Arsip Vivekananda

"Dan biarlah Shyama Menari di sana"

Jilid4 poem
1,807 kata · 7 menit baca · Translations: Poems

Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.

AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.

Bahasa Indonesia

"DAN BIARLAH SHYAMA MENARI DI SANA"

(Diterjemahkan dari Bengali)

Kuntum-kuntum elok yang memikat dengan harum semerbak,

Kawanan-kawanan lebah gila berdengung di sekeliling;

Bulan perak — pancuran senyum manis,

Yang oleh segenap penghuni surga di atas

Ditaburkan dengan murah hati ke atas rumah-rumah bumi;

Angin Malaya yang lembut, yang sentuhan ajaibnya

Membuka lipatan-lipatan kenangan yang jauh untuk dilihat;

Sungai-sungai dan anak-anak air yang menggumam, danau-danau beriak

Dengan Bhramara tak tenang berputar di atas

Teratai tak terhitung yang melambai lembut;

Air terjun berbusa mengalir — musik yang mengalir —

Yang rongga-rongga gunung menggemakannya kembali;

Burung-burung kicau, penuh dengan melodi yang mengalir manis,

Tersembunyi di dedaunan, mencurahkan hati — wacana cinta;

Cakrawala terbit hari, sang pelukis ilahi,

Dengan kuas emasnya hanya menyentuh dengan ringan

Kanvas bumi dan limpahan warna

Seketika membanjir di atas dada alam,

— Sungguh suatu museum corak-corak indah —

Membangunkan sebuah samudra penuh perasaan.

Gulungan guruh, gemertaknya awan-awan,

Perang unsur-unsur menyebar di bumi dan langit;

Kegelapan memuntahkan kegelapan yang membutakan,

Angin Pralaya menderu dengan murka;

Dalam letusan-letusan cepat keagungan menyilaukan, berkilat

Halilintar dahsyat semerah darah, menebar maut;

Gelombang-gelombang raksasa menderu bagai guruh, berbusa,

Bergegas dengan dahsyat untuk melompati puncak-puncak gunung;

Bumi berderum dengan murka, terhuyung dan bergoyang,

Tenggelam menuju keruntuhan, terhempas dari tempatnya;

Menembus tanah, menyembur keluar nyala-nyala api yang dahsyat.

Pegunungan-pegunungan perkasa meledak menjadi atom-atom.

Sebuah villa indah, di atas danau biru —

Berhiaskan untaian bunga-bunga lili air;

Darah hati anggur masak bermahkotakan busa putih

Berbisik perlahan mengisahkan kisah gairah;

Melodi harpa membanjiri telinga,

Dan dengan udara, irama, dan harmoninya yang kaya,

Menambah hasrat di dada manusia;

Betapa bergolaknya emosi! Betapa banyaknya

Helaan-helaan panas Cinta! Dan air mata hangat mengalir turun!

Bibir merah Bimba si dara muda,

Dua mata biru — dua samudra perasaan;

Dua tangan yang bersemangat melangkah maju — sangkar cinta —

Di mana hati, bagai burung, terkurung tawanan.

Musik perang meletus, terompet-terompet ditiup,

Tanah berguncang di bawah langkah para ksatria;

Deru meriam, gemertak senapan,

Gumpalan-gumpalan asap, medan pertempuran yang mengerikan,

Artileri yang menggelegar memuntahkan api

Ke ribuan arah; granat-granat meledak dan menghantam

Bagian-bagian vital tubuh; gajah-gajah

Dan kuda-kuda tunggangan dihempas ke udara;

Bumi gemetar di bawah tarian neraka ini;

Sejuta pahlawan menunggang kuda

Menyerbu dan merebut persenjataan musuh,

Menembus asap dan hujan granat

Serta hujan peluru; ke depan melangkah panji,

Lambang kemenangan, kepahlawanan

Dengan darah, yang masih hangat, mengalir turun di gagangnya,

Diikuti oleh senapan-senapan, mabuk dengan semangat perang;

Lihat! pembawa panji jatuh, namun panji terus maju

Ke depan di pundak orang lain;

Di bawah kakinya membengkak tumpukan para ksatria

Yang gugur dalam pertempuran; namun ia tidak goyah.

Daging mendambakan sentuhan kenikmatan,

Indra-indra mendambakan alunan nyanyian yang memesona,

Pikiran lapar akan ledakan tawa yang manis,

Hati terengah-engah ingin mencapai alam di luar duka;

Katakanlah, siapa yang mau menukar sinar bulan yang menenangkan

Dengan terik matahari tengah hari yang membakar?

Si malang yang hatinya bagai matahari yang membakar,

— Bahkan ia pun mencintai bulan yang sejuk dengan mesra;

Sungguh, semua haus akan kebahagiaan. Adakah bernapas si malang

Yang memeluk derita dan duka di dadanya?

Kesengsaraan dalam cangkir kebahagiaannya,

Racun mematikan dalam minuman nektar-nya,

Bisa di tenggorokannya — namun ia tetap berpegang pada harapan!

Lihat! betapa semua orang ketakutan oleh Yang Dahsyat,

Tak seorang pun mencari Elokeshi yang rupanya adalah Maut.

Pedang yang mematikan dan menakutkan, berbau darah,

Mereka ambil dari tangan-Nya, dan menggantinya dengan kecapi!

Wahai Engkau Kali yang ditakuti, Pemusnah Segala,

Engkau sajalah yang sejati; bayang dari bayang-Mu

Sungguh adalah Vanamali yang menyenangkan.

Wahai Ibu Yang Dahsyat, potong segera intinya,

Sirnakan ilusi — mimpi kebahagiaan,

Koyaklah kemelekatan pada daging.

Benar, mereka mengalungi-Mu dengan tengkorak-tengkorak, namun mundur

Dalam ketakutan dan menyebut-Mu, "O Yang Mahabelas Kasih!"

Pada peluit guruh tawa-Mu yang menakutkan,

Pada ketelanjangan-Mu — karena angkasa adalah pakaian-Mu —

Hati mereka tenggelam dengan teror, namun mereka berkata,

"Iblis-iblislah yang dibunuh oleh sang Ibu!"

Mereka hanya berpura-pura ingin melihat Engkau,

Namun ketika tiba waktunya, di hadapan rupa-Mu mereka melarikan diri.

Engkau adalah Maut! Kepada masing-masing dan setiap orang di dunia

Engkau membagikan wabah dan penyakit

— Bejana-bejana bisa yang diisi oleh tangan-Mu sendiri.

Wahai engkau yang gila! Engkau hanya menipu dirimu sendiri,

Engkau tidak memalingkan kepalamu agar tidak menatap.

Ya, rupa yang dahsyat dari sang Ibu.

Engkau mengejar kesulitan sambil mengharapkan kebahagiaan,

Engkau mengenakan jubah Bhakti dan ibadah,

Dengan pikiran penuh akan pencapaian tujuan-tujuan egois.

Darah dari kepala anak kambing yang telah terpotong

Memenuhi engkau dengan ketakutan — hatimu berdebar pada pemandangan itu —

Sesungguhnya engkau pengecut! Berbelas kasih?

Berkatilah jiwaku! Sungguh keadaan yang aneh!

Kepada siapa akan kukatakan kebenaran ini? — Siapa yang akan melihat?

Bebaskan dirimu dari daya tarik yang besar itu —

Anggur cinta yang membuat gila, pesona kelamin.

Patahkan harpa itu! Maju, dengan seruan samudra!

Minumlah air mata, gadaikanlah bahkan hidup — biarlah tubuh roboh.

Bangunlah, wahai pahlawan! Lepaskanlah mimpi-mimpi sia-siamu,

Maut berdiri di sisi kepalamu — pantaskah ketakutan bagimu?

Setumpuk derita, walau itu benar adanya —

Yang Menjadi ini — ketahuilah bahwa inilah Tuhanmu!

Kuil-Nya — Shmashan di antara mayat-mayat

Dan tumpukan pembakaran jenazah; pertempuran tak berkesudahan —

Itulah ibadah suci-Nya;

Kekalahan yang terus-menerus — janganlah itu melemahkanmu;

Hancurlah diri kecil, harapan, nama, dan kemasyhuran;

Buatlah dari mereka tumpukan pembakaran dan jadikan hatimu

Suatu pekuburan pembakaran.

Dan biarlah Shyama menari di sana.

Kuntum-kuntum elok yang memikat dengan harum semerbak,

Kawanan-kawanan lebah gila berdengung di sekeliling;

Bulan perak — pancuran senyum manis,

Yang oleh segenap penghuni surga di atas

Ditaburkan dengan murah hati ke atas rumah-rumah bumi;

Angin Malaya yang lembut, yang sentuhan ajaibnya

Membuka lipatan-lipatan kenangan yang jauh untuk dilihat;

Sungai-sungai dan anak-anak air yang menggumam, danau-danau beriak

Dengan Bhramara tak tenang berputar di atas

Teratai tak terhitung yang melambai lembut;

Air terjun berbusa mengalir — musik yang mengalir —

Yang rongga-rongga gunung menggemakannya kembali;

Burung-burung kicau, penuh dengan melodi yang mengalir manis,

Tersembunyi di dedaunan, mencurahkan hati — wacana cinta;

Cakrawala terbit hari, sang pelukis ilahi,

Dengan kuas emasnya hanya menyentuh dengan ringan

Kanvas bumi dan limpahan warna

Seketika membanjir di atas dada alam,

— Sungguh suatu museum corak-corak indah —

Membangunkan sebuah samudra penuh perasaan.

Gulungan guruh, gemertaknya awan-awan,

Perang unsur-unsur menyebar di bumi dan langit;

Kegelapan memuntahkan kegelapan yang membutakan,

Angin Pralaya menderu dengan murka;

Dalam letusan-letusan cepat keagungan menyilaukan, berkilat

Halilintar dahsyat semerah darah, menebar maut;

Gelombang-gelombang raksasa menderu bagai guruh, berbusa,

Bergegas dengan dahsyat untuk melompati puncak-puncak gunung;

Bumi berderum dengan murka, terhuyung dan bergoyang,

Tenggelam menuju keruntuhan, terhempas dari tempatnya;

Menembus tanah, menyembur keluar nyala-nyala api yang dahsyat.

Pegunungan-pegunungan perkasa meledak menjadi atom-atom.

Sebuah villa indah, di atas danau biru —

Berhiaskan untaian bunga-bunga lili air;

Darah hati anggur masak bermahkotakan busa putih

Berbisik perlahan mengisahkan kisah gairah;

Melodi harpa membanjiri telinga,

Dan dengan udara, irama, dan harmoninya yang kaya,

Menambah hasrat di dada manusia;

Betapa bergolaknya emosi! Betapa banyaknya

Helaan-helaan panas Cinta! Dan air mata hangat mengalir turun!

Bibir merah Bimba si dara muda,

Dua mata biru — dua samudra perasaan;

Dua tangan yang bersemangat melangkah maju — sangkar cinta —

Di mana hati, bagai burung, terkurung tawanan.

Musik perang meletus, terompet-terompet ditiup,

Tanah berguncang di bawah langkah para ksatria;

Deru meriam, gemertak senapan,

Gumpalan-gumpalan asap, medan pertempuran yang mengerikan,

Artileri yang menggelegar memuntahkan api

Ke ribuan arah; granat-granat meledak dan menghantam

Bagian-bagian vital tubuh; gajah-gajah

Dan kuda-kuda tunggangan dihempas ke udara;

Bumi gemetar di bawah tarian neraka ini;

Sejuta pahlawan menunggang kuda

Menyerbu dan merebut persenjataan musuh,

Menembus asap dan hujan granat

Serta hujan peluru; ke depan melangkah panji,

Lambang kemenangan, kepahlawanan

Dengan darah, yang masih hangat, mengalir turun di gagangnya,

Diikuti oleh senapan-senapan, mabuk dengan semangat perang;

Lihat! pembawa panji jatuh, namun panji terus maju

Ke depan di pundak orang lain;

Di bawah kakinya membengkak tumpukan para ksatria

Yang gugur dalam pertempuran; namun ia tidak goyah.

Daging mendambakan sentuhan kenikmatan,

Indra-indra mendambakan alunan nyanyian yang memesona,

Pikiran lapar akan ledakan tawa yang manis,

Hati terengah-engah ingin mencapai alam di luar duka;

Katakanlah, siapa yang mau menukar sinar bulan yang menenangkan

Dengan terik matahari tengah hari yang membakar?

Si malang yang hatinya bagai matahari yang membakar,

— Bahkan ia pun mencintai bulan yang sejuk dengan mesra;

Sungguh, semua haus akan kebahagiaan. Adakah bernapas si malang

Yang memeluk derita dan duka di dadanya?

Kesengsaraan dalam cangkir kebahagiaannya,

Racun mematikan dalam minuman nektar-nya,

Bisa di tenggorokannya — namun ia tetap berpegang pada harapan!

Lihat! betapa semua orang ketakutan oleh Yang Dahsyat,

Tak seorang pun mencari Elokeshi yang rupanya adalah Maut.

Pedang yang mematikan dan menakutkan, berbau darah,

Mereka ambil dari tangan-Nya, dan menggantinya dengan kecapi!

Wahai Engkau Kali yang ditakuti, Pemusnah Segala,

Engkau sajalah yang sejati; bayang dari bayang-Mu

Sungguh adalah Vanamali yang menyenangkan.

Wahai Ibu Yang Dahsyat, potong segera intinya,

Sirnakan ilusi — mimpi kebahagiaan,

Koyaklah kemelekatan pada daging.

Benar, mereka mengalungi-Mu dengan tengkorak-tengkorak, namun mundur

Dalam ketakutan dan menyebut-Mu, "O Yang Mahabelas Kasih!"

Pada peluit guruh tawa-Mu yang menakutkan,

Pada ketelanjangan-Mu — karena angkasa adalah pakaian-Mu —

Hati mereka tenggelam dengan teror, namun mereka berkata,

"Iblis-iblislah yang dibunuh oleh sang Ibu!"

Mereka hanya berpura-pura ingin melihat Engkau,

Namun ketika tiba waktunya, di hadapan rupa-Mu mereka melarikan diri.

Engkau adalah Maut! Kepada masing-masing dan setiap orang di dunia

Engkau membagikan wabah dan penyakit

— Bejana-bejana bisa yang diisi oleh tangan-Mu sendiri.

Wahai engkau yang gila! Engkau hanya menipu dirimu sendiri,

Engkau tidak memalingkan kepalamu agar tidak menatap.

Ya, rupa yang dahsyat dari sang Ibu.

Engkau mengejar kesulitan sambil mengharapkan kebahagiaan,

Engkau mengenakan jubah Bhakti dan ibadah,

Dengan pikiran penuh akan pencapaian tujuan-tujuan egois.

Darah dari kepala anak kambing yang telah terpotong

Memenuhi engkau dengan ketakutan — hatimu berdebar pada pemandangan itu —

Sesungguhnya engkau pengecut! Berbelas kasih?

Berkatilah jiwaku! Sungguh keadaan yang aneh!

Kepada siapa akan kukatakan kebenaran ini? — Siapa yang akan melihat?

Bebaskan dirimu dari daya tarik yang besar itu —

Anggur cinta yang membuat gila, pesona kelamin.

Patahkan harpa itu! Maju, dengan seruan samudra!

Minumlah air mata, gadaikanlah bahkan hidup — biarlah tubuh roboh.

Bangunlah, wahai pahlawan! Lepaskanlah mimpi-mimpi sia-siamu,

Maut berdiri di sisi kepalamu — pantaskah ketakutan bagimu?

Setumpuk derita, walau itu benar adanya —

Yang Menjadi ini — ketahuilah bahwa inilah Tuhanmu!

Kuil-Nya — Shmashan di antara mayat-mayat

Dan tumpukan pembakaran jenazah; pertempuran tak berkesudahan —

Itulah ibadah suci-Nya;

Kekalahan yang terus-menerus — janganlah itu melemahkanmu;

Hancurlah diri kecil, harapan, nama, dan kemasyhuran;

Buatlah dari mereka tumpukan pembakaran dan jadikan hatimu

Suatu pekuburan pembakaran.

Dan biarlah Shyama menari di sana.

Catatan

English

"AND LET SHYAMA DANCE THERE"

(Rendered from Bengali)

Beaut'ous blossoms ravishing with perfume,

Swarms of maddened bees buzzing all around ;

The silver moon—a shower of sweet smile,

Which all the dwellers of heaven above

Shed lavishly upon the homes of earth ;

The soft Malaya breeze, whose magic touch

Opens to view distant memory's folds ;

Murmuring rivers and brooks, rippling lakes

With restless Bhramaras wheeling over

Gently waving lotuses unnumbered ;

Foaming flow cascades—a streaming music—

To which echo mountain caves in return ;

Warblers, full of sweet-flowing melody,

Hidden in leaves, pour hearts out—love discourse ;

The rising orb of day, the painter divine,

With his golden brush but lightly touches

The canvas earth and a wealth of colours

Floods at once o'er the bosom of nature,

—Truly a museum of lovely hues—

Waking up a whole sea of sentiments.

The roll of thunder, the crashing of clouds,

War of elements spreading earth and sky;

Darkness vomiting forth blinding darkness,

The Pralaya wind angrily roaring;

In quick bursts of dazzling splendour flashes

Blood-red terrific lightning, dealing death;

Monster waves roaring like thunder, foaming,

Rush impetuous to leap mountain peaks;

The earth booms furious, reels and totters,

Sinks down to its ruin, hurled from its place;

Piercing the ground, stream forth tremendous flames.

Mighty ranges blow up into atoms.

A lovely villa, on a lake of blue—

Festooned with dusters of water-lilies;

The heart-blood of ripe grapes capped with white foam

Whispering softly tells tale of passion;

The melody of the harp floods the ears,

And by its air, time, and harmony rich,

Enhances desire in the breast of man ;

What stirring of emotions! How many

Hot sighs of Love! And warm tears coursing down!

The Bimba-red lips of the youthful fair,

The two blue eyes—two oceans of feelings;

The two hands eager to advance—love's cage—

In which the heart, like a bird, lies captive.

The martial music bursts, the trumpets blow,

The ground shakes under the warriors' tread;

The roar of cannon, the rattle of guns,

Volumes of smoke, the gruesome battlefield,

The thundering artillery vomits fire

In thousand directions; shells burst and strike

Vital parts of the body; elephants

And horses mounted are blown up in space;

The earth trembles under this infernal dance;

A million heroes mounted on steeds

Charge and capture the enemy's ordnance,

Piercing through the smoke and shower of shells

And rain of bullets; forward goes the flag,

The emblem of victory, of heroism

With the blood, yet hot, streaming down the staff,

Followed by the rifles, drunk with war-spirit;

Lo! the ensign falls, but the flag proceeds

Onwards on the shoulder of another;

Under his feet swell heaps of warriors

Perished in battle; but he falters not.

The flesh hankers for contacts of pleasure,

The senses for enchanting strains of song,

The mind hungers for peals of laughter sweet,

The heart pants to reach realms beyond sorrow;

Say, who cares exchange the soothing moonlight

For the burning rays of the noontide sun?

The wretch whose heart is like the scorching sun,

—Even he fondly loves the balmy moon;

Indeed, all thirst for joy. Breathes there the wretch

Who hugs pain and sorrow to his bosom?

Misery in his cup of happiness,

Deadly venom in his drink of nectar,

Poison in his throat—yet he clings to hope!

Lo! how all are scared by the Terrific,

None seek Elokeshi whose form is Death.

The deadly frightful sword, reeking with blood,

They take from Her hand, and put a lute instead!

Thou dreaded Kâli, the All-destroyer,

Thou alone art true; Thy shadow's shadow

Is indeed the pleasant Vanamâli.

O Terrible Mother, cut quick the core,

Illusion dispel—the dream of happiness,

Rend asunder the fondness for the flesh.

True, they garland Thee with skulls, but shrink back

In fright and call Thee, "O All-merciful!"

At Thy thunder peal of awful laughter,

At Thy nudeness—for space is thy garment—

Their hearts sink down with terror, but they say,

"It is the demons that the Mother kills!"

They only pretend they wish to see Thee,

But when the time comes, at Thy sight they flee.

Thou art Death! To each and all in the world

Thou distributest the plague and disease

—Vessels of venom filled by Thine own hands.

O thou insane! Thou but cheatest thyself,

Thou cost not turn thy head lest thou behold.

Ay, the form terrible of the Mother.

Thou courtest hardship hoping happiness,

Thou wearest cloak of Bhakti and worship,

With mind full of achieving selfish ends.

The blood from the severed head of a kid

Fills thee with fear—thy heart throbs at the sight—

Verily a coward! Compassionate?

Bless my soul! A strange state of things indeed!

To whom shall I tell the truth?—Who will see?

Free thyself from the mighty attraction—

The maddening wine of love, the charm of sex.

Break the harp! Forward, with the ocean's cry!

Drink tears, pledge even life—let the body fall.

Awake, O hero! Shake off thy vain dreams,

Death stands at thy head—does fear become thee?

A load of misery, true though it is—

This Becoming—know this to be thy God!

His temple—the Shmashân among corpses

And funeral pyres; unending battle —

That verily is His sacred worship;

Constant defeat — let that not unnerve thee;

Shattered be little self, hope, name, and fame;

Set up a pyre of them and make thy heart

A burning-ground.

And let Shyâmâ dance there.

Beaut'ous blossoms ravishing with perfume,

Swarms of maddened bees buzzing all around ;

The silver moon—a shower of sweet smile,

Which all the dwellers of heaven above

Shed lavishly upon the homes of earth ;

The soft Malaya breeze, whose magic touch

Opens to view distant memory's folds ;

Murmuring rivers and brooks, rippling lakes

With restless Bhramaras wheeling over

Gently waving lotuses unnumbered ;

Foaming flow cascades—a streaming music—

To which echo mountain caves in return ;

Warblers, full of sweet-flowing melody,

Hidden in leaves, pour hearts out—love discourse ;

The rising orb of day, the painter divine,

With his golden brush but lightly touches

The canvas earth and a wealth of colours

Floods at once o'er the bosom of nature,

—Truly a museum of lovely hues—

Waking up a whole sea of sentiments.

The roll of thunder, the crashing of clouds,

War of elements spreading earth and sky;

Darkness vomiting forth blinding darkness,

The Pralaya wind angrily roaring;

In quick bursts of dazzling splendour flashes

Blood-red terrific lightning, dealing death;

Monster waves roaring like thunder, foaming,

Rush impetuous to leap mountain peaks;

The earth booms furious, reels and totters,

Sinks down to its ruin, hurled from its place;

Piercing the ground, stream forth tremendous flames.

Mighty ranges blow up into atoms.

A lovely villa, on a lake of blue—

Festooned with dusters of water-lilies;

The heart-blood of ripe grapes capped with white foam

Whispering softly tells tale of passion;

The melody of the harp floods the ears,

And by its air, time, and harmony rich,

Enhances desire in the breast of man ;

What stirring of emotions! How many

Hot sighs of Love! And warm tears coursing down!

The Bimba-red lips of the youthful fair,

The two blue eyes—two oceans of feelings;

The two hands eager to advance—love's cage—

In which the heart, like a bird, lies captive.

The martial music bursts, the trumpets blow,

The ground shakes under the warriors' tread;

The roar of cannon, the rattle of guns,

Volumes of smoke, the gruesome battlefield,

The thundering artillery vomits fire

In thousand directions; shells burst and strike

Vital parts of the body; elephants

And horses mounted are blown up in space;

The earth trembles under this infernal dance;

A million heroes mounted on steeds

Charge and capture the enemy's ordnance,

Piercing through the smoke and shower of shells

And rain of bullets; forward goes the flag,

The emblem of victory, of heroism

With the blood, yet hot, streaming down the staff,

Followed by the rifles, drunk with war-spirit;

Lo! the ensign falls, but the flag proceeds

Onwards on the shoulder of another;

Under his feet swell heaps of warriors

Perished in battle; but he falters not.

The flesh hankers for contacts of pleasure,

The senses for enchanting strains of song,

The mind hungers for peals of laughter sweet,

The heart pants to reach realms beyond sorrow;

Say, who cares exchange the soothing moonlight

For the burning rays of the noontide sun?

The wretch whose heart is like the scorching sun,

—Even he fondly loves the balmy moon;

Indeed, all thirst for joy. Breathes there the wretch

Who hugs pain and sorrow to his bosom?

Misery in his cup of happiness,

Deadly venom in his drink of nectar,

Poison in his throat—yet he clings to hope!

Lo! how all are scared by the Terrific,

None seek Elokeshi whose form is Death.

The deadly frightful sword, reeking with blood,

They take from Her hand, and put a lute instead!

Thou dreaded Kâli, the All-destroyer,

Thou alone art true; Thy shadow's shadow

Is indeed the pleasant Vanamâli.

O Terrible Mother, cut quick the core,

Illusion dispel—the dream of happiness,

Rend asunder the fondness for the flesh.

True, they garland Thee with skulls, but shrink back

In fright and call Thee, "O All-merciful!"

At Thy thunder peal of awful laughter,

At Thy nudeness—for space is thy garment—

Their hearts sink down with terror, but they say,

"It is the demons that the Mother kills!"

They only pretend they wish to see Thee,

But when the time comes, at Thy sight they flee.

Thou art Death! To each and all in the world

Thou distributest the plague and disease

—Vessels of venom filled by Thine own hands.

O thou insane! Thou but cheatest thyself,

Thou cost not turn thy head lest thou behold.

Ay, the form terrible of the Mother.

Thou courtest hardship hoping happiness,

Thou wearest cloak of Bhakti and worship,

With mind full of achieving selfish ends.

The blood from the severed head of a kid

Fills thee with fear—thy heart throbs at the sight—

Verily a coward! Compassionate?

Bless my soul! A strange state of things indeed!

To whom shall I tell the truth?—Who will see?

Free thyself from the mighty attraction—

The maddening wine of love, the charm of sex.

Break the harp! Forward, with the ocean's cry!

Drink tears, pledge even life—let the body fall.

Awake, O hero! Shake off thy vain dreams,

Death stands at thy head—does fear become thee?

A load of misery, true though it is—

This Becoming—know this to be thy God!

His temple—the Shmashân among corpses

And funeral pyres; unending battle —

That verily is His sacred worship;

Constant defeat — let that not unnerve thee;

Shattered be little self, hope, name, and fame;

Set up a pyre of them and make thy heart

A burning-ground.

And let Shyâmâ dance there.

Notes


Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.