Arsip Vivekananda

IX Adhyapakji

Jilid7 letter
722 kata · 3 menit baca · Epistles - Third Series

Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.

AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.

Bahasa Indonesia

IX

SALEM,

Sabtu, 4 September 1893.

ADHYAPAKJI YANG TERHORMAT (Prof. John Henry Wright),

Saya bergegas menyampaikan rasa syukur saya yang setulus-tulusnya atas surat-surat pengantar dari Anda. Saya telah menerima surat dari Tuan Theles dari Chicago yang memberikan kepada saya nama-nama beberapa delegasi dan keterangan lain mengenai Kongres.

Profesor bahasa Sanskerta Anda dalam catatannya kepada Nona Sanborn keliru menganggap saya sebagai Purushottama Joshi, dan menyatakan bahwa terdapat sebuah perpustakaan Sanskerta di Boston yang sukar dijumpai bandingannya di India. Saya akan merasa amat berbahagia bila dapat menyaksikannya.

Tuan Sanborn telah menulis kepada saya untuk datang ke Saratoga pada hari Senin, dan saya akan berangkat sesuai dengan undangan itu. Saya akan menginap di sebuah rumah penginapan bernama Sanatorium. Jika sementara itu ada kabar yang datang dari Chicago, saya berharap Anda berkenan mengirimkannya ke Sanatorium, Saratoga.

Anda, istri Anda yang mulia, dan anak-anak Anda yang manis telah meninggalkan kesan di benak saya yang sungguh tak terhapuskan, dan saya merasa diri saya jauh lebih dekat dengan surga selama tinggal bersama Anda. Semoga Dia, Pemberi segala anugerah, mencurahkan ke atas kepala Anda berkah-berkah-Nya yang terpilih.

Berikut ini beberapa baris yang saya tulis sebagai upaya bersyair. Berharap kasih Anda akan memaafkan beban kecil ini.

Selalu sahabat Anda,

VIVEKANANDA.

Melintasi bukit dan lembah serta deretan gunung,

Di kuil, gereja, dan masjid,

Dalam Veda, Bibel, Al Quran

Telah sia-sia kucari Engkau.

Bagai anak yang tersesat di rimba paling liar

Aku menangis dan menangis sendirian,

"Ke manakah Engkau pergi, Tuhanku, kasihku?"

Gema menjawab, "telah pergi."

Lalu berlalulah hari, malam, dan tahun —

Sebuah api menyala di dalam otak;

Aku tak mengetahui kapan siang berganti malam,

Hati terasa terbelah dua.

Aku merebahkan diri di tepi sungai Ganga,

Terpapar kepada matahari dan hujan;

Dengan air mata yang membara aku membasahi debu

Dan meratap bersama deru air.

Aku menyeru semua nama suci

Dari setiap negeri dan kepercayaan,

"Tunjukkanlah kepadaku jalan, dengan belas kasihan, wahai

Para Agung yang telah mencapai tujuan".

Lalu bertahun-tahun berlalu dalam tangisan pahit,

Setiap saat terasa seperti satu zaman,

Hingga suatu hari di tengah jeritan dan rintihku

Seseorang sepertinya memanggilku.

Sebuah suara yang lembut, halus, dan menenteramkan

Yang berkata "putraku", "putraku",

Yang terasa bergetar serasi

Dengan segenap dawai jiwaku.

Aku berdiri di atas kakiku dan mencoba menemukan

Tempat suara itu berasal;

Aku mencari dan mencari serta berbalik untuk melihat

Sekelilingku, di depan, di belakang.

Lagi, lagi suara itu seolah berbicara —

Suara ilahi kepadaku.

Dalam kegairahan seluruh jiwaku terdiam,

Terpesona, tersihir dalam kebahagiaan.

Sebuah kilatan menerangi seluruh jiwaku;

Hati dari hatiku terbuka lebar.

O kegembiraan, O kebahagiaan, apa yang kutemukan!

Kasihku, kasihku, Engkau ada di sini,

Dan Engkau ada di sini, kasihku, segalaku!

Dan aku selama ini mencari Engkau!

Sejak keabadian Engkau telah ada di sana

Bersemayam dalam keagungan!

Sejak hari itu, ke manapun aku mengembara,

Kurasakan Dia berdiri di sisiku

Melintasi bukit dan lembah, puncak tinggi dan lekukan,

Jauh jauh dan tinggi.

Cahaya lembut bulan, bintang-bintang yang begitu terang,

Bola siang yang mulia,

Dia bersinar dalam mereka; keindahan-Nya — keperkasaan —

Mereka hanyalah cahaya yang dipantulkan.

Pagi yang megah, senja yang meluluhkan,

Lautan berombak yang tak terbatas,

Dalam keindahan alam, kicau burung-burung,

Aku melihat melalui mereka — itulah Dia.

Ketika bencana yang dahsyat mencengkeram aku,

Hati terasa lemah dan layu,

Seluruh alam seakan menghancurkanku,

Dengan hukum-hukum yang tak pernah lentur.

Kurasakan Engkau berbisik dengan lembut

Kasihku, "Aku dekat", "Aku dekat".

Hatiku menjadi kuat. Bersama Engkau, kasihku,

Seribu kematian tak menakutkan.

Engkau bertutur dalam senandung sang ibu

Yang menutup mata sang bayi;

Saat anak-anak yang tak bersalah tertawa dan bermain

Aku melihat Engkau berdiri di sisi mereka.

Saat persahabatan suci berjabatan tangan,

Dia pun berdiri di antara mereka;

Dia mencurahkan amerta dalam kecupan ibu

Dan dalam ucapan manis sang bayi "mama".

Engkaulah Tuhanku bersama para nabi terdahulu;

Semua kepercayaan datang dari-Mu;

Veda, Bibel, dan Quran yang berani

Menyanyikan Engkau dalam keserasian.

"Engkaulah", "Engkaulah" Jiwa dari segala jiwa

Dalam arus deras kehidupan.

"Om tat Sat om." (Tat Sat berarti satu-satunya eksistensi yang nyata itu. [Catatan Swamiji].) Engkaulah Tuhanku.

Kasihku, aku milik-Mu, aku milik-Mu.

English

IX

SALEM,

Saturday, 4th Sept., 1893.

DEAR ADHYAPAKJI (Prof. John Henry Wright),

I hasten to tender my heartfelt gratitude to you for your letters of introduction. I have received a letter from Mr. Theles of Chicago giving me the names of some of the delegates and other things about the Congress.

Your professor of Sanskrit in his note to Miss Sanborn mistakes me for Purushottama Joshi and states that there is a Sanskrit library in Boston the like of which can scarcely be met with in India. I would be so happy to see it.

Mr. Sanborn has written to me to come over to Saratoga on Monday and I am going accordingly. I would stop then at a boarding house called Sanatorium. If any news come from Chicago in the meanwhile I hope you will kindly send it over to the Sanatorium, Saratoga.

You and your noble wife and sweet children have made an impression in my brain which is simply indelible, and I thought myself so much nearer to heaven when living with you. May He, the giver of all gifts, shower on your head His choicest blessings.

Here are a few lines written as an attempt at poetry. Hoping your love will pardon this infliction.

Ever your friend,

VIVEKANANDA.

O'er hill and dale and mountain range,

In temple, church, and mosque,

In Vedas, Bible, Al Koran

I had searched for Thee in vain.

Like a child in the wildest forest lost

I have cried and cried alone,

"Where art Thou gone, my God, my love?"

The echo answered, "gone."

And days and nights and years then passed —

A fire was in the brain;

I knew not when day changed in night,

The heart seemed rent in twain.

I laid me down on Gangâ's shore,

Exposed to sun and rain;

With burning tears I laid the dust

And wailed with waters' roar.

I called on all the holy names

Of every clime and creed,

"Show me the way, in mercy, ye

Great ones who have reached the goal".

Years then passed in bitter cry,

Each moment seemed an age,

Till one day midst my cries and groans

Some one seemed calling me.

A gentle soft and soothing voice

That said "my son", "my son",

That seemed to thrill in unison

With all the chords of my soul.

I stood on my feet and tried to find

The place the voice came from;

I searched and searched and turned to see

Round me, before, behind.

Again, again it seemed to speak —

The voice divine to me.

In rapture all my soul was hushed,

Entranced, enthralled in bliss.

A flash illumined all my soul;

The heart of my heart opened wide.

O joy, O bliss, what do I find!

My love, my love, you are here,

And you are here, my love, my all!

And I was searching thee!

From all eternity you were there

Enthroned in majesty!

From that day forth, where'er I roam,

I feel Him standing by

O'er hill and dale, high mount and vale,

Far far away and high.

The moon's soft light, the stars so bright,

The glorious orb of day,

He shines in them; His beauty — might —

Reflected lights are they.

The majestic morn, the melting eve,

The boundless billowy sea,

In nature's beauty, songs of birds,

I see through them — it is He.

When dire calamity seizes me,

The heart seems weak and faint,

All nature seems to crush me down,

With laws that never bend.

Meseems I hear Thee whispering sweet

My love, "I am near", "I am near".

My heart gets strong. With Thee, my love,

A thousand deaths no fear.

Thou speakest in the mother's lay

That shuts the baby's eye;

When innocent children laugh and play

I see Thee standing by.

When holy friendship shakes the hand,

He stands between them too;

He pours the nectar in mother's kiss

And the baby's sweet "mama".

Thou wert my God with prophets old;

All creeds do come from Thee;

The Vedas, Bible, and Koran bold

Sing Thee in harmony.

"Thou art", "Thou art" the Soul of souls

In the rushing stream of life.

"Om tat Sat om." (Tat Sat means that only real existence. [Swamiji's note].) Thou art my God.

My love, I am thine, I am thine.


Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.