Tentang Bhakti-Yoga
Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.
AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.
Bahasa Indonesia
Bhakti-Yoga adalah jalan pengabdian yang tersistematisasi untuk mencapai persatuan dengan Yang Mutlak. Ini adalah jalan paling mudah dan paling pasti menuju agama atau realisasi spiritual.
Cinta kepada Tuhan adalah satu-satunya hal yang sangat penting untuk mencapai kesempurnaan di jalan ini.
Ada lima tahapan cinta.
Pertama, manusia menginginkan pertolongan dan memiliki sedikit rasa takut.
Kedua, ketika Tuhan dipandang sebagai Bapa.
Ketiga, ketika Tuhan dipandang sebagai Ibu. Maka semua perempuan dipandang sebagai cerminan Tuhan-Ibu. Dengan gagasan Tuhan-Ibu, cinta sejati mulai bersemi.
Keempat, cinta demi cinta itu sendiri. Cinta demi cinta melampaui segala kualitas.
Kelima, cinta dalam persatuan Ilahi. Ini mengarah pada keesaan atau superkesadaran.
Tuhan bersifat Personal sekaligus Impersonal, sebagaimana kita bersifat personal dan impersonal.
Doa dan pujian adalah sarana pertumbuhan yang pertama. Mengulang-ulang nama-nama Tuhan memiliki kekuatan yang luar biasa.
Mantra adalah kata-kata khusus, atau teks suci, atau nama Tuhan yang dipilih oleh Guru untuk diulang dan direnungkan oleh sang murid. Murid harus berkonsentrasi pada satu kepribadian untuk doa dan pujian, dan itulah Ishta-nya.
Kata-kata ini (Mantra) bukanlah sekadar bunyi kata-kata, melainkan Tuhan itu sendiri, dan kita memilikinya di dalam diri kita. Pikirkan Dia, bicaralah tentang Dia. Jangan ada keinginan akan dunia! Khotbah di Bukit versi Buddha adalah, "Sebagaimana engkau berpikir, demikianlah adanya engkau."
Setelah mencapai superkesadaran, sang Bhakta (pemuja) kembali turun menuju cinta dan pemujaan.
Cinta yang murni tidak memiliki motif. Tidak ada yang ingin diperolehnya.
Setelah doa dan pujian, datanglah meditasi. Kemudian datanglah perenungan atas nama dan atas Ishta dari masing-masing individu.
Berdoalah agar manifestasi yang merupakan Bapa kita, Ibu kita, sudi memutus ikatan-ikatan kita.
Berdoalah, "Tuntunlah kami dengan tangan-Mu sebagaimana seorang bapa menuntun anaknya, dan janganlah tinggalkan kami."
Berdoalah, "Aku tidak menginginkan kekayaan atau keindahan, dunia ini atau dunia lain, melainkan hanya Engkau, wahai Tuhan! Ya Tuhan! Aku telah menjadi lelah. Oh, tuntunlah aku dengan tangan-Mu, ya Tuhan, aku berlindung kepada-Mu. Jadikanlah aku hamba-Mu. Jadilah Engkau tempat perlindunganku."
Berdoalah, "Engkau Bapa kami, Ibu kami, Sahabat kami yang paling terkasih! Engkau yang menanggung alam semesta ini, bantulah kami untuk menanggung beban kecil kehidupan kami ini. Janganlah tinggalkan kami. Semoga kami tidak pernah terpisah dari-Mu. Semoga kami selalu berdiam dalam diri-Mu."
Ketika cinta kepada Tuhan terungkap dan menjadi segalanya, dunia ini tampak seperti setetes air.
Beralih dari ketiadaan menuju keberadaan, dari kegelapan menuju cahaya.
English
Bhakti-Yoga is the path of systematised devotion for the attainment of union with the Absolute. It is the easiest and surest path to religion or realisation.
Love to God is the one essential to be perfect in this path.
There are five stages of love.
First, man wants help and has a little fear.
Second, when God is seen as Father.
Third, when God is seen as Mother. Then all women are looked upon as reflections of the Mother-god. With the idea of Mother-god real love begins.
Fourth, love for love's sake. Love for love's sake transcends all qualities.
Fifth, love in Divine-union. It leads to oneness or superconsciousness.
God is both Personal and Impersonal as we are personal and impersonal.
Prayer and praise are the first means of growth. Repeating the names of God has wonderful power.
Mantra is a special word, or sacred text, or name of God choosen by the Guru for repetition and reflection by the disciple. The disciple must concentrate on a personality for prayer and praise, and that is his Ishta.
These words (Mantras) are not sounds of words but God Himself, and we have them within us. Think of Him, speak of Him. No desire for the world! Buddhas's Sermon on the Mount was, "As thou thinkest, so art thou."
After attaining superconsiousness the Bhakta descends again to love and worship.
Pure love has no motive. It has nothing to gain.
After prayer and praise comes meditation. Then comes reflection on the name and on the Ishta of the individual.
Pray that that manifestation which is our Father, our Mother, may cut our bonds.
Pray, "Take us by the hand as a father takes his son, and leave us not."
Pray, "I do not want wealth or beauty, this world or another, but Thee, O God! Lord! I have become weary. Oh, take me by the hand, Lord, I take shelter with Thee. Make me Thy servant. Be Thou my refuge."
Pray, "Thou our Father, our Mother, our dearest Friend! Thou who bearest this universe, help us to bear the little burden of this our life. Leave us not. Let us never be separated from Thee. Let us always dwell in Thee."
When love to God is revealed and is all, this world appears like a drop.
Pass from non-existence to existence, from darkness to light.
Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.