Karya dan Rahasianya
Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.
AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.
Bahasa Indonesia
( Disampaikan di Los Angeles, California, 4 Januari 1900 )
Salah satu pelajaran terbesar yang pernah saya peroleh dalam hidup ini adalah memberikan perhatian yang sama besarnya terhadap sarana untuk bekerja sebagaimana terhadap tujuannya. Beliau adalah seorang manusia agung dari siapa saya mempelajari hal ini, dan hidupnya sendiri merupakan demonstrasi praktis dari prinsip yang agung ini. Saya senantiasa memetik pelajaran-pelajaran besar dari satu prinsip itu, dan tampak bagi saya bahwa seluruh rahasia keberhasilan terletak di sana; yakni memberikan perhatian yang sama besarnya pada sarana sebagaimana pada tujuan.
Cacat besar kita dalam hidup adalah bahwa kita demikian terpikat oleh cita-cita itu, tujuan tampak begitu lebih memesona, begitu lebih menggoda, begitu lebih besar dalam cakrawala mental kita, sehingga kita kehilangan pandangan terhadap perinciannya sama sekali.
Namun, kapan pun kegagalan datang, jika kita menganalisisnya secara kritis, dalam sembilan puluh sembilan persen kasus akan kita temukan bahwa hal itu disebabkan karena kita tidak memberikan perhatian pada sarana. Perhatian yang semestinya terhadap penyempurnaan dan penguatan sarana itulah yang kita perlukan. Bila sarananya tepat, tujuan pasti akan tercapai. Kita lupa bahwa sebablah yang menghasilkan akibat; akibat tidak dapat muncul dengan sendirinya; dan kecuali sebab-sebabnya tepat, semestinya, dan ampuh, akibat tidak akan dihasilkan. Setelah cita-cita itu dipilih dan sarananya ditetapkan, kita boleh hampir-hampir melepaskan cita-cita itu, karena kita yakin bahwa ia akan ada di sana ketika sarana telah disempurnakan. Bila sebabnya sudah ada, tidak ada lagi kesulitan tentang akibatnya, akibat pasti akan datang. Jika kita merawat sebabnya, akibat akan merawat dirinya sendiri. Perwujudan cita-cita adalah akibat. Sarana adalah sebabnya: oleh karena itu, perhatian terhadap sarana adalah rahasia besar kehidupan. Kita juga membaca hal ini dalam Gita dan belajar bahwa kita harus bekerja, terus-menerus bekerja dengan segenap kekuatan kita; mencurahkan seluruh pikiran kita pada pekerjaan itu, apa pun bentuknya, yang sedang kita kerjakan. Pada saat yang sama, kita tidak boleh terikat. Artinya, kita tidak boleh ditarik menjauh dari pekerjaan itu oleh apa pun yang lain; namun, kita harus mampu meninggalkan pekerjaan itu kapan pun kita menghendakinya.
Jika kita memeriksa hidup kita sendiri, akan kita temukan bahwa penyebab terbesar kesedihan adalah ini: kita memilih sesuatu, dan mencurahkan segenap energi kita padanya — barangkali itu adalah suatu kegagalan dan toh kita tidak dapat melepaskannya. Kita tahu bahwa hal itu sedang melukai kita, bahwa terus berpegang lebih lanjut padanya hanyalah mendatangkan derita atas kita; namun, kita tidak dapat melepaskan diri darinya. Lebah datang untuk menghirup madu, tetapi kakinya melekat pada periuk madu dan ia tidak dapat melarikan diri. Berulang-ulang, kita mendapati diri kita dalam keadaan itu. Itulah seluruh rahasia keberadaan. Mengapa kita ada di sini? Kita datang ke sini untuk menghirup madu, dan kita mendapati tangan dan kaki kita melekat padanya. Kita tertangkap, padahal kita datang untuk menangkap. Kita datang untuk menikmati; kita malah dinikmati. Kita datang untuk memerintah; kita malah diperintah. Kita datang untuk bekerja; kita malah dikerjakan. Sepanjang waktu, kita mendapati hal itu. Dan ini meresap ke dalam setiap perincian hidup kita. Kita dikerjakan oleh pikiran-pikiran lain, dan kita selalu berjuang untuk mengerjakan pikiran-pikiran lain. Kita ingin menikmati kesenangan-kesenangan hidup; dan kesenangan-kesenangan itu memakan inti kehidupan kita. Kita ingin memperoleh segala sesuatu dari alam, tetapi pada akhirnya kita mendapati bahwa alamlah yang mengambil segalanya dari kita — menguras kita, dan menyingkirkan kita ke samping.
Seandainya bukan karena hal ini, hidup pasti seluruhnya sinar mentari belaka. Tidak masalah! Dengan segala kegagalan dan keberhasilannya, dengan segala kegembiraan dan kesedihannya, hidup dapat menjadi rentetan sinar mentari yang tak terputus, asalkan kita tidak tertangkap.
Itulah satu sebab derita: kita terikat, kita sedang tertangkap. Oleh karena itu Gita berkata: Bekerjalah terus-menerus; bekerja, tetapi jangan terikat; jangan tertangkap. Sediakan bagi diri Anda kekuatan untuk melepaskan diri dari segala sesuatu, betapa pun terkasih, betapa pun jiwa mendambakannya, betapa pun besar pedihnya derita yang Anda rasakan jika Anda akan meninggalkannya; namun tetap sediakan kekuatan untuk meninggalkannya kapan pun Anda menghendakinya. Yang lemah tidak punya tempat di sini, baik dalam hidup ini maupun dalam hidup lain mana pun. Kelemahan menjurus pada perbudakan. Kelemahan menjurus pada segala bentuk derita, jasmani maupun mental. Kelemahan adalah kematian. Ada ratusan ribu mikroba mengelilingi kita, tetapi mereka tidak dapat membahayakan kita kecuali kita menjadi lemah, hingga tubuh siap dan rentan untuk menerimanya. Mungkin ada sejuta mikroba derita, melayang di sekitar kita. Tidak masalah! Mereka tidak berani mendekati kita, mereka tidak punya daya untuk mencengkeram kita, sampai pikiran melemah. Inilah fakta agung itu: kekuatan adalah hidup, kelemahan adalah kematian. Kekuatan adalah kebahagiaan, hidup abadi, kekal; kelemahan adalah ketegangan dan derita yang terus-menerus: kelemahan adalah kematian.
Keterikatan adalah sumber dari segala kesenangan kita kini. Kita terikat pada sahabat-sahabat kita, pada sanak saudara kita; kita terikat pada karya intelektual dan spiritual kita; kita terikat pada objek-objek luar, sehingga kita memperoleh kesenangan darinya. Apa pula yang mendatangkan derita selain keterikatan itu sendiri? Kita harus melepaskan diri untuk memperoleh sukacita. Andai saja kita memiliki kuasa untuk melepaskan diri sesuka hati, tidak akan ada derita apa pun. Hanya orang itulah yang akan mampu memperoleh yang terbaik dari alam, yang, dengan memiliki kuasa untuk mengikatkan dirinya pada sesuatu dengan segenap energinya, juga memiliki kuasa untuk melepaskan dirinya bila ia harus melakukannya. Kesulitannya adalah harus ada kuasa keterikatan yang sebesar kuasa pelepasan. Ada orang-orang yang tidak pernah tertarik pada apa pun. Mereka tidak pernah mampu mencintai, mereka berhati keras dan apatis; mereka lolos dari sebagian besar derita kehidupan. Tetapi tembok tidak pernah merasakan derita, tembok tidak pernah mencintai, tidak pernah terluka; tetapi bagaimanapun, ia tetaplah tembok. Tentu saja lebih baik terikat dan tertangkap, daripada menjadi tembok. Oleh karena itu, orang yang tidak pernah mencintai, yang keras dan membatu, sambil lolos dari sebagian besar derita kehidupan, juga lolos dari sukacitanya. Bukan itu yang kita inginkan. Itu adalah kelemahan, itu adalah kematian. Jiwa yang tidak pernah merasakan kelemahan, tidak pernah merasakan derita, belumlah terbangunkan. Itu adalah keadaan yang tumpul. Bukan itu yang kita inginkan.
Pada saat yang sama, kita tidak hanya menginginkan kuasa cinta yang dahsyat ini, kuasa keterikatan yang dahsyat ini, kuasa untuk melemparkan seluruh jiwa kita kepada satu objek tunggal, kehilangan diri kita dan membiarkan diri kita seolah-olah dimusnahkan, demi jiwa-jiwa lain — yang merupakan kuasa para dewa — tetapi kita ingin lebih tinggi bahkan dari para dewa. Manusia sempurna mampu menempatkan seluruh jiwanya pada titik cinta yang satu itu, namun ia tidak terikat. Bagaimana hal ini dapat terjadi? Ada rahasia lain yang harus dipelajari.
Pengemis tidak pernah berbahagia. Pengemis hanya menerima sedekah dengan rasa iba dan cemooh di baliknya, setidaknya dengan pemikiran di baliknya bahwa pengemis adalah objek yang rendah. Ia tidak pernah benar-benar menikmati apa yang ia peroleh.
Kita semua adalah pengemis. Apa pun yang kita kerjakan, kita menginginkan imbalan. Kita semua adalah pedagang. Kita adalah pedagang dalam kehidupan, kita adalah pedagang dalam kebajikan, kita adalah pedagang dalam agama. Dan sayang sekali! kita juga adalah pedagang dalam cinta.
Jika Anda datang untuk berdagang, jika ini soal beri-dan-ambil, jika ini soal beli-dan-jual, taatilah hukum-hukum jual-beli. Ada masa buruk dan ada masa baik; ada kenaikan dan ada penurunan harga: selalu Anda harus mengharapkan pukulan akan datang. Ini seperti memandang ke cermin. Wajah Anda terpantul: Anda membuat seringai — ada seringai di dalam cermin; jika Anda tertawa, cermin pun tertawa. Inilah jual-beli, memberi dan menerima.
Kita tertangkap. Bagaimana? Bukan oleh apa yang kita berikan, melainkan oleh apa yang kita harapkan. Kita memperoleh derita sebagai imbalan atas cinta kita; bukan karena kenyataan bahwa kita mencintai, melainkan karena kenyataan bahwa kita menginginkan cinta sebagai balasan. Tidak ada derita di mana tidak ada keinginan. Hasrat, keinginan, adalah bapak dari segala derita. Hasrat-hasrat terikat oleh hukum keberhasilan dan kegagalan. Hasrat pasti mendatangkan derita.
Maka, rahasia besar keberhasilan sejati, kebahagiaan sejati, adalah ini: orang yang tidak meminta imbalan, orang yang sepenuhnya tanpa pamrih, adalah orang yang paling berhasil. Ini tampak sebagai paradoks. Bukankah kita tahu bahwa setiap orang yang tanpa pamrih dalam hidup justru ditipu, justru dilukai? Secara lahiriah, ya. "Kristus tanpa pamrih, namun ia disalibkan." Benar, tetapi kita tahu bahwa sikap tanpa pamrihnya itulah alasan, sebab dari suatu kemenangan agung — pemahkotaan jutaan demi jutaan kehidupan dengan berkat keberhasilan sejati.
Jangan minta apa pun; jangan menginginkan apa pun sebagai balasan. Berikan apa yang Anda miliki untuk diberikan; ia akan kembali kepada Anda — tetapi jangan memikirkan hal itu sekarang, ia akan kembali berlipat ganda seribu kali — tetapi perhatian tidak boleh tertuju pada itu. Namun milikilah kuasa untuk memberi: berikan, dan sampai di situ saja. Belajarlah bahwa seluruh kehidupan adalah memberi, bahwa alam akan memaksa Anda untuk memberi. Maka, berikanlah dengan suka rela. Cepat atau lambat Anda akan harus melepaskan. Anda datang ke dalam kehidupan untuk mengumpulkan. Dengan tangan terkepal, Anda ingin mengambil. Tetapi alam meletakkan tangan di kerongkongan Anda dan memaksa tangan Anda terbuka. Mau atau tidak mau, Anda harus memberi. Saat Anda berkata, "Saya tidak mau", pukulan itu datang; Anda terluka. Tidak seorang pun yang tidak akan dipaksa, pada akhirnya, untuk melepaskan segalanya. Dan semakin seseorang berjuang melawan hukum ini, semakin sengsara perasaannya. Karena kita tidak berani memberi, karena kita tidak cukup pasrah untuk memenuhi tuntutan agung alam ini, maka kita menderita. Hutan telah lenyap, tetapi kita memperoleh panas sebagai gantinya. Matahari mengambil air dari samudra, untuk mengembalikannya dalam bentuk hujan. Anda adalah mesin untuk mengambil dan memberi: Anda mengambil, agar Anda dapat memberi. Oleh karena itu, jangan minta apa pun sebagai balasan; tetapi semakin banyak Anda memberi, semakin banyak yang akan datang kepada Anda. Semakin cepat Anda dapat mengeluarkan udara dari ruangan ini, semakin cepat ruangan itu akan terisi oleh udara dari luar; dan jika Anda menutup semua pintu dan setiap celah, yang ada di dalam akan tetap di dalam, tetapi yang ada di luar tidak akan pernah masuk, dan yang ada di dalam akan menggenang, merosot, dan menjadi beracun. Sungai terus-menerus mengosongkan dirinya ke dalam samudra dan terus-menerus terisi kembali. Jangan menghalangi jalan keluarnya ke samudra. Saat Anda melakukan itu, kematian mencengkeram Anda.
Oleh karena itu, jangan menjadi pengemis; jadilah tidak terikat. Inilah tugas paling mengerikan dalam kehidupan! Anda tidak menghitung bahaya-bahaya di sepanjang jalan. Bahkan dengan mengakui kesulitan-kesulitan itu secara intelektual, kita tidak sungguh-sungguh mengetahuinya sampai kita merasakannya. Dari kejauhan kita mungkin memperoleh pemandangan umum sebuah taman: lalu, apa artinya itu? Kita merasakan dan sungguh-sungguh mengenalnya ketika kita berada di dalamnya. Bahkan jika setiap upaya kita adalah kegagalan, dan kita berdarah dan tercabik-cabik, namun, melalui semua ini, kita harus memelihara hati kita — kita harus menegaskan Ketuhanan kita di tengah-tengah segala kesulitan ini. Alam menghendaki kita untuk bereaksi, untuk membalas pukulan dengan pukulan, tipuan dengan tipuan, dusta dengan dusta, untuk membalas dengan segenap daya kita. Maka, dibutuhkan kuasa adi-ilahi untuk tidak membalas, untuk menjaga kendali, untuk tidak terikat.
Setiap hari kita memperbarui tekad kita untuk tidak terikat. Kita mengarahkan pandangan kita ke belakang dan memandang objek-objek cinta dan keterikatan kita di masa lalu, dan merasakan bagaimana masing-masing dari mereka membuat kita sengsara. Kita terjerumus ke dalam jurang keputusasaan yang paling dalam karena "cinta" kita! Kita mendapati diri kita hanyalah budak di tangan orang lain, kita diseret turun dan turun! Lalu kita membuat tekad baru: "Mulai sekarang, saya akan menjadi tuan atas diri saya sendiri; mulai sekarang, saya akan memiliki kendali atas diri saya sendiri." Tetapi tibalah waktunya, dan cerita yang sama terulang sekali lagi! Sekali lagi jiwa tertangkap dan tidak dapat keluar. Burung itu di dalam jaring, meronta-ronta dan mengepak-ngepak. Inilah hidup kita.
Saya mengetahui kesulitan-kesulitan itu. Sangat dahsyat, dan sembilan puluh persen dari kita menjadi patah semangat dan kehilangan harapan, dan pada gilirannya, sering menjadi pesimis dan berhenti percaya pada ketulusan, cinta, dan segala sesuatu yang agung dan mulia. Demikianlah, kita mendapati orang-orang yang pada masa muda hidupnya pemaaf, ramah, sederhana, dan tanpa tipu daya, menjadi topeng-topeng dusta dari manusia di usia tua. Pikiran mereka menjadi gumpalan kerumitan. Mungkin ada banyak siasat lahiriah. Mereka tidak gegabah, mereka tidak berbicara, tetapi akan lebih baik bagi mereka untuk berbicara; hati mereka telah mati dan, oleh karena itu, mereka tidak berbicara. Mereka tidak mengutuk, tidak menjadi marah; tetapi akan lebih baik bagi mereka untuk mampu marah, seribu kali lebih baik, untuk mampu mengutuk. Mereka tidak mampu. Ada kematian di dalam hati, karena tangan-tangan dingin telah mencengkeramnya, dan ia tidak lagi dapat berbuat, bahkan untuk mengucapkan kutukan, bahkan untuk menggunakan kata yang keras.
Semua ini harus kita hindari: oleh karena itu saya katakan, kita memerlukan kuasa adi-ilahi. Kuasa adimanusia tidaklah cukup kuat. Kekuatan adi-ilahi adalah satu-satunya jalan, satu-satunya pintu keluar. Hanya dengan itulah kita dapat melewati semua kerumitan ini, melewati guyuran-guyuran derita ini, tanpa cedera. Kita mungkin tercabik-cabik berkeping-keping, namun hati kita harus tumbuh semakin mulia dan semakin mulia sepanjang waktu.
Sangat sulit, tetapi kita dapat mengatasi kesulitan itu dengan latihan terus-menerus. Kita harus belajar bahwa tidak ada apa pun yang dapat menimpa kita, kecuali kita membuat diri kita rentan terhadapnya. Saya baru saja mengatakan, tidak ada penyakit yang dapat datang kepada saya sampai tubuh ini siap; itu tidak hanya bergantung pada kuman, melainkan pada kerentanan tertentu yang sudah ada di dalam tubuh. Kita hanya memperoleh apa yang sesuai bagi kita. Marilah kita melepaskan kesombongan kita dan memahami hal ini, bahwa tidak pernah ada derita yang tidak layak diterima. Tidak pernah ada pukulan yang tidak layak diterima: tidak pernah ada kejahatan yang jalannya tidak saya ratakan dengan tangan saya sendiri. Kita harus mengetahui hal itu. Analisislah diri Anda dan akan Anda temukan bahwa setiap pukulan yang telah Anda terima, datang kepada Anda karena Anda telah menyiapkan diri untuknya. Anda melakukan separuhnya, dan dunia luar melakukan separuh yang lain: demikianlah pukulan itu datang. Hal itu akan menyadarkan kita. Pada saat yang sama, dari analisis ini juga akan muncul sebuah nada harapan, dan nada harapan itu adalah: "Saya tidak memiliki kendali atas dunia luar, tetapi yang ada di dalam saya dan lebih dekat kepada saya, dunia saya sendiri, ada dalam kendali saya. Jika keduanya bersama-sama diperlukan untuk membuat suatu kegagalan, jika keduanya bersama-sama diperlukan untuk memberi saya pukulan, saya tidak akan menyumbangkan yang ada dalam pemeliharaan saya; dan bagaimana mungkin pukulan itu datang? Jika saya memperoleh kendali sejati atas diri saya sendiri, pukulan itu tidak akan pernah datang."
Sepanjang waktu, sejak kanak-kanak, kita berusaha menimpakan kesalahan kepada sesuatu di luar diri kita. Kita selalu bangkit untuk meluruskan orang lain, dan bukan diri kita sendiri. Jika kita sengsara, kita berkata, "Oh, dunia ini adalah dunia setan." Kita mengutuk orang lain dan berkata, "Sungguh orang-orang dungu yang terbuai!" Tetapi mengapa kita harus berada di dunia semacam itu, jika kita memang demikian baik? Jika ini adalah dunia setan, kita pasti juga setan; kalau bukan, mengapa kita berada di sini? "Oh, orang-orang dunia ini begitu mementingkan diri sendiri!" Cukup benar; tetapi mengapa kita harus didapati dalam pergaulan itu, jika kita lebih baik? Pikirkanlah itu.
Kita hanya memperoleh apa yang kita layak terima. Adalah dusta ketika kita berkata, dunia ini jahat dan kita baik. Tidak mungkin demikian. Itu adalah dusta yang mengerikan yang kita katakan kepada diri kita sendiri.
Inilah pelajaran pertama yang harus dipelajari: bertekadlah untuk tidak mengutuk apa pun di luar, untuk tidak menimpakan kesalahan kepada siapa pun di luar, melainkan jadilah seorang manusia, berdirilah tegak, timpakan kesalahan kepada diri Anda sendiri. Anda akan menemukan, bahwa hal itu selalu benar. Kuasailah diri Anda.
Bukankah memalukan bahwa pada satu saat kita begitu banyak berbicara tentang kemanusiaan kita, tentang diri kita yang adalah dewa-dewa — bahwa kita mengetahui segalanya, kita dapat melakukan segalanya, kita tanpa cela, tanpa noda, orang yang paling tanpa pamrih di dunia; dan pada saat berikutnya sebutir kerikil kecil melukai kita, sedikit kemarahan dari seorang Jack kecil melukai kita — sembarang orang dungu di jalan dapat membuat "para dewa ini" sengsara! Haruskah hal ini terjadi jika kita memang dewa-dewa demikian? Benarkah dunia yang harus dipersalahkan? Mungkinkah Tuhan, yang adalah jiwa termurni dan termulia, dapat dibuat sengsara oleh tipu daya apa pun dari kita? Jika Anda sungguh tanpa pamrih, Anda serupa dengan Tuhan. Dunia apa yang dapat melukai Anda? Anda akan melewati neraka ketujuh tanpa cedera, tanpa tersentuh. Tetapi justru fakta bahwa Anda mengeluh dan ingin menimpakan kesalahan kepada dunia luar menunjukkan bahwa Anda merasakan dunia luar — justru fakta bahwa Anda merasakan menunjukkan bahwa Anda bukanlah apa yang Anda klaim sebagai diri Anda. Anda hanya membesarkan kesalahan Anda dengan menumpukkan derita di atas derita, dengan membayangkan bahwa dunia luar sedang melukai Anda, dan berseru, "Oh, dunia setan ini! Orang ini melukai saya; orang itu melukai saya!" dan seterusnya. Itu adalah menambahkan dusta di atas derita.
Kita harus merawat diri kita sendiri — sebanyak itu yang dapat kita lakukan — dan untuk sementara berhenti memperhatikan orang lain. Marilah kita menyempurnakan sarananya; tujuan akan merawat dirinya sendiri. Sebab dunia hanya dapat menjadi baik dan murni, jika hidup kita baik dan murni. Itu adalah akibat, dan kitalah sarananya. Oleh karena itu, marilah kita memurnikan diri kita. Marilah kita membuat diri kita sempurna.
English
( Delivered at Los Angeles, California, January 4, 1900 )
One of the greatest lessons I have learnt in my life is to pay as much attention to the means of work as to its end. He was a great man from whom I learnt it, and his own life was a practical demonstration of this great principle. I have been always learning great lessons from that one principle, and it appears to me that all the secret of success is there; to pay as much attention to the means as to the end.
Our great defect in life is that we are so much drawn to the ideal, the goal is so much more enchanting, so much more alluring, so much bigger in our mental horizon, that we lose sight of the details altogether.
But whenever failure comes, if we analyse it critically, in ninety-nine per cent of cases we shall find that it was because we did not pay attention to the means. Proper attention to the finishing, strengthening, of the means is what we need. With the means all right, the end must come. We forget that it is the cause that produces the effect; the effect cannot come by itself; and unless the causes are exact, proper, and powerful, the effect will not be produced. Once the ideal is chosen and the means determined, we may almost let go the ideal, because we are sure it will be there, when the means are perfected. When the cause is there, there is no more difficulty about the effect, the effect is bound to come. If we take care of the cause, the effect will take care of itself. The realization of the ideal is the effect. The means are the cause: attention to the means, therefore, is the great secret of life. We also read this in the Gita and learn that we have to work, constantly work with all our power; to put our whole mind in the work, whatever it be, that we are doing. At the same time, we must not be attached. That is to say, we must not be drawn away from the work by anything else; still, we must be able to quit the work whenever we like.
If we examine our own lives, we find that the greatest cause of sorrow is this: we take up something, and put our whole energy on it — perhaps it is a failure and yet we cannot give it up. We know that it is hurting us, that any further clinging to it is simply bringing misery on us; still, we cannot tear ourselves away from it. The bee came to sip the honey, but its feet stuck to the honey-pot and it could not get away. Again and again, we are finding ourselves in that state. That is the whole secret of existence. Why are we here? We came here to sip the honey, and we find our hands and feet sticking to it. We are caught, though we came to catch. We came to enjoy; we are being enjoyed. We came to rule; we are being ruled. We came to work; we are being worked. All the time, we find that. And this comes into every detail of our life. We are being worked upon by other minds, and we are always struggling to work on other minds. We want to enjoy the pleasures of life; and they eat into our vitals. We want to get everything from nature, but we find in the long run that nature takes everything from us — depletes us, and casts us aside.
Had it not been for this, life would have been all sunshine. Never mind! With all its failures and successes, with all its joys and sorrows, it can be one succession of sunshine, if only we are not caught.
That is the one cause of misery: we are attached, we are being caught. Therefore says the Gita: Work constantly; work, but be not attached; be not caught. Reserve unto yourself the power of detaching yourself from everything, however beloved, however much the soul might yearn for it, however great the pangs of misery you feel if you were going to leave it; still, reserve the power of leaving it whenever you want. The weak have no place here, in this life or in any other life. Weakness leads to slavery. Weakness leads to all kinds of misery, physical and mental. Weakness is death. There are hundreds of thousands of microbes surrounding us, but they cannot harm us unless we become weak, until the body is ready and predisposed to receive them. There may be a million microbes of misery, floating about us. Never mind! They dare not approach us, they have no power to get a hold on us, until the mind is weakened. This is the great fact: strength is life, weakness is death. Strength is felicity, life eternal, immortal; weakness is constant strain and misery: weakness is death.
Attachment is the source of all our pleasures now. We are attached to our friends, to our relatives; we are attached to our intellectual and spiritual works; we are attached to external objects, so that we get pleasure from them. What, again, brings misery but this very attachment? We have to detach ourselves to earn joy. If only we had power to detach ourselves at will, there would not be any misery. That man alone will be able to get the best of nature, who, having the power of attaching himself to a thing with all his energy, has also the power to detach himself when he should do so. The difficulty is that there must be as much power of attachment as that of detachment. There are men who are never attracted by anything. They can never love, they are hard-hearted and apathetic; they escape most of the miseries of life. But the wall never feels misery, the wall never loves, is never hurt; but it is the wall, after all. Surely it is better to be attached and caught, than to be a wall. Therefore the man who never loves, who is hard and stony, escaping most of the miseries of life, escapes also its joys. We do not want that. That is weakness, that is death. That soul has not been awakened that never feels weakness, never feels misery. That is a callous state. We do not want that.
At the same time, we not only want this mighty power of love, this mighty power of attachment, the power of throwing our whole soul upon a single object, losing ourselves and letting ourselves be annihilated, as it were, for other souls — which is the power of the gods — but we want to be higher even than the gods. The perfect man can put his whole soul upon that one point of love, yet he is unattached. How comes this? There is another secret to learn.
The beggar is never happy. The beggar only gets a dole with pity and scorn behind it, at least with the thought behind that the beggar is a low object. He never really enjoys what he gets.
We are all beggars. Whatever we do, we want a return. We are all traders. We are traders in life, we are traders in virtue, we are traders in religion. And alas! we are also traders in love.
If you come to trade, if it is a question of give-and-take, if it is a question of buy-and-sell, abide by the laws of buying and selling. There is a bad time and there is a good time; there is a rise and a fall in prices: always you expect the blow to come. It is like looking at the mirrors. Your face is reflected: you make a grimace — there is one in the mirror; if you laugh, the mirror laughs. This is buying and selling, giving and taking.
We get caught. How? Not by what we give, but by what we expect. We get misery in return for our love; not from the fact that we love, but from the fact that we want love in return. There is no misery where there is no want. Desire, want, is the father of all misery. Desires are bound by the laws of success and failure. Desires must bring misery.
The great secret of true success, of true happiness, then, is this: the man who asks for no return, the perfectly unselfish man, is the most successful. It seems to be a paradox. Do we not know that every man who is unselfish in life gets cheated, gets hurt? Apparently, yes. "Christ was unselfish, and yet he was crucified." True, but we know that his unselfishness is the reason, the cause of a great victory — the crowning of millions upon millions of lives with the blessings of true success.
Ask nothing; want nothing in return. Give what you have to give; it will come back to you — but do not think of that now, it will come back multiplied a thousandfold — but the attention must not be on that. Yet have the power to give: give, and there it ends. Learn that the whole of life is giving, that nature will force you to give. So, give willingly. Sooner or later you will have to give up. You come into life to accumulate. With clenched hands, you want to take. But nature puts a hand on your throat and makes your hands open. Whether you will it or not, you have to give. The moment you say, "I will not", the blow comes; you are hurt. None is there but will be compelled, in the long run, to give up everything. And the more one struggles against this law, the more miserable one feels. It is because we dare not give, because we are not resigned enough to accede to this grand demand of nature, that we are miserable. The forest is gone, but we get heat in return. The sun is taking up water from the ocean, to return it in showers. You are a machine for taking and giving: you take, in order to give. Ask, therefore, nothing in return; but the more you give, the more will come to you. The quicker you can empty the air out of this room, the quicker it will be filled up by the external air; and if you close all the doors and every aperture, that which is within will remain, but that which is outside will never come in, and that which is within will stagnate, degenerate, and become poisoned. A river is continually emptying itself into the ocean and is continually filling up again. Bar not the exit into the ocean. The moment you do that, death seizes you.
Be, therefore, not a beggar; be unattached. This is the most terrible task of life! You do not calculate the dangers on the path. Even by intellectually recognising the difficulties, we really do not know them until we feel them. From a distance we may get a general view of a park: well, what of that? We feel and really know it when we are in it. Even if our every attempt is a failure, and we bleed and are torn asunder, yet, through all this, we have to preserve our heart — we must assert our Godhead in the midst of all these difficulties. Nature wants us to react, to return blow for blow, cheating for cheating, lie for lie, to hit back with all our might. Then it requires a superdivine power not to hit back, to keep control, to be unattached.
Every day we renew our determination to be unattached. We cast our eyes back and look at the past objects of our love and attachment, and feel how every one of them made us miserable. We went down into the depths of despondency because of our "love"! We found ourselves mere slaves in the hands of others, we were dragged down and down! And we make a fresh determination: "Henceforth, I will be master of myself; henceforth, I will have control over myself." But the time comes, and the same story once more! Again the soul is caught and cannot get out. The bird is in a net, struggling and fluttering. This is our life.
I know the difficulties. Tremendous they are, and ninety per cent of us become discouraged and lose heart, and in our turn, often become pessimists and cease to believe in sincerity, love, and all that is grand and noble. So, we find men who in the freshness of their lives have been forgiving, kind, simple, and guileless, become in old age lying masks of men. Their minds are a mass of intricacy. There may be a good deal of external policy, possibly. They are not hot-headed, they do not speak, but it would be better for them to do so; their hearts are dead and, therefore, they do not speak. They do not curse, not become angry; but it would be better for them to be able to be angry, a thousand times better, to be able to curse. They cannot. There is death in the heart, for cold hands have seized upon it, and it can no more act, even to utter a curse, even to use a harsh word.
All this we have to avoid: therefore I say, we require superdivine power. Superhuman power is not strong enough. Superdivine strength is the only way, the one way out. By it alone we can pass through all these intricacies, through these showers of miseries, unscathed. We may be cut to pieces, torn asunder, yet our hearts must grow nobler and nobler all the time.
It is very difficult, but we can overcome the difficulty by constant practice. We must learn that nothing can happen to us, unless we make ourselves susceptible to it. I have just said, no disease can come to me until the body is ready; it does not depend alone on the germs, but upon a certain predisposition which is already in the body. We get only that for which we are fitted. Let us give up our pride and understand this, that never is misery undeserved. There never has been a blow undeserved: there never has been an evil for which I did not pave the way with my own hands. We ought to know that. Analyse yourselves and you will find that every blow you have received, came to you because you prepared yourselves for it. You did half, and the external world did the other half: that is how the blow came. That will sober us down. At the same time, from this very analysis will come a note of hope, and the note of hope is: "I have no control of the external world, but that which is in me and nearer unto me, my own world, is in my control. If the two together are required to make a failure, if the two together are necessary to give me a blow, I will not contribute the one which is in my keeping; and how then can the blow come? If I get real control of myself, the blow will never come."
We are all the time, from our childhood, trying to lay the blame upon something outside ourselves. We are always standing up to set right other people, and not ourselves. If we are miserable, we say, "Oh, the world is a devil's world." We curse others and say, "What infatuated fools!" But why should we be in such a world, if we really are so good? If this is a devil's world, we must be devils also; why else should we be here? "Oh, the people of the world are so selfish!" True enough; but why should we be found in that company, if we be better? Just think of that.
We only get what we deserve. It is a lie when we say, the world is bad and we are good. It can never be so. It is a terrible lie we tell ourselves.
This is the first lesson to learn: be determined not to curse anything outside, not to lay the blame upon any one outside, but be a man, stand up, lay the blame on yourself. You will find, that is always true. Get hold of yourself.
Is it not a shame that at one moment we talk so much of our manhood, of our being gods — that we know everything, we can do everything, we are blameless, spotless, the most unselfish people in the world; and at the next moment a little stone hurts us, a little anger from a little Jack wounds us — any fool in the street makes "these gods" miserable! Should this be so if we are such gods? Is it true that the world is to blame? Could God, who is the purest and the noblest of souls, be made miserable by any of our tricks? If you are so unselfish, you are like God. What world can hurt you? You would go through the seventh hell unscathed, untouched. But the very fact that you complain and want to lay the blame upon the external world shows that you feel the external world — the very fact that you feel shows that you are not what you claim to be. You only make your offence greater by heaping misery upon misery, by imagining that the external world is hurting you, and crying out, "Oh, this devil's world! This man hurts me; that man hurts me! " and so forth. It is adding lies to misery.
We are to take care of ourselves — that much we can do — and give up attending to others for a time. Let us perfect the means; the end will take care of itself. For the world can be good and pure, only if our lives are good and pure. It is an effect, and we are the means. Therefore, let us purify ourselves. Let us make ourselves perfect.
Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.