Kristus, Sang Utusan
Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.
AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.
Bahasa Indonesia
KRISTUS, SANG UTUSAN
(Disampaikan di Los Angeles, California, 1900)
Gelombang naik di samudra, lalu terbentuk cekungan. Kemudian gelombang lain naik, mungkin lebih besar daripada yang sebelumnya, untuk kembali turun, dan serupa itu, kembali naik — terus bergerak ke depan. Dalam perjalanan peristiwa, kita menyaksikan kebangkitan dan keruntuhan, dan kita umumnya hanya memandang kepada kebangkitan, sambil melupakan keruntuhan. Akan tetapi keduanya niscaya, dan keduanya agung. Inilah hakikat alam semesta. Baik dalam dunia pikiran kita, dunia hubungan kita dalam masyarakat, maupun dalam urusan rohani kita, gerak pergiliran yang sama, pasang dan surut yang sama, sedang berlangsung. Oleh karena itu, dalam perjalanan peristiwa, kekuatan-kekuatan besar yang mendominasi, cita-cita yang liberal, ditempatkan di garis depan, kemudian turun, seolah-olah mencerna, merenungi masa lalu — untuk menyesuaikan diri, untuk melestarikan, untuk mengumpulkan kekuatan sekali lagi demi kebangkitan dan kebangkitan yang lebih besar.
Sejarah bangsa-bangsa pun selalu seperti itu. Jiwa agung, Utusan yang akan kita pelajari sore ini, datang pada suatu masa dalam sejarah bangsanya yang sepatutnya kita sebut sebagai suatu kejatuhan besar. Kita hanya menangkap sedikit cuplikan di sana sini dari catatan-catatan yang tercerai-berai mengenai ucapan dan perbuatannya; sebab sungguh telah dikatakan dengan baik, bahwa perbuatan dan ucapan jiwa agung itu akan memenuhi dunia seandainya semuanya dituliskan. Dan tiga tahun pelayanannya bagaikan satu zaman yang dipadatkan dan dipekatkan, yang membutuhkan sembilan belas abad untuk diuraikan, dan siapa tahu berapa lama lagi yang masih diperlukan! Orang-orang kecil seperti Anda dan saya hanyalah penerima sedikit energi. Beberapa menit, beberapa jam, paling banyak beberapa tahun, sudah cukup untuk menghabiskan seluruhnya, untuk meregangkannya, seolah-olah, hingga kekuatannya yang paling penuh, dan kemudian kita pergi untuk selamanya. Akan tetapi perhatikanlah raksasa yang datang ini; abad-abad dan zaman-zaman berlalu, namun energi yang ia tinggalkan di dunia belum pula tertekan habis, belum pula terhabiskan sampai penuh. Energi itu terus menambah daya baru seiring bergulirnya zaman.
Nah, apa yang Anda lihat dalam kehidupan Kristus adalah kehidupan dari seluruh masa lalu. Kehidupan setiap manusia, dalam suatu cara, adalah kehidupan masa lalu. Ia sampai kepadanya melalui pewarisan, melalui lingkungan, melalui pendidikan, melalui penjelmaannya sendiri yang berulang — masa lalu dari bangsanya. Dalam suatu cara, masa lalu bumi, masa lalu seluruh dunia ada di sana, pada setiap jiwa. Apakah kita, pada masa kini, selain hasil, akibat, di tangan masa lalu yang tak terbatas itu? Apakah kita selain gelombang-gelombang yang mengapung dalam arus kekal peristiwa-peristiwa, yang didorong maju dengan tak terbendung dan terus ke depan, dan tidak mampu beristirahat? Akan tetapi Anda dan saya hanyalah hal-hal kecil, gelembung-gelembung. Selalu ada gelombang-gelombang raksasa di samudra peristiwa, dan dalam diri Anda dan saya kehidupan masa lalu bangsa kita hanya sedikit terwujud; tetapi ada raksasa-raksasa yang mewujudkan, seolah-olah, hampir seluruh masa lalu dan yang merentangkan tangan mereka ke masa depan. Inilah tonggak-tonggak penunjuk di sana sini yang menunjuk pada perjalanan umat manusia; mereka sungguh raksasa, bayang-bayang mereka menyelimuti bumi — mereka berdiri tak fana, kekal! Sebagaimana dikatakan oleh Utusan yang sama, "Tiada seorang pun yang pernah melihat Tuhan, kecuali melalui Putra." Dan itu benar. Dan di manakah kita akan melihat Tuhan kalau bukan dalam Putra? Memang benar bahwa Anda dan saya, dan yang termiskin di antara kita, bahkan yang paling hina sekalipun, mewujudkan Tuhan itu, bahkan memantulkan Tuhan itu. Getaran cahaya ada di mana-mana, mahahadir; akan tetapi kita harus menyalakan cahaya pelita lebih dahulu sebelum kita dapat melihat cahaya itu. Tuhan Yang Mahahadir di alam semesta tidak dapat dilihat hingga Ia dipantulkan oleh pelita-pelita raksasa bumi ini — yaitu para Nabi, manusia-Tuhan, para Avatara (penjelmaan Tuhan), perwujudan Tuhan.
Kita semua tahu bahwa Tuhan itu ada, namun kita tidak melihat-Nya, kita tidak memahami-Nya. Ambillah salah seorang dari Utusan-utusan cahaya yang agung ini, bandingkanlah karakternya dengan cita-cita Tuhan yang tertinggi yang pernah Anda bentuk, dan Anda akan menemukan bahwa Tuhan Anda jatuh di bawah cita-cita itu, dan bahwa karakter Nabi tersebut melampaui konsepsi Anda. Anda bahkan tidak dapat membentuk cita-cita Tuhan yang lebih tinggi daripada apa yang sungguh-sungguh telah diwujudkan secara nyata oleh mereka yang menjelma dan ditempatkan di hadapan kita sebagai teladan. Apakah salah, kalau begitu, untuk memuja mereka sebagai Tuhan? Apakah dosa untuk tersungkur di kaki manusia-Tuhan ini dan memuja mereka sebagai satu-satunya makhluk ilahi di dunia? Jika mereka benar-benar, sungguh-sungguh, lebih tinggi daripada seluruh konsepsi kita tentang Tuhan, kerugian apa yang ada dalam memuja mereka? Bukan hanya tidak ada kerugian, melainkan itulah satu-satunya cara pemujaan yang mungkin dan positif. Sebanyak apa pun Anda mencoba dengan perjuangan, dengan abstraksi, dengan metode apa pun yang Anda sukai, selama Anda masih seorang manusia di dunia manusia, dunia Anda adalah manusiawi, agama Anda manusiawi, dan Tuhan Anda manusiawi. Dan memang demikianlah seharusnya. Siapakah yang tidak cukup praktis untuk mengambil sesuatu yang benar-benar ada dan melepaskan gagasan yang hanya berupa abstraksi, yang tidak dapat ia genggam, dan sulit didekati kecuali melalui media yang konkret? Oleh karena itu, para Avatara Tuhan ini telah dipuja pada segala zaman dan di segala negeri.
Sekarang kita akan mempelajari sedikit tentang kehidupan Kristus, Avatara bangsa Yahudi. Ketika Kristus dilahirkan, bangsa Yahudi berada dalam keadaan yang saya sebut keadaan jatuh di antara dua gelombang; suatu keadaan konservatisme; suatu keadaan ketika pikiran manusia, seolah-olah, lelah untuk sementara waktu bergerak maju dan hanya memelihara apa yang sudah dimilikinya; suatu keadaan ketika perhatian lebih tertuju pada hal-hal khusus, pada rincian, daripada pada masalah-masalah hidup yang besar, umum, dan lebih luas; suatu keadaan stagnasi, alih-alih perjalanan ke depan; suatu keadaan menderita lebih daripada berbuat. Camkanlah, saya tidak menyalahkan keadaan ini. Kita tidak berhak mengkritiknya — sebab seandainya bukan karena kejatuhan ini, kebangkitan berikutnya, yang terwujud dalam diri Yesus dari Nazaret, tidak akan mungkin terjadi. Orang-orang Farisi dan Saduki mungkin tidak tulus, mereka mungkin telah melakukan hal-hal yang seharusnya tidak mereka lakukan; mereka mungkin bahkan munafik; akan tetapi apa pun mereka, faktor-faktor inilah justru penyebab, yang akibatnya adalah Sang Utusan. Orang-orang Farisi dan Saduki di satu ujung adalah daya dorong yang muncul di ujung yang lain sebagai otak raksasa Yesus dari Nazaret.
Perhatian pada bentuk, pada rumusan, pada rincian harian agama, dan pada ritual, kadang-kadang mungkin ditertawakan; namun demikian, di dalamnya terdapat kekuatan. Banyak kali dalam berlari ke depan kita kehilangan banyak kekuatan. Sesungguhnya, orang fanatik lebih kuat daripada orang liberal. Bahkan orang fanatik, oleh karena itu, memiliki satu kebajikan besar, ia melestarikan energi, dalam jumlah yang sangat besar. Sebagaimana dengan individu, demikian pula dengan suatu bangsa, energi dikumpulkan untuk dilestarikan. Dikepung dari segala arah oleh musuh-musuh luar, dipaksa untuk memusatkan diri di suatu titik oleh orang Romawi, oleh kecenderungan Hellenistik di dunia intelek, oleh gelombang-gelombang dari Persia, India, dan Aleksandria — terkepung secara fisik, mental, dan moral — di sanalah berdiri bangsa itu dengan kekuatan konservatif yang melekat dan sangat besar, yang keturunan mereka pun belum kehilangannya sampai hari ini. Dan bangsa itu dipaksa untuk memusatkan dan menumpukan seluruh energinya pada Yerusalem dan Yahudisme. Akan tetapi semua kekuatan setelah terkumpul tidak dapat tetap berada dalam keadaan terkumpul; ia harus mengeluarkan dan memperluas dirinya. Tidak ada kekuatan di bumi yang dapat lama dipertahankan terkurung dalam batas yang sempit. Ia tidak dapat tetap tertekan terlalu lama tanpa memerlukan pengembangan pada periode berikutnya.
Energi yang terpusat di kalangan bangsa Yahudi ini menemukan ekspresinya pada periode berikutnya dalam kebangkitan kekristenan. Aliran-aliran yang terkumpul itu bergabung menjadi satu tubuh. Lambat laun, semua aliran kecil itu bersatu, dan menjadi gelombang yang membuncah, di puncaknya kita melihat menonjol karakter Yesus dari Nazaret. Demikianlah, setiap Nabi adalah ciptaan dari zamannya sendiri, ciptaan dari masa lalu bangsanya; dan ia sendiri adalah pencipta masa depan. Sebab hari ini adalah akibat dari masa lalu dan sebab bagi masa depan. Dalam kedudukan inilah Sang Utusan berdiri. Dalam dirinya terwujud segala yang terbaik dan teragung dalam bangsanya sendiri, makna dan hidup yang untuknya bangsa itu telah berjuang selama berabad-abad; dan ia sendiri adalah daya dorong bagi masa depan, bukan hanya bagi bangsanya sendiri melainkan bagi tak terhitung bangsa-bangsa lain di dunia.
Kita harus mengingat satu fakta lain: bahwa pandangan saya tentang Nabi agung dari Nazaret akan berasal dari sudut pandang Timur. Banyak kali Anda juga lupa bahwa orang Nazaret itu sendiri adalah seorang Timur dari segala orang Timur. Dengan segala usaha Anda untuk melukisnya dengan mata biru dan rambut pirang, orang Nazaret itu tetaplah seorang Timur. Semua perumpamaan, citra-citra, dengan mana Alkitab dituliskan — adegan-adegan, lokasi-lokasi, sikap-sikap, kelompok-kelompok, puisi, dan simbol — berbicara kepada Anda tentang Timur: tentang langit yang cerah, tentang terik panas, tentang matahari, tentang gurun, tentang manusia dan hewan yang dahaga; tentang pria dan wanita yang datang dengan kendi di kepala mereka untuk mengisinya di sumur-sumur; tentang ternak, tentang para pembajak, tentang pertanian yang sedang berlangsung di sekitar; tentang kincir air dan roda, tentang kolam kincir, tentang batu giling. Semua ini masih dapat dilihat hari ini di Asia.
Suara Asia adalah suara agama. Suara Eropa adalah suara politik. Masing-masing agung dalam lingkupnya sendiri. Suara Eropa adalah suara Yunani kuno. Bagi pikiran Yunani, masyarakatnya yang dekat adalah segala-galanya: di luar itu, adalah Barbar. Tiada yang berhak hidup selain orang Yunani. Apa pun yang dilakukan orang Yunani adalah benar dan tepat; apa pun lainnya yang ada di dunia bukanlah benar atau tepat, dan tidak boleh dibiarkan hidup. Suara itu sangat manusiawi dalam simpatinya, sangat alami, sangat artistik, oleh karena itu. Orang Yunani hidup sepenuhnya di dunia ini. Ia tidak peduli untuk bermimpi. Bahkan puisinya pun praktis. Dewa dan dewinya bukan hanya manusia, melainkan sangat manusiawi, dengan segala hawa nafsu dan perasaan manusiawi yang hampir sama seperti pada siapa pun di antara kita. Ia mencintai apa yang indah, namun camkanlah, itu selalu alam luar: keindahan bukit-bukit, salju, bunga-bunga, keindahan bentuk dan figur, keindahan pada wajah manusia, dan, lebih sering, pada bentuk tubuh manusia — itulah yang disukai orang Yunani. Dan karena orang Yunani adalah pengajar segala bentuk Eropanisme yang berikutnya, suara Eropa adalah suara Yunani.
Ada jenis lain di Asia. Pikirkanlah benua yang luas dan besar itu, yang puncak-puncak gunungnya melampaui awan-awan, hampir menyentuh kanopi biru langit; padang gurun bergulir bermil-mil panjangnya di mana setetes air pun tidak dapat ditemukan, tidak pula sehelai rumput akan tumbuh; hutan-hutan yang tak berujung dan sungai-sungai raksasa yang melaju turun ke laut. Di tengah-tengah segala lingkungan ini, cinta orang Timur akan keindahan dan keagungan berkembang dalam arah yang berbeda. Ia memandang ke dalam, bukan ke luar. Ada pula dahaga akan alam, dan ada pula dahaga yang sama akan kekuasaan; ada pula dahaga yang sama akan keunggulan, gagasan yang sama tentang Yunani dan Barbar, tetapi ia meluas pada lingkaran yang lebih besar. Di Asia, bahkan hari ini, kelahiran atau warna kulit atau bahasa tidak pernah menjadikan suatu bangsa. Yang menjadikan suatu bangsa adalah agamanya. Kita semua Kristen; kita semua Muslim; kita semua Hindu, atau kita semua Buddhis. Tidak peduli apakah seorang Buddhis itu orang Tionghoa, atau seorang dari Persia, mereka berpikir bahwa mereka bersaudara, sebab mereka memeluk agama yang sama. Agama adalah ikatan, kesatuan umat manusia. Dan kemudian lagi, orang Timur, untuk alasan yang sama, adalah seorang visioner, seorang pemimpi yang terlahir. Riak air terjun, kicau burung, keindahan matahari dan bulan dan bintang-bintang dan seluruh bumi cukup menyenangkan; tetapi semua itu tidak cukup bagi pikiran Timur; ia ingin memimpikan suatu mimpi yang melampaui. Ia ingin melampaui yang kini. Yang kini, seolah-olah, bukan apa-apa baginya. Timur telah menjadi ayunan ras manusia selama berabad-abad, dan segala pasang surut nasib ada di sana — kerajaan-kerajaan menggantikan kerajaan-kerajaan, imperium-imperium menggantikan imperium-imperium, kekuasaan manusia, kemuliaan, dan kekayaan, semua bergulir turun di sana: suatu Golgota kekuasaan dan pengetahuan. Itulah Timur: suatu Golgota kekuasaan, kerajaan, pengetahuan. Tidak heran, pikiran Timur memandang dengan rasa hina pada hal-hal duniawi ini dan secara alami ingin melihat sesuatu yang tidak berubah, sesuatu yang tidak mati, sesuatu yang di tengah dunia kesengsaraan dan kematian ini bersifat kekal, bahagia, dan tak fana. Seorang Nabi Timur tidak pernah lelah mendesakkan cita-cita ini; dan, mengenai para Nabi, Anda juga dapat mengingat bahwa tanpa kecuali satu pun, semua Utusan adalah orang Timur.
Oleh karena itu, kita melihat dalam kehidupan Utusan kehidupan dari kawasan ini, semboyan pertama: "Bukan kehidupan ini, melainkan sesuatu yang lebih tinggi"; dan, seperti putra sejati Timur, ia praktis dalam hal itu. Kalian, orang-orang Barat, praktis dalam bidang kalian sendiri, dalam urusan militer, dan dalam mengelola lingkaran politik dan hal-hal lainnya. Mungkin orang Timur tidak praktis dengan cara-cara itu, tetapi ia praktis di bidangnya sendiri; ia praktis dalam agama. Jika seseorang mengkhotbahkan suatu filsafat, esok harinya akan ada ratusan orang yang akan berjuang sekuat tenaga untuk menjadikannya praktis dalam hidup mereka. Jika seseorang mengkhotbahkan bahwa berdiri di atas satu kaki akan menuntun seseorang kepada keselamatan, ia akan segera mendapatkan lima ratus orang yang berdiri di atas satu kaki. Anda mungkin menyebutnya lucu; tetapi, camkanlah, di balik itu ada filsafat mereka — yaitu sifat praktis yang sangat dalam. Di Barat, rencana-rencana keselamatan berarti senam intelektual — rencana-rencana yang tidak pernah dijalankan, tidak pernah dibawa ke dalam kehidupan praktis. Di Barat, pengkhotbah yang berbicara paling baik adalah pengkhotbah teragung.
Maka, kita menemukan Yesus dari Nazaret, pertama-tama, sebagai putra sejati Timur, sangat praktis. Ia tidak memiliki iman pada dunia yang sirna ini dan segala miliknya. Tidak perlu menyiksa nas, sebagaimana yang menjadi mode di Barat pada zaman modern, tidak perlu meregangkan nas-nas hingga tidak dapat diregangkan lagi. Nas bukan karet India, dan karet pun memiliki batasnya. Sekarang, tidak ada lagi pembuatan agama untuk menyenangkan kesia-siaan indra zaman sekarang! Camkanlah, marilah kita semua jujur. Jika kita tidak dapat mengikuti cita-cita itu, marilah kita mengakui kelemahan kita, tetapi jangan merendahkannya; jangan biarkan siapa pun mencoba menariknya ke bawah. Hati seseorang menjadi sakit karena berbagai kisah tentang kehidupan Kristus yang diberikan orang-orang Barat. Saya tidak tahu apa ia itu atau apa ia bukan itu! Yang seorang akan menjadikannya politisi besar; yang lain, mungkin, akan menjadikannya jenderal militer besar; yang lain lagi, seorang Yahudi patriotik besar; dan seterusnya. Apakah ada dalil dalam kitab-kitab untuk semua andaian semacam itu? Tafsir terbaik atas kehidupan seorang guru besar adalah kehidupannya sendiri. "Serigala-serigala mempunyai liang, dan burung-burung di udara mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya." Itulah yang Kristus katakan sebagai satu-satunya jalan menuju keselamatan; ia tidak menetapkan jalan lain. Marilah kita mengaku dengan kain karung dan abu bahwa kita tidak dapat melakukan itu. Kita masih memiliki kesayangan terhadap "aku dan milikku". Kita menginginkan harta, uang, kekayaan. Celakalah kita! Marilah kita mengaku dan tidak mempermalukan Guru besar Kemanusiaan itu! Ia tidak memiliki ikatan keluarga. Tetapi apakah Anda berpikir bahwa Pria itu memiliki gagasan jasmani apa pun dalam dirinya? Apakah Anda berpikir bahwa kumpulan cahaya ini, Tuhan dan bukan-manusia ini, turun ke bumi untuk menjadi saudara hewan-hewan? Namun demikian, orang-orang membuatnya mengkhotbahkan segala macam hal. Ia tidak memiliki gagasan seksual! Ia adalah suatu jiwa! Tidak lebih dari sebuah jiwa — yang hanya menggerakkan suatu tubuh demi kebaikan umat manusia; dan itu sajalah hubungannya dengan tubuh. Dalam jiwa tidak ada jenis kelamin. Jiwa yang terbebas dari tubuh tidak memiliki hubungan dengan hewan, tidak memiliki hubungan dengan tubuh. Cita-cita itu mungkin jauh di atas kita. Tetapi tidak mengapa, tetap berpegang pada cita-cita itu. Marilah kita mengakui bahwa itu adalah cita-cita kita, tetapi kita belum dapat mendekatinya.
Ia tidak memiliki pekerjaan lain dalam hidup, tidak memiliki pikiran lain selain yang satu itu, yaitu bahwa ia adalah suatu roh. Ia adalah roh yang terbebas dari tubuh, tak terbelenggu, tak terikat. Dan bukan hanya itu, tetapi ia, dengan penglihatannya yang menakjubkan, telah menemukan bahwa setiap pria dan wanita, entah Yahudi atau bukan-Yahudi, entah kaya atau miskin, entah orang suci atau orang berdosa, adalah perwujudan dari roh yang tak fana yang sama seperti dirinya sendiri. Oleh karena itu, satu karya yang ditunjukkan seluruh hidupnya adalah memanggil mereka untuk menyadari kodrat rohani mereka sendiri. Lepaskanlah, ia berkata, mimpi-mimpi takhayul ini bahwa Anda rendah dan bahwa Anda miskin. Janganlah berpikir bahwa Anda diinjak-injak dan ditindas seolah-olah Anda budak, sebab di dalam Anda ada sesuatu yang tidak pernah dapat ditindas, tidak pernah dapat diinjak-injak, tidak pernah dapat diganggu, tidak pernah dapat dibunuh. Anda semua adalah Putra Tuhan, roh yang abadi. "Ketahuilah", ia menyatakan, "Kerajaan Surga ada di dalam dirimu." "Aku dan Bapa-Ku adalah satu." Beranikah Anda berdiri dan berkata, bukan hanya bahwa "Aku adalah Putra Tuhan", tetapi saya juga akan menemukan di lubuk hati saya yang terdalam bahwa "Aku dan Bapa-Ku adalah satu"? Itulah yang Yesus dari Nazaret katakan. Ia tidak pernah berbicara tentang dunia ini dan tentang kehidupan ini. Ia tidak ada urusan dengannya, kecuali bahwa ia ingin meraih dunia sebagaimana adanya, memberinya dorongan dan menggerakkannya maju dan terus maju sampai seluruh dunia mencapai Cahaya Tuhan yang cemerlang, sampai setiap orang telah menyadari kodrat rohaninya, sampai kematian lenyap dan kesengsaraan terusir.
Kita telah membaca berbagai kisah yang ditulis tentang dirinya; kita mengenal para sarjana dan tulisan-tulisan mereka, dan kritik yang lebih tinggi; dan kita mengenal segala yang telah dilakukan melalui kajian. Kita tidak berada di sini untuk membahas berapa banyak dari Perjanjian Baru yang benar, kita tidak berada di sini untuk membahas berapa banyak dari kehidupan itu yang historis. Sama sekali tidak penting apakah Perjanjian Baru ditulis dalam lima ratus tahun setelah kelahirannya, dan juga tidak penting berapa banyak dari kehidupan itu yang benar. Tetapi ada sesuatu di baliknya, sesuatu yang ingin kita tiru. Untuk berdusta, Anda harus meniru suatu kebenaran, dan kebenaran itu adalah suatu fakta. Anda tidak dapat meniru yang tidak pernah ada. Anda tidak dapat meniru apa yang tidak pernah Anda persepsi. Tetapi pasti ada suatu inti, suatu kekuatan dahsyat yang turun, suatu manifestasi yang menakjubkan dari kekuatan rohani — dan tentang itulah kita berbicara. Itu berdiri di sana. Oleh karena itu, kita tidak takut pada segala kritik para sarjana. Jika saya, sebagai seorang Timur, harus memuja Yesus dari Nazaret, hanya ada satu jalan tersisa bagi saya, yaitu memujanya sebagai Tuhan dan bukan yang lain. Apakah maksud Anda bahwa kita tidak berhak memujanya dengan cara itu? Jika kita menurunkannya ke tingkat kita sendiri dan hanya memberinya sedikit penghormatan sebagai seorang manusia agung, mengapa kita harus memuja sama sekali? Kitab suci kita berkata, "Anak-anak Cahaya yang agung ini, yang memanifestasikan Cahaya itu sendiri, yang adalah Cahaya itu sendiri, mereka, ketika dipuja, menjadi, seolah-olah, satu dengan kita dan kita menjadi satu dengan mereka."
Sebab, Anda lihat, manusia mempersepsi Tuhan dalam tiga cara. Pertama-tama, intelek yang belum berkembang dari orang yang tidak terdidik melihat Tuhan sebagai jauh, di atas di surga suatu tempat, duduk di singgasana sebagai seorang Hakim agung. Ia memandang-Nya sebagai suatu api, sebagai suatu kengerian. Nah, itu baik, sebab tidak ada yang buruk di dalamnya. Anda harus ingat bahwa umat manusia berjalan bukan dari kesesatan menuju kebenaran, melainkan dari kebenaran menuju kebenaran; bisa saja, jika Anda lebih menyukainya, dari kebenaran yang lebih rendah menuju kebenaran yang lebih tinggi, tetapi tidak pernah dari kesesatan menuju kebenaran. Andaikan Anda mulai dari sini dan berjalan menuju matahari dalam garis lurus. Dari sini matahari hanya tampak kecil ukurannya. Andaikan Anda maju sejuta mil, matahari akan jauh lebih besar. Pada setiap tahap matahari akan menjadi semakin besar dan semakin besar. Andaikan dua puluh ribu foto matahari yang sama telah diambil dari sudut pandang yang berbeda; dua puluh ribu foto ini tentu semua akan berbeda satu sama lain. Tetapi dapatkah Anda menyangkal bahwa masing-masing adalah foto dari matahari yang sama? Demikianlah segala bentuk agama, tinggi atau rendah, hanyalah tahap-tahap yang berbeda menuju keadaan Cahaya yang kekal itu, yang adalah Tuhan sendiri. Sebagian mewujudkan pandangan yang lebih rendah, sebagian lebih tinggi, dan hanya itulah perbedaannya. Oleh karena itu, agama-agama dari massa yang tidak berpikir di seluruh dunia haruslah, dan memang selalu, mengenai seorang Tuhan yang berada di luar alam semesta, yang tinggal di surga, yang memerintah dari tempat itu, yang menghukum yang jahat dan mengganjar yang baik, dan seterusnya. Seiring manusia maju secara rohani, ia mulai merasakan bahwa Tuhan Mahahadir, bahwa Ia pasti ada di dalam dirinya, bahwa Ia pasti ada di mana-mana, bahwa Ia bukanlah Tuhan yang jauh, melainkan secara akrab adalah Jiwa dari segala jiwa. Sebagaimana jiwaku menggerakkan tubuhku, demikian pula Tuhan adalah penggerak jiwaku. Jiwa di dalam jiwa. Dan beberapa individu yang telah berkembang cukup dan cukup murni, melangkah lebih jauh lagi, dan akhirnya menemukan Tuhan. Sebagaimana Perjanjian Baru berkata, "Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Tuhan." Dan akhirnya mereka menemukan bahwa mereka dan Bapa adalah satu.
Anda menemukan bahwa ketiga tahap ini diajarkan oleh Guru Agung dalam Perjanjian Baru. Perhatikan Doa Umum yang ia ajarkan: "Bapa kami yang di Surga, dikuduskanlah nama-Mu," dan seterusnya — suatu doa yang sederhana, doa anak-anak. Camkanlah, itu adalah "Doa Umum" karena ditujukan bagi massa yang tidak terdidik. Kepada lingkaran yang lebih tinggi, kepada mereka yang telah lebih maju sedikit, ia memberikan ajaran yang lebih tinggi: "Aku di dalam Bapa-Ku, dan kamu di dalam Aku, dan Aku di dalam kamu." Ingatkah Anda akan itu? Dan kemudian, ketika orang-orang Yahudi bertanya kepadanya siapa dia, ia menyatakan bahwa ia dan Bapanya adalah satu, dan orang-orang Yahudi menganggap itu adalah penghujatan. Apa yang ia maksudkan dengan itu? Hal ini juga telah dikatakan oleh Nabi-nabi lama Anda, "Kamu adalah dewa-dewa dan kamu semua adalah anak-anak Yang Mahatinggi." Perhatikan ketiga tahap yang sama. Anda akan menemukan bahwa lebih mudah bagi Anda untuk mulai dengan yang pertama dan berakhir dengan yang terakhir.
Sang Utusan datang untuk menunjukkan jalan: bahwa roh tidak ada dalam bentuk-bentuk, bahwa bukan melalui segala kesusahan dan masalah-masalah filsafat yang berbelit-belit Anda mengenal roh. Lebih baik Anda tidak memiliki pendidikan, lebih baik Anda tidak pernah membaca buku dalam hidup Anda. Hal-hal ini sama sekali tidak diperlukan untuk keselamatan — bukan kekayaan, bukan kedudukan, bukan kekuasaan, bahkan bukan ilmu; tetapi yang diperlukan adalah satu hal itu, yakni kesucian. "Berbahagialah orang yang suci hatinya," sebab roh dalam kodratnya sendiri adalah suci. Bagaimana mungkin tidak? Ia berasal dari Tuhan, ia telah datang dari Tuhan. Dalam bahasa Alkitab, "Ia adalah nafas Tuhan." Dalam bahasa Quran, "Ia adalah jiwa Tuhan." Apakah maksud Anda bahwa Roh Tuhan dapat pernah najis? Tetapi, sayangnya, ia telah, seolah-olah, tertutupi dengan debu dan kotoran berabad-abad, melalui perbuatan-perbuatan kita sendiri, yang baik dan yang jahat. Berbagai perbuatan yang tidak benar, yang tidak benar, telah menutupi roh yang sama dengan debu dan kotoran kebodohan berabad-abad. Hanya perlu menyingkirkan debu dan kotoran itu, dan kemudian roh segera bersinar. "Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Tuhan." "Kerajaan Surga ada di dalam dirimu." Ke manakah engkau pergi mencari Kerajaan Tuhan, tanya Yesus dari Nazaret, padahal ia ada di sana, di dalam dirimu? Sucikanlah roh, dan ia ada di sana. Ia sudah menjadi milikmu. Bagaimana mungkin engkau dapat memperoleh apa yang bukan milikmu? Ia adalah milikmu berdasarkan hak. Engkau adalah pewaris keabadian, putra dari Bapa Yang Kekal.
Inilah pelajaran besar dari Sang Utusan, dan satu lagi yang menjadi dasar segala agama adalah pelepasan. Bagaimana Anda dapat menyucikan roh? Dengan pelepasan. Seorang pemuda kaya bertanya kepada Yesus, "Guru yang baik, apa yang harus aku perbuat untuk mewarisi kehidupan kekal?" Dan Yesus berkata kepadanya, "Hanya satu lagi kekuranganmu; pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan memperoleh harta di surga; kemudian datanglah ke mari, pikullah salibmu dan ikutlah Aku." Dan ia menjadi sedih karena perkataan itu dan pergi dengan dukacita; sebab ia memiliki banyak harta. Kita semua kurang lebih seperti itu. Suara itu berdering di telinga kita siang dan malam. Di tengah-tengah kesenangan dan kegembiraan kita, di tengah-tengah hal-hal duniawi, kita berpikir bahwa kita telah melupakan segala yang lain. Lalu datang sesaat jeda dan suara itu berdering di telinga kita: "Tinggalkanlah segala yang kaumiliki dan ikutlah Aku." "Barangsiapa hendak menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menemukannya." Sebab barangsiapa melepaskan kehidupan ini demi Dia, akan menemukan kehidupan abadi. Di tengah segala kelemahan kita ada sesaat jeda dan suara itu berdering: "Lepaskanlah segala yang kaumiliki; berikanlah itu kepada orang miskin dan ikutlah Aku." Inilah satu cita-cita yang ia khotbahkan, dan inilah cita-cita yang telah dikhotbahkan oleh semua Nabi agung di dunia: pelepasan. Apakah yang dimaksud dengan pelepasan? Bahwa hanya ada satu cita-cita dalam moralitas: keadaan tanpa pamrih. Tanpa pamrihlah. Cita-cita itu adalah ketidakegoisan yang sempurna. Apabila seseorang dipukul di pipi kanan, ia memberikan juga pipi kirinya. Apabila jubah seseorang diambil, ia memberikan juga mantelnya.
Kita harus bekerja sebaik mungkin, tanpa menurunkan cita-cita itu. Inilah cita-cita itu. Apabila seseorang tidak lagi memiliki diri di dalam dirinya, tidak memiliki kepemilikan, tidak ada yang dapat disebut "aku" atau "milikku", telah menyerahkan dirinya sepenuhnya, telah membinasakan dirinya, seolah-olah — di dalam orang itu adalah Tuhan sendiri; sebab di dalam dirinya kehendak-diri telah lenyap, dihancurkan, dimusnahkan. Itulah manusia ideal. Kita belum dapat mencapai keadaan itu; namun, marilah kita memuja cita-cita itu, dan perlahan-lahan berjuang untuk mencapai cita-cita itu, meskipun, mungkin, dengan langkah-langkah yang tersaruk. Mungkin esok, atau mungkin seribu tahun dari sekarang; tetapi cita-cita itu harus dicapai. Sebab ia bukan hanya tujuan, melainkan juga sarana. Untuk tanpa pamrih, tanpa pamrih yang sempurna, itulah keselamatan itu sendiri; sebab manusia di dalam diri mati, dan Tuhan saja yang tinggal.
Satu hal lagi. Semua guru kemanusiaan adalah orang yang tidak mementingkan diri sendiri. Andaikan Yesus dari Nazaret sedang mengajar; lalu seseorang datang dan berkata kepadanya, "Apa yang Anda ajarkan sungguh indah. Saya percaya bahwa itulah jalan menuju kesempurnaan, dan saya bersedia mengikutinya; tetapi saya tidak ingin menyembah Anda sebagai satu-satunya Putra Tuhan yang diperanakkan." Apakah jawaban yang akan diberikan Yesus dari Nazaret? "Baiklah, saudaraku, ikutilah cita-cita itu dan majulah dengan caramu sendiri. Saya tidak peduli apakah engkau memberikan saya penghargaan atas ajaran itu atau tidak. Saya bukan seorang pedagang. Saya tidak berdagang agama. Saya hanya mengajarkan kebenaran, dan kebenaran bukanlah milik siapa pun. Tidak seorang pun dapat mematenkan kebenaran. Kebenaran adalah Tuhan sendiri. Majulah." Tetapi yang dikatakan para murid pada zaman sekarang adalah: "Tidak peduli apakah Anda mempraktikkan ajaran itu atau tidak, apakah Anda memberikan penghargaan kepada Sang Manusia? Jika Anda memberikan penghargaan kepada Sang Guru, Anda akan diselamatkan; jika tidak, tidak ada keselamatan bagi Anda." Dengan demikian, seluruh ajaran Sang Guru menjadi merosot, dan segala perjuangan serta pertikaian justru ditujukan kepada kepribadian Sang Manusia. Mereka tidak menyadari bahwa dengan memaksakan perbedaan tersebut, dalam suatu pengertian, mereka sesungguhnya mendatangkan rasa malu kepada Manusia yang justru ingin mereka muliakan — Manusia yang justru akan menjauh dengan rasa malu dari gagasan semacam itu. Apa peduli beliau jika ada satu orang pun di dunia yang masih mengingatnya atau tidak? Beliau harus menyampaikan pesannya, dan beliau telah menyampaikannya. Andaikan beliau memiliki dua puluh ribu nyawa, beliau akan menyerahkan semuanya demi orang yang paling miskin di dunia. Andaikan beliau harus disiksa berjuta-juta kali demi sejuta orang Samaria yang dipandang hina, dan andaikan bagi masing-masing mereka pengorbanan nyawanya sendiri menjadi satu-satunya syarat keselamatan, beliau akan tetap menyerahkan nyawanya. Semua itu beliau lakukan tanpa berhasrat agar namanya dikenal sekalipun oleh satu orang. Dengan tenang, tanpa dikenal, dalam keheningan, beliau akan bekerja, sebagaimana Tuhan bekerja. Lalu, apa yang akan dikatakan sang murid? Ia akan berkata kepada Anda bahwa Anda boleh saja menjadi manusia yang sempurna, sepenuhnya tanpa pamrih; tetapi jika Anda tidak memberikan penghargaan kepada guru kami, kepada orang suci kami, semua itu sia-sia. Mengapa demikian? Apakah asal-usul takhayul ini, kebodohan ini? Sang murid mengira bahwa Tuhan hanya dapat memanifestasikan diri-Nya satu kali saja. Di situlah letak seluruh kekeliruan itu. Tuhan memanifestasikan diri-Nya kepada Anda melalui manusia. Akan tetapi, di seluruh alam, apa yang pernah terjadi satu kali pasti pernah terjadi sebelumnya, dan pasti akan terjadi pula di masa depan. Tidak ada satu hal pun di alam ini yang tidak terikat oleh hukum; dan itu berarti bahwa apa pun yang pernah terjadi sekali pasti akan terus berlangsung dan pasti telah berlangsung sebelumnya.
Di India terdapat gagasan yang sama tentang Inkarnasi-Inkarnasi Tuhan. Salah satu Inkarnasi besar mereka, Krishna, yang khotbah agungnya, yaitu Bhagavad-Gita, mungkin telah sebagian dari Anda baca, mengatakan, "Meskipun Aku tak terlahirkan, berhakikat tak berubah, dan Tuhan atas segala makhluk, namun dengan menundukkan Prakriti (alam purba)-Ku, Aku menjelma menjadi ada melalui Maya (ilusi kosmik)-Ku sendiri. Setiap kali kebajikan surut dan kebejatan merajalela, maka Aku menjelmakan diri-Ku. Untuk perlindungan yang baik, untuk kebinasaan yang jahat, dan untuk penegakan Dharma, Aku menjelma menjadi ada, pada setiap zaman." Setiap kali dunia merosot, Tuhan datang untuk menolongnya maju kembali; dan demikianlah Ia melakukannya dari masa ke masa dan dari tempat ke tempat. Dalam petikan lain Ia berbicara dengan makna ini: Di mana pun engkau menemukan jiwa agung yang berdaya tak terhingga dan suci murni yang berjuang untuk mengangkat kemanusiaan, ketahuilah bahwa ia lahir dari kemegahan-Ku, bahwa Aku ada di sana bekerja melalui dirinya.
Oleh sebab itu, marilah kita menemukan Tuhan bukan hanya di dalam diri Yesus dari Nazaret, melainkan juga di dalam diri semua Yang Agung yang mendahuluinya, di dalam diri semua yang datang sesudahnya, dan di dalam diri semua yang masih akan datang. Pemujaan kita tidak terbatas dan merdeka. Mereka semua adalah manifestasi dari Tuhan Yang Tak Terhingga yang sama. Mereka semua suci dan tanpa pamrih; mereka berjuang dan menyerahkan nyawa mereka demi kita, manusia-manusia yang malang ini. Mereka, masing-masing dan semuanya, menanggung penebusan secara perwakilan bagi setiap orang di antara kita, dan juga bagi semua yang akan datang kemudian.
Dalam suatu pengertian, Anda semua adalah Nabi; setiap orang di antara Anda adalah seorang Nabi, yang memikul beban dunia di atas pundak Anda sendiri. Pernahkah Anda melihat seorang lelaki, pernahkah Anda melihat seorang perempuan, yang tidak dengan tenang dan sabar memikul beban kecil kehidupannya? Para Nabi besar adalah raksasa-raksasa — mereka memikul dunia yang raksasa di atas pundak mereka. Dibandingkan dengan mereka, tidak diragukan lagi kita ini hanyalah orang-orang kerdil, namun kita sedang melakukan tugas yang sama; di dalam lingkaran-lingkaran kecil kita, di dalam rumah-rumah kecil kita, kita memikul salib-salib kecil kita. Tidak ada seorang pun yang begitu jahat, tidak ada seorang pun yang begitu tidak berharga, sehingga ia tidak harus memikul salibnya sendiri. Akan tetapi, dengan segala kesalahan kita, dengan segala pikiran jahat dan perbuatan jahat kita, masih ada satu titik terang di suatu tempat, masih ada di suatu tempat benang emas yang melaluinya kita senantiasa bersentuhan dengan yang ilahi. Sebab, ketahuilah dengan pasti, bahwa pada saat sentuhan yang ilahi itu hilang, akan terjadi pemusnahan. Dan karena tidak seorang pun dapat dimusnahkan, maka selalu ada di suatu tempat di lubuk hati kita yang terdalam, betapapun rendah dan hinanya kita, sebuah lingkaran kecil cahaya yang senantiasa bersentuhan dengan yang ilahi.
Salam hormat kami tertuju kepada semua Nabi masa lampau yang ajaran dan kehidupannya telah kita warisi, apa pun ras, iklim, atau kepercayaan mereka! Salam hormat kami tertuju kepada semua lelaki dan perempuan yang menyerupai ilahi yang sedang bekerja untuk menolong kemanusiaan, apa pun kelahiran, warna kulit, atau ras mereka! Salam hormat kami kepada mereka yang akan datang pada masa mendatang — Tuhan-tuhan yang hidup — yang akan bekerja tanpa pamrih demi keturunan kita.
English
CHRIST, THE MESSENGER
(Delivered at Los Angeles, California, 1900)
The wave rises on the ocean, and there is a hollow. Again another wave rises, perhaps bigger than the former, to fall down again, similarly, again to rise — driving onward. In the march of events, we notice the rise and fall, and we generally look towards the rise, forgetting the fall. But both are necessary, and both are great. This is the nature of the universe. Whether in the world of our thoughts, the world of our relations in society, or in our spiritual affairs, the same movement of succession, of rises and falls, is going on. Hence great predominances in the march of events, the liberal ideals, are marshalled ahead, to sink down, to digest, as it were, to ruminate over the past — to adjust, to conserve, to gather strength once more for a rise and a bigger rise.
The history of nations also has ever been like that. The great soul, the Messenger we are to study this afternoon, came at a period of the history of his race which we may well designate as a great fall. We catch only little glimpses here and there of the stray records that have been kept of his sayings and doings; for verily it has been well said, that the doings and sayings of that great soul would fill the world if they had all been written down. And the three years of his ministry were like one compressed, concentrated age, which it has taken nineteen hundred years to unfold, and who knows how much longer it will yet take! Little men like you and me are simply the recipients of just a little energy. A few minutes, a few hours, a few years at best, are enough to spend it all, to stretch it out, as it were, to its fullest strength, and then we are gone for ever. But mark this giant that came; centuries and ages pass, yet the energy that he left upon the world is not yet stretched, nor yet expended to its full. It goes on adding new vigour as the ages roll on.
Now what you see in the life of Christ is the life of all the past. The life of every man is, in a manner, the life of the past. It comes to him through heredity, through surroundings, through education, through his own reincarnation — the past of the race. In a manner, the past of the earth, the past of the whole world is there, upon every soul. What are we, in the present, but a result, an effect, in the hands of that infinite past? What are we but floating waveless in the eternal current of events, irresistibly moved forward and onward and incapable of rest? But you and I are only little things, bubbles. There are always some giant waves in the ocean of affairs, and in you and me the life of the past race has been embodied only a little; but there are giants who embody, as it were, almost the whole of the past and who stretch out their hands for the future. These are the sign-posts here and there which point to the march of humanity; these are verily gigantic, their shadows covering the earth — they stand undying, eternal! As it has been said by the same Messenger, "No man hath seen God at any time, but through the Son." And that is true. And where shall we see God but in the Son? It is true that you and I, and the poorest of us, the meanest even, embody that God, even reflect that God. The vibration of light is everywhere, omnipresent; but we have to strike the light of the lamp before we can see the light. The Omnipresent God of the universe cannot be seen until He is reflected by these giant lamps of the earth — The Prophets, the man-Gods, the Incarnations, the embodiments of God.
We all know that God exists, and yet we do not see Him, we do not understand Him. Take one of these great Messengers of light, compare his character with the highest ideal of God that you ever formed, and you will find that your God falls short of the ideal, and that the character of the Prophet exceeds your conceptions. You cannot even form a higher ideal of God than what the actually embodied have practically realised and set before us as an example. Is it wrong, therefore, to worship these as God? Is it a sin to fall at the feet of these man-Gods and worship them as the only divine beings in the world? If they are really, actually, higher than all our conceptions of God, what harm is there in worshipping them? Not only is there no harm, but it is the only possible and positive way of worship. However much you may try by struggle, by abstraction, by whatsoever method you like, still so long as you are a man in the world of men, your world is human, your religion is human, and your God is human. And that must be so. Who is not practical enough to take up an actually existing thing and give up an idea which is only an abstraction, which he cannot grasp, and is difficult of approach except through a concrete medium? Therefore, these Incarnations of God have been worshipped in all ages and in all countries.
We are now going to study a little of the life of Christ, the Incarnation of the Jews. When Christ was born, the Jews were in that state which I call a state of fall between two waves; a state of conservatism; a state where the human mind is, as it were, tired for the time being of moving forward and is taking care only of what it has already; a state when the attention is more bent upon particulars, upon details, than upon the great, general, and bigger problems of life; a state of stagnation, rather than a towing ahead; a state of suffering more than of doing. Mark you, I do not blame this state of things. We have no right to criticise it — because had it not been for this fall, the next rise, which was embodied in Jesus of Nazareth would have been impossible. The Pharisees and Sadducees might have been insincere, they might have been doing things which they ought not to have done; they might have been even hypocrites; but whatever they were, these factors were the very cause, of which the Messenger was the effect. The Pharisees and Sadducees at one end were the very impetus which came out at the other end as the gigantic brain of Jesus of Nazareth.
The attention to forms, to formulas, to the everyday details of religion, and to rituals, may sometimes be laughed at; but nevertheless, within them is strength. Many times in the rushing forward we lose much strength. As a fact, the fanatic is stronger than the liberal man. Even the fanatic, therefore, has one great virtue, he conserves energy, a tremendous amount of it. As with the individual so with the race, energy is gathered to be conserved. Hemmed in all around by external enemies, driven to focus in a centre by the Romans, by the Hellenic tendencies in the world of intellect, by waves from Persia, India, and Alexandria — hemmed in physically, mentally, and morally — there stood the race with an inherent, conservative, tremendous strength, which their descendants have not lost even today. And the race was forced to concentrate and focus all its energies upon Jerusalem and Judaism. But all power when once gathered cannot remain collected; it must expend and expand itself. There is no power on earth which can be kept long confined within a narrow limit. It cannot be kept compressed too long to allow of expansion at a subsequent period.
This concentrated energy amongst the Jewish race found its expression at the next period in the rise of Christianity. The gathered streams collected into a body. Gradually, all the little streams joined together, and became a surging wave on the top of which we find standing out the character of Jesus of Nazareth. Thus, every Prophet is a creation of his own times, the creation of the past of his race; he himself is the creator of the future. The cause of today is the effect of the past and the cause for the future. In this position stands the Messenger. In him is embodied all that is the best and greatest in his own race, the meaning, the life, for which that race has struggled for ages; and he himself is the impetus for the future, not only to his own race but to unnumbered other races of the world.
We must bear another fact in mind: that my view of the great Prophet of Nazareth would be from the standpoint of the Orient. Many times you forget, also, that the Nazarene himself was an Oriental of Orientals. With all your attempts to paint him with blue eyes and yellow hair, the Nazarene was still an Oriental. All the similes, the imageries, in which the Bible is written — the scenes, the locations, the attitudes, the groups, the poetry, and symbol, — speak to you of the Orient: of the bright sky, of the heat, of the sun, of the desert, of the thirsty men and animals; of men and women coming with pitchers on their heads to fill them at the wells; of the flocks, of the ploughmen, of the cultivation that is going on around; of the water-mill and wheel, of the mill-pond, of the millstones. All these are to be seen today in Asia.
The voice of Asia has been the voice of religion. The voice of Europe is the voice of politics. Each is great in its own sphere. The voice of Europe is the voice of ancient Greece. To the Greek mind, his immediate society was all in all: beyond that, it is Barbarian. None but the Greek has the right to live. Whatever the Greeks do is right and correct; whatever else there exists in the world is neither right nor correct, nor should be allowed to live. It is intensely human in its sympathies, intensely natural, intensely artistic, therefore. The Greek lives entirely in this world. He does not care to dream. Even his poetry is practical. His gods and goddesses are not only human beings, but intensely human, with all human passions and feelings almost the same as with any of us. He loves what is beautiful, but mind you, it is always external nature: the beauty of the hills, of the snows, of the flowers, the beauty of forms and of figures, the beauty in the human face, and, more often, in the human form — that is what the Greeks liked. And the Greeks being the teachers of all subsequent Europeanism, the voice of Europe is Greek.
There is another type in Asia. Think of that vast, huge continent, whose mountain-tops go beyond the clouds, almost touching the canopy of heaven's blue; a rolling desert of miles upon miles where a drop of water cannot be found, neither will a blade of grass grow; interminable forests and gigantic rivers rushing down into the sea. In the midst of all these surroundings, the oriental love of the beautiful and of the sublime developed itself in another direction. It looked inside, and not outside. There is also the thirst for nature, and there is also the same thirst for power; there is also the same thirst for excellence, the same idea of the Greek and Barbarian, but it has extended over a larger circle. In Asia, even today, birth or colour or language never makes a race. That which makes a race is its religion. We are all Christians; we are all Mohammedans; we are all Hindus, or all Buddhists. No matter if a Buddhist is a Chinaman, or is a man from Persia, they think that they are brothers, because of their professing the same religion. Religion is the tie, unity of humanity. And then again, the Oriental, for the same reason, is a visionary, is a born dreamer. The ripples of the waterfalls, the songs of the birds, the beauties of the sun and moon and the stars and the whole earth are pleasant enough; but they are not sufficient for the oriental mind; He wants to dream a dream beyond. He wants to go beyond the present. The present, as it were, is nothing to him. The Orient has been the cradle of the human race for ages, and all the vicissitudes of fortune are there — kingdoms succeeding kingdoms, empires succeeding empires, human power, glory, and wealth, all rolling down there: a Golgotha of power and learning. That is the Orient: a Golgotha of power, of kingdoms, of learning. No wonder, the oriental mind looks with contempt upon the things of this world and naturally wants to see something that changeth not, something which dieth not, something which in the midst of this world of misery and death is eternal, blissful, undying. An oriental Prophet never tires of insisting upon these ideals; and, as for Prophets, you may also remember that without one exception, all the Messengers were Orientals.
We see, therefore, in the life of this area: Messenger of life, the first watchword: "Not this life, but something higher"; and, like the true son of the Orient, he is practical in that. You people of the West are practical in your own department, in military affairs, and in managing political circles and other things. Perhaps the Oriental is not practical in those ways, but he is practical in his own field; he is practical in religion. If one preaches a philosophy, tomorrow there are hundreds who will struggle their best to make it practical in their lives. If a man preaches that standing on one foot would lead one to salvation, he will immediately get five hundred to stand on one foot. You may call it ludicrous; but, mark you, beneath that is their philosophy — that intense practicality. In the West, plans of salvation mean intellectual gymnastics — plans which are never worked out, never brought into practical life. In the West, the preacher who talks the best is the greatest preacher.
So, we find Jesus of Nazareth, in the first place, the true son of the Orient, intensely practical. He has no faith in this evanescent world and all its belongings. No need of text-torturing, as is the fashion in the West in modern times, no need of stretching out texts until the, will not stretch any more. Texts are not India rubber, and even that has its limits. Now, no making of religion to pander to the sense vanity of the present day! Mark you, let us all be honest. If we cannot follow the ideal, let us confess our weakness, but not degrade it; let not any try to pull it down. One gets sick at heart at the different accounts of the life of the Christ that Western people give. I do not know what he was or what he was not! One would make him a great politician; another, perhaps, would make of him a great military general; another, a great patriotic Jew; and so on. Is there any warrant in the books for all such assumptions? The best commentary on the life of a great teacher is his own life. "The foxes have holes, the birds of the air have nests, but the Son of man hath not where to lay his head." That is what Christ says as they only way to salvation; he lays down no other way. Let us confess in sackcloth and ashes that we cannot do that. We still have fondness for "me and mine". We want property, money, wealth. Woe unto us! Let us confess and not put to shame that great Teacher of Humanity! He had no family ties. But do you think that, that Man had any physical ideas in him? Do you think that, this mass of light, this God and not-man, came down to earth, to be the brother of animals? And yet, people make him preach all sorts of things. He had no sex ideas! He was a soul! Nothing but a soul — just working a body for the good of humanity; and that was all his relation to the body. In the soul there is no sex. The disembodied soul has no relationship to the animal, no relationship to the body. The ideal may be far away beyond us. But never mind, keep to the ideal. Let us confess that it is our ideal, but we cannot approach it yet.
He had no other occupation in life, no other thought except that one, that he was a spirit. He was a disembodied, unfettered, unbound spirit. And not only so, but he, with his marvellous vision, had found that every man and woman, whether Jew or Gentile, whether rich or poor, whether saint or sinner, was the embodiment of the same undying spirit as himself. Therefore, the one work his whole life showed was to call upon them to realise their own spiritual nature. Give up, he says, these superstitious dreams that you are low and that you are poor. Think not that you are trampled upon and tyrannised over as if you were slaves, for within you is something that can never be tyrannised over, never be trampled upon, never be troubled, never be killed. You are all Sons of God, immortal spirit. "Know", he declared, "the Kingdom of Heaven is within you." "I and my Father are one." Dare you stand up and say, not only that "I am the Son of God", but I shall also find in my heart of hearts that "I and my Father are one"? That was what Jesus of Nazareth said. He never talks of this world and of this life. He has nothing to do with it, except that he wants to get hold of the world as it is, give it a push and drive it forward and onward until the whole world has reached to the effulgent Light of God, until everyone has realised his spiritual nature, until death is vanished and misery banished.
We have read the different stories that have been written about him; we know the scholars and their writings, and the higher criticism; and we know all that has been done by study. We are not here to discuss how much of the New Testament is true, we are not here to discuss how much of that life is historical. It does not matter at all whether the New Testament was written within five hundred years of his birth, nor does it matter even, how much of that life is true. But there is something behind it, something we want to imitate. To tell a lie, you have to imitate a truth, and that truth is a fact. You cannot imitate that which never existed. You cannot imitate that which you never perceived. But there must have been a nucleus, a tremendous power that came down, a marvellous manifestation of spiritual power — and of that we are speaking. It stands there. Therefore, we are not afraid of all the criticisms of the scholars. If I, as an Oriental, have to worship Jesus of Nazareth, there is only one way left to me, that is, to worship him as God and nothing else. Have we no right to worship him in that way, do you mean to say? If we bring him down to our own level and simply pay him a little respect as a great man, why should we worship at all? Our scriptures say, "These great children of Light, who manifest the Light themselves, who are Light themselves, they, being worshipped, become, as it were, one with us and we become one with them."
For, you see, in three ways man perceives God. At first the undeveloped intellect of the uneducated man sees God as far away, up in the heavens somewhere, sitting on a throne as a great Judge. He looks upon Him as a fire, as a terror. Now, that is good, for there is nothing bad in it. You must remember that humanity travels not from error to truth, but from truth to truth; it may be, if you like it better, from lower truth to higher truth, but never from error to truth. Suppose you start from here and travel towards the sun in a straight line. From here the sun looks only small in size. Suppose you go forward a million miles, the sun will be much bigger. At every stage the sun will become bigger and bigger. Suppose twenty thousand photographs had been taken of the same sun, from different standpoints; these twenty thousand photographs will all certainly differ from one another. But can you deny that each is a photograph of the same sun? So all forms of religion, high or low, are just different stages toward that eternal state of Light, which is God Himself. Some embody a lower view, some a higher, and that is all the difference. Therefore, the religions of the unthinking masses all over the world must be, and have always been, of a God who is outside of the universe, who lives in heaven, who governs from that place, who is a punisher of the bad and a rewarder of the good, and so on. As man advanced spiritually, he began to feel that God was omnipresent, that He must be in him, that He must be everywhere, that He was not a distant God, but dearly the Soul of all souls. As my soul moves my body, even so is God the mover of my soul. Soul within soul. And a few individuals who had developed enough and were pure enough, went still further, and at last found God. As the New Testament says, "Blessed are the pure in heart, for they shall see God." And they found at last that they and the Father were one.
You find that all these three stages are taught by the Great Teacher in the New Testament. Note the Common Prayer he taught: "Our Father which art in Heaven, hallowed be Thy name," and so on — a simple prayer, a child's prayer. Mark you, it is the "Common Prayer" because it is intended for the uneducated masses. To a higher circle, to those who had advanced a little more, he gave a more elevated teaching: "I am in my Father, and ye in me, and I in you." Do you remember that? And then, when the Jews asked him who he was, he declared that he and his Father were one, and the Jews thought that that was blasphemy. What did he mean by that? This has been also told by your old Prophets, "Ye are gods and all of you are children of the Most High." Mark the same three stages. You will find that it is easier for you to begin with the first and end with the last.
The Messenger came to show the path: that the spirit is not in forms, that it is not through all sorts of vexations and knotty problems of philosophy that you know the spirit. Better that you had no learning, better that you never read a book in your life. These are not at all necessary for salvation — neither wealth, nor position nor power, not even learning; but what is necessary is that one thing, purity. "Blessed are the pure in heart," for the spirit in its own nature is pure. How can it be otherwise? It is of God, it has come from God. In the language of the Bible, "It is the breath of God." In the language of the Koran, "It is the soul of God." Do you mean to say that the Spirit of God can ever be impure? But, alas, it has been, as it were, covered over with the dust and dirt of ages, through our own actions, good and evil. Various works which were not correct, which were not true, have covered the same spirit with the dust and dirt of the ignorance of ages. It is only necessary to clear away the dust and dirt, and then the spirit shines immediately. "Blessed are the pure in heart, for they shall see God." "The Kingdom of Heaven is within you." Where goest thou to seek for the Kingdom of God, asks Jesus of Nazareth, when it is there, within you? Cleanse the spirit, and it is there. It is already yours. How can you get what is not yours? It is yours by right. You are the heirs of immortality, sons of the Eternal Father.
This is the great lesson of the Messenger, and another which is the basis of all religions, is renunciation. How can you make the spirit pure? By renunciation. A rich young man asked Jesus, "Good Master, what shall I do that I may inherit eternal life?" And Jesus said unto him, "One thing thou lackest; go thy way, sell whatsoever thou hast, and give to the poor, and thou shalt have treasures in heaven: and come, take up thy cross, and follow Me." And he was sad at that saying and went away grieved; for he had great possessions. We are all more or less like that. The voice is ringing in our ears day and night. In the midst of our pleasures and joys, in the midst of worldly things, we think that we have forgotten everything else. Then comes a moment's pause and the voice rings in our ears "Give up all that thou hast and follow Me." "Whosoever will save his life shall lose it; and whosoever shall lose his life for My sake shall find it." For whoever gives up this life for His sake, finds the life immortal. In the midst of all our weakness there is a moment of pause and the voice rings: "Give up all that thou hast; give it to the poor and follow me." This is the one ideal he preaches, and this has been the ideal preached by all the great Prophets of the world: renunciation. What is meant by renunciation? That there is only one ideal in morality: unselfishness. Be selfless. The ideal is perfect unselfishness. When a man is struck on the right cheek, he turns the left also. When a man's coat is carried off, he gives away his cloak also.
We should work in the best way we can, without dragging the ideal down. Here is the ideal. When a man has no more self in him, no possession, nothing to call "me" or "mine", has given himself up entirely, destroyed himself as it were — in that man is God Himself; for in him self-will is gone, crushed out, annihilated. That is the ideal man. We cannot reach that state yet; yet, let us worship the ideal, and slowly struggle to reach the ideal, though, maybe, with faltering steps. It may be tomorrow, or it may be a thousand years hence; but that ideal has to be reached. For it is not only the end, but also the means. To be unselfish, perfectly selfless, is salvation itself; for the man within dies, and God alone remains.
One more point. All the teachers of humanity are unselfish. Suppose Jesus of Nazareth was teaching; and a man came and told him, "What you teach is beautiful. I believe that it is the way to perfection, and I am ready to follow it; but I do not care to worship you as the only begotten Son of God." What would be the answer of Jesus of Nazareth? "Very well, brother, follow the ideal and advance in your own way. I do not care whether you give me the credit for the teaching or not. I am not a shopkeeper. I do not trade in religion. I only teach truth, and truth is nobody's property. Nobody can patent truth. Truth is God Himself. Go forward." But what the disciples say nowadays is: "No matter whether you practise the teachings or not, do you give credit to the Man? If you credit the Master, you will be saved; if not, there is no salvation for you." And thus the whole teaching of the Master is degenerated, and all the struggle and fight is for the personality of the Man. They do not know that in imposing that difference, they are, in a manner, bringing shame to the very Man they want to honour — the very Man that would have shrunk with shame from such an idea. What did he care if there was one man in the world that remembered him or not? He had to deliver his message, and he gave it. And if he had twenty thousand lives, he would give them all up for the poorest man in the world. If he had to be tortured millions of times for a million despised Samaritans, and if for each one of them the sacrifice of his own life would be the only condition of salvation, he would have given his life. And all this without wishing to have his name known even to a single person. Quiet, unknown, silent, would he work, just as the Lord works. Now, what would the disciple say? He will tell you that you may be a perfect man, perfectly unselfish; but unless you give the credit to our teacher, to our saint, it is of no avail. Why? What is the origin of this superstition, this ignorance? The disciple thinks that the Lord can manifest Himself only once. There lies the whole mistake. God manifests Himself to you in man. But throughout nature, what happens once must have happened before, and must happen in future. There is nothing in nature which is not bound by law; and that means that whatever happens once must go on and must have been going on.
In India they have the same idea of the Incarnations of God. One of their great Incarnations, Krishna, whose grand sermon, the Bhagavad-Gitâ, some of you might have read, says, "Though I am unborn, of changeless nature, and Lord of beings, yet subjugating My Prakriti, I come into being by My own Mâyâ. Whenever virtue subsides and immorality prevails, then I body Myself forth. For the protection of the good, for the destruction of the wicked, and for the establishment of Dharma, I come into being, in every age." Whenever the world goes down, the Lord comes to help it forward; and so He does from time to time and place to place. In another passage He speaks to this effect: Wherever thou findest a great soul of immense power and purity struggling to raise humanity, know that he is born of My splendour, that I am there working through him.
Let us, therefore, find God not only in Jesus of Nazareth, but in all the great Ones that have preceded him, in all that came after him, and all that are yet to come. Our worship is unbounded and free. They are all manifestations of the same Infinite God. They are all pure and unselfish; they struggled and gave up their lives for us, poor human beings. They each and all suffer vicarious atonement for every one of us, and also for all that are to come hereafter.
In a sense you are all Prophets; every one of you is a Prophet, bearing the burden of the world on your own shoulders. Have you ever seen a man, have you ever seen a woman, who is not quietly, patiently, bearing his or her little burden of life? The great Prophets were giants — they bore a gigantic world on their shoulders. Compared with them we are pigmies, no doubt, yet we are doing the same task; in our little circles, in our little homes, we are bearing our little crosses. There is no one so evil, no one so worthless, but he has to bear his own cross. But with all our mistakes, with all our evil thoughts and evil deeds, there is a bright spot somewhere, there is still somewhere the golden thread through which we are always in touch with the divine. For, know for certain, that the moment the touch of the divine is lost there would be annihilation. And because none can be annihilated, there is always somewhere in our heart of hearts, however low and degraded we may be, a little circle of light which is in constant touch with the divine.
Our salutations go to all the past Prophets whose teachings and lives we have inherited, whatever might have been their race, clime, or creed! Our salutations go to all those Godlike men and women who are working to help humanity, whatever be their birth, colour, or race! Our salutations to those who are coming in the future — living Gods — to work unselfishly for our descendants.
Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.