Arsip Vivekananda

Reinkarnasi

Jilid3 essay
514 kata · 2 menit baca · Reports in American Newspapers

Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.

AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.

Bahasa Indonesia

REINKARNASI

(Evanston Index, 7 Oktober 1893)

Di Congregational Church, selama pekan yang baru lalu, telah diselenggarakan serangkaian ceramah yang sifatnya sangat menyerupai Parlemen Agama yang baru saja usai. Para penceramahnya adalah Dr. Carl van Bergen dari Swedia, dan Suami Vivekananda, sang biksu Hindu. ... Suami Vivekananda adalah wakil dari India untuk Parlemen Agama. Beliau telah menarik banyak perhatian karena busananya yang khas dalam warna-warna Mandarin, karena kehadirannya yang berkharisma, serta karena kepiawaian orasinya yang cemerlang dan paparannya yang menakjubkan mengenai filsafat Hindu. Persinggahannya di Chicago telah menjadi sambutan meriah yang terus-menerus. Rangkaian ceramah ini disusun untuk berlangsung selama tiga malam.

[Ceramah pada malam Sabtu dan Selasa disebutkan tanpa komentar; kemudian artikel berlanjut:]

Pada malam Kamis, 5 Oktober, Dr. von Bergen berbicara tentang "Huldine Beamish, Pendiri King's Daughters of Sweden", dan "Reinkarnasi" adalah topik yang dibahas oleh sang biksu Hindu. Yang disebut belakangan sangat menarik; pandangan-pandangan yang disampaikan adalah pandangan yang tidak sering didengar di bagian dunia ini. Doktrin reinkarnasi jiwa, sekalipun relatif baru dan kurang dipahami di negeri ini, sudah dikenal luas di Timur, dan menjadi landasan dari hampir seluruh agama bangsa-bangsa di sana. Mereka yang tidak menjadikannya sebagai dogma pun tidak mengatakan apa-apa untuk menentangnya. Pokok utama yang harus diputuskan berkenaan dengan doktrin ini adalah apakah kita memiliki masa lampau. Kita tahu bahwa kita memiliki masa kini dan merasa yakin akan adanya masa depan. Namun, bagaimana mungkin ada masa kini tanpa masa lampau? Sains modern telah membuktikan bahwa materi itu ada dan terus berlanjut ada. Penciptaan hanyalah perubahan dalam penampakan. Kita tidak muncul dari ketiadaan. Sebagian orang menganggap Tuhan sebagai sebab umum dari segala sesuatu dan menilai itu sebagai alasan yang cukup bagi keberadaan. Akan tetapi, dalam segala hal kita harus memperhatikan fenomenanya; dari mana dan dari bahan apa sesuatu itu muncul. Argumen yang sama yang membuktikan bahwa ada masa depan juga membuktikan bahwa ada masa lampau. Diperlukan adanya sebab-sebab lain selain kehendak Tuhan. Hereditas tidak mampu memberikan sebab yang memadai. Sebagian orang berkata bahwa kita tidak menyadari adanya keberadaan terdahulu. Telah ditemukan banyak kasus di mana terdapat kenangan yang jelas akan masa lampau. Dan di sinilah letak benih dari teori tersebut. Karena orang Hindu berbaik hati kepada hewan-hewan yang tidak berbicara, banyak yang mengira bahwa kami percaya pada reinkarnasi jiwa ke dalam wujud yang lebih rendah. Mereka tidak mampu membayangkan bahwa kebaikan kepada hewan-hewan yang tak berbicara dapat bersumber dari hal lain selain takhayul. Seorang pendeta Hindu kuno mendefinisikan agama sebagai apa pun yang mengangkat seseorang ke atas. Kebrutalan disingkirkan, kemanusiaan memberi tempat kepada keilahian. Teori reinkarnasi tidak membatasi manusia pada bumi kecil ini. Jiwanya dapat pergi ke bumi-bumi lain yang lebih tinggi di mana ia akan menjadi makhluk yang lebih luhur, memiliki, alih-alih lima indra, delapan indra, dan dengan berlanjut seperti ini ia pada akhirnya akan mendekati puncak kesempurnaan, keilahian, dan akan diizinkan untuk meneguk dalam-dalam dari kelupaan di "Pulau-Pulau Para Bahagia".

English

REINCARNATION

(Evanston Index, October 7, 1893)

At the Congregational Church, during the past week, there have been given a course of lectures which in nature much resembled the Religious Parliament which has just been completed. The lecturers were Dr. Carl van Bergen of Sweden, and Suami Vivekananda, the Hindu monk. ... Suami Vivekananda is a representative from India to the Parliament of Religions. He has attracted a great deal of attention on account of his unique attire in Mandarin colors, by his magnetic presence and by his brilliant oratory and wonderful exposition of Hindu philosophy. His stay in Chicago has been a continual ovation. The course of lectures was arranged to cover three evenings.

[The lectures of Saturday and Tuesday evenings are listed without Comment; then the article continues:]

On Thursday evening Oct. 5, Dr. von Bergen spoke on "Huldine Beamish, the Founder of the King's Daughters of Sweden," and "Reincarnation" was the subject treated by the Hindu monk. The latter was very interesting; the views being those that are not often heard in this part of the world. The doctrine of reincarnation of the soul, while comparatively new and little understood in this country, is well-known in the east, being the foundation of nearly all the religions of those people. Those that do not use it as dogma, do not say anything against it. The main point to be decided in regard to the doctrine is, as to whether we have had a past. We know that we have a present and feel sure of a future. Yet how can there be a present without a past? Modern science has proved that matter exists and continues to exist. Creation is merely a change in appearance. We are not sprung out of nothing. Some regard God as the common cause of everything and judge this a sufficient reason for existence. But in everything we must consider the phenomena; whence and from what matter springs. The same arguments that prove there is a future prove that there is a past. It is necessary that there should be causes other than God's will. Heredity is not able to give sufficient cause. Some say that we are not conscious of a former existence. Many cases have been found where there are distinct reminiscences of a past. And here lies the germ of the theory. Because the Hindu is kind to dumb animals many believe that we believe in the reincarnation of souls in lower orders. They are not able to conceive of kindness to dumb animals being other than the result of superstition. An ancient Hindu priest defines religion as anything that lifts one up. Brutality is driven out, humanity gives way to divinity. The theory of incarnation does not confine man to this small earth. His soul can go to other, higher earths where he will be a loftier being, possessing, instead of five senses, eight, and continuing in this way he will at length approach the acme of perfection, divinity, and will be allowed to drink deep of oblivion in the "Islands of the Blest".


Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.