Satu Wujud Tampak sebagai Banyak
Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.
AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.
Bahasa Indonesia
SATU EKSISTENSI YANG TAMPAK SEBAGAI BANYAK
(Disampaikan di New York, 1896)
Wairagya atau penolakan adalah titik balik dalam segenap jenis Yoga. Sang Karmi (pekerja) menanggalkan buah dari pekerjaannya. Sang Bhakta (penyembah) menanggalkan segala kecintaan kecil demi cinta yang maha kuasa dan maha hadir. Sang Yogi menanggalkan pengalaman-pengalamannya, sebab filsafatnya menyatakan bahwa seluruh Alam, meskipun ditujukan bagi pengalaman jiwa, pada akhirnya membawa dirinya untuk mengetahui bahwa ia tidak berada di dalam Alam, melainkan terpisah secara kekal dari Alam. Sang Jnani (filsuf) menanggalkan segala sesuatu, sebab filsafatnya menyatakan bahwa Alam tidak pernah ada, baik di masa lampau, masa kini, maupun di masa yang akan datang. Pertanyaan tentang kegunaan tidak dapat diajukan dalam tema-tema yang lebih tinggi ini. Sangat absurd untuk menanyakannya; dan sekalipun ditanyakan, setelah analisis yang patut, apa yang kita temukan dalam pertanyaan kegunaan ini? Cita-cita kebahagiaan, yakni hal yang membawa manusia kepada kebahagiaan yang lebih besar, memiliki kegunaan yang lebih besar baginya daripada hal-hal lebih tinggi yang tidak memperbaiki kondisi materialnya ataupun mendatangkan kebahagiaan sebesar itu. Segala ilmu pengetahuan ada untuk satu tujuan ini, yakni membawa kebahagiaan bagi umat manusia; dan hal yang membawa kebahagiaan lebih besar itulah yang diambil manusia, sedangkan hal yang membawa kebahagiaan lebih kecil ditinggalkannya. Kita telah melihat bagaimana kebahagiaan itu berada entah di dalam tubuh, atau di dalam pikiran, atau di dalam Atman (Diri sejati). Pada binatang, dan pada manusia-manusia paling rendah yang sangat menyerupai binatang, kebahagiaan seluruhnya berada di dalam tubuh. Tidak ada manusia yang dapat makan dengan kenikmatan yang sama seperti seekor anjing kelaparan atau seekor serigala; jadi pada anjing dan serigala kebahagiaan sepenuhnya berada di dalam tubuh. Pada manusia kita menemukan tataran kebahagiaan yang lebih tinggi, yakni tataran pikiran; dan pada Jnani terdapat tataran kebahagiaan tertinggi di dalam Diri, yakni Atman. Maka bagi sang filsuf, pengetahuan tentang Diri ini memiliki kegunaan tertinggi, sebab memberikan kepadanya kebahagiaan tertinggi yang mungkin dicapai. Pemuasan indra atau hal-hal jasmani tidak dapat memiliki kegunaan tertinggi baginya, sebab ia tidak menemukan di dalamnya kenikmatan yang sama seperti yang ia temukan dalam pengetahuan itu sendiri; dan lagi pula, pengetahuan adalah satu-satunya tujuan dan sesungguhnya merupakan kebahagiaan tertinggi yang kita ketahui. Semua orang yang bekerja dalam kebodohan adalah, seolah-olah, hewan beban dari para Dewa. Kata Dewa di sini digunakan dalam pengertian seorang bijaksana. Semua orang yang bekerja, berjerih payah, dan bersusah payah seperti mesin sesungguhnya tidak menikmati hidup, melainkan orang yang bijaksanalah yang menikmatinya. Seorang kaya mungkin membeli sebuah lukisan dengan harga seratus ribu dolar, tetapi orang yang memahami senilah yang menikmatinya; dan jika orang kaya itu tidak memiliki pengetahuan tentang seni, maka lukisan itu tidak berguna baginya, ia hanyalah pemiliknya. Di seluruh dunia, orang bijaksanalah yang menikmati kebahagiaan dunia. Orang yang bodoh tidak pernah menikmatinya; ia harus bekerja bagi orang lain tanpa disadarinya.
Hingga sejauh ini kita telah melihat teori-teori para filsuf Adwaita ini, bagaimana hanya ada satu Atman; tidak mungkin ada dua. Kita telah melihat bagaimana di seluruh jagat raya ini hanya ada Satu Eksistensi; dan Satu Eksistensi itu, jika dilihat melalui indra-indra, disebut dunia, dunia materi. Jika dilihat melalui pikiran, ia disebut dunia pemikiran dan gagasan; dan jika dilihat sebagaimana adanya, maka ia adalah Satu Wujud yang Tak Terhingga. Anda harus mengingat hal ini; bukan bahwa ada jiwa di dalam manusia, meskipun saya harus menerimanya sebagai prasangka semula untuk menjelaskannya pada awalnya, melainkan bahwa hanya ada Satu Eksistensi, yakni Atman, Diri; dan jika ini ditangkap melalui indra, melalui pencitraan indrawi, maka ia disebut tubuh. Jika ditangkap melalui pemikiran, ia disebut pikiran. Jika ditangkap dalam hakikatnya sendiri, ia adalah Atman, Satu-satunya Eksistensi. Jadi bukan ada tiga hal di dalam satu, yakni tubuh, pikiran, dan Diri, walaupun cara demikian merupakan cara yang nyaman untuk menyampaikannya dalam proses penjelasan; melainkan segala sesuatu adalah Atman itu, dan Satu Wujud itu kadang disebut tubuh, kadang pikiran, dan kadang Diri, menurut penglihatan yang berbeda-beda. Hanya ada satu Wujud yang oleh yang bodoh disebut dunia. Ketika seseorang naik lebih tinggi dalam pengetahuan, ia menyebut Wujud yang sama persis itu sebagai dunia pemikiran. Kemudian, ketika pengetahuan itu sendiri tiba, segala ilusi sirna, dan manusia menemukan bahwa segalanya tidak lain hanyalah Atman. Saya adalah Satu Eksistensi itu. Inilah kesimpulan terakhir. Tidak ada tiga maupun dua di jagat raya; semuanya adalah Satu. Yang Satu itu, di bawah ilusi Maya (ilusi kosmik), tampak sebagai banyak, sebagaimana seutas tali tampak sebagai seekor ular. Tali itulah yang tampak sebagai ular. Tidak ada dua hal di sana, yakni tali tersendiri dan ular tersendiri. Tidak ada orang yang melihat kedua hal itu di sana pada saat yang sama. Dualisme dan non-dualisme adalah istilah filsafat yang sangat baik, tetapi dalam persepsi yang sempurna kita tidak pernah menangkap yang nyata dan yang palsu pada saat yang sama. Kita semua terlahir sebagai monis, kita tidak dapat menghindarinya. Kita selalu menangkap yang satu. Ketika kita menangkap tali, kita sama sekali tidak menangkap ular; dan ketika kita melihat ular, kita sama sekali tidak melihat tali — ia telah lenyap. Ketika Anda melihat ilusi, Anda tidak melihat kenyataan. Misalkan Anda melihat salah seorang sahabat Anda datang dari kejauhan di jalan; Anda mengenalnya dengan baik, tetapi karena kabut dan halimun yang ada di hadapan Anda, Anda mengira itu adalah orang lain. Ketika Anda melihat sahabat Anda sebagai orang lain, Anda sama sekali tidak melihat sahabat Anda, ia telah lenyap. Anda hanya menangkap yang satu. Misalkan sahabat Anda adalah Tuan A; tetapi ketika Anda menangkap Tuan A sebagai Tuan B, Anda sama sekali tidak melihat Tuan A. Dalam setiap kasus Anda hanya menangkap yang satu. Ketika Anda melihat diri Anda sebagai tubuh, Anda adalah tubuh dan tidak lain dari itu; dan itulah persepsi sebagian besar umat manusia. Mereka mungkin berbicara tentang jiwa, pikiran, dan segala hal lain semacamnya, tetapi yang mereka tangkap adalah bentuk jasmani, sentuhan, rasa, penglihatan, dan seterusnya. Lagi pula, pada orang-orang tertentu dalam keadaan kesadaran tertentu, mereka menangkap diri mereka sebagai pemikiran. Anda tentu saja mengetahui kisah yang diceritakan tentang Sir Humphrey Davy, yang sedang melakukan eksperimen di hadapan kelasnya dengan gas tertawa, dan tiba-tiba salah satu tabungnya pecah, gas itu lepas, dan ia menghirupnya. Untuk beberapa saat ia tetap diam seperti patung. Setelah itu ia mengatakan kepada kelasnya bahwa ketika ia berada dalam keadaan itu, ia benar-benar menangkap bahwa seluruh dunia tersusun dari gagasan. Gas itu, untuk sementara waktu, membuatnya melupakan kesadaran akan tubuh, dan hal yang sebelumnya ia lihat sebagai tubuh itu, mulai ia tangkap sebagai gagasan. Ketika kesadaran naik lebih tinggi lagi, ketika kesadaran kecil yang remeh ini lenyap untuk selamanya, maka yang menjadi Realitas di baliknya itu bersinar, dan kita melihatnya sebagai Satu Eksistensi-Pengetahuan-Kebahagiaan, Atman yang satu, Yang Universal. "Yang Satu yang merupakan Pengetahuan itu sendiri, Yang Satu yang merupakan Kebahagiaan itu sendiri, melampaui segala perbandingan, melampaui segala batas, abadi merdeka, tidak pernah terikat, tak terhingga seperti langit, tak berubah seperti langit. Yang Satu semacam itu akan memanifestasikan diri-Nya di dalam hati Anda dalam meditasi."
Bagaimana teori Adwaita menjelaskan berbagai fase surga dan neraka serta berbagai gagasan yang kita temukan dalam segala agama ini? Ketika seseorang mati, dikatakan bahwa ia pergi ke surga atau ke neraka, ke sana atau ke sini, atau bahwa ketika seseorang mati ia terlahir kembali dalam tubuh lain entah di surga atau di dunia lain atau di suatu tempat. Semua ini adalah halusinasi. Pada hakikatnya tidak seorang pun pernah dilahirkan atau mati. Tidak ada surga maupun neraka maupun dunia ini; ketiganya tidak pernah benar-benar ada. Ceritakanlah kepada seorang anak banyak cerita hantu, lalu biarkan ia keluar ke jalan pada malam hari. Di sana ada sepotong kecil tunggul pohon. Apa yang dilihat anak itu? Sesosok hantu, dengan tangan terulur, siap menyambarnya. Misalkan seorang laki-laki datang dari ujung jalan, ingin menjumpai kekasihnya; ia melihat tunggul pohon itu sebagai gadisnya. Seorang polisi yang datang dari ujung jalan melihat tunggul itu sebagai seorang pencuri. Sang pencuri melihatnya sebagai seorang polisi. Tunggul pohon yang sama itulah yang dilihat dalam berbagai cara. Tunggul itu adalah realitasnya, dan penampakan-penampakan tunggul itu adalah proyeksi dari berbagai pikiran. Hanya ada satu Wujud, yaitu Diri ini; ia tidak datang maupun pergi. Ketika seseorang bodoh, ia ingin pergi ke surga atau ke suatu tempat, dan sepanjang hidupnya ia terus-menerus memikirkan dan memikirkan hal ini; dan ketika mimpi bumi ini lenyap, ia melihat dunia ini sebagai surga dengan para Dewa dan malaikat yang beterbangan ke sana ke mari, serta segala hal semacam itu. Jika sepanjang hidupnya seseorang mendambakan untuk berjumpa dengan para leluhurnya, ia akan mendapatkan mereka semua mulai dari Adam ke bawah, sebab ia sendiri yang menciptakan mereka. Jika seseorang masih lebih bodoh lagi dan selalu ditakut-takuti oleh para fanatik dengan gagasan tentang neraka, dengan segala macam hukuman, maka ketika ia mati, ia akan melihat dunia yang sama persis ini sebagai neraka. Yang dimaksud dengan mati atau dilahirkan hanyalah sekadar perubahan dalam tataran penglihatan. Anda tidak bergerak, demikian pula tidak bergerak apa yang menjadi sasaran proyeksi penglihatan Anda. Anda adalah yang permanen, yang tidak berubah. Bagaimana mungkin Anda datang dan pergi? Itu mustahil; Anda maha hadir. Langit tidak pernah bergerak, tetapi awan bergerak di permukaan langit, dan kita mungkin mengira bahwa langit itu sendirilah yang bergerak, sebagaimana ketika Anda berada di dalam kereta api, Anda mengira bahwa tanahlah yang bergerak. Bukan demikian, melainkan keretalah yang bergerak. Anda berada di tempat Anda berada; mimpi-mimpi ini, berbagai awan ini, yang bergerak. Satu mimpi mengikuti mimpi yang lain tanpa keterkaitan. Tidak ada hal semacam hukum atau keterkaitan di dunia ini, namun kita mengira bahwa ada banyak sekali keterkaitan. Anda semua barangkali telah membaca Alice in Wonderland. Itu adalah buku paling menakjubkan untuk anak-anak yang ditulis pada abad ini. Ketika saya membacanya, saya merasa senang; selalu ada di benak saya keinginan untuk menulis buku semacam itu untuk anak-anak. Yang paling menyenangkan bagi saya dalam buku itu adalah hal yang paling Anda anggap tidak selaras, yakni bahwa di sana tidak ada keterkaitan. Satu gagasan datang dan melompat ke gagasan lain, tanpa keterkaitan apa pun. Ketika Anda masih anak-anak, Anda menganggap itu sebagai keterkaitan yang paling menakjubkan. Maka orang ini membawa kembali pemikiran-pemikiran masa kanak-kanaknya, yang ketika ia masih kanak-kanak terhubung secara sempurna baginya, dan ia mengarang buku ini untuk anak-anak. Dan semua buku yang ditulis oleh para lelaki, yang berusaha membuat anak-anak menelan gagasan-gagasan mereka sebagai orang dewasa, adalah omong kosong. Kita pun adalah anak-anak yang telah dewasa, itu saja. Dunia ini adalah hal yang tidak berkaitan yang sama — Alice in Wonderland — tanpa keterkaitan apa pun. Ketika kita melihat sesuatu terjadi berkali-kali dalam urutan tertentu, kita menyebutnya sebab dan akibat, dan mengatakan bahwa hal itu akan terjadi lagi. Ketika mimpi ini berubah, mimpi lain akan tampak sama berkaitannya seperti mimpi ini. Ketika kita bermimpi, hal-hal yang kita lihat semuanya tampak saling berkaitan; selama bermimpi kita tidak pernah menganggapnya tidak selaras; baru ketika kita terjaga kita melihat ketiadaan keterkaitan itu. Ketika kita terjaga dari mimpi dunia ini dan membandingkannya dengan Realitas, akan ternyata semuanya merupakan omong kosong yang tidak selaras, segumpal ketidakselarasan yang lewat di hadapan kita, kita tidak mengetahui dari mana atau hendak ke mana, tetapi kita mengetahui bahwa ia akan berakhir; dan inilah yang disebut Maya, dan ia seperti gumpalan-gumpalan awan tipis yang berlalu. Mereka mewakili segenap eksistensi yang berubah ini, dan matahari itu sendiri, yang tak berubah, adalah Anda. Ketika Anda memandang Eksistensi yang tak berubah itu dari luar, Anda menyebutnya Tuhan; dan ketika Anda memandangnya dari dalam, Anda menyebutnya diri Anda sendiri. Itu hanyalah satu. Tidak ada Tuhan yang terpisah dari Anda, tidak ada Tuhan yang lebih tinggi daripada Anda, "Anda" yang sejati. Semua dewa adalah wujud-wujud kecil bagi Anda, semua gagasan tentang Tuhan dan Bapa di surga hanyalah pantulan dari diri Anda sendiri. Tuhan itu sendiri adalah citra Anda. "Tuhan menciptakan manusia menurut gambar-Nya sendiri." Itu keliru. Manusialah yang menciptakan Tuhan menurut gambarnya sendiri. Itulah yang benar. Di seluruh jagat raya kita menciptakan dewa-dewa menurut gambar kita sendiri. Kita menciptakan dewa lalu bersujud di kakinya dan menyembahnya; dan ketika mimpi ini datang, kita mencintainya!
Inilah pokok yang baik untuk dipahami — bahwa intisari dan keseluruhan ceramah ini ialah bahwa hanya ada Satu Eksistensi, dan Satu Eksistensi itu yang dilihat melalui susunan yang berbeda-beda tampak entah sebagai bumi, atau surga, atau neraka, atau dewa-dewa, atau hantu-hantu, atau manusia, atau iblis, atau dunia, atau segala hal ini. Tetapi di antara yang banyak ini, "Dia yang melihat Yang Satu di samudra kematian ini, dia yang melihat Satu Kehidupan di jagat yang melayang ini, yang menyadari Yang Satu yang tidak pernah berubah, bagi dialah kedamaian abadi; tidak bagi yang lain, tidak bagi yang lain." Satu eksistensi ini harus disadari. Bagaimana caranya, itu pertanyaan berikutnya. Bagaimana ia disadari? Bagaimana mimpi ini dipecahkan, bagaimana kita akan terbangun dari mimpi bahwa kita adalah laki-laki dan perempuan kecil, dan segala hal semacam itu? Kita adalah Wujud Tak Terhingga dari jagat raya dan telah menjelma menjadi wujud-wujud kecil ini, laki-laki dan perempuan, yang bergantung pada kata-kata manis dari seorang, atau kata-kata marah dari yang lain, dan seterusnya. Sungguh ketergantungan yang mengerikan, sungguh perbudakan yang mengerikan! Saya yang berada di luar segala kenikmatan dan kepedihan, yang pantulannya adalah seluruh jagat raya, yang serpihan-serpihan kecil dari hidupnya adalah matahari-matahari, bulan-bulan, dan bintang-bintang — saya ditundukkan sebagai seorang budak yang mengerikan! Jika Anda mencubit tubuh saya, saya merasa sakit. Jika seseorang mengucapkan kata yang baik, saya mulai bersukacita. Lihatlah keadaan saya — budak tubuh, budak pikiran, budak dunia, budak kata yang baik, budak kata yang buruk, budak hawa nafsu, budak kebahagiaan, budak kehidupan, budak kematian, budak segala sesuatu! Perbudakan ini harus dipatahkan. Bagaimana? "Atman ini harus terlebih dahulu didengar, kemudian dipertimbangkan dengan akal, lalu dimeditasikan." Inilah metode Adwaita Jnani. Kebenaran harus didengar, kemudian direnungkan, lalu ditegaskan terus-menerus. Pikirkanlah selalu, "Saya adalah Brahman (Realitas Mutlak)". Setiap pikiran lain harus disingkirkan sebagai pelemah. Singkirkanlah setiap pikiran yang mengatakan bahwa Anda adalah laki-laki atau perempuan. Biarkan tubuh pergi, dan pikiran pergi, dan dewa-dewa pergi, dan hantu-hantu pergi. Biarkan segala sesuatu pergi kecuali Satu Eksistensi itu. "Di mana seseorang mendengar yang lain, di mana seseorang melihat yang lain, itu kecil; di mana seseorang tidak mendengar yang lain, di mana seseorang tidak melihat yang lain, itulah Yang Tak Terhingga." Itulah yang tertinggi, ketika subjek dan objek menjadi satu. Ketika saya adalah pendengar dan saya adalah pembicara, ketika saya adalah guru dan saya adalah yang diajar, ketika saya adalah pencipta dan saya adalah yang diciptakan — barulah pada saat itu ketakutan berhenti; tidak ada yang lain untuk membuat kita takut. Tidak ada apa pun selain saya sendiri, apa yang dapat menakutkan saya? Ini harus didengar hari demi hari. Singkirkanlah segala pikiran lain. Segala hal lain harus dibuang, dan ini harus diulang terus-menerus, dituangkan melalui telinga sampai mencapai hati, sampai setiap saraf dan otot, setiap tetes darah bergetar dengan gagasan bahwa saya adalah Dia, saya adalah Dia. Bahkan di gerbang kematian katakanlah, "Saya adalah Dia". Pernah ada seorang lelaki di India, seorang Sannyasin (petapa pengembara), yang biasa mengulang "Shivoham" — "Saya adalah Kebahagiaan Abadi"; dan suatu hari seekor harimau menerkamnya dan menyeretnya pergi serta membunuhnya; tetapi selama ia masih hidup, terdengar suara, "Shivoham, Shivoham". Bahkan di gerbang kematian, dalam bahaya yang paling besar, di tengah-tengah medan pertempuran, di dasar samudra, di puncak gunung-gunung tertinggi, di hutan yang paling lebat, katakanlah kepada diri Anda sendiri, "Saya adalah Dia, saya adalah Dia". Siang dan malam katakanlah, "Saya adalah Dia". Itulah kekuatan terbesar; itulah agama. "Yang lemah tidak akan pernah mencapai Atman." Jangan pernah berkata, "Ya Tuhan, saya seorang pendosa yang sengsara." Siapa yang akan menolong Anda? Andalah penolong jagat raya. Apa di jagat raya ini yang dapat menolong Anda? Di manakah manusia, atau dewa, atau iblis yang menolong Anda? Apa yang dapat menundukkan Anda? Andalah Tuhan dari jagat raya; di mana Anda akan mencari pertolongan? Pertolongan tidak pernah datang dari mana pun selain dari diri Anda sendiri. Dalam kebodohan Anda, setiap doa yang Anda panjatkan dan dikabulkan, Anda mengira dikabulkan oleh suatu Wujud lain, padahal Andalah yang menjawab doa itu sendiri tanpa Anda sadari. Pertolongan itu datang dari diri Anda sendiri, dan dengan kekanak-kanakan Anda membayangkan bahwa seseorang sedang mengirim pertolongan kepada Anda. Tidak ada pertolongan bagi Anda di luar diri Anda sendiri; Andalah pencipta jagat raya. Seperti ulat sutera, Anda telah membangun kepompong di sekeliling diri Anda sendiri. Siapa yang akan menyelamatkan Anda? Pecahkanlah kepompong Anda sendiri dan keluarlah sebagai kupu-kupu yang indah, sebagai jiwa yang merdeka. Barulah pada saat itu Anda akan melihat Kebenaran. Katakanlah selalu kepada diri Anda sendiri, "Saya adalah Dia." Inilah kata-kata yang akan membakar habis sampah yang ada di dalam pikiran, kata-kata yang akan memunculkan energi luar biasa yang sudah ada di dalam diri Anda, kekuatan tak terhingga yang sedang tertidur di dalam hati Anda. Ini harus dimunculkan dengan terus-menerus mendengar kebenaran dan tidak ada yang lain. Di mana pun ada pikiran tentang kelemahan, jangan dekati tempat itu. Hindarilah segala kelemahan jika Anda ingin menjadi seorang Jnani.
Sebelum Anda mulai berlatih, bersihkanlah pikiran Anda dari segala keraguan. Bergulatlah dan pertimbangkanlah dengan akal serta berdebatlah; dan ketika Anda telah meneguhkan di dalam pikiran Anda bahwa hanya ini dan ini sajalah yang dapat menjadi kebenaran dan tidak ada yang lain, jangan berdebat lagi; tutuplah mulut Anda. Janganlah mendengarkan perdebatan, jangan pula berdebat sendiri. Apa gunanya argumen lebih lanjut? Anda telah memuaskan diri Anda, Anda telah memutuskan persoalannya. Apa yang tersisa? Kebenaran sekarang harus disadari, oleh karena itu mengapa membuang waktu yang berharga dalam perdebatan yang sia-sia? Kebenaran sekarang harus dimeditasikan, dan setiap gagasan yang menguatkan Anda harus diambil dan setiap pikiran yang melemahkan Anda harus ditolak. Sang Bhakta bermeditasi atas bentuk-bentuk dan citra-citra serta segala hal semacam itu dan atas Tuhan. Inilah proses yang alami, tetapi lebih lambat. Sang Yogi bermeditasi atas berbagai pusat dalam tubuhnya dan mengelola kekuatan-kekuatan dalam pikirannya. Sang Jnani berkata, pikiran tidak ada, tubuh pun tidak ada. Gagasan tentang tubuh dan pikiran ini harus pergi, harus diusir; oleh karena itu, sungguh bodoh memikirkannya. Itu akan seperti mencoba menyembuhkan suatu penyakit dengan mendatangkan penyakit lain. Oleh karena itu, meditasinya adalah yang paling sulit, yang negatif; ia menyangkal segala sesuatu, dan yang tersisa adalah Diri. Inilah cara yang paling analitis. Sang Jnani ingin merobek jagat raya dari Diri dengan kekuatan analisis semata. Sangat mudah untuk berkata, "Saya adalah seorang Jnani", tetapi sangat sulit untuk benar-benar menjadi seorang Jnani. "Jalannya panjang", ia seakan-akan berjalan di atas ujung tajam sebilah pisau cukur; meskipun demikian, janganlah berputus asa. "Bangunlah, bangkitlah, dan jangan berhenti sampai tujuan tercapai", demikian sabda Weda.
Lalu apakah meditasi sang Jnani? Ia ingin naik mengatasi setiap gagasan tentang tubuh atau pikiran, mengusir gagasan bahwa ia adalah tubuh. Misalnya, ketika saya berkata, "Saya Swami", segera muncul gagasan tentang tubuh. Apa yang harus saya lakukan kemudian? Saya harus memberi pikiran itu sebuah pukulan yang keras dan berkata, "Tidak, saya bukan tubuh, saya adalah Diri." Siapa peduli jika penyakit datang atau kematian dalam bentuk yang paling mengerikan? Saya bukan tubuh. Untuk apa membuat tubuh menjadi bagus? Untuk menikmati ilusi sekali lagi? Untuk melanjutkan perbudakan? Biarkanlah ia pergi, saya bukan tubuh. Itulah cara sang Jnani. Sang Bhakta berkata, "Tuhan telah memberi saya tubuh ini supaya saya dapat dengan selamat menyeberangi samudra kehidupan, dan saya harus memelihara tubuh ini sampai perjalanan terselesaikan." Sang Yogi berkata, "Saya harus berhati-hati terhadap tubuh, supaya saya dapat terus mantap dan akhirnya mencapai pembebasan." Sang Jnani merasa bahwa ia tidak dapat menunggu, ia harus mencapai tujuan pada saat ini juga. Ia berkata, "Saya merdeka melalui keabadian, saya tidak pernah terikat; saya adalah Tuhan dari jagat raya melalui segenap keabadian. Siapa yang akan menyempurnakan saya? Saya sudah sempurna." Ketika seseorang sempurna, ia melihat kesempurnaan pada orang lain. Ketika ia melihat ketidaksempurnaan, itu adalah pikirannya sendiri yang sedang memproyeksikan dirinya. Bagaimana ia dapat melihat ketidaksempurnaan jika ia sendiri tidak memilikinya di dalam dirinya? Maka sang Jnani tidak peduli pada kesempurnaan atau ketidaksempurnaan. Tidak satu pun di antaranya ada baginya. Begitu ia merdeka, ia tidak melihat yang baik dan yang jahat. Siapa yang melihat yang jahat dan yang baik? Dia yang memilikinya di dalam dirinya. Siapa yang melihat tubuh? Dia yang menganggap dirinya tubuh. Begitu Anda melepaskan gagasan bahwa Anda adalah tubuh, Anda sama sekali tidak melihat dunia; ia lenyap untuk selamanya. Sang Jnani berupaya merobek dirinya dari belenggu materi ini dengan kekuatan keyakinan intelektual. Inilah jalan yang negatif — "Neti, Neti" — "Bukan ini, bukan ini."
English
ONE EXISTENCE APPEARING AS MANY
(Delivered in New York, 1896)
Vairâgya or renunciation is the turning point in all the various Yogas. The Karmi (worker) renounces the fruits of his work. The Bhakta (devotee) renounces all little loves for the almighty and omnipresent love. The Yogi renounces his experiences, because his philosophy is that the whole Nature, although it is for the experience of the soul, at last brings him to know that he is not in Nature, but eternally separate from Nature. The Jnâni (philosopher) renounces everything, because his philosophy is that Nature never existed, neither in the past, nor present, nor will It in the future. The question of utility cannot be asked in these higher themes. It is very absurd to ask it; and even if it be asked, after a proper analysis, what do we find in this question of utility? The ideal of happiness, that which brings man more happiness, is of greater utility to him than these higher things which do not improve his material conditions or bring him such great happiness. All the sciences are for this one end, to bring happiness to humanity; and that which brings the larger amount of happiness, man takes and gives up that which brings a lesser amount of happiness. We have seen how happiness is either in the body, or in the mind, or in the Âtman. With animals, and in the lowest human beings who are very much like animals, happiness is all in the body. No man can eat with the same pleasure as a famished dog or a wolf; so in the dog and the wolf the happiness is entirely in the body. In men we find a higher plane of happiness, that of thought; and in the Jnani there is the highest plane of happiness in the Self, the Atman. So to the philosopher this knowledge of the Self is of the highest utility, because it gives him the highest happiness possible. Sense-gratifications or physical things cannot be of the highest utility to him, because he does not find in them the same pleasure that he finds in knowledge itself; and after all, knowledge is the one goal and is really the highest happiness that we know. All who work in ignorance are, as it were, the draught animals of the Devas. The word Deva is here used in the sense of a wise man. All the people that work and toil and labour like machines do not really enjoy life, but it is the wise man who enjoys. A rich man buys a picture at a cost of a hundred thousand dollars perhaps, but it is the man who understands art that enjoys it; and if the rich man is without knowledge of art, it is useless to him, he is only the owner. All over the world, it is the wise man who enjoys the happiness of the world. The ignorant man never enjoys; he has to work for others unconsciously.
Thus far we have seen the theories of these Advaitist philosophers, how there is but one Atman; there cannot be two. We have seen how in the whole of this universe there is but One Existence; and that One Existence when seen through the senses is called the world, the world of matter. When It is seen through the mind, It is called the world of thoughts and ideas; and when It is seen as it is, then It is the One Infinite Being. You must bear this in mind; it is not that there is a soul in man, although I had to take that for granted in order to explain it at first, but that there is only One Existence, and that one the Atman, the Self; and when this is perceived through the senses, through sense-imageries, It is called the body. When It is perceived through thought, It is called the mind. When It is perceived in Its own nature, It is the Atman, the One Only Existence. So it is not that there are three things in one, the body and the mind and the Self, although that was a convenient way of putting it in the course of explanation; but all is that Atman, and that one Being is sometimes called the body, sometimes the mind, and sometimes the Self, according to different vision. There is but one Being which the ignorant call the world. When a man goes higher in knowledge, he calls the very same Being the world of thought. Again, when knowledge itself comes, all illusions vanish, and man finds it is all nothing but Atman. I am that One Existence. This is the last conclusion. There are neither three nor two in the universe; it is all One. That One, under the illusion of Maya, is seen as many, just as a rope is seen as a snake. It is the very rope that is seen as a snake. There are not two things there, a rope separate and a snake separate. No man sees these two things there at the same time. Dualism and non-dualism are very good philosophic terms, but in perfect perception we never perceive the real and the false at the same time. We are all born monists, we cannot help it. We always perceive the one. When we perceive the rope, we do not perceive the snake at all; and when we see the snake, we do not see the rope at all — it has vanished. When you see illusion, you do not see reality. Suppose you see one of your friends coming at a distance in the street; you know him very well, but through the haze and mist that is before you, you think it is another man. When you see your friend as another man, you do not see your friend at all, he has vanished. You are perceiving only one. Suppose your friend is Mr. A; but when you perceive Mr. A as Mr. B. you do not see Mr. A at all. In each case you perceive only one. When you see yourself as a body, you are body and nothing else; and that is the perception of the vast majority of mankind. They may talk of soul and mind, and all these things, but what they perceive is the physical form, the touch, taste, vision, and so on. Again, with certain men in certain states of consciousness, they perceive themselves as thought. You know, of course, the story told of Sir Humphrey Davy, who has making experiments before his class with laughing-gas, and suddenly one of the tubes broke, and the gas escaping, he breathed it in. For some moments he remained like a statue. Afterwards he told his class that when he was in that state, he actually perceived that the whole world is made up of ideas. The gas, for a time, made him forget the consciousness of the body, and that very thing which he was seeing as the body, he began to perceive as ideas. When the consciousness rises still higher, when this little puny consciousness is gone for ever, that which is the Reality behind shines, and we see it as the One Existence-Knowledge-Bliss, the one Atman, the Universal. "One that is only Knowledge itself, One that is Bliss itself, beyond all compare, beyond all limit, ever free, never bound, infinite as the sky, unchangeable as the sky. Such a One will manifest Himself in your heart in meditation."
How does the Advaitist theory explain these various phases of heaven and hells and these various ideas we find in all religions? When a man dies, it is said that he goes to heaven or hell, goes here or there, or that when a man dies he is born again in another body either in heaven or in another world or somewhere. These are all hallucinations. Really speaking nobody is ever born or dies. There is neither heaven nor hell nor this world; all three never really existed. Tell a child a lot of ghost stories, add let him go out into the street in the evening. There is a little stump of a tree. What does the child see? A ghost, with hands stretched out, ready to grab him. Suppose a man comes from the corner of the street, wanting to meet his sweetheart; he sees that stump of the tree as the girl. A policeman coming from the street corner sees the stump as a thief. The thief sees it as a policeman. It is the same stump of a tree that was seen in various ways. The stump is the reality, and the visions of the stump are the projections of the various minds. There is one Being, this Self; It neither comes nor goes. When a man is ignorant, he wants to go to heaven or some place, and all his life he has been thinking and thinking of this; and when this earth dream vanishes, he sees this world as a heaven with Devas and angels flying about, and all such things. If a man all his life desires to meet his forefathers, he gets them all from Adam downwards, because he creates them. If a man is still more ignorant and has always been frightened by fanatics with ideas of hell, with all sorts of punishments, when he dies, he will see this very world as hell. All that is meant by dying or being born is simply changes in the plane of vision. Neither do you move, nor does that move upon which you project your vision. You are the permanent, the unchangeable. How can you come and go? It is impossible; you are omnipresent. The sky never moves, but the clouds move over the surface of the sky, and we may think that the sky itself moves, just as when you are in a railway train, you think the land is moving. It is not so, but it is the train which is moving. You are where you are; these dreams, these various clouds move. One dream follows another without connection. There is no such thing as law or connection in this world, but we are thinking that there is a great deal of connection. All of you have probably read Alice in Wonderland. It is the most wonderful book for children that has been written in this century When I read it, I was delighted; it was always in my head to write that sort of a book for children. What pleased me most in it was what you think most incongruous, that there is no connection there. One idea comes and jumps into another, without any connection. When you were children, you thought that the most wonderful connection. So this man brought back his thoughts of childhood, which were perfectly connected to him as a child, and composed this book for children. And all these books which men write, trying to make children swallow their own ideas as men, are nonsense. We too are grown-up children, that is all. The world is the same unconnected thing — Alice in Wonderland — with no connection whatever. When we see things happen a number of times in a certain sequence, we call it cause and effect, and say that the thing will happen again. When this dream changes, another dream will seem quite as connected as this. When we dream, the things we see all seem to be connected; during the dream we never think they are incongruous; it is only when we wake that we see the want of connection. When we wake from this dream of the world and compare it with the Reality, it will be found all incongruous nonsense, a mass of incongruity passing before us, we do not know whence or whither, but we know it will end; and this is called Maya, and is like masses of fleeting fleecy clouds. They represent all this changing existence, and the sun itself, the unchanging, is you. When you look at that unchanging Existence from the outside, you call it God; and when you look at it from the inside, you call it yourself. It is but one. There is no God separate from you, no God higher than you, the real "you". All the gods are little beings to you, all the ideas of God and Father in heaven are but your own reflection. God Himself is your image. "God created man after His own image." That is wrong. Man creates God after his own image. That is right. Throughout the universe we are creating gods after our own image. We create the god and fall down at his feet and worship him; and when this dream comes, we love it!
This is a good point to understand — that the sum and substance of this lecture is that there is but One Existence, and that One-Existence seen through different constitutions appears either as the earth, or heaven, or hell, or gods, or ghosts, or men, or demons, or world, or all these things. But among these many, "He who sees that One in this ocean of death, he who sees that One Life in this floating universe, who realises that One who never changes, unto him belongs eternal peace; unto none else, unto none else." This One existence has to be realised. How, is the next question. How is it to be realised? How is this dream to be broken, how shall we wake up from this dream that we are little men and women, and all such things? We are the Infinite Being of the universe and have become materialised into these little beings, men and women, depending upon the sweet word of one man, or the angry word of another, and so forth. What a terrible dependence, what a terrible slavery! I who am beyond all pleasure and pain, whose reflection is the whole universe, little bits of whose life are the suns and moons and stars — I am held down as a terrible slave! If you pinch my body, I feel pain. If one says a kind word, I begin to rejoice. See my condition — slave of the body, slave of the mind, slave of the world, slave of a good word, slave of a bad word, slave of passion, slave of happiness, slave of life, slave of death, slave of everything! This slavery has to be broken. How? "This Atman has first to be heard, then reasoned upon, and then meditated upon." This is the method of the Advaita Jnâni. The truth has to be heard, then reflected upon, and then to be constantly asserted. Think always, "I am Brahman". Every other thought must be cast aside as weakening. Cast aside every thought that says that you are men or women. Let body go, and mind go, and gods go, and ghosts go. Let everything go but that One Existence. "Where one hears another, where one sees another, that is small; where one does not hear another, where one does not see another, that is Infinite." That is the highest when the subject and the object become one. When I am the listener and I am the speaker, when I am the teacher and I am the taught, when I am the creator and I am the created — then alone fear ceases; there is not another to make us afraid. There is nothing but myself, what can frighten me? This is to be heard day after day. Get rid of all other thoughts. Everything else must be thrown aside, and this is to be repeated continually, poured through the ears until it reaches the heart, until every nerve and muscle, every drop of blood tingles with the idea that I am He, I am He. Even at the gate of death say, "I am He". There was a man in India, a Sannyâsin, who used to repeat "Shivoham" — "I am Bliss Eternal"; and a tiger jumped on him one day and dragged him away and killed him; but so long as he was living, the sound came, "Shivoham, Shivoham". Even at the gate of death, in the greatest danger, in the thick of the battlefield, at the bottom of the ocean, on the tops of the highest mountains, in the thickest of the forest, tell yourself, "I am He, I am He". Day and night say, "I am He". It is the greatest strength; it is religion. "The weak will never reach the Atman." Never say, "O Lord, I am a miserable sinner." Who will help you? You are the help of the universe. What in this universe can help you? Where is the man, or the god, or the demon to help you? What can prevail over you? You are the God of the universe; where can you seek for help? Never help came from anywhere but from yourself. In your ignorance, every prayer that you made and that was answered, you thought was answered by some Being, but you answered the prayer yourself unknowingly. The help came from yourself, and you fondly imagined that some one was sending help to you. There is no help for you outside of yourself; you are the creator of the universe. Like the silkworm you have built a cocoon around yourself. Who will save you? Burst your own cocoon and come out as the beautiful butterfly, as the free soul. Then alone you will see Truth. Ever tell yourself, "I am He." These are words that will burn up the dross that is in the mind, words that will bring out the tremendous energy which is within you already, the infinite power which is sleeping in your heart. This is to be brought out by constantly hearing the truth and nothing else. Wherever there is thought of weakness, approach not the place. Avoid all weakness if you want to be a Jnani.
Before you begin to practice, clear your mind of all doubts. Fight and reason and argue; and when you have established it in your mind that this and this alone can be the truth and nothing else, do not argue any more; close your mouth. Hear not argumentation, neither argue yourself. What is the use of any more arguments? You have satisfied yourself, you have decided the question. What remains? The truth has now to be realised, therefore why waste valuable time in vain arguments? The truth has now to be meditated upon, and every idea that strengthens you must be taken up and every thought that weakens you must be rejected. The Bhakta meditates upon forms and images and all such things and upon God. This is the natural process, but a slower one. The Yogi meditates upon various centres in his body and manipulates powers in his mind. The Jnani says, the mind does not exist, neither the body. This idea of the body and of the mind must go, must be driven off; therefore it is foolish to think of them. It would be like trying to cure one ailment by bringing in another. His meditation therefore is the most difficult one, the negative; he denies everything, and what is left is the Self. This is the most analytical way. The Jnani wants to tear away the universe from the Self by the sheer force of analysis. It is very easy to say, "I am a Jnani", but very hard to be really one. "The way is long", it is, as it were, walking on the sharp edge of a razor; yet despair not. "Awake, arise, and stop not until the goal is reached", say the Vedas.
So what is the meditation of the Jnani? He wants to rise above every idea of body or mind, to drive away the idea that he is the body. For instance, when I say, "I Swami", immediately the idea of the body comes. What must I do then? I must give the mind a hard blow and say, "No, I am not the body, I am the Self." Who cares if disease comes or death in the most horrible form? I am not the body. Why make the body nice? To enjoy the illusion once more? To continue the slavery? Let it go, I am not the body. That is the way of the Jnani. The Bhakta says, "The Lord has given me this body that I may safely cross the ocean of life, and I must cherish it until the journey is accomplished." The Yogi says, "I must be careful of the body, so that I may go on steadily and finally attain liberation." The Jnani feels that he cannot wait, he must reach the goal this very moment. He says, "I am free through eternity, I am never bound; I am the God of the universe through all eternity. Who shall make me perfect? I am perfect already." When a man is perfect, he sees perfection in others. When he sees imperfection, it is his own mind projecting itself. How can he see imperfection if he has not got it in himself? So the Jnani does not care for perfection or imperfection. None exists for him. As soon as he is free, he does not see good and evil. Who sees evil and good? He who has it in himself. Who sees the body? He who thinks he is the body. The moment you get rid of the idea that you are the body, you do not see the world at all; it vanishes for ever. The Jnani seeks to tear himself away from this bondage of matter by the force of intellectual conviction. This is the negative way — the "Neti, Neti" — "Not this, not this."
Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.