Arsip Vivekananda

Pengetahuan Tertinggi dan Cinta Tertinggi adalah Satu bagi Sang Pencinta Sejati

Jilid3 lecture
513 kata · 2 menit baca · Para-Bhakti or Supreme Devotion

Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.

AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.

Bahasa Indonesia

BAB VI

PENGETAHUAN YANG LEBIH TINGGI DAN CINTA YANG LEBIH TINGGI ADALAH SATU BAGI SANG PECINTA SEJATI

Upanisad-upanisad membedakan antara pengetahuan yang lebih tinggi dan pengetahuan yang lebih rendah; dan bagi seorang Bhakta sesungguhnya tidak ada perbedaan antara pengetahuan yang lebih tinggi ini dengan cintanya yang lebih tinggi (Para-Bhakti). Mundaka Upanisad menyatakan:

व्दे विद्ये वेदितव्ये इति ह स्म यद्ब्रह्मविदो वदन्ति। परा चैवापरा च॥ तत्रापरा ॠग्वेदो यजुर्वदः सामवेदोऽथर्ववेदः शिक्षा कल्पो व्याकरणं निरुक्तं छन्दो ज्योतिषमिति। अथ परा यया तदक्षरमधिगम्यते॥

— "Para pengenal Brahman menyatakan bahwa ada dua macam pengetahuan yang layak diketahui, yaitu yang Lebih Tinggi (Para) dan yang lebih rendah (Apara). Dari kedua ini, pengetahuan yang lebih rendah terdiri atas Rig-Weda, Yajur-Weda, Sama-Weda, Atharwa-Weda, Siksha (atau ilmu yang membahas pengucapan dan tekanan suara), Kalpa (atau liturgi persembahan), tata bahasa, Nirukta (atau ilmu yang membahas etimologi dan makna kata), prosodi, dan astronomi; sedangkan pengetahuan yang lebih tinggi adalah pengetahuan yang dengannya Yang Tak Berubah itu dikenali."

Dengan demikian, pengetahuan yang lebih tinggi terbukti dengan jelas merupakan pengetahuan tentang Brahman; dan Dewi-Bhagawata memberikan kepada kita definisi berikut tentang cinta yang lebih tinggi (Para-Bhakti): "Sebagaimana minyak yang dituangkan dari satu bejana ke bejana lain jatuh dalam satu garis yang tak terputus, demikian pula, ketika pikiran dalam aliran yang tak terputus memikirkan Sang Junjungan, kita memiliki apa yang disebut Para-Bhakti atau cinta tertinggi." Pengarahan pikiran dan hati yang tak terganggu serta senantiasa tetap kepada Sang Junjungan dengan keterikatan yang tak terpisahkan ini sungguh merupakan manifestasi tertinggi dari cinta manusia kepada Tuhan. Semua bentuk Bhakti yang lain hanyalah persiapan menuju pencapaian bentuk yang tertinggi ini, yakni Para-Bhakti yang juga dikenal sebagai cinta yang datang setelah keterikatan (Raganuga). Apabila cinta tertinggi ini sekali sudah masuk ke dalam hati manusia, pikirannya akan terus-menerus memikirkan Tuhan dan tidak mengingat hal lain. Ia tidak akan memberikan ruang dalam dirinya untuk pikiran-pikiran selain pikiran tentang Tuhan, dan jiwanya akan menjadi murni secara tak tertaklukkan serta akan memutuskan sendiri segala ikatan pikiran dan materi dan menjadi bebas dengan tenang. Hanya ia yang dapat memuja Sang Junjungan di dalam hatinya sendiri; baginya bentuk-bentuk, lambang-lambang, kitab-kitab, dan ajaran-ajaran semuanya tidak diperlukan dan tidak mampu memberikan manfaat dengan cara apa pun. Mencintai Sang Junjungan sedemikian rupa bukanlah hal yang mudah. Pada umumnya, cinta manusia tampak hanya berkembang di tempat-tempat yang membalasnya; di mana cinta tidak dibalas dengan cinta, ketidakacuhan yang dingin merupakan akibat yang wajar. Namun demikian, terdapat contoh-contoh langka di mana kita dapat menyaksikan cinta yang menampakkan dirinya bahkan ketika tidak ada balasan cinta. Sebagai ilustrasi, kita dapat menyamakan cinta semacam ini dengan cinta seekor ngengat kepada api; serangga itu mencintai api, terjun ke dalamnya, dan mati. Sesungguhnya sudah menjadi sifat serangga ini untuk mencintai sedemikian rupa. Mencintai karena memang sifat cinta adalah untuk mencintai sungguh tidak dapat disangkal sebagai manifestasi cinta yang tertinggi dan paling tanpa pamrih yang dapat disaksikan di dunia ini. Cinta semacam itu, ketika bekerja pada bidang spiritualitas, niscaya menuntun kepada pencapaian Para-Bhakti.

English

CHAPTER VI

THE HIGHER KNOWLEDGE AND THE HIGHER LOVE ARE ONE TO THE TRUE LOVER

The Upanishads distinguish between a higher knowledge and a lower knowledge; and to the Bhakta there is really no difference between this higher knowledge and his higher love (Parâ-Bhakti). The Mundaka Upanishad says:

व्दे विद्ये वेदितव्ये इति ह स्म यद्ब्रह्मविदो वदन्ति। परा चैवापरा च॥ तत्रापरा ॠग्वेदो यजुर्वदः सामवेदोऽथर्ववेदः शिक्षा कल्पो व्याकरणं निरुक्तं छन्दो ज्योतिषमिति। अथ परा यया तदक्षरमधिगम्यते॥

— "The knowers of the Brahman declare that there are two kinds of knowledge worthy to be known, namely, the Higher (Parâ) and the lower (Aparâ). Of these the lower (knowledge) consists of the Rig-Veda, the Yajur-Veda, the Sâma-Veda, the Atharva-Veda, the Shikshâ (or the science dealing with pronunciation and accent), the Kalpa (or the sacrificial liturgy), grammar, the Nirukta (or the science dealing with etymology and the meaning of words), prosody, and astronomy; and the higher (knowledge) is that by which that Unchangeable is known."

The higher knowledge is thus clearly shown to be the knowledge of the Brahman; and the Devi-Bhâgavata gives us the following definition of the higher love (Para-Bhakti): "As oil poured from one vessel to another falls in an unbroken line, so, when the mind in an unbroken stream thinks of the Lord, we have what is called Para-Bhakti or supreme love." This kind of undisturbed and ever-steady direction of the mind and the heart to the Lord with an inseparable attachment is indeed the highest manifestation of man's love to God. All other forms of Bhakti are only preparatory to the attainment of this highest form thereof, viz the Para-Bhakti which is also known as the love that comes after attachment (Râgânugâ). When this supreme love once comes into the heart of man, his mind will continuously think of God and remember nothing else. He will give no room in himself to thoughts other than those of God, and his soul will be unconquerably pure and will alone break all the bonds of mind and matter and become serenely free. He alone can worship the Lord in his own heart; to him forms, symbols, books, and doctrines are all unnecessary and are incapable of proving serviceable in any way. It is not easy to love the Lord thus. Ordinarily human love is seen to flourish only in places where it is returned; where love is not returned for love, cold indifference is the natural result. There are, however, rare instances in which we may notice love exhibiting itself even where there is no return of love. We may compare this kind of love, far purposes of illustration, to the love of the moth for the fire; the insect loves the fire, falls into it, and dies. It is indeed in the nature of this insect to love so. To love because it is the nature of love to love is undeniably the highest and the most unselfish manifestation of love that may be seen in the world. Such love, working itself out on the plane of spirituality, necessarily leads to the attainment of Para-Bhakti.


Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.