Arsip Vivekananda

Kekuatan-Kekuatan Pikiran

Jilid2 lecture
4,965 kata · 20 menit baca · The Powers of the Mind

Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.

AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.

Bahasa Indonesia

( Disampaikan di Los Angeles, California, 8 Januari 1900 )

Di seluruh dunia, sepanjang zaman, telah ada kepercayaan terhadap hal-hal supernatural. Kita semua pernah mendengar peristiwa-peristiwa luar biasa, dan banyak di antara kita yang memiliki pengalaman pribadi mengenainya. Saya lebih suka memperkenalkan topik ini dengan menceritakan kepada Anda beberapa fakta yang termasuk dalam pengalaman saya sendiri. Pernah saya mendengar tentang seorang pria yang, jika seseorang datang kepadanya dengan pertanyaan-pertanyaan dalam pikirannya, ia akan langsung menjawabnya; dan saya juga diberitahu bahwa ia dapat meramalkan peristiwa. Saya penasaran, lalu pergi menemuinya bersama beberapa teman. Masing-masing dari kami memiliki sesuatu yang ingin ditanyakan dalam hati, dan untuk menghindari kekeliruan, kami menuliskan pertanyaan-pertanyaan kami dan memasukkannya ke dalam saku. Begitu pria itu melihat salah satu dari kami, ia mengulangi pertanyaan-pertanyaan kami dan memberikan jawabannya. Kemudian ia menulis sesuatu di atas kertas, melipatnya, meminta saya menandatanganinya di bagian belakang, dan berkata, "Jangan dilihat; masukkan ke saku Anda dan simpan di sana sampai saya memintanya kembali." Demikianlah pula yang ia lakukan kepada masing-masing dari kami. Selanjutnya ia memberitahu kami tentang beberapa peristiwa yang akan terjadi pada kami di masa depan. Lalu ia berkata, "Sekarang, pikirkanlah sebuah kata atau kalimat, dari bahasa apa pun yang Anda suka." Saya memikirkan sebuah kalimat panjang dalam bahasa Sanskerta, bahasa yang sama sekali tidak ia ketahui. "Sekarang, keluarkan kertas dari saku Anda," katanya. Kalimat Sanskerta itu telah tertulis di sana! Ia telah menuliskannya satu jam sebelumnya dengan keterangan, "Sebagai pembuktian apa yang saya tulis, orang ini akan memikirkan kalimat ini." Ternyata benar. Salah seorang lain dari kami yang juga telah diberi kertas serupa, yang telah ia tanda tangani dan masukkan ke dalam sakunya, juga diminta untuk memikirkan sebuah kalimat. Ia memikirkan sebuah kalimat dalam bahasa Arab, yang bahkan lebih mustahil lagi diketahui oleh pria itu; kalimat itu adalah suatu petikan dari Al-Qur'an. Dan teman saya mendapati kalimat tersebut tertulis di kertasnya.

Salah seorang lain dari kami adalah seorang dokter. Ia memikirkan sebuah kalimat dari buku medis berbahasa Jerman. Kalimat itu pun tertulis di kertasnya.

Beberapa hari kemudian saya kembali menemui pria ini, dengan pikiran bahwa mungkin sebelumnya saya telah ditipu dengan suatu cara. Saya membawa teman-teman lain, dan pada kesempatan ini pun ia tampil dengan keberhasilan yang menakjubkan.

Pada kesempatan lain saya berada di kota Hyderabad di India, dan saya diberitahu tentang seorang Brahmin di sana yang dapat menghasilkan berbagai macam benda yang entah dari mana asalnya tidak ada yang tahu. Pria ini berbisnis di sana; ia adalah seorang pria terhormat. Lalu saya memintanya untuk menunjukkan kepada saya trik-triknya. Kebetulan pria ini sedang demam, dan di India terdapat kepercayaan umum bahwa jika seorang suci meletakkan tangannya di atas seorang yang sakit, orang itu akan sembuh. Brahmin ini datang kepada saya dan berkata, "Tuan, letakkanlah tangan Anda di atas kepala saya, supaya demam saya dapat sembuh." Saya berkata, "Baiklah; tetapi Anda harus menunjukkan trik-trik Anda kepada saya." Ia berjanji. Saya meletakkan tangan saya di atas kepalanya sebagaimana yang diminta, dan kemudian ia datang untuk memenuhi janjinya. Ia hanya mengenakan sehelai kain yang melilit pinggangnya, kami melepaskan segala sesuatu yang lain darinya. Saya memiliki sehelai selimut yang saya berikan kepadanya untuk membungkus dirinya, karena udara dingin, dan saya menyuruhnya duduk di sebuah sudut. Dua puluh lima pasang mata sedang menatapnya. Lalu ia berkata, "Sekarang, perhatikanlah, tuliskanlah apa pun yang Anda inginkan." Kami semua menuliskan nama buah-buahan yang tidak pernah tumbuh di negeri itu, untaian anggur, jeruk, dan sebagainya. Lalu kami memberikan potongan-potongan kertas itu kepadanya. Maka dari bawah selimutnya keluarlah, berkeranjang-keranjang anggur, jeruk, dan sebagainya, begitu banyak sehingga jika semua buah itu ditimbang, beratnya akan dua kali lipat dari pria itu. Ia meminta kami memakan buah-buah tersebut. Sebagian dari kami menolak, dengan dugaan bahwa ini adalah hipnotis; tetapi pria itu mulai memakannya sendiri — maka kami semua pun memakannya. Ternyata baik-baik saja.

Ia mengakhiri pertunjukan dengan menghasilkan setumpuk besar bunga mawar. Setiap kuntum bunga sempurna, dengan butir-butir embun di kelopaknya, tak satu pun yang remuk, tak satu pun yang rusak. Dan jumlahnya bertumpuk-tumpuk! Ketika saya meminta penjelasan kepada pria itu, ia berkata, "Semuanya itu hanyalah kecekatan tangan belaka."

Apa pun itu, tampaknya mustahil itu hanyalah sekadar kecekatan tangan. Dari mana ia bisa memperoleh begitu banyak benda dalam jumlah sebesar itu?

Yah, saya telah menyaksikan banyak hal seperti itu. Berkelana di seluruh India, Anda akan menjumpai ratusan kejadian serupa di berbagai tempat. Hal-hal seperti ini ada di setiap negeri. Bahkan di negeri ini pun Anda akan menemukan beberapa hal menakjubkan semacam itu. Tentu saja ada banyak penipuan, tidak diragukan lagi; namun, setiap kali Anda melihat penipuan, Anda juga harus mengatakan bahwa penipuan adalah suatu peniruan. Pasti ada suatu kebenaran di suatu tempat, yang sedang ditiru; Anda tidak dapat meniru sesuatu yang tidak ada. Peniruan haruslah dari sesuatu yang secara substansial benar.

Pada masa yang sangat purba di India, ribuan tahun yang lalu, fakta-fakta semacam ini biasa terjadi bahkan lebih sering daripada sekarang. Bagi saya, tampaknya ketika suatu negeri menjadi sangat padat penduduknya, daya psikis pun merosot. Diberi sebuah negeri yang luas dengan penduduk yang jarang, di sana mungkin akan terdapat lebih banyak daya psikis. Fakta-fakta ini, oleh orang Hindu, yang berpikiran analitis, ditelaah dan diselidiki. Lalu mereka sampai pada kesimpulan-kesimpulan yang menakjubkan; yakni, mereka menjadikannya suatu ilmu. Mereka menemukan bahwa semua ini, walaupun luar biasa, juga bersifat alamiah; tidak ada yang supernatural. Semuanya tunduk pada hukum-hukum yang sama seperti fenomena fisik lainnya. Bukanlah suatu keanehan alam bahwa seorang manusia dilahirkan dengan kekuatan-kekuatan semacam itu. Hal-hal itu dapat dipelajari, dipraktikkan, dan diperoleh secara sistematis. Ilmu ini mereka sebut sebagai ilmu Raja-Yoga (yoga raja, jalan penguasaan pikiran). Terdapat ribuan orang yang menekuni pengkajian ilmu ini, dan bagi seluruh bangsa hal itu telah menjadi bagian dari ibadat harian.

Kesimpulan yang mereka capai adalah bahwa semua kekuatan luar biasa ini terdapat di dalam pikiran manusia. Pikiran ini merupakan bagian dari pikiran semesta. Setiap pikiran terhubung dengan setiap pikiran yang lain. Dan setiap pikiran, di mana pun ia berada, sesungguhnya berkomunikasi dengan seluruh dunia.

Pernahkah Anda memperhatikan fenomena yang disebut pemindahan-pikiran (thought-transference)? Seseorang di sini sedang memikirkan sesuatu, dan pikiran itu termanifestasi pada seseorang yang lain, di tempat yang lain. Dengan persiapan — bukan secara kebetulan — seseorang ingin mengirimkan suatu pikiran kepada pikiran lain di kejauhan, dan pikiran lain itu mengetahui bahwa suatu pikiran sedang datang, dan ia menerimanya persis seperti yang dikirimkan. Jarak tidak menjadi soal. Pikiran itu pergi dan sampai kepada orang yang lain, dan ia memahaminya. Jika pikiran Anda merupakan sesuatu yang terisolasi di sini, dan pikiran saya merupakan sesuatu yang terisolasi di sana, dan tidak ada hubungan antara keduanya, bagaimana mungkin pikiran saya sampai kepada Anda? Dalam kasus-kasus biasa, bukanlah pikiran saya yang sampai kepada Anda secara langsung; melainkan pikiran saya harus diuraikan menjadi getaran-getaran eteris, lalu getaran-getaran eteris itu masuk ke dalam otak Anda, dan harus diuraikan kembali menjadi pikiran-pikiran Anda sendiri. Di sini terdapat suatu penguraian pikiran, dan di sana terdapat suatu penyusunan kembali pikiran. Itu adalah suatu proses yang berputar-putar. Namun dalam telepati tidak ada hal semacam itu; prosesnya langsung.

Hal ini menunjukkan adanya kesinambungan pikiran, sebagaimana para Yogi menyebutnya. Pikiran itu bersifat universal. Pikiran Anda, pikiran saya, semua pikiran-pikiran kecil ini, adalah fragmen-fragmen dari pikiran semesta itu, riak-riak kecil di lautan; dan karena adanya kesinambungan ini, kita dapat menyampaikan pikiran-pikiran kita secara langsung satu sama lain.

Anda melihat apa yang terjadi di sekeliling kita. Dunia ini adalah dunia pengaruh. Sebagian dari energi kita dipergunakan untuk pemeliharaan tubuh kita sendiri. Selebihnya, setiap partikel energi kita siang dan malam digunakan untuk memengaruhi orang lain. Tubuh kita, kebajikan kita, akal kita, dan kerohanian kita, semuanya terus-menerus memengaruhi orang lain; dan sebaliknya pula, kita dipengaruhi oleh mereka. Hal ini terus berlangsung di sekeliling kita. Sekarang, mari kita ambil sebuah contoh nyata. Seorang pria datang; Anda tahu bahwa ia sangat terpelajar, bahasanya indah, dan ia berbicara kepada Anda berjam-jam; tetapi ia tidak menimbulkan kesan apa pun. Pria lain datang, dan ia mengucapkan beberapa patah kata, yang tidak tersusun dengan baik, mungkin tidak sesuai tata bahasa; namun demikian, ia menimbulkan kesan yang luar biasa. Banyak di antara Anda yang pernah menyaksikan hal itu. Maka jelas bahwa kata-kata saja tidak selalu dapat menimbulkan kesan. Kata-kata, bahkan pikiran-pikiran, hanya memberikan sepertiga dari pengaruh dalam menimbulkan kesan; sedangkan orang itu sendiri memberikan dua pertiga. Apa yang Anda sebut sebagai daya tarik pribadi seseorang — itulah yang memancar keluar dan menimbulkan kesan pada Anda.

Di dalam keluarga-keluarga kita ada para kepala keluarga; sebagian dari mereka berhasil, sebagian lainnya tidak. Mengapa? Kita menyalahkan orang lain dalam kegagalan kita. Begitu saya tidak berhasil, saya berkata, si anu adalah penyebab kegagalan itu. Dalam kegagalan, orang tidak suka mengakui kesalahan dan kelemahannya sendiri. Setiap orang berusaha menganggap dirinya tidak bercela dan menimpakan kesalahan kepada seseorang atau sesuatu yang lain, atau bahkan kepada nasib buruk. Ketika para kepala keluarga gagal, mereka seharusnya bertanya pada diri sendiri, mengapa beberapa orang dapat mengelola keluarga dengan begitu baik sedangkan yang lain tidak. Maka Anda akan menemukan bahwa perbedaannya disebabkan oleh diri orang itu sendiri — keberadaannya, kepribadiannya.

Beralih kepada para pemimpin agung umat manusia, kita selalu menemukan bahwa kepribadian orang itulah yang menentukan. Sekarang, ambillah semua pengarang besar di masa lampau, para pemikir agung. Sungguh-sungguh, berapa banyakkah pemikiran yang mereka pikirkan? Ambillah seluruh tulisan yang ditinggalkan kepada kita oleh para pemimpin umat manusia di masa lampau; ambillah masing-masing buku mereka dan nilailah. Pemikiran-pemikiran yang sungguh-sungguh, baru dan asli, yang telah dipikirkan di dunia ini hingga saat ini, jumlahnya hanya segenggam. Bacalah dalam buku-buku mereka pemikiran-pemikiran yang mereka tinggalkan untuk kita. Para pengarang itu tidak tampak sebagai raksasa bagi kita, namun kita tahu bahwa mereka adalah raksasa-raksasa besar pada zamannya. Apa yang membuat mereka demikian? Bukan sekadar pemikiran-pemikiran yang mereka pikirkan, bukan pula buku-buku yang mereka tulis, atau pidato-pidato yang mereka sampaikan; ada sesuatu yang lain yang kini telah lenyap, yaitu kepribadian mereka. Sebagaimana telah saya katakan, kepribadian seseorang adalah dua pertiga, sedangkan akalnya, kata-katanya, hanyalah sepertiga. Manusia yang sejatinya, kepribadian sang manusia itu, itulah yang merasuk ke dalam diri kita. Perbuatan-perbuatan kita hanyalah akibat. Perbuatan pasti muncul ketika manusianya ada di sana; akibat pasti mengikuti sebab.

Cita-cita dari segala pendidikan, segala pelatihan, haruslah pembentukan manusia ini. Tetapi alih-alih demikian, kita selalu berusaha memoles bagian luarnya saja. Apa gunanya memoles bagian luar bila bagian dalam tiada? Tujuan dan sasaran dari segala pelatihan adalah membuat manusia bertumbuh. Manusia yang memengaruhi, yang seolah-olah melontarkan keajaibannya kepada sesamanya, adalah suatu dinamo kekuatan, dan ketika manusia itu telah siap, ia dapat melakukan apa pun dan segala sesuatu yang ia kehendaki; kepribadian itu yang ditempatkan pada apa pun akan membuatnya berjalan.

Sekarang, kita melihat bahwa walaupun ini adalah fakta, tidak ada hukum fisik yang kita ketahui dapat menjelaskan hal ini. Bagaimana kita dapat menjelaskannya dengan pengetahuan kimia dan fisika? Berapa banyak oksigen, hidrogen, karbon, berapa banyak molekul dalam berbagai posisi, dan berapa banyak sel, dan sebagainya, dapat menjelaskan kepribadian yang misterius ini? Namun kita tetap melihatnya sebagai suatu fakta, dan bukan hanya itu, itulah manusia yang sebenarnya; dan manusia itulah yang hidup, bergerak, dan bekerja, manusia itulah yang memengaruhi, menggerakkan sesamanya, lalu berlalu, sedangkan akalnya dan buku-bukunya dan karya-karyanya hanyalah jejak-jejak yang ditinggalkan di belakang. Renungkanlah hal ini. Bandingkanlah para guru agama yang agung dengan para filsuf yang agung. Para filsuf nyaris tidak memengaruhi manusia batin siapa pun, namun mereka menulis buku-buku yang paling menakjubkan. Sebaliknya, para guru agama menggerakkan negeri-negeri sepanjang hidup mereka. Perbedaannya terletak pada kepribadian. Pada filsuf, yang memengaruhi adalah kepribadian yang samar; pada nabi-nabi agung, kepribadiannya sangat dahsyat. Pada yang pertama kita menyentuh akal, pada yang kedua kita menyentuh kehidupan. Pada yang satu hanyalah suatu proses kimia, mencampurkan bahan-bahan kimia tertentu yang mungkin secara bertahap berpadu dan dalam keadaan yang tepat memunculkan kilatan cahaya, atau bisa juga gagal. Pada yang lain, ia bagaikan obor yang berkeliling dengan cepat, menyalakan obor-obor yang lain.

Ilmu Yoga mengklaim bahwa ia telah menemukan hukum-hukum yang mengembangkan kepribadian ini, dan dengan perhatian yang tepat kepada hukum-hukum dan metode-metode itu, setiap orang dapat menumbuhkan dan memperkuat kepribadiannya. Inilah salah satu hal praktis yang besar, dan inilah rahasia segala pendidikan. Hal ini memiliki penerapan universal. Dalam kehidupan seorang perumah tangga, dalam kehidupan orang miskin, orang kaya, orang yang berbisnis, orang rohani, dalam kehidupan setiap orang, ini adalah suatu hal yang besar, yaitu penguatan kepribadian ini. Ada hukum-hukum, yang sangat halus, yang berada di balik hukum-hukum fisik, sebagaimana kita ketahui. Yakni, tidak ada kenyataan-kenyataan terpisah seperti dunia fisik, dunia mental, dunia rohani. Apa pun yang ada, adalah satu. Katakanlah, ia adalah semacam keberadaan yang meruncing; bagian yang paling tebal ada di sini, ia meruncing dan menjadi lebih halus dan lebih halus lagi. Yang paling halus adalah apa yang kita sebut roh; yang paling kasar adalah tubuh. Dan sebagaimana hal itu berlaku di sini dalam mikrokosmos, demikian pula persis halnya dalam makrokosmos. Alam semesta kita persis seperti itu; ia adalah ketebalan eksternal yang kasar, dan ia meruncing menjadi sesuatu yang lebih halus dan lebih halus lagi sampai ia menjadi Tuhan.

Kita juga mengetahui bahwa kekuatan terbesar berada pada yang halus, bukan pada yang kasar. Kita melihat seseorang mengangkat beban yang besar, kita melihat otot-ototnya membengkak, dan di sekujur tubuhnya kita melihat tanda-tanda pengerahan tenaga, dan kita mengira otot-otot itulah yang merupakan benda yang kuat. Akan tetapi, benda-benda tipis seperti benang itulah, yaitu saraf-saraf, yang menghantarkan kekuatan kepada otot; begitu salah satu dari benang-benang ini diputuskan sehingga tidak mencapai otot, maka otot-otot itu sama sekali tidak dapat bekerja. Saraf-saraf kecil ini menghantarkan kekuatan dari sesuatu yang lebih halus lagi, dan yang itu pun pada gilirannya menghantarkannya dari sesuatu yang lebih halus lagi — pikiran, dan demikian seterusnya. Jadi, yang halus itulah yang sebenarnya merupakan kedudukan kekuatan. Tentu saja kita dapat melihat gerakan-gerakan dalam yang kasar; tetapi ketika gerakan-gerakan halus terjadi, kita tidak dapat melihatnya. Ketika benda yang kasar bergerak, kita menangkapnya, dan dengan demikian kita secara alami menyamakan gerakan dengan benda-benda yang kasar. Tetapi semua kekuatan sebenarnya berada pada yang halus. Kita tidak melihat gerakan apa pun pada yang halus, mungkin karena gerakannya sedemikian dahsyat sehingga kita tidak dapat mencerapnya. Namun jika dengan suatu ilmu, dengan suatu penyelidikan, kita dibantu untuk dapat menguasai kekuatan-kekuatan yang lebih halus ini yang merupakan penyebab dari ungkapan, maka ungkapan itu sendiri akan berada dalam kendali. Ada sebuah gelembung kecil yang datang dari dasar danau; kita tidak melihatnya sepanjang ia naik, kita baru melihatnya ketika ia pecah di permukaan; demikian pula, kita hanya dapat mencerap pikiran-pikiran setelah mereka berkembang banyak, atau setelah mereka menjadi perbuatan. Kita terus-menerus mengeluh bahwa kita tidak memiliki kendali atas perbuatan-perbuatan kita, atas pikiran-pikiran kita. Tetapi bagaimana kita bisa memilikinya? Jika kita dapat memperoleh kendali atas gerakan-gerakan halus, jika kita dapat menangkap pikiran pada akarnya, sebelum ia menjadi pikiran, sebelum ia menjadi perbuatan, barulah memungkinkan bagi kita untuk mengendalikan keseluruhannya. Sekarang, jika ada suatu metode yang dengannya kita dapat menganalisis, menyelidiki, memahami, dan akhirnya menundukkan kekuatan-kekuatan yang lebih halus itu, sebab-sebab yang lebih halus itu, barulah ada kemungkinan untuk memperoleh kendali atas diri kita sendiri, dan orang yang memiliki kendali atas pikirannya sendiri pasti akan memiliki kendali atas setiap pikiran yang lain. Itulah sebabnya kesucian dan moralitas selalu menjadi tujuan agama; seorang yang suci dan bermoral memiliki kendali atas dirinya sendiri. Dan semua pikiran adalah sama, merupakan bagian-bagian yang berbeda dari satu Pikiran. Ia yang mengenal segumpal tanah liat telah mengenal seluruh tanah liat di alam semesta. Ia yang mengenal dan mengendalikan pikirannya sendiri mengetahui rahasia setiap pikiran dan memiliki kekuasaan atas setiap pikiran.

Sekarang, banyak keburukan fisik kita yang dapat kita singkirkan, jika kita memiliki kendali atas bagian-bagian yang halus; banyak kekhawatiran yang dapat kita buang, jika kita memiliki kendali atas gerakan-gerakan halus; banyak kegagalan dapat dihindari, jika kita memiliki kendali atas kekuatan-kekuatan halus ini. Sejauh ini, itu adalah kegunaannya. Namun di luar itu, ada sesuatu yang lebih tinggi.

Sekarang, saya akan menyampaikan kepada Anda sebuah teori, yang tidak akan saya perdebatkan sekarang, tetapi hanya akan saya kemukakan kesimpulannya. Setiap manusia dalam masa kanak-kanaknya menempuh tahap-tahap yang dilalui oleh rasnya; hanya saja rasnya menempuh ribuan tahun untuk melakukannya, sedangkan sang anak menempuhnya dalam beberapa tahun. Anak mula-mula adalah manusia liar purba — dan ia menginjak seekor kupu-kupu hingga remuk di bawah kakinya. Anak mula-mula adalah seperti nenek moyang primitif dari rasnya. Seiring ia tumbuh, ia melewati tahap-tahap yang berbeda hingga mencapai perkembangan rasnya. Hanya saja ia melakukannya dengan cepat dan singkat. Sekarang, ambillah seluruh umat manusia sebagai satu ras, atau ambillah seluruh ciptaan hewan, manusia dan hewan-hewan yang lebih rendah, sebagai satu kesatuan. Ada suatu tujuan ke arah mana keseluruhan itu sedang bergerak. Mari kita menyebutnya kesempurnaan. Ada pria dan wanita yang dilahirkan yang mendahului seluruh kemajuan umat manusia. Alih-alih menunggu dan dilahirkan kembali berulang-ulang selama berabad-abad sampai seluruh umat manusia mencapai kesempurnaan itu, mereka, seolah-olah, menempuhnya dalam beberapa tahun singkat dari hidup mereka. Dan kita tahu bahwa kita dapat mempercepat proses-proses ini, jika kita jujur terhadap diri sendiri. Jika sejumlah orang, tanpa peradaban apa pun, dibiarkan hidup di sebuah pulau, dan diberi makanan, pakaian, dan tempat berlindung yang baru cukup, mereka akan secara perlahan terus berkembang, mengembangkan tahap-tahap peradaban yang semakin tinggi dan semakin tinggi. Kita juga mengetahui bahwa pertumbuhan ini dapat dipercepat dengan sarana tambahan. Kita membantu pertumbuhan pohon-pohon, bukan? Dibiarkan begitu saja oleh alam, mereka tetap akan tumbuh, hanya saja akan memakan waktu lebih lama; kita membantu mereka tumbuh dalam waktu yang lebih singkat daripada yang seharusnya. Kita sepanjang waktu melakukan hal yang sama, mempercepat pertumbuhan berbagai hal dengan cara-cara buatan. Mengapa kita tidak dapat mempercepat pertumbuhan manusia? Kita dapat melakukan hal itu sebagai suatu ras. Mengapa para guru dikirim ke negeri-negeri lain? Karena melalui cara-cara ini kita dapat mempercepat pertumbuhan ras-ras. Sekarang, tidak dapatkah kita mempercepat pertumbuhan individu? Kita dapat. Dapatkah kita menetapkan suatu batas pada percepatan itu? Kita tidak dapat mengatakan seberapa banyak seseorang dapat tumbuh dalam satu kehidupan. Anda tidak memiliki alasan untuk mengatakan bahwa sebanyak ini saja yang dapat dilakukan oleh seseorang dan tidak lebih. Keadaan dapat mempercepatnya dengan luar biasa. Adakah suatu batas, sampai Anda mencapai kesempurnaan? Maka, apa yang dapat disimpulkan? — Bahwa seorang manusia sempurna, yaitu jenis yang akan muncul dari ras ini, mungkin jutaan tahun yang akan datang, manusia itu dapat muncul hari ini. Dan inilah yang dikatakan para Yogi, bahwa semua inkarnasi agung dan nabi-nabi adalah manusia-manusia semacam itu; bahwa mereka mencapai kesempurnaan dalam satu kehidupan ini. Kita telah memiliki orang-orang seperti itu pada setiap periode sejarah dunia dan pada setiap masa. Belum lama berselang, ada seorang yang menjalani kehidupan seluruh umat manusia dan mencapai akhirnya — bahkan dalam kehidupan ini. Bahkan percepatan pertumbuhan ini pun pasti tunduk pada hukum-hukum. Misalnya kita dapat menyelidiki hukum-hukum ini dan memahami rahasia-rahasianya serta menerapkannya pada kebutuhan-kebutuhan kita sendiri; maka tentulah kita akan tumbuh. Kita mempercepat pertumbuhan kita, kita mempercepat perkembangan kita, dan kita menjadi sempurna, bahkan dalam kehidupan ini. Inilah bagian yang lebih tinggi dari kehidupan kita, dan ilmu pengkajian pikiran serta kekuatan-kekuatannya memiliki kesempurnaan ini sebagai tujuan sejatinya. Membantu orang lain dengan uang dan benda-benda materi lainnya serta mengajari mereka cara menjalani kehidupan sehari-hari dengan lancar hanyalah hal-hal yang bersifat detail.

Kegunaan dari ilmu ini adalah memunculkan manusia yang sempurna, dan tidak membiarkannya menunggu dan menunggu selama berabad-abad, hanya sebagai mainan di tangan dunia fisik, seperti sebatang kayu hanyut yang dibawa dari ombak ke ombak dan dihempas-hempaskan di lautan. Ilmu ini menghendaki Anda menjadi kuat, mengambil pekerjaan ke tangan Anda sendiri, alih-alih membiarkannya di tangan alam, dan melampaui kehidupan yang kecil ini. Itulah gagasan yang agung.

Manusia bertumbuh dalam pengetahuan, dalam kekuatan, dalam kebahagiaan. Secara terus-menerus, kita bertumbuh sebagai suatu ras. Kita melihat bahwa hal itu benar, sepenuhnya benar. Apakah hal itu benar bagi individu? Sampai batas tertentu, ya. Tetapi sekali lagi muncul pertanyaan: Di manakah Anda menetapkan batasnya? Saya hanya dapat melihat pada jarak sekian kaki. Tetapi saya pernah melihat seseorang menutup matanya dan melihat apa yang sedang terjadi di ruangan lain. Jika Anda berkata Anda tidak memercayainya, mungkin dalam tiga minggu orang itu dapat membuat Anda melakukan hal yang sama. Hal itu dapat diajarkan kepada siapa saja. Beberapa orang, bahkan dalam lima menit, dapat dijadikan mampu membaca apa yang sedang terjadi dalam pikiran orang lain. Fakta-fakta ini dapat didemonstrasikan.

Sekarang, jika hal-hal ini benar, di manakah kita dapat menetapkan suatu batas? Jika seseorang dapat membaca apa yang sedang terjadi dalam pikiran orang lain di sudut ruangan ini, mengapa tidak di ruangan sebelah? Mengapa tidak di mana pun? Kita tidak dapat mengatakan, mengapa tidak. Kita tidak berani mengatakan bahwa hal itu tidak mungkin. Kita hanya dapat mengatakan, kita tidak tahu bagaimana hal itu terjadi. Para ilmuwan materialis tidak berhak mengatakan bahwa hal-hal seperti ini tidak mungkin; mereka hanya dapat mengatakan, "Kami tidak tahu." Ilmu harus mengumpulkan fakta-fakta, melakukan penyamarataan, menyimpulkan prinsip-prinsip, dan menyatakan kebenaran — itu saja. Tetapi jika kita memulai dengan menyangkal fakta-fakta, bagaimana mungkin sebuah ilmu dapat terbentuk?

Tidak ada batas bagi kekuatan yang dapat diperoleh seseorang. Inilah keistimewaan dari pikiran orang India, bahwa ketika sesuatu menarik perhatiannya, ia tenggelam di dalamnya dan hal-hal lain diabaikan. Anda tahu betapa banyak ilmu yang berasal dari India. Matematika dimulai di sana. Bahkan hari ini Anda masih menghitung 1, 2, 3, dan seterusnya hingga nol, mengikuti angka-angka Sanskerta, dan Anda semua tahu bahwa aljabar juga berasal dari India, dan bahwa gravitasi telah diketahui oleh orang India ribuan tahun sebelum Newton dilahirkan.

Anda lihat keistimewaannya. Pada suatu periode sejarah India, subjek tentang manusia dan pikirannya inilah yang menyerap seluruh perhatian mereka. Dan hal itu sangat memikat, karena tampaknya merupakan cara termudah untuk mencapai tujuan-tujuan mereka. Lalu, pikiran orang India menjadi begitu sepenuhnya yakin bahwa pikiran dapat melakukan apa pun dan segala hal menurut hukum, sehingga kekuatan-kekuatannya menjadi objek pengkajian yang besar. Mantra, sihir, dan kekuatan-kekuatan lainnya, dan semua itu, bukanlah hal yang luar biasa, melainkan suatu ilmu yang diajarkan secara teratur, sebagaimana ilmu-ilmu fisik yang telah mereka ajarkan sebelumnya. Keyakinan semacam itu terhadap hal-hal ini menghinggapi ras tersebut sehingga ilmu-ilmu fisik nyaris punah. Itulah satu hal yang berada di hadapan mereka. Berbagai aliran Yogi mulai melakukan segala macam percobaan. Sebagian melakukan percobaan dengan cahaya, mencoba menemukan bagaimana cahaya berbagai warna menghasilkan perubahan pada tubuh. Mereka mengenakan kain dengan warna tertentu, hidup di bawah suatu warna tertentu, dan memakan makanan dengan warna tertentu. Segala macam percobaan dilakukan dengan cara ini. Yang lainnya melakukan percobaan pada suara dengan menyumbat dan membuka penyumbat telinga mereka. Dan yang lainnya lagi bereksperimen dengan indra penciuman, dan sebagainya.

Seluruh gagasannya adalah untuk sampai pada dasarnya, untuk mencapai bagian-bagian halus dari sesuatu. Dan sebagian dari mereka sungguh-sungguh menunjukkan kekuatan-kekuatan yang paling menakjubkan. Banyak di antara mereka mencoba melayang di udara atau melewatinya. Saya akan menceritakan kepada Anda sebuah kisah yang saya dengar dari seorang sarjana besar di Barat. Kisah itu diceritakan kepadanya oleh seorang Gubernur Ceylon yang menyaksikan pertunjukan tersebut. Seorang gadis dibawa ke depan dan didudukkan bersila di atas sebuah dingklik yang terbuat dari batang-batang kayu yang disilangkan. Setelah ia duduk untuk beberapa waktu, sang penampil mulai mengeluarkan, satu demi satu, batang-batang silang tersebut; dan ketika semuanya telah dikeluarkan, gadis itu tertinggal melayang di udara. Sang Gubernur mengira ada suatu tipuan, maka ia menghunus pedangnya dan menggerakkannya dengan keras di bawah tubuh gadis itu; tidak ada apa-apa di sana. Nah, apakah ini? Ini bukanlah sihir atau sesuatu yang luar biasa. Itulah keistimewaannya. Tidak seorang pun di India akan mengatakan kepada Anda bahwa hal-hal seperti ini tidak ada. Bagi orang Hindu hal itu adalah hal yang biasa. Anda tahu apa yang sering dikatakan orang Hindu ketika mereka harus melawan musuh-musuh mereka — "Oh, salah seorang Yogi kami akan datang dan mengusir seluruh musuh itu!" Itu adalah kepercayaan ekstrem dari ras tersebut. Kekuatan apa yang ada di dalam tangan atau pedang? Kekuatan seluruhnya ada pada roh.

Jika ini benar, hal ini sudah cukup menjadi godaan bagi pikiran untuk mengerahkan dirinya sampai puncak. Tetapi seperti halnya pada setiap ilmu yang lain, sangatlah sulit untuk membuat pencapaian besar apa pun, demikian pula dengan ilmu ini, bahkan jauh lebih sulit. Namun kebanyakan orang berpikir bahwa kekuatan-kekuatan ini dapat diperoleh dengan mudah. Berapa tahun yang Anda perlukan untuk membangun suatu kekayaan? Pikirkanlah itu! Pertama, berapa tahun yang Anda perlukan untuk mempelajari ilmu listrik atau teknik? Dan lalu Anda harus bekerja sepanjang sisa hidup Anda.

Selanjutnya, sebagian besar ilmu-ilmu lainnya berurusan dengan hal-hal yang tidak bergerak, yang tetap. Anda dapat menganalisis sebuah kursi, kursi itu tidak melarikan diri dari Anda. Tetapi ilmu ini berurusan dengan pikiran, yang bergerak sepanjang waktu; begitu Anda ingin mempelajarinya, ia menyelinap pergi. Sekarang pikiran berada dalam satu suasana, sesaat kemudian, mungkin, ia berbeda, berubah, berubah sepanjang waktu. Di tengah-tengah segala perubahan ini, ia harus dipelajari, dipahami, ditangkap, dan dikendalikan. Maka, betapa jauh lebih sulit ilmu ini! Ia memerlukan pelatihan yang ketat. Orang-orang bertanya kepada saya mengapa saya tidak memberi mereka pelajaran-pelajaran praktis. Mengapa, hal ini bukanlah suatu olok-olok. Saya berdiri di atas mimbar ini berbicara kepada Anda dan Anda pulang ke rumah dan tidak menemukan manfaat apa pun; saya pun tidak. Lalu Anda berkata, "Semuanya itu omong kosong." Hal itu karena Anda menginginkannya menjadi omong kosong. Saya hanya mengetahui sedikit tentang ilmu ini, tetapi yang sedikit itu saya peroleh dengan bekerja selama tiga puluh tahun dari hidup saya, dan selama enam tahun saya telah memberitahukan kepada orang-orang yang sedikit yang saya ketahui. Saya memerlukan tiga puluh tahun untuk mempelajarinya; tiga puluh tahun perjuangan yang berat. Kadang-kadang saya bekerja untuk itu dua puluh jam dalam dua puluh empat jam; kadang-kadang saya hanya tidur satu jam pada malam hari; kadang-kadang saya bekerja sepanjang malam; kadang-kadang saya tinggal di tempat-tempat yang hampir tidak ada suara, hampir tidak ada hembusan napas; kadang-kadang saya harus tinggal di goa-goa. Pikirkanlah itu. Dan toh saya hanya mengetahui sedikit atau tidak sama sekali; saya hanya nyaris menyentuh ujung jubah dari ilmu ini. Tetapi saya dapat memahami bahwa ilmu ini benar dan luas dan menakjubkan.

Sekarang, jika ada di antara Anda yang sungguh-sungguh ingin mempelajari ilmu ini, ia harus memulai dengan tekad semacam itu, sama seperti, bahkan lebih daripada, tekad yang ia curahkan ke dalam usaha apa pun dalam kehidupan.

Dan betapa besar perhatian yang dituntut oleh dunia usaha, dan betapa kejamnya ia sebagai mandor! Bahkan jika ayah, ibu, istri, atau anak meninggal dunia, bisnis tidak boleh berhenti! Bahkan jika hati sedang hancur, kita tetap harus pergi ke tempat usaha kita, ketika setiap jam pekerjaan terasa sebagai suatu kepedihan. Itulah dunia usaha, dan kita menganggap bahwa hal itu adil, bahwa hal itu benar.

Ilmu ini menuntut penerapan yang lebih besar daripada yang pernah dituntut oleh dunia usaha mana pun. Banyak orang dapat berhasil dalam bisnis; sangat sedikit yang berhasil dalam ilmu ini. Sebab banyak yang bergantung pada konstitusi khusus dari orang yang mempelajarinya. Sebagaimana dalam bisnis tidak semua orang dapat membangun kekayaan, tetapi setiap orang dapat memperoleh sesuatu, demikian pula dalam pengkajian ilmu ini setiap orang dapat memperoleh suatu sekilas pandangan yang akan meyakinkannya tentang kebenarannya dan tentang fakta bahwa telah ada orang-orang yang merealisasikannya sepenuhnya.

Inilah garis besar dari ilmu ini. Ia berdiri di atas kakinya sendiri dan dalam cahayanya sendiri, dan menantang perbandingan dengan ilmu apa pun yang lain. Telah ada orang-orang penipu, telah ada para tukang sihir, telah ada para pengelabu, dan jumlahnya di sini lebih banyak daripada di bidang mana pun yang lain. Mengapa? Karena alasan yang sama, bahwa semakin menguntungkan suatu bisnis, semakin besar jumlah penipu dan pengelabu. Tetapi itu bukanlah alasan mengapa bisnis itu tidak boleh baik. Dan satu hal lagi; mungkin merupakan senam intelektual yang baik untuk mendengarkan semua argumen dan suatu kepuasan intelektual untuk mendengar hal-hal yang menakjubkan. Tetapi, jika ada di antara Anda yang sungguh-sungguh ingin mempelajari sesuatu yang melampaui hal itu, sekadar menghadiri ceramah tidaklah cukup. Hal itu tidak dapat diajarkan dalam ceramah, sebab itu adalah kehidupan; dan kehidupan hanya dapat dihantarkan oleh kehidupan. Jika ada di antara Anda yang sungguh-sungguh bertekad mempelajarinya, saya akan dengan senang hati membantu mereka.

English

( Delivered at Los Angeles, California, January 8, 1900 )

All over the world there has been the belief in the supernatural throughout the ages. All of us have heard of extraordinary happenings, and many of us have had some personal experience of them. I would rather introduce the subject by telling you certain facts which have come within my own experience. I once heard of a man who, if any one went to him with questions in his mind, would answer them immediately; and I was also informed that he foretold events. I was curious and went to see him with a few friends. We each had something in our minds to ask, and, to avoid mistakes, we wrote down our questions and put them in our pockets. As soon as the man saw one of us, he repeated our questions and gave the answers to them. Then he wrote something on paper, which he folded up, asked me to sign on the back, and said, "Don't look at it; put it in your pocket and keep it there till I ask for it again." And so on to each one of us. He next told us about some events that would happen to us in the future. Then he said, "Now, think of a word or a sentence, from any language you like." I thought of a long sentence from Sanskrit, a language of which he was entirely ignorant. "Now, take out the paper from your pocket," he said. The Sanskrit sentence was written there! He had written it an hour before with the remark, "In confirmation of what I have written, this man will think of this sentence." It was correct. Another of us who had been given a similar paper which he had signed and placed in his pocket, was also asked to think of a sentence. He thought of a sentence in Arabic, which it was still less possible for the man to know; it was some passage from the Koran. And my friend found this written down on the paper.

Another of us was a physician. He thought of a sentence from a German medical book. It was written on his paper.

Several days later I went to this man again, thinking possibly I had been deluded somehow before. I took other friends, and on this occasion also he came out wonderfully triumphant.

Another time I was in the city of Hyderabad in India, and I was told of a Brâhmin there who could produce numbers of things from where, nobody knew. This man was in business there; he was a respectable gentleman. And I asked him to show me his tricks. It so happened that this man had a fever, and in India there is a general belief that if a holy man puts his hand on a sick man he would be well. This Brahmin came to me and said, "Sir, put your hand on my head, so that my fever may be cured." I said, "Very good; but you show me your tricks." He promised. I put my hand on his head as desired, and later he came to fulfil his promise. He had only a strip of cloth about his loins, we took off everything else from him. I had a blanket which I gave him to wrap round himself, because it was cold, and made him sit in a corner. Twenty-five pairs of eyes were looking at him. And he said, "Now, look, write down anything you want." We all wrote down names of fruits that never grew in that country, bunches of grapes, oranges, and so on. And we gave him those bits of paper. And there came from under his blanket, bushels of grapes, oranges, and so forth, so much that if all that fruit was weighed, it would have been twice as heavy as the man. He asked us to eat the fruit. Some of us objected, thinking it was hypnotism; but the man began eating himself — so we all ate. It was all right.

He ended by producing a mass of roses. Each flower was perfect, with dew-drops on the petals, not one crushed, not one injured. And masses of them! When I asked the man for an explanation, he said, "It is all sleight of hand."

Whatever it was, it seemed to be impossible that it could be sleight of hand merely. From whence could he have got such large quantities of things?

Well, I saw many things like that. Going about India you find hundreds of similar things in different places. These are in every country. Even in this country you will find some such wonderful things. Of course there is a great deal of fraud, no doubt; but then, whenever you see fraud, you have also to say that fraud is an imitation. There must be some truth somewhere, that is being imitated; you cannot imitate nothing. Imitation must be of something substantially true.

In very remote times in India, thousands of years ago, these facts used to happen even more than they do today. It seems to me that when a country becomes very thickly populated, psychical power deteriorates. Given a vast country thinly inhabited, there will, perhaps, be more of psychical power there. These facts, the Hindus, being analytically minded. Took up and investigated. And they came to certain remarkable conclusions; that is, they made a science of it. They found out that all these, though extraordinary, are also natural; there is nothing supernatural. They are under laws just the same as any other physical phenomenon. It is not a freak of nature that a man is born with such powers. They can be systematically studied, practiced, and acquired. This science they call the science of Râja-Yoga. There are thousands of people who cultivate the study of this science, and for the whole nation it has become a part of daily worship.

The conclusion they have reached is that all these extraordinary powers are in the mind of man. This mind is a part of the universal mind. Each mind is connected with every other mind. And each mind, wherever it is located, is in actual communication with the whole world.

Have you ever noticed the phenomenon that is called thought-transference? A man here is thinking something, and that thought is manifested in somebody else, in some other place. With preparations — not by chance — a man wants to send a thought to another mind at a distance, and this other mind knows that a thought is coming, and he receives it exactly as it is sent out. Distance makes no difference. The thought goes and reaches the other man, and he understands it. If your mind were an isolated something here, and my mind were an isolated something there, and there were no connection between the two, how would it be possible for my thought to reach you? In the ordinary cases, it is not my thought that is reaching you direct; but my thought has got to be dissolved into ethereal vibrations and those ethereal vibrations go into your brain, and they have to be resolved again into your own thoughts. Here is a dissolution of thought, and there is a resolution of thought. It is a roundabout process. But in telepathy, there is no such thing; it is direct.

This shows that there is a continuity of mind, as the Yogis call it. The mind is universal. Your mind, my mind, all these little minds, are fragments of that universal mind, little waves in the ocean; and on account of this continuity, we can convey our thoughts directly to one another.

You see what is happening all around us. The world is one of influence. Part of our energy is used up in the preservation of our own bodies. Beyond that, every particle of our energy is day and night being used in influencing others. Our bodies, our virtues, our intellect, and our spirituality, all these are continuously influencing others; and so, conversely, we are being influenced by them. This is going on all around us. Now, to take a concrete example. A man comes; you know he is very learned, his language is beautiful, and he speaks to you by the hour; but he does not make any impression. Another man comes, and he speaks a few words, not well arranged, ungrammatical perhaps; all the same, he makes an immense impression. Many of you have seen that. So it is evident that words alone cannot always produce an impression. Words, even thoughts contribute only one-third of the influence in making an impression, the man, two-thirds. What you call the personal magnetism of the man — that is what goes out and impresses you.

In our families there are the heads; some of them are successful, others are not. Why? We complain of others in our failures. The moment I am unsuccessful, I say, so-and-so is the cause of the failure. In failure, one does not like to confess one's own faults and weaknesses. Each person tries to hold himself faultless and lay the blame upon somebody or something else, or even on bad luck. When heads of families fail, they should ask themselves, why it is that some persons manage a family so well and others do not. Then you will find that the difference is owing to the man — his presence, his personality.

Coming to great leaders of mankind, we always find that it was the personality of the man that counted. Now, take all the great authors of the past, the great thinkers. Really speaking, how many thoughts have they thought? Take all the writings that have been left to us by the past leaders of mankind; take each one of their books and appraise them. The real thoughts, new and genuine, that have been thought in this world up to this time, amount to only a handful. Read in their books the thoughts they have left to us. The authors do not appear to be giants to us, and yet we know that they were great giants in their days. What made them so? Not simply the thoughts they thought, neither the books they wrote, nor the speeches they made, it was something else that is now gone, that is their personality. As I have already remarked, the personality of the man is two-thirds, and his intellect, his words, are but one-third. It is the real man, the personality of the man, that runs through us. Our actions are but effects. Actions must come when the man is there; the effect is bound to follow the cause.

The ideal of all education, all training, should be this man-making. But, instead of that, we are always trying to polish up the outside. What use in polishing up the outside when there is no inside? The end and aim of all training is to make the man grow. The man who influences, who throws his magic, as it were, upon his fellow-beings, is a dynamo of power, and when that man is ready, he can do anything and everything he likes; that personality put upon anything will make it work.

Now, we see that though this is a fact, no physical laws that we know of will explain this. How can we explain it by chemical and physical knowledge? How much of oxygen, hydrogen, carbon, how many molecules in different positions, and how many cells, etc., etc. can explain this mysterious personality? And we still see, it is a fact, and not only that, it is the real man; and it is that man that lives and moves and works, it is that man that influences, moves his fellow-beings, and passes out, and his intellect and books and works are but traces left behind. Think of this. Compare the great teachers of religion with the great philosophers. The philosophers scarcely influenced anybody's inner man, and yet they wrote most marvellous books. The religious teachers, on the other hand, moved countries in their lifetime. The difference was made by personality. In the philosopher it is a faint personality that influences; in the great prophets it is tremendous. In the former we touch the intellect, in the latter we touch life. In the one case, it is simply a chemical process, putting certain chemical ingredients together which may gradually combine and under proper circumstances bring out a flash of light or may fail. In the other, it is like a torch that goes round quickly, lighting others.

The science of Yoga claims that it has discovered the laws which develop this personality, and by proper attention to those laws and methods, each one can grow and strengthen his personality. This is one of the great practical things, and this is the secret of all education. This has a universal application. In the life of the householder, in the life of the poor, the rich, the man of business, the spiritual man, in every one's life, it is a great thing, the strengthening of this personality. There are laws, very fine, which are behind the physical laws, as we know. That is to say, there are no such realities as a physical world, a mental world, a spiritual world. Whatever is, is one. Let us say, it is a sort of tapering existence; the thickest part is here, it tapers and becomes finer and finer. The finest is what we call spirit; the grossest, the body. And just as it is here in microcosm, it is exactly the same in the macrocosm. The universe of ours is exactly like that; it is the gross external thickness, and it tapers into something finer and finer until it becomes God.

We also know that the greatest power is lodged in the fine, not in the coarse. We see a man take up a huge weight, we see his muscles swell, and all over his body we see signs of exertion, and we think the muscles are powerful things. But it is the thin thread-like things, the nerves, which bring power to the muscles; the moment one of these threads is cut off from reaching the muscles, they are not able to work at all. These tiny nerves bring the power from something still finer, and that again in its turn brings it from something finer still — thought, and so on. So, it is the fine that is really the seat of power. Of course we can see the movements in the gross; but when fine movements take place, we cannot see them. When a gross thing moves, we catch it, and thus we naturally identify movement with things which are gross. But all the power is really in the fine. We do not see any movement in the fine, perhaps, because the movement is so intense that we cannot perceive it. But if by any science, any investigation, we are helped to get hold of these finer forces which are the cause of the expression, the expression itself will be under control. There is a little bubble coming from the bottom of a lake; we do not see it coming all the time, we see it only when it bursts on the surface; so, we can perceive thoughts only after they develop a great deal, or after they become actions. We constantly complain that we have no control over our actions, over our thoughts. But how can we have it? If we can get control over the fine movements, if we can get hold of thought at the root, before it has become thought, before it has become action, then it would be possible for us to control the whole. Now, if there is a method by which we can analyse, investigate, understand, and finally grapple with those finer powers, the finer causes, then alone is it possible to have control over ourselves, and the man who has control over his own mind assuredly will have control over every other mind. That is why purity and morality have been always the object of religion; a pure, moral man has control of himself. And all minds are the same, different parts of one Mind. He who knows one lump of clay has known all the clay in the universe. He who knows and controls his own mind knows the secret of every mind and has power over every mind.

Now, a good deal of our physical evil we can get rid of, if we have control over the fine parts; a good many worries we can throw off, if we have control over the fine movements; a good many failures can be averted, if we have control over these fine powers. So far, is utility. Yet beyond, there is something higher.

Now, I shall tell you a theory, which I will not argue now, but simply place before you the conclusion. Each man in his childhood runs through the stages through which his race has come up; only the race took thousands of years to do it, while the child takes a few years. The child is first the old savage man — and he crushes a butterfly under his feet. The child is at first like the primitive ancestors of his race. As he grows, he passes through different stages until he reaches the development of his race. Only he does it swiftly and quickly. Now, take the whole of humanity as a race, or take the whole of the animal creation, man and the lower animals, as one whole. There is an end towards which the whole is moving. Let us call it perfection. Some men and women are born who anticipate the whole progress of mankind. Instead of waiting and being reborn over and over again for ages until the whole human race has attained to that perfection, they, as it were, rush through them in a few short years of their life. And we know that we can hasten these processes, if we be true to ourselves. If a number of men, without any culture, be left to live upon an island, and are given barely enough food, clothing, and shelter, they will gradually go on and on, evolving higher and higher stages of civilization. We know also, that this growth can be hastened by additional means. We help the growth of trees, do we not? Left to nature they would have grown, only they would have taken a longer time; we help them to grow in a shorter time than they would otherwise have taken. We are doing all the time the same thing, hastening the growth of things by artificial means. Why cannot we hasten the growth of man? We can do that as a race. Why are teachers sent to other countries? Because by these means we can hasten the growth of races. Now, can we not hasten the growth of individuals? We can. Can we put a limit to the hastening? We cannot say how much a man can grow in one life. You have no reason to say that this much a man can do and no more. Circumstances can hasten him wonderfully. Can there be any limit then, till you come to perfection? So, what comes of it? — That a perfect man, that is to say, the type that is to come of this race, perhaps millions of years hence, that man can come today. And this is what the Yogis say, that all great incarnations and prophets are such men; that they reached perfection in this one life. We have had such men at all periods of the world's history and at all times. Quite recently, there was such a man who lived the life of the whole human race and reached the end — even in this life. Even this hastening of the growth must be under laws. Suppose we can investigate these laws and understand their secrets and apply them to our own needs; it follows that we grow. We hasten our growth, we hasten our development, and we become perfect, even in this life. This is the higher part of our life, and the science of the study of mind and its powers has this perfection as its real end. Helping others with money and other material things and teaching them how to go on smoothly in their daily life are mere details.

The utility of this science is to bring out the perfect man, and not let him wait and wait for ages, just a plaything in the hands of the physical world, like a log of drift-wood carried from wave to wave and tossing about in the ocean. This science wants you to be strong, to take the work in your own hand, instead of leaving it in the hands of nature, and get beyond this little life. That is the great idea.

Man is growing in knowledge, in power, in happiness. Continuously, we are growing as a race. We see that is true, perfectly true. Is it true of individuals? To a certain extent, yes. But yet, again comes the question: Where do you fix the limit? I can see only at a distance of so many feet. But I have seen a man close his eyes and see what is happening in another room. If you say you do not believe it, perhaps in three weeks that man can make you do the same. It can be taught to anybody. Some persons, in five minutes even, can be made to read what is happening in another man's mind. These facts can be demonstrated.

Now, if these things are true, where can we put a limit? If a man can read what is happening in another's mind in the corner of this room, why not in the next room? Why not anywhere? We cannot say, why not. We dare not say that it is not possible. We can only say, we do not know how it happens. Material scientists have no right to say that things like this are not possible; they can only say, "We do not know." Science has to collect facts, generalise upon them, deduce principles, and state the truth — that is all. But if we begin by denying the facts, how can a science be?

There is no end to the power a man can obtain. This is the peculiarity of the Indian mind, that when anything interests it, it gets absorbed in it and other things are neglected. You know how many sciences had their origin in India. Mathematics began there. You are even today counting 1, 2, 3, etc. to zero, after Sanskrit figures, and you all know that algebra also originated in India, and that gravitation was known to the Indians thousands of years before Newton was born.

You see the peculiarity. At a certain period of Indian history, this one subject of man and his mind absorbed all their interest. And it was so enticing, because it seemed the easiest way to achieve their ends. Now, the Indian mind became so thoroughly persuaded that the mind could do anything and everything according to law, that its powers became the great object of study. Charms, magic, and other powers, and all that were nothing extraordinary, but a regularly taught science, just as the physical sciences they had taught before that. Such a conviction in these things came upon the race that physical sciences nearly died out. It was the one thing that came before them. Different sects of Yogis began to make all sorts of experiments. Some made experiments with light, trying to find out how lights of different colours produced changes in the body. They wore a certain coloured cloth, lived under a certain colour, and ate certain coloured foods. All sorts of experiments were made in this way. Others made experiments in sound by stopping and unstopping their ears. And still others experimented in the sense of smell, and so on.

The whole idea was to get at the basis, to reach the fine parts of the thing. And some of them really showed most marvellous powers. Many of them were trying to float in the air or pass through it. I shall tell you a story which I heard from a great scholar in the West. It was told him by a Governor of Ceylon who saw the performance. A girl was brought forward and seated cross-legged upon a stool made of sticks crossed. After she had been seated for a time, the show-man began to take out, one after another, these cross-bars; and when all were taken out, the girl was left floating in the air. The Governor thought there was some trick, so he drew his sword and violently passed it under the girl; nothing was there. Now, what was this? It was not magic or something extraordinary. That is the peculiarity. No one in India would tell you that things like this do not exist. To the Hindu it is a matter of course. You know what the Hindus would often say when they have to fight their enemies — "Oh, one of our Yogis will come and drive the whole lot out!" It is the extreme belief of the race. What power is there in the hand or the sword? The power is all in the spirit.

If this is true, it is temptation enough for the mind to exert its highest. But as with every other science it is very difficult to make any great achievement, so also with this, nay much more. Yet most people think that these powers can be easily gained. How many are the years you take to make a fortune? Think of that! First, how many years do you take to learn electrical science or engineering? And then you have to work all the rest of your life.

Again, most of the other sciences deal with things that do not move, that are fixed. You can analyse the chair, the chair does not fly from you. But this science deals with the mind, which moves all the time; the moment you want to study it, it slips. Now the mind is in one mood, the next moment, perhaps, it is different, changing, changing all the time. In the midst of all this change it has to be studied, understood, grasped, and controlled. How much more difficult, then, is this science! It requires rigorous training. People ask me why I do not give them practical lessons. Why, it is no joke. I stand upon this platform talking to you and you go home and find no benefit; nor do I. Then you say, "It is all bosh." It is because you wanted to make a bosh of it. I know very little of this science, but the little that I gained I worked for thirty years of my life, and for six years I have been telling people the little that I know. It took me thirty years to learn it; thirty years of hard struggle. Sometimes I worked at it twenty hours during the twenty-four; sometimes I slept only one hour in the night; sometimes I worked whole nights; sometimes I lived in places where there was hardly a sound, hardly a breath; sometimes I had to live in caves. Think of that. And yet I know little or nothing; I have barely touched the hem of the garment of this science. But I can understand that it is true and vast and wonderful.

Now, if there is any one amongst you who really wants to study this science, he will have to start with that sort of determination, the same as, nay even more than, that which he puts into any business of life.

And what an amount of attention does business require, and what a rigorous taskmaster it is! Even if the father, the mother, the wife, or the child dies, business cannot stop! Even if the heart is breaking, we still have to go to our place of business, when every hour of work is a pang. That is business, and we think that it is just, that it is right.

This science calls for more application than any business can ever require. Many men can succeed in business; very few in this. Because so much depends upon the particular constitution of the person studying it. As in business all may not make a fortune, but everyone can make something, so in the study of this science each one can get a glimpse which will convince him of its truth and of the fact that there have been men who realised it fully.

This is the outline of the science. It stands upon its own feet and in its own light, and challenges comparison with any other science. There have been charlatans, there have been magicians, there have been cheats, and more here than in any other field. Why? For the same reason, that the more profitable the business, the greater the number of charlatans and cheats. But that is no reason why the business should not be good. And one thing more; it may be good intellectual gymnastics to listen to all the arguments and an intellectual satisfaction to hear of wonderful things. But, if any one of you really wants to learn something beyond that, merely attending lectures will not do. That cannot be taught in lectures, for it is life; and life can only convey life. If there are any amongst you who are really determined to learn it, I shall be very glad to help them.


Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.