Arsip Vivekananda

Masa Depan India

Jilid3 lecture
7,248 kata · 29 menit baca · Lectures from Colombo to Almora

Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.

AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.

Bahasa Indonesia

MASA DEPAN INDIA

Inilah negeri kuno tempat kebijaksanaan menetap sebelum berpindah ke negeri-negeri lain, India yang sama yang aliran spiritualitasnya seolah-olah tergambar pada bidang materi oleh sungai-sungai bergelora seluas samudra, tempat Himalaya yang abadi, menjulang berjenjang-jenjang dengan tudung saljunya, seakan-akan menatap langsung ke dalam rahasia-rahasia surga itu sendiri. Inilah India yang sama, yang tanahnya pernah diinjak oleh kaki para resi terbesar yang pernah hidup. Di sinilah pertama kali muncul penyelidikan tentang hakikat manusia dan tentang dunia batiniah. Di sinilah pertama kali timbul ajaran tentang keabadian jiwa, tentang keberadaan Tuhan yang mengawasi, Tuhan yang imanen di dalam alam dan di dalam manusia, dan di sinilah cita-cita tertinggi tentang agama dan filsafat mencapai puncaknya. Inilah negeri yang darinya, ibarat gelombang pasang, spiritualitas dan filsafat berkali-kali menyembur keluar dan membanjiri dunia, dan inilah negeri yang darinya gelombang semacam itu sekali lagi harus mengalir keluar untuk membawa kehidupan dan tenaga baru ke dalam ras-ras manusia yang sedang melapuk. Inilah India yang sama yang telah bertahan menghadapi guncangan berabad-abad, ratusan invasi asing, ratusan pergolakan adat dan kebiasaan. Inilah negeri yang sama yang berdiri lebih kokoh dari batu mana pun di dunia, dengan tenaganya yang tak pernah padam dan kehidupannya yang tak terhancurkan. Kehidupannya sama sifatnya dengan jiwa, tanpa awal dan tanpa akhir, abadi; dan kita adalah anak-anak dari negeri semacam itu.

Anak-anak India, saya hadir di sini hari ini untuk berbicara kepada Anda tentang beberapa hal yang praktis, dan tujuan saya mengingatkan Anda akan kejayaan masa lalu hanyalah ini. Berkali-kali telah dikatakan kepada saya bahwa menengok masa lalu hanya melemahkan dan tidak membawa ke mana-mana, dan bahwa kita seharusnya menatap masa depan. Itu benar. Tetapi dari masa lalulah masa depan dibangun. Oleh karena itu, lihatlah ke belakang sejauh yang Anda dapat lihat, teguklah sedalam-dalamnya dari mata air abadi yang ada di belakang sana, dan setelah itu, tataplah ke depan, melangkahlah maju, dan jadikan India lebih cemerlang, lebih agung, dan jauh lebih luhur daripada sebelumnya. Para leluhur kita adalah orang-orang besar. Hal itu yang pertama-tama harus kita ingat kembali. Kita harus mempelajari unsur-unsur dari hakikat kita, darah yang mengalir di nadi kita; kita harus memiliki keyakinan terhadap darah itu dan terhadap apa yang dilakukannya pada masa lalu; dan dari keyakinan serta kesadaran akan keagungan masa lalu itu, kita harus membangun India yang lebih agung lagi daripada yang pernah ada. Telah berlangsung masa-masa kemerosotan dan kemunduran. Saya tidak menganggapnya terlalu penting; kita semua mengetahuinya. Masa-masa semacam itu memang diperlukan. Sebuah pohon yang perkasa menghasilkan buah yang masak dan indah. Buah itu jatuh ke tanah, lalu membusuk dan melapuk, dan dari pelapukan itulah tumbuh akar dan pohon masa depan, mungkin lebih perkasa daripada pohon yang pertama. Masa pelapukan yang telah kita lalui ini justru semakin diperlukan. Dari pelapukan inilah India masa depan sedang muncul; ia sedang bertunas, daun-daun pertamanya telah keluar; dan sebatang pohon raksasa yang perkasa, sang Urdhwamula, telah ada di sini, dan mulai bermunculan; dan tentang pohon itulah saya akan berbicara kepada Anda.

Persoalan-persoalan di India lebih rumit, lebih berat, daripada persoalan di negeri mana pun. Ras, agama, bahasa, pemerintahan — semuanya bersama-sama membentuk sebuah bangsa. Unsur-unsur yang membentuk bangsa-bangsa di dunia, jika dibandingkan dengan negeri ini, sesungguhnya sangat sedikit, dengan menelusuri ras demi ras. Di sinilah pernah hidup bangsa Arya, Drawida, Tartar, Turki, Mogul, Eropa — seakan-akan segenap bangsa di dunia mengalirkan darahnya ke negeri ini. Mengenai bahasa, di sinilah terdapat percampuran yang paling menakjubkan; mengenai adat dan kebiasaan, terdapat lebih banyak perbedaan antara dua ras India daripada antara ras Eropa dan ras Timur.

Satu landasan yang sama yang kita miliki adalah tradisi suci kita, agama kita. Itulah satu-satunya landasan bersama, dan di atasnya kita harus membangun. Di Eropa, gagasan politik membentuk persatuan nasional. Di Asia, cita-cita keagamaanlah yang membentuk persatuan nasional. Oleh karena itu, persatuan dalam agama mutlak diperlukan sebagai syarat pertama bagi masa depan India. Harus ada pengakuan akan satu agama di sepanjang dan seluas tanah ini. Apa yang saya maksud dengan satu agama? Bukan dalam pengertian satu agama sebagaimana dianut di kalangan orang Kristen, kaum Muslim, atau penganut Buddha. Kita tahu bahwa agama kita memiliki landasan-landasan bersama tertentu, yang dimiliki oleh semua mazhab kita, betapapun beragamnya kesimpulan mereka, betapapun berbedanya tuntutan mereka. Jadi, ada landasan-landasan bersama tertentu; dan di dalam batas-batas itu agama kita ini memungkinkan variasi yang menakjubkan, kebebasan yang tak terhingga untuk berpikir dan menjalani hidup kita masing-masing. Kita semua mengetahui hal itu, setidak-tidaknya bagi kita yang telah merenungkannya; dan yang kita inginkan adalah menampilkan asas-asas bersama yang memberi kehidupan dari agama kita ini, dan membiarkan setiap pria, wanita, dan anak, di seluruh panjang dan luasnya negeri ini, memahaminya, mengenalnya, dan berusaha mewujudkannya dalam kehidupan mereka. Inilah langkah pertama; dan, oleh karena itu, langkah ini harus diambil.

Kita melihat bagaimana di Asia, dan terutama di India, kesulitan ras, kesulitan kebahasaan, kesulitan sosial, kesulitan kebangsaan, semuanya luluh di hadapan kuasa pemersatu dari agama ini. Kita tahu bahwa bagi pikiran India tidak ada sesuatu pun yang lebih tinggi daripada cita-cita keagamaan, bahwa inilah nada dasar kehidupan India, dan kita hanya dapat bekerja di sepanjang garis resistansi yang paling kecil. Bukan hanya benar bahwa cita-cita agama adalah cita-cita yang tertinggi; dalam kasus India, ia merupakan satu-satunya sarana kerja yang mungkin; bekerja di jalur lain mana pun, tanpa terlebih dahulu memperkuat hal ini, akan berakibat bencana. Oleh karena itu, papan pertama dalam membangun India masa depan, langkah pertama yang harus dipahat dari batu zaman itu, adalah penyatuan agama ini. Kita semua harus diajar bahwa kita, orang Hindu — para penganut dualisme, monisme berkualifikasi, atau monisme, kaum Shaiva, kaum Vaishnava, atau kaum Pashupata — ke aliran mana pun kita tergolong, memiliki gagasan-gagasan bersama tertentu di belakang kita, dan bahwa kini telah tiba saatnya bagi kebaikan diri kita, bagi kebaikan ras kita, untuk meninggalkan segala pertengkaran dan perbedaan kecil kita. Yakinilah, pertengkaran-pertengkaran itu sungguh-sungguh keliru; semuanya dikutuk oleh kitab suci kita, dilarang oleh para leluhur kita; dan orang-orang besar yang darinya kita mengaku berasal, yang darahnya mengalir di nadi kita, memandang dengan kehinaan ke bawah pada anak cucu mereka yang bertengkar tentang perbedaan-perbedaan sepele.

Dengan ditinggalkannya pertengkaran-pertengkaran itu, segala perbaikan lain akan datang. Apabila darah-kehidupan kuat dan murni, tidak ada kuman penyakit yang dapat hidup di dalam tubuh itu. Darah-kehidupan kita adalah spiritualitas. Jika ia mengalir jernih, jika ia mengalir kuat, murni, dan bertenaga, segala sesuatu akan baik; politik, sosial, segala kekurangan material lain, bahkan kemiskinan negeri ini, semuanya akan tersembuhkan apabila darah itu murni. Sebab apabila kuman penyakit telah disingkirkan, tidak akan ada yang dapat masuk ke dalam darah. Untuk mengambil perumpamaan dari kedokteran modern, kita tahu bahwa harus ada dua sebab guna menimbulkan suatu penyakit, yakni kuman beracun dari luar, dan keadaan tubuh itu sendiri. Sampai tubuh itu berada dalam keadaan yang memungkinkan masuknya kuman, sampai tubuh itu merosot ke tingkat vitalitas yang lebih rendah sehingga kuman dapat masuk, bertahan, dan berkembang biak, tidak ada kuman apa pun di dunia ini yang memiliki kuasa untuk menimbulkan penyakit pada tubuh. Sesungguhnya, jutaan kuman terus-menerus melewati tubuh setiap orang; tetapi selama tubuh itu bertenaga, ia tidak pernah menyadari keberadaan kuman-kuman itu. Hanya apabila tubuh itu lemah, kuman-kuman tersebut menguasainya dan menimbulkan penyakit. Demikian pula halnya dengan kehidupan kebangsaan. Apabila tubuh kebangsaan itu lemah, segala macam kuman penyakit, baik dalam keadaan politik ras itu maupun dalam keadaan sosialnya, dalam keadaan pendidikannya atau intelektualnya, akan berkerumun masuk ke dalam sistem dan menimbulkan penyakit. Oleh karena itu, untuk menyembuhkannya, kita harus menuju akar penyakit ini dan membersihkan darah dari segala ketidakmurnian. Satu-satunya kecenderungan adalah memperkuat manusia, memurnikan darah, dan menyehatkan tubuh sehingga ia mampu menahan dan menolak segala racun dari luar.

Kita telah melihat bahwa tenaga kita, kekuatan kita, bahkan kehidupan kebangsaan kita, ada di dalam agama kita. Saya tidak akan membahas sekarang apakah benar atau tidak, apakah tepat atau tidak, apakah bermanfaat dalam jangka panjang atau tidak, untuk memiliki vitalitas dalam agama ini, tetapi entah baik atau buruk, kenyataannya begitu; Anda tidak dapat melepaskan diri darinya, Anda memilikinya sekarang dan selamanya, dan Anda harus berdiri di atasnya, sekalipun Anda tidak memiliki keyakinan yang sama dengan yang saya miliki terhadap agama kita. Anda terikat olehnya, dan jika Anda meninggalkannya, Anda akan hancur berkeping-keping. Itulah kehidupan ras kita, dan itulah yang harus diperkuat. Anda telah bertahan menghadapi guncangan berabad-abad semata-mata karena Anda menjaganya dengan sangat hati-hati, Anda mengorbankan segala hal lain demi agama itu. Para leluhur Anda menempuh segalanya dengan berani, bahkan kematian itu sendiri, namun mereka mempertahankan agama mereka. Kuil demi kuil dirobohkan oleh sang penakluk asing, tetapi begitu gelombang itu surut, menara kuil itu kembali menjulang. Sebagian kuil tua di India Selatan dan kuil-kuil seperti Somnath di Gujarat akan mengajarkan Anda berjilid-jilid kebijaksanaan, akan memberi Anda wawasan yang lebih tajam tentang sejarah ras ini daripada sejumlah besar buku. Perhatikanlah betapa kuil-kuil ini menanggung bekas seratus serangan dan seratus kelahiran kembali, terus-menerus dihancurkan dan terus-menerus tumbuh kembali dari reruntuhan, dipulihkan dan tetap kuat seperti sediakala! Itulah pikiran kebangsaan, itulah arus kehidupan kebangsaan. Ikutilah ia, dan ia akan membawa kepada kemuliaan. Tinggalkanlah ia, dan Anda akan mati; kematian akan menjadi satu-satunya hasil, kemusnahan akan menjadi satu-satunya akibat, pada saat Anda melangkah ke luar dari arus kehidupan itu. Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa hal-hal lain tidak diperlukan. Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa perbaikan politik atau sosial tidak diperlukan, tetapi yang saya maksud adalah ini, dan saya ingin Anda mengingatnya, bahwa hal-hal itu di sini bersifat sekunder dan bahwa agamalah yang utama. Pikiran India pertama-tama bersifat religius, baru kemudian segala hal lain. Maka inilah yang harus diperkuat, dan bagaimana melakukannya? Saya akan menyampaikan kepada Anda gagasan-gagasan saya. Gagasan-gagasan ini telah lama ada dalam pikiran saya, bahkan bertahun-tahun sebelum saya meninggalkan pantai Madras menuju Amerika, dan kepergian saya ke Amerika dan Inggris hanyalah untuk menyebarluaskan gagasan-gagasan itu. Saya sama sekali tidak mempedulikan Parlemen Agama-Agama atau apa pun lainnya; itu hanyalah sebuah kesempatan; sebab gagasan-gagasan saya itulah yang sesungguhnya membawa saya berkeliling dunia.

Gagasan saya pertama-tama adalah menampilkan permata-permata spiritualitas yang tersimpan di dalam kitab-kitab kita dan yang ada pada segelintir orang saja, yang seolah-olah tersembunyi di biara-biara dan di hutan-hutan — untuk menampilkannya; untuk mengeluarkan pengetahuan itu, bukan hanya dari tangan-tangan yang menyembunyikannya, melainkan juga dari peti yang lebih sukar dijangkau, yakni bahasa tempat pengetahuan itu terpelihara, kerak berabad-abad dari kata-kata Sanskerta. Singkatnya, saya ingin menjadikannya populer. Saya ingin menampilkan gagasan-gagasan ini dan membiarkannya menjadi milik bersama bagi semua, bagi setiap orang di India, baik ia mengenal bahasa Sanskerta maupun tidak. Kesulitan besar di jalan itu adalah bahasa Sanskerta — bahasa kita yang mulia; dan kesulitan ini tidak dapat disingkirkan sampai — jika hal itu memungkinkan — seluruh bangsa kita menjadi pengkaji Sanskerta yang baik. Anda akan memahami kesulitan itu apabila saya katakan bahwa saya telah mempelajari bahasa ini sepanjang hidup saya, namun setiap kitab baru tetap baru bagi saya. Betapa lebih sulitnya hal itu bagi orang yang tidak pernah memiliki waktu untuk mempelajari bahasa itu secara menyeluruh! Oleh karena itu, gagasan-gagasan itu harus diajarkan dalam bahasa rakyat; pada saat yang sama, pendidikan Sanskerta harus terus berjalan beriringan, sebab bunyi kata-kata Sanskerta itu sendiri memberi wibawa, kekuatan, dan ketahanan bagi ras ini. Upaya-upaya Ramanuja yang agung, Chaitanya, dan Kabir untuk mengangkat golongan-golongan rendah di India menunjukkan bahwa hasil-hasil luar biasa pernah dicapai semasa hidup nabi-nabi besar itu; namun kegagalan-kegagalan kemudiannya perlu dijelaskan, dan sebabnya perlu ditunjukkan, mengapa pengaruh ajaran mereka hampir terhenti dalam satu abad sesudah para Guru besar itu wafat. Rahasianya terletak di sini. Mereka mengangkat golongan rendah; mereka memiliki segala keinginan agar golongan-golongan itu naik, tetapi mereka tidak mencurahkan tenaganya pada penyebaran bahasa Sanskerta di kalangan rakyat banyak. Bahkan Buddha yang agung membuat satu langkah keliru ketika ia menghentikan kajian bahasa Sanskerta di kalangan rakyat. Ia menginginkan hasil yang cepat dan segera, lalu menerjemahkan serta mengkhotbahkan dalam bahasa yang lazim pada masanya, yakni Pali. Itu agung; ia berbicara dalam bahasa rakyat, dan rakyat memahaminya. Itu agung; ia menyebarkan gagasan-gagasan dengan cepat dan menjangkaukannya ke segala penjuru. Tetapi seiring dengan itu, Sanskerta seharusnya turut tersebar pula. Pengetahuan datang, tetapi wibawa itu tidak ada, kebudayaan itu tidak ada. Yang mampu menahan guncangan adalah kebudayaan, bukan sekadar kumpulan pengetahuan. Anda dapat melemparkan kumpulan pengetahuan ke dunia, tetapi hal itu tidak akan banyak berfaedah. Kebudayaan harus masuk ke dalam darah. Kita semua mengetahui pada zaman modern ini bangsa-bangsa yang memiliki kumpulan pengetahuan yang luas, tetapi apa jadinya mereka? Mereka seperti harimau, mereka seperti orang biadab, karena kebudayaan tidak ada di sana. Pengetahuan hanya sedalam kulit, demikian pula peradaban, dan sedikit goresan saja sudah cukup mengeluarkan kembali sifat biadab yang lama. Hal semacam itu memang terjadi; inilah bahayanya. Ajarkan rakyat banyak dalam bahasa daerah, berikan kepada mereka gagasan-gagasan; mereka akan memperoleh informasi, tetapi sesuatu yang lebih masih diperlukan; berikan kepada mereka kebudayaan. Sampai Anda memberikan hal itu kepada mereka, tidak akan ada permanensi pada keadaan rakyat yang telah ditinggikan itu. Akan tercipta kasta baru, yang memiliki keunggulan berupa bahasa Sanskerta, yang dengan cepat akan naik melampaui yang lain dan tetap saja menguasai mereka semua. Satu-satunya jaminan keamanan, saya katakan kepada Anda, orang-orang yang termasuk ke dalam kasta-kasta rendah, satu-satunya cara untuk mengangkat keadaan Anda adalah dengan mempelajari Sanskerta, dan sikap bertikai, menulis-nulis, serta berbuih melawan kasta-kasta yang lebih tinggi itu sia-sia, tidak mendatangkan manfaat, dan justru menimbulkan perkelahian dan pertengkaran, dan ras ini, yang malangnya telah terpecah, akan semakin terpecah-pecah lagi. Satu-satunya jalan untuk mendatangkan perataan kasta adalah dengan mengambil alih kebudayaan, pendidikan yang menjadi kekuatan kasta-kasta yang lebih tinggi. Apabila hal itu telah dilakukan, Anda telah memperoleh apa yang Anda kehendaki.

Sehubungan dengan ini saya ingin membahas satu persoalan yang memiliki kaitan khusus dengan Madras. Ada suatu teori yang menyatakan bahwa di India Selatan dahulu terdapat suatu ras manusia yang disebut bangsa Drawida, yang sama sekali berbeda dari ras lain di India Utara yang disebut bangsa Arya, dan bahwa para brahmana India Selatan adalah satu-satunya orang Arya yang datang dari Utara, sedangkan orang-orang lain di India Selatan termasuk dalam kasta dan ras yang sama sekali berbeda dari para brahmana India Selatan itu. Sekarang mohon maaf, Tuan Filolog, ini sama sekali tidak berdasar. Satu-satunya buktinya adalah bahwa terdapat perbedaan bahasa antara Utara dan Selatan. Saya tidak melihat perbedaan lain. Di sini ada begitu banyak orang Utara, dan saya meminta para sahabat Eropa saya untuk membedakan mana orang Utara dan mana orang Selatan dari kumpulan ini. Di manakah perbedaannya? Hanya sedikit perbedaan bahasa. Tetapi orang Brahmana adalah ras yang datang ke sini dengan berbicara bahasa Sanskerta! Kalau begitu, mereka mengambil alih bahasa Drawida dan melupakan Sanskerta mereka. Mengapa kasta-kasta lain tidak melakukan hal yang sama? Mengapa kasta-kasta lain tidak datang satu demi satu dari India Utara, mengambil alih bahasa Drawida, dan dengan demikian melupakan bahasa mereka sendiri? Itu adalah argumen yang berlaku ke dua arah. Janganlah Anda mempercayai hal-hal konyol semacam itu. Mungkin saja pernah ada suatu bangsa Drawida yang lenyap dari sini, dan segelintir yang tersisa hidup di hutan dan tempat-tempat lain. Mungkin sekali bahasa mereka diambil alih, tetapi semua ini adalah orang Arya yang datang dari Utara. Seluruh India adalah Arya, bukan yang lain.

Kemudian ada gagasan lain bahwa kasta Shudra pastilah penduduk asli. Apakah mereka itu? Mereka adalah para budak. Orang berkata sejarah berulang. Orang Amerika, Inggris, Belanda, dan Portugis menangkapi orang Afrika yang malang dan memaksa mereka bekerja keras selama hidup, dan anak-anak mereka yang berasal dari percampuran lahir dalam perbudakan dan dipelihara dalam keadaan itu untuk jangka waktu yang lama. Dari contoh yang luar biasa itu, pikiran melompat balik beberapa ribu tahun ke belakang dan membayangkan bahwa hal yang sama terjadi di sini, dan para arkeolog kita memimpikan India yang penuh dengan penduduk asli bermata gelap, dan orang Arya yang cemerlang datang dari — entah dari mana, Tuhan saja yang tahu. Menurut sebagian orang, mereka datang dari Tibet Tengah; yang lain berpendapat mereka datang dari Asia Tengah. Ada pula orang Inggris patriotik yang menganggap bahwa orang Arya semuanya berambut merah. Yang lain, menurut gagasan mereka, beranggapan bahwa mereka semuanya berambut hitam. Apabila si penulis kebetulan berambut hitam, maka orang Arya semuanya berambut hitam. Belakangan ini, ada upaya untuk membuktikan bahwa orang Arya hidup di danau-danau Swiss. Saya tidak akan menyesal jika mereka semuanya tenggelam di sana, lengkap dengan teorinya. Sebagian berkata sekarang bahwa mereka hidup di Kutub Utara. Semoga Tuhan memberkati orang Arya dan tempat tinggal mereka! Mengenai kebenaran teori-teori ini, tidak ada satu pun kata dalam kitab suci kita, tidak satu pun, yang membuktikan bahwa orang Arya pernah datang dari mana pun di luar India, dan dalam India kuno itu termasuk pula Afghanistan. Sampai di situ habislah perkaranya. Dan teori yang menyatakan bahwa kasta Shudra semuanya bukan-Arya dan bahwa mereka adalah massa yang besar, sama tidak masuk akalnya dan sama tidak rasionalnya. Mustahil pada masa itu segelintir orang Arya menetap dan hidup di sana dengan seratus ribu budak di bawah perintah mereka. Para budak itu pastilah sudah memakan mereka habis-habisan, menjadikan mereka "chutney" dalam lima menit. Satu-satunya penjelasan ditemukan di dalam Mahabharata, yang mengatakan bahwa pada permulaan Satya Yuga hanya ada satu kasta, yaitu para brahmana, dan kemudian, karena perbedaan pekerjaan, mereka membagi diri ke dalam kasta-kasta yang berbeda, dan itulah satu-satunya penjelasan yang sahih dan rasional yang pernah diberikan. Dan pada Satya Yuga yang akan datang, semua kasta lainnya akan kembali ke keadaan yang sama.

Oleh karena itu, pemecahan persoalan kasta di India berbentuk demikian, yakni tidak merendahkan kasta-kasta yang lebih tinggi, tidak menghancurkan brahmana. Kebrahmanaan adalah cita-cita kemanusiaan di India, sebagaimana telah disampaikan dengan menakjubkan oleh Shankaracharya pada awal komentarnya tentang Gita, di mana ia berbicara tentang sebab kedatangan Krishna sebagai seorang pengkhotbah demi pemeliharaan kebrahmanaan, demi sifat kebrahmanaan itu sendiri. Itulah tujuan agung. Brahmana ini, manusia Tuhan, ia yang telah mengenal Brahman (Realitas mutlak), sang manusia ideal, sang manusia sempurna, harus tetap ada; ia tidak boleh hilang. Dan dengan segala cacat kasta yang ada saat ini, kita tahu bahwa kita semua harus bersedia mengakui jasa para brahmana ini, bahwa dari merekalah lebih banyak muncul orang yang memiliki sifat kebrahmanaan sejati dibandingkan dari semua kasta lain. Itu benar. Itulah jasa yang patut diakui oleh semua kasta lain. Kita harus cukup berani, cukup berani berbicara tentang cacat-cacat mereka, tetapi pada saat yang sama kita harus memberikan pengakuan yang menjadi hak mereka. Ingatlah pepatah Inggris kuno, "Berikan kepada setiap orang apa yang menjadi haknya." Oleh karena itu, sahabat-sahabat saya, tidak ada gunanya berkelahi antar-kasta. Apa kebaikan yang akan dihasilkannya? Pertikaian itu hanya akan semakin memecah kita, semakin melemahkan kita, semakin merendahkan kita. Hari-hari hak istimewa eksklusif dan tuntutan eksklusif sudah berlalu, berlalu selamanya dari tanah India, dan inilah salah satu berkah besar dari Pemerintahan Britania di India. Bahkan kepada Pemerintahan Muslim pun kita berutang berkah besar itu, yakni hancurnya hak istimewa yang eksklusif. Pemerintahan itu, pada akhirnya, tidak seluruhnya buruk; tidak ada sesuatu yang seluruhnya buruk, dan tidak ada sesuatu yang seluruhnya baik. Penaklukan Muslim atas India datang sebagai keselamatan bagi mereka yang terinjak-injak, bagi rakyat miskin. Itulah sebabnya seperlima penduduk kita telah menjadi Muslim. Bukan pedang yang melakukan semuanya. Adalah puncak kegilaan jika mengira bahwa semuanya itu hasil karya pedang dan api. Dan seperlima — bahkan setengah — dari penduduk Madras Anda akan menjadi Kristen jika Anda tidak berhati-hati. Pernahkah ada sesuatu yang lebih bodoh di dunia ini daripada apa yang saya saksikan di tanah Malabar? Sang Pariah yang malang tidak diizinkan melintasi jalan yang sama dengan orang berkasta tinggi, tetapi apabila ia mengganti namanya menjadi nama Inggris yang campur aduk, semuanya menjadi baik-baik saja; atau menjadi nama Muslim, semuanya pun baik-baik saja. Kesimpulan apa lagi yang dapat Anda tarik selain bahwa orang-orang Malabari ini semuanya gila, rumah-rumah mereka adalah rumah sakit jiwa belaka, dan bahwa mereka harus diperlakukan dengan ejekan oleh setiap ras di India sampai mereka memperbaiki perilaku mereka dan mengenal hal yang lebih baik. Sungguh memalukan bahwa adat-adat sejahat dan sekejam itu dibiarkan; anak-anak mereka sendiri dibiarkan mati kelaparan, tetapi begitu mereka menganut agama lain, mereka diberi makan dengan baik. Seharusnya tidak ada lagi perkelahian antarkasta.

Pemecahannya bukan dengan menurunkan yang lebih tinggi, melainkan dengan mengangkat yang lebih rendah ke tingkat yang lebih tinggi. Dan itulah garis pekerjaan yang ditemukan dalam semua kitab kita, terlepas dari apa yang mungkin Anda dengar dari sebagian orang yang pengetahuan mereka tentang kitab suci mereka sendiri dan kemampuan mereka untuk memahami rencana-rencana agung para leluhur sama dengan nol. Mereka tidak memahaminya, tetapi mereka yang memiliki otak, yang memiliki intelek untuk menangkap seluruh cakupan pekerjaan itu, memahaminya. Mereka berdiri menyamping dan mengikuti arak-arakan menakjubkan dari kehidupan kebangsaan sepanjang zaman. Mereka dapat menelusurinya tahap demi tahap melalui semua kitab, kuno maupun modern. Apa rencananya? Cita-cita di satu ujung adalah brahmana, dan cita-cita di ujung yang lain adalah chandala, dan seluruh pekerjaan itu adalah mengangkat chandala naik sampai ke tingkat brahmana. Perlahan-lahan Anda akan menemukan lebih banyak dan lebih banyak hak istimewa yang diberikan kepada mereka. Ada kitab-kitab yang di dalamnya Anda membaca kata-kata yang segarang ini: "Jika seorang Shudra mendengar Veda, isilah telinganya dengan timah cair, dan jika ia mengingat satu baris saja, potonglah lidahnya. Jika ia berkata kepada seorang brahmana, 'Engkau brahmana', potonglah lidahnya." Ini tidak diragukan lagi adalah kebiadaban tua yang diabolis; itu sudah jelas; tetapi janganlah menyalahkan para pemberi hukum, yang hanya mencatat adat-istiadat sebagian kalangan dalam masyarakat. Iblis-iblis semacam itu kadang-kadang muncul di antara orang-orang dahulu. Iblis-iblis itu selalu ada di mana-mana, kurang lebih, di segala zaman. Sejalan dengan itu, Anda akan menemukan kemudian, nada ini sedikit dilunakkan, misalnya, "Janganlah mengusik kaum Shudra, tetapi jangan ajarkan kepada mereka hal-hal yang lebih tinggi." Lalu secara bertahap kita menemukan dalam Smriti-smriti lain, terutama dalam yang sekarang sepenuhnya berlaku, bahwa apabila kaum Shudra meniru tata krama dan kebiasaan kaum brahmana, mereka melakukan hal yang baik, mereka seharusnya didorong. Demikianlah hal itu berlangsung. Saya tidak memiliki waktu untuk memaparkan kepada Anda seluruh proses ini, ataupun bagaimana ia dapat ditelusuri secara terperinci; tetapi sampai pada fakta-fakta yang jelas, kita menemukan bahwa semua kasta perlahan-lahan harus naik. Ada ribuan kasta, dan sebagian bahkan diterima masuk ke dalam kebrahmanaan, sebab apa yang dapat menghalangi suatu kasta menyatakan diri mereka sebagai brahmana? Demikianlah kasta, dengan segala kekerasannya, telah diciptakan dengan cara seperti itu. Marilah kita andaikan bahwa di sini ada beberapa kasta dengan sepuluh ribu orang pada masing-masingnya. Apabila mereka berembuk bersama dan berkata, kami akan menyebut diri kami brahmana, tidak ada yang dapat menghentikan mereka; saya telah melihatnya sendiri dalam hidup saya. Sebagian kasta menjadi kuat, dan begitu mereka semua sepakat, siapa yang akan menyatakan tidak? Sebab apa pun itu, setiap kasta bersikap eksklusif terhadap yang lain. Mereka tidak ikut campur dalam urusan orang lain; bahkan beberapa pembagian dalam satu kasta tidak ikut campur dengan pembagian-pembagian lainnya, dan para pelaku zaman yang berpengaruh besar itu, Shankaracharya dan yang lain, adalah para pencipta kasta yang besar. Saya tidak dapat memberi tahu Anda segala hal menakjubkan yang mereka susun, dan sebagian dari Anda mungkin akan tersinggung dengan apa yang harus saya katakan. Tetapi dalam perjalanan dan pengalaman saya, saya telah menelusurinya, dan sampai pada hasil-hasil yang paling menakjubkan. Mereka kadang-kadang akan menghimpun gerombolan orang Baluchi dan seketika menjadikan mereka kshatriya, juga menghimpun gerombolan nelayan dan seketika menjadikan mereka brahmana. Mereka semuanya adalah para rishi dan resi, dan kita harus tunduk hormat pada ingatan tentang mereka. Maka, jadilah kalian semua para rishi dan resi; itulah rahasianya. Kurang lebih kita semua akan menjadi rishi. Apa yang dimaksud dengan rishi? Yang murni. Murnikanlah diri terlebih dahulu, dan Anda akan memiliki daya. Sekadar berkata, "Saya adalah rishi", tidak akan ada gunanya; tetapi apabila Anda benar-benar seorang rishi, Anda akan menemukan bahwa orang lain menaati Anda secara naluriah. Sesuatu yang misterius memancar dari diri Anda, yang membuat mereka mengikuti Anda, membuat mereka mendengarkan Anda, membuat mereka, secara tidak sadar, bahkan bertentangan dengan kehendak mereka, melaksanakan rencana-rencana Anda. Itulah hakikat menjadi rishi.

Mengenai rinciannya, tentu saja itu harus digarap melalui generasi-generasi. Tetapi ini hanyalah usulan untuk menunjukkan kepada Anda bahwa pertikaian-pertikaian ini harus berhenti. Saya terutama menyesalkan bahwa pada zaman Muslim ini sampai ada begitu banyak perpecahan antarkasta. Ini harus berhenti. Pertikaian ini sia-sia di kedua belah pihak, terutama di pihak kasta yang lebih tinggi, yakni brahmana, sebab hari untuk hak istimewa dan tuntutan yang eksklusif ini sudah berlalu. Kewajiban setiap aristokrasi adalah menggali kuburnya sendiri, dan semakin cepat ia melakukannya, semakin baik. Semakin ia menunda, semakin ia akan membusuk dan semakin buruk kematian yang akan dialaminya. Oleh karena itu, kewajiban brahmana adalah bekerja bagi keselamatan seluruh umat manusia di India. Apabila ia melakukan itu, dan selama ia melakukan itu, ia adalah seorang brahmana, tetapi ia bukan lagi brahmana apabila ia berkeliling mencari uang. Anda pada gilirannya hanya boleh memberikan bantuan kepada brahmana sejati yang memang layak menerimanya; pemberian semacam itu membawa ke surga. Tetapi kadang-kadang pemberian kepada orang lain yang tidak layak akan menuntun ke tempat yang sebaliknya, demikianlah kitab suci kita berkata. Anda harus waspada terhadap hal itu. Hanya ialah seorang brahmana yang tidak memiliki pekerjaan duniawi. Pekerjaan duniawi bukanlah untuk brahmana, melainkan untuk kasta-kasta lain. Kepada para brahmana saya menyerukan, bahwa mereka harus bekerja keras untuk mengangkat bangsa India dengan mengajarkan kepada mereka apa yang mereka ketahui, dengan memberikan kebudayaan yang telah mereka kumpulkan berabad-abad. Sudah jelas merupakan kewajiban para brahmana India untuk mengingat apa kebrahmanaan yang sejati itu. Sebagaimana dikatakan oleh Manu, segala hak istimewa dan kehormatan ini diberikan kepada brahmana, sebab "padanya ada perbendaharaan kebajikan". Ia harus membuka perbendaharaan itu dan membagikan nilai-nilainya kepada dunia. Memang benar bahwa ia adalah pengkhotbah yang paling dini bagi ras-ras India, ia adalah yang pertama melepaskan segala sesuatu untuk mencapai perwujudan hidup yang lebih tinggi sebelum yang lain dapat sampai pada gagasan itu. Bukanlah kesalahannya bahwa ia berjalan di depan kasta-kasta lain. Mengapa kasta-kasta lain tidak memahaminya dan tidak melakukan sebagaimana yang ia lakukan? Mengapa mereka duduk diam dan bermalas-malasan, lalu membiarkan para brahmana memenangkan perlombaan?

Tetapi memperoleh suatu keuntungan adalah satu hal, dan mempertahankannya untuk penggunaan yang jahat adalah hal lain. Setiap kali kekuasaan digunakan untuk kejahatan, ia menjadi diabolis; ia harus digunakan untuk kebaikan saja. Maka, kebudayaan yang terhimpun selama berabad-abad ini, yang menjadi titipan kepada brahmana (kasta pendeta), kini harus ia berikan kepada seluruh rakyat, dan justru karena ia tidak memberikannya kepada rakyat itulah serbuan Muhammadan menjadi mungkin. Justru karena ia tidak membuka perbendaharaan ini kepada rakyat sejak semula, maka selama seribu tahun kita telah terinjak-injak di bawah tumit setiap orang yang memilih untuk datang ke India. Melalui itulah kita telah menjadi merosot, dan tugas pertama haruslah membongkar bilik-bilik yang menyembunyikan harta menakjubkan yang dikumpulkan oleh nenek moyang kita yang bersama; mengeluarkannya dan memberikannya kepada setiap orang, dan brahmana harus menjadi yang pertama melakukannya. Ada sebuah takhayul lama di Bengal bahwa apabila ular kobra yang menggigit menghisap kembali bisanya sendiri dari penderita, orang itu pasti akan selamat. Maka, brahmana harus menghisap kembali bisanya sendiri. Kepada kasta-kasta non- brahmana saya berkata, tunggulah, jangan tergesa-gesa. Jangan menyambar setiap kesempatan untuk memerangi brahmana, karena, sebagaimana telah saya tunjukkan, Anda menderita karena kesalahan Anda sendiri. Siapa yang menyuruh Anda mengabaikan spiritualitas dan pembelajaran Sanskerta? Apa yang telah Anda lakukan selama ini? Mengapa Anda bersikap acuh tak acuh? Mengapa Anda kini gelisah dan marah karena ada orang lain yang memiliki otak yang lebih cemerlang, energi yang lebih besar, keberanian dan semangat yang lebih daripada Anda? Alih-alih membuang-buang energi Anda dalam perdebatan dan pertengkaran yang sia-sia di surat kabar, alih-alih bertengkar dan berkelahi di dalam rumah Anda sendiri — yang merupakan dosa — gunakanlah seluruh energi Anda untuk memperoleh kebudayaan yang dimiliki brahmana, maka selesailah persoalannya. Mengapa Anda tidak menjadi cendekiawan Sanskerta? Mengapa Anda tidak mengeluarkan jutaan untuk membawa pendidikan Sanskerta kepada semua kasta di India? Itulah pertanyaannya. Pada saat Anda melakukan hal-hal ini, Anda akan setara dengan brahmana. Itulah rahasia kekuatan di India.

Sanskerta dan kewibawaan berjalan beriringan di India. Begitu Anda memilikinya, tidak seorang pun berani berkata apa pun terhadap Anda. Itulah satu-satunya rahasia; rebutlah itu. Seluruh alam semesta, untuk meminjam perumpamaan Advaitin (penganut Advaita) kuno, berada dalam keadaan hipnosis-diri. Kehendaklah yang menjadi kekuatan. Manusia yang berkehendak kuatlah yang seolah-olah memancarkan lingkar cahaya di sekelilingnya dan membawa semua orang lain ke keadaan getaran yang sama dengan yang ada di pikirannya sendiri. Manusia-manusia raksasa semacam itu memang muncul. Dan apakah gagasannya? Ketika seorang individu yang berdaya tampil, kepribadiannya meresapkan pikirannya ke dalam diri kita, dan banyak dari kita pun memiliki pikiran yang sama, sehingga kita menjadi berdaya. Mengapa organisasi itu begitu berdaya? Janganlah mengatakan organisasi itu material. Mengapa, untuk mengambil sebuah contoh kasus, empat puluh juta orang Inggris dapat memerintah tiga ratus juta orang di sini? Apa penjelasan psikologisnya? Empat puluh juta orang ini menyatukan kehendak mereka, dan itu berarti kekuatan yang tak terbatas, sedangkan Anda tiga ratus juta orang masing-masing memiliki kehendak yang terpisah satu sama lain. Oleh karena itu, untuk membangun India masa depan yang besar, seluruh rahasianya terletak pada organisasi, penghimpunan kekuatan, dan penyelarasan kehendak.

Sudah hadir di benak saya salah satu bait menakjubkan dari Rig-Veda Samhita yang berbunyi, "Hendaklah kalian semua sehati, hendaklah kalian semua sepikiran, sebab pada hari-hari purwa, para dewa yang sehati mampu menerima persembahan." Bahwa para dewa dapat dipuja oleh manusia adalah karena mereka sehati. Sehati adalah rahasia masyarakat. Dan semakin Anda terus bertengkar dan berselisih tentang segala kesepelean seperti "Dravida" dan "Arya", serta persoalan brahmana dan non-brahmana dan semacamnya, semakin jauh Anda dari penghimpunan energi dan kekuatan yang akan menjadikan India masa depan. Sebab perhatikanlah, India masa depan sepenuhnya bergantung pada itu. Itulah rahasianya — penghimpunan daya kehendak, penyelarasan, membawa semuanya, seolah-olah, ke dalam satu titik fokus. Setiap orang Tionghoa berpikir menurut caranya sendiri, sedangkan segenggam orang Jepang semua berpikir dengan cara yang sama, dan Anda mengetahui hasilnya. Begitulah berlangsungnya sepanjang sejarah dunia. Anda akan menemukan dalam setiap kasus, bangsa-bangsa kecil yang padu selalu memerintah dan menguasai bangsa-bangsa besar yang sukar dikendalikan, dan ini wajar, sebab lebih mudah bagi bangsa- bangsa kecil yang padu untuk membawa gagasan mereka ke dalam titik fokus yang sama, sehingga mereka pun berkembang. Dan semakin besar suatu bangsa, semakin sukar pula ia dikendalikan. Karena terlahir, seolah- olah, sebagai gerombolan yang tak terorganisasi, mereka tidak dapat bersatu. Segala perselisihan ini harus berhenti.

Masih ada satu lagi cacat pada diri kita. Para hadirin wanita, mohon maafkanlah saya, tetapi melalui berabad-abad perbudakan, kita telah menjadi seperti bangsa yang terdiri atas perempuan. Anda hampir tidak dapat mempertemukan tiga perempuan selama lima menit di negeri ini atau di negeri mana pun tanpa mereka bertengkar. Para perempuan membentuk perkumpulan-perkumpulan besar di negara-negara Eropa, dan membuat deklarasi-deklarasi yang gegap-gempita tentang kekuatan perempuan dan sebagainya; lalu mereka bertengkar, dan datanglah seorang laki-laki yang memerintah mereka semua. Di seluruh dunia mereka masih membutuhkan seorang laki-laki untuk memerintah mereka. Kita seperti mereka. Kita ini perempuan. Apabila seorang perempuan datang untuk memimpin para perempuan, mereka semua segera mulai mengkritiknya, mencabik-cabiknya, dan menjatuhkannya. Apabila seorang laki-laki datang dan memperlakukan mereka sedikit kasar, memarahi mereka sesekali, semuanya beres, mereka telah terbiasa dengan semacam mesmerisme itu. Seluruh dunia ini penuh dengan para mesmeris dan penghipnotis semacam itu. Dengan cara yang sama, jika salah seorang sebangsa kita berdiri dan berusaha menjadi besar, kita semua berusaha menahannya, tetapi jika seorang asing datang dan berusaha menendang kita, semuanya beres. Kita telah terbiasa dengan itu, bukan? Padahal budak harus menjadi tuan besar! Maka berhentilah menjadi budak. Selama lima puluh tahun ke depan inilah satu-satunya yang akan menjadi nada kunci kita — inilah, Bunda India kita yang agung. Biarlah segenap dewa sia-sia yang lain lenyap untuk sementara dari pikiran kita. Inilah satu-satunya dewa yang terjaga, ras kita sendiri — "di mana-mana tangan-Nya, di mana-mana kaki-Nya, di mana-mana telinga- Nya, Ia meliputi segalanya." Segala dewa lain sedang tertidur. Dewa sia- sia mana lagi yang akan kita kejar padahal kita pun belum mampu memuja dewa yang kita lihat di sekeliling kita, sang Virat? Apabila kita telah memuja yang ini, barulah kita akan mampu memuja segala dewa lainnya. Sebelum kita mampu merangkak setengah mil, kita ingin menyeberangi samudra seperti Hanuman! Hal itu tidak mungkin. Setiap orang hendak menjadi seorang Yogi, setiap orang hendak bermeditasi! Hal itu tidak mungkin. Sepanjang hari bercampur dengan dunia melalui Karma Kanda, dan di malam hari duduk dan meniupkan nafas melalui hidung! Apakah semudah itu? Haruskah para rishi (peresi/pelihat Veda) datang terbang menembus udara, hanya karena Anda telah meniupkan nafas tiga kali melalui hidung? Apakah ini sebuah lelucon? Semua itu omong kosong. Yang dibutuhkan adalah Chittashuddhi, penyucian hati. Dan bagaimanakah hal itu terjadi? Pemujaan yang utama dari segalanya adalah pemujaan terhadap sang Virat — pemujaan terhadap mereka yang ada di sekeliling kita. Pujalah Ia. "Memuja" adalah padanan tepat dari kata Sanskerta itu, dan tidak ada kata Inggris lain yang sesuai. Ini semua adalah dewa-dewa kita — manusia dan binatang; dan dewa-dewa pertama yang harus kita puja adalah sebangsa kita sendiri. Mereka inilah yang harus kita puja, alih-alih saling iri dan saling berkelahi. Inilah karma yang paling mengerikan yang sedang kita derita, namun ia tetap tidak membuka mata kita!

Baiklah, pokok pembicaraan ini begitu luas sehingga saya tidak tahu di mana harus berhenti, dan saya harus mengakhiri ceramah saya dengan menyampaikan kepada Anda dalam beberapa kata tentang rencana yang ingin saya laksanakan di Madras. Kita harus memegang kendali atas pendidikan spiritual dan duniawi bangsa ini. Apakah Anda memahaminya? Anda harus memimpikannya, Anda harus membicarakannya, Anda harus memikirkannya, dan Anda harus mewujudkannya. Sampai saat itu tiba, tidak ada keselamatan bagi bangsa ini. Pendidikan yang Anda dapatkan sekarang memang memiliki beberapa segi yang baik, tetapi ia memiliki kerugian yang sangat besar sehingga hal-hal baiknya pun terberati. Pertama-tama, ia bukan pendidikan yang membentuk manusia, ia semata-mata dan sepenuhnya merupakan pendidikan yang negatif. Pendidikan yang negatif atau pelatihan apa pun yang berlandaskan penyangkalan, lebih buruk daripada kematian. Anak itu dibawa ke sekolah, dan hal pertama yang ia pelajari adalah bahwa ayahnya seorang bodoh, yang kedua bahwa kakeknya seorang gila, yang ketiga bahwa semua gurunya munafik, yang keempat bahwa semua kitab suci itu dusta! Pada saat ia berusia enam belas tahun, ia telah menjadi gumpalan penyangkalan, tanpa nyawa dan tanpa tulang. Dan hasilnya adalah bahwa lima puluh tahun pendidikan semacam itu belum melahirkan satu orang pun yang asli di tiga Kepresidenan. Setiap orang yang memiliki keaslian adalah orang yang dididik di tempat lain, bukan di negeri ini, atau mereka kembali ke universitas-universitas tua untuk membersihkan diri dari takhayul. Pendidikan bukanlah sejumlah informasi yang dijejalkan ke otak Anda dan berlarian liar di sana, tidak tercerna, sepanjang hidup Anda. Kita harus memiliki asimilasi gagasan yang membangun kehidupan, membentuk manusia, dan membentuk karakter. Apabila Anda telah mengasimilasi lima gagasan dan menjadikannya kehidupan dan karakter Anda, Anda memiliki pendidikan yang lebih banyak daripada siapa pun yang hafal seisi perpustakaan यथा खरश्चन्दनभारवाही भारस्य वेत्ता न तु चन्दनस्य। — "Keledai yang memikul muatan kayu cendana hanya tahu beban itu, bukan nilai kayu cendana itu." Apabila pendidikan itu sama dengan informasi, maka perpustakaan adalah orang-orang bijak terbesar di dunia, dan ensiklopedia adalah para rishi. Karena itu, cita-citanya adalah bahwa kita harus memiliki seluruh pendidikan negeri kita, baik spiritual maupun duniawi, di tangan kita sendiri, dan ia harus berjalan di atas garis-garis nasional, melalui metode-metode nasional sejauh dapat dipraktikkan.

Tentu saja ini adalah rancangan yang sangat besar, rencana yang sangat besar. Saya tidak tahu apakah ia akan pernah terwujud. Namun kita harus memulai pekerjaan itu. Tetapi bagaimana caranya? Ambillah Madras sebagai contoh. Kita harus memiliki sebuah pura, sebab bagi orang Hindu, agama harus didahulukan. Lalu, Anda mungkin berkata, semua sekte akan bertengkar mengenainya. Tetapi kita akan menjadikannya pura yang non- sektarian, yang hanya memiliki "Om" sebagai lambangnya, lambang terbesar dari sekte mana pun. Apabila ada sekte di sini yang percaya bahwa "Om" seharusnya tidak menjadi lambangnya, sekte itu tidak berhak menyebut dirinya Hindu. Semua orang akan berhak menafsirkan agama Hindu, masing- masing menurut gagasan sektenya sendiri, tetapi kita harus memiliki sebuah pura bersama. Anda boleh memiliki arca-arca dan lambang-lambang Anda sendiri di tempat lain, tetapi janganlah bertengkar di sini dengan mereka yang berbeda dari Anda. Di sini harus diajarkan landasan-landasan bersama dari sekte-sekte kita yang berbeda, dan pada saat yang sama sekte-sekte yang berbeda harus memiliki kebebasan sempurna untuk datang dan mengajarkan doktrin-doktrin mereka, hanya dengan satu pembatasan, yaitu, jangan bertengkar dengan sekte-sekte lain. Katakanlah apa yang hendak Anda katakan, dunia membutuhkannya; tetapi dunia tidak memiliki waktu untuk mendengar apa yang Anda pikirkan tentang orang lain; itu dapat Anda simpan untuk diri Anda sendiri.

Kedua, sehubungan dengan pura ini harus ada sebuah lembaga untuk melatih guru-guru yang akan pergi ke segenap penjuru memberitakan agama dan memberikan pendidikan duniawi kepada rakyat kita; mereka harus membawa keduanya. Sebagaimana kita selama ini sudah membawa agama dari pintu ke pintu, marilah bersama dengan itu kita juga membawa pendidikan duniawi. Hal itu dapat dengan mudah dilakukan. Maka pekerjaan itu akan berkembang melalui kelompok-kelompok guru dan pengkhotbah ini, dan secara bertahap kita akan memiliki pura-pura serupa di tempat-tempat lain, hingga kita meliputi seluruh India. Itulah rencana saya. Mungkin ia tampak raksasa, tetapi ia sangat dibutuhkan. Anda mungkin bertanya, di manakah uangnya. Uang tidak diperlukan. Uang bukanlah apa-apa. Selama dua belas tahun terakhir hidup saya, saya tidak tahu dari mana makan saya berikutnya akan datang; tetapi uang dan segala sesuatu yang saya inginkan pasti akan datang, sebab semua itu adalah budak saya, dan bukan saya budak mereka; uang dan segala sesuatunya pasti akan datang. Pasti — itulah katanya. Di manakah orang-orangnya? Itulah pertanyaannya. Para pemuda Madras, harapan saya ada pada Anda. Akankah Anda menyahuti panggilan bangsa Anda? Setiap orang dari Anda memiliki masa depan yang gemilang apabila Anda berani memercayai saya. Milikilah iman yang luar biasa pada diri Anda sendiri, seperti iman yang saya miliki ketika saya masih anak-anak, dan yang sekarang sedang saya wujudkan. Milikilah iman itu, setiap orang dari Anda, pada diri Anda sendiri — bahwa kekuatan yang kekal bersemayam di dalam setiap jiwa — maka Anda akan menghidupkan kembali seluruh India. Ya, kita kemudian akan pergi ke setiap negeri di bawah matahari, dan gagasan kita tidak lama lagi akan menjadi salah satu unsur dari banyak kekuatan yang sedang bekerja untuk membentuk setiap bangsa di dunia. Kita harus memasuki kehidupan setiap ras di India dan di luar negeri; kita akan harus bekerja untuk mewujudkan hal ini. Untuk itu, saya membutuhkan para pemuda. "Yang muda, yang kuat, dan sehat, yang berakal tajamlah yang akan mencapai Tuhan", demikian sabda Veda. Inilah saat untuk menentukan masa depan Anda — selagi Anda masih memiliki energi masa muda, bukan ketika Anda telah letih dan jenuh, melainkan dalam kesegaran dan keperkasaan masa muda. Bekerjalah — inilah saatnya; sebab hanya bunga-bunga yang paling segar, yang belum tersentuh, dan belum tercium baunya sajalah yang patut diletakkan di kaki Tuhan, dan bunga-bunga semacam itulah yang Ia terima. Maka bangkitkanlah diri Anda, sebab hidup ini singkat. Ada pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar untuk dilakukan ketimbang sekadar bercita-cita menjadi pengacara dan mencari-cari pertengkaran dan hal-hal semacam itu. Jauh lebih besar dari itu adalah pekerjaan berkorban diri demi kebaikan ras Anda, demi kesejahteraan kemanusiaan. Apa pula yang ada dalam hidup ini? Anda adalah orang Hindu, dan ada keyakinan naluriah pada diri Anda bahwa hidup itu kekal. Kadang-kadang ada pemuda yang datang dan berbicara dengan saya tentang ateisme; saya tidak percaya bahwa orang Hindu dapat menjadi seorang ateis. Ia mungkin membaca buku-buku Eropa, dan meyakinkan dirinya bahwa ia seorang materialis, tetapi itu hanya untuk sementara. Hal itu tidak ada dalam darah Anda. Anda tidak dapat memercayai apa yang tidak ada dalam susunan kodrati Anda; akan menjadi tugas yang sia-sia bagi Anda. Janganlah mencoba hal semacam itu. Saya pernah mencobanya ketika saya masih anak-anak, tetapi tidaklah bisa. Hidup ini singkat, tetapi jiwa itu abadi dan kekal, dan satu hal yang pasti, yakni kematian, maka marilah kita memegang sebuah cita-cita yang agung dan menyerahkan seluruh hidup kita kepadanya. Biarlah inilah tekad kita, dan semoga Beliau, Sang Tuhan, yang "datang berulang kali demi keselamatan umat-Nya sendiri", untuk mengutip dari kitab suci kita — semoga Krishna yang agung memberkati kita dan menuntun kita semua menuju terlaksananya cita-cita kita!

English

THE FUTURE OF INDIA

This is the ancient land where wisdom made its home before it went into any other country, the same India whose influx of spirituality is represented, as it were, on the material plane, by rolling rivers like oceans, where the eternal Himalayas, rising tier above tier with their snowcaps, look as it were into the very mysteries of heaven. Here is the same India whose soil has been trodden by the feet of the greatest sages that ever lived. Here first sprang up inquiries into the nature of man and into the internal world. Here first arose the doctrines of the immortality of the soul, the existence of a supervising God, an immanent God in nature and in man, and here the highest ideals of religion and philosophy have attained their culminating points. This is the land from whence, like the tidal waves, spirituality and philosophy have again and again rushed out and deluged the world, and this is the land from whence once more such tides must proceed in order to bring life and vigour into the decaying races of mankind. It is the same India which has withstood the shocks of centuries, of hundreds of foreign invasions of hundreds of upheavals of manners and customs. It is the same land which stands firmer than any rock in the world, with its undying vigour, indestructible life. Its life is of the same nature as the soul, without beginning and without end, immortal; and we are the children of such a country.

Children of India, I am here to speak to you today about some practical things, and my object in reminding you about the glories of the past is simply this. Many times have I been told that looking into the past only degenerates and leads to nothing, and that we should look to the future. That is true. But out of the past is built the future. Look back, therefore, as far as you can, drink deep of the eternal fountains that are behind, and after that, look forward, march forward and make India brighter, greater, much higher than she ever was. Our ancestors were great. We must first recall that. We must learn the elements of our being, the blood that courses in our veins; we must have faith in that blood and what it did in the past; and out of that faith and consciousness of past greatness, we must build an India yet greater than what she has been. There have been periods of decay and degradation. I do not attach much importance to them; we all know that. Such periods have been necessary. A mighty tree produces a beautiful ripe fruit. That fruit falls on the ground, it decays and rots, and out of that decay springs the root and the future tree, perhaps mightier than the first one. This period of decay through which we have passed was all the more necessary. Out of this decay is coming the India of the future; it is sprouting, its first leaves are already out; and a mighty, gigantic tree, the Urdhvamula, is here, already beginning to appear; and it is about that that I am going to speak to you.

The problems in India are more complicated, more momentous, than the problems in any other country. Race, religion, language, government — all these together make a nation The elements which compose the nations of the world are indeed very few, taking race after race, compared to this country. Here have been the Aryan, the Dravidian, the Tartar, the Turk, the Mogul, the European — all the nations of the world, as it were, pouring their blood into this land. Of languages the most wonderful conglomeration is here; of manners and customs there is more difference between two Indian races than between the European and the Eastern races.

The one common ground that we have is our sacred tradition, our religion. That is the only common ground, and upon that we shall have to build. In Europe, political ideas form the national unity. In Asia, religious ideals form the national unity. The unity in religion, therefore, is absolutely necessary as the first condition of the future of India. There must be the recognition of one religion throughout the length and breadth of this land. What do I mean by one religion? Not in the sense of one religion as held among the Christians, or the Mohammedans, of the Buddhists. We know that our religion has certain common grounds, common to all our sects, however varying their conclusions may be, however different their claims may be. So there are certain common grounds; and within their limitation this religion of ours admits of a marvellous variation, an infinite amount of liberty to think and live our own lives. We all know that, at least those of us who have thought; and what we want is to bring out these lifegiving common principles of our religion, and let every man, woman, and child, throughout the length and breadth of this country, understand them, know them, and try to bring them out in their lives. This is the first step; and, therefore, it has to be taken.

We see how in Asia, and especially in India, race difficulties, linguistic difficulties, social difficulties, national difficulties, all melt away before this unifying power of religion. We know that to the Indian mind there is nothing higher than religious ideals, that this is the keynote of Indian life, and we can only work in the line of least resistance. It is not only true that the ideal of religion is the highest ideal; in the case of India it is the only possible means of work; work in any other line, without first strengthening this, would be disastrous. Therefore the first plank in the making of a future India, the first step that is to be hewn out of that rock of ages, is this unification of religion. All of us have to be taught that we Hindus — dualists, qualified monists, or monists, Shaivas, Vaishnavas, or Pâshupatas — to whatever denomination we may belong, have certain common ideas behind us, and that the time has come when for the well-being of ourselves, for the well-being of our race, we must give up all our little quarrels and differences. Be sure, these quarrels are entirely wrong; they are condemned by our scriptures, forbidden by our forefathers; and those great men from whom we claim our descent, whose blood is in our veins, look down with contempt on their children quarrelling about minute differences.

With the giving up of quarrels all other improvements will come. When the life-blood is strong and pure, no disease germ can live in that body. Our life-blood is spirituality. If it flows clear, if it flows strong and pure and vigorous, everything is right; political, social, any other material defects, even the poverty of the land, will all be cured if that blood is pure. For if the disease germ be thrown out, nothing will be able to enter into the blood. To take a simile from modern medicine, we know that there must be two causes to produce a disease, some poison germ outside, and the state of the body. Until the body is in a state to admit the germs, until the body is degraded to a lower vitality so that the germs may enter and thrive and multiply, there is no power in any germ in the world to produce a disease in the body. In fact, millions of germs are continually passing through everyone's body; but so long as it is vigorous, it never is conscious of them. It is only when the body is weak that these germs take possession of it and produce disease. Just so with the national life. It is when the national body is weak that all sorts of disease germs, in the political state of the race or in its social state, in its educational or intellectual state, crowd into the system and produce disease. To remedy it, therefore, we must go to the root of this disease and cleanse the blood of all impurities. The one tendency will be to strengthen the man, to make the blood pure, the body vigorous, so that it will be able to resist and throw off all external poisons.

We have seen that our vigour, our strength, nay, our national life is in our religion. I am not going to discuss now whether it is right or not, whether it is correct or not, whether it is beneficial or not in the long run, to have this vitality in religion, but for good or evil it is there; you cannot get out of it, you have it now and for ever, and you have to stand by it, even if you have not the same faith that I have in our religion. You are bound by it, and if you give it up, you are smashed to pieces. That is the life of our race and that must be strengthened. You have withstood the shocks of centuries simply because you took great care of it, you sacrificed everything else for it. Your forefathers underwent everything boldly, even death itself, but preserved their religion. Temple alter temple was broken down by the foreign conqueror, but no sooner had the wave passed than the spire of the temple rose up again. Some of these old temples of Southern India and those like Somnâth of Gujarat will teach you volumes of wisdom, will give you a keener insight into the history of the race than any amount of books. Mark how these temples bear the marks of a hundred attacks and a hundred regenerations, continually destroyed and continually springing up out of the ruins, rejuvenated and strong as ever! That is the national mind, that is the national life-current. Follow it and it leads to glory. Give it up and you die; death will be the only result, annihilation the only effect, the moment you step beyond that life-current. I do not mean to say that other things are not necessary. I do not mean to say that political or social improvements are not necessary, but what I mean is this, and I want you to bear it in mind, that they are secondary here and that religion is primary. The Indian mind is first religious, then anything else. So this is to be strengthened, and how to do it? I will lay before you my ideas. They have been in my mind for a long time, even years before I left the shores of Madras for America, and that I went to America and England was simply for propagating those ideas. I did not care at all for the Parliament of Religions or anything else; it was simply an opportunity; for it was really those ideas of mine that took me all over the world.

My idea is first of all to bring out the gems of spirituality that are stored up in our books and in the possession of a few only, hidden, as it were, in monasteries and in forests — to bring them out; to bring the knowledge out of them, not only from the hands where it is hidden, but from the still more inaccessible chest, the language in which it is preserved, the incrustation of centuries of Sanskrit words. In one word, I want to make them popular. I want to bring out these ideas and let them be the common property of all, of every man in India, whether he knows the Sanskrit language or not. The great difficulty in the way is the Sanskrit language — the glorious language of ours; and this difficulty cannot be removed until — if it is possible — the whole of our nation are good Sanskrit scholars. You will understand the difficulty when I tell you that I have been studying this language all my life, and yet every new book is new to me. How much more difficult would it then be for people who never had time to study the language thoroughly! Therefore the ideas must be taught in the language of the people; at the same time, Sanskrit education must go on along with it, because the very sound of Sanskrit words gives a prestige and a power and a strength to the race. The attempts of the great Ramanuja and of Chaitanya and of Kabir to raise the lower classes of India show that marvellous results were attained during the lifetime of those great prophets; yet the later failures have to be explained, and cause shown why the effect of their teachings stopped almost within a century of the passing away of these great Masters. The secret is here. They raised the lower classes; they had all the wish that these should come up, but they did not apply their energies to the spreading of the Sanskrit language among the masses. Even the great Buddha made one false step when he stopped the Sanskrit language from being studied by the masses. He wanted rapid and immediate results, and translated and preached in the language of the day, Pâli. That was grand; he spoke in the language of the people, and the people understood him. That was great; it spread the ideas quickly and made them reach far and wide. But along with that, Sanskrit ought to have spread. Knowledge came, but the prestige was not there, culture was not there. It is culture that withstands shocks, not a simple mass of knowledge. You can put a mass of knowledge into the world, but that will not do it much good. There must come culture into the blood. We all know in modern times of nations which have masses of knowledge, but what of them? They are like tigers, they are like savages, because culture is not there. Knowledge is only skin-deep, as civilisation is, and a little scratch brings out the old savage. Such things happen; this is the danger. Teach the masses in the vernaculars, give them ideas; they will get information, but something more is necessary; give them culture. Until you give them that, there can be no permanence in the raised condition of the masses. There will be another caste created, having the advantage of the Sanskrit language, which will quickly get above the rest and rule them all the same. The only safety, I tell you men who belong to the lower castes, the only way to raise your condition is to study Sanskrit, and this fighting and writing and frothing against the higher castes is in vain, it does no good, and it creates fight and quarrel, and this race, unfortunately already divided, is going to be divided more and more. The only way to bring about the levelling of caste is to appropriate the culture, the education which is the strength of the higher castes. That done, you have what you want

In connection with this I want to discuss one question which it has a particular bearing with regard to Madras. There is a theory that there was a race of mankind in Southern India called Dravidians, entirely differing from another race in Northern India called the Aryans, and that the Southern India Brâhmins are the only Aryans that came from the North, the other men of Southern India belong to an entirely different caste and race to those of Southern India Brahmins. Now I beg your pardon, Mr. Philologist, this is entirely unfounded. The only proof of it is that there is a difference of language between the North and the South. I do not see any other difference. We are so many Northern men here, and I ask my European friends to pick out the Northern and Southern men from this assembly. Where is the difference? A little difference of language. But the Brahmins are a race that came here speaking the Sanskrit language! Well then, they took up the Dravidian language and forgot their Sanskrit. Why should not the other castes have done the same? Why should not all the other castes have come one after the other from Northern India, taken up the Dravidian language, and so forgotten their own? That is an argument working both ways. Do not believe in such silly things. There may have been a Dravidian people who vanished from here, and the few who remained lived in forests and other places. It is quite possible that the language may have been taken up, but all these are Aryans who came from the North. The whole of India is Aryan, nothing else.

Then there is the other idea that the Shudra caste are surely the aborigines. What are they? They are slaves. They say history repeats itself. The Americans, English, Dutch, and the Portuguese got hold of the poor Africans and made them work hard while they lived, and their children of mixed birth were born in slavery and kept in that condition for a long period. From that wonderful example, the mind jumps back several thousand years and fancies that the same thing happened here, and our archaeologist dreams of India being full of dark-eyed aborigines, and the bright Aryan came from — the Lord knows where. According to some, they came from Central Tibet, others will have it that they came from Central Asia. There are patriotic Englishmen who think that the Aryans were all red-haired. Others, according to their idea, think that they were all black-haired. If the writer happens to be a black-haired man, the Aryans were all black-haired. Of late, there was an attempt made to prove that the Aryans lived on the Swiss lakes. I should not be sorry if they had been all drowned there, theory and all. Some say now that they lived at the North Pole. Lord bless the Aryans and their habitations! As for the truth of these theories, there is not one word in our scriptures, not one, to prove that the Aryan ever came from anywhere outside of India, and in ancient India was included Afghanistan. There it ends. And the theory that the Shudra caste were all non-Aryans and they were a multitude, is equally illogical and equally irrational. It could not have been possible in those days that a few Aryans settled and lived there with a hundred thousand slaves at their command. These slaves would have eaten them up, made "chutney" of them in five minutes. The only explanation is to be found in the Mahâbhârata, which says that in the beginning of the Satya Yuga there was one caste, the Brahmins, and then by difference of occupations they went on dividing themselves into different castes, and that is the only true and rational explanation that has been given. And in the coming Satya Yuga all the other castes will have to go back to the same condition.

The solution of the caste problem in India, therefore, assumes this form, not to degrade the higher castes, not to crush out the Brahmin. The Brahminhood is the ideal of humanity in India, as wonderfully put forward by Shankaracharya at the beginning of his commentary on the Gitâ, where he speaks about the reason for Krishna's coming as a preacher for the preservation of Brahminhood, of Brahminness. That was the great end. This Brahmin, the man of God, he who has known Brahman, the ideal man, the perfect man, must remain; he must not go. And with all the defects of the caste now, we know that we must all be ready to give to the Brahmins this credit, that from them have come more men with real Brahminness in them than from all the other castes. That is true. That is the credit due to them from all the other castes. We must be bold enough, must be brave enough to speak of their defects, but at the same time we must give the credit that is due to them. Remember the old English proverb, "Give every man his due". Therefore, my friends, it is no use fighting among the castes. What good will it do? It will divide us all the more, weaken us all the more, degrade us all the more. The days of exclusive privileges and exclusive claims are gone, gone for ever from the soil of India, and it is one of the great blessings of the British Rule in India. Even to the Mohammedan Rule we owe that great blessing, the destruction of exclusive privilege. That Rule was, after all, not all bad nothing is all bad, and nothing is all good. The Mohammedan conquest of India came as a salvation to the downtrodden, to the poor. That is why one-fifth of our people have become Mohammedans. It was not the sword that did it all. It would be the height of madness to think it was all the work of sword and fire. And one-fifth — one-half — of your Madras people will become Christians if you do not take care. Was there ever a sillier thing before in the world than what I saw in Malabar country? The poor Pariah is not allowed to pass through the same street as the high-caste man, but if he changes his name to a hodge-podge English name, it is all right; or to a Mohammedan name, it is all right. What inference would you draw except that these Malabaris are all lunatics, their homes so many lunatic asylums, and that they are to be treated with derision by every race in India until they mend their manners and know better. Shame upon them that such wicked and diabolical customs are allowed; their own children are allowed to die of starvation, but as soon as they take up some other religion they are well fed. There ought to be no more fight between the castes.

The solution is not by bringing down the higher, but by raising the lower up to the level of the higher. And that is the line of work that is found in all our books, in spite of what you may hear from some people whose knowledge of their own scriptures and whose capacity to understand the mighty plans of the ancients are only zero. They do not understand, but those do that have brains, that have the intellect to grasp the whole scope of the work. They stand aside and follow the wonderful procession of national life through the ages. They can trace it step by step through all the books, ancient and modern. What is the plan? The ideal at one end is the Brahmin and the ideal at the other end is the Chandâla, and the whole work is to raise the Chandala up to the Brahmin. Slowly and slowly you find more and more privileges granted to them. There are books where you read such fierce words as these: "If the Shudra hears the Vedas, fill his ears with molten lead, and if he remembers a line, cut his tongue out. If he says to the Brahmin, 'You Brahmin', cut his tongue out". This is diabolical old barbarism no doubt; that goes without saying; but do not blame the law-givers, who simply record the customs of some section of the community. Such devils sometimes arose among the ancients. There have been devils everywhere more or less in all ages. Accordingly, you will find that later on, this tone is modified a little, as for instance, "Do not disturb the Shudras, but do not teach them higher things". Then gradually we find in other Smritis, especially in those that have full power now, that if the Shudras imitate the manners and customs of the Brahmins they do well, they ought to be encouraged. Thus it is going on. I have no time to place before you all these workings, nor how they can be traced in detail; but coming to plain facts, we find that all the castes are to rise slowly and slowly. There are thousands of castes, and some are even getting admission into Brahminhood, for what prevents any caste from declaring they are Brahmins? Thus caste, with all its rigour, has been created in that manner. Let us suppose that there are castes here with ten thousand people in each. If these put their heads together and say, we will call ourselves Brahmins, nothing can stop them; I have seen it in my own life. Some castes become strong, and as soon as they all agree, who is to say nay? Because whatever it was, each caste was exclusive of the other. It did not meddle with others' affairs; even the several divisions of one caste did not meddle with the other divisions, and those powerful epoch-makers, Shankaracharya and others, were the great caste-makers. I cannot tell you all the wonderful things they fabricated, and some of you may resent what I have to say. But in my travels and experiences I have traced them out, and have arrived at most wonderful results. They would sometimes get hordes of Baluchis and at once make them Kshatriyas, also get hold of hordes of fishermen and make them Brahmins forthwith. They were all Rishis and sages, and we have to bow down to their memory. So, be you all Rishis and sages; that is the secret. More or less we shall all be Rishis. What is meant by a Rishi? The pure one. Be pure first, and you will have power. Simply saying, "I am a Rishi", will not do; but when you are a Rishi you will find that others obey you instinctively. Something mysterious emanates from you, which makes them follow you, makes them hear you, makes them unconsciously, even against their will, carry out your plans. That is Rishihood.

Now as to the details, they of course have to be worked out through generations. But this is merely a suggestion in order to show you that these quarrels should cease. Especially do I regret that in Moslem times there should be so much dissension between the castes. This must stop. It is useless on both sides, especially on the side of the higher caste, the Brahmin, because the day for these privileges and exclusive claims is gone. The duty of every aristocracy is to dig its own grave, and the sooner it does so, the better. The more it delays, the more it will fester and the worse death it will die. It is the duty of the Brahmin, therefore, to work for the salvation of the rest of mankind in India. If he does that, and so long as he does that, he is a Brahmin, but he is no Brahmin when he goes about making money. You on the other hand should give help only to the real Brahmin who deserves it; that leads to heaven. But sometimes a gift to another person who does not deserve it leads to the other place, says our scripture. You must be on your guard about that. He only is the Brahmin who has no secular employment. Secular employment is not for the Brahmin but for the other castes. To the Brahmins I appeal, that they must work hard to raise the Indian people by teaching them what they know, by giving out the culture that they have accumulated for centuries. It is clearly the duty of the Brahmins of India to remember what real Brahminhood is. As Manu says, all these privileges and honours are given to the Brahmin, because "with him is the treasury of virtue". He must open that treasury and distribute its valuables to the world. It is true that he was the earliest preacher to the Indian races, he was the first to renounce everything in order to attain to the higher realisation of life before others could reach to the idea. It was not his fault that he marched ahead of the other caste. Why did not the other castes so understand and do as he did? Why did they sit down and be lazy, and let the Brahmins win the race?

But it is one thing to gain an advantage, and another thing to preserve it for evil use. Whenever power is used for evil, it becomes diabolical; it must be used for good only. So this accumulated culture of ages of which the Brahmin has been the trustee, he must now give to the people at large, and it was because he did not give it to the people that the Mohammedan invasion was possible. It was because he did not open this treasury to the people from the beginning, that for a thousand years we have been trodden under the heels of every one who chose to come to India. It was through that we have become degraded, and the first task must be to break open the cells that hide the wonderful treasures which our common ancestors accumulated; bring them out and give them to everybody and the Brahmin must be the first to do it. There is an old superstition in Bengal that if the cobra that bites, sucks out his own poison from the patient, the man must survive. Well then, the Brahmin must suck out his own poison. To the non-Brahmin castes I say, wait, be not in a hurry. Do not seize every opportunity of fighting the Brahmin, because, as I have shown, you are suffering from your own fault. Who told you to neglect spirituality and Sanskrit learning? What have you been doing all this time? Why have you been indifferent? Why do you now fret and fume because somebody else had more brains, more energy, more pluck and go, than you? Instead of wasting your energies in vain discussions and quarrels in the newspapers, instead of fighting and quarrelling in your own homes — which is sinful — use all your energies in acquiring the culture which the Brahmin has, and the thing is done. Why do you not become Sanskrit scholars? Why do you not spend millions to bring Sanskrit education to all the castes of India? That is the question. The moment you do these things, you are equal to the Brahmin. That is the secret of power in India.

Sanskrit and prestige go together in India. As soon as you have that, none dares say anything against you. That is the one secret; take that up. The whole universe, to use the ancient Advaitist's simile, is in a state of self-hypnotism. It is will that is the power. It is the man of strong will that throws, as it were, a halo round him and brings all other people to the same state of vibration as he has in his own mind. Such gigantic men do appear. And what is the idea? When a powerful individual appears, his personality infuses his thoughts into us, and many of us come to have the same thoughts, and thus we become powerful. Why is it that organizations are so powerful? Do not say organization is material. Why is it, to take a case in point, that forty millions of Englishmen rule three hundred millions of people here? What is the psychological explanation? These forty millions put their wills together and that means infinite power, and you three hundred millions have a will each separate from the other. Therefore to make a great future India, the whole secret lies in organization, accumulation of power, co-ordination of wills.

Already before my mind rises one of the marvellous verses of the Rig-Veda Samhitâ which says, "Be thou all of one mind, be thou all of one thought, for in the days of yore, the gods being of one mind were enabled to receive oblations." That the gods can be worshipped by men is because they are of one mind. Being of one mind is the secret of society. And the more you go on fighting and quarrelling about all trivialities such as "Dravidian" and "Aryan", and the question of Brahmins and non-Brahmins and all that, the further you are off from that accumulation of energy and power which is going to make the future India. For mark you, the future India depends entirely upon that. That is the secret — accumulation of will-power, co-ordination, bringing them all, as it here, into one focus. Each Chinaman thinks in his own way, and a handful of Japanese all think in the same way, and you know the result. That is how it goes throughout the history of the world. You find in every case, compact little nations always governing and ruling huge unwieldy nations, and this is natural, because it is easier for the little compact nations to bring their ideas into the same focus, and thus they become developed. And the bigger the nation, the more unwieldy it is. Born, as it were, a disorganised mob, they cannot combine. All these dissensions must stop.

There is yet another defect in us. Ladies, excuse me, but through centuries of slavery, we have become like a nation of women. You scarcely can get three women together for five minutes in this country or any other country, but they quarrel. Women make big societies in European countries, and make tremendous declarations of women's power and so on; then they quarrel, and some man comes and rules them all. All over the world they still require some man to rule them. We are like them. Women we are. If a woman comes to lead women, they all begin immediately to criticise her, tear her to pieces, and make her sit down. If a man comes and gives them a little harsh treatment, scolds them now and then, it is all right, they have been used to that sort of mesmerism. The whole world is full of such mesmerists and hypnotists. In the same way, if one of our countrymen stands up and tries to become great, we all try to hold him down, but if a foreigner comes and tries to kick us, it is all right. We have been used to it, have we not? And slaves must become great masters! So give up being a slave. For the next fifty years this alone shall be our keynote — this, our great Mother India. Let all other vain gods disappear for the time from our minds. This is the only god that is awake, our own race — "everywhere his hands, everywhere his feet, everywhere his ears, he covers everything." All other gods are sleeping. What vain gods shall we go after and yet cannot worship the god that we see all round us, the Virât? When we have worshipped this, we shall be able to worship all other gods. Before we can crawl half a mile, we want to cross the ocean like Hanumân! It cannot be. Everyone going to be a Yogi, everyone going to meditate! It cannot be. The whole day mixing with the world with Karma Kânda, and in the evening sitting down and blowing through your nose! Is it so easy? Should Rishis come flying through the air, because you have blown three times through the nose? Is it a joke? It is all nonsense. What is needed is Chittashuddhi, purification of the heart. And how does that come? The first of all worship is the worship of the Virat — of those all around us. Worship It. Worship is the exact equivalent of the Sanskrit word, and no other English word will do. These are all our gods — men and animals; and the first gods we have to worship are our countrymen. These we have to worship, instead of being jealous of each other and fighting each other. It is the most terrible Karma for which we are suffering, and yet it does not open our eyes!

Well, the subject is so great that I do not know where to stop, and I must bring my lecture to a close by placing before you in a few words the plans I want to carry out in Madras. We must have a hold on the spiritual and secular education of the nation. Do you understand that? You must dream it, you must talk it, you must think its and you must work it out. Till then there is no salvation for the race. The education that you are getting now has some good points, but it has a tremendous disadvantage which is so great that the good things are all weighed down. In the first place it is not a man-making education, it is merely and entirely a negative education. A negative education or any training that is based on negation, is worse than death. The child is taken to school, and the first thing he learns is that his father is a fool, the second thing that his grandfather is a lunatic, the third thing that all his teachers are hypocrites, the fourth that all the sacred books are lies! By the time he is sixteen he is a mass of negation, lifeless and boneless. And the result is that fifty years of such education has not produced one original man in the three Presidencies. Every man of originality that has been produced has been educated elsewhere, and not in this country, or they have gone to the old universities once more to cleanse themselves of superstitions. Education is not the amount of information that is put into your brain and runs riot there, undigested, all your life. We must have life-building, man-making, character-making assimilation of ideas. If you have assimilated five ideas and made them your life and character, you have more education than any man who has got by heart a whole library यथा खरश्चन्दनभारवाही भारस्य वेत्ता न तु चन्दनस्य। — "The ass carrying its load of sandalwood knows only the weight and not the value of the sandalwood." If education is identical with information, the libraries are the greatest sages in the world, and encyclopaedias are the Rishis. The ideal, therefore, is that we must have the whole education of our country, spiritual and secular, in our own hands, and it must be on national lines, through national methods as far as practical.

Of course this is a very big scheme, a very big plan. I do not know whether it will ever work out. But we must begin the work. But how? Take Madras, for instance. We must have a temple, for with Hindus religion must come first. Then, you may say, all sects will quarrel about it. But we will make it a non-sectarian temple, having only "Om" as the symbol, the greatest symbol of any sect. If there is any sect here which believes that "Om" ought not to be the symbol, it has no right to call itself Hindu. All will have the right to interpret Hinduism, each one according to his own sect ideas, but we must have a common temple. You can have your own images and symbols in other places, but do not quarrel here with those who differ from you. Here should be taught the common grounds of our different sects, and at the same time the different sects should have perfect liberty to come and teach their doctrines, with only one restriction, that is, not to quarrel with other sects. Say what you have to say, the world wants it; but the world has no time to hear what you think about other people; you can keep that to yourselves.

Secondly, in connection with this temple there should be an institution to train teachers who must go about preaching religion and giving secular education to our people; they must carry both. As we have been already carrying religion from door to door, let us along with it carry secular education also. That can be easily done. Then the work will extend through these bands of teachers and preachers, and gradually we shall have similar temples in other places, until we have covered the whole of India. That is my plan. It may appear gigantic, but it is much needed. You may ask, where is the money. Money is not needed. Money is nothing. For the last twelve years of my life, I did not know where the next meal would come from; but money and everything else I want must come, because they are my slaves, and not I theirs; money and everything else must come. Must — that is the word. Where are the men? That is the question. Young men of Madras, my hope is in you. Will you respond to the call of your nation? Each one of you has a glorious future if you dare believe me. Have a tremendous faith in yourselves, like the faith I had when I was a child, and which I am working out now. Have that faith, each one of you, in yourself — that eternal power is lodged in every soul — and you will revive the whole of India. Ay, we will then go to every country under the sun, and our ideas will before long be a component of the many forces that are working to make up every nation in the world. We must enter into the life of every race in India and abroad; shall have to work to bring this about. Now for that, I want young men. "It is the young, the strong, and healthy, of sharp intellect that will reach the Lord", say the Vedas. This is the time to decide your future — while you possess the energy of youth, not when you are worn out and jaded, but in the freshness and vigour of youth. Work — this is the time; for the freshest, the untouched, and unsmelled flowers alone are to be laid at the feet of the Lord, and such He receives. Rouse yourselves, therefore, or life is short. There are greater works to be done than aspiring to become lawyers and picking quarrels and such things. A far greater work is this sacrifice of yourselves for the benefit of your race, for the welfare of humanity. What is in this life? You are Hindus, and there is the instinctive belief in you that life is eternal. Sometimes I have young men come and talk to me about atheism; I do not believe a Hindu can become an atheist. He may read European books, and persuade himself he is a materialist, but it is only for a time. It is not in your blood. You cannot believe what is not in your constitution; it would be a hopeless task for you. Do not attempt that sort of thing. I once attempted it when I was a boy, but it could not be. Life is short, but the soul is immortal and eternal, and one thing being certain, death, let us therefore take up a great ideal and give up our whole life to it. Let this be our determination, and may He, the Lord, who "comes again and again for the salvation of His own people", to quote from our scriptures — may the great Krishna bless us and lead us all to the fulfilment of our aims!


Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.