Hakikat Sejati Manusia
Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.
AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.
Bahasa Indonesia
BAB II
HAKIKAT SEJATI MANUSIA
( Disampaikan di London )
Besar sekali ketekunan manusia dalam berpegang pada indra. Namun, seberapa pun nyatanya dunia luar tempat ia hidup dan bergerak menurut anggapannya, tiba juga suatu saat dalam kehidupan tiap individu maupun bangsa ketika, tanpa dikehendaki, mereka bertanya, "Apakah ini nyata?" Bahkan kepada orang yang tidak pernah menyediakan sesaat pun untuk mempertanyakan kelayakan indranya, yang setiap saatnya disibukkan oleh suatu bentuk kenikmatan inderawi — kepadanya pun maut datang, dan ia juga terpaksa bertanya, "Apakah ini nyata?" Agama dimulai dengan pertanyaan ini dan diakhiri dengan jawabannya. Bahkan di masa silam yang jauh, ketika sejarah tertulis tidak dapat menolong kita, dalam cahaya samar mitologi, jauh di senja redup peradaban, kita dapati pertanyaan yang sama diajukan, "Akan menjadi apakah semua ini? Apakah yang nyata?"
Salah satu Upanishad (risalah filsafat penutup Veda) yang paling puitis, Katha Upanishad, dibuka dengan pertanyaan: "Ketika seseorang meninggal, timbul perselisihan. Satu pihak menyatakan bahwa ia telah pergi untuk selamanya, pihak yang lain bersikeras bahwa ia masih hidup. Manakah yang benar?" Berbagai jawaban telah diberikan. Seluruh wilayah metafisika, filsafat, dan agama sesungguhnya dipenuhi oleh aneka jawaban atas pertanyaan ini. Pada saat yang sama, telah dilakukan pula upaya untuk menekannya, untuk menghentikan kegelisahan batin yang bertanya, "Apa yang berada di seberang sana? Apakah yang nyata?" Namun, selama maut tetap ada, segala upaya penekanan ini akan selalu terbukti gagal. Kita boleh saja berbicara tentang tiada apa pun di seberang sana dan membatasi seluruh harapan serta cita-cita kita pada saat ini, dan berjuang keras agar tidak memikirkan apa pun di luar dunia indra; dan, barangkali, segala sesuatu di luar membantu menahan kita tetap terkungkung dalam batas-batasnya yang sempit. Seluruh dunia mungkin bersekutu mencegah kita melebar melampaui kekinian. Akan tetapi, selama maut masih ada, pertanyaan itu pasti datang berulang-ulang, "Apakah maut adalah akhir dari segala sesuatu yang kita genggam ini, seakan-akan ia adalah yang paling nyata di antara segala realitas, yang paling padat di antara segala zat?" Dunia lenyap dalam sekejap dan berlalu. Berdiri di tepi jurang yang di seberangnya menganga lubang tak terhingga, setiap pikiran, sekeras apa pun, niscaya akan mundur dan bertanya, "Apakah ini nyata?" Harapan seumur hidup, yang dibangun sedikit demi sedikit dengan seluruh energi suatu jiwa yang besar, lenyap dalam sedetik. Apakah semua itu nyata? Pertanyaan ini harus dijawab. Waktu tidak pernah mengurangi kekuatannya; sebaliknya, ia menambahkan ketegasan padanya.
Lalu ada hasrat untuk berbahagia. Kita mengejar segala hal untuk membuat diri kita bahagia; kita melanjutkan langkah gila kita di dunia indra yang lahiriah. Jika Anda bertanya kepada seorang pemuda yang hidupnya tampak sukses, ia akan menyatakan bahwa hidup ini nyata; dan ia memang benar-benar berpikir demikian. Barangkali, ketika orang yang sama menjadi tua dan mendapati nasib baik selalu menjauhinya, ia kemudian akan menyatakan bahwa itulah takdir. Akhirnya ia mendapati bahwa hasrat-hasratnya tidak dapat terpenuhi. Ke mana pun ia pergi, ada tembok dari intan yang tidak dapat ia lampaui. Setiap kegiatan indra menghasilkan reaksi. Segalanya fana. Kenikmatan, kesengsaraan, kemewahan, kekayaan, kekuasaan, dan kemiskinan, bahkan kehidupan itu sendiri, semuanya fana.
Tinggal dua kedudukan bagi umat manusia. Yang satu adalah meyakini bersama kaum nihilis bahwa segala sesuatu adalah tiada, bahwa kita tidak mengetahui apa-apa, bahwa kita tidak pernah dapat mengetahui apa pun, baik tentang masa depan, masa lalu, maupun masa kini. Sebab kita harus ingat bahwa orang yang menyangkal masa lalu dan masa depan dan ingin bertahan pada kekinian semata-mata adalah orang yang tidak waras. Sama saja dengan menyangkal ayah dan ibu lalu menegaskan keberadaan sang anak. Sama-sama logis. Untuk menyangkal masa lalu dan masa depan, kekinian pun mau tidak mau harus disangkal. Inilah satu kedudukan, yaitu kedudukan kaum nihilis. Saya tidak pernah melihat orang yang sungguh-sungguh dapat menjadi nihilis sekejap pun. Sangat mudah untuk berbicara.
Lalu ada kedudukan yang lain — mencari penjelasan, mencari yang nyata, menemukan di tengah dunia yang terus-menerus berubah dan fana ini sesuatu yang nyata. Dalam tubuh yang merupakan agregat molekul-molekul materi ini, adakah sesuatu yang nyata? Inilah pencarian yang berlangsung sepanjang sejarah pikiran manusia. Pada zaman yang paling tua sekalipun, kita sering menemukan kilasan cahaya yang masuk ke dalam pikiran manusia. Kita dapati manusia, bahkan pada zaman itu, melangkah selangkah melampaui tubuh ini, menemukan sesuatu yang bukan tubuh lahiriah ini, meskipun sangat menyerupainya, jauh lebih lengkap, jauh lebih sempurna, dan yang tetap ada bahkan ketika tubuh ini hancur. Kita baca dalam syair-syair Rig-Veda, yang ditujukan kepada Dewa Api yang membakar jenazah, "Bawalah ia, wahai Api, dalam pelukanmu dengan lembut, berikanlah kepadanya tubuh yang sempurna, tubuh yang cemerlang, bawalah ia ke tempat para leluhur tinggal, tempat tiada lagi dukacita, tempat tiada lagi maut." Gagasan yang sama akan Anda jumpai hadir dalam setiap agama. Dan bersamanya kita mendapatkan gagasan lain. Adalah fakta yang berarti bahwa semua agama, tanpa kecuali, berpegang bahwa manusia adalah kemerosotan dari keadaannya semula, baik mereka membalutnya dalam kata-kata mitologis, dalam bahasa filsafat yang jernih, maupun dalam ungkapan-ungkapan puisi yang indah. Inilah satu fakta yang muncul dari setiap kitab suci dan setiap mitologi bahwa manusia yang ada sekarang adalah kemerosotan dari manusia yang dahulu. Inilah inti kebenaran di balik kisah jatuhnya Adam dalam kitab suci Yahudi. Hal ini berulang-ulang dinyatakan dalam kitab-kitab suci Hindu; mimpi tentang suatu masa yang mereka sebut Zaman Kebenaran, ketika tiada manusia yang mati kecuali ia ingin mati, ketika ia dapat mempertahankan tubuhnya selama ia kehendaki, dan pikirannya murni serta kuat. Tiada kejahatan dan tiada kesengsaraan; dan zaman sekarang adalah kemerosotan dari keadaan kesempurnaan itu. Berdampingan dengan ini, kita jumpai kisah banjir besar di mana-mana. Kisah itu sendiri adalah bukti bahwa zaman sekarang ini dipandang sebagai kemerosotan zaman sebelumnya oleh setiap agama. Ia terus menjadi semakin rusak hingga banjir besar menyapu sebagian besar umat manusia, dan kembali rangkaian menaik dimulai. Ia perlahan naik kembali untuk sekali lagi mencapai keadaan kemurnian awal itu. Anda semua mengenal kisah banjir dalam Perjanjian Lama. Kisah yang sama beredar di kalangan orang Babilonia kuno, orang Mesir, orang Tionghoa, dan orang Hindu. Manu, seorang resi agung purba, sedang bersembahyang di tepi Sungai Gangga, ketika seekor ikan kecil datang kepadanya minta perlindungan, dan ia memasukkan ikan itu ke dalam buyung air yang ada di hadapannya. "Apa yang engkau inginkan?" tanya Manu. Ikan kecil itu menyatakan bahwa ia dikejar oleh ikan yang lebih besar dan ingin perlindungan. Manu membawa ikan kecil itu ke rumahnya, dan pada pagi harinya ikan itu telah sebesar buyung dan berkata, "Saya tidak dapat hidup lagi di dalam buyung ini." Manu memindahkannya ke kolam, dan keesokan harinya ia telah sebesar kolam dan menyatakan ia tidak dapat hidup di situ lagi. Maka Manu harus membawanya ke sungai, dan pada pagi harinya ikan itu memenuhi sungai. Lalu Manu menaruhnya di lautan, dan ia menyatakan, "Manu, Akulah Pencipta alam semesta. Aku mengambil rupa ini untuk datang dan memperingatkan engkau bahwa Aku akan menenggelamkan dunia. Buatlah sebuah bahtera dan masukkanlah ke dalamnya sepasang dari setiap jenis hewan, serta biarkanlah keluargamu masuk ke dalam bahtera itu, dan akan menjulur dari permukaan air tanduk-Ku. Tambatkanlah bahtera itu padanya; dan ketika banjir surut, keluarlah dan tempatilah bumi." Maka dunia pun ditenggelamkan, dan Manu menyelamatkan keluarganya sendiri serta dua dari setiap jenis hewan dan benih setiap tumbuhan. Ketika banjir surut, ia keluar dan mengisi dunia; dan kita semua disebut "manusia" (man), karena kita adalah keturunan Manu.
Sekarang, bahasa manusia adalah upaya untuk mengungkapkan kebenaran yang ada di dalam batin. Saya sepenuhnya yakin bahwa seorang bayi yang bahasanya berupa bunyi-bunyi yang tak terpahami sedang berusaha mengungkapkan filsafat yang tertinggi, hanya saja bayi itu tidak memiliki organ untuk mengungkapkannya maupun sarananya. Perbedaan antara bahasa para filsuf tertinggi dengan ucapan bayi hanyalah perbedaan derajat, bukan perbedaan jenis. Apa yang Anda sebut bahasa yang paling tepat, sistematis, dan matematis di zaman sekarang, serta bahasa mitologis para leluhur yang samar dan mistis itu, hanya berbeda dalam derajat. Semuanya memiliki suatu gagasan agung di belakangnya, yang seakan-akan berjuang untuk mengungkapkan dirinya; dan sering kali di balik mitologi-mitologi kuno itu terdapat bongkah-bongkah kebenaran; dan sering kali pula, sayangnya harus saya katakan, di balik kalimat-kalimat para modernis yang halus dan terpoles itu hanyalah sampah belaka. Karena itu, kita tidak perlu membuang sesuatu hanya karena ia dibungkus dalam mitologi, hanya karena ia tidak cocok dengan gagasan-gagasan Tuan Anu atau Nyonya Anu di zaman modern. Jika orang menertawakan agama karena kebanyakan agama menyatakan bahwa manusia harus mempercayai mitologi-mitologi yang diajarkan oleh nabi anu dan anu, mereka semestinya lebih menertawakan kaum modern ini. Pada zaman modern, jika seseorang mengutip seorang Musa, seorang Buddha, atau seorang Kristus, ia ditertawakan; tetapi biarkan ia menyebut nama seorang Huxley, seorang Tyndall, atau seorang Darwin, dan itu ditelan tanpa garam. "Huxley telah mengatakannya," itu sudah cukup bagi banyak orang. Sungguh kita telah bebas dari takhayul! Yang itu adalah takhayul religius, dan yang ini adalah takhayul ilmiah; hanya saja, di dalam dan melalui takhayul itu lahir gagasan-gagasan spiritualitas yang memberi kehidupan; di dalam dan melalui takhayul modern ini lahir nafsu dan keserakahan. Takhayul itu adalah ibadat kepada Tuhan, dan takhayul ini adalah ibadat kepada uang yang kotor, kepada nama besar atau kekuasaan. Itulah perbedaannya.
Kembali kepada mitologi. Di balik semua kisah ini kita mendapati satu gagasan berdiri tertinggi — bahwa manusia adalah kemerosotan dari keadaannya semula. Beranjak ke zaman sekarang, penelitian modern tampaknya menyangkal kedudukan ini sama sekali. Para evolusionis tampaknya menentang pernyataan ini sepenuhnya. Menurut mereka, manusia adalah evolusi dari moluska; dan, oleh karena itu, apa yang dinyatakan mitologi tidak mungkin benar. Namun di India terdapat sebuah mitologi yang mampu mendamaikan kedua kedudukan ini. Mitologi India memiliki teori tentang siklus, bahwa segala kemajuan berlangsung dalam bentuk gelombang. Setiap gelombang disertai oleh penurunan, lalu oleh kenaikan pada saat berikutnya, lalu oleh penurunan berikutnya, dan kembali kenaikan yang lain. Geraknya bersiklus. Sungguh benar, bahkan atas dasar penelitian modern, bahwa manusia tidak mungkin hanya sekadar evolusi. Setiap evolusi mengandaikan suatu involusi. Ilmuwan modern akan mengatakan kepada Anda bahwa Anda hanya dapat mengeluarkan dari sebuah mesin sejumlah energi yang sebelumnya telah Anda masukkan ke dalamnya. Sesuatu tidak dapat dihasilkan dari ketiadaan. Jika manusia adalah evolusi dari moluska, maka manusia sempurna — manusia-Buddha, manusia-Kristus — sudah terkandung di dalam moluska. Jika tidak demikian, dari manakah pribadi-pribadi raksasa itu datang? Sesuatu tidak dapat muncul dari ketiadaan. Dengan demikian kita berada pada kedudukan yang dapat mendamaikan kitab-kitab suci dengan terang modern. Energi yang menyatakan dirinya perlahan melalui berbagai tahap hingga menjadi manusia sempurna itu tidak mungkin datang dari ketiadaan. Ia ada di suatu tempat; dan jika moluska atau protoplasma adalah titik pertama yang dapat Anda telusuri, maka protoplasma itu, dengan satu atau lain cara, pasti telah memuat energi itu.
Sedang berlangsung perdebatan besar mengenai apakah agregat bahan-bahan yang kita sebut tubuh itu merupakan sebab manifestasi dari daya yang kita sebut jiwa, pikiran, dan sebagainya, atau sebaliknya, apakah pikiran itulah yang memanifestasikan tubuh ini. Agama-agama di dunia tentu saja berpegang bahwa daya yang disebut pikiran itulah yang memanifestasikan tubuh, dan bukan sebaliknya. Ada mazhab-mazhab pemikiran modern yang berpegang bahwa apa yang kita sebut pikiran itu sekadar hasil penyesuaian bagian-bagian dari mesin yang kita sebut tubuh. Mengambil kedudukan kedua, bahwa jiwa atau himpunan pikiran, atau apa pun Anda menyebutnya, adalah hasil dari mesin ini, hasil dari kombinasi kimiawi dan fisis materi yang membentuk tubuh dan otak, tetap meninggalkan pertanyaan itu tidak terjawab. Apa yang membentuk tubuh? Daya apa yang menggabungkan molekul-molekul menjadi bentuk tubuh? Daya apa yang mengambil bahan dari massa materi di sekitarnya dan membentuk tubuh saya dengan satu cara, tubuh lain dengan cara lain, dan seterusnya? Apa yang membuat perbedaan-perbedaan yang tak terhingga ini? Mengatakan bahwa daya yang disebut jiwa adalah hasil dari kombinasi molekul-molekul tubuh sama saja dengan menaruh kereta di depan kuda. Bagaimana kombinasi itu terjadi; di manakah daya untuk menjadikannya? Jika Anda mengatakan bahwa daya lain adalah sebab dari kombinasi-kombinasi itu, dan jiwa adalah hasil dari materi itu, dan bahwa jiwa — yang menggabungkan sejumlah materi tertentu — itu sendiri adalah hasil dari kombinasi-kombinasi tersebut, itu bukanlah jawaban. Teori yang menjelaskan paling banyak fakta, jika tidak semuanya, dan tanpa bertentangan dengan teori-teori lain yang sudah ada, itulah yang seharusnya diterima. Lebih logis untuk mengatakan bahwa daya yang mengambil materi dan membentuk tubuh adalah daya yang sama yang memanifestasikan diri melalui tubuh itu. Maka, mengatakan bahwa daya-daya pikiran yang dimanifestasikan oleh tubuh adalah hasil dari penataan molekul dan tidak memiliki keberadaan yang merdeka tidaklah bermakna; tidak juga daya dapat berevolusi keluar dari materi. Justru sebaliknya, dapat ditunjukkan bahwa apa yang kita sebut materi sama sekali tidak ada. Ia hanyalah suatu keadaan tertentu dari daya. Kepadatan, kekerasan, atau keadaan materi yang mana pun dapat dibuktikan sebagai hasil dari gerak. Peningkatan gerak pusaran yang diberikan kepada cairan memberinya kekuatan benda padat. Sekumpulan udara dalam gerak pusaran, seperti dalam puting beliung, menjadi seperti benda padat dan oleh benturannya dapat mematahkan atau memotong benda padat. Sehelai benang sarang laba-laba, jika dapat digerakkan pada kecepatan yang hampir tak terhingga, akan sekuat rantai besi dan dapat memotong sebatang pohon ek. Memandangnya dengan cara ini, akan lebih mudah membuktikan bahwa apa yang kita sebut materi tidaklah ada. Tetapi cara yang sebaliknya tidak dapat dibuktikan.
Apakah daya yang menyatakan dirinya melalui tubuh ini? Jelas bagi kita semua, apa pun daya itu, ia mengambil partikel-partikel, seakan-akan, dan membentuk wujud darinya — tubuh manusia. Tidak ada orang lain yang datang ke sini untuk membentuk tubuh bagi Anda dan saya. Saya tidak pernah melihat seseorang memakan makanan untuk saya. Saya sendiri yang harus mencernanya, membuat darah, tulang, dan segalanya dari makanan itu. Apakah daya yang misterius ini? Gagasan tentang masa depan dan masa lalu tampaknya menakutkan bagi banyak orang. Bagi banyak orang, gagasan-gagasan itu tampak hanya spekulasi belaka.
Kita akan mengambil tema yang sekarang. Apakah daya yang sedang bekerja melalui kita ini? Kita tahu bahwa pada zaman dahulu, dalam semua kitab suci kuno, daya ini, manifestasi daya ini, dianggap sebagai zat yang cemerlang yang memiliki bentuk tubuh ini, dan yang tetap ada bahkan setelah tubuh ini runtuh. Namun kemudian, kita mendapati gagasan yang lebih tinggi muncul — bahwa tubuh yang cemerlang ini tidak mewakili daya itu sendiri. Apa pun yang memiliki bentuk pasti merupakan hasil kombinasi partikel dan memerlukan sesuatu yang lain di belakangnya untuk menggerakkannya. Jika tubuh ini memerlukan sesuatu yang bukan tubuh untuk membentuknya, maka tubuh yang cemerlang itu, dengan keharusan yang sama, juga memerlukan sesuatu yang lain selain dirinya sendiri untuk membentuknya. Maka, sesuatu itu disebut jiwa, Atman (Diri sejati) dalam bahasa Sanskerta. Atman itulah yang melalui tubuh yang cemerlang, seakan-akan, bekerja pada tubuh kasar di luar. Tubuh yang cemerlang itu dipandang sebagai wadah pikiran, dan Atman berada di seberangnya. Ia bahkan bukan pikiran; ia menggerakkan pikiran, dan melalui pikiran menggerakkan tubuh. Anda memiliki sebuah Atman, saya memiliki yang lain — masing-masing dari kita memiliki Atman yang terpisah dan tubuh halus yang terpisah, dan melaluinya kita bekerja pada tubuh lahiriah yang kasar. Lalu diajukan pertanyaan-pertanyaan tentang Atman ini, tentang hakikatnya. Apakah Atman ini, jiwa manusia ini, yang bukan tubuh dan bukan pula pikiran? Diskusi-diskusi besar pun menyusul. Spekulasi-spekulasi dilakukan, berbagai corak penyelidikan filsafat lahir; dan saya akan mencoba menyampaikan kepada Anda sebagian dari kesimpulan-kesimpulan yang telah dicapai tentang Atman ini.
Beragam filsafat tampaknya sepakat bahwa Atman ini, apa pun ia, tidak memiliki rupa maupun bentuk, dan apa yang tidak memiliki rupa maupun bentuk pasti mahahadir. Waktu bermula dengan pikiran, ruang pun ada di dalam pikiran. Kausalitas tidak dapat berdiri tanpa waktu. Tanpa gagasan tentang urutan tidak dapat ada gagasan tentang kausalitas. Waktu, ruang, dan kausalitas, oleh karena itu, ada di dalam pikiran, dan karena Atman ini berada di seberang pikiran dan tanpa bentuk, ia pastilah berada di seberang waktu, di seberang ruang, dan di seberang kausalitas. Nah, jika ia berada di seberang waktu, ruang, dan kausalitas, ia pastilah tak terhingga. Lalu datanglah spekulasi tertinggi dalam filsafat kita. Yang tak terhingga tidak dapat menjadi dua. Jika jiwa itu tak terhingga, hanya dapat ada satu Jiwa, dan semua gagasan tentang aneka jiwa — Anda memiliki satu jiwa, dan saya memiliki yang lain, dan seterusnya — tidaklah nyata. Manusia Sejati, oleh karena itu, adalah satu dan tak terhingga, Roh yang mahahadir. Dan manusia yang tampak hanyalah suatu pembatasan dari Manusia Sejati itu. Dalam pengertian itulah mitologi-mitologi benar bahwa manusia yang tampak, sebesar apa pun ia, hanyalah cerminan samar dari Manusia Sejati yang berada di seberang sana. Manusia Sejati, sang Roh, karena berada di seberang sebab dan akibat, tidak terikat oleh waktu dan ruang, maka pastilah merdeka. Ia tidak pernah terikat, dan tidak dapat terikat. Manusia yang tampak, cerminan itu, dibatasi oleh waktu, ruang, dan kausalitas, dan oleh karena itu, terikat. Atau dalam bahasa sebagian filsuf kita, ia tampak terikat, tetapi sesungguhnya tidak. Inilah realitas dalam jiwa kita, kemahahadiran ini, hakikat spiritual ini, ketakterhinggaan ini. Setiap jiwa adalah tak terhingga, oleh karena itu tidak ada pertanyaan tentang kelahiran dan kematian. Beberapa anak sedang diuji. Penguji mengajukan kepada mereka pertanyaan-pertanyaan yang agak sulit, dan di antaranya adalah pertanyaan ini: "Mengapa bumi tidak jatuh?" Ia ingin memancing jawaban tentang gravitasi. Sebagian besar anak tidak dapat menjawab sama sekali; beberapa menjawab bahwa itu karena gravitasi atau sesuatu seperti itu. Seorang gadis kecil yang cerdas menjawabnya dengan mengajukan pertanyaan lain: "Ke mana ia harus jatuh?" Pertanyaan itu tidak masuk akal. Ke mana bumi harus jatuh? Tiada jatuh atau naik bagi bumi. Dalam ruang yang tak terhingga tidak ada atas atau bawah; hal itu hanya ada dalam yang relatif. Di manakah pergi atau datang bagi yang tak terhingga? Dari mana ia harus datang dan ke mana ia harus pergi?
Maka, ketika orang berhenti memikirkan masa lalu atau masa depan, ketika mereka melepaskan gagasan tentang tubuh, karena tubuh datang dan pergi serta terbatas, maka mereka telah naik ke cita-cita yang lebih tinggi. Tubuh bukanlah Manusia Sejati, demikian pula bukan pikiran, sebab pikiran membesar dan menyusut. Roh di seberang sanalah yang seorang diri dapat hidup untuk selamanya. Tubuh dan pikiran terus-menerus berubah, dan, pada kenyataannya, hanyalah nama-nama bagi rangkaian fenomena yang berubah-ubah, seperti sungai yang airnya senantiasa dalam keadaan mengalir, namun memperlihatkan rupa arus yang tak terputus. Setiap partikel dalam tubuh ini terus-menerus berubah; tidak ada seorang pun yang memiliki tubuh yang sama selama beberapa menit berturut-turut, namun kita menganggapnya sebagai tubuh yang sama. Demikian pula dengan pikiran; satu saat ia bahagia, saat lain tidak bahagia; satu saat kuat, saat lain lemah; pusaran yang senantiasa berubah. Itu tidak mungkin Roh yang tak terhingga. Perubahan hanya dapat terjadi pada yang terbatas. Mengatakan bahwa yang tak terhingga berubah dalam cara apa pun adalah mustahil; hal itu tidak mungkin. Anda dapat bergerak dan saya dapat bergerak, sebagai tubuh-tubuh yang terbatas; setiap partikel dalam alam semesta ini berada dalam keadaan mengalir, tetapi mengambil alam semesta sebagai satu kesatuan, sebagai satu keseluruhan, ia tidak dapat bergerak, ia tidak dapat berubah. Gerak selalu merupakan hal yang relatif. Saya bergerak dalam hubungan dengan sesuatu yang lain. Setiap partikel dalam alam semesta ini dapat berubah dalam hubungan dengan partikel lain mana pun; tetapi ambil seluruh alam semesta sebagai satu, dan dalam hubungan dengan apakah ia dapat bergerak? Tidak ada yang lain di luar dirinya. Maka Kesatuan yang tak terhingga ini tak berubah, tak bergerak, mutlak, dan inilah Manusia Sejati. Realitas kita, oleh karena itu, terletak pada yang Universal dan bukan pada yang terbatas. Inilah khayalan lama, betapa pun nyaman ia, untuk berpikir bahwa kita adalah makhluk-makhluk kecil yang terbatas, yang terus-menerus berubah. Orang menjadi takut ketika dikatakan kepada mereka bahwa mereka adalah Wujud Universal, yang hadir di mana-mana. Melalui segala hal Anda bekerja, melalui setiap kaki Anda bergerak, melalui setiap bibir Anda berbicara, melalui setiap hati Anda merasa.
Orang menjadi takut ketika dikatakan demikian kepada mereka. Mereka akan berulang-ulang bertanya kepada Anda apakah mereka tidak akan mempertahankan keindividualan mereka. Apakah keindividualan itu? Saya ingin sekali melihatnya. Seorang bayi tidak memiliki kumis; ketika ia tumbuh menjadi lelaki dewasa, mungkin ia memiliki kumis dan janggut. Keindividualannya akan hilang, jika ia berada di dalam tubuh. Jika saya kehilangan satu mata, atau jika saya kehilangan salah satu tangan saya, keindividualan saya akan hilang jika ia berada di dalam tubuh. Lagi pula, seorang pemabuk tidak boleh berhenti minum karena ia akan kehilangan keindividualannya. Seorang pencuri tidak boleh menjadi orang baik karena dengan itu ia akan kehilangan keindividualannya. Tidak ada manusia yang patut mengubah kebiasaannya karena rasa takut akan hal ini. Tidak ada keindividualan kecuali pada yang Tak Terhingga. Itulah satu-satunya keadaan yang tidak berubah. Segala yang lain berada dalam keadaan yang senantiasa mengalir. Keindividualan juga tidak dapat berada dalam ingatan. Andaikata, karena suatu pukulan di kepala saya lupa segala sesuatu tentang masa lalu saya; maka, saya telah kehilangan seluruh keindividualan; saya telah lenyap. Saya tidak ingat dua atau tiga tahun masa kanak-kanak saya, dan jika ingatan dan keberadaan adalah satu, maka apa pun yang saya lupakan telah lenyap. Bagian hidup saya yang tidak saya ingat, tidak saya jalani. Itu adalah gagasan keindividualan yang sangat sempit.
Kita belum menjadi individu. Kita sedang berjuang menuju keindividualan, dan itulah yang Tak Terhingga, itulah hakikat sejati manusia. Hanya ia yang hidup yang hidupnya berada dalam seluruh alam semesta, dan semakin kita memusatkan hidup kita pada hal-hal yang terbatas, semakin cepat pula kita menuju kematian. Hanya saat-saat itulah kita hidup ketika hidup kita berada dalam alam semesta, dalam orang lain; dan menjalani hidup yang kecil ini adalah kematian, sekadar kematian, dan itulah sebabnya rasa takut akan kematian datang. Rasa takut akan kematian hanya dapat ditaklukkan ketika manusia menyadari bahwa selama masih ada satu kehidupan di alam semesta ini, ia hidup. Ketika ia dapat berkata, "Saya berada dalam segala sesuatu, dalam setiap orang, saya berada dalam semua kehidupan, saya adalah alam semesta," barulah datang keadaan tanpa rasa takut. Berbicara tentang keabadian pada hal-hal yang terus berubah adalah mustahil. Demikian kata seorang filsuf Sanskerta kuno: Hanya Roh yang merupakan sang individu, sebab ia tak terhingga. Tidak ada ketakterhinggaan yang dapat dibagi; ketakterhinggaan tidak dapat dipecah-pecah. Ia adalah satu kesatuan yang sama, yang tak terbagi untuk selamanya, dan inilah manusia yang individual, Manusia Sejati. Manusia yang tampak hanyalah suatu perjuangan untuk mengungkapkan, untuk memanifestasikan keindividualan ini yang berada di seberang sana; dan evolusi tidak ada pada Roh. Perubahan-perubahan yang sedang berlangsung ini — yang jahat menjadi baik, yang hewani menjadi manusia, ambillah dengan cara apa pun yang Anda suka — tidak ada pada Roh. Perubahan-perubahan itu adalah evolusi alam dan manifestasi dari Roh. Andaikata ada sebuah tabir yang menyembunyikan Anda dari saya, yang di dalamnya terdapat sebuah lubang kecil yang melaluinya saya dapat melihat beberapa wajah di depan saya, hanya beberapa wajah. Sekarang andaikan lubang itu mulai membesar dan membesar, dan ketika itu terjadi, semakin banyak pemandangan di hadapan saya yang menyingkapkan dirinya, dan ketika akhirnya seluruh tabir itu lenyap, saya berdiri berhadap-hadapan dengan Anda semua. Anda sama sekali tidak berubah dalam kasus ini; lubang itulah yang berevolusi, dan Anda secara bertahap memanifestasikan diri. Demikian pula halnya dengan Roh. Tidak ada kesempurnaan yang akan dicapai. Anda sudah merdeka dan sempurna. Apakah gagasan-gagasan tentang agama dan Tuhan serta pencarian akan akhirat ini? Mengapa manusia mencari Tuhan? Mengapa manusia, di setiap bangsa, di setiap keadaan masyarakat, menginginkan suatu cita-cita yang sempurna di suatu tempat, baik dalam manusia, dalam Tuhan, maupun di tempat lain? Karena cita-cita itu ada di dalam diri Anda. Itulah jantung Anda sendiri yang berdetak dan Anda tidak menyadarinya; Anda mengiranya sesuatu yang berada di luar. Tuhan yang ada di dalam diri Anda sendirilah yang mendorong Anda untuk mencari-Nya, untuk menyadari-Nya. Setelah pencarian panjang ke sana ke mari, di kuil-kuil dan di gereja-gereja, di bumi-bumi dan di surga-surga, akhirnya Anda kembali, menutup lingkaran dari tempat Anda mulai, kepada jiwa Anda sendiri dan mendapati bahwa Ia yang telah Anda cari ke seluruh dunia, yang untuk-Nya Anda telah menangis dan berdoa di gereja-gereja dan di kuil-kuil, yang kepada-Nya Anda telah memandang sebagai misteri dari segala misteri yang terselubung dalam awan, justru paling dekat dari yang dekat, ialah Diri Anda sendiri, realitas dari hidup, tubuh, dan jiwa Anda. Itulah hakikat Anda sendiri. Tegaskanlah ia, manifestasikanlah ia. Tidak perlu menjadi murni, Anda sudah murni. Tidak perlu menjadi sempurna, Anda sudah demikian. Alam itu seperti tabir yang menyembunyikan realitas di seberangnya. Setiap pikiran yang baik yang Anda pikirkan atau Anda jalankan adalah sekadar merobek tabir itu, seakan-akan; dan kemurnian, ketakterhinggaan, Tuhan yang di belakangnya, semakin banyak memanifestasikan Diri-Nya.
Inilah seluruh sejarah manusia. Tabir itu menjadi semakin halus, semakin banyak cahaya di belakangnya yang memancar keluar, sebab adalah sifatnya untuk bersinar. Ia tidak dapat diketahui; sia-sia kita mencoba mengetahuinya. Seandainya ia dapat diketahui, ia tidak akan menjadi sebagaimana adanya, sebab ia adalah subjek yang abadi. Pengetahuan adalah suatu pembatasan, pengetahuan adalah pengobjekan. Ia adalah subjek abadi dari segala sesuatu, saksi abadi di alam semesta ini, Diri Anda sendiri. Pengetahuan adalah, seakan-akan, suatu tangga yang lebih rendah, suatu kemerosotan. Kita sudah merupakan subjek abadi itu; bagaimana kita dapat mengetahuinya? Itulah hakikat sejati setiap manusia, dan ia berjuang mengungkapkannya dalam berbagai cara; jika tidak, mengapa ada begitu banyak kode etik? Di manakah penjelasan dari semua etika itu? Satu gagasan menonjol sebagai pusat dari semua sistem etika, yang diungkapkan dalam berbagai bentuk, yaitu, berbuat baik kepada orang lain. Motif yang menuntun umat manusia hendaknya adalah kasih kepada sesama, kasih kepada semua hewan. Tetapi semua ini hanyalah berbagai ungkapan dari kebenaran abadi itu, yaitu, "Saya adalah alam semesta; alam semesta ini adalah satu." Atau, jika tidak, di manakah alasannya? Mengapa saya harus berbuat baik kepada sesama saya? Mengapa saya harus berbuat baik kepada orang lain? Apa yang memaksa saya? Itulah simpati, perasaan kesamaan di mana-mana. Hati yang paling keras pun kadang-kadang merasakan simpati kepada makhluk lain. Bahkan orang yang menjadi takut jika dikatakan kepadanya bahwa keindividualan yang dianggapnya ada itu sesungguhnya khayalan, bahwa hina bila berusaha melekat pada keindividualan yang tampak ini, orang yang sama itu juga akan mengatakan kepada Anda bahwa peniadaan-diri yang ekstrem adalah pusat dari segala moralitas. Dan apakah peniadaan-diri yang sempurna itu? Itu berarti peniadaan dari diri yang tampak ini, peniadaan dari segala bentuk keakuan. Gagasan tentang "aku dan milikku" ini — Ahamkâra dan Mamatâ — adalah hasil dari Takhayul masa lalu, dan semakin diri yang sekarang ini sirna, semakin Diri sejati menjadi nyata. Inilah peniadaan-diri yang sejati, pusat, dasar, intisari dari segala ajaran moral; dan baik manusia mengetahuinya atau tidak, seluruh dunia perlahan-lahan sedang bergerak ke arahnya, mempraktikkannya lebih banyak atau lebih sedikit. Hanya saja, sebagian besar umat manusia melakukannya tanpa disadari. Biarlah mereka melakukannya dengan sadar. Biarlah mereka melakukan pengorbanan itu, dengan mengetahui bahwa "aku dan milikku" ini bukanlah Diri yang sejati, melainkan hanyalah suatu pembatasan. Namun satu kilasan saja dari realitas tak terhingga yang berada di belakang itu — namun satu percikan saja dari api tak terhingga yang adalah Semuanya itu — mewakili manusia yang sekarang; yang Tak Terhingga adalah hakikatnya yang sejati.
Apakah manfaat, dampak, hasil dari pengetahuan ini? Pada masa kini, kita harus mengukur segala sesuatu dengan ukuran kegunaan — dengan berapa pound, shilling, dan pence yang ia wakili. Hak apa yang dimiliki seseorang untuk menuntut bahwa kebenaran harus dinilai berdasarkan standar kegunaan atau uang? Andaikan tidak ada kegunaannya, apakah ia akan menjadi kurang benar? Kegunaan bukanlah ukuran kebenaran. Walaupun demikian, ada kegunaan tertinggi dalam hal ini. Kebahagiaan, kita lihat, adalah apa yang dicari setiap orang, tetapi mayoritas mencarinya pada hal-hal yang fana dan tidak nyata. Tidak pernah ada kebahagiaan yang ditemukan dalam indera. Tidak pernah ada orang yang menemukan kebahagiaan dalam indera atau dalam kenikmatan indera. Kebahagiaan hanya ditemukan dalam Roh. Karena itu, kegunaan tertinggi bagi umat manusia adalah menemukan kebahagiaan ini dalam Roh. Hal berikutnya adalah bahwa ketidaktahuan adalah ibu agung dari semua penderitaan, dan ketidaktahuan yang mendasar adalah mengira bahwa Yang Tak Terbatas menangis dan meratap, bahwa Ia terbatas. Inilah dasar dari segala ketidaktahuan, bahwa kita, yang abadi, yang senantiasa murni, Roh yang sempurna, mengira bahwa kita adalah pikiran-pikiran kecil, bahwa kita adalah tubuh-tubuh kecil; inilah ibu dari segala keegoisan. Begitu saya mengira bahwa saya adalah satu tubuh kecil, saya ingin melestarikannya, melindunginya, menjaganya tetap baik, dengan mengorbankan tubuh-tubuh lain; maka Anda dan saya menjadi terpisah. Segera setelah gagasan keterpisahan ini datang, ia membuka pintu kepada segala kerusakan dan menuntun kepada segala penderitaan. Inilah kegunaannya, bahwa jika bagian kecil pecahan dari umat manusia yang hidup hari ini dapat menyingkirkan gagasan keegoisan, kepicikan, dan kekerdilan, bumi ini akan menjadi sebuah surga esok hari; tetapi hanya dengan mesin-mesin dan kemajuan pengetahuan material saja, hal itu tidak akan pernah terjadi. Ini hanya menambah penderitaan, sebagaimana minyak yang dituangkan ke api hanya semakin membesarkan nyalanya. Tanpa pengetahuan tentang Roh, semua pengetahuan material hanyalah menambah bahan bakar ke api, hanya memberikan kepada tangan manusia yang egois satu lagi alat untuk mengambil apa yang menjadi milik orang lain, untuk hidup dari kehidupan orang lain, alih-alih menyerahkan hidupnya bagi mereka.
Apakah hal ini praktis? — adalah pertanyaan lain. Dapatkah ia dipraktikkan dalam masyarakat modern? Kebenaran tidak menundukkan diri kepada masyarakat mana pun, kuno atau modern. Masyarakatlah yang harus menundukkan diri kepada Kebenaran atau binasa. Masyarakat harus dibentuk berdasarkan kebenaran, dan kebenaran tidak harus menyesuaikan diri dengan masyarakat. Jika kebenaran yang luhur seperti tanpa-egoisme tidak dapat dipraktikkan dalam masyarakat, lebih baik bagi manusia untuk meninggalkan masyarakat dan masuk ke hutan. Itulah manusia yang berani. Ada dua jenis keberanian. Yang satu adalah keberanian menghadapi meriam. Dan yang lainnya adalah keberanian keyakinan spiritual. Seorang Kaisar yang menyerbu India diberitahu oleh gurunya untuk pergi dan menemui beberapa orang bijak di sana. Setelah pencarian yang lama, ia menemukan seorang tua sekali yang sedang duduk di atas sebongkah batu. Sang Kaisar berbincang sebentar dengannya dan menjadi sangat terkesan dengan kebijaksanaannya. Ia meminta sang bijak untuk pergi ke negaranya bersamanya. "Tidak," kata sang bijak, "saya cukup puas dengan hutan saya di sini." Sang Kaisar berkata, "Aku akan memberimu uang, kedudukan, kekayaan. Akulah Kaisar dunia." "Tidak," jawab orang itu, "saya tidak peduli pada hal-hal itu." Sang Kaisar menjawab, "Jika engkau tidak pergi, aku akan membunuhmu." Orang itu tersenyum dengan tenang dan berkata, "Itulah hal paling bodoh yang pernah engkau katakan, Kaisar. Engkau tidak dapat membunuhku. Matahari tidak dapat mengeringkanku, api tidak dapat membakarku, pedang tidak dapat membunuhku, karena aku adalah Roh yang tak dilahirkan, tak terkematian, yang senantiasa hidup, mahakuasa, hadir di mana-mana." Inilah keberanian spiritual, sedangkan yang satunya adalah keberanian seekor singa atau harimau. Pada Pemberontakan tahun 1857 ada seorang Swami, seorang jiwa yang sangat agung, yang ditikam parah oleh seorang pemberontak Muslim. Para pemberontak Hindu menangkap orang itu dan membawanya kepada Swami, menawarkan untuk membunuhnya. Tetapi Swami memandang dengan tenang dan berkata, "Saudaraku, engkau adalah Dia, engkau adalah Dia!" lalu menghembuskan napas. Inilah contoh yang lain. Apa gunanya berbicara tentang kekuatan otot Anda, tentang keunggulan lembaga-lembaga Barat Anda, jika Anda tidak dapat membuat Kebenaran selaras dengan masyarakat Anda, jika Anda tidak dapat membangun suatu masyarakat yang ke dalamnya Kebenaran yang tertinggi akan cocok? Apa gunanya pembicaraan yang penuh kemegahan ini tentang keagungan dan kebesaran Anda, jika Anda berdiri dan berkata, "Keberanian ini tidaklah praktis." Apakah tidak ada yang praktis selain pound, shilling, dan pence? Jika demikian, mengapa membanggakan masyarakat Anda? Masyarakat yang terbesar adalah masyarakat yang di dalamnya kebenaran-kebenaran tertinggi menjadi praktis. Itulah pendapat saya; dan jika masyarakat tidak cocok untuk kebenaran-kebenaran tertinggi, buatlah ia menjadi cocok; dan semakin cepat, semakin baik. Bangkitlah, kaum laki-laki dan perempuan, dalam roh ini, beranilah percaya kepada Kebenaran, beranilah mempraktikkan Kebenaran! Dunia membutuhkan beberapa ratus laki-laki dan perempuan yang berani. Praktikkanlah keberanian yang berani mengetahui Kebenaran, yang berani menunjukkan Kebenaran dalam kehidupan, yang tidak gemetar di hadapan kematian, bahkan menyambut kematian, yang membuat manusia mengetahui bahwa ia adalah Roh, bahwa, di seluruh semesta, tidak ada yang dapat membunuhnya. Maka Anda akan bebas. Maka Anda akan mengenal Jiwa Anda yang sesungguhnya. "Atman ini pertama-tama harus didengar, kemudian dipikirkan, dan kemudian dimeditasikan."
Ada kecenderungan besar pada zaman modern untuk terlalu banyak berbicara tentang pekerjaan dan mencela pemikiran. Melakukan adalah hal yang sangat baik, tetapi itu datang dari pemikiran. Manifestasi-manifestasi kecil energi melalui otot disebut pekerjaan. Tetapi di mana tidak ada pemikiran, di sana tidak akan ada pekerjaan. Karena itu, isilah otak dengan pemikiran-pemikiran yang luhur, cita-cita yang tertinggi, letakkan ia di hadapan Anda siang dan malam, dan dari sana akan keluar pekerjaan yang besar. Janganlah berbicara tentang ketidakmurnian, melainkan katakanlah bahwa kita adalah murni. Kita telah menghipnotis diri kita sendiri ke dalam pemikiran ini, bahwa kita kecil, bahwa kita dilahirkan, dan bahwa kita akan mati, dan ke dalam keadaan ketakutan yang terus-menerus.
Ada sebuah kisah tentang seekor singa betina, yang sedang mengandung anak, sedang berkeliaran mencari mangsa; dan ketika melihat sekawanan domba, ia melompat menerkam mereka. Ia mati dalam usaha itu; dan seekor bayi singa kecil lahir, tanpa induk. Ia dirawat oleh domba-domba dan domba-domba itu membesarkannya, dan ia tumbuh bersama mereka, makan rumput, dan mengembik seperti domba. Dan meskipun pada waktunya ia menjadi singa besar yang dewasa, ia mengira dirinya adalah seekor domba. Suatu hari seekor singa lain datang mencari mangsa dan terkejut menemukan bahwa di tengah-tengah kawanan domba ini ada seekor singa yang melarikan diri seperti domba ketika bahaya mendekat. Ia mencoba mendekati singa-domba itu, untuk memberitahukan kepadanya bahwa ia bukanlah seekor domba, melainkan seekor singa; tetapi binatang yang malang itu melarikan diri ketika ia mendekat. Namun, ia menanti kesempatannya dan suatu hari menemukan singa-domba itu sedang tidur. Ia mendekatinya dan berkata, "Engkau adalah seekor singa." "Saya adalah seekor domba," teriak singa yang satu lagi dan tidak dapat percaya sebaliknya, melainkan mengembik. Sang singa menyeretnya ke arah sebuah danau dan berkata, "Lihatlah di sini, ini adalah pantulanku dan pantulanmu." Maka datanglah perbandingan itu. Ia memandang sang singa dan kemudian memandang pantulan dirinya sendiri, dan dalam sekejap datanglah gagasan bahwa ia adalah seekor singa. Sang singa mengaum, embikan pun lenyap. Anda adalah singa-singa, Anda adalah jiwa-jiwa, murni, tak terbatas, dan sempurna. Kedigdayaan semesta ada di dalam diri Anda. "Mengapa engkau menangis, sahabatku? Tidak ada kelahiran maupun kematian bagimu. Mengapa engkau menangis? Tidak ada penyakit maupun penderitaan bagimu, tetapi engkau seperti langit yang tak terbatas; awan-awan dari berbagai warna datang menutupinya, bermain sejenak, lalu lenyap. Tetapi langit tetap biru yang sama secara kekal." Mengapa kita melihat kejahatan? Ada sebuah tunggul pohon, dan dalam kegelapan, seorang pencuri lewat di sana dan berkata, "Itu adalah seorang polisi." Seorang pemuda yang sedang menanti kekasihnya melihatnya dan mengira bahwa itu adalah kekasihnya. Seorang anak yang telah diceritakan kisah-kisah hantu mengiranya sebagai hantu dan mulai menjerit. Tetapi sepanjang waktu itu adalah tunggul sebuah pohon. Kita melihat dunia sebagaimana keadaan kita. Andaikan ada seorang bayi di dalam kamar dengan satu kantong emas di atas meja dan seorang pencuri datang dan mencuri emas itu. Apakah bayi itu akan tahu bahwa emas itu dicuri? Apa yang kita miliki di dalam, itulah yang kita lihat di luar. Bayi itu tidak memiliki pencuri di dalam dan tidak melihat pencuri di luar. Demikianlah dengan semua pengetahuan. Janganlah berbicara tentang kejahatan dunia dan segala dosanya. Menangislah karena Anda masih terikat untuk melihat kejahatan. Menangislah karena Anda terikat untuk melihat dosa di mana-mana, dan jika Anda ingin menolong dunia, janganlah mengutuknya. Janganlah melemahkannya lebih jauh lagi. Karena apakah dosa dan apakah penderitaan, dan apakah semua ini selain hasil dari kelemahan? Dunia dibuat semakin lemah dan semakin lemah setiap hari oleh ajaran-ajaran semacam itu. Manusia diajarkan sejak kanak-kanak bahwa mereka lemah dan berdosa. Ajarkanlah kepada mereka bahwa mereka semua adalah anak-anak keabadian yang mulia, bahkan mereka yang paling lemah dalam manifestasinya. Biarkanlah pemikiran yang positif, kuat, dan menolong masuk ke dalam otak mereka sejak kanak-kanak. Bukakanlah diri Anda kepada pemikiran-pemikiran ini, dan bukan kepada yang melemahkan dan melumpuhkan. Katakanlah pada pikiran Anda sendiri, "Saya adalah Dia, saya adalah Dia." Biarkanlah ia bergaung siang dan malam dalam pikiran Anda seperti sebuah nyanyian, dan pada saat kematian, nyatakanlah, "Saya adalah Dia." Itulah Kebenaran; kekuatan tak terbatas dari dunia ini adalah milik Anda. Halaulah takhayul yang telah menutupi pikiran Anda. Marilah kita menjadi berani. Kenalilah Kebenaran dan praktikkanlah Kebenaran. Tujuan mungkin jauh, tetapi bangunlah, bangkitlah, dan jangan berhenti sebelum tujuan tercapai.
English
CHAPTER II
THE REAL NATURE OF MAN
( Delivered in London )
Great is the tenacity with which man clings to the senses. Yet, however substantial he may think the external world in which he lives and moves, there comes a time in the lives of individuals and of races when, involuntarily, they ask, "Is this real?" To the person who never finds a moment to question the credentials of his senses, whose every moment is occupied with some sort of sense-enjoyment — even to him death comes, and he also is compelled to ask, "Is this real?" Religion begins with this question and ends with its answer. Even in the remote past, where recorded history cannot help us, in the mysterious light of mythology, back in the dim twilight of civilisation, we find the same question was asked, "What becomes of this? What is real?"
One of the most poetical of the Upanishads, the Katha Upanishad, begins with the inquiry: "When a man dies, there is a dispute. One party declares that he has gone for ever, the other insists that he is still living. Which is true?" Various answers have been given. The whole sphere of metaphysics, philosophy, and religion is really filled with various answers to this question. At the same time, attempts have been made to suppress it, to put a stop to the unrest of mind which asks, "What is beyond? What is real?" But so long as death remains, all these attempts at suppression will always prove to be unsuccessful. We may talk about seeing nothing beyond and keeping all our hopes and aspirations confined to the present moment, and struggle hard not to think of anything beyond the world of senses; and, perhaps, everything outside helps to keep us limited within its narrow bounds. The whole world may combine to prevent us from broadening out beyond the present. Yet, so long as there is death, the question must come again and again, "Is death the end of all these things to which we are clinging, as if they were the most real of all realities, the most substantial of all substances?" The world vanishes in a moment and is gone. Standing on the brink of a precipice beyond which is the infinite yawning chasm, every mind, however hardened, is bound to recoil and ask, "Is this real?" The hopes of a lifetime, built up little by little with all the energies of a great mind, vanish in a second. Are they real? This question must be answered. Time never lessens its power; on the other hand, it adds strength to it.
Then there is the desire to be happy. We run after everything to make ourselves happy; we pursue our mad career in the external world of senses. If you ask the young man with whom life is successful, he will declare that it is real; and he really thinks so. Perhaps, when the same man grows old and finds fortune ever eluding him, he will then declare that it is fate. He finds at last that his desires cannot be fulfilled. Wherever he goes, there is an adamantine wall beyond which he cannot pass. Every sense-activity results in a reaction. Everything is evanescent. Enjoyment, misery, luxury, wealth, power, and poverty, even life itself, are all evanescent.
Two positions remain to mankind. One is to believe with the nihilists that all is nothing, that we know nothing, that we can never know anything either about the future, the past, or even the present. For we must remember that he who denies the past and the future and wants to stick to the present is simply a madman. One may as well deny the father and mother and assert the child. It would be equally logical. To deny the past and future, the present must inevitably be denied also. This is one position, that of the nihilists. I have never seen a man who could really become a nihilist for one minute. It is very easy to talk.
Then there is the other position — to seek for an explanation, to seek for the real, to discover in the midst of this eternally changing and evanescent world whatever is real. In this body which is an aggregate of molecules of matter, is there anything which is real? This has been the search throughout the history of the, human mind. In the very oldest times, we often find glimpses of light coming into men's minds. We find man, even then, going a step beyond this body, finding something which is not this external body, although very much like it, much more complete, much more perfect, and which remains even when this body is dissolved. We read in the hymns of the Rig-Veda, addressed to the God of Fire who is burning a dead body, "Carry him, O Fire, in your arms gently, give him a perfect body, a bright body, carry him where the fathers live, where there is no more sorrow, where there is no more death." The same idea you will find present in every religion. And we get another idea with it. It is a significant fact that all religions, without one exception, hold that man is a degeneration of what he was, whether they clothe this in mythological words, or in the clear language of philosophy, or in the beautiful expressions of poetry. This is the one fact that comes out of every scripture and of every mythology that the man that is, is a degeneration of what he was. This is the kernel of truth within the story of Adam's fall in the Jewish scripture. This is again and again repeated in the scriptures of the Hindus; the dream of a period which they call the Age of Truth, when no man died unless he wished to die, when he could keep his body as long as he liked, and his mind was pure and strong. There was no evil and no misery; and the present age is a corruption of that state of perfection. Side by side with this, we find the story of the deluge everywhere. That story itself is a proof that this present age is held to be a corruption of a former age by every religion. It went on becoming more and more corrupt until the deluge swept away a large portion of mankind, and again the ascending series began. It is going up slowly again to reach once more that early state of purity. You are all aware of the story of the deluge in the Old Testament. The same story was current among the ancient Babylonians, the Egyptians, the Chinese, and the Hindus. Manu, a great ancient sage, was praying on the bank of the Gangâ, when a little minnow came to him for protection, and he put it into a pot of water he had before him. "What do you want?" asked Manu. The little minnow declared he was pursued by a bigger fish and wanted protection. Manu carried the little fish to his home, and in the morning he had become as big as the pot and said, "I cannot live in this pot any longer". Manu put him in a tank, and the next day he was as big as the tank and declared he could not live there any more. So Manu had to take him to a river, and in the morning the fish filled the river. Then Manu put him in the ocean, and he declared, "Manu, I am the Creator of the universe. I have taken this form to come and warn you that I will deluge the world. You build an ark and in it put a pair of every kind of animal, and let your family enter the ark, and there will project out of the water my horn. Fasten the ark to it; and when the deluge subsides, come out and people the earth." So the world was deluged, and Manu saved his own family and two of every kind of animal and seeds of every plant. When the deluge subsided, he came and peopled the world; and we are all called "man", because we are the progeny of Manu.
Now, human language is the attempt to express the truth that is within. I am fully persuaded that a baby whose language consists of unintelligible sounds is attempting to express the highest philosophy, only the baby has not the organs to express it nor the means. The difference between the language of the highest philosophers and the utterances of babies is one of degree and not of kind. What you call the most correct, systematic, mathematical language of the present time, and the hazy, mystical, mythological languages of the ancients, differ only in degree. All of them have a grand idea behind, which is, as it were, struggling to express itself; and often behind these ancient mythologies are nuggets of truth; and often, I am sorry to say, behind the fine, polished phrases of the moderns is arrant trash. So, we need not throw a thing overboard because it is clothed in mythology, because it does not fit in with the notions of Mr. So-and-so or Mrs. So-and-so of modern times. If people should laugh at religion because most religions declare that men must believe in mythologies taught by such and such a prophet, they ought to laugh more at these moderns. In modern times, if a man quotes a Moses or a Buddha or a Christ, he is laughed at; but let him give the name of a Huxley, a Tyndall, or a Darwin, and it is swallowed without salt. "Huxley has said it", that is enough for many. We are free from superstitions indeed! That was a religious superstition, and this a scientific superstition; only, in and through that superstition came life-giving ideas of spirituality; in and through this modern superstition come lust and greed. That superstition was worship of God, and this superstition is worship of filthy lucre, of fame or power. That is the difference.
To return to mythology. Behind all these stories we find one idea standing supreme — that man is a degeneration of what he was. Coming to the present times, modern research seems to repudiate this position absolutely. Evolutionists seem to contradict entirely this assertion. According to them, man is the evolution of the mollusc; and, therefore, what mythology states cannot be true. There is in India, however, a mythology which is able to reconcile both these positions. The Indian mythology has a theory of cycles, that all progression is in the form of waves. Every wave is attended by a fall, and that by a rise the next moment, that by a fall in the next, and again another rise The motion is in cycles. Certainly it is true, even on the grounds of modern research, that man cannot be simply an evolution. Every evolution presupposes an involution. The modern scientific man will tell you that you can only get the amount of energy out of a machine which you have previously put into it. Something cannot be produced out of nothing. If a man is an evolution of the mollusc, then the perfect man — the Buddha-man, the Christ-man — was involved in the mollusc. If it is not so, whence come these gigantic personalities? Something cannot come out of nothing. Thus we are in the position of reconciling the scriptures with modern light. That energy which manifests itself slowly through various stages until it becomes the perfect man, cannot come out of nothing. It existed somewhere; and if the mollusc or the protoplasm is the first point to which you can trace it, that protoplasm, somehow or other, must have contained the energy.
There is a great discussion going on as to whether the aggregate of materials we call the body is the cause of manifestation of the force we call the soul, thought, etc., or whether it is the thought that manifests this body. The religions of the world of course hold that the force called thought manifests the body, and not the reverse. There are schools of modern thought which hold that what we call thought is simply the outcome of the adjustment of the parts of the machine which we call body. Taking the second position that the soul or the mass of thought, or however you may call it, is the outcome of this machine, the outcome of the chemical and physical combinations of matter making up the body and brain, leaves the question unanswered. What makes the body? What force combines the molecules into the body form? What force is there which takes up material from the mass of matter around and forms my body one way, another body another way, and so on? What makes these infinite distinctions? To say that the force called soul is the outcome of the combinations of the molecules of the body is putting the cart before the horse. How did the combinations come; where was the force to make them? If you say that some other force was the cause of these combinations, and soul was the outcome of that matter, and that soul — which combined a certain mass of matter — was itself the result of the combinations, it is no answer. That theory ought to be taken which explains most of the facts, if not all, and that without contradicting other existing theories. It is more logical to say that the force which takes up the matter and forms the body is the same which manifests through that body. To say, therefore, that the thought forces manifested by the body are the outcome of the arrangement of molecules and have no independent existence has no meaning; neither can force evolve out of matter. Rather it is possible to demonstrate that what we call matter does not exist at all. It is only a certain state of force. Solidity, hardness, or any other state of matter can be proved to be the result of motion. Increase of vortex motion imparted to fluids gives them the force of solids. A mass of air in vortex motion, as in a tornado, becomes solid-like and by its impact breaks or cuts through solids. A thread of a spider's web, if it could be moved at almost infinite velocity, would be as strong as an iron chain and would cut through an oak tree. Looking at it in this way, it would be easier to prove that what we call matter does not exist. But the other way cannot be proved.
What is the force which manifests itself through the body? It is obvious to all of us, whatever that force be, that it is taking particles up, as it were, and manipulating forms out of them — the human body. None else comes here to manipulate bodies for you and me. I never saw anybody eat food for me. I have to assimilate it, manufacture blood and bones and everything out of that food. What is this mysterious force? Ideas about the future and about the past seem to be terrifying to many. To many they seem to be mere speculation.
We will take the present theme. What is this force which is now working through us? We know how in old times, in all the ancient scriptures, this power, this manifestation of power, was thought to be a bright substance having the form of this body, and which remained even after this body fell. Later on, however, we find a higher idea coming — that this bright body did not represent the force. Whatsoever has form must be the result of combinations of particles and requires something else behind it to move it. If this body requires something which is not the body to manipulate it, the bright body, by the same necessity, will also require something other than itself to manipulate it. So, that something was called the soul, the Atman in Sanskrit. It was the Atman which through the bright body, as it were, worked on the gross body outside. The bright body is considered as the receptacle of the mind, and the Atman is beyond that It is not the mind even; it works the mind, and through the mind the body. You have an Atman, I have another each one of us has a separate Atman and a separate fine body, and through that we work on the gross external body. Questions were then asked about this Atman about its nature. What is this Atman, this soul of man which is neither the body nor the mind? Great discussions followed. Speculations were made, various shades of philosophic inquiry came into existence; and I shall try to place before you some of the conclusions that have been reached about this Atman.
The different philosophies seem to agree that this Atman, whatever it be, has neither form nor shape, and that which has neither form nor shape must be omnipresent. Time begins with mind, space also is in the mind. Causation cannot stand without time. Without the idea of succession there cannot be any idea of causation. Time, space and causation, therefore, are in the mind, and as this Atman is beyond the mind and formless, it must be beyond time, beyond space, and beyond causation. Now, if it is beyond time, space, and causation, it must be infinite. Then comes the highest speculation in our philosophy. The infinite cannot be two. If the soul be infinite, there can be only one Soul, and all ideas of various souls — you having one soul, and I having another, and so forth — are not real. The Real Man, therefore, is one and infinite, the omnipresent Spirit. And the apparent man is only a limitation of that Real Man. In that sense the mythologies are true that the apparent man, however great he may be, is only a dim reflection of the Real Man who is beyond. The Real Man, the Spirit, being beyond cause and effect, not bound by time and space, must, therefore, be free. He was never bound, and could not be bound. The apparent man, the reflection, is limited by time, space, and causation, and is, therefore, bound. Or in the language of some of our philosophers, he appears to be bound, but really is not. This is the reality in our souls, this omnipresence, this spiritual nature, this infinity. Every soul is infinite, therefore there is no question of birth and death. Some children were being examined. The examiner put them rather hard questions, and among them was this one: "Why does not the earth fall?" He wanted to evoke answers about gravitation. Most of the children could not answer at all; a few answered that it was gravitation or something. One bright little girl answered it by putting another question: "Where should it fall?" The question is nonsense. Where should the earth fall? There is no falling or rising for the earth. In infinite space there is no up or down; that is only in the relative. Where is the going or coming for the infinite? Whence should it come and whither should it go?
Thus, when people cease to think of the past or future, when they give up the idea of body, because the body comes and goes and is limited, then they have risen to a higher ideal. The body is not the Real Man, neither is the mind, for the mind waxes and wanes. It is the Spirit beyond, which alone can live for ever. The body and mind are continually changing, and are, in fact, only names of series of changeful phenomena, like rivers whose waters are in a constant state of flux, yet presenting the appearance of unbroken streams. Every particle in this body is continually changing; no one has the same body for many minutes together, and yet we think of it as the same body. So with the mind; one moment it is happy, another moment unhappy; one moment strong, another weak; an ever-changing whirlpool. That cannot be the Spirit which is infinite. Change can only be in the limited. To say that the infinite changes in any way is absurd; it cannot be. You can move and I can move, as limited bodies; every particle in this universe is in a constant state of flux, but taking the universe as a unit, as one whole, it cannot move, it cannot change. Motion is always a relative thing. I move in relation to something else. Any particle in this universe can change in relation to any other particle; but take the whole universe as one, and in relation to what can it move? There is nothing besides it. So this infinite Unit is unchangeable, immovable, absolute, and this is the Real Man. Our reality, therefore, consists in the Universal and not in the limited. These are old delusions, however comfortable they are, to think that we are little limited beings, constantly changing. People are frightened when they are told that they are Universal Being, everywhere present. Through everything you work, through every foot you move, through every lip you talk, through every heart you feel.
People are frightened when they are told this. They will again and again ask you if they are not going to keep their individuality. What is individuality? I should like to see it. A baby has no moustache; when he grows to be a man, perhaps he has a moustache and beard. His individuality would be lost, if it were in the body. If I lose one eye, or if I lose one of my hands, my individuality would be lost if it were in the body. Then, a drunkard should not give up drinking because he would lose his individuality. A thief should not be a good man because he would thereby lose his individuality. No man ought to change his habits for fear of this. There is no individuality except in the Infinite. That is the only condition which does not change. Everything else is in a constant state of flux. Neither can individuality be in memory. Suppose, on account of a blow on the head I forget all about my past; then, I have lost all individuality; I am gone. I do not remember two or three years of my childhood, and if memory and existence are one, then whatever I forget is gone. That part of my life which I do not remember, I did not live. That is a very narrow idea of individuality.
We are not individuals yet. We are struggling towards individuality, and that is the Infinite, that is the real nature of man. He alone lives whose life is in the whole universe, and the more we concentrate our lives on limited things, the faster we go towards death. Those moments alone we live when our lives are in the universe, in others; and living this little life is death, simply death, and that is why the fear of death comes. The fear of death can only be conquered when man realises that so long as there is one life in this universe, he is living. When he can say, "I am in everything, in everybody, I am in all lives, I am the universe," then alone comes the state of fearlessness. To talk of immortality in constantly changing things is absurd. Says an old Sanskrit philosopher: It is only the Spirit that is the individual, because it is infinite. No infinity can be divided; infinity cannot be broken into pieces. It is the same one, undivided unit for ever, and this is the individual man, the Real Man. The apparent man is merely a struggle to express, to manifest this individuality which is beyond; and evolution is not in the Spirit. These changes which are going on — the wicked becoming good, the animal becoming man, take them in whatever way you like — are not in the Spirit. They are evolution of nature and manifestation of Spirit. Suppose there is a screen hiding you from me, in which there is a small hole through which I can see some of the faces before me, just a few faces. Now suppose the hole begins to grow larger and larger, and as it does so, more and more of the scene before me reveals itself and when at last the whole screen has disappeared, I stand face to face with you all. You did not change at all in this case; it was the hole that was evolving, and you were gradually manifesting yourselves. So it is with the Spirit. No perfection is going to be attained. You are already free and perfect. What are these ideas of religion and God and searching for the hereafter? Why does man look for a God? Why does man, in every nation, in every state of society, want a perfect ideal somewhere, either in man, in God, or elsewhere? Because that idea is within you. It was your own heart beating and you did not know; you were mistaking it for something external. It is the God within your own self that is propelling you to seek for Him, to realise Him. After long searches here and there, in temples and in churches, in earths and in heavens, at last you come back, completing the circle from where you started, to your own soul and find that He for whom you have been seeking all over the world, for whom you have been weeping and praying in churches and temples, on whom you were looking as the mystery of all mysteries shrouded in the clouds, is nearest of the near, is your own Self, the reality of your life, body, and soul. That is your own nature. Assert it, manifest it. Not to become pure, you are pure already. You are not to be perfect, you are that already. Nature is like that screen which is hiding the reality beyond. Every good thought that you think or act upon is simply tearing the veil, as it were; and the purity, the Infinity, the God behind, manifests Itself more and more.
This is the whole history of man. Finer and finer becomes the veil, more and more of the light behind shines forth, for it is its nature to shine. It cannot be known; in vain we try to know it. Were it knowable, it would not be what it is, for it is the eternal subject. Knowledge is a limitation, knowledge is objectifying. He is the eternal subject of everything, the eternal witness in this universe, your own Self. Knowledge is, as it were, a lower step, a degeneration. We are that eternal subject already; how can we know it? It is the real nature of every man, and he is struggling to express it in various ways; otherwise, why are there so many ethical codes? Where is the explanation of all ethics? One idea stands out as the centre of all ethical systems, expressed in various forms, namely, doing good to others. The guiding motive of mankind should be charity towards men, charity towards all animals. But these are all various expressions of that eternal truth that, "I am the universe; this universe is one." Or else, where is the reason? Why should I do good to my fellowmen? Why should I do good to others? What compels me? It is sympathy, the feeling of sameness everywhere. The hardest hearts feel sympathy for other beings sometimes. Even the man who gets frightened if he is told that this assumed individuality is really a delusion, that it is ignoble to try to cling to this apparent individuality, that very man will tell you that extreme self-abnegation is the centre of all morality. And what is perfect self-abnegation? It means the abnegation of this apparent self, the abnegation of all selfishness. This idea of "me and mine" — Ahamkâra and Mamatâ — is the result of past Superstition, and the more this present self passes away, the more the real Self becomes manifest. This is true self-abnegation, the centre, the basis, the gist of all moral teaching; and whether man knows it or not the whole world is slowly going towards it, practicing it more or less. Only, the vast majority of mankind are doing it unconsciously. Let them do it consciously. Let then make the sacrifice, knowing that this "me and mine" is not the real Self, but only a limitation. But one glimpse Of that infinite reality which is behind — but one spark of that infinite fire that is the All — represents the present man; the Infinite is his true nature.
What is the utility, the effect, the result, of this knowledge? In these days, we have to measure everything by utility — by how many pounds shillings, and pence it represents. What right has a person to ask that truth should be judged by the standard of utility or money? Suppose there is no utility, will it be less true? Utility is not the test of truth. Nevertheless, there is the highest utility in this. Happiness, we see is what everyone is seeking for, but the majority seek it in things which are evanescent and not real. No happiness was ever found in the senses. There never was a person who found happiness in the senses or in enjoyment of the senses. Happiness is only found in the Spirit. Therefore the highest utility for mankind is to find this happiness in the Spirit. The next point is that ignorance is the great mother of all misery, and the fundamental ignorance is to think that the Infinite weeps and cries, that He is finite. This is the basis of all ignorance that we, the immortal, the ever pure, the perfect Spirit, think that we are little minds, that we are little bodies; it is the mother of all selfishness. As soon as I think that I am a little body, I want to preserve it, to protect it, to keep it nice, at the expense of other bodies; then you and I become separate. As soon as this idea of separation comes, it opens the door to all mischief and leads to all misery. This is the utility that if a very small fractional part of human beings living today can put aside the idea of selfishness, narrowness, and littleness, this earth will become a paradise tomorrow; but with machines and improvements of material knowledge only, it will never be. These only increase misery, as oil poured on fire increases the flame all the more. Without the knowledge of the Spirit, all material knowledge is only adding fuel to fire, only giving into the hands of selfish man one more instrument to take what belongs to others, to live upon the life of others, instead of giving up his life for them.
Is it practical ? — is another question. Can it be practised in modern society? Truth does not pay homage to any society, ancient or modern. Society has to pay homage to Truth or die. Societies should be moulded upon truth, and truth has not to adjust itself to society. If such a noble truth as unselfishness cannot be practiced in society, it is better for man to give up society and go into the forest. That is the daring man. There are two sorts of courage. One is the courage of facing the cannon. And the other is the courage of spiritual conviction. An Emperor who invaded India was told by his teacher to go and see some of the sages there. After a long search for one, he found a very old man sitting on a block of stone. The Emperor talked with him a little and became very much impressed by his wisdom. He asked the sage to go to his country with him. "No," said the sage, "I am quite satisfied with my forest here." Said the Emperor, "I will give you money, position, wealth. I am the Emperor of the world." "No," replied the man, "I don't care for those things." The Emperor replied, "If you do not go, I will kill you." The man smiled serenely and said, "That is the most foolish thing you ever said, Emperor. You cannot kill me. Me the sun cannot dry, fire cannot burn, sword cannot kill, for I am the birthless, the deathless, the ever-living omnipotent, omnipresent Spirit." This is spiritual boldness, while the other is the courage of a lion or a tiger. In the Mutiny of 1857 there was a Swami, a very great soul, whom a Mohammedan mutineer stabbed severely. The Hindu mutineers caught and brought the man to the Swami, offering to kill him. But the Swami looked up calmly and said, "My brother, thou art He, thou art He!" and expired. This is another instance. What good is it to talk of the strength of your muscles, of the superiority of your Western institutions, if you cannot make Truth square with your society, if you cannot build up a society into which the highest Truth will fit? What is the good of this boastful talk about your grandeur and greatness, if you stand up and say, "This courage is not practical." Is nothing practical but pounds, shillings, and pence? If so, why boast of your society? That society is the greatest, where the highest truths become practical. That is my opinion; and if society is; not fit for the highest truths, make it so; and the sooner, the better. Stand up, men and women, in this spirit, dare to believe in the Truth, dare to practice the Truth! The world requires a few hundred bold men and women. Practise that boldness which dares know the Truth, which dares show the Truth in life, which does not quake before death, nay, welcomes death, makes a man know that he, is the Spirit, that, in the whole universe, nothing can kill him. Then you will be free. Then you will know yours real Soul. "This Atman is first to be heard, then thoughts about and then meditated upon."
There is a great tendency in modern times to talk too much of work and decry thought. Doing is very good, but that comes from thinking. Little manifestations of energy through the muscles are called work. But where there is no thought, there will be no work. Fill the brain, therefore, with high thoughts, highest ideals, place them day and night before you, and out of that will come great work. Talk not about impurity, but say that we are pure. We have hypnotised ourselves into this thought that we are little, that we are born, and that we are going to die, and into a constant state of fear.
There is a story about a lioness, who was big with young, going about in search of prey; and seeing a flock of sheep, she jumped upon them. She died in the effort; and a little baby lion was born, motherless. It was taken care of by the sheep and the sheep brought it up, and it grew up with them, ate grass, and bleated like the sheep. And although in time it became a big, full-grown lion. It thought it was a sheep. One day another lion came in search of prey and was astonished to find that in the midst of this flock of sheep was a lion, fleeing like the sheep at the approach of danger. He tried to get near the sheep-lion, to tell it that it was not a sheep but a lion; but the poor animal fled at his approach. However, he watched his opportunity and one day found the sheep-lion sleeping. He approached it and said, "You are a lion." "I am a sheep," cried the other lion and could not believe the contrary but bleated. The lion dragged him towards a lake and said, "Look here, here is my reflection and yours." Then came the comparison. It looked at the lion and then at its own reflection, and in a moment came the idea that it was a lion. The lion roared, the bleating was gone. You are lions, you are souls, pure, infinite, and perfect. The might of the universe is within you. "Why weepest thou, my friend? There is neither birth nor death for thee. Why weepest thou? There is no disease nor misery for thee, but thou art like the infinite sky; clouds of various colours come over it, play for a moment, then vanish. But the sky is ever the same eternal blue." Why do we see wickedness? There was a stump of a tree, and in the dark, a thief came that way and said, "That is a policeman." A young man waiting for his beloved saw it and thought that it was his sweetheart. A child who had been told ghost stories took it for a ghost and began to shriek. But all the time it was the stump of a tree. We see the world as we are. Suppose there is a baby in a room with a bag of gold on the table and a thief comes and steals the gold. Would the baby know it was stolen? That which we have inside, we see outside. The baby has no thief inside and sees no thief outside. So with all knowledge. Do not talk of the wickedness of the world and all its sins. Weep that you are bound to see wickedness yet. Weep that you are bound to see sin everywhere, and if you want to help the world, do not condemn it. Do not weaken it more. For what is sin and what is misery, and what are all these, but the results of weakness? The world is made weaker and weaker every day by such teachings. Men are taught from childhood that they are weak and sinners. Teach them that they are all glorious children of immortality, even those who are the weakest in manifestation. Let positive, strong, helpful thought enter into their brains from very childhood. Lay yourselves open to these thoughts, and not to weakening and paralysing ones. Say to your own minds, "I am He, I am He." Let it ring day and night in your minds like a song, and at the point of death declare "I am He." That is the Truth; the infinite strength of the world is yours. Drive out the superstition that has covered your minds. Let us be brave. Know the Truth and practice the Truth. The goal may be distant, but awake, arise, and stop not till the goal is reached.
Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.