Arsip Vivekananda

Cinta kepada Tuhan

Jilid3 essay
713 kata · 3 menit baca · Reports in American Newspapers

Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.

AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.

Bahasa Indonesia

(Detroit Tribune, 21 Februari 1894)

Gereja Unitarian Pertama dipenuhi pengunjung tadi malam untuk mendengarkan Vive Kananda. Hadirin terdiri dari mereka yang datang dari Jefferson Avenue dan bagian atas Woodward Avenue. Sebagian besar adalah para wanita yang tampak sangat antusias mengikuti ceramah tersebut dan menyambut beberapa pernyataan sang Brahmana dengan tepuk tangan yang meriah.

Cinta yang dibahas oleh pembicara bukanlah cinta yang disertai hasrat nafsu, melainkan cinta yang murni dan suci — cinta yang dirasakan oleh seorang India kepada Tuhannya. Seperti yang dinyatakan Vive Kananda pada pembukaan ceramahnya, topiknya adalah "Cinta yang Dirasakan Orang India kepada Tuhannya." Namun ia tidak berkhotbah sesuai teksnya. Sebagian besar ceramahnya merupakan kritik terhadap agama Kristen. Agama orang India dan cintanya kepada Tuhan hanya mengambil porsi yang lebih kecil. Poin-poin dalam ceramahnya diilustrasikan dengan beberapa anekdot yang relevan mengenai tokoh-tokoh terkenal dalam sejarah. Tokoh-tokoh dalam anekdot tersebut adalah para kaisar Mughal yang masyhur dari tanah kelahirannya, bukan raja-raja Hindu asli.

Para penganut agama dibagi oleh pembicara ke dalam dua golongan: pengikut pengetahuan dan pengikut pengabdian. Tujuan akhir dalam kehidupan pengikut pengetahuan adalah pengalaman. Tujuan akhir dalam kehidupan seorang penyembah adalah cinta.

Cinta, katanya, adalah sebuah pengorbanan. Ia tidak pernah mengambil, melainkan selalu memberi. Orang Hindu tidak pernah meminta apa pun dari Tuhannya, tidak pernah berdoa untuk keselamatan dan kehidupan setelah kematian yang bahagia, melainkan membiarkan seluruh jiwanya mengalir kepada Tuhannya dalam cinta yang membius. Keadaan keberadaan yang indah itu hanya dapat dicapai ketika seseorang merasakan kerinduan yang tak tertahankan akan Tuhan. Maka Tuhan pun hadir dalam kepenuhan-Nya yang sempurna.

Terdapat tiga cara yang berbeda dalam memandang Tuhan. Satu cara adalah memandang-Nya sebagai sosok yang maha perkasa, lalu bersujud dan menyembah kebesaran-Nya. Cara lain adalah menyembah-Nya sebagai seorang ayah. Di India, seorang ayah selalu menghukum anak-anaknya sehingga rasa takut bercampur dengan hormat dan cinta kepada seorang ayah. Ada pula cara lain untuk memikirkan Tuhan, yakni sebagai seorang ibu. Di India, seorang ibu selalu dicintai dan dihormati dengan sepenuh hati. Itulah cara orang India memandang Tuhannya.

Kananda menyatakan bahwa seorang pencinta Tuhan yang sejati akan begitu terbenam dalam cintanya sehingga ia tidak akan sempat berhenti dan memberitahu anggota kelompok lain bahwa mereka sedang mengikuti jalan yang salah untuk mencapai Tuhan, apalagi berusaha membawa mereka ke cara berpikirnya.

* * *

(Detroit Journal)

Seandainya Vive Kananda, biksu Brahmin yang tengah menyampaikan serangkaian ceramah di kota ini, dapat dibujuk untuk tinggal seminggu lebih lama, aula terbesar di Detroit pun tidak akan sanggup menampung kerumunan orang yang ingin mendengarkannya. Ia telah menjadi daya tarik yang sungguh luar biasa; terbukti dari kenyataan bahwa tadi malam setiap kursi di gereja Unitarian telah terisi, dan banyak yang terpaksa berdiri sepanjang ceramah berlangsung.

Topik ceramah pembicara adalah "Cinta kepada Tuhan". Definisinya tentang cinta adalah "sesuatu yang sepenuhnya tidak mementingkan diri sendiri; sesuatu yang tidak memiliki pikiran lain selain pemuliaan dan pemujaan terhadap objek yang menjadi curahan kasih sayang kita." Cinta, katanya, adalah kualitas yang membungkuk dan menyembah serta tidak meminta apa pun sebagai balasan. Namun cinta kepada Tuhan, menurutnya, berbeda. Tuhan tidak diterima, katanya, karena kita sungguh membutuhkan-Nya, kecuali untuk tujuan-tujuan yang mementingkan diri sendiri. Ceramahnya penuh dengan kisah dan anekdot, semuanya memperlihatkan motif egois yang mendasari motif cinta kepada Tuhan. Kitab Nyanyian Salomo dikutip oleh pembicara sebagai bagian paling indah dari Alkitab Kristen, namun ia mendengar dengan penyesalan yang mendalam bahwa ada kemungkinan kitab itu akan dihapus. "Bahkan," tegasnya, sebagai semacam argumen pamungkas di akhir ceramah, "cinta kepada Tuhan tampaknya didasarkan pada teori 'Apa yang bisa saya dapatkan darinya?' Orang-orang Kristen begitu egois dalam cinta mereka sehingga mereka terus-menerus meminta kepada Tuhan untuk memberikan sesuatu kepada mereka, termasuk segala macam hal yang bersifat mementingkan diri sendiri. Agama modern, oleh karena itu, tidak lebih dari sekadar hobi dan mode belaka, dan orang-orang berbondong-bondong ke gereja seperti sekawanan domba."

Catatan

English

(Detroit Tribune, February 21, 1894)

The First Unitarian Church was crowded last night to hear Vive Kananda. The audience was composed of people who came from Jefferson Avenue and the upper part of Woodward Avenue. Most of it was ladies who seemed deeply interested in the address and applauded several remarks of the Brahman with much enthusiasm.

The love that was dwelt upon by the speaker was not the love that goes with passion, but a pure and holy love that one in India feels for his God. As Vive Kananda stated at the commencement of his address the subject was "The Love the Indian Feels for His God." But he did not preach to his text. The major portion of his address was an attack on the Christian religion. The religion of the Indian and the love of his God was the minor portion. The points in his address were illustrated with several applicable anecdotes of famous people in the history. The subjects of the anecdotes were renowned Mogul emperors of his native land and not of the native Hindu kings.

The professors of religion were divided into two classes by the lecturer, the followers of knowledge and the followers of devotion. The end in the life of the followers of knowledge was experience. The end in the life of the devotee was love.

Love, he said, was a sacrifice. It never takes, but it always gives. The Hindu never asks anything of his God, never prayed for salvation and a happy hereafter, but instead lets his whole soul go out to his God in an entrancing love. That beautiful state of existence could only be gained when a person felt an overwhelming want of God. Then God came in all of His fullness.

There were three different ways of looking at God. One was to look upon Him as a mighty personage and fall down and worship His might. Another was to worship Him as a father. In India the father always punished the children and an element of fear was mixed with the regard and love for a father. Still another way to think of God was as a mother. In India a mother was always truly loved and reverenced. That was the Indian's way of looking at their God.

Kananda said that a true lover of God would be so wrapt up in his love that he would have no time to stop and tell members of another sect that they were following the wrong road to secure the God, and strive to bring him to his way of thinking.

* * *

(Detroit Journal)

If Vive Kananda, the Brahmin monk, who is delivering a lecture course in this city could be induced to remain for a week longer, the largest hall in Detroit would not hold the crowds which would be anxious to hear him. He has become a veritable fad, as last evening every seat in the Unitarian church was occupied, and many were compelled to stand throughout the entire lecture.

The speaker's subject was, "The Love of God". His definition of love was "something absolutely unselfish; that which has no thought beyond the glorification and adoration of the object upon which our affections are bestowed." Love, he said, is a quality which bows down And worships and asks nothing in return. Love of God, he thought, was different. God is not accepted, he said, because we really need him, except for selfish purposes. His lecture was replete with story and anecdote, all going to show the selfish motive underlying the motive of love for God. The Songs of Solomon were cited by the lecturer as the most beautiful portion of the Christian Bible and yet he had heard with deep regret that there was a possibility of their being removed. "In fact," he declared, as a sort clinching argument at the close, "the love of God appears to be based upon a theory of 'What can I get out of it?' Christians are so selfish in their love that they are continually asking God to give them something, including all manner of selfish things. Modern religion is, therefore, nothing but a mere hobby and fashion and people flock to church like a lot of sheep."

Notes


Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.