesuaikan caranya sesuai dengan pertumbuhan opini publik. Memerlukan waktu, waktu yang cukup lama, untuk membentuk opini publik yang sehat dan kuat yang akan memecahkan permasalahannya sendiri; dan dalam masa peralihan itu kita harus menunggu. Seluruh persoalan pembaruan sosial, oleh karena itu, dapat dirangkum menjadi: di manakah mereka yang menginginkan pembaruan? Bentuklah mereka terlebih dahulu. Di manakah rakyatnya? Tirani sebuah minoritas adalah tirani terburuk yang pernah dilihat dunia. Beberapa orang yang berpikir bahwa hal-hal tertentu itu buruk tidak akan membuat sebuah bangsa bergerak. Mengapa bangsa ini tidak bergerak? Pertama-tama didiklah bangsa, ciptakan badan legislatif Anda, dan kemudian hukum akan muncul. Pertama-tama ciptakan kekuatan itu, kewenangan yang darinya hukum akan terlahir. Raja-raja telah pergi; di manakah kewenangan baru itu, kekuasaan baru dari rakyat itu? Munculkanlah. Karena itu, bahkan untuk pembaruan sosial pun, kewajiban pertama adalah mendidik rakyat, dan Anda harus menunggu hingga waktu itu tiba. Sebagian besar pembaruan yang telah diserukan selama abad yang lalu hanyalah hiasan belaka. Setiap satu dari pembaruan-pembaruan ini hanya menyentuh dua kasta pertama, dan tidak yang lainnya. Persoalan pernikahan janda tidak akan menyentuh tujuh puluh persen perempuan India, dan semua persoalan semacam itu hanya sampai kepada kasta-kasta tinggi rakyat India yang terdidik, perlu Anda perhatikan, dengan biaya dari rakyat banyak. Setiap upaya telah dicurahkan untuk membersihkan rumah mereka sendiri. Tetapi itu bukanlah pembaruan. Anda harus turun ke landasan persoalannya, hingga ke akar permasalahan yang paling mendasar. Itulah yang saya sebut pembaruan radikal. Tempatkan api di sana dan biarlah api itu menyala ke atas dan menjadikan satu bangsa India. Dan pemecahan persoalan ini tidaklah begitu mudah, sebab ia merupakan persoalan yang besar dan luas. Janganlah tergesa-gesa, persoalan ini telah dikenal selama beberapa ratus tahun.

Hari ini sedang menjadi tren untuk berbicara tentang Buddhisme dan agnostisisme Buddhis, terutama di Selatan. Sedikit sekali mereka membayangkan bahwa kemerosotan yang ada pada kita hari ini adalah peninggalan dari Buddhisme. Inilah warisan yang ditinggalkan oleh Buddhisme kepada kita. Anda membaca dalam buku-buku yang ditulis oleh orang-orang yang tidak pernah mempelajari naik dan jatuhnya Buddhisme bahwa penyebaran Buddhisme disebabkan oleh etika yang menakjubkan dan kepribadian yang menakjubkan dari Gautama Buddha. Saya memiliki segala rasa hormat dan penghormatan kepada Sang Buddha, tetapi camkanlah kata-kata saya, penyebaran Buddhisme lebih sedikit disebabkan oleh doktrin dan kepribadian sang pengkhotbah agung itu, dan lebih disebabkan oleh kuil-kuil yang dibangun, arca-arca yang didirikan, dan upacara-upacara megah yang dipertunjukkan di hadapan bangsa. Demikianlah Buddhisme berkembang. Tungku-tungku api kecil di dalam rumah-rumah tempat orang-orang menuangkan persembahan mereka tidaklah cukup kuat untuk bertahan terhadap kuil-kuil dan upacara-upacara yang megah ini; tetapi belakangan seluruhnya merosot. Ia menjadi tumpukan kerusakan moral yang tidak dapat saya bicarakan di hadapan hadirin sekalian; tetapi mereka yang ingin mengetahuinya dapat melihat sedikit darinya di kuil-kuil besar yang penuh dengan pahatan di India Selatan; dan inilah seluruh warisan yang kita peroleh dari para penganut Buddha.

Kemudian muncullah pembaru besar Sankaracarya dan para pengikutnya, dan selama ratusan tahun ini, sejak zamannya hingga hari ini, telah berlangsung pengembalian secara perlahan dari massa India kepada kemurnian semula dari agama Wedantik. Para pembaru ini mengetahui benar-benar keburukan yang ada, namun mereka tidak mencela. Mereka tidak berkata, "Segala yang Anda miliki adalah salah, dan Anda harus membuangnya." Tidak pernah bisa demikian. Hari ini saya membaca bahwa sahabat saya Dr. Barrows mengatakan bahwa dalam tiga ratus tahun Kekristenan menumbangkan pengaruh agama Romawi dan Yunani. Itu bukanlah perkataan seseorang yang telah melihat Eropa, Yunani, dan Roma. Pengaruh agama Romawi dan Yunani semuanya masih ada di sana, bahkan di negeri-negeri Protestan, hanya dengan nama yang diubah — dewa-dewa lama dibaptis ulang dengan cara yang baru. Mereka mengubah nama-namanya; para dewi menjadi Maria-Maria dan para dewa menjadi para santo, dan upacara-upacaranya menjadi baru; bahkan gelar lama Pontifex Maximus pun masih ada. Jadi, perubahan-perubahan mendadak tidaklah mungkin, dan Sankaracarya mengetahuinya. Demikian pula Ramanuja. Satu-satunya jalan yang tersisa bagi mereka adalah dengan perlahan mengangkat agama yang ada ke ideal yang tertinggi. Andai mereka berupaya menerapkan metode yang lain, mereka akan menjadi orang-orang munafik, sebab doktrin paling mendasar dari agama mereka adalah evolusi, yakni jiwa yang menuju tujuan tertinggi melalui segala tahap dan fase yang berbeda-beda ini, yang oleh karenanya bersifat perlu dan menolong. Dan siapa yang berani mencelanya?

Sudah menjadi ucapan yang lumrah bahwa penyembahan berhala itu salah, dan setiap orang menelannya pada masa sekarang tanpa mempertanyakannya. Saya pun pernah berpikir demikian, dan sebagai hukuman atas itu saya harus belajar pelajaran saya dengan duduk di kaki seseorang yang merealisasikan segalanya melalui arca-arca; saya merujuk kepada Ramakrishna Paramahamsa. Apabila Ramakrishna Paramahamsa semacam itu dihasilkan oleh penyembahan arca, manakah yang akan Anda pilih — kredo sang pembaru ataukah berapa pun banyaknya arca? Saya menginginkan jawaban. Ambillah seribu arca lagi jika dengan demikian Anda dapat menghasilkan Ramakrishna Paramahamsa melalui penyembahan arca, dan semoga Tuhan menyertai langkah Anda! Hasilkanlah pribadi-pribadi mulia semacam itu dengan cara apa pun yang dapat Anda lakukan. Namun penyembahan berhala dicela! Mengapa? Tidak ada yang tahu. Karena beberapa ratus tahun yang lalu seseorang yang berdarah Yahudi kebetulan mencelanya? Yakni, ia kebetulan mencela arca-arca milik siapa pun selain arca-arcanya sendiri. Jika Tuhan digambarkan dalam wujud yang indah atau wujud simbolis apa pun, kata orang Yahudi itu, hal itu sangatlah buruk; itu adalah dosa. Tetapi apabila Ia digambarkan dalam wujud sebuah peti, dengan dua malaikat duduk di kedua sisinya, dan awan menggantung di atasnya, itulah yang mahasuci. Jika Tuhan datang dalam wujud burung merpati, itu suci. Tetapi apabila Ia datang dalam wujud seekor sapi, itu adalah takhayul kafir; celalah! Begitulah cara dunia ini berjalan. Itulah sebabnya sang penyair berkata, "Betapa bodohnya kita manusia ini!" Betapa sulitnya melihat melalui mata satu sama lain, dan itulah laknat bagi kemanusiaan. Itulah dasar dari kebencian dan kecemburuan, dari pertengkaran dan perkelahian. Anak-anak muda, bayi-bayi berkumis, yang belum pernah keluar dari Madras, berdiri tegak dan ingin mendiktekan hukum kepada tiga ratus juta orang dengan ribuan tradisi yang berdiri di belakang mereka! Tidakkah Anda merasa malu? Mundurlah dari penghujatan semacam itu dan pelajarilah pelajaran-pelajaran Anda terlebih dahulu! Anak-anak muda yang tidak hormat, semata-mata karena Anda dapat mencoret-coret beberapa baris di atas kertas dan menemukan orang dungu yang mau menerbitkannya untuk Anda, Anda mengira Anda adalah para pendidik dunia, Anda mengira Anda adalah opini publik India! Apakah memang demikian? Inilah yang harus saya katakan kepada para pembaru sosial Madras bahwa saya memiliki rasa hormat dan kasih yang sebesar-besarnya kepada mereka. Saya mencintai mereka karena hati mereka yang agung dan kecintaan mereka kepada negerinya, kepada kaum miskin, kepada kaum tertindas. Tetapi apa yang akan saya katakan kepada mereka dengan kasih seorang saudara adalah bahwa metode mereka tidaklah tepat; metode itu telah dicoba selama seratus tahun dan gagal. Marilah kita mencoba beberapa metode yang baru.

Pernahkah India kekurangan pembaru? Apakah Anda membaca sejarah India? Siapakah Ramanuja? Siapakah Sankara? Siapakah Nanak? Siapakah Caitanya? Siapakah Kabir? Siapakah Dadu? Siapakah semua pengkhotbah agung ini, yang satu mengikuti yang lain, suatu galaksi bintang-bintang besarnya yang utama? Tidakkah Ramanuja merasakan iba bagi kaum kelas bawah? Tidakkah ia berupaya sepanjang hidupnya untuk menerima bahkan Pariah ke dalam komunitasnya? Tidakkah ia mencoba menerima bahkan kaum Muhammadan ke dalam jemaahnya sendiri? Tidakkah Nanak bermusyawarah dengan orang-orang Hindu dan kaum Muhammadan, dan mencoba mewujudkan suatu keadaan baru? Mereka semua telah berupaya, dan pekerjaan mereka masih berlanjut. Perbedaannya begini. Mereka tidak memiliki gembar-gembor para pembaru hari ini; mereka tidak memiliki kutukan di bibirnya seperti para pembaru modern; bibir mereka mengucapkan hanya berkat. Mereka tidak pernah mencela. Mereka berkata kepada rakyat bahwa bangsa ini harus terus tumbuh. Mereka melihat ke belakang dan berkata, "Wahai orang Hindu, apa yang telah Anda lakukan itu baik, tetapi, saudara-saudaraku, marilah kita berbuat lebih baik." Mereka tidak berkata, "Anda telah jahat, sekarang marilah kita menjadi baik." Mereka berkata, "Anda telah baik, tetapi marilah sekarang kita menjadi lebih baik lagi." Itu menjadikan perbedaan sebesar dunia. Kita harus tumbuh sesuai dengan sifat kita. Sia-sia upaya untuk menempuh garis-garis tindakan yang telah dicangkokkan oleh masyarakat asing kepada kita; itu mustahil. Puji syukur kepada Tuhan, bahwa itu mustahil, bahwa kita tidak dapat dipuntir dan disiksa menjadi bentuk bangsa lain. Saya tidak mencela lembaga-lembaga bangsa lain; lembaga-lembaga itu baik bagi mereka, tetapi tidak bagi kita. Apa yang menjadi daging bagi mereka mungkin menjadi racun bagi kita. Inilah pelajaran pertama yang harus dipelajari. Dengan ilmu pengetahuan lain, lembaga lain, dan tradisi lain di belakang mereka, mereka telah memiliki sistem mereka yang sekarang. Kita, dengan tradisi kita, dengan ribuan tahun karma di belakang kita, secara alami hanya dapat mengikuti kecenderungan kita sendiri, berjalan di jalur-jalur kita sendiri; dan itulah yang harus kita lakukan.

Lalu apakah rencana saya? Rencana saya adalah mengikuti gagasan para Guru agung zaman dahulu. Saya telah mempelajari karya mereka, dan dianugerahkan kepada saya untuk menemukan garis tindakan yang mereka tempuh. Mereka adalah para pencipta agung masyarakat. Mereka adalah pemberi agung kekuatan, kemurnian, dan kehidupan. Mereka melakukan pekerjaan yang sungguh menakjubkan. Kita pun harus melakukan pekerjaan yang sungguh menakjubkan. Keadaan telah sedikit berubah, sehingga garis tindakan harus sedikit disesuaikan, dan itu saja. Saya melihat bahwa setiap bangsa, sebagaimana setiap individu, memiliki satu tema dalam kehidupan ini, yang menjadi pusatnya, nada utama yang di sekelilingnya setiap nada lain hadir untuk membentuk harmoni. Pada satu bangsa, kekuasaan politik adalah vitalitasnya, seperti di Inggris; pada bangsa lain, kehidupan kesenian; dan seterusnya. Di India, kehidupan religius membentuk pusat, nada kunci dari seluruh musik kehidupan nasional; dan jika suatu bangsa berusaha melepaskan vitalitas nasionalnya — arah yang telah menjadi miliknya melalui pewarisan berabad-abad — bangsa itu mati apabila ia berhasil dalam usahanya. Oleh karena itu, jika Anda berhasil dalam usaha melepaskan agama Anda dan menggantinya dengan politik, atau kemasyarakatan, atau hal lain apa pun sebagai pusat Anda, sebagai vitalitas kehidupan nasional Anda, akibatnya Anda akan punah. Untuk mencegah hal ini, Anda harus membuat segala sesuatu bekerja melalui vitalitas agama Anda. Biarlah seluruh saraf Anda bergetar melalui tulang punggung agama Anda. Saya telah melihat bahwa saya tidak dapat memberitakan bahkan agama kepada orang Amerika tanpa menunjukkan efek praktisnya pada kehidupan sosial. Saya tidak dapat memberitakan agama di Inggris tanpa menunjukkan perubahan politik luar biasa yang akan dibawa oleh Vedanta (tradisi filsafat Vedanta). Maka, di India, reformasi sosial harus diberitakan dengan menunjukkan betapa lebih spiritualnya kehidupan yang akan dibawa oleh sistem baru itu; dan politik harus diberitakan dengan menunjukkan betapa banyaknya hal itu akan memperbaiki satu hal yang diinginkan bangsa ini — spiritualitasnya. Setiap orang harus membuat pilihannya sendiri; demikian pula setiap bangsa. Kita telah membuat pilihan kita berabad-abad yang lalu, dan kita harus berpegang teguh padanya. Lagi pula, pilihan itu bukanlah pilihan yang buruk. Apakah pilihan yang buruk di dunia ini untuk memikirkan bukan tentang materi melainkan tentang roh, bukan tentang manusia melainkan tentang Tuhan? Iman yang mendalam pada dunia lain itu, kebencian yang mendalam terhadap dunia ini, kekuatan pelepasan yang mendalam itu, iman yang mendalam pada Tuhan, iman yang mendalam pada jiwa yang abadi, semuanya ada pada Anda. Saya menantang siapa pun untuk melepaskannya. Anda tidak akan mampu. Anda boleh berusaha menipu saya dengan menjadi penganut materialisme, dengan berbicara materialisme selama beberapa bulan, tetapi saya tahu siapa Anda; jika saya menggandeng tangan Anda, Anda akan kembali menjadi pengikut Tuhan yang baik sebagaimana pernah dilahirkan. Bagaimana Anda dapat mengubah kodrat Anda?

Maka, setiap perbaikan di India terlebih dahulu menuntut pergolakan dalam agama. Sebelum membanjiri India dengan gagasan sosialistis atau politis, banjirilah tanah ini terlebih dahulu dengan gagasan spiritual. Pekerjaan pertama yang menuntut perhatian kita adalah bahwa kebenaran-kebenaran paling menakjubkan yang tersimpan dalam Upanishad (risalah filsafat penutup Veda) kita, dalam kitab suci kita, dalam Purana (kitab-kitab purwa) kita, harus dikeluarkan dari buku, dikeluarkan dari biara, dikeluarkan dari hutan, dikeluarkan dari kepemilikan kelompok orang tertentu, dan disebarluaskan ke seluruh negeri, sehingga kebenaran- kebenaran ini dapat menjalar bagaikan api di seluruh negeri dari utara ke selatan dan dari timur ke barat, dari Himalaya hingga Comorin, dari Sindh hingga Brahmaputra. Setiap orang harus mengetahuinya, karena dikatakan, "Hal ini pertama-tama harus didengar, lalu direnungkan, lalu dijadikan bahan meditasi." Biarlah rakyat mendengar terlebih dahulu, dan siapa pun yang membantu agar rakyat dapat mendengar tentang kebenaran- kebenaran agung dalam kitab suci mereka sendiri tidak dapat menghimpun karma (hukum tindakan dan akibatnya) yang lebih baik bagi dirinya pada hari ini. Vyasa kita berkata, "Pada Kali Yuga (zaman kegelapan) hanya tersisa satu karma. Korban-korban suci dan tapasya (pertapaan keras) yang luar biasa kini tiada gunanya. Dari karma, satu hal tersisa, yaitu karma memberi." Dan dari segala pemberian itu, pemberian spiritualitas dan pengetahuan spiritual adalah yang tertinggi; pemberian berikutnya adalah pemberian pengetahuan duniawi; berikutnya adalah pemberian kehidupan; dan yang keempat adalah pemberian makanan. Lihatlah ras yang luar biasa dermawan ini; lihatlah jumlah pemberian yang dilakukan di negeri yang miskin, yang sangat miskin ini; lihatlah keramahan yang membuat seseorang dapat bepergian dari utara ke selatan, memperoleh yang terbaik di negeri ini, selalu diperlakukan oleh setiap orang seolah-olah ia seorang sahabat, dan tempat tidak ada pengemis kelaparan selama masih ada sepotong roti di mana pun!

Di negeri yang penuh kedermawanan ini, marilah kita mengangkat energi kedermawanan yang pertama, yakni penyebaran pengetahuan spiritual. Dan penyebaran itu tidak boleh dibatasi dalam batas-batas India saja; ia harus menjangkau seluruh dunia. Inilah yang telah menjadi kebiasaan. Mereka yang mengatakan kepada Anda bahwa pemikiran India tidak pernah keluar dari India, mereka yang mengatakan kepada Anda bahwa saya adalah sannyasin (pertapa pelepas dunia) pertama yang pergi ke negeri asing untuk memberitakan, tidaklah mengetahui sejarah bangsanya sendiri. Berulang kali fenomena ini terjadi. Setiap kali dunia membutuhkannya, banjir spiritualitas yang tak henti-hentinya ini meluap dan membanjiri dunia. Pemberian pengetahuan politik dapat dilakukan dengan tiupan terompet dan derap pasukan. Pemberian pengetahuan duniawi dan pengetahuan kemasyarakatan dapat dilakukan dengan api dan pedang. Tetapi pengetahuan spiritual hanya dapat diberikan dalam keheningan, seperti embun yang turun tanpa terlihat dan tanpa terdengar, namun membuat berkembangnya bunga mawar dalam jumlah yang melimpah. Inilah pemberian India kepada dunia berulang kali. Setiap kali muncul ras penakluk yang agung, yang menyatukan bangsa-bangsa di dunia, yang membuka jalan dan jalur transit, dengan segera India bangkit dan memberikan kuotanya berupa kekuatan spiritual kepada jumlah total kemajuan dunia. Hal ini terjadi berabad-abad sebelum Buddha lahir, dan sisa-sisanya masih tertinggal di Tiongkok, di Asia Kecil, dan di jantung Kepulauan Melayu. Demikian pula halnya ketika penakluk besar Yunani menyatukan keempat penjuru dunia yang dikenal pada zaman itu; saat itu pula spiritualitas India melesat keluar, dan peradaban Barat yang dibanggakan itu hanyalah sisa-sisa dari banjir tersebut. Kini kesempatan yang sama telah datang kembali; kekuatan Inggris telah menyatukan bangsa- bangsa di dunia seperti yang belum pernah terjadi sebelumnya. Jalan-jalan dan saluran-saluran komunikasi Inggris merentang dari satu ujung dunia ke ujung lainnya. Berkat kejeniusan Inggris, dunia hari ini telah terhubung dengan cara yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Hari ini telah terbentuk pusat-pusat perdagangan yang belum pernah ada sebelumnya dalam sejarah umat manusia. Dan dengan segera, baik secara sadar maupun tidak sadar, India bangkit dan mencurahkan pemberian spiritualitasnya; dan pemberian itu akan merentang melalui jalan-jalan ini hingga mencapai ujung-ujung dunia. Kepergian saya ke Amerika bukanlah perbuatan saya ataupun perbuatan Anda; melainkan Tuhan India yang membimbing nasibnya yang telah mengutus saya, dan akan mengutus ratusan orang seperti saya kepada segenap bangsa di dunia. Tidak ada kekuatan di bumi yang dapat menahannya. Hal ini pun harus dilakukan. Anda harus keluar untuk memberitakan agama Anda, memberitakannya kepada setiap bangsa di bawah matahari, memberitakannya kepada setiap umat. Inilah hal pertama yang harus dilakukan. Dan setelah memberitakan pengetahuan spiritual, bersama dengannya akan datang pengetahuan duniawi dan segala pengetahuan lain yang Anda inginkan; namun jika Anda berupaya memperoleh pengetahuan duniawi tanpa agama, saya katakan kepada Anda dengan terus terang, sia- sialah usaha Anda di India, ia tidak akan pernah mengakar pada rakyat. Bahkan gerakan Buddhis yang besar pun mengalami kegagalan, sebagian karena hal itu.

Oleh sebab itu, sahabat-sahabatku, rencana saya adalah mendirikan lembaga- lembaga di India, untuk melatih para pemuda kita sebagai pengkhotbah kebenaran-kebenaran kitab suci kita, di dalam India maupun di luar India. Orang, orang, itulah yang dibutuhkan: segala hal lainnya akan tersedia, tetapi pemuda-pemuda yang kuat, bersemangat, beriman, tulus sampai ke sumsum tulang, itulah yang dibutuhkan. Seratus orang seperti itu maka dunia akan terjungkir-balik. Kehendak lebih kuat daripada apa pun. Segala sesuatu harus tunduk di hadapan kehendak, sebab kehendak berasal dari Tuhan dan adalah Tuhan sendiri; kehendak yang murni dan kuat adalah mahakuasa. Tidakkah Anda memercayainya? Beritakanlah, beritakanlah kepada dunia kebenaran-kebenaran agung agama Anda; dunia menantikannya. Selama berabad-abad rakyat telah diajari teori-teori tentang kemerosotan. Mereka diberi tahu bahwa mereka bukan apa-apa. Massa di seluruh dunia diberi tahu bahwa mereka bukan manusia. Mereka telah diintimidasi selama berabad-abad hingga nyaris menjadi binatang. Tidak pernah mereka diizinkan mendengar tentang Atman (Diri sejati). Biarlah mereka mendengar tentang Atman — bahwa bahkan yang paling rendah dari yang rendah memiliki Atman di dalamnya, yang tidak pernah mati dan tidak pernah dilahirkan — Atman yang tidak dapat ditembus pedang, tidak dapat dibakar api, tidak dapat dikeringkan udara — abadi, tanpa awal maupun akhir, Yang Maha Murni, Mahakuasa, dan Mahahadir! Biarlah mereka memiliki iman pada diri sendiri, sebab apa yang membedakan antara orang Inggris dengan Anda? Biarlah mereka membicarakan agama dan kewajibannya dan sebagainya. Saya telah menemukan perbedaannya. Perbedaannya ada di sini, yakni orang Inggris percaya pada dirinya sendiri sedangkan Anda tidak. Ia percaya pada dirinya sebagai orang Inggris, dan ia dapat melakukan apa saja. Hal itu membangkitkan Tuhan di dalam dirinya, dan ia dapat melakukan apa pun yang ia kehendaki. Anda telah diberi tahu dan diajar bahwa Anda tidak dapat melakukan apa- apa, dan Anda menjadi ketiadaan setiap harinya. Yang kita butuhkan adalah kekuatan, maka percayalah pada diri Anda sendiri. Kita telah menjadi lemah, dan itulah sebabnya okultisme dan mistisisme datang kepada kita — hal-hal yang menjalar perlahan ini; mungkin di dalamnya terdapat kebenaran- kebenaran agung, tetapi semuanya itu nyaris menghancurkan kita. Kuatkanlah saraf Anda. Yang kita butuhkan adalah otot dari besi dan saraf dari baja. Kita telah cukup lama menangis. Tidak ada lagi tangisan, melainkan berdirilah di atas kaki Anda sendiri dan jadilah laki-laki. Agama yang kita butuhkan adalah agama yang membentuk manusia. Teori-teori yang kita butuhkan adalah teori yang membentuk manusia. Pendidikan yang kita butuhkan di segala penjuru adalah pendidikan yang membentuk manusia. Inilah ujian kebenaran — apa pun yang membuat Anda lemah secara fisik, intelektual, dan spiritual, tolaklah sebagai racun; tidak ada kehidupan di dalamnya, ia tidak mungkin benar. Kebenaran itu menguatkan. Kebenaran itu kemurnian, kebenaran itu pengetahuan menyeluruh; kebenaran harus menguatkan, harus mencerahkan, harus menyegarkan. Mistisisme ini, kendati mengandung sedikit butir kebenaran, pada umumnya melemahkan. Percayalah kepada saya, saya memiliki pengalaman seumur hidup mengenainya, dan satu- satunya kesimpulan yang saya tarik adalah bahwa hal itu melemahkan. Saya telah berkelana di seluruh India, menjelajahi hampir setiap goa di sini, dan tinggal di Himalaya. Saya mengenal orang-orang yang menghabiskan seluruh hidupnya di sana. Saya mencintai bangsa saya, saya tidak dapat melihat Anda merosot, melemah lebih jauh dari keadaan Anda saat ini. Oleh karena itu, demi Anda dan demi kebenaran, saya wajib berseru, "Tahan!" dan mengangkat suara saya menentang kemerosotan bangsa saya ini. Tinggalkanlah mistisisme yang melemahkan itu dan jadilah kuat. Kembalilah kepada Upanishad Anda — filsafat yang cemerlang, yang menguatkan, yang terang — dan jauhilah segala hal misterius itu, segala hal yang melemahkan itu. Pegang teguhlah filsafat ini; kebenaran-kebenaran terbesar adalah hal-hal yang paling sederhana di dunia, sesederhana keberadaan Anda sendiri. Kebenaran-kebenaran Upanishad ada di hadapan Anda. Pegang teguh, hiduplah sesuai dengannya, maka keselamatan India akan dekat.

Satu kata lagi dan saya selesai. Mereka berbicara tentang patriotisme. Saya memercayai patriotisme, dan saya pun memiliki cita-cita patriotisme saya sendiri. Tiga hal diperlukan untuk pencapaian besar. Pertama, rasakan dari hati. Apa yang ada pada intelek atau penalaran? Ia hanya bergerak beberapa langkah lalu berhenti. Tetapi melalui hati datanglah ilham. Cinta membuka pintu-pintu yang paling mustahil; cinta adalah gerbang menuju seluruh rahasia alam semesta. Maka rasakanlah, wahai calon reformis saya, wahai calon patriot saya! Apakah Anda merasakan? Apakah Anda merasakan bahwa berjuta-juta keturunan para dewa dan para resi telah menjadi tetangga sebelah dari binatang buas? Apakah Anda merasakan bahwa berjuta-juta orang kelaparan hari ini, dan berjuta-juta telah kelaparan selama berabad-abad? Apakah Anda merasakan bahwa kebodohan telah menyelimuti negeri ini bagaikan awan gelap? Apakah hal itu membuat Anda gelisah? Apakah hal itu membuat Anda tidak dapat tidur? Apakah hal itu telah merasuk ke dalam darah Anda, mengalir melalui pembuluh darah Anda, menjadi seirama dengan detak jantung Anda? Apakah hal itu nyaris membuat Anda gila? Apakah Anda dikuasai oleh satu gagasan tentang kesengsaraan keruntuhan itu, dan apakah Anda telah melupakan semua tentang nama Anda, ketenaran Anda, istri Anda, anak-anak Anda, harta Anda, bahkan tubuh Anda sendiri? Sudahkah Anda melakukannya? Itulah langkah pertama untuk menjadi seorang patriot, langkah yang paling awal. Saya tidak pergi ke Amerika, seperti diketahui oleh kebanyakan dari Anda, untuk Parlemen Agama-agama, melainkan iblis perasaan ini ada di dalam diri saya dan di dalam jiwa saya. Saya berkelana selama dua belas tahun di seluruh India, tanpa menemukan jalan untuk bekerja bagi sebangsa saya, dan itulah sebabnya saya pergi ke Amerika. Sebagian besar dari Anda mengetahui hal itu, yang mengenal saya pada waktu itu. Siapakah yang peduli tentang Parlemen Agama-agama ini? Inilah daging dan darah saya sendiri yang tenggelam setiap hari, dan siapakah yang peduli kepada mereka? Inilah langkah pertama saya.

Anda mungkin merasakan, kalau begitu; tetapi alih-alih menghabiskan energi Anda dalam pembicaraan yang kosong, sudahkah Anda menemukan jalan keluar, solusi praktis apa pun, sedikit pertolongan alih-alih celaan, kata-kata manis untuk meringankan kesengsaraan mereka, untuk mengeluarkan mereka dari kematian yang hidup ini?

Namun itu pun belum semua. Apakah Anda memiliki kehendak untuk mengatasi rintangan setinggi gunung? Jika seluruh dunia berdiri menentang Anda dengan pedang di tangan, apakah Anda masih akan berani melakukan apa yang Anda anggap benar? Jika istri dan anak-anak Anda menentang Anda, jika seluruh uang Anda lenyap, nama Anda mati, kekayaan Anda menguap, apakah Anda masih akan teguh padanya? Apakah Anda masih akan mengejarnya dan terus melangkah dengan mantap menuju cita-cita Anda sendiri? Sebagaimana dikatakan oleh raja agung Bhartrihari, "Biarlah para resi mencela atau biarlah mereka memuji; biarlah dewi keberuntungan datang atau biarlah ia pergi ke mana pun ia suka; biarlah maut datang hari ini, atau biarlah ia datang dalam ratusan tahun; sesungguhnya dialah orang yang teguh yang tidak bergeser satu inci pun dari jalan kebenaran." Apakah Anda memiliki keteguhan itu? Jika Anda memiliki ketiga hal ini, setiap orang dari Anda akan mewujudkan keajaiban. Anda tidak perlu menulis di surat kabar, Anda tidak perlu pergi berceramah ke mana-mana; wajah Anda sendiri akan bercahaya. Jika Anda hidup di sebuah goa, pikiran Anda akan merembes bahkan menembus dinding-dinding batu, akan bergetar menjangkau seluruh dunia selama ratusan tahun, mungkin, hingga pikiran itu melekat pada suatu otak dan terwujud di sana. Demikianlah kekuatan pikiran, ketulusan, dan kemurnian tujuan.

Saya khawatir saya menahan waktu Anda, tetapi satu kata lagi. Bahtera nasional ini, wahai sebangsa saya, wahai sahabat-sahabat saya, wahai anak-anak saya — bahtera nasional ini telah menyeberangkan berjuta-juta jiwa melintasi perairan kehidupan. Selama beratus-ratus abad yang gemilang ia telah mengarungi air ini, dan melalui perantaraannya berjuta- juta jiwa telah dibawa ke pantai seberang, ke kebahagiaan. Tetapi hari ini, mungkin karena kesalahan Anda sendiri, perahu ini menjadi sedikit rusak, mengalami kebocoran; dan apakah Anda lalu akan mengutukinya? Patutkah Anda berdiri dan mengucapkan kutukan terhadapnya, bahtera yang telah melakukan pekerjaan lebih banyak daripada hal lain mana pun di dunia? Jika ada lubang pada bahtera nasional ini, masyarakat kita ini, kita adalah anak-anaknya. Marilah kita pergi dan menyumbat lubang-lubang itu. Marilah kita melakukannya dengan rela hati dengan darah hati kita; dan jika kita tidak mampu, maka biarlah kita mati. Kita akan membuat sumbat dari otak kita dan memasukkannya ke dalam bahtera itu, tetapi jangan pernah mengutuknya. Jangan ucapkan satu kata pun yang kasar terhadap masyarakat ini. Saya mencintainya karena keagungannya di masa silam. Saya mencintai Anda semua karena Anda adalah anak-anak para dewa, dan karena Anda adalah anak-anak dari para leluhur yang mulia. Bagaimana mungkin saya dapat mengutuk Anda! Tidak akan pernah. Segala berkat melimpahi Anda! Saya telah datang kepada Anda, anak-anak saya, untuk menyampaikan kepada Anda semua rencana saya. Jika Anda mendengarkannya, saya siap bekerja bersama Anda. Tetapi jika Anda tidak mau mendengarnya, dan bahkan mengusir saya keluar dari India, saya akan datang kembali dan mengatakan kepada Anda bahwa kita semua tenggelam! Saya datang sekarang untuk duduk di tengah-tengah Anda, dan jika kita harus tenggelam, biarlah kita semua tenggelam bersama, tetapi janganlah pernah biarkan kutukan naik ke bibir kita.

English

MY PLAN OF CAMPAIGN

(Delivered at the Victoria Hall, Madras)

As the other day we could not proceed, owing to the crowd, I shall take this opportunity of thanking the people of Madras for the uniform kindness that I have received at their hands. I do not know how better to express my gratitude for the beautiful words that have been expressed in the addresses than by praying to the Lord to make me worthy of the kind and generous expressions and by working all my life for the cause of our religion and to serve our motherland; and may the Lord make me worthy of them.

With all my faults, I think I have a little bit of boldness. I had a message from India to the West, and boldly I gave it to the American and the English peoples. I want, before going into the subject of the day, to speak a few bold words to you all. There have been certain circumstances growing around me, tending to thwart me, oppose my progress, and crush me out of existence if they could. Thank God they have failed, as such attempts will always fail. But there has been, for the last three years, a certain amount of misunderstanding, and so long as I was in foreign lands, I held my peace and did not even speak one word; but now, standing upon the soil of my motherland, I want to give a few words of explanation. Not that I care what the result will be of these words — not that I care what feeling I shall evoke from you by these words. I care very little, for I am the same Sannyâsin that entered your city about four years ago with this staff and Kamandalu; the same broad world is before me. Without further preface let me begin.

First of all, I have to say a few words about the Theosophical Society. It goes without saying that a certain amount of good work has been done to India by the Society; as such every Hindu is grateful to it, and especially to Mrs. Besant; for though I know very little of her, yet what little I know has impressed me with the idea that she is a sincere well-wisher of this motherland of ours, and that she is doing the best in her power to raise our country. For that, the eternal gratitude of every trueborn Indian is hers, and all blessings be on her and hers for ever. But that is one thing — and joining the Society of the Theosophists is another. Regard and estimation and love are one thing, and swallowing everything any one has to say, without reasoning, without criticising, without analysing, is quite another. There is a report going round that the Theosophists helped the little achievements of mine in America and England. I have to tell you plainly that every word of it is wrong, every word of it is untrue. We hear so much tall talk in this world, of liberal ideas and sympathy with differences of opinion. That is very good, but as a fact, we find that one sympathises with another only so long as the other believes in everything he has to say, but as soon as he dares to differ, that sympathy is gone, that love vanishes. There are others, again, who have their own axes to grind, and if anything arises in a country which prevents the grinding of them, their hearts burn, any amount of hatred comes out, and they do not know what to do. What harm does it do to the Christian missionary that the Hindus are trying to cleanse their own houses? What injury will it do to the Brâhmo Samâj and other reform bodies that the Hindus are trying their best to reform themselves? Why should they stand in opposition? Why should they be the greatest enemies of these movements? Why? — I ask. It seems to me that their hatred and jealousy are so bitter that no why or how can be asked there.

Four years ago, when I, a poor, unknown, friendless Sannyasin was going to America, going beyond the waters to America without any introductions or friends there, I called on the leader of the Theosophical Society. Naturally I thought he, being an American and a lover of India, perhaps would give me a letter of introduction to somebody there. He asked me, "Will you join my Society?" "No," I replied, "how can I? For I do not believe in most of your doctrines." "Then, I am sorry, I cannot do anything for you," he answered. That was not paving the way for me. I reached America, as you know, through the help of a few friends of Madras. Most of them are present here. Only one is absent, Mr. Justice Subramania Iyer, to whom my deepest gratitude is due. He has the insight of a genius and is one of the staunchest friends I have in this life, a true friend indeed, a true child of India. I arrived in America several months before the Parliament of Religions began. The money I had with me was little, and it was soon spent. Winter approached, and I had only thin summer clothes. I did not know what to do in that cold, dreary climate, for if I went to beg in the streets, the result would have been that I would have been sent to jail. There I was with the last few dollars in my pocket. I sent a wire to my friends in Madras. This came to be known to the Theosophists, and one of them wrote, "Now the devil is going to die; God bless us all." Was that paving the way for me? I would not have mentioned this now; but, as my countrymen wanted to know, it must come out. For three years I have not opened my lips about these things; silence has been my motto; but today the thing has come out. That was not all. I saw some Theosophists in the Parliament of Religions, and I wanted to talk and mix with them. I remember the looks of scorn which were on their faces, as much as to say, "What business has the worm to be here in the midst of the gods?" After I had got name and fame at the Parliament of Religions, then came tremendous work for me; but at every turn the Theosophists tried to cry me down. Theosophists were advised not to come and hear my lectures, for thereby they would lose all sympathy of the Society, because the laws of the esoteric section declare that any man who joins that esoteric section should receive instruction from Kuthumi and Moria, of course through their visible representatives — Mr. Judge and Mrs. Besant — so that, to join the esoteric section means to surrender one's independence. Certainly I could not do any such thing, nor could I call any man a Hindu who did any such thing. I had a great respect for Mr. Judge. He was a worthy man, open, fair, simple, and he was the best representative the Theosophists ever had. I have no right to criticise the dispute between him and Mrs. Besant when each claims that his or her Mahâtmâ is right. And the strange part of it is that the same Mahatma is claimed by both. Lord knows the truth: He is the Judge, and no one has the right to pass judgement when the balance is equal. Thus they prepared the way for me all over America!

They joined the other opposition — the Christian missionaries. There is not one black lie imaginable that these latter did not invent against me. They blackened my character from city to city, poor and friendless though I was in a foreign country. They tried to oust me from every house and to make every man who became my friend my enemy. They tried to starve me out; and I am sorry to say that one of my own countrymen took part against me in this. He is the leader of a reform party in India. This gentleman is declaring every day, "Christ has come to India." Is this the way Christ is to come to India? Is this the way to reform India? And this gentleman I knew from my childhood; he was one of my best friends; when I saw him — I had not met for a long time one of my countrymen — I was so glad, and this was the treatment I received from him. The day the Parliament cheered me, the day I became popular in Chicago, from that day his tone changed; and in an underhand way, he tried to do everything he could to injure me. Is that the way that Christ will come to India? Is that the lesson that he had learnt after sitting twenty years at the feet of Christ? Our great reformers declare that Christianity and Christian power are going to uplift the Indian people. Is that the way to do it? Surely, if that gentleman is an illustration, it does not look very hopeful.

One word more: I read in the organ of the social reformers that I am called a Shudra and am challenged as to what right a Shudra has to become a Sannyasin. To which I reply: I trace my descent to one at whose feet every Brahmin lays flowers when he utters the words — यमाय धर्मराजाय चित्रगुप्ताय वै नमः — and whose descendants are the purest of Kshatriyas. If you believe in your mythology or your Paurânika scriptures, let these so-called reformers know that my caste, apart from other services in the past, ruled half of India for centuries. If my caste is left out of consideration, what will there be left of the present-day civilisation of India? In Bengal alone, my blood has furnished them with their greatest philosopher, the greatest poet, the greatest historian, the greatest archaeologist, the greatest religious preacher; my blood has furnished India with the greatest of her modern scientists. These detractors ought to have known a little of our own history, and to have studied our three castes, and learnt that the Brahmin, the Kshatriya, and the Vaishya have equal right to be Sannyasins: the Traivarnikas have equal right to the Vedas. This is only by the way. I just refer to this, but I am not at all hurt if they call me a Shudra. It will be a little reparation for the tyranny of my ancestors over the poor. If I am a Pariah, I will be all the more glad, for I am the disciple of a man, who — the Brahmin of Brahmins — wanted to cleanse the house of a Pariah. Of course the Pariah would not allow him; how could he let this Brahmin Sannyasin come and cleanse his house! And this man woke up in the dead of night, entered surreptitiously the house of this Pariah, cleansed his latrine, and with his long hair wiped the place, and that he did day after day in order that he might make himself the servant of all. I bear the feet of that man on my head; he is my hero; that hero's life I will try to imitate. By being the servant of all, a Hindu seeks to uplift himself. That is how the Hindus should uplift the masses, and not by looking for any foreign influence. Twenty years of occidental civilisation brings to my mind the illustration of the man who wants to starve his own friend in a foreign land, simply because this friend is popular, simply because he thinks that this man stands in the way of his making money. And the other is the illustration of what genuine, orthodox Hinduism itself will do at home. Let any one of our reformers bring out that life, ready to serve even a Pariah, and then I will sit at his feet and learn, and not before that. One ounce of practice is worth twenty thousand tons of big talk.

Now I come to the reform societies in Madras. They have been very kind to me. They have given me very kind words, and they have pointed out, and I heartily agree with them, that there is a difference between the reformers of Bengal and those of Madras. Many of you will remember what I have very often told you, that Madras is in a very beautiful state just now. It has not got into the play of action and reaction as Bengal has done. Here there is steady and slow progress all through; here is growth, and not reaction. In many cases, end to a certain extent, there is a revival in Bengal; but in Madras it is not a revival, it is a growth, a natural growth. As such, I entirely agree with what the reformers point out as the difference between the two peoples; but there is one difference which they do not understand. Some of these societies, I am afraid, try to intimidate me to join them. That is a strange thing for them to attempt. A man who has met starvation face to face for fourteen years of his life, who has not known where he will get a meal the next day and where to sleep, cannot be intimidated so easily. A man, almost without clothes, who dared to live where the thermometer registered thirty degrees below zero, without knowing where the next meal was to come from, cannot be so easily intimidated in India. This is the first thing I will tell them — I have a little will of my own. I have my little experience too; and I have a message for the world which I will deliver without fear and without care for the future. To the reformers I will point out that I am a greater reformer than any one of them. They want to reform only little bits. I want root-and-branch reform. Where we differ is in the method. Theirs is the method of destruction, mine is that of construction. I do not believe in reform; I believe in growth. I do not dare to put myself in the position of God and dictate to our society, "This way thou shouldst move and not that." I simply want to be like the squirrel in the building of Râma's bridge, who was quite content to put on the bridge his little quota of sand-dust. That is my position. This wonderful national machine has worked through ages, this wonderful river of national life is flowing before us. Who knows, and who dares to say whether it is good and how it shall move? Thousands of circumstances are crowding round it, giving it a special impulse, making it dull at one time and quicker at another. Who dares command its motion? Ours is only to work, as the Gita says, without looking for results. Feed the national life with the fuel it wants, but the growth is its own; none can dictate its growth to it. Evils are plentiful in our society, but so are there evils in every other society. Here the earth is soaked sometimes with widows' tears; there in the West, the air is rent with the sighs of the unmarried. Here poverty is the great bane of life; there the life-weariness of luxury is the great bane that is upon the race. Here men want to commit suicide because they have nothing to eat; there they commit suicide because they have so much to eat. Evil is everywhere; it is like chronic rheumatism. Drive it from the foot, it goes to the head; drive it from there, it goes somewhere else. It is a question of chasing it from place to place; that is all. Ay, children, to try to remedy evil is not the true way. Our philosophy teaches that evil and good are eternally conjoined, the obverse and the reverse of the same coin. If you have one, you must have the other; a wave in the ocean must be at the cost of a hollow elsewhere. Nay, all life is evil. No breath can be breathed without killing some one else; not a morsel of food can be eaten without depriving some one of it. This is the law; this is philosophy. Therefore the only thing we can do is to understand that all this work against evil is more subjective than objective. The work against evil is more educational than actual, however big we may talk. This, first of all, is the idea of work against evil; and it ought to make us calmer, it ought to take fanaticism out of our blood. The history of the world teaches us that wherever there have been fanatical reforms, the only result has been that they have defeated their own ends. No greater upheaval for the establishment of right and liberty can be imagined than the war for the abolition of slavery in America. You all know about it. And what has been its results? The slaves are a hundred times worse off today than they were before the abolition. Before the abolition, these poor negroes were the property of somebody, and, as properties, they had to be looked after, so that they might not deteriorate. Today they are the property of nobody. Their lives are of no value; they are burnt alive on mere presences. They are shot down without any law for their murderers; for they are niggers, they are not human beings, they are not even animals; and that is the effect of such violent taking away of evil by law or by fanaticism. Such is the testimony of history against every fanatical movement, even for doing good. I have seen that. My own experience has taught me that. Therefore I cannot join any one of these condemning societies. Why condemn? There are evils in every society; everybody knows it. Every child of today knows it; he can stand upon a platform and give us a harangue on the awful evils in Hindu Society. Every uneducated foreigner who comes here globe-trotting takes a vanishing railway view of India and lectures most learnedly on the awful evils in India. We admit that there are evils. Everybody can show what evil is, but he is the friend of mankind who finds a way out of the difficulty. Like the drowning boy and the philosopher — when the philosopher was lecturing him, the boy cried, "Take me out of the water first" — so our people cry: "We have had lectures enough, societies enough, papers enough; where is the man who will lend us a hand to drag us out? Where is the man who really loves us? Where is the man who has sympathy for us?" Ay, that man is wanted. That is where I differ entirely from these reform movements. For a hundred years they have been here. What good has been done except the creation of a most vituperative, a most condemnatory literature? Would to God it was not here! They have criticised, condemned, abused the orthodox, until the orthodox have caught their tone and paid them back in their own coin; and the result is the creation of a literature in every vernacular which is the shame of the race, the shame of the country. Is this reform? Is this leading the nation to glory? Whose fault is this?

There is, then, another great consideration. Here in India, we have always been governed by kings; kings have made all our laws. Now the kings are gone, and there is no one left to make a move. The government dare not; it has to fashion its ways according to the growth of public opinion. It takes time, quite a long time, to make a healthy, strong, public opinion which will solve its own problems; and in the interim we shall have to wait. The whole problem of social reform, therefore, resolves itself into this: where are those who want reform? Make them first. Where are the people? The tyranny of a minority is the worst tyranny that the world ever sees. A few men who think that certain things are evil will not make a nation move. Why does not the nation move? First educate the nation, create your legislative body, and then the law will be forthcoming. First create the power, the sanction from which the law will spring. The kings are gone; where is the new sanction, the new power of the people? Bring it up. Therefore, even for social reform, the first duty is to educate the people, and you will have to wait till that time comes. Most of the reforms that have been agitated for during the past century have been ornamental. Every one of these reforms only touches the first two castes, and no other. The question of widow marriage would not touch seventy per cent of the Indian women, and all such questions only reach the higher castes of Indian people who are educated, mark you, at the expense of the masses. Every effort has been spent in cleaning their own houses. But that is no reformation. You must go down to the basis of the thing, to the very root of the matter. That is what I call radical reform. Put the fire there and let it burn upwards and make an Indian nation. And the solution of the problem is not so easy, as it is a big and a vast one. Be not in a hurry, this problem has been known several hundred years.

Today it is the fashion to talk of Buddhism and Buddhistic agnosticism, especially in the South. Little do they dream that this degradation which is with us today has been left by Buddhism. This is the legacy which Buddhism has left to us. You read in books written by men who had never studied the rise and fall of Buddhism that the spread of Buddhism was owing to the wonderful ethics and the wonderful personality of Gautama Buddha. I have every respect and veneration for Lord Buddha, but mark my words, the spread of Buddhism was less owing to the doctrines and the personality of the great preacher, than to the temples that were built, the idols that were erected, and the gorgeous ceremonials that were put before the nation. Thus Buddhism progressed. The little fire-places in the houses in which the people poured their libations were not strong enough to hold their own against these gorgeous temples and ceremonies; but later on the whole thing degenerated. It became a mass of corruption of which I cannot speak before this audience; but those who want to know about it may see a little of it in those big temples, full of sculptures, in Southern India; and this is all the inheritance we have from the Buddhists.

Then arose the great reformer Shankarâchârya and his followers, and during these hundreds of years, since his time to the present day, there has been the slow bringing back of the Indian masses to the pristine purity of the Vedantic religion. These reformers knew full well the evils which existed, yet they did not condemn. They did not say, "All that you have is wrong, and you must throw it away." It can never be so. Today I read that my friend Dr. Barrows says that in three hundred years Christianity overthrew the Roman and Greek religious influences. That is not the word of a man who has seen Europe, and Greece, and Rome. The influence of Roman and Greek religion is all there, even in Protestant countries, only with changed names — old gods rechristened in a new fashion. They change their names; the goddesses become Marys and the gods become saints, and the ceremonials become new; even the old title of Pontifex Maximus is there. So, sudden changes cannot be and Shankaracharya knew it. So did Râmânuja. The only way left to them was slowly to bring up to the highest ideal the existing religion. If they had sought to apply the other method, they would have been hypocrites, for the very fundamental doctrine of their religion is evolution, the soul going towards the highest goal, through all these various stages and phases, which are, therefore necessary and helpful. And who dares condemn them?

It has become a trite saying that idolatry is wrong, and every man swallows it at the present time without questioning. I once thought so, and to pay the penalty of that I had to learn my lesson sitting at the feet of a man who realised everything through idols; I allude to Ramakrishna Paramahamsa. If such Ramakrishna Paramahamsas are produced by idol-worship, what will you have — the reformer's creed or any number of idols? I want an answer. Take a thousand idols more if you can produce Ramakrishna Paramahamsas through idol worship, and may God speed you! Produce such noble natures by any means you can. Yet idolatry is condemned! Why? Nobody knows. Because some hundreds of years ago some man of Jewish blood happened to condemn it? That is, he happened to condemn everybody else's idols except his own. If God is represented in any beautiful form or any symbolic form, said the Jew, it is awfully bad; it is sin. But if He is represented in the form of a chest, with two angels sitting on each side, and a cloud hanging over it, it is the holy of holies. If God comes in the form of a dove, it is holy. But if He comes in the form of a cow, it is heathen superstition; condemn it! That is how the world goes. That is why the poet says, "What fools we mortals be!" How difficult it is to look through each other's eyes, and that is the bane of humanity. That is the basis of hatred and jealousy, of quarrel and of fight. Boys, moustached babies, who never went out of Madras, standing up and wanting to dictate laws to three hundred millions of people with thousands of traditions at their back! Are you not ashamed? Stand back from such blasphemy and learn first your lessons! Irreverent boys, simply because you can scrawl a few lines upon paper and get some fool to publish them for you, you think you are the educators of the world, you think you are the public opinion of India! Is it so? This I have to tell to the social reformers of Madras that I have the greatest respect and love for them. I love them for their great hearts and their love for their country, for the poor, for the oppressed. But what I would tell them with a brother's love is that their method is not right; It has been tried a hundred years and failed. Let us try some new method.

Did India ever stand in want of reformers? Do you read the history of India? Who was Ramanuja? Who was Shankara? Who was Nânak? Who was Chaitanya? Who was Kabir? Who was Dâdu? Who were all these great preachers, one following the other, a galaxy of stars of the first magnitude? Did not Ramanuja feel for the lower classes? Did he not try all his life to admit even the Pariah to his community? Did he not try to admit even Mohammedans to his own fold? Did not Nanak confer with Hindus and Mohammedans, and try to bring about a new state of things? They all tried, and their work is still going on. The difference is this. They had not the fanfaronade of the reformers of today; they had no curses on their lips as modern reformers have; their lips pronounced only blessings. They never condemned. They said to the people that the race must always grow. They looked back and they said, "O Hindus, what you have done is good, but, my brothers, let us do better." They did not say, "You have been wicked, now let us be good." They said, "You have been good, but let us now be better." That makes a whole world of difference. We must grow according to our nature. Vain is it to attempt the lines of action that foreign societies have engrafted upon us; it is impossible. Glory unto God, that it is impossible, that we cannot be twisted and tortured into the shape oil other nations. I do not condemn the institutions of other races; they are good for them, but not for us. What is meat for them may be poison for us. This is the first lesson to learn. With other sciences, other institutions, and other traditions behind them, they have got their present system. We, with our traditions, with thousands of years of Karma behind us, naturally can only follow our own bent, run in our own grooves; and that we shall have to do.

What is my plan then? My plan is to follow the ideas of the great ancient Masters. I have studied their work, and it has been given unto me to discover the line of action they took. They were the great originators of society. They were the great givers of strength, and of purity, and of life. They did most marvellous work. We have to do most marvellous work also. Circumstances have become a little different, and in consequence the lines of action have to be changed a little, and that is all. I see that each nation, like each individual, has one theme in this life, which is its centre, the principal note round which every other note comes to form the harmony. In one nation political power is its vitality, as in England, artistic life in another, and so on. In India, religious life forms the centre, the keynote of the whole music of national life; and if any nation attempts to throw off its national vitality — the direction which has become its own through the transmission of centuries — that nation dies if it succeeds in the attempt. And, therefore, if you succeed in the attempt to throw off your religion and take up either politics, or society, or any other things as your centre, as the vitality of your national life, the result will be that you will become extinct. To prevent this you must make all and everything work through that vitality of your religion. Let all your nerves vibrate through the backbone of your religion. I have seen that I cannot preach even religion to Americans without showing them its practical effect on social life. I could not preach religion in England without showing the wonderful political changes the Vedanta would bring. So, in India, social reform has to be preached by showing how much more spiritual a life the new system will bring; and politics has to be preached by showing how much it will improve the one thing that the nation wants — its spirituality. Every man has to make his own choice; so has every nation. We made our choice ages ago, and we must abide by it. And, after all, it is not such a bad choice. Is it such a bad choice in this world to think not of matter but of spirit, not of man but of God? That intense faith in another world, that intense hatred for this world, that intense power of renunciation, that intense faith in God, that intense faith in the immortal soul, is in you. I challenge anyone to give it up. You cannot. You may try to impose upon me by becoming materialists, by talking materialism for a few months, but I know what you are; if I take you by the hand, back you come as good theists as ever were born. How can you change your nature?

So every improvement in India requires first of all an upheaval in religion. Before flooding India with socialistic or political ideas, first deluge the land with spiritual ideas. The first work that demands our attention is that the most wonderful truths confined in our Upanishads, in our scriptures, in our Purânas must be brought out from the books, brought out from the monasteries, brought out from the forests, brought out from the possession of selected bodies of people, and scattered broadcast all over the land, so that these truths may run like fire all over the country from north to south and east to west, from the Himalayas to Comorin, from Sindh to the Brahmaputra. Everyone must know of them, because it is said, "This has first to be heard, then thought upon, and then meditated upon." Let the people hear first, and whoever helps in making the people hear about the great truths in their own scriptures cannot make for himself a better Karma today. Says our Vyasa, "In the Kali Yuga there is one Karma left. Sacrifices and tremendous Tapasyâs are of no avail now. Of Karma one remains, and that is the Karma of giving." And of these gifts, the gift of spirituality and spiritual knowledge is the highest; the next gift is the gift of secular knowledge; the next is the gift of life; and the fourth is the gift of food. Look at this wonderfully charitable race; look at the amount of gifts that are made in this poor, poor country; look at the hospitality where a man can travel from the north to the south, having the best in the land, being treated always by everyone as if he were a friend, and where no beggar starves so long as there is a piece of bread anywhere!

In this land of charity, let us take up the energy of the first charity, the diffusion of spiritual knowledge. And that diffusion should not be confined within the bounds of India; it must go out all over the world. This has been the custom. Those that tell you that Indian thought never went outside of India, those that tell you that I am the first Sannyasin who went to foreign lands to preach, do not know the history of their own race. Again and again this phenomenon has happened. Whenever the world has required it, this perennial flood of spirituality has overflowed and deluged the world. Gifts of political knowledge can be made with the blast of trumpets and the march of cohorts. Gifts of secular knowledge and social knowledge can be made with fire and sword. But spiritual knowledge can only be given in silence like the dew that falls unseen and unheard, yet bringing into bloom masses of roses. This has been the gift of India to the world again and again. Whenever there has been a great conquering race, bringing the nations of the world together, making roads and transit possible, immediately India arose and gave her quota of spiritual power to the sum total of the progress of the world. This happened ages before Buddha was born, and remnants of it are still left in China, in Asia Minor, and in the heart of the Malayan Archipelago. This was the case when the great Greek conqueror united the four corners of the then known world; then rushed out Indian spirituality, and the boasted civilisation of the West is but the remnant of that deluge. Now the same opportunity has again come; the power of England has linked the nations of the world together as was never done before. English roads and channels of communication rush from one end of the world to the other. Owing to English genius, the world today has been linked in such a fashion as has never before been done. Today trade centres have been formed such as have never been before in the history of mankind. And immediately, consciously or unconsciously, India rises up and pours forth her gifts of spirituality; and they will rush through these roads till they have reached the very ends of the world. That I went to America was not my doing or your doing; but the God of India who is guiding her destiny sent me, and will send hundreds of such to all the nations of the world. No power on earth can resist it. This also has to be done. You must go out to preach your religion, preach it to every nation under the sun, preach it to every people. This is the first thing to do. And after preaching spiritual knowledge, along with it will come that secular knowledge and every other knowledge that you want; but if you attempt to get the secular knowledge without religion, I tell you plainly, vain is your attempt in India, it will never have a hold on the people. Even the great Buddhistic movement was a failure, partially on account of that.

Therefore, my friends, my plan is to start institutions in India, to train our young men as preachers of the truths of our scriptures in India and outside India. Men, men, these are wanted: everything else will be ready, but strong, vigorous, believing young men, sincere to the backbone, are wanted. A hundred such and the world becomes revolutionized. The will is stronger than anything else. Everything must go down before the will, for that comes from God and God Himself; a pure and a strong will is omnipotent. Do you not believe in it? Preach, preach unto the world the great truths of your religion; the world waits for them. For centuries people have been taught theories of degradation. They have been told that they are nothing. The masses have been told all over the world that they are not human beings. They have been so frightened for centuries, till they have nearly become animals. Never were they allowed to hear of the Atman. Let them hear of the Atman — that even the lowest of the low have the Atman within, which never dies and never is born — of Him whom the sword cannot pierce, nor the fire burn, nor the air dry — immortal, without beginning or end, the all-pure, omnipotent, and omnipresent Atman! Let them have faith in themselves, for what makes the difference between the Englishman and you? Let them talk their religion and duty and so forth. I have found the difference. The difference is here, that the Englishman believes in himself and you do not. He believes in his being an Englishman, and he can do anything. That brings out the God within him, and he can do anything he likes. You have been told and taught that you can do nothing, and nonentities you are becoming every day. What we want is strength, so believe in yourselves. We have become weak, and that is why occultism and mysticism come to us — these creepy things; there may be great truths in them, but they have nearly destroyed us. Make your nerves strong. What we want is muscles of iron and nerves of steel. We have wept long enough. No more weeping, but stand on your feet and be men. It is a man-making religion that we want. It is man-making theories that we want. It is man-making education all round that we want. And here is the test of truth — anything that makes you weak physically, intellectually, and spiritually, reject as poison; there is no life in it, it cannot be true. Truth is strengthening. Truth is purity, truth is all-knowledge; truth must be strengthening, must be enlightening, must be invigorating. These mysticisms, in spite of some grains of truth in them, are generally weakening. Believe me, I have a lifelong experience of it, and the one conclusion that I draw is that it is weakening. I have travelled all over India, searched almost every cave here, and lived in the Himalayas. I know people who lived there all their lives. I love my nation, I cannot see you degraded, weakened any more than you are now. Therefore I am bound for your sake and for truth's sake to cry, "Hold!" and to raise my voice against this degradation of my race. Give up these weakening mysticisms and be strong. Go back to your Upanishads — the shining, the strengthening, the bright philosophy — and part from all these mysterious things, all these weakening things. Take up this philosophy; the greatest truths are the simplest things in the world, simple as your own existence. The truths of the Upanishads are before you. Take them up, live up to them, and the salvation of India will be at hand.

One word more and I have finished. They talk of patriotism. I believe in patriotism, and I also have my own ideal of patriotism. Three things are necessary for great achievements. First, feel from the heart. What is in the intellect or reason? It goes a few steps and there it stops. But through the heart comes inspiration. Love opens the most impossible gates; love is the gate to all the secrets of the universe. Feel, therefore, my would-be reformers, my would-be patriots! Do you feel? Do you feel that millions and millions of the descendants of gods and of sages have become next-door neighbours to brutes? Do you feel that millions are starving today, and millions have been starving for ages? Do you feel that ignorance has come over the land as a dark cloud? Does it make you restless? Does it make you sleepless? Has it gone into your blood, coursing through your veins, becoming consonant with your heartbeats? Has it made you almost mad? Are you seized with that one idea of the misery of ruin, and have you forgotten all about your name, your fame, your wives, your children, your property, even your own bodies? Have you done that? That is the first step to become a patriot, the very first step. I did not go to America, as most of you know, for the Parliament of Religions, but this demon of a feeling was in me and within my soul. I travelled twelve years all over India, finding no way to work for my countrymen, and that is why I went to America. Most of you know that, who knew me then. Who cared about this Parliament of Religions? Here was my own flesh and blood sinking every day, and who cared for them? This was my first step.

You may feel, then; but instead of spending your energies in frothy talk, have you found any way out, any practical solution, some help instead of condemnation, some sweet words to soothe their miseries, to bring them out of this living death?

Yet that is not all. Have you got the will to surmount mountain-high obstructions? If the whole world stands against you sword in hand, would you still dare to do what you think is right? If your wives and children are against you, if all your money goes, your name dies, your wealth vanishes, would you still stick to it? Would you still pursue it and go on steadily towards your own goal? As the great King Bhartrihari says, "Let the sages blame or let them praise; let the goddess of fortune come or let her go wherever she likes; let death come today, or let it come in hundreds of years; he indeed is the steady man who does not move one inch from the way of truth." Have you got that steadfastness? If you have these three things, each one of you will work miracles. You need not write in the newspapers, you need not go about lecturing; your very face will shine. If you live in a cave, your thoughts will permeate even through the rock walls, will go vibrating all over the world for hundreds of years, maybe, until they will fasten on to some brain and work out there. Such is the power of thought, of sincerity, and of purity of purpose.

I am afraid I am delaying you, but one word more. This national ship, my countrymen, my friends, my children — this national ship has been ferrying millions and millions of souls across the waters of life. For scores of shining centuries it has been plying across this water, and through its agency, millions of souls have been taken to the other shore, to blessedness. But today, perhaps through your own fault, this boat has become a little damaged, has sprung a leak; and would you therefore curse it? Is it fit that you stand up and pronounce malediction upon it, one that has done more work than any other thing in the world? If there are holes in this national ship, this society of ours, we are its children. Let us go and stop the holes. Let us gladly do it with our hearts' blood; and if we cannot, then let us die. We will make a plug of our brains and put them into the ship, but condemn it never. Say not one harsh word against this society. I love it for its past greatness. I love you all because you are the children of gods, and because you are the children of the glorious forefathers. How then can I curse you! Never. All blessings be upon you! I have come to you, my children, to tell you all my plans. If you hear them I am ready to work with you. But if you will not listen to them, and even kick me out of India, I will come back and tell you that we are all sinking! I am come now to sit in your midst, and if we are to sink, let us all sink together, but never let curses rise to our lips.


Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.