Kosmos: Mikrokosmos
Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.
AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.
Bahasa Indonesia
BAB XII
KOSMOS
Mikrokosmos
(Disampaikan di New York, 26 Januari 1896)
Pikiran manusia secara alamiah ingin keluar, ingin menjenguk dari dalam tubuh, melalui saluran-saluran indra. Mata harus melihat, telinga harus mendengar, indra-indra harus mengindra dunia luar — dan secara alamiah keindahan serta keagungan alam memikat perhatian manusia terlebih dahulu. Pertanyaan-pertanyaan pertama yang muncul dalam jiwa manusia adalah tentang dunia luar. Jawaban atas misteri itu ditanyakan kepada langit, kepada bintang-bintang, kepada benda-benda langit, kepada bumi, kepada sungai-sungai, kepada gunung-gunung, kepada samudra; dan dalam semua agama kuno kita menemukan jejak-jejak bagaimana pikiran manusia yang meraba-raba pada mulanya menggenggam segala sesuatu yang lahiriah. Ada dewa sungai, dewa langit, dewa awan, dewa hujan; segala sesuatu yang lahiriah, yang sekarang kita sebut sebagai kekuatan-kekuatan alam, berubah bentuk, dialihrupakan, menjadi kehendak, menjadi dewa-dewa, menjadi utusan-utusan surgawi. Ketika pertanyaan itu menjadi semakin dalam, manifestasi-manifestasi lahiriah ini tidak lagi memuaskan pikiran manusia, dan akhirnya energi tersebut berbalik ke dalam, dan pertanyaan itu diajukan kepada jiwa manusia itu sendiri. Dari makrokosmos pertanyaan itu dipantulkan kembali ke mikrokosmos; dari dunia luar pertanyaan itu dipantulkan ke dunia dalam. Dari menganalisis alam luar, manusia dituntun untuk menganalisis alam dalam; pertanyaan terhadap manusia batin ini datang bersama tahap peradaban yang lebih tinggi, bersama pandangan yang lebih mendalam terhadap alam, bersama tahap pertumbuhan yang lebih tinggi.
Pokok pembahasan sore ini adalah manusia batin tersebut. Tidak ada pertanyaan yang sedemikian dekat dan akrab di hati manusia selain pertanyaan tentang manusia batin. Berapa juta kali, di berapa banyak negeri, pertanyaan ini telah diajukan! Para bijak dan raja-raja, orang kaya dan orang miskin, orang suci dan orang berdosa, setiap pria, setiap wanita, semuanya dari masa ke masa telah mengajukan pertanyaan ini. Tidakkah ada sesuatu yang kekal dalam kehidupan manusia yang fana ini? Tidakkah ada sesuatu, mereka bertanya, yang tidak ikut mati ketika tubuh ini mati? Tidakkah ada sesuatu yang tetap hidup ketika kerangka ini hancur menjadi debu? Tidakkah ada sesuatu yang selamat dari api yang membakar tubuh menjadi abu? Dan jika demikian, apakah tujuannya? Ke mana ia pergi? Dari mana ia datang? Pertanyaan-pertanyaan ini telah diajukan berulang kali, dan selama penciptaan ini berlangsung, selama masih ada otak manusia untuk berpikir, pertanyaan ini akan terus harus diajukan. Namun, bukanlah bahwa jawaban itu tidak pernah datang; setiap kali jawaban itu datang, dan seiring berjalannya waktu, jawaban itu akan memperoleh kekuatan yang semakin besar. Pertanyaan itu telah dijawab sekali untuk selamanya ribuan tahun yang lalu, dan sepanjang seluruh waktu sesudahnya jawaban itu terus dinyatakan kembali, diilustrasikan kembali, dijadikan lebih jelas bagi akal kita. Karena itu, yang harus kita lakukan adalah menyatakan kembali jawaban tersebut. Kami tidak berpura-pura melemparkan cahaya baru pada persoalan-persoalan yang sangat menyerap perhatian ini, melainkan hanya menyajikan di hadapan Anda kebenaran kuno dalam bahasa zaman modern, untuk menyuarakan pemikiran orang-orang kuno dalam bahasa orang-orang modern, untuk menyuarakan pemikiran para filsuf dalam bahasa rakyat, untuk menyuarakan pemikiran para malaikat dalam bahasa manusia, untuk menyuarakan pemikiran Tuhan dalam bahasa kemanusiaan yang papa, sehingga manusia akan memahaminya; sebab esensi ilahi yang sama, yang darinya gagasan-gagasan itu memancar, selalu hadir dalam diri manusia, dan oleh karena itu, ia selalu dapat memahaminya.
Saya sedang memandang Anda. Berapa banyak hal yang diperlukan untuk penglihatan ini? Pertama, mata. Sebab jika saya sempurna dalam segala hal lainnya, namun tidak memiliki mata, saya tidak akan dapat melihat Anda. Kedua, organ penglihatan yang sesungguhnya. Sebab mata bukanlah organnya. Mata hanyalah alat untuk melihat, dan di belakangnya terdapat organ yang sesungguhnya, yakni pusat saraf di dalam otak. Jika pusat tersebut cedera, seseorang dapat memiliki sepasang mata yang paling jernih, namun ia tidak akan dapat melihat apa pun. Jadi, perlu adanya pusat ini, atau organ yang sesungguhnya. Demikian pula dengan semua indra kita. Telinga luar hanyalah alat untuk membawa getaran bunyi ke dalam menuju pusatnya. Namun, itu pun belum cukup. Andaikan di perpustakaan Anda sedang asyik membaca sebuah buku, dan lonceng berbunyi, namun Anda tidak mendengarnya. Bunyinya ada, denyut getaran di udara ada, telinga dan pusatnya juga ada, dan getaran-getaran ini telah dibawa melalui telinga ke pusatnya, namun Anda tidak mendengarnya. Apa yang kurang? Pikiran tidak hadir di situ. Dengan demikian kita melihat bahwa hal ketiga yang diperlukan adalah pikiran harus hadir. Pertama alat-alat lahiriah, lalu organ yang kepadanya alat lahiriah itu membawa sensasi, dan akhirnya organ itu sendiri harus terhubung dengan pikiran. Ketika pikiran tidak terhubung dengan organ, organ dan telinga itu boleh saja menerima kesan, namun kita tidak akan sadar akan kesan itu. Pikiran pun hanyalah pembawa; ia harus membawa sensasi itu lebih jauh, dan menyajikannya kepada akal budi (buddhi). Akal budi adalah daya yang menentukan dan memutuskan apa yang dibawa kepadanya. Namun ini pun belum cukup. Akal budi harus membawanya lebih jauh dan menyajikan keseluruhannya di hadapan penguasa dalam tubuh, yakni jiwa manusia, raja di atas singgasana. Di hadapannya hal ini disajikan, dan kemudian darinya datang perintah, apa yang harus dilakukan atau apa yang tidak boleh dilakukan; dan perintah itu turun dalam urutan yang sama ke akal budi, ke pikiran, ke organ-organ, dan organ-organ itu menyampaikannya kepada alat-alat, dan persepsi pun menjadi sempurna.
Alat-alat itu berada di dalam tubuh lahiriah, yakni tubuh kasar manusia; tetapi pikiran dan akal budi tidaklah demikian. Keduanya berada dalam apa yang disebut dalam filsafat Hindu sebagai tubuh yang lebih halus; dan dalam teologi Kristen Anda membacanya sebagai tubuh spiritual manusia; lebih halus, jauh lebih halus daripada tubuh, namun bukanlah jiwa. Jiwa ini melampaui semuanya. Tubuh lahiriah binasa dalam beberapa tahun; sebab yang sederhana sekalipun dapat mengganggu dan menghancurkannya. Tubuh yang lebih halus tidak demikian mudahnya binasa; namun ia kadang merosot, dan pada saat lain menjadi kuat. Kita melihat bagaimana, pada orang tua, pikiran kehilangan kekuatannya, bagaimana, ketika tubuh kuat, pikiran pun menjadi kuat, bagaimana berbagai obat dan ramuan memengaruhinya, bagaimana segala sesuatu yang lahiriah bertindak atasnya, dan bagaimana ia bereaksi terhadap dunia luar. Sebagaimana tubuh memiliki kemajuan dan kemundurannya, demikian pula pikiran, dan oleh karena itu, pikiran bukanlah jiwa, sebab jiwa tidak dapat membusuk maupun merosot. Bagaimana kita dapat mengetahui itu? Bagaimana kita dapat mengetahui bahwa ada sesuatu di balik pikiran ini? Karena pengetahuan yang menerangi diri sendiri dan menjadi landasan kecerdasan tidak mungkin menjadi milik materi yang tumpul dan mati. Tidak pernah dilihat ada materi kasar yang memiliki kecerdasan sebagai esensinya sendiri. Tidak ada materi yang tumpul atau mati yang dapat menerangi dirinya sendiri. Kecerdasanlah yang menerangi segala materi. Aula ini ada di sini hanya karena kecerdasan, sebab, sebagai sebuah aula, keberadaannya tidak akan diketahui kecuali ada kecerdasan yang membangunnya. Tubuh ini tidak bercahaya sendiri; jika ia bercahaya sendiri, ia akan demikian pula pada orang yang sudah mati. Pikiran maupun tubuh spiritual juga tidak dapat bercahaya sendiri. Keduanya bukan dari esensi kecerdasan. Yang bercahaya sendiri tidak dapat membusuk. Cahaya dari sesuatu yang bersinar melalui cahaya pinjaman datang dan pergi; namun sesuatu yang merupakan cahaya itu sendiri, apa yang dapat membuatnya datang dan pergi, berkembang dan merosot? Kita melihat bahwa bulan bertambah dan berkurang, karena ia bersinar melalui cahaya pinjaman dari matahari. Jika sebongkah besi diletakkan ke dalam api dan dipanaskan hingga merah membara, ia bercahaya dan bersinar, tetapi cahayanya akan lenyap, karena cahaya itu pinjaman. Jadi, kemerosotan hanya mungkin terjadi pada cahaya yang dipinjam dan bukan berasal dari esensinya sendiri.
Sekarang kita melihat bahwa tubuh, bentuk lahiriah, tidak memiliki cahaya sebagai esensinya sendiri, tidak bercahaya sendiri, dan tidak dapat mengenal dirinya sendiri; pikiran pun tidak. Mengapa tidak? Karena pikiran bertambah dan berkurang, karena ia kuat pada satu saat dan lemah pada saat lain, karena ia dapat dipengaruhi oleh apa pun dan segalanya. Oleh karena itu, cahaya yang bersinar melalui pikiran bukanlah miliknya sendiri. Lalu milik siapa? Cahaya itu pastilah milik sesuatu yang memiliki cahaya sebagai esensinya sendiri, dan oleh karenanya tidak pernah dapat membusuk atau mati, tidak pernah menjadi lebih kuat atau lebih lemah; ia bercahaya sendiri, ia adalah kebercahayaan itu sendiri. Tidaklah benar bahwa jiwa memiliki pengetahuan — ia adalah pengetahuan. Tidaklah benar bahwa jiwa memiliki keberadaan — ia adalah keberadaan. Tidaklah benar bahwa jiwa bahagia — ia adalah kebahagiaan itu sendiri. Yang berbahagia telah meminjam kebahagiaannya; yang memiliki pengetahuan telah menerima pengetahuannya; dan yang memiliki keberadaan relatif hanya memiliki keberadaan yang dipantulkan. Di mana pun terdapat sifat-sifat, sifat-sifat itu telah dipantulkan pada substansi; namun jiwa tidak memiliki pengetahuan, keberadaan, dan kebahagiaan sebagai sifat-sifatnya — semua itu adalah esensi jiwa.
Sekali lagi, dapat ditanyakan, mengapa kita harus menerima ini begitu saja? Mengapa kita harus mengakui bahwa jiwa memiliki pengetahuan, kebahagiaan, keberadaan, sebagai esensinya, dan tidak meminjamnya? Boleh saja dibantah, mengapa tidak mengatakan bahwa kebercahayaan jiwa, kebahagiaan jiwa, pengetahuan jiwa, dipinjam dengan cara yang sama sebagaimana kebercahayaan tubuh dipinjam dari pikiran? Kekeliruan dalam berargumen demikian adalah bahwa tidak akan ada batasnya. Dari siapa semua itu dipinjam? Jika kita mengatakan dari sumber lain, pertanyaan yang sama akan ditanyakan lagi. Maka, pada akhirnya kita harus sampai kepada sesuatu yang bercahaya sendiri; jadi, untuk meringkas perkara ini, jalan yang logis adalah berhenti di tempat di mana kita memperoleh kebercahayaan-diri, dan tidak melangkah lebih jauh.
Maka kita melihat bahwa manusia ini tersusun, pertama, dari selubung lahiriah ini, yaitu tubuh; kedua, dari tubuh yang lebih halus, yang terdiri atas pikiran, akal budi, dan keakuan (ahamkara). Di belakang semua itu terdapat Diri sejati (Atman) manusia. Kita telah melihat bahwa semua sifat dan daya tubuh kasar dipinjam dari pikiran, dan pikiran, yakni tubuh yang lebih halus, meminjam daya dan kebercahayaannya dari jiwa yang berdiri di belakangnya.
Banyak pertanyaan kemudian muncul mengenai kodrat jiwa ini. Jika keberadaan jiwa diturunkan dari argumen bahwa ia bercahaya sendiri, bahwa pengetahuan, keberadaan, kebahagiaan adalah esensinya, maka secara alamiah berikutnya bahwa jiwa ini tidak mungkin pernah diciptakan. Sebuah keberadaan yang bercahaya sendiri, mandiri dari keberadaan lain mana pun, tidak mungkin pernah menjadi hasil dari apa pun. Ia selalu ada; tidak pernah ada saat ketika ia tidak ada, sebab jika jiwa tidak ada, di mana waktu? Waktu berada dalam jiwa; ketika jiwa memantulkan dayanya pada pikiran dan pikiran berpikir, di situlah waktu muncul. Ketika belum ada jiwa, sudah pasti tidak ada pikiran, dan tanpa pikiran tidak ada waktu. Maka bagaimana mungkin dikatakan bahwa jiwa ada di dalam waktu, padahal waktu itu sendiri ada di dalam jiwa? Ia tidak memiliki kelahiran maupun kematian, tetapi ia tengah melalui semua tahap yang beragam ini. Ia memanifestasikan diri secara perlahan dan bertahap dari yang lebih rendah ke yang lebih tinggi, dan seterusnya. Ia sedang menyatakan keagungannya sendiri, bekerja melalui pikiran pada tubuh; dan melalui tubuh ia menggenggam dunia luar dan memahaminya. Ia mengambil sebuah tubuh dan menggunakannya; dan ketika tubuh itu telah usai dan habis terpakai, ia mengambil tubuh lain; dan demikianlah ia berjalan terus.
Di sini muncul sebuah pertanyaan yang sangat menarik, pertanyaan yang umumnya dikenal sebagai reinkarnasi jiwa. Kadang-kadang orang menjadi takut pada gagasan ini, dan tahayul demikian kuatnya sehingga orang-orang yang berpikir pun percaya bahwa mereka adalah hasil dari ketiadaan, dan kemudian, dengan logika yang paling megah, mencoba menyimpulkan teori bahwa walaupun mereka berasal dari nol, mereka akan kekal selama-lamanya sesudahnya. Yang berasal dari nol pastilah harus kembali ke nol. Baik Anda, maupun saya, maupun siapa pun yang hadir di sini, bukanlah berasal dari nol, dan tidak pula akan kembali ke nol. Kita telah ada secara kekal, dan akan tetap ada, dan tidak ada kekuatan di bawah matahari atau di atas matahari yang dapat meniadakan keberadaan Anda atau keberadaan saya, atau mengirim kita kembali ke nol. Sekarang, gagasan reinkarnasi ini bukan hanya gagasan yang tidak menakutkan, melainkan juga sangat penting bagi kesejahteraan moral umat manusia. Itulah satu-satunya kesimpulan logis yang dapat dicapai oleh orang-orang yang berpikir. Jika Anda akan ada dalam kekekalan setelah ini, maka pastilah Anda telah ada melalui kekekalan di masa lalu: tidak mungkin sebaliknya. Saya akan mencoba menjawab beberapa keberatan yang umumnya diajukan terhadap teori ini. Walaupun banyak dari Anda akan menganggap keberatan-keberatan itu sangat dangkal, kita tetap harus menjawabnya, sebab terkadang kita mendapati bahwa orang-orang yang paling terpelajar pun siap mengemukakan gagasan-gagasan yang paling konyol. Pantas sekali dikatakan bahwa tidak pernah ada gagasan yang demikian absurd hingga tidak menemukan filsuf yang membelanya. Keberatan pertama adalah, mengapa kita tidak mengingat masa lalu kita? Apakah kita mengingat seluruh masa lalu kita dalam hidup ini? Berapa banyak dari Anda yang mengingat apa yang Anda perbuat ketika Anda masih bayi? Tidak seorang pun dari Anda mengingat masa kanak-kanak Anda yang paling dini, dan jika keberadaan Anda bergantung pada ingatan, maka argumen ini membuktikan bahwa Anda tidak pernah ada sebagai bayi, sebab Anda tidak mengingat masa bayi Anda. Adalah omong kosong belaka yang tak terkurangi untuk mengatakan bahwa keberadaan kita bergantung pada ingatan akan keberadaan itu. Mengapa kita harus mengingat masa lalu? Otak itu sudah lenyap, hancur berkeping-keping, dan otak yang baru telah dibuat. Yang sampai pada otak ini adalah resultan, jumlah total dari kesan-kesan yang diperoleh di masa lalu kita, yang dengannya pikiran datang menghuni tubuh yang baru.
Saya, sebagaimana saya berdiri di sini, adalah efek, hasil, dari seluruh masa lalu yang tak terhingga yang melekat pada diri saya. Dan mengapa perlu bagi saya untuk mengingat seluruh masa lalu? Ketika seorang bijak kuno yang agung, seorang pelihat, atau seorang nabi zaman dahulu, yang berhadapan langsung dengan kebenaran, mengatakan sesuatu, orang-orang modern ini berdiri dan berkata, "Oh, ia seorang bodoh!" Namun cukup gunakan nama lain, "Huxley mengatakannya, atau Tyndall"; maka itu pastilah benar, dan mereka menerimanya begitu saja. Sebagai ganti tahayul kuno, mereka telah mendirikan tahayul modern; sebagai ganti Paus-paus agama yang lama, mereka telah melantik Paus-paus sains yang modern. Demikianlah kita melihat bahwa keberatan tentang ingatan ini tidaklah sahih, dan itu pulalah satu-satunya keberatan serius yang diajukan terhadap teori ini. Walaupun kita telah melihat bahwa tidak perlu bagi teori ini ada ingatan akan kehidupan-kehidupan sebelumnya, namun pada saat yang sama, kita berada dalam posisi untuk menegaskan bahwa ada contoh-contoh yang menunjukkan bahwa ingatan ini memang datang, dan bahwa setiap orang dari kita akan memperoleh kembali ingatan ini dalam kehidupan ketika ia menjadi bebas (moksha). Barulah kemudian Anda akan menemukan bahwa dunia ini hanyalah mimpi; barulah kemudian Anda akan menyadari di lubuk jiwa Anda yang terdalam bahwa Anda hanyalah pemain dan dunia adalah panggungnya; barulah kemudian gagasan tentang ketidakterikatan akan datang kepada Anda dengan kekuatan guntur; barulah kemudian segala dahaga akan kesenangan ini, segala kemelekatan pada kehidupan dan pada dunia ini akan lenyap untuk selamanya; barulah pikiran akan melihat dengan jelas bagai cahaya siang berapa kali semua ini pernah ada untuk Anda, berapa juta kali Anda pernah memiliki ayah dan ibu, putra dan putri, suami dan istri, kerabat dan sahabat, kekayaan dan kekuasaan. Semuanya datang dan pergi. Berapa kali Anda berada di puncak tertinggi gelombang, dan berapa kali Anda berada di dasar keputusasaan! Ketika ingatan akan membawa semua ini kepada Anda, barulah Anda akan berdiri sebagai seorang pahlawan dan tersenyum ketika dunia mengerutkan dahi pada Anda. Barulah Anda akan berdiri tegak dan berkata, "Aku tidak peduli kepadamu sekalipun, wahai Kematian, kengerian apa yang engkau miliki untukku?" Hal ini akan datang kepada semua orang.
Adakah argumen, adakah bukti rasional bagi reinkarnasi jiwa ini? Sejauh ini kita telah menyajikan sisi negatifnya, menunjukkan bahwa argumen-argumen yang berlawanan untuk membantahnya tidaklah sahih. Adakah bukti-bukti positif? Ada; dan bukti-bukti yang sangat sahih pula. Tidak ada teori lain selain reinkarnasi yang dapat menjelaskan perbedaan luas yang kita dapati antara manusia yang satu dengan yang lain dalam daya mereka memperoleh pengetahuan. Pertama-tama, mari kita perhatikan proses yang dengannya pengetahuan diperoleh. Andaikan saya pergi ke jalan dan melihat seekor anjing. Bagaimana saya tahu bahwa itu seekor anjing? Saya merujuknya kepada pikiran saya, dan dalam pikiran saya terdapat kelompok-kelompok dari semua pengalaman saya di masa lalu, tersusun rapi dan terkotak-kotak, ibarat berkas-berkas dalam laci. Begitu sebuah kesan baru datang, saya mengambilnya dan merujuknya kepada salah satu laci lama, dan begitu saya menemukan sekelompok kesan yang sama telah ada, saya menempatkannya dalam kelompok itu, dan saya pun puas. Saya tahu bahwa itu seekor anjing, karena ia sesuai dengan kesan-kesan yang telah ada di sana. Ketika saya tidak menemukan padanan dari pengalaman baru ini di dalam, saya menjadi tidak puas. Ketika, karena tidak menemukan padanan dari sebuah kesan, kita menjadi tidak puas, keadaan pikiran ini disebut "ketidaktahuan"; tetapi ketika, dengan menemukan padanan dari sebuah kesan yang sudah ada, kita menjadi puas, ini disebut "pengetahuan". Ketika sebutir apel jatuh, orang-orang menjadi tidak puas. Lalu lambat laun mereka menemukan kelompoknya. Apakah kelompok yang mereka temukan? Bahwa semua apel jatuh, maka mereka menyebutnya "gravitasi". Kini kita melihat bahwa tanpa simpanan pengalaman yang telah ada, pengalaman baru mana pun akan menjadi mustahil, sebab tidak akan ada apa pun untuk merujuk kesan baru itu. Jadi, jika, sebagaimana dipikirkan oleh beberapa filsuf Eropa, seorang anak datang ke dunia dengan apa yang mereka sebut tabula rasa, anak semacam itu tidak akan pernah mencapai tingkat kekuatan intelektual apa pun, sebab ia tidak akan memiliki apa-apa untuk merujukkan pengalaman barunya. Kita melihat bahwa daya untuk memperoleh pengetahuan berbeda-beda pada setiap individu, dan ini menunjukkan bahwa setiap orang dari kita telah datang dengan simpanan pengetahuannya sendiri. Pengetahuan hanya dapat diperoleh dengan satu cara, yakni cara pengalaman; tidak ada cara lain untuk mengetahui. Jika kita tidak mengalaminya dalam kehidupan ini, kita pastilah telah mengalaminya dalam kehidupan-kehidupan lain. Bagaimana mungkin rasa takut akan kematian ada di mana-mana? Seekor anak ayam baru saja keluar dari telur, lalu seekor rajawali datang, dan anak ayam itu lari ketakutan ke induknya. Ada penjelasan lama (yang nyaris tidak pantas saya muliakan dengan sebutan demikian). Itu disebut insting. Apa yang membuat anak ayam yang baru keluar dari telur itu takut mati? Bagaimana mungkin segera setelah seekor anak itik yang ditetaskan oleh seekor ayam mendekati air, ia melompat ke dalamnya dan berenang? Ia belum pernah berenang sebelumnya, juga belum pernah melihat apa pun berenang. Orang menyebutnya insting. Itu kata yang besar, tetapi membiarkan kita tetap di tempat semula. Marilah kita pelajari gejala insting ini. Seorang anak mulai belajar memainkan piano. Pada mulanya ia harus memperhatikan setiap tuts yang ia tekan, dan seiring ia terus berlatih selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun, permainannya menjadi hampir tanpa disengaja, naluriah. Apa yang pada mulanya dilakukan dengan kehendak yang sadar, kemudian tidak lagi memerlukan upaya kehendak. Ini belum merupakan bukti yang lengkap. Separuhnya masih tersisa, yakni bahwa hampir semua tindakan yang kini bersifat naluriah dapat dikendalikan oleh kehendak. Setiap otot tubuh dapat dikendalikan. Hal ini telah diketahui secara sempurna. Maka bukti itu lengkap melalui metode ganda ini, bahwa apa yang sekarang kita sebut insting adalah kemerosotan dari tindakan-tindakan yang sukarela; oleh karena itu, jika analoginya berlaku bagi seluruh ciptaan, jika seluruh alam bersifat seragam, maka apa yang merupakan insting pada hewan-hewan yang lebih rendah, dan juga pada manusia, pastilah merupakan kemerosotan dari kehendak.
Dengan menerapkan hukum yang telah kita bahas di bawah makrokosmos bahwa setiap involusi mengandaikan suatu evolusi, dan setiap evolusi mengandaikan suatu involusi, kita melihat bahwa insting adalah akal yang terlibat di dalam. Apa yang kita sebut insting pada manusia atau hewan, oleh karena itu, pastilah merupakan tindakan-tindakan sukarela yang terlibat di dalam, yang telah merosot, dan tindakan-tindakan sukarela tidak mungkin terjadi tanpa pengalaman. Pengalaman memulai pengetahuan itu, dan pengetahuan itu ada di sana. Rasa takut akan kematian, anak itik yang menuju ke air, dan semua tindakan tak disengaja pada manusia yang telah menjadi naluriah, semuanya adalah hasil dari pengalaman-pengalaman di masa lalu. Sejauh ini kita telah berjalan dengan sangat jelas, dan sejauh ini sains terkini berpihak kepada kita. Tetapi di sini muncul satu kesulitan lagi. Para ilmuwan termutakhir sedang kembali kepada para bijak kuno, dan sejauh mereka telah melakukannya, kesepakatannya sempurna. Mereka mengakui bahwa setiap manusia dan setiap hewan lahir dengan simpanan pengalaman, dan bahwa semua tindakan dalam pikiran ini adalah hasil dari pengalaman masa lalu. "Tetapi," mereka bertanya, "apa gunanya mengatakan bahwa pengalaman itu milik jiwa? Mengapa tidak mengatakan bahwa ia milik tubuh, dan tubuh sajalah? Mengapa tidak mengatakan bahwa itu adalah pewarisan turun-temurun?" Inilah pertanyaan yang terakhir. Mengapa tidak mengatakan bahwa semua pengalaman yang dengannya saya dilahirkan adalah efek resultan dari semua pengalaman masa lalu nenek moyang saya? Jumlah total pengalaman dari protoplasma yang paling kecil sampai kepada manusia yang tertinggi ada di dalam diri saya, namun ia telah datang dari tubuh ke tubuh dalam perjalanan pewarisan turun-temurun. Di manakah letak kesulitannya? Pertanyaan ini sangat baik, dan kami mengakui sebagian dari pewarisan turun-temurun ini. Sejauh mana? Sejauh menyediakan materinya. Kita, melalui tindakan-tindakan masa lalu kita, menyesuaikan diri untuk suatu kelahiran tertentu dalam tubuh tertentu, dan satu-satunya materi yang sesuai untuk tubuh itu datang dari orang tua yang telah menjadikan diri mereka layak untuk memperoleh jiwa itu sebagai keturunan mereka.
Teori pewarisan turun-temurun yang sederhana menerima begitu saja, tanpa bukti apa pun, proposisi yang paling mencengangkan, yakni bahwa pengalaman mental dapat direkam dalam materi, bahwa pengalaman mental dapat terlibat di dalam materi. Ketika saya memandang Anda, dalam danau pikiran saya muncul sebuah gelombang. Gelombang itu mereda, tetapi ia tetap ada dalam bentuk yang halus, sebagai sebuah kesan. Kita dapat memahami kesan fisik yang tertinggal pada tubuh. Tetapi bukti apakah yang ada untuk menganggap bahwa kesan mental dapat tertinggal pada tubuh, karena tubuh hancur berkeping-keping? Apa yang membawanya? Bahkan andaikata mungkin bagi setiap kesan mental untuk tetap berada dalam tubuh, bahwa setiap kesan, mulai dari manusia pertama hingga sampai kepada ayah saya, berada di dalam tubuh ayah saya, bagaimana ia dapat diwariskan kepada saya? Melalui sel bioplasmik? Bagaimana mungkin demikian? Sebab tubuh sang ayah tidak datang kepada anak secara utuh. Pasangan orang tua yang sama dapat memiliki sejumlah anak; maka, dari teori pewarisan turun-temurun ini, yang mengatakan bahwa kesan dan yang dikesankan (yakni materi) adalah satu, secara ketat menyusul bahwa dengan kelahiran setiap anak, orang tua pastilah kehilangan sebagian dari kesan-kesan mereka sendiri, atau, jika orang tua mewariskan seluruh kesan mereka, maka, setelah kelahiran anak pertama, pikiran mereka akan menjadi hampa.
Lagi pula, jika ke dalam sel bioplasmik telah masuk jumlah kesan yang tak terhingga dari segala zaman, di mana dan bagaimana ia? Ini adalah posisi yang paling mustahil, dan sampai para ahli fisiologi ini dapat membuktikan bagaimana dan di mana kesan-kesan itu tinggal dalam sel itu, dan apa yang mereka maksudkan dengan kesan mental yang tertidur dalam sel fisik, posisi mereka tidak dapat diterima begitu saja. Sejauh ini kemudian menjadi jelas bahwa kesan ini berada dalam pikiran, bahwa pikiranlah yang datang untuk mengambil kelahiran dan kelahirannya kembali, dan menggunakan materi yang paling sesuai baginya, dan bahwa pikiran yang telah menjadikan dirinya cocok hanya untuk jenis tubuh tertentu akan harus menunggu sampai ia memperoleh materi itu. Hal ini kita pahami. Teori itu kemudian sampai pada kesimpulan ini, bahwa ada pewarisan turun-temurun sejauh menyangkut penyediaan materi bagi jiwa. Tetapi jiwa berpindah-pindah dan membentuk tubuh demi tubuh, dan setiap pikiran yang kita pikirkan, dan setiap perbuatan yang kita lakukan, disimpan di dalamnya dalam bentuk-bentuk yang halus, siap untuk muncul kembali dan mengambil bentuk yang baru. Ketika saya memandang Anda, sebuah gelombang muncul dalam pikiran saya. Ia menyelam, seakan-akan, dan menjadi semakin halus dan semakin halus, tetapi ia tidak mati. Ia siap untuk muncul kembali sebagai gelombang dalam bentuk ingatan. Maka semua kesan ini ada dalam pikiran saya, dan ketika saya mati, kekuatan resultan dari kesan-kesan itu akan ada pada diri saya. Sebuah bola berada di sini, dan setiap orang dari kita mengambil sebuah palu di tangannya dan memukul bola itu dari segala sisi; bola itu bergerak dari titik ke titik di ruangan, dan ketika ia mencapai pintu, ia melesat keluar. Apa yang ia bawa keluar bersamanya? Resultan dari semua pukulan ini. Itulah yang akan memberinya arah. Maka, apa yang mengarahkan jiwa ketika tubuh mati? Resultan, jumlah total dari semua karya yang telah dikerjakannya, dari pikiran-pikiran yang telah dipikirkannya. Jika resultannya sedemikian rupa hingga ia harus membentuk sebuah tubuh baru untuk pengalaman lebih lanjut, ia akan pergi kepada orang tua yang siap menyediakan baginya materi yang sesuai untuk tubuh itu. Demikianlah, dari tubuh ke tubuh ia akan pergi, kadang ke suatu surga, dan kembali lagi ke bumi, menjadi manusia, atau hewan yang lebih rendah. Demikianlah ia akan terus berjalan hingga ia menyelesaikan pengalamannya, dan menggenapi lingkarannya. Lalu ia mengenal kodratnya sendiri, mengetahui siapa dirinya, dan ketidaktahuan pun lenyap, daya-dayanya menjadi nyata, ia menjadi sempurna; tidak ada lagi keperluan bagi jiwa untuk bekerja melalui tubuh-tubuh fisik, demikian pula tidak ada lagi keperluan baginya untuk bekerja melalui tubuh-tubuh yang lebih halus, atau tubuh-tubuh mental. Ia bersinar dalam cahayanya sendiri, dan ia bebas, tidak lagi dilahirkan, tidak lagi mati.
Kita tidak akan masuk ke perincian dari hal ini sekarang. Tetapi saya akan menyampaikan satu pokok lagi di hadapan Anda berkenaan dengan teori reinkarnasi ini. Inilah teori yang mengusung kebebasan jiwa manusia. Inilah satu-satunya teori yang tidak melemparkan kesalahan atas semua kelemahan kita kepada orang lain, suatu kekeliruan manusiawi yang umum. Kita tidak memandang kesalahan-kesalahan kita sendiri; mata tidak melihat dirinya sendiri, mata hanya melihat mata orang lain. Kita umat manusia sangat lambat mengenali kelemahan kita sendiri, kesalahan-kesalahan kita sendiri, selama kita masih dapat melemparkan kesalahan itu kepada orang lain. Manusia pada umumnya melemparkan segala kesalahan hidup kepada sesamanya, atau, jika itu pun tidak berhasil, kepada Tuhan, atau mereka mengarang sesosok hantu, dan mengatakan bahwa itu adalah takdir. Di mana takdir, dan siapa takdir itu? Kita menuai apa yang kita tabur. Kita adalah pembuat takdir kita sendiri. Tidak ada orang lain yang patut disalahkan, tidak ada orang lain yang patut dipuji. Angin sedang bertiup; perahu-perahu yang layarnya terbentang menangkap angin itu, dan melaju ke depan di jalannya, tetapi perahu-perahu yang layarnya tergulung tidak menangkap angin itu. Apakah itu kesalahan angin? Apakah itu kesalahan Bapa yang penuh belas kasih, yang angin belas kasih-Nya bertiup tiada henti, siang dan malam, yang belas kasih-Nya tidak mengenal kemerosotan, apakah salah-Nya jika sebagian dari kita bahagia dan sebagian tidak bahagia? Kita membuat takdir kita sendiri. Matahari-Nya bersinar bagi yang lemah maupun bagi yang kuat. Angin-Nya bertiup bagi orang suci maupun orang berdosa secara setara. Ia adalah Tuhan atas segalanya, Bapa atas segalanya, penuh belas kasih, dan tidak memihak. Apakah Anda hendak mengatakan bahwa Ia, Tuhan atas ciptaan, memandang perkara-perkara kecil dalam hidup kita dengan cara yang sama sebagaimana kita memandangnya? Alangkah merosotnya gagasan tentang Tuhan semacam itu! Kita ini seperti anak-anak anjing kecil, melakukan perjuangan hidup-dan-mati di sini, dan dengan bodohnya berpikir bahwa Tuhan sendiri pun akan menganggapnya seserius sebagaimana kita menganggapnya. Ia tahu apa makna permainan anak-anak anjing itu. Upaya-upaya kita untuk melemparkan kesalahan kepada-Nya, menjadikan-Nya sang penghukum, dan sang pemberi pahala, hanyalah bodoh belaka. Ia tidak menghukum, dan tidak pula memberi pahala kepada siapa pun. Belas kasih-Nya yang tak terhingga terbuka bagi setiap orang, sepanjang waktu, di segala tempat, dalam segala keadaan, tanpa pernah gagal, tanpa pernah goyah. Atas kita bergantung bagaimana kita memakainya. Atas kita bergantung bagaimana kita memanfaatkannya. Janganlah menyalahkan manusia, jangan pula Tuhan, jangan pula siapa pun di dunia. Ketika Anda mendapati diri Anda menderita, salahkan diri Anda sendiri, dan berupayalah berbuat lebih baik.
Inilah satu-satunya pemecahan dari persoalan tersebut. Mereka yang menyalahkan orang lain — dan, sayangnya! jumlah mereka semakin bertambah setiap hari — pada umumnya adalah orang-orang yang sengsara dengan otak yang tak berdaya; mereka telah membawa diri sendiri sampai ke keadaan itu melalui kesalahan-kesalahan mereka sendiri lalu menyalahkan orang lain, tetapi hal ini tidak mengubah keadaan mereka. Hal itu sama sekali tidak menolong mereka. Upaya untuk melemparkan kesalahan kepada orang lain ini hanya akan semakin melemahkan mereka. Karena itu, janganlah menyalahkan siapa pun atas kesalahan-kesalahan Anda sendiri, berdirilah di atas kaki Anda sendiri, dan pikullah seluruh tanggung jawab di pundak Anda sendiri. Katakanlah, "Penderitaan yang sedang saya alami ini adalah perbuatan saya sendiri, dan hal itu juga membuktikan bahwa ia harus dibatalkan oleh saya sendiri." Yang saya ciptakan, dapat saya runtuhkan; yang diciptakan oleh orang lain, tidak akan pernah dapat saya hancurkan. Oleh karena itu, berdirilah, beranilah, kuatlah. Pikullah seluruh tanggung jawab di pundak Anda sendiri, dan ketahuilah bahwa Anda adalah pencipta takdir Anda sendiri. Semua kekuatan dan pertolongan yang Anda perlukan ada di dalam diri Anda sendiri. Karena itu, bentuklah masa depan Anda sendiri. "Biarlah masa lalu yang mati mengubur orang-orangnya yang telah mati." Masa depan yang tak terhingga ada di hadapan Anda, dan Anda harus selalu mengingat bahwa setiap kata, pikiran, dan perbuatan, menumpuk simpanan bagi Anda; dan sebagaimana pikiran-pikiran buruk dan perbuatan-perbuatan buruk siap menerkam Anda bagaikan harimau, demikian pula ada harapan yang membangkitkan semangat bahwa pikiran-pikiran baik dan perbuatan-perbuatan baik telah siap dengan kekuatan seratus ribu malaikat untuk membela Anda selalu dan selama-lamanya.
English
CHAPTER XII
THE COSMOS
The Microcosm
(Delivered in New York, 26th January 1896)
The human mind naturally wants to get outside, to peer out of the body, as it were, through the channels of the organs. The eye must see, the ear must hear, the senses must sense the external world — and naturally the beauties and sublimities of nature captivate the attention of man first. The first questions that arose in the human soul were about the external world. The solution of the mystery was asked of the sky, of the stars, of the heavenly bodies, of the earth, of the rivers, of the mountains, of the ocean; and in all ancient religions we find traces of how the groping human mind at first caught at everything external. There was a river-god, a sky-god, a cloud-god, a rain-god; everything external, all of which we now call the powers of nature, became metamorphosed, transfigured, into wills, into gods, into heavenly messengers. As the question went deeper and deeper, these external manifestations failed to satisfy the human mind, and finally the energy turned inward, and the question was asked of man's own soul. From the macrocosm the question was reflected back to the microcosm; from the external world the question was reflected to the internal. From analysing the external nature, man is led to analyse the internal; this questioning of the internal man comes with a higher state of civilisation, with a deeper insight into nature, with a higher state of growth.
The subject of discussion this afternoon is this internal man. No question is so near and dear to man's heart as that of the internal man. How many millions of times, in how many countries has this question been asked! Sages and kings, rich and poor, saints and sinners, every man, every woman, all have from time to time asked this question. Is there nothing permanent in this evanescent human life? Is there nothing, they have asked, which does not die away when this body dies? Is there not something living when this frame crumbles into dust? Is there not something which survives the fire which burns the body into ashes? And if so, what is its destiny? Where does it go? Whence did it come? These questions have been asked again and again, and so long as this creation lasts, so long as there are human brains to think, this question will have to be asked. Yet, it is not that the answer did not come; each time the answer came, and as time rolls on, the answer will gain strength more and more. The question was answered once for all thousands of years ago, and through all subsequent time it is being restated, reillustrated, made clearer to our intellect. What we have to do, therefore, is to make a restatement of the answer. We do not pretend to throw any new light on those all-absorbing problems, but only to put before you the ancient truth in the language of modern times, to speak the thoughts of the ancients in the language of the moderns, to speak the thoughts of the philosophers in the language of the people, to speak the thoughts of the angels in the language of man, to speak the thoughts of God in the language of poor humanity, so that man will understand them; for the same divine essence from which the ideas emanated is ever present in man, and, therefore, he can always understand them.
I am looking at you. How many things are necessary for this vision? First, the eyes. For if I am perfect in every other way, and yet have no eyes, I shall not be able to see you. Secondly, the real organ of vision. For the eyes are not the organs. They are but the instruments of vision, and behind them is the real organ, the nerve centre in the brain. If that centre be injured, a man may have the clearest pair of eyes, yet he will not be able to see anything. So, it is necessary that this centre, or the real organ, be there. Thus, with all our senses. The external ear is but the instrument for carrying the vibration of sound inward to the centre. Yet, that is not sufficient. Suppose in your library you are intently reading a book, and the clock strikes, yet you do not hear it. The sound is there, the pulsations in the air are there, the ear and the centre are also there, and these vibrations have been carried through the ear to the centre, and yet you do not hear it. What is wanting? The mind is not there. Thus we see that the third thing necessary is, that the mind must be there. First the external instruments, then the organ to which this external instrument will carry the sensation, and lastly the organ itself must be joined to the mind. When the mind is not joined to the organ, the organ and the ear may take the impression, and yet we shall not be conscious of it. The mind, too, is only the carrier; it has to carry the sensation still forward, and present it to the intellect. The intellect is the determining faculty and decides upon what is brought to it. Still this is not sufficient. The intellect must carry it forward and present the whole thing before the ruler in the body, the human soul, the king on the throne. Before him this is presented, and then from him comes the order, what to do or what not to do; and the order goes down in the same sequence to the intellect, to the mind, to the organs, and the organs convey it to the instruments, and the perception is complete.
The instruments are in the external body, the gross body of man; but the mind and the intellect are not. They are in what is called in Hindu philosophy the finer body; and what in Christian theology you read of as the spiritual body of man; finer, very much finer than the body, and yet not the soul. This soul is beyond them all. The external body perishes in a few years; any simple cause may disturb and destroy it. The finer body is not so easily perishable; yet it sometimes degenerates, and at other times becomes strong. We see how, in the old man, the mind loses its strength, how, when the body is vigorous, the mind becomes vigorous, how various medicines and drugs affect it, how everything external acts on it, and how it reacts on the external world. Just as the body has its progress and decadence, so also has the mind, and, therefore, the mind is not the soul, because the soul can neither decay nor degenerate. How can we know that? How can we know that there is something behind this mind? Because knowledge which is self-illuminating and the basis of intelligence cannot belong to dull, dead matter. Never was seen any gross matter which had intelligence as its own essence. No dull or dead matter can illumine itself. It is intelligence that illumines all matter. This hall is here only through intelligence because, as a hall, its existence would be unknown unless some intelligence built it. This body is not self-luminous; if it were, it would be so in a dead man also. Neither can the mind nor the spiritual body be self-luminous. They are not of the essence of intelligence. That which is self-luminous cannot decay. The luminosity of that which shines through a borrowed light comes and goes; but that which is light itself, what can make that come and go, flourish and decay? We see that the moon waxes and wanes, because it shines through the borrowed light of the sun. If a lump of iron is put into the fire and made red-hot, it glows and shines, but its light will vanish, because it is borrowed. So, decadence is possible only of that light which is borrowed and is not of its own essence.
Now we see that the body, the external shape, has no light as its own essence, is not self-luminous, and cannot know itself; neither can the mind. Why not? Because the mind waxes and wanes, because it is vigorous at one time and weak at another, because it can be acted upon by anything and everything. Therefore the light which shines through the mind is not its own. Whose is it then? It must belong to that which has it as its own essence, and as such, can never decay or die, never become stronger or weaker; it is self-luminous, it is luminosity itself. It cannot be that the soul knows, it is knowledge. It cannot be that the soul has existence, but it is existence. It cannot be that the soul is happy, it is happiness itself. That which is happy has borrowed its happiness; that which has knowledge has received its knowledge; and that which has relative existence has only a reflected existence. Wherever there are qualities these qualities have been reflected upon the substance, but the soul has not knowledge, existence, and blessedness as its qualities, they are the essence of the soul.
Again, it may be asked, why shall we take this for granted? Why shall we admit that the soul has knowledge, blessedness, existence, as its essence, and has not borrowed them? It may be argued, why not say that the soul's luminosity, the soul's blessedness, the soul's knowledge, are borrowed in the same way as the luminosity of the body is borrowed from the mind? The fallacy of arguing in this way will be that there will be no limit. From whom were these borrowed? If we say from some other source, the same question will be asked again. So, at last we shall have to come to one who is self-luminous; to make matters short then, the logical way is to stop where we get self-luminosity, and proceed no further.
We see, then, that this human being is composed first of this external covering, the body; secondly, the finer body, consisting of mind, intellect, and egoism. Behind them is the real Self of man. We have seen that all the qualities and powers of the gross body are borrowed from the mind, and the mind, the finer body, borrows its powers and luminosity from the soul, standing behind.
A great many questions now arise about the nature of this soul. If the existence of the soul is drawn from the argument that it is self-luminous, that knowledge, existence, blessedness are its essence, it naturally follows that this soul cannot have been created. A self-luminous existence, independent of any other existence, could never have been the outcome of anything. It always existed; there was never a time when it did not exist, because if the soul did not exist, where was time? Time is in the soul; it is when the soul reflects its powers on the mind and the mind thinks, that time comes. When there was no soul, certainly there was no thought, and without thought, there was no time. How can the soul, therefore, be said to be existing in time, when time itself exists in the soul? It has neither birth nor death, but it is passing through all these various stages. It is manifesting slowly and gradually from lower to higher, and so on. It is expressing its own grandeur, working through the mind on the body; and through the body it is grasping the external world and understanding it. It takes up a body and uses it; and when that body has failed and is used up, it takes another body; and so on it goes.
Here comes a very interesting question, that question which is generally known as the reincarnation of the soul. Sometimes people get frightened at the idea, and superstition is so strong that thinking men even believe that they are the outcome of nothing, and then, with the grandest logic, try to deduce the theory that although they have come out of zero, they will be eternal ever afterwards. Those that come out of zero will certainly have to go back to zero. Neither you, nor I nor anyone present, has come out of zero, nor will go back to zero. We have been existing eternally, and will exist, and there is no power under the sun or above the sun which can undo your or my existence or send us back to zero. Now this idea of reincarnation is not only not a frightening idea, but is most essential for the moral well-being of the human race. It is the only logical conclusion that thoughtful men can arrive at. If you are going to exist in eternity hereafter, it must be that you have existed through eternity in the past: it cannot be otherwise. I will try to answer a few objections that are generally brought against the theory. Although many of you will think they are very silly objections, still we have to answer them, for sometimes we find that the most thoughtful men are ready to advance the silliest ideas. Well has it been said that there never was an idea so absurd that it did not find philosophers to defend it. The first objection is, why do we not remember our past? Do we remember all our past in this life? How many of you remember what you did when you were babies? None of you remember your early childhood, and if upon memory depends your existence, then this argument proves that you did not exist as babies, because you do not remember your babyhood. It is simply unmitigated nonsense to say that our existence depends on our remembering it. Why should we remember the past? That brain is gone, broken into pieces, and a new brain has been manufactured. What has come to this brain is the resultant, the sum total of the impressions acquired in our past, with which the mind has come to inhabit the new body.
I, as I stand here, am the effect, the result, of all the infinite past which is tacked on to me. And why is it necessary for me to remember all the past? When a great ancient sage, a seer, or a prophet of old, who came face to face with the truth, says something, these modern men stand up and say, "Oh, he was a fool!" But just use another name, "Huxley says it, or Tyndall"; then it must be true, and they take it for granted. In place of ancient superstitions they have erected modern superstitions, in place of the old Popes of religion they have installed modern Popes of science. So we see that this objection as to memory is not valid, and that is about the only serious objection that is raised against this theory. Although we have seen that it is not necessary for the theory that there shall be the memory of past lives, yet at the same time, we are in a position to assert that there are instances which show that this memory does come, and that each one of us will get back this memory in that life in which he will become free. Then alone you will find that this world is but a dream; then alone you will realise in the soul of your soul that you are but actors and the world is a stage; then alone will the idea of non-attachment come to you with the power of thunder; then all this thirst for enjoyment, this clinging on to life and this world will vanish for ever; then the mind will see dearly as daylight how many times all these existed for you, how many millions of times you had fathers and mothers, sons and daughters, husbands and wives, relatives and friends, wealth and power. They came and went. How many times you were on the topmost crest of the wave, and how many times you were down at the bottom of despair! When memory will bring all these to you, then alone will you stand as a hero and smile when the world frowns upon you. Then alone will you stand up and say. "I care not for thee even, O Death, what terrors hast thou for me?" This will come to all.
Are there any arguments, any rational proofs for this reincarnation of the soul? So far we have been giving the negative side, showing that the opposite arguments to disprove it are not valid. Are there any positive proofs? There are; and most valid ones, too. No other theory except that of reincarnation accounts for the wide divergence that we find between man and man in their powers to acquire knowledge. First, let us consider the process by means of which knowledge is acquired. Suppose I go into the street and see a dog. How do I know it is a dog? I refer it to my mind, and in my mind are groups of all my past experiences, arranged and pigeon-holed, as it were. As soon as a new impression comes, I take it up and refer it to some of the old pigeon-holes, and as soon as I find a group of the same impressions already existing, I place it in that group, and I am satisfied. I know it is a dog, because it coincides with the impressions already there. When I do not find the cognates of this new experience inside, I become dissatisfied. When, not finding the cognates of an impression, we become dissatisfied, this state of the mind is called "ignorance"; but, when, finding the cognates of an impression already existing, we become satisfied, this is called "knowledge". When one apple fell, men became dissatisfied. Then gradually they found out the group. What was the group they found? That all apples fell, so they called it "gravitation". Now we see that without a fund of already existing experience, any new experience would be impossible, for there would be nothing to which to refer the new impression. So, if, as some of the European philosophers think, a child came into the world with what they call tabula rasa, such a child would never attain to any degree of intellectual power, because he would have nothing to which to refer his new experiences. We see that the power of acquiring knowledge varies in each individual, and this shows that each one of us has come with his own fund of knowledge. Knowledge can only be got in one way, the way of experience; there is no other way to know. If we have not experienced it in this life, we must have experienced it in other lives. How is it that the fear of death is everywhere? A little chicken is just out of an egg and an eagle comes, and the chicken flies in fear to its mother. There is an old explanation (I should hardly dignify it by such a name). It is called instinct. What makes that little chicken just out of the egg afraid to die? How is it that as soon as a duckling hatched by a hen comes near water, it jumps into it and swims? It never swam before, nor saw anything swim. People call it instinct. It is a big word, but it leaves us where we were before. Let us study this phenomenon of instinct. A child begins to play on the piano. At first she must pay attention to every key she is fingering, and as she goes on and on for months and years, the playing becomes almost involuntary, instinctive. What was first done with conscious will does not require later on an effort of the will. This is not yet a complete proof. One half remains, and that is that almost all the actions which are now instinctive can be brought under the control of the will. Each muscle of the body can be brought under control. This is perfectly well known. So the proof is complete by this double method, that what we now call instinct is degeneration of voluntary actions; therefore, if the analogy applies to the whole of creation, if all nature is uniform, then what is instinct in lower animals, as well as in men, must be the degeneration of will.
Applying the law we dwelt upon under macrocosm that each involution presupposes an evolution, and each evolution an involution, we see that instinct is involved reason. What we call instinct in men or animals must therefore be involved, degenerated, voluntary actions, and voluntary actions are impossible without experience. Experience started that knowledge, and that knowledge is there. The fear of death, the duckling taking to the water and all involuntary actions in the human being which have become instinctive, are the results of past experiences. So far we have proceeded very clearly, and so far the latest science is with us. But here comes one more difficulty. The latest scientific men are coming back to the ancient sages, and as far as they have done so, there is perfect agreement. They admit that each man and each animal is born with a fund of experience, and that all these actions in the mind are the result of past experience. "But what," they ask, "is the use of saying that that experience belongs to the soul? Why not say it belongs to the body, and the body alone? Why not say it is hereditary transmission?" This is the last question. Why not say that all the experience with which I am born is the resultant effect of all the past experience of my ancestors? The sum total of the experience from the little protoplasm up to the highest human being is in me, but it has come from body to body in the course of hereditary transmission. Where will the difficulty be? This question is very nice, and we admit some part of this hereditary transmission. How far? As far as furnishing the material. We, by our past actions, conform ourselves to a certain birth in a certain body, and the only suitable material for that body comes from the parents who have made themselves fit to have that soul as their offspring.
The simple hereditary theory takes for granted the most astonishing proposition without any proof, that mental experience can be recorded in matters, that mental experience can be involved in matter. When I look at you in the lake of my mind there is a wave. That wave subsides, but it remains in fine form, as an impression. We understand a physical impression remaining in the body. But what proof is there for assuming that the mental impression can remain in the body, since the body goes to pieces? What carries it? Even granting it were possible for each mental impression to remain in the body, that every impression, beginning from the first man down to my father, was in my father's body, how could it be transmitted to me? Through the bioplasmic cell? How could that be? Because the father's body does not come to the child in toto. The same parents may have a number of children; then, from this theory of hereditary transmission, where the impression and the impressed (that is to say, material) are one, it rigorously follows that by the birth of every child the parents must lose a part of their own impressions, or, if the parents should transmit the whole of their impressions, then, after the birth of the first child, their minds would be a vacuum.
Again, if in the bioplasmic cell the infinite amount of impressions from all time has entered, where and how is it? This is a most impossible position, and until these physiologists can prove how and where those impressions live in that cell, and what they mean by a mental impression sleeping in the physical cell, their position cannot be taken for granted. So far it is clear then, that this impression is in the mind, that the mind comes to take its birth and rebirth, and uses the material which is most proper for it, and that the mind which has made itself fit for only a particular kind of body will have to wait until it gets that material. This we understand. The theory then comes to this, that there is hereditary transmission so far as furnishing the material to the soul is concerned. But the soul migrates and manufactures body after body, and each thought we think, and each deed we do, is stored in it in fine forms, ready to spring up again and take a new shape. When I look at you a wave rises in my mind. It dives down, as it were, and becomes finer and finer, but it does not die. It is ready to start up again as a wave in the shape of memory. So all these impressions are in my mind, and when I die the resultant force of them will be upon me. A ball is here, and each one of us takes a mallet in his hands and strikes the ball from all sides; the ball goes from point to point in the room, and when it reaches the door it flies out. What does it carry out with it? The resultant of all these blows. That will give it its direction. So, what directs the soul when the body dies? The resultant, the sum total of all the works it has done, of the thoughts it has thought. If the resultant is such that it has to manufacture a new body for further experience, it will go to those parents who are ready to supply it with suitable material for that body. Thus, from body to body it will go, sometimes to a heaven, and back again to earth, becoming man, or some lower animal. This way it will go on until it has finished its experience, and completed the circle. It then knows its own nature, knows what it is, and ignorance vanishes, its powers become manifest, it becomes perfect; no more is there any necessity for the soul to work through physical bodies, nor is there any necessity for it to work through finer, or mental bodies. It shines in its own light, and is free, no more to be born, no more to die.
We will not go now into the particulars of this. But I will bring before you one more point with regard to this theory of reincarnation. It is the theory that advances the freedom of the human soul. It is the one theory that does not lay the blame of all our weakness upon somebody else, which is a common human fallacy. We do not look at our own faults; the eyes do not see themselves, they see the eyes of everybody else. We human beings are very slow to recognise our own weakness, our own faults, so long as we can lay the blame upon somebody else. Men in general lay all the blame of life on their fellow-men, or, failing that, on God, or they conjure up a ghost, and say it is fate. Where is fate, and who is fate? We reap what we sow. We are the makers of our own fate. None else has the blame, none has the praise. The wind is blowing; those vessels whose sails are unfurled catch it, and go forward on their way, but those which have their sails furled do not catch the wind. Is that the fault of the wind? Is it the fault of the merciful Father, whose wind of mercy is blowing without ceasing, day and night, whose mercy knows no decay, is it His fault that some of us are happy and some unhappy? We make our own destiny. His sun shines for the weak as well as for the strong. His wind blows for saint and sinner alike. He is the Lord of all, the Father of all, merciful, and impartial. Do you mean to say that He, the Lord of creation, looks upon the petty things of our life in the same light as we do? What a degenerate idea of God that would be! We are like little puppies, making life-and-death struggles here, and foolishly thinking that even God Himself will take it as seriously as we do. He knows what the puppies' play means. Our attempts to lay the blame on Him, making Him the punisher, and the rewarder, are only foolish. He neither punishes, nor rewards any. His infinite mercy is open to every one, at all times, in all places, under all conditions, unfailing, unswerving. Upon us depends how we use it. Upon us depends how we utilise it. Blame neither man, nor God, nor anyone in the world. When you find yourselves suffering, blame yourselves, and try to do better.
This is the only solution of the problem. Those that blame others — and, alas! the number of them is increasing every day — are generally miserable with helpless brains; they have brought themselves to that pass through their own mistakes and blame others, but this does not alter their position. It does not serve them in any way. This attempt to throw the blame upon others only weakens them the more. Therefore, blame none for your own faults, stand upon your own feet, and take the whole responsibility upon yourselves. Say, "This misery that I am suffering is of my own doing, and that very thing proves that it will have to be undone by me alone." That which I created, I can demolish; that which is created by some one else I shall never be able to destroy. Therefore, stand up, be bold, be strong. Take the whole responsibility on your own shoulders, and know that you are the creator of your own destiny. All the strength and succour you want is within yourselves. Therefore, make your own future. "Let the dead past bury its dead." The infinite future is before you, and you must always remember that each word, thought, and deed, lays up a store for you and that as the bad thoughts and bad works are ready to spring upon you like tigers, so also there is the inspiring hope that the good thoughts and good deeds are ready with the power of a hundred thousand angels to defend you always and for ever.
Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.