Arsip Vivekananda

Perempuan India

Jilid9 lecture
6,528 kata · 26 menit baca · Lectures and Discourses

Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.

AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.

Bahasa Indonesia

PARA PEREMPUAN INDIA

(New Discoveries, Vol. 2, hlm. 411-26.)

Ceramah berikut ini disampaikan di Cambridge pada 17 Desember 1894, dan dicatat oleh juru steno Nona Frances Willard.

Swami Vivekananda menghadapi prasangka di Amerika mengenai beberapa persoalan kebudayaan India — salah satunya adalah perempuan India. Wajar jika beliau berupaya meluruskan kesalahpahaman Barat. Akan tetapi, ketika berceramah di negerinya sendiri, tidak ada pembela yang lebih besar bagi perbaikan kehidupan perempuan India daripada Swami.

Dalam berbicara tentang para perempuan India, hadirin sekalian, saya merasa bahwa saya akan berbicara tentang para ibu dan saudari saya di India kepada para perempuan dari bangsa lain, yang banyak di antaranya telah menjadi seperti ibu dan saudari bagi saya. Namun, meskipun sayangnya pada masa yang sangat baru ini hanya ada mulut-mulut yang mengutuk para perempuan negeri kami, saya mendapati bahwa ada pula sebagian orang yang memberkati mereka. Saya telah menemukan jiwa-jiwa yang mulia di bangsa ini, seperti Nyonya [Ole] Bull dan Nona [Sarah] Farmer dan Nona [Frances] Willard, serta wakil yang menakjubkan dari aristokrasi tertinggi dunia, yang hidupnya mengingatkan saya pada tokoh India itu, enam ratus tahun sebelum kelahiran Kristus, yang melepaskan takhtanya untuk berbaur dengan rakyat. Lady Henry Somerset telah menjadi suatu penyingkapan bagi saya. Saya menjadi berani ketika saya menemukan jiwa-jiwa mulia yang tidak akan mengutuk, yang mulutnya penuh dengan berkat bagi saya, bagi negeri saya, bagi kaum lelaki dan perempuan kami, dan yang tangan serta hatinya senantiasa siap melayani umat manusia.

Pertama-tama, saya bermaksud menengok sekilas ke masa lampau sejarah India, dan kita akan menemukan sesuatu yang unik. Mungkin Anda semua sudah mengetahui bahwa Anda orang Amerika dan kami orang Hindu serta perempuan dari Islandia ini [Nyonya Sigrid Magnusson] adalah keturunan dari satu nenek moyang bersama yang dikenal sebagai bangsa Arya. Di atas segalanya, kita menemukan tiga gagasan ke mana pun bangsa Arya pergi: komunitas desa, hak-hak perempuan, dan agama yang penuh sukacita.

Yang pertama [gagasan] adalah sistem komunitas desa — sebagaimana baru saja kita dengar dari Nyonya Bull mengenai daerah Utara. Setiap orang adalah [tuan?] atas dirinya sendiri dan memiliki tanahnya. Semua lembaga politik dunia yang kita lihat sekarang merupakan perkembangan dari sistem desa itu. Ketika bangsa Arya pergi ke berbagai negeri dan menetap di sana, keadaan tertentu mengembangkan lembaga ini, dan keadaan lain mengembangkan lembaga itu.

Gagasan berikutnya dari bangsa Arya adalah kebebasan perempuan. Di dalam kesusastraan Arya-lah kita menemukan para perempuan pada zaman kuno memikul bagian yang sama dengan kaum lelaki, dan tidak ada di kesusastraan dunia mana pun yang lain.

Kembali kepada Weda kami — itulah kesusastraan tertua yang dimiliki dunia dan disusun oleh nenek moyang bersama Anda dan saya (Weda tidak ditulis di India — barangkali di pesisir Baltik, barangkali di Asia Tengah — kita tidak tahu).

Bagian Weda yang paling tua terdiri atas himne-himne, dan himne-himne ini ditujukan kepada para dewa yang dipuja oleh bangsa Arya. Semoga saya dimaafkan karena menggunakan kata dewa; terjemahan harfiahnya adalah "mereka yang bercahaya". Himne-himne ini dipersembahkan kepada Api, kepada Matahari, kepada Waruna dan dewa-dewa lainnya. Judulnya berbunyi: "resi anu menyusun syair ini, dipersembahkan kepada dewa anu".

Pada pasal kesepuluh muncul sebuah himne yang khas — sebab resinya adalah seorang perempuan — dan himne itu dipersembahkan kepada satu Tuhan yang berada di latar belakang semua dewa ini. Semua himne sebelumnya diucapkan dalam kata ganti orang ketiga, seolah-olah ada seseorang yang menyapa para dewa. Tetapi himne ini mengambil arah yang berbeda: Tuhan [sebagai Dewi] berbicara untuk diri-Nya sendiri. Kata ganti yang digunakan adalah "Aku". "Aku adalah Maharani Alam Semesta, Pengabul segala doa." (Lihat "Devi Sukta", Rig-Weda 10.125)

Inilah sekilas pertama dari karya perempuan di dalam Weda. Seiring kita melangkah lebih jauh, kita menemukan mereka memikul bagian yang lebih besar — bahkan bertindak sebagai imam. Tidak ada satu bagian pun di sepanjang keseluruhan kesusastraan Weda yang dapat ditafsirkan, bahkan secara tidak langsung, sebagai menunjukkan bahwa perempuan tidak boleh menjadi imam. Justru ada banyak contoh perempuan yang bertindak sebagai imam.

Kemudian kita sampai pada bagian terakhir Weda ini — yang sesungguhnya merupakan agama India — yang kebijaksanaannya yang terpadu belum pernah dilampaui bahkan pada abad ini. Di sana pun kita menemukan para perempuan yang menonjol. Sebagian besar kitab-kitab ini adalah kata-kata yang keluar dari mulut para perempuan. Semua itu ada di sana — tercatat dengan nama dan ajaran mereka.

Ada kisah yang indah tentang resi agung Yajnawalkya, yang mengunjungi kerajaan raja agung Janaka. Dan di sana, dalam pertemuan para cendekiawan itu, orang-orang datang untuk mengajukan pertanyaan kepadanya. Seorang lelaki bertanya kepadanya, "Bagaimana saya harus melakukan pengorbanan ini?" Seorang lainnya bertanya kepadanya, "Bagaimana saya harus melakukan pengorbanan yang lain itu?" Dan setelah ia menjawab mereka, bangkitlah seorang perempuan yang berkata, "Ini adalah pertanyaan-pertanyaan kekanak-kanakan. Sekarang, berhati-hatilah: aku mengambil dua anak panah ini, dua pertanyaanku. Jawablah jika engkau mampu, dan kami akan menyebutmu seorang resi. Yang pertama: Apakah jiwa itu? Yang kedua: Apakah Tuhan itu?" (Brihadaranyaka Upanishad 3.8.1.-12.)

Demikianlah muncul di India pertanyaan-pertanyaan besar tentang jiwa dan Tuhan, dan pertanyaan-pertanyaan ini keluar dari mulut seorang perempuan. Sang resi harus menempuh ujian di hadapannya, dan ia lulus dengan baik.

Beralih ke lapisan kesusastraan berikutnya, yakni wiracarita kami, kita menemukan bahwa pendidikan belum merosot. Khususnya di kalangan kasta para pangeran, cita-cita ini dipegang dengan sangat menakjubkan.

Di dalam Weda kita menemukan gagasan tentang perkawinan ini — para gadis memilih sendiri pasangannya; demikian pula para pemuda. Pada lapisan berikutnya, mereka dinikahkan oleh orang tua mereka, kecuali pada satu kasta.

Bahkan di sini saya akan meminta Anda untuk melihat sisi yang lain. Apa pun yang dikatakan tentang orang Hindu, mereka adalah salah satu bangsa paling terpelajar yang pernah dihasilkan dunia. Orang Hindu adalah seorang ahli metafisika; ia menerapkan segala sesuatu pada akalnya. Segala sesuatu harus ditetapkan melalui perhitungan astrologi.

Gagasannya adalah bahwa bintang-bintang mengatur nasib setiap lelaki dan perempuan. Bahkan hingga hari ini, ketika seorang anak lahir, sebuah horoskop dibuat. Horoskop itu menentukan watak sang anak. Seorang anak terlahir dengan sifat ilahi, anak lain dengan sifat manusiawi, anak-anak lain dengan watak yang lebih rendah.

Kesulitannya adalah: Jika seorang anak yang berwatak iblis disatukan dengan seorang anak yang berwatak dewa, tidakkah mereka akan cenderung saling merosotkan?

Kesulitan berikutnya adalah: Hukum kami tidak memperbolehkan perkawinan dalam satu klan yang sama. Seseorang bukan hanya tidak boleh menikah dalam keluarganya sendiri — atau bahkan dengan salah seorang sepupunya — melainkan juga tidak boleh menikah ke dalam klan ayahnya atau bahkan klan ibunya.

Kesulitan ketiga adalah: Jika pernah ada penyakit kusta atau ftisis atau penyakit tak tersembuhkan semacam itu dalam enam generasi, baik pada pihak mempelai perempuan maupun mempelai lelaki, maka perkawinan tidak boleh dilangsungkan.

Sekarang, dengan memperhitungkan ketiga kesulitan ini, seorang Brahmana berkata: "Jika saya menyerahkannya pada pilihan si pemuda atau si gadis untuk menikah, si pemuda atau si gadis akan terpesona oleh wajah yang rupawan. Dan kemudian sangat mungkin segala keadaan ini akan mendatangkan kehancuran bagi keluarga." Inilah gagasan utama yang mengatur hukum perkawinan kami, sebagaimana akan Anda temukan. Benar atau salah, ada filsafat ini di latar belakangnya. Mencegah lebih baik daripada mengobati.

Penderitaan yang ada di dunia ini terjadi karena kita melahirkan penderitaan. Maka, seluruh persoalannya adalah bagaimana mencegah lahirnya anak-anak yang sengsara. Sejauh mana hak-hak suatu masyarakat boleh meluas atas individu adalah suatu pertanyaan terbuka. Tetapi orang Hindu berkata bahwa pilihan perkawinan seharusnya tidak diserahkan ke tangan si pemuda atau si gadis.

Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa inilah hal yang terbaik untuk dilakukan. Saya pun tidak melihat bahwa menyerahkannya ke tangan mereka sama sekali merupakan suatu pemecahan yang sempurna. Saya belum menemukan suatu pemecahan dalam pikiran saya sendiri; saya pun tidak melihat ada negeri yang memilikinya.

Selanjutnya kita sampai pada gambaran lain. Saya telah memberi tahu Anda bahwa ada satu bentuk perkawinan yang khas lainnya (umumnya di kalangan keluarga kerajaan), yaitu ketika sang ayah dari si gadis mengundang berbagai pangeran dan bangsawan, lalu mereka mengadakan sebuah pertemuan. Sang dara muda, putri raja itu, diusung di atas semacam kursi di hadapan masing-masing pangeran secara bergiliran. Dan sang pewarta akan mengulang-ulang: "Inilah Pangeran Anu, dan inilah keutamaan-keutamaannya". Sang dara muda akan menunggu, atau berkata, "Lanjutkan". Dan di hadapan pangeran berikutnya, sang penyeru juga akan memberikan deskripsi, dan si gadis akan berkata, "Lanjutkan". (Semua ini telah diatur sebelumnya; ia sudah menaruh hati pada seseorang sebelum acara ini.) Lalu pada akhirnya ia akan meminta salah seorang pelayan untuk melemparkan untaian bunga ke atas kepala sang lelaki, dan untaian itu dilemparkan untuk menunjukkan bahwa lelaki itu diterima. (Yang terakhir dari perkawinan-perkawinan ini menjadi sebab invasi Muhammadan ke India.) (Lihat pangeran, yang kemudian menjadi Ratu Delhi.) Perkawinan-perkawinan ini secara khusus diperuntukkan bagi kasta pangeran.

Puisi Sanskerta tertua yang masih ada, yakni Ramayana, telah mewujudkan cita-cita Hindu yang paling luhur tentang seorang perempuan dalam tokoh Sita. Kita tidak memiliki waktu untuk menelusuri hidupnya yang penuh kesabaran dan kebaikan yang tak terhingga. Kami memujanya sebagai penjelmaan Tuhan, dan namanya disebut sebelum nama suaminya, Rama. Kami tidak mengatakan "Tuan dan Nyonya", melainkan "Nyonya dan Tuan", dan demikian seterusnya, dengan semua dewa dan dewi, menyebutkan nama perempuan terlebih dahulu.

Ada lagi suatu konsepsi yang khas dari orang Hindu. Mereka yang telah belajar bersama saya mengetahui bahwa konsepsi pusat filsafat Hindu adalah konsepsi tentang Yang Mutlak; itulah latar belakang alam semesta. Wujud Yang Mutlak ini, yang tentang-Nya kita tidak dapat menyatakan apa pun, kekuatan-kekuatan-Nya disebut sebagai Dia yang perempuan — yakni, Tuhan pribadi yang sejati di India adalah Dia yang perempuan. Shakti (kekuatan ilahi) dari Brahman ini selalu berjenis kelamin perempuan.

Rama dipandang sebagai lambang Yang Mutlak, dan Sita sebagai lambang Kekuatan. Kita tidak memiliki waktu untuk menelusuri seluruh kehidupan Sita, tetapi saya akan mengutip satu bagian dari hidupnya yang sangat sesuai bagi para perempuan negeri ini.

Gambaran itu dimulai ketika ia berada di dalam hutan bersama suaminya, ke tempat mereka diasingkan. Ada seorang resi perempuan yang mereka berdua kunjungi. Puasa dan laku baktinya telah membuat tubuhnya kurus.

Sita mendekati resi ini dan bersujud di hadapannya. Sang resi meletakkan tangannya di atas kepala Sita dan berkata: "Memiliki tubuh yang rupawan adalah suatu berkah yang besar; engkau memilikinya. Memiliki suami yang mulia adalah berkah yang lebih besar; engkau memilikinya. Berbakti sepenuhnya kepada suami semacam itu adalah berkah yang terbesar; engkau adalah perempuan semacam itu. Engkau pasti berbahagia."

Sita menjawab, "Ibu, saya bersyukur bahwa Tuhan telah menganugerahi saya tubuh yang rupawan dan bahwa saya memiliki suami yang begitu berbakti. Tetapi mengenai berkah yang ketiga, saya tidak tahu apakah saya yang menaati dia atau dia yang menaati saya. Hanya satu hal yang saya ingat, yaitu bahwa ketika ia menggandeng tangan saya di hadapan api kurban — entah itu pantulan api atau entah Tuhan sendiri yang membuatnya tampak demikian kepada saya — saya mendapati bahwa saya adalah miliknya dan ia adalah milik saya. Dan sejak itu, saya mendapati bahwa saya adalah pelengkap kehidupannya, dan ia pelengkap kehidupan saya."

Bagian-bagian dari puisi ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Sita adalah cita-cita ideal seorang perempuan di India dan dipuja sebagai penjelmaan Tuhan.

Sekarang kita sampai pada Manu, sang pembuat hukum yang agung. Nah, di dalam kitab ini terdapat uraian yang terperinci tentang bagaimana seorang anak harus dididik. Kita harus ingat bahwa bagi bangsa Arya, mendidik seorang anak adalah suatu kewajiban, apa pun kastanya. Setelah menguraikan bagaimana seorang anak laki-laki harus dididik, Manu menambahkan: "Menurut garis yang sama, para anak perempuan pun harus dididik — persis seperti para anak laki-laki".

Saya sering mendengar bahwa ada bagian-bagian lain yang di dalamnya perempuan dicela. Saya mengakui bahwa di dalam kitab-kitab suci kami ada banyak bagian yang mencela perempuan sebagai sumber godaan; Anda dapat melihatnya sendiri. Tetapi ada pula bagian-bagian yang memuliakan perempuan sebagai kekuatan Tuhan. Dan ada bagian-bagian lain yang menyatakan bahwa di rumah tempat setetes air mata seorang perempuan jatuh, para dewa tidak pernah berkenan dan rumah itu menuju kehancuran. Meminum anggur, membunuh seorang perempuan, dan membunuh seorang Brahmana adalah kejahatan-kejahatan terbesar dalam agama Hindu. Saya mengakui ada kalimat-kalimat yang mencela [di dalam sebagian kitab kami]; tetapi di sini saya menyatakan keunggulan kitab-kitab Hindu ini, sebab di dalam kitab-kitab bangsa lain hanya ada celaan dan tidak ada satu kata baik pun bagi seorang perempuan.

Berikutnya, saya akan beralih ke drama-drama kuno kami. Apa pun yang dikatakan kitab-kitab, drama-drama itu merupakan gambaran yang sempurna tentang masyarakat sebagaimana ia ada pada masa itu. Di dalam drama-drama ini, yang ditulis sejak empat ratus tahun sebelum Kristus dan seterusnya, kita bahkan menemukan universitas-universitas yang penuh dengan anak laki-laki maupun anak perempuan. Kita [sekarang] tidak akan menemukan perempuan Hindu yang demikian, karena sejak itu mereka telah terputus dari pendidikan tinggi. Tetapi [pada masa itu], mereka di mana-mana hampir sama keadaannya seperti perempuan di negeri ini — keluar ke kebun dan taman untuk berjalan-jalan santai.

Ada satu hal lagi yang saya hadapkan kepada Anda, yakni hal yang di dalamnya perempuan Hindu masih lebih unggul daripada semua perempuan lain di dunia — yaitu hak-haknya. Hak untuk memiliki harta benda bagi perempuan di India sama mutlaknya seperti bagi kaum lelaki — dan telah demikian selama beribu-ribu tahun.

Jika Anda memiliki kawan seorang ahli hukum dan dapat menelaah tafsir-tafsir hukum Hindu, Anda akan menemukan semuanya sendiri. Seorang gadis boleh membawa sejuta dolar kepada suaminya, tetapi setiap dolar dari uang itu adalah miliknya. Tidak seorang pun berhak menyentuh satu dolar pun dari uang itu. Jika sang suami meninggal tanpa keturunan, seluruh harta sang suami jatuh kepadanya, bahkan jika ayah atau ibu sang suami masih hidup. Dan itu telah menjadi hukum dari masa lampau hingga masa kini. Itulah sesuatu yang dimiliki perempuan Hindu melampaui apa yang dimiliki perempuan negeri-negeri lain.

Kitab-kitab yang lebih tua — atau bahkan kitab-kitab yang lebih baru — tidak melarang para janda Hindu untuk menikah; adalah keliru jika beranggapan demikian. Kitab-kitab itu memberi mereka pilihan, dan pilihan itu diberikan kepada baik lelaki maupun perempuan. Gagasan dalam agama kami adalah bahwa perkawinan diperuntukkan bagi yang lemah, dan saya tidak melihat alasan apa pun untuk meninggalkan gagasan itu hari ini. Mereka yang merasa dirinya telah lengkap — apa gunanya mereka menikah? Dan mereka yang menikah — mereka diberi satu kesempatan. Ketika kesempatan itu telah berlalu, baik lelaki maupun perempuan dipandang rendah jika mereka menikah lagi; tetapi bukan berarti mereka dilarang. Tidak ada di mana pun dikatakan bahwa seorang janda tidak boleh menikah. Janda dan duda yang tidak menikah dipandang lebih rohani.

Kaum lelaki, tentu saja, menerobos hukum ini lalu pergi dan menikah; sedangkan kaum perempuan — karena memiliki sifat rohani yang lebih tinggi — berpegang pada hukum. Misalnya, kitab-kitab kami berkata bahwa makan daging itu buruk dan berdosa, tetapi Anda masih boleh makan daging anu — misalnya daging kambing. Saya telah melihat ribuan lelaki yang makan daging kambing, dan seumur hidup saya, saya tidak pernah melihat seorang perempuan dari kasta yang lebih tinggi yang makan daging jenis apa pun. Ini menunjukkan bahwa sifat mereka adalah berpegang pada hukum — lebih condong kepada agama. Tetapi janganlah menghakimi kaum lelaki Hindu terlalu keras. Anda harus mencoba memandang hukum Hindu dari sudut pandang saya juga, sebab saya adalah seorang lelaki Hindu.

Tidak menikahnya para janda ini lambat laun tumbuh menjadi sebuah adat. Dan setiap kali di India suatu adat menjadi kaku, hampir mustahil untuk menerobosnya — sebagaimana di negeri Anda, Anda akan mendapati betapa sulitnya menerobos sebuah adat mode yang baru berusia lima hari. Pada kasta-kasta yang lebih rendah, kecuali dua, para janda menikah lagi.

Ada satu bagian dalam kitab-kitab hukum kami yang lebih kemudian [yang menyatakan] bahwa seorang perempuan tidak boleh membaca Weda. Tetapi membaca Weda juga dilarang bagi seorang Brahmana yang lemah. Jika seorang anak laki-laki Brahmana tidak berpikiran teguh, hukum itu diterapkan pula padanya. Tetapi itu tidak menunjukkan bahwa pendidikan dilarang bagi mereka, sebab Weda bukanlah satu-satunya yang dimiliki orang Hindu. Setiap kitab lain boleh dibaca oleh para perempuan. Seluruh khazanah kesusastraan Sanskerta, samudra kesusastraan yang utuh itu — ilmu pengetahuan, drama, puisi — semuanya untuk mereka. Mereka boleh masuk ke sana dan membaca segala sesuatu, kecuali kitab-kitab suci [Weda].

Pada masa-masa kemudian, gagasannya adalah bahwa perempuan tidak ditakdirkan untuk menjadi imam; jadi apa gunanya ia mempelajari Weda? Dalam hal itu, orang Hindu tidak begitu jauh tertinggal dari bangsa-bangsa lain. Ketika para perempuan meninggalkan dunia dan bergabung dengan Tarekat kami, mereka tidak lagi dipandang sebagai lelaki ataupun perempuan. Mereka tidak berjenis kelamin. Seluruh persoalan tentang kasta tinggi atau rendah, lelaki atau perempuan, lenyap sama sekali.

Apa pun yang saya ketahui tentang agama, saya pelajari dari guru saya, dan ia mempelajarinya dari seorang perempuan.

Kembali kepada perempuan Rajput, saya akan mencoba menyampaikan kepada Anda sebuah kisah dari sebagian kitab kuno kami — bagaimana selama penaklukan Muhammadan, salah seorang perempuan ini menjadi penyebab dari apa yang menuntun pada penaklukan India.

Seorang pangeran Rajput dari Kanauj — sebuah kota yang sangat kuno — memiliki seorang putri [Samjukta]. Ia telah mendengar tentang kemasyhuran militer Prithvi Raj [Raja Ajmer dan Delhi] dan segala kemuliaannya, dan ia jatuh cinta kepadanya.

Nah, ayahnya hendak menyelenggarakan sebuah pengorbanan Rajasuya, maka ia mengundang semua raja di negeri itu. Dan dalam pengorbanan itu, mereka semua harus melakukan pelayanan rendahan kepadanya karena ia lebih unggul atas mereka semua; dan dengan pengorbanan itu ia mengumumkan bahwa akan ada suatu pemilihan oleh putrinya.

Tetapi sang putri telah jatuh cinta kepada Prithvi Raj. Prithvi Raj sangat perkasa dan tidak akan mengakui kesetiaan kepada sang raja, ayah si gadis, maka ia menolak undangan itu. Lalu sang raja membuat sebuah patung emas Prithvi Raj dan menempatkannya di dekat pintu. Ia berkata bahwa itulah tugas yang ia berikan kepada Prithvi Raj untuk dijalankan — yaitu tugas seorang penjaga pintu.

Akhir dari seluruh peristiwa itu adalah bahwa Prithvi Raj, layaknya seorang kesatria sejati, datang dan membawa sang dara di belakangnya di atas kudanya, lalu mereka berdua melarikan diri.

Ketika kabar itu sampai kepada ayah si gadis, ia mengejar dengan pasukannya, dan terjadilah suatu pertempuran besar yang di dalamnya sebagian besar dari kedua pasukan terbunuh. Dan [dengan demikian kaum Rajput menjadi begitu lemah sehingga] kekaisaran Muhammadan di India pun bermula.

Ketika kekaisaran Muhammadan sedang ditegakkan di India bagian utara, Ratu Chitore [Rani Padmini] termasyhur karena kecantikannya. Dan kabar tentang kecantikannya sampai kepada sultan, lalu ia menulis sepucuk surat agar sang ratu dikirim ke harem-nya. Akibatnya adalah perang yang mengerikan antara Raja Chitore dan sultan. Kaum Muhammadan menyerbu Chitore. Dan ketika kaum Rajput mendapati bahwa mereka tidak lagi mampu mempertahankan diri, kaum lelaki semuanya mengangkat pedang lalu membunuh dan terbunuh, dan kaum perempuan binasa dalam kobaran api.

Setelah kaum lelaki semuanya binasa, sang penakluk memasuki kota itu. Di sana, di jalanan, membubung sebuah kobaran api yang dahsyat. Ia melihat lingkaran-lingkaran perempuan berputar mengelilinginya, dipimpin oleh sang ratu sendiri. Ketika ia mendekat dan meminta sang ratu untuk menahan diri agar tidak melompat ke dalam api, sang ratu berkata, "Beginilah cara perempuan Rajput memperlakukanmu", lalu melemparkan dirinya ke dalam api.

Dikatakan bahwa 74.500 perempuan binasa dalam kobaran api pada hari itu untuk menyelamatkan kehormatan mereka dari tangan kaum Muhammadan. Bahkan hingga hari ini, ketika kami menulis sepucuk surat, setelah menyegelnya kami menuliskan "74½" di atasnya, yang berarti bahwa jika seseorang berani membuka surat ini, maka dosa membunuh 74.500 perempuan itu akan menimpa kepalanya.

Saya akan menceritakan kepada Anda kisah tentang seorang gadis Rajput cantik yang lain. Ada sebuah adat yang khas di negeri kami yang disebut "perlindungan". Para perempuan dapat mengirimkan gelang-gelang kecil dari benang sutra kepada kaum lelaki. Dan jika seorang gadis mengirim salah satu gelang ini kepada seorang lelaki, maka lelaki itu menjadi saudara laki-lakinya.

Pada masa pemerintahan kaisar Mogul yang terakhir — orang yang kejam, yang menghancurkan kekaisaran India yang paling cemerlang itu — ia juga mendengar tentang kecantikan putri seorang kepala suku Rajput. Perintah dikirimkan agar gadis itu dibawa ke harem Mogul.

Lalu seorang utusan datang dari kaisar kepada gadis itu dengan membawa gambar sang kaisar, dan ia memperlihatkannya kepada gadis itu. Dengan penuh cemooh, gadis itu menginjak-injaknya dengan kakinya dan berkata, "Beginilah gadis Rajput memperlakukan kaisar Mogul-mu". Akibatnya, pasukan kekaisaran digerakkan masuk ke Rajputana.

Dalam keputusasaan, putri kepala suku itu memikirkan sebuah siasat. Ia mengambil sejumlah gelang ini dan mengirimkannya kepada para pangeran Rajput dengan sebuah pesan: "Datang dan bantulah kami". Semua orang Rajput berkumpul, sehingga pasukan kekaisaran terpaksa kembali lagi.

Saya akan menceritakan kepada Anda sebuah peribahasa yang khas di Rajputana. Ada sebuah kasta di India yang disebut golongan pedagang, yaitu para saudagar. Mereka sangat cerdas — sebagian dari mereka — tetapi orang Hindu menganggap mereka agak licik. Namun, suatu fakta yang khas adalah bahwa para perempuan dari kasta itu tidak secerdas kaum lelakinya. Sebaliknya, lelaki Rajput tidak setengah secerdas perempuan Rajput.

Peribahasa yang umum di Rajputana adalah: "Perempuan yang cerdas melahirkan putra yang tumpul, dan perempuan yang tumpul melahirkan putra yang tajam". Faktanya adalah, setiap kali ada negara atau kerajaan di Rajputana yang dikelola oleh seorang perempuan, negara itu dikelola dengan sangat baik.

Kita sampai pada golongan perempuan yang lain. Bangsa Hindu yang lembut ini dari waktu ke waktu menghasilkan perempuan-perempuan pejuang. Sebagian dari Anda mungkin pernah mendengar tentang perempuan [Lakshmi Bai, Ratu Jhansi] yang, selama Pemberontakan tahun 1857, bertempur melawan para serdadu Inggris dan mempertahankan kedudukannya sendiri selama dua tahun — memimpin pasukan-pasukan modern, mengelola baterai-baterai meriam, dan selalu menyerbu di garis depan pasukannya. Ratu ini adalah seorang gadis Brahmana.

Seorang lelaki yang saya kenal kehilangan tiga putranya dalam perang itu. Ketika ia berbicara tentang mereka, ia tenang, tetapi ketika ia berbicara tentang perempuan ini, suaranya menjadi bergairah. Ia biasa berkata bahwa perempuan itu adalah seorang dewi — ia bukan manusia biasa. Veteran tua ini berpendapat bahwa ia tidak pernah melihat kepemimpinan militer yang lebih baik.

Kisah Chand Bibi, atau Chand Sultana [1546 - 1599], terkenal di India. Ia adalah Ratu Golconda, tempat tambang-tambang berlian berada. Berbulan-bulan ia mempertahankan dirinya. Akhirnya, terjadi sebuah celah pada tembok kota. Ketika pasukan kekaisaran mencoba menyerbu masuk ke sana, ia berdiri dengan baju zirah lengkap, dan ia memaksa pasukan itu mundur kembali.

Pada masa yang bahkan lebih kemudian, mungkin Anda akan tercengang mengetahui bahwa seorang jenderal Inggris yang ternama pernah harus menghadapi seorang gadis Hindu berusia enam belas tahun.

Para perempuan dalam kenegarawanan, dalam mengelola wilayah, memerintah negeri, bahkan berperang, telah membuktikan diri mereka setara dengan kaum lelaki — kalaupun tidak lebih unggul. Di India, saya tidak ragu sedikit pun akan hal itu. Setiap kali mereka memperoleh kesempatan, mereka membuktikan bahwa mereka memiliki kemampuan sebesar kaum lelaki, dengan satu keunggulan ini — bahwa mereka jarang merosot. Mereka berpegang pada standar moral, yang melekat pada kodrat mereka. Dan dengan demikian, sebagai gubernur dan penguasa negara mereka, mereka membuktikan diri — setidaknya di India — jauh lebih unggul daripada kaum lelaki. John Stuart Mill menyebutkan fakta ini.

Bahkan pada masa kini, kita melihat para perempuan di India mengelola perkebunan-perkebunan yang luas dengan kemampuan yang besar. Ada dua perempuan di tempat saya dilahirkan yang merupakan pemilik perkebunan-perkebunan besar dan pelindung ilmu pengetahuan serta seni, dan yang mengelola perkebunan-perkebunan itu dengan otak mereka sendiri serta memperhatikan setiap rincian usaha tersebut.

Setiap bangsa, di luar kemanusiaan yang umum, mengembangkan suatu kekhasan watak tertentu — demikian pula dalam agama, demikian dalam politik, demikian dalam tubuh jasmani, demikian dalam kebiasaan mental, demikian dalam diri lelaki dan perempuan, demikian dalam watak. Satu bangsa mengembangkan satu kekhasan watak, bangsa lain mengambil kekhasan lain. Dalam beberapa tahun terakhir ini, dunia mulai mengakui hal ini.

Kekhasan yang paling menonjol dari perempuan Hindu, yang telah mereka kembangkan dan yang merupakan gagasan kehidupan mereka, adalah kekhasan sebagai seorang ibu. Jika Anda memasuki rumah seorang Hindu, Anda tidak akan mendapati istri menjadi pendamping yang setara bagi suami sebagaimana Anda mendapatinya di sini. Tetapi ketika Anda menemukan sang ibu, ia adalah tiang penyangga rumah tangga Hindu itu sendiri. Sang istri harus menanti sampai menjadi seorang ibu, dan barulah ia akan menjadi segala-galanya.

Jika seseorang menjadi seorang biarawan, ayahnya harus memberi hormat kepadanya terlebih dahulu karena ia telah menjadi seorang biarawan dan oleh karena itu lebih unggul daripada ayahnya. Tetapi kepada ibunya, ia — biarawan ataupun bukan — harus berlutut dan bersujud di hadapannya. Lalu ia akan meletakkan secangkir kecil air di depan kaki ibunya, sang ibu akan mencelupkan ujung jari kakinya ke dalamnya, dan ia harus meminum air itu. Seorang putra Hindu dengan senang hati melakukan ini ribuan kali lagi!

Di tempat Weda mengajarkan moralitas, kata-kata pertamanya adalah, "Jadikanlah ibumu sebagai Tuhanmu" (Taittiriya Upanishad 1.11.) — dan memang demikianlah ibu itu. Ketika kami berbicara tentang perempuan di India, gagasan kami tentang perempuan adalah ibu. Nilai perempuan terletak pada keberadaan mereka sebagai ibu umat manusia. Itulah gagasan orang Hindu.

Saya telah melihat guru tua saya menggandeng tangan gadis-gadis kecil, mendudukkan mereka di sebuah kursi, dan sungguh-sungguh memuja mereka — meletakkan bunga di kaki mereka dan bersujud di hadapan anak-anak kecil ini — karena mereka melambangkan Tuhan sebagai ibu.

Ibu adalah Tuhan dalam keluarga kami. Gagasannya adalah bahwa satu-satunya cinta sejati yang kita lihat di dunia, cinta yang paling tanpa pamrih, ada pada seorang ibu — yang selalu menderita, selalu mengasihi. Dan cinta apakah yang dapat melambangkan cinta Tuhan lebih daripada cinta yang kita lihat pada seorang ibu? Demikianlah, bagi orang Hindu, ibu adalah penjelmaan Tuhan di muka bumi.

"Hanya anak laki-laki itulah yang dapat memahami Tuhan, yang pertama-tama telah diajar oleh ibunya." Saya telah mendengar cerita-cerita yang mengada-ada tentang kebutaaksaraan para perempuan kami. Hingga saya berusia sepuluh tahun, saya diajar oleh ibu saya. Saya melihat nenek saya masih hidup dan nenek buyut saya masih hidup, dan saya meyakinkan Anda bahwa tidak pernah ada dalam garis keturunan saya seorang leluhur perempuan yang tidak dapat membaca atau menulis, atau yang harus membubuhkan "tanda tangannya" berupa cap pada selembar kertas. Seandainya ada seorang perempuan yang tidak dapat membaca atau menulis, kelahiran saya tentu mustahil terjadi. Hukum-hukum kasta menjadikannya suatu keharusan.

Maka, cerita-cerita yang mengada-ada inilah yang kadang-kadang saya dengar — seperti pernyataan bahwa pada Abad Pertengahan kemampuan membaca dan menulis dirampas dari perempuan Hindu. Saya rujukkan Anda kepada History of the English People karya Sir William Hunter, yang di dalamnya ia menyebutkan perempuan-perempuan India yang dapat menghitung gerhana matahari.

Saya telah diberi tahu bahwa terlalu banyak memuja sang ibu membuat sang ibu menjadi mementingkan diri sendiri, atau terlalu banyak cinta anak-anak kepada ibu membuat mereka menjadi mementingkan diri sendiri. Tetapi saya tidak memercayai hal itu. Cinta yang ibu saya berikan kepada saya telah menjadikan saya seperti adanya saya sekarang, dan saya berutang budi kepadanya yang tidak akan pernah dapat saya lunasi.

Mengapa ibu Hindu harus dipuja? Para filsuf kami berupaya menemukan alasannya dan mereka sampai pada definisi ini: Kita menyebut diri kita sebagai bangsa Arya. Apakah seorang Arya itu? Ia adalah seorang manusia yang kelahirannya melalui agama. Ini barangkali merupakan pokok bahasan yang khas di negeri ini; tetapi gagasannya adalah bahwa seorang manusia harus dilahirkan melalui agama, melalui doa-doa. Jika Anda mengambil kitab-kitab hukum kami, Anda akan menemukan pasal-pasal yang dikhususkan untuk hal ini — yaitu pengaruh seorang ibu terhadap anak sebelum kelahirannya.

Saya tahu bahwa sebelum saya dilahirkan, ibu saya biasa berpuasa dan berdoa serta melakukan ratusan hal yang bahkan tidak dapat saya lakukan selama lima menit. Ia melakukan itu selama dua tahun. Saya percaya bahwa apa pun pembinaan keagamaan yang saya miliki, saya peroleh berkat hal itu. Adalah dengan penuh kesadaran ibu saya membawa saya ke dunia ini untuk menjadi seperti adanya saya sekarang. Apa pun dorongan baik yang saya miliki diberikan kepada saya oleh ibu saya — dan dengan penuh kesadaran, bukan tanpa sadar.

"Anak yang lahir secara jasmani bukanlah seorang Arya; anak yang lahir dalam kerohanian adalah seorang Arya." Atas segala jerih payah ini — karena ia harus menjadikan dirinya begitu murni dan suci demi memiliki anak-anak yang murni — ia memiliki hak yang khas atas anak Hindu itu. Dan selebihnya [dari sifat-sifatnya] sama dengan semua bangsa lain: ia begitu tanpa pamrih. Tetapi sang ibulah yang harus menderita paling banyak dalam keluarga kami.

Sang ibu harus makan paling akhir. Berkali-kali saya ditanya di negeri Anda mengapa suami [Hindu] tidak duduk makan bersama istrinya — apakah barangkali gagasannya adalah bahwa sang suami menganggap istrinya makhluk yang terlalu rendah. Penjelasan ini sama sekali tidak benar. Anda tahu, bulu babi dianggap sangat kotor. Seorang Hindu tidak boleh menyikat giginya dengan sikat yang dibuat dari bulu itu, sehingga ia menggunakan serat tumbuhan. Seorang pelancong melihat seorang Hindu menyikat giginya dengan serat itu, lalu menulis bahwa "seorang Hindu bangun pagi-pagi sekali, mengambil sebatang tumbuhan, mengunyahnya, dan menelannya!" Demikian pula, sebagian orang telah melihat suami dan istri tidak makan bersama, lalu membuat penjelasan mereka sendiri. Begitu banyak penjelas di dunia ini, dan begitu sedikit pengamat — seolah-olah dunia ini sekarat menanti penjelasan-penjelasan mereka! Itulah sebabnya saya kadang-kadang berpikir bahwa penemuan percetakan bukanlah berkah yang murni tanpa cela. Faktanya yang sebenarnya adalah: sebagaimana di negeri Anda banyak hal yang tidak boleh dilakukan oleh para wanita di hadapan kaum pria, demikian pula di negeri kami faktanya adalah bahwa sangat tidak pantas untuk mengunyah-ngunyah di hadapan kaum pria. Jika seorang wanita sedang makan, ia boleh makan di hadapan saudara-saudara laki-lakinya. Tetapi jika sang suami masuk, ia segera berhenti dan sang suami pun bergegas keluar. Kami tidak memiliki meja untuk duduk, dan kapan pun seorang pria lapar, ia masuk, menyantap makanannya, lalu keluar. Janganlah percaya bahwa seorang suami Hindu tidak mengizinkan istrinya duduk di meja bersamanya. Ia sama sekali tidak memiliki meja.

Bagian pertama dari makanan — ketika telah siap — adalah hak para tamu dan kaum miskin, bagian kedua untuk hewan-hewan yang lebih rendah, bagian ketiga untuk anak-anak, bagian keempat untuk sang suami, dan paling akhir barulah sang ibu. Sudah berapa kali saya melihat ibu saya pergi menyantap makanan pertamanya ketika hari telah menunjukkan pukul dua. Kami makan pada pukul sepuluh dan ia pada pukul dua karena ia memiliki begitu banyak urusan yang harus ditangani. [Misalnya], seseorang mengetuk pintu dan berkata, "Tamu", dan tidak ada makanan kecuali yang disediakan untuk ibu saya. Ia akan memberikannya kepada orang itu dengan rela, lalu menanti gilirannya sendiri. Itulah hidupnya dan ia menyukainya. Dan itulah sebabnya kami memuja para ibu sebagai dewa.

Saya berharap Anda lebih menginginkan untuk tidak sekadar dimanjakan dan dilindungi, melainkan lebih menginginkan untuk dipuja! [Anda], seorang anggota umat manusia! — orang Hindu yang miskin tidak memahami [kecenderungan Anda itu]. Tetapi ketika Anda berkata, "Kami adalah para ibu dan kami memerintah", ia pun membungkuk hormat. Inilah, kalau begitu, sisi yang telah dikembangkan oleh kaum Hindu.

Kembali ke teori-teori kita — orang-orang di Barat sekitar seratus tahun yang lalu sampai pada titik bahwa mereka harus menoleransi agama-agama lain. Tetapi kini kita tahu bahwa toleransi tidaklah cukup terhadap agama lain; kita harus menerimanya. Dengan demikian, ini bukan soal pengurangan, melainkan soal penjumlahan. Kebenaran adalah hasil dari semua sisi yang berbeda-beda ini yang dijumlahkan bersama. Masing-masing dari semua agama ini mewakili satu sisi, sedangkan kepenuhannya adalah penjumlahan dari semuanya. Dan demikian pula dalam setiap ilmu, penjumlahanlah yang menjadi hukumnya.

Nah, kaum Hindu telah mengembangkan sisi ini. Tetapi apakah sisi ini akan cukup? Biarlah wanita Hindu yang adalah seorang ibu menjadi pula istri yang layak, tetapi janganlah berupaya menghancurkan sosok ibu. Itulah hal terbaik yang dapat Anda lakukan. Dengan demikian Anda memperoleh pandangan yang lebih baik tentang alam semesta alih-alih berkeliling ke seluruh dunia, menyerbu ke berbagai bangsa dan mengkritik mereka serta berkata, "Makhluk-makhluk keji ini — semuanya pantas dipanggang untuk selama-lamanya!"

Jika kita mengambil sikap pada posisi ini — bahwa setiap bangsa, di bawah kehendak Tuhan, sedang mengembangkan satu bagian dari kodrat manusia — maka tidak ada bangsa yang merupakan suatu kegagalan. Sejauh ini mereka telah berbuat baik, kini mereka harus berbuat lebih baik! [Tepuk tangan]

Alih-alih menyebut kaum Hindu "kafir", "makhluk keji", "budak", pergilah ke India dan katakanlah, "Sejauh ini pekerjaanmu menakjubkan, tetapi itu belum semuanya. Engkau masih punya banyak lagi yang harus dilakukan. Tuhan memberkatimu karena engkau telah mengembangkan sisi wanita sebagai seorang ibu. Kini bantulah sisi yang lain — wanita sebagai istri bagi kaum pria."

Dan demikian pula, saya berpikir (saya mengatakannya dengan semangat yang terbaik) bahwa lebih baik Anda menambahkan ke dalam karakter bangsa Anda sedikit lebih banyak dari sisi keibuan dalam kodrat orang Hindu! Inilah bait pertama yang diajarkan kepada saya dalam hidup saya, pada hari pertama saya pergi ke sekolah: "Sungguh seorang terpelajarlah orang yang memandang semua wanita sebagai ibunya, yang memandang harta milik setiap orang tak lebih dari debu belaka, dan yang memandang setiap makhluk sebagai jiwanya sendiri."

Ada pula gagasan lain tentang wanita yang bekerja bersama pria. Bukannya kaum Hindu tidak memiliki cita-cita itu, melainkan mereka tidak mampu mengembangkannya.

Hanya dalam bahasa Sanskerta sajalah kita menemukan empat kata yang berarti suami dan istri secara bersama-sama. Hanya dalam pernikahan kamilah keduanya berjanji, "Apa yang dahulu menjadi hatiku, kini biarlah menjadi hatimu." Di sanalah kita melihat bahwa sang suami diminta memandang Bintang Kutub, sambil menyentuh tangan istrinya dan berkata, "Sebagaimana Bintang Kutub tetap teguh di langit, demikianlah kiranya aku tetap teguh dalam kasih sayangku kepadamu." Dan sang istri pun melakukan hal yang sama.

Bahkan seorang wanita yang begitu hina sampai turun ke jalanan pun dapat menggugat suaminya dan memperoleh nafkah. Kita menemukan benih-benih gagasan ini di seluruh kitab kami di sepanjang bangsa kami, tetapi kami tidak mampu mengembangkan sisi karakter itu.

Kita harus melangkah jauh melampaui sentimen apabila kita hendak menilai. Kita tahu bahwa bukan emosi semata yang mengatur dunia, melainkan ada sesuatu di balik emosi. Sebab-sebab ekonomi, keadaan-keadaan di sekeliling, dan pertimbangan-pertimbangan lain turut memasuki perkembangan bangsa-bangsa. (Tidak termasuk dalam rencana saya saat ini untuk membahas sebab-sebab yang mengembangkan wanita sebagai istri.)

Maka di dunia ini, sebagaimana setiap bangsa ditempatkan dalam keadaan-keadaan yang khas dan sedang mengembangkan tipenya sendiri, akan tiba harinya ketika semua tipe yang berbeda ini akan bercampur baur — ketika jenis patriotisme yang keji yang berarti "rampoklah semua orang dan berikan kepadaku" itu akan lenyap. Maka tidak akan ada lagi perkembangan yang berat sebelah di seluruh dunia, dan masing-masing dari [bangsa-bangsa] ini akan melihat bahwa mereka telah berbuat benar.

Marilah kini kita mulai bekerja dan mencampurbaurkan bangsa-bangsa itu menjadi satu, dan biarlah bangsa yang baru itu muncul.

Maukah Anda mengizinkan saya menyampaikan keyakinan saya? Banyak dari peradaban yang membentuk dunia saat ini berasal dari satu ras umat manusia yang khas itu — kaum Arya.

Peradaban [Arya] telah terdiri atas tiga tipe: Romawi, Yunani, dan Hindu. Tipe Romawi adalah tipe pengorganisasian, penaklukan, keteguhan — tetapi kekurangan dalam kodrat emosional, penghargaan akan keindahan, dan emosi-emosi yang lebih tinggi. Cacatnya adalah kekejaman. Tipe Yunani pada intinya bergairah terhadap keindahan, tetapi dangkal dan memiliki kecenderungan untuk menjadi tidak bermoral. Tipe Hindu pada intinya bersifat metafisis dan religius, tetapi kekurangan dalam segala unsur pengorganisasian dan kerja.

Tipe Romawi kini diwakili oleh bangsa Anglo-Saxon; tipe Yunani lebih banyak oleh bangsa Prancis daripada oleh bangsa mana pun; dan kaum Hindu yang lama tidaklah mati! Masing-masing tipe memiliki keunggulannya di tanah harapan yang baru ini. Mereka memiliki pengorganisasian Romawi, kekuatan dari cinta Yunani yang menakjubkan terhadap keindahan, dan tulang punggung Hindu berupa agama serta cinta kepada Tuhan. Campurbaurkanlah semua ini menjadi satu dan hadirkanlah peradaban yang baru.

Dan izinkanlah saya mengatakan kepada Anda, hal ini hendaknya dilakukan oleh para wanita. Ada sebagian kitab kami yang mengatakan bahwa inkarnasi (penjelmaan) berikutnya, dan yang terakhir (kami percaya ada sepuluh), akan datang dalam wujud seorang wanita.

Kita melihat sumber-sumber daya di dunia yang masih tersisa karena semua kekuatan yang ada di dunia belum digunakan. Tangan terus bekerja selama ini, sementara bagian-bagian tubuh yang lain tetap diam. Biarlah bagian-bagian tubuh yang lain itu dibangunkan, dan barangkali dalam tindakan yang selaras segala penderitaan akan disembuhkan. Barangkali, di tanah yang baru ini, dengan darah baru ini dalam pembuluh darah Anda, Anda dapat menghadirkan peradaban baru itu — dan, barangkali, melalui para wanita Amerika.

Adapun mengenai tanah yang senantiasa diberkati yang telah memberi saya tubuh ini, saya menengok ke belakang dengan penuh penghormatan dan memberkati Sang Wujud Maha Penyayang yang telah mengizinkan saya dilahirkan di tempat tersuci di muka bumi itu. Ketika seluruh dunia berusaha menelusuri silsilahnya dari para leluhur yang terkemuka dalam ketangguhan senjata atau kekayaan, hanya kaum Hindu sajalah yang bangga menelusuri keturunan mereka dari para orang suci.

Bahtera menakjubkan yang selama berabad-abad telah mengangkut kaum pria dan wanita menyeberangi samudra kehidupan ini barangkali telah mengalami kebocoran-kebocoran kecil di sana-sini. Dan mengenai itu pun, hanya Tuhan sajalah yang tahu seberapa banyak yang disebabkan oleh diri mereka sendiri dan seberapa banyak oleh mereka yang memandang rendah kaum Hindu dengan penuh penghinaan.

Tetapi jika kebocoran-kebocoran semacam itu memang ada, saya, yang paling hina di antara anak-anaknya, menganggapnya sebagai kewajiban saya untuk mencegahnya tenggelam, sekalipun saya harus melakukannya dengan nyawa saya. Dan jika saya mendapati bahwa segala perjuangan saya sia-sia belaka, tetap saja, demi Tuhan sebagai saksi saya, saya akan berkata kepada mereka dengan berkat dari lubuk hati saya: "Saudara-saudaraku, kalian telah berbuat baik — bahkan, lebih baik daripada yang dapat dilakukan oleh ras lain mana pun dalam keadaan yang sama. Kalian telah memberi saya segala yang saya miliki. Anugerahkanlah kepada saya keistimewaan untuk berada di sisi kalian hingga akhir, dan biarlah kita semua tenggelam bersama-sama."

## Footnotes

English

THE WOMEN OF INDIA

(New Discoveries, Vol. 2, pp. 411-26.)

The following lecture was delivered at Cambridge, December 17, 1894, and recorded by Miss Frances Willard’s stenographer.

Swami Vivekananda faced bigotry in America on several issues of Indian culture — one was the Indian woman. Naturally he sought to correct Western misconceptions. When he lectured in his own country, however, there was no greater advocate for improving the life of Indian women than the Swami.

In speaking about the women of India, ladies and gentlemen, I feel that I am going to talk about my mothers and sisters in India to the women of another race, many of whom have been like mothers and sisters to me. But though, unfortunately, within very recent times there have been mouths only to curse the women of our country, I have found that there are some who bless them too. I have found such noble souls in this nation as Mrs. [Ole] Bull and Miss [Sarah] Farmer and Miss [Frances] Willard, and that wonderful representative of the highest aristocracy of the world, whose life reminds me of that man of India, six hundred years before the birth of Christ, who gave up his throne to mix with the people. Lady Henry Somerset has been a revelation to me. I become bold when I find such noble souls who will not curse, whose mouths are full of blessing for me, my country, our men and women, and whose hands and hearts are ever ready to do service to humanity.

I first intend to take a glimpse into times past of Indian history, and we will find something unique. All of you are aware, perhaps, that you Americans and we Hindus and this lady from Iceland [Mrs. Sigrid Magnusson] are the descendants of one common ancestry known as Aryans. Above all, we find three ideas wherever the Aryans go: the village community, the rights of women and a joyful religion.

The first [idea] is the system of village communities — as we have just heard from Mrs. Bull concerning the North. Each man was his own [lord?] and owned the land. All these political institutions of the world we now see, are the developments of those village systems. As the Aryans went over to different countries and settled, certain circumstances developed this institution, others that.

The next idea of the Aryans is the freedom of women. It is in the Aryan literature that we find women in ancient times taking the same share as men, and in no other literature of the world.

Going back to our Vedas — they are the oldest literature the world possesses and are composed by your and my common ancestors (they were not written in India — perhaps on the coast of the Baltic, perhaps in Central Asia — we do not know).

Their oldest portion is composed of hymns, and these hymns are to the gods whom the Aryans worshipped. I may be pardoned for using the word gods; the literal translation is "the bright ones". These hymns are dedicated to Fire, to the Sun, to Varuna and other deities. The titles run: "such-and-such a sage composed this verse, dedicated to such-and-such a deity".

In the tenth chapter comes a peculiar hymn — for the sage is a woman — and it is dedicated to the one God who is at the background of all these gods. All the previous hymns are spoken in the third person, as if someone were addressing the deities. But this hymn takes a departure: God [as the Devi] is speaking for herself. The pronoun used is "I". "I am the Empress of the Universe, the Fulfiller of all prayers." (Vide “Devi Sukta”, Rig-Veda 10.125)

This is the first glimpse of women's work in the Vedas. As we go on, we find them taking a greater share — even officiating as priests. There is not one passage throughout the whole mass of literature of the Vedas which can be construed even indirectly as signifying that woman could never be a priest. In fact, there are many examples of women officiating as priests.

Then we come to the last portion of these Vedas — which is really the religion of India — the concentrated wisdom of which has not been surpassed even in this century. There, too, we find women preeminent. A large portion of these books are words which have proceeded from the mouths of women. It is there — recorded with their names and teachings.

There is that beautiful story of the great sage Yâjnavalkya, the one who visited the kingdom of the great king Janaka. And there in that assembly of the learned, people came to ask him questions. One man asked him, "How am I to perform this sacrifice?" Another asked him, "How am I to perform the other sacrifice?" And after he had answered them, there arose a woman who said, "These are childish questions. Now, have a care: I take these two arrows, my two questions. Answer them if you can, and we will then call you a sage. The first is: What is the soul? The second is: What is God?" ( Brihadâranyaka Upanishad 3.8.1.-12.)

Thus arose in India the great questions about the soul and God, and these came from the mouth of a woman. The sage had to pass an examination before her, and he passed well.

Coming to the next stratum of literature, our epics, we find that education has not degenerated. Especially in the caste of princes this ideal was most wonderfully held.

In the Vedas we find this idea of marrying — the girls chose for themselves; so the boys. In the next stratum they are married by their parents, except in one caste.

Even here I would ask you to look at another side. Whatever may be said of the Hindus, they are one of the most learned races the world has ever produced. The Hindu is the metaphysician; he applies everything to his intellect. Everything has to be settled by astrological calculation.

The idea was that the stars govern the fate of every man and woman. Even today when a child is born, a horoscope is cast. That determines the character of the child. One child is born of a divine nature, another of a human, others of lower character.

The difficulty was: If a child who was of a monster-character was united with a child of a god-character, would they not have a tendency to degenerate each other?

The next difficulty was: Our laws did not allow marriage within the same clans. Not only may one not marry within his own family — or even one of his cousins — but one must not marry into the clan of his father or even of his mother.

A third difficulty was: If there had been leprosy or phthisis or any such incurable disease within six generations of either bride or bridegroom, then there must not be a marriage.

Now taking [into account] these three difficulties, the Brahmin says: "If I leave it to the choice of the boy or girl to marry, the boy or girl will be fascinated with a beautiful face. And then very likely all these circumstances will bring ruin to the family". This is the primary idea that governs our marriage laws, as you will find. Whether right or wrong, there is this philosophy at the background. Prevention is better than cure.

That misery exists in this world is because we give birth to misery. So the whole question is how to prevent the birth of miserable children. How far the rights of a society should extend over the individual is an open question. But the Hindus say that the choice of marriage should not be left in the hands of the boy or girl.

I do not mean to say that this is the best thing to do. Nor do I see that leaving it in their hands is at all a perfect solution. I have not found a solution yet in my own mind; nor do I see that any country has one.

We come next to another picture. I told you that there was another peculiar form of marriage (generally among the royalty) where the father of the girl invited different princes and noblemen and they had an assembly. The young lady, the daughter of the king, was borne on a sort of chair before each one of the princes in turn. And the herald would repeat: "This is Prince So-and-so, and these are his qualifications". The young girl would either wait or say, "Move on". And before the next prince, the crier would also give a description, and the girl would say, "Move on". (All this would be arranged beforehand; she already had the liking for somebody before this.) Then at last she would ask one of the servants to throw the garland over the head of the man, and it would be thrown to show he was accepted. (The last of these marriages was the cause of the Mohammedan invasion of India.) (Vide prince, who became the Queen of Delhi.) These marriages were specially reserved for the prince caste.

The oldest Sanskrit poem in existence, the Râmâyana, has embodied the loftiest Hindu ideal of a woman in the character of Sitâ. We have not time to go through her life of infinite patience and goodness. We worship her as God incarnate, and she is named before her husband, Râma. We say not "Mr. and Mrs.", but "Mrs. and Mr." and so on, with all the gods and goddesses, naming the woman first.

There is another peculiar conception of the Hindu. Those who have been studying with me are aware that the central conception of Hindu philosophy is of the Absolute; that is the background of the universe. This Absolute Being, of whom we can predicate nothing, has Its powers spoken of as She — that is, the real personal God in India is She. This Shakti of the Brahman is always in the feminine gender.

Rama is considered the type of the Absolute, and Sita that of Power. We have no time to go over all the life of Sita, but I will quote a passage from her life that is very much suited to the ladies of this country.

The picture opens when she was in the forest with her husband, whither they were banished. There was a female sage whom they both went to see. Her fasts and devotions had emaciated her body.

Sita approached this sage and bowed down before her. The sage placed her hand on the head of Sita and said: "It is a great blessing to possess a beautiful body; you have that. It is a greater blessing to have a noble husband; you have that. It is the greatest blessing to be perfectly obedient to such a husband; you are that. You must be happy".

Sita replied, "Mother, I am glad that God has given me a beautiful body and that I have so devoted a husband. But as to the third blessing, I do not know whether I obey him or he obeys me. One thing alone I remember, that when he took me by the hand before the sacrificial fire — whether it was a reflection of the fire or whether God himself made it appear to me — I found that I was his and he was mine. And since then, I have found that I am the complement of his life, and he of mine".

Portions of this poem have been translated into the English language. Sita is the ideal of a woman in India and worshipped as God incarnate.

We come now to Manu the great lawgiver. Now, in this book there is an elaborate description of how a child should be educated. We must remember that it was compulsory with the Aryans that a child be educated, whatever his caste. After describing how a child should be educated, Manu adds: "Along the same lines, the daughters are to be educated — exactly as the boys".

I have often heard that there are other passages where women are condemned. I admit that in our sacred books there are many passages which condemn women as offering temptation; you can see that for yourselves. But there are also passages that glorify women as the power of God. And there are other passages which state that in that house where one drop of a woman's tear falls, the gods are never pleased and the house goes to ruin. Drinking wine, killing a woman and killing a Brahmin are the highest crimes in the Hindu religion. I admit there are condemnatory sentences [in some of our books]; but here I claim the superiority of these Hindu books, for in the books of other races there is only condemnation and no good word for a woman.

Next, I will come to our old dramas. Whatever the books say, the dramas are the perfect representation of society as it then existed. In these, which were written from four hundred years before Christ onward, we find even universities full of both boys and girls. We would not [now] find Hindu women, as they have since become cut off from higher education. But [at that time], they were everywhere pretty much the same as they are in this country — going out to the gardens and parks to take promenades.

There is another point which I bring before you and where the Hindu woman is still superior to all other women in the world —her rights. The right to possess property is as absolute for women in India as for men — and has been for thousands and thousands of years.

If you have any lawyer friend and can take up commentaries on the Hindu law, you will find it all for yourselves. A girl may bring a million dollars to her husband, but every dollar of that is hers. Nobody has any right to touch one dollar of that. If the husband dies without issue, the whole property of the husband goes to her, even if his father or mother is living. And that has been the law from the past to the present time. That is something which the Hindu woman has had beyond that of the women of other countries.

The older books — or even newer books — do not prohibit the Hindu widows from being married; it is a mistake to think so. They give them their choice, and that is given to both men and women. The idea in our religion is that marriage is for the weak, and I don't see any reason to give up that idea today. They who find themselves complete — what is the use of their marrying? And those that marry — they are given one chance. When that chance is over, both men and women are looked down upon if they marry again; but it is not that they are prohibited. It is nowhere said that a widow is not to marry. The widow and widower who do not marry are considered more spiritual.

Men, of course, break through this law and go and marry; whereas women — they being of a higher spiritual nature — keep to the law. For instance, our books say that eating meat is bad and sinful, but you may still eat such-and-such a meat —mutton, for instance. I have seen thousands of men who eat mutton, and never in my life have I seen a woman of higher caste who eats meat of any kind. This shows that their nature is to keep the law — keeping more towards religion. But do not judge too harshly of Hindu men. You must try to look at the Hindu law from my position too, for I am a Hindu man.

This non-marriage of widows gradually grew into a custom. And whenever in India a custom becomes rigid, it is almost impossible to break through it — just as in your country, you will find how hard it is to break through a five-day custom of fashion. In the lower castes, except two, the widows remarry.

There is a passage in our later law books [which states] that a woman shall not read the Vedas. But they are prohibited to even a weak Brahmin. If a Brahmin boy is not strong-minded, the law is applied to him also. But that does not show that education is prohibited to them, for the Vedas are not all that the Hindus have. Every other book women can read. All the mass of Sanskrit literature, that whole ocean of literature — science, drama, poetry — is all for them. They can go there and read everything, except the [Vedic] scriptures.

In later days the idea was that woman was not intended to be a priest; so what is the use of her studying the Vedas? In that, the Hindus are not so far behind other nations. When women give up the world and join our Order, they are no longer considered either men or women. They have no sex. The whole question of high or low caste, man or woman, dies out entirely.

Whatever I know of religion I learned from my master, and he learned it of a woman.

Coming back to the Rajput woman, I will try to bring to you a story from some of our old books — how during the Mohammedan conquest, one of these women was the cause of what led to the conquest of India.

A Rajput prince of Kanauj — a very ancient city — had a daughter [Samjukta]. She had heard of the military fame of Prithvi Raj [King of Ajmere and Delhi] and all his glory, and she was in love with him.

Now her father wanted to hold a Râjasuya sacrifice, so he invited all the kings in the country. And in that sacrifice, they all had to render menial service to him because he was superior over all; and with that sacrifice he declared there would be a choice by his daughter.

But the daughter was already in love with Prithvi Raj. He was very mighty and was not going to acknowledge loyalty to the king, her father, so he refused the invitation. Then the king made a golden statue of Prithvi Raj and put it near the door. He said that that was the duty he had given him to perform — that of a porter.

The upshot of the whole affair was that Prithvi Raj, like a true knight, came and took the lady behind him on his horse, and they both fled.

When the news came to her father, he gave chase with his army, and there was a great battle in which the majority of both armies was killed. And [thus the Rajputs were so weakened that] the Mohammedan empire in India began.

When the Mohammedan empire was being established in northern India, the Queen of Chitore [Râni Padmini] was famed for her beauty. And the report of her beauty reached the sultan, and he wrote a letter for the queen to be sent to his harem. The result was a terrible war between the King of Chitore and the sultan. The Mohammedans invaded Chitore. And when the Rajputs found they could not defend themselves any more, the men all took sword in hand and killed and were killed, and the women perished in the flames.

After the men had all perished, the conqueror entered the city. There in the street was rising a horrible flame. He saw circles of women going around it, led by the queen herself. When he approached near and asked the queen to refrain from jumping into the flames, she said, "This is how the Rajput woman treats you", and threw herself into the fire.

It is said that 74,500 women perished in the flames that day to save their honour from the hands of the Mohammedans. Even today when we write a letter, after sealing it we write "74½" upon it, meaning that if one dares to open this letter, that sin of killing 74,500 women will be upon his head.

I will tell you the story of another beautiful Rajput girl. There is a peculiar custom in our country called "protection". Women can send small bracelets of silken thread to men. And if a girl sends one of these to a man, that man becomes her brother.

During the reign of the last of the Mogul emperors — the cruel man who destroyed that most brilliant empire of India — he similarly heard of the beauty of a Rajput chieftain's daughter. Orders were sent that she should be brought to the Mogul harem.

Then a messenger came from the emperor to her with his picture, and he showed it to her. In derision she stamped upon it with her feet and said, "Thus the Rajput girl treats your Mogul emperor". As a result, the imperial army was marched into Rajputana.

In despair the chieftain's daughter thought of a device. She took a number of these bracelets and sent them to the Rajput princes with a message: "Come and help us". All the Rajputs assembled, and so the imperial forces had to go back again.

I will tell you a peculiar proverb in Rajputana. There is a caste in India called the shop class, the traders. They are very intelligent — some of them — but the Hindus think they are rather sharp. But it is a peculiar fact that the women of that caste are not as intelligent as the men. On the other hand, the Rajput man is not half as intelligent as the Rajput woman.

The common proverb in Rajputana is: "The intelligent woman begets the dull son, and the dull woman begets the sharp son". The fact is, whenever any state or kingdom in Rajputana has been managed by a woman, it has been managed wonderfully well.

We come to another class of women. This mild Hindu race produces fighting women from time to time. Some of you may have heard of the woman [Lakshmi Bai, Queen of Jhansi] who, during the Mutiny of 1857, fought against the English soldiers and held her own ground for two years — leading modern armies, managing batteries and always charging at the head of her army. This queen was a Brahmin girl.

A man whom I know lost three of his sons in that war. When he talks of them he is calm, but when he talks of this woman his voice becomes animated. He used to say that she was a goddess — she was not a human being. This old veteran thinks he never saw better generalship.

The story of Chand Bibi, or Chand Sultana [1546 - 1599], is well known in India. She was the Queen of Golconda, where the diamond mines were. For months she defended herself. At last, a breach was made in the walls. When the imperial army tried to rush in there, she was in full armour, and she forced the troops to go back.

In still later times, perhaps you will be astonished to know that a great English general had once to face a Hindu girl of sixteen.

Women in statesmanship, managing territories, governing countries, even making war, have proved themselves equal to men — if not superior. In India I have no doubt of that. Whenever they have had the opportunity, they have proved that they have as much ability as men, with this advantage — that they seldom degenerate. They keep to the moral standard, which is innate in their nature. And thus as governors and rulers of their state, they prove — at least in India — far superior to men. John Stuart Mill mentions this fact.

Even at the present day, we see women in India managing vast estates with great ability. There were two ladies where I was born who were the proprietors of large estates and patronesses of learning and art and who managed these estates with their own brains and looked to every detail of the business.

Each nation,beyond a general humanity, develops a certain peculiarity of character — so in religion, so in politics, so in the physical body, so in mental habitude, so in men and women, so in character. One nation develops one peculiarity of character, another takes another peculiarity. Within the last few years the world has begun to recognize this.

The very peculiarity of Hindu women, which they have developed and which is the idea of their life, is that of the mother. If you enter a Hindu's home, you will not find the wife to be the same equal companion of the husband as you find her here. But when you find the mother, she is the very pillar of the Hindu home. The wife must wait to become the mother, and then she will be everything.

If one becomes a monk, his father will have to salute him first because he has become a monk and is therefore superior to him. But to his mother he — monk or no monk — will have to go down on his knees and prostrate himself before her. He will then put a little cup of water before her feet, she will dip her toe in it, and he will have to drink of it. A Hindu son gladly does this a thousand times over again!

Where the Vedas teach morality, the first words are, “Let the mother be your God" (Taittiriya Upanishad 1.11.) — and that she is. When we talk of woman in India, our idea of woman is mother. The value of women consists in their being mothers of the human race. That is the idea of the Hindu.

I have seen my old master taking little girls by the hands, placing them in a chair and actually worshipping them — placing flowers at their feet and prostrating himself before these little children — because they represented the mother God.

The mother is the God in our family. The idea is that the only real love that we see in the world, the most unselfish love, is in the mother — always suffering, always loving. And what love can represent the love of God more than the love which we see in the mother? Thus the mother is the incarnation of God on earth to the Hindu.

"That boy alone can understand God who has been first taught by his mother." I have heard wild stories about the illiteracy of our women. Till I was a boy of ten, I was taught by my mother. I saw my grandmother living and my great-grandmother living, and I assure you that there never was in my line a female ancestor who could not read or write, or who had to put "her mark" on a paper. If there was a woman who could not read or write, my birth would have been impossible. Caste laws make it imperative.

So these are wild stories which I sometimes hear — such as the statement that in the Middle Ages reading and writing were taken away from Hindu women. I refer you to Sir William Hunter's History of the English People, where he cited Indian women who could calculate a solar eclipse.

I have been told that either too much worship of the mother makes the mother selfish or too much love of the children for the mother makes them selfish. But I do not believe that. The love which my mother gave to me has made me what I am, and I owe a debt to her that I can never repay.

Why should the Hindu mother be worshipped? Our philosophers try to find a reason and they come to this definition: We call ourselves the Aryan race. What is an Aryan? He is a man whose birth is through religion. This is a peculiar subject, perhaps, in this country; but the idea is that a man must be born through religion, through prayers. If you take up our law books you will find chapters devoted to this — the prenatal influence of a mother on the child.

I know that before I was born, my mother would fast and pray and do hundreds of things which I could not even do for five minutes. She did that for two years. I believe that whatever religious culture I have, I owe to that. It was consciously that my mother brought me into the world to be what I am. Whatever good impulse I have was given to me by my mother — and consciously, not unconsciously.

"A child materially born is not an Aryan; the child born in spirituality is an Aryan." For all this trouble — because she has to make herself so pure and holy in order to have pure children — she has a peculiar claim on the Hindu child. And the rest [of her traits] is the same with all other nations: she is so unselfish. But the mother has to suffer most in our families.

The mother has to eat last. I have been asked many times in your country why the [Hindu] husband does not sit with his wife to eat — if the idea is, perhaps, that the husband thinks she is too low a being. This explanation is not at all right. You know, a hog's hair is thought to be very unclean. A Hindu cannot brush his teeth with the brushes made of it, so he uses the fibre of plants. Some traveller saw one Hindu brushing his teeth with that and then wrote that "a Hindu gets up early in the morning and gets a plant and chews it and swallows it!" Similarly, some have seen the husband and wife not eating together and have made their own explanation. There are so many explainers in this world, and so few observers — as if the world is dying for their explanations! That is why I sometimes think the invention of printing was not an unmixed blessing. The real fact is: just as in your country many things must not be done by ladies before men, so in our country the fact is that it is very indecorous to munch and munch before men. If a lady is eating, she may eat before her brothers. But if the husband comes in, she stops immediately and the husband walks out quickly. We have no tables to sit at, and whenever a man is hungry he comes in and takes his meal and goes out. Do not believe that a Hindu husband does not allow his wife to sit at the table with him. He has no table at all.

The first part of the food — when it is ready — belongs to the guests and the poor, the second to the lower animals, the third to the children, the fourth to the husband, and last comes the mother. How many times I have seen my mother going to take her first meal when it was two o'clock. We took ours at ten and she at two because she had so many things to attend to. [For example], someone knocks at the door and says, "Guest", and there is no food except what was for my mother. She would give that to him willingly and then wait for her own. That was her life and she liked it. And that is why we worship mothers as gods.

I wish you would like less to be merely petted and patronized and more to be worshipped! [You], a member of the human race! — the poor Hindu does not understand that [inclination of yours]. But when you say, "We are mothers and we command", he bows down. This is the side then that the Hindus have developed.

Going back to our theories — people in the West came about one hundred years ago to the point that they must tolerate other religions. But we know now that toleration is not sufficient toward another religion; we must accept it. Thus it is not a question of subtraction, it is a question of addition. The truth is the result of all these different sides added together. Each of all these religions represents one side, the fullness being the addition of all these. And so in every science, it is addition that is the law.

Now the Hindu has developed this side. But will this side be enough? Let the Hindu woman who is the mother become the worthy wife also, but do not try to destroy the mother. That is the best thing you can do. Thus you get a better view of the universe instead of going about all over the world, rushing into different nations and criticizing them and saying, "The horrid wretches — all fit to be barbecued for eternity!"

If we take our stand on this position — that each nation under the Lord's will is developing one part of human nature — no nation is a failure. So far they have done well, now they must do better! [Applause]

Instead of calling the Hindus "heathens", "wretches", "slaves", go to India and say, "So far your work is wonderful, but that is not all. You have much more to do. God bless you that you have developed this side of woman as a mother. Now help the other side — the wife of men".

And similarly, I think (I tell it with the best spirit) that you had better add to your national character a little more of the mother side of the Hindu nature! This was the first verse that I was taught in my life, the first day I went to school: "He indeed is a learned man who looks upon all women as his mother, who looks upon every man's property as so much dust, and looks upon every being as his own soul".

There is the other idea of the woman working with the man. It is not that the Hindus had not those ideals, but they could not develop them.

It is alone in the Sanskrit language that we find four words meaning husband and wife together. It is only in our marriage that they [both] promise, "What has been my heart now may be thine". It is there that we see that the husband is made to look at the Pole-star, touching the hand of his wife and saying, "As the Pole-star is fixed in the heavens, so may I be fixed in my affection to thee". And the wife does the same.

Even a woman who is vile enough to go into the streets can sue her husband and have a maintenance. We find the germs of these ideas in all our books throughout our nation, but we were not able to develop that side of the character.

We must go far beyond sentiment when we want to judge. We know it is not emotion alone that governs the world, but there is something behind emotion. Economic causes, surrounding circumstances and other considerations enter into the development of nations. (It is not in my present plan to go into the causes that develop woman as wife.)

So in this world, as each nation is placed under peculiar circumstances and is developing its own type, the day is coming when all these different types will be mixed up — when that vile sort of patriotism which means "rob everybody and give to me" will vanish. Then there will be no more one-sided development in the whole world, and each one of these [nations] will see that they had done right.

Let us now go to work and mix the nations up together and let the new nation come.

Will you let me tell you my conviction? Much of the civilization that comprises the world today has come from that one peculiar race of mankind — the Aryans.

[Aryan] civilization has been of three types: the Roman, the Greek, the Hindu. The Roman type is the type of organization, conquest, steadiness — but lacking in emotional nature, appreciation of beauty and the higher emotions. Its defect is cruelty. The Greek is essentially enthusiastic for the beautiful, but frivolous and has a tendency to become immoral. The Hindu type is essentially metaphysical and religious, but lacking in all the elements of organization and work.

The Roman type is now represented by the Anglo-Saxon; the Greek type more by the French than by any other nation; and the old Hindus do not die! Each type has its advantage in this new land of promise. They have the Roman's organization, the power of the Greek's wonderful love for the beautiful, and the Hindu's backbone of religion and love of God. Mix these up together and bring in the new civilization.

And let me tell you, this should be done by women. There are some of our books which say that the next incarnation, and the last (we believe in ten), is to come in the form of a woman.

We see resources in the world yet remaining because all the forces that are in the world have not come into use. The hand was acting all this time while other parts of the body were remaining silent. Let the other parts of the body be awakened and perhaps in harmonious action all the misery will be cured. Perhaps, in this new land, with this new blood in your veins, you may bring in that new civilization — and, perhaps, through American women.

As to that ever blessed land which gave me this body, I look back with great veneration and bless the merciful being who permitted me to take birth in that holiest spot on earth. When the whole world is trying to trace its ancestry from men distinguished in arms or wealth, the Hindus alone are proud to trace their descent from saints.

That wonderful vessel which has been carrying for ages men and women across this ocean of life may have sprung small leaks here and there. And of that, too, the Lord alone knows how much is owing to themselves and how much to those who look down with contempt upon the Hindus.

But if such leaks there are, I, the meanest of her children, think it my duty to stop her from sinking even if I have to do it with my life. And if I find that all my struggles are in vain, still, as the Lord is my witness, I will tell them with my heartfelt benediction: "My brethren, you have done well — nay, better than any other race could have done under the same circumstances. You have given me all that I have. Grant me the privilege of being at your side to the last and let us all sink together".

## Footnotes


Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.