Rahasia yang Terbuka
Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.
AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.
Bahasa Indonesia
RAHASIA YANG TERBUKA
(Disampaikan di Los Angeles, California, 5 Januari 1900)
Ke mana pun kita berpaling dalam upaya memahami segala sesuatu sebagaimana adanya, jika kita menganalisisnya cukup jauh, kita akhirnya tiba pada suatu keadaan yang aneh, yang tampaknya bertentangan: sesuatu yang tidak dapat ditangkap oleh akal kita, tetapi merupakan kenyataan. Kita mengambil sesuatu — kita tahu bahwa ia terbatas; tetapi begitu kita mulai menganalisisnya, ia membawa kita melampaui akal kita, dan kita tidak pernah menemukan ujung dari segala sifatnya, kemungkinannya, kekuatannya, dan hubungan-hubungannya. Ia telah menjadi tidak terbatas. Ambillah bahkan sekuntum bunga biasa, ia cukup terbatas; namun siapakah yang dapat mengatakan bahwa ia mengetahui segala sesuatu tentang bunga itu? Tidak ada kemungkinan bagi siapa pun untuk mencapai akhir pengetahuan tentang satu bunga itu. Bunga itu telah menjadi tidak terbatas — bunga yang pada mulanya terbatas. Ambillah sebutir pasir. Analisislah ia. Kita mulai dengan anggapan bahwa ia terbatas, dan pada akhirnya kita menemukan bahwa ia tidak demikian, ia tidak terbatas; meskipun demikian, kita telah memandangnya sebagai terbatas. Bunga itu pun diperlakukan serupa sebagai sesuatu yang terbatas.
Demikian pula dengan semua pikiran dan pengalaman kita, baik jasmani maupun mental. Kita mulai, mungkin kita pikir, dalam skala kecil, dan menangkapnya sebagai hal-hal kecil; tetapi sangat segera ia luput dari pengetahuan kita dan terjun ke dalam jurang yang tak terbatas. Dan hal yang terbesar serta yang pertama-tama kita rasakan adalah diri kita sendiri. Kita pun berada dalam dilema yang sama tentang keberadaan. Kita ada. Kita melihat bahwa kita adalah makhluk yang terbatas. Kita hidup dan mati. Cakrawala kita sempit. Kita berada di sini, terbatas, dihadapkan pada alam semesta di sekeliling kita. Alam dapat memusnahkan kita dari keberadaan dalam sekejap. Tubuh kita yang kecil hanya sekadar dipertahankan utuh, siap untuk hancur berkeping-keping dalam waktu singkat. Kita mengetahui hal itu. Dalam ranah tindakan, betapa tak berdayanya kita! Kehendak kita digagalkan pada setiap kesempatan. Begitu banyak hal yang ingin kita lakukan, dan betapa sedikitnya yang dapat kita lakukan! Tidak ada batas bagi kehendak kita. Kita dapat menghendaki segala sesuatu, menginginkan segala sesuatu, kita dapat berhasrat pergi ke bintang Sirius. Tetapi betapa sedikit dari hasrat kita yang dapat terwujud! Tubuh tidak akan mengizinkannya. Lagi pula, alam menentang terlaksananya kehendak kita. Kita lemah. Apa yang berlaku bagi bunga, bagi sebutir pasir, bagi dunia fisik, dan bagi setiap pikiran, seratus kali lebih berlaku bagi diri kita sendiri. Kita pun berada dalam dilema keberadaan yang sama, sekaligus terbatas dan tak terbatas. Kita seperti gelombang-gelombang di samudra; gelombang itu adalah samudra dan sekaligus bukan samudra. Tidak ada bagian dari gelombang yang tidak dapat Anda katakan, "Ia adalah samudra." Nama "samudra" berlaku bagi gelombang itu dan sama-sama berlaku bagi setiap bagian samudra yang lain, namun ia terpisah dari samudra. Demikianlah dalam samudra keberadaan yang tak terbatas ini kita seperti riak-riak gelombang kecil. Pada saat yang sama, ketika kita benar-benar ingin menangkap diri kita sendiri, kita tidak dapat — kita telah menjadi yang tak terbatas.
Kita seakan-akan berjalan di dalam mimpi. Mimpi-mimpi baik adanya di dalam pikiran yang sedang bermimpi; tetapi begitu Anda ingin menangkap salah satunya, ia lenyap. Mengapa? Bukan karena ia palsu, melainkan karena ia berada di luar kemampuan akal, di luar kemampuan kecerdasan untuk memahaminya. Segala sesuatu dalam kehidupan ini begitu luas sehingga kecerdasan bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengannya. Ia menolak diikat oleh hukum-hukum kecerdasan! Ia menertawakan belenggu yang ingin disebarkan oleh kecerdasan di sekelilingnya. Dan hal ini seribu kali lebih berlaku bagi jiwa manusia. "Diri kita sendiri" — inilah misteri terbesar di alam semesta.
Betapa menakjubkan semuanya itu! Lihatlah mata manusia. Betapa mudahnya ia dihancurkan, namun matahari-matahari terbesar ada hanya karena mata Anda melihatnya. Dunia ada karena mata Anda menyatakan bahwa ia ada. Pikirkanlah misteri itu! Mata-mata kecil yang malang ini! Cahaya yang kuat, atau sebatang jarum, dapat menghancurkannya. Namun mesin-mesin penghancur yang paling perkasa, malapetaka-malapetaka yang paling dahsyat, keberadaan-keberadaan yang paling menakjubkan, jutaan matahari, bintang, bulan, dan bumi — semuanya bergantung untuk keberadaannya pada, dan harus disahkan oleh, dua benda kecil ini! Mereka berkata, "Alam, engkau ada", dan kita percaya bahwa alam itu ada. Demikian pula dengan semua indra kita.
Apakah ini? Di manakah kelemahan itu? Siapakah yang kuat? Apa yang besar dan apa yang kecil? Apa yang tinggi dan apa yang rendah dalam kesalingbergantungan keberadaan yang menakjubkan ini, ketika atom terkecil pun diperlukan bagi keberadaan keseluruhan? Siapakah yang besar dan siapakah yang kecil? Tidak mungkin ditemukan jawabnya! Dan mengapa? Karena tidak ada yang besar dan tidak ada yang kecil. Segala sesuatu diresapi oleh samudra tak terbatas itu; realitasnya adalah yang tak terbatas itu; dan apa pun yang ada di permukaan, ia tidak lain adalah yang tak terbatas itu. Pohon itu tak terbatas; demikian pula segala sesuatu yang Anda lihat atau rasakan — setiap butir pasir, setiap pikiran, setiap jiwa, segala sesuatu yang ada, adalah tak terbatas. Yang tak terbatas adalah yang terbatas dan yang terbatas adalah yang tak terbatas. Inilah keberadaan kita.
Sekarang, semua itu mungkin benar, tetapi seluruh perasaan akan Yang Tak Terbatas ini saat ini sebagian besar masih tidak disadari. Bukan berarti kita telah melupakan sifat tak terbatas kita itu: tidak seorang pun pernah dapat melakukannya. Siapakah yang dapat berpikir bahwa ia bisa dimusnahkan? Siapakah yang dapat berpikir bahwa ia akan mati? Tidak seorang pun dapat. Seluruh hubungan kita dengan Yang Tak Terbatas itu bekerja dalam diri kita secara tidak disadari. Dengan demikian, dalam suatu cara, kita melupakan keberadaan kita yang sejati, dan dari sinilah datang segala kesengsaraan ini.
Dalam kehidupan sehari-hari yang praktis, kita terluka oleh hal-hal kecil; kita diperbudak oleh makhluk-makhluk kecil. Kesengsaraan datang karena kita berpikir bahwa kita terbatas — bahwa kita adalah makhluk-makhluk kecil. Namun, betapa sulitnya untuk percaya bahwa kita adalah makhluk yang tak terbatas! Di tengah-tengah segala kesengsaraan dan kesukaran ini, ketika hal kecil saja dapat menggoyahkan keseimbangan saya, sudah seharusnya saya berusaha untuk percaya bahwa saya adalah tak terbatas. Dan kenyataannya kita memang demikian, dan baik secara sadar maupun tidak sadar, kita semua sedang mencari sesuatu yang tak terbatas itu; kita selalu mencari sesuatu yang bebas.
Tidak pernah ada bangsa manusia yang tidak memiliki agama dan tidak menyembah suatu macam Tuhan atau dewa-dewa. Apakah Tuhan atau dewa-dewa itu benar-benar ada atau tidak bukanlah pertanyaannya; tetapi apakah analisis terhadap fenomena psikologis ini? Mengapa seluruh dunia berupaya menemukan, atau mencari, suatu Tuhan? Mengapa? Karena meskipun ada segala belenggu ini, meskipun ada alam dan energi hukum yang dahsyat yang menggilas kita, tidak pernah membiarkan kita berpaling ke mana pun — ke mana pun kita pergi, apa pun yang ingin kita lakukan, kita digagalkan oleh hukum ini, yang ada di mana-mana — meskipun ada semua itu, jiwa manusia tidak pernah melupakan kebebasannya dan senantiasa mencarinya. Pencarian akan kebebasan adalah pencarian semua agama; entah mereka menyadarinya atau tidak, entah mereka dapat merumuskannya dengan baik atau buruk, gagasan itu ada di sana. Bahkan manusia yang paling rendah, yang paling tidak tahu apa-apa, mencari sesuatu yang memiliki kuasa atas hukum-hukum alam. Ia ingin melihat suatu siluman, suatu hantu, suatu dewa — seseorang yang dapat menundukkan alam, yang baginya alam tidak mahakuasa, yang baginya tidak ada hukum. "Oh, andai ada seseorang yang dapat mendobrak hukum!" Itulah jeritan yang datang dari hati manusia. Kita selalu mencari seseorang yang mendobrak hukum. Lokomotif yang melaju cepat melintasi rel kereta api; cacing kecil merayap menyingkir dari jalannya. Kita seketika berkata, "Lokomotif itu materi mati, sebuah mesin; sedangkan cacing itu hidup," karena cacing itu mencoba mendobrak hukum. Lokomotif, dengan segala kuasa dan kekuatannya, tidak pernah dapat mendobrak hukum. Ia dibuat untuk pergi ke arah mana pun yang dikehendaki manusia, dan ia tidak dapat berbuat lain; tetapi cacing itu, kecil dan tidak berarti sekalipun, mencoba mendobrak hukum dan menghindari bahaya. Ia mencoba menegaskan dirinya melawan hukum, menegaskan kebebasannya; dan di situlah ada tanda Tuhan masa depan di dalamnya.
Di mana-mana kita melihat penegasan kebebasan ini, kebebasan jiwa ini. Ia tercermin dalam setiap agama dalam bentuk Tuhan atau dewa-dewa; tetapi semuanya masih bersifat eksternal — bagi mereka yang hanya melihat dewa-dewa di luar. Manusia memutuskan bahwa ia bukan apa-apa. Ia takut bahwa ia tidak akan pernah dapat bebas; maka ia pergi mencari seseorang di luar alam yang bebas. Kemudian ia berpikir bahwa ada banyak sekali makhluk yang bebas seperti itu, dan secara bertahap ia menyatukan semuanya menjadi satu Tuhan di atas segala tuhan dan Penguasa di atas segala penguasa. Bahkan hal itu pun tidak memuaskannya. Ia datang sedikit lebih dekat kepada kebenaran, sedikit lebih dekat; dan kemudian secara bertahap menemukan bahwa apa pun dirinya, ia dalam suatu cara terhubung dengan Tuhan di atas segala tuhan dan Penguasa di atas segala penguasa; bahwa ia, meskipun ia menganggap dirinya terbelenggu, hina, dan lemah, entah bagaimana terhubung dengan Tuhan di atas segala tuhan itu. Kemudian penglihatan-penglihatan datang kepadanya; pikiran muncul dan pengetahuan pun maju. Dan ia mulai datang semakin dekat dan semakin dekat kepada Tuhan itu, dan akhirnya menemukan bahwa Tuhan dan semua dewa, seluruh fenomena psikologis yang terkait dengan pencarian akan jiwa mahakuasa yang bebas, tidak lain hanyalah pantulan dari gagasannya sendiri tentang dirinya sendiri. Dan kemudian pada akhirnya ia menemukan bahwa bukan hanya benar bahwa "Tuhan menciptakan manusia menurut gambar-Nya sendiri", tetapi juga benar bahwa manusia menciptakan Tuhan menurut gambar dirinya sendiri. Hal itu memunculkan gagasan tentang kebebasan ilahi. Wujud Ilahi selalu ada di dalam, yang paling dekat dari yang dekat. Dia yang selama ini kita cari di luar, dan pada akhirnya kita temukan bahwa Dia berada di lubuk hati kita yang terdalam. Anda mungkin tahu kisah tentang seorang lelaki yang mengira detak jantungnya sendiri sebagai seseorang yang mengetuk pintu, lalu ia pergi ke pintu dan membukanya, tetapi tidak menemukan siapa pun di sana, sehingga ia kembali. Sekali lagi ia seakan-akan mendengar ketukan di pintu, tetapi tidak ada siapa-siapa. Kemudian ia memahami bahwa itu adalah detak jantungnya sendiri, dan ia telah salah menafsirkannya sebagai ketukan di pintu. Demikian pula, manusia setelah pencariannya menemukan bahwa kebebasan tak terbatas yang selama ini ia tempatkan dalam khayalan di alam luar adalah subjek batiniah, Jiwa kekal dari segala jiwa; Realitas ini, ialah dirinya sendiri.
Maka akhirnya ia sampai pada pengakuan akan dualitas keberadaan yang menakjubkan ini: subjek itu, tak terbatas dan terbatas dalam satu — Wujud Tak Terbatas itu juga adalah jiwa terbatas yang sama. Yang Tak Terbatas, seakan-akan, tertangkap dalam jala kecerdasan dan tampak terwujud sebagai makhluk-makhluk terbatas, tetapi realitasnya tetap tidak berubah.
Inilah, oleh karena itu, pengetahuan yang sejati: bahwa Jiwa dari jiwa-jiwa kita, Realitas yang ada di dalam diri kita, adalah Yang Tak Berubah, kekal, senantiasa diberkati, senantiasa bebas. Inilah satu-satunya landasan kokoh untuk kita berpijak.
Inilah, kalau begitu, akhir dari segala kematian, kedatangan segala kebakaan, akhir dari segala kesengsaraan. Dan ia yang melihat Yang Satu itu di antara yang banyak, Yang Satu yang tidak berubah di alam semesta yang berubah ini, ia yang melihat-Nya sebagai Jiwa dari jiwanya, kepadanyalah kedamaian kekal itu menjadi miliknya — tidak kepada yang lain.
Dan di tengah-tengah kedalaman kesengsaraan dan kemerosotan, Jiwa itu mengirimkan seberkas cahaya, dan manusia terbangun dan mendapati bahwa apa yang benar-benar miliknya tidak akan pernah dapat ia hilangkan. Tidak, kita tidak akan pernah dapat kehilangan apa yang benar-benar milik kita. Siapakah yang dapat kehilangan keberadaannya? Siapakah yang dapat kehilangan eksistensinya sendiri? Jika saya baik, yang pertama-tama ada adalah keberadaan, lalu keberadaan itu diwarnai oleh sifat kebaikan. Jika saya jahat, yang pertama-tama ada adalah keberadaan, lalu ia diwarnai oleh sifat keburukan. Keberadaan itu adalah yang pertama, yang terakhir, dan yang senantiasa; ia tidak pernah hilang, melainkan senantiasa hadir.
Oleh karena itu, ada harapan bagi semua orang. Tidak seorang pun dapat mati; tidak seorang pun dapat merosot untuk selamanya. Kehidupan hanyalah suatu arena permainan, betapapun kasarnya permainan itu. Betapapun kita menerima pukulan, dan betapapun kita dihantam ke sana kemari, Jiwa itu ada di sana dan tidak pernah terluka. Kita adalah Yang Tak Terbatas itu.
Demikianlah seorang Vedantin bernyanyi, "Saya tidak pernah memiliki ketakutan ataupun keraguan. Kematian tidak pernah datang kepada saya. Saya tidak pernah memiliki ayah atau ibu: karena saya tidak pernah dilahirkan. Di manakah musuh-musuh saya? — karena saya adalah Segalanya. Saya adalah Keberadaan, Pengetahuan, dan Kebahagiaan Mutlak. Sayalah Itu. Sayalah Itu. Kemarahan, nafsu, dan iri hati, pikiran-pikiran jahat dan semua hal itu, tidak pernah datang kepada saya; karena saya adalah Keberadaan, Pengetahuan, Kebahagiaan Mutlak. Sayalah Itu. Sayalah Itu."
Itulah obat bagi segala penyakit, nektar yang menyembuhkan kematian. Di sinilah kita berada di dunia ini, dan sifat kita memberontak terhadapnya. Tetapi marilah kita ulangi, "Sayalah Itu; Sayalah Itu. Saya tidak memiliki rasa takut, ataupun keraguan, ataupun kematian. Saya tidak memiliki jenis kelamin, ataupun kepercayaan, ataupun warna. Kepercayaan apa yang dapat saya miliki? Sekte apakah yang harus saya ikuti? Sekte apakah yang dapat memegang saya? Saya berada di dalam setiap sekte!"
Betapapun tubuh memberontak, betapapun pikiran memberontak, di tengah-tengah kegelapan yang paling pekat, di tengah-tengah siksaan yang menyiksa, dalam keputusasaan yang paling dalam, ulangilah ini, sekali, dua kali, tiga kali, semakin sering. Cahaya datang dengan lembut, perlahan, tetapi pasti ia akan datang.
Berkali-kali saya berada dalam rahang kematian, kelaparan, kaki lecet, dan letih; berhari-hari saya tidak makan apa pun, dan sering kali tidak dapat berjalan lebih jauh; saya akan terjatuh di bawah sebatang pohon, dan kehidupan seakan-akan surut. Saya tidak dapat berbicara, saya hampir tidak dapat berpikir, tetapi pada akhirnya pikiran itu kembali pada gagasan: "Saya tidak memiliki rasa takut maupun kematian; saya tidak pernah lapar atau haus. Sayalah Itu! Sayalah Itu! Seluruh alam tidak dapat menghancurkan saya; ia adalah pelayan saya. Tegaskan kekuatanmu, hai engkau Penguasa di atas segala penguasa dan Tuhan di atas segala dewa! Rebut kembali kerajaanmu yang hilang! Bangkit dan berjalanlah dan jangan berhenti!" Dan saya pun akan bangkit, dengan kekuatan baru, dan inilah saya, masih hidup, hari ini. Demikianlah, kapan pun kegelapan datang, tegaskanlah realitas itu dan segala sesuatu yang merugikan pasti akan lenyap. Sebab, lagi pula, ia hanyalah sebuah mimpi. Setinggi gunung sekalipun rintangan-rintangan itu tampak, betapapun mengerikan dan suramnya segala sesuatu tampak, semuanya hanyalah maya (ilusi kosmik). Jangan takut — ia telah disingkirkan. Hancurkan ia, dan ia lenyap. Injaklah ia, dan ia mati. Janganlah takut. Janganlah pedulikan berapa kali Anda gagal. Tak apa. Waktu itu tak terbatas. Majulah ke depan: tegaskan diri Anda berulang-ulang, dan cahaya pasti akan datang. Anda boleh berdoa kepada setiap orang yang pernah dilahirkan, tetapi siapakah yang akan datang menolong Anda? Dan bagaimana dengan jalan kematian, yang tidak diketahui oleh siapa pun jalan keluarnya? Tolonglah dirimu sendiri oleh dirimu sendiri. Tidak ada yang lain yang dapat menolongmu, sahabat. Sebab engkau sendirilah musuh terbesarmu, engkau sendirilah sahabat terbesarmu. Maka, peganglah erat-erat Sang Diri. Berdirilah. Janganlah takut. Di tengah-tengah segala kesengsaraan dan segala kelemahan, biarkanlah Sang Diri itu muncul, walau pada mulanya samar dan hampir tidak terlihat. Anda akan memperoleh keberanian, dan akhirnya seperti seekor singa Anda akan mengaum, "Sayalah Itu! Sayalah Itu!" "Saya bukanlah seorang lelaki, bukan seorang perempuan, bukan seorang dewa, ataupun seorang siluman; bukan pula salah satu dari binatang, tumbuhan, atau pepohonan. Saya bukan miskin maupun kaya, bukan pula terpelajar maupun bodoh. Semua hal ini sangat kecil dibandingkan dengan apa adanya saya: sebab Sayalah Itu! Sayalah Itu! Lihatlah matahari, bulan, dan bintang-bintang: Sayalah cahaya yang bersinar di dalamnya! Sayalah keindahan api! Sayalah kuasa di alam semesta! Sebab, Sayalah Itu! Sayalah Itu!
"Siapa pun yang menyangka bahwa saya kecil, ia membuat suatu kesalahan, sebab Sang Diri adalah segala yang ada. Matahari ada karena saya menyatakan ia ada, dunia ada karena saya menyatakan ia ada. Tanpa saya mereka tidak dapat bertahan, sebab saya adalah Keberadaan, Pengetahuan, dan Kebahagiaan Mutlak — senantiasa bahagia, senantiasa murni, senantiasa indah. Lihatlah, matahari adalah penyebab penglihatan kita, tetapi ia sendiri tidak pernah terpengaruh oleh cacat apa pun pada mata siapa pun; demikian pula sayalah adanya. Saya bekerja melalui segala organ, bekerja melalui segala sesuatu, tetapi baik dan buruknya pekerjaan tidak pernah melekat pada saya. Bagi saya tidak ada hukum, ataupun karma (hukum sebab-akibat perbuatan). Sayalah pemilik hukum-hukum karma. Saya senantiasa ada dan senantiasa akan ada.
"Kenikmatan saya yang sejati tidak pernah ada pada hal-hal duniawi — pada suami, istri, anak-anak, dan hal-hal lain. Sebab saya seperti langit biru yang tak terbatas: awan-awan dengan banyak warna lewat di atasnya dan bermain sejenak; mereka berpindah pergi, dan tinggallah warna biru yang sama yang tidak berubah. Kebahagiaan dan kesengsaraan, kebaikan dan kejahatan, mungkin menyelubungi saya sejenak, menutupi Sang Diri; tetapi saya tetap ada di sana. Mereka berlalu karena mereka dapat berubah. Saya bersinar, karena saya tidak berubah. Jika kesengsaraan datang, saya tahu bahwa ia terbatas, oleh karena itu ia pasti mati. Jika kejahatan datang, saya tahu bahwa ia terbatas, ia pasti pergi. Sayalah sendiri yang tak terbatas dan tidak tersentuh oleh apa pun. Sebab sayalah Yang Tak Terbatas, Diri Yang Kekal, Yang Tak Berubah itu." — Demikianlah salah seorang penyair kita bernyanyi.
Marilah kita meminum dari piala ini, piala yang menuntun kepada segala sesuatu yang abadi, segala sesuatu yang tidak berubah. Jangan takut. Jangan percaya bahwa kita jahat, bahwa kita terbatas, bahwa kita dapat mati. Itu tidak benar.
"Hal ini patut didengar, lalu direnungkan, dan kemudian dijadikan bahan meditasi." Ketika tangan bekerja, pikiran hendaknya mengulang, "Sayalah Itu. Sayalah Itu." Pikirkanlah ia, impikanlah ia, hingga ia menjadi tulang dari tulang Anda dan daging dari daging Anda, hingga semua mimpi mengerikan tentang kekecilan, kelemahan, kesengsaraan, dan kejahatan, telah sepenuhnya lenyap, dan tidak lagi Kebenaran itu dapat tersembunyi dari Anda walau sejenak pun.
English
THE OPEN SECRET
(Delivered at Los Angeles, Calif., 5th January 1900)
Whichever way we turn in trying to understand things in their reality, if we analyse far enough, we find that at last we come to a peculiar state of things, seemingly a contradiction: something which our reason cannot grasp and yet is a fact. We take up something — we know it is finite; but as soon as we begin to analyse it, it leads us beyond our reason, and we never find an end to all its qualities, its possibilities, its powers, its relations. It has become infinite. Take even a common flower, that is finite enough; but who is there that can say he knows all about the flower? There is no possibility of anyone's getting to the end of the knowledge about that one flower. The flower has become infinite — the flower which was finite to begin with. Take a grain of sand. Analyse it. We start with the assumption that it is finite, and at last we find that it is not, it is infinite; all the same, we have looked upon it as finite. The flower is similarly treated as a finite something.
So with all our thoughts and experiences, physical and mental. We begin, we may think, on a small scale, and grasp them as little things; but very soon they elude our knowledge and plunge into the abyss of the infinite. And the greatest and the first thing perceived is ourselves. We are also in the same dilemma about existence. We exist. We see we are finite beings. We live and die. Our horizon is narrow. We are here, limited, confronted by the universe all around. Nature can crush us out of existence in a moment. Our little bodies are just held together, ready to go to pieces at a moment's notice. We know that. In the region of action how powerless we are! Our will is being thwarted at every turn. So many things we want to do, and how few we can do! There is no limit to our willing. We can will everything, want everything, we can desire to go to the dogstar. But how few of our desires can be accomplished! The body will not allow it. Well, nature is against the accomplishment of our will. We are weak. What is true of the flower, of the grain of sand, of the physical world, and of every thought, is a hundredfold more true of ourselves. We are also in the same dilemma of existence, being finite and infinite at the same time. We are like waves in the ocean; the wave is the ocean and yet not the ocean. There is not any part of the wave of which you cannot say, "It is the ocean." The name "ocean" applies to the wave and equally to every other part of the ocean, and yet it is separate from the ocean. So in this infinite ocean of existence we are like wavelets. At the same time, when we want really to grasp ourselves, we cannot — we have become the infinite.
We seem to be walking in dreams. Dreams are all right in a dream-mind; but as soon as you want to grasp one of them, it is gone. Why? Not that it was false, but because it is beyond the power of reason, the power of the intellect to comprehend it. Everything in this life is so vast that the intellect is nothing in comparison with it. It refuses to be bound by the laws of the intellect! It laughs at the bondage the intellect wants to spread around it. And a thousandfold more so is this the case with the human soul. "We ourselves" — this is the greatest mystery of the universe.
How wonderful it all is! Look at the human eye. How easily it can be destroyed, and yet the biggest suns exist only because your eyes see them. The world exists because your eyes certify that it exists. Think of that mystery! These poor little eyes! A strong light, or a pin, can destroy them. Yet the most powerful engines of destruction, the most powerful cataclysms, the most wonderful of existences, millions of suns and stars and moons and earth — all depend for their existence upon, and have to be certified by, these two little things! They say, "Nature, you exist", and we believe nature exists. So with all our senses.
What is this? Where is weakness? Who is strong? What is great and what is small? What is high and what is low in this marvellous interdependence of existence where the smallest atom is necessary for the existence of the whole? Who is great and who is small? It is past finding out! And why? Because none is great and none is small. All things are interpenetrated by that infinite ocean; their reality is that infinite; and whatever there is on the surface is but that infinite. The tree is infinite; so is everything that you see or feel — every grain of sand, every thought, every soul, everything that exists, is infinite. Infinite is finite and finite infinite. This is our existence.
Now, that may be all true, but all this feeling after the Infinite is at present mostly unconscious. It is not that we have forgotten that infinite nature of ours: none can ever do that. Who can ever think that he can be annihilated? Who can think that he will die? None can. All our relation to the Infinite works in us unconsciously. In a manner, therefore, we forget our real being, and hence all this misery comes.
In practical daily life we are hurt by small things; we are enslaved by little beings. Misery comes because we think we are finite — we are little beings. And yet, how difficult it is to believe that we are infinite beings! In the midst of all this misery and trouble, when a little thing may throw me off my balance, it must be my care to believe that I am infinite. And the fact is that we are, and that consciously or unconsciously we are all searching after that something which is infinite; we are always seeking for something that is free.
There was never a human race which did not have a religion and worship some sort of God or gods. Whether the God or gods existed or not is no question; but what is the analysis of this psychological phenomenon? Why is all the world trying to find, or seeking for, a God? Why? Because in spite of all this bondage, in spite of nature and this tremendous energy of law grinding us down, never allowing us to turn to any side — wherever we go, whatever we want to do, we are thwarted by this law, which is everywhere — in spite of all this, the human soul never forgets its freedom and is ever seeking it. The search for freedom is the search of all religions; whether they know it or not, whether they can formulate it well or ill, the idea is there. Even the lowest man, the most ignorant, seeks for something which has power over nature's laws. He wants to see a demon, a ghost, a god — somebody who can subdue nature, for whom nature is not almighty, for whom there is no law. "Oh, for somebody who can break the law!" That is the cry coming from the human heart. We are always seeking for someone who breaks the law. The rushing engine speeds along the railway track; the little worm crawls out of its way. We at once say, "The engine is dead matter, a machine; and the worm is alive," because the worm attempted to break the law. The engine, with all its power and might, can never break the law. It is made to go in any direction man wants, and it cannot do otherwise; but the worm, small and little though it was, attempted to break the law and avoid the danger. It tried to assert itself against law, assert its freedom; and there was the sign of the future God in it.
Everywhere we see this assertion of freedom, this freedom of the soul. It is reflected in every religion in the shape of God or gods; but it is all external yet — for those who only see the gods outside. Man decided that he was nothing. He was afraid that he could never be free; so he went to seek for someone outside of nature who was free. Then he thought that there were many and many such free beings, and gradually he merged them all into one God of gods and Lord of lords. Even that did not satisfy him. He came a little closer to truth, a little nearer; and then gradually found that whatever he was, he was in some way connected with the God of gods and Lord of lords; that he, though he thought himself bound and low and weak, was somehow connected with that God of gods. Then visions came to him; thought arose and knowledge advanced. And he began to come nearer and nearer to that God, and at last found out that God and all the gods, this whole psychological phenomenon connected with the search for an all-powerful free soul, was but a reflection of his own idea of himself. And then at last he discovered that it was not only true that "God made man after His own image", but that it was also true that man made God after his own image. That brought out the idea of divine freedom. The Divine Being was always within, the nearest of the near. Him we had ever been seeking outside, and at last found that He is in the heart of our hearts. You may know the story of the man who mistook his own heartbeat for somebody knocking at the door, and went to the door and opened it, but found nobody there, so he went back. Again he seemed to hear a knocking at the door, but nobody was there. Then he understood that it was his own heartbeat, and he had misinterpreted it as a knocking at the door. Similarly, man after his search finds out that this infinite freedom that he was placing in imagination all the time in the nature outside is the internal subject, the eternal Soul of souls; this Reality, he himself.
Thus at last he comes to recognise this marvellous duality of existence: the subject, infinite and finite in one — the Infinite Being is also the same finite soul. The Infinite is caught, as it were, in the meshes of the intellect and apparently manifests as finite beings, but the reality remains unchanged.
This is, therefore, true knowledge: that the Soul of our souls, the Reality that is within us, is That which is unchangeable, eternal, ever-blessed, ever-free. This is the only solid ground for us to stand upon.
This, then, is the end of all death, the advent of all immortality, the end of all misery. And he who sees that One among the many, that One unchangeable in the universe of change, he who sees Him as the Soul of his soul, unto him belongs eternal peace — unto none else.
And in the midst of the depths of misery and degradation, the Soul sends a ray of light, and man wakes up and finds that what is really his, he can never lose. No, we can never lose what is really ours. Who can lose his being? Who can lose his very existence? If I am good, it is the existence first, and then that becomes coloured with the quality of goodness. If I am evil, it is the existence first, and that becomes coloured with the quality of badness. That existence is first, last, and always; it is never lost, but ever present.
Therefore, there is hope for all. None can die; none can be degraded for ever. Life is but a playground, however gross the play may be. However we may receive blows, and however knocked about we may be, the Soul is there and is never injured. We are that Infinite.
Thus sang a Vedantin, "I never had fear nor doubt. Death never came to me. I never had father or mother: for I was never born. Where are my foes? — for I am All. I am the Existence and Knowledge and Bliss Absolute. I am It. I am It. Anger and lust and jealousy, evil thoughts and all these things, never came to me; for I am the Existence, the Knowledge, the Bliss Absolute. I am It. I am It."
That is the remedy for all disease, the nectar that cures death. Here we are in this world, and our nature rebels against it. But let us repeat, "I am It; I am It. I have no fear, nor doubt, nor death. I have no sex, nor creed, nor colour. What creed can I have? What sect is there to which I should belong? What sect can hold me? I am in every sect!"
However much the body rebels, however much the mind rebels, in the midst of the uttermost darkness, in the midst of agonising tortures, in the uttermost despair, repeat this, once, twice, thrice, ever more. Light comes gently, slowly, but surely it comes.
Many times I have been in the jaws of death, starving, footsore, and weary; for days and days I had had no food, and often could walk no farther; I would sink down under a tree, and life would seem ebbing away. I could not speak, I could scarcely think, but at last the mind reverted to the idea: "I have no fear nor death; I never hunger nor thirst. I am It! I am It! The whole of nature cannot crush me; it is my servant. Assert thy strength, thou Lord of lords and God of gods! Regain thy lost empire! Arise and walk and stop not!" And I would rise up, reinvigorated, and here am I, living, today. Thus, whenever darkness comes, assert the reality and everything adverse must vanish. For, after all, it is but a dream. Mountain-high though the difficulties appear, terrible and gloomy though all things seem, they are but Mâyâ. Fear not — it is banished. Crush it, and it vanishes. Stamp upon it, and it dies. Be not afraid. Think not how many times you fail. Never mind. Time is infinite. Go forward: assert yourself again and again, and light must come. You may pray to everyone that was ever born, but who will come to help you? And what of the way of death from which none knows escape? Help thyself out by thyself. None else can help thee, friend. For thou alone art thy greatest enemy, thou alone art thy greatest friend. Get hold of the Self, then. Stand up. Don't be afraid. In the midst of all miseries and all weakness, let the Self come out, faint and imperceptible though it be at first. You will gain courage, and at last like a lion you will roar out, "I am It! I am It!" "I am neither a man, nor a woman, nor a god, nor a demon; no, nor any of the animals, plants, or trees. I am neither poor nor rich, neither learned nor ignorant. All these things are very little compared with what I am: for I am It! I am It! Behold the sun and the moon and the stars: I am the light that is shining in them! I am the beauty of the fire! I am the power in the universe! For, I am It! I am It!
"Whoever thinks that I am little makes a mistake, for the Self is all that exists. The sun exists because I declare it does, the world exists because I declare it does. Without me they cannot remain, for I am Existence, Knowledge, and Bliss Absolute — ever happy, ever pure, ever beautiful. Behold, the sun is the cause of our vision, but is not itself ever affected by any defect in the eyes of any one; even so I am. I am working through all organs, working through everything, but never does the good and evil of work attach to me. For me there is no law, nor Karma. I own the laws of Karma. I ever was and ever am.
"My real pleasure was never in earthly things — in husband, wife, children, and other things. For I am like the infinite blue sky: clouds of many colours pass over it and play for a second; they move off, and there is the same unchangeable blue. Happiness and misery, good and evil, may envelop me for a moment, veiling the Self; but I am still there. They pass away because they are changeable. I shine, because I am unchangeable. If misery comes, I know it is finite, therefore it must die. If evil comes, I know it is finite, it must go. I alone am infinite and untouched by anything. For I am the Infinite, that Eternal, Changeless Self." — So sings one of our poets.
Let us drink of this cup, this cup that leads to everything that is immortal, everything that is unchangeable. Fear not. Believe not that we are evil, that we are finite,. that we can ever die. It is not true.
"This is to be heard of, then to be thought upon, and then to be meditated upon." When the hands work,. the mind should repeat, "I am It. I am It." Think of it, dream of it, until it becomes bone of your bones and; flesh of your flesh, until all the hideous dreams of littleness, of weakness, of misery, and of evil, have entirely vanished, and no more then can the Truth be hidden from you even for a moment.
Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.