Arsip Vivekananda

Bagian I: Laporan Surat Kabar Amerika

Jilid9 essay
25,479 kata · 102 menit baca · Newspaper Reports

Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.

AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.

Bahasa Indonesia

Untuk menjaga keaslian historis laporan-laporan surat kabar ini, ejaan, tata bahasa, dan tanda baca aslinya tetap dipertahankan. Demi kejelasan, kata-kata asli Swami Vivekananda ditempatkan dalam kutipan blok dan judul-judul yang disediakan oleh Penerbit ditandai dengan tanda bintang. Bilamana memungkinkan, naskah ketik berita yang asli telah dipilih, alih-alih cetakan ulang asing yang terlambat.—Penerbit

[Sintesis editorial dari empat laporan surat kabar Chicago: Herald, Inter Ocean, Tribune, dan Record, sekitar 11 September 1893]

[Saudari dan Saudara di Amerika,]

Hati saya dipenuhi sukacita yang tak terkatakan ketika berdiri untuk menanggapi kata-kata sambutan yang agung yang telah Anda berikan kepada kami. Saya berterima kasih atas nama tarekat para biarawan yang paling kuno yang pernah disaksikan dunia, yang Gautama hanyalah salah seorang anggotanya. Saya berterima kasih atas nama Ibu dari segala agama, yang Buddhisme dan Jainisme hanyalah cabang-cabangnya; dan akhirnya, saya berterima kasih atas nama jutaan dan jutaan rakyat Hindu dari segala kasta dan sekte. Terima kasih saya juga kepada sebagian pembicara di atas mimbar yang telah memberi tahu Anda bahwa orang-orang dari berbagai bangsa yang jauh ini akan membawa ke negeri-negeri yang berbeda gagasan toleransi yang mungkin mereka saksikan di sini. Terima kasih saya kepada mereka atas gagasan ini.

Saya bangga menjadi penganut suatu agama yang telah mengajarkan kepada dunia baik toleransi maupun penerimaan universal. Kami percaya bukan hanya pada toleransi universal, melainkan kami menerima bahwa semua agama itu benar. Saya bangga memberi tahu Anda bahwa saya menganut suatu agama yang dalam bahasa sucinya, yaitu Sanskerta, kata "pengucilan" tidak dapat diterjemahkan. (Tepuk tangan) Saya bangga menjadi bagian dari suatu bangsa yang telah memberi perlindungan kepada mereka yang dianiaya dan para pengungsi dari segala agama dan segala bangsa di bumi. Saya bangga memberi tahu Anda bahwa kami telah mengumpulkan dalam pelukan kami sisa-sisa termurni bangsa Israel, suatu sisa yang datang ke India selatan dan berlindung pada kami pada tahun-tahun yang sama ketika kuil suci mereka dihancurleburkan oleh tirani Romawi. Saya bangga menganut agama yang telah memberi perlindungan dan hingga kini masih memelihara sisa-sisa bangsa Zoroaster yang agung. Saya akan mengutipkan kepada Anda, Saudara-saudara, beberapa baris dari sebuah himne yang dilantunkan setiap hari oleh setiap anak Hindu. Saya merasa bahwa semangat sejati dari himne ini, yang saya ingat telah saya lantunkan sejak masa kanak-kanak saya yang paling dini, yang dilantunkan setiap hari oleh jutaan dan jutaan orang di India, akhirnya telah terwujud. "Sebagaimana sungai-sungai yang berbeda, yang bersumber dari tempat-tempat yang berbeda, semuanya menyatukan airnya di laut; ya Tuhan, demikianlah berbagai jalan yang ditempuh manusia melalui kecenderungan yang berbeda, betapapun tampak beraneka ragam, berliku atau lurus, semuanya menuntun kepada-Mu."

Konvensi sekarang ini, yang merupakan salah satu majelis paling agung yang pernah diselenggarakan, dengan sendirinya merupakan sebuah pertanda, sebuah pemakluman kepada dunia akan ajaran menakjubkan yang dikhotbahkan dalam Gita: "Siapa pun yang datang kepada-Ku, melalui bentuk apa pun Aku menjangkaunya, semuanya berjuang melalui jalan-jalan yang pada akhirnya selalu menuntun kepada-Ku." Sektarianisme, kefanatikan, dan keturunannya yang mengerikan, yakni fanatisme, telah lama menguasai bumi yang indah ini. Hal itu telah memenuhi bumi dengan kekerasan, kerap kali membasahinya dengan darah manusia, menghancurkan peradaban, dan menjerumuskan seluruh bangsa ke dalam keputusasaan. Namun, saatnya telah tiba, dan saya yakin dengan sepenuh hati bahwa lonceng yang berdentang pagi ini untuk menghormati para perwakilan dari berbagai agama di bumi, dalam parlemen yang berkumpul ini, merupakan lonceng kematian bagi segala fanatisme (tepuk tangan), bahwa lonceng itu merupakan lonceng kematian bagi segala penganiayaan dengan pedang atau dengan pena, dan bagi segala perasaan tanpa kasih di antara saudara-saudara yang menempuh jalan menuju tujuan yang sama, tetapi melalui jalan yang berbeda-beda.

[Chicago Record, 11 September 1893]

Empat pemimpin pemikiran keagamaan sedang duduk di ruang tamu Dr. Barrow [Barrows]—seorang penganut Jaina, George Condin [Candlin], sang misionaris yang telah menghabiskan enam belas tahun di Tiongkok, Swami Vivekananda, sang Brahman Hindu yang terpelajar, dan Dr. John H. Barrows, seorang Presbiterian dari Chicago. Keempat orang ini berbincang seakan-akan mereka adalah saudara dalam satu iman.

Sang Hindu memiliki air muka yang halus. Wajahnya yang agak berisi tampak cerah dan cerdas. Ia mengenakan serban berwarna jingga dan jubah dengan warna yang sama. Bahasa Inggrisnya sangat baik. "Saya tidak memiliki rumah," katanya.

Saya berkelana dari satu perguruan tinggi ke perguruan tinggi lain di India, memberi ceramah kepada para mahasiswa. Sebelum berangkat ke Amerika, saya telah beberapa waktu lamanya berada di Madras. Sejak tiba di negeri ini, saya diperlakukan dengan kesopanan dan kebaikan yang luar biasa. Sangat membanggakan bagi kami untuk diakui dalam Parlemen ini, yang mungkin memiliki pengaruh yang demikian penting bagi sejarah keagamaan dunia. Kami berharap dapat belajar banyak dan membawa pulang beberapa kebenaran agung kepada 15.000.000 umat Brahmin kami yang setia.

[Transkrip verbatim dari pidato yang disampaikan di Parlemen Agama-Agama, 20 September 1893] [Chicago Inter Ocean, 21 September 1893]

Suami Vivekananda

Pada akhir pembacaan makalah Tuan Headland mengenai "Agama di Peking", Dr. Momerie mengumumkan bahwa para pembicara lain yang dijadwalkan untuk malam itu tidak hadir. Saat itu baru pukul 9, dan auditorium utama serta balkon-balkonnya telah terisi penuh. Terdengar gemuruh tepuk tangan ketika hadirin melihat sang biarawan Hindu, Vivekananda, yang duduk dengan jubah jingga dan serban merah tuanya di atas mimbar. Sang Hindu yang populer ini menanggapi tepuk tangan yang meriah itu dengan mengatakan bahwa ia tidak datang untuk berpidato malam itu. Akan tetapi, ia memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengkritik banyak pernyataan yang dibuat dalam makalah Tuan Headland. Merujuk pada kemiskinan yang merajalela di Tiongkok, ia mengatakan bahwa para misionaris akan lebih baik bekerja meredakan kelaparan daripada berupaya membujuk orang Tiongkok untuk meninggalkan iman mereka yang telah berabad-abad dan memeluk agama Kristen sebagai harga dari makanan. Lalu sang Hindu mundur ke belakang mimbar dan sejenak berbisik kepada Uskup Keane dari Gereja Katolik. Ia kemudian melanjutkan pidatonya dengan mengatakan bahwa Uskup Keane telah memberitahunya bahwa orang Amerika tidak akan tersinggung oleh kritik yang jujur. Ia mengatakan bahwa ia telah mendengar tentang segala hal yang mengerikan dan kondisi yang menyedihkan yang merajalela di Tiongkok, tetapi ia belum mendengar bahwa ada panti penampungan yang didirikan oleh orang Kristen untuk mengatasi segala kesulitan ini.

Ia berkata:

Saudara-saudara Kristen di Amerika, Anda begitu gemar mengirim misionaris untuk menyelamatkan jiwa kaum kafir. Saya bertanya kepada Anda, apa yang telah dan sedang Anda lakukan untuk menyelamatkan tubuh mereka dari kelaparan? (Tepuk tangan). Di India, ada 300.000.000 lelaki dan perempuan yang hidup dengan rata-rata sedikit lebih dari 50 sen sebulan. Saya telah menyaksikan mereka hidup bertahun-tahun dengan memakan bunga-bunga liar. Setiap kali terjadi sedikit kelaparan, ratusan ribu mati kelaparan. Para misionaris Kristen datang dan menawarkan kehidupan, tetapi hanya dengan syarat bahwa orang Hindu menjadi Kristen, meninggalkan iman ayah dan leluhur mereka. Apakah itu benar? Ada ratusan panti penampungan, tetapi jika orang Muhammad atau orang Hindu pergi ke sana, mereka akan diusir. Ada ribuan panti penampungan yang didirikan oleh orang Hindu di mana siapa pun akan diterima. Ada ratusan gereja yang telah didirikan dengan bantuan orang Hindu, tetapi tidak ada kuil Hindu yang untuknya seorang Kristen pernah menyumbangkan satu sen pun.

Saudara-saudara di Amerika, kejahatan yang menjerit di Timur bukanlah agama. Kami sudah lebih dari cukup memiliki agama; yang mereka butuhkan adalah roti, tetapi mereka diberi batu. (Tepuk tangan). Adalah suatu penghinaan terhadap orang yang menderita dan sekarat karena kelaparan untuk mengkhotbahkan metafisika kepadanya. Oleh karena itu, jika Anda ingin menggambarkan makna "persaudaraan", perlakukanlah orang Hindu dengan lebih baik, sekalipun ia seorang Hindu dan setia kepada agamanya. Kirimkanlah misionaris kepada mereka untuk mengajari mereka bagaimana mencari nafkah sepotong roti yang lebih baik, dan bukan untuk mengajari mereka omong kosong metafisika. (Tepuk tangan riuh).

Lalu sang biarawan mengatakan bahwa kesehatannya kurang baik hari itu dan ia ingin dimaklumi. Akan tetapi, terdengar gemuruh tepuk tangan dan seruan "Lanjutkan", dan Tuan

Vivekananda pun melanjutkan.

Makalah yang baru saja dibacakan menyatakan sesuatu tentang pendeta yang malang dan bodoh. Hal yang sama dapat dikatakan tentang India. Saya adalah salah seorang dari para biarawan yang digambarkan sebagai pengemis. Itulah kebanggaan hidup saya. (Tepuk tangan). Dalam pengertian itu, saya bangga menjadi seperti Kristus. Saya makan apa yang saya miliki hari ini dan tidak memikirkan hari esok. "Perhatikanlah bunga bakung di ladang; mereka tidak bekerja keras dan tidak pula memintal." Orang Hindu menjalankan hal itu secara harfiah. Banyak tuan yang hadir di Chicago yang duduk di atas mimbar ini dapat bersaksi bahwa selama dua belas tahun terakhir saya tidak pernah tahu dari mana datangnya santapan saya berikutnya. Saya bangga menjadi pengemis demi Tuhan. Gagasan di Timur ialah bahwa mengkhotbahkan atau mengajarkan sesuatu demi uang itu rendah dan hina, tetapi mengajarkan nama Tuhan demi upah merupakan suatu kemerosotan yang sedemikian rupa sehingga akan menyebabkan sang pendeta kehilangan kastanya dan diludahi. Ada satu saran dalam makalah itu yang benar: Jika para pendeta Tiongkok dan India terorganisasi, ada sejumlah besar energi potensial yang dapat digunakan untuk pembaruan masyarakat dan kemanusiaan. Saya telah berusaha mengorganisasinya di India, tetapi gagal karena kekurangan uang. Mungkin saja saya akan memperoleh bantuan yang saya butuhkan di Amerika.

Namun, kami tahu bahwa sangatlah sulit bagi seorang kafir untuk memperoleh bantuan apa pun dari "orang-orang Kristen". (Tepuk tangan riuh). Saya telah mendengar begitu banyak tentang negeri kebebasan, kemerdekaan, dan kebebasan berpikir ini, sehingga saya tidak berkecil hati. Saya berterima kasih kepada Anda, hadirin sekalian.

Lalu sang tamu yang populer itu membungkuk dengan anggun dan berupaya mengundurkan diri dengan senyuman yang anggun, tetapi hadirin berseru kepadanya agar ia melanjutkan. Tuan Vivekananda, yang benar-benar meluap dengan ekspresi keramahan, kemudian menjelaskan teori Hindu mengenai [re]inkarnasi. Pada akhir pidato itu, Dr. Momerie [seorang delegasi dari Inggris] mengatakan bahwa kini ia memahami mengapa surat-surat kabar dengan tepat menyebut parlemen ini sebagai sebuah pendekatan menuju zaman milenium. . . .

[New York Critic, 11 November 1893]

. . . Hal itu merupakan buah dari Parlemen Agama-Agama, yang membukakan mata kami akan kenyataan bahwa filsafat dari kepercayaan-kepercayaan kuno mengandung banyak keindahan bagi manusia modern. Begitu kami memahami hal ini dengan jelas, minat kami terhadap para penganjurnya pun bangkit, dan dengan kegigihan yang khas kami mulai mengejar pengetahuan. Sarana yang paling mudah didapat untuk memperolehnya, setelah berakhirnya Parlemen, ialah melalui pidato dan ceramah Suami Vivekananda, yang hingga kini masih berada di kota ini. Tujuan awalnya datang ke negeri ini adalah untuk menarik minat orang Amerika agar memulai industri-industri baru di kalangan orang Hindu, tetapi untuk saat ini ia telah meninggalkannya, karena ia mendapati bahwa, oleh sebab "orang Amerika adalah bangsa yang paling dermawan di dunia," setiap orang yang memiliki suatu maksud datang ke sini untuk meminta bantuan dalam mewujudkannya. Ketika ditanya tentang keadaan relatif kaum miskin di sini dan di India, ia menjawab bahwa kaum miskin kami akan menjadi pangeran di sana, dan bahwa ia telah dibawa berkeliling melalui kawasan terburuk di kota ini hanya untuk mendapati bahwa, dari sudut pandang pengetahuannya, kawasan itu nyaman dan bahkan menyenangkan.

Seorang Brahmin sejati di antara para Brahmin, Vivekananda telah meninggalkan kedudukannya untuk bergabung dengan persaudaraan para biarawan, di mana segala kebanggaan akan kasta dilepaskan secara sukarela. Namun demikian, ia tetap mengemban tanda rasnya pada dirinya. Kebudayaannya, kefasihannya, dan kepribadiannya yang memikat telah memberi kami sebuah gagasan baru tentang peradaban Hindu. Ia adalah sosok yang menarik, dengan wajahnya yang elok, cerdas, dan lincah dalam balutan warna-warna kuning, serta suaranya yang dalam dan merdu yang seketika memenangkan simpati orang terhadapnya. Maka tidaklah aneh bahwa ia telah disambut oleh klub-klub sastra, telah berkhotbah dan berceramah di gereja-gereja, hingga riwayat Buddha dan ajaran-ajaran imannya menjadi akrab bagi kami. Ia berbicara tanpa catatan, menyajikan fakta-fakta dan kesimpulan-kesimpulannya dengan seni yang terbesar, dengan ketulusan yang paling meyakinkan; dan sesekali meningkat menjadi kefasihan yang kaya dan mengilhami. Selayaknya terpelajar dan terdidik, tampaknya, seperti seorang Yesuit yang paling cakap, ia juga memiliki sesuatu yang bersifat Yesuit dalam karakter pikirannya; tetapi meskipun sindiran-sindiran kecil yang ia selipkan dalam wacananya setajam pedang rapier, sindiran-sindiran itu begitu halus sehingga luput dari banyak pendengarnya. Walaupun demikian, kesopanannya tidak pernah pudar, sebab tikaman-tikaman itu tidak pernah diarahkan begitu langsung kepada adat-istiadat kami sehingga menjadi kasar. Untuk saat ini ia merasa cukup dengan mencerahkan kami mengenai agamanya dan kata-kata para filsufnya. Ia menanti-nantikan saatnya ketika kami akan melampaui pemujaan berhala—yang menurutnya kini masih diperlukan oleh golongan-golongan yang tidak terpelajar—bahkan melampaui ibadah, menuju pengetahuan akan kehadiran Tuhan di alam, akan ketuhanan dan tanggung jawab manusia. "Usahakanlah keselamatanmu sendiri," katanya seperti Buddha yang sekarat; "Aku tidak dapat menolongmu. Tak seorang pun dapat menolongmu. Tolonglah dirimu sendiri."

Viva Kananda, sang Orator Hindu Menyampaikan Ceramah yang Menarik [Daily Cardinal, Universitas Wisconsin di Madison, 21 November 1893]

Sebuah gedung yang penuh sesak menyambut Viva Kananda di Gereja Kongregasional tadi malam. Sang pembicara mengenakan busana asli, yang terdiri atas serban berwarna krem, dengan jubah kuning dan selempang merah tua.

Bagian pertama dari ceramah itu dikhususkan untuk menggambarkan banyaknya kemiripan antara bahasa Sanskerta, bahasa orang Hindu, dengan bahasa Inggris. Dalam bahasa mereka tidak ada kata yang berarti keselamatan; bagi mereka, hal itu adalah kebebasan dari belenggu. Mereka percaya bahwa kodrat sejati manusia itu sempurna, dan bahwa sebab dan akibat mengendalikan segala sesuatu kecuali Tuhan. Agama digambarkan dengan tepat melalui kisah orang-orang buta yang masing-masing meraba sebagian dari seekor gajah yang besar, dan masing-masing menyangka bahwa hewan itu serupa dengan bagian tertentu yang ia raba; demikianlah dengan agama, masing-masing dari berbagai sekte memiliki sebagian dari keseluruhan kebenaran, sedangkan kebenaran itu sendiri tak terhingga dan tak seorang pun dapat berkata "Aku telah melihat semuanya."

Kepercayaan Hindu ditunjukkan sebagai salah satu kepercayaan yang paling penuh kasih. Penganiayaan adalah sesuatu yang tidak dikenal di India; tidak ada kata semacam itu dalam bahasa mereka. Sang penceramah menantang dunia untuk menunjukkan satu saja contoh dalam perjalanan sejarah Hindu, tentang seorang misionaris Kristen yang dianiaya. Seorang sejarawan Yunani, yang menulis tentang mereka, berkata: "Tidak ada lelaki Hindu yang tidak jujur, tidak ada perempuan Hindu yang tidak suci."

Viva Kananda datang ke negeri ini dari India demi kepentingan kongres agama-agama dunia, dan ceramahnya tadi malam mengenai "Agama-Agama India" merupakan ilham bagi semua yang mendengarnya. Ia memiliki wajah yang menyenangkan, berpahat tegas, dan berkulit gelap, serta sikap dan pembawaan yang sungguh mengesankan. Suaranya rendah dan menyenangkan, dengan suatu daya rahasia yang seketika memusatkan perhatian Anda.

Oleh Seorang Biarawan Hindu

[Daily Iowa Capitol, 28 November 1893]

Swami Vivekananda Berbicara tentang Iman Kuno Berbicara Lagi Malam Ini

Sebuah suguhan yang langka sekaligus ganjil dinikmati oleh penduduk Des Moines tadi malam di Gereja Kristus Sentral. Seorang biarawan, dari iman kuno Brahma, menyampaikan iman itu dengan menyenangkan, tidak begitu banyak tentang keanehan-keanehannya melainkan tentang prinsip-prinsip yang mendasarinya. Hadirin cukup banyak jumlahnya, mungkin sekitar 500 atau 600 orang yang hadir. Lantai utama terisi penuh dan mungkin ada sekitar dua ratus orang di balkon.

Sang pembicara membuka dengan mengatakan bahwa semua sistem keagamaan merupakan suatu upaya untuk menjawab pertanyaan, Apakah aku ini? Pertanyaan ini dan pertanyaan-pertanyaan serupa, Dari mana aku berasal? dan Ke mana aku akan pergi? terus-menerus muncul kembali. Tanpa mengikuti sang pembicara di sepanjang seluruh ceramahnya, cukuplah dikatakan bahwa yang mendasari agama Hindu menurut sang pembicara ialah keyakinan bahwa "Kita semua bersifat ilahi". Dalam diri masing-masing terdapat suatu roh yang sadar yang bertahan melampaui tubuh dan pikiran serta merupakan bagian dari Yang Mutlak. Sang pembicara dengan sangat cakap membela agama terhadap serangan-serangan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan hanya dapat menggunakan kelima indra, dan kecuali jika suatu hal dapat dibuktikan keberadaannya oleh indra-indra ini, ia cenderung meragukan keberadaannya. Tetapi apakah ilmu pengetahuan tahu bahwa hanya ada lima indra? Sang pembicara menegaskan adanya suatu indra adiinderawi; yang melaluinya manusia memperoleh pewahyuan kebenaran-kebenaran rohani. Kata orang Hindu untuk pewahyuan adalah "Veda". Maka "Veda-Veda" itu adalah pewahyuan-pewahyuan tersebut. Tulisan-tulisan ini tidak terbatas pada tulisan-tulisan orang Hindu, melainkan mencakup tulisan-tulisan semua bangsa; sebab, kata sang pembicara, semua agama itu benar.

Ketika "pewahyuan-pewahyuan" berupaya menceritakan tentang hal-hal material, ia memasuki suatu ranah yang menjadi milik ilmu pengetahuan dan tidak boleh diterima. Ada suatu takhayul kuno bahwa karena Musa menyampaikan suatu pewahyuan tentang kehendak Tuhan, maka segala sesuatu yang ditulis Musa pasti benar. Ada suatu takhayul modern bahwa, karena terdapat kekeliruan dalam tulisan-tulisan Musa, maka tidak ada satu pun yang ditulis Musa yang benar. Ketika Musa menulis loh-loh hukum, ia diilhami. Ketika ia menceritakan tentang penciptaan, apa yang ia katakan hanyalah spekulasi-spekulasi dari Musa sang Yahudi.

Sang pembicara tidak terkesan baik dengan upaya-upaya untuk membuat orang Hindu bertobat—yang ia sebut sebagai murtad—menjadi Kristen, demikian pula sebaliknya. Oleh karena semua agama itu benar, kemurtadan semacam itu tidak menghasilkan tujuan yang baik. Agama Hindu, demikian klaim sang pembicara, tidak cenderung menentang kepercayaan apa pun; ia menyerapnya. Adapun mengenai sikap menoleransi kepercayaan-kepercayaan yang berbeda, bahasa orang Hindu tidak memiliki kata yang sepadan dengan kata Inggris "intoleransi". Bahasa itu memiliki sebuah kata untuk agama dan satu kata untuk sekte. Yang pertama mencakup semua kepercayaan. Konsepsi tentang yang kedua digambarkan oleh sang pembicara dengan menceritakan kisah seekor katak, yang tidak memiliki gagasan bahwa ada dunia di luar sumur tempat ia selama ini hidup.

Sang pembicara mendesak para pendengarnya untuk memupuk yang ilahi di dalam diri mereka dan untuk membuang "omong kosong" sekte-sekte.

Sang penceramah adalah seorang pembicara yang cakap, berwibawa, dan berdaya pengaruh. Penguasaan bahasa Inggrisnya sempurna, dengan hanya isyarat aksen asing yang paling samar. Sang penceramah disimak dengan perhatian yang paling saksama oleh hadirin. Setelah ceramah, sang pembicara bersedia menjawab pertanyaan-pertanyaan dari sebagian hadirin yang tetap tinggal untuk maksud tersebut. Dalam jawaban-jawabannya, ia mengatakan bahwa orang Hindu sama sekali menentang pemusnahan kehidupan hewan apa pun. Ia mengakui pemujaan terhadap sapi suci. Ia mengatakan lebih lanjut bahwa orang Hindu tidak memiliki apa pun yang menyerupai organisasi gereja kami. Ia adalah pendeta, uskup, dan paus bagi dirinya sendiri. . . .

Vive Kananda, Biarawan dan Cendekiawan Hindu yang Termasyhur, Tampil di Des Moines [Iowa State Register, 28 November 1893]

Seorang Pemuda Berusia Tiga Puluh Tahun dengan Otak yang Besar, Aktif, dan Hati yang Tulus

Penduduk Des Moines kemarin memperoleh sekilas pandang akan kehidupan dan pemikiran Timur dalam wujudnya yang terbaik, dari bibir biarawan Hindu yang termasyhur, Swami Vive Kananda. Sebagai sosok sentral dalam Parlemen Agama-Agama yang besar di Chicago musim panas ini, di mana ia bertanding dengan beberapa pemikir terbesar negeri itu dengan kehormatan bagi dirinya dan bangsanya, ia memberi mereka yang mendengarnya, dan terutama mereka yang menjumpainya di rumah Dr. Breeden, sesuatu yang baru untuk direnungkan. Itu adalah sebuah pesan dari seberang lautan, dari suatu bangsa lain dengan lingkungan, pendidikan, adat, dan tradisi yang sama sekali berbeda, tetapi seperti yang dikatakan sang biarawan, prinsip-prinsip dasarnya sama dalam semua agama. Inilah ajarannya, bahwa ada kebaikan dalam semua agama, dan ia mengkhotbahkannya dengan kekuatan yang besar. . . .

Kemarin sore ia menjumpai sejumlah besar perempuan paling cerdas di Des Moines, anggota dari berbagai klub sastra, atas undangan Nyonya H. O. Breeden, di kediamannya, di 1318 Woodland Avenue, dan ia berbincang dengan mereka selama dua atau tiga jam tentang agamanya, pandangannya tentang agama Kristen, yang dengan sepenuh hati ia setujui, dan tentang tata krama serta adat-istiadat bangsanya. Hal yang paling kuat ditekankan oleh Vive Kananda ialah bahwa agama Hindu tidak boleh disalahkan atas segala keburukan di India, sebagaimana agama Kristen pun tidak boleh disalahkan atas segala keburukan di Amerika. Dan ia menegaskan bahwa adalah suatu kemustahilan untuk memberikan penghargaan kepada agama Kristen atas segala usaha dan pencapaian menakjubkan dari bangsa yang menjunjungnya. Ia turut memuji hal-hal yang luhur dalam Alkitab, tetapi mengatakan bahwa ketika Musa berupaya berbicara tentang penciptaan dunia, ia hanyalah Musa, sang Yahudi, dan tidak lebih dari itu.

Pandangan dari sisi yang lain ini, dan dari sisi yang simpatik pula, merupakan suatu pandangan yang paling menolong, paling mendidik, dan amat menarik. Vive Kananda menggunakan bahasa Inggris yang paling murni, sebab ia dididik dengan baik di universitas Inggris, Calcutta.

Ia memuji para perempuan Amerika dengan penuh semangat.

Saya tidak tahu apa jadinya saya seandainya tidak ada para perempuan Anda, katanya kepada seorang wartawan The Register tadi malam.

Mereka mengangkat saya dan merawat saya serta membuat segala pengaturan yang diperlukan bagi saya. Mereka adalah perempuan terbaik di dunia. Mereka telah begitu baik kepada saya, [kata sang Swami] dengan senyuman penuh syukur. . . . . . .

[Daily Iowa Capitol, 29 November 1893]

Swami Vivekananda tadi malam berbicara tentang reinkarnasi. Hal itu didasarkan, demikian ia tegaskan, pada kenyataan bahwa tidak pernah ada penciptaan yang baru; bahwa ciptaan telah ada bersama-sama dengan Tuhan sejak segala keabadian. Jiwa-jiwa yang telah pergi menemukan tubuh untuk didiami, entah lebih baik ataupun lebih buruk daripada tempat tinggal mereka sebelumnya, sesuai dengan bagaimana mereka membuat diri mereka layak untuk yang satu atau yang lain. Sang penceramah akan berbicara lagi pada malam Hari Pengucapan Syukur di tempat yang sama mengenai tata krama dan adat-istiadat India.

[Iowa State Register, 30 November 1893]

Diskusi-diskusi luar biasa yang dimulai oleh biarawan Hindu yang termasyhur, Vive Kananda, menjadi topik yang menarik perhatian di kalangan kaum intelektual kemarin. Yang terutama demikian adalah komentarnya tentang pekerjaan para misionaris Amerika di India, dan pembelaannya yang kuat atas bangsanya sendiri serta moral dan agamanya. Pendiriannya ialah bahwa rakyat India tidak lagi membutuhkan agama, melainkan pelatihan dalam hal-hal praktis kehidupan yang akan memungkinkan mereka menyaingi orang Inggris yang telah menduduki India. Vive Kananda kemarin menjadi tamu Tuan F. W. Lehman dan Tuan O. H. Perkins, dan dalam kebersamaan mereka mengunjungi gedung negara bagian, yang sangat ia kagumi. Ia menaruh minat khusus pada potret-potret orang Indian Amerika yang ia lihat di sana. . . .

[Des Moines Daily News, 30 November 1893]

Vivekananda menghadiri sebuah pertemuan doa pada Rabu malam dan menyaksikan pembaptisan dua orang perempuan muda. Kebaktian itu sangat mengesankan baginya. Ia berkata:

Saya mengerti. Sentimen itu meluhurkan dan upacaranya indah. Hal itu lebih mengesankan lagi karena sang pendeta jujur, sungguh-sungguh, dan mempercayai apa yang ia katakan.

[Daily Iowa Capitol, 30 November 1893]

Biarawan Hindu yang kini termasyhur, Swami Vivekananda, akan berceramah untuk terakhir kalinya di Des Moines malam ini. Ia akan berbicara tentang "Kehidupan di India" ["Tata Krama dan Adat-Istiadat India"], sebuah tema yang amat menarik. Sang Hindu yang tersohor ini adalah lelaki yang cemerlang berusia sekitar 30 tahun. Ia mengatakan bahwa perempuan Amerika rupawan, tetapi lelaki Amerika terlampau praktis.

[Iowa State Register, 1 Desember 1893]

Sebelum ia meninggalkan kota [Des Moines, Iowa], Vive Kananda memanfaatkan kesempatan untuk mengucapkan kata pujian yang hangat bagi Brahmo-Somaj [sic], pekerjaan yang sedang dilakukannya di India, terutama bagi kaum perempuan, dan bagi wakilnya di negeri ini. Kunjungan Vive Kananda, yang menggugah pusat-pusat intelektual kota itu hingga ke kedalamannya dan memulai suatu diskusi keagamaan yang hidup, telah membuka jalan bagi tamu sekarang [Nagarkar] dari Timur dan meningkatkan minat publik terhadap apa pun yang mungkin ingin ia sampaikan.

[Minneapolis Journal, 15 Desember 1893]

Swami Vivekananda Menghibur Lagi Sejumlah Besar Hadirin

Sejumlah besar orang berkumpul di gereja Unitarian tadi malam dengan maksud menyimak Swami Vivekananda dari India. Adat-istiadat dan tata krama rakyat negeri itu digambarkan, dan selama ceramahnya sang Brahmin memanfaatkan kesempatan untuk menyoroti beberapa sisi kasar Amerika. Ia tergolong sosok yang humoris, dan jawaban-jawabannya yang cepat serta lontaran-lontaran jenakanya nyaris tak pernah gagal membangkitkan tepuk tangan. Ia tidak mau mengakui bahwa bangsanya salah dalam segala hal, tetapi ada banyak sekali hal yang khas India yang tidak disetujui oleh orang Amerika, namun bisa jadi semuanya benar adanya. Ia tidak pernah melihat suami dan istri pergi menghadap seorang hakim untuk menceritakan persoalan mereka. Mereka tumbuh besar dengan gagasan bahwa mereka akan dinikahkan, dan mereka saling mencintai bagaikan saudara laki-laki dan saudara perempuan.

Ia menggambarkan adat-istiadat negerinya, kuil-kuilnya, seni para pesulap, dan segala keunikan lain dari negeri-negeri Timur dengan cara yang memikat. Setelah pidato itu, sejumlah pertanyaan diajukan oleh orang-orang di antara hadirin.

[Minneapolis Tribune, 15 Desember 1893]

Swami Vive Kananda, sang pendeta Brahmin, disambut oleh gedung yang penuh sesak tadi malam di First Unitarian Church, ketika ia tampil di hadapan hadirin Minneapolis-nya yang kedua. Vive Kananda adalah seorang pembicara yang cerdas dan tangkas, siap di segala titik untuk menyerang atau membela, dan menyisipkan humor ke dalam pidatonya yang tidak luput dari perhatian para pendengarnya. Tadi malam ia berbicara di bawah naungan Kappa Kappa Gamma dari Universitas, dan hadirin meliputi sejumlah besar lelaki dan perempuan pemikir yang sungguh-sungguh, yang senang untuk dicerahkan mengenai "Tata Krama dan Adat-Istiadat India", yang menjadi pokok bahasan pilihannya.

Berbalut busana aslinya, dengan kedua tangan yang sebagian besar waktu dikatupkan di belakang punggungnya, Kananda mondar-mandir di sepanjang mimbar yang sempit, berbicara sambil melangkah, dengan jeda-jeda panjang di antara kalimat-kalimatnya, seakan-akan ia ingin agar kata-katanya meresap ke tanah yang paling dalam. Bicaranya tidaklah begitu berat sehingga pikiran yang dangkal pun masih dapat menghargai sebagian ucapannya, tetapi ia juga membabarkan suatu filsafat yang mengandung kebenaran yang paling dalam. Ia menuturkan tentang tata krama dan adat-istiadat India, tentang kehidupan yang terpisah antara laki-laki dan perempuan, tentang penghormatan dan kesucian kaum perempuan, dan lagi tentang kemerosotan mereka; tentang kehidupan yang tenang dan damai, yang meskipun demikian bukanlah kehidupan yang sejati karena bukan kemerdekaan; ia berbicara tentang orang Muhammad, yang membentuk seperlima dari penduduk India, dan itu berjumlah 65.000.000, setara dengan seluruh penduduk Amerika Serikat. Ia menggambarkan kemegahan kuil-kuilnya, seni para pesulap, yang merupakan kaum gipsi dari ras India, dan ia menyinggung takhayul-takhayul rakyatnya, tentang bagaimana mereka mengisi tempayan-tempayan air dan meletakkannya di ambang pintu sebelum memulai suatu perjalanan; ia berbicara tentang pengetahuan metafisis sang pembajak sawah, yang sekalipun demikian hanya tahu bahwa ia "membayar pajak kepada pemerintah"; ia mengakui penghormatan orang Hindu terhadap Sungai Gangga, dan keinginannya yang senantiasa membayang agar ia mati di tepiannya; ia menuturkan segala hal ini dengan suara yang tenang dan setengah angkuh yang sebentar kemudian menuntun pada suatu komentar tentang cara orang Amerika melakukan berbagai hal, dan kemudian hadirinnya larut dalam riak tawa, dan getaran tepuk tangan mengungkapkan pengakuan geli atas sindirannya. . . .

Ketika pada akhir ceramahnya seseorang bertanya kepadanya, "Golongan orang seperti apa yang dijangkau dan ditobatkan oleh para misionaris?" ia dengan cepat menjawab, "Anda sama tahunya tentang hal itu dengan kami, orang Amerika melihat laporan-laporannya, sedangkan kami tidak pernah melihatnya", ia telah mengubah pertanyaan itu menjadi sebab untuk tersenyum, dan selagi gedung itu memulihkan ketenangannya, ia melangkah dengan tenang ke sana kemari. Pidato itu disimak dengan perhatian yang paling saksama dan dilengkapi dengan beberapa pertanyaan dan jawaban di antara hadirin, yang darinya ia mengundang pertanyaan.

[Detroit Tribune, 18 Februari 1894]

Ungkapannya yang Terbaru oleh Vive Kananda.

Misinya Layak Mendapat Perhatian Serius dari Orang Amerika.

Dua Hal yang Luar Biasa di Amerika Serikat yang Menyenangkan Sang Penyembah Berhala yang Terhormat—Apa yang Dapat Dilakukan Lingkungan bagi Bangsa Mana Pun—Tikaman terhadap Para Misionaris.

Jarang sekali ada sensasi semacam itu di kalangan terpelajar di Detroit, seperti yang ditimbulkan oleh kedatangan Swami Vive Kananda, biarawan Hindu yang terpelajar, yang penguasaannya yang luar biasa atas bahasa kami sendiri telah memungkinkan kami menerima kesan-kesan tentang diri kami dari sudut pandang Timur, dan memperoleh pengetahuan tentang suatu bangsa yang peradaban dan filsafatnya yang khas telah banyak kami dengar.

Baik di muka umum maupun secara pribadi, saudara Hindu ini telah berbicara dengan bebas dan terus terang. Ia mengakui bahwa rakyat jelata di India sangat miskin, sangat tidak terpelajar, dan terpecah ke dalam beraneka ragam sekte, dengan bentuk-bentuk ibadat yang berkisar dari pemujaan berhala yang paling kasar sampai konsepsi ketuhanan yang paling luas dan paling lapang yang berlandaskan persaudaraan umat manusia dan keesaan Tuhan. Misinya, katanya, bukanlah untuk mengubah keyakinan kami—bukan untuk mencoba membuat kami berpikir sebagaimana ia berpikir—melainkan untuk memperoleh sarana guna mendirikan sebuah perguruan di India bagi pendidikan para guru yang kelak akan bekerja di tengah rakyat biasa dan mengupayakan pembaruan atas keburukan-keburukan yang ada, yang jumlahnya banyak. Ia menyatakan bahwa India dikuasai kaum pendeta sampai pada taraf yang memilukan. Kelicikan kependetaanlah yang memutarbalikkan kebenaran dan melanggengkan ketidaktahuan. Kelicikan kependetaanlah yang menggantikan kebenaran dengan tafsir-tafsirnya sendiri yang kasar dan sempit, yang menyesatkan rakyat dan menghambat kemajuan moral mereka. Sang Swami memandang semua sekte dan kepercayaan dari landasan yang luas. Ia bahkan melihat kebaikan dalam pemujaan berhala. Pemujaan berhala, menurutnya, merupakan suatu cita ideal bagi orang yang tidak terpelajar, yang kapasitas mentalnya belum memadai untuk menangkap gagasan-gagasan abstrak, dan yang membutuhkan personifikasi langsung dalam suatu bentuk material. Ia terus terang menyatakan bahwa kami orang Barat pun terhambat kemajuannya oleh terlalu banyaknya kelicikan kependetaan, dan bahwa kami tidak bebas dari praktik-praktik pemujaan berhala, sebab sebagian dari sekte-sekte kami memuja altar, patung, dan gambar; bahkan kesakralan yang dilekatkan pada mimbar dan podium gereja modern pun merupakan suatu pemujaan berhala yang ideal.

Sang Swami mencatat dua hal yang paling luar biasa di negeri ini, ketika dimintai pendapatnya yang jujur tentang kami: Pertama, keunggulan kaum perempuan kami dalam hal pengaruh, kedudukan, dan kecerdasan. Kedua, dalam hal amal kebajikan dan perlakuan kami terhadap kaum miskin, katanya, kami nyaris telah memecahkan persoalan tentang apa yang harus diperbuat terhadap mereka. Bukan hanya dalam hal ini, dalam hal rumah sakit dan lembaga-lembaga amal, melainkan juga dalam perkembangan kami yang luar biasa pesat di bidang mesin penghemat tenaga kerja. Ia tidak mengagumi kemajuan material kami, sebab kemajuan itu tidak membuat manusia menjadi lebih baik; ia pun tidak mengagumi peradaban yang kami banggakan, sebab kami hanya meniru dan menjiplak adat serta tata krama orang Inggris—kadang-kadang sampai pada taraf yang sangat menggelikan. Kami masih terlalu muda untuk memiliki peradaban yang khas; kami masih harus mencerna kotoran manusiawi Eropa yang telah kami biarkan dituangkan ke atas kami, sebelum kami dapat menghasilkan suatu jenis Amerika yang khas. [Penulis melanjutkan dengan mengatakan bahwa latar belakang India sang Swami membuatnya sulit memahami bahwa daya saing Barat bukanlah sesuatu yang tidak diinginkan, melainkan suatu hukum primal alam itu sendiri—kelangsungan hidup yang terkuat—dan bahwa oleh karena "filsafat kaum Hindu yang penuh khayal dan sentimental" itulah yang menjadi penyebab kemiskinan, kemerosotan, serta dominasi atas mereka oleh "segelintir orang Inggris" belaka, maka sang Swami sebaiknya tidak mengabaikan ataupun memandang rendah materialisme Barat. Setelah menyampaikan pandangan redaksionalnya demikian, ia melanjutkan:]

Jika yang ia nyatakan tentang hasil yang dicapai oleh misi-misi asing di India itu benar, maka berbagai dewan dari berbagai organisasi tersebut sebaiknya berkonsultasi dengannya dan mengikuti nasihatnya. Demi kebaikan bangsanyalah ia berada di sini. Namun ia mengatakan bahwa pekerjaan misionaris tidak menghasilkan kebaikan apa pun; ia hanya menambah sekte dan kepercayaan baru pada sebuah negeri yang sudah dipenuhi sekte; bahwa ajaran Veda (kitab wahyu tertua), yang dikenal oleh setiap orang Hindu, identik dengan ajaran Kristus. Ia mengajukan dalil yang masuk akal bahwa kepercayaan dan dogma asing tidak selaras dengan kecenderungan warisan ataupun peradaban mereka, sehingga sukar untuk disebarkan.

Akan tetapi, misi Kananda adalah misi yang patut dipuji oleh setiap pencinta kemanusiaan. Ia berharap dapat melihat yang terbaik dari filsafat dan kemajuan material kami menyatu ke dalam peradaban Hindu, dan bahwa kami pun dapat memetik pelajaran dari mereka, hingga akhirnya kita semua menjadi, sebagaimana kita pernah ada pada zaman-zaman silam, sesama saudara Arya, yang memiliki peradaban bersama—filsafat luhur tentang tanpa-diri—sama-sama tanpa sekte ataupun kepercayaan, dalam keesaan dengan Tuhan.

Fred H. Seymour.

[Detroit Tribune, 19 Februari 1894]

Rabi Grossman Merasa Disegarkan oleh Swami Vive Kananda

. . . "Saya menerima Yesus kalian," kata Kananda Sabtu malam lalu [17 Februari].

Saya menerimanya ke dalam hati saya sebagaimana saya menerima semua yang agung dan baik dari segala negeri dan segala zaman. Tetapi kalian, maukah kalian menerima Krishna saya ke dalam hati kalian? Tidak—kalian tidak bisa, kalian tidak berani—namun kalianlah yang berbudaya dan sayalah yang kafir. . . .

[Detroit Journal, 23 Februari 1894]

Ia Menceritakan Sesuatu Tentang Keadaan Kaum Buruh Hindu.

Swami Vive Kananda membalas kekaguman para kenalan perempuannya dengan menulis sajak-sajak yang sekaligus bersifat religius dan setengah sentimental, kemarin sore. Pagi ini ia berangkat menuju Ada, O. [Ohio].

Dalam sebuah percakapan mengenai keadaan material kaum buruh Hindu, sang rahib terpelajar itu mengatakan bahwa kaum miskin hidup hanya dengan bubur. Sang buruh menyantap sarapan berupa bubur, lalu pergi bekerja sepanjang hari, dan kembali pada petang hari untuk menyantap bubur sekali lagi yang ia sebut sebagai makan malam. Di sebagian besar provinsi, para petani begitu miskin sehingga mereka tidak mampu menyantap sedikit pun gandum yang mereka tanam. Seorang buruh harian di pertanian hanya menerima 12 penny sehari, tetapi satu dolar di India bernilai 10 kali lipat dari nilainya di negeri ini. Kapas ditanam, tetapi seratnya begitu pendek sehingga harus ditenun dengan tangan, dan bahkan setelah itu pun perlu mengimpor kapas Amerika dan Mesir untuk dicampurkan dengannya.

[Detroit Evening News, 25 Februari 1894]

Anekdot-anekdot Kunjungan Swami Vive Kananda ke Detroit.

Anekdot-anekdot tentang kunjungan Swami Vive Kananda banyak jumlahnya dan menggelikan—setidaknya tentu menggelikan baginya, meskipun sedikit memalukan bagi harga diri orang Amerika. Seorang nyonya berkata: "Saya benar-benar malu melihat kontras antara pengetahuan yang dimilikinya dengan pengetahuan sebagian pria Detroit kita yang menganggap diri mereka pria terpelajar. Pada suatu jamuan makan malam, seorang pria bertanya kepada Kananda buku-buku apa yang ia sarankan untuk dibaca tentang kimia, yang lalu dijawab oleh sang rahib Hindu itu dengan daftar panjang karya-karya berbahasa Inggris tentang ilmu tersebut—ilmu yang sewajarnya lebih dikuasai oleh seorang Amerika ketimbang seorang Hindu. Pria lain menyusul dengan permintaan mengenai buku-buku tentang astronomi, yang dijawab Kananda dengan ramah melalui daftar lain yang sama bagusnya berisi karya-karya astronomi berbahasa Inggris. Tetapi keheranannya yang kian bertambah mencapai puncaknya ketika seorang nyonya menyebut 'Sang Kristus,' dan bertanya, 'Apa arti kata-kata itu?' Sekali lagi ia memberikan keterangan yang diminta, tetapi dengan nada yang mulai sedikit sinis."

Mungkin contoh paling pilihan tentang peradaban dan budaya abad kesembilan belas diberikan oleh seorang nyonya, yang bertanya kepada Kananda apakah ia menyukai orang Inggris. Dengan sangat wajar ia menjawab bahwa ia tidak menyukainya. Lalu nyonya itu melanjutkan, dengan kecakapan yang halus, untuk menggali pokok itu lebih jauh dengan menyinggung-nyinggung peristiwa yang menyenangkan itu, yakni pemberontakan Sepoy. Ketika orang Hindu itu mulai naik pitam, nyonya itu tersenyum kepadanya dengan nada mengejek dan berkata: "Saya kira saya bisa mengusik ketenangan filosofis Timur Anda."

[Detroit Tribune, 11 Maret 1894]

Menyerang Misi-misi Kristen dalam Kuliah Tadi Malam.

Dan Kata-katanya Disambut Tepuk Tangan Hangat oleh Hadirin.

Bangsa-bangsa Kristen Membunuh dan Membantai, Katanya, dan Mengimpor Penyakit ke Negeri-negeri Asing, lalu Menambahkan Hinaan pada Luka dengan Mengkhotbahkan Kristus yang Disalibkan.

Swami Vive Kananda memberikan kuliah kepada hadirin yang sangat besar di Detroit Opera House tadi malam dengan topik "Misi-misi Kristen di India." Orang dapat menduga bahwa kuliah itu dimaksudkan sebagai jawaban atas banyaknya pernyataan para misionaris yang telah ditujukan kepada Kananda selama dua pekan terakhir di kota ini.

Kananda diperkenalkan tadi malam oleh Yang Terhormat Thomas W. Palmer, yang menuturkan sebuah fabel sebagai pengantar. "Dua kesatria terhormat suatu kali bertemu di medan," katanya, "dan melihat sebuah perisai tergantung di sebuah pohon, mereka pun berhenti. Yang seorang berkata: 'Alangkah indahnya perisai perak ini.' Yang lain menjawab bahwa perisai itu bukan perak melainkan tembaga. Masing-masing membantah pernyataan yang lain hingga akhirnya mereka turun dari kuda, mengikatnya ke pohon, lalu mencabut pedang dan bertarung selama beberapa jam. Setelah keduanya kehabisan tenaga karena banyak kehilangan darah, mereka terhuyung saling berbenturan dan terjatuh di sisi yang berlawanan dari tempat semula mereka bertarung. Lalu yang seorang menengadah memandang perisai yang tergantung itu dan berkata: 'Engkau benar, kawan. Perisai ini tembaga.' Yang lain menengadah dan berkata: 'Akulah yang keliru. Perisai ini perak.' Andai sejak semula mereka memandang kedua sisi perisai itu, niscaya hal itu akan menyelamatkan banyak darah yang tertumpah. Saya rasa, jika kita memandang kedua sisi dari setiap persoalan, akan lebih sedikit perdebatan dan pertikaian. "Malam ini kita kedatangan seorang pria yang, dari sudut pandang Kristen, saya kira, adalah seorang pagan. Tetapi ia berasal dari suatu agama yang telah ada jauh sebelum agama kita terpikirkan oleh manusia. Saya yakin akan menyenangkan untuk mendengar dari sisi tembaga perisai itu. Selama ini kita hanya memandangnya dari sisi perak. Hadirin sekalian, Swami Vive Kananda."

Kananda, yang sepanjang sambutan Tuan Palmer tetap duduk di atas panggung, melangkah ke depan, mengenakan jubah jingga dan serban khas pendeta Brahmana [sic], membungkuk untuk menanggapi tepuk tangan sambutan, dan langsung masuk ke pokok bahasannya.

[Sang Swami berkata:]

Saya tidak mengetahui upaya para misionaris Kristen di Tiongkok dan Jepang selain melalui buku-buku dan literatur tentang pokok itu, tetapi saya dapat berbicara tentang upaya mengkristenkan India. Akan tetapi, sebelum saya membahas hal ini, saya ingin meletakkan di hadapan Anda suatu gambaran tentang apa itu India.

Lalu ia menjelaskan secara terperinci bagaimana 300.000.000 penduduk India terbagi ke dalam kasta-kasta, yang di antaranya tidak boleh ada perkawinan campur, bagaimana penduduk asli bagian selatan tidak dapat memahami bahasa penduduk bagian utara, dan sebaliknya. Ia menuturkan bagaimana kasta yang lebih rendah hidup dari daging hewan yang sudah mati, dan tidak pernah memandikan tubuh mereka, serta betapa mustahilnya bagi kalangan yang lebih tinggi untuk berbaur dengan mereka, walaupun mereka sama-sama memperoleh perlindungan dari hukum yang sama.

Ia merujuk pada kemunculan pertama orang-orang Kristen dalam upaya menginjili para pengikut Buddha. Mereka adalah orang Spanyol, katanya, dan mereka menemukan sebuah kuil di dekat Ceylon, yang di dalamnya dipersembahkan sebuah gigi Buddha sebagai pusaka suci. "Orang-orang Kristen Spanyol itu mengira bahwa Tuhan mereka memerintahkan mereka untuk pergi dan berperang serta membunuh dan membantai," katanya, maka mereka pun merampas gigi Buddha itu dan menghancurkannya. Omong-omong, benda itu sama sekali bukan gigi Buddha, melainkan pusaka buatan para pendeta—panjangnya satu kaki. (Tawa)

Setiap agama memiliki mukjizatnya sendiri; Anda tidak perlu tertawa hanya karena gigi itu panjangnya satu kaki. Nah, setelah orang Spanyol mengambil gigi itu, mereka mengkristenkan beberapa ratus orang dan membunuh beberapa ribu; dan sampai di situlah Spanyol berhenti dalam sejarah upaya misionaris di kalangan umat Buddha.

Orang-orang Kristen Portugis, katanya, menemukan kuil besar di Bombay, yang dibangun dalam bentuk sebuah tubuh dengan tiga kepala, sebagai perlambang trinitas, karena orang Hindu percaya pada suatu trinitas. "Orang Portugis melihatnya dan tidak dapat menjelaskannya," kata Kananda, dengan nada sinis dalam suaranya, maka mereka pun menyimpulkan bahwa kuil itu berasal dari setan, lalu mengumpulkan pasukan dan memenggal ketiga kepala kuil itu. Setan sungguh sosok yang amat berguna. Saya prihatin melihatnya begitu cepat menghilang.

Lalu Kananda menggariskan berbagai tahap penginjilan Kristen di India, dan memberikan penghormatan yang sangat tinggi kepada dua atau tiga orang misionaris, yang menurutnya merupakan pengecualian besar dari kelaziman, dan yang hidup di tengah rakyat untuk mengangkat derajat serta melayani kebutuhan mereka.

Sang pendeta Hindu itu menuturkan bagaimana, segera setelah negeri itu jatuh ke tangan bangsa Inggris, setiap desa memiliki koloni orang kulit putihnya sendiri, yang berkerumun bersama dan menarik diri dari segala pergaulan dengan penduduk asli. Lalu ketika para misionaris tiba di negeri itu, katanya, mereka tentu akan langsung pergi ke tengah orang-orang Inggris, yang bersimpati kepada mereka dan yang dapat mereka ajak berbincang. Para misionaris itu tidak tahu apa-apa tentang bahasa pribumi, katanya, sehingga mereka tidak dapat tinggal bersama rakyat. Sebagian besar dari mereka sudah menikah, dan demi memasukkan istri mereka ke dalam masyarakat Inggris, mereka menyatukan diri dengan segala kepentingan masyarakat itu, dan dengan berbuat demikian mereka secara langsung berseberangan dengan kepentingan penduduk asli, serta membuat mereka mustahil menjalin hubungan dengan penduduk asli. "Kadang-kadang kami mengalami bencana kelaparan di India," katanya.

Maka para misionaris muda akan berkeliaran di penghujung suatu bencana kelaparan dan memberi seorang pribumi yang kelaparan 5 shilling, dan di sanalah Anda mendapatkannya, seorang Kristen yang sudah jadi; ambillah ia. Itu mungkin seorang misionaris Baptis, maka ketika seorang misionaris Metodis datang, ia memberi pribumi yang sama 5 shilling, dan namanya kembali dicatat sebagai seorang mualaf. Satu-satunya kelompok mualaf di sekitar setiap misionaris terdiri atas orang-orang yang bergantung kepadanya untuk mencari nafkah. Mereka harus menjadi Kristen atau kelaparan. Dan jumlah mereka menyusut seiring berkurangnya pasokan uang. Saya senang jika Anda ingin membuat orang Kristen di India dengan memberikan pekerjaan dan roti kepada kaum miskin. Semoga Tuhan memberkati Anda untuk melakukannya. Ada satu manfaat yang patut dikreditkan kepada gerakan misionaris. Gerakan itu membuat pendidikan menjadi murah. Para misionaris membawa sejumlah uang dari orang-orang yang mengutus mereka, dan pemerintah India mengalokasikan sebagian, sehingga ada beberapa perguruan dan sekolah yang sangat baik yang tersedia bagi penduduk asli melalui para misionaris. Tetapi saya akan terus terang kepada Anda. Tidak ada perpindahan agama dari sekolah-sekolah itu kepada agama Kristen. Anak laki-laki Hindu sangat cerdik. Ia menyantap umpannya, tetapi tidak pernah tertangkap kailnya.

Pembicara itu mengatakan bahwa misionaris perempuan masuk ke rumah-rumah tertentu, memperoleh empat shilling sebulan, membacakan Alkitab, sementara gadis-gadis pribumi menyimaknya dengan acuh tak acuh, lalu mengajari mereka merajut, dan terhadap rajutan itulah mereka menaruh perhatian yang sangat tajam. Para gadis itu, sebagaimana anak-anak laki-laki, katanya, selalu siaga untuk mempelajari hal-hal praktis, tetapi mereka kurang menaruh perhatian pada agama Kristen, walaupun mereka akan memeluknya jika hal itu perlu demi memperoleh keuntungan-keuntungan lainnya.

"Sebagian besar pria yang Anda kirim kepada kami sebagai misionaris tidaklah cakap," katanya.

Saya tidak pernah mengenal seorang pun yang telah mempelajari bahasa Sanskerta [sic] sebelum pergi ke India sebagai misionaris, padahal seluruh kitab dan literatur kami dicetak dalam bahasa itu.

Ia mengemukakan sebagai penjelasan atas kunjungan para misionaris bahwa "barangkali ateisme dan skeptisisme di negeri asal mereka mendorong para misionaris keluar ke seluruh penjuru dunia." Ketika di India, katanya, ia pernah mengira bahwa satu-satunya urusan kekristenan adalah mengirim semua orang ke api neraka, tetapi sejak datang ke Amerika ia mendapati bahwa ada banyak sekali orang yang berpandangan lapang. Ia merujuk pada parlemen agama-agama, dan menuturkan bagaimana seorang redaktur sebuah surat kabar Presbiterian telah menulis sebuah artikel pada penutupan parlemen itu yang berjudul "Si Hindu Pendusta," yang di dalamnya ia mencerca Kananda dengan sangat keras.

Dalam artikel itu sang redaktur mengatakan bahwa "selama dalam parlemen ia berada di sini sebagai tamu kita, tetapi karena parlemen itu sudah berakhir, kita patut melancarkan serangan yang penuh semangat terhadapnya dan doktrin-doktrin palsunya."

Dalam merujuk pada para misionaris medis di India, Kananda berkata:

India membutuhkan kesehatan, tetapi haruslah kesehatan bagi rakyat. Dan bagaimana Anda dapat menolong rakyat kami jika Anda tidak menjalin hubungan dengan mereka? Ketika Anda datang kepada kami sebagai misionaris, Anda seharusnya menanggalkan segala gagasan tentang kebangsaan. Yesus tidak berkeliling di antara para pejabat Inggris sambil menghadiri jamuan sampanye. Ia tidak peduli untuk memasukkan istrinya ke dalam masyarakat Eropa kalangan atas. Jika misionaris Anda tidak mengikuti Kristus, apa haknya menyebut diri seorang Kristen? Kami menginginkan misionaris-misionaris Kristus. Biarlah mereka datang ke India dalam jumlah ratusan dan ribuan. Bawalah kehidupan Kristus kepada kami dan biarlah ia meresap sampai ke inti masyarakat. Biarlah Ia dikhotbahkan di setiap desa dan sudut India. Tetapi jangan biarkan misionaris Anda memilih profesi mereka sebagai sarana mata pencaharian. Biarlah mereka memiliki panggilan Kristus. Biarlah mereka merasakan di dalam batin bahwa mereka dilahirkan untuk pekerjaan itu.

Sejauh menyangkut pengkristenan India, tidak ada harapan. Andai pun hal itu mungkin, hal itu tidak boleh dilakukan. Hal itu akan berbahaya; hal itu akan menandai kehancuran semua agama. Jika seluruh alam semesta memperoleh temperamen yang sama, baik jasmani maupun mental, kehancuran akan segera terjadi. Mengapa Anda tidak bisa mengkristenkan orang Yahudi? Mengapa Anda tidak bisa menjadikan orang Persia Kristen? Mengapa untuk setiap orang Afrika yang menjadi Kristen, 100 orang menjadi pengikut Muhammad? Mengapa Anda tidak bisa membekas pada India dan Tiongkok, dan Jepang? Karena keseragaman temperamen mental di seluruh dunia berarti kematian. Alam terlalu bijaksana untuk membiarkan hal-hal demikian.

[Sang Swami berkata:]

Bangsa-bangsa Kristen telah memenuhi dunia dengan pertumpahan darah dan tirani. Sekaranglah giliran mereka. Anda membunuh dan membantai serta membawa kemabukan dan penyakit ke negeri kami, lalu menambahkan hinaan pada luka dengan mengkhotbahkan Kristus dan penyaliban-Nya. Suara Kristen mana yang berkumandang ke seluruh negeri menentang kekejian semacam itu? Saya tidak pernah mendengar satu pun. Anda menyerap gagasan itu bersama air susu ibu Anda, bahwa Anda adalah malaikat dan kami adalah setan. Tidaklah cukup hanya ada cahaya matahari; Anda harus memiliki mata untuk melihatnya. Tidaklah hanya perlu ada kebaikan dalam diri manusia; Anda harus memiliki penghargaan terhadap kebaikan di dalam diri Anda sendiri untuk dapat mengenalinya. Penghargaan ini ada dalam setiap hati sampai ia dibunuh oleh takhayul dan penghujatan yang mengerikan.

Lalu Kananda menarik suatu perumpamaan yang sangat indah untuk menggambarkan bahwa kebenaran-kebenaran hakiki dari semua agama adalah sama, dan segala selebihnya hanyalah lingkungan yang kebetulan dan tidak penting. Ia menuturkan bagaimana seorang manusia primitif mungkin menemukan beberapa permata, dan karena menghargainya, ia mengikatnya dengan tali kulit kasar lalu mengalungkannya pada lehernya. Ketika ia menjadi sedikit lebih beradab, mungkin ia akan menukar tali kulit itu dengan seutas benang. Setelah menjadi semakin tercerahkan, ia akan mengikat permatanya dengan tali sutra; dan ketika ia memiliki peradaban yang tinggi, ia akan membuat dudukan emas yang rumit untuk harta-harta itu. Tetapi sepanjang semua perubahan dudukan itu, permata-permata itu—yang hakiki—tetap sama.

Jika orang Hindu hendak mengkritik agama Kristen, ia berbicara tentang dongeng dan mukjizat, serta segala omong kosong dalam Alkitab, tetapi ia tidak mengucapkan satu kata pun yang merendahkan khotbah di bukit, ataupun kehidupan Yesus yang indah. Demikian pula ketika orang Kristen mengkritik agama Hindu, ia berbicara tentang dogma-dogma dan kuil-kuil, tetapi ia tidak mengatakan apa pun [seharusnya tidak mengatakan apa pun] yang menentang moralitas dan filsafat orang Hindu. Tolonglah orang Yahudi dan biarlah ia menolong Anda. Tolonglah orang Hindu dan biarlah ia menolong Anda. Saya menyangkal bahwa manusia mana pun yang tidak dapat melihat kebaikan di segala tempat memiliki kemampuan untuk melihat kebaikan sama sekali. Ada keindahan yang sama dalam watak Kristus dan watak Buddha. Yang kita inginkan bukanlah peleburan, melainkan penyelarasan dan keselarasan. Saya meminta para pengkhotbah untuk melepaskan, pertama, gagasan tentang kebangsaan; dan kedua, gagasan tentang sekte. Anak-anak Tuhan tidak memiliki sekte.

Banyak yang telah dikatakan tentang kaum perempuan India, tentang kekurangan dan keadaan mereka. Memang ada kekurangan; semoga Tuhan menolong kami memperbaikinya. Kami bersyukur atas kritik Anda terhadap perempuan kami. Tetapi sementara Anda membicarakan mereka, saya akan mengatakan bahwa saya akan senang melihat selusin perempuan yang spiritual di Amerika. Pakaian indah, kekayaan, masyarakat yang cemerlang, opera, novel—. Bahkan intelektualitas pun bukanlah segalanya bagi seorang pria atau perempuan. Harus ada pula spiritualitas, tetapi sisi itu sama sekali tidak ada di negeri-negeri Kristen. Spiritualitas itu hidup di India.

Hadirin Vive Kananda yang besar jumlahnya menyimak ucapannya dengan sangat hormat tadi malam, dan satu atau dua kali bertepuk tangan dengan meriah.

[Detroit Tribune, 20 Maret 1894]

Demikianlah Jiwa Mengikuti Jiwa, Menurut Kananda.

Vive Kananda memberikan kuliah kepada hadirin yang berjumlah sekitar 150 orang [menurut Journal, 500] di Auditorium tadi malam dengan topik "Buddhisme, Agama Cahaya Asia." Yang Terhormat Don M. Dickinson memperkenalkannya kepada hadirin. "Siapakah yang dapat mengatakan bahwa sistem agama yang ini bersifat ilahi dan yang itu terkutuk?" tanya Tuan Dickinson dalam sambutan pengantarnya. "Siapakah yang dapat menarik garis mistis itu?"

Ia juga mengatakan bahwa pada suatu masa para pengikut Buddha pernah menjadi sekutu yang tidak rela bagi agama Kristen. Kananda tampil dalam jubah jingga kekuningan dengan tali serupa selempang melilit pinggang, dan serban yang ditata dari semacam kain Timur bertekstur sutra, yang ujungnya menjuntai dibawa ke depan melewati salah satu bahu.

Vive Kananda mengulas secara panjang lebar agama-agama awal India. Ia menuturkan tentang penyembelihan besar-besaran hewan di atas altar kurban; tentang kelahiran dan kehidupan Buddha; tentang pertanyaan-pertanyaan yang membingungkannya pada dirinya sendiri mengenai sebab-sebab penciptaan dan alasan-alasan keberadaan; tentang perjuangan Buddha yang sungguh-sungguh untuk menemukan pemecahan atas penciptaan dan kehidupan; tentang hasil akhirnya.

Buddha, katanya, menjulang jauh di atas semua manusia lain. Ia adalah orang, katanya, yang tentangnya baik kawan maupun lawannya tidak akan pernah dapat mengatakan bahwa ia menarik napas atau memakan sekerat roti selain demi kebaikan semua makhluk. "Ia tidak pernah mengkhotbahkan perpindahan jiwa," kata Kananda, kecuali bahwa ia percaya satu jiwa terhadap penerusnya bagaikan gelombang samudra yang tumbuh lalu surut, tidak meninggalkan apa pun bagi gelombang berikutnya selain kekuatannya. Ia tidak pernah mengkhotbahkan bahwa ada Tuhan, ia pun tidak menyangkal bahwa ada Tuhan. "Mengapa kita harus berbuat baik?" tanya para muridnya kepadanya.

"Karena," katanya, "kalian mewarisi kebaikan. Biarlah kalian pada gilirannya meninggalkan suatu warisan kebaikan kepada para penerus kalian. Marilah kita semua menolong langkah maju kebaikan yang terhimpun, demi kebaikan itu sendiri."

Ia adalah nabi pertama. Ia tidak pernah mencaci siapa pun atau mengakukan apa pun bagi dirinya sendiri. Ia percaya bahwa kita harus mengupayakan keselamatan kita sendiri dalam agama. "Saya tidak dapat memberitahukannya kepada kalian," katanya, di ranjang kematiannya, "ataupun kepada siapa pun. Janganlah bergantung kepada siapa pun. Upayakanlah agama [keselamatan] kalian sendiri."

Ia memprotes ketidaksetaraan antara manusia dengan manusia, ataupun antara manusia dengan binatang. Semua kehidupan adalah setara, demikian khotbahnya. Ia adalah orang pertama yang menjunjung doktrin pelarangan minuman keras. "Berbuat baiklah dan lakukanlah kebaikan," katanya. "Jika ada Tuhan, kalian memiliki-Nya dengan berbuat baik. Jika tidak ada Tuhan, berbuat baik tetaplah baik. Ia patut dipersalahkan atas segala penderitaannya. Ia patut dipuji atas segala kebaikannya."

Ia adalah orang pertama yang melahirkan para misionaris. Ia datang sebagai juruselamat bagi jutaan rakyat India yang tertindas. Mereka tidak dapat memahami filsafatnya, tetapi mereka melihat sosoknya dan ajaran-ajarannya, dan mereka pun mengikutinya.

Sebagai penutup, Kananda mengatakan bahwa Buddhisme adalah landasan bagi agama Kristen; bahwa Gereja Katolik berasal dari Buddhisme.

[Detroit Evening News, 21 Maret 1894]

Keingintahuan, kata tamu Hindu kita, adalah sifat orang Amerika yang paling mencolok, tetapi ia menambahkan bahwa hal itu merupakan jalan menuju pengetahuan. Inilah yang sejak lama menjadi penilaian orang Eropa terhadap orang Amerika, atau lebih tepatnya watak Yankee, dan barangkali komentar orang Hindu itu merupakan gema dari apa yang pernah ia dengar dikatakan orang-orang Inggris di India tentang

[Bay City Times Press, 21 Maret 1894]

Ia memberikan kuliah yang menarik di Opera House tadi malam. Jarang sekali warga Bay City berkesempatan menyimak kuliah serupa dengan yang diberikan tadi malam oleh Swami Vive Kananda. Tuan ini adalah penduduk asli India, yang lahir di Kalkuta sekitar 30 tahun yang lalu. Lantai bawah Opera House terisi sekitar separuhnya ketika pembicara itu diperkenalkan oleh Dr. C. T. Newkirk. Selama wacananya, ia mengecam rakyat negeri ini atas pemujaan mereka terhadap dolar yang mahakuasa. Memang benar bahwa di India ada kasta. Di sana, seorang pembunuh tidak akan pernah dapat mencapai puncak. Di sini, jika ia memperoleh satu juta dolar, ia sama baiknya dengan siapa pun. Di India, jika seseorang sekali menjadi penjahat, ia terhina selamanya. Salah satu faktor besar dalam agama Hindu adalah toleransinya terhadap agama dan keyakinan lain. Para misionaris jauh lebih keras terhadap agama-agama India ketimbang terhadap agama negeri-negeri Timur lainnya, karena orang Hindu membiarkan mereka berbuat demikian, sehingga menjalankan salah satu keyakinan pokok mereka, yakni toleransi. Kananda adalah seorang pria yang sangat terpelajar dan berbudi halus. Konon ia ditanyai di Detroit apakah orang Hindu membuang anak-anak mereka ke sungai. Atas hal itu, ia menjawab bahwa mereka tidak berbuat demikian, sebagaimana mereka pun tidak membakar para penyihir di tiang pancang. Pembicara itu akan memberikan kuliah di Saginaw malam ini.

[Saginaw Evening News, 21 Maret 1894]

Swami Vive Kananda, sang rahib Hindu, tiba siang ini dari Bay City dan terdaftar menginap di Vincent. Ia berpakaian seperti orang Amerika yang berkecukupan dan berbicara dalam bahasa Inggris yang sangat baik. Tingginya sedikit di atas sedang, bertubuh kekar, dan warna kulitnya menyerupai kulit orang Indian. Menjawab pertanyaan seorang wakil NEWS, ia mengatakan bahwa ia belajar bahasa Inggris dari guru-guru privat, dan melalui pergaulan dengan orang-orang Eropa yang berkunjung ke Hindustan. Ia menambahkan bahwa pembicaraannya malam ini akan menjelaskan agama orang Hindu serta menunjukkan bahwa mereka bukanlah kaum kafir, melainkan percaya pada keadaan yang akan datang.

[The Lynn Daily Evening Item, (tanggal?)]

NORTH SHORE CLUB

Pertemuan, Selasa Sore, Diisi Ceramah oleh Suami Vive Kananda, seorang Rahib Terpelajar dari India—Penggambaran Adat dan Kebiasaan Negerinya

Pada pertemuan North Shore Club, Selasa sore, hadirin berjumlah besar dan cemerlang, mewakili kalangan berbudaya tertinggi, dan mencakup banyak tamu terkemuka. Suami Vive Kananda, dari India, seorang rahib terpelajar, yang berbicara bahasa Inggris dengan mudah dan lancar, memberikan penggambaran yang sangat menarik tentang adat dan kebiasaan negerinya. Suami Vive Kananda, yang mengenakan jubah kuning dan serban ordonya, memulai dengan mengatakan bahwa India terbagi menjadi dua bagian, yakni bagian utara dan bagian selatan. Pada masing-masing bagian, bahasa dan adatnya begitu berbeda sehingga pembicara, yang berasal dari bagian utara, ketika bertemu seorang sesama warga negaranya dari bagian selatan pada Parlemen Agama-agama, terpaksa harus bercakap-cakap dengannya dalam bahasa Inggris, karena tak seorang pun dari mereka mampu memahami bahasa asli yang lain. Di seluruh negeri itu dituturkan sembilan bahasa dan 100 dialek.

Ada semacam keseragaman agama, namun setiap sekte merupakan agama dan hukum bagi dirinya sendiri. Banyak penggambaran yang keliru telah ditulis tentang India, berlandaskan pengetahuan yang tidak sempurna, yang darinya ditarik kesimpulan-kesimpulan yang sangat merugikan. Bagi orang Hindu, segala sesuatu tunduk kepada agama, dan ia melepaskan segala yang bertentangan dengannya, sebab keyakinannya ialah bahwa ia tidak ditakdirkan untuk menikmati kehidupan, melainkan untuk menaklukkannya dan memperoleh penguasaan tertinggi atas diri, yang merupakan jenis peradaban yang tertinggi. Pembedaan kasta yang kini tengah dihapuskan sesungguhnya hanyalah pembedaan antara orang Arya dan non-Arya—yakni kaum Brahmana dan kaum Sudra. Kaum Brahmana, yang merupakan anak dari budaya seribu tahun, harus menjalani kehidupan yang berdisiplin ketat; tetapi kaum Sudra, yang tidak terpelajar, diberi kelonggaran yang besar.

Perempuan dalam kedudukan sebagai ibu memperoleh penghormatan yang universal di India. Ketika seorang putra yang telah menjadi rahib pulang ke rumahnya, ayahnya, ketika menyambutnya, harus berlutut dan menyentuhkan dahinya ke tanah; tetapi sang rahib harus berlutut di hadapan ibunya. Perempuan di India tidak membuang anak-anak mereka ke sungai untuk dimangsa buaya. Para janda tidak dibakar di atas tumpukan kayu pembakaran jenazah suami mereka, kecuali jika hal itu merupakan tindakan pengorbanan diri yang sukarela.

Tidak ada perceraian yang diizinkan bagi kalangan atas; seorang perempuan yang meninggalkan suaminya, sekalipun ia paling rendah martabatnya, tetap memegang hak atas harta milik suaminya. Suami Vive Kananda melantunkan sebuah petikan indah dari Legenda Ramayana, salah satu sajak paling agung di India, yang menunjukkan bagaimana seharusnya kasih seorang istri kepada suaminya. Kasih Sita kepada Rama. Ia menambahkan, "Banyak yang dikatakan dewasa ini tentang 'kelangsungan hidup yang terkuat,'" dan bangsa-bangsa Barat menggunakannya sebagai argumen menentang India, dengan menalar bahwa kekayaan, kemakmuran, dan kekuasaan mereka sendiri menunjukkan bahwa merekalah yang lebih besar dan agama merekalah yang lebih tinggi serta lebih murni.

Tetapi India telah menyaksikan bangsa-bangsa perkasa bangkit dan runtuh, yang tujuannya hanyalah kekuasaan penaklukan dan kemuliaan kehidupan ini. India telah berulang kali dijarah, telah memikul kuk sang penakluk dan menanggung beban penindasan dengan kesabaran yang tak terpatahkan, serta telah menunjukkan toleransi kepada semua orang, karena ia memiliki pengetahuan bahwa rakyatnya berpegang teguh pada suatu agama yang berdiri kukuh di atas spiritualitas yang tinggi, dan bukan di atas pasir yang bergeser-geser berupa kenikmatan masa kini.

[New York Daily Tribune, 25 April 1894]

Swami Vivekananda memberikan kuliah di hadapan lingkaran percakapan Nyonya Arthur Smith tadi malam di Waldorf dengan topik "India dan

Hinduisme." Nona Sara Humbert, kontralto, dan Nona Annie Wilson, sopran, menyanyikan beberapa lagu pilihan. Sang penceramah mengenakan jubah berwarna jingga dan serban kuning yang menyertainya, yang disebut busana pengemis. Busana ini dikenakan ketika seorang penganut Buddha telah menyerahkan "segala sesuatu demi Tuhan dan kemanusiaan." Teori reinkarnasi dibahas. Sang pembicara mengatakan bahwa banyak rohaniwan yang lebih agresif daripada terpelajar bertanya: "Mengapa seseorang tidak menyadari kehidupan sebelumnya seandainya hal seperti itu memang ada?" Jawabannya adalah bahwa "Adalah kekanak-kanakan untuk meletakkan landasan bagi kesadaran, sebab manusia pun tidak menyadari kelahirannya dalam kehidupan ini, dan juga tidak menyadari banyak hal yang telah terjadi."

Sang pembicara mengatakan bahwa "tidak ada hal semacam" "Hari Penghakiman" dalam agamanya, dan bahwa Tuhannya tidak menghukum maupun memberi ganjaran. Jika kesalahan dilakukan dengan cara apa pun, hukuman alaminya datang seketika. Jiwa, ia menambahkan, berpindah dari satu tubuh ke tubuh lain, hingga ia menjadi roh yang sempurna, mampu hidup tanpa keterbatasan tubuh. . . .

[Smith College Monthly, Mei 1894]

Pada hari Minggu, 15 April, Swami Vivekananda, biarawan Hindu yang pemaparan ilmiahnya tentang Brahmanisme menimbulkan komentar yang begitu baik pada Kongres Agama-Agama, berbicara pada kebaktian Vesper. — Kita banyak berbicara tentang persaudaraan manusia dan kebapaan Tuhan, tetapi hanya sedikit yang memahami makna kata-kata ini. Persaudaraan sejati hanya mungkin terjadi ketika jiwa mendekat begitu erat kepada Bapa Semesta sehingga rasa iri dan klaim keunggulan yang remeh pasti lenyap karena kita berada jauh di atasnya. Kita harus berhati-hati agar tidak menjadi seperti katak dalam sumur dalam cerita Hindu lama itu, yang setelah lama hidup di tempat yang sempit, pada akhirnya menyangkal keberadaan ruang yang lebih luas.

[New York Daily Tribune, 3 Mei 1894]

Swami Virekanmda [sic] menyampaikan ceramah tentang "India dan Reinkarnasi" tadi malam di kediaman Nona Mary Phillips, No. 19 West Thirty-eighth St. Di antara butir-butir penting mengenai Hinduisme, atau Brahminisme, ia menyebutkan bahwa agama mereka tidak mempunyai nama yang khas; bahwa keyakinan akan kebenaran semua aliran kepercayaan dipandang sebagai agama, dan bahwa keyakinan bahwa satu dogma tertentu adalah agama yang sejati dan satu-satunya adalah sekte. Hukum Karmis tentang sebab dan akibat dijelaskan, demikian pula kodrat lahiriah dan batiniah dalam hubungan eratnya satu sama lain. Tindakan-tindakan di dunia ini, yang diatur oleh kehidupan sebelumnya dan peralihan ke kehidupan lain lagi, diuraikan secara terperinci.

Swami Vivekananda Bercerita tentang Agama Orang India dari Kasta Tinggi [Lawrence, Massachusetts, Evening Tribune, 16 Mei 1894]

Liberty Hall terisi dengan nyaman tadi malam, pada kesempatan ceramah oleh Swami Vivekananda, biarawan Brahmin terkemuka, yang merupakan tokoh menonjol pada parlemen agama-agama sedunia di Chicago musim panas lalu, dan yang sedang menghabiskan beberapa waktu di negeri ini untuk mempelajari tata krama dan adat istiadatnya. Ceramah ini diselenggarakan di bawah naungan perkumpulan wanita, dan merupakan acara yang baru dan menarik. Orang Hindu terkemuka itu diperkenalkan dengan ramah oleh ketua perkumpulan, Nona Wetherbee, yang menyinggung keagungan India yang sangat tua, sejarahnya yang menakjubkan, dan kualitas intelektual yang tinggi dari ras Hindu.

Sang pembicara malam itu mengenakan busana asli, yaitu jubah merah tua yang cerah, diikat pada pinggang dengan selendang panjang berwarna sama, dan mengenakan serban sutra putih yang elok yang melilit kepalanya. Pada pandangan pertama orang melihat kulitnya yang gelap, mata yang gelap dan penuh angan-angan, serta sikap introspektif seorang Brahmin kasta tinggi, yang hidupnya dibaktikan kepada agama dan yang juga seorang selibat. Bahwa ia seorang yang terdidik dengan baik tampak dari penguasaannya yang menakjubkan atas bahasa Inggris dan kekuatan argumentasinya, sementara kutipan sesekali dari Milton dan Dickens menunjukkan bahwa ia menghargai karya-karya klasik besar Inggris.

Pertama-tama ia berbicara tentang keistimewaan yang mencolok dari kondisi sosial kasta orang Hindu, sambil menegaskan bahwa kini lembaga itu tidak seketat dahulu, meskipun bahkan sekarang segala sesuatu berlangsung menurut keturunan. Pencampuran kasta, meskipun tidak dilarang mutlak, mendatangkan kerugian bagi anak-anak. Orang Brahmin atau orang kasta tinggi membaktikan bagian pertama hidupnya untuk mempelajari Veda (kitab wahyu tertua) atau kitab-kitab suci, dan bagian akhir hidupnya untuk merenungkan ketuhanan, karena ia dianggap telah mengatasi unsur kemanusiaan dalam dirinya dan menjadi hanya sebuah jiwa.

Sang pembicara tidak ragu mengkritik secara tajam sejumlah adat istiadat Barat, terutama beberapa yang berkaitan dengan kedudukan perempuan. Ia menegaskan bahwa kita memuja perempuan dalam diri istri, sementara bagi orang Hindu semua perempuan mewakili unsur keibuan. Di Amerika, ketika seorang perempuan tidak lagi muda dan cantik, ia mengalami masa yang sulit, tetapi di India para raja harus minggir untuk membiarkan seorang perempuan lanjut usia lewat, begitu besar rasa hormat yang diberikan kepada mereka. Ia menegaskan bahwa sebagian dari bagian-bagian yang paling indah dari Veda, kitab suci orang Hindu, ditulis oleh perempuan, tetapi bahwa tidak ada kitab suci lain di dunia ini yang di dalamnya perempuan turut berperan.

Cukup banyak waktu dicurahkan untuk membantah pernyataan, yang ia sebut tidak benar, mengenai kekejaman yang dipraktikkan terhadap para janda di India, dengan sang pembicara dalam uraiannya merujuk pada para janda zenana, yang sudah beberapa lama menjadi sasaran utama para misionaris Kristen dari negara lain. Pernikahan adalah suatu lembaga yang dijaga dengan sangat aman dan, selain hukum bahwa seorang Brahmin tidak boleh menikahi kerabat, tidak seorang pun diizinkan menikah yang diketahui mengidap penyakit seperti tuberkulosis atau penyakit jasmani lain yang tak tersembuhkan. Aturan kasta yang ketat yang mencegah seseorang minum dari gelas yang sama dengan orang lain, dan peraturan-peraturan sejenis lainnya, meskipun [bukan] bagian dari agama, memberikan hasil yang sangat baik bagi kondisi jasmani sebuah negara berpenduduk 285 juta jiwa, dalam mencegah penyebaran penyakit menular. Sang pembicara merasa ngeri, sebagaimana sepatutnya, terhadap kebiasaan minum air secara serampangan yang terlihat di kereta api dan stasiun di negeri ini. Anak-anak, pertama-tama, diajari berbuat baik kepada semua makhluk hidup, dan pendidikan ini begitu menyeluruh sehingga anak terkecil pun secara naluriah berbelok agar tidak menginjak seekor cacing. Sungguh sebuah pikiran yang aneh bahwa di antara orang-orang yang disebut kafir ini tidak diperlukan perkumpulan dengan nama yang panjang itu yang sering gagal dalam misinya di negeri-negeri Kristen. Tamu sebuah rumah, yaitu seseorang yang datang ke pintu dan berkata, "Saya lapar," adalah citra Tuhan sendiri bagi orang Hindu, dan diperlakukan dengan kebaikan dan perhatian yang sebesar-besarnya, diberi makan lebih dahulu sebelum tuan dan nyonya rumah itu sendiri.

Sang pembicara menyinggung dengan nada sedih kemiskinan negerinya, sebab, sementara kasta atas hidup dalam kenyamanan, ada jutaan orang yang satu-satunya makanannya adalah bunga kering, dan yang berada begitu rendah dalam tatanan kehidupan sehingga mereka nyaris tidak memiliki jati diri, dan menjadi objek yang menimbulkan iba dalam bidang keberadaan ini. Ia mengisyaratkan dengan cukup tegas bahwa pangan dan pendidikan akan lebih baik daripada khotbah-khotbah yang telah dilontarkan oleh orang-orang Kristen dan Muhamadan kepada mereka selama seratus tahun terakhir. Banyak adat istiadat yang sederhana dan bersahaja dari bangsa yang khas ini diceritakan dengan kepolosan dan kemurnian yang menyegarkan di zaman ketika kata-kata digunakan untuk menyembunyikan pikiran. Ia mengatakan bahwa tidak ada perilaku merayu atau bergenit-genit antara para pemuda dan gadis mereka, dan bahwa para gadis itu tidak berjalan dengan angkuh ke tempat-tempat umum dengan segala kemegahan [perhiasan?] mereka untuk tujuan mendapatkan seorang suami, yang semuanya itu membuat penduduk republik yang besar dan mulia ini bertanya-tanya apakah ada sesuatu yang sedikit busuk di negeri Denmark. Adalah baik untuk melihat kedua sisi perisai agar dapat memutuskan dengan mata yang tak berprasangka, dan banyak pendengar pulang dengan benak yang cukup bingung karena mendengar beberapa adat Amerika kesayangan mereka dituduh oleh seorang Hindu dan seorang kafir.

Ceramah itu sangat menarik dan disimak dengan perhatian yang mendalam oleh semua yang hadir. Pada akhir acara banyak [pertanyaan] diajukan kepada biarawan yang penuh pemikiran itu, yang tidak banyak membuang kata untuk basa-basi sosial atau obrolan tak bermakna. Ia tampak sangat tertarik kepada Dr. Bowker, satu-satunya orang dalam hadirin yang pernah mengunjungi negeri asing yang sudah berusia berabad-abad sebelum republik ini lahir.

Swami Vivekananda Menjadi Tamu Perkumpulan Wanita

[Lawrence American and Andover Advertiser, 18 Mei 1894]

Ia Menunjukkan Aspek-Aspek Brahmanisme yang Lebih Baik.

Dan Menyampaikan Pesan yang Tajam kepada Orang-Orang Kristen.

Swami Vivekananda, biarawan Brahman, berbicara di hadapan hadirin yang sangat tertarik pada Selasa malam di Library Hall di bawah naungan Perkumpulan Wanita Lawrence.

Nona Wetherbee memperkenalkan sang pembicara dan menyiapkan jalan bagi sambutan hangat yang jarang gagal diberikan oleh kesopanan Amerika kepada seorang tamu terkemuka dari bangsa lain.

Nona Wetherbee dengan bijaksana merujuk kepadanya sebagai tokoh menonjol pada Parlemen Agama-Agama Sedunia, juga pada kesan kuat yang ia tinggalkan di Pameran Dunia. . . .

. . . Di negerinya sendiri, dalam golongannya sendiri, ia menyapa semua perempuan sebagai ibu. Orang Brahmin dididik dengan cara demikian untuk menganggap perempuan sebagai ibu, dan seorang pria tidak boleh menikahi ibunya. Di negeri itu naluri keibuan dikembangkan dalam diri perempuan; di negeri ini, menurutnya, naluri keistrian yang dipupuk, dan hal yang paling indah dalam ceramahnya adalah penghormatannya kepada sang ibu, dan tidak luput pula rujukan pada kebaikan hati anak kecil Hindu yang secara naluriah akan membuatnya berbelok dari jalannya alih-alih menggilas seekor cacing.

membentuk bagian besar dari ceramahnya. Di kalangan golongan atas, yang disebut bangsa Arya, perempuan menganggap pernikahan sebagai sesuatu yang tidak senonoh [?]. Seorang janda tidak diharapkan untuk menikah lagi. Seorang pria yang tidak pernah menikah dipuji setinggi-tingginya, bahkan dipuja, tetapi seandainya ia menikah, maka dalam sekejap segalanya akan berubah. Ia yang tidak menikah dipandang berbudi luhur, suci, dan spiritual.

Di kalangan bangsa Arya tidak ada uang yang dibayarkan dalam pernikahan [?], dan karena jumlah anak perempuan sebagian besar lebih banyak, salah satu hal yang paling sulit bagi seorang ayah adalah menikahkan putrinya, dan sejak putrinya lahir ia memutar otak untuk mencarikannya seorang suami.

Pada dua golongan yang lebih rendah, aturan mengenai pernikahan semuanya berbeda. Janda menikah lagi, dan suami-istri, bila menghendaki, bercerai. Ketika seorang anak lahir, seorang ahli nujum datang dan membuat horoskop anak itu; ia menggambarkan watak masa depan anak laki-laki atau perempuan itu — diputuskan apakah ia anak yang berbudi jantan atau anak yang berperangai jahat; jika berperangai jahat — ia dinikahkan dengan kasta terdekat berikutnya, dan dengan demikian diperoleh sedikit peluang untuk memperbaiki keadaan anak yang berperangai jahat itu.

Urusan pernikahan tidak diserahkan kepada keputusan sang anak, sebab dalam hal itu ia mungkin menikah karena [ia] jatuh cinta pada hidung yang bagus atau mata yang indah, sehingga dengan menuruti kehendaknya sendiri ia akan merusak keseluruhannya. Ditekankan kenyataan bahwa hanya golongan yang lebih tinggi memikirkan

dan memuja Tuhan alih-alih memikirkan pernikahan. Ia berbicara tentang keadaan golongan yang lebih rendah yang menimbulkan iba, kemiskinan dan kebodohan mereka. Jutaan demi jutaan orang [tidak] mampu menuliskan namanya sendiri, namun ia berkata:

Kita semua mengkhotbahkan khotbah kepada mereka, sementara tangan mereka sedang menengadah meminta roti. Kemiskinan begitu ekstrem di kalangan golongan yang lebih rendah sehingga lima puluh sen sebulan adalah penghasilan rata-rata seorang Hindu. Jutaan orang hidup dari satu kali santapan sederhana sehari, dan jutaan lainnya bertahan hidup dengan bunga liar sebagai makanan.

Ia berbicara tentang gagasan yang lazim bahwa tidak ada cendekiawan di antara perempuan India, dan menyatakan bahwa ini keliru, karena banyak perempuan Brahmin yang menikah tetapi menjadi cendekiawan, dan dengan kebanggaan yang nyata ia merujuk pada kenyataan bahwa pada bangsa mana pun tak dapat ditemukan satu baris pun

yang ditulis oleh seorang perempuan, kecuali di negerinya sendiri saja, tempat banyak hal indah dalam kitab suci mereka ditulis oleh perempuan.

Swami Vivekananda tidak lupa memberitahukan hadirin, dalam kata-kata bahasa Inggris yang tak mungkin disalahpahami, bahwa upaya mengangkat bangsanya dengan mengajari mereka agama Kristen adalah tugas yang tak tahu berterima kasih. Ia berkata:

Kami telah menyaksikan orang Yunani dan orang Persia datang kepada kami — kami telah menyaksikan orang Spanyol dengan senjata datang untuk menjadikan kami orang Kristen, namun kami tetap orang Hindu, dan demikianlah kami akan tetap demikian.

Seandainya Vivekananda menggunakan segenap kekuatan matanya yang berkilat dan suaranya yang penuh ekspresi, niscaya itu akan menjadi pidato yang paling dramatis ketika ia berkata:

Saya berani di sini, di Amerika, untuk mengatakan bahwa kami di India akan tetap teguh pada agama kami.

Ia berkata bahwa adat istiadat kami baik bagi kami, dan kami dipersilakan memilikinya. Ia berdiri di hadapan kami sebagaimana ia telah berdiri di hadapan banyak hadirin Amerika yang terpelajar — ia, sang penafsir terpelajar agama Brahman, satu-satunya orang Hindu yang pernah datang ke negeri ini untuk mengatakan kepada kami — setegas yang ia berani dan sesopan yang ia bisa namun tetap tegas — agar tidak lagi berkata apa pun kepada orang Hindu yang malang itu, melainkan agar berbaik hati untuk mengurus urusan kami sendiri.

Setelah ceramah, banyak hadirin dengan senang hati memanfaatkan kesempatan yang ditawarkan oleh Tuan dan Nyonya Young untuk bertemu Vivekananda di kediaman mereka, tempat ia dijamu dan telah membuktikan dirinya sebagai tamu yang sangat menyenangkan.

[Nyonya Ole Bull menyerahkan kepada Boston Evening Transcript laporan berikut tentang ceramah umum Swami Vivekananda di Greenacre, Maine, yang disampaikan pada hari Jumat, 3 Agustus 1894, yang transkrip kata demi katanya tidak tersedia. Lihat catatan dari wacana yang disampaikan di Greenacre, Maine, berjudul "Agama India", dalam jilid Karya Lengkap ini (hlm. 267-71).] [Boston Evening Transcript, 11 Agustus 1894]

Sebuah pembelaan terhadap Muhammad [sic] oleh seorang Hindu kepada hadirin Kristen; pelajaran bahwa semua nabi patut dihormati dan ajaran mereka dipelajari dengan khidmat; bahwa para pengikut para guru ini hendaknya tidak mengaburkan bagi kita, melalui perilaku mereka, wahyu yang disampaikan dari Tuhan kepada manusia melalui nubuat — itulah tema di Greenacre kemarin.

Pemikiran dan pernyataan yang jernih dengan sabar mengoreksi kritik dan komentar yang mentah dan dangkal yang telah dilontarkan mengenai kepercayaan Timur — reinkarnasi. Pernyataan itu sangat menguasai persoalan, justru karena sederhana, dan dibawakan dengan ilustrasi yang akrab dan lazim. Hal ini disusul oleh seruan yang fasih dan mulia agar bersikap adil dalam menilai sejarah zaman itu dan iman Muhammad sendiri serta jasa yang diberikan kepada umat manusia oleh hal-hal pokok dari iman ini sebagai seorang nabi Tuhan. Para pria dan wanita yang hadir, banyak di antaranya takut kepada orang kafir, tergerak sebagaimana, menurut cerita, Wendell Phillips biasa menggerakkan hati yang keras untuk merenungkan dosa perbudakan.

Cemoohan, kecerdasan, dan kepandaian memberikan jasa yang mulia dengan segala kelembutan dan martabat dalam seruan ini, agar cacat dan kengerian dari masing-masing dan semua agama disingkirkan ke samping, supaya hal-hal pokok yang sama-sama dimiliki semua agama — keabadian jiwa, satu Tuhan, sang Bapa dan para nabi-Nya yang suci, masing-masing bagi suatu bagian dari keluarga umat manusia, dan masing-masing memiliki kebenaran untuk diberikan yang diperlukan oleh semua — diakui dan dihormati demi keselamatan.

Sang pembicara, Swami Vivekananda, memberikan apa yang hanya mampu diberikan oleh sebuah jiwa yang agung. Itu adalah satu jam yang takkan pernah terlupakan. Orang ini membawa mereka yang hadir ke dalam cahaya kebenaran, apa pun prasangka dan didikan mereka, sebagaimana Phillips Brooks mempersatukan Unitarianisme dan Episkopalianisme, dan semua yang mencintai kebaikan dan kebenaran datang untuk menjadikannya sebagai uskup mereka. Demikianlah orang Hindu ini, dalam pemikirannya yang konstruktif, ketika ia bersedia mencurahkannya, mampu menyatakan kepada kita kekuatan para nabi melalui kehadirannya sendiri.

[Terjemahan parsial Swami Vivekananda atas "Nirvâna shatkam" karya Shankara, yang dilantunkan di Greenacre, Maine, dan dilaporkan dalam terbitan Greenacre Voice tahun 1894]

Di bawah pohon pinus Sang Swami yang terkenal di Greenacre, Vivekananda berkata: "Aku bukan tubuh maupun perubahan tubuh; bukan pula indra maupun objek-objek indra. Aku adalah Keberadaan Mutlak. Kebahagiaan Mutlak. Pengetahuan Mutlak. Akulah Itu. Akulah Itu. "Aku bukan kematian maupun ketakutan akan kematian; aku tak pernah dilahirkan, tak pula memiliki orang tua. Aku adalah Keberadaan Mutlak. Kebahagiaan Mutlak. Pengetahuan Mutlak. Akulah Itu. Akulah Itu. "Aku bukan kesengsaraan, tak pula memiliki kesengsaraan. Aku bukan musuh, tak pula memiliki musuh. Aku adalah Keberadaan Mutlak. Kebahagiaan Mutlak. Pengetahuan Mutlak. Akulah Itu. Akulah Itu. "Aku tanpa wujud, tanpa batas, melampaui ruang, melampaui waktu; aku ada dalam segala sesuatu, aku adalah dasar alam semesta — di mana-mana akulah yang ada. Aku adalah Keberadaan Mutlak. Kebahagiaan Mutlak. Pengetahuan Mutlak. Akulah Itu. Akulah Itu."

[Boston Evening Transcript, 15 Agustus 1894]

Berikut disajikan ringkasan singkat dari ceramah terakhir Vivekananda di bawah pepohonan pinus di Eliot, di dalam kuil para dewa, untuk meminjam ungkapan Bryant — "Rimba-rimba itu adalah Bait Allah yang pertama."

Apakah bangsa itu? Apakah hukum itu? Kita memiliki hukum hanya supaya kita dapat menjadi pelampau hukum (di atas hukum).

Ada kebebasan jiwa; melalui inilah kita mengenal kebebasan hukum. Aku termasuk bangsa yang mencari kemerdekaan jiwa. Aku termasuk bangsa yang memuja Tuhan.

Para insan ilahi milik Tuhan semuanya adalah Guruku. Aku belajar tentang Kristusmu dalam belajar tentang Krishna, tentang Buddha, dalam belajar tentang Muhammad. Aku memuja Tuhan semata. "Aku adalah keberadaan mutlak, kebahagiaan mutlak, Pengetahuan Mutlak." Aku tidak mengutuk apa pun yang kutemukan dalam bangsa, negara, atau agama, karena menemukan Tuhan dalam segala-galanya. Pertumbuhan kita bukan dari kejahatan menuju kebaikan, melainkan dari kebaikan menuju yang lebih baik, dan demikian terus-menerus. Aku belajar dari segala yang disebut jahat maupun baik. Bangsa dan segala omong kosong semacam itu boleh saja berlalu. Yang ada hanyalah kasih, kasih, kasihilah Tuhan dan saudaraku.

[Baltimore American, 13 Oktober 1894]

SWAMI VIVEKANANDA TIBA DI BALTIMORE PANDANGANNYA TENTANG AGAMA

Swami Vivekananda, seorang pendeta tinggi Brahmin dari India, tiba di Baltimore tadi malam, dan menjadi tamu Pdt. Walter Vrooman. . . .

Kepada seorang wartawan Amerika tadi malam Swami Vivekananda berkata:

Saya sangat terkesan secara positif terhadap lembaga-lembaga Amerika selama saya tinggal di negeri ini. Waktu saya terbagi di antara empat kota — Chicago, New York, Boston, dan Detroit. Saya tidak pernah mendengar tentang Chicago ketika di India, tetapi saya sering mendengar tentang Baltimore. Kritik utama yang harus saya sampaikan tentang Amerika adalah bahwa di sini Anda terlalu sedikit memiliki agama. Di India mereka terlalu banyak memilikinya. Saya rasa dunia akan lebih baik seandainya sebagian dari kelebihan agama India dapat dikirim ke sini, sementara akan menguntungkan India seandainya rakyatnya dapat memperoleh sebagian dari kemajuan industri dan peradaban Amerika. Saya seorang yang percaya kepada semua agama. Saya rasa ada kebenaran dalam agama saya; saya rasa ada kebenaran dalam agama Anda. Itu adalah kebenaran yang sama dalam semua agama, yang menerapkan dirinya melalui berbagai saluran menuju tujuan yang sama. Saya rasa kebutuhan besar dunia adalah lebih sedikit hukum, dan lebih banyak pria dan wanita yang saleh. . . .

[Baltimore News, 13 Oktober 1894]

Seorang Hindu Kasta Tinggi Berkunjung ke Baltimore

BUSANANYA YANG MEWAH MENARIK BANYAK PERHATIAN DI LOBI HOTEL RENNERT — IA BERSIUL DAN MELONTARKAN HUMOR KHAS INDIA TIMUR — IA DATANG KE BALTIMORE DALAM LAWATAN KELILING NEGERI DAN AKAN BERBICARA DI LYCEUM BESOK MALAM.

Swami Vivekananda, Pendeta Tinggi orang Hindu, melangkah masuk ke lobi Hotel Rennert pagi tadi dengan mengenakan jubah merah menyala dan serban kuning mencolok yang menjadikannya pusat semua pandangan. . . .

Gagasannya tentang Humor

Swami Vivekananda memiliki rasa humor pada dirinya. Pagi ini ia berbicara tentang Pameran Pangan, yang berniat ia kunjungi. Ia berkata bahwa ia tidak banyak tahu tentang makanan kecuali cara menelannya, dan itu adalah contoh yang sangat mewakili kecerdasan jenaka Ormus dan India.

Pada kesempatan lain ia berbicara tentang hak-hak perempuan dan berkata sambil tertawa bahwa perempuan di seluruh dunia memiliki lebih banyak hak daripada yang diakui orang. Ketika ia mengganti jubah hitamnya, sebelum berangkat ke Rennert, dan mengenakan busana merah tua dengan serban kuning itu, ia keluar dari kamarnya sambil tersenyum dan berkata: "Sebuah penjelmaan!"

Sang Pendeta Tinggi pandai bersiul dan memiliki cukup banyak musik dalam jiwanya untuk membuka lagu-lagu dalam pertemuan jemaat seandainya ia seorang Methodis dan bukan orang Hindu. Pagi ini ia bersiul beberapa bait di kamarnya untuk seorang wartawan The News. Itu bukan "Daisy Bell" maupun "Sweet Marie", dan pastilah semacam senandung Hindu kafir. . . .

New Discoveries, Jil. 2, hlm. 196-200.

Sang Swami sedang berkeliling negeri, sebagaimana ia katakan, untuk berceramah dan mempelajari lembaga-lembaga Amerika, tetapi tampaknya ia belum banyak menyelami inti sosiologi Amerika, sebab ia tidak tahu apa-apa tentang persoalan seperti imigrasi Eropa, perceraian, masalah ras, dan sebagainya, yang merisaukan para ekonom negeri ini.

Namun, ia berpengetahuan tentang imigrasi Timur, dan berkata bahwa Amerika Serikat tidak berhak menutup pintu bagi orang Tionghoa. Ia berkata bahwa hukum kasih harus menang dan kekerasan harus menyerah. Ia meramalkan keruntuhan bangsa mana pun yang menggunakan kekerasan. Ia juga berkata bahwa Amerika Serikat seharusnya membuka pintunya bagi dunia. Ia percaya bahwa bagian selatan benua itu seharusnya dipenuhi oleh orang Hindu dan orang Tionghoa. "Tidak ada yang namanya perceraian di India," katanya;

hukum kami tidak mengizinkannya. Kaum perempuan kami lebih terbatas ruang lingkupnya daripada perempuan Amerika. Sebagian dari mereka berpendidikan tinggi. Kini mereka mulai memasuki profesi kedokteran sampai batas tertentu. Saya tidak melihat alasan mengapa perempuan Amerika tidak boleh memberikan suara dalam pemilihan.

Ia mengelak dari sebuah pertanyaan mengenai kedudukan perempuan Hindu di rumah mereka dan perlakuan suami terhadap mereka. Bisa jadi ia memang tidak banyak tahu tentang hal itu. Ia bukan seorang pria yang menikah. Para pendeta dari kastanya tidak menikah.

Ia menyebutkan dua hal yang katanya berkesan baginya di Amerika. Yang satu adalah ketiadaan kemiskinan di negeri ini secara umum, dan yang lain adalah merajalelanya kebodohan secara luar biasa di wilayah Selatan.

Ketika ia menuju lift di Rennert, ia berkata:

Ada satu lembaga Amerika yang tidak banyak kami miliki di India. Saya sangat menyukainya.

Seorang nyonya baru saja keluar dari lift. Ia agak terkejut oleh busana merah dan kuning sang pendeta, tetapi air muka sang pendeta yang tak tergoyahkan sama sekali tidak menunjukkan kesadaran akan perhatian yang ia tarik.

Pidatonya besok malam di Lyceum terutama akan bersifat memperkenalkan diri dan menjelaskan tentang bangsa Hindu. Ia akan berbicara secara singkat, tetapi akan tetap tinggal di Baltimore dan berbicara lebih panjang lebar seminggu lagi pada malam besok.

[Baltimore Sunday Herald, 14 Oktober 1894]

Kunjungan Seorang Pendeta Hindu Terkemuka ke Kota Ini

IA MENJADI TAMU SAUDARA-SAUDARA VROOMAN DAN BERMINAT PADA PENDIRIAN SEBUAH UNIVERSITAS AGAMA-AGAMA INTERNASIONAL — BUSANANYA YANG MEWAH. . . . . . . . . . Tuan Vivecananda bercakap-cakap dengan seorang wartawan Sunday Herald, berbicara bahasa Inggris dengan lancar dan dengan aksen yang serupa dengan aksen orang Italia terdidik. Ia menunjukkan keakraban yang luar biasa dengan lembaga-lembaga negeri ini, baik keagamaan, politik, maupun sosial.

Tuan Vivecananda datang ke Baltimore atas undangan saudara-saudara Vrooman, yaitu Hiram, Carl, dan Walter, dan selama di kota ini ia akan menjadi tamu mereka. Pdt. Hiram Vrooman ditemui di kediamannya, 1122 North Calvert Street, kemarin, dan berbicara dengan terbuka mengenai kunjungan sang tamu terkemuka itu. "Tuan Vivecananda," katanya, "adalah salah satu orang paling cerdas yang pernah saya temui. Ia datang ke kota ini atas undangan kami, dan selama di sini ia akan berunding dengan kami mengenai pendirian universitas internasional, yang diusulkan untuk didirikan sebagai buah dari Kongres Agama-Agama Sedunia, yang merupakan salah satu bagian yang begitu menarik dari Pameran Dunia. Universitas ini

adalah salah satu gagasan kesayangan Tuan Vivecananda, dan mendapat dukungan penuh dari saya dan saudara-saudara saya, serta dari sejumlah tuan yang kaya dan berkedudukan, termasuk dari beberapa agama. Di antara para pendukungnya terdapat anggota agama Katolik Roma dan agama Ibrani. Gagasan universitas ini adalah pendidikan dalam agama secara umum. . . . "Salah satu gagasan Tuan Vivecananda dalam pendirian universitas ini adalah bahwa ia dapat berguna untuk mendidik jenis misionaris yang lebih unggul untuk berkarya di India. Meskipun ia teguh pada keyakinan agamanya sendiri, ia berharap agar sistem yang sekarang, yaitu mengirim orang-orang yang tidak terdidik sebagai misionaris ke India, dihentikan, dan agar dikirim ke sana orang-orang yang dapat mengajarkan agama Kristen dari sudut pandang yang luhur. Dalam harapan ini ia digerakkan semata-mata oleh keinginan demi kebaikan agama secara umum. . . . "Tuan Vivecananda memberitahu saya bahwa ayahnya adalah seorang yang sangat percaya kepada Tuhan Yesus, sebagaimana ia menyebut-Nya, dan bahwa ketika masih kecil ia membaca dalam Injil Santo Yohanes gambaran yang mengharukan tentang penyaliban Sang Juruselamat dan menangis karenanya. Ia akan tetap tinggal di kota ini selama beberapa minggu. Besok malam ia akan menyampaikan pidato singkat pada pertemuan kami di Lyceum, dan pada hari Minggu seminggu lagi ia akan berbicara panjang lebar pada pertemuan kedua kami mengenai rencana universitas itu."

Vive Kananda, Seorang Biarawan Brahmin, Berkhotbah di People's Church

[Washington Times, Senin, 29 Oktober 1894]

Vive Kananda, sang biarawan Brahmin, berbicara kepada jemaat People's Church, No. 423 G Street northwest, pada pukul 11.00 pagi kemarin. . . . Dr. Kent memperkenalkan sang biarawan. . . .

Vive Kananda, sambil melangkah maju, mengatakan bahwa sebagai pemuda di universitas ia mempelajari agama perbandingan. Di India terdapat banyak agama. Seperlima penduduknya adalah orang Muhamadan. Satu juta orang adalah penganut Kristen. Ia mempelajari semuanya. Ia menyimak seorang pengkhotbah Hindu yang besar, dan ketika pengkhotbah itu selesai, ia berkata: "Saudaraku, sudahkah engkau melihat Tuhan?"

Sang pengkhotbah mendongak dengan terkejut.

"Belum."

"Lalu, bagaimana engkau tahu bahwa hal-hal ini benar?"

"Ayahku memberitahuku."

"Siapa yang memberitahu ayahmu?"

"Ayahnya," dan demikian seterusnya melalui para leluhurnya hingga ke awan.

Ia mendengar seorang pengkhotbah Kristen yang sangat fasih. Orang ini memberitahu sang pencari kebenaran bahwa jika ia tidak segera diselamkan ke dalam air, ia berada dalam bahaya besar untuk dipanggang hidup-hidup. Setelah ditanya lebih lanjut, orang Kristen ini pun, melalui catatan kitab-kitabnya, menelusuri kembali kepada para leluhurnya, dan demikian kembali hingga ke awan.

Ini tidak memuaskan sang pelajar. Ia mulai berdoa. Ia kadang-kadang berdoa selama tiga hari tiga malam dengan banyak menangis dan tanpa makan. Akhirnya ia menemukan seorang pria yang tidak mengenal kitab apa pun, bahkan tidak dapat menuliskan namanya sendiri. Sang bijak ini sedang mengkhotbahkan agamanya. Ketika ditanya pertanyaan lama itu, ia menjawab: "Ya, sekarang aku melihat Tuhan, dan aku akan mengajarimu untuk melihat-Nya."

Orang ini memiliki cap Tuhan pada raut wajahnya. Itu adalah surat keterangan yang sama yang datang kepada orang dari Nazaret itu ketika merpati turun ke atas-Nya di Sungai Yordan. Ia membuat pendengarnya percaya bahwa Tuhan itu hidup dan bahwa agama bukanlah suatu olok-olok.

Selama dua belas tahun Kananda duduk di kaki orang ini. Dialah sang guru. Suatu hari ia berkata, "Ambillah kitab ini." Kananda mengambil kitab itu dan membacanya. Itu adalah sebuah kalender. Ia membaca di dalamnya tempat curah hujan diramalkan. Tertulis bahwa dalam waktu tertentu sekian ton hujan akan turun di suatu daerah tertentu. "Sekarang," kata sang guru, "tutuplah kitab itu dan tekanlah." Ia melakukannya. "Perahlah kitab itu

dengan sangat kuat." Ia menurut. "Apakah ada air yang keluar dari kitab itu?" "Tidak ada." Demikianlah semua kitab. Agama yang sejati ada di sini, di dalam hati.

Kenyataannya, orang-orang tidak menginginkan Tuhan. Jauh dari itu. Agama sebagian besar hanyalah mode. Nyonyaku memiliki ruang tamu yang indah, perabot yang elegan, sebuah piano, perhiasan yang cantik, gaun-gaun yang pas dan mahal, sebuah topi yang merupakan model paling baru. Ia tak dapat berjalan tanpa sentuhan agama untuk mengimbangi golongannya. Banyak agama semacam ini, tetapi itu adalah kemunafikan, dan kemunafikan adalah akar segala kejahatan. Agama jenis ini bukan dari Tuhan. Itu hanyalah bayang-bayang. Orang-orang dengan agama semacam ini kadang-kadang lambat laun menjadi sungguh-sungguh dan membicarakan hal-hal keagamaan seakan-akan hal itu memiliki suatu kenyataan. Maka, dengan membicarakan agama tanpa benar-benar memilikinya, orang-orang ini terjerumus ke dalam pertengkaran dan perkelahian. "Milikku, milikku," demikian teriakan mereka, tidak pernah "milikmu, milikmu." "Agamaku yang terbaik." "Tidak, agamaku," dan demikianlah mereka berkelahi sebagaimana suku-suku biadab berkelahi memperebutkan dewa-dewa saingan mereka, Mambo dan Jumbo. Persaingan dalam agama, seperti dalam bisnis, adalah racun bagi semuanya.

Paulus dari kalangan Anda sendiri berkata "segala sesuatu yang lain akan binasa, tetapi kasih tetap tinggal." Itulah kebenaran yang agung. Doktrin palsu bahwa bangsaku harus dibesarkan dengan mengorbankan setiap bangsa lain bukanlah dari Tuhan.

Seorang pemuda mendatangi gurunya dan berkata, "Aku ingin mengenal Tuhan." Sang guru tidak banyak menghiraukannya, tetapi sang pemuda berkeras dan tak mau diabaikan. Akhirnya pada suatu hari sang guru berkata: "Mari kita turun ke sungai dan mandi." Maka mereka turun, dan sang pemuda menerjunkan diri ke dalam air. Sang guru mengikutinya, lalu menubruknya dan menahannya di bawah air. Sang pemuda meronta, tetapi sang guru tidak mau melepaskannya. Akhirnya, ketika ia tampak hampir mati, sang guru berhenti, menarik pemuda itu dari air, dan menghidupkannya kembali. "Apa yang paling kauinginkan ketika berada di dalam air?" tanya sang guru. "Napas," jawabnya. "Kalau begitu, engkau tidak menginginkan Tuhan."

Demikian pula halnya dengan manusia: apa yang Anda inginkan? Anda menginginkan napas, tanpanya Anda tidak dapat hidup; Anda menginginkan roti, tanpanya Anda tidak dapat hidup; Anda menginginkan rumah, tanpanya Anda tidak dapat hidup. Ketika Anda menginginkan Tuhan sebagaimana Anda menginginkan hal-hal ini, Dia akan menyatakan diri-Nya kepada Anda. Menginginkan Tuhan adalah sesuatu yang besar. Sebagian besar pria dan wanita di dunia ini menginginkan kenikmatan indra. Mereka telah diberi tahu bahwa ada Tuhan yang jauh di sana, dan jika mereka mengirimkan kepada-Nya sekereta penuh kata-kata, Dia akan

membantu mereka memperoleh hal-hal baik dari dunia ini. Namun, di setiap negeri ada segelintir orang yang menginginkan Tuhan. Mereka ingin bersatu dengan hakikat kebaikan dan kebenaran. Agama bukanlah jual beli. Kasih tidak meminta balasan; kasih tidak mengemis; kasih memberi.

Agama bukanlah hasil tumbuh dari rasa takut; agama itu penuh sukacita. Ia adalah letusan spontan dari kicauan burung dan pemandangan indah pagi hari. Ia adalah ungkapan jiwa. Ia berasal dari dalam, sebuah ungkapan jiwa yang bebas dan luhur.

Jika kesengsaraan adalah agama, lantas apakah neraka? Tidak seorang pun berhak menyengsarakan dirinya sendiri. Berbuat demikian adalah suatu kekeliruan; itu adalah dosa. Setiap derai tawa adalah doa yang dikirimkan kepada Tuhan.

Kembali ke pokok bahasan, inilah yang telah saya pelajari: Agama tidak terdapat dalam buku-buku, tidak dalam bentuk-bentuk lahiriah, tidak dalam mazhab, tidak dalam bangsa-bangsa; agama berada di dalam hati manusia. Ia terukir di sana. Buktinya ada dalam diri kita sendiri.

Saya menyampaikan dua pokok. Ada banyak mazhab. Biarlah jumlahnya terus bertambah hingga setiap orang menjadi mazhab tersendiri. Tidak seorang pun dapat memandang Tuhan persis sama dengan orang lain; setiap orang harus memercayai-Nya dan mengabdi kepada-Nya sebagaimana ia memandang-Nya. Lalu, saya menginginkan adanya keselarasan di antara mazhab-mazhab itu. Individualitas tidak bertentangan dengan universalitas.

Biarlah setiap orang, baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama, memerangi kejahatan. Jika Anda memiliki kekuatan delapan dan saya kekuatan empat, lalu Anda datang dan menghancurkan saya, Anda telah kehilangan setidaknya empat. Anda hanya menyisakan empat untuk menaklukkan kejahatan. Hanya kasih yang dapat menaklukkan kebencian. Jika ada kekuatan dalam kebencian, maka ada kekuatan yang tak terhingga lebih besar dalam kasih.

[Washington Times, 2 November 1894]

Vive Kananda Membandingkan Agama-Agama dan Berbicara tentang Reinkarnasi

Optimisme adalah ciri keyakinan bangsa Arya atau Hindu yang membedakannya dari agama-agama Barat, menurut

biarawan Brahman, Vive Kananda, yang berbicara di hadapan hadirin berjumlah cukup besar di Metzerott Hall tadi malam. Pokok bahasannya adalah reinkarnasi. Sebagian besar ceramahnya dicurahkan untuk membandingkan ajaran Hindu dengan ajaran Kristen.

Untuk menggambarkan ajaran reinkarnasi, ia membandingkan tubuh manusia dengan sebuah sungai. Setiap tetes air mengalir terus dan digantikan oleh tetes yang lain. Seluruh badan air itu, demikian ia mengamati, berubah seluruhnya dalam beberapa saat, tetapi kita tetap menyebutnya sungai yang sama. Dengan cara yang sama, partikel-partikel tubuh terus-menerus digantikan oleh partikel lain, dan tidak ada dua hari pun kita memiliki tubuh yang sama, namun kita tetap mempertahankan jati diri kita.

Roh tetap demikian, demikian keyakinan orang Hindu, sehingga seseorang mungkin mengalami perubahan yang berbeda, yang lebih mendadak dan keras dalam kematian, namun terus berlanjut dalam keberadaannya menuju suatu tempat lain di alam semesta, ke planet atau bintang lain, lalu kembali mengenakan tubuh dari daging atau dari jenis yang lain.

Ia mengatakan bahwa tidak seharusnya ada pembicaraan tentang dosa. Kesalahan-kesalahan masa lalu seharusnya hanya digunakan sebagai pedoman bagi masa depan, jangan sekali-kali diratapi. Setelah pelajaran darinya dipetik, kesalahan-kesalahan itu seharusnya dilupakan. "Nyalakanlah pelita," katanya, "jangan duduk dalam kegelapan dan kesedihan. Berbuatlah selalu lebih baik dan berbahagialah." . . .

[Baltimore News, 3 November 1894]

Swami Vivekananda, imam besar Hindu, berceramah tadi malam di Harris' Academy of Music Concert Hall. Pokok bahasannya adalah "India dan Agamanya." Ia menjelaskan keyakinan berbagai agama Timur, termasuk agamanya sendiri, yaitu Brahmanisme. Ia mencemooh gagasan mengirimkan misionaris dari sekian banyak keyakinan yang berbeda ke negeri-negeri kafir, dan mengatakan bahwa berbagai agama yang terlibat dalam pekerjaan misionaris seharusnya bersatu. Tuan Vivekananda menjelaskan bahwa agama Hindu bersifat optimis dan bukan pesimis. Pokok utamanya adalah ajaran reinkarnasi, yang berarti bahwa semua makhluk telah ada sebelumnya dan akan hidup kembali dalam wujud-wujud lain. Hasil dari ceramah itu akan digunakan untuk pekerjaan pendirian sebuah perguruan tinggi internasional.

[Daily Eagle, 8 April 1895]

Maka Semuanya Akan Berjalan dengan Baik, Kata Swami Vivekananda

Bangsa Inggris menerima kecaman keras tadi malam dari Swami Vivekananda dari India, yang berceramah di hadapan kerumunan orang di Pouch mansion. Ia mengatakan bahwa orang Inggris menggunakan tiga huruf B — Bible (Alkitab), brandy (brendi), dan bayonets (sangkur) — dalam memperadabkan India. Sang pengkhotbah maju lebih dahulu dengan Alkitab untuk mengetahui tata letak benteng-benteng pertahanan. Orang Inggris, katanya, telah melebih-lebihkan kondisi sosial India dalam tulisan-tulisan mereka. Mereka memperoleh gagasan mereka dari kaum Paria, sejenis pemulung manusia. Tidak ada orang Hindu yang menghargai dirinya sendiri, ia menyatakan, yang mau bergaul dengan orang Inggris. Kisah tentang para janda yang menjatuhkan diri ke bawah kereta Juggernaut ia nyatakan sebagai mitos belaka. Pernikahan anak dan sistem kasta, ia sepakat, adalah hal yang buruk. Kasta, katanya, berasal dari serikat-serikat tukang. Yang dibutuhkan India adalah dibiarkan sendiri, dan dengan demikian semuanya akan berjalan dengan baik.

[New York World, 8 Desember 1895]

SWAMI VIVEKANANDA SANG YOGI, DATANG DARI BOMBAY, MEMBERITAKAN KASIH TERHADAP SESAMA MANUSIA.

Menemukan seorang pertapa dari jenis Timur tertinggi yang mengenakan jubah Hindu merah yang berkibar di atas celana panjang Amerika yang tak salah lagi tentu merupakan suatu kejutan. Namun, dalam hal-hal lain selain busana pun, Swami Vivekananda mengagumkan. Pertama-tama, ia menyatakan bahwa agama Anda atau agama siapa pun sama baiknya dengan agamanya sendiri, dan jika Anda kebetulan seorang Kristen atau Muslim, Baptis atau Brahman, ateis, agnostik, atau Katolik, itu sama sekali tidak menjadi soal baginya. Yang ia minta hanyalah agar Anda berlaku benar sesuai dengan cahaya pengertian Anda sendiri.

Sang Yogi, dengan pandangannya yang khas tentang busana dan ibadat, tiba pada hari Jumat dengan kapal Brittanic. Ia menuju ke No. 228 West Thirty-ninth Street. Selama berada di New York, ia akan berceramah tentang metafisika dan psikologi, dan akan pula menyebarluaskan secara umum gagasan-gagasannya tentang agama universal yang tidak meminta siapa pun mencengkeram leher orang lain hanya karena akidahnya kebetulan berbeda. "Biarkan saya menolong sesama manusia; hanya itu yang saya cari," katanya. "Ada empat jenis manusia secara umum," katanya,

yakni yang rasional, yang emosional, yang mistis, dan sang pekerja. Bagi mereka kita harus menyediakan ibadat yang sesuai. Datanglah manusia rasional, yang berkata, "Saya tidak peduli pada bentuk ibadat ini. Berikan saya yang filosofis, yang rasional — itulah yang dapat saya hargai." Maka bagi manusia rasional disediakan ibadat yang rasional dan filosofis.

Datanglah sang pekerja. Ia berkata: "Saya tidak peduli pada ibadat para filsuf. Berikan saya pekerjaan untuk dilakukan bagi sesama manusia saya." Maka baginya dibuatkan suatu ibadat, sebagaimana bagi yang mistis disediakan yang emosional. Dalam agama bagi semua orang ini terkandung unsur-unsur keyakinan mereka. "Tidak," kata Swami, dengan sangat lembut, menjawab sebuah pertanyaan,

saya tidak percaya pada hal-hal gaib. Jika sesuatu itu tidak nyata, maka ia tiada. Apa yang tidak nyata tidaklah ada. Hal-hal yang aneh adalah gejala alamiah. Saya tahu bahwa itu adalah persoalan ilmu pengetahuan. Maka, hal-hal itu tidaklah gaib bagi saya. Saya tidak percaya pada perkumpulan-perkumpulan gaib. Mereka tidak membawa kebaikan, dan tidak akan pernah dapat membawa kebaikan.

Sebenarnya, sang Swami tidak termasuk dalam perkumpulan, aliran, maupun akidah mana pun. Agamanya adalah agama yang merangkul segala bentuk ibadat, segala golongan, segala keyakinan.

Swami, yang berkulit sangat gelap dan seorang pemuda yang tampan, menjelaskan akidahnya kemarin dalam bahasa Inggris yang sangat murni. Orang lupa ketika ia berbicara bahwa sebuah kerah ortodoks mengintip di atas jubah Bombay yang pada gilirannya nyaris tidak menutupi celana panjang Amerika. Sebagai gantinya, orang melihat senyum yang memikat dan sepasang mata hitam yang dalam dan berkilau.

Swami percaya pada reinkarnasi. Ia percaya bahwa dengan pemurnian tubuh, jiwa naik ke keadaan yang lebih tinggi, dan seiring berlanjutnya pemurnian melalui materi, roh pun naik, hingga terbebas dari perpindahan lebih lanjut dan menyatu dengan roh universal.

Orang seperti pemfitnah Yahudi [Hermann?] Ahlwardt, yang baru saja tiba di negeri ini, tidak dapat dipahami oleh sang Swami. "Anda mengatakan," katanya, bahwa ia datang ke sini untuk memberitakan kebencian terhadap sesama manusianya. Bukankah ia berpikiran salah? Apakah ia diizinkan menyebarkan kebencian ini? Para dokter seharusnya memeriksa otaknya untuk menemukan letak kesalahannya.

Nama unik sang Yogi secara harfiah berarti "Kebahagiaan dari kearifan pembeda." Ia adalah yogi India pertama yang pernah datang ke negeri ini. Ia datang dari Bombay.

[New York Herald, 19 Januari 1896]

Berikut ini adalah ringkasan singkat ajaran-ajaran dasar sang Swami:

Setiap orang harus berkembang sesuai dengan kodratnya sendiri. Sebagaimana setiap ilmu memiliki metodenya, demikian pula setiap agama. Metode untuk mencapai tujuan agama kita disebut Yoga (disiplin penyatuan spiritual), dan berbagai bentuk Yoga yang kami ajarkan disesuaikan dengan berbagai kodrat dan perangai manusia. Kami menggolongkannya dengan cara berikut, dalam empat pokok: (1) Karma-Yoga (jalan tindakan) — Cara seseorang menyadari ketuhanan dalam dirinya melalui karya dan kewajiban. (2) Bhakti-Yoga (jalan pengabdian) — Penyadaran ketuhanan melalui pengabdian dan kasih kepada Tuhan personal. (3) Raja-Yoga (jalan rajawi konsentrasi) — Penyadaran ketuhanan melalui penguasaan pikiran. (4) Jnana-Yoga (jalan pengetahuan) — Penyadaran ketuhanan dalam diri manusia melalui pengetahuan.

Semua ini adalah jalan-jalan berbeda yang menuju pusat yang sama — Tuhan. Sesungguhnya, beragamnya keyakinan religius merupakan suatu keuntungan, sebab semua iman itu baik, sejauh ia mendorong manusia menuju kehidupan religius. Semakin banyak mazhab yang ada, semakin banyak pula peluang untuk menyampaikan seruan yang berhasil kepada naluri ketuhanan dalam diri semua manusia.

Ceramah Vivekananda tentang Akidah-Akidah Dunia [Hartford Daily Times, 1 Februari 1896]

Sebuah ruangan yang cukup penuh menyambut biarawan Hindu, Vivekananda, tadi malam. . . . Ia diperkenalkan oleh Tuan C. B. Patterson, dengan beberapa kata sambutan yang sesuai. . . . Pokok bahasannya tadi malam adalah "Agama Ideal, atau Agama Universal."

Di seluruh alam semesta ada dua daya yang terus-menerus bekerja, yaitu sentrifugal dan sentripetal, positif dan negatif, aksi dan reaksi, tarik-menarik dan tolak-menolak. Kita menemukan kasih dan kebencian, kebaikan dan kejahatan. Bidang apakah yang lebih kuat daripada bidang spiritual, bidang agama? Dunia tidak menyediakan kebencian yang lebih kuat daripada yang ditimbulkan oleh agama, dan tiada pula kasih yang lebih kuat. Tidak ada ajaran yang membawa lebih banyak kemalangan ke dalam dunia, dan tidak pula lebih banyak kebahagiaan. Ajaran-ajaran indah Buddha telah dibawa melintasi Himalaya, pada ketinggian 20.000 kaki, oleh para muridnya. Lima ratus tahun kemudian datanglah ajaran-ajaran Kristus Anda yang indah, dan ajaran-ajaran ini telah dibawa di atas sayap angin. Di sisi lain, lihatlah bumi Anda yang indah dibanjiri darah demi kepentingan propaganda dan agama. Begitu seseorang masuk ke dalam pergaulan dengan mereka yang tidak percaya seperti dirinya, kodratnya sendiri pun berubah. Pendapatnya sendirilah yang ia perjuangkan, bukan agama. Ia menjelma menjadi perwujudan kekejaman dan fanatisme. Agamanya sendiri benar, tetapi ketika ia mulai berjuang demi pendapatnya yang egois, ia sepenuhnya keliru. Orang-orang berang terhadap pembantaian bangsa Armenia dan pembantaian oleh bangsa Turki, tetapi hati nurani mereka tidak berkata sepatah pun ketika pembantaian dilakukan demi kepentingan agama mereka sendiri. Dalam diri manusia kita menemukan campuran yang ganjil antara Tuhan, manusia, dan iblis, dan agama mengaduk-aduk yang terakhir itu lebih daripada hal lain mana pun. Ketika kita semua berpikir sama, sisi ketuhanan dari kodrat kita muncul; tetapi biarlah ada benturan pendapat, dan seketika, berubahlah! sang iblislah yang mengambil alih panggung. Hal ini telah demikian sejak masa purba, dan akan selalu demikian. Di India kita tahu apa arti fanatisme, sebab negeri itu selama seribu tahun terakhir telah menjadi lahan istimewa bagi para misionaris. Namun, di atas benturan pendapat dan perjuangan demi agama-agama, datanglah suara perdamaian. Selama 3.000 tahun telah diupayakan untuk menyelaraskan agama-agama yang berbeda. Tetapi kita tahu betapa upaya ini telah gagal. Dan ia akan selalu gagal, dan ia memang seharusnya gagal. Kita memiliki jejaring kata-kata tentang kasih, perdamaian, dan persaudaraan universal, yang pada mulanya dimaksudkan dengan baik, tetapi kita mengulang-ulangnya seperti burung beo, dan bagi kita kata-kata itu tidak berarti apa-apa. Adakah suatu filsafat universal bagi dunia? Belum ada. Setiap agama memiliki akidah dan dogmanya sendiri serta mendesak untuk menyebarkannya. Anda tidak dapat membuat satu agama untuk seluruh dunia. Hal itu tidak boleh terjadi. Bangsa Armenia berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja jika Anda semua menjadi orang Armenia. Dan Paus dari Roma berkata: "Oh ya, itu hal yang sangat mudah. Jika Anda semua menjadi Katolik Roma, semuanya akan baik-baik saja." Begitu pula dengan gereja Yunani, gereja Protestan, dan semua yang lainnya. Tidak akan pernah ada hanya satu agama saja, sebab itu berarti kematian bagi semua agama lain. Jika setiap orang berpikir sama, tidak akan ada lagi pikiran untuk dipikirkan. Jika setiap orang tampak sama, betapa monotonnya! Tampak sama dan berpikir sama — apa lagi yang dapat kita lakukan selain duduk dan mati dalam keputusasaan? Kita tidak dapat hidup seperti sebaris tupai tanah; variasi adalah bagian dari kehidupan manusia. Satu Tuhan, satu agama adalah nyanyian lama yang membosankan, tetapi ada bahaya di dalamnya. Tetapi, syukur kepada Tuhan, hal itu tidak akan pernah terjadi. Mulailah dengan kantong uang Anda yang tebal, serta senapan dan meriam Anda, untuk mendorong propaganda Anda. Dan andaikan Anda berhasil untuk sementara waktu? Dalam sepuluh tahun, apa yang Anda sebut kesatuan itu akan terpecah menjadi serpihan-serpihan. Itulah sebabnya ada begitu banyak mazhab. Ambillah agama terbesar, yaitu agama Buddha. Mereka berusaha menolong dunia agar menjadi lebih baik. Berikutnya datanglah umat Kristen, dengan banyak hal untuk diajarkan. Mereka memiliki tiga Tuhan dalam satu, dan satu dalam tiga, dan salah satu dari yang tiga itu menanggung dosa-dosa dunia lalu dibunuh. Barang siapa tidak percaya kepadanya, akan masuk ke tempat yang sangat panas. Dan Muhammad, barang siapa tidak percaya kepadanya, kulitnya akan dibakar habis, lalu disediakan kulit yang baru untuk dibakar kembali, supaya ia tahu bahwa Allah Mahakuasa. Semua agama pada mulanya berasal dari Timur. Para guru besar atau penjelmaan ini datang dalam wujud-wujud yang berbeda. Orang Hindu memiliki sepuluh penjelmaan; yang pertama berwujud ikan, dan seterusnya, hingga yang kelima, dan sejak itu semuanya berwujud manusia. Umat Buddha berkata: "Kami tidak ingin memiliki begitu banyak penjelmaan; kami hanya menginginkan satu." Umat Kristen berkata: "Kami hanya akan memiliki satu, dan inilah Kristus." Dan mereka mengatakan bahwa ia satu-satunya. Tetapi umat Buddha berkata bahwa merekalah yang lebih awal dalam waktu; guru besar mereka datang lima ratus tahun lebih dahulu. Dan umat Muslim berkata bahwa guru mereka datang paling akhir, dan oleh karena itu yang terbaik. Setiap orang mencintai miliknya sendiri, persis seperti seorang ibu mencintai anaknya sendiri. Umat Buddha tidak pernah melihat cela apa pun pada Buddha; umat Kristen tidak pernah melihat cela apa pun pada Kristus, dan umat Muslim tidak pernah melihat cela apa pun pada Muhammad. Umat Kristen mengatakan bahwa Tuhan mereka mengambil wujud seekor merpati dan turun, dan itu mereka katakan bukan mitologi, melainkan sejarah. Orang Hindu mengatakan bahwa tuhannya menyatakan diri dalam wujud seekor sapi, dan itu ia katakan bukan takhayul, melainkan sejarah. Orang Yahudi berpikir bahwa Yang Mahakudus mereka dapat ditampung dalam sebuah kotak atau peti, dengan seorang malaikat berjaga di kedua sisinya. Tetapi Tuhan umat Kristen dalam wujud seorang pria atau wanita yang elok adalah berhala yang mengerikan. "Hancurkan!" kata mereka. Nabi seseorang berbuat hal-hal menakjubkan ini dan itu, sedangkan yang lain menyebutnya hanya takhayul. Lantas, di manakah kesatuan Anda? Lalu ada pula ritual-ritual Anda. Umat Katolik Roma mengenakan jubahnya, sebagaimana saya mengenakan jubah saya. Ia memiliki lonceng, lilin, dan air suci, serta mengatakan bahwa hal-hal ini baik dan perlu, tetapi apa yang Anda lakukan, katanya, hanyalah takhayul. Kita tidak akan pernah dapat menjungkirbalikkan semua ini dan hanya memiliki satu agama, sebab kehidupan pikiran itu sendiri adalah pembedaan pikiran. Kita harus belajar mengasihi mereka yang berpikir persis berlawanan dengan kita. Kita memiliki kemanusiaan sebagai latar belakang, tetapi setiap orang harus memiliki individualitas dan pikirannya sendiri. Dorong terus mazhab-mazhab itu maju dan maju hingga setiap pria dan wanita menjadi mazhab bagi dirinya sendiri. Kita harus belajar mengasihi orang yang berbeda pendapat dengan kita. Kita harus belajar bahwa pembedaan adalah kehidupan pikiran. Kita memiliki satu tujuan bersama, yaitu kesempurnaan jiwa manusia, tuhan di dalam diri kita. Agama adalah daya besar untuk membantu menyingkapkan tuhan di dalam diri manusia. Tetapi kita harus menyingkapkannya dengan cara kita sendiri. Kita tidak semua dapat mencerna jenis makanan yang sama. Biarlah aspirasi Anda menjadi yang tertinggi, dan inspirasi Anda akan selaras dengan akal serta segala hukum yang dikenal, dan Tuhan akan selalu menyertai Anda.

[Tribune, 5 Maret 1896]

Ia Menginginkan Banyak Ragam Agama

Vivekananda, misionaris Hindu itu, berceramah di Hotel Richelieu tadi malam. Ruang-ruang tamu hotel swasta itu dipenuhi hingga meluap oleh kerumunan para wanita. Ketika Vivekananda tiba di hotel, dengan susah payah ia menyibakkan jalan masuk. Ia naik ke lantai atas dan tak lama kemudian turun kembali dengan mengenakan jubah ungu, diikat di pinggang dengan tali ungu.

Dalam ceramahnya, Vivekananda mengatakan bahwa ada berbagai agama dan setiap pemeluk menganggap agamanya satu-satunya agama yang benar. Adalah suatu kekeliruan, katanya, untuk menganggap bahwa semua orang seharusnya memeluk agama yang sama. "Jika semua orang berpendapat religius sama," katanya,

tidak akan ada agama. Begitu sebuah agama lahir, ia pun pecah berkeping-keping. Prosesnya adalah agama terus membelah hingga setiap orang memiliki agamanya sendiri, hingga setiap orang telah memikirkan sendiri pikiran-pikirannya dan mengukir bagi dirinya sendiri agamanya sendiri.

Vivekananda akan tinggal di Detroit sekitar dua minggu dan akan mengadakan kelas-kelas setiap pagi pukul 11 dan setiap petang pukul 8 di hotel. . . .

[News Tribune, 16 Maret 1896]

Vivekananda Berceramah di Temple Beth El

Berbicara tentang Cita-Cita Agama Universal Ia Mungkin Akan Berangkat Hari Selasa

Temple Beth El sesak hingga ke pintu tadi malam ketika Swami Vivekananda menyampaikan pidatonya tentang "Cita-Cita agama universal." Waktu yang diumumkan untuk acara itu adalah pukul 8, tetapi jemaat mulai berkumpul di temple sejak sore hari, sehingga pintu-pintu harus dibuka pada

pukul 18.25. Pintu-pintu ditutup pada pukul 7, dan ratusan orang yang tiba setelah waktu itu terpaksa dipulangkan.

Kita semua mendengar tentang persaudaraan universal, dan bagaimana berbagai perkumpulan tampil untuk berkhotbah tentang hal ini. Tetapi sampai pada apakah semua itu? Begitu Anda membentuk sebuah mazhab, Anda memprotes kesetaraan, dan dengan demikian persaudaraan itu pun lenyap, kata Swami.

Kesatuan dalam keragaman adalah rencana alam semesta. Sebagaimana kita semua adalah manusia, namun kita semua terpisah. Maka kita menemukan bahwa jika yang dimaksud dengan gagasan agama universal adalah satu rangkaian doktrin yang harus dipercayai oleh seluruh umat manusia, hal itu mustahil, hal itu tidak akan pernah terjadi, tidak lebih daripada akan datang suatu masa ketika semua wajah menjadi sama. Kita tidak boleh mengupayakan agar kita semua berpikir sama, seperti mumi-mumi Mesir di sebuah museum, saling memandang tanpa pikiran untuk dipikirkan. Justru perbedaan pikiran inilah, pembedaan ini, hilangnya keseimbangan pikiran inilah, yang merupakan jiwa kemajuan kita, jiwa pikiran itu sendiri.

Swami kemungkinan akan berangkat hari Selasa [17 Maret]. Pada akhir pidatonya tadi malam, ia mengucapkan terima kasih kepada warga Detroit atas sambutan hangat yang diberikan kepadanya dan filsafatnya.

[Boston Evening Transcript, 21 Maret 1896]

Swami Vivekananda Membandingkan Ajaran-Ajaran Kearifan Hindu dan Agama-Agama Barat

Swami Vivekananda, yang akan dikenang sebagai delegasi Hindu pada Parlemen Agama-Agama Sedunia, sedang berada di kota ini sebagai penceramah kelas bulan Maret di Procopeia, 45 St. Botolph Street. Sang Swami telah melakukan pekerjaan yang paling berharga dan berhasil dalam ceramah kelas yang sistematis di New York, dengan hadirin yang terus bertambah, selama dua musim dingin terakhir, dan datang ke Boston pada saat yang paling tepat.

Sang Swami memberikan gambaran berikut tentang pekerjaannya. Dalam menjelaskan istilah sannyasin (pertapa pelepas dunia), ia berkata, [Lihat "The Sannyasin", Complete Works, V: 260].

Dalam memberikan sedikit gambaran tentang pekerjaannya dan metodenya, sang Swami mengatakan bahwa ia meninggalkan dunia karena sejak masa kanak-kanak ia memiliki minat yang mendalam terhadap agama dan filsafat, dan buku-buku India mengajarkan pelepasan keduniawian sebagai cita-cita tertinggi yang dapat dicapai manusia. Ajaran sang Swami, sebagaimana ia mengungkapkannya,

adalah tafsiran saya sendiri atas kitab-kitab kuno kita dalam cahaya yang dipancarkan oleh guru saya (seorang bijak Hindu terkemuka) atasnya. Saya tidak mengklaim otoritas adikodrati apa pun. Apa pun dalam ajaran saya yang dapat menarik kecerdasan tertinggi dan diterima oleh orang-orang yang berpikir, penerimaan terhadap hal itulah ganjaran saya. Semua agama memiliki tujuan untuk mengajarkan pengabdian, atau pengetahuan, atau kegiatan, dalam wujud yang konkret. Nah, filsafat Vedanta adalah ilmu abstrak yang merangkul semua metode ini, dan inilah yang saya ajarkan, sambil membiarkan setiap orang menerapkannya pada wujud konkretnya sendiri. Saya mengembalikan setiap individu kepada pengalamannya sendiri, dan apabila ada rujukan kepada buku-buku, buku-buku itu dapat diperoleh, dan dapat dipelajari oleh masing-masing orang bagi dirinya sendiri.

Sang Swami tidak mengajarkan otoritas apa pun dari makhluk-makhluk tersembunyi, melalui benda-benda yang tampak, sebagaimana ia juga tidak mengklaim pengetahuan dari buku-buku atau naskah-naskah yang tersembunyi. Ia percaya bahwa tidak ada kebaikan yang dapat berasal dari perkumpulan rahasia.

Kebenaran berdiri di atas otoritasnya sendiri, dan kebenaran sanggup menanggung terang siang hari.

Ia hanya mengajarkan Diri, yang tersembunyi di dalam hati setiap individu, dan yang sama-sama dimiliki oleh semua. Segenggam orang yang kuat, yang mengenal Diri itu, dan hidup dalam cahayanya, akan merombak dunia secara mendasar, bahkan pada hari ini juga, sebagaimana telah terjadi dengan orang-orang kuat yang seorang diri pada masa-masa sebelumnya, masing-masing pada zamannya.

Sikapnya terhadap agama-agama Barat secara ringkas adalah sebagai berikut. Ia mengemukakan suatu filsafat yang dapat berfungsi sebagai landasan bagi setiap sistem religius yang mungkin ada di dunia, dan sikapnya terhadap semuanya adalah sikap simpati yang amat besar. Ajarannya tidak memusuhi siapa pun. Ia mengarahkan perhatiannya kepada individu, untuk menjadikannya kuat, untuk mengajarkan kepadanya bahwa ia sendiri bersifat ilahi, dan ia menyeru manusia agar menyadari ketuhanan di dalam dirinya. Harapannya adalah memenuhi para individu dengan ajaran-ajaran yang telah ia rujuk, serta mendorong mereka untuk mengungkapkannya kepada orang lain dengan cara mereka sendiri; biarlah mereka memodifikasinya sesuka mereka; ia tidak mengajarkannya sebagai dogma; kebenaran, pada akhirnya, pasti akan menang. . . .

[Boston Daily Globe, 24 Maret 1896]

Pesan yang Dibawa oleh Swami Vivekananda —

di Negerinya Para Dewa Adalah "Sosok-Sosok Cemerlang" yang Menolong

Swami Vivekananda menikmati tingkat popularitas yang sama besarnya pada kunjungannya kali ini ke Boston seperti ketika kalangan masyarakat — yang modis, intelektual, dan gemar mode terbaru — tergila-gila kepadanya pada kunjungannya yang dahulu. . . . . . . Sebuah surat kabar New York memuat wawancara dengan sang Swami, di mana ia dikabarkan menyatakan pendapat bahwa di Boston "para wanita semuanya gemar mode terbaru, semuanya plin-plan, hanya cenderung mengikuti sesuatu yang baru dan aneh." Tetapi Swami Vivekananda mengatakan bahwa ini adalah penyajian yang dilebih-lebihkan dan diputarbalikkan dari sebuah kritik yang ia lontarkan terhadap semua wanita Amerika, yaitu bahwa mereka terlalu dangkal dan terlalu mudah mengikuti hal-hal yang sensasional serta berpindah dari satu hal ke hal lain. Hal ini, katanya, dipaksakan kepadanya oleh pengamatannya. Para wanita Amerika cerdas, tetapi mereka tidak teguh, tidak serius, dan tidak tulus.

Ceramah pertama sang Swami disampaikan di hadapan hadirin berjumlah 400 orang di Allen Gymnasium, pada Sabtu malam, dengan judul "Ilmu tentang Kerja," dan ceramah kedua dari rangkaian itu, tentang "Pengabdian," disampaikan di tempat yang sama, dengan aula yang penuh dan sejumlah orang dipulangkan karena tidak dapat masuk.

Ceramah itu amat menarik dan cara pembicaranya sangat memikat. Di negerinya, kata sang Swami, para dewa adalah "sosok-sosok cemerlang" yang memberikan pertolongan kepada manusia dan menerima pertolongan dari manusia. Para dewa hanyalah manusia yang sedikit diluhurkan setelah kematian, tetapi Tuhan, Yang Mahatinggi, tidak pernah dimohoni doa atau dimintai pertolongan. Kepada-Nya hanya diberikan kasih dan ibadat tanpa meminta balasan apa pun. Ada dua aspek dari Tuhan ini: yang satu, Tuhan abstrak di balik substansi alam semesta, dan yang lain, Tuhan personal yang dilihat melalui intelek manusia dan diberi atribut-atribut olehnya.

Kasih yang diberikan kepada Tuhan tidak pernah mengambil, melainkan selalu memberi, dan ia tidak bergantung pada apa pun. Sang pemuja tidak berdoa memohon kesehatan, uang, atau hal lain apa pun, melainkan puas dengan bagian yang telah ditakdirkan baginya.

Orang-orang yang bertanya tentang agama semata-mata karena dorongan rasa ingin tahu menjadi pemuja mode terbaru; mereka selalu mencari sesuatu yang baru dan otak mereka merosot hingga menjadi seperti kain rombeng tua. Bagi mereka, hal itu menjadi semacam pemborosan religius.

Bukanlah tempat yang menciptakan surga atau neraka, melainkan pikiran. Kasih tidak mengenal rasa takut; tidak mungkin ada kasih di tempat rasa takut berada. Dalam kasih jenis apa pun, objek-objek lahiriah hanyalah disugestikan oleh sesuatu yang ada di dalam batin — ia adalah cita-cita seseorang sendiri yang diproyeksikan, dan Tuhan adalah cita-cita tertinggi yang dapat dibayangkan.

Kebencian terhadap dunia tidak mengusir orang-orang baik dari dunia, melainkan dunialah yang menyelinap menjauh dari orang-orang besar dan suci. Dunia, keluarga, dan kehidupan sosial, semuanya adalah lahan latihan, hanya itu.

Ketika seseorang menyadari bahwa Tuhan adalah kasih, tidak menjadi soal apa pun atribut-atribut-Nya yang lain, itulah satu-satunya yang esensial.

Semakin seseorang membuang dirinya sendiri, semakin banyak Tuhan masuk; oleh karena itu, penyangkalan diri, yang merupakan rahasia segala agama dan moralitas.

Terlalu banyak orang menurunkan cita-cita mereka. Mereka menginginkan agama yang nyaman, tetapi tidak ada agama semacam itu. Semuanya adalah penyerahan diri dan upaya keras menuju ke atas.

[Boston Evening Transcript, 27 Maret 1896]

Swami Vivekananda mengatakan kepada hadirin besar yang memadati Allen Gymnasium untuk mendengarnya berbicara tentang "Cita-Cita Agama Universal" tadi malam, bahwa Parlemen Agama-Agama baru-baru ini di Chicago membuktikan, sampai saat itu, bahwa agama universal adalah hal yang mustahil. "Alam," katanya, lebih bijaksana daripada yang kita kira. Persaingan gagasanlah, benturan pikiranlah, yang menjaga pikiran tetap hidup. Mazhab-mazhab selalu bertentangan satu sama lain, dan akan selalu memecah diri menjadi ragam-ragam kecil dari dirinya sendiri. Dan cara untuk keluar dari pertikaian agama-agama ini adalah dengan membiarkan mazhab-mazhab itu terus membelah diri.

Tidak ada kesatuan dalam ketiga unsur agama — filsafat [teologi?], mitologi, dan upacara. Setiap teolog menginginkan kesatuan, tetapi gagasannya tentang kesatuan adalah penyesuaian semua akidah lain dengan akidahnya sendiri. Saya sepakat dengan para nabi terdahulu sepanjang mereka sepakat dengan saya. Tetapi ada satu unsur agama yang menjulang di atas segalanya; yaitu, filsafat. Sang filsuf mencari kebenaran, yang selalu satu dan sama. Dan kebenaran itu dapat diterima oleh keempat sisi dari setiap kodrat religius — yang emosional, mistis, aktif, dan filosofis. Dan ia yang berani mencari kebenaran demi kebenaran itu sendiri adalah yang terbesar di antara manusia.

[Boston Evening Transcript, 30 Maret 1896]

Swami Hindu Berceramah di Hadapan Beberapa Perkumpulan.

Swami Vivekananda, selama beberapa hari terakhir, telah melaksanakan pekerjaan yang sangat berhasil sehubungan dengan Procopeia. Selama waktu ini ia telah memberikan empat ceramah kelas untuk klub itu sendiri, dengan hadirin yang tetap berjumlah antara empat dan lima ratus orang, di Allen Gymnasium, 44, St. Botolph Street, dua ceramah di rumah Ny. Ole Bull di Cambridge, dan satu ceramah di hadapan para guru besar dan mahasiswa pascasarjana departemen filsafat Universitas Harvard.

Gagasan yang membawa sang Swami ke Amerika tiga tahun lalu sebagai delegasi Hindu pada Parlemen Agama-Agama, dan yang telah menjadi motif penuntun bagi semua pekerjaannya kemudian, baik di Amerika maupun di Inggris, adalah gagasan yang sangat menarik bagi orang-orang yang menjadi penggagas parlemen itu, tetapi metode-metode yang ia usulkan benar-benar khas miliknya sendiri. Salah satu ceramahnya selama pekan itu berjudul "Cita-Cita Agama Universal," tetapi "agama yang harmonis" barangkali akan sama tepatnya menggambarkan keadaannya, bahkan mungkin akan lebih memadai mengungkapkan apa yang sedang ia perjuangkan. Sang Swami bukanlah pengkhotbah teori. Jika ada satu ciri dari filsafat Vedanta, yang ia kemukakan, yang tampak sangat menyegarkan, ciri itu adalah kesanggupannya yang kuat untuk dibuktikan secara praktis. Kita nyaris terpaut pada gagasan bahwa agama adalah suatu teori luhur yang hanya dapat dipraktikkan dan dijadikan nyata bagi kita di kehidupan lain, tetapi sang Swami menunjukkan kepada kita kekonyolan pandangan ini. Dalam mengkhotbahkan Keilahian Manusia, ia menanamkan dalam diri kita suatu semangat kekuatan yang tidak mengakui adanya batas-batas antara kehidupan ini dan perwujudan nyata dari yang luhur — batas-batas yang, bagi orang biasa, tampak tak teratasi.

Dalam membahas garis-garis besar yang menurutnya hanya dengan itulah agama universal dapat ditegakkan, ia tidak mengklaim adanya otoritas adikodrati bagi rencananya. Sebagaimana ia katakan:

Saya pun memiliki rencana kecil saya sendiri. Saya tidak tahu apakah rencana itu akan berhasil atau tidak, dan saya ingin menyampaikannya kepada Anda untuk didiskusikan. Pertama-tama, saya ingin meminta umat manusia untuk mengakui pepatah ini: "Jangan menghancurkan." Para pembaru yang gemar meruntuhkan berhala tidak berbuat kebaikan apa pun bagi dunia. Bantulah, jika Anda mampu; jika tidak mampu, lipatlah tangan Anda, berdirilah di samping, dan biarkanlah segala sesuatu berjalan. Oleh karena itu, janganlah mengucapkan sepatah kata pun yang menentang keyakinan siapa pun, sejauh keyakinan itu tulus. Kedua, terimalah manusia pada posisinya berada, dan dari sanalah angkatlah dia naik.

Kesatuan dalam keragaman adalah rencana alam semesta. Sebagaimana kita semua adalah manusia, namun kita semua terpisah. Sebagai kemanusiaan, saya adalah satu dengan Anda; sebagai Tuan Anu, saya berbeda dari Anda. Sebagai seorang pria, Anda terpisah dari wanita, tetapi sebagai manusia Anda semua adalah satu; sebagai makhluk hidup Anda adalah satu dengan hewan dan segala yang hidup, tetapi sebagai manusia Anda terpisah. Keberadaan itu adalah Tuhan, kesatuan tertinggi dalam alam semesta ini. Di dalam Dia kita semua adalah satu. Maka kita menemukan bahwa jika dengan gagasan tentang agama universal yang dimaksudkan adalah bahwa satu rangkaian doktrin harus diyakini oleh seluruh umat manusia, hal itu mustahil, hal itu tidak akan pernah terjadi, sama mustahilnya dengan semua wajah menjadi sama. Sekali lagi, jika kita berharap bahwa akan ada satu mitologi universal, hal itu pun mustahil; hal itu tidak mungkin terjadi. Tidak pula akan ada ritual universal. Ketika saat itu tiba, dunia akan hancur, karena keragaman adalah asas pertama kehidupan. Apa yang membuat kita menjadi makhluk yang berbentuk? Diferensiasi. Keseimbangan yang sempurna berarti kehancuran.

Lalu, apa yang saya maksudkan dengan cita-cita tentang agama universal? Yang saya maksudkan bukanlah filsafat universal, atau mitologi universal, atau ritual universal, melainkan saya maksudkan bahwa dunia ini harus terus berjalan, roda di dalam roda. Apa yang dapat kita lakukan? Kita dapat membuatnya berjalan dengan mulus, kita dapat mengurangi gesekan, kita dapat meminyaki roda-rodanya, boleh dikatakan demikian. Dengan apa? Dengan mengakui keragaman.

Bdk. Complete Works, II: 381–82.

Sebagaimana kita telah mengakui kesatuan, oleh kodrat kita sendiri, maka kita pun harus mengakui keragaman. Kita harus belajar bahwa kebenaran dapat diungkapkan dalam seribu cara, dan masing-masingnya tetaplah benar. Kita harus belajar bahwa hal yang sama dapat dipandang dari seratus sudut pandang yang berbeda, dan tetaplah merupakan hal yang sama.

Dalam masyarakat kita melihat begitu banyak ragam kodrat umat manusia. Suatu generalisasi yang praktis akan mustahil dilakukan, tetapi untuk maksud saya, saya cukup menggolongkannya ke dalam empat jenis. Pertama, manusia yang aktif; lalu manusia yang emosional; lalu manusia yang mistis; dan terakhir, sang filsuf.

Agar bersifat universal, agama harus menyediakan kemungkinan untuk merealisasikan kebenaran melalui sarana yang sesuai bagi siapa pun di antara pikiran-pikiran ini, dan agama yang mengatakan bahwa hanya melalui satu jalan saja semua manusia harus berjuang, entah pikiran-pikiran ini mampu menempuh perjuangan itu atau tidak, pasti akan berakhir pada agnostisisme.

Dalam ceramahnya tentang Karma Yoga, Swami membahas ilmu tentang kerja. Ceramah itu sebagian besar menganalisis motif-motif yang dimiliki manusia dalam bekerja, dan khususnya motif surga sebagai imbalan atas pekerjaan baik di bumi. Inilah, kata Swami, agama yang seperti berdagang. Kerja baru mencapai puncaknya yang tertinggi ketika ia dilakukan sama sekali tanpa harapan akan imbalan, kerja demi kerja itu sendiri, dan tanpa memedulikan akibat-akibatnya.

Dalam membahas Bhakti Yoga, yakni pengabdian, Swami menjelaskan dasar pemikiran tentang Tuhan yang Berpribadi. Gagasan tentang pengabdian dan pemujaan kepada suatu wujud yang harus dikasihi, dan yang dapat memantulkan kembali kasih itu kepada manusia, ini bersifat universal. Tahap terendah dari perwujudan kasih dan pengabdian ini adalah ritualisme, ketika manusia menginginkan hal-hal yang konkret, dan gagasan-gagasan abstrak hampir mustahil baginya. Sepanjang sejarah dunia kita menemukan manusia berusaha menggenggam yang abstrak melalui bentuk-bentuk pikiran, atau lambang-lambang, dan perwujudan-perwujudan lahiriah dari agama. Lonceng, musik, ritual, kitab, dan arca termasuk dalam golongan itu. Manusia hanya dapat berpikir dengan bentuk dan kata. Begitu pikiran muncul, bentuk dan nama berkelebat ke dalam benak bersamanya, sehingga ketika kita memikirkan Tuhan, baik sebagai Tuhan yang Berpribadi dengan rupa manusia, atau sebagai Asas Ilahi, atau dalam aspek lain mana pun, kita selalu memikirkan cita-cita tertinggi kita sendiri dengan suatu bentuk, yang umumnya berwujud manusia, karena rupa manusia adalah yang tertinggi yang dapat dibayangkan manusia. Akan tetapi, sembari mengakui hal ini sebagai keniscayaan akibat kelemahan manusiawi, dan sembari memanfaatkan ritual, lambang, kitab, dan gereja secara sepadan, kita harus selalu ingat bahwa sangatlah baik untuk dilahirkan di dalam sebuah gereja, tetapi sangatlah buruk untuk mati di dalam sebuah gereja. Jika seseorang mati di dalam batas bentuk-bentuk ini, hal itu menunjukkan bahwa ia belum bertumbuh, bahwa belum ada penyingkapan akan yang nyata, yakni Keilahian, di dalam dirinya.

Kasih sejati dapat diibaratkan sebagai sebuah segitiga. Sudut pertama adalah, kasih tidak mengenal tawar-menawar. Maka ketika seseorang berdoa kepada Tuhan, "berikan kepadaku ini, dan berikan kepadaku itu," itu bukanlah kasih. Bagaimana mungkin itu kasih? "Aku memberi-Mu doaku yang kecil, dan Engkau memberiku sesuatu sebagai gantinya"; itu hanyalah berdagang belaka. Sudut kedua adalah, kasih tidak mengenal rasa takut. Selama Tuhan dipandang sebagai pemberi imbalan atau penjatuh hukuman, tidak akan ada kasih bagi-Nya. Sudut ketiga, yakni puncaknya, adalah, kasih selalu merupakan cita-cita tertinggi. Ketika kita telah mencapai titik di mana kita dapat memuja cita-cita itu sebagai cita-cita semata, segala perbantahan dan keraguan telah lenyap untuk selamanya. Cita-cita itu tidak akan pernah dapat lolos, karena ia adalah bagian dari kodrat kita sendiri.

Dalam ceramahnya di Universitas Harvard, Swami menelusuri sejarah filsafat Vedanta, sejauh yang diketahui, dan menunjukkan sampai sejauh mana Veda (kitab suci Hindu) diterima sebagai sumber yang berwibawa; semata-mata sebagai landasan bagi filsafat itu sejauh kitab-kitab itu menggugah nalar. Ia membandingkan tiga mazhab, yakni para Dualis, yang mengakui adanya suatu wujud tertinggi, dan suatu wujud yang lebih rendah yang menampak dalam diri manusia, tetapi selamanya terpisah dari manusia. Selanjutnya ia menggambarkan filsafat para non-dualis berkualifikasi, yang gagasan khasnya adalah bahwa ada Tuhan dan ada alam, tetapi bahwa jiwa dan alam itu hanyalah pemekaran, atau tubuh dari Tuhan, sebagaimana tubuh manusia bagi jiwa manusia. Untuk mendukung teori ini, mereka menyatakan bahwa akibat tidak pernah berbeda dari sebab, melainkan ia adalah sebab yang dihasilkan kembali dalam bentuk lain, dan karena Tuhan adalah sebab dari alam semesta ini, maka Ia juga adalah akibatnya. Para Monis . . . menyatakan bahwa jika ada Tuhan, maka Tuhan itu pastilah sekaligus sebab material maupun sebab efisien dari alam semesta. Ia bukan hanya Sang Pencipta; melainkan Ia juga adalah yang diciptakan. Ia sendirilah alam semesta ini, secara kasatmata; tetapi, pada hakikatnya, alam semesta ini tidak ada — ia hanyalah hipnosis belaka. Diferensiasi hanya terletak pada nama dan bentuk. Hanya ada satu jiwa di alam semesta, bukan dua, karena yang tak bersifat materi tidak dapat dibatasi, pastilah tak terhingga; dan tidak mungkin ada dua ketakterhinggaan, karena yang satu akan membatasi yang lain. Jiwa itu murni, dan kemunculan kejahatan hanyalah seperti sebuah kepingan kristal, yang pada dirinya sendiri murni, tetapi tampak beraneka warna ketika bunga-bunga diletakkan di hadapannya.

Dalam membahas Raja Yoga, yakni jalan psikologis menuju persatuan dengan Tuhan, Swami mengupas kekuatan yang dapat dicapai pikiran melalui konsentrasi, baik berkenaan dengan dunia jasmani maupun dunia rohani. Inilah satu-satunya metode yang kita miliki dalam segala pengetahuan. Dari yang terendah hingga yang tertinggi, dari cacing terkecil hingga orang bijak yang tertinggi, mereka semua harus menggunakan satu metode ini. Sang astronom menggunakannya untuk menyingkap misteri-misteri langit, sang kimiawan dalam laboratoriumnya, sang guru besar di kursinya. Inilah satu-satunya panggilan, satu-satunya ketukan, yang membuka gerbang-gerbang alam dan melepaskan banjir cahaya. Inilah satu-satunya kunci, satu-satunya kekuatan — konsentrasi. Dalam keadaan tubuh kita saat ini, kita begitu terpecah perhatiannya, pikiran menghambur-hamburkan tenaganya pada beratus-ratus macam hal. Melalui pengendalian ilmiah atas gaya-gaya yang menggerakkan tubuh, hal ini dapat dilakukan, dan dampak akhirnya adalah realisasi. Agama tidak dapat hanya terdiri atas omongan. Agama baru menjadi agama ketika ia menjadi nyata dan terasa, dan sampai kita berupaya merasakan apa yang begitu banyak kita bicarakan, kita tidaklah lebih baik daripada kaum agnostik, sebab kaum agnostik itu tulus sedangkan kita tidak.

Twentieth Century Club menjadikan Swami sebagai tamu mereka pada hari Sabtu [28 Maret], dan mendengarkan pidatonya tentang "Sisi Praktis Filsafat Vedanta." Ia meninggalkan Boston hari ini, dan dalam beberapa hari ke depan, akan berlayar menuju Inggris, dalam perjalanan menuju India.

Ceramah-ceramah tentang Agama dan Filsafat Hindu

[Los Angeles Times, 9 Desember 1899]

. . . . . . . . . Sang penafsir filsafat Hindu yang terkenal itu, mengenakan jubah kuning kasta Brahmana, berbicara sebagian sebagai berikut:

Saya berdiri di hadapan Anda, para hadirin, bukan untuk membawa agama baru. Saya hanya ingin menyampaikan kepada Anda beberapa hal yang mengikat semua agama menjadi satu. Saya akan menyinggung beberapa hal dalam pemikiran peradaban timur yang mungkin akan tampak ganjil bagi Anda, dan hal-hal lain yang saya harap akan menarik bagi Anda. Semua agama di dunia memiliki tulang punggung berupa kesatuan. Inilah asas filsafat dan toleransi.

Sangat sedikit orang di negeri ini yang memahami apa itu India. India adalah sebuah negeri yang luasnya setengah dari Amerika Serikat dan berpenduduk 300.000.000 jiwa, yang berbicara dalam sejumlah bahasa yang berbeda-beda, tetapi semuanya terikat menjadi satu oleh gagasan-gagasan tentang agama yang sama. Melalui gagasan-gagasan inilah orang Hindu menanamkan pengaruh mereka sepanjang zaman, bekerja dengan lembut, diam-diam, dan sabar, sementara peradaban barat menaklukkan dengan kekuatan senjata. Masa depan akan menunjukkan mana yang lebih kuat — kekuatan fisik atau kekuatan gagasan. Seni dan ilmu pengetahuan orang Hindu telah menyebar ke seluruh penjuru bumi — angka-angka mereka, pemikiran matematis mereka, etika mereka. Bukankah di India, di sana dan hanya di sanalah, doktrin tentang kasih pertama kali diajarkan, dan bukan hanya doktrin tentang kasih kepada sesama manusia, melainkan kasih kepada setiap makhluk hidup, ya, bahkan kepada cacing terhina yang merayap di bawah kaki kita. Ketika Anda mulai mempelajari seni dan pranata-pranata India, Anda menjadi terpesona, tertarik. Anda tidak dapat melepaskan diri darinya.

Di India, sebagaimana di tempat lain, kita menemukan keadaan paling awal berupa pembagian ke dalam suku-suku kecil. Suku-suku yang berbeda ini masing-masing memiliki dewanya sendiri, upacaranya sendiri. Tetapi ketika saling bersentuhan satu sama lain, suku-suku itu tidak menempuh jalan yang ditempuh peradaban barat — mereka tidak saling menganiaya karena perbedaan-perbedaan ini, melainkan berupaya menemukan benih-benih gagasan bersama dalam semua agama. Dan dari upaya inilah lahir kebiasaan toleransi yang merupakan nada dasar agama India. Kebenaran itu satu, dan hanya bisa satu, meskipun ia dapat diungkapkan dalam bahasa yang berbeda-beda.

Perbedaan besar lainnya antara agama timur dan agama barat terletak pada penerimaan terhadap pandangan filosofis dan ilmiah tentang alam semesta. Di Barat, agnostisisme telah berkembang dalam tahun-tahun belakangan ini, dan dengan hilangnya harapan akan keabadian individu, yang senantiasa diinginkan dan dicari oleh orang Barat, suatu nada keputusasaan telah merayap masuk ke dalam pemikiran barat. Berabad-abad yang lalu, orang Hindu menyadari bahwa alam semesta adalah alam semesta yang berhukum, dan bahwa, di bawah hukum, segala sesuatu berubah. Oleh karena itu, individualitas yang tak termusnahkan adalah suatu kemustahilan. Tetapi pemikiran ini bukanlah pemikiran yang membawa keputusasaan bagi orang Hindu. Sebaliknya — dan inilah yang paling sukar dipahami orang Barat dari pemikiran timur — ia mendambakan kebebasan, pembebasan dari belenggu indra, dari belenggu derita dan belenggu nikmat.

Peradaban barat telah mencari Tuhan yang berpribadi dan putus asa ketika kehilangan keyakinan akan-Nya. Orang Hindu pun telah mencari. Tetapi Tuhan tidak dapat dikenali oleh indra lahiriah. Yang Tak Terhingga, Yang Mutlak, tidak dapat digenggam. Namun, meskipun Ia mengelak dari kita, kita tidak boleh menyimpulkan ketiadaan-Nya. Ia ada. Apakah yang tidak dapat dilihat oleh mata lahiriah? Mata itu sendiri. Mata dapat memandang segala hal lain, tetapi dirinya sendiri tidak dapat dicerminkannya. Inilah, kalau begitu, penyelesaiannya. Jika Tuhan tidak dapat ditemukan oleh indra-indra lahiriah, palingkanlah pandangan Anda ke dalam dan temukanlah, di dalam diri Anda sendiri, jiwa dari segala jiwa. Manusia itu sendiri adalah Segala-galanya. Saya tidak dapat mengenal realitas yang mendasar itu, karena saya adalah realitas mendasar itu. Tidak ada dualitas. Inilah penyelesaian bagi segala persoalan metafisika dan etika. Peradaban barat telah dengan sia-sia berupaya menemukan alasan bagi altruisme. Inilah alasannya. Saya adalah saudara saya, dan deritanya adalah derita saya. Saya tidak dapat melukainya tanpa melukai diri saya sendiri, atau berbuat jahat kepada makhluk-makhluk lain tanpa mendatangkan kejahatan itu atas jiwa saya sendiri. Ketika saya telah merealisasikan bahwa saya sendiri adalah Yang Mutlak, maka bagi saya tidak ada lagi kematian ataupun kehidupan, derita ataupun nikmat, kasta ataupun jenis kelamin. Bagaimana mungkin yang mutlak dapat mati atau dilahirkan? Lembaran-lembaran alam dibalik di hadapan kita laksana lembaran-lembaran sebuah buku, dan kita mengira bahwa kita sendirilah yang berbalik, sementara pada hakikatnya kita tetaplah sama untuk selama-lamanya.

KONSEPSI TENTANG ALAM SEMESTA DI INDIA YANG JAUH

[Los Angeles Times, 13 Desember 1899]

Swami Vivekananda, sang filsuf Hindu, berbicara dalam pertemuan bulanan rutin Southern California Academy of Sciences di Unity Church tadi malam. Hadirin berjumlah besar dan apresiatif, dan pada akhir ceramah sejumlah pertanyaan diajukan oleh para hadirin dan dijawab oleh sang penceramah. . . .

Sang pembicara mengawali dengan menyinggung kisah-kisah mitologis orang Hindu yang di dalamnya mereka berusaha menjelaskan asal mula alam semesta, dan ia juga menuturkan tentang upaya-upaya orang-orang kuno untuk menjelaskan misteri-misteri yang mengelilingi mereka.

Menurut keyakinan mereka, katanya, gagasan pertama manusia adalah tentang dirinya sendiri. Kehendaknya menggerakkan seluruh anggota tubuhnya. Gagasan seorang anak tentang kekuatan terletak pada kehendaknya. Segala gerak alam semesta memiliki suatu kehendak di belakangnya. Orang Hindu percaya, kata sang pembicara, bahwa hanya ada satu Tuhan, dan Ia adalah sosok pribadi seperti mereka semua, tetapi tak terhingga lebih agung. Pikiran mereka cukup filosofis untuk tidak mengakui keberadaan dua tuhan, satu yang buruk dan satu yang baik. Bagi mereka alam adalah satu kesatuan, kesatuan dalam seluruh keberadaan adalah alam semesta, dan Tuhan adalah sama dengan alam. "Tidak ada satu sistem filsafat pun," kata sang pembicara,

dari sistem orang Mesir kuno hingga sistem Gereja Katolik Roma, yang tidak menunjukkan jejak-jejak pemikiran yang sama. Segala gaya yang ada di dunia mental maupun dunia fisik telah dipadatkan, di India, ke dalam satu kata "Bapa" ["Prâna"?]. Apa pun yang ada, telah dipancarkan oleh-Nya.

Sebagai penutup, sang filsuf mengatakan bahwa suara India kuno telah menemukan gemanya pada abad ke-19 dalam tulisan-tulisan Herbert Spencer.

[Los Angeles Herald, 13 Desember 1899]

Ceramah Swami Vivekananda di hadapan Academy of Sciences

Unity Church dipenuhi tadi malam oleh hadirin yang berjumlah besar untuk mendengarkan Swami Vivekananda, seorang putra asli India, berceramah tentang kosmos, atau konsepsi Veda tentang alam semesta, di bawah naungan Southern California Academy of Sciences. .

Dalam memperkenalkan pokok bahasannya, sang pembicara mengulas mitologi tentang air bah, yang di antara orang Babilonia, Mesir, Asyur, dan ras-ras lain serupa dengan kisah dalam kitab suci Ibrani, yang menunjukkan bahwa semuanya menganut keyakinan serupa mengenai penciptaan alam semesta.

Dalam pemujaan matahari dan gaya-gaya alam, kita melihat upaya-upaya bangsa-bangsa kuno untuk menjelaskan misteri-misteri yang mengelilingi mereka. Gagasan pertama manusia tentang gaya adalah dirinya sendiri. Ketika sebuah batu jatuh, ia tidak melihat gaya di dalamnya melainkan kehendak di belakangnya, dan ia menyusun gagasan bahwa seluruh alam semesta digerakkan oleh kekuatan kehendak-kehendak. Lambat laun kehendak-kehendak ini menjadi satu, dan ilmu pengetahuan mulai bangkit. Para dewa mulai menghilang, dan di tempat mereka muncullah kemanunggalan, dan kini Tuhan berada dalam bahaya untuk diturunkan dari takhta-Nya oleh ilmu pengetahuan modern. Ilmu pengetahuan hendak menjelaskan segala sesuatu menurut kodratnya sendiri dan menjadikan alam semesta swasembada.

Kehendak-kehendak lambat laun mulai lenyap, dan di tempat mereka muncullah kehendak. Inilah proses perkembangan pada semua bangsa di dunia, dan demikian pula halnya di India. Gagasan-gagasan dan dewa-dewa mereka kurang lebih sama dengan yang ada di negeri-negeri lain, hanya saja di India mereka tidak berhenti di situ. Mereka belajar bahwa hanya kehidupan yang dapat menghasilkan kehidupan, dan bahwa kematian tidak akan pernah dapat menghasilkan kehidupan. Dalam spekulasi kita tentang Tuhan, kita telah sampai pada monoteisme. Di mana pun spekulasi berhenti di situ; kita menjadikannya awal dan akhir dari segala sesuatu, tetapi di India spekulasi tidak berhenti di situ. Suatu kehendak yang raksasa tidak dapat menjelaskan semua gejala yang kita lihat di sekeliling kita. Bahkan dalam diri manusia ada sesuatu di balik kehendak. Dalam hal yang sedemikian lumrah seperti peredaran darah, kita menemukan bahwa kehendak bukanlah daya penggeraknya.

Kita telah membayangkan Tuhan sebagai sosok pribadi seperti kita sendiri, hanya saja tak terhingga lebih agung, dan karena ada kebaikan dan belas kasih serta kebahagiaan di dunia, maka pastilah ada suatu wujud yang memiliki sifat-sifat ini, tetapi ada pula kejahatan. Pikiran orang Hindu terlalu filosofis untuk mengakui keberadaan dua tuhan, satu yang baik dan satu yang buruk. India tetap setia pada gagasan tentang kesatuan. Apa yang jahat bagi saya mungkin baik bagi orang lain; apa yang baik bagi saya mungkin jahat bagi orang lain. Kita semua adalah mata rantai dalam suatu rantai. Dari sinilah muncul spekulasi Upanishad, agama dari 300.000.000 umat manusia. Alam adalah satu kesatuan; kesatuan terdapat dalam seluruh keberadaan, dan Tuhan adalah sama dengan alam. Inilah salah satu spekulasi India yang dikenal seluruh dunia di luar India.

Tidak ada satu sistem agama atau filsafat pun di dunia yang tidak menunjukkan pengaruh spekulasi India, bahkan termasuk gereja Katolik. Kekekalan energi, yang dianggap sebagai penemuan baru, telah dikenal di sana dengan nama bapa [Prâna?]. Apa pun yang ada berasal dari sang bapa. Brahma [Prana?] pastilah memberi energi pada sesuatu, dan sesuatu itu, kata mereka, adalah eter yang tak kasatmata. Brahma [Prana?] yang bergetar pada eter, yang padat, yang cair, yang bercahaya, semuanya adalah eter yang sama. Potensi dari segala sesuatu ada di sana. Pada permulaan periode berikutnya, Brahma [Prana?] akan mulai bergetar semakin lama semakin kuat.

Demikianlah spekulasi kitab suci India ini sangat mirip dengan ilmu pengetahuan modern. Gagasan yang sama diangkat oleh teori evolusi modern. Bahkan tubuh kita, yang hanya berbeda dalam martabat, adalah mata rantai dalam rantai yang sama. Dalam diri satu individu terdapat segala kemungkinan dari setiap individu lainnya. Wujud yang hidup mengandung kemungkinan dari segala kehidupan, tetapi hanya dapat mengungkapkan apa yang dituntut oleh lingkungannya. Spekulasi-spekulasi yang paling menakjubkan dirumuskan dalam ilmu pengetahuan modern. Spekulasi yang menarik bagi saya sebagai seorang pewarta agama adalah kemanunggalan semua agama [kehidupan?]. Ketika suara Herbert Spencer mengatakan bahwa kehidupan yang sama yang menyembur naik dalam tumbuhan adalah kehidupan yang menyembur naik dalam diri individu, agama India telah menemukan suaranya pada abad kesembilan belas.

[Los Angeles Herald, 3 Januari 1900]

Ceramah tadi malam di Blanchard Hall oleh Swami Vivekananda

Swami Vivekananda, anggota suatu ordo biarawan Hindu kuno, yang tengah memberikan serangkaian pelajaran dan ceramah di kota ini, berbicara di hadapan hadirin tadi malam di Blanchard Hall tentang "Sejarah India" ["Bangsa India"]. Sang Swami tampil di hadapan hadirinnya dengan pakaian Amerika, sehingga sebagian besar kehilangan kepribadian khas dan istimewa yang diberikan kepadanya oleh jubah sutra yang estetis dan turban yang dikenakan ordonya.

Sang pembicara mengatakan bahwa India bukanlah sebuah negeri, melainkan sebuah benua yang berisi sekumpulan besar ras yang dipersatukan oleh agama. India berasal dari zaman kuno. India telah dihuni ketika, karena keinginan untuk mencapainya melalui jalur yang lebih singkat, Columbus menemukan Amerika, dan hasil bumi India berupa kapas, gula, nila, dan rempah-rempah telah memperkaya dunia. Negeri yang dihuni oleh 200.000.000 jiwa ini penuh dengan desa-desa kecil yang membentang di sepanjang seluruh lembah dan naik ke gunung-gunung hingga ribuan kaki di atas permukaan laut. Kesuburan tanah yang luar biasa banyak berutang kepada curah hujan yang dahsyat, yang sering kali mencapai 1.800 inci [demikian tertulis] dalam satu musim, dengan rata-rata barangkali 600 inci. Banyak penduduknya, kendati demikian, di tengah melimpahnya hasil bumi, hidup sepenuhnya dari milet, sejenis serealia; tidak ada makanan hewani yang disantap; tidak ada daging, telur, ataupun ikan.

Negeri ini sejak zaman paling kuno telah mempertahankan adat istiadatnya sendiri, bahasa-bahasanya sendiri, dan kasta-kastanya. Melalui agamanya India telah menyelamatkan dirinya sementara ia menyaksikan bagian-bagian [bangsa-bangsa] lain bangkit dan merosot. Peradaban Babilonia bukanlah peradaban baru, tetapi India telah ada jauh sebelum kebangkitan dan keruntuhannya. Bahasa yang paling kuno, yakni Sanskerta, dituturkan oleh para pendeta, dan dahulu pernah dituturkan oleh semua ras yang berbeda-beda. Sang pembicara memberikan contoh-contoh banyak kata Inggris kita yang lazim yang berasal dari akar-akar kata Sanskerta, dan menelusuri gagasan-gagasan keagamaan kuno bahkan mitologi hingga ke ras-ras Arya kuno.

Banyak adat istiadat negeri itu yang digambarkan secara ringkas, dan lebih jauh ditunjukkan bagaimana negeri ini menjadi pusat peradaban, pusat seni, pusat ilmu pengetahuan, dan pusat pemikiran filosofis dunia. Bangsa India telah menyelamatkan dirinya dengan membangun tembok di sekeliling mereka, yakni dengan menjadikan kasta-kasta itu mutlak. Seorang kaisar di India merasa bangga dapat menelusuri keturunannya dari seorang pendeta, yang merupakan kasta tertinggi. Kasta-kasta itu tidak lagi ada sebagaimana dahulu pernah ada, tetapi terbagi-bagi ke dalam banyak golongan dan subgolongan. Ada ratusan jumlahnya. Tidak ada orang dari kasta yang berbeda yang makan bersama, atau memasak bersama. Perkawinan tidaklah sah jika dilakukan di luar kasta seseorang. Kerumitan hukum-hukum kasta sangatlah besar dan bercabang-cabang hingga ke perincian yang paling halus. Pengemis yang paling miskin maupun wakil raja muda India dapat termasuk dalam kasta yang sama.

Alas kaki tidak boleh dikenakan, karena terbuat dari kulit binatang. Kaum perempuan bahkan lebih menaruh perhatian pada perincian-perincian ini daripada kaum laki-laki. Semua adat istiadat ini memiliki filsafatnya. Inilah demokrasi yang sejati, inilah gagasan sosialistis, yakni pengembangan massa, bukan individu.

Sang pembicara menutup dengan membandingkan kedudukan perempuan di India dengan kedudukannya di negeri ini. Di India seluruh gagasan tentang kewanitaan adalah sang ibu. Sang ibu dihormati. Ia adalah pemberi kehidupan, pendiri ras.

[Los Angeles Times, 17 Januari 1900]

Sang Swami

Berbusana jubah merah marun, Swami Vivekananda berbicara di hadapan hadirin kecil yang sebagian besar terdiri atas perempuan, di Shakespeare Club malam ini [16 Januari]. Ia memaparkan tentang legenda-legenda keagamaan Brahmanisme, yang terjelma dalam kehidupan sehari-hari orang Hindu, tentang asal mula Siwa dan penyerahan dirinya kepada roh murni istrinya, yang kini menjadi ibu seluruh India, yang pemujaannya dijalankan sedemikian rupa sehingga tidak ada hewan betina yang boleh dibunuh. Vivekananda mengutip dengan leluasa dari bahasa Sanskerta, sembari menerjemahkan seiring ia berbicara. . . .

[Los Angeles Herald, 26 Januari 1900]

Swami Vivekananda, sang pelihat dari Timur, berceramah di Shakespeare Club pagi ini [Kamis, 25 Januari] tentang "Ilmu Yoga". Ia mengatakan bahwa tidak ada perbedaan jenis di antara apa pun di alam, melainkan bahwa semua perbedaan hanyalah perbedaan derajat semata. Pikiran adalah kekuatan tertinggi, penggerak dunia.

[Unity, Februari (?) 1900]

. . . . . . . . . Kami menyimak delapan ceramah di Home oleh sang Swami dan semuanya sangat menarik, meskipun beberapa orang yang tidak puas mengeluh karena ia tidak memberikan jalan-jalan pintas menuju Kerajaan [Surga] dan tidak menunjukkan cara mudah untuk mencapai kekuatan-kekuatan mental; sebaliknya ia akan berkata,

Pulanglah dan berjanjilah kepada diri Anda sendiri bahwa Anda tidak akan cemas selama satu bulan penuh sekalipun pelayan memecahkan seluruh keramik terbaik Anda.

Pada diri Swami Vivekananda berpadu kepakaran seorang rektor universitas, kewibawaan seorang uskup agung, dengan keanggunan dan pesona seorang anak yang bebas dan wajar. Naik ke atas mimbar tanpa persiapan sesaat pun, ia akan segera berada di tengah-tengah pokok bahasannya, kadang-kadang menjadi nyaris tragis ketika pikirannya mengembara dari metafisika yang dalam menuju keadaan yang berlaku di negara-negara Kristen dewasa ini, yang pergi dan berupaya membaharui orang Filipina dengan pedang di satu tangan dan Alkitab di tangan yang lain, atau di Afrika Selatan membiarkan anak-anak dari bapa yang sama saling mencabik-cabik. Untuk mempertentangkan keadaan ini, ia menggambarkan apa yang terjadi selama bencana kelaparan terakhir di India, di mana orang-orang lebih memilih mati kelaparan di samping ternak mereka daripada mengulurkan tangan untuk membunuh. (Sudikah para pembaca Unity mengenang lima puluh juta orang Hindu yang kelaparan hari ini dan mengirimkan berkat kepada mereka?)

Alih-alih berusaha menyampaikan banyak hal yang kami dengar langsung dari sang Swami, saya akan melampirkan beberapa ucapan gurunya, Ramakrishna, yang akan lebih baik menunjukkan sifat ajarannya. Tujuan utamanya tampaknya adalah untuk mendorong orang-orang menjalani kehidupan yang sederhana, tenang, dan sehat — agar hidup itu sendirilah yang menjadi agama, bukan sesuatu yang terpisah dan terlepas darinya.

Kepada sang ibu sejati ia memberikan tempat yang tertinggi, menilainya lebih patut dijunjung daripada mereka yang sekadar berkeliling mengajar. "Siapa pun dapat berbicara," katanya,

tetapi jika saya harus mengasuh seorang bayi, saya tidak akan sanggup bertahan hidup lebih dari tiga hari.

Ia sering kali berbicara tentang "ibu" sebagaimana kita berbicara tentang "bapa," dan akan berkata "sang ibu akan menjaga kita," atau "sang ibu akan mengurus segala sesuatu."

Kami menyimak sebuah ceramah pada hari Natal dari sang Swami yang berjudul, "Misi Kristus bagi Dunia," dan ceramah yang lebih baik tentang pokok ini belum pernah saya dengar. Tidak ada pendeta Kristen yang dapat menampilkan Yesus sebagai sosok yang layak mendapat penghormatan terbesar dengan lebih fasih atau lebih perkasa daripada yang dilakukan oleh orang Hindu terpelajar ini, yang menuturkan kepada kami bahwa di negeri ini, karena kulitnya yang gelap, ia ditolak masuk ke hotel-hotel, dan bahkan tukang cukur pun kadang-kadang berkeberatan untuk mencukurnya. Apakah mengherankan bahwa saudara-saudara "kafir" kita tidak pernah lupa menyebutkan fakta ini, bahwa bahkan Guru "kita" pun seorang putra Timur?

[San Francisco Chronicle, 24 Februari 1900]

Pokok Bahasan Swami Vivekananda adalah "Gagasan tentang Agama Universal"

Di Golden Gate Hall tadi malam, Swami Vivekananda, seorang biarawan Hindu, menghibur hadirin selama satu setengah jam dengan ceramahnya tentang "Gagasan tentang Agama Universal." . . .

Menelusuri agama sejak permulaan sejarah, ia berbicara tentang keberadaan keyakinan-keyakinan. Sekte-sekte telah dikenal sejak masa yang paling awal, katanya. Seiring berjalannya waktu, mulailah timbul berbagai pertikaian untuk memperebutkan keunggulan di antara berbagai sekte. Sejarah, tegasnya, hanyalah pengulangan pembantaian dengan kedok agama. Takhayul, menurutnya, dengan cepat menjadi sesuatu yang termasuk masa lampau melalui meluasnya pikiran manusia. Mereka kini memiliki keluasan pemikiran yang lebih besar. Mereka adalah pelajar filsafat yang lebih mendalam, dan hanya melalui asas-asas filsafat sejatilah agama dalam bentuknya yang paling dalam dapat ditemukan. Sampai manusia dapat memberikan kepada sesamanya hak untuk berkeyakinan secara bebas tentang segala pokok, dan bersedia memercayai kebenaran dalam bentuk apa pun ia mungkin menampakkan diri, tidak akan ada agama universal yang nyata bagi dunia, tegasnya. Agama universal itu tidak akan pernah disebarkan oleh perkumpulan mana pun, melainkan akan bertumbuh secara naluriah seiring berkembangnya intelek manusia.

Ceramah Swami Vivekananda tentang Agama Orang Hindu

[Oakland Tribune, 26 Februari 1900]

Inilah Satu-satunya Keyakinan, Katanya, yang Dapat Diajarkan Tanpa Dusta dan Tanpa Kompromi

Klaim-klaim agama Brahmana, atau Vedantisme, atas dunia modern dipaparkan malam ini di Congress of Religions di First Unitarian Church oleh Swami Vivekananda, seorang penjabar agama tersebut yang luar biasa fasih. . . .

Kepada para pendengarnya malam ini ia menjelaskan Vedantisme sebagai agama Veda, atau kitab-kitab Hindu kuno, yang, ia tegaskan, adalah "ibu dari agama." "Mungkin tampak menggelikan bagaimana mungkin sebuah kitab dapat tidak berawal dan tidak berakhir," katanya, tetapi dengan Veda yang dimaksudkan bukanlah kitab-kitab. Veda menandakan perbendaharaan terhimpun dari hukum-hukum spiritual yang ditemukan oleh orang-orang yang berbeda pada masa yang berbeda. Orang Hindu percaya bahwa ia adalah roh. Dia tak dapat ditembus pedang, dia tak dapat dibakar api, dia tak dapat dilebur air, dia tak dapat dikeringkan udara. Ia percaya bahwa setiap jiwa adalah sebuah lingkaran yang kelilingnya tidak terletak di mana pun, tetapi yang pusatnya bersemayam dalam suatu tubuh. Kematian berarti perpindahan pusat ini dari tubuh ke tubuh. Kita adalah anak-anak Tuhan. Materi adalah hamba kita.

Vedantisme adalah semacam pemberontakan terhadap olok-olok masa lampau. Sebagian orang begitu praktis sehingga jika mereka tahu bahwa dengan memenggal kepala mereka, mereka dapat memperoleh keselamatan, akan ada banyak yang melakukannya. Itu semua bersifat lahiriah; Anda harus memalingkan pandangan ke dalam untuk mempelajari apa yang ada di dalam jiwa Anda. Jiwa adalah roh yang mahahadir. Ke manakah jiwa pergi setelah kematian? Ke manakah bumi dapat jatuh? Ke manakah jiwa dapat pergi? Di manakah ia belum berada? Batu penjuru besar dari Vedantisme adalah pengakuan akan Sang Diri. Wahai manusia, milikilah keyakinan akan dirimu sendiri. Jiwa adalah sama dalam diri setiap orang. Ia adalah seluruh kemurnian dan kesempurnaan, dan semakin murni serta sempurna diri Anda, semakin banyak kemurnian dan kesempurnaan yang akan Anda lihat.

Seorang laki-laki atau pengkhotbah yang gemar berseru, "Oh Tuhan, aku hanyalah seekor cacing yang merangkak!" sebaiknya berdiam diri dan merangkak masuk ke lubangnya. Seruan-seruannya hanya menambah lebih banyak kesengsaraan di dunia. Saya merasa geli membaca dalam salah satu surat kabar Anda, "Bagaimana Kristus akan menyunting sebuah surat kabar!" Betapa bodohnya. Bagaimana Kristus akan memasak sebuah hidangan? Namun Anda adalah orang-orang Barat yang maju. Jika Kristus datang ke sini, Anda akan menutup toko dan turun ke jalan bersama-Nya untuk menolong orang-orang miskin dan tertindas. Vedantisme adalah satu-satunya agama yang dapat diajarkan tanpa kebohongan, tanpa memelintir teks-teksnya, tanpa kompromi.

[The Alameda Encinal, 5 April 1900]

Filsuf Hindu Menyampaikan Gagasan-gagasannya

Tadi malam Swami Vivekananda menyampaikan ceramah pertama dari serangkaian tiga ceramah umum di Tucker Hall mengenai "Perkembangan Gagasan-gagasan Keagamaan."

Sang pembicara membahas secara singkat kesamaan gagasan dalam benak umat Kristen ortodoks, umat Muhammad, dan umat Hindu sehubungan dengan asal-usul agama mereka. Masing-masing percaya bahwa nabi atau guru mereka yang khusus itu telah diilhami dengan suatu cara yang misterius oleh seorang Tuhan atau para Tuhan, yang seakan-akan mengatur atau memengaruhi urusan dunia ini dari kejauhan. Sebaliknya, pikiran ilmiah modern, alih-alih mencari sebab-sebab dari luar atau yang supernatural bagi suatu fenomena, berupaya menemukan sebab di dalam benda atau keadaan itu sendiri.

Meskipun pada pandangan pertama metode penyelidikan ini mungkin tampak mengambil sebagian unsur vital dari agama, namun pada kenyataannya hal itu mengakibatkan manusia menemukan bahwa sifat-sifat spiritual ketuhanan serta keadaan-keadaan pikiran yang menghasilkan surga dan neraka semuanya ada di dalam dirinya sendiri, dan meskipun hasil dari penyelidikan modern yang rasional ini mungkin tampak bertentangan dengan banyak hal yang telah diwariskan dalam tulisan-tulisan keagamaan kuno seperti Alkitab, Al-Qur'an, dan Veda, namun pertentangan itu lebih bersifat semu daripada nyata, sebab para nabi dan guru zaman dahulu memiliki persepsi yang benar, tetapi keliru hanya dalam hal mengaitkan pengalaman-pengalaman mereka dengan perantara-perantara dari luar, alih-alih menyadari bahwa pengalaman-pengalaman itu adalah perkembangan dan ungkapan dari unsur-unsur dalam jiwa mereka sendiri yang sebelumnya tidak dikenal dan tidak dikenali.

Sang penceramah menelusuri sebagian kepercayaan umum mengenai letak surga dan neraka, mengenai berbagai upacara dan adat penguburan, dan ia berbicara tentang kesan-kesan yang tertanam pada pikiran primitif yang menghasilkan personifikasi terhadap kekuatan-kekuatan alam yang aktif dalam fenomena yang mengelilingi kita. . . . sang idealis membawa aspirasi yang berani itu turun ke bumi, sang realis menyebabkannya mengambil wujud melalui kerja. Cinta tidak dapat didefinisikan dalam istilah-istilah positif, melainkan hanya secara negatif. Sifatnya berupa pelepasan keduniawian. Dalam makna yang lebih umum, ia dapat dibagi menjadi tiga: (1) Cinta yang ditujukan bagi kesenangan diri sendiri, tanpa memedulikan kesenangan atau penderitaan orang lain — yang sepenuhnya mementingkan diri sendiri, yang terendah. (2) Cinta yang saling menukar — "Aku akan mencintaimu jika engkau mencintaiku. Kita akan saling membahagiakan satu sama lain" — yang sebagian mementingkan diri sendiri, jalan tengah yang ditempuh oleh sebagian besar umat manusia. (3) Cinta yang memberikan segalanya dan tidak meminta apa pun, tanpa perhitungan sebelumnya serta tidak pernah menyesal, yang tidak terkalahkan oleh kejahatan apa pun yang dilakukan terhadapnya oleh orang yang menjadi sumbernya. Inilah cinta yang tertinggi, yang ilahi. Hanya jenis yang terakhir inilah yang kita bahas di sini. Yang pertama adalah jalan kaum pemuja kesenangan indriawi dan hewani, yang kedua adalah jalan umat manusia yang berjuang dalam perjalanannya menuju hal-hal yang lebih baik, yang ketiga adalah jalan cinta yang sejati, yang ditempuh oleh mereka yang melepaskan dunia dan menempuh jalan yang menuntun kepada Kedamaian Abadi. Dalam cinta itu tidak ada rasa takut. Cinta membunuh rasa takut. Seekor singa mungkin berdiri di atas seorang bayi dan mengancam nyawanya; sang ibu tidak mengenal rasa takut, ia tidak melarikan diri, melainkan melawan. Pada saat itu cinta menghancurkan ketakutan; pada waktu lain perempuan yang sama akan lari dari seekor anjing kecil. Seorang prajurit Muhammad [sic] yang garang pergi ke sebuah taman untuk berdoa. Di taman yang sama seorang gadis telah berjanji untuk menemui kekasihnya. Sang prajurit berbaring bersujud dengan wajah menghadap tanah sesuai dengan tata cara yang ditetapkan oleh agamanya. Pada saat itu sang gadis melihat kekasihnya, dan dengan sukacita bergegas menemuinya, ia menginjak tubuh yang sedang bersujud itu. Sang prajurit melompat bangun dan meletakkan tangannya pada pedangnya hendak membunuh sang gadis. "Berani-beraninya engkau?" serunya, "perempuan hina, mengganggu ibadahku, pengabdianku kepada Tuhan, dengan kakimu yang keji." "Ibadah! Pengabdian!" seru sang gadis, "engkau tidak tahu apa itu. Engkau tidak memiliki pengabdian, terbaring di sana, tidak ada semangat ibadah. Jika aku, seorang gadis yang penakut, dapat begitu melupakan kehadiran sesuatu yang menakutkan seperti engkau, dalam ibadah dan pengabdianku kepada kekasih duniawiku sampai aku menginjakmu dan bahkan tidak menyadarinya, betapa jauh lebih lagi seharusnya engkau, seandainya hatimu telah larut dalam cinta dan pengabdian kepada Tuhan, tidak mengetahui bahwa aku menyentuhmu?" Sang prajurit pun direndahkan hatinya dan reda amarahnya lalu pergi. Cita-cita tertinggi kita tentang cinta adalah gambaran

## Referensi

English

To preserve the historical authenticity of these newspapers reports, their original spelling, grammar and punctuation have been retained. For the sake of clarity, Swami Vivekananda's original words have been placed in block quotations and titles supplied by the Publisher have been marked with asterisks. Whenever possible, the original news typescripts have been selected, rather than their belated foreign reprints.-Publisher

[Editorial synthesis of four Chicago newspaper reports from: Herald, Inter Ocean, Tribune, and Record, ca. September 11, 1893]

[Sisters and Brothers of America,]

It fills my heart with joy unspeakable to rise in response to the grand words of welcome given to us by you. I thank you in the name of the most ancient order of monks the world has ever seen, of which Gautama was only a member. I thank you in the name of the Mother of religions, of which Buddhism and Jainism are but branches; and I thank you, finally, in the name of the millions and millions of Hindoo people of all castes and sects. My thanks also to some of the speakers on the platform who have told you that these different men from far - off nations will bear to the different lands the idea of toleration which they may see here. My thanks to them for this idea.

I am proud to belong to a religion which has taught the world both tolerance and universal acceptance. We believe not only in universal tolerance but we accept all religions to be true. I am proud to tell you that I belong to a religion in whose sacred language, the Sanskrit, the word exclusion is untranslatable. (Applause) I am proud to belong to a nation which has sheltered the persecuted and the refugees of all religions and all nations of the earth. I am proud to tell you that we have gathered in our bosom the purest remnant of the Israelites, a remnant of which came to southern India and took refuge with us in the very years in which their holy temple was shattered to pieces by Roman tyranny. I am proud to belong to the religion which has sheltered and is still fostering the remnant of the grand Zoroastrian nation. I will quote to you, brothers, a few lines from a hymn which every Hindoo child repeats every day. I feel that the very spirit of this hymn, which I remember to have repeated from my earliest boyhood, which is every day repeated by millions and millions of men in India, has at last come to be realized. "As the different streams, having their sources in different places, all mingle their water in the sea; O Lord, so the different paths which men take through different tendencies, various though they appear, crooked or straight, all lead to Thee."

The present convention, which is one of the most august assemblies ever held, is in itself an indication, a declaration to the world of the wonderful doctrine preached in the Gita: "Whosoever comes to Me, through whatsoever form I reach him, all are struggling through paths that in the end always lead to me." Sectarianism, bigotry and its horrible descendant fanaticism, have possessed long this beautiful earth. It has filled the earth with violence, drenched it often and often with human gore, destroyed civilization and sent whole nations into despair. But its time has come, and I fervently believe that the bell that tolled this morning in honor of the representatives of the different religions of the earth, in this parliament assembled, is the death - knell to all fanaticism (applause), that it is the death - knell to all persecution with the sword or the pen, and to all uncharitable feelings between brethren wending their way to the same goal, but through different ways.

[Chicago Record, September 11, 1893]

Four leaders of religious thought were sitting in Dr. Barrow's [Barrows's] parlor--the Jain, George Condin [Candlin], the missionary who has passed sixteen years in China, Swami Vivekananda, the learned Brahman Hindoo, and Dr. John H. Barrows, the Chicago Presbyterian. These four talked as if they were brothers of one faith.

The Hindoo is of smooth countenance. His rather fleshy face is bright and intelligent. He wears an orange turban and a robe of the same color. His English is very good. "I have no home," said he.

I travel about from one college to another in India, lecturing to the students. Before starting for America I had been for some time in Madras. Since arriving in this country I have been treated with utmost courtesy and kindness. It is very gratifying to us to be recognized in this Parliament, which may have such an important bearing on the religious history of the world. We expect to learn much and take back some great truths to our 15,000,000 faithful Brahmins.

[A verbatim transcript of the address, delivered at the Parliament of Religions, September 20, 1893] [Chicago Inter Ocean, September 21, 1893]

Suami Vivekananda

At the close of the reading of Mr. Headland's paper on "Religion in Peking" Dr. Momerie announced that the other speakers bulletined for the evening had failed to appear. It was but 9 o'clock, and the main auditorium and galleries were well filled. There was an outburst of applause as they caught sight of the Hindoo monk, Vivekananda, sitting in his orange robe and scarlet turban upon the platform. This popular Hindoo responded to the generous applause by saying that he did not come to speak to - night. He took occasion, however, to criticise many of the statements made in the paper by Mr. Headland. Referring to the poverty which prevails in China, he said that the missionaries would do better to work in appeasing hunger than in endeavoring to persuade the Chinese to renounce their faith of centuries and embrace Christianity at [as] the price of food. And then the Hindu stepped back on the platform and whispered to Bishop Keane, of the Catholic church, a moment. He then resumed his address by saying that Bishop Keane had told him that Americans would not be offended at honest criticism. He said he had heard of all the terrible things and horrible conditions which prevail in China but he had not heard that any asylums had been erected by Christians for remedying all these difficulties.

He said:

Christian brethren of America, you are so fond of sending out missionaries to save the souls of heathens. I ask you what have you done and are doing to save their bodies from starvation? (Applause). In India, there are 300,000,000 men and women living on an average of a little more than 50 cents a month. I have seen them living for years upon wild flowers. Whenever there was a little famine hundreds of thousands died of starvation. Christian missionaries come and offer life but only on condition that the Hindoos become Christians, abandoning the faith of their fathers and forefathers. Is it right? There are hundreds of asylums, but if the Mohammedans or the Hindoos go there they would be kicked out. There are thousands of asylums erected by Hindoos where anybody would be received. There are hundreds of churches that have been erected with the assistance of the Hindoos, but no Hindoo temples for which a Christian has given a penny.

Brethren of America, the crying evil of the East is not religion. We have more than religion enough; what they want is bread, but they are given a stone. (Applause). It is an insult to a suffering man dying of hunger to preach to him metaphysics. Therefore, if you wish to illustrate the meaning of "brotherhood" treat the Hindoo more kindly, even though he be a Hindoo and is faithful to his religion. Send missionaries to them to teach them how better to earn a better piece of bread and not to teach them metaphysical nonsense. (Great applause).

And then the monk said he was in ill health today and wished to be excused. But there were thunders of applause and cries of "Go on" and Mr.

Vivekananda continued.

The paper just read says something about the miserable and ignorant priest. The same may be said of India. I am one of those monks who have been described as beggarly. That is the pride of my life. (Applause). I am proud in that sense to be Christ - like. I eat what I have today and think not of tomorrow. "Behold the lilies of the field; they toil not, neither do they spin." The Hindoo carries that out literally. Many gentlemen present in Chicago sitting on this platform can testify that for the last twelve years I never knew whence my next meal was coming. I am proud to be a beggar for the sake of the Lord. The idea in the east is [that] to preach or teach anything for the sake of money is low and vulgar, but to teach the name of the Lord for pay is such a degradation as would cause the priest to lose caste and be spat upon. There is one suggestion in the paper that is true: If the priests of China and India were organized there is an enormous amount of potential energy which could be used for regeneration of society and humanity. I endeavored to organize it in India, but failed for lack of money. It may be I shall get the help I want in America.

But we know it is very hard for a heathen to get any help from "Christian people". (Great applause). I have heard so much of this land of freedom, of liberty and freedom of thought that I am not discouraged. I thank you, ladies and gentlemen.

And then the popular visitor bowed gracefully and sought to retire with a graceful smile, but the audience cried to him to proceed. Mr. Vivekananda, fairly bubbling with an expression of good nature, then explained the Hindoo theory of [re]incarna - tion. At the close of the address Dr. Momerie [a delegate from England] said that he now understood why the newspapers had well called this parliament an approach to the millennium. . . .

[New York Critic, November 11, 1893]

. . . It was an outgrowth of the Parliament of Religions, which opened our eyes to the fact that the philosophy of the ancient creeds contains much beauty for the moderns. When we had once clearly perceived this, our interest in their exponents quickened, and with characteristic eagerness we set out in pursuit of knowledge. The most available means of obtaining it, after the close of the Parliament, was through the addresses and lectures of Suami Vivekananda, who is still in this city. His original purpose in coming to this country was to interest Americans in the starting of new industries among the Hindoos, but he has abandoned this for the present, because he finds that, as "the Americans are the most charitable people in the world," every man with a purpose comes here for assistance in carrying it out. When asked about the relative condition of the poor here and in India, he replied that our poor would be princes there, and that he had been taken through the worst quarter of the city only to find it, from the standpoint of his knowledge, comfortable and even pleasant.

A Brahmin of the Brahmins, Vivekananda gave up his rank to join the brotherhood of monks, where all pride of caste is voluntarily relinquished. And yet he bears the mark of race upon his person. His culture, his eloquence, and his fascinating personality have given us a new idea of Hindoo civilization. He is an interesting figure, his fine, intelligent, mobile face in its setting of yellows, and his deep, musical voice prepossessing one at once in his favor. So it is not strange that he has been taken up by the literary clubs, has preached and lectured in churches, until the life of Buddha and the doctrines of his faith have grown familiar to us. He speaks without notes, presenting his facts and his conclusions with the greatest art, the most convincing sincerity; and rising at times to a rich, inspiring eloquence. As learned and cultivated, apparently, as the most accomplished Jesuit, he has also something Jesuitical in the character of his mind; but though the little sarcasms thrown into his discourses are as keen as a rapier, they are so delicate as to be lost on many of his hearers. Nevertheless his courtesy is unfailing, for these thrusts are never pointed so directly at our customs as to be rude. At present he contents himself with enlightening us in regard to his religion and the words of its philosophers. He looks forward to the time when we shall pass beyond idolatry--now necessary in his opinion to the ignorant classes,--beyond worship, even, to a knowledge of the presence of God in nature, of the divinity and responsibility of man. "Work out your own salvation," he says with the dying Buddha; "I cannot help you. No man can help you. Help yourself."

Viva Kananda, the Hindoo Orator Delivers an Interesting Lecture [Daily Cardinal, University of Wisconsin at Madison, November 21, 1893]

A crowded house greeted Viva Kananda at the Congregational Church last evening. The speaker was attired in native costume, which consisted of a cream turban, with yellow gown and cardinal sash.

The first part of the lecture was devoted to illustrating the many resemblances of Sanscrit [sic], the language of the Hindoos, to that of English. They have no word in their language which means salvation; to them it is freedom from bondage. They believe that man's real nature is perfect, and that cause and effect controls all except God. Religion was aptly illustrated by the story of the blind men who each felt of a portion of a huge elephant, and each thought the animal like the particular part he felt of it; so with religion each of the various sects have a part of the whole truth, while truth itself is infinite and no man can say "I have seen it all."

The Hindoo belief was shown to be one of the most charitable of beliefs. Persecution is something unknown in India; there is no such word in their language. The lecturer challenged the world to show an instance in Hindoo progress, of a Christian missionary being persecuted. A Greek historian, writing of them said: "No Hindoo man is dishonest, no Hindoo woman unchaste."

Viva Kananda came to this country from India in the interest of the world's congress of religions, and his lecture last evening on the "Religions of India," was an inspiration to all who heard him. He has a pleasant, clear - cut, dusky face, and a decidedly impressive manner and bearing. His voice is low and pleasant, with a secret something which rivets your attention at the start.

By a Hindu Monk

[Daily Iowa Capitol, November 28, 1893]

Swami Vivekananda Tells of Ancient Faith Speaks again Tonight

It was a rare as well as an odd treat which the people of Des Moines enjoyed last evening at the Central Church of Christ. A monk, of the ancient faith of Brahma, made a happy presentation of that faith, not so much of its peculiarities as of its underlying principles. The audience was a good sized one, perhaps 500 or 600 persons being present. The main floor being well filled and there were perhaps a couple of hundred in the gallery.

The speaker opened by saying that all religious systems were an attempt to answer the question What am I? This and the kindred ones, Whence Come I? and Whither Am I Going? are constantly recurring. Without following the speaker throughout the entire lecture, suffice it to say, that underlying the Hindu religion according to the speaker is the belief that "We are all divine". In each is a conscious spirit that survives the body and the mind and is a part of the absolute. The speaker very ably defended religion against the attacks of science. The latter can use only the five senses, and unless a thing can be proven to be by these senses [it] is disposed to doubt its existence. But does science know that there are only five senses? The speaker contended for the existence of a supersensuous sense; through which man obtains revelations of spiritual truths. The Hindu word for revelation is "Veda". Hence the "Vedas" are the revelations. These writings are not confined to those of the Hindus, but include those of all peoples; because said the speaker, all religions are true.

When "revelations" undertake to tell of material things they enter upon a domain which belongs to science and are not to be accepted. There was an ancient superstition that because Moses gave a revelation of the will of God, therefore everything Moses wrote must be true. There is a modern superstition that, because there are mistakes in the writings of Moses, therefore nothing Moses wrote is true. When Moses wrote the tables of the law he was inspired. When he told of the creation what he said was merely the speculations of Moses the Jew.

The speaker was not favorably impressed with the efforts to make Hindu converts--perverts he calls them--to Christianity, nor the converse. All religions being true, such perversions serve no good end. The Hindu religion the speaker claimed is not disposed to antagonize any belief; it absorbs them. As for tolerating different beliefs, the language of the Hindu has no word corresponding with the English word "intolerance". That language had a word for religion and one for sect. The former embraced all beliefs. The conception of the latter the speaker illustrated by telling the story of the frog, who had no idea there was any world outside the well in which he had always lived.

The speaker urged his hearers to cultivate the divine within them and to discard the "nonsense" of sects.

The lecturer is an able, dignified and forcible speaker. His mastery of English is perfect, there being only the faintest indications of a foreign accent. The lecturer was followed with closest attention by the audience. After the lecture, the speaker consented to answer questions to a portion of the audience that remained for that purpose. In the course of the answers he said that the Hindus were altogether opposed to the destruction of the life of any animal. He admitted the worship of the sacred cow. He said further that the Hindus had nothing answering to our church organizations. He was his own priest, bishop and pope. . . .

Vive Kananda, the Famous Hindoo Monk and Scholar, Appears in Des Moines [Iowa State Register, November 28, 1893]

A Young Man of Thirty Years and a Big, Active Brain and True Heart

The people of Des Moines had a glimpse of Oriental life and thought at its best yesterday, from the lips of the famous Hindoo monk, Swami Vive Kananda. A central figure in the great Parliament of Religions at Chicago this summer, where he coped with some of the greatest minds of the country with honor to himself and his people, he gave those who heard him, and especially those who met him at Dr. Breeden's, something new to think about. It was a message from over the sea, from another people of wholly different surroundings, training, customs and traditions, but as the monk says, the basic principles are the same in all religions. It is his doctrine that there is good in all religions and he preaches it with great power. . . .

Yesterday afternoon he met a large number of the brightest women in Des Moines, members of the various literary clubs, at the invitation of Mrs. H. O. Breeden, at her home, 1318 Woodland avenue, and he talked to them for two or three hours about his religion, his view of Christianity, in which he heartily concurs, and of the manners and customs of his people. The thing which Vive Kananda most strongly insists upon is that the Hindoo religion is not to be blamed for all that is bad in India any more than Christianity is to be blamed for all that is bad in America. And he insists that it is absurd to give Christianity credit for all the marvelous undertakings and achievements of the people who cherish it. He joins in the praise of the sublime things in the bible [sic], but says that when Moses undertook to speak of the creation of the world, he was merely Moses, the Jew and nothing more.

This view from the other side, and a sympathetic side at that, is a most helpful and instructive and intensely interesting one. Vive Kananda uses the purest English, for he was well educated in the English university, Calcutta.

He praises the American women most enthusiastically.

I do not know what would have become of me if it had not been for your women, he said to a reporter for The Register last night.

They took me up and took care of me and made all necessary arrangements for me. They are the best women in the world. They have been so kind to me, [the Swami said] with a grateful smile. . . . . . .

[Daily Iowa Capitol, November 29, 1893]

Swami Vivekananda last night talked of reincarnation. It is based, he contended, on the fact that there never has been a new creation; that creation has existed coevally with God from all eternity. Departed souls find bodies to inhabit either better or worse than their former tenement, according as they made them fit for one or the other. The lecturer will speak again on Thanksgiving evening at the same place on the manners and customs of India.

[Iowa State Register, November 30, 1893]

The remarkable discussions started by the famous Hindu monk, Vive Kananda, were the topic of interest in intellectual circles yesterday. Especially so was his comment on the work of American missionaries in India, and his strong defense of his own people and morals and religion. His position is that the people of India do not need any more religion, but training in the practical things of life that will enable them to cope with the English who have occupied India. Vive Kananda was the guest of Mr. F. W. Lehman and Mr. O. H. Perkins yesterday and in their company visited the state house, which he very much admired. He took a special interest in the portraits of the American Indians that he saw there. . . .

[Des Moines Daily News, November 30, 1893]

Vivekananda attended a prayer meeting Wednesday evening and witnessed the baptism of two young women. The service impressed him very much. He said:

I see. The sentiment is ennobling and the ceremony beautiful. It is the more impressive that the minister is honest, earnest and believes what he says.

[Daily Iowa Capitol, November 30, 1893]

The now celebrated Hindu monk, Swami Vivekananda will lecture for the last time in Des Moines tonight. He will speak on "Life in India" ["Manners and Customs of India"] a most interesting theme. The renowned Hindu is a brilliant man about 30 years old. He says American women are lovely, but American men are entirely too practical.

[Iowa State Register, December 1, 1893]

Before he left the city [Des Moines, Iowa], Vive Kananda took occasion to say a warm word of praise for the Bramo - somaj [sic], the work it is doing in India, especially for the women, and of its representative in this country. The visit of Vive Kananda, stirring as it did the intellectual centers of the city to their depths and starting a lively religious discussion, prepared the way for the present visitor [Nagarkar] from the Orient and heightened public interest in whatever he might have to say.

[Minneapolis Journal, December 15, 1893]

Swami Vivekananda Entertains Another Large Audience

A large number of people assembled at the Unitarian church last evening for the purpose of listening to Swami Vivekananda of India. The customs and manners of the people of that country were described, and during his lecture the Brahmin took occasion to show up some of the rough points of America. He is of the humorist order and his quick replies and witty sallies rarely failed to evoke applause. He would not admit that his people were wrong in everything, but there were a great many things peculiar to India which the Americans did not approve of and yet which might be all right. He had never seen husband and wife go before a magistrate to tell their troubles. They grew up with the idea that they were to be married and they loved each other as brothers and sisters.

He described the customs of his country, the temples, the art of the juggler and all of the other peculiarities of oriental countries in a manner that was charming. Following the address a number of questions were asked by persons in the audience.

[Minneapolis Tribune, December 15, 1893]

Swami Vive Kananda, the Brahmin priest, was greeted by a packed house last evening at the First Unitarian Church, when he appeared before his second Minneapolis audience. Vive Kananda is a bright, quick witted talker, ready at all points to attack or defend, and inserts a humor into his speeches that is not lost upon his auditors. He spoke last evening under the auspices of the Kappa Kappa Gammas of the University, and the audience embraced a large number of earnest thinking men and women, pleased to be enlightened upon the "Manners and Customs of India," which was his chosen subject.

Robed in his native garb, with his hands for the most part clasped behind his back, Kananda paces back and forth the narrow platform, talking as he paces, with long pauses between his sentences, as if willing that his words should sink into the deepest soil. His talk is not so weighty that the frivolous mind may not appreciate some of his sayings, but he also speaks a philosophy that carries gravest truth. He tells of the manners and customs of India, of the divided life between the male and female, of the reverence for and holiness of women, and again of their degeneracy; of the calm and peaceful life, that yet is not true life because it is not liberty; he speaks of the Mohammedans, who form one - fifth of the Indian population, and that 65,000,000, equal to the entire population of the United States. He describes the magnificence of the temples, the art of the jugglers, who are the gypsies of the Indian race, and he touches upon the superstitions of the people, of how they fill the water jars and stand them in the doorway before starting on a journey; he speaks of the metaphysical knowledge of the plowman, who yet only knows that he "pays taxes to the government"; he admits the reverence of the Hindu for the river Ganges, and his ever lingering wish that he shall die on its banks; he tells all these things in a quiet, half supercilious voice that presently leads to some remark on the American way of doing things, and then his audience is in a ripple of laughter, and a tremor of clapping expresses amused acknowledgement of his sarcasm. . . .

When some one at the close of his lecture asked him "What class of people are reached and converted by the missionaries?" he quickly replied, "You know as much about that, the American sees the reports, we never do", he has turned the query into a cause for smiling, and while the house regains its composure he paces quietly to and fro. The address was followed with the closest attention and was supplemented by several questions and answers among the audience, from whom he invited interrogation.

[Detroit Tribune, February 18, 1894]

Its Recent Expression by Vive Kananda.

His Mission Worthy the Serious Attention of Americans.

The Two Remarkable Things in the United States Which Gratifies the Distinguished Pagan--What Environment Will Do for Any People--Rap at Missionaries.

There has seldom been such a sensation in cultured circles in Detroit, as that created by the advent of Swami Vive Kananda, the learned Hindu monk, whose exceptional command of our own language has enabled us to receive impressions concerning ourselves from an oriental standpoint and to acquire knowledge of a people of whose peculiar civilization and philosophy we have heard so much.

Both in public and private the Hindu brother has talked freely and frankly. He acknowledges that the masses in India are very poor, very ignorant and are divided into a diversity of sects, with forms of worship varying from downright idolatry to the broadest and most liberal form of divine conception based on the brotherhood of man and the oneness of God. His mission, he says, is not to proselyte us--to try and make us think as he does--but to get means to start a college in India for the education of teachers who are to go among the common people and work a reform of existing evils, of which there are many. He states that India is priest - ridden to a harrowing degree. It is priest - craft that distorts truth and perpetuates ignorance. It is priest - craft that substitutes its own crude and narrow interpretations for truth, which perverts the people and prevents their moral progression. The Swami regards all sects and creeds from a broad basis. He even sees good in idolatry. It is an ideal, he thinks, for the ignorant whose mental capacity is insufficient to grasp abstract ideas, and who require a direct personification in some material form. He frankly states that we of the occident are also retarded in our progression by too much priest - craft, and that we are not free from idolatrous practices, in that some of our sects worship shrines, figures and pictures and even the sanctity with which the rostrum and pulpit of a modern church is regarded is an ideal idolatry.

The Swami notes two most remarkable things in this country, when asked his frank opinion of us: First, the superiority of our women, as regards influence in position and intellect. Second, in our charities and treatment of the poor, he says, we have almost solved the problem as to what shall be done with them. Not only in this, in the direction of hospitals and charitable institutions, but in our tremendous development of labor - saving machinery. He has no admiration for our material progress, as it does not make man better, nor for our boasted civilization, as we only ape and imitate the customs and manners of the English--sometimes to a very ridiculous extent. We are yet too young, to have a distinctive civilization; we have yet to assimilate the human sewerage of Europe we have allowed to be poured upon us, before we produce a distinct American type. [The writer goes on to say that the Swami's Indian background makes it difficult for him to understand that Western competitiveness is not undesirable but a primal law of nature itself--the survival of the fittest--and that inasmuch as "the dreamy and sentimental philosophy of the Hindoos" accounts for their poverty, degradation, and domination by a "mere handful of Englishmen," the Swami would do well neither to ignore nor to despise the materialism of the West. Having thus editorialized, he continues:]

If what he states is true about the results accomplished by foreign missions in India, the various boards of these various organizations would do well to consult him and follow his advice. It is for the betterment of his people he is here. But he says missionary work does no good; only adds additional sects and creeds to an already sect - ridden country; that the teachings of the Vedas, with which every Hindoo is familiar, is identical with the teachings of Christ. He makes the reasonable plea that foreign creeds and dogmas are not consonant with their inherited proclivities or civilization, and are consequently difficult to pro - pagate.

The mission of Kananda is, however, one that should commend it[self] to every lover of humanity. He hopes to see the best of our material philosophy and progress infused into Hindoo civilization, and that, also, we may take lessons from them, until we shall all become, as we once were in ages past, brother Aryans, possessing a common civilization--the exalted philosophy of non - self, being alike without sect or creed in oneness with God.

Fred H. Seymour.

[Detroit Tribune, February 19, 1894]

Rabbi Grossman is Refreshed by Swami Vive Kananda

. . . "I take your Jesus," Kananda said last Saturday evening [February 17].

I take him to my heart as I take all the great and good of all lands and of all times. But you, will you take my Krishna to your heart? No--you cannot, you dare not--still you are the cultured and I am the heathen. . . .

[Detroit Journal, February 23, 1894]

He Tells Something About the Conditions of Hindoo Laborers.

Swami Vive Kananda repaid the admiration of his lady acquaintances by writing verses, at the same time religious and semi - sentimental, yesterday afternoon. He departed this morning for Ada, O. [Ohio].

In a conversation concerning the material condition of the Hindu workingmen, the learned monk said that the poor lived on porridge alone. The laborer ate a breakfast of porridge, went off to his daily toil and returned in the evening to another breakfast of porridge and called it dinner. In most of the provinces the farmers were so poor that they could not afford to eat any of the wheat raised. A day laborer on a farm received only 12 pence a day, but a dollar in India brought 10 times as much as it would in this country. Cotton was raised, but its fiber was so short it had to be woven by hand, and even then it was necessary to import American and Egyptian cotton to mix with it.

[Detroit Evening News, February 25, 1894]

Anecdotes of Swami Vive Kananda's Visit to Detroit.

Anecdotes of Swami Vive Kananda's visit are numerous and amusing--at least they must have been amusing to him, al - though a little humiliating to the American self - love. One lady said: "I really was ashamed at the contrast between the knowledge possessed by him and by some of our Detroit men who consider themselves gentlemen of culture. At one dinner party a gentleman asked Kananda what books he would advise him to read on chemistry, whereupon the Hindu monk responded with a long list of English works on this science, which one would naturally expect an American to know more about than a Hindu. Another gentleman followed by a request as to books on astronomy, to which Kananda obligingly answered with another equally good list of English astronomical works. But his growing astonishment reached its climax when a lady spoke of 'The Christ,' and said, 'What do those words mean?' He again furnished the desired information, but in a tone growing slightly sarcastic."

Probably the choicest example of nineteenth century civilization and culture was given by a lady, who asked Kananda if he liked the English. He very naturally responded that he did not. Then she continued, with fine tact, to pursue the subject still further by touching references to that pleasant event, the Sepoy rebellion. As the Hindu grew excited she smiled at him ironically and said: "I thought I could disturb your philosophical Eastern calm."

[Detroit Tribune, March 11, 1894]

Attacked Christian Missions in Last Night's Lecture.

And his Words were Warmly Applauded by the Audience.

Christian Nations Kill and Murder, He Said, and Import Disease into Foreign Countries, then Add Insult to Injury by Preaching of a Crucified Christ.

Swami Vive Kananda lectured to a very large audience at the Detroit Opera House last night on "Christian Missions in India." One could believe that the lecture was intended as an answer to the many statements of missionaries which have been aimed at Kananda during the past two weeks in this city.

Kananda was introduced by Honorable Thomas W. Palmer last night, who recited a fable by way of preface. "Two knights of honor once met on the field," he said, "and seeing a shield hanging on a tree they halted. One said: 'What a very fine silver shield.' The other replied that it was not silver but copper. Each disputed the other's statement until at last they got off their horses, tied them to the tree, and drawing their swords fought for several hours. After they were both well spent by the loss of blood they staggered against each other and fell on the opposite sides from where they had been fighting. Then one glanced up at the pendant shield and said: 'You were right, my friend. The shield is copper.' The other looked up and said: 'It is I who was mistaken. The shield is silver.' If they had looked at both sides of the shield in the first place it would have saved the loss of much blood. I think that if we looked at both sides of every question there would be less argument and fighting. "We have with us tonight a gentleman who, from the christian standpoint is, I suppose, a pagan. But he belongs to a religion which was old long before ours was thought of by men. I am sure that it will be pleasant to hear from the copper side of the shield. We have looked at it only from the silver side. Ladies and Gentlemen, Swami Vive Kananda."

Kananda, who had remained seated on the stage during Mr. Palmer's remarks, stepped to the front, clad in the orange robe and unique turban of the Brahman [sic] priest, bowed in acknowledgement of the welcoming applause, and launched at once into his subject.

[The Swami said:]

I do not know about the efforts of christian missionaries in China and Japan except through reading the books and literature on the subject, but I can speak about the efforts of christianizing India. But before I go into this I want to place before you an idea of what India is.

Then he explained in detail how the 300,000,000 inhabitants of India are divided into castes, between which there can be no affiliation, how the natives of the south cannot understand the language of the ones of the north, and vice versa. He told how the lower caste lived on the flesh of dead animals, and never bathed their bodies, and how impossible it would be for the higher class to mingle with them, although they were granted the protection of the same laws.

He referred to the first appearance of the christians in an attempt to evangelize the followers of Buddah [Buddha]. They were Spaniards, he said, and they discovered a temple near Ceylon, in which was presented a tooth of Buddah as a sacred relic. "The Spaniard christians thought that their God commanded them to go and fight and kill and murder," he said, and so they seized the tooth of Buddah and destroyed it. By the way, it was not a tooth of Buddah at all, but a relic manufactured by the priests--it was a foot long. (Laughter)

Every religion has its miracles; you needn't laugh because the tooth was a foot long. Well, after the Spaniards took away the tooth they converted a few hundred and killed a few thousands; and there Spain stops in the history of missionary efforts among the Buddhists.

The Portugese [sic] christians, he said, discovered the great temple at Bombay, built in the form of a body with three heads, in representation of the trinity as the Hindoo believes in a trinity. "The Portugese saw it and couldn't explain it," said Kanan - da, with a sarcastic ring in his voice, and so they concluded that it was of the devil, and gathered their forces and knocked off the three heads of the temple. The devil is such a handy man. I am sorry to see him so fast disappearing.

Then Kananda outlined the various stages of christian evangelization in India, and paid very high tribute to two or three missionaries, who, he said, had been great exceptions to the rule, and lived among the people to uplift and minister to their needs.

The Hindoo priest told how as soon as the land came into possession of the English people every village had its white colony, which huddled itself together and withdrew from all association with the natives. Then when the missionaries reached the country, he said, they would naturally go at once among the English people, who sympathized with them and with whom they could converse. The missionaries know nothing of the native language, he says, and so they cannot dwell with the people. Most of them are married and for the sake of getting their wives into the English society they identify themselves with all their interests, and in doing so directly antagonize the interests of the natives, and make it impossible to get in touch with them. "We sometimes have famines in India," he said.

And so the young missionaries will hang about the fag end of a famine and give a starving native 5 shillings, and there you have him, a ready - made christian; take him. That was probably a baptist missionary, and so when a methodist missionary comes along he gives the same native 5 shillings, and his name is again registered as a convert. The only band of converts around each missionary is composed of those dependent upon him for a living. They have to be christians or starve. And they are dwindling as the money supply decreases. I am glad if you want to make christians in India by giving work and bread to the poor. God speed you to do that. There is one benefit that must be credited to the missionary movement. It makes education cheap. The missionaries bring some money with them from the people who send them, and the Indian government appropriates some, so that there are some very good colleges and schools available to the natives through missionaries. But I will be frank with you. There are no conversions from the schools to the christian religion. The Hindoo boy is very clever. He takes the bait, but never gets the hook.

The speaker said that the lady missionary goes into certain houses, gets four shillings a month, reads the Bible, while the native girls give indifferent attention, and teaches them to knit while they pay very keen attention. The girls, like the boys, he said are always alert to learn practical things, but they will give little heed to the christian religion, although they will espouse it if necessary to get the other advantages.

"The most of the men whom you send us as missionaries are incompetent," he said.

I have never known of a single man who has studied Sanscrit [sic] before going to India as a missionary and yet all our books and literature are printed in it.

He suggested as an explanation of the visits of the missionaries that "perhaps the atheism and scepticism at home is push - ing the missionaries out all over the world." When in India he said he had thought the sole business of christianity [was] to send all people to the fires of hell, but since coming to America he has found that there are a great many liberal men. He referred to the parliament of religions, and told how a certain editor of a presbyterian paper had written an article at the close of the parliament entitled "The Lying Hindoo," in which he had scored him very severely.

In the article the editor said that "while in the parliament he was here as our guest, but now that it is over we ought to make an enthusiastic attack against him and his false doctrines."

In referring to the medical missionaries in India Kananda said:

India requires health, but it must be health for people. And how can you help our people if you do not get in touch with them? When you come to us as missionaries you ought to throw over all idea of nationality. Jesus didn't go about among the English officials attending champagne suppers. He didn't care to have his wife get into high European society. If your missionary does not follow Christ what right has he to call himself a christian? We want missionaries of Christ. Let such come to India by the hundreds and thousands. Bring Christ's life to us and let it permeate the very core of society. Let Him be preached in every village and corner of India. But don't have your missionaries choose their profession as a means of livelihood. Let them have the call of Christ. Let them feel within that they were born for that work.

As far as converting India to christianity is concerned, there is no hope. If it were possible it ought not to be done. It would be dangerous; it would mark the destruction of all religions. If the whole universe should come to have the same temperament, physical or mental, destruction would immediately result. Why couldn't you convert the Jew? Why couldn't you make the Persians christians? Why is it that to every African who becomes a christian 100 become followers of Mohammed? Why can't you make an impression on India and China, and Japan? Because oneness of mental temperament all over the world would be death. Nature is too wise to allow such things.

[The Swami said:]

The christian nations have filled the world with bloodshed and tyranny. It is their day now. You kill and murder and bring drunkenness and disease in our country, and then add insult to injury by preaching Christ and Him crucified. What christian voice goes through the land protesting against such horrors? I have never heard any. You drink the idea in your mothers' milk that you are angels and we are devils. It is not enough that there be sunlight; you must have the eyes to see it. It is not only necessary that there be goodness in people; you must have the appreciation of goodness within yourselves in order to distinguish it. This is in every heart until it has been murdered by superstition and hideous blasphemy.

Then Kananda drew a very beautiful simile to illustrate that the essential truths of all religions are [the] same, and all else is but incidental and unimportant environment. He told how the savage man might find a few jewels, and prizing them, tie them with a rude thong and string them about his neck. As he became slightly civilized he would perhaps exchange the thong for a string. Becoming still more enlightened he would fasten his jewels with a silken cord; and when possessed of a high civilization he would make an elaborate gold setting for his treasures. But throughout all the changes in settings the jewels--the essentials--would remain the same.

If the Hindoo wishes to criticize the christian religion he talks of the fables and miracles, and all the nonsense of the Bible, but he does not say one word in disparagement of the sermon on the mount, or of the beautiful life of Jesus. And so when the christian criticizes the Hindoo religion he talks about the dogmas and the temples, but he says nothing [should say nothing] against the morality and philosophy of the Hindoo. Help the Jew and let him help you. Help the Hindoo and let him help you. I deny that any human being has the faculty of seeing good at all who cannot see it in all places. There is the same beauty in the character of Christ and the character of Buddah. It is not an assimilation that we want, but adjustment and harmony. I ask the preachers to give up, first, the idea of nationality; and second, the idea of sects. God's children have no sects.

Much has been said about the ladies of India, and of their faults and condition. There are faults; God help us to make them right. We are thankful for your criticism of our women. But while you are speaking of them I will say that I should be glad to see a dozen spiritual women in America. Nice dress, wealth, brilliant society, operas, novels--. Even intellectuality is not all that there is for a man or woman. There should be also spirituality, but that side is entirely absent from christian countries. They live in India.

Vive Kananda's large audience listened very respectfully to his remarks last night, and once or twice applauded heartily.

[Detroit Tribune, March 20, 1894]

So Soul Follows Soul, According to Kananda.

Vive Kananda lectured to an audience of about 150 [according to the Journal, 500] at the Auditorium last night upon "Buddhism, the Religion of the Light of Asia." Honorable Don M. Dickinson introduced him to the audience. "Who shall say that this system of religion is divine and that doomed?" asked Mr. Dickinson in his introductory remarks. "Who shall draw the mystic line?"

He also said that at one time the followers of Buddha were the unwilling allies of the christian religion. Kananda appeared in a robe of orange yellow with a sash - like cord about the waist, and a turban draped out of some eastern cloth of silken texture, the flowing end of which was brought in front over one shoulder.

Vive Kananda reviewed at length the early religions of India. He told of the great slaughter of animals on the altar of sacrifice; of Buddha's birth and life; of his puzzling questions to himself over the causes of creation and the reasons for existence; of the earnest struggle of Buddha to find the solution of creation and life; of the final result.

Buddha, he said, stood head and shoulders above all other men. He was one, he said, [of] whom his friends or enemies could never say that he drew a breath or ate a crumb of bread but for the good of all. "He never preached transmigration of the soul," said Kananda, except he believed one soul was to its successor like the wave of the ocean that grew and died away, leaving naught to the succeeding wave but its force. He never preached that there was a God, nor did he deny there was a God. "Why should we be good?" his disciples asked of him.

"Because," he said, "you inherited good. Let you in your turn leave some heritage of good to your successors. Let us all help the onward march of accumulated goodness, for goodness' sake."

He was the first prophet. He never abused any one or arrogated anything to himself. He believed in our working out our own salvation in religion. "I can't tell you," he said, on his death bed, "nor any one. Depend not on any one. Work out your own religion [salvation]."

He protested against the inequality of man and man, or of man and beast. All life was equal, he preached. He was the first man to uphold the doctrine of prohibition in liquors. "Be good and do good," he said. "If there is a God you have him by being good. If there is no God, being good is good. He is to be blamed for all he suffers. He is to be praised for all his good."

He was the first who brought the missionaries into existence. He came as a savior to the downtrodden millions of India. They could not understand his philosophy, but they saw the man and his teachings and they followed him.

In conclusion Kananda said that Buddhism was the foundation of the christian religion; that the catholic church came from Buddhism.

[Detroit Evening News, March 21, 1894]

Curiosity, says our Hindoo visitor, is the most conspicuous trait of the American people, but he added that it is the way to knowledge. This has long been the European estimate of the American, or more strictly the Yankee character, and perhaps the Hindoo's comment was an echo of what he had heard the Englishmen in India say of the

[Bay City Times Press, March 21, 1894]

He gave an interesting lecture at the Opera House last evening. It is rarely that Bay City people have the opportunity of listening to a lecture similar to the one given last evening by Swami Vive Kananda. The gentleman is a native of India, hav ing been born at Calcutta about 30 years ago. The lower floor of the Opera house was about half filled when the speaker was introduced by Dr. C. T. Newkirk. During his discourse, he scored the people of this country for their worship of the almighty dollar. It is true that there is caste in India. There, a murderer can never reach the top. Here, if he gets a million dollars he is as good as any one. In India, if a man is a criminal once, he is degraded forever. One of the great factors in the Hindoo religion is its tolerance of other religions and beliefs. Missionaries are much more severe on the religions of India than upon that of other Oriental countries, because the Hindoos allow them to be, thus carrying out one of their cardinal beliefs, that of toleration. Kananda is a highly educated and polished gentleman. It is said that he was asked in Detroit if the Hindoos throw their children into the river. Whereupon, he replied that they do not, neither do they burn witches at the stake. The speaker lectures in Saginaw tonight.

[Saginaw Evening News, March 21, 1894]

Swami Vive Kananda, the Hindu Monk, arrived this afternoon from Bay City and is registered at the Vincent. He dresses like a well to do American and speaks excellent English. He is slightly above the medium height, is stoutly built and his complexion resembles that of an Indian. In answer to a question by a NEWS representative, he said he learned English from private tutors, and by contact with Europeans, who visited Hindustan. He further stated that his talk tonight would be explanatory of the religion of the Hindoo and to show that they are not heathen but believe in a future state.

[The Lynn Daily Evening Item, (date?)]

NORTH SHORE CLUB

The Meeting, Tuesday Afternoon, Addressed by Suami Vive Kananda, a Learned Monk from India--Description of the Manners and Customs of His Country

At the meeting of the North Shore Club, Tuesday afternoon, the audience was a large and brilliant one, representing the highest culture, and including many distinguished guests. Suami Vive Kananda, from India, a learned monk, who speaks English with ease and fluency, gave an intensely interesting description of the manners and customs of his country. Suami Vive Kananda, who wore the yellow robe and turban of his order, began by saying that India is divided into two parts, the northern and the southern. In each the language and customs are so different that the speaker who was from the northern portion on meeting a fellow countryman at the Parliament of Religions from the southern, was obliged to converse with him in English, neither being able to understand the other's native language. Throughout the entire country there are nine languages and 100 dialects spoken.

There is some uniformity of religion, yet each sect is a religion and a law unto itself. Many erroneous descriptions have been written about India, based on imperfect knowledge from which inferences have been drawn that have been most prejudicial. With the Hindoo everything is subservient to religion and he gives up all that is antagonistic to it, his creed being that he is not to enjoy life but to conquer it and gain a supreme mastery over self, which is the highest type of civilization. Caste distinctions which are being obliterated are simply the Aryans and the un Aryans--the Brahmins and the Sudras. The Brahmin, who is the child of a thousand years' culture, must lead a life of rigid discipline; but the Sudra, who is ignorant, is allowed great latitude.

Woman in the position of mother is accorded universal reverence in India. When a son who has become a monk returns to his home, his father, when greeting him, must kneel and touch his forehead to the earth; but the monk must kneel before his mother. Women in India do not throw their children into the rivers to be devoured by crocodiles. Widows are not burned on the funeral pyre of their husband unless it is a voluntary act of self immolation.

There is no divorce allowed for the high class; a woman who leaves her husband, even if she be most degraded, holds still an interest in his property. Suami Vive Kananda recited a beautiful passage from the Legend of the Ramayana, one of the grandest poems of India, which showed what the love of a wife for her husband should be. The love of Sita for Rama. He added, "Much is said in these days of the 'survival of the fittest,'" and western nations use it as an argument against India, reasoning that their own wealth, prosperity and power show them to be greater and their religion higher and purer.

But India has seen mighty nations rise and fall whose aim has been only the power of conquest and the glory of this life. India has been repeatedly despoiled, has worn the yoke of the conqueror and borne the burden of oppression with indomitable patience and has shown tolerance to all, because she has possessed the knowledge that her people hold fast to a religion that stands securely on a high spirituality and not on the shifting sand of present enjoyment.

[New York Daily Tribune, April 25, 1894]

Swami Vivekananda lectured before Mrs. Arthur Smith's conversation circle last evening at the Waldorf on "India and

Hinduism." Miss Sara Humbert, contralto, and Miss Annie Wilson, soprano, sang several selections. The lecturer wore an orange colored coat and the accompanying yellow turban, which is called a beggar's suit. This is worn when a Buddhist has given up "everything for God and humanity." The theory of reincarnation was discussed. The speaker said that many clergymen who were more aggressive than learned asked: "Why one is unconscious of a former life if such a thing had been?" The reply was that "It would be childish to lay a foundation for consciousness, as man is unconscious of his birth in this life, and also of much that has transpired."

The speaker said that "no such thing" as "a Judgment Day" existed in his religion, and that his god neither punished nor rewarded. If wrong was done in any way, the natural punishment was immediate. The soul, he added, passed from one body to another, until it had become a perfect spirit, able to do without the limitations of a body. . . .

[Smith College Monthly, May 1894]

On Sunday, April 15, Swami Vivekananda, the Hindoo monk whose scholarly exposition of Brahmanism caused such favorable comment at the Congress of Religions, spoke at Vespers. --We say much of the brotherhood of man and the fatherhood of God, but few understand the meaning of these words. True brotherhood is possible only when the soul draws so near to the All Father that jealousies and petty claims of superiority must vanish because we are so much above them. We must take care lest we become like the frog of the well in the old Hindoo story, who, having lived for a long time in a small place, at last denied the existence of a larger space.

[New York Daily Tribune, May 3, 1894]

Swami Virekanmda [sic] lectured on "India and Reincarnation" last evening at the home of Miss Mary Phillips, No. 19 West Thirty eighth st. He mentioned among other salient points regarding Hindooism, or Brahminism, that their religion bore no distinctive name; that it was considered that a belief in the truth of all creeds was religion, and that the belief that one certain dogma was the real and only religion was sect. The Karmic law of cause and effect was explained, also the external and internal natures in their close relations to each other. The actions in this world, as governed by a previous life and the change to still another life, were dwelt upon in detail.

Swami Vivekananda Tells About the Religion of High Caste Indians [Lawrence, Massachusetts, Evening Tribune, May 16, 1894]

Liberty hall was comfortably filled last evening, on the oc casion of the lecture by Swami Vivekananda, the noted Brahmin monk, who was a prominent personality at the world's parlia

ment of religions at Chicago last summer, and who is spending some time in this country, studying its manners and customs. The lecture was under the auspices of the woman's club, and was a novel and interesting occasion. The noted Hindu was pleasantly introduced by the president of the club, Miss Wetherbee, who alluded to the great antiquity of India, its wonderful history and the high intellectual qualities of the Hindu race.

The speaker of the evening was attired in native costume, namely, a bright scarlet robe, confined at the waist by a long scarf of the same color, and wore a picturesque white silk turban wound round his head. At the first glance one saw the swarthy complexion, the dark and dreamy eyes and introspective manner of a high caste Brahmin, whose life is devoted to religion and who is also a celibate. That he is a finely educated person, appeared in his wonderful command of English and his power of argument, while an occasional quotation from Milton and Dickens, showed that he was appreciative of the great English classics.

He first spoke of that striking peculiarity of the social condition of the Hindu's caste, affirming that it is not now as strict an institution as in the past, although even now everything goes by heredity. Mixture of castes, though not absolutely forbidden, entails disadvantage on the children. The Brahmin or high caste person devotes the first part of his life to the study of the Vedas or sacred books and the latter part to meditating on the divinity, being supposed to have overcome the human in himself, and to be only a soul.

The speaker did not hesitate to criticise adversely some western customs, especially some connected with the position of woman. He affirmed that we worship women in the wife, while all women to the Hindu represent the mother element. In America when a woman ceases to be young and beautiful, she has a hard time of it, but in India kings must step aside for an aged woman to pass, so great is the respect in which they are held. He affirmed that some of the most beautiful portions of the Vedas, the Hindu bible, were written by women, but that there was no other bible in this world in which they had any part.

Considerable time was given to refuting the statement, which he characterized as untrue, in regard to the cruelty prac - tised to widows in India, the speaker referring in the course of his remarks to the zenana widows, who have been for some time the objective point of Christian missionaries from other countries. Marriage is an institution very safely guarded and, in addition to the law that a Brahmin must not marry a relative, none are allowed to marry who are known to have such a disease as consumption or any incurable physical ill. The strict rules of caste which prevent a person from drinking from the same glass as another, and other kindred regulations, although [not] part of the religion, were excellent in their result on the physical condition of a country, numbering 285 millions, in the prevention of the spread of contagious diseases. The speaker was horrified, as he might well be, at the promiscuous water drinking seen in railroad trains and stations in this country. The children are, first of all, taught kindness to all living beings and so thoroughly is this training that the smallest child instinctively turns aside from stepping on a worm. A strange thought that among these so called heathen there is no need of the society with the long name which often fails in its mission in Christian lands. The guest of a house, that is, a man who comes to the door and says, "I am hungry," is God's own image to the Hindu and is treated with the utmost kindness and consideration, being fed before the master and mistress of the establishment.

The speaker alluded sadly to the poverty of his country, for, while the upper caste live in comfort, there are millions whose only food is dried flowers, and who are so low in the scale of existence that they have hardly an identity, and are pitiful objects in the plane of existence. He hinted quite forcibly that food and education would be better than the sermons which Christians and Mohammedans had been throwing at them for the last hundred years. Many of the simple and primitive customs of this peculiar people were told with naivete and innocence that was refreshing in this age when words are used to conceal thoughts. He said there was no flirting or coquetting between their young men and maids, and that the latter did not strut forth into public places with all their bravery [finery?] on for the purpose of securing a husband, all of which made the inhabitants of this great and glorious republic wonder if something were not slightly rotten in the state of Denmark. It is well to see both sides of the shield in order to be able to decide with an unprejudiced eye, and many of the listeners went away quite puzzled in mind at hearing some of their pet American customs arraigned by a Hindu and a heathen.

The address was a most interesting one and was listened to with deep attention by all present. At the close many [questions] were presented to the thoughtful monk, who wasted very few words in social flourishes or unmeaning talk. He seemed much interested in Dr. Bowker, the only one in the audience who had ever visited the strange land which was centuries old before this republic was born.

Swami Vivekananda the Guest of the Woman's Club

[Lawrence American and Andover Advertiser, May 18, 1894]

He Points Out the Better Phases of Brahmanism.

And Delivers a Pointed Message to Christians.

Swami Vivekananda, the Brahman monk addressed a most interested audience Tuesday night in Library Hall under the auspices of the Lawrence Woman's Club.

Miss Wetherbee introduced the speaker and prepared the way for a cordial reception which American courtesy rarely fails to give a distinguished visitor from another nation.

Miss Wetherbee wisely referred to him as a prominent personality at the World's Parliament of Religions, also to the strong impression made by him at the World's fair. . . .

. . . In his own country, in his own class, he addresses all women as mother. The Brahmin is educated thus to think of women as mother and a man may not marry his mother. In that country the mother instinct is developed in woman; in this he thought the wife instinct was cultivated, and the most beautiful thing in his lecture was his tribute to the mother, and not unnoticed was the reference to the kindness of heart of the little Hindoo child which would instinctively cause him to turn aside from his path rather than crush a worm.

formed a large part of his lecture. Among the high classes, called Aryans, women think of marriage as indecent [?]. A widow is not expected to ever marry again. A man who never marries, is highly praised, and indeed worshipped, but should he marry then in the minutes all would be changed. He who does not marry is looked upon as high minded, as holy and spiritual.

Among the Aryans no money is paid in marriage [?], and as female children are largely in the majority it is one of most difficult things for a father to marry his daughter, and from the time of her birth he racks his brains to find her a husband.

With the two lower classes the rules in regard to marriage are all different. Widows marry again and wives and husbands if desirous become divorced. When a child is born an astrologer comes and casts a horoscope of the child, he delineates the future character of the boy or girl--it is decided whether he is manly or a devilish child; if devilish--he is married to one next in caste, and thus is obtained a minute chance of bettering the condition of the devilish child.

The matter of marriage is not left to the decision of the child as in that case he might marry because [he was] in love with a good nose or good eyes and so in having his own way would spoil the whole thing. The fact was emphasised that only the higher classes think of a

and of worshiping God instead of thinking of marriage. He spoke of the pitiful condition of the lower classes, their poverty and their ignorance. Millions and millions are [un]able to write their name and yet he said:

We are all preaching sermons into them, when their hands are reaching out for bread. Poverty is so extreme in the lower classes that fifty cents a month is the average income of a Hindoo. Millions live on one poor meal a day and millions subsist on wild flowers for food.

He spoke of the idea being prevalent that there were no scholars among the women of India and stated that this was an error as many women of the Brahmins were married but became scholars, and with evident pride he referred to the fact that in no nation could one line be found

that had been written by a woman excepting his own country alone where many beautiful things in their Bible had been written by women.

Swami Vivekananda did not fail to inform the audience in English words which could not be misunderstood, that the effort to raise his people by teaching them the Christian religion was a thankless task. He said:

We have seen the Greek and the Persian come to us--we have seen the Spaniard with guns come to make us Christians, still we are Hindoos and thus we shall remain.

Had Vivekananda used all the power of his flashing eyes and his expressive voice it would have been a most dramatic speech when he said:

I dare here in America to say that we of India shall stand by our religion.

He said our customs were good for us and we were welcome to them. He stood before us as he has before many a cultured American audience--he, the learned exponent of the Brahman religion, the only Hindoo who has ever come to this country to tell us--as forcibly as he dared and as politely as he could and yet be forcible,--to say no more to the poor Hindoo but to be so very kind as to mind our own business.

After the lecture many of the audience gladly availed themselves of the opportunity offered by Mr. and Mrs. Young to meet Vivekananda at their residence where he has been entertained and has proven himself to be a most delightful guest.

[Mrs. Ole Bull submitted to the Boston Evening Transcript the following report of Swami Vivekananda's public lecture at Greenacre, Maine, delivered Friday, August 3, 1894, of which there is no verbatim transcript available. Vide the notes from discourses given at Greenacre, Maine, entitled "The Religion of India", in this volume of the Complete Works (pp. 267 71).] [Boston Evening Transcript, August 11, 1894]

A defense of Mahomet [sic] by a Hindu to a Christian audience; the lesson that all prophets are to be revered and their teachings studied reverently; that the followers of these teachers should not confound for us by their behavior the revelation made from God to man by prophecy--was the theme at Greenacre yesterday.

Clear thought and statement patiently corrected the crude and superficial adverse criticism and comment that had been made concerning the Eastern belief--reincarnation. The statement was masterful, because simple, and was brought home by illustrations familiar and commonplace. This was followed by a nobly eloquent plea for the judicial spirit in judging the history of the time and the faith of Mahomet himself and the service done the human race by the essentials of this faith as a prophet of God. Men and women present, many of whom fear the hea then, were moved as they tell us Wendell Phillips was wont to move the hard hearts to consider the sin of slavery.

Scorn, wit and intellect did noble service in all gentleness and dignity in this appeal that the defects, the horrors, of each and all religions should be put one side that the essentials common to all--the immortality of the soul, one God, the Father and his prophets sacred, each, to some division of the human family, and each having truth to give needful to all--should be recognized and reverenced to salvation.

The speaker, Swami Vivekananda, gave what only a great soul is capable of giving. It was an hour never to be forgotten. This man brought those present into the light of truth, whatever their prejudice and training, as Phillips Brooks united Unitarian and Episcopalianism, and all who love the good and true came to hold him for their bishop. So this Hindu, in his constructive thought, when he will give it, can make the power of the prophets known to us by his own presence.

[Swami Vivekananda's partial translation of the "Nirvâna shatkam" by Shankara, recited at Greenacre, Maine, and reported in an 1894 issue of the Greenacre Voice ]

Under the Swami's famous pine at Greenacre, Vivekananda said: "I am neither body nor changes of the body; nor am I senses nor objects of the senses. I am Existence Absolute. Bliss Absolute. Knowledge Absolute. I am It. I am It. "I am neither death nor fear of death; nor was I ever born, nor had I parents. I am Existence Absolute. Bliss Absolute. Knowledge Absolute. I am It. I am It. "I am not misery nor have I misery. I am not enemy nor have I enemies. I am Existence Absolute. Bliss Absolute. Knowledge Absolute. I am It. I am It. "I am without form, without limit, beyond space, beyond time; I am in everything, I am the basis of the universe-- everywhere am I. I am Existence Absolute. Bliss Absolute. Knowledge Absolute. I am It. I am It."

[Boston Evening Transcript, August 15, 1894]

A short résumé is given below of the last of the talks of Vivekananda under the pines at Eliot, in the temple of the gods, to paraphrase Bryant's line-- "The groves were God's first Temple."

What is the nation? What is law? We have laws only that we may become outlaws (above law).

There is the freedom of the soul; through this we know the freedom of law. I am of the nation of those who seek the liberty of the soul. I am of the nation of those who worship God.

The divine ones of God are all my Masters. I learn of your Christ in learning of Krishna, of Buddha, in learning of Mohamet. I worship God alone. "I am existence absolute, bliss absolute, Knowledge Absolute." I condemn nothing that I find in nation, state or religion, finding God in all. Our growth is not from evil to good, but from good to better, and so on and on. I learn from all that is called evil or good. The nation and all such nonsense may go. It is love, love, love God and my brother.

[Baltimore American, October 13, 1894]

SWAMI VIVEKANANDA ARRIVES IN BALTIMORE HIS VIEWS ON RELIGION

Swami Vivekananda, a Brahmin high priest of India, arrived in Baltimore last night, and is the guest of Rev. Walter Vrooman. . . .

To an American reporter last night Swami Vivekananda said:

I have been very favorably impressed with American institutions during my stay in this country. My time has been divided between four cities--Chicago, New York, Boston and Detroit. I never heard of Chicago when in India, but I had frequently heard of Baltimore. The main criticism I have to pass on America is that you have too little religion here. In India they have too much. I think the world would be better if some of India's surplus of religion could be sent over here, while it would be to India's profit if its people could have some of America's industrial advancement and civilization. I am a believer in all religions. I think there is truth in my religion; I think there is truth in your religion. It is the same truth in all religions applying itself through various channels to the same end. I think the great need of the world is less law, and more godly men and women. . . .

[Baltimore News, October 13, 1894]

A High Caste Hindoo Visiting in Baltimore

HIS GORGEOUS GARB ATTRACTS MUCH ATTENTION IN THE LOBBY AT THE RENNERT--HE WHISTLES AND INDULGES IN EAST INDIAN WIT--HE COMES TO BALTIMORE ON A TOUR OF THE COUNTRY AND WILL SPEAK AT THE LYCEUM TOMORROW NIGHT.

Swami Vivekananda, High Priest of the Hindoos, walked into the lobby of the Hotel Rennert this forenoon attired in a flaming red cloak and a gaudy yellow turban that made him the centre of all eyes. . . .

His Idea of Humor

Swami Vivekananda has the sense of humor about him. He was talking this morning about the Food Show, which he intends to visit. He says he doesn't know much about food except to swallow it, and that is a very representative specimen of the wit of Ormus and of Ind.

Another time he spoke of women's rights and said laughingly that women had more rights the world over than they were credited with having. When he changed his black coat, before going to the Rennert, and put on the cardinal red garment with the yellow turban he came out of his room smiling, and said: "A transformation!"

The High Priest can whistle and has enough music in his soul to start the tunes in class meeting if he were Methodist instead of Hindoo. He whistled a couple of strains in his room this morning for a reporter of The News. It was not "Daisy Bell" nor yet "Sweet Marie," and must have been some sort of a heathen Hindoo jingle. . . .

New Discoveries, Vol. 2, pp. 196 200.

Swami is traveling around the country, as he says, lecturing and studying American institutions, but he seems not to have got much into the pith of American sociology, for he knows nothing of such questions as European immigration, divorce, the race problem, etc., which are worrying the economists of the land.

He is, however, posted on Oriental immigration, and says the United States has no right to bar out the Chinese. He says the law of love must prevail and force must yield. He predicts the downfall of any nation that uses force. He says also that the United States should open her doors to the world. He believes the Southern part of the continent should be filled with Hindoos and Chinese. "There is no such thing as divorce in India," he said;

our law does not allow it. Our women are more limited in their sphere than the women of America. Some of them are as highly educated. They are entering the medical profession to some extent now. I see no reason why American women should not vote.

He evaded a question as to the position of Hindoo women in their homes and their treatment by their husbands. It may be that he does not know much about it. He is not a married man. Priests of his caste do not marry.

He mentioned two things which he said had impressed him in America. One was the absence of poverty in the country at large, and the other was the unusual prevalence of ignorance in the South.

When he went to the elevator at the Rennert he said:

There is an American institution which we do not have to any extent in India. I like it very much.

A lady was just coming off the elevator. She was somewhat startled by the red and yellow costume of the priest, but his

imperturbable countenance gave no sign of consciousness of the attention he attracted.

His address tomorrow night at the Lyceum will be mainly introductory of himself and explanatory of the Hindoo nation. He will speak briefly, but will remain in Baltimore and speak more at length a week from tomorrow night.

[Baltimore Sunday Herald, October 14, 1894]

Visit of a Distinguished Hindoo Priest to This City

HE IS A GUEST OF THE VROOMAN BROTHERS AND IS INTERESTED IN THE ESTABLISHMENT OF AN INTERNATIONAL UNIVERSITY OF RELIGIONS--HIS GORGEOUS GARB. . . . . . . . . . Mr. Vivecananda conversed with a Sunday Herald reporter, speaking English with ease and with an accent similar to that of an educated Italian. He displayed the greatest familiarity with the institutions of this country, religious, political and social.

Mr. Vivecananda came to Baltimore at the invitation of the Vrooman brothers, Hiram, Carl and Walter, and while in this city will be their guest. Rev. Hiram Vrooman was seen at his residence, 1122 North Calvert Street, yesterday, and talked freely in reference to the visit of the distinguished guest. "Mr. Vivecananda," he said, "is one of the most intelligent men I have ever met. He came to this city at our invitation, and while here will confer with us in reference to the founding of the international university, which it is proposed to establish as an outcome of the World's Congress of Religions, which was such an interesting feature of the World's Fair. This university

is one of Mr. Vivecananda's pet ideas, and has the full sympathy of myself and my brothers, and also a number of gentlemen of wealth and position, including several religions. Among its promoters are members of the Roman Catholic and Hebrew religions. The idea of the university is education in general religion. . . . "One of Mr. Vivecananda's ideas in the establishing of the university is that it may serve to educate a superior kind of missionary for work in India. While he is steadfast to his own religious belief, he wishes that the present system of sending ignorant men as missionaries to India may be discontinued and men sent there who can teach the Christian religion from an elevated standpoint. In this wish he is animated only by a desire for the good of general religion. . . . "Mr. Vivecananda told me that his father was a great believer in the Lord Jesus, as he called Him, and that when a boy he had read in the Gospel of St. John the thrilling description of the crucifixion of the Savior and wept over it. He will remain in this city for several weeks. To morrow evening he will deliver a brief address at our meeting at the Lyceum, and on Sunday week will speak at length at our second meeting on the university plan."

Vive Kananda, a Brahmin Monk, Preaches at the People's Church

[Washington Times, Monday, October 29, 1894]

Vive Kananda, the Brahmin monk, spoke to the congregation of the People's Church, No. 423 G Street northwest, at 11:00 a.m. yesterday. . . . Dr. Kent introduced the monk. . . .

Vive Kananda, coming forward, said as a boy at the university he studied comparative religion. In India are many religions. One fifth are Mahomedans. A million are Christians. He studied all. He listened to a great Hindoo preacher, and when he had finished, said: "My brother, have you seen God?"

The preacher looked up in surprise.

"No."

"How, then, do you know these things are true?"

"My father told me."

"Who told your father?"

"His father," and so on through his ancestors to the clouds.

He heard a Christian preacher of great eloquence. This man told the seeker for truth that if he was not immersed in water at once he was in great danger to be roasted alive. Upon further questions this Christian also, through the records of his books, went back to his ancestors, and so back to the clouds.

This did not satisfy the student. He set about praying. He prayed sometimes three days and nights with much weeping and without food. He finally found a man who knew no books, not even to write his own name. This sage was preaching his religion. When asked the old question, he replied: "Yes, I see God now and I will teach you to see Him."

This man bore the stamp of God in his features. It was the same certificate that came to the man of Nazareth when the dove descended upon Him at Jordan. He made his hearer to believe that God lives and religion is not a mockery.

For twelve years Kananda sat at this man's feet. He was the master. He said one day, "Take up this book." Kananda took up the book and read. It was a calendar. He read in it where the rainfall was foretold. It said that within a certain time so many tons of rain would fall in a certain district. "Now," said the teacher, "close the book and press it." He did so. "Squeeze it

very hard." He obeyed. "Did any water come from the book?" "None." So are all books. The true religion is here, at the heart.

The truth is people do not want God. Far from it. Religion is largely fashionable. My lady has a fine parlor, elegant furniture, a piano, beautiful jewelry, well fitting, costly dresses, a hat that is the latest thing out. She cannot get along without a dash of religion to keep up with her set. There is much of this religion, but it is hypocrisy, and hypocrisy is the root of all evil. This sort of religion is not of God. It is only the shadow. People with such religion sometimes grow to be in earnest and talk about religious things as if they had some reality. So talking about religion without having it these people fall to quarreling and fighting. "Mine, mine," is the cry, never "thine, thine." "My religion is best." "No, mine," and so they fight as did the savage tribes about their rival gods, Mambo and Jumbo. Competition in religion, as in business, is the bane of all.

Your own Paul says "all else shall perish, but love abideth." That is the great truth. That false doctrine that my nation shall be aggrandized at the cost of every other nation is not of God.

A youth went to his master and said, "I want to know God." The master paid little attention, but the youth persisted and would not be put off. Finally one day the master said: "Let us go down to the river and have a bath." So they went down and the youth plunged in. The master followed and falling upon him held him under. The youth struggled, but the master would not let him up. Finally, when he seemed to be almost dead he desisted, drew him from the water and revived him. "What did you most want when in the water?" the master asked. "Breath," was the answer. "Then you don't want God."

So it is with men, what do you want? You want breath, without it you cannot live; you want bread, without it you cannot live; you want a house, without it you cannot live. When you want God as you want these things, He manifests himself to you. It is a great thing to want God. A majority of men and women in this world want the enjoyments of sense. They have been told that there is a God afar off and if they will send him a cartload of words he will

help them get these good things of this world. But in every land there are a few persons who want God. They would be one with the essence of good and truth. Religion is not shopkeeping. Love asks no return; love begs not; love gives.

Religion is not an outgrowth of fear; religion is joyous. It is the spontaneous outburst of the songs of birds and the beautiful sight of the morning. It is an expression of the spirit. It is from within an expression of the free and noble spirit.

If misery is religion, what is hell? No man has a right to make himself miserable. To do so is a mistake; it is a sin. Every peal of laughter is a prayer sent to God.

To go back, what I have learned is this: Religion is not in books, not in forms, not in sects, not in nations; religion is in the human heart. It is engraved there. The proof of it is in ourselves.

I make two points. There are sects. Let them go on increasing in number till each is a sect by himself. None can see God exactly as another; each must believe in Him and serve Him as he sees Him. Then I want a harmonizing of the sects. Individuality is not in a fight with universality.

Let each for himself and all together fight evils. If you have a power of eight and I a power of four, and you come and destroy me, you have lost at least four. You have only four left to conquer evil. It is love alone that can conquer hatred. If there is power in hate there is infinitely more power in love.

[Washington Times, November 2, 1894]

Vive Kananda Compares Religions and Talks of Reincarnation

Optimism is the feature of the belief of the Aryas or Hindoos as distinguished from Western religions, according to the

Brahman monk, Vive Kananda, who spoke to a fair sized audience at Metzerott Hall last night. His subject was reincarnation. Much of his lecture was devoted to comparison of Hindoo with Christian doctrine.

To illustrate the tenet of reincarnation he compared the human body to a river. Each drop of water passes on and is replaced by another. The entire body of water, he observed, changes wholly in a few moments, but we call it the same river. In the same way the particles of the body are constantly replaced by others and no two days do we have the same body, yet we preserve our identity.

The spirit remains so, the Hindoos believe, that the person may have a different and more sudden and violent change in death and yet pass on in its existence to some other place in the universe, to some other planet or star, and then take on a body of flesh again or of some other kind.

He said there ought to be no talk of sin. The mistakes of the past ought to be used only for guidance in the future, never to be moaned over. When the lesson is learned from them they should be forgotten. "Strike a light," he said, "sit not in darkness and sorrow. Do always better and be happy." . . .

[Baltimore News, November 3, 1894]

Swami Vivekananda, Hindoo high priest, lectured last night at Harris' Academy of Music Concert Hall. His subject was "India and Its Religion." He explained the belief of the various Eastern religions, including his own, which is Brahminism. He ridiculed the idea of sending missionaries of so many different faiths to heathen lands, and said that the various religions engaged in missionary work should be united. Mr. Vivekananda explained that the Hindoo religion is optimistic and not pessimistic. His main point was the doctrine of reincarnation, which means that all have existed before and will live again in other forms. The proceeds of the lecture will be applied to the work of founding an international college.

[Daily Eagle, April 8, 1895]

Then It will Come Out All Right, Says Swami Vivekananda

The English people were given a raking over last night by Swami Vivekananda of India, who lectured to a throng at the Pouch mansion. He said that the English used three B's--Bible, brandy and bayonets--in civilizing India. The preacher went ahead with the Bible to get the lay of the fortifications. The English, he said, had exaggerated the social conditions of India in their writings. They got their ideas from the Pariahs, who were a sort of human scavenger. No self respecting Hindoo, he declared, would associate with an Englishman. The story about widows throwing themselves under the chariot of Juggernaut he declared to be a myth. Child marriage and caste he agreed were bad. Caste, he said, originated with the mechanics' guilds. What India needed was to be let alone, and it would come out all right.

[New York World, December 8, 1895]

SWAMI VIVEKANANDA THE YOGI, COMES FROM BOMBAY, PREACHING LOVE FOR HIS FELLOW MAN.

To find an ascetic of the Highest Eastern type clad in a red and flowing Hindoo cloak over unmistakable American trousers is necessarily a surprise. But in other things besides dress is Swami Vivekananda astonishing. In the first place he declares that your religion or any one else's religion is just as good as his own, and if you should happen to be a Christian or Mussulman, Baptist or Brahmin, atheist, agnostic or Catholic, it will make no difference to him. All that he asks is that you act righteously according to your lights.

The Yogi, with his peculiar notions of dress and worship, arrived Friday on the Brittanic. He went to No. 228 West Thirty ninth street. While in New York he will lecture upon metaphysics and psychology, and will also disseminate in a general way his ideas on the universal religion which asks no man to take another by the throat because his creed happens to be different. "Let me help my fellowman; that is all I seek," he says. "There are four general types of men," he says,

the rational, the emotional, the mystical and the worker. For them we must have their proper worship. There comes the rational man, who says, "I care not for this form of worship. Give me the philosophical, the rational--that I can appreciate." So for the rational man is the rational, philosophic worship.

There comes the worker. He says: "I care not for the worship of the philosopher. Give me work to do for my fellow men." So for him is made a worship, as for the mystical the emotional. In the religion for all these men are the elements of their faith. "No," said the Swami, very softly, in answer to a question,

I do not believe in the occult. If a thing be unreal it is not. What is unreal does not exist. Strange things are natural phenomena. I know them to be matters of science. Then they are not occult to me. I do not believe in occult societies. They do no good, and can never do good.

In fact, the Swami belongs to no society, cult or creed. His is a religion which compasses all worship, all classes, all beliefs.

Swami, who is a very dark featured and good looking young fellow, explained his creed yesterday in remarkably pure English. One forgot when he spoke that an orthodox choker peered over the Bombay robe which in turn scantily concealed the American trousers. One saw instead a winning smile and a pair of deep, lustrous black eyes.

Swami believes in reincarnation. He believes that with the purification of the body the soul rises to a higher condition, and as the purification through matter continues the spirit rises, until released from further migration and is joined with the universal spirit.

Such a man as the Jew baiter [Hermann?] Ahlwardt, who has just arrived in this country, the Swami cannot understand. "You say," he said, that he comes here to preach hate against his fellow men. Is he not of wrong mind? Is he allowed to spread this hate? The doctors should examine his brain to find out the wrong.

The peculiar name of the Yogi signifies, literally, "The bliss of discrimination." He is the first Indian Yogi who ever came to this country. He comes from Bombay.

[New York Herald, January 19, 1896]

The following is a brief sketch of the Swami's fundamental teachings:

Every man must develop according to his own nature. As every science has its methods so has every religion. Methods of attaining the end of our religion are called Yoga, and the different forms of Yoga that we teach are adapted to the different natures and temperaments of men. We classify them in the following way, under four heads: (1) Karma Yoga--The manner in which a man realizes his own divinity through works and duty. (2) Bhakti Yoga--The realization of a divinity through devotion to and love of a personal God. (3) Rajah Yoga--The realization of divinity through control of mind. (4) Gnana Yoga--The realization of man's own divinity through knowledge.

These are all different roads leading to the same center-- God. Indeed, the varieties of religious belief are an advantage, since all faiths are good, so far as they encourage man to religious life. The more sects there are the more opportunities there are for making successful appeals to the divine instinct in all men.

Vivekananda's Lecture on the Creeds of the World [Hartford Daily Times, February 1, 1896]

A fair house greeted the Hindu monk, Vivekananda, last night. . . . He was introduced by Mr. C. B. Patterson, in some fitting remarks. . . . His subject last night was "The Ideal, or Universal Religion".

Throughout the universe there are two forces constantly at work, the centrifugal and centripetal, positive and negative, action and reaction, attraction and repulsion. We find love and hatred, good and evil. What plane is stronger than the spiritual plane, the plane of religion? The world furnishes no hate stronger than that engendered by religion, and no love stronger. No teachings have brought more unhappiness into the world, nor more happiness. The beautiful teachings of Buddha have been carried across the Himalayas, at a height of 20,000 feet, by his disciples. Five hundred years later came the teachings of your beautiful Christ, and these have been carried on the wings of the wind. On the other hand, look at your beautiful earth deluged in blood in the interest of propagandism and religion. As soon as a man comes into the company of those who do not believe as he does, his very nature changes. It is his own opinions he fights for, not religion. He becomes the very embodiment of cruelty and fanaticism. His religion is all right, but when he starts out to fight for his own selfish opinions he is all wrong. People are up in arms about the Armenian and the Turkish butcheries, but their consciences don't say a word when the butcheries are committed in the interest of their own religion. In human beings we find a curious mixture of God, man, and devil, and religion stirs up the latter more than anything else. When we all think alike, the God side of our nature comes out; but let there be a clash of opinions, and presto, change! the devil has the floor. This has been so from time immemorial, and will be so always. In India we know what fanaticism means, for that country for the last thousand years has been the especial field of missionaries. But above the clash of opinions, and the fight for religions, there comes the voice of peace. For 3,000 years efforts have been made to bring the different religions into harmony. But we know how this effort has failed. And it always will fail, and it ought to fail. We have a network of words about love, peace, and universal brotherhood, which were meant all right originally, but we repeat them like parrots, and to us they mean nothing. Is there a universal philosophy for the world? Not yet. Each religion has its own creeds and dogmas and insists upon propagating them. You can't make one religion for the whole world. That must not be. The Armenians say it will be all right if you will all become Armenians. And the Pope of Rome says: "O yea, it is a very easy thing. If you will all become Roman Catholics, it will be all right." And so with the Greek church, and the Protestant church, and all the rest. There can never be one religion only, it would be death to all other religions. If every one thought alike there would be no more thought to think. If everybody looked alike, what monotony! Look alike and think alike--what could we do but sit down and die in despair? We can't live like a row of chipmunks; variation belongs to human life. One God, one religion is an old sing song, but there's danger in it. But, thank God, it can never be. Start out with your long purse, and your guns and cannon, to push your propagandism. And suppose you succeed for a while? In ten years your so called unity would be split into fragments. That is why there are so many sects. Take the largest religion, the Buddhist. They try to help the world to be better. Next come the Christians, with [a] good many things to teach. They have three Gods in one, and one in three, and one of the three took on the sins of the world and was killed. Whoever doesn't believe in him, goes to a very hot place. And Mohammed, whoever doesn't believe in him will have his skin burnt off, and then a fresh one will be furnished to be burnt, that he may know that Allah is the all powerful. All religions came originally from the Orient. These great teachers or incarnations come in different forms. The Hindus have ten incarnations; the first was a fish, and so on, down to the fifth, and from there, they were all men. The Buddhists say: "We don't care to have so many incarnations; we want only one." The Christians say: "We will have only one, and this is Christ." And they say he is the only one. But the Buddhist says they have the start in time; their great teacher came five hundred years earlier. And the Mohammedans say theirs came last, and therefore is the best. Each one loves his own, just as a mother loves her own child. The Buddhist never sees any fault in Buddha; the Christian never sees any fault in Christ, and the Mohammedan never sees any fault in Mo - hammed. The Christian says their God took the form of a dove and came down, and that they say is not mythology, but history. The Hindu says his god is manifested in a cow and that he says is not superstition, but history. The Jew thinks his Holy of Holies can be contained in a box or chest, with an angel on guard on either side. But the Christian's God in the form of a beautiful man or woman, is a horrible idol. "Break it down!" they say. One man's prophet did such and such wonderful things, while others call it only superstition. So where's your unity? Then there are your rituals. The Roman Catholic puts on his robe, as I have mine. He has his bells and candles and holy water, and says these are good and necessary, but what you do, he says is only superstition. We can never upset all this and have but one religion for the very life of thought is the differentiation of thought. We must learn to love those who think exactly opposite to us. We have humanity for the background, but each must have his own individuality and his own thought. Push the sects forward and forward till each man and woman are sects unto themselves. We must learn to love the man who differs from us in opinion. We must learn that differentiation is the life of thought. We have one common goal, and that is the perfection of the human soul, the god within us. Religion is the great force to help unfold the god within man. But we have to unfold in our own way. We can't all assimilate the same kind of food. Let your aspirations be of the highest, and your inspirations will be in harmony with reason and all known laws, and the Lord will always be with you.

[Tribune, March 5, 1896]

He Would Have Many Kinds of Religion

Vivekananda, the Hindoo missionary, lectured at the Hotel Richelieu last night. The parlors of the private hotel were filled to overflowing with a crowd of ladies. When Vivekananda arrived at the hotel it was with difficulty he worked his way in. He went upstairs and very shortly came down again robed in a purple gown, caught about the waist with a purple cord.

Vivekananda in his talk said that there were various religions and each believer thought his religion the only true religion. It was a mistake, he said, to suppose that all should have the same religion. "If all were of the same religious opinion," said he,

there would be no religion. No sooner does a religion start than it breaks into pieces. The process is for the religion to go on dividing until each man has his own religion, until each man has thought out his own thoughts and carved out for himself his own religion.

Vivekananda will remain in Detroit about two weeks and will give classes every morning at 11 o'clock and every evening at 8 o'clock at the hotel. . . .

[News Tribune, March 16, 1896]

Vivekananda Lectured in Temple Beth El

Spoke on the Ideal of a Universal Religion He Will Probably Leave Tuesday

Temple Beth El was crowded to the doors last night when Swami Vivekananda delivered his address upon "The Ideal of a universal religion." The time announced for the service was 8 o'clock, but the congregation began to assemble at the temple early in the evening so that the doors had to be opened at

6:25 p.m. They were closed at 7 o'clock and the hundreds that arrived after that time had to be turned away.

We all hear about universal brotherhood, and how societies stand up and want to preach this. But to what does it amount? As soon as you make a sect you protest against equality, and thus it is no more, said Swami.

Unity in variety is the plan of the universe. Just as we are all men, yet we are all separate. We find then, that if by the idea of a universal religion is meant one set of doctrines should be believed by all mankind, it is impossible, it can never be, any more than there will be a time when all faces will be the same. We must not seek that all of us should think alike, like Egyptian mummies in a museum, looking at each other without thought to think. It is this difference of thought, this differentiation, losing of the balance of thought, which is the very soul of our progress, the soul of thought.

Swami will probably leave Tuesday [March 17]. At the close of his address last night he thanked the people of Detroit for the kind reception tendered him and his philosophy.

[Boston Evening Transcript, March 21, 1896]

Swami Vivekananda Compares Teachings of Hindu Wisdom and Western Religions

The Swami Vivekananda, who will be remembered as the Hindu delegate to the World's Parliament of Religions, is in the city as the March class lecturer at the Procopeia, 45 St. Botolph street. The Swami has been doing some most valuable and successful work in systematic class lecturing in New York, with constantly increasing audiences, during the past two winters, and comes to Boston at a most opportune time.

The Swami gives the following description of his work. In explanation of the term sannyasin, he said, [Vide "The Sannyasin", Complete Works, V: 260].

In giving some idea of his work and its methods, the Swami says he left the world because he had a deep interest in religion and philosophy from his childhood, and Indian books teach renunciation as the highest ideal to which a man can aspire. The Swami['s] teaching, as he expresses it,

is my own interpretation of our ancient books in the light which my master (a celebrated Hindu sage) shed upon them. I claim no supernatural authority. Whatever in my teachings may appeal to the highest intelligence and be accepted by thinking men, the adoption of that will be my reward. All religions have for their object the teaching of devotion, or knowledge, or activity, in a concrete form. Now, the philosophy of Vedanta is the abstract science which embraces all these methods, and this is what I teach, leaving each one to apply it to his own concrete form. I refer each individual to his own experience, and where reference is made to books, the latter are procurable, and may be studied for each one by himself.

The Swami teaches no authority from hidden beings, through visible objects, any more than he claims learning from hidden books or MSS. He believes no good can come from secret societies.

Truth stands on its own authority, and truth can bear the light of day.

He teaches only the Self, hidden in the heart of every individual, and common to all. A handful of strong men, knowing that Self, and living in its light, would revolutionize the world, even today, as has been the case of single strong men before, each in his day.

His attitude towards Western religions is briefly this. He propounds a philosophy which can serve as a basis to every possible religious system in the world, and his attitude towards all of them is one of extreme sympathy. His teaching is antagonistic to none. He directs his attention to the individual, to make him strong, to teach him that he himself is divine, and he calls upon men to make themselves conscious of divinity within. His hope is to imbue individuals with the teachings to which he has referred, and to encourage them to express these to others in their own way; let them modify them as they will; he does not teach them as dogmas; truth, at length, must inevitably prevail. . . .

[Boston Daily Globe, March 24, 1896]

Message Brought by the Swami Vivekananda--

in His Country the Gods Are "Bright Ones" That Help

The Swami Vivekananda is enjoying as great a degree of popularity on his present visit to Boston as he did when society, fashionable, intellectual and faddist, went wild over him on his former visit. . . . . . . A New York paper published an interview with the Swami, in which he is reported to have expressed the opinion that in Boston "the women are all faddists, all fickle, merely bent on following something new and strange." But Swami Vivekananda says that this is an exaggerated and distorted presentation of a criticism which he made upon all American women, that they were too superficial and too prone to follow the sensational and to change from one thing to another. This he says his observation has forced upon him. The American women are intellectual, but they are not steady, serious and sincere.

The first of the Swami's lectures was delivered before an audience of 400 people in the Allen gymnasium, Saturday evening on "The Science of Work," and the second one of the course on "Devotion" was given in the same place, the hall being filled and a number turned away unable to gain admittance.

The lecture was exceedingly interesting and the speaker's manner was very magnetic. In his country, said the Swami, the gods were the "bright ones" who gave help to men and received help from them. The gods are only human beings who are somewhat elevated after death, but God, the highest, is never prayed to or asked for help. He is given only love and worship without anything being asked in return. There are two phases of this God, the one, the abstract God behind the substance of the universe, and the other the personal God who is seen through human intellect and given attributes by it.

The love which is given to God never takes, but always gives, and it does not depend on anything. The worshiper does not pray for health, money or any other thing, but is content with the lot apportioned to him.

People who ask about religion from mere motives of curiosity become faddists, they are always looking for some thing new and their brains degenerate until they become old rags. It is a religious dissipation with them.

It is not the place that makes heaven or hell, but the mind. Love knows no fear, there can be no love where it is. In love of any sort external objects are only suggested by something within --it is one's own ideal projected, and God is the highest ideal that can be conceived of.

Hatred of the world does not drive good men from it, but the world slips away from the great and saintly. The world, the family and social life, are all training grounds, that is all.

When one realizes that God is love, it does not matter what his other attributes are, that is the only essential.

The more a man throws himself away, the more God comes in, hence self abnegation, which is the secret of all religion and morality.

Too many people bring down their ideals. They want a comfortable religion, but there is none such. It is all self surrender and upward striving.

[Boston Evening Transcript, March 27, 1896]

Swami Vivekananda told the large audience that crowded the Allen Gymnasium to hear him speak on the "Ideal of a Universal Religion," last night, that the recent Parliament of Religions at Chicago proved, to that date, that universal religion was impossible. "Nature," he said, is wiser than we have thought her to be. It is competition of ideas, the clash of thought, that keeps thought alive. Sects have always been antithetical, and always will be splitting into little varieties of themselves. And the way to get out of this fight of religions is to let the sects go on subdividing.

There is no unity in the three elements of religion-- philosophy [theology?], mythology and ceremony. Each theologian wants unity, but his idea of unity is the adjustment of all other creeds to his own. I agree with the old prophets as long as they agree with me. But there is an element of religion that towers above all; that is, philosophy. The philosopher seeks truth, which is one and the same always. And it is acceptable to the four sides of every religious nature--the emotional, mystical, active and philosophical. And he who dares to seek the truth for truth's sake is greatest among men.

[Boston Evening Transcript, March 30, 1896]

The Hindu Swami Lectures Before Several Societies.

The Swami Vivekananda has, during the past few days, conducted a most successful work in connection with the Procopeia. During this time he has given four class lectures for the club itself, with constant audiences of between four and five hundred people, at the Allen Gymnasium, 44, St. Botolph street, two at the house of Mrs. Ole Bull in Cambridge, and one before the professors and graduate students of the philosophical department of Harvard University.

The idea, which brought the Swami to America three years ago as Hindu delegate to the Parliament of Religions, and has been the guiding motive of all his subsequent work, both in America and England, is one which appeals strongly to the people whose creation the parliament was, but the methods which he proposes are peculiarly his own. One of his lectures during the week has been "The Ideal of a Universal Religion," but a "harmonious religion" would, perhaps, equally meet the case, if, indeed, it would not more adequately express that for which he is striving. The Swami is not a preacher of theory. If there is any one feature of the Vedanta philosophy, which he propounds, which appears especially refreshing, it is its intense capability of practical demonstration. We have become almost wedded to the idea that religion is a sublime theory which can be brought into practice and made tangible for us only in another life, but the Swami shows us the folly of this. In preaching the Divinity of Man he inculcates a spirit of strength into us which will have none of those barriers between this life and actual realization of the sublime that, to the ordinary man, appear as insurmountable.

In discussing the general lines on which it appears to him universal religion can alone be established, he claims for his plan no super authority. As he says:

I have also my little plan. I do not know whether it will work or not, and I want to present it to you for discussion. In the first place, I would ask mankind to recognize this maxim: "Do not destroy." Iconoclastic reformers do no good to the world. Help, if you can; if you cannot, fold your hands, stand by, and see things go on. Therefore say not a word against any man's convictions, so far as they are sincere. Secondly, take man where he stands, and from thence give him a lift.

Unity in variety is the plan of the universe. Just as we are all men, yet we are all separate. As humanity, I am one with you; as Mr. So and so, I am different from you. As a man you are separate from woman, but as human beings you are all one; as a living being you are one with animals and all that lives, but as man you are separate. That existence is God, the ultimate unity in this universe. In Him we are all one. We find, then, that if by the idea of a universal religion is meant that one set of doctrines should be believed by all mankind, it is impossible, it can never be, any more than all faces will be the same. Again, if we expect that there will be one universal mythology, that is also impossible; it cannot be. Neither can there be a universal ritual. When this time comes the world will be destroyed, because variety is the first principle of life. What makes us formed beings? Differentiation. Perfect balance will be destruction.

What then do I mean by the ideal of a universal religion? I do not mean a universal philosophy, or a universal mythology, or a universal ritual, but I mean that this world must go on, wheel within wheel. What can we do? We can make it run smoothly, we can lessen friction, we can grease the wheels, as it were. By what? By recognizing variation.

Cf. Complete Works, II: 381 82.

Just as we have recognized unity, by our very nature so we must also recognize variation. We must learn that truth may be expressed in a thousand ways, and each one yet be true. We must learn that the same thing can be viewed from a hundred different standpoints, and yet be the same thing.

In society we see so many various natures of mankind. A practical generalization will be impossible, but for my purpose I have simply characterized them into four. First, the active man; then the emotional man; then the mystical man, and lastly the philosopher.

To be universal, religion must provide possibility of realizing truth through means suitable to any one of these minds, and a religion which says that through one alone all men must struggle, whether these minds are capable of the struggle or not, must end in agnosticism.

In his lecture on Karma Yoga, the Swami dealt with the science of work. The lecture for the most part analyzed the motives men have in work, and particularly the motive of heaven as a reward for good work on earth. This, said the Swami, is shopkeeping religion. Work alone reaches its highest when it is done absolutely without hope of reward, work for work's sake, and without regard to the consequences.

In discussing Bhakti Yoga, Devotion, the Swami explained the rationale of a Personal God. This idea of devotion and worship of some being who has to be loved, and who can reflect back the love to man, is universal. The lowest stage of the manifestation of this love and devotion is ritualism, when man wants things that are concrete, and abstract ideas are almost impossible. Throughout the history of the world we find man is trying to grasp the abstract through thought forms, or symbols, and the external manifestations of religion. Bells, music, rituals, books, images come under that head. Man can only think with form and word. Immediately thought comes, form and name flash into the mind with them, so that when we think of God, whether as the Personal God with human shape, or as the Divine Principle, or in any other aspect, we are always thinking of our own highest ideal with some or other form, generally human, because the form of man is the highest of which man can conceive. But, while recognizing this as a necessity of human weakness, and while making proportionate use of rituals, symbols, books and churches, we must always remember that it is very good to be born in a church, but it is very bad to die in a church. If a man dies within the bounds of these forms, it shows that he has not grown, that there has been no uncovering of the real, the Divinity, within him.

True love can be regarded as a triangle. The first angle is, love knows no bargain. So when a man is praying to God, "give me this, and give me that," it is not love. How can it be? "I give you my little prayer, and you give me something in return"; that is mere shopkeeping. The second angle is, love knows no fear. So long as God is regarded as a rewarder or a punisher there can be no love for him. The third angle, the apex, is, love is always the highest ideal. When we have reached the point where we can worship the ideal as the ideal, all arguments and doubts have vanished forever. The ideal can never escape, because it is part of our own nature.

In his lecture at Harvard University, the Swami traced the history, so far as is known, of the Vedanta philosophy, and showed to what extent the Vedas (the Hindu scriptures) are accepted as authoritative; merely as the foundation for the philosophy in so far as they appeal to the reason. He compared the three schools, the Dualists, who acknowledge a supreme being, and a lesser being manifesting in men, but eternally separate from men. Next he described the philosophy of the Qualified nondualists, whose particular idea is that there is a God and there is nature, but that the soul and nature is simply the expansion, or the body of God, just as the body of man is to man's soul. They claim, in support of this theory, that the effect is never different from the cause, but that it is the cause repro- duced in another form, and as God, therefore, is the cause of this universe, he is also the effect. The Monists . . . declare that if there is a God, that God must be both the material and the efficient cause of the universe. Not only is he the Creator; but he is also the created. He himself is this universe, apparently; but, in reality, this universe does not exist--it is mere hypnotisation. Differentiation is in name and form only. There is but one soul in the universe, not two, because that which is immaterial cannot be bounded, must be infinite; and there cannot be two infinities, because one would limit the other. The soul is pure, and the appearance of evil is just as a piece of crystal, which is pure in itself, but appears to be variously colored when flowers are placed before it.

In discussing Raja Yoga, the psychological way to union with God, the Swami expanded upon the power to which the mind can attain through concentration, both in reference to the physical and the spiritual world. It is the one method that we have in all knowledge. From the lowest to the highest, from the smallest worm to the highest sage, they have to use this one method. The astronomer uses it in order to discover the mysteries of the skies, the chemist in his laboratory, the professor in his chair. This is the one call, the one knock, which opens the gates of nature and lets out the floods of light. This is the one key, the only power--concentration. In the present state of our bodies we are so much distracted, the mind is frittering away its energies upon a hundred sorts of things. By scientific control of the forces which work the body this can be done, and its ultimate effect is realization. Religion cannot consist of talk. It only becomes religion when it becomes tangible, and until we strive to feel that of which we talk so much, we are no better than agnostics, for the latter are sincere and we are not.

The Twentieth Century Club had the Swami as their guest Saturday [March 28], and heard an address from him on the "Practical Side of the Vedanta Philosophy." He leaves Boston today, and will, within a few days, sail for England, en route for India.

Lectures on Hindoo Religion and Philosophy

[Los Angeles Times, December 9, 1899]

. . . . . . . . . The well known expositor of the Hindoo philosophy, dressed in the yellow robe of the Brahmin caste, spoke in part as follows:

I come before you, ladies and gentlemen, to bring no new religion. I desire simply to tell you a few points that bind together all religions. I shall touch upon some things in the thought of eastern civilization that will appear strange to you and on others that I hope will appeal to you. All the religions of the world have a backbone of unity. This is the principle of philosophy and of toleration.

Very few people in this country understand what India is. It is a country half as large as the United States and containing 300,000,000 people, speaking a number of different tongues, but all bound together by the ideas of a common religion. By these ideas the Hindoos have made their influence felt through the ages, working gently, silently, patiently, while western civilization has been conquering by force of arms. The future will show which is the more powerful--physical force or the power of ideas. The arts and sciences of the Hindoos have found their way over all the earth--their numerals, their mathematical thought, their ethics. Was it not in India, there and there alone, that the doctrine of love was first preached, and not alone the doctrine of love of one's fellow men, but of love of every living thing, yea, even of the meanest worm that crawls under our feet. When you begin to study the arts and institutions of India, you become magnetized, fascinated. You cannot get away.

In India, as elsewhere, we find the earliest condition one of division into little tribes. These different tribes had each its different god, its different ceremonial. But in coming in contact with one another, the tribes did not follow the course that western civilization has taken--they did not persecute each other because of these differences, but endeavored to find the germs of common ideas in all the religions. And from this endeavor arose the habit of toleration which is the keynote of the Indian religion. Truth is one, can be but one, though it may be expressed in different language.

Another great difference between eastern and western religion lies in the reception of a philosophical and scientific view of the universe. In the West, agnosticism has been growing in late years, and with the loss of a hope in individual immortality, which the westerner is always desiring and seeking, a note of despair has crept into western thought. Ages ago, the Hindoo realized that the universe was one of law, and that, under law, all change. Therefore, an imperishable individuality is an impossibility. But this thought is not one of despair to the Hindoo. On the contrary --and this is what the westerner can least understand of eastern thought--he longs for freedom, for release from the thralldom of the senses, from the thralldom of pain and the thralldom of pleasure.

Western civilization has sought a personal God and despaired at the loss of belief in such. The Hindoo, too, has sought. But God cannot be known to the external senses. The Infinite, the Absolute, cannot be grasped. Yet although it eludes us, we may not infer its non existence. It exists. What is it that cannot be seen by the outward eye? The eye itself. It may behold all other things, but itself it cannot mirror. This, then, is the solution. If God may not be found by the outer senses, turn your eye inward and find, in yourself, the soul of all souls. Man himself is the All. I cannot know the fundamental reality, because I am that fundamental reality. There is no duality. This is the solution of all questions of metaphysics and ethics. Western civilization has in vain endeavored to find a reason for altruism. Here it is. I am my brother, and his pain is mine. I cannot injure him without injuring myself, or do ill to other beings without bringing that ill upon my own soul. When I have realized that I myself am the Absolute, for me there is no more death nor life nor pain nor pleasure, nor caste nor sex. How can that which is absolute die or be born? The pages of nature are turned before us like the pages of a book, and we think that we ourselves are turning, while in reality we remain ever the same.

CONCEPTION OF THE UNIVERSE IN DISTANT INDIA

[Los Angeles Times, December 13, 1899]

Swami Vivekananda, the Hindu philosopher, addressed the regular monthly meeting of the Southern California Academy of Sciences at Unity Church last evening. The audience was large and appreciative, and at the end of the lecture a number of questions were asked by members of the audience and answered by the lecturer. . . .

The speaker began with a reference to the mythological tales of the Hindus in which they attempted to explain the origin of the universe, and he told also of the endeavors of the ancients to explain the mysteries which surrounded them.

According to their belief, he said, man's first idea is of himself. His will moves all his members. A child's idea of power is in its will. All movement of the universe has a will behind it. The Hindus believe, said the speaker, that there is but one God, and he a person like the rest of them, but infinitely greater. Their mind is philosophical enough not to admit the existence of two gods, one bad and one good. With them nature is a unit, unity in all existence is the universe, and God is the same as nature. "There is not a system of philosophy," said the speaker,

from that of the ancient Egyptians down to that of the Roman Catholic Church, which does not show traces of the same thought. All forces that exist in the mental and physical world have been resolved, in India, into the one word "Father" ["Prâna"?]. Whatever is, has been projected by Him.

In closing, the philosopher said that the ancient voice of India had found an echo in the 19th century in the writings of Herbert Spencer.

[Los Angeles Herald, December 13, 1899]

Swami Vivekananda's lecture before the Academy of Sciences

Unity church was filled last evening with a large audience to hear the Swami Vivekananda, a native of India, lecture on the kosmos, or the Veda conception of the universe under the auspices of the Southern California Academy of Sciences. .

In introducing his subject the speaker reviewed the mythology of the flood, which among the Babylonians, Egyptians, Assyrians and other races is similar to the story of the Hebrew scriptures, showing that all held a similar belief concerning the creation of the universe.

In the worship of the sun and the forces of nature, we see the attempts of ancient peoples to explain the mysteries surrounding them. Man's first idea of force was himself. When a stone fell he saw no force in it but the will behind it, and he conceived the idea that the whole universe was moved by force of wills. Gradually these wills became one, and science begins to rise. Gods begin to vanish, and in their place comes oneness, and now God is in danger of being dethroned by modern science. Science wants to explain things by their own nature and make the universe self sufficient.

Wills gradually began to disappear, and in their place comes will. This was the process of development in all the nations of the world, and so it was in India. Their ideas and gods were pretty much the same as those of other lands, only in India they did not stop there. They learned that life alone can produce life, and that death can never produce life. In our speculations about God we have got to monotheism. Everywhere else speculation stops there; we make it the be all and end all of everything, but in India it does not stop there. A gigantic will can not explain all this phenomena we see around us. Even in man there is something back of the will. In so common sense a thing as the circulation of the blood, we find will is not the motive power.

We have conceived God as a person like ourselves, only infinitely greater, and because there is goodness and mercy and happiness in the world there must be a being possessing these attributes, but there is also evil. The Hindu mind is too philosophical to admit the existence of two gods, one good and one bad. India remained true to the idea of unity. What is evil to me may be good to someone else; what is good to me may be evil to others. We are all links in a chain. Hence comes the speculation of the Upanishads, the religion of 300,000,000 of the human race. Nature is a unit; unity is in all existence, and God is the same as nature. This is one of the Indian speculations known to all the world outside of India.

There is not a system of religion or philosophy in the world that does not show the influence of India's speculation, even to the Catholic church. The conservation of energy, considered a new discovery, has been known there by the name of father [Prâna?]. Whatever is comes from the father. Brahma [Prana?] must energize on something, and that they say is an invisible ether. Brahma [Prana?] vibrating on ether, the solid, the liquid, the luminous, it is all the same ether. The potentiality of everything is there. In the beginning of the next period Brahma [Prana?] will begin to vibrate more and more.

Thus this speculation of India's scriptures is very similar to modern science. The same idea is taken up by modern evolution. Even our bodies, different only in dignity, are links in the same chain. In one individual the possibilities of every other individual are there. The living entity contains the possibility of all life, but can only express that which environment demands. The most wonderful speculations are formed in modern science. The one that interests me as a preacher of religion is the oneness of all religions [life?]. When Herbert Spencer's voice says that the same life welling up in the plant is the life welling up in the individual, the Indian religion has found a voice in the nineteenth century.

[Los Angeles Herald, January 3, 1900]

Lecture last night at Blanchard Hall by Swami Vivekananda

Swami Vivekananda, member of an ancient order of Hindu monks, who is giving a series of lessons and lectures in this city, addressed an audience last night at Blanchard hall upon the "History of India" ["The People of India"]. The Swami appeared before his audience in American dress, losing to a great degree the peculiar and characteristic personality given him by the aesthetic silken robes and the turban worn by his order.

The speaker said India was not a country, but a continent containing a huge mass of races united by religion. India was of ancient date. It was inhabited, when through a desire to reach it by a shorter passage, Columbus discovered America, and its production of cotton, sugar, indigo and spices have enriched the world. This country inhabited by 200,000,000 of people, is full of little villages that extend through all the valleys and up the mountains thousands of feet above the sea level. The immense fertility of the soil owes much to the tremendous rainfall, which is often 1,800 inches [sic] in a season, averaging perhaps 600 inches. Many of the people, however, in spite of the abundant productions, live wholly on millet, a kind of cereal; no animal food is eaten; no meat, eggs or fish.

The country from most ancient times has kept its own customs, its own languages and its castes. It has by its religion saved itself while it has seen other sections [nations] rise and decay. The Babylonian civilization was not new, but India dates long before its rise and fall. The most ancient language, Sanskrit, is spoken by the priests, and was spoken once by all the different races. The speaker gave examples of many of our common English words coming from Sanskrit roots, and traced the old religious ideas and even mythology to the ancient Aryan races.

Many of the customs of the country were sketched, and further it was shown how this country was the seat of civilization, the center of arts, the sciences, the philosophical thought of the world. The people of India have saved themselves by making a wall around themselves by making the castes absolute. An emperor in India is glad to trace his descent from a priest, who is the highest caste. The castes do not exist as they did once, but they are divided into many divisions and sub divisions. There are hundreds of them. No people of different castes eat together, or cook together. Marriage is not legal if made outside of one's caste. The intricacy of the laws of caste is very great and branch out into the minutest detail. The poorest beggar or the viceroy of India may belong to the same caste.

Shoes are not allowed to be worn, as they are made from the skin of an animal. The women pay even more attention to these details than the men. All these customs have their philosophy. This is the true democracy, it is the socialistic idea, the development of the masses, not the individual.

The speaker closed with comparing the position of women in India with that of this country. In India the whole idea of womanhood is the mother. The mother is reverenced. She is the giver of life, the founder of the race.

[Los Angeles Times, January 17, 1900]

The Swami

Clad in his maroon robe, Swami Vivekananda addressed a small audience composed mostly of women, at the Shakespeare Club this evening [January 16]. He gave an account of the religious legends of Brahmanism, which are embodied in the daily lives of the Hindus, of the origin of Shiva and his surrender to the pure spirit of his wife, today the mother of all India, whose worship is carried to such an extent that no female animal can be killed. Vivekananda quoted freely from the Sanskrit, translating as he went along. . . .

[Los Angeles Herald, January 26, 1900]

Swami Vivekananda, the Oriental seer, lectured at the Shakespeare club this morning [Thursday, January 25] on "The Science of Yoga". He said that there is no difference in kind between anything in nature, but that all differences are of degree merely. The mind is the supreme power, the motor of the world.

[Unity, February (?) 1900]

. . . . . . . . . We had eight lectures at the Home by the Swami and all were intensely interesting, though a few malcontents complained because he did not give some short cuts into the King

dom [of Heaven] and show an easy way to the attainment of mental powers; instead he would say,

Go home and promise yourself that you will not worry for a whole month even though the maid breaks all your best china.

There is combined in the Swami Vivekananda the learning of a university president, the dignity of an archbishop, with the grace and winsomeness of a free natural child. Getting on the platform without a moment's preparation he would soon be in the midst of his subject, sometimes becoming almost tragic as his mind would wander from deep metaphysics to the prevailing condition in Christian countries today who go and seek to reform Filipinos with the swords in one hand and the Bible in the other, or in South Africa allow children of the same father to cut each other to pieces. To contrast this condition of things he described what took place during the last famine in India where men would die of starvation beside their cattle rather than stretch forth a hand to kill. (Will Unity readers remember the fifty million Hindoos who are starving today and send them a blessing?)

Instead of trying to give much of what we heard from the Swami direct, I will append a few of the sayings of his master, Ramakrishna, that will better indicate the nature of his teaching. His chief aim seems to be to encourage people in living simple, quiet wholesome lives--that the life shall be the religion, not something separate and apart.

To the true mother he gives the highest place, counting her as more to be esteemed than those who simply run around teaching. "Anyone can talk," he said, but if I had to look after a baby, I could not endure existence for more than three days.

Frequently he would speak of the "mother" as we speak of the "father," and would say "the mother will take care of us," or "the mother will look after things."

We had a lecture on Christmas day from the Swami entitled, "Christ's Mission to the World," and a better one on this subject I never heard. No Christian minister could have presented Jesus as a character worthy (of) the greatest reverence more eloquently or more powerfully than did this learned Hindoo, who told us that in this country on account of his dark skin he has been refused admission to hotels, and even barbers have sometimes objected to shave him. Is it any wonder that our "heathen" brethren never fail to make mention of this fact that even "our" Master was an Oriental?

[San Francisco Chronicle, February 24, 1900]

Swami Vivekananda's Topic Is "The Idea of Universal Religion"

At Golden Gate Hall last evening Swami Vivekananda, a Hindoo monk, entertained an audience for an hour and a half with his lecture on "The Idea of Universal Religion." . . .

Tracing religion from the commencement of history he spoke of the existence of creeds. Sects were known from the earliest time, he said. As time rolled on there began various contests for a supremacy between the various sects. History, he declared, was a mere repetition of slaughter under the guise of religion. Superstition, he thought, was fast becoming a thing of the past through the expansion of the minds of men. They had more liberality of thought now. They were deeper students of philosophy and through the principles of true philosophy only could religion in its deepest form be found. Until men could accord to others the right of free belief on all subjects, and be willing to believe truth under whatever form it might appear, no universal religion would be manifest to the world, he declared. It would never be promulgated by any society, but would grow instinctively as the intellect of man developed.

Lecture of Swami Vivekananda on the Religion of the Hindoos

[Oakland Tribune, February 26, 1900]

It is the Only Creed, He Says, that Can Be Taught Without Lies and Without Compromise

The claims of the Brahmin religion, or Vedantism, on the modern world were presented to night at the Congress of Religions in the First Unitarian Church by Swami Vivekananda, a remarkably eloquent expounder of that faith. . . .

To his auditors to night he explained Vedantism as the religion of the Vedas, or ancient Hindoo books, which, he asserted, is "the mother of religion." "It may seem ridiculous how a book can be without beginning or end," he said, but by the Vedas no books are meant. They signify the accumulated treasury of spiritual laws discovered by different persons in different times. The Hindoo believes he is a spirit. Him the sword cannot pierce, him the fire cannot burn, him the water cannot melt, him the air cannot dry. He believes every soul is a circle whose circumference is nowhere, but whose center is located in a body. Death means the change of this center from body to body. We are the children of God. Matter is our servant.

Vedantism is a sort of rebellion against the mockery of the past. Some men are so practical that if they know that by chopping off their heads they could get salvation, there are many who would do so. That is all outward; you must turn your eyes inward to learn what is in your soul. Soul is spirit omnipresent. Where does the soul go after death? Where could the earth fall to? Where can the soul go? Where is it not already? The great cornerstone of Vedantism is the recognition of Self. Man, have faith in yourself. The soul is the same in every one. It is all purity and perfection and the more pure and perfect we [you] are the more purity and perfection you will see.

A man or preaching jack who cries, "Oh Lord, I'm only a crawling worm!" should be still and crawl into his hole. His cries only add more misery to the world. I was amused to read in one of your papers, "How would Christ edit a paper!" How foolish. How would Christ cook a meal? Yet you are the advanced people of the West. If Christ came here, you would shut up shop and go into the street with him to help the poor and downtrodden. Vedantism is the only religion that can be taught without lies, without stretching the texts, without compromise.

[The Alameda Encinal, April 5, 1900]

Hindu Philosopher Gives His Ideas

Last evening the Swami Vivekananda gave the first of a series of three public lectures at Tucker Hall on "The Development of Religious Ideas."

The speaker dwelt briefly on the similarity of ideas in the minds of orthodox Christians, Mohammedans and Hindus with regard to the origin of their religions. Each believed his particular prophet or teacher to have been inspired in some mysterious way by a God or Gods, who as it were, regulated or influenced the affairs of this world from a distance. The modern scientific mind, on the contrary, instead of seeking for outside or supernatural causes for phenomena endeavored to find cause in the thing or condition itself.

While at first glance this method of investigation might seem to take from religion some of its vital elements, yet in reality it resulted in man finding that the spiritual attributes of deity and the states of mind producing heaven and hell were all within himself, and although the result of this rational modern inquiry might appear to contradict much that had been handed down in the old religious writings such as Bible, Koran and Vedas, yet the contradiction was more apparent than real, for the prophets and teachers of old had true perceptions, but were mistaken only in attributing their experiences to outside agencies, instead of realizing them to be the development and expression of elements in their own souls before unknown and unrecognized.

The lecturer traced some of the common beliefs regarding location of heavens and hells, of various burial rites and customs, and he spoke of the impressions made on the primitive mind that resulted in a personification of the active natural forces in the phenomena with which we are surrounded. . . . idealist brought the bold aspiration down to earth, the realist caused it to take form through work. Love cannot be defined in positive terms, only negatively. Its nature is of the form of renunciation. In its more general sense it might be divided threefold: (1) That love which is for one's own pleasure, irrespective of pleasure or pain to others--the purely selfish, the lowest. (2) That love which exchanges--"I will love you if you love me. We will make each other mutually happy"--the partially selfish, the middle path trodden by the great majority of mankind. (3) That love which gives all and asks for nothing, without premeditation and which never regrets, unconquerable by any evil thing done to him from whom it emanates. It is the highest, the divine. Only with this last kind are we concerned here. The first is the path of the sensualist and the animal, the second the path of struggling humanity on its way to better things, the third the real path of love, trodden by those who renounce the world and set out upon that road which leads to Eternal Peace. In that love there is no fear. Love kills fear. A lion might stand over a babe and threaten its life; the mother knows no fear, she does not fly, but she opposes. At that moment love destroys terror; at other times the same woman would run from a small dog. A fierce Mahomedan [sic] warrior went to a garden to pray. In the same garden a girl had appointed to meet her lover. The warrior lay prostrate on his face according to the prescribed form of his religion. At that moment the girl espied her lover, and with joy rushing to meet him, trod upon the prostrate form. He jumped up and laying hand upon his sword would have slain the girl. "How dare you?" cried he, "vile wench, disturb my worship, my devotion to God, with your base feet." "Worship! devotion!" cried the girl, "you do not know what they are. You had no devotion, lying there, no spirit of worship. If I, a timid girl, could so forget the presence of an object of dread like you, in my worship and devotion to my earthly lover as to tread upon you and not even know it, how much more should you, if your heart had been absorbed in love and devotion to God, have been ignorant that I touched you?" The warrior was humbled and appeased and went away. Our highest ideal of love is the image

## References


Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.