Arsip Vivekananda

Ceramah Umum Pertama di Timur (Kolombo)

Jilid3 lecture
4,525 kata · 18 menit baca · Lectures from Colombo to Almora

Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.

AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.

Bahasa Indonesia

CERAMAH PUBLIK PERTAMA DI TIMUR

(Disampaikan di Kolombo)

Setelah karyanya yang tak terlupakan di Barat, Swami Vivekananda mendarat di Kolombo pada petang hari tanggal 15 Januari 1897, dan disambut dengan sangat meriah oleh komunitas Hindu di sana. Alamat sambutan berikut kemudian disampaikan kepadanya:

SRIMAT VIVEKANANDA SWAMI

Yang Mulia,

Sesuai dengan resolusi yang disahkan pada rapat umum umat Hindu di kota Kolombo, dengan ini kami menyampaikan ucapan selamat datang yang tulus kepada Anda di Pulau ini. Kami menganggap suatu kehormatan untuk menjadi yang pertama menyambut Anda dalam kepulangan Anda dari misi besar Anda di Barat.

Kami telah menyaksikan dengan suka cita dan rasa syukur keberhasilan yang telah dimahkotai atas misi tersebut, di bawah berkat Tuhan. Anda telah memaklumkan kepada bangsa-bangsa Eropa dan Amerika cita-cita Hindu tentang agama universal, yang menyelaraskan semua keyakinan, menyediakan santapan rohani bagi setiap jiwa sesuai dengan kebutuhannya, dan dengan penuh kasih menarik jiwa itu kepada Tuhan. Anda telah memberitakan Kebenaran dan Jalan, yang diajarkan sejak zaman purba oleh suksesi para Guru yang kaki-kaki-Nya yang penuh berkat telah berjalan dan menyucikan tanah India, dan yang kehadiran serta ilham mereka yang penuh anugerah telah menjadikan India, melalui segala pasang surutnya, sebagai Pelita Dunia.

Kepada ilham Guru semacam itu, Shri Ramakrishna Paramahamsa Deva, dan kepada semangat Anda yang penuh pengorbanan diri, bangsa-bangsa Barat berutang anugerah tak ternilai berupa kontak hidup dengan kejeniusan rohani India, sementara kepada banyak rekan sebangsa kami sendiri, yang dibebaskan dari pesona peradaban Barat, nilai warisan kami yang mulia telah dihantarkan pulang.

Melalui karya dan teladan Anda yang mulia, Anda telah meletakkan umat manusia di bawah kewajiban yang sukar dibalas, dan Anda telah memancarkan cahaya baru atas Ibu Pertiwi kami. Kami berdoa agar anugerah Tuhan terus memberkati Anda dan karya Anda, dan

Kami tetap, Yang Mulia,

Hormat kami,

untuk dan atas nama umat Hindu Kolombo,

P. Coomara Swamy,

Anggota Dewan Legislatif Ceylon,

Ketua Pertemuan.

A. Kulaveerasingham, Sekretaris.

Kolombo, Januari 1897.

Swami memberikan jawaban singkat, menyatakan penghargaannya atas sambutan ramah yang telah diterimanya. Ia memanfaatkan kesempatan itu untuk menunjukkan bahwa demonstrasi tersebut tidak dilakukan untuk menghormati seorang politikus besar, seorang prajurit besar, atau seorang jutawan, melainkan untuk seorang Sannyasin pengemis, yang memperlihatkan kecenderungan batin Hindu kepada agama. Ia menegaskan perlunya menjaga agama sebagai tulang punggung kehidupan bangsa jika bangsa itu hendak hidup, dan menolak setiap sifat pribadi atas sambutan yang telah diterimanya, tetapi menegaskan bahwa sambutan itu adalah pengakuan terhadap suatu prinsip.

Pada malam tanggal 16, Swami menyampaikan ceramah publik berikut di Aula Floral:

Apa yang sedikit telah saya kerjakan bukanlah karena kekuatan hakiki yang ada pada diri saya, melainkan karena sorak-sorai, niat baik, dan berkat-berkat yang telah mengiringi jalan saya di Barat dari Ibu Pertiwi kita yang sangat tercinta, paling suci, dan terkasih ini. Memang ada sedikit kebaikan yang telah dilakukan di Barat, tetapi terutama bagi diri saya sendiri; sebab apa yang sebelumnya adalah hasil dari watak yang emosional, mungkin, kini telah memperoleh kepastian keyakinan dan mencapai kekuatan serta ketegaran demonstrasi. Dahulu saya berpikir sebagaimana setiap orang Hindu berpikir, dan sebagaimana Yang Terhormat Ketua baru saja kemukakan kepada Anda, bahwa inilah Punya Bhumi, tanah Karma. Hari ini saya berdiri di sini dan berkata, dengan keyakinan akan kebenaran, bahwa memang demikianlah adanya. Jika ada tanah di muka bumi ini yang dapat mengklaim sebagai Punya Bhumi yang diberkati, sebagai tanah ke mana semua jiwa di bumi ini harus datang untuk mempertanggungjawabkan Karma-nya, tanah ke mana setiap jiwa yang sedang menempuh jalannya menuju Tuhan harus datang untuk mencapai tempat tinggal terakhirnya, tanah di mana kemanusiaan telah mencapai puncak tertinggi menuju kelembutan, menuju kemurahan hati, menuju kesucian, menuju ketenangan, dan di atas segalanya, tanah introspeksi dan spiritualitas — maka itulah India. Dari sinilah para pendiri agama-agama sejak zaman paling kuno bermula, membanjiri bumi berulang kali dengan air spiritual yang murni dan abadi. Dari sinilah gelombang pasang filsafat yang telah meliputi bumi, Timur atau Barat, Utara atau Selatan, telah bermula, dan dari sini pula harus bermula gelombang yang akan menjiwai peradaban material dunia. Di sinilah air yang memberi kehidupan, yang dengannya harus dipadamkan api materialisme yang menyala-nyala dan membakar inti hati jutaan orang di tanah-tanah lain. Percayalah, kawan-kawan saya, hal ini akan terjadi.

Sebanyak itulah yang telah saya lihat, dan sejauh ini, mereka di antara Anda yang merupakan pelajar sejarah ras-ras telah menyadari fakta ini. Utang yang dunia miliki kepada Ibu Pertiwi kita adalah amat besar. Membandingkan negeri demi negeri, tidak ada satu ras pun di bumi ini yang kepadanya dunia berutang sebanyak yang diberikan oleh orang Hindu yang sabar, orang Hindu yang lembut. "Orang Hindu yang lembut" kadang-kadang dipakai sebagai ungkapan cela; tetapi jika pernah ada celaan yang menyembunyikan suatu kebenaran yang menakjubkan, maka kebenaran itu ada dalam istilah "orang Hindu yang lembut", yang senantiasa menjadi anak Tuhan yang diberkati. Peradaban-peradaban telah bangkit di belahan-belahan dunia yang lain. Pada zaman kuno maupun zaman modern, gagasan-gagasan besar telah memancar dari ras-ras yang kuat dan agung. Pada zaman kuno maupun zaman modern, gagasan-gagasan menakjubkan telah dibawa dari satu ras ke ras lain. Pada zaman kuno maupun zaman modern, benih-benih kebenaran dan kekuatan besar telah disebarkan oleh arus kehidupan bangsa yang melaju; tetapi perhatikanlah, kawan-kawan saya, hal itu selalu disertai oleh tiupan terompet perang dan derap pasukan tempur yang berbaris. Setiap gagasan harus direndam dalam banjir darah. Setiap gagasan harus mengarungi darah jutaan sesama makhluk kita. Setiap kata yang penuh kekuasaan harus diiringi oleh rintihan jutaan orang, oleh ratapan anak-anak yatim, oleh air mata para janda. Inilah, pada pokoknya, yang telah diajarkan oleh bangsa-bangsa lain; tetapi India selama ribuan tahun telah hidup dengan damai. Di sini kegiatan telah berlangsung bahkan ketika Yunani belum ada, ketika Roma belum terpikirkan, ketika bapak-bapak orang Eropa modern sendiri masih tinggal di hutan dan mengecat tubuh mereka biru. Bahkan lebih awal lagi, ketika sejarah tak punya catatan, dan tradisi tak berani mengintip ke dalam kegelapan masa silam yang pekat itu, sejak masa itu sampai sekarang, gagasan demi gagasan telah berbaris keluar dari India, tetapi setiap kata diucapkan dengan berkat di belakangnya dan damai di depannya. Kita, dari semua bangsa di dunia, tidak pernah menjadi ras penakluk, dan berkat itu ada di atas kepala kita, dan oleh karena itu kita hidup.

Pernah ada suatu masa ketika pada bunyi derap pasukan besar Yunani, bumi pun bergetar. Lenyap dari muka bumi, tanpa secuil pun kisah yang ditinggalkan, telah pergilah tanah kuno orang-orang Yunani itu. Pernah ada suatu masa ketika Elang Romawi terbang melayang di atas segala yang patut dimiliki di dunia ini; di mana-mana kekuasaan Roma dirasakan dan ditindiskan di atas kepala kemanusiaan; bumi gemetar pada penyebutan nama Roma. Tetapi Bukit Capitoline kini hanyalah timbunan reruntuhan, laba-laba menenun jaringnya di tempat dahulu para Kaisar memerintah. Telah ada bangsa-bangsa lain yang sama gemilangnya yang datang dan pergi, hidup beberapa jam dalam dominasi yang riuh penuh euforia dan dalam kehidupan nasional yang jahat, lalu lenyap bagaikan riak di permukaan air. Demikianlah bangsa-bangsa itu telah meninggalkan jejak mereka di wajah kemanusiaan. Tetapi kita hidup, dan jika Manu kembali hari ini, ia tidak akan bingung, dan tidak akan merasa berada di negeri asing. Hukum-hukum yang sama tetap di sini, hukum-hukum yang telah diselaraskan dan dipikirkan selama ribuan tahun; adat-istiadat, hasil ketajaman pikiran dari zaman ke zaman dan pengalaman berabad-abad, yang tampak abadi; dan seiring berjalannya hari demi hari, seiring pukulan demi pukulan kemalangan yang ditimpakan ke atasnya, pukulan-pukulan semacam itu tampaknya hanya melayani satu tujuan saja, yaitu menjadikan hukum-hukum itu lebih kuat dan lebih teguh. Dan untuk menemukan pusat dari semua ini, jantung dari mana darah mengalir, pegas utama kehidupan bangsa, percayalah ketika saya katakan, setelah pengalaman saya tentang dunia, bahwa pusatnya ada di sini.

Bagi bangsa-bangsa lain di dunia, agama adalah salah satu di antara banyak kesibukan hidup. Ada politik, ada kenikmatan hidup sosial, ada segala yang dapat dibeli oleh kekayaan atau didatangkan oleh kekuasaan, ada segala yang dapat dinikmati oleh pancaindra; dan di antara berbagai macam kesibukan hidup ini dan segala pencarian akan sesuatu yang dapat memberikan sedikit lagi rangsangan kepada pancaindra yang telah jenuh — di antara semua ini, mungkin ada sedikit agama. Tetapi di sini, di India, agama adalah satu-satunya kesibukan hidup. Berapa banyak di antara Anda yang tahu bahwa telah terjadi Perang Tiongkok-Jepang? Sangat sedikit, kalaupun ada. Berapa banyak di antara Anda yang tahu bahwa ada gerakan-gerakan politik dan gerakan-gerakan sosialistik yang dahsyat yang sedang mencoba mengubah masyarakat Barat? Memang sangat sedikit, kalaupun ada. Tetapi bahwa pernah ada Parlemen Agama-Agama di Amerika, dan bahwa seorang Sannyasin Hindu diutus ke sana, saya terkejut mendapati bahwa bahkan seorang kuli pun mengetahuinya. Itu menunjukkan arah angin bertiup, di mana letak kehidupan bangsa. Dahulu saya membaca buku-buku yang ditulis oleh para pengelana keliling dunia, terutama orang asing, yang menyesalkan ketidaktahuan rakyat Timur, tetapi saya menemukan bahwa hal itu sebagian benar dan sekaligus sebagian tidak benar. Jika Anda bertanya kepada seorang pembajak di Inggris, atau Amerika, atau Prancis, atau Jerman, ke partai mana ia bergabung, ia dapat memberi tahu Anda apakah ia termasuk kaum Radikal atau kaum Konservatif, dan untuk siapa ia akan memilih. Di Amerika ia akan mengatakan apakah ia seorang Republik atau Demokrat, dan ia bahkan tahu sesuatu tentang masalah perak. Tetapi jika Anda bertanya kepadanya tentang agamanya, ia akan memberi tahu Anda bahwa ia pergi ke gereja dan termasuk denominasi tertentu. Itu sajalah yang ia tahu, dan ia menganggap itu cukup.

Nah, ketika kita sampai di India, jika Anda bertanya kepada salah seorang pembajak kita, "Apakah Anda tahu sesuatu tentang politik?" Ia akan menjawab, "Apa itu?" Ia tidak memahami gerakan-gerakan sosialistik, hubungan antara modal dan tenaga kerja, dan sebagainya; ia tidak pernah mendengar hal-hal semacam itu dalam hidupnya, ia bekerja keras dan mencari nafkah. Tetapi jika Anda bertanya, "Apa agamamu?" ia akan menjawab, "Lihat ini, kawan, saya telah menandainya di dahi saya." Ia dapat memberikan satu atau dua petunjuk yang baik tentang pertanyaan-pertanyaan keagamaan. Itulah pengalaman saya. Itulah kehidupan bangsa kita.

Setiap individu memiliki keganjilannya sendiri, dan setiap orang memiliki cara pertumbuhannya sendiri, hidupnya sendiri yang telah digariskan baginya oleh kehidupan masa lalu yang tak terhingga, oleh seluruh Karma masa lalunya sebagaimana yang dikatakan oleh kita orang Hindu. Ke dalam dunia ini ia datang dengan seluruh masa lalunya, masa lalu yang tak terhingga itu mengantar masa kini, dan cara kita memakai masa kini akan menentukan masa depan. Demikianlah setiap orang yang lahir ke dunia ini memiliki kecenderungan, suatu arah ke mana ia harus pergi, melaluinya ia harus menjalani hidup, dan apa yang benar bagi individu sama benarnya bagi ras. Setiap ras, dengan cara yang sama, memiliki kecenderungan yang khas, setiap ras memiliki raison d'être yang khas, setiap ras memiliki misi yang khas untuk dipenuhi dalam kehidupan dunia. Setiap ras harus menghasilkan buahnya sendiri, memenuhi misinya sendiri. Kebesaran politik atau kekuatan militer tidak pernah menjadi misi ras kita; tidak pernah, dan, camkanlah kata-kata saya, tidak akan pernah. Tetapi telah diberikan kepada kita misi lain, yaitu untuk melestarikan, menjaga, mengumpulkan, seolah-olah ke dalam suatu dinamo, seluruh energi spiritual ras itu, dan energi yang terpusatkan itulah yang harus mengalir sebagai banjir atas dunia ketika keadaan menguntungkan. Biarlah orang Persia atau Yunani, orang Romawi, Arab, atau Inggris memberangkatkan batalion-batalionnya, menaklukkan dunia, dan mengikatkan bangsa-bangsa yang berbeda menjadi satu, dan filsafat serta spiritualitas India senantiasa siap mengalir melalui saluran-saluran yang baru terbuka itu ke dalam pembuluh-pembuluh darah bangsa-bangsa dunia. Otak orang Hindu yang tenang harus mencurahkan bagiannya sendiri untuk menambah jumlah total kemajuan manusia. Pemberian India kepada dunia adalah cahaya rohani.

Demikianlah, di masa lampau, kita membaca dalam sejarah bahwa kapan pun bangkit suatu bangsa penakluk besar yang menyatukan ras-ras dunia yang berbeda, mengikatkan India dengan ras-ras lain, mengeluarkannya, seolah-olah, dari kesendiriannya dan dari keterpisahannya dari dunia lain — yang ke dalamnya India berulang kali membenamkan dirinya — kapan pun keadaan semacam itu terjadi, hasilnya adalah membanjirnya dunia dengan gagasan-gagasan rohani India. Pada awal abad ini, Schopenhauer, filsuf besar Jerman, yang belajar dari terjemahan Weda yang tidak terlalu jelas, yang dibuat dari sebuah terjemahan kuno ke dalam bahasa Persia lalu oleh seorang pemuda Prancis ke dalam bahasa Latin, berkata: "Di seluruh dunia tidak ada studi yang begitu bermanfaat dan begitu meninggikan jiwa seperti studi tentang Upanishad. Ia telah menjadi penghibur hidup saya, dan ia akan menjadi penghibur kematian saya." Orang bijak Jerman yang besar ini meramalkan bahwa "Dunia akan segera menyaksikan suatu revolusi pemikiran yang lebih luas dan lebih dahsyat daripada yang disaksikan oleh Kebangkitan Sastra Yunani", dan hari ini ramalannya menjadi kenyataan. Mereka yang membuka mata, mereka yang memahami pekerjaan dalam pikiran berbagai bangsa Barat, mereka yang merupakan pemikir dan mempelajari berbagai bangsa, akan menemukan perubahan amat besar yang telah dihasilkan dalam nada, dalam prosedur, dalam metode, dan dalam sastra dunia oleh penyusupan pemikiran India yang lambat dan tak pernah berhenti ini.

Tetapi ada ciri lain, sebagaimana telah saya isyaratkan kepada Anda. Kita tidak pernah mengabarkan pemikiran kita dengan api dan pedang. Jika ada satu kata dalam bahasa Inggris untuk mewakili pemberian India kepada dunia, jika ada satu kata dalam bahasa Inggris untuk mengungkapkan pengaruh yang dihasilkan oleh sastra India atas umat manusia, kata itu adalah "fascination" (pesona). Ia adalah lawan dari segala sesuatu yang merebut Anda secara tiba-tiba; ia, seolah-olah, melemparkan suatu pesona atas Anda secara tak terlihat. Bagi banyak orang, pemikiran India, sopan santun India, adat-istiadat India, filsafat India, dan sastra India terkesan menjijikkan pada pandangan pertama; tetapi biarlah mereka bertahan, biarlah mereka membaca, biarlah mereka menjadi akrab dengan prinsip-prinsip agung yang mendasari gagasan-gagasan itu, dan kemungkinannya sembilan puluh sembilan banding satu bahwa pesona itu akan menguasai mereka, dan akibatnya adalah ketertarikan yang dalam. Lambat dan sunyi, bagai embun lembut yang turun di pagi hari, tak terlihat dan tak terdengar namun menghasilkan akibat yang paling dahsyat, demikianlah karya ras spiritual yang tenang, sabar, dan tahan menderita ini atas dunia pemikiran.

Sekali lagi sejarah akan berulang. Sebab hari ini, di bawah cahaya yang menghancurkan dari ilmu pengetahuan modern, ketika kepercayaan-kepercayaan yang lama dan tampaknya kokoh serta tak tertembus telah dipecahkan sampai ke fondasinya, ketika klaim-klaim khusus atas kesetiaan umat manusia yang diajukan oleh berbagai sekte telah diledakkan menjadi atom dan lenyap ke udara, ketika pukulan-pukulan godam dari penelitian kepurbakalaan modern sedang menumbuk segala macam ortodoksi yang usang seperti tumpukan porselen, ketika agama di Barat hanya ada di tangan orang-orang yang tidak berpengetahuan dan orang-orang yang berpengetahuan memandang rendah dengan hinaan terhadap apa pun yang berkaitan dengan agama, di sinilah muncul ke depan filsafat India, yang memperlihatkan aspirasi keagamaan tertinggi dari batin India, di mana fakta-fakta filosofis yang paling agung telah menjadi spiritualitas praktis rakyatnya. Inilah yang secara alami datang menyelamatkan, yakni gagasan ketunggalan segala sesuatu, Yang Tak Terhingga, gagasan tentang Yang Impersonal, gagasan yang menakjubkan tentang jiwa kekal manusia, tentang kesinambungan tak terputus dalam perjalanan makhluk-makhluk, dan ketakterhinggaan alam semesta. Sekte-sekte lama memandang dunia sebagai sebuah genangan lumpur kecil dan mengira waktu baru saja dimulai kemarin. Hanya dalam kitab-kitab kita yang kuno itu — dan hanya di sanalah — gagasan agung tentang jangkauan waktu, ruang, dan sebab-akibat yang tak terhingga, dan di atas segalanya, kemuliaan tak terhingga dari roh manusia menguasai seluruh pencarian akan agama. Ketika teori-teori modern yang dahsyat tentang evolusi dan kekekalan energi dan sebagainya sedang menjatuhkan pukulan-pukulan maut kepada segala macam teologi yang kasar, apakah yang masih dapat memikat kesetiaan kemanusiaan yang berbudaya selain gagasan-gagasan yang paling menakjubkan, meyakinkan, meluaskan, dan memuliakan, yang hanya dapat ditemukan dalam produk paling mengagumkan dari jiwa manusia, suara Tuhan yang menakjubkan itu, yakni Vedanta?

Pada saat yang sama, saya harus mencatat bahwa yang saya maksud dengan agama kita yang bekerja atas bangsa-bangsa di luar India hanyalah mencakup prinsip-prinsip, latar belakang, fondasi tempat agama itu dibangun. Pekerjaan-pekerjaan terperinci, butir-butir kecil yang telah dirumuskan melalui berabad-abad kebutuhan sosial, perhitungan-perhitungan kecil mengenai sopan santun dan adat-istiadat serta kesejahteraan sosial, tidak dengan tepat termasuk dalam kategori agama. Kita tahu bahwa dalam kitab-kitab kita dibuat suatu pembedaan yang jelas antara dua perangkat kebenaran. Perangkat yang satu adalah yang berlangsung selamanya, yang dibangun atas hakikat manusia, hakikat jiwa, hubungan jiwa dengan Tuhan, hakikat Tuhan, kesempurnaan, dan sebagainya; ada pula prinsip-prinsip kosmologi, prinsip ketakterhinggaan penciptaan, atau yang lebih tepat dikatakan — pemroyeksian, hukum menakjubkan tentang prosesi siklis, dan sebagainya — inilah prinsip-prinsip abadi yang dilandaskan pada hukum-hukum semesta dalam alam. Perangkat yang lain mencakup hukum-hukum minor yang memandu jalannya kehidupan sehari-hari kita. Hukum-hukum itu lebih tepat termasuk dalam Purana, dalam Smriti, dan bukan dalam Shruti. Hukum-hukum ini tidak berhubungan dengan prinsip-prinsip yang lain. Bahkan dalam bangsa kita sendiri, hukum-hukum minor ini terus berubah sepanjang waktu. Adat-istiadat suatu zaman, suatu Yuga, tidak menjadi adat-istiadat zaman yang lain, dan seiring Yuga datang menggantikan Yuga, hukum-hukum itu akan tetap harus berubah. Para Rishi besar akan tampil dan menuntun kita kepada adat dan sopan santun yang sesuai dengan lingkungan baru.

Prinsip-prinsip agung yang mendasari seluruh pandangan yang menakjubkan, tak terhingga, memuliakan, dan meluaskan tentang manusia dan Tuhan serta dunia ini telah dihasilkan di India. Hanya di India saja manusia tidak berdiri untuk bertempur demi suatu tuhan suku kecil, dengan berkata "Tuhanku benar dan tuhanmu tidak benar; mari kita bertempur sengit karenanya." Hanya di sinilah gagasan-gagasan semacam itu — bertempur demi tuhan-tuhan kecil — tidak muncul. Prinsip-prinsip dasar yang agung ini, yang dilandaskan pada hakikat manusia yang abadi, sama berdayanya hari ini untuk bekerja demi kebaikan umat manusia seperti ribuan tahun yang lalu, dan akan tetap demikian, selama bumi ini tetap ada, selama hukum Karma tetap berlaku, selama kita dilahirkan sebagai individu dan harus mengupayakan nasib kita sendiri dengan kekuatan individu kita.

Dan di atas segalanya, apa yang harus India berikan kepada dunia adalah hal ini. Jika kita mengamati pertumbuhan dan perkembangan agama-agama di berbagai ras, kita akan selalu menemukan bahwa setiap suku pada mulanya memiliki tuhannya sendiri. Jika suku-suku itu memiliki hubungan kekerabatan satu sama lain, tuhan-tuhan ini akan memiliki nama generik, sebagaimana misalnya semua tuhan Babilonia. Ketika orang Babilonia terbagi menjadi banyak ras, mereka memiliki nama generik Baal, sebagaimana ras-ras Yahudi memiliki tuhan-tuhan yang berbeda dengan nama bersama Moloch; dan pada saat yang sama Anda akan menemukan bahwa salah satu dari suku-suku ini menjadi lebih unggul daripada yang lain, dan mengklaim rajanya sendiri sebagai raja atas semua. Dari sana wajarlah jika ia juga ingin mempertahankan tuhannya sendiri sebagai tuhan atas semua ras. Baal-Merodach, kata orang Babilonia, adalah tuhan yang terbesar; semua yang lain lebih rendah. Moloch-Yahveh lebih unggul dari semua Moloch yang lain. Dan pertanyaan-pertanyaan ini harus diputuskan oleh nasib pertempuran. Pergumulan yang sama juga ada di sini. Di India, tuhan-tuhan yang bersaing yang sama telah bergulat satu sama lain memperebutkan keunggulan, tetapi nasib baik yang besar dari negeri ini dan dunia adalah bahwa di tengah keriuhan dan kebingungan itu muncul suatu suara yang memaklumkan एकं सद्विप्रा बहुधा वदन्ति — "Yang Ada adalah Satu; para resi menyebut-Nya dengan berbagai nama." Bukanlah Siwa lebih tinggi daripada Wisnu, bukan pula Wisnu segalanya dan Siwa bukan apa-apa, tetapi yang satu dan sama itulah yang Anda sebut sebagai Siwa, atau Wisnu, atau dengan seratus nama lain. Nama-namanya berbeda, tetapi yang dimaksud adalah Yang Satu yang sama. Seluruh sejarah India dapat Anda baca dalam beberapa kata ini. Seluruh sejarah merupakan pengulangan dalam bahasa yang besar dan dengan kekuatan dahsyat dari satu doktrin sentral itu. Doktrin itu diulang-ulang di negeri ini sampai ia masuk ke dalam darah bangsa, sampai ia mulai berdenyut bersama setiap tetes darah yang mengalir dalam pembuluh-pembuluhnya, sampai ia menjadi satu dengan kehidupan, bagian tak terpisahkan dari bahan yang menjadi penyusunnya; dan demikianlah negeri ini diubah menjadi negeri toleransi yang paling menakjubkan, yang memberi hak untuk menyambut berbagai agama serta semua sekte ke dalam ibu pertiwi yang tua ini.

Dan di sinilah penjelasan dari fenomena paling luar biasa yang hanya disaksikan di sini — segala macam sekte yang berbeda, yang tampaknya saling bertentangan tanpa harapan untuk berdamai, namun hidup dalam keselarasan semacam itu. Anda mungkin seorang dualis, dan saya mungkin seorang monis. Anda mungkin percaya bahwa Anda adalah hamba abadi Tuhan, dan saya mungkin menyatakan bahwa saya adalah satu dengan Tuhan sendiri; namun kita berdua adalah orang Hindu yang baik. Bagaimana mungkin demikian? Maka bacalah एकं सद्विप्रा बहुधा वदन्ति — "Yang Ada adalah Satu; para resi menyebut-Nya dengan berbagai nama." Di atas semuanya, wahai rekan-rekan sebangsa saya, inilah satu kebenaran besar yang harus kita ajarkan kepada dunia. Bahkan orang-orang yang paling terpelajar dari negeri-negeri lain mendongakkan hidung mereka pada sudut empat puluh lima derajat dan menyebut agama kita pemujaan berhala. Saya telah menyaksikannya; dan mereka tidak pernah berhenti untuk merenungkan betapa banyak takhayul yang ada di dalam kepala mereka sendiri. Demikianlah keadaannya di mana-mana, sektarianisme yang dahsyat ini, kesempitan pikiran yang hina. Yang dimiliki seseorang adalah satu-satunya hal yang patut dimiliki; satu-satunya kehidupan yang patut dijalani adalah kehidupan kecilnya sendiri yang berupa pemujaan dolar dan pemujaan mamon; satu-satunya milik kecil yang patut dimiliki adalah hartanya sendiri, dan tidak ada yang lain. Jika ia dapat membuat sedikit omong kosong dari tanah liat atau menemukan sebuah mesin, hal itu harus dikagumi melebihi kepemilikan-kepemilikan yang terbesar. Demikianlah keadaan di seluruh dunia meskipun ada pendidikan dan pembelajaran. Tetapi pendidikan yang sesungguhnya belum lagi ada di dunia, dan peradaban — peradaban belum bermula di mana pun. Sembilan puluh sembilan koma sembilan persen dari umat manusia kurang-lebih masih biadab bahkan sekarang. Kita mungkin membaca tentang hal-hal ini dalam buku-buku, dan kita mendengar tentang toleransi dalam agama dan semua itu, tetapi yang demikian itu masih sangat sedikit di dunia; ambillah pengalaman saya sebagai buktinya. Sembilan puluh sembilan persen bahkan tidak memikirkannya. Masih ada penganiayaan keagamaan yang dahsyat di setiap negeri yang pernah saya kunjungi, dan keberatan-keberatan lama yang sama dilontarkan terhadap pembelajaran sesuatu yang baru. Toleransi kecil yang ada di dunia, simpati kecil yang masih ada di dunia bagi pemikiran keagamaan, secara praktis ada di sini, di tanah orang Arya, dan tidak di tempat lain. Di sinilah orang India membangun kuil-kuil bagi orang Muhammad dan orang Kristen; tidak di tempat lain. Jika Anda pergi ke negeri-negeri lain dan meminta orang Muhammad atau orang dari agama lain untuk membangun sebuah kuil bagi Anda, lihatlah bagaimana mereka akan membantu. Sebaliknya, mereka akan mencoba meruntuhkan kuil Anda dan diri Anda juga jika mereka mampu. Maka pelajaran besar yang paling diinginkan oleh dunia, yang harus dipelajari dunia dari India, adalah gagasan bukan saja tentang toleransi, melainkan tentang simpati. Telah dikatakan dengan baik dalam Mahimnah-stotra: "Sebagaimana sungai-sungai yang berbeda, yang bermula dari gunung-gunung yang berbeda, mengalir lurus atau berliku, akhirnya tiba ke samudra, demikian pula, ya Siwa, jalan-jalan yang berbeda yang ditempuh manusia karena kecenderungan-kecenderungan yang beragam, walaupun tampak bermacam-macam, berliku ataupun lurus, semuanya menuju kepada Engkau." Walaupun mereka menempuh berbagai jalan, semuanya berada di jalan yang benar. Sebagian mungkin berlari sedikit berkelok, yang lain mungkin berlari lurus, tetapi akhirnya mereka semua akan tiba kepada Tuhan, Yang Satu. Pada saat itu, dan hanya pada saat itulah, Bhakti Anda kepada Siwa menjadi lengkap, ketika Anda bukan saja melihat-Nya dalam Linga, tetapi melihat-Nya di mana-mana. Ia adalah orang bijak, ia adalah pencinta Hari, yang melihat Hari dalam segala sesuatu dan dalam setiap orang. Jika Anda seorang pencinta Siwa yang sejati, Anda harus melihat-Nya dalam segala sesuatu dan dalam setiap orang. Anda harus melihat bahwa setiap ibadah dipersembahkan kepada-Nya, apa pun namanya atau bentuknya; bahwa semua lutut yang membungkuk ke arah Ka'bah, atau berlutut di gereja Kristen, atau di kuil Buddha, sedang berlutut kepada-Nya entah mereka mengetahuinya atau tidak, entah mereka menyadarinya atau tidak; bahwa dalam nama atau bentuk apa pun bunga-bunga itu dipersembahkan, semua bunga itu diletakkan di kaki-Nya; sebab Ia adalah satu-satunya Tuhan dari semua, satu-satunya Jiwa dari semua jiwa. Ia tahu jauh lebih baik daripada Anda atau saya apa yang sesungguhnya dibutuhkan oleh dunia ini. Mustahil semua perbedaan dapat lenyap; perbedaan itu pasti ada; tanpa variasi kehidupan pasti berhenti. Pertentangan inilah, pembedaan pemikiran inilah, yang menghasilkan cahaya, gerak, dan segala sesuatu. Pembedaan, yang tak terhingga bertentangannya, harus tetap ada, tetapi tidaklah perlu karenanya kita saling membenci; tidaklah perlu karenanya kita saling bertarung.

Oleh karena itu, kita harus belajar sekali lagi satu kebenaran sentral yang diberitakan hanya di sini, di Ibu Pertiwi kita, dan yang harus diberitakan sekali lagi dari India. Mengapa? Karena bukan saja ia ada dalam kitab-kitab kita, tetapi ia mengalir melalui setiap tahap sastra nasional kita dan ada dalam kehidupan bangsa kita. Di sini, dan hanya di sini, ia dipraktikkan setiap hari, dan setiap orang yang matanya terbuka dapat melihat bahwa ia dipraktikkan di sini dan hanya di sini. Demikianlah kita harus mengajarkan agama. Ada pelajaran-pelajaran lain dan yang lebih tinggi yang dapat diajarkan India, tetapi pelajaran-pelajaran itu hanyalah bagi orang-orang yang terpelajar. Pelajaran-pelajaran tentang kelembutan, kesantunan, kesabaran, toleransi, simpati, dan persaudaraan, dapat dipelajari oleh setiap orang, entah laki-laki, perempuan, atau anak-anak, terpelajar atau tidak terpelajar, tanpa memandang ras, kasta, atau keyakinan. "Mereka menyebut-Mu dengan berbagai nama; Engkau adalah Yang Satu."

English

FIRST PUBLIC LECTURE IN THE EAST

(Delivered in Colombo)

After his memorable work in the West, Swami Vivekananda landed at Colombo on the afternoon of January 15, 1897, and was given a right royal reception by the Hindu community there. The following address of welcome was then presented to him:

SRIMAT VIVEKANANDA SWAMI

Revered Sir,

In pursuance of a resolution passed at a public meeting of the Hindus of the city of Colombo, we beg to offer you a hearty welcome to this Island. We deem it a privilege to be the first to welcome you on your return home from your great mission in the West.

We have watched with joy and thankfulness the success with which the mission has, under God's blessing, been crowned. You have proclaimed to the nations of Europe and America the Hindu ideal of a universal religion, harmonising all creeds, providing spiritual food for each soul according to its needs, and lovingly drawing it unto God. You have preached the Truth and the Way, taught from remote ages by a succession of Masters whose blessed feet have walked and sanctified the soil of India, and whose gracious presence and inspiration have made her, through all her vicissitudes, the Light of the World.

To the inspiration of such a Master, Shri Ramakrishna Paramahamsa Deva, and to your self-sacrificing zeal, Western nations owe the priceless boon of being placed in living contact with the spiritual genius of India, while to many of our own countrymen, delivered from the glamour of Western civilisation, the value of Our glorious heritage has been brought home.

By your noble work and example you have laid humanity under an obligation difficult to repay, and you have shed fresh lustre upon our Motherland. We pray that the grace of God may continue to prosper you and your work, and

We remain, Revered Sir,

Yours faithfully,

for and on behalf of the Hindus of Colombo,

P. Coomara Swamy ,

Member of the Legislative Council of Ceylon,

Chairman of the Meeting.

A. Kulaveerasingham , Secretary.

Colombo, January, 1897.

The Swami gave a brief reply, expressing his appreciation of the kind welcome he had received. He took advantage of the opportunity to point out that the demonstration had not been made in honour of a great politician, or a great soldier, or a millionaire, but of a begging Sannyâsin, showing the tendency of the Hindu mind towards religion. He urged the necessity of keeping religion as the backbone of the national life if the nation were to live, and disclaimed any personal character for the welcome he had received, but insisted upon its being the recognition of a principle.

On the evening of the 16th the Swami gave the following public lecture in the Floral Hall:

What little work has been done by me has not been from any inherent power that resides in me, but from the cheers, the goodwill, the blessings that have followed my path in the West from this our very beloved, most sacred, dear Motherland. Some good has been done, no doubt, in the West, but specially to myself; for what before was the result of an emotional nature, perhaps, has gained the certainty of conviction and attained the power and strength of demonstration. Formerly I thought as every Hindu thinks, and as the Hon. President has just pointed out to you, that this is the Punya Bhumi, the land of Karma. Today I stand here and say, with the conviction of truth, that it is so. If there is any land on this earth that can lay claim to be the blessed Punya Bhumi, to be the land to which all souls on this earth must come to account for Karma, the land to which every soul that is wending its way Godward must come to attain its last home, the land where humanity has attained its highest towards gentleness, towards generosity, towards purity, towards calmness, above all, the land of introspection and of spirituality — it is India. Hence have started the founders of religions from the most ancient times, deluging the earth again and again with the pure and perennial waters of spiritual truth. Hence have proceeded the tidal waves of philosophy that have covered the earth, East or West, North or South, and hence again must start the wave which is going to spiritualise the material civilisation of the world. Here is the life-giving water with which must be quenched the burning fire of materialism which is burning the core of the hearts of millions in other lands. Believe me, my friends, this is going to be.

So much I have seen, and so far those of you who are students of the history of races are already aware of this fact. The debt which the world owes to our Motherland is immense. Taking country with country, there is not one race on this earth to which the world owes so much as to the patient Hindu, the mild Hindu. "The mild Hindu" sometimes is used as an expression of reproach; but if ever a reproach concealed a wonderful truth, it is in the term, "the mild Hindu", who has always been the blessed child of God. Civilisations have arisen in other parts of the world. In ancient times and in modern times, great ideas have emanated from strong and great races. In ancient and in modern times, wonderful ideas have been carried forward from one race to another. In ancient and in modern times, seeds of great truth and power have been cast abroad by the advancing tides of national life; but mark you, my friends, it has been always with the blast of war trumpets and with the march of embattled cohorts. Each idea had to be soaked in a deluge of blood. Each idea had to wade through the blood of millions of our fellow-beings. Each word of power had to be followed by the groans of millions, by the wails of orphans, by the tears of widows. This, in the main, other nations have taught; but India has for thousands of years peacefully existed. Here activity prevailed when even Greece did not exist, when Rome was not thought of, when the very fathers of the modern Europeans lived in the forests and painted themselves blue. Even earlier, when history has no record, and tradition dares not peer into the gloom of that intense past, even from then until now, ideas after ideas have marched out from her, but every word has been spoken with a blessing behind it and peace before it. We, of all nations of the world, have never been a conquering race, and that blessing is on our head, and therefore we live.

There was a time when at the sound of the march of big Greek battalions the earth trembled. Vanished from off the face of the earth, with not every a tale left behind to tell, gone is that ancient land of the Greeks. There was a time when the Roman Eagle floated over everything worth having in this world; everywhere Rome's power was felt and pressed on the head of humanity; the earth trembled at the name of Rome. But the Capitoline Hill is a mass of ruins, the spider weaves its web where the Caesars ruled. There have been other nations equally glorious that have come and gone, living a few hours of exultant and exuberant dominance and of a wicked national life, and then vanishing like ripples on the face of the waters. Thus have these nations made their mark on the face of humanity. But we live, and if Manu came back today he would not be bewildered, and would not find himself in a foreign land. The same laws are here, laws adjusted and thought out through thousands and thousands of years; customs, the outcome of the acumen of ages and the experience of centuries, that seem to be eternal; and as the days go by, as blow after blow of misfortune has been delivered upon them, such blows seem to have served one purpose only, that of making them stronger and more constant. And to find the centre of all this, the heart from which the blood flows, the mainspring of the national life, believe me when I say after my experience of the world, that it is here.

To the other nations of the world, religion is one among the many occupations of life. There is politics, there are the enjoyments of social life, there is all that wealth can buy or power can bring, there is all that the senses can enjoy; and among all these various occupations of life and all this searching after something which can give yet a little more whetting to the cloyed senses — among all these, there is perhaps a little bit of religion. But here, in India, religion is the one and the only occupation of life. How many of you know that there has been a Sino-Japanese War? Very few of you, if any. That there are tremendous political movements and socialistic movements trying to transform Western society, how many of you know? Very few indeed, if any. But that there was a Parliament of Religions in America, and that there was a Hindu Sannyâsin sent over there, I am astonished to find that even the cooly knows of it. That shows the way the wind blows, where the national life is. I used to read books written by globe-trotting travellers, especially foreigners, who deplored the ignorance of the Eastern masses, but I found out that it was partly true and at the same time partly untrue. If you ask a ploughman in England, or America, or France, or Germany to what party he belongs, he can tell you whether he belongs to the Radicals or the Conservatives, and for whom he is going to vote. In America he will say whether he is Republican or Democrat, and he even knows something about the silver question. But if you ask him about his religion, he will tell you that he goes to church and belongs to a certain denomination. That is all he knows, and he thinks it is sufficient.

Now, when we come to India, if you ask one of our ploughmen, "Do you know anything about politics?" He will reply, "What is that?" He does not understand the socialistic movements, the relation between capital and labour, and all that; he has never heard of such things in his life, he works hard and earns his bread. But you ask, "What is your religion?" he replies, "Look here, my friend, I have marked it on my forehead." He can give you a good hint or two on questions of religion. That has been my experience. That is our nation's life.

Individuals have each their own peculiarities, and each man has his own method of growth, his own life marked out for him by the infinite past life, by all his past Karma as we Hindus say. Into this world he comes with all the past on him, the infinite past ushers the present, and the way in which we use the present is going to make the future. Thus everyone born into this world has a bent, a direction towards which he must go, through which he must live, and what is true of the individual is equally true of the race. Each race, similarly, has a peculiar bent, each race has a peculiar raison d'être, each race has a peculiar mission to fulfil in the life of the world. Each race has to make its own result, to fulfil its own mission. Political greatness or military power is never the mission of our race; it never was, and, mark my words, it never will be. But there has been the other mission given to us, which is to conserve, to preserve, to accumulate, as it were, into a dynamo, all the spiritual energy of the race, and that concentrated energy is to pour forth in a deluge on the world whenever circumstances are propitious. Let the Persian or the Greek, the Roman, the Arab, or the Englishman march his battalions, conquer the world, and link the different nations together, and the philosophy and spirituality of India is ever ready to flow along the new-made channels into the veins of the nations of the world. The Hindu's calm brain must pour out its own quota to give to the sum total of human progress. India's gift to the world is the light spiritual.

Thus, in the past, we read in history that whenever there arose a greet conquering nation uniting the different races of the world, binding India with the other races, taking her out, as it were, from her loneliness and from her aloofness from the rest of the world into which she again and again cast herself, that whenever such a state has been brought about, the result has been the flooding of the world with Indian spiritual ideas. At the beginning of this century, Schopenhauer, the great German philosopher, studying from a not very clear translation of the Vedas made from an old translation into Persian and thence by a young Frenchman into Latin, says, "In the whole world there is no study so beneficial and so elevating as that of the Upanishads. It has been the solace of my life, it will be the solace of my death." This great German sage foretold that "The world is about to see a revolution in thought more extensive and more powerful than that which was witnessed by the Renaissance of Greek Literature", and today his predictions are coming to pass. Those who keep their eyes open, those who understand the workings in the minds of different nations of the West, those who are thinkers and study the different nations, will find the immense change that has been produced in the tone, the procedure, in the methods, and in the literature of the world by this slow, never-ceasing permeation of Indian thought.

But there is another peculiarity, as I have already hinted to you. We never preached our thoughts with fire and sword. If there is one word in the English language to represent the gift of India to the world, if there is one word in the English language to express the effect which the literature of India produces upon mankind, it is this one word, "fascination". It is the opposite of anything that takes you suddenly; it throws on you, as it were, a charm imperceptibly. To many, Indian thought, Indian manners; Indian customs, Indian philosophy, Indian literature are repulsive at the first sight; but let them persevere, let them read, let them become familiar with the great principles underlying these ideas, and it is ninety-nine to one that the charm will come over them, and fascination will be the result. Slow and silent, as the gentle dew that falls in the morning, unseen and unheard yet producing a most tremendous result, has been the work of the calm, patient, all-suffering spiritual race upon the world of thought.

Once more history is going to repeat itself. For today, under the blasting light of modern science, when old and apparently strong and invulnerable beliefs have been shattered to their very foundations, when special claims laid to the allegiance of mankind by different sects have been all blown into atoms and have vanished into air, when the sledge-hammer blows of modern antiquarian researches are pulverising like masses of porcelain all sorts of antiquated orthodoxies, when religion in the West is only in the hands of the ignorant and the knowing ones look down with scorn upon anything belonging to religion, here comes to the fore the philosophy of India, which displays the highest religious aspirations of the Indian mind, where the grandest philosophical facts have been the practical spirituality of the people. This naturally is coming to the rescue, the idea of the oneness of all, the Infinite, the idea of the Impersonal, the wonderful idea of the eternal soul of man, of the unbroken continuity in the march of beings, and the infinity of the universe. The old sects looked upon the world as a little mud-puddle and thought that time began but the other day. It was there in our old books, and only there that the grand idea of the infinite range of time, space, and causation, and above all, the infinite glory of the spirit of man governed all the search for religion. When the modern tremendous theories of evolution and conservation of energy and so forth are dealing death blows to all sorts of crude theologies, what can hold any more the allegiance of cultured humanity but the most wonderful, convincing, broadening, and ennobling ideas that can be found only in that most marvellous product of the soul of man, the wonderful voice of God, the Vedanta?

At the same time, I must remark that what I mean by our religion working upon the nations outside of India comprises only the principles, the background, the foundation upon which that religion is built. The detailed workings, the minute points which have been worked out through centuries of social necessity, little ratiocinations about manners and customs and social well-being, do not rightly find a place in the category of religion. We know that in our books a clear distinction is made between two sets of truths. The one set is that which abides for ever, being built upon the nature of man, the nature of the soul, the soul's relation to God, the nature of God, perfection, and so on; there are also the principles of cosmology, of the infinitude of creation, or more correctly speaking — projection, the wonderful law of cyclical procession, and so on — these are the eternal principles founded upon the universal laws in nature. The other set comprises the minor laws which guided the working of our everyday life They belong more properly to the Purânas, to the Smritis, and not to the Shrutis. These have nothing to do with the other principles. Even in our own nation these minor laws have been changing all the time. Customs of one age, of one Yuga, have not been the customs of another, and as Yuga comes after Yuga, they will still have to change. Great Rishis will appear and lead us to customs and manners that are suited to new environments.

The great principles underlying all this wonderful, infinite, ennobling, expansive view of man and God and the world have been produced in India. In India alone man has not stood up to fight for a little tribal God, saying "My God is true and yours is not true; let us have a good fight over it." It was only here that such ideas did not occur as fighting for little gods. These great underlying principles, being based upon the eternal nature of man, are as potent today for working for the good of the human race as they were thousands of years ago, and they will remain so, so tong as this earth remains, so long as the law of Karma remains, so long as we are born as individuals and have to work out our own destiny by our individual power.

And above all, what India has to give to the world is this. If we watch the growth and development of religions in different races, we shall always find this that each tribe at the beginning has a god of its own. If the tribes are allied to each other, these gods will have a generic name, as for example, all the Babylonian gods had. When the Babylonians were divided into many races, they had the generic name of Baal, just as the Jewish races had different gods with the common name of Moloch; and at the same time you will find that one of these tribes becomes superior to the rest, and lays claim to its own king as the king over all. Therefrom it naturally follows that it also wants to preserve its own god as the god of all the races. Baal-Merodach, said the Babylonians, was the greatest god; all the others were inferior. Moloch-Yahveh was the superior over all other Molochs. And these questions had to be decided by the fortunes of battle. The same struggle was here also. In India the same competing gods had been struggling with each other for supremacy, but the great good fortune of this country and of the world was that there came out in the midst of the din and confusion a voice which declared एकं सद्विप्रा बहुधा वदन्ति — "That which exists is One; sages call It by various names." It is not that Shiva is superior to Vishnu, not that Vishnu is everything and Shiva is nothing, but it is the same one whom you call either Shiva, or Vishnu, or by a hundred other names. The names are different, but it is the same one. The whole history of India you may read in these few words. The whole history has been a repetition in massive language, with tremendous power, of that one central doctrine. It was repeated in the land till it had entered into the blood of the nation, till it began to tingle with every drop of blood that flowed in its veins, till it became one with the life, part and parcel of the material of which it was composed; and thus the land was transmuted into the most wonderful land of toleration, giving the right to welcome the various religions as well as all sects into the old mother-country.

And herein is the explanation of the most remarkable phenomenon that is only witnessed here — all the various sects, apparently hopelessly contradictory, yet living in such harmony. You may be a dualist, and I may be a monist. You may believe that you are the eternal servant of God, and I may declare that I am one with God Himself; yet both of us are good Hindus. How is that possible? Read then एकं सद्विप्रा बहुधा वदन्ति — "That which exists is One; sages call It by various names." Above all others, my countrymen, this is the one grand truth that we have to teach to the world. Even the most educated people of other countries turn up their noses at an angle of forty-five degrees and call our religion idolatry. I have seen that; and they never stopped to think what a mass of superstition there was in their own heads. It is still so everywhere, this tremendous sectarianism, the low narrowness of the mind. The thing which a man has is the only thing worth having; the only life worth living is his own little life of dollar-worship and mammon-worship; the only little possession worth having is his own property, and nothing else. If he can manufacture a little clay nonsense or invent a machine, that is to be admired beyond the greatest possessions. That is the case over the whole world in spite of education and learning. But education has yet to be in the world, and civilisation — civilisation has begun nowhere yet. Ninety-nine decimal nine per cent of the human race are more or less savages even now. We may read of these things in books, and we hear of toleration in religion and all that, but very little of it is there yet in the world; take my experience for that. Ninety-nine per cent do not even think of it. There is tremendous religious persecution yet in every country in which I have been, and the same old objections are raised against learning anything new. The little toleration that is in the world, the little sympathy that is yet in the world for religious thought, is practically here in the land of the Aryan, and nowhere else. It is here that Indians build temples for Mohammedans and Christians; nowhere else. If you go to other countries and ask Mohammedans or people of other religions to build a temple for you, see how they will help. They will instead try to break down your temple and you too if they can. The one great lesson, therefore, that the world wants most, that the world has yet to learn from India, is the idea not only of toleration, but of sympathy. Well has it been said in the Mahimnah-stotra: "As the different rivers, taking their start from different mountains, running straight or crooked, at last come unto the ocean, so, O Shiva, the different paths which men take through different tendencies, various though they appear, crooked or straight, all lead unto These." Though they may take various roads, all are on the ways. Some may run a little crooked, others may run straight, but at last they will all come unto the Lord, the One. Then and then alone, is your Bhakti of Shiva complete when you not only see Him in the Linga, but you see Him everywhere. He is the sage, he is the lover of Hari who sees Hari in everything and in everyone. If you are a real lover of Shiva, you must see Him in everything and in everyone. You must see that every worship is given unto Him whatever may be the name or the form; that all knees bending towards the Caaba, or kneeling in a Christian church, or in a Buddhist temple are kneeling to Him whether they know it or not, whether they are conscious of it or not; that in whatever name or form they are offered, all these flowers are laid at His feet; for He is the one Lord of all, the one Soul of all souls. He knows infinitely better what this world wants than you or I. It is impossible that all difference can cease; it must exist; without variation life must cease. It is this clash, the differentiation of thought that makes for light, for motion, for everything. Differentiation, infinitely contradictory, must remain, but it is not necessary that we should hate each other therefore; it is not necessary therefore that we should fight each other.

Therefore we have again to learn the one central truth that was preached only here in our Motherland, and that has to be preached once more from India. Why? Because not only is it in our books, but it runs through every phase of our national literature and is in the national life. Here and here alone is it practiced every day, and any man whose eyes are open can see that it is practiced here and here alone. Thus we have to teach religion. There are other and higher lessons that India can teach, but they are only for the learned. The lessons of mildness, gentleness, forbearance, toleration, sympathy, and brotherhood, everyone may learn, whether man, woman, or child, learned or unlearned, without respect of race, caste, or creed. "They call Thee by various names; Thou art One."


Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.