Manusia Sejati dan Manusia yang Tampak
Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.
AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.
Bahasa Indonesia
BAB XVI
MANUSIA YANG SEJATI DAN MANUSIA YANG TAMPAK
(Disampaikan di New York)
Di sinilah kita berdiri, dan mata kita kadang-kadang memandang jauh ke depan hingga bermil-mil ke depan. Manusia telah melakukan hal itu sejak ia mulai berpikir. Ia senantiasa memandang ke depan, memandang jauh ke depan. Ia ingin mengetahui ke mana ia pergi bahkan setelah pembubaran tubuhnya. Berbagai teori telah dikemukakan, sistem demi sistem telah diajukan untuk memberikan penjelasan. Sebagian telah ditolak, sedangkan yang lain telah diterima, dan demikianlah hal itu akan terus berlangsung, selama manusia masih ada di sini, selama manusia berpikir. Ada beberapa kebenaran dalam masing-masing sistem itu. Ada pula banyak hal di dalamnya yang bukan kebenaran. Saya akan berusaha menyajikan kepada Anda intisari, hasil, dari penelaahan-penelaahan dalam bidang ini yang telah dilakukan di India. Saya akan berusaha menyelaraskan berbagai pemikiran mengenai pokok ini, sebagaimana telah muncul dari waktu ke waktu di antara para filsuf India. Saya akan berusaha menyelaraskan para psikolog dengan para metafisikawan, dan, jika mungkin, saya juga akan menyelaraskan mereka dengan para pemikir ilmiah modern.
Tema tunggal filsafat Vedanta adalah pencarian akan kesatuan. Pikiran Hindu tidak peduli pada hal yang khusus; ia senantiasa mengejar yang umum, bahkan yang universal. "Apakah hal itu, yang dengan mengetahuinya segala sesuatu yang lain dapat diketahui?" Itulah tema tunggalnya. "Sebagaimana melalui pengetahuan tentang sebongkah tanah liat segala sesuatu yang terbuat dari tanah liat dapat diketahui, demikianlah, apakah hal itu, yang dengan mengetahuinya seluruh alam semesta ini sendiri akan diketahui?" Itulah pencarian tunggalnya. Seluruh alam semesta ini, menurut para filsuf Hindu, dapat diuraikan menjadi satu bahan, yang mereka sebut Akasha (ruang halus / eter kosmik). Segala sesuatu yang kita lihat di sekeliling kita, yang kita rasakan, sentuh, kecap, hanyalah manifestasi yang terdiferensiasi dari Akasha ini. Ia meliputi segala sesuatu, halus. Semua yang kita sebut padat, cair, atau gas, sosok, bentuk, atau tubuh, bumi, matahari, bulan, dan bintang — segala sesuatu tersusun dari Akasha ini.
Kekuatan apakah yang bertindak atas Akasha dan menghasilkan alam semesta ini darinya? Bersama dengan Akasha terdapat kekuatan universal; segala sesuatu yang merupakan kekuatan di alam semesta, yang termanifestasi sebagai gaya atau tarikan — bahkan sebagai pikiran — hanyalah manifestasi yang berbeda dari satu kekuatan yang oleh orang Hindu disebut Prana (daya hidup kosmik). Prana ini, yang bertindak atas Akasha, sedang menciptakan seluruh alam semesta ini. Pada permulaan suatu siklus, Prana ini, seolah-olah, tertidur di samudra Akasha yang tak terhingga. Ia berada dalam keadaan tak bergerak pada permulaan. Kemudian timbul gerak di samudra Akasha ini melalui tindakan Prana ini, dan ketika Prana ini mulai bergerak, bergetar, dari samudra ini muncullah berbagai sistem benda langit, matahari, bulan, bintang, bumi, manusia, hewan, tumbuhan, dan manifestasi dari segala daya dan fenomena yang beragam. Setiap manifestasi daya, oleh karena itu, menurut mereka, adalah Prana ini. Setiap manifestasi material adalah Akasha. Ketika siklus ini berakhir, semua yang kita sebut padat akan mencair menjadi bentuk berikutnya, bentuk yang lebih halus atau bentuk cair berikutnya; itu akan mencair menjadi gas, dan gas itu menjadi getaran panas yang lebih halus dan lebih seragam, dan semuanya akan mencair kembali menjadi Akasha yang asli, dan apa yang sekarang kita sebut tarikan, tolakan, dan gerak, akan perlahan-lahan terurai kembali menjadi Prana yang asli. Kemudian Prana ini dikatakan tertidur untuk suatu periode, dan kembali muncul untuk melontarkan kembali semua bentuk-bentuk itu; dan ketika periode ini berakhir, seluruh hal itu akan mereda kembali. Demikianlah proses penciptaan ini berlangsung turun dan naik, berayun maju dan mundur. Dalam bahasa ilmu pengetahuan modern, ia menjadi statis selama satu periode, dan selama periode lain ia menjadi dinamis. Pada suatu waktu ia menjadi potensial, dan pada periode berikutnya ia menjadi aktif. Pergantian ini telah berlangsung sepanjang keabadian.
Namun, analisis ini hanya bersifat parsial. Sejauh inilah yang telah diketahui bahkan oleh ilmu fisika modern. Di luar itu, penelitian ilmu fisika tidak dapat menjangkau. Tetapi penyelidikan tidak berhenti karenanya. Kita belum menemukan yang satu itu, yang dengan mengetahuinya segala sesuatu yang lain akan diketahui. Kita telah menguraikan seluruh alam semesta menjadi dua komponen, menjadi apa yang disebut materi dan energi, atau apa yang oleh para filsuf India kuno disebut Akasha dan Prana. Langkah berikutnya adalah menguraikan Akasha dan Prana ini ke asal-usulnya. Keduanya dapat diuraikan menjadi entitas yang lebih tinggi yang disebut pikiran. Dari pikiranlah, Mahat (intelek kosmik), daya pikiran yang ada secara universal, kedua hal ini telah dihasilkan. Pikiran adalah manifestasi keberadaan yang lebih halus daripada Akasha maupun Prana. Pikiranlah yang membelah dirinya menjadi kedua hal ini. Pikiran universal ada pada permulaan, dan pikiran itu memanifestasikan, mengubah, dan mengembangkan dirinya menjadi Akasha dan Prana ini: dan melalui penggabungan keduanya seluruh alam semesta telah dihasilkan.
Selanjutnya kita masuk ke psikologi. Saya sedang memandang Anda. Sensasi-sensasi eksternal disampaikan kepada saya oleh mata; sensasi-sensasi itu dibawa oleh saraf sensorik ke otak. Mata bukanlah organ penglihatan. Mata hanyalah instrumen eksternal, sebab apabila organ sesungguhnya di belakangnya, yang membawa sensasi ke otak, dihancurkan, saya boleh memiliki dua puluh mata, namun saya tetap tidak dapat melihat Anda. Gambar di retina boleh jadi selengkap mungkin, namun saya tetap tidak akan melihat Anda. Oleh karena itu, organ berbeda dari instrumennya; di belakang instrumen, yaitu mata, harus ada organnya. Demikian pula halnya dengan semua sensasi. Hidung bukanlah indera penciuman; ia hanyalah instrumen, dan di belakangnya terdapat organnya. Pada setiap indera yang kita miliki, pertama-tama terdapat instrumen eksternal dalam tubuh fisik; di belakangnya, dalam tubuh fisik yang sama, terdapat organ; namun ini pun belum cukup. Misalkan saya sedang berbicara kepada Anda, dan Anda mendengarkan saya dengan saksama. Sesuatu terjadi, katakanlah, sebuah lonceng berdering; mungkin Anda tidak akan mendengar lonceng itu berdering. Getaran suara itu sampai ke telinga Anda, mengetuk gendang telinga, kesannya dibawa oleh saraf ke otak; jika seluruh proses itu lengkap hingga membawa impuls ke otak, mengapa Anda tidak mendengar? Sesuatu yang lain kurang — pikiran tidak melekat pada organ. Ketika pikiran melepaskan diri dari organ, organ boleh membawakan kabar apa pun kepadanya, tetapi pikiran tidak akan menerimanya. Ketika pikiran melekatkan dirinya pada organ, barulah mungkin bagi pikiran untuk menerima kabar itu. Namun, bahkan itu pun belum melengkapi keseluruhannya. Instrumen boleh membawa sensasi dari luar, organ boleh membawanya ke dalam, pikiran boleh melekatkan dirinya pada organ, namun persepsi mungkin belum lengkap. Satu faktor lagi diperlukan; harus ada reaksi di dalam. Dengan reaksi inilah datang pengetahuan. Apa yang berada di luar mengirimkan, seolah-olah, arus kabar ke dalam otak saya. Pikiran saya mengangkatnya, dan menyajikannya kepada intelek, yang mengelompokkannya dalam hubungan dengan kesan-kesan yang telah diterima sebelumnya dan mengirimkan arus reaksi, dan dengan reaksi itulah datang persepsi. Di sinilah, kemudian, terdapat kehendak. Keadaan pikiran yang bereaksi disebut Buddhi, yakni intelek. Namun, bahkan ini pun belum melengkapi keseluruhannya. Satu langkah lagi diperlukan. Misalkan di sini ada sebuah kamera dan di sana ada selembar kain, dan saya berusaha melemparkan sebuah gambar pada lembaran itu. Apa yang harus saya lakukan? Saya harus mengarahkan berbagai berkas cahaya melalui kamera untuk jatuh pada lembaran dan terkumpul di sana. Sesuatu diperlukan agar gambar itu dilemparkan padanya, yang tidak bergerak. Saya tidak dapat membentuk gambar pada sesuatu yang bergerak; sesuatu itu haruslah diam, sebab berkas cahaya yang saya lemparkan padanya bergerak, dan berkas cahaya yang bergerak ini harus dikumpulkan, disatukan, dikoordinasikan, dan dilengkapi pada sesuatu yang diam. Demikian pula halnya dengan sensasi-sensasi yang dibawa oleh organ-organ kita ini ke dalam dan disajikan kepada pikiran, dan yang oleh pikiran pada gilirannya disajikan kepada intelek. Proses ini tidak akan lengkap kecuali ada sesuatu yang permanen di latar belakang yang di atasnya gambar, seolah-olah, dapat dibentuk, yang di atasnya kita dapat menyatukan semua kesan yang berbeda-beda. Apakah yang memberikan kesatuan pada keseluruhan keberadaan kita yang berubah-ubah ini? Apakah yang mempertahankan identitas dari hal yang bergerak ini saat demi saat? Apakah yang di atasnya semua kesan kita yang berbeda-beda disambungkan, yang di atasnya persepsi-persepsi, seolah-olah, berkumpul, berdiam, dan membentuk satu keseluruhan yang utuh? Kita telah menemukan bahwa untuk memenuhi tujuan ini harus ada sesuatu, dan kita juga melihat bahwa sesuatu itu pasti, secara relatif terhadap tubuh dan pikiran, tidak bergerak. Lembaran kain yang ke atasnya kamera melemparkan gambar itu, secara relatif terhadap berkas cahaya, tidak bergerak, jika tidak demikian, tidak akan ada gambar. Artinya, pengamat itu haruslah suatu individu. Sesuatu inilah, yang di atasnya pikiran melukiskan semua gambar ini, sesuatu inilah, yang di atasnya sensasi-sensasi kita, yang dibawa oleh pikiran dan intelek, diletakkan dan dikelompokkan dan dibentuk menjadi satu kesatuan, yang disebut jiwa manusia.
Kita telah melihat bahwa pikiran kosmik universallah yang membelah dirinya menjadi Akasha dan Prana, dan di luar pikiran kita telah menemukan jiwa di dalam diri kita. Di alam semesta, di balik pikiran universal, terdapat Jiwa yang ada, dan Ia disebut Tuhan. Di dalam individu, ia adalah jiwa manusia. Di alam semesta ini, di kosmos, sebagaimana pikiran universal berevolusi menjadi Akasha dan Prana, demikian pula, kita boleh menemukan bahwa Jiwa Universal Itu sendiri berevolusi sebagai pikiran. Apakah benar demikian halnya dengan manusia individu? Apakah pikirannya merupakan pencipta tubuhnya, dan jiwanya pencipta pikirannya? Yakni, apakah tubuhnya, pikirannya, dan jiwanya merupakan tiga keberadaan yang berbeda, ataukah ketiganya satu, atau, sekali lagi, apakah ketiganya merupakan keadaan keberadaan yang berbeda dari satu makhluk yang sama? Kita akan berusaha secara bertahap menemukan jawaban untuk pertanyaan ini. Langkah pertama yang telah kita peroleh sekarang adalah ini: di sini ada tubuh eksternal ini, di balik tubuh eksternal ini terdapat organ-organ, pikiran, intelek, dan di balik ini terdapat jiwa. Pada langkah pertama, kita telah menemukan, seolah-olah, bahwa jiwa terpisah dari tubuh, terpisah dari pikiran itu sendiri. Pendapat-pendapat di dunia keagamaan terbagi pada titik ini, dan perpecahannya adalah ini. Semua pandangan keagamaan yang umumnya disebut dualisme menyatakan bahwa jiwa ini berkualifikasi, bahwa ia memiliki berbagai sifat, bahwa semua perasaan kenikmatan, kesenangan, dan rasa sakit sesungguhnya milik jiwa. Kaum non-dualis menyangkal bahwa jiwa memiliki sifat-sifat semacam itu; mereka mengatakan bahwa jiwa tidak berkualifikasi.
Mari saya pertama-tama mengangkat kaum dualis, dan berusaha menyajikan kepada Anda pendirian mereka mengenai jiwa dan takdirnya; berikutnya, sistem yang membantahnya; dan akhirnya, marilah kita berusaha menemukan keselarasan yang akan dibawakan oleh non-dualisme kepada kita. Jiwa manusia ini, karena ia terpisah dari pikiran dan tubuh, karena ia tidak terdiri dari Akasha dan Prana, haruslah abadi. Mengapa? Apakah yang kita maksudkan dengan kefanaan? Penguraian. Dan itu hanya mungkin bagi hal-hal yang merupakan hasil komposisi; apa pun yang terdiri dari dua atau tiga bahan harus mengalami penguraian. Hanya yang bukan hasil komposisilah yang tidak pernah dapat terurai, dan, oleh karena itu, tidak pernah dapat mati. Ia abadi. Ia telah ada sepanjang keabadian; ia tidak diciptakan. Setiap unsur ciptaan hanyalah suatu komposisi; tidak seorang pun pernah melihat ciptaan muncul dari ketiadaan. Semua yang kita ketahui tentang penciptaan adalah penggabungan hal-hal yang telah ada menjadi bentuk-bentuk yang lebih baru. Karena demikian halnya, jiwa manusia ini, karena bersifat sederhana, pasti telah ada selama-lamanya, dan ia akan ada selama-lamanya. Ketika tubuh ini gugur, jiwa terus hidup. Menurut kaum Vedantis, ketika tubuh ini terurai, daya-daya vital manusia kembali ke pikirannya dan pikiran tersebut menjadi terurai, seolah-olah, menjadi Prana, dan Prana itu masuk ke dalam jiwa manusia, dan jiwa manusia keluar, berpakaian, seolah-olah, dengan apa yang mereka sebut tubuh halus, tubuh mental, atau tubuh spiritual, sebagaimana yang Anda sukai untuk menyebutnya. Di dalam tubuh ini terdapat Samskara dari manusia tersebut. Apakah Samskara (kesan-kesan halus dari tindakan dan pikiran masa lalu) itu? Pikiran ini bagaikan sebuah danau, dan setiap pikiran bagaikan gelombang di atas danau itu. Sebagaimana di danau gelombang-gelombang naik kemudian jatuh dan menghilang, demikian pula gelombang-gelombang pikiran ini terus-menerus muncul dalam materi-pikiran dan kemudian menghilang, tetapi mereka tidak menghilang selama-lamanya. Mereka menjadi semakin halus dan halus, tetapi mereka semua ada di sana, siap untuk muncul lagi pada saat yang lain ketika dipanggil untuk berbuat demikian. Ingatan hanyalah memanggil kembali ke dalam bentuk gelombang beberapa dari pikiran-pikiran itu yang telah masuk ke dalam keadaan keberadaan yang lebih halus itu. Demikianlah, segala sesuatu yang telah kita pikirkan, setiap tindakan yang telah kita lakukan, tersimpan dalam pikiran; semuanya ada di sana dalam bentuk halus, dan ketika seseorang mati, jumlah total dari kesan-kesan ini ada di dalam pikiran, yang kembali bekerja pada sedikit bahan halus sebagai medium. Jiwa, berpakaian, seolah-olah, dengan kesan-kesan ini dan tubuh halus, keluar, dan takdir jiwa diarahkan oleh resultan dari semua daya yang berbeda-beda yang diwakili oleh kesan-kesan yang berbeda-beda. Menurut kami, ada tiga tujuan yang berbeda bagi jiwa.
Mereka yang sangat spiritual, ketika mereka mati, mengikuti berkas-berkas matahari dan mencapai apa yang disebut bola surya, melalui mana mereka mencapai apa yang disebut bola bulan, dan melalui itu mereka mencapai apa yang disebut bola kilat, dan di sana mereka bertemu dengan jiwa lain yang telah diberkati, dan ia membimbing pendatang baru maju ke yang tertinggi dari semua bola, yang disebut Brahmaloka, bola Brahma. Di sana jiwa-jiwa ini mencapai kemahatahuan dan kemahakuasaan, menjadi hampir sekuat dan semaha-tahu seperti Tuhan Sendiri; dan mereka berdiam di sana selama-lamanya, menurut kaum dualis, atau, menurut kaum non-dualis, mereka menjadi satu dengan Yang Universal pada akhir siklus. Golongan orang berikutnya, yang telah melakukan perbuatan baik dengan motif yang mementingkan diri sendiri, dibawa oleh hasil dari perbuatan baik mereka, ketika mereka mati, ke apa yang disebut bola bulan, di mana terdapat berbagai surga, dan di sana mereka memperoleh tubuh halus, tubuh para dewa. Mereka menjadi dewa dan hidup di sana dan menikmati berkat surga selama periode yang panjang; dan setelah periode itu selesai, Karma lama kembali menimpa mereka, dan dengan demikian mereka jatuh kembali ke bumi; mereka turun melalui bola udara dan awan dan semua wilayah yang berbeda-beda ini, dan, akhirnya, mencapai bumi melalui tetesan hujan. Di sana di bumi mereka melekatkan dirinya pada suatu butir biji-bijian yang akhirnya dimakan oleh seseorang yang layak untuk memasok mereka dengan bahan untuk membuat tubuh baru. Golongan terakhir, yakni mereka yang jahat, ketika mereka mati, menjadi hantu atau setan, dan hidup di suatu tempat di antara bola bulan dan bumi ini. Sebagian berusaha mengganggu umat manusia, sebagian bersahabat; dan setelah hidup di sana untuk beberapa waktu mereka juga jatuh kembali ke bumi dan menjadi hewan. Setelah hidup untuk beberapa waktu dalam tubuh hewan mereka dibebaskan, dan kembali, dan menjadi manusia lagi, dan dengan demikian memperoleh satu kesempatan lagi untuk mengerjakan keselamatan mereka. Kita melihat, kemudian, bahwa mereka yang telah hampir mencapai kesempurnaan, yang padanya hanya sedikit sekali ketidaksucian tersisa, pergi ke Brahmaloka melalui berkas-berkas matahari; mereka yang merupakan orang-orang yang menengah-menengah, yang melakukan beberapa perbuatan baik di sini dengan gagasan untuk pergi ke surga, pergi ke surga di bola bulan dan di sana memperoleh tubuh-dewa; tetapi mereka harus kembali menjadi manusia dan dengan demikian memperoleh satu kesempatan lagi untuk menjadi sempurna. Mereka yang sangat jahat menjadi hantu dan setan, dan kemudian mereka mungkin harus menjadi hewan; setelah itu mereka menjadi manusia lagi dan memperoleh kesempatan lain untuk menyempurnakan dirinya. Bumi ini disebut Karma-Bhumi, bola Karma. Hanya di sinilah manusia membuat Karma baik atau buruknya. Ketika seseorang ingin pergi ke surga dan melakukan perbuatan baik untuk tujuan itu, ia menjadi sebaik itu dan tidak menimbun Karma buruk apa pun. Ia hanya menikmati efek dari perbuatan baik yang ia lakukan di bumi; dan ketika Karma baik ini habis, datanglah ke atasnya daya resultan dari semua Karma jahat yang telah ia timbun sebelumnya dalam kehidupan, dan itu membawanya turun kembali ke bumi ini. Dengan cara yang sama, mereka yang menjadi hantu tetap dalam keadaan itu, tidak menimbulkan Karma yang baru, tetapi menderita akibat jahat dari kesalahan-kesalahan masa lalu mereka, dan kemudian tinggal untuk suatu waktu dalam tubuh hewan tanpa menyebabkan Karma yang baru. Ketika periode itu selesai, mereka pun menjadi manusia lagi. Keadaan ganjaran dan hukuman karena Karma baik dan buruk tidak memiliki daya untuk menghasilkan Karma baru; mereka hanya harus dinikmati atau diderita. Jika ada Karma yang luar biasa baik atau luar biasa jahat, ia menghasilkan buah dengan sangat cepat. Misalnya, jika seseorang telah melakukan banyak perbuatan jahat sepanjang hidupnya, tetapi melakukan satu perbuatan baik, hasil dari perbuatan baik itu akan segera muncul, tetapi ketika hasil itu telah dilalui, semua perbuatan jahat harus pula menghasilkan hasilnya. Semua orang yang melakukan perbuatan baik dan agung tertentu, tetapi yang nada umum kehidupannya tidak benar, akan menjadi dewa; dan setelah hidup untuk beberapa waktu dalam tubuh-dewa, menikmati kuasa para dewa, mereka harus kembali menjadi manusia; ketika daya perbuatan baik dengan demikian selesai, kejahatan lama muncul untuk dikerjakan. Mereka yang melakukan perbuatan luar biasa jahat harus mengenakan tubuh hantu dan setan, dan ketika efek dari tindakan jahat itu habis, sedikit perbuatan baik yang masih melekat pada mereka, menjadikan mereka menjadi manusia lagi. Jalan menuju Brahmaloka, dari mana tidak ada lagi kejatuhan atau kembali, disebut Devayana, yakni jalan menuju Tuhan; jalan menuju surga dikenal sebagai Pitriyana, yakni jalan menuju para leluhur.
Manusia, oleh karena itu, menurut filsafat Vedanta, adalah makhluk terbesar yang ada di alam semesta, dan dunia kerja ini adalah tempat terbaik di dalamnya, sebab hanya di sinilah terdapat kesempatan terbesar dan terbaik baginya untuk menjadi sempurna. Para malaikat atau dewa, apa pun Anda hendak menyebutnya, semuanya harus menjadi manusia, jika mereka ingin menjadi sempurna. Inilah pusat yang agung, keseimbangan yang menakjubkan, dan kesempatan yang menakjubkan — kehidupan manusia ini.
Selanjutnya kita masuk ke aspek filsafat yang lain. Ada kaum Buddhis yang menyangkal seluruh teori jiwa yang baru saja saya kemukakan. "Apa gunanya," kata kaum Buddhis, "mengandaikan sesuatu sebagai substrat, sebagai latar belakang tubuh dan pikiran ini? Mengapa kita tidak membiarkan saja pikiran-pikiran mengalir? Mengapa mengakui suatu substansi ketiga di luar organisme ini, yang terdiri dari pikiran dan tubuh, suatu substansi ketiga yang disebut jiwa? Apa gunanya? Bukankah organisme ini cukup untuk menjelaskan dirinya sendiri? Mengapa mengambil lagi suatu hal ketiga?" Argumen-argumen ini sangat kuat. Penalaran ini sangat kuat. Sejauh penelitian eksternal berlanjut, kita melihat bahwa organisme ini merupakan penjelasan yang memadai bagi dirinya sendiri — setidaknya, banyak di antara kita yang melihatnya dalam cahaya itu. Lalu mengapa harus ada jiwa sebagai substrat, sebagai sesuatu yang bukan pikiran maupun tubuh tetapi berdiri sebagai latar belakang bagi pikiran maupun tubuh? Biarlah hanya ada pikiran dan tubuh. Tubuh adalah nama bagi suatu aliran materi yang terus-menerus berubah. Pikiran adalah nama bagi suatu aliran kesadaran atau pemikiran yang terus-menerus berubah. Apa yang menghasilkan kesatuan yang tampak antara keduanya? Kesatuan ini sesungguhnya tidak ada, marilah kita katakan. Ambil, misalnya, sebuah obor yang menyala, dan putarlah dengan cepat di hadapan Anda. Anda melihat sebuah lingkaran api. Lingkaran itu sesungguhnya tidak ada, tetapi karena obor itu terus-menerus bergerak, ia meninggalkan tampilan suatu lingkaran. Demikianlah tidak ada kesatuan dalam kehidupan ini; ia adalah sekumpulan materi yang terus-menerus mengalir turun, dan seluruh materi ini dapat Anda sebut satu kesatuan, tetapi tidak lebih dari itu. Demikian pula pikiran; setiap pikiran terpisah dari setiap pikiran yang lain; hanya arus yang mengalir derulah yang meninggalkan ilusi kesatuan di belakangnya; tidak diperlukan suatu substansi ketiga. Fenomena universal tubuh dan pikiran inilah seluruh yang sesungguhnya ada; jangan menempatkan sesuatu di balik ini. Anda akan menemukan bahwa pemikiran Buddhis ini telah diadopsi oleh sekte-sekte dan aliran-aliran tertentu di zaman modern, dan mereka semua mengklaim bahwa itu baru — penemuan mereka sendiri. Inilah gagasan sentral dari sebagian besar filsafat Buddhis, yakni bahwa dunia ini sendiri sudah cukup; bahwa Anda tidak perlu meminta latar belakang apa pun sama sekali; semua yang ada adalah alam-indra ini: apa gunanya memikirkan sesuatu sebagai penopang bagi alam semesta ini? Segala sesuatu adalah agregat sifat-sifat; mengapa harus ada substansi hipotetis di dalamnya untuk tempat mereka melekat? Gagasan tentang substansi datang dari pertukaran sifat yang cepat, bukan dari sesuatu yang tidak berubah yang ada di belakangnya. Kita melihat betapa menakjubkannya beberapa argumen ini, dan mereka mudah menarik bagi pengalaman umum kemanusiaan — sebenarnya, tidak satu pun di antara sejuta orang yang dapat memikirkan apa pun selain fenomena. Bagi mayoritas besar manusia, alam tampak hanyalah sebagai sekumpulan perubahan yang berubah, berputar, bergabung, dan berbaur. Hanya sedikit di antara kita yang pernah memperoleh sekilas pandang akan lautan tenang di belakangnya. Bagi kita, ia senantiasa diombang-ambingkan menjadi gelombang; alam semesta ini tampak bagi kita hanya sebagai sekumpulan gelombang yang berombak-ombak. Demikianlah kita menemukan kedua pendapat ini. Yang satu adalah bahwa ada sesuatu di balik tubuh dan pikiran yang merupakan substansi yang tidak berubah dan tidak bergerak; dan yang lain adalah bahwa tidak ada hal seperti ketidakbergerakan atau ketidakberubahan di alam semesta; semuanya adalah perubahan dan tidak lain kecuali perubahan. Penyelesaian dari perbedaan ini datang pada langkah berikutnya dari pemikiran, yakni non-dualisme.
Ia mengatakan bahwa kaum dualis benar dalam menemukan sesuatu di balik segalanya, sebagai latar belakang yang tidak berubah; kita tidak dapat membayangkan perubahan tanpa ada sesuatu yang tidak berubah. Kita hanya dapat membayangkan sesuatu yang berubah, dengan mengetahui sesuatu yang kurang berubah, dan ini juga harus tampak lebih berubah jika dibandingkan dengan sesuatu yang lain yang kurang berubah, dan seterusnya dan seterusnya, sampai kita terikat untuk mengakui bahwa harus ada sesuatu yang tidak pernah berubah sama sekali. Seluruh manifestasi ini pastilah pernah berada dalam keadaan tanpa-manifestasi, tenang dan diam, sebagai keseimbangan dari daya-daya yang berlawanan, boleh dikatakan, ketika tidak ada daya yang bekerja, sebab daya bertindak ketika datang suatu gangguan terhadap keseimbangan. Alam semesta senantiasa bergegas untuk kembali ke keadaan keseimbangan itu lagi. Jika kita yakin akan suatu fakta apa pun, kita yakin akan hal ini. Ketika kaum dualis mengklaim bahwa ada sesuatu yang tidak berubah, mereka sepenuhnya benar, tetapi analisis mereka bahwa ia adalah sesuatu yang mendasari yang bukan tubuh maupun pikiran, sesuatu yang terpisah dari keduanya, adalah salah. Sejauh kaum Buddhis mengatakan bahwa seluruh alam semesta adalah suatu massa perubahan, mereka sepenuhnya benar; selama saya terpisah dari alam semesta, selama saya berdiri jauh dan memandang sesuatu di hadapan saya, selama ada dua hal — yang memandang dan yang dipandang — akan selalu tampak bahwa alam semesta adalah salah satu perubahan, terus-menerus berubah sepanjang waktu. Tetapi kenyataannya adalah bahwa ada baik perubahan maupun ketidakberubahan di alam semesta ini. Bukanlah bahwa jiwa dan pikiran dan tubuh adalah tiga keberadaan yang terpisah, sebab organisme yang terbuat dari ketiganya ini sesungguhnya adalah satu. Adalah hal yang sama yang tampak sebagai tubuh, sebagai pikiran, dan sebagai hal di luar pikiran dan tubuh, tetapi ia bukanlah pada saat yang sama semua ini. Ia yang melihat tubuh tidak melihat bahkan pikiran, ia yang melihat pikiran tidak melihat apa yang ia sebut jiwa, dan ia yang melihat jiwa — baginya tubuh dan pikiran telah lenyap. Ia yang hanya melihat gerak tidak pernah melihat ketenangan mutlak, dan ia yang melihat ketenangan mutlak — baginya gerak telah lenyap. Sebuah tali disangka sebagai ular. Ia yang melihat tali sebagai ular, baginya tali itu telah lenyap, dan ketika delusi berhenti dan ia melihat tali itu, ular itu telah lenyap.
Maka, hanya ada satu keberadaan yang mencakup-segalanya, dan yang satu itu tampak sebagai yang berlipat-ganda. Diri atau Jiwa atau Substansi ini adalah segala yang ada di alam semesta. Diri atau Substansi atau Jiwa itu, dalam bahasa non-dualisme, adalah Brahman yang tampak berlipat-ganda melalui penyisipan nama dan bentuk. Lihatlah gelombang-gelombang di laut. Tidak satu gelombang pun yang sesungguhnya berbeda dari laut, tetapi apa yang membuat gelombang itu tampak berbeda? Nama dan bentuk; bentuk gelombang dan nama yang kita berikan padanya, "gelombang". Inilah yang membuatnya berbeda dari laut. Ketika nama dan bentuk hilang, ia adalah laut yang sama. Siapa yang dapat membuat perbedaan yang sesungguhnya antara gelombang dan laut? Demikianlah seluruh alam semesta ini adalah satu Keberadaan Tunggal itu; nama dan bentuk telah menciptakan semua perbedaan yang beraneka ragam ini. Sebagaimana ketika matahari bersinar atas jutaan butiran air, pada setiap partikel terlihat representasi matahari yang paling sempurna, demikian pula satu Jiwa, satu Diri, satu Keberadaan alam semesta, yang dipantulkan pada semua butiran yang tak terhitung jumlahnya dengan nama dan bentuk yang beragam ini, tampak beraneka ragam. Tetapi sesungguhnya ia hanyalah satu. Tidak ada "saya" maupun "Anda"; semuanya adalah satu. Semuanya entah "saya" atau semuanya "Anda". Gagasan dualitas ini, yang menyebut dua, sepenuhnya salah, dan seluruh alam semesta, sebagaimana yang biasanya kita kenal, adalah hasil dari pengetahuan yang salah ini. Ketika diskriminasi datang dan manusia menemukan bahwa tidak ada dua melainkan satu, ia menemukan bahwa dirinya sendiri adalah alam semesta ini. "Sayalah yang adalah alam semesta ini sebagaimana ia sekarang ada, suatu massa perubahan yang berkesinambungan. Sayalah yang di luar semua perubahan, di luar semua sifat, yang abadi sempurna, yang abadi diberkati."
Oleh karena itu, hanya ada satu Atman, satu Diri, yang abadi murni, yang abadi sempurna, tidak berubah, tidak diubah; ia tidak pernah berubah; dan semua perubahan yang beraneka ragam di alam semesta ini hanyalah penampilan-penampilan dalam satu Diri itu.
Di atasnya, nama dan bentuk telah melukiskan semua mimpi ini; bentuklah yang membuat gelombang berbeda dari lautan. Andaikan gelombang itu mereda, akankah bentuknya tetap ada? Tidak, ia akan lenyap. Keberadaan gelombang sepenuhnya bergantung pada keberadaan lautan, tetapi keberadaan lautan sama sekali tidak bergantung pada keberadaan gelombang. Bentuk itu bertahan selama gelombang masih ada, tetapi begitu gelombang meninggalkannya, bentuk itu pun lenyap; ia tidak dapat bertahan. Nama dan bentuk ini adalah hasil dari apa yang disebut Maya (ilusi kosmik). Maya inilah yang menciptakan individu-individu, yang membuat seseorang tampak berbeda dari yang lain. Namun, ia sendiri tidak memiliki keberadaan. Maya tidak dapat dikatakan ada. Bentuk tidak dapat dikatakan ada, karena ia bergantung pada keberadaan sesuatu yang lain. Ia juga tidak dapat dikatakan tidak ada, mengingat ia menimbulkan semua perbedaan ini. Menurut filsafat Advaita (non-dualisme), Maya atau kebodohan ini — atau nama dan bentuk, atau, sebagaimana disebut di Eropa, "ruang, waktu, dan kausalitas" — keluar dari Keberadaan Tak Terhingga yang satu ini, sehingga menampakkan kepada kita kemajemukan alam semesta; pada hakikatnya, alam semesta ini adalah satu. Selama seseorang berpikir bahwa ada dua realitas tertinggi, ia keliru. Ketika ia telah mengetahui bahwa yang ada hanyalah satu, ia benar. Inilah yang setiap hari dibuktikan kepada kita, pada bidang fisik, pada bidang mental, dan juga pada bidang spiritual. Hari ini telah ditunjukkan bahwa Anda dan saya, matahari, bulan, dan bintang-bintang hanyalah nama-nama berbeda dari titik-titik berbeda dalam satu samudra materi yang sama, dan bahwa materi ini terus-menerus berubah dalam konfigurasinya. Partikel energi yang beberapa bulan lalu berada di matahari mungkin sekarang berada dalam diri manusia; besok ia mungkin berada dalam diri hewan, lusa mungkin dalam tumbuhan. Ia senantiasa datang dan pergi. Semuanya adalah satu massa materi yang tak terputus dan tak terhingga, hanya dibedakan oleh nama dan bentuk. Satu titik disebut matahari; yang lain bulan; yang lain bintang; yang lain manusia; yang lain hewan; yang lain tumbuhan; dan seterusnya. Dan semua nama ini bersifat fiktif; nama-nama itu tidak memiliki realitas, karena keseluruhannya adalah massa materi yang terus-menerus berubah. Alam semesta yang sama ini, dari sudut pandang lain, adalah samudra pikiran, di mana setiap orang di antara kita adalah satu titik yang disebut suatu pikiran tertentu. Anda adalah suatu pikiran, saya adalah suatu pikiran, setiap orang adalah suatu pikiran; dan alam semesta yang sama ini, dilihat dari sudut pandang pengetahuan, ketika mata telah dibersihkan dari delusi, ketika pikiran telah menjadi murni, tampak sebagai Wujud Absolut yang tak terputus, yang abadi murni, yang tak berubah, yang baka.
Lalu, apa jadinya dengan seluruh eskatologi tiga lapis kaum dualis itu, yakni bahwa ketika seseorang mati ia pergi ke surga, atau pergi ke wilayah ini atau itu, dan bahwa orang-orang jahat menjadi hantu, menjadi hewan, dan sebagainya? Tiada yang datang dan tiada yang pergi, kata kaum non-dualis. Bagaimana mungkin Anda datang dan pergi? Anda tak terhingga; di mana tempat bagi Anda untuk pergi? Di sebuah sekolah, sejumlah anak kecil sedang diuji. Penguji dengan bodohnya telah mengajukan segala macam pertanyaan sulit kepada anak-anak kecil itu. Di antaranya ada pertanyaan ini: "Mengapa bumi tidak jatuh?" Maksudnya adalah untuk memunculkan gagasan gravitasi atau kebenaran ilmiah rumit lainnya dari anak-anak ini. Sebagian besar dari mereka bahkan tidak memahami pertanyaannya, sehingga mereka memberikan segala macam jawaban yang salah. Tetapi seorang gadis kecil yang cerdas menjawabnya dengan pertanyaan lain: "Akan jatuh ke mana?" Pertanyaan penguji itu sendiri tampak tak masuk akal pada wajahnya. Tidak ada atas dan bawah di alam semesta; gagasan itu hanya bersifat relatif. Demikianlah halnya dengan jiwa; pertanyaan tentang kelahiran dan kematian sehubungan dengannya sungguh tidak masuk akal. Siapa yang pergi dan siapa yang datang? Di mana Anda tidak berada? Di mana surga yang belum Anda diami? Diri sejati manusia berada di mana-mana. Hendak pergi ke mana? Hendak tidak pergi ke mana? Ia ada di mana-mana. Maka semua mimpi kanak-kanak dan ilusi kekanak-kanakan tentang kelahiran dan kematian, tentang surga-surga dan surga-surga yang lebih tinggi serta dunia-dunia yang lebih rendah, semuanya seketika lenyap bagi yang sempurna. Bagi yang hampir sempurna, mimpi itu lenyap setelah menampakkan kepada mereka beberapa pemandangan hingga Brahmaloka (alam Brahma). Mimpi itu berlanjut bagi yang masih tidak tahu.
Bagaimana mungkin seluruh dunia percaya akan pergi ke surga, dan tentang mati serta dilahirkan kembali? Saya sedang mempelajari sebuah buku, halaman demi halaman dibaca dan dibalik. Halaman lain muncul lalu dibalik. Siapa yang berubah? Siapa yang datang dan pergi? Bukan saya, melainkan bukunya. Seluruh alam ini adalah sebuah buku di hadapan jiwa, bab demi bab dibaca dan dibalik, dan dari waktu ke waktu sebuah pemandangan terbuka. Itu dibaca dan dibalik. Pemandangan baru muncul, tetapi jiwa selalu sama — kekal. Alamlah yang berubah, bukan jiwa manusia. Ini tidak pernah berubah. Kelahiran dan kematian ada dalam alam, bukan dalam diri Anda. Namun yang bodoh tertipu; sebagaimana di bawah delusi kita berpikir bahwa mataharilah yang bergerak dan bukan bumi, persis dengan cara yang sama kita berpikir bahwa kitalah yang mati, dan bukan alam. Semua ini, oleh karena itu, adalah halusinasi belaka. Sebagaimana halusinasi ketika kita berpikir bahwa ladang-ladanglah yang bergerak dan bukan kereta api, persis dengan cara yang sama pula halusinasi tentang kelahiran dan kematian. Ketika manusia berada dalam suatu keadaan pikiran tertentu, mereka melihat keberadaan ini sebagai bumi, sebagai matahari, bulan, bintang-bintang; dan semua yang berada dalam keadaan pikiran yang sama melihat hal-hal yang sama. Antara Anda dan saya mungkin ada jutaan makhluk pada bidang-bidang keberadaan yang berbeda. Mereka tidak akan pernah melihat kita, dan kita tidak akan pernah melihat mereka; kita hanya melihat mereka yang berada dalam keadaan pikiran yang sama dan pada bidang yang sama dengan kita. Alat-alat musik yang memiliki keselarasan getaran yang sama akan saling merespons, demikianlah kiranya; jika keadaan getaran, yang mereka sebut "getaran-manusia", diubah, manusia tidak lagi akan terlihat di sini; seluruh "alam-semesta-manusia" akan lenyap, dan sebagai gantinya, pemandangan lain akan muncul di hadapan kita, mungkin para dewa dan alam-semesta-dewa, atau mungkin, bagi yang jahat, setan-setan dan dunia iblis; namun semuanya hanyalah pandangan-pandangan berbeda atas satu alam semesta yang sama. Alam semesta inilah yang, dari bidang manusia, terlihat sebagai bumi, matahari, bulan, bintang-bintang, dan segala hal semacam itu — alam semesta yang sama inilah, dilihat dari bidang kejahatan, tampak sebagai tempat hukuman. Dan alam semesta yang sama ini dilihat sebagai surga oleh mereka yang ingin melihatnya sebagai surga. Mereka yang telah memimpikan untuk pergi kepada Tuhan yang sedang duduk di atas takhta, dan berdiri di sana memuji-Nya sepanjang hidup mereka, ketika mereka mati, akan semata-mata melihat sebuah visi tentang apa yang ada dalam pikiran mereka; alam semesta yang sama ini akan begitu saja berubah menjadi sebuah surga yang luas, dengan segala macam makhluk bersayap yang beterbangan dan seorang Tuhan yang duduk di atas takhta. Surga-surga ini semuanya adalah buatan manusia sendiri. Maka apa yang dikatakan kaum dualis itu benar, kata kaum Advaitin, tetapi semuanya semata-mata buatannya sendiri. Wilayah-wilayah ini, setan-setan, dewa-dewa, reinkarnasi, dan transmigrasi, semuanya adalah mitologi; demikian pula kehidupan manusia ini. Kesalahan besar yang selalu dibuat manusia adalah menganggap bahwa hanya kehidupan inilah yang benar. Mereka memahami dengan baik ketika hal-hal lain disebut mitologi, tetapi tidak pernah bersedia mengakui hal yang sama tentang posisi mereka sendiri. Seluruh hal sebagaimana ia tampak hanyalah mitologi belaka, dan kebohongan terbesar dari semuanya adalah bahwa kita adalah tubuh, padahal kita tidak pernah, bahkan tidak akan pernah, demikian. Itulah kebohongan terbesar dari semuanya, bahwa kita hanyalah manusia biasa; kita adalah Tuhan dari alam semesta. Dalam menyembah Tuhan, sesungguhnya kita selalu menyembah Diri sejati kita sendiri yang tersembunyi. Kebohongan terburuk yang pernah Anda katakan pada diri sendiri adalah bahwa Anda dilahirkan sebagai pendosa atau sebagai orang jahat. Hanya dialah seorang pendosa yang melihat seorang pendosa pada diri orang lain. Andaikan ada seorang bayi di sini, dan Anda meletakkan sebuah kantung emas di atas meja. Andaikan seorang perampok datang dan mengambil emas itu. Bagi bayi itu, semuanya sama saja; karena tidak ada perampok di dalam, tidak ada perampok di luar. Bagi para pendosa dan orang-orang keji, ada kekejian di luar, tetapi tidak demikian bagi orang baik. Maka orang jahat melihat alam semesta ini sebagai neraka, dan orang yang sebagian baik melihatnya sebagai surga, sementara makhluk-makhluk sempurna menyadarinya sebagai Tuhan itu sendiri. Maka barulah tabir itu jatuh dari mata, dan manusia, yang telah disucikan dan dibersihkan, menemukan seluruh penglihatannya berubah. Mimpi-mimpi buruk yang telah menyiksanya selama jutaan tahun semuanya lenyap, dan ia yang dahulu menganggap dirinya sebagai manusia, atau dewa, atau iblis, ia yang dahulu menganggap dirinya hidup di tempat-tempat rendah, di tempat-tempat tinggi, di bumi, di surga, dan seterusnya, menemukan bahwa ia sesungguhnya berada di mana-mana; bahwa seluruh waktu ada di dalam dirinya, dan ia tidak berada di dalam waktu; bahwa semua surga ada di dalam dirinya, dan ia tidak berada di surga mana pun; dan bahwa semua dewa yang pernah disembah manusia ada di dalam dirinya, dan ia tidak berada di dalam dewa mana pun di antara mereka. Dialah yang menjadi pencipta dewa-dewa dan iblis-iblis, manusia, tumbuhan, hewan, dan batu, dan sifat sejati manusia kini terbentang di hadapannya sebagai sesuatu yang lebih tinggi daripada surga, lebih sempurna daripada alam semesta kita ini, lebih tak terhingga daripada waktu tak terhingga, lebih berada di mana-mana daripada eter yang ada di mana-mana. Hanya dengan demikianlah manusia menjadi tanpa rasa takut, dan menjadi bebas. Maka semua delusi berhenti, semua penderitaan lenyap, semua ketakutan berakhir untuk selama-lamanya. Kelahiran lenyap dan bersamanya pula kematian; rasa sakit beterbangan pergi, dan bersamanya pula beterbangan pergi kenikmatan; bumi-bumi lenyap, dan bersamanya pula lenyap surga-surga; tubuh-tubuh lenyap, dan bersamanya pula lenyap pikiran. Bagi orang itu, seluruh alam semesta seakan-akan menghilang. Pencarian yang terus-menerus, pergerakan yang tiada henti, perjuangan kekuatan-kekuatan yang berkesinambungan ini berhenti untuk selama-lamanya, dan apa yang dahulu memanifestasikan diri sebagai kekuatan dan materi, sebagai perjuangan-perjuangan alam, sebagai alam itu sendiri, sebagai surga, bumi, tumbuhan, hewan, manusia, dan malaikat, semua itu berubah menjadi satu keberadaan yang tak terhingga, tak terpatahkan, tak berubah, dan orang yang mengetahui menemukan bahwa ia adalah satu dengan keberadaan itu. "Bahkan seperti awan-awan beraneka warna muncul di hadapan langit, bertahan di sana sesaat lalu lenyap pergi," demikianlah di hadapan jiwa ini semua visi datang, tentang bumi dan surga, tentang bulan dan dewa-dewa, tentang kenikmatan dan rasa sakit; tetapi semuanya berlalu, meninggalkan satu langit biru yang tak terhingga dan tak berubah. Langit tidak pernah berubah; awan-awanlah yang berubah. Adalah keliru menganggap bahwa langit itu berubah. Adalah keliru menganggap bahwa kita ini tidak murni, bahwa kita terbatas, bahwa kita terpisah. Manusia sejati adalah satu Keberadaan Tunggal.
Sekarang muncul dua pertanyaan. Yang pertama adalah: "Apakah mungkin menyadari hal ini? Sejauh ini ia hanya doktrin, filsafat, tetapi apakah mungkin merealisasikannya?" Mungkin. Masih ada orang-orang yang hidup di dunia ini yang bagi mereka delusi telah lenyap untuk selama-lamanya. Apakah mereka segera mati setelah realisasi semacam itu? Tidak secepat yang mungkin kita bayangkan. Dua roda yang dihubungkan oleh satu poros berputar bersama-sama. Jika saya memegang salah satu roda dan, dengan sebuah kapak, memotong poros itu menjadi dua, roda yang saya pegang berhenti, tetapi pada roda yang lain masih ada momentum masa lalunya, sehingga ia berjalan sedikit lagi lalu jatuh. Wujud yang murni dan sempurna ini, yakni jiwa, adalah satu roda, dan halusinasi eksternal berupa tubuh dan pikiran ini adalah roda yang lain, dihubungkan oleh poros perbuatan, yakni Karma. Pengetahuan adalah kapak yang akan memutuskan ikatan di antara keduanya, dan roda jiwa akan berhenti — berhenti berpikir bahwa ia sedang datang dan pergi, hidup dan mati, berhenti berpikir bahwa ia adalah alam dan memiliki kebutuhan dan keinginan, dan akan menemukan bahwa ia adalah sempurna, tanpa keinginan. Tetapi pada roda yang lain, yakni tubuh dan pikiran, akan ada momentum perbuatan-perbuatan masa lalu; sehingga ia akan hidup untuk beberapa waktu, sampai momentum perbuatan masa lalu itu habis, sampai momentum itu terurai, dan kemudian tubuh dan pikiran jatuh, dan jiwa menjadi bebas. Tidak ada lagi kepergian ke surga dan kepulangan kembali, bahkan tidak ada lagi kepergian ke Brahmaloka, atau ke wilayah tertinggi mana pun, sebab dari mana ia harus datang, atau hendak ke mana ia pergi? Orang yang dalam kehidupan ini telah mencapai keadaan ini, yang baginya, setidaknya untuk satu menit, penglihatan biasa atas dunia telah berubah dan realitas telah tampak nyata, ia disebut "Yang Bebas Selagi Hidup". Inilah tujuan kaum Vedantin, yaitu mencapai kebebasan selagi hidup.
Suatu ketika di India Barat, saya sedang melakukan perjalanan di negeri padang gurun di pesisir Samudra Hindia. Berhari-hari saya berjalan kaki menempuh padang gurun, tetapi yang mengherankan, setiap hari saya melihat danau-danau yang indah, dengan pepohonan mengelilinginya, dan bayangan pepohonan terbalik bergetar di sana. "Betapa indah pemandangannya, dan mereka menyebut ini negeri padang gurun!" kata saya dalam hati. Hampir sebulan saya melakukan perjalanan, melihat danau-danau, pepohonan, dan tumbuh-tumbuhan yang menakjubkan ini. Pada suatu hari saya sangat haus dan ingin minum air, maka saya mulai berjalan menuju salah satu danau yang jernih dan indah itu, dan ketika saya mendekat, danau itu lenyap. Dan secepat kilat terlintas dalam benak saya, "Inilah fatamorgana yang telah saya baca sepanjang hidup saya," dan bersamaan dengan itu muncul pula gagasan bahwa sepanjang sebulan ini, setiap hari, saya telah melihat fatamorgana dan tidak menyadarinya. Esok paginya saya memulai perjalanan saya. Danau itu kembali muncul, tetapi bersamanya muncul pula gagasan bahwa itu adalah fatamorgana dan bukan danau yang sebenarnya. Demikianlah pula dengan alam semesta ini. Kita semua sedang melakukan perjalanan dalam fatamorgana dunia ini hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun, tanpa menyadari bahwa ia adalah fatamorgana. Suatu hari ia akan pecah, tetapi ia akan kembali lagi; tubuh harus tetap berada di bawah kekuasaan Karma masa lalu, maka fatamorgana akan kembali. Dunia ini akan kembali kepada kita selama kita terikat oleh Karma: laki-laki, perempuan, hewan, tumbuhan, kelekatan dan kewajiban kita, semuanya akan kembali kepada kita, tetapi tidak dengan kekuatan yang sama. Di bawah pengaruh pengetahuan baru itu, kekuatan Karma akan dipatahkan, racunnya akan hilang. Ia menjadi terubahkan, sebab bersamanya muncul pula gagasan bahwa kita kini mengetahuinya, bahwa perbedaan tajam antara realitas dan fatamorgana telah diketahui.
Maka dunia ini tidak akan lagi menjadi dunia yang sama seperti sebelumnya. Namun, ada bahaya di sini. Kita melihat di setiap negeri orang-orang yang mengambil filsafat ini dan berkata, "Saya berada di luar segala kebajikan dan keburukan; oleh karena itu saya tidak terikat oleh hukum moral mana pun; saya boleh melakukan apa pun yang saya suka." Anda mungkin menjumpai banyak orang bodoh di negeri ini pada saat ini yang berkata, "Saya tidak terikat; saya adalah Tuhan itu sendiri; biarkan saya melakukan apa pun yang saya suka." Ini tidak benar, meskipun memang benar bahwa jiwa berada di luar segala hukum, baik fisik, mental, maupun moral. Di dalam hukum terdapat ikatan; di luar hukum terdapat kebebasan. Benar pula bahwa kebebasan adalah sifat dari jiwa, ia adalah hak kelahirannya: bahwa kebebasan sejati jiwa bersinar menembus tabir-tabir materi dalam wujud kebebasan manusia yang tampak. Setiap saat dalam hidup Anda, Anda merasa bahwa Anda bebas. Kita tidak dapat hidup, berbicara, atau bernapas sesaat pun tanpa merasa bahwa kita bebas; tetapi, pada saat yang sama, sedikit pemikiran menunjukkan kepada kita bahwa kita seperti mesin dan tidak bebas. Lalu manakah yang benar? Apakah gagasan tentang kebebasan ini suatu delusi? Satu pihak berpendapat bahwa gagasan tentang kebebasan adalah delusi; pihak lain mengatakan bahwa gagasan tentang ikatan adalah delusi. Bagaimana hal ini terjadi? Manusia sesungguhnya bebas, manusia sejati tidak mungkin tidak bebas. Hanya ketika ia masuk ke dalam dunia Maya, ke dalam nama dan bentuk, ia menjadi terikat. Kehendak bebas adalah istilah yang keliru. Kehendak tidak pernah bisa bebas. Bagaimana mungkin demikian? Hanya ketika manusia sejati telah menjadi terikat, kehendaknya muncul, dan tidak sebelumnya. Kehendak manusia terikat, tetapi yang menjadi landasan kehendak itu adalah bebas secara kekal. Maka, bahkan dalam keadaan terikat yang kita sebut kehidupan manusia atau kehidupan ilahi, di bumi atau di surga, masih tersisa pada kita ingatan akan kebebasan yang menjadi hak kita berdasarkan hak ilahi. Dan secara sadar atau tidak sadar, kita semua berjuang menujunya. Ketika seseorang telah mencapai kebebasannya sendiri, bagaimana mungkin ia terikat oleh hukum apa pun? Tidak ada hukum di alam semesta ini yang dapat mengikatnya, sebab alam semesta ini sendiri adalah miliknya.
Dia adalah seluruh alam semesta. Entah katakan bahwa ia adalah seluruh alam semesta, atau katakan bahwa baginya tidak ada alam semesta. Maka bagaimana ia bisa memiliki segala gagasan kecil tentang jenis kelamin dan tentang negeri? Bagaimana ia bisa berkata, saya seorang laki-laki, saya seorang perempuan, saya seorang anak? Bukankah itu kebohongan? Ia tahu bahwa itu kebohongan. Bagaimana ia bisa mengatakan bahwa ini adalah hak laki-laki, dan ini adalah hak perempuan? Tidak seorang pun memiliki hak; tidak seorang pun yang ada secara terpisah. Tidak ada laki-laki maupun perempuan; jiwa tidak berjenis kelamin, kekal murni. Adalah kebohongan untuk mengatakan bahwa saya adalah laki-laki atau perempuan, atau mengatakan bahwa saya berasal dari negeri ini atau itu. Seluruh dunia adalah negeri saya, seluruh alam semesta adalah milik saya, sebab saya telah mengenakannya sebagai tubuh saya. Namun kita melihat bahwa ada orang-orang di dunia ini yang siap menegaskan doktrin-doktrin ini, dan pada saat yang sama melakukan hal-hal yang kita sebut kotor; dan jika kita bertanya kepada mereka mengapa mereka melakukannya, mereka mengatakan kepada kita bahwa itu adalah delusi kita dan bahwa mereka tidak mungkin berbuat salah. Apakah ujian yang dengannya mereka harus dinilai? Ujiannya ada di sini.
Meskipun kejahatan dan kebaikan keduanya merupakan manifestasi jiwa yang berkondisi, namun kejahatan adalah lapisan paling luar, dan kebaikan adalah lapisan yang lebih dekat dengan manusia sejati, yakni Diri sejati. Dan kecuali seseorang menembus lapisan kejahatan, ia tidak dapat mencapai lapisan kebaikan, dan kecuali ia telah melewati kedua lapisan, yakni kebaikan dan kejahatan, ia tidak dapat mencapai Diri sejati. Dia yang mencapai Diri sejati, apa yang masih melekat padanya? Sedikit Karma, sedikit momentum dari kehidupan masa lalu, tetapi semuanya adalah momentum yang baik. Sampai momentum buruk sepenuhnya terurai dan ketidakmurnian masa lalu sepenuhnya terbakar habis, tidak mungkin bagi seseorang untuk melihat dan menyadari kebenaran. Maka, apa yang masih melekat pada orang yang telah mencapai Diri sejati dan telah melihat kebenaran adalah sisa kesan-kesan baik dari kehidupan masa lalu, yakni momentum baik. Bahkan jika ia hidup dalam tubuh dan bekerja tanpa henti, ia bekerja hanya untuk berbuat baik; bibirnya hanya mengucapkan berkat bagi semua; tangannya hanya melakukan perbuatan-perbuatan baik; pikirannya hanya dapat memikirkan pikiran-pikiran yang baik; kehadirannya adalah suatu berkah ke mana pun ia pergi. Ia sendiri adalah berkah yang hidup. Orang semacam itu, dengan kehadirannya saja, akan mengubah bahkan orang yang paling jahat sekalipun menjadi orang suci. Bahkan jika ia tidak berbicara, kehadirannya saja akan menjadi berkah bagi umat manusia. Dapatkah orang-orang semacam itu melakukan kejahatan apa pun; dapatkah mereka melakukan perbuatan-perbuatan jahat? Ada, Anda harus ingat, perbedaan sebesar antara kutub ke kutub antara realisasi dan sekadar berbicara. Setiap orang bodoh bisa berbicara. Bahkan burung beo pun berbicara. Berbicara adalah satu hal, dan menyadari adalah hal lain. Filsafat-filsafat, doktrin-doktrin, argumen-argumen, buku-buku, teori-teori, gereja-gereja, sekte-sekte, dan semua hal ini baik dengan caranya masing-masing; tetapi ketika realisasi itu datang, hal-hal ini berguguran. Misalnya, peta-peta itu baik, tetapi ketika Anda melihat negeri itu sendiri, lalu melihat lagi peta-peta itu, betapa besar perbedaan yang Anda temukan! Maka mereka yang telah menyadari kebenaran tidak memerlukan penalaran logika dan segala senam intelektual lainnya untuk membuat mereka memahami kebenaran; bagi mereka itu adalah kehidupan dari kehidupan mereka, yang terkonkretkan, lebih dari sekadar teraba. Sebagaimana dikatakan para bijak Vedanta (filsafat akhir Veda), "bahkan seperti sebuah buah di tangan Anda"; Anda dapat berdiri dan berkata, ia ada di sini. Demikian pula mereka yang telah menyadari kebenaran akan berdiri dan berkata, "Inilah Diri sejati". Anda boleh berdebat dengan mereka selama bertahun-tahun, tetapi mereka akan tersenyum kepada Anda; mereka akan menganggap semuanya sebagai celoteh anak; mereka akan membiarkan anak itu berceloteh terus. Mereka telah menyadari kebenaran dan penuh sudah. Andaikan Anda telah melihat suatu negeri, dan seorang lain datang kepada Anda dan mencoba berdebat dengan Anda bahwa negeri itu tidak pernah ada, ia boleh saja terus berdebat tanpa batas, tetapi satu-satunya sikap pikiran Anda terhadapnya haruslah menganggap bahwa orang itu pantas untuk rumah sakit jiwa. Demikianlah orang yang telah berealisasi berkata, "Semua pembicaraan di dunia tentang agama-agama kecilnya hanyalah celoteh; realisasi adalah jiwa, hakikat sejati dari agama." Agama dapat direalisasikan. Apakah Anda siap? Apakah Anda menginginkannya? Anda akan memperoleh realisasi itu jika Anda menginginkannya, dan kemudian Anda akan benar-benar religius. Sampai Anda mencapai realisasi, tidak ada perbedaan antara Anda dan kaum ateis. Kaum ateis bersikap tulus, tetapi orang yang mengatakan bahwa ia percaya kepada agama dan tidak pernah berusaha merealisasikannya tidaklah tulus.
Pertanyaan berikutnya adalah mengetahui apa yang terjadi setelah realisasi. Andaikan kita telah menyadari kesatuan alam semesta ini, bahwa kita adalah satu Wujud Tak Terhingga itu, dan andaikan kita telah menyadari bahwa Diri sejati ini adalah satu-satunya Keberadaan dan bahwa ialah Diri yang sama yang memanifestasikan diri dalam semua berbagai wujud fenomenal ini, apa jadinya dengan kita setelah itu? Akankah kita menjadi tak aktif, masuk ke sebuah sudut dan duduk di sana lalu mati perlahan? "Apa baiknya itu bagi dunia?" Itulah pertanyaan lama itu! Pertama-tama, mengapa ia harus berbuat baik bagi dunia? Adakah alasan mengapa ia harus demikian? Apa hak siapa pun untuk mengajukan pertanyaan, "Apa baiknya itu bagi dunia?" Apa yang dimaksud dengan itu? Seorang bayi menyukai permen. Andaikan Anda sedang melakukan penyelidikan terkait suatu pokok bahasan tentang listrik dan bayi itu bertanya kepada Anda, "Apakah itu membeli permen?" "Tidak," Anda menjawab. "Lalu apa baiknya itu?" kata bayi itu. Demikianlah manusia berdiri dan berkata, "Apa baiknya hal ini bagi dunia; apakah ia akan memberi kami uang?" "Tidak." "Lalu apa baiknya di dalamnya?" Itulah yang dimaksudkan manusia dengan berbuat baik bagi dunia. Namun realisasi religius melakukan segala kebaikan bagi dunia. Orang-orang takut bahwa ketika mereka mencapainya, ketika mereka menyadari bahwa yang ada hanya satu, mata-air kasih akan mengering, segala sesuatu dalam hidup akan lenyap, dan semua yang mereka cintai akan lenyap bagi mereka, seakan-akan, dalam kehidupan ini dan dalam kehidupan yang akan datang. Orang-orang tidak pernah berhenti untuk memikirkan bahwa mereka yang paling sedikit memikirkan individualitas mereka sendiri telah menjadi para pekerja terbesar di dunia. Hanya pada saat itulah seseorang mencintai ketika ia menemukan bahwa objek cintanya bukanlah sesuatu yang rendah, kecil, dan fana. Hanya pada saat itulah seseorang mencintai ketika ia menemukan bahwa objek cintanya bukanlah segumpal tanah, melainkan Tuhan itu sendiri yang sejati. Istri akan lebih mencintai suaminya ketika ia berpikir bahwa suaminya adalah Tuhan itu sendiri. Suami akan lebih mencintai istrinya ketika ia mengetahui bahwa istrinya adalah Tuhan itu sendiri. Ibu itu akan lebih mencintai anak-anaknya yang berpikir bahwa anak-anak itu adalah Tuhan itu sendiri. Orang itu akan mencintai musuh terbesarnya yang mengetahui bahwa musuh itu sendiri adalah Tuhan itu sendiri. Orang itu akan mencintai orang suci yang mengetahui bahwa orang suci itu adalah Tuhan itu sendiri, dan orang itu juga akan mencintai orang yang paling tidak suci di antara manusia karena ia mengetahui bahwa latar belakang dari orang yang paling tidak suci itu pun adalah Dia, sang Tuhan. Orang semacam itu menjadi penggerak dunia, bagi siapa diri kecilnya telah mati dan Tuhan berdiri di tempatnya. Seluruh alam semesta akan berubah rupa baginya. Apa yang menyakitkan dan menyedihkan semuanya akan lenyap; perjuangan-perjuangan semuanya akan berlalu dan pergi. Daripada menjadi sebuah rumah penjara, di mana setiap hari kita berjuang, bertempur, dan bersaing memperebutkan sesuap roti, alam semesta ini bagi kita akan menjadi sebuah taman bermain. Indahlah alam semesta ini kala itu! Hanya orang semacam itulah yang berhak berdiri dan berkata, "Betapa indahnya dunia ini!" Hanya dialah yang berhak mengatakan bahwa semuanya baik. Inilah kebaikan besar bagi dunia yang dihasilkan dari realisasi semacam itu, yakni alih-alih dunia ini berjalan dengan segala gesekan dan benturannya, jika seluruh umat manusia pada hari ini menyadari hanya sedikit saja dari kebenaran besar itu, wajah seluruh dunia akan berubah, dan, sebagai ganti pertempuran dan pertengkaran, akan ada masa pemerintahan damai. Ketergesa-gesaan yang tidak senonoh dan brutal yang memaksa kita untuk mendahului setiap orang lain akan lenyap dari dunia. Bersamanya akan lenyap semua perjuangan, bersamanya akan lenyap semua kebencian, bersamanya akan lenyap semua kecemburuan, dan semua kejahatan akan lenyap untuk selama-lamanya. Para dewa kemudian akan hidup di bumi ini. Bumi yang sama ini akan menjadi surga, dan kejahatan apa yang bisa ada ketika dewa-dewa sedang bermain dengan dewa-dewa, ketika dewa-dewa sedang bekerja dengan dewa-dewa, dan dewa-dewa saling mencintai dewa-dewa? Itulah manfaat besar dari realisasi ilahi. Segala sesuatu yang Anda lihat dalam masyarakat akan berubah dan berubah rupa kala itu. Tidak lagi Anda akan menganggap manusia sebagai jahat; dan itulah keuntungan besar yang pertama. Tidak lagi Anda akan berdiri dan dengan nada mencemooh melemparkan pandangan kepada seorang lelaki atau wanita miskin yang telah membuat kesalahan. Tidak lagi, para nyonya, Anda akan memandang rendah dengan penghinaan kepada wanita miskin yang berjalan di jalan-jalan pada malam hari, karena bahkan di sana pun Anda akan melihat Tuhan itu sendiri. Tidak lagi Anda akan memikirkan kecemburuan dan hukuman. Semua itu akan lenyap; dan kasih, ideal besar kasih, akan begitu kuat sehingga tidak ada cambuk dan tali yang diperlukan untuk membimbing umat manusia secara benar.
Jika satu per sejuta bagian dari para lelaki dan perempuan yang hidup di dunia ini cukup duduk dan selama beberapa menit berkata, "Anda semua adalah Tuhan, wahai manusia dan wahai hewan serta makhluk hidup, Anda semua adalah manifestasi dari satu Tuhan yang hidup!" maka seluruh dunia akan berubah dalam setengah jam. Alih-alih melemparkan bom-bom kebencian yang dahsyat ke setiap sudut, alih-alih memproyeksikan arus-arus kecemburuan dan pikiran jahat, di setiap negeri orang-orang akan berpikir bahwa semuanya adalah Dia. Dialah segala yang Anda lihat dan rasakan. Bagaimana Anda dapat melihat kejahatan kecuali ada kejahatan di dalam diri Anda? Bagaimana Anda dapat melihat pencuri, kecuali ia ada di sana, duduk di lubuk hati Anda yang terdalam? Bagaimana Anda dapat melihat seorang pembunuh kecuali Anda sendiri adalah pembunuhnya? Jadilah baik, dan kejahatan akan lenyap bagi Anda. Seluruh alam semesta dengan demikian akan berubah. Inilah keuntungan terbesar bagi masyarakat. Inilah keuntungan besar bagi organisme manusia. Pemikiran-pemikiran ini dipikirkan, dikerjakan di antara individu-individu pada zaman dahulu di India. Karena berbagai alasan, seperti sikap eksklusif para guru dan penaklukan asing, pemikiran-pemikiran itu tidak diizinkan untuk tersebar. Namun pemikiran-pemikiran itu adalah kebenaran-kebenaran yang agung; dan ke mana pun pemikiran itu telah bekerja, manusia telah menjadi ilahi. Seluruh hidup saya telah diubah oleh sentuhan salah seorang dari manusia ilahi itu, yang tentangnya saya akan berbicara kepada Anda Minggu depan; dan masanya akan datang ketika pemikiran-pemikiran ini akan disebarkan ke seluruh dunia. Alih-alih hidup di biara-biara, alih-alih dibatasi pada buku-buku filsafat yang hanya dipelajari oleh kaum terpelajar, alih-alih menjadi milik eksklusif sekte-sekte dan segelintir kaum terpelajar, pemikiran-pemikiran itu akan disebarluaskan ke seluruh dunia, sehingga ia dapat menjadi milik bersama orang suci dan pendosa, kaum lelaki, perempuan, dan anak-anak, kaum terpelajar dan kaum yang tidak tahu. Ia kemudian akan meresap ke dalam atmosfer dunia, dan udara yang kita hirup akan berkata pada setiap denyutnya, "Engkaulah Itu". Dan seluruh alam semesta dengan berjuta-juta matahari dan bulannya, melalui segala sesuatu yang berbicara, dengan satu suara akan berkata, "Engkaulah Itu".
English
CHAPTER XVI
THE REAL AND THE APPARENT MAN
(Delivered in New York)
Here we stand, and our eyes look forward sometimes miles ahead. Man has been doing that since he began to think. He is always looking forward, looking ahead. He wants to know where he goes even after the dissolution of his body. Various theories have been propounded, system after system has been brought forward to suggest explanations. Some have been rejected, while others have been accepted, and thus it will go on, so long as man is here, so long as man thinks. There is some truth in each of these systems. There is a good deal of what is not truth in all of them. I shall try to place before you the sum and substance, the result, of the inquiries in this line that have been made in India. I shall try to harmonise the various thoughts on the subject, as they have come up from time to time among Indian philosophers. I shall try to harmonise the psychologists and the metaphysicians, and, if possible, I shall harmonise them with modern scientific thinkers also.
The one theme of the Vedanta philosophy is the search after unity. The Hindu mind does not care for the particular; it is always after the general, nay, the universal. "What is that, by knowing which everything else is to be known?" That is the one theme. "As through the knowledge of one lump of clay all that is of clay is known, so, what is that, by knowing which this whole universe itself will be known?" That is the one search. The whole of this universe, according to the Hindu philosophers, can be resolved into one material, which they call Âkâsha. Everything that we see around us, feel, touch, taste, is simply a differentiated manifestation of this Akasha. It is all-pervading, fine. All that we call solids, liquids, or gases, figures, forms, or bodies, the earth, sun, moon, and stars — everything is composed of this Akasha.
What force is it which acts upon this Akasha and manufactures this universe out of it? Along with Akasha exists universal power; all that is power in the universe, manifesting as force or attraction — nay, even as thought — is but a different manifestation of that one power which the Hindus call Prâna. This Prana, acting on Akasha, is creating the whole of this universe. In the beginning of a cycle, this Prana, as it were, sleeps in the infinite ocean of Akasha. It existed motionless in the beginning. Then arises motion in this ocean of Akasha by the action of this Prana, and as this Prana begins to move, to vibrate, out of this ocean come the various celestial systems, suns, moons, stars, earth, human beings, animals, plants, and the manifestations of all the various forces and phenomena. Every manifestation of power, therefore, according to them, is this Prana. Every material manifestation is Akasha. When this cycle will end, all that we call solid will melt away into the next form, the next finer or the liquid form; that will melt into the gaseous, and that into finer and more uniform heat vibrations, and all will melt back into the original Akasha, and what we now call attraction, repulsion, and motion, will slowly resolve into the original Prana. Then this Prana is said to sleep for a period, again to emerge and to throw out all those forms; and when this period will end, the whole thing will subside again. Thus this process of creation is going down, and coming up, oscillating backwards and forwards. In the language of modern science, it is becoming static during one period, and during another period it is becoming dynamic. At one time it becomes potential, and at the next period it becomes active. This alteration has gone on through eternity.
Yet, this analysis is only partial. This much has been known even to modern physical science. Beyond that, the research of physical science cannot reach. But the inquiry does not stop in consequence. We have not yet found that one, by knowing which everything else will be known. We have resolved the whole universe into two components, into what are called matter and energy, or what the ancient philosophers of India called Akasha and Prana. The next step is to resolve this Akasha and the Prana into their origin. Both can be resolved into the still higher entity which is called mind. It is out of mind, the Mahat, the universally existing thought-power, that these two have been produced. Thought is a still finer manifestation of being than either Akasha or Prana. It is thought that splits itself into these two. The universal thought existed in the beginning, and that manifested, changed, evolved itself into these two Akasha and Prana: and by the combination of these two the whole universe has been produced.
We next come to psychology. I am looking at you. The external sensations are brought to me by the eyes; they are carried by the sensory nerves to the brain. The eyes are not the organs of vision. They are but the external instruments, because if the real organ behind, that which carries the sensation to the brain, is destroyed, I may have twenty eyes, yet I cannot see you. The picture on the retina may be as complete as possible, yet I shall not see you. Therefore, the organ is different from its instruments; behind the instruments, the eyes, there must be the organ So it is with all the sensations. The nose is not the sense of smell; it is but the instrument, and behind it is the organ. With every sense we have, there is first the external instrument in the physical body; behind that in the same physical body, there is the organ; yet these are not sufficient. Suppose I am talking to you, and you are listening to me with close attention. Something happens, say, a bell rings; you will not, perhaps, hear the bell ring. The pulsations of that sound came to your ear, struck the tympanum, the impression was carried by the nerve into the brain; if the whole process was complete up to carrying the impulse to the brain, why did you not hear? Something else was wanting — the mind was not attached to the organ. When the mind detaches itself from the organ, the organ may bring any news to it, but the mind will not receive it. When it attaches itself to the organ, then alone is it possible for the mind to receive the news. Yet, even that does not complete the whole. The instruments may bring the sensation from outside, the organs may carry it inside, the mind may attach itself to the organ, and yet the perception may not be complete. One more factor is necessary; there must be a reaction within. With this reaction comes knowledge. That which is outside sends, as it were, the current of news into my brain. My mind takes it up, and presents it to the intellect, which groups it in relation to pre-received impressions and sends a current of reaction, and with that reaction comes perception. Here, then, is the will. The state of mind which reacts is called Buddhi, the intellect. Yet, even this does not complete the whole. One step more is required. Suppose here is a camera and there is a sheet of cloth, and I try to throw a picture on that sheet. What am I to do? I am to guide various rays of light through the camera to fall upon the sheet and become grouped there. Something is necessary to have the picture thrown upon, which does not move. I cannot form a picture upon something which is moving; that something must be stationary, because the rays of light which I throw on it are moving, and these moving rays of light, must be gathered, unified, co-ordinated, and completed upon something which is stationary. Similar is the case with the sensations which these organs of ours are carrying inside and presenting to the mind, and which the mind in its turn is presenting to the intellect. This process will not be complete unless there is something permanent in the background upon which the picture, as it were, may be formed, upon which we may unify all the different impressions. What is it that gives unity to the changing whole of our being? What is it that keeps up the identity of the moving thing moment after moment? What is it upon which all our different impressions are pieced together, upon which the perceptions, as it were, come together, reside, and form a united whole? We have found that to serve this end there must be something, and we also see that that something must be, relatively to the body and mind, motionless. The sheet of cloth upon which the camera throws the picture is, relatively to the rays of light, motionless, else there will be no picture. That is to say, the perceiver must be an individual. This something upon which the mind is painting all these pictures, this something upon which our sensations, carried by the mind and intellect, are placed and grouped and formed into a unity, is what is called the soul of man.
We have seen that it is the universal cosmic mind that splits itself into the Akasha and Prana, and beyond mind we have found the soul in us. In the universe, behind the universal mind, there is a Soul that exists, and it is called God. In the individual it is the soul of man. In this universe, in the cosmos, just as the universal mind becomes evolved into Akasha and Prana, even so, we may find that the Universal Soul Itself becomes evolved as mind. Is it really so with the individual man? Is his mind the creator of his body, and his soul the creator of his mind? That is to say, are his body, his mind, and his soul three different existences or are they three in one or, again, are they different states of existence of the same unit being? We shall gradually try to find an answer to this question. The first step that we have now gained is this: here is this external body, behind this external body are the organs, the mind, the intellect, and behind this is the soul. At the first step, we have found, as it were, that the soul is separate from the body, separate from the mind itself. Opinions in the religious world become divided at this point, and the departure is this. All those religious views which generally pass under the name of dualism hold that this soul is qualified, that it is of various qualities, that all feelings of enjoyment, pleasure, and pain really belong to the soul. The non-dualists deny that the soul has any such qualities; they say it is unqualified.
Let me first take up the dualists, and try to present to you their position with regard to the soul and its destiny; next, the system that contradicts them; and lastly, let us try to find the harmony which non-dualism will bring to us. This soul of man, because it is separate from the mind and body, because it is not composed of Akasha and Prana, must be immortal. Why? What do we mean by mortality? Decomposition. And that is only possible for things that are the result of composition; anything that is made of two or three ingredients must become decomposed. That alone which is not the result of composition can never become decomposed, and, therefore, can never die. It is immortal. It has been existing throughout eternity; it is uncreate. Every item of creation is simply a composition; no one ever saw creation come out of nothing. All that we know of creation is the combination of already existing things into newer forms. That being so, this soul of man, being simple, must have been existing for ever, and it will exist for ever. When this body falls off, the soul lives on. According to the Vedantists, when this body dissolves, the vital forces of the man go back to his mind and the mind becomes dissolved, as it were, into the Prana, and that Prana enters into the soul of man, and the soul of man comes out, clothed, as it were, with what they call the fine body, the mental body, or spiritual body, as you may like to call it. In this body are the Samskâras of the man. What are the Samskaras? This mind is like a lake, and every thought is like a wave upon that lake. Just as in the lake waves rise and then fall down and disappear, so these thought-waves are continually rising in the mind-stuff and then disappearing, but they do not disappear for ever. They become finer and finer, but they are all there, ready to start up at another time when called upon to do so. Memory is simply calling back into waveform some of those thoughts which have gone into that finer state of existence. Thus, everything that we have thought, every action that we have done, is lodged in the mind; it is all there in fine form, and when a man dies, the sum total of these impressions is in the mind, which again works upon a little fine material as a medium. The soul, clothed, as it were, with these impressions and the fine body, passes out, and the destiny of the soul is guided by the resultant of all the different forces represented by the different impressions. According to us, there are three different goals for the soul.
Those that are very spiritual, when they die, follow the solar rays and reach what is called the solar sphere, through which they reach what is called the lunar sphere, and through that they reach what is called the sphere of lightning, and there they meet with another soul who is already blessed, and he guides the new-comer forward to the highest of all spheres, which is called the Brahmaloka, the sphere of Brahmâ. There these souls attain to omniscience and omnipotence, become almost as powerful and all-knowing as God Himself; and they reside there for ever, according to the dualists, or, according to the non-dualists, they become one with the Universal at the end of the cycle. The next class of persons, who have been doing good work with selfish motives, are carried by the results of their good works, when they die, to what is called lunar sphere, where there are various heavens, and there they acquire fine bodies, the bodies of gods. They become gods and live there and enjoy the blessing of heaven for a long period; and after that period is finished, the old Karma is again upon them, and so they fall back again to the earth; they come down through the spheres of air and clouds and all these various regions, and, at last, reach the earth through raindrops. There on the earth they attach themselves to some cereal which is eventually eaten by some man who is fit to supply them with material to make a new body. The last class, namely, the wicked, when they die, become ghosts or demons, and live somewhere midway between the lunar sphere and this earth. Some try to disturb mankind, some are friendly; and after living there for some time they also fall back to the earth and become animals. After living for some time in an animal body they get released, and come back, and become men again, and thus get one more chance to work out their salvation. We see, then, that those who have nearly attained to perfection, in whom only very little of impurity remains, go to the Brahmaloka through the rays of the sun; those who were a middling sort of people, who did some good work here with the idea of going to heaven, go to the heavens in the lunar sphere and there obtain god-bodies; but they have again to become men and so have one more chance to become perfect. Those that are very wicked become ghosts and demons, and then they may have to become animals; after that they become men again and get another chance to perfect themselves. This earth is called the Karma-Bhumi, the sphere of Karma. Here alone man makes his good or bad Karma. When a man wants to go to heaven and does good works for that purpose, he becomes as good and does not as such store up any bad Karma. He just enjoys the effects of the good work he did on earth; and when this good Karma is exhausted, there come, upon him the resultant force of all the evil Karma he had previously stored up in life, and that brings him down again to this earth. In the same way, those that become ghosts remain in that state, not giving rise to fresh Karma, but suffer the evil results of their past misdeeds, and later on remain for a time in an animal body without causing any fresh Karma. When that period is finished, they too become men again. The states of reward and punishment due to good and bad Karmas are devoid of the force generating fresh Karmas; they have only to be enjoyed or suffered. If there is an extraordinarily good or an extraordinarily evil Karma, it bears fruit very quickly. For instance, if a man has been doing many evil things all his life, but does one good act, the result of that good act will immediately appear, but when that result has been gone through, all the evil acts must produce their results also. All men who do certain good and great acts, but the general tenor of whose lives has not been correct, will become gods; and after living for some time in god-bodies, enjoying the powers of gods, they will have again to become men; when the power of the good acts is thus finished, the old evil comes up to be worked out. Those who do extraordinarily evil acts have to put on ghost and devil bodies, and when the effect of those evil actions is exhausted, the little good action which remains associated with them, makes them again become men. The way to Brahmaloka, from which there is no more fall or return, is called the Devayâna, i.e. the way to God; the way to heaven is known as Pitriyâna, i.e. the way to the fathers.
Man, therefore, according to the Vedanta philosophy, is the greatest being that is in the universe, and this world of work the best place in it, because only herein is the greatest and the best chance for him to become perfect. Angels or gods, whatever you may call them, have all to become men, if they want to become perfect. This is the great centre, the wonderful poise, and the wonderful opportunity — this human life.
We come next to the other aspect of philosophy. There are Buddhists who deny the whole theory of the soul that I have just now been propounding. "What use is there," says the Buddhist, "to assume something as the substratum, as the background of this body and mind? Why may we not allow thoughts to run on? Why admit a third substance beyond this organism, composed of mind and body, a third substance called the soul? What is its use? Is not this organism sufficient to explain itself? Why take anew a third something?" These arguments are very powerful. This reasoning is very strong. So far as outside research goes, we see that this organism is a sufficient explanation of itself — at least, many of us see it in that light. Why then need there be a soul as substratum, as a something which is neither mind nor body but stands as a background for both mind and body? Let there be only mind and body. Body is the name of a stream of matter continuously changing. Mind is the name of a stream of consciousness or thought continuously changing. What produces the apparent unity between these two? This unity does not really exist, let us say. Take, for instance, a lighted torch, and whirl it rapidly before you. You see a circle of fire. The circle does not really exist, but because the torch is continually moving, it leaves the appearance of a circle. So there is no unity in this life; it is a mass of matter continually rushing down, and the whole of this matter you may call one unity, but no more. So is mind; each thought is separate from every other thought; it is only the rushing current that leaves behind the illusion of unity; there is no need of a third substance. This universal phenomenon of body and mind is all that really is; do not posit something behind it. You will find that this Buddhist thought has been taken up by certain sects and schools in modern times, and all of them claim that it is new — their own invention. This has been the central idea of most of the Buddhistic philosophies, that this world is itself all-sufficient; that you need not ask for any background at all; all that is, is this sense-universe: what is the use of thinking of something as a support to this universe? Everything is the aggregate of qualities; why should there be a hypothetical substance in which they should inhere? The idea of substance comes from the rapid interchange of qualities, not from something unchangeable which exists behind them. We see how wonderful some of these arguments are, and they appeal easily to the ordinary experience of humanity — in fact, not one in a million can think of anything other than phenomena. To the vast majority of men nature appears to be only a changing, whirling, combining, mingling mass of change. Few of us ever have a glimpse of the calm sea behind. For us it is always lashed into waves; this universe appears to us only as a tossing mass of waves. Thus we find these two opinions. One is that there is something behind both body and mind which is an unchangeable and immovable substance; and the other is that there is no such thing as immovability or unchangeability in the universe; it is all change and nothing but change. The solution of this difference comes in the next step of thought, namely, the non-dualistic.
It says that the dualists are right in finding something behind all, as a background which does not change; we cannot conceive change without there being something unchangeable. We can only conceive of anything that is changeable, by knowing something which is less changeable, and this also must appear more changeable in comparison with something else which is less changeable, and so on and on, until we are bound to admit that there must be something which never changes at all. The whole of this manifestation must have been in a state of non-manifestation, calm and silent, being the balance of opposing forces, so to say, when no force operated, because force acts when a disturbance of the equilibrium comes in. The universe is ever hurrying on to return to that state of equilibrium again. If we are certain of any fact whatsoever, we are certain of this. When the dualists claim that there is a something which does not change, they are perfectly right, but their analysis that it is an underlying something which is neither the body nor the mind, a something separate from both, is wrong. So far as the Buddhists say that the whole universe is a mass of change, they are perfectly right; so long as I am separate from the universe, so long as I stand back and look at something before me, so long as there are two things — the looker-on and the thing looked upon — it will appear always that the universe is one of change, continuously changing all the time. But the reality is that there is both change and changelessness in this universe. It is not that the soul and the mind and the body are three separate existences, for this organism made of these three is really one. It is the same thing which appears as the body, as the mind, and as the thing beyond mind and body, but it is not at the same time all these. He who sees the body does not see the mind even, he who sees the mind does not see that which he calls the soul, and he who sees the soul — for him the body and mind have vanished. He who sees only motion never sees absolute calm, and he who sees absolute calm — for him motion has vanished. A rope is taken for a snake. He who sees the rope as the snake, for him the rope has vanished, and when the delusion ceases and he looks at the rope, the snake has vanished.
There is then but one all-comprehending existence, and that one appears as manifold. This Self or Soul or Substance is all that exists in the universe. That Self or Substance or Soul is, in the language of non-dualism, the Brahman appearing to be manifold by the interposition of name and form. Look at the waves in the sea. Not one wave is really different from the sea, but what makes the wave apparently different? Name and form; the form of the wave and the name which we give to it, "wave". This is what makes it different from the sea. When name and form go, it is the same sea. Who can make any real difference between the wave and the sea? So this whole universe is that one Unit Existence; name and form have created all these various differences. As when the sun shines upon millions of globules of water, upon each particle is seen a most perfect representation of the sun, so the one Soul, the one Self, the one Existence of the universe, being reflected on all these numerous globules of varying names and forms, appears to be various. But it is in reality only one. There is no "I" nor "you"; it is all one. It is either all "I" or all "you". This idea of duality, calf two, is entirely false, and the whole universe, as we ordinarily know it, is the result of this false knowledge. When discrimination comes and man finds there are not two but one, he finds that he is himself this universe. "It is I who am this universe as it now exists, a continuous mass of change. It is I who am beyond all changes, beyond all qualities, the eternally perfect, the eternally blessed."
There is, therefore, but one Atman, one Self, eternally pure, eternally perfect, unchangeable, unchanged; it has never changed; and all these various changes in the universe are but appearances in that one Self.
Upon it name and form have painted all these dreams; it is the form that makes the wave different from the sea. Suppose the wave subsides, will the form remain? No, it will vanish. The existence of the wave was entirely dependent upon the existence of the sea, but the existence of the sea was not at all dependent upon the existence of the wave. The form remains so long as the wave remains, but as soon as the wave leaves it, it vanishes, it cannot remain. This name and form is the outcome of what is called Maya. It is this Maya that is making individuals, making one appear different from another. Yet it has no existence. Maya cannot be said to exist. Form cannot be said to exist, because it depends upon the existence of another thing. It cannot be said as not to exist, seeing that it makes all this difference. According to the Advaita philosophy, then, this Maya or ignorance — or name and form, or, as it has been called in Europe, "time, space, and causality" — is out of this one Infinite Existence showing us the manifoldness of the universe; in substance, this universe is one. So long as any one thinks that there are two ultimate realities, he is mistaken. When he has come to know that there is but one, he is right. This is what is being proved to us every day, on the physical plane, on the mental plane, and also on the spiritual plane. Today it has been demonstrated that you and I, the sun, the moon, and the stars are but the different names of different spots in the same ocean of matter, and that this matter is continuously changing in its configuration. This particle of energy that was in the sun several months ago may be in the human being now; tomorrow it may be in an animal, the day after tomorrow it may be in a plant. It is ever coming and going. It is all one unbroken, infinite mass of matter, only differentiated by names and forms. One point is called the sun; another, the moon; another, the stars; another, man; another, animal; another, plant; and so on. And all these names are fictitious; they have no reality, because the whole is a continuously changing mass of matter. This very same universe, from another standpoint, is an ocean of thought, where each one of us is a point called a particular mind. You are a mind, I am a mind, everyone is a mind; and the very same universe viewed from the standpoint of knowledge, when the eyes have been cleared of delusions, when the mind has become pure, appears to be the unbroken Absolute Being, the ever pure, the unchangeable, the immortal.
What then becomes of all this threefold eschatology of the dualist, that when a man dies he goes to heaven, or goes to this or that sphere, and that the wicked persons become ghosts, and become animals, and so forth? None comes and none goes, says the non-dualist. How can you come and go? You are infinite; where is the place for you to go? In a certain school a number of little children were being examined. The examiner had foolishly put all sorts of difficult questions to the little children. Among others there was this question: "Why does not the earth fall ?" His intention was to bring out the idea of gravitation or some other intricate scientific truth from these children. Most of them could not even understand the question, and so they gave all sorts of wrong answers. But one bright little girl answered it with another question: "Where shall it fall?" The very question of the examiner was nonsense on the face of it. There is no up and down in the universe; the idea is only relative. So it is with regard to the soul; the very question of birth and death in regard to it is utter nonsense. Who goes and who comes? Where are you not? Where is the heaven that you are not in already? Omnipresent is the Self of man. Where is it to go? Where is it not to go? It is everywhere. So all this childish dream and puerile illusion of birth and death, of heavens and higher heavens and lower worlds, all vanish immediately for the perfect. For the nearly perfect it vanishes after showing them the several scenes up to Brahmaloka. It continues for the ignorant.
How is it that the whole world believes in going to heaven, and in dying and being born? I am studying a book, page after page is being read and turned over. Another page comes and is turned over. Who changes? Who comes and goes? Not I, but the book. This whole nature is a book before the soul, chapter after chapter is being read and turned over, and every now and then a scene opens. That is read and turned over. A fresh one comes, but the soul is ever the same — eternal. It is nature that is changing, not the soul of man. This never changes. Birth and death are in nature, not in you. Yet the ignorant are deluded; just as we under delusion think that the sun is moving and not the earth, in exactly the same way we think that we are dying, and not nature. These are all, therefore, hallucinations. Just as it is a hallucination when we think that the fields are moving and not the railway train, exactly in the same manner is the hallucination of birth and death. When men are in a certain frame of mind, they see this very existence as the earth, as the sun, the moon, the stars; and all those who are in the same state of mind see the same things. Between you and me there may be millions of beings on different planes of existence. They will never see us, nor we them; we only see those who are in the same state of mind and on the same plane with us. Those musical instruments respond which have the same attunement of vibration, as it were; if the state of vibration, which they call "man-vibration", should be changed, no longer would men be seen here; the whole "man-universe" would vanish, and instead of that, other scenery would come before us, perhaps gods and the god-universe, or perhaps, for the wicked man, devils and the diabolic world; but all would be only different views of the one universe. It is this universe which, from the human plane, is seen as the earth, the sun, the moon, the stars, and all such things — it is this very universe which, seen from the plane of wickedness, appears as a place of punishment. And this very universe is seen as heaven by those who want to see it as heaven. Those who have been dreaming of going to a God who is sitting on a throne, and of standing there praising Him all their lives, when they die, will simply see a vision of what they have in their minds; this very universe will simply change into a vast heaven, with all sorts of winged beings flying about and a God sitting on a throne. These heavens are all of man's own making. So what the dualist says is true, says the Advaitin, but it is all simply of his own making. These spheres and devils and gods and reincarnations and transmigrations are all mythology; so also is this human life. The great mistake that men always make is to think that this life alone is true. They understand it well enough when other things are called mythologies, but are never willing to admit the same of their own position. The whole thing as it appears is mere mythology, and the greatest of all lies is that we are bodies, which we never were nor even can be. It is the greatest of all lies that we are mere men; we are the God of the universe. In worshipping God we have been always worshipping our own hidden Self. The worst lie that you ever tell yourself is that you were born a sinner or a wicked man. He alone is a sinner who sees a sinner in another man. Suppose there is a baby here, and you place a bag of gold on the table. Suppose a robber comes and takes the gold away. To the baby it is all the same; because there is no robber inside, there is no robber outside. To sinners and vile men, there is vileness outside, but not to good men. So the wicked see this universe as a hell, and the partially good see it as heaven, while the perfect beings realise it as God Himself. Then alone the veil falls from the eyes, and the man, purified and cleansed, finds his whole vision changed. The bad dreams that have been torturing him for millions of years, all vanish, and he who was thinking of himself either as a man, or a god, or a demon, he who was thinking of himself as living in low places, in high places, on earth, in heaven, and so on, finds that he is really omnipresent; that all time is in him, and that he is not in time; that all the heavens are in him, that he is not in any heaven; and that all the gods that man ever worshipped are in him, and that he is not in any one of those gods. He was the manufacturer of gods and demons, of men and plants and animals and stones, and the real nature of man now stands unfolded to him as being higher than heaven, more perfect than this universe of ours, more infinite than infinite time, more omnipresent than the omnipresent ether. Thus alone man becomes fearless, and becomes free. Then all delusions cease, all miseries vanish, all fears come to an end for ever. Birth goes away and with it death; pains fly, and with them fly away pleasures; earths vanish, and with them vanish heavens; bodies vanish, and with them vanishes the mind also. For that man disappears the whole universe, as it were. This searching, moving, continuous struggle of forces stops for ever, and that which was manifesting itself as force and matter, as struggles of nature, as nature itself, as heavens and earths and plants and animals and men and angels, all that becomes transfigured into one infinite, unbreakable, unchangeable existence, and the knowing man finds that he is one with that existence. "Even as clouds of various colours come before the sky, remain there for a second and then vanish away," even so before this soul are all these visions coming, of earths and heavens, of the moon and the gods, of pleasures and pains; but they all pass away leaving the one infinite, blue, unchangeable sky. The sky never changes; it is the clouds that change. It is a mistake to think that the sky is changed. It is a mistake to think that we are impure, that we are limited, that we are separate. The real man is the one Unit Existence.
Two questions now arise. The first is: "Is it possible to realise this? So far it is doctrine, philosophy, but is it possible to realise it?" It is. There are men still living in this world for whom delusion has vanished for ever. Do they immediately die after such realisation? Not so soon as we should think. Two wheels joined by one pole are running together. If I get hold of one of the wheels and, with an axe, cut the pole asunder, the wheel which I have got hold of stops, but upon the other wheel is its past momentum, so it runs on a little arid then falls down. This pure and perfect being, the soul, is one wheel, and this external hallucination of body and mind is the other wheel, joined together by the pole of work, of Karma. Knowledge is the axe which will sever the bond between the two, and the wheel of the soul will stop — stop thinking that it is coming and going, living and dying, stop thinking that it is nature and has wants and desires, and will find that it is perfect, desireless. But upon the other wheel, that of the body and mind, will be the momentum of past acts; so it will live for some time, until that momentum of past work is exhausted, until that momentum is worked away, and then the body and mind fall, and the soul becomes free. No more is there any going to heaven and coming back, not even any going to the Brahmaloka, or to any of the highest of the spheres, for where is he to come from, or to go to? The man who has in this life attained to this state, for whom, for a minute at least, the ordinary vision of the world has changed and the reality has been apparent, he is called the "Living Free". This is the goal of the Vedantin, to attain freedom while living.
Once in Western India I was travelling in the desert country on the coast of the Indian Ocean. For days and days I used to travel on foot through the desert, but it was to my surprise that I saw every day beautiful lakes, with trees all round them, and the shadows of the trees upside down and vibrating there. "How wonderful it looks and they call this a desert country!" I said to myself. Nearly a month I travelled, seeing these wonderful lakes and trees and plants. One day I was very thirsty and wanted to have a drink of water, so I started to go to one of these clear, beautiful lakes, and as I approached, it vanished. And with a flash it came to my brain, "This is the mirage about which I have read all my life," and with that came also the idea that throughout the whole of this month, every day, I had been seeing the mirage and did not know it. The next morning I began my march. There was again the lake, but with it came also the idea that it was the mirage and not a true lake. So is it with this universe. We are all travelling in this mirage of the world day after day, month after month, year after year, not knowing that it is a mirage. One day it will break up, but it will come back again; the body has to remain under the power of past Karma, and so the mirage will come back. This world will come back upon us so long as we are bound by Karma: men, women, animals, plants, our attachments and duties, all will come back to us, but not with the same power. Under the influence of the new knowledge the strength of Karma will be broken, its poison will be lost. It becomes transformed, for along with it there comes the idea that we know it now, that the sharp distinction between the reality and the mirage has been known.
This world will not then be the same world as before. There is, however, a danger here. We see in every country people taking up this philosophy and saying, "I am beyond all virtue and vice; so I am not bound by any moral laws; I may do anything I like." You may find many fools in this country at the present time, saying, "I am not bound; I am God Himself; let me do anything I like." This is not right, although it is true that the soul is beyond all laws, physical, mental, or moral. Within law is bondage; beyond law is freedom. It is also true that freedom is of the nature of the soul, it is its birthright: that real freedom of the soul shines through veils of matter in the form of the apparent freedom of man. Every moment of your life you feel that you are free. We cannot live, talk, or breathe for a moment without feeling that we are free; but, at the same time, a little thought shows us that we are like machines and not free. What is true then? Is this idea of freedom a delusion? One party holds that the idea of freedom is a delusion; another says that the idea of bondage is a delusion. How does this happen? Man is really free, the real man cannot but be free. It is when he comes into the world of Maya, into name and form, that he becomes bound. Free will is a misnomer. Will can never be free. How can it be? It is only when the real man has become bound that his will comes into existence, and not before. The will of man is bound, but that which is the foundation of that will is eternally free. So, even in the state of bondage which we call human life or god-life, on earth or in heaven, there yet remains to us that recollection of the freedom which is ours by divine right. And consciously or unconsciously we are all struggling towards it. When a man has attained his own freedom, how can he be bound by any law? No law in this universe can bind him, for this universe itself is his.
He is the whole universe. Either say he is the whole universe or say that to him there is no universe. How can he have then all these little ideas about sex and about country? How can he say, I am a man, I am a woman I am a child? Are they not lies? He knows that they are. How can he say that these are man's rights, and these others are woman's rights? Nobody has rights; nobody separately exists. There is neither man nor woman; the soul is sexless, eternally pure. It is a lie to say that I am a man or a woman, or to say that I belong to this country or that. All the world is my country, the whole universe is mine, because I have clothed myself with it as my body. Yet we see that there are people in this world who are ready to assert these doctrines, and at the same time do things which we should call filthy; and if we ask them why they do so, they tell us that it is our delusion and that they can do nothing wrong. What is the test by which they are to be judged? The test is here.
Though evil and good are both conditioned manifestations of the soul, yet evil is the most external coating, and good is the nearer coating of the real man, the Self. And unless a man cuts through the layer of evil he cannot reach the layer of good, and unless he has passed through both the layers of good and evil he cannot reach the Self. He who reaches the Self, what remains attached to him? A little Karma, a little bit of the momentum of past life, but it is all good momentum. Until the bad momentum is entirely worked out and past impurities are entirely burnt, it is impossible for any man to see and realise truth. So, what is left attached to the man who has reached the Self and seen the truth is the remnant of the good impressions of past life, the good momentum. Even if he lives in the body and works incessantly, he works only to do good; his lips speak only benediction to all; his hands do only good works; his mind can only think good thoughts; his presence is a blessing wherever he goes. He is himself a living blessing. Such a man will, by his very presence, change even the most wicked persons into saints. Even if he does not speak, his very presence will be a blessing to mankind. Can such men do any evil; can they do wicked deeds? There is, you must remember, all the difference of pole to pole between realisation and mere talking. Any fool can talk. Even parrots talk. Talking is one thing, and realising is another. Philosophies, and doctrines, and arguments, and books, and theories, and churches, and sects, and all these things are good in their own way; but when that realisation comes, these things drop away. For instance, maps are good, but when you see the country itself, and look again at the maps, what a great difference you find! So those that have realised truth do not require the ratiocinations of logic and all other gymnastics of the intellect to make them understand the truth; it is to them the life of their lives, concretised, made more than tangible. It is, as the sages of the Vedanta say, "even as a fruit in your hand"; you can stand up and say, it is here. So those that have realised the truth will stand up and say, "Here is the Self". You may argue with them by the year, but they will smile at you; they will regard it all as child's prattle; they will let the child prattle on. They have realised the truth and are full. Suppose you have seen a country, and another man comes to you and tries to argue with you that that country never existed, he may go on arguing indefinitely, but your only attitude of mind towards him must be to hold that the man is fit for a lunatic asylum. So the man of realisation says, "All this talk in the world about its little religions is but prattle; realisation is the soul, the very essence of religion." Religion can be realised. Are you ready? Do you want it? You will get the realisation if you do, and then you will be truly religious. Until you have attained realisation there is no difference between you and atheists. The atheists are sincere, but the man who says that he believes in religion and never attempts to realise it is not sincere.
The next question is to know what comes after realisation. Suppose we have realised this oneness of the universe, that we are that one Infinite Being, and suppose we have realised that this Self is the only Existence and that it is the same Self which is manifesting in all these various phenomenal forms, what becomes of us after that? Shall we become inactive, get into a corner and sit down there and die away? "What good will it do to the world?" That old question! In the first place, why should it do good to the world? Is there any reason why it should? What right has any one to ask the question, "What good will it do to the world?" What is meant by that? A baby likes candies. Suppose you are conducting investigations in connection with some subject of electricity and the baby asks you, "Does it buy candies?" "No" you answer. "Then what good will it do?" says the baby. So men stand up and say, "What good will this do to the world; will it give us money?" "No." "Then what good is there in it?" That is what men mean by doing good to the world. Yet religious realisation does all the good to the world. People are afraid that when they attain to it, when they realise that there is but one, the fountains of love will be dried up, that everything in life will go away, and that all they love will vanish for them, as it were, in this life and in the life to come. People never stop to think that those who bestowed the least thought on their own individualities have been the greatest workers in the world. Then alone a man loves when he finds that the object of his love is not any low, little, mortal thing. Then alone a man loves when he finds that the object of his love is not a clod of earth, but it is the veritable God Himself. The wife will love the husband the more when she thinks that the husband is God Himself. The husband will love the wife the more when he knows that the wife is God Himself. That mother will love the children more who thinks that the children are God Himself. That man will love his greatest enemy who knows that that very enemy is God Himself. That man will love a holy man who knows that the holy man is God Himself, and that very man will also love the unholiest of men because he knows the background of that unholiest of men is even He, the Lord. Such a man becomes a world-mover for whom his little self is dead and God stands in its place. The whole universe will become transfigured to him. That which is painful and miserable will all vanish; struggles will all depart and go. Instead of being a prison-house, where we every day struggle and fight and compete for a morsel of bread, this universe will then be to us a playground. Beautiful will be this universe then! Such a man alone has the right to stand up and say, "How beautiful is this world!" He alone has the right to say that it is all good. This will be the great good to the world resulting from such realisation, that instead of this world going on with all its friction and clashing, if all mankind today realise only a bit of that great truth, the aspect of the whole world will be changed, and, in place of fighting and quarrelling, there would be a reign of peace. This indecent and brutal hurry which forces us to go ahead of every one else will then vanish from the world. With it will vanish all struggle, with it will vanish all hate, with it will vanish all jealousy, and all evil will vanish away for ever. Gods will live then upon this earth. This very earth will then become heaven, and what evil can there be when gods are playing with gods, when gods are working with gods, and gods are loving gods? That is the great utility of divine realisation. Everything that you see in society will be changed and transfigured then. No more will you think of man as evil; and that is the first great gain. No more will you stand up and sneeringly cast a glance at a poor man or woman who has made a mistake. No more, ladies, will you look down with contempt upon the poor woman who walks the street in the night, because you will see even there God Himself. No more will you think of jealousy and punishments. They will all vanish; and love, the great ideal of love, will be so powerful that no whip and cord will be necessary to guide mankind aright.
If one millionth part of the men and women who live in this world simply sit down and for a few minutes say, "You are all God, O ye men and O ye animals and living beings, you are all the manifestations of the one living Deity!" the whole world will be changed in half an hour. Instead of throwing tremendous bomb-shells of hatred into every corner, instead of projecting currents of jealousy and of evil thought, in every country people will think that it is all He. He is all that you see and feel. How can you see evil until there is evil in you? How can you see the thief, unless he is there, sitting in the heart of your heart? How can you see the murderer until you are yourself the murderer? Be good, and evil will vanish for you. The whole universe will thus be changed. This is the greatest gain to society. This is the great gain to the human organism. These thoughts were thought out, worked out amongst individuals in ancient times in India. For various reasons, such as the exclusiveness of the teachers and foreign conquest, those thoughts were not allowed to spread. Yet they are grand truths; and wherever they have been working, man has become divine. My whole life has been changed by the touch of one of these divine men, about whom I am going to speak to you next Sunday; and the time is coming when these thoughts will be cast abroad over the whole world. Instead of living in monasteries, instead of being confined to books of philosophy to be studied only by the learned, instead of being the exclusive possession of sects and of a few of the learned, they will all be sown broadcast over the whole world, so that they may become the common property of the saint and the sinner, of men and women and children, of the learned and of the ignorant. They will then permeate the atmosphere of the world, and the very air that we breathe will say with every one of its pulsations, "Thou art That". And the whole universe with its myriads of suns and moons, through everything that speaks, with one voice will say, "Thou art That".
Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.