Bagian III: Laporan Surat Kabar India
Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.
AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.
Bahasa Indonesia
[Madura Mail, 28 Januari 1893]
(Meskipun kutipan ini tidak menyebut nama Swami Vivekananda, merujuk pada gelar M.A. yang sebenarnya tidak pernah diterima oleh Swami, dan menggambarkan dirinya berusia dua tahun lebih tua daripada usianya yang sebenarnya--namun terdapat bukti internal yang tak terbantahkan bahwa sang Sadhu Benggala itu adalah Swami Vivekananda. Lebih jauh lagi, tanggalnya bertepatan secara akurat dengan masa tinggal Swami di Madras, dan rujukan balik atas peristiwa ini yang diterbitkan di Indian Social Reformer pada 13 Juli 1902 menjadi penegasan tambahan. Sebagai catatan, tidak ada satu pun salinan Indian Social Reformer tahun 1892-1893 yang tersedia saat ini.)
SEORANG SADHU BENGGALA TENTANG AGAMA DAN SOSIOLOGI HINDU
Seorang Sanyashi [sannyasin] muda berkebangsaan Benggala yang berusia sekitar tiga puluh dua tahun, dan seorang Master of Arts dari Universitas Kalkuta, pekan lalu diwawancarai di Triplicane Literary Society oleh sekitar seratus orang India terdidik, di antaranya hadir Dewan Bahadur Raghunatha Rao. Ringkasan apa yang disampaikan oleh sang Sadhu diterbitkan oleh Indian Social Reformer, dan dari sana kami menyarikan kutipan-kutipan berikut:
Agama yang sempurna adalah agama Veda. Veda memiliki dua bagian, yang wajib dan yang bersifat pilihan. Perintah-perintah yang wajib mengikat kita secara abadi. Perintah-perintah itulah yang membentuk agama Hindu. Yang bersifat pilihan tidaklah demikian. Hal-hal ini telah berubah dan diubah oleh para rishi (peresi/pelihat Veda) agar sesuai dengan zamannya. Para brahmana (kasta pendeta) pada suatu masa pernah memakan daging sapi dan menikahi perempuan shudra (kasta pelayan). [Seekor] anak sapi disembelih untuk menyenangkan seorang tamu. Kaum shudra memasak untuk para brahmana. Makanan yang dimasak oleh seorang brahmana laki-laki dianggap sebagai makanan yang tercemar. Akan tetapi kita telah mengubah kebiasaan kita agar sesuai dengan yuga (zaman) sekarang. Meskipun aturan kasta kita sejauh ini telah berubah sejak zaman Manu, namun seandainya beliau datang kepada kita sekarang, beliau tetap akan menyebut kita sebagai orang Hindu. Kasta adalah suatu tatanan sosial dan bukan tatanan keagamaan. Ia merupakan hasil dari evolusi alamiah masyarakat kita. Ia pernah dirasa perlu dan tepat guna pada suatu masa. Ia telah menjalankan fungsinya. Seandainya tidak ada kasta, kita tentu sudah lama menjadi orang Muhammad [sic]. Sekarang kasta tidak berguna lagi. Ia boleh ditiadakan. Agama Hindu tidak lagi memerlukan topangan sistem kasta. Seorang brahmana boleh makan bersama siapa pun, bahkan seorang Pariah. Dengan demikian ia tidak akan kehilangan kerohaniannya. Suatu kadar kerohanian yang hancur oleh sentuhan seorang Pariah adalah kuantitas yang sangat rendah. Ia hampir berada di titik nol. Kerohanian seorang brahmana haruslah meluap, berkobar, dan membakar [sedemikian rupa] hingga menghangatkan ke dalam kehidupan rohani bukan hanya satu Pariah, melainkan ribuan Pariah yang mungkin menyentuhnya. Para rishi pada zaman dahulu tidak menjalankan pembedaan atau pembatasan apa pun mengenai makanan. Seorang yang merasa bahwa kerohaniannya sendiri begitu rapuh sehingga pandangan terhadap seorang berkasta rendah memusnahkannya, tidak perlu mendekati seorang Pariah dan harus menyimpan miliknya yang sedikit dan berharga itu untuk dirinya sendiri.
Cita-cita hidup Hindu adalah "Nivarti" [nivritti]. Nivarti berarti penaklukan dan penundukan nafsu-nafsu jahat, dari sifat tamasa berupa hawa nafsu, dendam, dan ketamakan. Ia tidak berarti penaklukan terhadap segala keinginan. Ia hanya berarti pemusnahan keinginan-keinginan yang kasar. Setiap orang berkewajiban mengasihi dan bersimpati kepada sesama makhluknya. [Seorang] sannyasin adalah orang yang telah menaklukkan segenap nafsu egoisnya dan bersumpah membaktikan hidupnya bagi kebaikan orang lain. Ia mengasihi semua. "Pravirti" [pravritti] berarti cinta kepada Tuhan dan kepada segenap ciptaan-Nya. Para sannyasin sepatutnya diberi makan. Mereka tidaklah seperti para uskup dan uskup agung Kristen yang harus dibayar untuk menjalankan pekerjaan mereka dengan ribuan pound per tahun; yang segenap penghasilannya dihabiskan demi kemewahan mereka sendiri--demi istri dan anak-anak mereka. [Seorang] sannyasin hanya menginginkan sesuap makanan, dan kemudian ia menempatkan segenap pengetahuan dan pelayanannya untuk kepentingan masyarakat umum. Ia adalah seorang misionaris pengembara. Individu dan masyarakat harus berupaya mengangkat diri "dari hewan, melalui manusia, menuju yang ilahi". Bahkan orang Hindu yang paling rendah sekalipun, sang Pariah, memiliki lebih sedikit sifat kebinatangan dalam dirinya daripada seorang Inggris dalam status sosial yang serupa. Inilah hasil dari sebuah peradaban keagamaan yang tua dan unggul. Evolusi menuju keadaan rohani yang lebih tinggi ini hanya mungkin terjadi melalui disiplin dan pendidikan.
Setiap pranata, kasta, pernikahan dini, dan sebagainya, yang menghalangi jalan pendidikan, sepatutnya seketika itu juga dipukul jatuh. Bahkan "Shradh" boleh ditinggalkan, jika pelaksanaannya melibatkan pemborosan waktu yang sebenarnya dapat digunakan dengan lebih baik untuk pendidikan diri. Namun "Shradh" tidak seharusnya ditinggalkan. Makna dari Mantra-mantranya sangatlah membangun jiwa. Mantra-mantra itu menggambarkan penderitaan dan kepedulian yang ditanggung oleh orang tua kita demi kita. Pelaksanaannya merupakan suatu penghormatan yang dipersembahkan bagi kenangan akan keseluruhan ruh para leluhur kita, yang keutamaan-keutamaannya kita warisi. Shradh tidak ada kaitannya dengan keselamatan seseorang. Namun demikian, tidak ada orang Hindu yang mencintai agamanya, negerinya, dan para leluhurnya yang agung yang seharusnya meninggalkan Shradh. Formalitas lahiriah dan pemberian makan kepada para brahmana bukanlah hal yang hakiki. Pada zaman ini kita tidak memiliki brahmana yang layak diberi makan pada hari-hari Shradh. Para brahmana yang diberi makan seharusnya bukan pemakan profesional, melainkan brahmana yang memberi makan para murid secara cuma-cuma, dan mengajarkan kepada mereka ajaran Veda yang sejati. Pada zaman ini, Shradh boleh dilaksanakan secara batin.
Penjagaan yang cemburu terhadap kaum perempuan kita menunjukkan bahwa kita orang Hindu telah merosot dalam keutamaan-keutamaan kebangsaan kita, bahwa kita telah berbalik kembali ke "keadaan kebinatangan". Setiap orang harus mendisiplinkan pikirannya sedemikian rupa hingga membawa dirinya untuk memandang semua perempuan sebagai saudari atau ibunya. Kaum perempuan harus memiliki kebebasan untuk membaca, untuk menerima pendidikan yang sama baiknya dengan kaum laki-laki. Perkembangan individu mustahil terjadi di tengah ketidaktahuan dan perbudakan.
Melalui perbudakan selama seribu tahun, orang Hindu pada masa kini telah merosot. Mereka telah melupakan harga diri mereka sendiri. Setiap anak laki-laki Inggris diajari untuk merasakan kepentingannya, ia berpikir bahwa dirinya adalah anggota suatu bangsa yang besar, para penakluk Bumi. Sang Hindu, sejak masa kanak-kanaknya, justru merasakan kebalikannya, bahwa ia dilahirkan untuk menjadi budak. Kita tidak dapat menjadi bangsa yang besar kecuali kita mencintai agama kita dan berusaha menghormati diri kita sendiri, serta menghormati sesama warga negeri dan masyarakat kita. Orang Hindu pada zaman modern umumnya adalah orang-orang munafik. Mereka harus bangkit, dan memadukan iman pada agama Veda yang sejati dengan pengetahuan akan kebenaran-kebenaran politik dan ilmiah bangsa Eropa. Keburukan-keburukan kasta tampaknya lebih merajalela di Selatan daripada di Benggala. Di Benggala seorang brahmana menggunakan air yang telah disentuh oleh kaum shudra, tetapi di sini sang shudra dijauhkan dalam jarak yang besar oleh sang brahmana. Tidak ada brahmana di [zaman] Kali Yuga. Kaum Pariah, sesama makhluk kita, sepatutnya dididik oleh kasta-kasta yang lebih tinggi, harus [ . . . ] kebenaran-kebenaran agama Hindu dan menjadi [ . . . ] brahmana. Kewajiban pertama seorang brahmana adalah mengasihi semua orang. Pertama-tama harus terjadi peleburan di antara para brahmana, lalu di antara semua kaum Dwija, dan kemudian di antara kaum Dwija dan kaum shudra.
Oleh H. R. Haweis
[The Indian Mirror (dari The Daily Chronicle), 28 November 1893]
. . . Vivekananda, biarawan Hindu yang populer, yang raut wajahnya menyandang kemiripan yang paling mencolok dengan wajah klasik sang Buddha, mengecam kemakmuran dagang kita, peperangan kita yang berdarah-darah, dan intoleransi keagamaan kita, sembari menyatakan bahwa dengan harga seperti itu "sang Hindu yang lembut" tidak akan menginginkan peradaban kita yang kita banggakan itu. . . . "Engkau datang," serunya, dengan Alkitab di satu tangan dan pedang sang penakluk di tangan lainnya--engkau, dengan agamamu yang baru kemarin, kepada kami, yang ribuan tahun yang lalu telah diajari oleh para rishi kami ajaran-ajaran yang seluhur dan kehidupan yang sesuci ajaran Kristusmu. Engkau menginjak-injak kami dan memperlakukan kami bagaikan debu di bawah telapak kakimu. Engkau membinasakan nyawa berharga pada hewan-hewan. Engkau adalah pemakan daging. Engkau merendahkan bangsa kami dengan minuman keras. Engkau menghina kaum perempuan kami. Engkau mencemooh agama kami--yang dalam banyak hal serupa dengan agamamu, hanya saja lebih baik, karena lebih berperikemanusiaan. Dan kemudian engkau heran mengapa kekristenan begitu lambat berkembang di India. Aku katakan kepadamu, itu karena engkau tidak seperti Kristusmu, yang dapat kami muliakan dan hormati. Apakah engkau mengira, seandainya engkau datang ke pintu kami seperti dia, dengan lemah lembut dan rendah hati, dengan pesan kasih, hidup, bekerja, dan menderita demi orang lain, sebagaimana yang dia lakukan, kami akan menulikan telinga? Oh, tidak! Kami akan menyambutnya dan mendengarkannya, sebagaimana kami telah melakukannya terhadap para rishi (guru) kami sendiri yang terilhami. . . .
[The Indian Mirror, 7 Desember 1893]
Seorang Hindu Mengkritik Kekristenan
Tuan Vivekananda Mengatakan Agama Veda adalah Agama Cinta
Vivekananda Mengatakan Kekristenan Bersifat Intoleran
Dr. Noble memimpin sidang sore itu. Hall of Colombus [Columbus] sesak hingga berjubel. . . . Dr. Noble lalu memperkenalkan Swami Vivekananda, sang biarawan Hindu, yang disambut tepuk tangan meriah saat ia melangkah maju ke tengah panggung. Ia mengenakan jubah berwarna jingga, terikat dengan selempang merah tua, dan sorban kuning pucat. Senyum yang biasa menghiasi wajahnya yang tampan dan matanya bersinar penuh semangat. Katanya:
Kami yang datang dari Timur telah duduk di sini di atas panggung hari demi hari, dan telah diberi tahu dengan cara yang merendahkan bahwa kami sepatutnya menerima kekristenan karena bangsa-bangsa Kristen adalah yang paling makmur. Kami memandang ke sekeliling, dan kami melihat Inggris, bangsa Kristen yang paling makmur di dunia, dengan kakinya menginjak leher 250.000.000 orang Asia. Kami menengok ke belakang ke dalam sejarah, dan melihat bahwa kemakmuran Eropa Kristen bermula dengan Spanyol. Kemakmuran Spanyol bermula dengan penyerbuan ke Meksiko. Kekristenan meraih kemakmurannya dengan menggorok leher sesama manusianya. Dengan harga seperti itu, sang Hindu tidak akan menginginkan kemakmuran.
Hari ini aku telah duduk di sini, dan aku telah mendengar puncak intoleransi. Aku telah mendengar kredo kaum Muslim disambut tepuk tangan, padahal hari ini pedang kaum Muslim sedang membawa kehancuran ke India. Darah dan pedang bukanlah bagi sang Hindu, yang agamanya berlandaskan hukum cinta.
Ketika tepuk tangan telah reda, Tuan Vivekananda melanjutkan dengan membacakan makalahnya, yang ringkasannya sebagai berikut: [Lihat "Makalah tentang Hinduisme", Karya Lengkap, I: 6-20]. . . .
[The Indian Mirror, 14 Juni 1894]
Telah terjadi suatu korespondensi yang hidup antara Swami Vivekanand dan seorang Misionaris Kristen pensiunan mengenai pekerjaan dan prospek kekristenan di India. Di antara hal-hal lainnya, sang
Swami dilaporkan telah mengatakan bahwa "cara melakukan pengkristenan itu sama sekali tidak masuk akal";
Para dokter misionaris tidak berbuat kebaikan, karena mereka tidak bersentuhan dengan rakyat. . . . Mereka tidak mencapai apa pun dalam hal pengkristenan, walaupun mereka mungkin menikmati saat-saat yang akrab dan menyenangkan di antara mereka sendiri, dan seterusnya.
Bapak pendeta yang terhormat itu berkeberatan atas kata-kata tersebut, dengan menegaskan bahwa karena fasih berbahasa daerah, tidak ada orang asing yang lebih memahami dan bersimpati kepada orang India melebihi para Misionaris. Para Misionaris tidak diragukan lagi adalah orang-orang yang baik dan berniat baik; tetapi kami berpendapat, pernyataan Swami bahwa mereka jarang bersentuhan dengan rakyat bukanlah tanpa dasar. Dengan kebangkitan kembali Hinduisme, yang termanifestasikan di setiap penjuru negeri, diragukan apakah kekristenan akan memiliki pengaruh apa pun atas orang Hindu. Saat ini merupakan masa yang genting bagi Misi-misi Kristen di India. Swami berterima kasih kepada sang Misionaris karena telah menyebutnya sesama warga negerinya. "Inilah pertama kalinya," tulisnya, ada orang asing Eropa, sekalipun ia lahir di India, yang berani menyebut seorang Pribumi yang dibenci dengan sebutan itu--Misionaris ataupun bukan. Beranikah Anda menyebut saya dengan sebutan yang sama di India?
[The Indian Mirror, 20 Juli 1894]
Swami Vivekananda menjelaskan di Amerika gagasan inti dari Veda sebagai berikut:
Dengan rendah hati saya memohon untuk berbeda pendapat dengan mereka yang melihat dalam monoteisme, dalam pengakuan akan Tuhan personal yang terpisah dari Alam, sebagai puncak perkembangan intelektual. Saya percaya, itu hanyalah semacam antropomorfisme yang ditemukan secara tak sengaja oleh pikiran manusia dalam upaya pertamanya untuk memahami yang tak diketahui. Kepuasan tertinggi dari akal dan kebiasaan manusia terletak pada penyadaran akan esensi universal itu, yang merupakan Segala-galanya. Dan saya berpegang pada bukti yang tak terbantahkan bahwa gagasan ini hadir dalam Veda, sekalipun terdapat begitu banyak dewa dan seruan kepada mereka. Gagasan tentang Segala-galanya yang tanpa bentuk ini, sang Sat (Ada murni), yakni esse atau wujud, yang disebut Atman (Diri sejati) dan Brahman (Realitas mutlak) dalam Upanishad (risalah filsafat penutup Veda), dan dijelaskan lebih lanjut dalam Darsan, adalah gagasan inti dari Veda, bahkan, gagasan akar dari agama Hindu pada umumnya.
[The Bengalee, 18 Mei 1895]
Tidak ada seorang Hindu pun yang tidak bangga akan Vivekananda Swami--yang tidak akan menghormatinya dan ajaran-ajarannya. Ia telah membawa kehormatan bagi dirinya sendiri, bagi bangsanya, dan bagi agamanya. Jika kami benar dalam pandangan ini, maka berarti bahwa pendapat-pendapat Vivekananda layak mendapat pertimbangan yang tertinggi. Inilah yang ia katakan berkenaan dengan gerakan pelayaran laut:--
Pemekaran adalah kehidupan; penyusutan adalah kematian. Cinta adalah kehidupan, kebencian adalah kematian. Kita mulai mati pada hari ketika kita mulai menyusut--mulai membenci bangsa-bangsa lain--dan tidak ada yang dapat mencegah kematian kita, sampai kita kembali kepada kehidupan, kepada pemekaran. Oleh karena itu kita harus berbaur dengan segenap bangsa di muka bumi, dan setiap orang Hindu yang pergi merantau ke negeri-negeri asing berbuat lebih banyak manfaat bagi negerinya daripada ratusan gumpalan takhayul dan keegoisan itu, yang satu-satunya tujuan hidupnya adalah menjadi anjing di palungan. Bangunan-bangunan kehidupan kebangsaan yang menakjubkan, yang telah didirikan oleh bangsa-bangsa Barat, ditopang oleh pilar-pilar karakter--dan sampai kita mampu menghasilkan karakter semacam itu beratus-ratus jumlahnya, sia-sialah kita merengek dan menggerutu melawan kekuatan ini atau kekuatan itu. Apakah ada orang yang layak mendapat kemerdekaan jika ia tidak siap memberikannya kepada orang lain? Marilah kita bekerja dengan tenang dan dengan cara yang gagah berani--alih-alih menghamburkan tenaga kita dalam keluh-kesah dan gerutu yang tak perlu, dan saya, untuk diri saya sendiri, sepenuhnya percaya bahwa tidak ada kekuatan apa pun di alam semesta yang dapat menahan dari siapa pun apa yang sungguh-sungguh layak ia terima. Masa lalu memang agung, tidak diragukan lagi, tetapi saya dengan tulus percaya bahwa masa depan yang tersimpan masih lebih gemilang lagi.
Kita harus berbaur dengan bangsa-bangsa lain dan mengambil dari mereka apa pun kebaikan yang dapat mereka berikan kepada kita. Sikap eksklusif kita, keengganan kita untuk belajar dari bangsa-bangsa asing, itulah yang terutama bertanggung jawab atas kemerosotan kita saat ini. Kita menganggap diri kita sebagai golongan pilihan surga, dan lebih unggul daripada bangsa-bangsa di muka bumi dalam segala hal. Kita memandang mereka sebagai orang-orang barbar, sentuhan mereka sebagai pencemaran, pengetahuan mereka sebagai lebih buruk daripada ketidaktahuan. Kita hidup di dalam sebuah dunia ciptaan kita sendiri. Kita tidak mau mengajarkan apa pun kepada orang asing--kita tidak mau belajar apa pun dari orang asing. Akhirnya datanglah pelenyapan ilusi itu. Orang asing menjadi tuan kita-- penentu nasib kita. Kita dengan penuh semangat menyambut ilmunya. Kita mendapati bahwa di dalamnya terdapat banyak hal yang baru, banyak hal yang sangat berguna. Kita mendapati bahwa sejauh menyangkut kenyamanan material kehidupan, orang asing jauh meninggalkan kita--bahwa penguasaannya atas kekuatan-kekuatan alam jauh lebih besar daripada apa pun yang pernah kita impikan. Ia telah memusnahkan waktu dan ruang, dan telah menundukkan kekuatan-kekuatan alam demi kemudahan manusia. Ia memiliki banyak hal menakjubkan untuk diajarkan kepada kita. Kita mempelajarinya dengan penuh semangat. Namun demikian, kita tetap tidak mengunjungi negerinya. Jika kita melakukannya, kita kehilangan kasta. Kita berada di bawah Pemerintahan asing. Kita dengan penuh semangat mempelajari bahasa dan kesusastraan asing serta mengagumi segala yang baik dan indah di dalamnya. Kita menggunakan barang-barang asing untuk berpakaian dan dikonsumsi. Namun demikian, kita tetap tidak berani mengunjungi negeri para penguasa kita, karena takut akan pengucilan. Terhadap prasangka tanpa makna inilah, sang Swami yang agung, yang adalah seorang Hindu sejati di antara orang Hindu, dengan geram melontarkan suara protesnya. Para penentang itu, dalam bahasanya yang penuh kiasan, ibarat anjing di palungan. Mereka tidak mau bepergian ke negeri-negeri
asing,--mereka pun tidak mau membiarkan orang lain bepergian. Namun kenyataannya tetaplah, kata sang Swami, bahwa orang-orang Hindu yang telah merantau ini berbuat lebih banyak manfaat bagi negeri mereka daripada ratusan gumpalan takhayul dan keegoisan itu, yang satu-satunya tujuan hidupnya adalah menjadi seperti anjing di palungan. . . . . . . Seandainya kita memiliki para rishi pada zaman ini, sebagaimana kita memilikinya pada zaman-zaman yang telah berlalu, kami yakin mereka akan mencabut larangan pelayaran laut, jika memang larangan semacam itu pernah ditetapkan di masa lalu. Masyarakat adalah suatu organisme yang menaati hukum kemajuan yang tak berubah; dan perubahan, perubahan yang bijaksana dan berhati-hati, diperlukan demi kesejahteraan, bahkan demi kelestarian sistem sosial. Bagaimanapun juga, ada baiknya kita mengetahui bahwa seorang otoritas yang begitu tinggi dan seorang Hindu yang begitu baik seperti Swami Vivekananda mendukung perjalanan ke negeri-negeri asing. . . .
[The Indian Mirror, 29 Juni 1895]
Pidato Swami Vivekananda, yang disampaikan di Chicago pada saat presentasi kaum Buddhis pada 26 September 1893, diterbitkan dalam edisi MacNeely dari "History of the Parliament of Religions". Berikut adalah kata-kata penutupnya:--
Kami tidak dapat hidup tanpa kalian, dan kalian pun tidak dapat hidup tanpa kami. Maka percayalah bahwa perpisahan telah menunjukkan kepada kita, bahwa kalian tidak dapat berdiri tanpa otak dan filsafat sang Brahmana [sic], dan kami pun tidak dapat berdiri tanpa hati kalian. Perpisahan antara kaum Buddhis dan sang Brahmana [brahmana] inilah yang menjadi penyebab keruntuhan India. Itulah sebabnya India telah menjadi budak para penakluk selama 1000 tahun terakhir. Maka marilah kita menyatukan kecerdasan menakjubkan sang Brahmana [brahmana] dengan hati, jiwa yang mulia, daya pemanusiaan yang menakjubkan dari sang Guru Agung.
[The Indian Mirror, 1 Desember 1895]
Pada pertemuan mingguan Balloon Society, sebuah ceramah berjudul "Manusia dan Masyarakat dalam Cahaya Vedanta" disampaikan oleh Swami Vivekananda. Sang Swami yang mengenakan jubah merah dari sektenya, berbicara dengan kefasihan yang besar dan dalam bahasa Inggris yang sempurna selama lebih dari satu jam tanpa bantuan satu pun catatan. Ia mengatakan bahwa agama adalah faktor yang paling menakjubkan dalam organisme sosial. Jika pengetahuan adalah perolehan tertinggi yang dapat diberikan oleh ilmu pengetahuan, apakah yang dapat lebih besar daripada pengetahuan tentang Tuhan, tentang jiwa, tentang hakikat manusia itu sendiri, yang diberikan oleh studi tentang agama? Bukan hanya mustahil bahwa harus ada satu agama bagi seluruh dunia, melainkan hal itu justru akan berbahaya. Seandainya seluruh pemikiran keagamaan berada pada tingkat yang sama, itu akan menjadi kematian bagi pemikiran keagamaan; keragamanlah yang menjadi kehidupannya. Ada empat jenis agama--(1) si pekerja, (2) si emosional, (3) si mistik, dan (4) si filosofis. Sayangnya setiap orang menjadi begitu terpaut pada jenisnya sendiri sehingga ia tidak memiliki mata untuk melihat apa yang ada di dunia. Ia berjuang untuk membuat orang lain menjadi sejenis dengannya. Agama yang sempurna adalah agama yang memberikan ruang bagi semua karakter yang berbeda-beda. Agama Vedanta merangkum semuanya, dan setiap orang dapat memilih apa yang dibutuhkan oleh kodratnya. Suatu diskusi pun menyusul.
[The Indian Mirror (dari New York Herald), 25 Maret 1896]
Banyak orang terkenal sedang berupaya mengikuti ajaran Filsafat Swami Vivekananda. . . . . . .
Swami Vivekananda duduk di tengah, mengenakan jubah berwarna oker. Sang Hindu memiliki hadirin yang terbagi di kedua sisinya, dan terdapat antara lima puluh hingga seratus orang yang hadir. Kelas itu membahas Karma-Yoga (jalan tindakan), yang telah digambarkan sebagai penyadaran akan diri sebagai Tuhan melalui karya dan kewajiban.
Temanya adalah:--
"Apa yang engkau tabur, itulah yang engkau tuai", entah yang baik maupun yang jahat.
Setelah ceramah atau pengajaran itu, Swami mengadakan suatu resepsi tidak resmi, dan daya magnetis pribadinya tampak dari cara penuh semangat ketika mereka yang telah mendengarkannya bergegas untuk menjabat tangannya atau memohon kemurahan hati untuk diperkenalkan. Namun mengenai dirinya sendiri, Swami tidak mau berkata lebih dari yang benar-benar perlu. Berlawanan dengan klaim yang dibuat oleh sebagian muridnya, ia menyatakan bahwa ia datang ke negeri ini seorang diri dan tidak secara resmi mewakili tarekat biarawan Hindu mana pun. Ia mengatakan dirinya termasuk golongan sannyasin; dan oleh karena itu bebas bepergian tanpa kehilangan kastanya. Ketika kepadanya ditunjukkan bahwa Hinduisme bukanlah agama yang menyiarkan keyakinan untuk pertobatan, ia mengatakan bahwa ia memiliki pesan bagi Barat sebagaimana Buddha memiliki pesan bagi Timur. Ketika ditanya mengenai agama Hindu, dan ditanya apakah ia berniat memperkenalkan praktik dan ritualnya ke negeri ini, ia menyatakan bahwa ia semata-mata mengajarkan filsafat.
[The Indian Mirror, 19 Juni 1896]
Swami Saradananda dalam sebuah surat dari London yang ditulis kepada Redaktur Brahmavadin mengatakan:--
Swami Vivekananda telah membuat permulaan yang sangat baik di sini. Sejumlah besar orang menghadiri kelas-kelasnya secara teratur, dan ceramah-ceramahnya sangat menarik. Canon Haweis, salah seorang pemimpin Gereja Anglikan, datang tempo hari, dan amat tertarik. Ia pernah berjumpa dengan Swami sebelumnya, di pameran-pameran Chicago, dan mengasihinya sejak saat itu. Selasa lalu, Swami menyampaikan ceramah tentang "Pendidikan" di Sesame Club. Itu adalah klub terhormat yang didirikan oleh kaum perempuan untuk menyebarluaskan pendidikan kaum perempuan. Dalam ceramah ini ia membahas sistem pendidikan India yang lama, menunjukkan dengan jelas dan menggugah bahwa, satu-satunya tujuan dari sistem itu adalah "pembentukan manusia" dan bukan menjejalkan hafalan, dan membandingkannya dengan sistem yang sekarang. Ia berpendapat bahwa, pikiran manusia adalah suatu wadah pengetahuan yang tak terbatas, dan segenap pengetahuan, kini, dahulu, ataupun yang akan datang, ada di dalam diri manusia, baik termanifestasikan maupun belum, dan tujuan dari setiap sistem pendidikan seharusnya adalah membantu pikiran untuk memanifestasikannya. Sebagai contoh, hukum gravitasi telah ada di dalam diri manusia, dan jatuhnya buah apel membantu Newton untuk memikirkannya, dan membawanya keluar dari dalam pikirannya. Hari-hari kelasnya telah diatur sebagai berikut:--
Selasa, pagi dan malam; Kamis, pagi dan malam; Jumat, kelas tanya jawab malam. Jadi Swami harus menyampaikan empat ceramah, dan satu kelas tanya jawab setiap pekan. Dalam ceramah kelasnya, ia telah memulai dengan Jnana-Yoga (jalan pengetahuan). Laporan stenografi dari ceramah-ceramah ini sedang dicatat oleh Tuan Goodwin, yang merupakan seorang pengagum besar Swami, dan ceramah-ceramah ini akan diterbitkan kelak.
[The Brahmavadin, 18 Juli 1896]
Tuan,
Saya merasa yakin Anda akan senang memperoleh gambaran tentang kemajuan pekerjaan Swami di Inggris, sebagai pelengkap atas surat yang dikirimkan oleh Swami Saradananda kepada Anda beberapa pekan yang lalu. Pada waktu itu sedang diatur serangkaian ceramah hari Minggu, dan tiga di antaranya kini telah disampaikan. Ceramah-ceramah itu diadakan di salah satu galeri Royal Institute of Painters in Water Colours, 191 Piccadilly, dan sejauh ini sangat berhasil dalam mencapai tujuannya, yaitu menjangkau orang-orang yang, karena satu dan lain alasan, tidak dapat menghadiri perbincangan kelas. Ceramah pertama dalam rangkaian itu adalah "Keniscayaan Agama". Swami menyatakan bahwa agama adalah dan telah menjadi kekuatan terbesar dalam membentuk nasib umat manusia. Mengenai asal-usulnya, ia mengatakan bahwa salah satu dari kedua teori berikut, (1) asal-usul dari Roh, (2) pencarian akan yang tak terbatas, akan memenuhi persoalannya, dan, menurut pikirannya, kedua-duanya tidak saling bertentangan, karena pencarian bangsa Mesir dan Babilonia akan mereka yang telah tiada, serta upaya bangsa Arya untuk mengintip ke balik tabir fajar, senja, badai guntur, atau gejala-gejala alam lainnya, kedua-duanya dapat dimasukkan sebagai suatu pencarian akan yang melampaui indra, dan oleh karena itu yang tak terbatas. Yang tak terbatas ini, seiring berjalannya waktu, menjadi terabstraksikan, pertama-tama sebagai suatu pribadi, lalu sebagai suatu kehadiran, dan akhirnya sebagai esensi dari segenap keberadaan. Menurut pikirannya, keadaan mimpi adalah saran pertama bagi penyelidikan keagamaan, dan sejauh keadaan terjaga selalu, dan akan selalu, disertai oleh keadaan mimpi, suatu saran tentang adanya keberadaan yang lebih halus daripada keadaan terjaga namun lenyap selama keadaan terjaga itu, pikiran manusia akan selalu cenderung berpihak pada keberadaan rohani dan kehidupan masa depan. Di dalam keadaan mimpi kitalah, dalam suatu pengertian, kita sungguh-sungguh menemukan keabadian kita. Kelak, ketika mimpi-mimpi didapati hanyalah manifestasi yang lebih lembut dari keadaan terjaga, pencarian akan bidang-bidang pikiran yang lebih dalam lagi pun dimulai, yakni keadaan superkesadaran dari pikiran. Semua agama mengaku berlandaskan pada fakta-fakta yang ditemukan dalam keadaan ini. Dua pokok penting yang patut dipertimbangkan dalam kaitan ini adalah, bahwa semua fakta yang ditemukan dengan cara ini, dalam pengertian yang tertinggi, merupakan abstraksi, dan kedua, bahwa terdapat suatu perjuangan yang terus-menerus dalam diri umat manusia untuk mencapai cita-cita ini, dan segala sesuatu yang menghalangi kemajuan kita menuju cita-cita itu kita rasakan sebagai suatu batasan. Perjuangan ini segera berakhir pada penemuan bahwa untuk menemukan kebahagiaan, atau kekuatan, atau pengetahuan, atau ketakterbatasan lain apa pun, melalui indra, adalah mustahil, dan kemudian mulailah perjuangan untuk mencari saluran-saluran pemekaran lainnya, dan kita pun menemukan keniscayaan akan agama. Ceramah kedua membahas pokok bahasan "Agama Universal", ketika Swami menyampaikan, pada intinya, ceramah yang telah dibaca oleh sebagian besar pembaca Anda dalam bentuk cetak sebagaimana disampaikan di New York. Karena ceramah ini boleh disebut sebagai "rencana kampanye" Swami, kami selalu menanti penyampaiannya dengan minat yang sangat besar, dan amat menggembirakan untuk mencatat bahwa kesan yang ditimbulkan di sini di London sama baiknya dengan kesan ketika ceramah itu disampaikan di Hardman Hall, New York. Ceramah ketiga dalam rangkaian itu membawa kita sampai pada hari Minggu lalu, 21 Juni, ketika "Manusia yang Nyata dan Manusia yang Tampak" menjadi pokok bahasan yang dibahas. Dalam ceramah ini Swami, mata rantai demi mata rantai, menelusuri benang pemikiran yang secara berangsur-angsur telah maju dari pemandangan manusia sebagai entitas-entitas yang terpisah dari Tuhan dan dari seluruh alam semesta, hingga ke titik di mana kita mengakui kemustahilan adanya lebih dari satu Ketakterbatasan, dan konsekuensi yang niscaya bahwa apa yang sekarang kita anggap sebagai manusia, sebagai hewan, sebagai alam semesta materi, tidak mungkin merupakan kesatuan yang nyata; bahwa yang nyata itu pastilah sesuatu yang tak terbagi, dan tak berubah; dan ketika akal memaksa kita pada kesimpulan bahwa dunia fenomenal ini hanya mungkin merupakan suatu ilusi, yang melaluinya kita, sebagai entitas-entitas di dalam ilusi itu, harus melintas untuk menemukan hakikat kita yang sejati, "Yang ada itu satu adanya; para resi menyebutnya dengan beragam nama". Namun Swami tidak berhenti pada teorinya saja; ia menunjukkan apa yang akan menjadi akibat praktis dari teori semacam itu, yakni penyingkiran secara berangsur-angsur dari masyarakat akan perbedaan-perbedaan kelas, dan perbedaan-perbedaan antara manusia yang satu dengan yang lain, melalui sikap yang lebih tidak egois dalam urusan uang dan kekuasaan. Menjawab keberatan bahwa agama semacam itu berarti hilangnya individualitas, ia berargumen bahwa apa yang berubah-ubah tidak mungkin merupakan individualitas yang sejati, dan bahwa penemuan secara berangsur-angsur akan realitas di balik diri kita justru akan berarti pengukuhan individualitas dan bukan pemusnahannya.
Ketiga ceramah yang telah disampaikan itu diterima dengan begitu baik, dan begitu banyak harapan telah disuarakan agar ceramah-ceramah itu dilanjutkan, sehingga tiga ceramah lanjutan pun akan disampaikan. . . .
63, St. George's Rd.Hormat saya
London, S. W. SEORANG MURID
23 Juni 1896(Korespondensi)
[The Indian Mirror, 22 September 1896]
Swami Vivekananda menulis dari Danau Luzern [Lucerne], Swiss, tertanggal 23 Agustus lalu. Ia telah berjalan kaki melintasi beberapa bagian negeri Cis-Alpine, sembari menikmati pemandangan alam yang menawan di sana. Ia mengatakan bahwa pemandangannya dalam hal apa pun tidaklah kalah megah dibandingkan dengan pemandangan Himalaya. Namun demikian, ia menemukan dua hal yang membedakan kedua kawasan pegunungan itu. Di kawasan yang pertama, kolonisasi yang cepat dan padat telah merusak keindahan tempat itu. Di kawasan yang kedua, belum ada kecenderungan yang demikian mencolok. Yang pertama telah menjadi tempat peristirahatan terutama bagi para pencari kesembuhan dan penghuni musim panas; sedangkan yang kedua terutama bagi para peziarah dan pemuja. Swami sebentar lagi akan mengunjungi Jerman, di mana akan berlangsung suatu pertemuan dengan Prof. Deussen, setelah itu, pada 24 September, ia akan kembali ke Inggris. Ke India, kemungkinan besar, sebagaimana yang ia katakan, ia akan kembali pada musim dingin berikutnya. Ia berniat untuk tinggal di Himalaya.
[The Journal of the Maha Bodhi Society, November 1896]
Kami telah disuguhi sebuah salinan brosur berjudul "Ideal Agama Universal", yang diterbitkan oleh Brahmavadin Publishing Company, Madras. Brosur itu memuat sebuah ceramah Swami Vivekananda, yang disampaikan di Amerika. Ceramah tersebut sangat menarik dan sarat pelajaran. Ceramah itu merupakan suatu upaya untuk mendamaikan keragaman agama-agama. Kami menyambut brosur ini sebagai gejala zaman, sebab sudah jelas karena alasan-alasan yang nyata bahwa manusia mulai tersadarkan akan pentingnya persoalan keselarasan agama ini. Belakangan ini, di negeri-negeri tersebut para pemuka berbagai sekte keagamaan telah berusaha dengan cara mereka sendiri untuk mendamaikan keragaman agama ini, dan mereka gagal; mereka berhasrat membela dogma-dogma mereka atas dasar pandangan-pandangan sektarianisme yang menyimpang. Swami Vivekananda telah mengemukakan suatu pemecahan yang bersifat filosofis sekaligus paling praktis bagi persoalan keselarasan agama ini. Menurut beliau, Vedanta (ajaran puncak Veda) merupakan ikatan di antara perbedaan-perbedaan agama yang senantiasa berbenturan. Di dunia batin, sebagaimana di dunia lahir, terdapat pula gerak sentripetal dan sentrifugal. Kita menolak sesuatu, kita menarik sesuatu. Hari ini kita tertarik oleh suatu hal, esok hari kita ditolak oleh suatu hal. Hukum yang sama tidak dapat diterapkan pada segala waktu dan dalam segala perkara. "Agama adalah puncak tertinggi pemikiran dan kehidupan manusia, dan di sinilah kerja kedua daya itu paling kentara." Pada mulanya, tampaknya seolah-olah tidak mungkin ada keselarasan yang utuh dan tak terputus di bidang pergulatan yang dahsyat ini. Dalam setiap agama terdapat tiga bagian, yakni filsafat, mitologi, dan ritual. Setiap agama yang diakui [memiliki] ketiga hal ini. Namun, tidak mungkin ada filsafat, mitologi, dan ritual yang universal bagi seluruh dunia. Lalu di manakah keuniversal- annya? Bagaimana mungkin kemudian terdapat bentuk agama yang universal? "Kita semua mendengar," kata Swami Vivekananda, tentang persaudaraan universal, dan betapa berbagai perkumpulan berdiri secara nyata untuk mengkhotbahkannya, yakni persaudaraan universal, dengan kata lain, kita berteriak bagaikan orang-orang mabuk bahwa kita semua setara, oleh karena itu, marilah kita membentuk suatu sekte. Begitu Anda membentuk suatu sekte, Anda memprotes kesetaraan, dan dengan demikian kesetaraan itu pun tiada lagi.
Orang-orang Muslim berbicara tentang persaudaraan universal, tetapi apa yang sesungguhnya keluar dari mereka? Tidak seorang pun yang bukan Muslim akan diterima ke dalam persaudaraan itu; ia akan disembelih lehernya. Kami merasa tidak ada cara yang lebih baik selain mengutip kata-kata beliau sendiri, di mana beliau dengan kejernihan dan kedalaman pandangan yang menakjubkan serta dengan pikiran yang sungguh lapang mengemukakan secara tegas filsafat agama universal [Lihat Complete Works, II: 375-96]. . . .
Dalam masyarakat terdapat berbagai watak manusia. Sebagian adalah orang-orang yang aktif bekerja, ada manusia yang emosional, lalu ada manusia mistik, dan akhirnya ada sang filsuf. Vivekananda menyuarakan nada pokok seluruh filsafatnya ketika beliau menyatakan bahwa upaya untuk membantu umat manusia agar menjadi seimbang dengan indah dalam keempat arah ini merupakan ideal agama menurut beliau, dan agama ini disebut di India sebagai Yoga (penyatuan diri dengan Yang Ilahi). Sang pekerja disebut Karma-yogin; ia yang mencari penyatuan melalui kasih disebut Bhakti-yogin; ia yang mencari melalui mistisisme disebut Raja-yogin; dan ia yang mencari melalui filsafat disebut Jnana-yogin. Agama yang memiliki tempat bagi manusia dari segala watak ini dan agama yang memuaskan dahaga manusia dari berbagai kecenderungan, dapat menjadi agama universal, dan agama itu adalah Vedanta. Dengan sepenuh hati kami menganjurkan buku kecil yang mengagumkan ini kepada para pembaca kami. Sebab buku ini memuat sejumlah ungkapan pandangan yang jelas dan pasti mengenai persoalan paling vital yang tengah menyita perhatian serius para teolog. Harga buku ini ialah 3 anna, dan dapat diperoleh di Kantor Brahmavadin, Triplicane, Madras.
[The Indian Mirror, 16 Desember 1896]
Pada tanggal 21 bulan ini [November], "Indian Majlis" Cambridge mengadakan jamuan makan malam kehormatan di University Arms Hotel [di Cambridge] untuk Pangeran Ranjitsinhji dan Tuan Atul Chandra Chatterjee. Tuan Hafiz G. Sarwir dari St. John's College menjadi pemimpin acara. Hadir sekitar lima puluh orang India dan beberapa orang Inggris. . . . Swami Vivekananda berdiri berikutnya untuk menanggapi [tos bagi India] di tengah sorak-sorai yang riuh dan memekakkan telinga. Sang Swami memulai dengan mengatakan bahwa beliau tidak tahu persis mengapa beliau dipilih untuk menanggapi tos itu, kecuali barangkali karena alasan bahwa dalam hal besarnya tubuh beliau memiliki kemiripan yang mencolok dengan hewan nasional India (gelak tawa). Beliau ingin mengucapkan selamat kepada tamu kehormatan malam itu, dan beliau menerima sebagai sungguh-sungguh benar pernyataan yang dibuat oleh Sang Pemimpin Acara bahwa Tuan Chatterjee akan memperbaiki kekeliruan para sejarawan India terdahulu. Sebab dari masa lampau, masa depan pastilah lahir, dan beliau tidak mengenal landasan yang lebih agung dan lebih kekal bagi masa depan selain pengetahuan sejati tentang apa yang telah berlalu sebelumnya. Masa kini adalah akibat dari ketakberhinggaan sebab-sebab yang mewakili masa lampau. Mereka memiliki banyak hal untuk dipelajari dari bangsa Eropa, tetapi masa lampau mereka, kejayaan India yang telah berlalu, sepatutnya menjadi sumber ilham dan pengajaran yang bahkan lebih besar lagi. Segala sesuatu bangkit dan segala sesuatu meluruh; ada kebangkitan dan kejatuhan di mana-mana di dunia ini. . . . [Lihat kutipan blok pada halaman berikut untuk sisa teks laporan ini.]
[The Amrita Bazar Patrika, 8 Januari 1897]
. . . Pertemuan itu sungguh unik, sebab orang-orang India berkumpul untuk berbicara (di dalam Majlis mereka semua berbicara), tentang keberhasilan Ranjit Singh dan Atul Chandra Chatterjee. Sayang sekali nama Profesor Bose tidak dikaitkan dengan kedua nama di atas; dan menurut kami, Swami Vivekananda, yang hadir pada kesempatan itu, juga layak memperoleh pengakuan. Akan tetapi, kami tidak akan melakukan kesalahan dengan mengabaikan dua nama terakhir dalam upaya menunjukkan apa yang telah mampu dicapai oleh orang-orang India di Dunia Barat.
Apa yang dilakukan oleh Swamiji ialah menyingkirkan kesan dari benak orang-orang Amerika bahwa orang-orang India adalah kaum biadab, takhayul dalam keyakinan mereka, dan gemar melakukan kekejaman yang mengerikan. Kedatangan Swamiji di Dunia Barat telah memberikan jasa ini, yaitu telah menciptakan kesan di banyak kalangan bahwa orang-orang India bukanlah ras yang lebih rendah sebagaimana disebut oleh Sir Charles Elliot, dan bahwa mereka mampu, dalam pokok-pokok semacam agama dan filsafat, mengatakan hal-hal yang bahkan tidak diketahui oleh Dunia Barat sekalipun. Kedatangan Swamiji di Dunia Barat tidak diragukan lagi telah mengangkat martabat orang-orang India di Dunia Barat. . . .
Kata Swami Vivekananda:--
Dan meskipun India telah jatuh pada hari ini, ia pasti akan bangkit kembali. Pernah ada suatu masa ketika India melahirkan para filsuf besar dan para nabi serta pengkhotbah yang bahkan lebih besar lagi. Kenangan akan hari-hari itu sepatutnya memenuhi mereka dengan harapan dan keyakinan. Ini bukanlah kali pertama dalam sejarah India bahwa mereka berada begitu rendah. Masa-masa kemerosotan dan keterpurukan pernah terjadi sebelum ini, tetapi India selalu menang pada akhirnya, dan demikian pula ia akan menang sekali lagi di masa depan. . . . . . .
[The Amrita Bazar Patrika, 20 Januari 1897]
Swami Vivekananda telah menerima sambutan meriah bagaikan seorang pahlawan penakluk yang pulang ke kampung halaman. Kabar terakhir yang kami dengar tentang beliau di Inggris ialah ketika beliau menerima pidato perpisahan dari para murid Inggris beliau, yang menyatakan kasih mereka yang tak kunjung padam kepada India. . . .
Tak seorang pun memiliki pengetahuan yang akurat tentang apa yang dikerjakan Swami Vivekananda di Dunia Barat. Kami mendengar bahwa beliau telah meninggalkan kesan tertentu di Amerika dan juga di Inggris. . . .
Akan tetapi, Sang Swami menyadari sepenuhnya hakikat misi yang ada di hadapan beliau. Beliau mengatakan bahwa ajaran Vedanta mengajarkan kebenaran, yaitu bahwa manusia adalah makhluk yang ilahi dan bahwa yang tertinggi maupun yang terendah merupakan perwujudan dari Tuhan yang satu dan sama. Akan tetapi, beliau tidak mengakui bahwa pengetahuan semata sudah cukup bagi keselamatan manusia. Kata beliau:--
Namun pengetahuannya itu tidak boleh berupa teori, melainkan kehidupan. Agama adalah pencerapan langsung (realisasi), bukan ucapan, bukan doktrin, ataupun teori, betapapun indahnya semua itu. Agama adalah keberadaan dan menjadi, bukan mendengar atau mengakui. Ia bukanlah persetujuan intelektual; melainkan seluruh kodrat seseorang berubah menjadi agama itu. Itulah agama. Dengan persetujuan intelektual, kita dapat sampai pada seratus macam hal yang bodoh, dan berubah keesokan harinya; tetapi keberadaan dan menjadi inilah yang merupakan agama.
Dalam sentimen mulia di atas, Sang Swami menunjukkan bahwa beliau memahami keadaan dengan cukup baik. Yang menghasilkan kelahiran kembali seorang manusia ialah agama. Di bawah pengaruh agama, seorang manusia menjadi makhluk yang sama sekali berbeda dari keadaannya sebelumnya. Kecuali itulah hasil dari agamanya, maka agamanya hanyalah mitos belaka.
[The Indian Mirror, 24 Februari 1898]
Swami Vivekananda telah mendesak penduduk Lahore dan Sialkot akan perlunya kerja yang praktis. Jutaan orang yang kelaparan, demikian desak beliau, tidak dapat hidup dari spekulasi metafisika; mereka memerlukan roti; dan dalam sebuah ceramah yang beliau sampaikan di Lahore tentang Bhakti (pengabdian kasih), beliau menyarankan sebagai agama terbaik untuk masa kini bahwa setiap orang, sesuai dengan kemampuannya, hendaklah keluar ke jalanan dan mencari Narayana-Narayana yang kelaparan, membawa mereka ke rumah mereka, memberi mereka makan dan pakaian. Si pemberi hendaklah memberi kepada sesama manusia, dengan mengingat bahwa manusia adalah kuil Tuhan yang tertinggi. Beliau telah menyaksikan amal di banyak negeri, dan alasan kegagalannya terletak pada semangat yang melandasi pelaksanaannya. "Ini, ambillah dan pergilah." Amal mengingkari namanya sendiri selama ia diberikan demi memperoleh nama baik atau pujian dunia.
[The Indian Mirror, 24 April 1898]
Swami Vivekananda, dalam memperkenalkan sang penceramah Swami Saradananda, berkata:
Hadirin sekalian,--Pembicara malam ini baru saja datang dari Amerika. Sebagaimana Anda semua di sini ketahui bahwa Amerika adalah bagi negeri Anda, walaupun orang-orang sebangsa kita, khususnya Swami Dayananda Saraswati, dahulu biasa menyebut negeri itu sebagai Patala, yang dihuni oleh orang-orang Lapland, Rakshasa, dan Asura, dan sebagainya. (Gelak tawa dan sorak-sorai keras). Baiklah, Tuan-tuan, apakah negeri itu Patala atau bukan, hendaklah Anda putuskan dengan memperhatikan beberapa wanita yang hadir di sini, yang telah datang dari negeri yang Anda sebut Patala itu, apakah mereka Naga-Kanya atau bukan. (Sorak-sorai). Nah, Amerika adalah negeri yang benar-benar baru. Negeri itu ditemukan oleh Columbus, orang Italia, dan sebelum itu sebuah klaim yang lebih awal diajukan oleh orang-orang Norwegia yang mengatakan bahwa mereka telah menemukan bagian utaranya, dan kemudian sebelum itu ada lagi klaim yang lebih awal dari orang-orang Tionghoa, yang pada suatu masa mengkhotbahkan ajaran mulia Buddhisme ke seluruh penjuru dunia, dan dikatakan bahwa para misionaris Buddhis juga dikirim dari India ke Amerika, dan khususnya ke Washington, di mana sejenis catatan masih dapat dijejaki oleh setiap pengelana yang berkunjung ke sana. Baiklah, kini keadaan akhirnya telah berbalik selama satu abad atau lebih, dan alih-alih Amerika yang ditemukan, ialah yang menemukan orang-orang yang menyeberang ke negerinya. (Tepuk tangan riuh). Inilah fenomena yang kami saksikan setiap hari di sana, kerumunan orang yang berdatangan dari setiap penjuru negeri [dunia?] dan membiarkan diri mereka ditemukan di Amerika Serikat. Sudah menjadi fakta yang Anda semua di sini ketahui dengan baik bahwa beberapa di antara orang-orang sebangsa kita sendiri telah ditemukan dengan cara demikian. (Sorak-sorai). Hari ini, di sini saya persembahkan di hadapan Anda salah seorang putra Kalkuta Anda, yang telah ditemukan dengan cara serupa oleh orang-orang Amerika. (Sorak-sorai).
[The Indian Mirror, 15 Februari 1901]
Seorang koresponden menulis:--"Berikut ini adalah ringkasan pidato Swami Vivekananda yang disampaikan di Belur M.E. School pada hari pembagian hadiah yang diselenggarakan pada tanggal 22 bulan ini, hari Minggu, ketika Sang Swami diundang untuk memimpin acara. Para hadirin sebagian besar terdiri atas anak-anak lelaki sekolah itu dan beberapa tuan yang lebih tua dari Belur."
Pelajar masa kini tidak praktis. Ia sungguh tak berdaya. Yang dibutuhkan oleh para pelajar kita bukanlah kekekaran tubuh, melainkan ketangguhan. Mereka kurang dalam hal kemandirian. Mereka tidak terbiasa menggunakan mata dan tangan mereka. Tidak ada keterampilan tangan yang diajarkan. Sistem pendidikan Inggris masa kini sepenuhnya bersifat kesusastraan. Pelajar harus dibimbing untuk berpikir sendiri dan bekerja sendiri. Andaikan terjadi kebakaran. Yang pertama maju ke depan dan memadamkan api itu ialah orang yang terbiasa menggunakan mata dan tangannya. Banyak kebenaran dalam kritik bangsa Eropa yang menyinggung kemalasan orang Bengali, cara mereka mengerjakan segala sesuatu secara serampangan. Hal ini dapat segera diperbaiki jika para pelajar dibimbing untuk mempelajari suatu keterampilan tangan; terlepas dari segi kemanfaatannya, hal itu sendiri merupakan sebuah pendidikan.
Kedua, betapa ribuan pelajar yang saya kenal hidup dengan makanan yang paling buruk, dan hidup di tengah lingkungan yang paling mengerikan; tidak heran jika begitu banyak orang dungu, lemah akal, dan pengecut di antara mereka. Mereka mati bagaikan lalat. Pendidikan yang diberikan bersifat berat sebelah, melemahkan; pendidikan itu membunuh sedikit demi sedikit. Anak-anak dipaksa menjejalkan terlalu banyak bahan yang tidak berguna, dan dikurung di dalam ruang-ruang kelas dengan lima puluh atau tujuh puluh orang di setiap ruangan, selama lima jam berturut-turut. Mereka diberi makanan yang buruk. Terlupakan bahwa kesehatan manusia di masa depan terletak pada anak. Terlupakan bahwa alam tidak pernah dapat ditipu dan segala sesuatu tidak dapat dipaksakan terlalu dini. Dalam memberikan pendidikan kepada seorang anak, hukum pertumbuhan harus ditaati. Dan kita harus belajar untuk bersabar menanti. Tidak ada yang lebih penting daripada bahwa anak harus memiliki tubuh yang kuat dan sehat. Tubuh adalah hal pertama untuk mencapai kebajikan. Saya tahu bahwa kita adalah bangsa yang paling miskin di dunia, dan kita tidak mampu berbuat banyak. Kita hanya dapat bekerja menurut garis yang paling sedikit hambatannya. Setidaknya kita harus memastikan bahwa anak-anak kita diberi makan dengan baik. Mesin tubuh sang anak tidak boleh dikuras sampai habis. Di Eropa dan Amerika, seorang berkekayaan jutaan rupee, jika anaknya sakit-sakitan, akan mengirimnya kepada para petani untuk mengolah tanah. Setelah tiga tahun, ia kembali kepada ayahnya dalam keadaan sehat, kemerah-merahan, dan kuat. Barulah ia layak dikirim ke sekolah. Karena alasan-alasan inilah kita seyogianya tidak mendesak sistem pendidikan masa kini lebih jauh lagi.
Ketiga, karakter kita telah lenyap. Pendidikan Inggris kita telah menghancurkan segala sesuatu dan tidak meninggalkan apa pun sebagai gantinya.
Anak-anak kita telah kehilangan kesopanan mereka. Berbicara dengan santun dianggap merendahkan. Bersikap hormat kepada orang yang lebih tua dianggap merendahkan. Ketidakhormatan telah menjadi tanda kemerdekaan. Sudah tiba saatnya kita kembali kepada kesopanan kita yang lama. Para pembaru tidak memiliki apa pun untuk diberikan sebagai pengganti apa yang telah mereka renggut. Namun demikian, kendati lingkungan yang paling buruk dari segi iklim, dan sebagainya, kita telah mampu berbuat banyak; kita masih harus berbuat lebih banyak lagi. Saya bangga akan ras saya, saya tidak berputus asa, saya setiap hari menyaksikan masa depan yang gemilang dan menakjubkan dalam penglihatan batin saya. Berikanlah perhatian yang sebesar-besarnya kepada anak-anak muda ini, yang menjadi tumpuan masa depan kita.
[The Indian Social Reformer, 16 Juni 1901]
Karena di Amerika muncul sebuah pertanyaan mengenai sikap Swami Vivekananda terhadap persoalan-persoalan sosial, seorang wanita menulis kepada sebuah surat kabar Amerika sebagai berikut: "Dalam salah satu ceramahnya di Pouch Mansion, ia berbicara tentang para janda Hindu, dengan menyatakan bahwa tidaklah adil untuk mengatakan bahwa mereka pada umumnya mengalami kekejaman atau penindasan di dalam rumah-rumah India [sic]. Ia mengakui bahwa prasangka terhadap pernikahan kembali, serta adat yang menjadikan sang janda anggota keluarga suami dan bukan keluarga orang tuanya sendiri, menimbulkan sejumlah kesulitan bagi para janda di India, dan ia mendukung upaya-upaya bijaksana bagi pendidikan mereka yang akan menjadikan mereka mampu menafkahi diri sendiri dan dengan cara ini meringankan keadaan mereka. Ia menekankan keinginannya bagi pendidikan dan pengangkatan martabat kaum wanita negerinya, termasuk para janda, dengan secara sukarela menyumbangkan seluruh hasil dari salah satu ceramahnya untuk menunjang sekolah Babu Sasipada Banerjee, di Baranagar, dekat Kalkuta, sebuah lembaga yang berdiri mendahului lembaga milik Pandita Ramabai di Poona, dan di mana, jika saya tidak keliru, sang Pandita sendiri mem- peroleh ilham pertama bagi karyanya. Ceramah ini disampaikan, dan hasilnya diteruskan kepada Babu Sasipada Banerjee, serta diterima dengan tanda terima yang semestinya."
## References
English
[Madura Mail, January 28, 1893]
(Though this extract does not mention Swami Vivekananda by name, refers to an M.A. which the Swami never received, and describes him as two years older than his actual age--still there is indubitable internal evidence that the Bengali Sâdhu was Swami Vivekananda. Furthermore, the date coincides accurately with the Swami's stay in Madras, and a back reference to this event published in the Indian Social Reformer, on July 13, 1902, is added confirmation. Incidentally, no copy of the Indian Social Reformer of 1892 1893 is available today.)
A BENGALI SADHU ON HINDU RELIGION AND SOCIOLOGY
A young Bengalee Sanyashi [Sannyâsin] of about thirty two years of age, and a Master of Arts of the Calcutta University was last week interviewed at the Triplicane Literary Society by about a hundred educated Indians among whom was Dewan Bahadur Raghunatha Rao. A summary of what was stated by the Sadhu is published by the Indian Social Reformer, from which we make the following extracts:
The perfect religion is the Vedic religion. The Vedas have two parts, mandatory and optional. The mandatory injunctions are eternally binding on us. They constitute the Hindu religion. The optional ones are not so. These have been changing and been changed by the Rishis to suit the times. The Brahmins at one time ate beef and married Sudras. [A] calf was killed to please a guest. Sudras cooked for Brahmins. The food cooked by a male Brahmin was regarded as polluted food. But we have changed our habits to suit the present yug[a]. Although our caste rules have so far changed from the time of Manu, still if he should come to us now, he would still call us Hindus. Caste is a social organization and not a religious one. It was the outcome of the natural evolution of our society. It was found necessary and convenient at one time. It has served its purpose. But for it, we would long ago have become Mahomedans [sic]. It is useless now. It may be dispensed with. Hindu religion no longer requires the prop of the caste system. A Brahmin may interdine with anybody, even a Pariah. He won't thereby lose his spirituality. A degree of spirituality that is destroyed by the touch of a Pariah, is a very poor quantity. It is almost at the zero point. Spirituality of a Brahmin must overflow, blaze and burn [so] as to warm into spiritual life not one Pariah but thousands of Pariahs who may touch him. The old Rishis observed no distinctions or restrictions as regards food. A man who feels that his own spirituality is so flimsy that the sight of a low caste man annihilates it need not approach a Pariah and must keep his precious little to himself.
The Hindu Ideal of life is "Nivarti" [Nivritti]. Nivarti means subjugation and conquest of evil passions, of Tamasa nature of lust, revenge and avarice. It does not mean conquest of all desire. It means only the annihilation of gross desires. Every man is bound to love and sympathize with his fellow creatures. [A] Sanyasi is one who has vanquished all his selfish passions and vowed to devote his life for the good of others. He loves all. "Pravirti" [Pravritti] means love of God and all his creatures. Sanyasis ought to be fed. They are not like the Christian bishops and Archbishops who must be paid to do their work with thousands of pounds per annum; all whose earnings are spent upon their own luxury--their wife and children. [The] Sanyasi wants only a morsel of food, and then he places all his knowledge and services at the disposal of the public. He is a wandering missionary. Individuals and society have to work themselves up from "brute through man, into divine". Even the lowest of the Hindus, the Pariah, has less of the brute in him than a Briton in a similar social status. This is the result of an old and excellent religious civilization. This evolution to a higher spiritual state is possible only through discipline and education.
Every institution, caste, early marriage etc., that stands in the way of education, ought at once to be knocked on the head. Even "Shradh" may be given up, if the performance of it involves waste of time which might be better used for self education. But "Shradh" should not be given up. The meaning of the Mantras is very edifying. The Mantras depict the suffering and care undergone by our parents on our behalf. The performance of it is an honour paid to the memory of the sum total of the spirit of our forefathers, whose virtues we inherit. Shradh has nothing to do with one's salvation. Yet no Hindu who loves his religion, his country and his past great men should give up Shradh. The outward formalities and the feeding of the Brahmins are not essential. We have no Brahmins in these days worthy of being fed on Shradh days. The Brahmins fed ought not to be professional eaters, but Brahmins who feed disciples gratis, and teach them true Vedic doctrines. In these days, Shradh may be performed mentally.
The jealous guardianship of our women shows that we Hindus have declined in our national virtues, that we reverted to the "brutal state". Every man must so discipline his mind as to bring himself to regard all women as his sis ters or mothers. Women must have freedom to read, to receive as good an education as men. Individual development is impossible with ignorance and slavery.
Through the slavery of a thousand years, Hindus have at present degenerated. They have forgotten their own self respect. Every English boy is taught to feel his importance, he thinks that he is a member of a great race, the conquerors of the Earth. The Hindu feels from his boyhood just the reverse that he is born to slave. We can't become a great nation unless we love our religion and try to respect ourselves, and respect our country men and society. The Hindus of modern times are generally hypocrites. They must rise, and combine the faith in the true Vedic religion, with a knowledge of the political and scientific truths of the Europeans. The evils of caste seem to be more prevalent in the South than in Bengal. In Bengal a Brahmin uses the water touched by the Sudras, but here the Sudra is kept at a great distance by the Brahmin. There are no Brahmins in [the] Kali Yug[a]. The Pariahs, our fellow beings, ought to be educated by the higher castes, must [ . . . ] truths of Hindu religion and be [ . . . ] Brahmins. The first duty of a Brahmin is to love all. There must first be an amalgamation of the Brahmins, then of all the Dwijas, and then of the Dwijas and Sudras.
By H. R. Haweis
[The Indian Mirror (from The Daily Chronicle), November 28, 1893]
. . . Vivekananda, the popular Hindu monk, whose physiognomy bore the most striking resemblance to the classic face of the Buddha, denounced our commercial prosperity, our bloody wars, and our religious intolerance, declaring that at such a price the "mild Hindu" would have none of our vaunted civilisation. . . . "You come," he cried, with the Bible in one hand and the conqueror's sword in the other--you, with your religion of yesterday, to us, who were taught thousands of years ago by our Rishis precepts as noble and lives as holy as your Christ's. You trample on us and treat us like the dust beneath your feet. You destroy precious life in animals. You are carnivores. You degrade our people with drink. You insult our women. You scorn our religion--in many points like yours, only better, because more humane. And then you wonder why Christianity makes such slow progress in India. I tell you it is because you are not like your Christ, whom we could honour and reverence. Do you think, if you came to our doors like him, meek and lowly, with a message of love, living and working and suffering for others, as he did, we should turn a deaf ear? Oh no! We should receive him and listen to him, and as we have done our own inspired Rishis (teachers). . . .
[The Indian Mirror, December 7, 1893]
Hindu Criticises Christianity
Mr. Vivekananda Says Religion of the Vedas Is Religion of Love
Vivekananda Says Christianity Is Intolerant
Dr. Noble presided at the afternoon session. The Hall of Colombus [Columbus] was badly crowded. . . . Dr. Noble then presented Swami Vivekananda, the Hindu monk, who was applauded loudly as he stepped forward to the centre of the platform. He wore an orange robe, bound with a scarlet sash, and a pale yellow turban. The customary smile was on his handsome face and his eyes shown with animation. Said he:
We who come from the East have sat here on the platform day after day, and have been told in a patronizing way that we ought to accept Christianity because Christian nations are the most prosperous. We look about us, and we see England, the most prosperous Christian nation in the world, with her foot on the neck of 250,000,000 of Asiatics. We look back into history, and see that the prosperity of Christian Europe began with Spain. Spain's prosperity began with the invasion of Mexico. Christianity wins its prosperity by cutting the throats of its fellowmen. At such a price the Hindu will not have prosperity.
I have sat here to day, and I have heard the height of intolerance. I have heard the creed of the Moslem applauded, when to day the Moslem sword is carrying destruction into India. Blood and the sword are not for the Hindu, whose religion is based on the law of love.
When the applause had ceased, Mr. Vivekananda went [on] to read his paper, a summary of which follows: [Vide "Paper on Hinduism", Complete Works, I: 6 20]. . . .
[The Indian Mirror, June 14, 1894]
There has been some lively correspondence between Swami Vivekanand and a retired Christian Missionary on the work and prospects of Christianity in India. Among other things, the
Swami is reported to have said that "the way of converting is absolutely absurd";
Missionary doctors do no good, because they are not in touch with the people. . . . They accomplish nothing in the way of converting, although they may have nice sociable times among themselves, &c.
The reverend gentleman took exception to the words, maintaining that speaking the vernaculars well, nobody of foreigners understands, and sympathises with Indians better than Missionaries. The Missionaries are undoubtedly good and well meaning people; but we think, the statement of the Swami that they are seldom in touch with the people, is not without foundation. With the revival of Hinduism, manifested in every part of the country, it is doubtful whether Christianity will have any sway over the Hindus. The present is a critical time for Christian Missions in India. The Swami thanked the Missionary for calling him his fellow countryman. "This is the first time," he wrote, any European foreigner, born in India though he be, has dared to call a detested Native by that name--Missionary or no Missionary. Would you dare call me the same in India?
[The Indian Mirror, July 20, 1894]
Swami Vivekananda explained in America the central idea of the Vedas as follows:
I humbly beg to differ from those who see in monotheism, in the recognition of a personal God, apart from Nature, the acme of intellectual development. I believe, it is only a kind of anthropomorphism which the human mind stumbles upon in its first efforts to understand the unknown. The ultimate satisfaction of human reason and custom lies in the realisation of that universal essence which is the All. And I hold an irrefragable evidence that this idea is present in the Vedas, the numerous gods and their invocations notwithstanding. This idea of formless All, the Sat, i.e., esse or being, called Atman and Brahman in the Upanishads, and further explained in the Darsans, is the central idea of the Vedas, nay, the root idea of the Hindu religion in general.
[The Bengalee, May 18, 1895]
There is not a Hindoo who is not proud of Vivekananda Swami--who would not honor him and his teachings. He has done honor to himself, to his race and his religion. If we are right in this view, it follows that the opinions of Vivekananda are entitled to the highest consideration. This is what he says with regard to the sea voyage movement:--
Expansion is life; contraction is death. Love is life, hatred is death. We began to die the day we began to contract--to hate other races--and nothing can prevent our death, until we come back to life, to expansion. We must mix, therefore, with all the races of the earth and every Hindoo that goes out to travel in foreign parts, does more benefit to his country than hundreds of those bundles of superstition and selfishness whose one aim in life is to be the dog in the manger. Those wonderful structures of national life which the Western nations have raised are supported by pillars of character--and until we can produce such by the hundred, it is useless to fret and fume against this power or that power. Does anyone deserve liberty who is not ready to give it to others? Let us calmly and in manly fashion go to work--instead of dissipating our energies in unnecessary frettings and fumings and I, for one, thoroughly believe that no power in the universe can withhold from anyone anything he really deserves. The past was great no doubt, but I sincerely believe that the future in store is glorious still.
We must mix with other nations and take from them whatever good they have to give us. It is our exclusiveness, our unwillingness to learn from foreign nations which is mainly responsible for our present degradation. We considered ourselves to be the elect of heaven, and superior to the nations of the earth in all respects. We regarded them as barbarians, their touch as pollution, their knowledge as worse than ignorance. We lived in a world of our own creation. We would teach the foreigner nothing--we would learn nothing from the foreigner. At last the disillusion came. The foreigner became our master-- the arbiter of our destinies. We eagerly took to his learning. We found that there was much in it that was novel, much that was highly useful. We found that so far as the material comforts of life were concerned the foreigner vastly out distanced us--that his control over the powers of nature was far greater than any we had dreamt of. He had annihilated time and space, and had subordinated the powers of nature to the convenience of man. He had many wonderful things to teach us. We learnt them eagerly. But still we don't visit his country. If we do, we lose caste. We are under a foreign Government. We eagerly study a foreign language and literature and admire all that is good and beautiful in it. We use foreign articles for dress and consumption. But still we dare not visit the country of our rulers, for fear of excommunication. Against this unmeaning prejudice, the great Swami, who is a Hindoo of Hindoos, indignantly raises his voice of protest. The objectors, in his expressive language, are like the dog in the manger. They will not travel to foreign
countries,--they will not allow others to travel. Yet the fact remains, says the Swami, that these travelled Hindoos do more benefit to their country than hundreds of those bundles of superstition and selfishness, whose one aim in life is to be like the dog in the manger. . . . . . . If we had our Rishis in this age, as we had them in the ages that are gone by, we are sure they would have withdrawn the interdiction to sea voyage, if indeed any such interdiction has been laid in the past. Society is an organism which obeys the immutable law of progress; and change, judicious and cautious change, is necessary for the well being, and indeed the preservation of the social system. However that may be, it is something to know that so high an authority and so good a Hindoo as Swami Vivekananda supports travel to foreign countries. . . .
[The Indian Mirror, June 29, 1895]
Swami Vivekananda's speech, delivered in Chicago at the presentation of the Buddhists on September 26, 1893, is published in MacNeely's edition of the "History of the Parliament of Religions". The following were his concluding words:--
We cannot live without you, nor you without us. Then believe that separation has shown to us, that you cannot stand without the brain and the philosophy of the Brahman [sic], nor we without your heart. This separation between the Buddhist and the Brahman [Brahmin] is the cause of the downfall of India. That is why India has been the slave of conquerors for the past 1000 years. Let us then join the wonderful intellect of the Brahman [Brahmin] with the heart, the noble soul, the wonderful humanising power of the Great Master.
[The Indian Mirror, December 1, 1895]
At the weekly meeting of the Balloon Society, an address on "Man and Society in the Light of Vedanta" was given by Swami Vivekananda. The Swami who wore the red robe of his sect, spoke with great fluency and in perfect English for more than an hour without the help of a single note. He said that religion was the most wonderful factor in the social organism. If knowledge was the highest gain that science could give, what could be greater than the knowledge of God, of the soul, of man's own nature which was given by the study of religion? It was not only impossible that there should be one religion for the whole world, but it would be dangerous. If the whole of religious thought was at the same level, it would be the death of religious thought; variety was its life. There were four types of religion--(1) the worker, (2) the emotional, (3) the mystical, and (4) the philosophical. Each man unfortunately became so wedded to his own type that he had no eyes to see what existed in the world. He struggled to make others of the same type. That religion would be perfect which gave scope to all the different characters. The Vedantic religion took in all, and each could choose in what his nature required. A discussion followed.
[The Indian Mirror (from the New York Herald), March 25, 1896]
Many well known persons are seeking to follow the teaching of Swami Vivekananda's Philosophy. . . . . . .
Swami Vivekananda sat in the centre, clad in an ochre coloured robe. The Hindu had his audience divided on either side of him and there was between fifty and a hundred persons present. The class was in Karma Yoga, which has been described as the realisation of one's self as God through works and duty.
Its theme was:--
"That which ye sow ye reap", whether of good or evil.
Following the lecture or instruction the Swami held an informal reception, and the magnetism of the man was shown by the eager manner in which those who had been listening to him hastened to shake hands or begged for the favour of an introduction. But concerning himself the Swami will not say more than is absolutely necessary. Contrary to the claim made by some of his pupils he declares that he has come to this country alone and not so officially representing any order of Hindu monks. He belongs to the Sanyasis he will say; and is hence free to travel without losing his caste. When it is pointed out to him that Hinduism is not a proselytising religion, he says he has a message to the West as Buddha had a message to the East. When questioned concerning the Hindu religion, and asked whether he intends to introduce its practices and ritual into [t]his country, he declares that he is preaching simply philosophy.
[The Indian Mirror, June 19, 1896]
Swami Saradananda in a letter from London written to the Editor of the Brahmavadin says:--
Swami Vivekananda has made a very good beginning here. A large number of the people attend his classes regularly, and the lectures are most interesting. Canon Haweis, one of the leaders of the Anglican Church, came the other day, and was much interested. He saw the Swami before, in the Chicago fairs, and loved him from that time. On Tuesday last, the Swami lectured on "Education" at the Sesame Club. It is a respectable club got up by women for diffusing female education. In this he dealt with the old educational system of India, pointed out clearly and impressively that, the sole aim of the system was "man making" and not cramming and compared it with the present system. He held that, the mind of the man is an infinite reservoir of knowledge, and all knowledge, present, past or future, is within man, manifested or non manifested, and the object of every system of education should be to help the mind to manifest it. For instance, the law of gravitation was within man, and the fall of the apple helped Newton to think upon it, and bring it out from within his mind. His class days have been arranged as follows:--
Tuesdays, morning and evening; Thursdays, morning and evening; Friday, evening question classes. So the Swami has to do four lectures, and one class on questions every week. In the class lecture, he has begun with Gnan [Jnâna ]Yoga. A short hand report of these lectures is being taken down by Mr. Goodwin, who is a great admirer of the Swami, and these lectures will be published later on.
[The Brahmavadin, July 18, 1896]
Sir,
I feel sure you will be glad to have an idea of the progress of the Swami's work in England, as a supplement to the letter which the Swami Saradananda sent you a few weeks ago. At that time a series of Sunday lectures was being arranged, and three of these have now been given. They are held in one of the galleries of the Royal Institute of Painters in water colours, 191 Piccadilly, and have been so far remarkably successful in attaining their object, that of reaching people who, from one reason or another, cannot attend the class talks. The first of the series was "The Necessity of Religion". The Swami claimed that religion is and has been the greatest force in moulding the destinies of the human race. Concerning its origin he said that either of the two theories, (1) Spirit origin, (2) Search after the infinite, will meet the case, and, to his mind, neither contradicts the other, because the search after the departed of the Egyptians and Babylonians, and the attempt to peep behind the veil of the dawn, the evening, the thunderstorm, or other natural phenomena, of the Aryans, can both be included as a search after the super sensuous, and therefore the unlimited. This unlimited, in the course of time became abstracted, first as a person, then as a presence, and lastly as the essence of all existence. To his mind the dream state is the first suggestion of religious inquiry, and inasmuch as the awakened state has always been, and always will be accompanied by the dream state, a suggestion of existence finer than that of the awakened state yet vanishing during it, the human mind will always be predisposed in favour of spiritual existence and a future life. It is in our dream state that we really find, in a sense, our immortality. Later on, as dreams are found to be only milder manifestations of the awakened state, the search for still deeper planes of the mind begin[s], the super conscious state of the mind. All religions claim to be founded on facts discovered in this state. The two important points to consider in this connection are, that all facts discovered in this way are, in the highest sense, abstractions, and secondly, that there is a constant struggle in the race to come up to this ideal, and everything which thwarts our progress towards that we feel as a limitation. This struggle soon ends in the discovery that to find infinite happiness, or power, or knowledge, or any other infinity, through the senses, is impossible, and then the struggle for other channels of expansion begins, and we find the necessity of religion. The second lecture was upon the subject "A Universal Religion", when the Swami gave, in substance, the lecture which most of your readers have seen in print as it was delivered in New York. As this lecture may be termed the Swami's "plan of campaign" we always await its delivery with very great interest, and it is most encouraging to note that the impression made here in London was equally as good as was the case when the lecture was delivered in the Hardman Hall, New York. The third of the series brought us up to Sunday last, June 21st, when "The Real and the Apparent Man" was the subject under discussion. In this the Swami, link by link, glanced over the thread of thought which has gradually advanced from the consideration of men as separate entities from God and the rest of the universe, up to the point at which we concede the impossibility of more than one Infinity, and the necessary consequence that which we now regard as men, as animals, as the universe of matter, cannot be the real unity; that the real must be something which is indivisible, and unchangeable; and when reason forces us to the conclusion that this phenomenal world can only be an illusion, through which we, as entities in the illusion, have to pass to discover our real nature, "That which exists is one; sages call it variously". But the Swami did not stop with the theory; he showed what would be the practical effect of such a theory, the gradual elimination from society of class distinctions, and distinctions between man and man, by greater unselfishness in the matters of money and power. Answering the objection that such a religion means loss of individuality, he argued that that which is changeful cannot be the real individuality, and that the gradual discovery of the reality behind us would mean the assumption of individuality and not its destruction.
The three lectures thus given have been so favorably received, and there have been so many wishes expressed for their continuation that three further lectures are to be given. . . .
63, St. George's Rd.Sincerely yours
London, S. W. A DISCIPLE
June 23, 1896(Correspondence)
[The Indian Mirror, September 22, 1896]
Swami Vivekananda writes from Lake Luzern [Lucerne] Switzerland, under date the 23rd of August last. He has been walking over several parts of the Cis Alpine country, enjoying the pleasing views of nature there. He says that the scenery is in no respect less grand than that of the Himalayas. Still, he makes out two points of difference between the two mountainous regions. In the former the rapid and thick colonization has been marring the beauty of the place. In the latter, there has not yet been any such marked tendency. The former has become a resort mainly for the sanatorists and summer residents; and the latter mainly for the pilgrims and devotees. The Swami is shortly going to visit Germany, where an interview will take place with Prof. Deussen, after which, by the 24th of September, he will go back to England. To India, most likely, as he says, he is returning by the next winter. He intends to reside in the Himalayas.
[The Journal of the Maha Bodhi Society, November 1896]
We have been presented with a copy of a booklet entitled the "Ideal of Universal Religion", published by the Brahmavadin Publishing Company, Madras. It is a lecture by Swami Vivekananda, delivered in America. The lecture is highly interesting and instructive. It is an attempt at a reconciliation between the diversity of religions. We hail the booklet as the symptom of the times, for it is evident for obvious reasons that men are beginning to awaken to the importance of this problem of religious harmony. Recently, in these countries leaders of different religious sects have attempted in their own way to reconcile this religious diversity, and have failed; they have aspired to defend their dogmas on the ground of distorted views of sectarianism. Swami Vivekananda has propounded a philosophical and at the same time a most practical solution of this problem of religious harmony. According to him, Vedanta is the bond between the ever conflicting religious differences. In the internal world, like the external world, there is also the centripetal and centrifugal action. We repel something, we attract something. Today we are attracted by some, to morrow we are repelled by some. The same law cannot be applied at all times and in all cases. "Religion is the highest place of human thought and life, and herein the workings of these two forces have been most marked." At the outset, it apparently appears that there cannot reign unbroken harmony in this plane of mighty struggle. In every religion there are three parts, namely, philosophy, mythology and rituals. Every recognised religion [has] all these three things. But there can be no universal philosophy, mythology and rituals for the whole world. Where then the universal- ity? How is it possible then to have a universal form of religion? "We all hear," says Swami Vivekananda, about universal brotherhood, and how societies stand up practically to preach this, Universal brotherhood, that is, we shout like drunken men we are all equal, therefore, let us make a sect. As soon as you make a sect you protest against equality, and thus it is no more.
Mahomedans talk of universal brotherhood, but what comes out of them in reality? Nobody who is not a Mahomedan will be admitted into the brotherhood, he will have his throat cut. We think we cannot do better than quote his own words, wherein he with his wonderful lucidity and depth of views and in a remarkably catholic mind propounds forcibly the philosophy of the uni versal religion [Vide Complete Works, II: 375 96]. . . .
In society there are various natures of men. Some are active working men, there is the emotional man, then there is the mystic man and lastly there is the philosopher. Vivekananda strikes the key note of his whole philosophy when he declares that the attempt to help mankind to become beautifully balanced in all these four directions, is his ideal of religion and this religion is called in India, Yoga. The worker is called the Karma yogin; who seeks union through love is called Bhakti yogin; he who seeks through mysticism is called Raja yogin; and he who seeks it through philosophy is called Jnan[a] yogin. The religion which has a place for men of all these natures and a religion which satisf[ies] the thirst of men of different inclination, may be the universal religion, and that religion is Vedanta. Most cordially we recommend this admirable little book to our readers. For it contains some clear and definite expressions of views on the most vital problem that is engaging the serious attention of theologians. The price of the book is As. 3, and may be had at the Brahmavadin Office, Triplicane, Madras.
[The Indian Mirror, December 16, 1896]
On the 21st of this month [November], the Cambridge "Indian Majlis" gave a complimentary dinner at the University Arms Hotel [in Cambridge] to Prince Ranjit sinhji and Mr. Atul Chandra Chatterjee. Mr. Hafiz G. Sarwir of St. John's College, took the chair. There were about fifty Indians present and a few Englishmen. . . . Swami Vivekananda rose next to respond [to the toast of India] amidst loud and deafening cheers. The Swami began by saying that he did not know exactly why he should be chosen to respond to the toast unless it be for the reason that he in physical bulk bore a striking resemblance to the national animal of India (laughter). He desired to congratulate the guest of the evening and he took the statement which the Chairman had made that Mr. Chatterjee was going to correct the mistake of past historians of India, to be literally true. For out of the past the future must come and he knew no greater and more permanent foundation for the future than a true knowledge of what had preceded before. The present is the effect of the infinity of causes which represent the past. They had many things to learn from the Europeans but their past, the glory of India which had passed away, should constitute even a still greater source of inspiration and instruction. Things rise and things decay, there is rise and fall everywhere in the world. . . . [Vide the block quotation on the following page for the remaining text of this report.]
[The Amrita Bazar Patrika, January 8, 1897]
. . . The gathering was a unique one, for the Indians met together to talk (in the Majlis they all talk), about the successes of Ranjit Sing[h] and Atul Chandra Chatterjee. It is a pity the name of Professor Bose was not associated with the above two; and we think, Swami Vivekananda, who was present on the occasion, also deserved a recognition. We shall, however, not commit the mistake of omitting the last two in noticing to show what the Indians have been able to achieve in the West.
What the Swamiji did was to remove the impression from the minds of the Americans that the Indians were barbarians, superstitious in their beliefs, and addicted to monstrous cruelties. The advent of the Swamiji in the West has done this service, that it has created an impression in many quarters that the Indians are not an inferior race as Sir Charles Elliot called them, and that they can, in such subjects as religion and philosophy say things which are not known even to the West. The advent of the Swamiji in the West has undoubtedly enhanced the character of the Indians in the West. . . .
Said Swami Vivekananda:--
And though India is fallen to day she will assuredly rise again. There was a time when India produced great philosophers and still greater prophets and preachers. The memory of those days ought to fill them with hope and confidence. This was not the first time in the history of India that they were so low. Periods of depression and degradation had occurred before this but India had always triumphed in the long run and so would she once again in the future. . . . . . .
[The Amrita Bazar Patrika, January 20, 1897]
Swami Vivekananda has received the ovation of a conquering hero, returning home. The last we heard of him in England was when he got a farewell address from his English disciples, who expressed their undying love for India. . . .
No one has any accurate knowledge of what Swami Vivekananda was doing in the West. We hear that he has made some impression in America and also in England. . . .
The Swami is, however, well aware of the nature of the mission before him. He says that Vedantism teaches the truth, which is that man is a divine being and that the highest and the lowest are the manifestations of the same Lord. He does not, however, admit that knowledge alone is sufficient for the salvation of man. Says he:--
But his knowledge ought not to be a theory, but life. Religion is a realization, not talk, not doctrines, nor theories, however beautiful all these may be. Religion is being and becoming, not hearing or acknowledging. It is not an intellectual assent; but one's whole nature becoming changed into it. Such is religion. By an intellectual assent we can come to a hundred sort of foolish things, and change the next day, but this being and becoming is what is religion.
In the above noble sentiments, the Swami shews [shows] that he understands the situation pretty well. That which produces the rebirth of a man is religion. Under the influence of religion a man becomes a quite different being from what he was before. Unless that is the result of his religion, his religion is a myth.
[The Indian Mirror, February 24, 1898]
Swami Vivekananda has been urging on the people of Lahore and Sialkote the need of practical work. The starving millions, he urged, cannot live on metaphysical speculation; they require bread; and in a lecture he gave at Lahore on Bhakti, he suggested as the best religion for to day that everyman should, according to his means, go out into the street and search for hungry Narayans, take them into their houses, feed them and clothe them. The giver should give to man, remembering that he is the highest temple of God. He had seen charity in many countries, and the reason of its failure was the spirit, in which it was carried out. "Here take this and go away". Charity belied its name so long as it was given to gain reputation or applause of the world.
[The Indian Mirror, April 24, 1898]
Swami Vivekananda, in introducing the lecturer Swami Saradananda, said:
Ladies and Gentlemen,--The speaker of tonight just comes from America. As you all know here that America is for your country, although our countrymen, specially Swami Dayananda Saraswati, used to call this country as Patal, inhabited by Laplands, Rakshas and Asurs, &c. (Laughter and loud cheers). Well, Gentlemen, whether it is Patal or not you ought to decide that by seeing those few ladies pres- ent here, who have come from the country of your so called Patal, whether they are Naga Kanyas or not. (Cheers). Now, America is perfectly a new country. It was discovered by Columbus, the Italian, and before that a prior claim is put forward by the Norwegians who say, that they have discovered the northern part of it, and then before that there is another prior claim of the Chinese, who at one time preached the noble doctrine of Buddhism in all parts of the world, and it is said that Buddhist Missionaries were also sent from India to America, and specially in Washington, where some sort[s] of records are still to be traced by any traveller going there. Well, the table has now been turned at last for a century or more and instead of America being discovered, she discovers persons that go over to her. (Loud applause). It is a phenomenon that we observe every day there, multitudes of persons coming over from every part of the country [world?] and getting themselves discovered in the United States. It is a fact, well known to you here all that several of our own countrymen have been discovered in that way. (Cheers). To day, here I present before you one of your Calcutta boys, that has been similarly discovered by the Americans. (Cheers).
[The Indian Mirror, February 15, 1901]
A correspondent writes:--"The following is an epitome of Swami Vivekananda's speech made in Belur M.E. School on the prize distribution day held on the 22nd instant, Sunday, when the Swami was invited to preside. The audience was composed chiefly of the boys of the school and some elderly gentlemen of Belur."
The modern student is not practical. He is quite helpless. What our students want is not so much muscularity of body as hardihood. They are wanting in self help. They are not accustomed to use their eyes and hands. No handicraft is taught. The present system of English education is entirely literary. The student must be made to think for himself and work for himself. Suppose there is a fire. He is the first to come forward and put on [out] the fire who is accustomed to use his eyes and hands. There is much truth in the criticism of Europeans touching the laziness of the Bengali, the slipshod way of his doing things. This can be soon remedied if the students be made to learn some handicraft apart from its utilitarian aspect, it is an education in itself.
Secondly, how many thousands of students I know who live upon the worst food possible, and live amidst the most horrible surroundings, what wonder that there are so many idiots, imbeciles and cowards among them. They die like flies. The education that is given is onesided, weakening, it is killing by inches. The children are made to cram too much of useless matter, and are incarcerated in school rooms fifty or seventy in each, five hours together. They are given bad food. It is forgotten that the future health of the man is in the child. It is forgotten that nature can never be cheated and things cannot be pushed too early. In giving education to a child the law of growth has to be obeyed. And we must learn to wait. Nothing is more important than that the child must have a strong and healthy body. The body is the first thing to attain to virtue. I know we are the poorest nation in the world, and we cannot afford to do much. We can only work on the lines of least resistance. We should see at least that our children are well fed. The machine of the child's body should never be exhausted. In Europe and America a man with crores of rupees sends his son if sickly, to the farmers, to till the ground. After three years he returns to the father healthy, rosy and strong. Then he is fit to be sent to school. We ought not for these reasons push the present system of education any further.
Thirdly, our character has disappeared. Our English education has destroyed everything and left nothing in its place.
Our children have lost their politeness. To talk nicely is degrading. To be reverential to one's elders is degrading. Irreverence has been the sign of liberty. It is high time that we go back to our old politeness. The reformers have nothing to give in place of what they have taken away. Yet in spite of the most adverse surrounding of climate, etc., we have been able to do much, we have to do much more. I am proud of my race, I do not despair, I am seeing daily a glorious and wonderful future in my menial [mental] visions. Take greatest care of these young ones on whom our future depends.
[The Indian Social Reformer, June 16, 1901]
A question having arisen in America as to the Swami Vivekananda's attitude towards social questions, a lady writes to an American paper as follows: "In one of his lectures at the Pouch Mansion, he spoke of the Hindu widows, declaring it unjust to state that they were generally subjected to cruelty or oppression in the Indians [sic] homes. He admitted that the prejudice against remarriage, and the custom which makes the widow a member of the husband's family instead of that of her own parents inflicted some hardships upon widows in India, and favoured wise efforts for their education which would render them self supporting and in this way alleviate their condition. He emphasised his desire for the education and elevation of the women of his country, including the widows, by volunteering to give the entire proceeds of one of his lectures in support of the school of Babu Sasipada Banerjee, at Baranagar, near Calcutta, the institution of which preceded that of the Pandita Ramabai, at Poona, and where, if I am not mistaken, the Pandita herself ob - tained the first inspiration of her work. This lecture was given, and the proceeds were forwarded to Babu Sasipada Banerjee, and duly acknowledged."
## References
Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.