Arsip Vivekananda

Balasan atas Sambutan Maharaja Khetri

Jilid4 essay
3,277 kata · 13 menit baca · Writings: Prose

Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.

AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.

Bahasa Indonesia

BALASAN ATAS PIDATO MAHARAJA KHETRI

INDIA — TANAH AGAMA

Selama Swamiji tinggal di Amerika, surat berikut dari Maharaja Khetri (Rajputana), bertanggal 4 Maret 1895, diterima oleh beliau:

Swamiji yang terhormat,

Sebagai pemimpin Durbar (sebuah perhimpunan resmi yang penuh kebesaran) yang diselenggarakan hari ini untuk tujuan khusus ini, saya merasa sangat bahagia menyampaikan kepada Anda, atas nama saya pribadi dan atas nama rakyat saya, ucapan terima kasih yang tulus dari Negara ini atas representasi Anda yang demikian layak terhadap agama Hindu pada Parlemen Agama-Agama yang diselenggarakan di Chicago, Amerika.

Saya tidak yakin bahwa asas-asas umum agama Hindu dapat diungkapkan secara lebih tepat dan lebih jernih dalam bahasa Inggris daripada apa yang telah Anda lakukan, dengan segala keterbatasan yang ditimbulkan oleh kekurangan alami bahasa itu sendiri.

Pengaruh tutur dan perilaku Anda di negeri-negeri asing tidak hanya menyebarkan kekaguman di antara orang-orang dari berbagai negara dan agama yang berbeda, tetapi juga memperakrabkan Anda dengan mereka, sehingga menunjang kemajuan cita-cita Anda yang tidak mementingkan diri sendiri. Hal ini sangat kami hargai dengan cara yang sulit diungkapkan, dan kami akan merasa lalai dalam kewajiban kami jika saya tidak menulis kepada Anda secara resmi, sekurang-kurangnya beberapa baris ini, untuk menyampaikan rasa syukur kami yang tulus atas segala jerih payah yang telah Anda tanggung dengan pergi ke negeri-negeri asing, dan untuk memaparkan dalam Parlemen Agama-Agama Amerika kebenaran-kebenaran dari agama kita yang purba dan yang selalu kita junjung tinggi. Sungguh selayaknya menjadi kebanggaan India bahwa ia telah berbahagia memperoleh keistimewaan memiliki wakil seandal Anda.

Ucapan terima kasih juga patut disampaikan kepada jiwa-jiwa mulia yang dengan upayanya berhasil menyelenggarakan Parlemen Agama-Agama, dan yang menyambut Anda dengan sangat antusias. Mengingat Anda sepenuhnya seorang asing di benua itu, perlakuan baik mereka kepada Anda lahir dari kecintaan mereka pada berbagai keutamaan yang Anda miliki, dan hal ini menunjukkan keluhuran budi mereka.

Bersama ini saya lampirkan dua puluh eksemplar tercetak dari surat ini, dan saya memohon agar, dengan menyimpan satu eksemplar untuk Anda sendiri, sudilah Anda membagikan eksemplar-eksemplar lain di antara para sahabat Anda.

Dengan salam hormat,

Saya tetap,

Yang setulus-tulusnya,

Raja Ajit Singh Bahadur dari Khetri.

Swamiji mengirimkan balasan berikut:

"Bilamana kebajikan surut, dan kejahatan mengangkat kepalanya, Aku menampakkan Diri-Ku untuk memulihkan kemuliaan agama" — demikianlah kata-kata, wahai Pangeran yang mulia, dari Yang Kekal di dalam Gita yang suci, yang menyuarakan nada utama dari pasang-surut yang berdenyut dari daya spiritual di alam semesta.

Perubahan-perubahan ini menampakkan dirinya berulang kali dalam irama yang khas, dan seperti setiap perubahan dahsyat lainnya, meskipun sedikit banyak mempengaruhi setiap partikel dalam lingkup tindakannya, ia menunjukkan akibatnya lebih kuat pada partikel-partikel yang secara alami peka terhadap dayanya.

Sebagaimana dalam pengertian semesta, keadaan purba adalah keadaan kesetaraan dari kekuatan-kekuatan kualitatif — gangguan terhadap keseimbangan ini dan segala pergulatan berikutnya untuk memperolehnya kembali menyusun apa yang kita sebut sebagai manifestasi alam, yakni alam semesta ini, dan keadaan itu tetap berlangsung selama kesetaraan purba belum tercapai — demikian pula, dalam pengertian terbatas di bumi kita sendiri, diferensiasi dan pasangannya yang tak terhindarkan, yakni pergulatan menuju homogenitas ini, harus terus ada selama umat manusia masih ada sebagai demikian, sehingga menciptakan kekhasan yang menonjol di antara pembagian etnis, sub-ras, bahkan sampai kepada individu-individu di seluruh penjuru dunia.

Oleh karena itu, di dunia pembagian dan keseimbangan yang berimbang ini, setiap bangsa, seakan-akan, merupakan dinamo menakjubkan untuk menyimpan dan menyalurkan suatu jenis energi tertentu, dan di antara segala kepemilikan lainnya, sifat khas itulah yang bersinar sebagai ciri istimewa ras itu. Dan sebagaimana setiap gejolak dalam bagian tertentu dari kodrat manusia, walaupun sedikit banyak mempengaruhi yang lain, mengguncang sampai ke kedalaman bangsa yang menjadi ciri khasnya, dan dari mana sebagai pusatnya gejolak itu biasanya bermula, maka setiap goncangan di dunia keagamaan pasti akan menghasilkan perubahan-perubahan besar di India, tanah yang berulang kali harus menjadi pusat gejolak-gejolak keagamaan yang berjangkauan luas; sebab, lebih daripada apa pun, India adalah tanah agama.

Setiap orang menyebut sebagai nyata hanya apa yang membantunya mewujudkan cita-citanya. Bagi orang yang berpikiran duniawi, segala sesuatu yang dapat ditukar menjadi uang adalah nyata, sedangkan yang tidak dapat ditukar demikian adalah tidak nyata. Bagi orang yang berjiwa menguasai, apa pun yang menunjang ambisinya untuk berkuasa atas sesamanya adalah nyata — selebihnya adalah kehampaan; dan manusia tidak menemukan apa pun dalam hal yang tidak menggemakan kembali detak jantung kecintaan khasnya dalam hidup.

Mereka yang satu-satunya tujuan hidupnya adalah menukar energi kehidupan dengan emas, atau nama, atau kenikmatan lainnya; mereka yang menganggap derap pasukan yang bersiap perang sebagai satu-satunya wujud kekuatan; mereka yang menganggap kenikmatan indra sebagai satu-satunya kebahagiaan yang dapat diberikan oleh kehidupan — bagi mereka India akan selamanya tampak sebagai padang gurun yang luas, yang setiap embusannya mematikan bagi perkembangan kehidupan sebagaimana mereka mengenalnya.

Akan tetapi bagi mereka yang dahaganya akan kehidupan telah dipadamkan untuk selamanya dengan minum dari sungai keabadian yang mengalir dari jauh di balik dunia indra, yang jiwanya telah membuang — sebagaimana ular membuang kulitnya — belenggu tiga lipat berupa nafsu, emas, dan ketenaran, yang dari ketinggian ketenangannya memandang dengan kasih dan iba pada pertikaian-pertikaian kecil, kecemburuan-kecemburuan, dan perkelahian-perkelahian untuk gelembung-gelembung berlapis emas yang terisi debu, yang disebut "kenikmatan" oleh mereka yang terbelenggu indra; bagi mereka yang himpunan daya perbuatan baiknya yang lampau telah menyebabkan sisik ketidaktahuan jatuh dari mata mereka, sehingga membuat mereka melihat tembus kehampaan nama dan rupa — bagi mereka, di mana pun mereka berada, India, sang ibu pertiwi dan tambang keabadian spiritualitas, berdiri terjelmakan, sebuah mercusuar harapan bagi setiap orang yang mencari Dia yang merupakan satu-satunya Ada yang nyata di dalam alam semesta bayang-bayang yang sirna.

Sebagian besar umat manusia hanya dapat memahami kekuatan apabila kekuatan itu disajikan kepada mereka dalam bentuk yang konkret, sesuai dengan persepsi mereka. Bagi mereka, gegap-gempita dan luapan perang, dengan kekuatan dan pesonanya, adalah sesuatu yang sangat kasat mata, dan setiap manifestasi kehidupan yang tidak datang seperti angin puyuh yang menerjang segalanya, bagi mereka serupa dengan kematian. Dan India, yang selama berabad-abad bersimpuh di kaki para penakluk asing, tanpa gagasan atau harapan perlawanan, tanpa secuil pun solidaritas di antara massa rakyatnya, tanpa sedikit pun gagasan kebangsaan, niscaya tampak bagi mereka seperti tanah tulang-belulang yang membusuk, sekumpulan massa tak bernyawa yang membusuk.

Dikatakan — hanya yang paling layaklah yang bertahan. Bagaimana kalau begitu, ras yang menurut anggapan umum paling tidak layak ini dapat menanggung kemalangan paling mengerikan yang pernah menimpa suatu ras, dan toh tidak menunjukkan tanda kemerosotan sedikit pun? Bagaimana mungkin, sementara daya berkembang biak dari ras-ras yang disebut-sebut sebagai gagah perkasa itu menyusut setiap hari, justru orang Hindu yang (katanya) tidak bermoral itu menunjukkan daya pertumbuhan yang melampaui semuanya? Pujian besar memang layak diberikan kepada mereka yang dapat membanjiri dunia dengan darah dalam sekejap; sungguh besar pula kemuliaan mereka yang, demi menjaga beberapa juta penduduknya tetap kenyang dan berlimpah, harus membuat separuh penduduk bumi kelaparan, namun bukankah pujian patut diberikan pula kepada mereka yang dapat memelihara ratusan juta orang dalam damai dan keberlimpahan, tanpa merampas sesuap roti dari mulut siapa pun? Tidakkah ada kekuatan yang ditunjukkan dalam membesarkan dan membimbing nasib jutaan demi jutaan manusia, melalui ratusan abad, tanpa sedikit pun kekerasan kepada pihak lain?

Para mitolog dari segala ras purba memberi kita dongeng-dongeng tentang pahlawan yang seluruh hidupnya terpusatkan pada bagian kecil tertentu dari tubuhnya, dan selama bagian itu belum disentuh ia tetap kebal. Tampaknya, setiap bangsa pun memiliki pusat kehidupan yang khas seperti itu, dan selama pusat itu tetap tak tersentuh, betapapun banyaknya kesengsaraan dan kemalangan, tidak dapat menghancurkannya.

Di dalam agama terletak daya hidup India, dan selama bangsa Hindu tidak melupakan pusaka agung para leluhurnya, tiada kekuatan di bumi ini yang dapat memusnahkannya.

Dewasa ini setiap orang menyalahkan mereka yang terus-menerus menengok ke masa lampaunya. Dikatakan bahwa terlalu banyak menengok ke masa lampau adalah penyebab segala penderitaan India. Bagi saya, sebaliknya, justru kebalikannya yang benar. Selama mereka melupakan masa lampaunya, bangsa Hindu tetap berada dalam keadaan lesu; dan begitu mereka mulai memandang ke masa lampaunya, di setiap pihak terlihat manifestasi kehidupan yang baru. Dari masa lampau inilah masa depan harus ditempa; masa lampau ini akan menjadi masa depan.

Oleh karena itu, semakin orang-orang Hindu mempelajari masa lampaunya, semakin gemilang pula masa depannya, dan siapa pun yang berusaha membawa masa lampau itu ke depan pintu setiap orang, ia adalah penolong besar bagi bangsanya. Kemerosotan India bukan terjadi karena hukum dan adat para leluhur itu buruk, melainkan karena hukum dan adat itu tidak dibiarkan untuk dibawa ke kesimpulan-kesimpulannya yang sah.

Setiap pelajar yang kritis tahu bahwa hukum-hukum sosial India selalu mengalami perubahan-perubahan besar yang berkala. Pada permulaannya, hukum-hukum itu merupakan perwujudan dari suatu rencana raksasa yang akan terbuka dengan perlahan melalui perjalanan waktu. Para peresi agung India purba melihat begitu jauh ke depan zaman mereka, sehingga dunia harus menunggu berabad-abad lamanya untuk menghargai kebijaksanaan mereka, dan justru ketidakmampuan keturunan mereka sendiri untuk menghargai cakupan penuh dari rencana yang menakjubkan inilah satu-satunya sebab kemerosotan India.

India purba selama berabad-abad menjadi medan pertempuran bagi proyek-proyek ambisius dari dua di antara golongan utamanya — para Brahmana dan para Kshatriya.

Di satu pihak, para pendeta berdiri menghalangi tirani sosial tanpa hukum dari para pangeran terhadap massa rakyat yang oleh kaum Kshatriya dinyatakan sebagai mangsa sah mereka. Di lain pihak, kekuasaan Kshatriya adalah satu-satunya kekuatan ampuh yang dengan sedikit berhasil melawan tirani spiritual para pendeta dan rantai upacara yang terus-menerus mereka tempa untuk membelenggu rakyat.

Tarik-menarik ini bermula pada masa paling awal sejarah bangsa kita, dan sepanjang Shruti hal itu dapat dilacak dengan jelas. Suatu jeda sesaat tiba ketika Shri Krishna, yang memimpin pihak kekuasaan Kshatriya dan jnana (pengetahuan spiritual), menunjukkan jalan rekonsiliasi. Hasilnya adalah ajaran Gita — sari pati filsafat, kemurahan, dan agama. Namun sebab-sebabnya masih ada, dan akibatnya harus menyusul.

Ambisi kedua golongan ini untuk menjadi tuan atas rakyat miskin dan tidak berpendidikan masih ada, dan pertikaian sekali lagi menjadi sengit. Sastra yang sedikit yang sampai kepada kita dari masa itu hanya membawakan gema samar dari pertikaian besar di masa lampau itu, tetapi akhirnya hal itu pecah sebagai kemenangan bagi para Kshatriya, kemenangan bagi jnana, bagi kebebasan — dan upacara harus mundur, banyak di antaranya untuk selama-lamanya. Gejolak ini dikenal sebagai pembaruan Buddhis. Pada sisi keagamaan, ia mewakili pembebasan dari upacara; pada sisi politik, penggulingan kependetaan oleh kaum Kshatriya.

Adalah fakta yang berarti bahwa dua manusia teragung yang dihasilkan India purba keduanya adalah Kshatriya — Krishna dan Buddha — dan yang lebih berarti lagi adalah fakta bahwa kedua manusia-Tuhan ini membuka pintu pengetahuan bagi setiap orang, tanpa memandang kelahiran atau jenis kelamin.

Meskipun memiliki kekuatan moral yang menakjubkan, agama Buddha sangat ikonoklastis; dan karena sebagian besar kekuatannya terkuras hanya pada upaya-upaya negatif belaka, ia harus padam di tanah kelahirannya, dan apa yang tersisa darinya menjadi penuh dengan takhayul dan upacara, seratus kali lebih kasar daripada apa yang hendak ditekannya. Walaupun secara sebagian ia berhasil menumpas korban hewan dalam Veda, ia justru memenuhi tanah ini dengan kuil-kuil, arca-arca, lambang-lambang, dan tulang-belulang para suci.

Lebih daripada itu, dalam percampuran antara orang Arya, bangsa Mongol, dan suku-suku pribumi yang ditimbulkannya, secara tidak sadar ia membuka jalan kepada beberapa Vamachara yang mengerikan. Hal inilah terutama yang menjadi alasan mengapa parodi terhadap ajaran Sang Guru Agung itu harus diusir dari India oleh Shri Shankara dan rombongan sannyasin (pertapa pelepas dunia) -nya.

Demikianlah, bahkan arus kehidupan yang digerakkan oleh jiwa teragung yang pernah mengenakan wujud manusia, yakni Bhagavan Buddha sendiri, menjadi kolam berbau busuk, dan India harus menunggu berabad-abad sampai Shankara muncul, disusul dengan cepat oleh Ramanuja dan Madhva.

Pada saat itu, sebuah bab yang sama sekali baru telah terbuka dalam sejarah India. Para Kshatriya dan Brahmana purba telah lenyap. Tanah di antara Himalaya dan Vindhya, kediaman para Arya, tanah yang melahirkan Krishna dan Buddha, tempat persemaian para Rajarshi dan Brahmarshi besar, menjadi senyap, dan dari ujung paling jauh Semenanjung India, dari ras-ras yang berlainan dalam bahasa dan rupa, dari keluarga-keluarga yang mengaku berasal dari para Brahmana purba, datanglah reaksi terhadap agama Buddha yang telah rusak.

Dalam gerakan Buddhis, para Kshatriyalah pemimpin sesungguhnya, dan seluruh massa kelompok mereka menjadi Buddhis. Dalam semangat pembaruan dan pertobatan, dialek-dialek rakyat hampir secara eksklusif digarap dengan mengabaikan bahasa Sanskerta, dan sebagian besar kaum Kshatriya menjadi terputus dari sastra Veda dan keilmuan Sanskerta. Maka gelombang pembaruan ini, yang datang dari Selatan, hanya menguntungkan kependetaan sampai batas tertentu, dan hanya para pendeta. Bagi sisa berjuta-juta penduduk India, gelombang itu menempa lebih banyak rantai daripada yang pernah mereka kenal sebelumnya.

Para Kshatriya selalu menjadi tulang punggung India, dan juga merupakan pendukung ilmu pengetahuan dan kebebasan, dan suara mereka berulang kali menggema untuk membersihkan tanah ini dari takhayul; dan sepanjang sejarah India, mereka senantiasa menjadi penghalang yang tidak tertembus terhadap tirani kependetaan yang agresif.

Ketika sebagian besar dari mereka tenggelam dalam ketidaktahuan, dan sebagian lainnya mencampur darah mereka dengan suku-suku biadab dari Asia Tengah dan meminjamkan pedang mereka untuk menegakkan kekuasaan para pendeta di India, maka penuhlah piala India sampai ke tepi, dan tenggelamlah tanah Bharata (India), untuk tidak bangkit kembali sampai sang Kshatriya membangunkan dirinya sendiri, dan dengan membebaskan dirinya sendiri, mematahkan rantai dari kaki yang lain. Akal-akalan kependetaan adalah racun India. Mungkinkah manusia merendahkan saudaranya, dan ia sendiri lolos dari kerendahan?

Ketahuilah, Rajaji, kebenaran teragung dari semua kebenaran yang ditemukan oleh nenek moyang Anda adalah bahwa alam semesta itu satu. Mungkinkah seorang melukai siapa pun tanpa melukai dirinya sendiri? Tumpukan tirani Brahmana dan Kshatriya telah berbalik menghantam kepala mereka sendiri dengan bunga berlipat ganda; dan seribu tahun perbudakan serta kemerosotan adalah apa yang dijatuhkan oleh hukum karma (hukum tindakan dan akibatnya) yang tak terelakkan atas diri mereka.

Inilah yang dikatakan oleh salah seorang nenek moyang Anda: "Bahkan dalam hidup ini, mereka telah menaklukkan relativitas yang pikirannya tertambat dalam kesetaraan" — yang dipercaya sebagai Tuhan yang menjelma. Kita semua mempercayainya. Akankah perkataan-Nya hampa dan tanpa makna? Jika tidak, dan kita tahu bahwa tidak, maka setiap upaya yang menentang kesetaraan sempurna dari segala ciptaan, tanpa memandang kelahiran, jenis kelamin, ataupun kualifikasi, adalah kekeliruan yang mengerikan, dan tidak seorang pun dapat diselamatkan sampai ia mencapai gagasan kesetaraan ini.

Maka, ikutilah, wahai Pangeran yang mulia, ajaran Vedanta, bukan sebagaimana dijelaskan oleh penafsir ini atau itu, melainkan sebagaimana Tuhan di dalam Anda memahaminya. Lebih daripada segalanya, ikutilah doktrin kesetaraan yang agung ini dalam segala hal, dalam segala makhluk, sehingga Anda melihat Tuhan yang sama di dalam segala-galanya.

Inilah jalan menuju kebebasan; ketidaksetaraan adalah jalan menuju perbudakan. Tidak seorang pun, dan tidak satu bangsa pun, dapat berusaha memperoleh kebebasan jasmani tanpa kesetaraan jasmani, ataupun kebebasan mental tanpa kesetaraan mental.

Ketidaktahuan, ketidaksetaraan, dan hasrat adalah tiga sebab penderitaan manusia, dan masing-masing menyusul yang lain dalam persatuan yang tak terelakkan. Mengapa seorang manusia harus menganggap dirinya berada di atas manusia lain, bahkan di atas seekor hewan sekalipun? Hal itu sama berlakunya bagi segalanya:

त्वं स्त्री त्वं पुमानसि त्वं कुमार उत वा कुमारी।

—"Engkaulah laki-laki itu, Engkaulah perempuan itu, Engkaulah pemuda itu, Engkaulah pemudi itu."

Banyak orang akan berkata, "Itu memang baik bagi para sannyasin, tetapi kami adalah kepala keluarga." Tidak diragukan lagi, seorang kepala keluarga, yang memiliki banyak kewajiban lain untuk dijalankan, tidak dapat sepenuhnya mencapai kesetaraan ini; namun ini hendaknya juga menjadi cita-cita mereka, sebab inilah cita-cita semua masyarakat, semua umat manusia, semua hewan, dan semua alam, yakni mencapai kesetaraan ini. Tetapi sayang! mereka mengira ketidaksetaraan adalah jalan untuk mencapai kesetaraan, seolah-olah mereka dapat sampai pada yang benar dengan berbuat salah!

Inilah racun kodrat manusia, kutukan atas umat manusia, akar segala penderitaan — ketidaksetaraan ini. Inilah sumber segala perbudakan, baik jasmani, mental, maupun spiritual.

समं पश्यन् हि सर्वत्र समवस्थितमीश्वरम् ।

न हिनस्त्यात्मनात्मानं ततो याति परां गतिम् ॥

समं पश्यन् हि सर्वत्र समवस्थितमीश्वरम् ।

न हिनस्त्यात्मनात्मानं ततो याति परां गतिम् ॥

— "Sebab dengan melihat Tuhan ada secara setara di mana-mana, ia tidak melukai Diri dengan diri, dan dengan demikian pergi menuju Tujuan Tertinggi" (Gita, XIII. 28). Satu sabda ini saja mengandung, dalam beberapa patah kata, jalan universal menuju keselamatan.

Anda, kaum Rajput, telah menjadi kebanggaan India purba. Dengan kemerosotan Anda datanglah kemerosotan nasional, dan India hanya dapat diangkat kembali jika keturunan kaum Kshatriya bekerja sama dengan keturunan kaum Brahmana, bukan untuk berbagi rampasan harta dan kuasa, melainkan untuk menolong yang lemah, mencerahkan yang tidak tahu, dan memulihkan kembali kemuliaan tanah suci para leluhur mereka yang telah hilang.

Dan siapakah yang dapat menyangkal bahwa waktunya kini telah berpihak? Sekali lagi roda berputar ke atas, sekali lagi getaran telah digerakkan dari India, yang ditakdirkan pada hari yang tidak jauh akan menjangkau batas terjauh bumi. Satu suara telah berbicara, yang gemanya bergulir dan menghimpun kekuatannya setiap hari, suara yang bahkan lebih dahsyat daripada suara-suara yang mendahuluinya, sebab ia adalah penjumlahan dari semuanya. Sekali lagi suara yang berbicara kepada para resi di tepi Sungai Sarasvati, suara yang gemanya bergaung dari puncak ke puncak "Bapa segala Gunung", dan turun ke dataran melalui Krishna, Buddha, dan Chaitanya dalam banjir yang membawa segalanya, kini telah berbicara kembali. Sekali lagi pintu-pintu telah terbuka. Masuklah kalian ke dalam alam cahaya, gerbang-gerbang telah dibuka lebar sekali lagi.

Dan Anda, Pangeran yang saya kasihi — Anda, keturunan dari suatu ras yang merupakan pilar-pilar hidup yang menopang agama yang kekal, yakni para pembela dan penolongnya yang setia, keturunan Rama dan Krishna, akankah Anda tetap berdiri di luar? Saya tahu, hal ini tidak mungkin. Tangan Anda, saya yakin, akan menjadi tangan pertama yang terulur untuk menolong agama sekali lagi. Dan apabila saya memikirkan Anda, Raja Ajit Singh, seorang yang dalam dirinya pencapaian-pencapaian ilmiah keluarga Anda yang terkenal disatukan dengan kemurnian watak yang patut dibanggakan oleh seorang suci, dengan kasih yang tak berbatas terhadap kemanusiaan, saya tidak dapat menahan diri untuk percaya pada kebangkitan kembali yang gilang-gemilang dari agama yang kekal, ketika tangan-tangan seperti itu bersedia membangunnya kembali.

Semoga berkat Ramakrishna menyertai Anda dan keluarga Anda untuk selama-lamanya, dan semoga Anda dipanjangkan umurnya untuk kebaikan banyak orang, dan untuk menyebarkan kebenaran, demikianlah doa tetap dari —

English

REPLY TO THE ADDRESS OF THE MAHARAJA OF KHETRI

INDIA — THE LAND OF RELIGION

During the residence of the Swamiji in America, the following Address from the Maharaja of Khetri (Rajputana), dated March 4th, 1895, was received by him:

My dear Swamiji,

As the head of this Durbar (a formal stately assemblage) held today for this special purpose, I have much pleasure in conveying to you, in my own name and that of my subjects, the heartfelt thanks of this State for your worthy representation of Hinduism at the Parliament of Religions, held at Chicago, in America.

I do not think the general principles of Hinduism could be expressed more accurately and clearly in English than what you have done, with all the restrictions imposed by the very natural shortcomings of language itself.

The influence of your speech and behaviour in foreign lands has not only spread admiration among men of different countries and different religions, but has also served to familiarise you with them, to help in the furtherance of your unselfish cause. This is very highly and inexpressibly appreciated by us all, and we should feel to be failing in our duty, were I not to write to you formally at least these few lines, expressing our sincere gratitude for all the trouble you have taken in going to foreign countries, and to expound in the American Parliament of Religions the truths of our ancient religion which we ever hold so dear. It is certainly applicable to the pride of India that it has been fortunate in possessing the privilege of having secured so able a representative as yourself.

Thanks are also due to those noble souls whose efforts succeeded in organising the Parliament of Religions, and who accorded to you a very enthusiastic reception. As you were quite a foreigner in that continent, their kind treatment of you is due to their love of the several qualifications you possess, and this speaks highly of their noble nature.

I herewith enclose twenty printed copies of this letter and have to request that, keeping this one with yourself you will kindly distribute the other copies among your friends.

With best regards,

I remain,

Yours very sincerely,

Raja Ajit Singh Bahadur of Khetri .

The Swamiji sent the following reply:

"Whenever virtue subsides, and wickedness raises its head, I manifest Myself to restore the glory of religion" — are the words, O noble Prince, of the Eternal One in the holy Gitâ, striking the keynote of the pulsating ebb and flow of the spiritual energy in the universe.

These changes are manifesting themselves again and again in rhythms peculiar to themselves, and like every other tremendous change, though affecting, more or less, every particle within their sphere of action, they show their effects more intensely upon those particles which are naturally susceptible to their power.

As in a universal sense, the primal state is a state of sameness of the qualitative forces — a disturbance of this equilibrium and all succeeding struggles to regain it, composing what we call the manifestation of nature, this universe, which state of things remains as long as the primitive sameness is not reached — so, in a restricted sense on our own earth, differentiation and its inevitable counterpart, this struggle towards homogeneity, must remain as long as the human race shall remain as such, creating strongly marked peculiarities between ethnic divisions, sub-races and even down to individuals in all parts of the world.

In this world of impartial division and balance, therefore, each nation represents, as it were, a wonderful dynamo for the storage and distribution of a particular species of energy, and amidst all other possessions that particular property shines forth as the special characteristic of that race. And as any upheaval in any particular part of human nature, though affecting others more or less, stirs to its very depth that nation of which it is a special characteristic, and from which as a centre it generally starts, so any commotion in the religious world is sure to produce momentous changes in India, that land which again and again has had to furnish the centre of the wide-spread religious upheavals; for, above all, India is the land of religion.

Each man calls that alone real which helps him to realise his ideal. To the worldly-minded, everything that can be converted into money is real, that which cannot be so converted is unreal. To the man of a domineering spirit, anything that will conduce to his ambition of ruling over his fellow men is real — the rest is naught; and man finds nothing in that which does not echo back the heartbeats of his special love in life.

Those whose only aim is to barter the energies of life for gold, or name, or any other enjoyment; those to whom the tramp of embattled cohorts is the only manifestation of power; those to whom the enjoyments of the senses are the only bliss that life can give — to these, India will ever appear as an immense desert whose every blast is deadly to the development of life, as it is known by them.

But to those whose thirst for life has been quenched for ever by drinking from the stream of immortality that flows from far away beyond the world of the senses, whose souls have cast away — as a serpent its slough — the threefold bandages of lust, gold, and fame, who, from their height of calmness, look with love and compassion upon the petty quarrels and jealousies and fights for little gilded puff-balls, filled with dust, called "enjoyment" by those under a sense-bondage; to those whose accumulated force of past good deeds has caused the scales of ignorance to fall off from their eyes, making them see through the vanity of name and form — to such wheresoever they be, India, the motherland and eternal mine of spirituality, stands transfigured, a beacon of hope to everyone in search of Him who is the only real Existence in a universe of vanishing shadows.

The majority of mankind can only understand power when it is presented to them in a concrete form, fitted to their perceptions. To them, the rush and excitement of war, with its power and spell, is something very tangible, and any manifestation of life that does not come like a whirlwind, bearing down everything before it, is to them as death. And India, for centuries at the feet of foreign conquerors, without any idea or hope of resistance, without the least solidarity among its masses, without the least idea of patriotism, must needs appear to such, as a land of rotten bones, a lifeless putrescent mass.

It is said — the fittest alone survive. How is it, then, that this most unfitted of all races, according to commonly accepted ideas, could bear the most awful misfortunes that ever befall a race, and yet not show the least signs of decay? How is it that, while the multiplying powers of the so-called vigorous and active races are dwindling every day, the immoral (?) Hindu shows a power of increase beyond them all? Great laurels are due, no doubt, to those who can deluge the world with blood at a moment's notice; great indeed is the glory of those who, to keep up a population of a few millions in plenty, have to starve half the population of the earth, but is no credit due to those who can keep hundreds of millions in peace and plenty, without snatching the bread from the mouth of anyone else? Is there no power displayed in bringing up and guiding the destinies of countless millions of human beings, through hundreds of centuries, without the least violence to others?

The mythologists of all ancient races supply us with fables of heroes whose life was concentrated in a certain small portion of their bodies, and until that was touched they remained invulnerable. It seems as if each nation also has such a peculiar centre of life, and so long as that remains untouched, no amount of misery and misfortune can destroy it.

In religion lies the vitality of India, and so long as the Hindu race do not forget the great inheritance of their forefathers, there is no power on earth to destroy them.

Nowadays everybody blames those who constantly look back to their past. It is said that so much looking back to the past is the cause of all India's woes. To me, on the contrary, it seems that the opposite is true. So long as they forgot the past, the Hindu nation remained in a state of stupor; and as soon as they have begun to look into their past, there is on every side a fresh manifestation of life. It is out of this past that the future has to be moulded; this past will become the future.

The more, therefore, the Hindus study the past, the more glorious will be their future, and whoever tries to bring the past to the door of everyone, is a great benefactor to his nation. The degeneration of India came not because the laws and customs of the ancients were bad, but because they were not allowed to be carried to their legitimate conclusions.

Every critical student knows that the social laws of India have always been subject to great periodic changes. At their inception, these laws were the embodiment of a gigantic plan, which was to unfold itself slowly through time. The great seers of ancient India saw so far ahead of their time that the world has to wait centuries yet to appreciate their wisdom, and it is this very inability on the part of their own descendants to appreciate the full scope of this wonderful plan that is the one and only cause of the degeneration of India.

Ancient India had for centuries been the battlefield for the ambitious projects of two of her foremost classes — the Brâhmins and the Kshatriyas.

On the one hand, the priesthood stood between the lawless social tyranny of the princes over the masses whom the Kshatriyas declared to be their legal food. On the other hand, the Kshatriya power was the one potent force which struggled with any success against the spiritual tyranny of the priesthood and the ever-increasing chain of ceremonials which they were forging to bind down the people with.

The tug of war began in the earliest periods of the history of our race, and throughout the Shrutis it can be distinctly traced. A momentary lull came when Shri Krishna, leading the faction of Kshatriya power and of Jnâna, showed the way to reconciliation. The result was the teachings of the Gita — the essence of philosophy, of liberality, of religion. Yet the causes were there, and the effect must follow.

The ambition of these two classes to be the masters of the poor and ignorant was there, and the strife once more became fierce. The meagre literature that has come down to us from that period brings to us but faint echoes of that mighty past strife, but at last it broke out as a victory for the Kshatriyas, a victory for Jnana, for liberty — and ceremonial had to go down, much of it for ever. This upheaval was what is known as the Buddhistic reformation. On the religious side, it represented freedom from ceremonial; on the political side, overthrow of the priesthood by the Kshatriyas.

It is a significant fact that the two greatest men ancient India produced, were both Kshatriyas — Krishna and Buddha — and still more significant is the fact that both of these God-men threw open the door of knowledge to everyone, irrespective of birth or sex.

In spite of its wonderful moral strength, Buddhism was extremely iconoclastic; and much of its force being spent in merely negative attempts, it had to die out in the land of its birth, and what remained of it became full of superstitions and ceremonials, a hundred times cruder than those it was intended to suppress. Although it partially succeeded in putting down the animal sacrifices of the Vedas, it filled the land with temples, images, symbols, and bones of saints.

Above all, in the medley of Aryans, Mongols, and aborigines which it created, it unconsciously led the way to some of the hideous Vâmâchâras. This was especially the reason why this travesty of the teaching of the great Master had to be driven out of India by Shri Shankara and his band of Sannyâsins.

Thus even the current of life, set in motion by the greatest soul that ever wore a human form, the Bhagavân Buddha himself, became a miasmatic pool, and India had to wait for centuries until Shankara arose, followed in quick succession by Râmânuja and Madhva.

By this time, an entirely new chapter had opened in the history of India. The ancient Kshatriyas and the Brahmins had disappeared. The land between the Himalayas and the Vindhyas, the home of the Âryas, the land which gave birth to Krishna and Buddha, the cradle of great Râjarshis and Brahmarshis, became silent, and from the very farther end of the Indian Peninsula, from races alien in speech and form, from families claiming descent from the ancient Brahmins, came the reaction against the corrupted Buddhism.

In the Buddhistic movement, the Kshatriyas were the real leaders, and whole masses of them became Buddhists. In the zeal of reform and conversion, the popular dialects had been almost exclusively cultivated to the neglect of Sanskrit, and the larger portion of Kshatriyas had become disjointed from the Vedic literature and Sanskrit learning. Thus this wave of reform, which came from the South, benefited to a certain extent the priesthood, and the priests only. For the rest of India's millions, it forged more chains than they had ever known before.

The Kshatriyas had always been the backbone of India, so also they had been the supporters of science and liberty, and their voices had rung out again and again to clear the land from superstitions; and throughout the history of India they ever formed the invulnerable barrier to aggressive priestly tyranny.

When the greater part of their number sank into ignorance, and another portion mixed their blood with savages from Central Asia and lent their swords to establish the rules of priests in India, her cup became full to the brim, and down sank the land of Bharata, not to rise again, until the Kshatriya rouses himself, and making himself free, strikes the chains from the feet of the rest. Priestcraft is the bane of India. Can man degrade his brother, and himself escape degradation?

Know, Rajaji, the greatest of all truths, discovered by your ancestors, is that the universe is one. Can one injure anyone without injuring himself? The mass of Brahmin and Kshatriya tyranny has recoiled upon their own heads with compound interest; and a thousand years of slavery and degradation is what the inexorable law of Karma is visiting upon them.

This is what one of your ancestors said: "Even in this life, they have conquered relativity whose mind is fixed in sameness" — one who is believed to be God incarnate. We all believe it. Are his words then vain and without meaning? If not, and we know they are not, any attempt against this perfect equality of all creation, irrespective of birth, sex, or even qualification, is a terrible mistake, and no one can be saved until he has attained to this idea of sameness.

Follow, therefore, noble Prince, the teachings of the Vedanta, not as explained by this or that commentator, but as the Lord within you understands them. Above all, follow this great doctrine of sameness in all things, through all beings, seeing the same God in all.

This is the way to freedom; inequality, the way to bondage. No man and no nation can attempt to gain physical freedom without physical equality, nor mental freedom without mental equality.

Ignorance, inequality, and desire are the three causes of human misery, and each follows the other in inevitable union. Why should a man think himself above any other man, or even an animal? It is the same throughout:

त्वं स्त्री त्वं पुमानसि त्वं कुमार उत वा कुमारी।

—"Thou art the man, Thou the woman, Thou art the young man, Thou the young woman."

Many will say, "That is all right for the Sannyasins, but we are householders." No doubt, a householder having many other duties to perform, cannot as fully attain to this sameness; yet this should be also their ideal, for it is the ideal of all societies, of all mankind, all animals, and all nature, to attain to this sameness. But alas! they think inequality is the way to attain equality as if they could come to right by doing wrong!

This is the bane of human nature, the curse upon mankind, the root of all misery — this inequality. This is the source of all bondage, physical, mental, and spiritual.

समं पश्यन् हि सर्वत्र समवस्थितमीश्वरम् ।

न हिनस्त्यात्मनात्मानं ततो याति परां गतिम् ॥

समं पश्यन् हि सर्वत्र समवस्थितमीश्वरम् ।

न हिनस्त्यात्मनात्मानं ततो याति परां गतिम् ॥

— "Since seeing the Lord equally existent everywhere he injures not Self by self, and so goes to the Highest Goal" (Gita, XIII. 28). This one saying contains, in a few words, the universal way to salvation.

You, Rajputs, have been the glories of ancient India. With your degradation came national decay, and India can only be raised if the descendants of the Kshatriyas co-operate with the descendants of the Brahmins, not to share the spoils of pelf and power, but to help the weak to enlighten the ignorant, and to restore the lost glory of the holy land of their forefathers.

And who can say but that the time is propitious? Once more the wheel is turning up, once more vibrations have been set in motion from India, which are destined at no distant day to reach the farthest limits of the earth. One voice has spoken, whose echoes are rolling on and gathering strength every day, a voice even mightier than those which have preceded it, for it is the summation of them all. Once more the voice that spoke to the sages on the banks of the Sarasvati, the voice whose echoes reverberated from peak to peak of the "Father of Mountains", and descended upon the plains through Krishna Buddha, and Chaitanya in all-carrying floods, has spoken again. Once more the doors have opened. Enter ye into the realms of light, the gates have been opened wide once more.

And you, my beloved Prince — you the scion of a race who are the living pillars upon which rests the religion eternal, its sworn defenders and helpers, the descendants of Râma and Krishna, will you remain outside? I know, this cannot be. Yours, I am sure, will be the first hand that will be stretched forth to help religion once more. And when I think of you, Raja Ajit Singh, one in whom the well-known scientific attainments of your house have been joined to a purity of character of which a saint ought to be proud, to an unbounded love for humanity, I cannot help believing in the glorious renaissance of the religion eternal, when such hands are willing to rebuild it again.

May the blessings of Ramakrishna be on you and yours for ever and ever, and that you may live long for the good of many, and for the spread of truth is the constant prayer of —


Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.