Arsip Vivekananda

Sebuah Nyanyian yang Kunyanyikan untuk-Mu

Jilid4 poem
2,606 kata · 10 menit baca · Translations: Poems

Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.

AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.

Bahasa Indonesia

SEBUAH NYANYIAN KUPERSEMBAHKAN BAGI-MU

(Disadur dari bahasa Bengali)

Sebuah nyanyian kunyanyikan. Sebuah nyanyian kunyanyikan bagi-Mu!

Tidaklah kuhiraukan ulasan manusia, entah baik entah buruk.

Celaan atau pujian tidak kuhitung sebagai sesuatu.

Hamba aku, hamba sejati bagi Kalian Berdua,

Tunduk di kaki-Mu, bersama Shakti, aku memberi hormat!

Engkau berdiri teguh, senantiasa di belakangku,

Maka tatkala aku berpaling, kulihat wajah-Mu,

Wajah-Mu yang tersenyum. Karena itu kunyanyikan lagi

Dan sekali lagi. Karena itu tiada ketakutan yang kutakuti;

Sebab kelahiran dan kematian terbujur sujud di kakiku.

Hamba-Mu aku melalui kelahiran demi kelahiran,

Samudra belas kasih, tak terselami jalan-jalan-Mu;

Maka tak terselami pula nasibku;

Ia tak diketahui; tiada pula keinginanku untuk mengetahuinya.

Bhakti, Mukti, Japa, Tapas, semua ini,

Kenikmatan, pemujaan, dan pengabdian pula—

Hal-hal ini dan segala yang serupa dengannya,

Telah kuusir atas titah-Mu yang tertinggi.

Namun hanya satu hasrat yang tinggal padaku—

Suatu keakraban dengan-Mu, timbal balik!

Bawalah aku, ya Tuhan, menyeberang menuju-Mu;

Janganlah biarkan garis pemisah hasrat menghalangi.

Mata memandang ke luar atas alam semesta,

Namun tidak mencari memandang dirinya sendiri;

Mengapa harus? Ia melihat dirinya pada yang lain.

Engkaulah mataku! Engkau dan hanya Engkau;

Sebab setiap kuil hidup menyemayamkan wajah-Mu.

Seperti permainan seorang anak kecil

Demikianlah setiap sikapku terhadap-Mu.

Bahkan, kadang-kadang, aku berani memarahi-Mu;

Bahkan, kadang-kadang, aku mengembara jauh:—

Namun di sana, dalam keremangan paling kelabu dari malam paling gulita,

Namun di sana, dengan mulut bisu dan mata bercucuran air,

Engkau berdiri menghadapku, dan Wajah-Mu yang lembut

Tertunduk dengan pandangan kasih atas wajahku.

Lalu, seketika, aku berpaling kembali kepada-Mu,

Dan di kaki-Mu aku rebah berlutut.

Tiada kumohon pengampunan dari tangan-Mu yang lembut,

Sebab Engkau tidak pernah murka kepada putra-Mu.

Siapa lagi yang sanggup menanggung segala ulah dungukku?

Engkaulah Tuanku! Engkau sahabat sejati jiwaku.

Berkali-kali kulihat Engkau—akulah Engkau!

Sungguh, akulah Engkau, dan Engkau, Tuhanku, adalah aku!

Engkau ada di dalam tuturanku. Di dalam tenggorokanku

Engkau hadir, sebagai Vinapani, terpelajar, bijaksana.

Atas arus aliran-Mu dan kekuatannya

Umat manusia terhanyut sesuai kehendak-Mu.

Gemuruh Suara-Mu terbawa atas dentum

Ombak yang menghempas, lautan yang melompati;

Matahari dan bulan menyuarakan Suara-Mu;

Percakapan-Mu, dalam embusan angin yang lembut

Terdengar dalam kebenaran, dalam kebenaran yang sungguh,

Benar! Benar! Namun, sementara itu, ajaran-ajaran kasar ini

Tidaklah memberikan pesan Kebenaran yang Lebih Tinggi

Yang dikenal oleh pengetahu!

Lihatlah! Matahari, bulan,

Planet-planet yang bergerak dan bintang-bintang yang bersinar,

Wilayah-wilayah hunian yang berjuta-juta di langit,

Komet yang melaju cepat, kilatan petir yang berkelap-kelip,

Cakrawala, terbentang, tak terhingga—

Semuanya, mata yang waspada lagi cermat menyaksikan,

Amarah, hasrat, ketamakan, Moha, dan selebihnya

Dari mana memancar lambaian permainan

Wujud keberadaan ini; rumah tempat bersemayam

Pengetahuan, dan ketidaktahuan—yang pusatnya adalah

Perasaan diri kecil, sang "Aham!" "Aham!"

Penuh dengan rasa dwitunggal kenikmatan dan kesakitan,

Sarat dengan kelahiran dan kehidupan, kemerosotan dan kematian,

Yang lengan-lengannya ialah "Yang Lahiriah" dan "Yang Batiniah",

Segala sesuatu yang ada, hingga ke kedalaman samudra,

Naik ke matahari, bulan, dan bintang-bintang di ruang yang tak terjangkau—

Pikiran, Buddhi, Chitta, Ahamkara,

Para Deva, Yaksha, manusia dan setan, semuanya,

Hewan berkaki empat, burung, cacing, segala kehidupan serangga,

Atom dan persenyawaannya, segala yang ada,

Yang bernyawa dan tak bernyawa, semua, semua—

Yang Batiniah dan Yang Lahiriah—bersemayam

Di satu bidang keberadaan yang sama itu!

Penampilan lahiriah ini berciri kasar,

Seperti rambut pada dahi manusia, sungguh! sangat kasar.

Di lereng Gunung Meru yang perkasa

Membentang barisan bersalju yang abadi,

Memanjang berkilo-kilo melampaui berkilo-kilo lagi.

Menembus awan ke langit di atas

Puncak-puncaknya menjulang dalam ratusan, mulia,

Berkilauan cemerlang, tak terhitung, putih bersalju:

Kilat demi kilat petir tajam yang melesat,

Matahari, tergantung tinggi pada solstis utaranya,

Dengan kekuatan seribu berkas yang memusat,

Mencurahkan ke gunung itu air bah panasnya,

Ganas bagaikan semiliar halilintar,

Dari puncak ke puncak.

Lihatlah! Matahari yang berseri

Pingsan, seakan-akan, pada setiap puncak. Lalu meleburlah

Gunung perkasa itu beserta puncak-puncak bermahkotanya!

Turun, turun, ia runtuh, dengan dentaman yang dahsyat!

Air bercampur dengan air kini bertautan,

Dan semua telah berlalu seperti mimpi yang lewat.

Tatkala segenap pergerakan pikiran yang beragam

Disatukan, oleh rahmat-Mu, dijadikan satu,

Cahaya dari penyingkapan itu sedemikian agung

Sehingga, dalam kemegahannya, ia jauh melampaui

Kecemerlangan sepuluh ribu mentari yang terbit.

Lalu, sungguh, matahari Chit menyingkap dirinya.

Dan meleburlah matahari, bulan, dan bintang-bintang,

Surga tinggi di atas, alam-alam bawah, dan segalanya!

Alam semesta ini tampak hanya sebuah genangan kecil

Tertampung dalam cekungan yang disebabkan oleh tapak seekor sapi.

Inilah pencapaian kawasan yang

Terletak di luar bidang Yang Lahiriah.

Tertenangkan sudah ingar-bingar daging yang mendesak,

Hingar-bingar pikiran yang sombong telah hening,

Tali-tali hati dilonggarkan dan dibebaskan,

Dilepaskan ikatan-ikatan yang membelenggu,

Keterikatan dan delusi tidak ada lagi!

Sungguh! Di sana berkumandang nyaring Suara

Yang tanpa getaran. Sungguh! Suara-Mu!

Mendengar Suara itu, hamba-Mu, dengan khidmat,

Senantiasa siap menjalankan pekerjaan-Mu.

"Aku ada. Tatkala, pada masa Pralaya

Alam semesta yang menakjubkan ini ditelan habis;

Pengetahuan, pengetahu, dan yang diketahui, melebur;

Dunia tidak lagi dapat dibedakan, kini,

Tidak lagi dapat dipahami; tatkala matahari dan bulan

Dan segenap bintang yang telah padam, tidak lagi tersisa—

Maka itulah keadaan Maha-Nirvana,

Tatkala tindakan, perbuatan, dan pelaku, tidak ada lagi,

Tatkala sarana tidak ada lagi;

Kegelapan agung menyelubungi pangkuan kegelapan —

Di sana Aku hadir.

"Aku hadir! Pada masa Pralaya,

Tatkala alam semesta yang luas ini ditelan habis,

Pengetahuan, dan pengetahu, dan yang diketahui

Melebur menjadi satu.

Alam semesta tak lagi

Dapat dibedakan atau dapat dipahami

Oleh akal budi. Matahari dan bulan dan bintang-bintang tidak ada.

Di atas pangkuan kegelapan, kegelapan bergerak

Pekat. Lepas dari segala ikatan rangkap tiga,

Tinggallah alam semesta. Guna-guna ditenangkan

Dari segala pembedaan. Segala sesuatu tenggelam

Dalam satu massa homogen, halus,

Murni, berbentuk atomik, tak terbagi—

Di sana Aku hadir.

"Sekali lagi, Aku menyingkapkan Diri-Ku—'Aku' itu;

Dari 'Shakti'-Ku perubahan besar yang pertama ialah Om;

Suara Purba bergema melintasi kekosongan;

Ruang Tak Terhingga mendengar bunyi bergetar yang agung itu.

Kelompok Sebab-sebab Purba menggugurkan tidur,

Hidup baru menghidupkan kembali atom-atom yang tak terhingga;

Wujud kosmik berdebur dan berputar dan berayun,

Menari dan berpusing, bergerak menuju inti,

Dari jarak yang tak terukur jauhnya.

Angin yang bernyawa membangkitkan lingkaran Gelombang

Di atas Samudra Unsur-unsur agung;

Bergolak, jatuh, membahana, bentangan Gelombang yang luas itu

Melaju dengan kemurkaan kilat. Pecahan-pecahan yang terlempar

Oleh kekuatan perlawanan agung melalui lintasan

Ruang, melaju, tak berkesudahan, dalam bentuk bola-bola

Langit, tak terbilang. Planet dan bintang

Melesat cepat; dan tempat tinggal manusia, bumi berputar.

"Pada Permulaan, Aku Yang Mahatahu,

Aku ada! Yang bergerak dan yang tak bergerak,

Segenap Penciptaan ini menjadi ada

Melalui penyingkapan kuasa-Ku yang tertinggi.

Aku bermain dengan Maya-Ku sendiri, Daya Ilahi-Ku.

Yang Satu, Aku menjadi yang banyak, untuk memandang

Wujud-Ku sendiri.

"Pada Permulaan, Aku, Yang Mahatahu,

Aku ada! Yang bergerak dan yang tak bergerak,

Segenap Penciptaan ini menjadi ada

Melalui penyingkapan kuasa-Ku yang tertinggi.

Atas titah-Ku, badai liar mengamuk

Di muka bumi; awan beradu dan menderu;

Kilatan petir mengejutkan dan memantul;

Lembut dan pelan angin Malaya

Berhembus masuk dan keluar bagai napas yang tenang, tak terusik;

Berkas-berkas bulan mencurahkan arus pendinginnya;

Tubuh telanjang bumi berbusana indah dipakaikan,

Dengan pepohonan dan tanaman menjalar yang berlimpah;

Dan bunga yang mekar mengangkat wajahnya yang riang,

Berbasuh tetes embun, ke arah matahari."

Sebuah nyanyian kunyanyikan. Sebuah nyanyian kunyanyikan bagi-Mu!

Tidaklah kuhiraukan ulasan manusia, entah baik entah buruk.

Celaan atau pujian tidak kuhitung sebagai sesuatu.

Hamba aku, hamba sejati bagi Kalian Berdua,

Tunduk di kaki-Mu, bersama Shakti, aku memberi hormat!

Engkau berdiri teguh, senantiasa di belakangku,

Maka tatkala aku berpaling, kulihat wajah-Mu,

Wajah-Mu yang tersenyum. Karena itu kunyanyikan lagi

Dan sekali lagi. Karena itu tiada ketakutan yang kutakuti;

Sebab kelahiran dan kematian terbujur sujud di kakiku.

Hamba-Mu aku melalui kelahiran demi kelahiran,

Samudra belas kasih, tak terselami jalan-jalan-Mu;

Maka tak terselami pula nasibku;

Ia tak diketahui; tiada pula keinginanku untuk mengetahuinya.

Bhakti, Mukti, Japa, Tapas, semua ini,

Kenikmatan, pemujaan, dan pengabdian pula—

Hal-hal ini dan segala yang serupa dengannya,

Telah kuusir atas titah-Mu yang tertinggi.

Namun hanya satu hasrat yang tinggal padaku—

Suatu keakraban dengan-Mu, timbal balik!

Bawalah aku, ya Tuhan, menyeberang menuju-Mu;

Janganlah biarkan garis pemisah hasrat menghalangi.

Mata memandang ke luar atas alam semesta,

Namun tidak mencari memandang dirinya sendiri;

Mengapa harus? Ia melihat dirinya pada yang lain.

Engkaulah mataku! Engkau dan hanya Engkau;

Sebab setiap kuil hidup menyemayamkan wajah-Mu.

Seperti permainan seorang anak kecil

Demikianlah setiap sikapku terhadap-Mu.

Bahkan, kadang-kadang, aku berani memarahi-Mu;

Bahkan, kadang-kadang, aku mengembara jauh:—

Namun di sana, dalam keremangan paling kelabu dari malam paling gulita,

Namun di sana, dengan mulut bisu dan mata bercucuran air,

Engkau berdiri menghadapku, dan Wajah-Mu yang lembut

Tertunduk dengan pandangan kasih atas wajahku.

Lalu, seketika, aku berpaling kembali kepada-Mu,

Dan di kaki-Mu aku rebah berlutut.

Tiada kumohon pengampunan dari tangan-Mu yang lembut,

Sebab Engkau tidak pernah murka kepada putra-Mu.

Siapa lagi yang sanggup menanggung segala ulah dungukku?

Engkaulah Tuanku! Engkau sahabat sejati jiwaku.

Berkali-kali kulihat Engkau—akulah Engkau!

Sungguh, akulah Engkau, dan Engkau, Tuhanku, adalah aku!

Engkau ada di dalam tuturanku. Di dalam tenggorokanku

Engkau hadir, sebagai Vinapani, terpelajar, bijaksana.

Atas arus aliran-Mu dan kekuatannya

Umat manusia terhanyut sesuai kehendak-Mu.

Gemuruh Suara-Mu terbawa atas dentum

Ombak yang menghempas, lautan yang melompati;

Matahari dan bulan menyuarakan Suara-Mu;

Percakapan-Mu, dalam embusan angin yang lembut

Terdengar dalam kebenaran, dalam kebenaran yang sungguh,

Benar! Benar! Namun, sementara itu, ajaran-ajaran kasar ini

Tidaklah memberikan pesan Kebenaran yang Lebih Tinggi

Yang dikenal oleh pengetahu!

Lihatlah! Matahari, bulan,

Planet-planet yang bergerak dan bintang-bintang yang bersinar,

Wilayah-wilayah hunian yang berjuta-juta di langit,

Komet yang melaju cepat, kilatan petir yang berkelap-kelip,

Cakrawala, terbentang, tak terhingga—

Semuanya, mata yang waspada lagi cermat menyaksikan,

Amarah, hasrat, ketamakan, Moha, dan selebihnya

Dari mana memancar lambaian permainan

Wujud keberadaan ini; rumah tempat bersemayam

Pengetahuan, dan ketidaktahuan—yang pusatnya adalah

Perasaan diri kecil, sang "Aham!" "Aham!"

Penuh dengan rasa dwitunggal kenikmatan dan kesakitan,

Sarat dengan kelahiran dan kehidupan, kemerosotan dan kematian,

Yang lengan-lengannya ialah "Yang Lahiriah" dan "Yang Batiniah",

Segala sesuatu yang ada, hingga ke kedalaman samudra,

Naik ke matahari, bulan, dan bintang-bintang di ruang yang tak terjangkau—

Pikiran, Buddhi, Chitta, Ahamkara,

Para Deva, Yaksha, manusia dan setan, semuanya,

Hewan berkaki empat, burung, cacing, segala kehidupan serangga,

Atom dan persenyawaannya, segala yang ada,

Yang bernyawa dan tak bernyawa, semua, semua—

Yang Batiniah dan Yang Lahiriah—bersemayam

Di satu bidang keberadaan yang sama itu!

Penampilan lahiriah ini berciri kasar,

Seperti rambut pada dahi manusia, sungguh! sangat kasar.

Di lereng Gunung Meru yang perkasa

Membentang barisan bersalju yang abadi,

Memanjang berkilo-kilo melampaui berkilo-kilo lagi.

Menembus awan ke langit di atas

Puncak-puncaknya menjulang dalam ratusan, mulia,

Berkilauan cemerlang, tak terhitung, putih bersalju:

Kilat demi kilat petir tajam yang melesat,

Matahari, tergantung tinggi pada solstis utaranya,

Dengan kekuatan seribu berkas yang memusat,

Mencurahkan ke gunung itu air bah panasnya,

Ganas bagaikan semiliar halilintar,

Dari puncak ke puncak.

Lihatlah! Matahari yang berseri

Pingsan, seakan-akan, pada setiap puncak. Lalu meleburlah

Gunung perkasa itu beserta puncak-puncak bermahkotanya!

Turun, turun, ia runtuh, dengan dentaman yang dahsyat!

Air bercampur dengan air kini bertautan,

Dan semua telah berlalu seperti mimpi yang lewat.

Tatkala segenap pergerakan pikiran yang beragam

Disatukan, oleh rahmat-Mu, dijadikan satu,

Cahaya dari penyingkapan itu sedemikian agung

Sehingga, dalam kemegahannya, ia jauh melampaui

Kecemerlangan sepuluh ribu mentari yang terbit.

Lalu, sungguh, matahari Chit menyingkap dirinya.

Dan meleburlah matahari, bulan, dan bintang-bintang,

Surga tinggi di atas, alam-alam bawah, dan segalanya!

Alam semesta ini tampak hanya sebuah genangan kecil

Tertampung dalam cekungan yang disebabkan oleh tapak seekor sapi.

Inilah pencapaian kawasan yang

Terletak di luar bidang Yang Lahiriah.

Tertenangkan sudah ingar-bingar daging yang mendesak,

Hingar-bingar pikiran yang sombong telah hening,

Tali-tali hati dilonggarkan dan dibebaskan,

Dilepaskan ikatan-ikatan yang membelenggu,

Keterikatan dan delusi tidak ada lagi!

Sungguh! Di sana berkumandang nyaring Suara

Yang tanpa getaran. Sungguh! Suara-Mu!

Mendengar Suara itu, hamba-Mu, dengan khidmat,

Senantiasa siap menjalankan pekerjaan-Mu.

"Aku ada. Tatkala, pada masa Pralaya

Alam semesta yang menakjubkan ini ditelan habis;

Pengetahuan, pengetahu, dan yang diketahui, melebur;

Dunia tidak lagi dapat dibedakan, kini,

Tidak lagi dapat dipahami; tatkala matahari dan bulan

Dan segenap bintang yang telah padam, tidak lagi tersisa—

Maka itulah keadaan Maha-Nirvana,

Tatkala tindakan, perbuatan, dan pelaku, tidak ada lagi,

Tatkala sarana tidak ada lagi;

Kegelapan agung menyelubungi pangkuan kegelapan —

Di sana Aku hadir.

"Aku hadir! Pada masa Pralaya,

Tatkala alam semesta yang luas ini ditelan habis,

Pengetahuan, dan pengetahu, dan yang diketahui

Melebur menjadi satu.

Alam semesta tak lagi

Dapat dibedakan atau dapat dipahami

Oleh akal budi. Matahari dan bulan dan bintang-bintang tidak ada.

Di atas pangkuan kegelapan, kegelapan bergerak

Pekat. Lepas dari segala ikatan rangkap tiga,

Tinggallah alam semesta. Guna-guna ditenangkan

Dari segala pembedaan. Segala sesuatu tenggelam

Dalam satu massa homogen, halus,

Murni, berbentuk atomik, tak terbagi—

Di sana Aku hadir.

"Sekali lagi, Aku menyingkapkan Diri-Ku—'Aku' itu;

Dari 'Shakti'-Ku perubahan besar yang pertama ialah Om;

Suara Purba bergema melintasi kekosongan;

Ruang Tak Terhingga mendengar bunyi bergetar yang agung itu.

Kelompok Sebab-sebab Purba menggugurkan tidur,

Hidup baru menghidupkan kembali atom-atom yang tak terhingga;

Wujud kosmik berdebur dan berputar dan berayun,

Menari dan berpusing, bergerak menuju inti,

Dari jarak yang tak terukur jauhnya.

Angin yang bernyawa membangkitkan lingkaran Gelombang

Di atas Samudra Unsur-unsur agung;

Bergolak, jatuh, membahana, bentangan Gelombang yang luas itu

Melaju dengan kemurkaan kilat. Pecahan-pecahan yang terlempar

Oleh kekuatan perlawanan agung melalui lintasan

Ruang, melaju, tak berkesudahan, dalam bentuk bola-bola

Langit, tak terbilang. Planet dan bintang

Melesat cepat; dan tempat tinggal manusia, bumi berputar.

"Pada Permulaan, Aku Yang Mahatahu,

Aku ada! Yang bergerak dan yang tak bergerak,

Segenap Penciptaan ini menjadi ada

Melalui penyingkapan kuasa-Ku yang tertinggi.

Aku bermain dengan Maya-Ku sendiri, Daya Ilahi-Ku.

Yang Satu, Aku menjadi yang banyak, untuk memandang

Wujud-Ku sendiri.

"Pada Permulaan, Aku, Yang Mahatahu,

Aku ada! Yang bergerak dan yang tak bergerak,

Segenap Penciptaan ini menjadi ada

Melalui penyingkapan kuasa-Ku yang tertinggi.

Atas titah-Ku, badai liar mengamuk

Di muka bumi; awan beradu dan menderu;

Kilatan petir mengejutkan dan memantul;

Lembut dan pelan angin Malaya

Berhembus masuk dan keluar bagai napas yang tenang, tak terusik;

Berkas-berkas bulan mencurahkan arus pendinginnya;

Tubuh telanjang bumi berbusana indah dipakaikan,

Dengan pepohonan dan tanaman menjalar yang berlimpah;

Dan bunga yang mekar mengangkat wajahnya yang riang,

Berbasuh tetes embun, ke arah matahari."

Catatan

English

A SONG I SING TO THEE

(Rendered from Bengali)

A song I sing. A song I sing to Thee!

Nor care I for men's comments, good or bad.

Censure or praise I hold of no account.

Servant am I, true servant of Thee Both,

Low at Thy feet, with Shakti, I salute!

Thou standest steadfast, ever at my back,

Hence when I turn me round, I see Thy face,

Thy smiling face. Therefore I sing again

And yet again. Therefore I fear no fear;

For birth and death lie prostrate at my feet.

Thy servant am I through birth after birth,

Sea of mercy, inscrutable Thy ways;

So is my destiny inscrutable;

It is unknown; nor would I wish to know.

Bhakti, Mukti, Japa, Tapas, all these,

Enjoyment, worship, and devotion too—

These things and all things similar to these,

I have expelled at Thy supreme command.

But only one desire is left in me—

An intimacy with Thee, mutual!

Take me, O Lord across to Thee;

Let no desire's dividing line prevent.

The eye looks out upon the universe,

Nor does it seek to look upon itself;

Why should it? It sees itself in others.

Thou art my eyes! Thou and Thou alone ;

For every living temple shrines Thy face.

Like to the playing of a little child

Is every attitude of mine toward Thee.

Even, at times, I dare be angered with Thee;

Even, at times, I'd wander far away:—

Yet there, in greyest gloom of darkest night,

Yet there, with speechless mouth and tearful eyes,

Thou standest fronting me, and Thy sweet Face

Stoops down with loving look on face of mine.

Then, instantly, I turn me back to Thee,

And at Thy feet I fall on bended knees.

I crave no pardon at Thy gentle hands,

For Thou art never angry with Thy son.

Who else with all my foolish freaks would bear?

Thou art my Master! Thou my soul's real mate.

Many a time I see Thee—I am Thee!

Ay, I am Thee, and Thou, my Lord, art me!

Thou art within my speech. Within my throat

Art Thou, as Vinâpâni, learned, wise.

On the flow of Thy current and its force

Humanity is carried as Thou wilt.

The thunder of Thy Voice is borne upon the boom

Of crashing waves, of over-leaping seas;

The sun and moon give utterance to Thy Voice;

Thy conversation, in the gentle breeze

Makes itself heard in truth, in very truth,

True! True! And yet, the while, these gross precepts

Give not the message of the Higher Truth

Known to the knower!

Lo! The sun, the moon,

The moving planets and the shining stars,

Spheres of abode by myriads in the skies,

The comet swift, the glimmering lightning-flash,

The firmament, expanded, infinite—

These all, observant watchful eyes behold,

Anger, desire, greed, Moha, and the rest

Whence issues forth the waving of the play

Of this existence; the home wherein dwells

Knowledge, and non-knowledge—whose centre is

The feeling of small self, the "Aham!" "Aham!"

Full of the dual sense of pleasure and of pain,

Teeming with birth and life, decay and death,

Whose arms are "The External" and "The Internal",

All things that are, down to the ocean's depths,

Up to sun, moon, and stars in spanless space—

The Mind, the Buddhi, Chitta, Ahamkâr,

The Deva, Yaksha, man and demon, all,

The quadruped, the bird, the worm, all insect life,

The atom and its compound, all that is,

Animate and inanimate, all, all—

The Internal and the External—dwell

In that one common plane of existence!

This outward presentation is of order gross,

As hair on human brow, Ay! very gross.

On the spurs of the massive Mount Meru

The everlasting snowy ranges lie,

Extending miles and miles beyond more miles.

Piercing through clouds into the sky above

Its peaks thrust up in hundreds, glorious,

Brilliantly glistening, countless, snowy-white:

Flash upon flash of vivid lightning fleet,

The sun, high in his northern solstice hung,

With force of thousand rays concentrating,

Pours down upon the mountain floods of heat,

Furious as a billion thunderbolts,

From peak to peak.

Behold! The radiant sun

Swoons, as it were, in each. Then melts

The massive mountain with its crested peaks!

Down, down, it falls, with a horrific crash!

Water with water lies commingled now,

And all has passed like to a passing dream.

When all the many movements of the mind

Are, by Thy grace, made one, and unified,

The light of that unfoldment is so great

That, in its splendour, it surpasses far

The brilliance of ten thousand rising suns.

Then, sooth, the sun of Chit reveals itself.

And melt away the sun and moon and stars,

High heaven above, the nether worlds, and all!

This universe seems but a tiny pool

Held in a hollow caused by some cow's hoof.

This is the reaching of the region which

Beyond the plane of the External lies.

Calmed are the clamours of the urgent flesh,

The tumult of the boastful mind is hushed,

Cords of the heart are loosened and set free,

Unfastened are the bandages that bind,

Attachment and delusion are no more!

Ay! There sounds sonorous the Sound

Void of vibration. Verily! Thy Voice!

Hearing that Voice, Thy servant, reverently,

Stands ever ready to fulfil Thy work.

"I exist. When, at Pralaya time

This wondrous universe is swallowed up;

Knowledge, the knower and the known, dissolved;

The world no more distinguishable, now,

No more conceivable; when sun and moon

And all the outspent stars, remain no more—

Then is the state of Mahâ-Nirvâna,

When action, act, and actor, are no more,

When instrumentality is no more;

Great darkness veils the bosom of the dark —

There I am present.

"I am present! At Pralaya time,

When this vast universe is swallowed up,

Knowledge, and knower, and the known

Merged into one.

The universe no more

Can be distinguished or can be conceived

By intellect. The sun and moon and stars are not.

Over the bosom of the darkness, darkness moves

Intense Devoid of all the threefold bonds,

Remains the universe. Gunas are calmed

Of all distinctions. Everything deluged

In one homogeneous mass, subtle,

Pure, of atom-form, indivisible—

There I am present.

"Once again, I unfold Myself—that 'I';

Of My 'Shakti' the first great change is Om;

The Primal Voice rings through the void;

Infinite Space hears that great vibrant sound.

The group of Primal Causes shakes off sleep,

New life revives atoms interminable;

Cosmic existence heaves and whirls and sways,

Dances and gyrates, moves towards the core,

From distances immeasurably far.

The animate Wind arouses rings of Waves

Over the Ocean of great Elements;

Stirring, falling, surging, that vast range of Waves

Rushes with lightning fury. Fragments thrown

By force of royal resistance through the path

Of space, rush, endless, in the form of spheres

Celestial, numberless. Planets and stars

Speed swift; and man's abode, the earth revolves.

"At the Beginning, I the Omniscient One,

I am! The moving and the un-moving,

All this Creation comes into being

By the unfoldment of My power supreme.

I play with My own Maya, My Power Divine.

The One, I become the many, to behold

My own Form.

"At the Beginning, I, the Omniscient One,

I am! The moving and the un-moving,

All this Creation comes into being

By the unfoldment of My power supreme.

Perforce of My command, the wild storm blows

On the face of the earth; clouds clash and roar;

The flash of lightning startles and rebounds;

Softly and gently the Malaya breeze

Flows in and out like calm, unruffled breath;

The moon's rays pour their cooling current forth;

The earth's bare body in fair garb is clothed,

Of trees and creepers multitudinous;

And the flower abloom lifts her happy face,

Washed with drops of dew, towards the sun."

A song I sing. A song I sing to Thee!

Nor care I for men's comments, good or bad.

Censure or praise I hold of no account.

Servant am I, true servant of Thee Both,

Low at Thy feet, with Shakti, I salute!

Thou standest steadfast, ever at my back,

Hence when I turn me round, I see Thy face,

Thy smiling face. Therefore I sing again

And yet again. Therefore I fear no fear;

For birth and death lie prostrate at my feet.

Thy servant am I through birth after birth,

Sea of mercy, inscrutable Thy ways;

So is my destiny inscrutable;

It is unknown; nor would I wish to know.

Bhakti, Mukti, Japa, Tapas, all these,

Enjoyment, worship, and devotion too—

These things and all things similar to these,

I have expelled at Thy supreme command.

But only one desire is left in me—

An intimacy with Thee, mutual!

Take me, O Lord across to Thee;

Let no desire's dividing line prevent.

The eye looks out upon the universe,

Nor does it seek to look upon itself;

Why should it? It sees itself in others.

Thou art my eyes! Thou and Thou alone ;

For every living temple shrines Thy face.

Like to the playing of a little child

Is every attitude of mine toward Thee.

Even, at times, I dare be angered with Thee;

Even, at times, I'd wander far away:—

Yet there, in greyest gloom of darkest night,

Yet there, with speechless mouth and tearful eyes,

Thou standest fronting me, and Thy sweet Face

Stoops down with loving look on face of mine.

Then, instantly, I turn me back to Thee,

And at Thy feet I fall on bended knees.

I crave no pardon at Thy gentle hands,

For Thou art never angry with Thy son.

Who else with all my foolish freaks would bear?

Thou art my Master! Thou my soul's real mate.

Many a time I see Thee—I am Thee!

Ay, I am Thee, and Thou, my Lord, art me!

Thou art within my speech. Within my throat

Art Thou, as Vinâpâni, learned, wise.

On the flow of Thy current and its force

Humanity is carried as Thou wilt.

The thunder of Thy Voice is borne upon the boom

Of crashing waves, of over-leaping seas;

The sun and moon give utterance to Thy Voice;

Thy conversation, in the gentle breeze

Makes itself heard in truth, in very truth,

True! True! And yet, the while, these gross precepts

Give not the message of the Higher Truth

Known to the knower!

Lo! The sun, the moon,

The moving planets and the shining stars,

Spheres of abode by myriads in the skies,

The comet swift, the glimmering lightning-flash,

The firmament, expanded, infinite—

These all, observant watchful eyes behold,

Anger, desire, greed, Moha, and the rest

Whence issues forth the waving of the play

Of this existence; the home wherein dwells

Knowledge, and non-knowledge—whose centre is

The feeling of small self, the "Aham!" "Aham!"

Full of the dual sense of pleasure and of pain,

Teeming with birth and life, decay and death,

Whose arms are "The External" and "The Internal",

All things that are, down to the ocean's depths,

Up to sun, moon, and stars in spanless space—

The Mind, the Buddhi, Chitta, Ahamkâr,

The Deva, Yaksha, man and demon, all,

The quadruped, the bird, the worm, all insect life,

The atom and its compound, all that is,

Animate and inanimate, all, all—

The Internal and the External—dwell

In that one common plane of existence!

This outward presentation is of order gross,

As hair on human brow, Ay! very gross.

On the spurs of the massive Mount Meru

The everlasting snowy ranges lie,

Extending miles and miles beyond more miles.

Piercing through clouds into the sky above

Its peaks thrust up in hundreds, glorious,

Brilliantly glistening, countless, snowy-white:

Flash upon flash of vivid lightning fleet,

The sun, high in his northern solstice hung,

With force of thousand rays concentrating,

Pours down upon the mountain floods of heat,

Furious as a billion thunderbolts,

From peak to peak.

Behold! The radiant sun

Swoons, as it were, in each. Then melts

The massive mountain with its crested peaks!

Down, down, it falls, with a horrific crash!

Water with water lies commingled now,

And all has passed like to a passing dream.

When all the many movements of the mind

Are, by Thy grace, made one, and unified,

The light of that unfoldment is so great

That, in its splendour, it surpasses far

The brilliance of ten thousand rising suns.

Then, sooth, the sun of Chit reveals itself.

And melt away the sun and moon and stars,

High heaven above, the nether worlds, and all!

This universe seems but a tiny pool

Held in a hollow caused by some cow's hoof.

This is the reaching of the region which

Beyond the plane of the External lies.

Calmed are the clamours of the urgent flesh,

The tumult of the boastful mind is hushed,

Cords of the heart are loosened and set free,

Unfastened are the bandages that bind,

Attachment and delusion are no more!

Ay! There sounds sonorous the Sound

Void of vibration. Verily! Thy Voice!

Hearing that Voice, Thy servant, reverently,

Stands ever ready to fulfil Thy work.

"I exist. When, at Pralaya time

This wondrous universe is swallowed up;

Knowledge, the knower and the known, dissolved;

The world no more distinguishable, now,

No more conceivable; when sun and moon

And all the outspent stars, remain no more—

Then is the state of Mahâ-Nirvâna,

When action, act, and actor, are no more,

When instrumentality is no more;

Great darkness veils the bosom of the dark —

There I am present.

"I am present! At Pralaya time,

When this vast universe is swallowed up,

Knowledge, and knower, and the known

Merged into one.

The universe no more

Can be distinguished or can be conceived

By intellect. The sun and moon and stars are not.

Over the bosom of the darkness, darkness moves

Intense Devoid of all the threefold bonds,

Remains the universe. Gunas are calmed

Of all distinctions. Everything deluged

In one homogeneous mass, subtle,

Pure, of atom-form, indivisible—

There I am present.

"Once again, I unfold Myself—that 'I';

Of My 'Shakti' the first great change is Om;

The Primal Voice rings through the void;

Infinite Space hears that great vibrant sound.

The group of Primal Causes shakes off sleep,

New life revives atoms interminable;

Cosmic existence heaves and whirls and sways,

Dances and gyrates, moves towards the core,

From distances immeasurably far.

The animate Wind arouses rings of Waves

Over the Ocean of great Elements;

Stirring, falling, surging, that vast range of Waves

Rushes with lightning fury. Fragments thrown

By force of royal resistance through the path

Of space, rush, endless, in the form of spheres

Celestial, numberless. Planets and stars

Speed swift; and man's abode, the earth revolves.

"At the Beginning, I the Omniscient One,

I am! The moving and the un-moving,

All this Creation comes into being

By the unfoldment of My power supreme.

I play with My own Maya, My Power Divine.

The One, I become the many, to behold

My own Form.

"At the Beginning, I, the Omniscient One,

I am! The moving and the un-moving,

All this Creation comes into being

By the unfoldment of My power supreme.

Perforce of My command, the wild storm blows

On the face of the earth; clouds clash and roar;

The flash of lightning startles and rebounds;

Softly and gently the Malaya breeze

Flows in and out like calm, unruffled breath;

The moon's rays pour their cooling current forth;

The earth's bare body in fair garb is clothed,

Of trees and creepers multitudinous;

And the flower abloom lifts her happy face,

Washed with drops of dew, towards the sun."

Notes


Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.