Ajaran Weda dalam Teori dan Praktik
Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.
AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.
Bahasa Indonesia
AJARAN WEDA DALAM TEORI DAN PRAKTIK
Ketika kunjungan Swami sudah hampir berakhir, sahabat-sahabatnya di Almora mengundangnya untuk menyampaikan ceramah dalam bahasa Hindi. Beliau bersedia untuk mencoba melakukannya untuk pertama kalinya. Beliau memulai dengan perlahan, dan tidak lama kemudian semangatnya berkobar mengikuti tema yang dibawakan, sehingga beliau seolah-olah merangkai ungkapan-ungkapannya, bahkan hampir merangkai kata-katanya, sambil melangkah maju. Mereka yang paling memahami kesulitan dan keterbatasan bahasa Hindi, yang saat itu masih belum berkembang sebagai sarana pidato, menyatakan pendapat mereka bahwa Swamiji telah meraih kemenangan pribadi yang gemilang dan bahwa beliau telah membuktikan, melalui penggunaan bahasa Hindi yang sangat mahir, bahwa bahasa tersebut menyimpan kemungkinan-kemungkinan pengembangan yang tak terbayangkan ke arah seni pidato.
Sebuah ceramah lainnya disampaikan di English Club dalam bahasa Inggris, dan berikut adalah ringkasan singkatnya.
Tema yang dibawakan adalah "Ajaran Weda dalam Teori dan Praktik". Sebuah uraian historis singkat tentang munculnya pemujaan terhadap Dewa suku dan penyebarannya melalui penaklukan terhadap suku-suku lain diikuti dengan paparan mengenai kitab-kitab Weda. Sifat, watak, dan ajaran kitab-kitab tersebut disinggung secara singkat. Selanjutnya Swami berbicara mengenai jiwa, membandingkan metode Barat yang mencari penyelesaian misteri-misteri vital dan keagamaan di dunia luar, dengan metode Timur yang, karena tidak menemukan jawaban di alam luar, mengarahkan penyelidikannya ke dalam diri. Beliau dengan tepat menuntut kehormatan bagi bangsanya sebagai penemu metode introspektif yang khas, dan sebagai bangsa yang telah memberikan kepada umat manusia harta-harta spiritualitas yang tak ternilai harganya, yang merupakan buah dari metode itu semata. Beralih dari tema ini, yang secara alamiah begitu disayangi oleh hati seorang Hindu, Swami mencapai puncak kekuatannya sebagai seorang guru spiritual ketika beliau melukiskan hubungan jiwa dengan Tuhan, aspirasinya menuju Tuhan, dan kesatuannya yang sejati dengan Tuhan. Untuk beberapa saat lamanya, tampak seakan-akan sang guru, kata-katanya, hadirinnya, dan semangat yang meresapi mereka semua adalah satu. Tidak lagi ada kesadaran akan "Aku" dan "Engkau", "Ini" atau "Itu". Pribadi-pribadi yang berbeda yang berkumpul di sana untuk sementara waktu lebur dan menyatu dalam pancaran spiritual yang memancar begitu kuat dari sang guru agung dan menahan mereka semua dalam keadaan yang lebih daripada sekadar terpesona.
Mereka yang sering mendengarkannya akan mengingat pengalaman-pengalaman serupa ketika beliau berhenti menjadi Swami Vivekananda yang sedang berceramah di hadapan para pendengar yang kritis dan saksama, ketika segala perincian dan kepribadian sirna, ketika nama dan rupa lenyap, dan yang tersisa hanyalah Roh, yang menyatukan pembicara, pendengar, dan kata yang diucapkan.
English
VEDIC TEACHING IN THEORY AND PRACTICE
When the Swami's visit was drawing to a close, his friends in Almora invited him to give a lecture in Hindi. He consented to make the attempt for the first time. He began slowly, and soon warmed to his theme, and found himself building his phrases and almost his words as he went along. Those best acquainted with the difficulties and limitations of the Hindi language, still undeveloped as a medium for oratory, expressed their opinion that a personal triumph had been achieved by Swamiji and that he had proved by his masterly use of Hindi that the language had in it undreamt-of possibilities of development in the direction of oratory.
Another lecture was delivered at the English Club in English, of which a brief summary follows.
The subject was "Vedic Reaching in Theory and Practice". A short historical sketch of the rise of the worship of the tribal God and its spread through conquest of other tribes was followed by an account of the Vedas. Their nature, character, and teaching were briefly touched upon. Then the Swami spoke about the soul, comparing the Western method which seeks for the solution of vital and religious mysteries in the outside world, with the Eastern method which finding no answer in nature outside turns its inquiry within. He justly claimed for his nation the glory of being the discoverers of the introspective method peculiar to themselves, and of having given to humanity the priceless treasures of spirituality which are the result of that method alone. Passing from this theme, naturally so dear to the heart of a Hindu, the Swami reached the climax of his power as a spiritual teacher when he described the relation of the soul to God, its aspiration after and real unity with God. For some time it seemed as though the teacher, his words, his audience, and the spirit pervading them all were one. No longer was there any consciousness of "I" and "Thou", of "This" or "That". The different units collected there were for the time being lost and merged in the spiritual radiance which emanated so powerfully from the great teacher and held them all more than spellbound.
Those that have frequently heard him will recall similar experiences when he ceased to be Swami Vivekananda lecturing to critical and attentive hearers, when all details and personalities were lost, names and forms disappeared, only the Spirit remaining, uniting the speaker, hearer, and the spoken word.
Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.