Arsip Vivekananda

Ucapan dan Perkataan

Jilid9 lecture
7,468 kata · 30 menit baca · Sayings and Utterances

Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.

AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.

Bahasa Indonesia

UCAPAN DAN PERKATAAN

DAFTAR SINGKATAN

Dalam bagian ini, hanya kata-kata langsung dari Swami Vivekananda yang ditempatkan di dalam tanda kutip. Sumber rujukan telah ditandai dengan singkatan-singkatan berikut:

ND → Burke, Marie Louise. Swami Vivekananda in the West: New Discoveries. 6 jil. Calcutta: Advaita Ashrama, 1983-87.

CWSN → Nivedita, Sister. The Complete Works of Sister Nivedita. Jil. 1. Calcutta: Advaita Ashrama, 1982.

LSN → Nivedita, Sister. Letters of Sister Nivedita. 2 jil. Disusun dan disunting oleh Sankari Prasad Basu. Calcutta: Nababharat Publishers, 1982.

VIN → Basu, Sankari Prasad dan Ghosh, Sunil Bihari, ed. Vivekananda in Indian Newspapers: 1893-1902. Calcutta: Dineshchandra Basu, Basu Bhattacharya and Co., 1969.

1. Dari penuturan Nyonya Prince Woods mengenai kepergian Swami Vivekananda dari kediaman keluarga Woods di Salem, Massachusetts, pada bulan Agustus 1893. Swami Vivekananda memberikan tongkatnya, harta benda yang paling berharga baginya, kepada Dr. Woods, yang saat itu adalah seorang mahasiswa kedokteran muda, serta kopor dan selimutnya kepada Nyonya Kate T. Woods, seraya berkata:

"Hanya harta bendaku yang paling berharga yang layak kuberikan kepada sahabat-sahabatku yang telah membuatku merasa seperti di rumah sendiri di negeri besar ini." (ND 1: 42)

2. Tertulis di balik salinan yang dibuat Swami Vivekananda dari buku Louis Rousselet berjudul India and Its Native Princes — Travels in Central India and in the Presidencies of Bombay and Bengal, bertanggal 11 Februari 1894:

"Aku katakan bahwa hanya ada satu obat bagi orang yang terlampau cemas akan masa depan — yaitu bersujud berlutut." (ND 1: 225)

3. Sebuah petikan dari doa yang disampaikan Swami Vivekananda di Parlemen Agama-Agama Sedunia di Chicago:

"Engkaulah Dia yang memikul segala beban alam semesta; tolonglah aku memikul beban kecil kehidupan ini." (ND 2: 32)

4. Sebuah petikan dari doa lain yang dipanjatkan Swami Vivekananda di Parlemen Agama-Agama Sedunia di Chicago:

"Di puncak segala hukum ini, di dalam dan melalui setiap partikel materi dan tenaga, berdiri Yang Esa, yang atas perintah-Nya angin berembus, api menyala, awan menurunkan hujan, dan maut mengintai di atas bumi. Dan bagaimanakah sifat-Nya? Di mana-mana Ia adalah Yang Esa yang murni dan tanpa wujud, Yang Mahakuasa dan Yang Maha Pengasih. Engkaulah Bapa kami. Engkaulah Sahabat kami yang terkasih." (ND 2: 33)

5. Dari catatan jurnal Mary T. Wright bertanggal Sabtu, 12 Mei 1894:

Para janda dari kasta tinggi di India tidak menikah lagi, demikian katanya; hanya janda dari kasta rendah yang boleh menikah, boleh makan, minum, menari, memiliki sebanyak mungkin suami yang mereka kehendaki, menceraikan mereka semua, singkatnya menikmati segala kemudahan yang dinikmati golongan tertinggi di negeri ini. . . .

"Ketika kami fanatik," demikian katanya, "kami menyiksa diri kami sendiri, kami melemparkan diri kami ke bawah kereta-kereta besar, kami menyayat leher kami sendiri, kami berbaring di atas ranjang berpaku; tetapi ketika Anda fanatik, Anda menyayat leher orang lain, Anda menyiksa mereka dengan api dan membaringkan mereka di atas ranjang berpaku! Anda begitu cermat menjaga kulit Anda sendiri!" (ND 2: 58-59)

6. Sebuah petikan tahun 1894 dari Greenacre Voice, yang mengutip salah satu ajaran Swami yang disampaikan di Greenacre, Maine:

"Anda dan saya dan segala sesuatu di alam semesta adalah Yang Mutlak itu, bukan sekadar bagian, melainkan keseluruhannya. Anda adalah keseluruhan dari Yang Mutlak itu." (ND 2: 150)

7. Dalam sepucuk surat bertanggal 5 Maret 1899 dari Sister Nivedita kepada Nona Josephine MacLeod:

"Pada hakikatnya aku adalah seorang mistikus, Margot; segenap penalaran ini hanyalah tampak luar belaka — sesungguhnya aku selalu mengamati tanda-tanda dan berbagai hal — sehingga aku tidak pernah merisaukan nasib inisiasi-inisiasi yang kuberikan. Jika mereka sungguh-sungguh ingin menjadi Sannyasin, aku merasa selebihnya bukanlah urusanku. Tentu saja hal ini ada sisi buruknya. Kadang-kadang aku harus membayar mahal atas kekeliruanku — tetapi ada satu keuntungannya. Hal itu telah menjaga agar aku tetap seorang Sannyasin melalui semua ini — dan itulah cita-citaku, untuk wafat sebagai seorang Sannyasin sejati sebagaimana Ramakrishna Paramahamsa sesungguhnya adanya — bebas dari hawa nafsu — dan dari hasrat akan kekayaan, serta dari kehausan akan kemasyhuran. Kehausan akan kemasyhuran itu adalah yang paling kotor di antara semua kekotoran." (ND 3: 128-29)

8. Dari surat John Henry Wright bertanggal 27 Maret 1896 kepada Mary Tappan Wright, di mana Swami Vivekananda menyatakan bahwa Inggris sama saja dengan India dengan kasta-kastanya:

"Aku harus mengadakan kelas-kelas yang terpisah bagi kedua kasta itu. Bagi orang-orang kasta tinggi — Lady Anu dan Lady Anu, Yang Terhormat Anu dan Yang Terhormat Anu — aku mengadakan kelas pada pagi hari; bagi orang-orang kasta rendah, yang datang berdesakan tak beraturan, aku mengadakan kelas pada petang hari." (ND 4: 73)

9. Ketika Swami Vivekananda mempersembahkan bunga di kaki Perawan Maria di sebuah kapel kecil di Swiss pada musim panas 1896, ia berkata:

"Sebab ia pun adalah Sang Ibu." (ND 4: 276)

10. Dari surat Tuan J. J. Goodwin bertanggal 23 Oktober 1896 kepada Nyonya Ole Bull, yang mengutip percakapan Swami Vivekananda di Greycoat Gardens, London:

"Sangat baik memiliki cita-cita yang tinggi, tetapi janganlah membuatnya terlalu tinggi. Cita-cita yang tinggi mengangkat umat manusia, tetapi cita-cita yang mustahil justru merendahkan mereka, justru karena kemustahilannya." (ND 4: 385)

11. Catatan harian Swami Abhedananda bertanggal 20 November 1896, yang mengutip pengamatan Swami Vivekananda terhadap bangsa Inggris:

"Anda tidak dapat menjalin persahabatan di sini tanpa mengenal adat istiadat, perilaku, dan politik mereka. Anda harus mengenal tata krama orang kaya, orang berbudaya, dan orang miskin." (ND 4: 478)

12. Dalam surat Tuan J. J. Goodwin bertanggal 11 November 1896 kepada Nyonya Ole Bull, yang mengutip pernyataan Swami Vivekananda yang belum dipublikasikan menjelang akhir "Practical Vedanta — IV":

"Seorang Jiva tidak akan pernah dapat mencapai Brahman secara mutlak sampai seluruh Maya lenyap. Selama masih ada seorang Jiva yang tersisa di dalam Maya, tidak mungkin ada jiwa yang sepenuhnya bebas secara mutlak. . . . Para penganut Vedanta berbeda pendapat mengenai hal ini." (ND 4: 481)

13. Dari surat Swami Saradananda kepada seorang sesama murid, mengenai hari-hari terakhir Swami Vivekananda:

Kadang-kadang ia berkata, "Maut telah datang ke sisi pembaringanku; aku telah cukup mengalami kerja dan permainan; biarlah dunia menyadari sumbangan apa yang telah kuberikan; akan dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk memahaminya." (ND 4: 521)

14. Dalam sepucuk surat bertanggal 13 Oktober 1898 kepada Nyonya Ashton Jonson, yang ditulis dari Kashmir, Sister Nivedita melukiskan suasana batin spiritual Swami Vivekananda:

Baginya pada saat ini "berbuat baik" tampak mengerikan. "Hanya Sang Ibu yang melakukan apa pun. Patriotisme adalah suatu kekeliruan. Segala sesuatu adalah suatu kekeliruan. Semuanya adalah Sang Ibu. . . . Semua orang itu baik. Hanya saja kita tidak mampu menjangkau semua. . . . Aku tidak akan pernah lagi mengajar. Siapakah aku sehingga aku harus mengajari siapa pun? . . . Swamiji telah mati dan tiada." (ND 5: 3-4)

15. Dari surat Tuan Sachindranath Basu yang menuturkan kembali kata-kata penutup Swami Vivekananda dalam ceramahnya kepada para swami dan calon biarawan yang berkumpul di Belur Math, 19 Juni 1899:

"Anak-anakku, jadilah kalian semua manusia sejati. Inilah yang kukehendaki! Jika kalian sedikit saja berhasil, aku akan merasa bahwa hidupku telah bermakna." (ND 5: 17)

16. Selama suatu percakapan malam bersama Swami Saradananda pada musim semi 1899:

"Manusia harus diajar untuk bersikap praktis, untuk kuat secara jasmani. Selusin singa semacam itu akan menaklukkan dunia, bukan jutaan ekor domba. Manusia tidak boleh diajar untuk meniru suatu sosok ideal pribadi, betapapun agungnya sosok itu." (ND 5: 17)

17. Dari kenangan Nyonya Mary C. Funke tentang pelayarannya pada bulan Agustus 1899 ke Amerika bersama Swami Vivekananda dan Swami Turiyananda:

"Dan jika seluruh Maya ini begitu indah, bayangkanlah keindahan menakjubkan dari Realitas yang ada di baliknya!" (ND 5: 76)

"Mengapa harus melafalkan puisi padahal di sana [sambil menunjuk laut dan langit] terbentang hakikat puisi yang sesungguhnya?" (Ibid.)

18. Dalam surat Nona Josephine MacLeod bertanggal 3 September 1899 kepada Nyonya Ole Bull:

"Pada saat seseorang paling membutuhkan pertolongan, ia berdiri seorang diri." (ND 5: 122)

19. Dari catatan harian Sister Nivedita bertanggal 27 Oktober 1899 di Ridgely Manor, di mana Swami Vivekananda mengungkapkan kepeduliannya terhadap Olea Bull Vaughn:

"Mimpi buruk selalu bermula dengan menyenangkan — hanya pada titik terburuklah mimpi itu terputus — demikian pula maut memutuskan mimpi kehidupan. Cintailah maut." (ND 5: 138)

20. Dalam sepucuk surat bertanggal Desember 1899 dari Nona Josephine MacLeod kepada Sister Nivedita:

"Segala gagasan yang dimiliki orang-orang California tentang diriku berasal dari Chicago." (ND 5: 179)

21. Dari kenangan Nyonya Alice Hansbrough yang mengutip ucapan Swami Vivekananda kepada Tuan Baumgardt:

"Aku dapat berbicara tentang pokok bahasan yang sama, tetapi ceramahnya tidak akan sama." (ND 5: 230)

22. Kenangan Nyonya Alice Hansbrough yang menuturkan tanggapan Swami Vivekananda terhadap ajakannya untuk bertamasya:

"Janganlah perlihatkan kepadaku pemandangan-pemandangan. Aku telah menyaksikan Pegunungan Himalaya! Aku tidak akan melangkah sepuluh langkah sekadar untuk melihat pemandangan; tetapi aku akan menempuh seribu mil untuk menemui seorang [agung] insan!" (ND 5: 244)

23. Dari kenangan Nyonya Alice Hansbrough yang menuturkan minat Swami Vivekananda terhadap persoalan pendidikan anak:

Ia tidak memercayai hukuman. Hukuman tidak pernah menolongnya, demikian katanya, lalu menambahkan, "Aku tidak akan pernah melakukan apa pun yang membuat seorang anak menjadi takut." (ND 5: 253)

24. Catatan Nyonya Alice Hansbrough tentang penjelasan Swami Vivekananda mengenai Tuhan kepada Ralph Wyckoff yang berusia tujuh belas tahun:

"Dapatkah engkau melihat matamu sendiri? Tuhan itu seperti itu. Ia sedekat matamu sendiri. Ia adalah milikmu sendiri, walaupun engkau tidak dapat melihat-Nya." (ND 5: 254)

25. Kenangan Nyonya Alice Hansbrough mengenai pendapat Swami Vivekananda tentang para serdadu Inggris berkasta rendah yang menduduki India:

"Jika ada orang yang merampas rumah seorang Inggris, orang Inggris itu akan membunuhnya, dan itu memang sepantasnya. Tetapi orang Hindu hanya duduk dan merengek!

"Apakah Anda kira segenggam orang Inggris akan mampu menguasai India seandainya kami memiliki semangat juang? Aku mengajarkan makan daging di seluruh penjuru India dengan harapan bahwa kami dapat membangun semangat juang!" (ND 5: 256)

26. Kenangan Nyonya Alice Hansbrough tentang suatu piknik di Pasadena, California, ketika seorang perempuan penganut Christian Science menyarankan kepada Swami Vivekananda bahwa orang harus diajar untuk menjadi baik:

"Mengapa aku harus berhasrat untuk menjadi 'baik'? Semua ini adalah karya tangan-Nya [sambil melambaikan tangannya menunjuk pepohonan dan pedesaan]. Haruskah aku meminta maaf atas karya tangan-Nya? Jika Anda ingin memperbaiki si Polan, pergilah dan tinggallah bersamanya; jangan berusaha memperbaikinya. Jika Anda memiliki sedikit saja dari Api Ilahi itu, ia akan menangkapnya." (ND 5: 257)

27. Dari kenangan Nyonya Alice Hansbrough:

"Begitu Anda mempertimbangkan suatu tindakan, janganlah biarkan apa pun memalingkan Anda darinya. Bertanyalah kepada hati Anda, bukan kepada orang lain, lalu turutilah bisikannya." (ND 5: 311)

28. Dari catatan Tuan Frank Rhodehamel yang dibuat selama suatu ceramah pada bulan Maret 1900 di Oakland, California:

"Tidak pernah seorang istri mencintai suami demi suami itu sendiri, ataupun seorang suami mencintai istri demi istri itu sendiri. Tuhan di dalam istrilah yang dicintai sang suami, dan Tuhan di dalam suamilah yang dicintai sang istri. (Bdk. Brihadaranyaka Upanishad II.4.5.) Tuhan di dalam setiap orang itulah yang menarik kita kepada orang itu dalam cinta. [Itulah] Tuhan di dalam segala sesuatu, di dalam setiap orang, yang membuat kita mencintai. Tuhan adalah satu-satunya cinta. . . . Di dalam setiap orang ada Tuhan, sang Atman; segala selainnya hanyalah mimpi, suatu ilusi." (ND 5: 362)

29. Dari catatan Tuan Frank Rhodehamel yang dibuat selama suatu ceramah pada bulan Maret 1900 di Oakland, California:

Oh, andai saja kalian mengenal diri kalian sendiri! Kalian adalah jiwa-jiwa; kalian adalah dewa-dewa. Jika sekali waktu aku merasa [bahwa aku] menghujat, maka itu adalah ketika aku menyebut kalian manusia." (ND 5: 362)

30. Sebuah petikan dari kenangan Tuan Thomas J. Allan tentang rangkaian ceramah Swami Vivekananda mengenai India di San Francisco pada bulan Maret 1900:

"Kirimkanlah kepada kami para ahli mesin untuk mengajari kami cara menggunakan tangan kami, dan kami akan mengirimkan kepada Anda para misionaris untuk mengajari Anda spiritualitas." (ND 5: 365)

31. Kenangan Nyonya Edith Allan tentang renungan filosofis Swami Vivekananda saat memasak di flat di Turk Street:

"'Tuhan bersemayam di dalam hati semua makhluk, wahai Arjuna, dengan daya ilusi-Nya membuat semua makhluk berputar seolah-olah terpasang pada roda seorang pembuat tembikar.' [Bhagavad-Gita XVIII.61] Semua ini pernah terjadi sebelumnya, seperti lemparan dadu, demikian pula halnya dalam kehidupan; roda itu terus berputar dan susunan yang sama pun muncul kembali; kendi dan gelas itu pernah berdiri di sana sebelumnya, demikian pula bawang dan kentang itu. Apa daya kita, Nyonya, Ia menahan kita di atas roda kehidupan." (ND 6: 17)

32. Dari kenangan Nyonya Edith Allan tentang suatu percakapan seusai santap siang:

"Sang Guru berkata bahwa ia akan datang kembali kira-kira dua ratus tahun lagi — dan aku akan datang bersamanya. Ketika seorang Guru datang, ia membawa serta umatnya sendiri." (ND 6: 17)

33. Kenangan Nyonya Edith Allan tentang nasihat "dapur" Swami Vivekananda ketika ia tinggal di San Francisco, California, pada tahun 1900:

"Jika aku menganggap diriku lebih besar daripada semut yang merayap di atas tanah, maka aku ini bodoh." (ND 6: 19)

"Nyonya, berlapang dadalah; senantiasa lihatlah dua arah. Ketika aku berada di puncak ketinggian, aku berkata, 'Shivoham, Shivoham: Akulah Dia, akulah Dia!' dan ketika perutku sakit, aku berkata, 'Ibu, kasihanilah aku!'" (Ibid.)

"Belajarlah untuk menjadi saksi. Jika dua ekor anjing berkelahi di jalan dan aku keluar ke sana, aku akan terseret ke dalam perkelahian itu; tetapi jika aku tinggal dengan tenang di kamarku, aku menyaksikan perkelahian itu dari jendela. Maka belajarlah untuk menjadi saksi." (Ibid.)

34. Dari kenangan Tuan Thomas J. Allan tentang suatu percakapan pribadi dengan Swami Vivekananda di San Francisco, California, tahun 1900:

"Kita tidak maju dari kekeliruan menuju kebenaran, melainkan dari kebenaran menuju kebenaran. Dengan demikian, kita harus melihat bahwa tidak seorang pun patut dipersalahkan atas apa yang sedang mereka lakukan, sebab pada saat ini mereka sedang melakukan yang terbaik yang mereka mampu. Jika seorang anak memegang pisau cukur yang terbuka, janganlah berusaha merebutnya darinya, melainkan berilah ia sebuah apel merah atau mainan yang berkilauan, dan ia akan menjatuhkan pisau cukur itu. Tetapi barang siapa memasukkan tangannya ke dalam api, ia akan terbakar; kita hanya belajar dari pengalaman." (ND 6: 42)

35. Dari kenangan Nyonya Alice Hansbrough tentang perjalanan pulang bersama Swami Vivekananda seusai salah satu ceramahnya di San Francisco pada tahun 1900:

"Anda telah mendengar bahwa Kristus berkata, 'Perkataan-Ku adalah roh dan hidup'. Demikian pula perkataanku adalah roh dan hidup; perkataan itu akan membakar jalannya masuk ke dalam otak Anda dan Anda tidak akan pernah dapat lepas darinya!" (ND 6: 57-58)

36. Dari kenangan Nyonya Alice Hansbrough di San Francisco, 1900 — mengenai keluasan hati Swami Vivekananda:

"Aku mungkin harus dilahirkan kembali karena aku telah jatuh cinta kepada manusia." (ND 6: 79)

37. Dari kenangan Nyonya George Roorbach tentang Swami Vivekananda di Camp Taylor, California, pada bulan Mei 1900:

"Dalam pidato pertamaku di negeri ini, di Chicago, aku menyapa hadirin itu dengan sebutan 'Saudari-Saudari dan Saudara-Saudara di Amerika', dan Anda tahu bahwa mereka semua bangkit berdiri. Anda mungkin bertanya-tanya apa yang membuat mereka berbuat demikian, Anda mungkin bertanya-tanya apakah aku memiliki suatu kekuatan yang ganjil. Izinkan aku memberi tahu Anda bahwa aku memang memiliki suatu kekuatan, dan inilah ia — tidak sekali pun dalam hidupku aku membiarkan diriku memiliki bahkan satu pikiran seksual pun. Aku melatih pikiranku, cara berpikirku, dan daya-daya yang biasanya digunakan manusia di sepanjang jalur itu kuarahkan ke saluran yang lebih tinggi, dan hal itu menumbuhkan suatu kekuatan yang demikian dahsyat sehingga tidak ada apa pun yang dapat menahannya." (ND 6: 155)

38. Dalam suatu percakapan dengan Swami Turiyananda, yang barangkali berlangsung di New York:

"Panggilan telah datang dari Atas: 'Datanglah pergi, datanglah saja pergi — tidak perlu memusingkan kepalamu untuk mengajar orang lain'. Kini sudah menjadi kehendak Nyonya Tua nan Agung (Sang "Nyonya Tua nan Agung" adalah sosok dalam suatu permainan anak-anak, yang sentuhannya membuat seseorang dikeluarkan dari permainan.) bahwa permainan ini harus berakhir." (ND 6: 373)

39. Dalam suatu tulisan penghormatan di Prabuddha Bharata pada bulan Juli 1902, "seorang murid dari Barat" menulis:

Swami hampir tidak menaruh simpati kepada para perusak berhala, sebab sebagaimana ia mengamati dengan bijak, "Filsuf sejati berupaya untuk tidak menghancurkan apa pun, melainkan untuk menolong semua." (VIN: 638)

40. Kenangan Sister Nivedita tentang Swami Vivekananda dalam sepucuk surat bertanggal 9 Oktober 1899 kepada Nona Josephine MacLeod:

Ia telah berpaling dari begitu banyak hal — "Biarlah hidupmu di dunia ini tidak lebih daripada suatu perenungan kepada dirimu sendiri." (LSN I: 213)

41. Ucapan Swami Vivekananda saat santap siang kepada Nyonya Ole Bull, yang dicatat oleh Sister Nivedita dalam sepucuk surat bertanggal 18 Oktober 1899 kepada Nona Josephine MacLeod:

"Begini, ada satu hal yang disebut cinta, dan ada hal lain yang disebut penyatuan. Dan penyatuan itu lebih besar daripada cinta.

"Aku tidak mencintai agama. Aku telah menjadi satu dengannya. Agama adalah hidupku. Maka tidak ada orang yang mencintai sesuatu yang di dalamnya hidupnya telah ia curahkan, yang di dalamnya ia sungguh-sungguh telah mencapai sesuatu. Apa yang kita cintai itu belumlah menjadi diri kita sendiri. Suamimu tidak mencintai musik yang selama ini selalu ia perjuangkan. Ia mencintai keinsinyuran yang sejauh ini relatif sedikit ia ketahui. Inilah perbedaan antara Bhakti dan Jnana; dan inilah sebabnya Jnana lebih besar daripada Bhakti." (LSN I: 216)

42. Ucapan Swami Vivekananda mengenai pelayanan spiritualnya, yang dicatat dalam surat Sister Nivedita bertanggal 15 Oktober 1904 kepada Nona Josephine MacLeod:

"Baru ketika mereka pergi, mereka akan menyadari betapa banyak yang telah mereka terima." (LSN II: 686)

43. Kenangan Sister Nivedita dalam sepucuk surat bertanggal 5 November 1904 kepada Alberta Sturges (Lady Sandwich) tentang ceramah Swami Vivekananda mengenai penyangkalan diri ketika ia tinggal di Ridgely Manor:

"Di India kami tidak pernah mengatakan bahwa Anda harus melepaskan sesuatu yang lebih tinggi demi sesuatu yang lebih rendah. Lebih baik tenggelam dalam musik atau sastra daripada dalam kenyamanan atau kesenangan, dan kami tidak pernah mengatakan sebaliknya." (LSN II: 690)

44. Dalam surat Sister Nivedita bertanggal 19 November 1909 kepada Nona Josephine MacLeod:

"Api itu membakar jika kita memasukkan tangan kita ke dalamnya — entah kita merasakannya atau tidak — demikian pula halnya dengan orang yang menyebut nama Tuhan." (LSN II: 1030)

45. Kenangan Swami Vivekananda tentang Shri Ramakrishna, yang dicatat dalam surat Sister Nivedita bertanggal 6 Juli 1910 kepada Dr. T. K. Cheyne:

"Ia tidak dapat membayangkan dirinya sebagai guru bagi siapa pun. Ia bagaikan seorang yang bermain dengan bola-bola beraneka warna, dan membiarkan orang lain memilih sendiri warna mana yang mereka kehendaki." (LSN II: 1110)

46. Kenangan Sister Nivedita tentang suatu percakapan dengan Swami Vivekananda di Ridgely Manor, yang dicatat dalam sepucuk surat tahun 1899 yang ditulis dari Ridgely Manor kepada Nona Josephine MacLeod:

Belum pernah aku mendengar Sang Nabi berbicara begitu banyak tentang Shri Ramakrishna. Ia menceritakan kepada kami apa yang telah kudengar sebelumnya tentang ketajaman penilaian [gurunya] terhadap manusia yang tak pernah keliru. . . .

"Maka," kata Swami, "Anda lihat, pengabdianku adalah pengabdian seekor anjing. Aku begitu sering keliru, sedangkan ia selalu benar, dan kini aku mempercayai penilaiannya secara membuta." Lalu ia menceritakan kepada kami bagaimana ia akan menghipnosis setiap orang yang datang kepadanya dan dalam dua menit mengetahui segala sesuatu tentang orang itu, dan Swami berkata bahwa dari hal ini ia telah belajar untuk menganggap kesadaran kita sebagai sesuatu yang sangat kecil. (LSN II: 1263)

47. Dari surat Sister Nivedita bertanggal 27 Januari 1900 kepada Sister Christine:

Swami berkata hari ini bahwa ia mulai melihat kebutuhan umat manusia dalam sudut pandang yang sungguh berbeda — bahwa ia sudah yakin akan asas yang akan menolong, tetapi setiap hari menghabiskan berjam-jam untuk berupaya memecahkan metodenya. Bahwa apa yang sejauh ini ia ketahui adalah untuk orang-orang yang hidup di dalam sebuah goa — sendirian, tanpa gangguan — tetapi kini ia akan memberikan kepada "umat manusia sesuatu yang akan menumbuhkan kekuatan di tengah tekanan kehidupan sehari-hari." (LSN II: 1264)

48. Dalam sepucuk surat bertanggal 7 Juli 1902 kepada Sister Christine, Sister Nivedita mencatat salah satu ucapan Swami Vivekananda yang disampaikan ketika ia memberikan kelas kepada para biarawan di Belur Math pada tanggal 4 Juli 1902:

"Janganlah meniruku. Usirlah orang yang meniru." (LSN II: 1270)

49. Komentar Swami setelah ia membuat suatu pernyataan mengenai cita-cita kebebasan jiwa, yang membawanya ke dalam pertentangan yang tampak dengan konsepsi Barat tentang pelayanan kepada umat manusia sebagai tujuan individu:

"Anda akan berkata bahwa hal ini tidak menguntungkan masyarakat. Tetapi sebelum keberatan ini dapat diterima, terlebih dahulu Anda harus membuktikan bahwa pemeliharaan masyarakat itu sendiri merupakan suatu tujuan." (CWSN 1: 19)

50. Sister Nivedita menulis:

Ia menyinggung soal kedudukannya sendiri sebagai seorang guru pengembara dan mengungkapkan keengganan khas India terhadap organisasi keagamaan atau, sebagaimana diungkapkan seseorang, "terhadap suatu kepercayaan yang berakhir pada sebuah gereja". "Kami percaya," demikian katanya, "bahwa organisasi selalu melahirkan keburukan-keburukan baru."

Ia bernubuat bahwa perkembangan-perkembangan keagamaan tertentu yang saat itu sangat digandrungi di Barat akan segera mati, karena cinta akan uang. Dan ia menyatakan bahwa "Manusia bergerak dari kebenaran menuju kebenaran, bukan dari kekeliruan menuju kebenaran." (CWSN 1: 19-20)

51. "Alam semesta itu bagaikan sarang laba-laba dan pikiran-pikiranlah laba-labanya; sebab pikiran itu satu sekaligus banyak." (CWSN 1: 21)

52. "Janganlah ada yang menyesal bahwa mereka sukar diyakinkan! Aku berjuang melawan Guruku selama enam tahun dengan hasil bahwa aku mengenal setiap jengkal jalannya! Setiap jengkal jalannya!" (CWSN 1: 22)

53. Swami Vivekananda sedang menjelaskan ke puncak ketinggian tanpa pamrih manakah jalan cinta itu menuntun dan bagaimana jalan itu menyingkapkan kemampuan-kemampuan terbaik jiwa:

"Andaikan ada seorang bayi di jalan yang dilalui seekor harimau! Di manakah tempat Anda saat itu? Di mulut harimau itu — siapa pun di antara Anda — aku yakin akan hal itu." (CWSN 1: 24)

54. "Yang olehnya semua ini diliputi, ketahuilah bahwa Itu adalah Tuhan sendiri!" (CWSN 1: 27)

55. Mengenai sikap Swami Vivekananda terhadap agama:

Agama adalah perkara pertumbuhan individu, "selalu suatu persoalan tentang menjadi ada dan menjadi sesuatu". (CWSN 1: 28)

56. "Mengampunilah ketika Anda juga mampu mendatangkan pasukan-pasukan malaikat untuk meraih kemenangan yang mudah." Namun, selama kemenangan masih diragukan, hanya seorang pengecut menurut pemikirannya yang akan memberikan pipi yang sebelah lagi. (CWSN 1: 28-29)

57. "Tentu saja aku rela melakukan suatu kejahatan dan masuk ke neraka selamanya jika dengan demikian aku sungguh-sungguh dapat menolong seorang manusia!" (CWSN 1: 34)

58. Kepada sekelompok kecil orang, termasuk Sister Nivedita, seusai suatu ceramah:

"Aku memiliki suatu kepercayaan takhayul — itu bukan apa-apa, Anda tahu, hanya kepercayaan takhayul pribadi! — bahwa jiwa yang sama yang dahulu datang sebagai Buddha, kemudian datang sebagai Kristus." (CWSN 1: 35)

59. Setelah Swami Vivekananda diberi tahu tentang kesediaan Sister Nivedita untuk mengabdi kepada India:

"Bagi diriku sendiri, aku akan menjelma dua ratus kali, jika hal itu diperlukan, untuk menjalankan pekerjaan di tengah umatku yang telah kuemban ini." (CWSN 1: 36)

60. Kenangan Sister Nivedita tentang suatu peristiwa:

Pada suatu kesempatan ia sedang menunggang kuda bersama Raja Khetri, ketika ia melihat bahwa lengan sang Raja berdarah deras dan mendapati bahwa lukanya disebabkan oleh sebuah ranting berduri yang telah ia singkirkan agar dirinya dapat lewat. Ketika Swami menegurnya, sang Rajput menertawakan perkara itu. "Bukankah kami selalu menjadi pembela iman, Swamiji?" katanya.

"Lalu," kata Swami sambil menceritakan kisah itu, "aku baru saja hendak mengatakan kepadanya bahwa mereka tidak seharusnya menunjukkan penghormatan sedemikian rupa kepada seorang Sannyasin, ketika tiba-tiba aku berpikir bahwa barangkali mereka memang benar pada akhirnya. Siapa tahu? Mungkin aku pun terperangkap dalam silau cahaya peradaban modern Anda ini, yang hanya berlangsung sesaat."

" — Aku telah terjerat," katanya secara sederhana kepada seseorang yang membantah bahwa, menurut pemikirannya, Sadhu pengembara pada tahun-tahun yang lebih awal, yang telah menyebarkan pengetahuannya dan mengubah namanya selama ia berkelana, lebih besar daripada kepala biara Belur yang dibebani begitu banyak pekerjaan dan kerisauan. "Aku telah terjerat." (CWSN 1: 43)

61. Sister Nivedita menulis:

Pada suatu hari ia sedang berbicara di Barat tentang Mira Bai — santa yang pada suatu masa pernah menjadi Ratu Chitore — dan tentang kebebasan yang ditawarkan suaminya kepadanya asalkan ia mau tetap tinggal dalam pingitan kerajaan. Tetapi ia tidak dapat diikat. "Tetapi mengapa ia tidak mau?" tanya seseorang dengan heran. "Mengapa ia harus mau?" tukasnya. "Apakah ia hidup di bawah sini, di dalam lumpur ini?" (CWSN 1: 44)

62. Seiring berlalunya tahun-tahun, Swami semakin lama semakin tidak berani membuat rencana yang pasti atau bersikap dogmatis tentang hal yang tidak diketahui:

"Lagi pula, apa yang kita ketahui? Sang Ibu memanfaatkan itu semua. Tetapi kita hanya meraba-raba." (CWSN 1: 44)

63. Mengutip Swami Vivekananda, Sister Nivedita mengenang:

Cinta bukanlah cinta, demikian ditegaskan, kecuali jika cinta itu "tanpa alasan" atau tanpa suatu "motif" . . . . (CWSN 1: 52)

64. Tentang Swami Vivekananda, Sister Nivedita menulis:

Ketika ditanya oleh sebagian umatnya sendiri tentang apa yang ia anggap, setelah melihat mereka di negeri mereka sendiri, sebagai pencapaian terbesar bangsa Inggris, ia menjawab "bahwa mereka telah mengetahui cara memadukan ketaatan dengan harga diri". (CWSN 1: 54)

65. Swami Sadananda menuturkan bahwa pagi-pagi sekali, ketika hari masih gelap, Swami Vivekananda akan bangun dan memanggil yang lain, sambil bernyanyi:

"Bangunlah! Bangunlah! kalian semua yang ingin meneguk nektar ilahi!" (CWSN 1: 56)

66. Sister Nivedita mengenang:

Pada masa ini [selama hari-hari pengembaraan Swami, di dekat Almora] ia menghabiskan beberapa bulan di sebuah goa yang menggantung di atas sebuah desa pegunungan. Hanya dua kali aku pernah mendengarnya menyinggung pengalaman ini. Suatu kali ia berkata, "Tidak ada apa pun dalam seluruh hidupku yang pernah begitu memenuhi diriku dengan rasa adanya pekerjaan yang harus dilakukan. Seolah-olah aku terlempar keluar dari kehidupan di dalam goa-goa itu untuk mengembara ke sana kemari di dataran-dataran di bawah." Dan sekali lagi ia berkata kepada seseorang, "Bukan bentuk lahiriah kehidupannyalah yang menjadikan seseorang seorang Sadhu. Sebab mungkin saja seseorang duduk di dalam sebuah goa dengan seluruh pikirannya dipenuhi pertanyaan tentang berapa potong roti yang akan dibawakan kepadanya untuk santap malam!" (CWSN 1: 61)

67. Tentang puisinya sendiri yang berjudul "Kali Sang Ibu":

"Menebarkan wabah dan duka cita," ia mengutip dari sajaknya sendiri,

Menari gila oleh suka cita,

Datanglah, Ibu, datanglah!

Sebab teror adalah nama-Mu!

Maut — ada dalam napas-Mu.

Dan setiap langkah-Mu yang menggetarkan

Menghancurkan suatu dunia untuk selama-lamanya.

"Semuanya menjadi nyata, setiap kata darinya," ia menyela dirinya sendiri untuk berkata.

Barang siapa berani mencintai derita,

Menarilah dalam tarian Kehancuran,

Dan peluklah wujud maut, . . .

"Kepadanya Sang Ibu sungguh-sungguh datang. Aku telah membuktikannya. Sebab aku telah memeluk wujud Maut!" (CWSN 1: 98-99)

68. Sister Nivedita, mengacu pada rencananya untuk mendirikan sebuah sekolah putri:

Hanya dalam satu hal sajalah ia [Swami Vivekananda] tidak dapat ditawar. Pekerjaan untuk pendidikan kaum perempuan India, yang kepadanya ia akan memberikan namanya, boleh saja sesektarian apa pun yang kupilih untuk kubuat. "Engkau hendak melampaui segala sekte melalui sebuah sekte." (CWSN 1: 102)

69. Mengomentari kunjungan Sister Nivedita ke tempat tinggal Gopaler-Ma — sebuah bilik kecil:

"Ah! inilah India yang lama yang telah engkau saksikan, India doa dan air mata, India tirakat dan puasa, yang kini sedang berlalu, tidak akan pernah kembali!" (CWSN 1: 109)

>70. Tentang tujuan-tujuan Tarekat Ramakrishna:

Maksud yang sama berbicara kembali dalam definisinya tentang tujuan-tujuan Tarekat Ramakrishna — "untuk mewujudkan suatu pertukaran cita-cita tertinggi antara Timur dan Barat serta untuk mewujudnyatakannya dalam praktik" . . . . (CWSN 1: 113)

71. Setelah mengajarkan kepada Sister Nivedita pemujaan kepada Shiva, Swami Vivekananda kemudian memuncakkannya dengan suatu persembahan bunga di kaki Buddha. Ia berkata, seolah-olah menyapa setiap jiwa yang kelak akan datang kepadanya untuk meminta bimbingan:

"Pergilah engkau dan ikutilah Dia, yang telah lahir dan menyerahkan hidup-Nya bagi orang lain lima ratus kali sebelum Ia mencapai penglihatan sebagai Buddha!" (CWSN 1: 114)

72. Sekembalinya dari suatu ziarah di Kashmir:

"Dewa-dewa ini bukan sekadar lambang! Mereka adalah wujud-wujud yang telah dilihat oleh para Bhakta!" (CWSN 1: 120)

73. Kenangan Sister Nivedita tentang kata-kata Swami Vivekananda yang didengarnya jauh sebelumnya:

"Tuhan yang Impersonal, jika dilihat melalui kabut indra, menjadi personal." (CWSN 1: 120)

74. Komentar Swami Vivekananda ketika ia diingatkan tentang langkanya kejahatan di India:

"Semoga Tuhan menjadikannya tidak demikian di negeriku, sebab ini sesungguhnya adalah keutamaan kematian!" (CWSN 1: 123)

75. Swami Vivekananda berkata:

"Seluruh kehidupan hanyalah sebuah nyanyian angsa! Janganlah pernah lupakan baris-baris ini:

Singa, ketika terluka hingga ke jantungnya,

melontarkan auman terdahsyatnya.

Ketika kepalanya dipukul, kobra mengangkat tudungnya.

Dan keagungan jiwa muncul ke permukaan,

hanya ketika seseorang terluka hingga ke lubuk terdalamnya."

(CWSN 1: 124)

76. Setelah mendengar tentang wafatnya Shri Durga Charan Nag (Nag Mahashay):

"[Ia] adalah salah satu dari karya-karya terbesar Ramakrishna Paramahamsa." (CWSN 1: 129)

77. Tentang daya pengubah Shri Ramakrishna, Swami Vivekananda berkata:

"Apakah suatu gurauan jika Ramakrishna Paramahamsa menyentuh sebuah kehidupan? Tentu saja ia menjadikan manusia baru, baik pria maupun wanita, dari mereka yang datang kepadanya, bahkan dalam perjumpaan-perjumpaan sekilas itu!" (CWSN 1: 130)

78. Sewaktu berbicara tentang semangat sejati seorang Sannyasin, Swami Vivekananda berkata:

"Aku melihat banyak orang besar di Hrishikesh. Salah satu kasus yang kuingat adalah tentang seorang yang tampak gila. Ia berjalan dengan telanjang menuruni jalan, dengan anak-anak lelaki mengejarnya dan melemparinya dengan batu. Seluruh tubuh orang itu meluap-luap dengan tawa sementara darah mengalir di wajah dan lehernya. Aku membawanya dan membasuh lukanya, menaburkan abu padanya untuk menghentikan pendarahan. Dan sepanjang waktu dengan derai tawa ia menceritakan kepadaku tentang keseruan yang dialaminya bersama anak-anak lelaki itu, melempar-lemparkan batu. 'Demikianlah Sang Bapa bermain,' katanya.

"Banyak dari orang-orang ini bersembunyi, untuk menjaga diri mereka dari gangguan. Orang-orang merupakan beban bagi mereka. Salah seorang membiarkan tulang-belulang manusia berserakan di sekitar goanya dan mengabarkan bahwa ia hidup dari mayat. Yang lain melempari orang dengan batu. Dan seterusnya. . . .

"Kadang-kadang hal itu menimpa mereka dalam sekejap kilat. Ada seorang anak lelaki, misalnya, yang dahulu biasa datang untuk membaca Upanishad bersama Abhedananda. Suatu hari ia menoleh dan berkata, 'Tuan, apakah semua ini benar-benar nyata?'

"'Oh, ya!' kata Abhedananda, 'Mungkin sulit untuk merealisasikannya, tetapi hal itu sungguh benar.'

"Dan keesokan harinya, anak lelaki itu telah menjadi seorang Sannyasin (pertapa pelepas keduniawian) yang membisu, telanjang, dalam perjalanan menuju Kedarnath!

"Apa yang terjadi padanya? Anda bertanya. Ia menjadi membisu!

"Tetapi sang Sannyasin tidak perlu lagi memuja, atau pergi berziarah, ataupun melakukan laku tapa. Lalu apakah motif dari semua perjalanan ini, dari ziarah ke ziarah, dari kuil ke kuil, dan dari laku tapa ke laku tapa? Ia sedang menghimpun jasa kebajikan dan memberikannya kepada dunia!" (CWSN 1: 133)

79. Mengacu pada kisah Shibi Rana:

"Ah, ya! Inilah kisah-kisah yang tertanam dalam-dalam di hati bangsa kita! Jangan pernah lupa bahwa sang Sannyasin mengucapkan dua ikrar: yang satu untuk merealisasikan kebenaran dan yang satu lagi untuk menolong dunia — dan bahwa syarat yang paling keras dari segala syarat ialah bahwa ia harus melepaskan segala pikiran tentang surga!" (CWSN 1: 134)

80. Kepada Sister Nivedita:

"Gita menyatakan bahwa ada tiga macam amal: yang Tamasik, yang Rajasik, dan yang Sattvik. Amal Tamasik dilakukan atas dorongan sesaat. Amal itu selalu membuat kesalahan. Sang pelaku tidak memikirkan apa pun selain dorongannya sendiri untuk berbuat baik. Amal Rajasik ialah apa yang dilakukan seseorang demi kemuliaannya sendiri. Dan amal Sattvik ialah amal yang diberikan kepada orang yang tepat, dengan cara yang tepat, dan pada saat yang tepat. . . .

"Bila menyangkut yang Sattvik, semakin lama saya semakin teringat pada seorang wanita Barat yang agung, pada dirinya saya telah menyaksikan pemberian yang tenang itu, selalu kepada orang yang tepat dengan cara yang tepat, pada saat yang tepat, dan tak pernah membuat kesalahan.

"Bagi saya sendiri, saya telah belajar bahwa bahkan amal pun dapat berlebihan. . . .

"Seiring bertambahnya usia, saya mendapati bahwa saya semakin mencari keagungan dalam hal-hal kecil. Saya ingin tahu apa yang dimakan dan dikenakan oleh seorang manusia agung, dan bagaimana ia berbicara kepada para pelayannya. Saya ingin menemukan keagungan seorang Sir Philip Sidney (Sir Philip Sidney (1554-1586): penyair, prajurit, dan politikus Inggris.)! Sedikit orang yang akan mengingat dahaga orang lain, bahkan pada saat kematian.

"Tetapi siapa pun akan tampak agung dalam kedudukan yang agung! Bahkan si pengecut pun akan menjadi berani di bawah sorot lampu panggung. Dunia menyaksikan. Hati siapa yang tak akan berdebar? Denyut nadi siapa yang tak akan berdetak lebih cepat sampai ia dapat berbuat sebaik-baiknya?

"Semakin lama, keagungan sejati bagi saya tampaknya ialah keagungan seekor ulat yang menunaikan tugasnya dengan diam, mantap, dari saat ke saat dan dari jam ke jam." (CWSN 1: 137)

81. Mengacu pada sang individu agung — penjelmaan ilahi, sang Guru, dan sang Rishi (orang bijak penglihat kebenaran):

"Anda belum memahami India! Bagaimanapun, kami orang India adalah para pemuja manusia! Tuhan kami adalah manusia!" (CWSN 1: 144)

82. Pada kesempatan lain, Swami Vivekananda menggunakan kata "para pemuja manusia" dalam pengertian yang sama sekali berbeda:

"Gagasan tentang pemujaan manusia ini ada dalam bentuk benih di India, tetapi belum pernah dikembangkan. Anda harus mengembangkannya. Jadikanlah ia puisi, jadikanlah ia seni. Tegakkanlah pemujaan terhadap kaki para pengemis sebagaimana yang Anda miliki di Eropa Abad Pertengahan. Jadikanlah orang-orang sebagai pemuja manusia." (CWSN 1: 144-45)

83. Kepada Sister Nivedita:

"Ada sebuah sekte Muslim yang aneh yang dikabarkan begitu fanatik sehingga mereka mengambil setiap bayi yang baru lahir dan membiarkannya terlantar, sambil berkata, 'Jika Tuhan yang menciptakanmu, binasalah! Jika Ali yang menciptakanmu, hiduplah!' Nah, apa yang mereka katakan kepada anak itu, saya katakan, tetapi dalam pengertian yang berlawanan, kepada Anda malam ini: 'Pergilah ke dunia, dan di sana, jika sayalah yang menciptakanmu, binasalah! Jika Sang Ibu yang menciptakanmu, hiduplah!'" (CWSN 1: 151)

84. Lama setelah para hartawan dari kawasan Selatan di Amerika meminta maaf kepada Vivekananda ketika mereka mengetahui bahwa beliau telah dikira sebagai seorang Negro dan karena itu ditolak masuk ke hotel-hotel, Sang Swami berkata kepada dirinya sendiri:

"Apa! Bangkit dengan mengorbankan orang lain! Saya tidak datang ke bumi untuk itu! . . . Jika saya berterima kasih kepada leluhur Arya saya yang berkulit putih, saya jauh lebih berterima kasih lagi kepada leluhur Mongol saya yang berkulit kuning, dan paling berterima kasih dari semuanya kepada leluhur Negritoid saya yang berkulit hitam!" (CWSN 1: 153)

85. Mengomentari sel-sel penjara bawah tanah para tawanan abad pertengahan di Mont-Saint-Michel:

(CWSN 1: 154)

"Oh, saya tahu saya telah mengembara ke seluruh penjuru bumi, tetapi di India saya tidak mencari apa pun selain goa untuk bermeditasi!" (Ibid.)

86. Meskipun beliau menganggap keturunan Kekaisaran Romawi bersifat kejam dan gagasan Jepang tentang pernikahan sebagai sesuatu yang mengerikan, Swami Vivekananda tetap saja merangkum ideal-ideal yang membangun, dan bukan kekurangan-kekurangan, dari suatu masyarakat:

"Untuk patriotisme, orang Jepang! Untuk kesucian, orang Hindu! Dan untuk kejantanan, orang Eropa! Tidak ada lagi orang lain di dunia yang memahami, seperti orang Inggris, apa yang seharusnya menjadi kemuliaan seorang manusia!" (CWSN 1: 160)

87. Swami Vivekananda berkata tentang dirinya sendiri sebelum beliau berangkat ke Amerika pada tahun 1893:

"Saya pergi untuk mengkhotbahkan suatu agama yang Buddhisme tak lebih dari sekadar anak pemberontaknya, dan Kekristenan, dengan segala dalih-dalihnya, hanyalah gemanya yang jauh!" (CWSN 1: 161)

88. Menggambarkan malam ketika Buddha meninggalkan istrinya untuk melepaskan keduniawian, Swami Vivekananda berkata:

"Apakah persoalan yang menyiksanya? Tentu saja! Persoalan itu ialah istri yang hendak ia korbankan demi dunia! Itulah pergulatannya! Ia tidak mempedulikan dirinya sendiri sama sekali!" (CWSN 1: 172)

89. Setelah menggambarkan perpisahan Buddha yang mengharukan dengan istrinya, Sang Swami berkata:

"Pernahkah Anda memikirkan hati para pahlawan? Betapa mereka agung, agung, agung — dan selembut mentega?" (CWSN 1: 172)

90. Gambaran Swami Vivekananda tentang kematian Buddha dan kemiripannya dengan kematian Shri Ramakrishna:

Beliau menceritakan bagaimana selimut telah dibentangkan untuknya di bawah pohon dan bagaimana Sang Mahasuci telah berbaring, "bersandar pada sisi kanannya bagaikan seekor singa" untuk menyongsong kematian, ketika tiba-tiba datang kepadanya seseorang yang berlari untuk meminta pengajaran. Para murid hendak memperlakukan orang itu sebagai pengganggu, dengan menjaga ketenangan dengan segala cara di seputar ranjang kematian Sang Guru, tetapi Sang Mahasuci mendengarnya, dan sambil berkata, "Tidak, tidak! Ia yang diutus (Harfiah, "Sang Tathagata". "Sebuah kata," demikian Swami Vivekananda menjelaskan, "yang sangat mirip dengan 'Mesias' kalian.") senantiasa siap sedia," beliau mengangkat dirinya dengan bertumpu pada siku dan mengajar. Hal ini terjadi empat kali, dan kemudian, barulah Buddha merasa bebas untuk wafat. "Tetapi sebelumnya beliau berbicara untuk menegur Ananda yang menangis. Sang Buddha bukanlah seorang pribadi, melainkan suatu realisasi, dan kepada realisasi itu siapa pun di antara mereka dapat mencapainya. Dan dengan napas terakhirnya, beliau melarang mereka untuk memuja siapa pun."

Kisah yang abadi itu berlanjut sampai akhirnya. Tetapi bagi seseorang yang mendengarkan, saat yang paling bermakna ialah saat ketika sang penutur berhenti sejenak — pada kata-katanya sendiri "mengangkat dirinya dengan bertumpu pada siku dan mengajar" — dan berkata, dalam selipan kalimat yang ringkas, "Saya menyaksikan hal ini, Anda tahu, dalam kasus Ramakrishna Paramahamsa." Dan terbayanglah di benak kisah seseorang, yang ditakdirkan untuk belajar dari guru itu, yang telah menempuh perjalanan seratus mil, dan tiba di Cossipore tepat ketika beliau sedang sekarat. Di sini pun para murid hendak menolak kedatangannya, tetapi Shri Ramakrishna turun tangan, dengan bersikeras untuk menerima sang pendatang baru, dan mengajarnya. (CWSN 1: 175-176)

91. Mengomentari makna historis dan filosofis dari ajaran Buddhisme:

"Bentuk, perasaan, sensasi, gerak, dan pengetahuan adalah lima kategori yang senantiasa mengalir dan melebur. Dan di dalamnya terletak Maya (ilusi kosmik). Tentang gelombang mana pun, tidak ada yang dapat dinyatakan, sebab ia tidak ada. Ia hanya pernah ada dan kini telah lenyap. Ketahuilah, wahai Manusia, engkau adalah samudra itu! Ah, inilah filsafat Kapila, tetapi murid agungnya [Buddha] menghadirkan hati untuk menjadikannya hidup!" (CWSN 1: 176)

92. Mengenai Konsili Pertama umat Buddhis dan perselisihan tentang Ketuanya:

"Dapatkah Anda membayangkan betapa besar kekuatan mereka? Seorang berkata bahwa Ananda-lah yang seharusnya menjadi Ketua, sebab ia paling mengasihi Beliau. Tetapi seorang lain melangkah maju dan berkata, tidak! sebab Ananda telah bersalah karena menangis di ranjang kematian. Dan dengan demikian, ia dilewatkan!" (CWSN 1: 177)

93. Menganggap reinkarnasi sebagai suatu "spekulasi ilmiah" alih-alih sebagai butir keyakinan iman:

"Lihatlah, satu kali kehidupan dalam tubuh ini sudah bagaikan sejuta tahun pengurungan, dan mereka masih ingin membangkitkan kenangan akan banyak kehidupan! Cukuplah penderitaan sehari untuk hari itu sendiri! . . . Ya! Buddhisme pastilah benar! Reinkarnasi hanyalah fatamorgana! Tetapi penglihatan ini hanya dapat dicapai melalui jalan Advaita (ketidakduaan) semata!" (CWSN 1: 180-81)

94. "Seandainya saya hidup di Palestina, pada masa Yesus dari Nazaret, saya akan membasuh kaki-Nya, bukan dengan air mata saya, melainkan dengan darah hati saya!" (CWSN 1: 189)

95. "Bagi penganut Advaita, oleh karena itu, satu-satunya motif ialah kasih. . . . Sang Juru Selamatlah yang seharusnya melangkah di jalannya dengan bersukacita, bukan ia yang diselamatkan!" (CWSN 1: 197-98)

96. Tentang perlunya pengekangan diri dalam kehidupan seorang murid:

"Berjuanglah untuk merealisasikan dirimu sendiri tanpa setitik pun emosi! . . . Saksikanlah gugurnya dedaunan, tetapi himpunlah sentimen dari pemandangan itu dari dalam batinmu pada suatu saat di kemudian hari!" (CWSN 1: 207)

"Camkanlah! Jangan ada roti dan ikan! Jangan ada gemerlap dunia! Semua ini harus dipangkas habis. Ia harus dicabut sampai ke akar-akarnya. Ia adalah sentimentalitas — luapan dari indra. Ia datang kepadamu dalam warna, penglihatan, suara, dan kenangan-kenangan terkait. Pangkaslah ia. Belajarlah untuk membencinya. Ia adalah racun yang teramat keji!" (Ibid., 207-208)

97. Tentang nilai dari tipe-tipe bangsa:

"Dua ras yang berbeda bercampur dan melebur, dan dari keduanya bangkit satu tipe yang kuat dan khas. Suatu tipe yang kuat dan khas selalu merupakan landasan jasmaniah dari cakrawala. Sungguh baik berbicara tentang universalisme, tetapi dunia tidak akan siap untuk itu selama berjuta-juta tahun!

"Ingatlah! Jika Anda ingin tahu seperti apa rupa sebuah kapal, kapal itu harus dirinci sebagaimana adanya — panjangnya, lebarnya, bentuknya, dan bahannya. Dan untuk memahami suatu bangsa, kita harus melakukan hal yang sama. India adalah pemuja arca. Anda harus menolongnya sebagaimana adanya. Mereka yang telah meninggalkannya tidak dapat berbuat apa-apa baginya!" (CWSN 1: 209)

98. Menggambarkan ideal Brahmacharya (kehidupan suci dan selibat) India dalam kehidupan seorang pelajar, Swami Vivekananda berkata:

"Brahmacharya seharusnya bagaikan api yang berkobar di dalam pembuluh darah!" (CWSN 1: 216)

99. Mengenai pernikahan yang diatur alih-alih atas pilihan sendiri, Swami Vivekananda berkata:

"Begitu banyak penderitaan di negeri ini! Begitu banyak penderitaan! Sebagian, tentu saja, pastilah selalu ada. Tetapi kini pemandangan akan orang-orang Eropa dengan adat mereka yang berbeda telah menambah penderitaan itu. Masyarakat tahu bahwa ada jalan lain!

[Kepada seorang Eropa] "Kami telah mengagungkan keibuan dan kalian telah mengagungkan kebaktian sebagai istri; dan menurut saya, keduanya mungkin dapat memperoleh manfaat dari suatu pertukaran.

"Di India, sang istri tak boleh bermimpi untuk mengasihi bahkan seorang putra sebagaimana ia mengasihi suaminya. Ia harus menjadi Sati (istri yang setia dan suci). Tetapi sang suami tidak seharusnya mengasihi istrinya sebagaimana ia mengasihi ibunya. Karenanya, kasih sayang yang berbalas tidak dianggap setinggi kasih sayang yang tak berbalas. Hal itu dianggap 'berdagang'. Sukacita dari sentuhan antara suami dan istri tidak diakui di India. Hal ini harus kami pinjam dari Dunia Barat. Ideal kami perlu disegarkan oleh ideal kalian. Dan kalian, sebaliknya, memerlukan sedikit dari pengabdian kami terhadap keibuan." (CWSN 1: 221-22)

100. Berbicara kepada seorang murid dengan penuh welas asih:

"Anda tak perlu cemas jika bayang-bayang tentang rumah dan pernikahan ini sesekali melintas di benak Anda. Bahkan kepada saya pun, bayang-bayang itu sekali-sekali datang!" (CWSN 1: 222)

101. Ketika mendengar tentang kesepian yang mendalam dari seorang sahabat:

"Setiap pekerja merasakan hal seperti itu pada saat-saat tertentu!" (CWSN 1: 222)

102. Mengenai ideal kerahiban dan non-kerahiban dalam Hindu dan Buddhisme:

"Kemuliaan Hinduisme terletak pada kenyataan bahwa walaupun ia telah merumuskan ideal-ideal, ia tidak pernah berani mengatakan bahwa salah satu dari ideal-ideal itu saja merupakan satu-satunya jalan yang sejati. Dalam hal ini ia berbeda dari Buddhisme, yang mengagungkan kerahiban di atas segala jalan lainnya sebagai jalan yang harus ditempuh oleh segala jiwa untuk mencapai kesempurnaan. Kisah yang terdapat dalam Mahabharata tentang seorang santo muda yang diperintahkan untuk mencari pencerahan, mula-mula dari seorang wanita yang telah bersuami dan kemudian dari seorang jagal, sudah cukup untuk menunjukkan hal ini. 'Dengan menunaikan tugasku,' kata masing-masing dari mereka ketika ditanya, 'dengan menunaikan tugasku dalam kedudukanku sendiri, telah kuperoleh pengetahuan ini.' Maka tidak ada satu pun jalan kehidupan yang tak mungkin menjadi jalan menuju Tuhan. Pada akhirnya, persoalan pencapaian semata-mata bergantung pada dahaga jiwa." (CWSN 1: 223)

103. Berkaitan dengan gagasan bahwa sang pencinta selalu melihat ideal di dalam diri yang dicintainya, Swami Vivekananda menanggapi pengakuan cinta yang baru saja diucapkan seorang gadis:

"Berpeganglah erat pada penglihatan ini! Selama kalian berdua dapat melihat ideal di dalam diri satu sama lain, pemujaan dan kebahagiaan kalian akan kian bertumbuh, bukannya berkurang." (CWSN 1: 224)

104. "Kebenaran yang tertinggi selalu yang paling sederhana." (CWSN 1: 226)

105. Komentar Swami Vivekananda tentang séance (pemanggilan arwah) di Amerika:

"Selalu penipuan yang terbesar dengan sarana yang paling sederhana." (CWSN 1: 233)

106. Tentang pandangan Barat dan Timur mengenai seseorang sebagai tubuh atau jiwa:

"Bahasa-bahasa Barat menyatakan bahwa manusia adalah sebuah tubuh dan memiliki sebuah jiwa; bahasa-bahasa Timur menyatakan bahwa ia adalah sebuah jiwa dan memiliki sebuah tubuh." (CWSN 1: 236-37)

107. Mengenai penghormatan Swami Vivekananda terhadap Guru beliau:

"Saya dapat mengkritik bahkan seorang Avatara [penjelmaan ilahi] tanpa sedikit pun mengurangi kasih saya kepadanya! Tetapi saya tahu betul bahwa kebanyakan orang tidaklah demikian; dan bagi mereka, paling amanlah untuk melindungi Bhakti mereka sendiri!" (CWSN 1: 252)

"Pengabdian saya adalah pengabdian seekor anjing! Saya tidak ingin tahu mengapa! Saya cukup puas hanya dengan mengikuti!" (Ibid., 252-53)

108. "Ramakrishna Paramahamsa dahulu biasa memulai setiap hari dengan berjalan mondar-mandir di kamarnya selama beberapa jam, sambil mengucapkan 'Satchidananda!' atau 'Shivoham!' atau suatu kata suci lainnya." (CWSN 1: 255)

109. Beberapa bulan sebelum wafatnya, Swami Vivekananda berkata:

"Betapa sering seorang manusia merusak para muridnya dengan terus-menerus bersama mereka! Bila orang-orang telah dilatih, sangatlah penting bahwa pemimpin mereka meninggalkan mereka; sebab tanpa ketiadaannya, mereka tidak dapat mengembangkan diri mereka sendiri!" (CWSN 1: 260)

110. Beberapa hari sebelum wafatnya, Sang Swami berkata:

"Saya sedang bersiap-siap untuk kematian. Suatu Tapasya (laku tapa) dan meditasi yang agung telah menimpa saya, dan saya sedang bersiap-siap untuk kematian." (CWSN 1: 261-62)

111. Di Kashmir, setelah suatu masa sakit, Swami Vivekananda berkata sambil mengangkat dua butir kerikil:

"Kapan pun kematian mendekati saya, segala kelemahan lenyap. Saya tidak memiliki rasa takut, tidak pula keraguan, tidak pula pikiran tentang hal-hal lahiriah. Saya sekadar menyibukkan diri dengan bersiap-siap untuk mati. Saya sekeras itu [kerikil-kerikil itu beradu satu sama lain di tangannya] — sebab saya telah menyentuh kaki Tuhan!" (CWSN 1: 262)

English

SAYINGS AND UTTERANCES

LIST OF ABBREVIATIONS

In this section, only Swami Vivekananda's direct words have been placed within quotation marks. References have been identified by the following abbreviations:

ND → Burke, Marie Louise. Swami Vivekananda in the West: New Discoveries. 6 vols. Calcutta: Advaita Ashrama, 1983-87.

CWSN → Nivedita, Sister. The Complete Works of Sister Nivedita. Vol. 1. Calcutta: Advaita Ashrama, 1982.

LSN → Nivedita, Sister. Letters of Sister Nivedita. 2 vols. Compiled and edited by Sankari Prasad Basu. Calcutta: Nababharat Publishers, 1982.

VIN → Basu, Sankari Prasad and Ghosh, Sunil Bihari, eds. Vivekananda in Indian Newspapers: 1893-1902. Calcutta: Dineshchandra Basu, Basu Bhattacharya and Co., 1969.

1. From Mrs. Prince Woods's description of Swami Vivekananda's departure from the Woods's residence in Salem, Massachusetts, in August 1893. Swami Vivekananda gave his staff, his most precious possession, to Dr. Woods, who was at that time a young medical student, and his trunk and his blanket to Mrs. Kate T. Woods, saying:

"Only my most precious possessions should I give to my friends who have made me at home in this great country." (ND 1: 42)

2. On the back of Swami Vivekananda's transcription from Louis Rousselet's book India and Its Native Princes —Travels in Central India and in the Presidencies of Bombay and Bengal, dated February 11, 1894:

"I say there is but one remedy for one too anxious for the future — to go down on his knees." (ND 1: 225)

3. An extract from a prayer Swami Vivekananda delivered at the Chicago World's Parliament of Religions:

"Thou art He that beareth the burdens of the universe; help me to bear the little burden of this life." (ND 2: 32)

4. An extract from another prayer offered by Swami Vivekananda at the Chicago World's Parliament of Religions:

"At the head of all these laws, in and through every particle of matter and force, stands One through whose command the wind blows, the fire burns, the clouds rain, and death stalks upon the earth. And what is His nature? He is everywhere the pure and formless One, the Almighty and the All Merciful. Thou art our Father. Thou art our beloved Friend." (ND 2: 33)

5. From Mary T. Wright's journal entry dated Saturday, May 12, 1894:

The widows of high caste in India do not marry, he said; only the widows of low caste may marry, may eat, drink, dance, have as many husbands as they choose, divorce them all, in short enjoy all the benefits of the highest society in this country. . . .

"When we are fanatical", he said, "we torture ourselves, we throw ourselves under huge cars, we cut our throats, we lie on spiked beds; but when you are fanatical you cut other people's throats, you torture them by fire and put them on spiked beds! You take very good care of your own skins!" (ND 2: 58-59)

6. An 1894 extract from the Greenacre Voice, quoting one of the Swami's teachings delivered at Greenacre, Maine:

"You and I and everything in the universe are that Absolute, not parts, but the whole. You are the whole of that Absolute." (ND 2: 150)

7. In a March 5, 1899 letter from Sister Nivedita to Miss Josephine MacLeod:

"I am at heart a mystic, Margot, all this reasoning is only apparent — I am really always on the lookout for signs and things — and so I never bother about the fate of my initiations. If they want to be Sannyâsins badly enough I feel that the rest is not my business. Of course it has its bad side. I have to pay dearly for my blunder sometimes — but it has one advantage. It has kept me still a Sannyasin through all this — and that is my ambition, to die a real Sannyasin as Ramakrishna Paramahamsa actually was — free from lust — and desire of wealth, and thirst for fame. That thirst for fame is the worst of all filth." (ND 3: 128-29)

8. From John Henry Wright's March 27, 1896 letter to Mary Tappan Wright, in which Swami Vivekananda stated that England is just like India with its castes:

"I had to have separate classes for the two castes. For the high caste people — Lady This and Lady That, Honourable This and Honourable That — I had classes in the morning; for the low caste people, who came pell-mell, I had classes in the evening." (ND 4: 73)

9. While Swami Vivekananda was offering flowers at the feet of the Virgin Mary in a small chapel in Switzerland in the summer of 1896, he said:

"For she also is the Mother." (ND 4: 276)

10. From Mr. J. J. Goodwin's October 23, 1896 letter to Mrs. Ole Bull, quoting Swami Vivekananda's conversation at Greycoat Gardens in London

"It is very good to have a high ideal, but don't make it too high. A high ideal raises mankind, but an impossible ideal lowers them from the very impossibility of the case." (ND 4: 385)

11. A November 20, 1896 entry from Swami Abhedananda's diary, quoting Swami Vivekananda's observation of the English people:

"You can't make friends here without knowing their customs, behaviour, politics. You have to know the manners of the rich, the cultured and the poor." (ND 4: 478)

12. In Mr. J. J. Goodwin's November 11, 1896 letter to Mrs. Ole Bull, quoting Swami Vivekananda's unpublished statement toward the end of "Practical Vedanta — IV":

"A Jiva can never attain absolutely to Brahman until the whole of Mâyâ disappears. While there is still a Jiva left in Maya, there can be no soul absolutely free. . . . Vedantists are divided on this point." (ND 4: 481)

13. From Swami Saradananda's letter to a brother-disciple, concerning Swami Vivekananda's last days:

Sometimes he would say, "Death has come to my bedside; I have been through enough of work and play; let the world realize what contribution I have made; it will take quite a long time to understand that". (ND 4: 521)

14. In an October 13, 1898 letter to Mrs. Ashton Jonson, written from Kashmir, Sister Nivedita described Swami Vivekananda's spiritual mood:

To him at this moment "doing good" seems horrible. "Only the Mother does anything. Patriotism is a mistake. Everything is a mistake. It is all Mother. . . . All men are good. Only we cannot reach all. . . . I am never going to teach any more. Who am I that I should teach anyone? . . . Swamiji is dead and gone." (ND 5: 3-4)

15. From Mr. Sachindranath Basu's letter recounting Swami Vivekananda's closing remarks in his talk to swamis and novices assembled at Belur Math, June 19, 1899:

"My sons, all of you be men. This is what I want! If you are even a little successful, I shall feel my life has been meaningful." (ND 5: 17)

16. During an evening talk with Swami Saradananda in the spring of 1899:

"Men should be taught to be practical, physically strong. A dozen such lions will conquer the world, not millions of sheep. Men should not be taught to imitate a personal ideal, however great." (ND 5: 17)

17. From Mrs. Mary C. Funke's reminiscences of her August 1899 voyage to America with Swamis Vivekananda and Turiyananda:

"And if all this Maya is so beautiful, think of the wondrous beauty of the Reality behind it!" (ND 5: 76)

"Why recite poetry when there [pointing to sea and sky] is the very essence of poetry?" (Ibid.)

18. In Miss Josephine MacLeod's September 3, 1899 letter to Mrs. Ole Bull:

"In one's greatest hour of need one stands alone." (ND 5: 122)

19. From Sister Nivedita's October 27, 1899 diary entry at Ridgely Manor, in which Swami Vivekananda expressed his concern for Olea Bull Vaughn:

"Nightmares always begin pleasantly — only at the worst point [the] dream is broken — so death breaks [the] dream of life. Love death." (ND 5: 138)

20. In a December 1899 letter from Miss Josephine MacLeod to Sister Nivedita:

"All the ideas the Californians have of me emanated from Chicago." (ND 5: 179)

21. From Mrs. Alice Hansbrough's reminiscences which quoted Swami Vivekananda as telling Mr. Baumgardt:

"I can talk on the same subject, but it will not be the same lecture." (ND 5: 230)

22. Mrs. Alice Hansbrough's reminiscences relating Swami Vivekananda's response to her sight-seeing attempts:

"Do not show me sights. I have seen the Himalayas! I would not go ten steps to see sights; but I would go a thousand miles to see a [great] human being!" (ND 5: 244)

23. From Mrs. Alice Hansbrough's reminiscences relating Swami Vivekananda's interest in the problem of child training:

He did not believe in punishment. It had never helped him, he said, and added, "I would never do anything to make a child afraid". (ND 5: 253)

24. Mrs. Alice Hansbrough's record of Swami Vivekananda's explanation of God to seventeen-year-old Ralph Wyckoff:

"Can you see your own eyes? God is like that. He is as close as your own eyes. He is your own, even though you can't see Him." (ND 5: 254)

25. Mrs. Alice Hansbrough's reminiscences regarding Swami Vivekananda's opinion of the low-caste English soldiers who occupied India:

"If anyone should despoil the Englishman's home, the Englishman would kill him, and rightly so. But the Hindu just sits and whines!

"Do you think that a handful of Englishmen could rule India if we had a militant spirit? I teach meat-eating throughout the length and breadth of India in the hope that we can build a militant spirit!" (ND 5: 256)

26. Mrs. Alice Hansbrough's reminiscences of a picnic in Pasadena, California when a Christian Science woman suggested to Swami Vivekananda that one should teach people to be good:

"Why should I desire to be 'good'? All this is His handiwork [waving his hand to indicate the trees and the countryside]. Shall I apologize for His handiwork? If you want to reform John Doe, go and live with him; don't try to reform him. If you have any of the Divine Fire, he will catch it." (ND 5: 257)

27. From Mrs. Alice Hansbrough's reminiscences:

"When once you consider an action, do not let anything dissuade you. Consult your heart, not others, and then follow its dictates." (ND 5: 311)

28. From Mr. Frank Rhodehamel's notes taken during a March 1900 lecture in Oakland, California:

"Never loved a husband the wife for the wife's sake, or the wife the husband for the husband's sake. It is God in the wife the husband loves, and God in the husband the wife loves. (Cf. Brihadâranyaka Upanishad II.4.5.) It is God in everyone that draws us to that one in love. [It is] God in everything, in everybody that makes us love. God is the only love. . . . In everyone is God, the Atman; all else is but dream, an illusion." (ND 5: 362)

29. From Mr. Frank Rhodehamel's notes taken during a March 1900 lecture in Oakland, California:

Oh, if you only knew yourselves! You are souls; you are gods. If ever I feel [that I am] blaspheming, it is when I call you man." (ND 5: 362)

30. An excerpt from Mr. Thomas J. Allan's reminiscences of Swami Vivekananda's March 1900 San Francisco lecture series on India:

"Send us mechanics to teach us how to use our hands, and we will send you missionaries to teach you spirituality." (ND 5: 365)

31. Mrs. Edith Allan's reminiscences of Swami Vivekananda's philosophical observations while cooking at the Turk Street flat:

"'The Lord dwells in the hearts of all beings, O Arjuna, by His illusive power causing all beings to revolve as though mounted on a potter's wheel.' [Bhagavad-Gitâ XVIII.61] This has all happened before, like the throw of a dice, so it is in life; the wheel goes on and the same combination comes up; that pitcher and glass have stood there before, so, too, that onion and potato. What can we do, Madam, He has us on the wheel of life." (ND 6: 17)

32. From Mrs. Edith Allan's reminiscences of an after-lunch conversation:

"The Master said he would come again in about two hundred years — and I will come with him. When a Master comes, he brings his own people." (ND 6: 17)

33. Mrs. Edith Allan's reminiscences of Swami Vivekananda's "kitchen" counsel while he was staying in San Francisco, California, in 1900:

"If I consider myself greater than the ant that crawls on the ground I am ignorant." (ND 6: 19)

"Madam, be broad—minded; always see two ways. When I am on the heights I say, 'Shivoham, Shivoham: I am He, I am He!' and when I have the stomachache I say, 'Mother have mercy on me!'" (Ibid.)

"Learn to be the witness. If two dogs are fighting on the street and I go out there, I get mixed up in the fight; but if I stay quietly in my room, I witness the fight from the window. So learn to be the witness." (Ibid.)

34. From Mr. Thomas J. Allan's reminiscences of a private talk with Swami Vivekananda in San Francisco, California, 1900:

"We do not progress from error to truth, but from truth to truth. Thus we must see that none can be blamed for what they are doing, because they are, at this time, doing the best they can. If a child has an open razor, don't try to take it from him, but give him a red apple or a brilliant toy, and he will drop the razor. But he who puts his hand in the fire will be burned; we learn only from experience." (ND 6: 42)

35. From Mrs. Alice Hansbrough's reminiscences of a walk home with Swami Vivekananda after one of his lectures in San Francisco in 1900:

"You have heard that Christ said, 'My words are spirit and they are life'. So are my words spirit and life; they will burn their way into your brain and you will never get away from them!" (ND 6: 57-58)

36. From Mrs. Alice Hansbrough's reminiscences in San Francisco, 1900 — referring to Swami Vivekananda's great heart:

"I may have to be born again because I have fallen in love with man." (ND 6: 79)

37. From Mrs. George Roorbach's reminiscences of Swami Vivekananda at Camp Taylor, California, in May 1900:

"In my first speech in this country, in Chicago, I addressed that audience as 'Sisters and Brothers of America', and you know that they all rose to their feet. You may wonder what made them do this, you may wonder if I had some strange power. Let me tell you that I did have a power and this is it — never once in my life did I allow myself to have even one sexual thought. I trained my mind, my thinking, and the powers that man usually uses along that line I put into a higher channel, and it developed a force so strong that nothing could resist it." (ND 6: 155)

38. In a conversation with Swami Turiyananda, which probably took place in New York:

"The call has come from Above: 'Come away, just come away — no need of troubling your head to teach others'. It is now the will of the Grand Old Lady (The “Grand Old Lady” was a figure in a children’s game, whose touch put one outside the game.) that the play should be over." (ND 6: 373)

39. In a July 1902 Prabuddha Bharata eulogy, "a Western disciple" wrote:

The Swami had but scant sympathy with iconoclasts, for as he wisely remarked, "The true philosopher strives to destroy nothing, but to help all". (VIN: 638)

40. Sister Nivedita's reminiscences of Swami Vivekananda in an October 9, 1899 letter to Miss Josephine MacLeod:

He has turned back on so much — "Let your life in the world be nothing but a thinking to yourself". (LSN I: 213)

41. Swami Vivekananda's luncheon remarks to Mrs. Ole Bull, recorded by Sister Nivedita in an October 18, 1899 letter to Miss Josephine MacLeod:

"You see, there is one thing called love, and there is another thing called union. And union is greater than love.

"I do not love religion. I have become identified with it. It is my life. So no man loves that thing in which his life has been spent, in which he really has accomplished something. That which we love is not yet ourself. Your husband did not love music for which he had always stood. He loved engineering in which as yet he knew comparatively little. This is the difference between Bhakti and Jnana; and this is why Jnana is greater than Bhakti." (LSN I: 216)

42. Swami Vivekananda's remarks on his spiritual ministry, recorded in Sister Nivedita's October 15, 1904 letter to Miss Josephine MacLeod:

"Only when they go away will they know how much they have received." (LSN

II: 686)

43. Sister Nivedita's reminiscences in a November 5, 1904 letter to Alberta Sturges (Lady Sandwich) of Swami Vivekananda's talk on renunciation while he was staying at Ridgely Manor:

"In India we never say that you should renounce a higher thing for a lower. It is better to be absorbed in music or in literature than in comfort or pleasure, and we never say otherwise." (LSN II: 690)

44. In Sister Nivedita's November 19, 1909 letter to Miss Josephine MacLeod:

"The fire burns if we plunge our hand in — whether we feel it or not — so it is with him who speaks the name of God." (LSN II: 1030)

45. Swami Vivekananda's reminiscences of Shri Ramakrishna, recorded in Sister Nivedita's July 6, 1910 letter to Dr. T. K. Cheyne:

"He could not imagine himself the teacher of anyone. He was like a man playing with balls of many colours, and leaving it to others to select which they would for themselves." (LSN II: 1110)

46. Sister Nivedita's reminiscences of a conversation with Swami Vivekananda at Ridgely Manor, recorded in an 1899 letter written from Ridgely Manor to Miss Josephine MacLeod:

I have never heard the Prophet talk so much of Shri Ramakrishna. He told us what I had heard before of [his master's] infallible judgement of men. . . .

"And so", Swami said, "you see my devotion is the dog's devotion. I have been wrong so often and he has always been right, and now I trust his judgement blindly". And then he told us how he would hypnotize anyone who came to him and in two minutes know all about him, and Swami said that from this he had learnt to count our consciousness as a very small thing. (LSN

II: 1263)

47. From Sister Nivedita's January 27, 1900 letter to Sister Christine:

Swami said today that he is beginning to see the needs of humanity in quite a different light — that he is already sure of the principle that is to help, but is spending hours every day in trying to solve the methods. That what he had known hitherto is for men living in a cave — alone, undisturbed — but now he will give "humanity something that will make for strength in the stress of daily life". (LSN II: 1264)

48. In a July 7, 1902 letter to Sister Christine, Sister Nivedita recorded one of Swami Vivekananda's remarks made while giving a class to the monks at Belur Math on July 4, 1902:

"Do not copy me. Kick out the man who imitates." (LSN II: 1270)

49. The Swami's comment after he made a statement concerning the ideal of the freedom of the soul, which brought it into apparent conflict with the Western conception of the service of humanity as the goal of the individual:

"You will say that this does not benefit society. But before this objection can be admitted you will first have to prove that the maintenance of society is an object in itself." (CWSN 1: 19)

50. Sister Nivedita wrote:

He touched on the question of his own position as a wandering teacher and expressed the Indian diffidence with regard to religious organization or, as someone expresses it, "with regard to a faith that ends in a church". "We believe", he said, "that organization always breeds new evils".

He prophesied that certain religious developments then much in vogue in the West would speedily die, owing to love of money. And he declared that "Man proceeds from truth to truth, and not from error to truth". (CWSN 1: 19-20)

51. "The universe is like a cobweb and minds are the spiders; for mind is one as well as many." (CWSN 1: 21)

52. "Let none regret that they were difficult to convince! I fought my Master for six years with the result that I know every inch of the way! Every inch of the way!" (CWSN 1: 22)

53. Swami Vivekananda was elucidating to what heights of selflessness the path of love leads and how it draws out the very best faculties of the soul:

"Suppose there were a baby in the path of the tiger! Where would your place be then? At his mouth — any one of you — I am sure of it." (CWSN 1: 24)

54. "That by which all this is pervaded, know That to be the Lord Himself!" (CWSN 1: 27)

55. Concerning Swami Vivekananda's attitude toward religion:

Religion was a matter of the growth of the individual, "a question always of being and becoming". (CWSN 1: 28)

56. "Forgive when you also can bring legions of angels to an easy victory." While victory was still doubtful, however, only a coward to his thinking would turn the other cheek. (CWSN 1: 28-29)

57. "Of course I would commit a crime and go to hell forever if by that I could really help a human being!" (CWSN 1: 34)

58. To a small group, including Sister Nivedita, after a lecture:

"I have a superstition — it is nothing, you know, but a personal superstition! — that the same soul who came once as Buddha came afterwards as Christ." (CWSN 1: 35)

59. After Swami Vivekananda was told of Sister Nivedita's willingness to serve India:

"For my own part I will be incarnated two hundred times, if that is necessary, to do this work amongst my people that I have undertaken." (CWSN 1: 36)

60. Sister Nivedita's memory of an incident:

He was riding on one occasion with the Raja of Khetri, when he saw that his arm was bleeding profusely and found that the wound had been caused by a thorny branch which he had held aside for himself to pass. When the Swami expostulated, the Rajput laughed the matter aside. "Are we not always the defenders of the faith, Swamiji?" he said.

"And then", said the Swami, telling the story, "I was just going to tell him that they ought not to show such honour to the Sannyasin, when suddenly I thought that perhaps they were right after all. Who knows? Maybe I too am caught in the glare of this flashlight of your modern civilization, which is only for a moment".

" — I have become entangled", he said simply to one who protested that to his mind the wandering Sâdhu of earlier years, who had scattered his knowledge and changed his name as he went, had been greater than the abbot of Belur, burdened with much work and many cares. "I have become entangled." (CWSN 1: 43)

61. Sister Nivedita wrote:

One day he was talking in the West of Mirâ Bâi — that saint who once upon a time was Queen of Chitore — and of the freedom her husband had offered her if only she would remain within the royal seclusion. But she could not be bound. "But why should she not?" someone asked in astonishment. "Why should she?" he retorted. "Was she living down here in this mire?" (CWSN 1: 44)

62. As years went by, the Swami dared less and less to make determinate plans or dogmatize about the unknown:

"After all, what do we know? Mother uses it all. But we are only fumbling about." (CWSN 1: 44)

63. Quoting Swami Vivekananda, Sister Nivedita remembered:

Love was not love, it was insisted, unless it was "without a reason" or without a "motive" . . . . (CWSN 1: 52)

64. About Swami Vivekananda, Sister Nivedita wrote:

When asked by some of his own people what he considered, after seeing them in their own country, to be the greatest achievement of the English, he answered "that they had known how to combine obedience with self-respect". (CWSN 1: 54)

65. Swami Sadananda reported that early in the morning, while it was still dark, Swami Vivekananda would rise and call the others, singing:

"Awake! Awake! all ye who would drink of the divine nectar!" (CWSN 1: 56)

66. Sister Nivedita remembered:

At this time [during the Swami's itinerant days, near Almora] he passed some months in a cave overhanging a mountain village. Only twice have I known him to allude to this experience. Once he said, "Nothing in my whole life ever so filled me with the sense of work to be done. It was as if I were thrown out from that life in caves to wander to and fro in the plains below". And again he said to someone, "It is not the form of his life that makes a Sadhu. For it is possible to sit in a cave and have one's whole mind filled with the question of how many pieces of bread will be brought to one for supper!" (CWSN 1: 61)

67. About his own poem "Kali the Mother":

"Scattering plagues and sorrows", he quoted from his own verses,

Dancing mad with joy,

Come, Mother, come!

For terror is Thy name!

Death — is in Thy breath.

And every shaking step

Destroys a world for e'er.

"It all came true, every word of it", he interrupted himself to say.

Who dares misery love.

Dance in Destruction's dance,

And hug the form of death, . . .

"To him the Mother does indeed come. I have proved it. For I have hugged the form of Death!" (CWSN 1: 98-99)

68. Sister Nivedita, referring to her plans for a girls' school:

Only in one respect was he [Swami Vivekananda] inflexible. The work for the education of Indian women, to which he would give his name, might be as sectarian as I chose to make it. "You wish through a sect to rise beyond all sects." (CWSN 1: 102)

69. Commenting on Sister Nivedita's visit to Gopaler-Ma's dwelling — a small cell:

"Ah! this is the old India that you have seen, the India of prayers and tears, of vigils and fasts, that is passing away, never to return!" (CWSN 1: 109)

>70. About the aims of the Ramakrishna Order:

The same purpose spoke again in his definition of the aims of the Order of Ramakrishna — "to effect an exchange of the highest ideals of the East and the West and to realize these in practice" . . . . (CWSN 1: 113)

71. After teaching Sister Nivedita the worship of Shiva, Swami Vivekananda then culminated it in an offering of flowers at the feet of the Buddha. He said, as if addressing each soul that would ever come to him for guidance:

"Go thou and follow Him, who was born and gave His life for others five hundred times before He attained the vision of the Buddha!" (CWSN 1: 114)

72. Upon returning from a pilgrimage in Kashmir:

"These gods are not merely symbols! They are the forms that the Bhaktas have seen!" (CWSN 1: 120)

73. Sister Nivedita's reminiscences of Swami Vivekananda's words heard long before:

"The Impersonal God seen through the mists of sense is personal." (CWSN 1: 120)

74. Swami Vivekananda's comment when he was reminded of the rareness of criminality in India:

"Would God it were otherwise in my land, for this is verily the virtuousness of death!" (CWSN 1: 123)

75. Swami Vivekananda said:

"The whole of life is only a swan song! Never forget those lines:

The lion, when stricken to the heart,

gives out his mightiest roar.

When smitten on the head, the cobra lifts its hood. And the majesty of the soul comes forth,

only when a man is wounded to his depths."

(CWSN 1: 124)

76. After hearing of the death of Shri Durga Charan Nag (Nag Mahashay):

"[He] was one of the greatest of the works of Ramakrishna Paramahamsa." (CWSN 1: 129)

77. About Shri Ramakrishna's transformative power, Swami Vivekananda said:

"Was it a joke that Ramakrishna Paramahamsa should touch a life? Of course he made new men and new women of those who came to him, even in these fleeting contacts!" (CWSN 1: 130)

78. While speaking on the true spirit of a Sannyasin, Swami Vivekananda said:

"I saw many great men in Hrishikesh. One case that I remember was that of a man who seemed to be mad. He was coming nude down the street, with boys pursuing and throwing stones at him. The whole man was bubbling over with laughter while blood was streaming down his face and neck. I took him and bathed the wound, putting ashes on it to stop the bleeding. And all the time with peals of laughter he told me of the fun the boys and he had been having, throwing the stones. 'So the Father plays', he said.

"Many of these men hide, in order to guard themselves against intrusion. People are a trouble to them. One had human bones strewn about his cave and gave it out that he lived on corpses. Another threw stones. And so on. . . .

"Sometimes the thing comes upon them in a flash. There was a boy, for instance, who used to come to read the Upanishads with Abhedananda. One day he turned and said, 'Sir, is all this really true?'

"'Oh yes!' said Abhedananda, 'It may be difficult to realize, but it is certainly true'.

"And next day, that boy was a silent Sannyasin, nude, on his way to Kedarnath!

"What happened to him? you ask. He became silent!

"But the Sannyasin needs no longer to worship or to go on pilgrimage or perform austerities. What then is the motive of all this going from pilgrimage to pilgrimage, shrine to shrine, and austerity to austerity? He is acquiring merit and giving it to the world!" (CWSN 1: 133)

79. Referring to the story of Shibi Rana:

"Ah yes! These are the stories that are deep in our nation's heart! Never forget that the Sannyasin takes two vows: one to realize the truth and one to help the world — and that the most stringent of stringent requirements is that he should renounce any thought of heaven!" (CWSN 1: 134)

80. To Sister Nivedita:

"The Gitâ says that there are three kinds of charity: the Tâmasic, the Râjasic and the Sâttvic. Tamasic charity is performed on an impulse. It is always making mistakes. The doer thinks of nothing but his own impulse to be kind. Rajasic charity is what a man does for his own glory. And Sattvic charity is that which is given to the right person, in the right way, and at the proper time. . . .

"When it comes to the Sattvic, I think more and more of a certain great Western woman in whom I have seen that quiet giving, always to the right person in the right way, at the right time, and never making a mistake.

"For my own part, I have been learning that even charity can go too far. . . .

"As I grow older I find that I look more and more for greatness in little things. I want to know what a great man eats and wears, and how he speaks to his servants. I want to find a Sir Philip Sidney (Sir Philip Sidney (1554-1586): English poet, soldier and politician.) greatness! Few men would remember the thirst of others, even in the moment of death.

"But anyone will be great in a great position! Even the coward will grow brave in the glare of the footlights. The world looks on. Whose heart will not throb? Whose pulse will not quicken till he can do his best?

"More and more the true greatness seems to me that of the worm doing its duty silently, steadily, from moment to moment and from hour to hour." (CWSN 1: 137)

81. Referring to the great individual — the divine incarnation, the Guru, and the Rishi:

"You do not yet understand India! We Indians are man — worshippers, after all! Our God is man!" (CWSN 1: 144)

82. On another occasion, Swami Vivekananda used the word "man-worshippers" in an entirely different sense:

"This idea of man—worship exists in nucleus in India, but it has never been expanded. You must develop it. Make poetry, make art, of it. Establish the worship of the feet of beggars as you had it in Mediaeval Europe. Make man-worshippers." (CWSN 1: 144-45)

83. To Sister Nivedita:

"There is a peculiar sect of Mohammedans who are reported to be so fanatical that they take each newborn babe and expose it, saying, 'If God made thee, perish! If Ali made thee, live!' Now this, which they say to the child, I say, but in the opposite sense, to you tonight: 'Go forth into the world and there, if I made you, be destroyed! If Mother made you, live'!" (CWSN 1: 151)

84. Long after Southern magnates in America had apologized to Vivekananda when they learned that he had been mistaken for a Negro and was thus refused admission into hotels, the Swami remarked to himself:

"What! rise at the expense of another! I didn't come to earth for that! . . . If I am grateful to my white-skinned Aryan ancestor, I am far more so to my yellow-skinned Mongolian ancestor and, most so of all, to the black-skinned Negritoid!" (CWSN 1: 153)

85. Commenting on the dungeon-cages of mediaeval prisoners on Mont-Saint-Michel:

(CWSN 1: 154)

"Oh, I know I have wandered over the whole earth, but in India I have looked for nothing save the cave in which to meditate!" (Ibid.)

86. Though he considered offspring of the Roman Empire to be brutal and the Japanese notion of marriage a horror, Swami Vivekananda nevertheless summed up the constructive ideals, never the defects, of a community:

"For patriotism, the Japanese! For purity, the Hindu! And for manliness, the European! There is no other in the world who understands, as does the Englishman, what should be the glory of a man!" (CWSN 1: 160)

87. Swami Vivekananda said of himself before he left for America in 1893:

"I go forth to preach a religion of which Buddhism is nothing but a rebel child and Christianity, with all her pretensions, only a distant echo!" (CWSN 1: 161)

88. Describing the night Buddha left his wife to renounce the world, Swami Vivekananda said:

"What was the problem that vexed him? Why! It was she whom he was about to sacrifice for the world! That was the struggle! He cared nothing for himself!" (CWSN 1: 172)

89. After describing Buddha's touching farewell to his wife, the Swami said:

"Have you never thought of the hearts of the heroes? How they were great, great, great — and soft as butter?" (CWSN 1: 172)

90. Swami Vivekananda's description of Buddha's death and its similarity with that of Shri Ramakrishna's:

He told how the blanket had been spread for him beneath the tree and how the Blessed One had lain down, "resting on his right side like a lion" to die, when suddenly there came to him one who ran for instruction. The disciples would have treated the man as an intruder, maintaining peace at any cost about their Master's death-bed, but the Blessed One overheard, and saying, "No, no! He who was sent (Lit., “the Tathâgata”. “A word”, explained Swami Vivekananda, “which is very like your ‘Messiah’”.) is ever ready", he raised himself on his elbow and taught. This happened four times and then, and then only, Buddha held himself free to die. "But first he spoke to reprove Ananda for weeping. The Buddha was not a person but a realization, and to that any one of them might attain. And with his last breath he forbade them to worship any."

The immortal story went on to its end. But to one who listened, the most significant moment had been that in which the teller paused — at his own words "raised himself on his elbow and taught" — and said, in brief parenthesis, "I saw this, you know, in the case of Ramakrishna Paramahamsa". And there rose before the mind the story of one, destined to learn from that teacher, who had travelled a hundred miles, and arrived at Cossipore only when he lay dying. Here also the disciples would have refused admission, but Shri Ramakrishna intervened, insisting on receiving the new-comer, and teaching him. (CWSN 1: 175-176)

91. Commenting on the historic and philosophic significance of Buddhistic doctrine:

"Form, feeling, sensation, motion and knowledge are the five categories in perpetual flux and fusion. And in these lies Maya. Of any one wave nothing can be predicated, for it is not. It but was and is gone. Know, O Man, thou art the sea! Ah, this was Kapila's philosophy, but his great disciple [Buddha] brought the heart to make it live!" (CWSN 1: 176)

92. Concerning the Buddhist First Council and the dispute as to its President:

"Can you imagine what their strength was? One said it should be Ananda, because he had loved Him most. But someone else stepped forward and said no! for Ananda had been guilty of weeping at the death-bed. And so he was passed over!" (CWSN 1: 177)

93. Considering reincarnation a "scientific speculation" rather than an article of faith:

"Why, one life in the body is like a million years of confinement, and they want to wake up the memory of many lives! Sufficient unto the day is the evil thereof! . . . Yes! Buddhism must be right! Reincarnation is only a mirage! But this vision is to be reached by the path of Advaita alone!" (CWSN 1: 180-81)

94. "Had I lived in Palestine, in the days of Jesus of Nazareth, I would have washed his feet, not with my tears, but with my heart's blood!" (CWSN 1: 189)

95. "For the Advaitin, therefore, the only motive is love. . . . It is the Saviour who should go on his way rejoicing, not the saved!" (CWSN 1: 197-98)

96. On the necessity of restraint in a disciple's life:

"Struggle to realize yourself without a trace of emotion! . . . Watch the fall of the leaves, but gather the sentiment of the sight from within at some later time!" (CWSN 1: 207)

"Mind! No loaves and fishes! No glamour of the world! All this must be cut short. It must be rooted out. It is sentimentality—the overflow of the senses. It comes to you in colour, sight, sound, and associations. Cut it off. Learn to hate it. It is utter poison!" (Ibid., 207-208)

97. On the value of types:

"Two diffferent races mix and fuse, and out of them rises one strong distinct type. A strong and distinct type is always the physical basis of the horizon. It is all very well to talk of universalism, but the world will not be ready for that for millions of years!

"Remember! if you want to know what a ship is like, the ship has to be specified as it is — its length, breadth, shape, and material. And to understand a nation, we must do the same. India is idolatrous. You must help her as she is. Those who have left her can do nothing for her!" (CWSN 1: 209)

98. Describing the Indian ideal of Brahmacharya in the student's life, Swami Vivekananda said:

"Brahmacharya should be like a burning fire within the veins!" (CWSN 1: 216)

99. Concerning marriage by arrangement instead of choice, Swami Vivekananda said:

"There is such pain in this country! Such pain! Some, of course, there must always have been. But now the sight of Europeans with their different customs has increased it. Society knows that there is another way!

[To a European] "We have exalted motherhood and you, wifehood; and I think both might gain by some interchange.

"In India the wife must not dream of loving even a son as she loves her husband. She must be Sati. But the husband ought not to love his wife as he does his mother. Hence a reciprocated affection is not thought so high as one unreturned. It is 'shopkeeping'. The joy of the contact of husband and wife is not admitted in India. This we have to borrow from the West. Our ideal needs to be refreshed by yours. And you, in turn, need something of our devotion to motherhood." (CWSN 1: 221-22)

100. Speaking to a disciple with great compassion:

"You need not mind if these shadows of home and marriage cross your mind sometimes. Even to me, they come now and again!" (CWSN 1: 222)

101. On hearing of the intense loneliness of a friend:

"Every worker feels like that at times!" (CWSN 1: 222)

102. Concerning the Hindu and Buddhist monastic and non-monastic ideals:

"The glory of Hinduism lies in the fact that while it has defined ideals, it has never dared to say that any one of these alone was the one true way. In this it differs from Buddhism, which exalts monasticism above all others as the path that must be taken by all souls to reach perfection. The story given in the Mahâbhârata of the young saint who was made to seek enlightenment, first from a married woman and then from a butcher, is sufficient to show this. 'By doing my duty', said each one of these when asked, 'by doing my duty in my own station, have I attained this knowledge'. There is no career then which might not be the path to God. The question of attainment depends only, in the last resort, on the thirst of the soul." (CWSN 1: 223)

103. With reference to the idea that the lover always sees the ideal in the beloved, Swami Vivekananda responded to a girl's newly avowed love:

"Cling to this vision! As long as you can both see the ideal in one another, your worship and happiness will grow more instead of less." (CWSN 1: 224)

104. "The highest truth is always the simplest." (CWSN 1: 226)

105. Swami Vivekananda's remarks on American séances:

"Always the greatest fraud by the simplest means." (CWSN 1: 233)

106. On Western and Eastern views of a person as a body or a soul:

"Western languages declare that man is a body and has a soul; Eastern languages declare that he is a soul and has a body." (CWSN 1: 236-37)

107. Concerning Swami Vivekananda's reverence for his Guru:

"I can criticize even an Avatâra [divine incarnation] without the slightest diminution of my love for him! But I know quite well that most people are not so; and for them it is safest to protect their own Bhakti!" (CWSN 1: 252)

"Mine is the devotion of the dog! I don't want to know why! I am contented simply to follow!" (Ibid., 252-53)

108. "Ramakrishna Paramahamsa used to begin every day by walking about in his room for a couple of hours, saying 'Satchidânanda!' or 'Shivoham!' or some other holy word." (CWSN 1: 255)

109. A few months before his passing away, Swami Vivekananda said:

"How often does a man ruin his disciples by remaining always with them! When men are once trained, it is essential that their leader leaves them; for without his absence they cannot develop themselves!" (CWSN 1: 260)

110. A few days before his passing away, the Swami said:

"I am making ready for death. A great Tapasyâ and meditation has come upon me, and I am making ready for death." (CWSN 1: 261-62)

111. In Kashmir after an illness, Swami Vivekananda said as he lifted a couple of pebbles:

"Whenever death approaches me, all weakness vanishes. I have neither fear, nor doubt, nor thought of the external. I simply busy myself making ready to die. I am as hard as that [the pebbles struck one another in his hand] — for I have touched the feet of God!" (CWSN 1: 262)


Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.