Arsip Vivekananda

Yang Mutlak dan Manifestasi

Jilid2 lecture
4,928 kata · 20 menit baca · Jnana-Yoga

Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.

AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.

Bahasa Indonesia

BAB VI

YANG MUTLAK DAN MANIFESTASI

( Disampaikan di London, 1896 )

Satu pertanyaan yang paling sulit dipahami dalam mengerti filsafat Advaita, dan satu pertanyaan yang akan diajukan berulang kali serta akan selalu tetap ada, ialah: Bagaimana Yang Tak Terhingga, Yang Mutlak, menjadi yang terbatas? Sekarang saya akan mengangkat pertanyaan ini, dan untuk menjelaskannya, saya akan menggunakan sebuah gambar.

Inilah Yang Mutlak (a), dan inilah alam semesta (b). Yang Mutlak telah menjadi alam semesta. Dengan ini yang dimaksudkan bukan hanya dunia materi, melainkan juga dunia mental, dunia spiritual — langit dan bumi, dan pada kenyataannya, segala sesuatu yang ada. Pikiran adalah nama bagi suatu perubahan, dan tubuh adalah nama bagi perubahan lain, dan seterusnya, dan semua perubahan ini menyusun alam semesta kita. Yang Mutlak (a) ini telah menjadi alam semesta (b) dengan melewati waktu, ruang, dan kausalitas (c). Inilah gagasan sentral Advaita. Waktu, ruang, dan kausalitas bagaikan kaca yang melaluinya Yang Mutlak dilihat, dan apabila Ia dilihat dari sisi bawah, Ia tampak sebagai alam semesta. Sekarang dengan segera kita menyimpulkan dari sini bahwa dalam Yang Mutlak tidak ada waktu, ruang, maupun kausalitas. Gagasan tentang waktu tidak dapat ada di sana, mengingat tidak ada pikiran, tidak ada gagasan. Gagasan tentang ruang tidak dapat ada di sana, mengingat tidak ada perubahan eksternal. Apa yang Anda sebut gerak dan kausalitas tidak mungkin ada di tempat yang hanya ada Satu. Kita harus memahami hal ini, dan menanamkannya dalam pikiran kita, bahwa apa yang kita sebut kausalitas dimulai setelah, jika kita boleh mengatakan demikian, kemerosotan Yang Mutlak menjadi fenomenal, dan bukan sebelumnya; bahwa kehendak kita, hasrat kita, dan semua hal ini selalu datang setelah itu. Saya kira filsafat Schopenhauer membuat kesalahan dalam menafsirkan Vedanta, sebab ia berusaha menjadikan kehendak sebagai segalanya. Schopenhauer menempatkan kehendak di tempat Yang Mutlak. Akan tetapi Yang Mutlak tidak dapat dihadirkan sebagai kehendak, sebab kehendak adalah sesuatu yang dapat berubah dan bersifat fenomenal, dan di atas garis yang ditarik melampaui waktu, ruang, dan kausalitas, tidak ada perubahan, tidak ada gerak; hanya di bawah garis itulah gerak eksternal dan gerak internal yang disebut pikiran dimulai. Tidak mungkin ada kehendak di sisi lain, sehingga kehendak tidak dapat menjadi penyebab alam semesta ini. Lebih mendekat lagi, kita melihat dalam tubuh kita sendiri bahwa kehendak bukanlah penyebab setiap gerakan. Saya menggerakkan kursi ini; kehendak saya adalah penyebab gerakan ini, dan kehendak ini terwujud sebagai gerak otot di ujung lain. Akan tetapi kuasa yang sama yang menggerakkan kursi itu juga menggerakkan jantung, paru-paru, dan seterusnya, tetapi tidak melalui kehendak. Mengingat kuasanya sama, ia hanya menjadi kehendak ketika ia naik ke bidang kesadaran, dan menyebutnya kehendak sebelum ia naik ke bidang ini adalah salah kaprah. Hal ini menimbulkan banyak kebingungan dalam filsafat Schopenhauer.

Sebuah batu jatuh dan kita bertanya, mengapa? Pertanyaan ini hanya mungkin dengan andaian bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa sebab. Saya mohon Anda menjadikan hal ini sangat jelas dalam pikiran Anda, sebab setiap kali kita bertanya mengapa sesuatu terjadi, kita menerima begitu saja bahwa segala sesuatu yang terjadi pasti memiliki suatu sebab, yakni harus didahului oleh sesuatu yang lain yang bertindak sebagai penyebab. Pendahuluan dan urutan inilah yang kita sebut hukum kausalitas. Artinya, segala sesuatu di alam semesta secara bergiliran adalah penyebab dan akibat. Ia adalah penyebab bagi hal-hal tertentu yang datang sesudahnya, dan ia sendiri adalah akibat dari sesuatu yang lain yang telah mendahuluinya. Inilah yang disebut hukum kausalitas dan merupakan syarat mutlak bagi seluruh pemikiran kita. Kita meyakini bahwa setiap partikel di alam semesta, apa pun ia, berada dalam hubungan dengan setiap partikel lainnya. Telah banyak perdebatan tentang bagaimana gagasan ini timbul. Di Eropa, ada para filsuf intuitif yang meyakini bahwa hal itu bersifat konstitusional dalam diri manusia, ada pula yang meyakini bahwa hal itu berasal dari pengalaman, tetapi persoalan itu tidak pernah terselesaikan. Nanti kita akan melihat apa yang dikatakan Vedanta tentang hal itu. Tetapi pertama-tama kita harus memahami bahwa pengajuan pertanyaan "mengapa" itu sendiri sudah mengandaikan bahwa segala sesuatu di sekeliling kita telah didahului oleh hal-hal tertentu dan akan disusul oleh hal-hal lain tertentu. Keyakinan lain yang terkandung dalam pertanyaan ini ialah bahwa tidak ada sesuatu pun di alam semesta yang berdiri sendiri, bahwa segala sesuatu ditindaklanjuti oleh sesuatu di luar dirinya. Saling ketergantungan adalah hukum seluruh alam semesta. Dalam menanyakan apa yang menyebabkan Yang Mutlak, betapa besar kesalahan yang kita perbuat! Untuk mengajukan pertanyaan ini kita harus mengandaikan bahwa Yang Mutlak juga terikat oleh sesuatu, bahwa Ia bergantung pada sesuatu; dan dengan membuat andaian ini, kita menyeret Yang Mutlak turun ke tingkat alam semesta. Sebab dalam Yang Mutlak tidak ada waktu, ruang, maupun kausalitas; Ia adalah satu adanya. Yang ada karena diri-Nya sendiri tidak mungkin memiliki sebab apa pun. Yang bebas tidak mungkin memiliki sebab apa pun; jika tidak, ia tidak akan bebas, melainkan terikat. Yang memiliki relativitas tidak mungkin bebas. Demikianlah kita melihat bahwa pertanyaan itu sendiri, mengapa Yang Tak Terhingga menjadi yang terbatas, adalah pertanyaan yang mustahil, sebab ia berkontradiksi dengan dirinya sendiri. Beralih dari kehalusan-kehalusan ke logika bidang biasa kita, ke akal sehat, kita dapat melihat hal ini dari sisi lain, ketika kita berupaya mengetahui bagaimana Yang Mutlak telah menjadi yang relatif. Andaikan kita mengetahui jawabannya, akankah Yang Mutlak tetap menjadi Yang Mutlak? Ia akan menjadi yang relatif. Apakah yang dimaksud dengan pengetahuan dalam gagasan akal sehat kita? Hanyalah sesuatu yang telah dibatasi oleh pikiran kita itu yang kita ketahui, dan apabila ia berada di luar pikiran kita, ia bukan pengetahuan. Nah, jika Yang Mutlak menjadi terbatas oleh pikiran, Ia tidak lagi Mutlak; Ia telah menjadi terbatas. Segala sesuatu yang dibatasi oleh pikiran menjadi terbatas. Oleh karena itu mengetahui Yang Mutlak sekali lagi merupakan kontradiksi dalam istilah. Itulah sebabnya pertanyaan ini tidak pernah terjawab, karena seandainya ia terjawab, tidak akan ada lagi Yang Mutlak. Tuhan yang diketahui bukanlah lagi Tuhan; Ia telah menjadi terbatas seperti salah seorang dari kita. Ia tidak dapat diketahui; Ia selalu menjadi Yang Tak Terketahui.

Tetapi yang dikatakan Advaita ialah bahwa Tuhan lebih daripada dapat diketahui. Ini adalah fakta besar yang harus dipelajari. Anda tidak boleh pulang ke rumah dengan gagasan bahwa Tuhan tidak dapat diketahui dalam pengertian yang dikemukakan kaum agnostik. Sebagai contoh, di sini ada sebuah kursi, ia diketahui oleh kita. Tetapi apa yang berada di luar eter atau apakah ada manusia yang hidup di sana atau tidak, mungkin saja tidak dapat diketahui. Akan tetapi Tuhan bukan diketahui maupun tidak dapat diketahui dalam pengertian ini. Ia adalah sesuatu yang masih lebih tinggi daripada yang diketahui; itulah yang dimaksudkan dengan Tuhan sebagai yang tak diketahui dan tak dapat diketahui. Ungkapan itu tidak digunakan dalam pengertian yang dapat dikatakan bahwa sejumlah pertanyaan tertentu tidak diketahui dan tidak dapat diketahui. Tuhan lebih daripada diketahui. Kursi ini diketahui, tetapi Tuhan jauh lebih daripada itu, sebab di dalam dan melalui Dia kita harus mengetahui kursi itu sendiri. Ia adalah Saksi, Saksi abadi dari segala pengetahuan. Apa pun yang kita ketahui, kita harus mengetahuinya di dalam dan melalui Dia. Ia adalah Hakikat dari Diri kita sendiri. Ia adalah Hakikat dari ego ini, dari "saya" ini, dan kita tidak dapat mengetahui apa pun selain di dalam dan melalui "saya" itu. Oleh karena itu Anda harus mengetahui segala sesuatu di dalam dan melalui Brahman (Realitas tertinggi). Untuk mengetahui kursi, Anda harus mengetahuinya di dalam dan melalui Tuhan. Dengan demikian Tuhan jauh lebih dekat kepada kita daripada kursi, namun Ia juga jauh lebih tinggi. Bukan diketahui, bukan pula tidak diketahui, melainkan sesuatu yang jauh lebih tinggi daripada keduanya. Ia adalah Diri Anda. "Siapakah yang akan hidup sedetik pun, siapakah yang akan bernapas sedetik pun di alam semesta ini, jika Yang Maha Suci itu tidak memenuhinya?" Sebab di dalam dan melalui Dia kita bernapas, di dalam dan melalui Dia kita ada. Bukan berarti bahwa Ia berdiri di suatu tempat dan membuat darah saya beredar. Yang dimaksudkan ialah bahwa Ia adalah Hakikat dari semua ini, Jiwa dari jiwa saya. Anda tidak mungkin dengan cara apa pun mengatakan bahwa Anda mengetahui Dia; hal itu akan merendahkan-Nya. Anda tidak dapat keluar dari diri Anda sendiri, sehingga Anda tidak dapat mengetahui Dia. Pengetahuan adalah objektifikasi. Sebagai contoh, dalam ingatan Anda sedang mengobjektifikasi banyak hal, memproyeksikannya keluar dari diri Anda. Semua ingatan, semua hal yang telah saya lihat dan yang saya ketahui ada dalam pikiran saya. Gambaran-gambaran, kesan-kesan dari semua hal ini ada dalam pikiran saya, dan ketika saya mencoba memikirkannya, mengetahuinya, tindakan pengetahuan yang pertama adalah memproyeksikannya keluar. Hal ini tidak dapat dilakukan terhadap Tuhan, sebab Ia adalah Hakikat dari jiwa kita; kita tidak dapat memproyeksikan-Nya keluar dari diri kita sendiri. Inilah salah satu petikan terdalam dalam Vedanta: "Ia yang adalah Hakikat dari jiwamu, Dialah Kebenaran, Dialah Diri, engkaulah Itu, wahai Shvetaketu." Inilah yang dimaksud dengan "Engkau adalah Tuhan." Anda tidak dapat menggambarkan-Nya dengan bahasa lain mana pun. Semua upaya bahasa, menyebut-Nya bapa, atau saudara, atau sahabat terkasih kita, adalah upaya untuk mengobjektifikasi Tuhan, yang tidak dapat dilakukan. Ia adalah Subjek Abadi dari segala sesuatu. Saya adalah subjek kursi ini; saya melihat kursi itu; demikian pula Tuhan adalah Subjek Abadi dari jiwa saya. Bagaimana Anda dapat mengobjektifikasi-Nya, Hakikat dari jiwa Anda, Realitas dari segala sesuatu? Demikianlah, akan saya ulangi sekali lagi kepada Anda, Tuhan bukan dapat diketahui maupun tidak dapat diketahui, melainkan sesuatu yang jauh lebih tinggi daripada keduanya. Ia adalah satu dengan kita, dan yang satu dengan kita bukan dapat diketahui maupun tidak dapat diketahui, sebagaimana diri kita sendiri. Anda tidak dapat mengetahui diri Anda sendiri; Anda tidak dapat memindahkannya keluar dan menjadikannya objek untuk dipandang, sebab Anda adalah ia dan tidak dapat memisahkan diri Anda darinya. Ia juga tidak tak dapat diketahui, sebab apakah yang lebih dikenal daripada diri Anda sendiri? Ia sesungguhnya adalah pusat pengetahuan kita. Dalam pengertian yang persis sama, Tuhan bukan tidak dapat diketahui maupun diketahui, melainkan jauh lebih tinggi daripada keduanya; sebab Ia adalah Diri kita yang sejati.

Pertama, kita melihat bahwa pertanyaan, "Apa yang menyebabkan Yang Mutlak?" adalah kontradiksi dalam istilah; dan kedua, kita mendapati bahwa gagasan tentang Tuhan dalam Advaita adalah Keesaan ini; oleh karena itu kita tidak dapat mengobjektifikasi-Nya, sebab kita selalu hidup dan bergerak di dalam Dia, entah kita menyadarinya atau tidak. Apa pun yang kita lakukan selalu melalui Dia. Sekarang pertanyaannya ialah: Apakah waktu, ruang, dan kausalitas itu? Advaita berarti non-dualitas; tidak ada dua, melainkan satu. Namun kita melihat bahwa di sini ada sebuah proposisi bahwa Yang Mutlak memanifestasikan Diri-Nya sebagai banyak, melalui tabir waktu, ruang, dan kausalitas. Oleh karena itu tampaknya di sini ada dua, yaitu Yang Mutlak dan Maya (jumlah keseluruhan waktu, ruang, dan kausalitas). Tampaknya secara lahiriah sangat meyakinkan bahwa ada dua. Terhadap hal ini, kaum Advaita menjawab bahwa hal itu tidak dapat disebut dua. Untuk memiliki dua, kita harus memiliki dua eksistensi mutlak yang berdiri sendiri yang tidak dapat disebabkan. Pertama-tama, waktu, ruang, dan kausalitas tidak dapat dikatakan sebagai eksistensi yang berdiri sendiri. Waktu sepenuhnya merupakan eksistensi yang bergantung; ia berubah seiring dengan setiap perubahan pikiran kita. Kadang-kadang dalam mimpi seseorang membayangkan bahwa ia telah hidup beberapa tahun, di waktu lain beberapa bulan terlewati seakan-akan satu detik. Jadi, waktu sepenuhnya bergantung pada keadaan pikiran kita. Kedua, gagasan tentang waktu kadang-kadang lenyap sama sekali. Demikian pula dengan ruang. Kita tidak dapat mengetahui apa itu ruang. Namun ia ada, tak terdefinisikan, dan tidak dapat ada terpisah dari hal lain. Demikian pula dengan kausalitas.

Satu sifat khas yang kita temukan pada waktu, ruang, dan kausalitas ialah bahwa mereka tidak dapat ada terpisah dari hal-hal lain. Cobalah memikirkan ruang tanpa warna, tanpa batas, atau tanpa hubungan apa pun dengan benda-benda di sekitarnya — sekadar ruang abstrak. Anda tidak dapat; Anda harus memikirkannya sebagai ruang di antara dua batas atau di antara tiga objek. Ia harus terhubung dengan suatu objek untuk memiliki eksistensi apa pun. Demikian pula dengan waktu; Anda tidak dapat memiliki gagasan tentang waktu abstrak, tetapi Anda harus mengambil dua peristiwa, satu yang mendahului dan yang lain yang menyusul, lalu menggabungkan kedua peristiwa itu dengan gagasan tentang urutan. Waktu bergantung pada dua peristiwa, sebagaimana ruang harus dikaitkan dengan objek-objek di luar. Dan gagasan tentang kausalitas tidak terpisahkan dari waktu dan ruang. Inilah keunikan tentang mereka, yakni bahwa mereka tidak memiliki eksistensi yang berdiri sendiri. Mereka bahkan tidak memiliki eksistensi yang dimiliki oleh kursi atau dinding. Mereka bagaikan bayangan di sekeliling segala sesuatu yang tidak dapat Anda tangkap. Mereka tidak memiliki eksistensi yang nyata; namun mereka juga bukan tidak ada, mengingat melalui mereka segala sesuatu memanifestasikan diri sebagai alam semesta ini. Demikianlah kita melihat, pertama, bahwa kombinasi waktu, ruang, dan kausalitas tidak memiliki eksistensi maupun non-eksistensi. Kedua, ia kadang-kadang lenyap. Untuk memberikan sebuah ilustrasi, ada sebuah gelombang di lautan. Gelombang itu pastilah sama dengan lautan, namun kita tahu bahwa ia adalah sebuah gelombang, dan sebagai gelombang ia berbeda dari lautan. Apa yang membuat perbedaan ini? Nama dan bentuk, yakni gagasan dalam pikiran dan bentuk. Nah, dapatkah kita memikirkan bentuk-gelombang sebagai sesuatu yang terpisah dari lautan? Tentu tidak. Ia selalu terkait dengan gagasan lautan. Jika gelombang itu surut, bentuknya lenyap dalam sekejap, namun bentuk itu bukanlah suatu khayalan. Selama gelombang itu ada, bentuk itu ada di sana, dan Anda pasti melihat bentuk itu. Inilah Maya.

Oleh karena itu, seluruh alam semesta ini, seakan-akan, adalah suatu bentuk yang khas; Yang Mutlak adalah lautan itu sedangkan Anda dan saya, dan matahari serta bintang-bintang, dan segala sesuatu lainnya adalah berbagai gelombang dari lautan itu. Dan apakah yang membuat gelombang-gelombang itu berbeda? Hanyalah bentuk, dan bentuk itu adalah waktu, ruang, dan kausalitas, yang seluruhnya sepenuhnya bergantung pada gelombang. Segera setelah gelombang itu pergi, mereka lenyap. Segera setelah individu melepaskan Maya ini, ia lenyap baginya dan ia menjadi bebas. Seluruh perjuangan adalah untuk membebaskan diri dari ketergantungan pada waktu, ruang, dan kausalitas ini, yang selalu menjadi penghalang di jalan kita. Apakah teori evolusi itu? Apakah kedua faktornya? Suatu kuasa potensial yang dahsyat yang berusaha mengungkapkan dirinya, dan keadaan-keadaan yang menahannya, lingkungan yang tidak membiarkannya mengungkapkan diri. Maka, untuk berjuang melawan lingkungan ini, kuasa itu mengambil tubuh-tubuh baru berkali-kali. Sebuah amoeba, dalam perjuangan itu, memperoleh tubuh lain dan mengatasi sejumlah rintangan, kemudian memperoleh tubuh lain lagi dan seterusnya, hingga ia menjadi manusia. Nah, jika Anda membawa gagasan ini ke kesimpulan logisnya, pasti akan tiba suatu waktu ketika kuasa yang ada dalam amoeba dan yang berevolusi menjadi manusia itu akan menaklukkan segala rintangan yang dapat dihadirkan alam di hadapannya dan dengan demikian terbebas dari segala lingkungannya. Gagasan ini yang dinyatakan dalam metafisika akan mengambil bentuk berikut: ada dua komponen dalam setiap tindakan, yang satu adalah subjek, yang lain adalah objek, dan satu-satunya tujuan hidup ialah menjadikan subjek sebagai penguasa atas objek. Sebagai contoh, saya merasa tidak bahagia karena seseorang memarahi saya. Perjuangan saya adalah menjadikan diri saya cukup kuat untuk menaklukkan lingkungan, sehingga ia boleh memarahi dan saya tidak akan merasakan apa pun. Begitulah cara kita semua mencoba menaklukkan. Apakah yang dimaksud dengan moralitas? Membuat subjek menjadi kuat dengan menyelaraskannya dengan Yang Mutlak, sehingga alam yang terbatas berhenti memiliki kendali atas kita. Adalah suatu kesimpulan logis dari filsafat kita bahwa pasti akan tiba suatu waktu ketika kita akan menaklukkan segala lingkungan, sebab alam adalah terbatas.

Inilah hal lain yang harus dipelajari. Bagaimana Anda tahu bahwa alam adalah terbatas? Anda hanya dapat mengetahui hal ini melalui metafisika. Alam adalah Yang Tak Terhingga itu di bawah pembatasan. Oleh karena itu ia terbatas. Maka, pasti akan tiba suatu waktu ketika kita akan menaklukkan segala lingkungan. Dan bagaimana kita harus menaklukkan mereka? Kita tidak mungkin menaklukkan semua lingkungan objektif. Kita tidak bisa. Ikan kecil ingin terbang menjauh dari musuh-musuhnya di dalam air. Bagaimana ia melakukannya? Dengan mengembangkan sayap dan menjadi burung. Ikan itu tidak mengubah air atau udara; perubahan itu ada dalam dirinya sendiri. Perubahan selalu bersifat subjektif. Sepanjang evolusi Anda menemukan bahwa penaklukan atas alam datang melalui perubahan dalam subjek. Terapkan ini pada agama dan moralitas, dan Anda akan menemukan bahwa penaklukan atas kejahatan datang melalui perubahan dalam yang subjektif semata. Begitulah sistem Advaita memperoleh seluruh kekuatannya, pada sisi subjektif manusia. Berbicara tentang kejahatan dan penderitaan adalah omong kosong, sebab mereka tidak ada di luar. Jika saya kebal terhadap segala kemarahan, saya tidak pernah merasa marah. Jika saya tahan terhadap segala kebencian, saya tidak pernah merasa benci.

Oleh karena itu, inilah proses untuk mencapai penaklukan itu — melalui yang subjektif, dengan menyempurnakan yang subjektif. Saya berani mengatakan bahwa satu-satunya agama yang sejalan dengan, dan bahkan melangkah sedikit lebih jauh daripada penelitian modern, baik pada garis fisik maupun moral, adalah Advaita, dan itulah sebabnya ia sangat menarik bagi para ilmuwan modern. Mereka mendapati bahwa teori-teori dualistik lama tidak cukup bagi mereka, tidak memuaskan kebutuhan mereka. Manusia harus memiliki bukan hanya iman, melainkan juga iman intelektual. Nah, pada bagian akhir abad kesembilan belas ini, gagasan seperti bahwa agama yang berasal dari sumber lain selain agama warisan seseorang sendiri pasti salah, menunjukkan bahwa masih ada kelemahan yang tersisa, dan gagasan-gagasan demikian harus ditinggalkan. Saya tidak bermaksud bahwa demikianlah keadaannya di negara ini saja, melainkan di setiap negara, dan tidak ada di tempat mana pun yang lebih demikian selain di negara saya sendiri. Advaita ini tidak pernah diizinkan sampai kepada rakyat. Pada mulanya beberapa rahib memperolehnya dan membawanya ke hutan, sehingga ia kemudian disebut "Filsafat Hutan". Atas kemurahan Tuhan, Buddha datang dan mengkhotbahkannya kepada massa, dan seluruh bangsa menjadi penganut Buddha. Lama setelah itu, ketika para ateis dan agnostik telah menghancurkan bangsa itu kembali, ditemukan bahwa Advaita adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan India dari materialisme.

Demikianlah Advaita dua kali menyelamatkan India dari materialisme. Sebelum Buddha datang, materialisme telah menyebar sampai pada tingkat yang menakutkan, dan ia adalah jenis yang paling mengerikan, tidak seperti materialisme zaman sekarang, melainkan dari sifat yang jauh lebih buruk. Saya adalah seorang materialis dalam pengertian tertentu, sebab saya percaya bahwa hanya ada Satu. Itulah yang ingin diyakinkan oleh seorang materialis kepada Anda; hanya saja ia menyebutnya materi dan saya menyebutnya Tuhan. Kaum materialis mengakui bahwa dari materi inilah segala harapan, agama, dan segala sesuatu telah muncul. Saya mengatakan, semua hal ini telah muncul dari Brahman. Tetapi materialisme yang berkembang sebelum Buddha adalah jenis materialisme kasar yang mengajarkan, "Makanlah, minumlah, dan bersukacitalah; tidak ada Tuhan, tidak ada jiwa atau surga; agama adalah rekaan para pendeta yang jahat." Ia mengajarkan moralitas bahwa selama Anda hidup, Anda harus berusaha hidup dengan bahagia; makanlah, sekalipun Anda harus meminjam uang untuk makanan, dan janganlah peduli tentang pelunasannya. Itulah materialisme kuno, dan filsafat semacam itu menyebar begitu luas sehingga sampai hari ini pun ia mendapat sebutan "filsafat populer". Buddha membawa Vedanta ke terang, memberikannya kepada rakyat, dan menyelamatkan India. Seribu tahun setelah wafatnya, keadaan serupa kembali berlangsung. Massa, rakyat, dan berbagai ras telah dikonversi menjadi penganut Buddha; secara wajar ajaran Buddha lama-kelamaan menjadi merosot, sebab kebanyakan orang sangat tidak terdidik. Buddhisme tidak mengajarkan adanya Tuhan, tidak ada Penguasa alam semesta, sehingga lambat laun massa kembali mengeluarkan dewa-dewa, setan-setan, dan jin-jin mereka, dan terjadilah campur aduk yang dahsyat dalam Buddhisme di India. Sekali lagi materialisme muncul ke depan, mengambil bentuk kebebasan berlebih pada kelas-kelas yang lebih tinggi dan takhayul pada kelas yang lebih rendah. Kemudian Shankaracharya muncul dan sekali lagi menghidupkan kembali filsafat Vedanta. Ia menjadikannya filsafat yang rasionalistik. Dalam Upanishad argumen-argumennya seringkali sangat kabur. Oleh Buddha sisi moral dari filsafat itu ditekankan, dan oleh Shankaracharya, sisi intelektualnya. Ia mengolah, merasionalkan, dan menempatkan di hadapan manusia sistem Advaita yang menakjubkan dan koheren.

Materialisme mendominasi Eropa hari ini. Anda boleh berdoa untuk keselamatan kaum skeptis modern, tetapi mereka tidak menyerah, mereka menuntut nalar. Keselamatan Eropa bergantung pada agama yang rasionalistik, dan Advaita — non-dualitas, Keesaan, gagasan tentang Tuhan yang Impersonal — adalah satu-satunya agama yang dapat memiliki pegangan apa pun pada manusia intelektual mana pun. Ia datang kapan pun agama tampak menghilang dan ketidakberagamaan tampak merajalela, dan itulah sebabnya ia telah berakar di Eropa dan Amerika.

Saya ingin mengatakan satu hal lagi sehubungan dengan filsafat ini. Dalam Upanishad-upanishad kuno kita menemukan puisi yang luhur; para pengarangnya adalah para penyair. Plato berkata, ilham datang kepada manusia melalui puisi, dan tampaknya seakan-akan para Resi (orang bijak) kuno ini, para pelihat Kebenaran, diangkat di atas kemanusiaan untuk menunjukkan kebenaran-kebenaran ini melalui puisi. Mereka tidak pernah berkhotbah, tidak pernah berfilsafat, tidak pernah menulis. Musik mengalir dari hati mereka. Pada Buddha kita memiliki hati yang besar dan universal serta kesabaran yang tak terhingga, yang menjadikan agama bersifat praktis dan membawanya ke pintu setiap orang. Pada Shankaracharya kita melihat kekuatan intelektual yang dahsyat, yang melemparkan cahaya akal yang membakar ke atas segala sesuatu. Yang kita inginkan hari ini adalah matahari intelektualitas yang cemerlang itu yang bergabung dengan hati Buddha, hati cinta dan welas asih yang tak terhingga dan menakjubkan. Penyatuan ini akan memberi kita filsafat yang tertinggi. Ilmu pengetahuan dan agama akan bertemu dan berjabat tangan. Puisi dan filsafat akan menjadi sahabat. Inilah agama masa depan, dan jika kita dapat mewujudkannya, kita dapat yakin bahwa ia akan berlaku untuk segala zaman dan segala bangsa. Inilah satu-satunya jalan yang akan terbukti dapat diterima oleh ilmu pengetahuan modern, sebab ia hampir sampai pada hal itu. Ketika sang pengajar ilmiah menegaskan bahwa segala sesuatu adalah manifestasi dari satu daya, bukankah itu mengingatkan Anda pada Tuhan yang Anda dengar dalam Upanishad: "Sebagaimana satu api yang memasuki alam semesta mengungkapkan dirinya dalam berbagai bentuk, demikian pula Satu Jiwa itu mengungkapkan Diri-Nya dalam setiap jiwa namun masih jauh lebih dari itu?" Tidakkah Anda melihat ke mana arah ilmu pengetahuan? Bangsa Hindu menempuh jalannya melalui studi tentang pikiran, melalui metafisika dan logika. Bangsa-bangsa Eropa berangkat dari alam eksternal, dan kini mereka pun sampai pada hasil yang sama. Kita mendapati bahwa dengan menelusuri pikiran akhirnya kita sampai pada Keesaan itu, Yang Maha Esa Universal itu, Jiwa Internal dari segala sesuatu, Hakikat dan Realitas segala sesuatu, Yang Selalu Bebas, Yang Selalu Berbahagia, Yang Selalu Ada. Melalui ilmu pengetahuan material kita sampai pada Keesaan yang sama. Ilmu pengetahuan hari ini sedang memberi tahu kita bahwa segala sesuatu hanyalah manifestasi dari satu energi yang merupakan jumlah keseluruhan dari segala sesuatu yang ada, dan kecenderungan kemanusiaan adalah menuju kebebasan dan bukan menuju perbudakan. Mengapa manusia harus bermoral? Sebab melalui moralitas terbentang jalan menuju kebebasan, dan keadaan tak bermoral menuntun pada perbudakan.

Keistimewaan lain dari sistem Advaita ialah bahwa sejak permulaannya ia bersifat tidak merusak. Inilah keagungan lain, keberanian untuk mengkhotbahkan, "Jangan ganggu iman siapa pun, bahkan iman mereka yang karena ketidaktahuan telah mengikatkan diri pada bentuk-bentuk pemujaan yang lebih rendah." Itulah yang dikatakannya, jangan ganggu, melainkan bantulah setiap orang untuk naik makin tinggi dan tinggi; sertakan seluruh kemanusiaan. Filsafat ini mengkhotbahkan seorang Tuhan yang adalah jumlah keseluruhan. Jika Anda mencari agama universal yang dapat berlaku untuk setiap orang, agama itu tidak boleh hanya tersusun dari sebagian-sebagian, melainkan harus selalu menjadi jumlah keseluruhannya dan mencakup segala tingkat perkembangan religius.

Gagasan ini tidak ditemukan dengan jelas dalam sistem keagamaan lain mana pun. Mereka semuanya adalah bagian-bagian yang sama-sama berjuang untuk mencapai keseluruhan. Eksistensi bagian itu hanyalah untuk hal ini. Maka, sejak permulaannya, Advaita tidak memiliki antagonisme dengan berbagai sekte yang ada di India. Ada kaum dualis yang masih ada hingga hari ini, dan jumlah mereka sejauh ini adalah yang terbesar di India, sebab dualisme secara alamiah menarik bagi pikiran yang kurang terdidik. Ia adalah penjelasan tentang alam semesta yang sangat nyaman, alamiah, dan masuk akal. Akan tetapi dengan kaum dualis ini, Advaita tidak memiliki perselisihan. Yang satu berpikir bahwa Tuhan berada di luar alam semesta, di suatu tempat di surga, dan yang lain, bahwa Ia adalah Jiwanya sendiri, dan bahwa akan menjadi penghujatan jika menyebut-Nya sebagai sesuatu yang lebih jauh. Setiap gagasan tentang pemisahan akan mengerikan. Ia adalah yang paling dekat dari yang dekat. Tidak ada kata dalam bahasa mana pun untuk mengungkapkan kedekatan ini selain kata Keesaan. Dengan gagasan lain mana pun penganut Advaita tidak puas, sebagaimana penganut dualis terkejut dengan konsep Advaita, dan menganggapnya menghujat. Pada saat yang sama penganut Advaita tahu bahwa gagasan-gagasan lain ini pun pasti ada, sehingga ia tidak memiliki perselisihan dengan penganut dualis yang berada di jalan yang benar. Dari sudut pandangnya, penganut dualis harus melihat yang banyak. Itu adalah kebutuhan konstitusional dari sudut pandangnya. Biarkan ia memilikinya. Penganut Advaita tahu bahwa apa pun teori-teorinya, ia akan menuju tujuan yang sama dengan dirinya sendiri. Di situlah ia sepenuhnya berbeda dari penganut dualis yang terpaksa oleh sudut pandangnya untuk meyakini bahwa semua pandangan yang berbeda adalah salah. Kaum dualis di seluruh dunia secara alamiah meyakini Tuhan Personal yang sepenuhnya antropomorfik, yang seperti seorang penguasa besar di dunia ini, berkenan terhadap sebagian orang dan tidak berkenan terhadap yang lain. Ia secara sewenang-wenang berkenan terhadap sebagian orang atau ras tertentu dan mencurahkan berkat ke atas mereka. Secara alamiah penganut dualis sampai pada kesimpulan bahwa Tuhan memiliki kesayangan, dan ia berharap menjadi salah satu dari mereka. Anda akan menemukan bahwa dalam hampir setiap agama ada gagasan: "Kami adalah kesayangan Tuhan kami, dan hanya dengan percaya seperti kami, Anda dapat diterima dalam perkenanan-Nya." Sebagian penganut dualis begitu sempit sehingga bersikeras bahwa hanya beberapa orang yang telah ditakdirkan untuk mendapat perkenanan Tuhan yang dapat diselamatkan; sisanya boleh berusaha sekeras apa pun, tetapi mereka tidak dapat diterima. Saya menantang Anda untuk menunjukkan kepada saya satu agama dualistik yang tidak memiliki sedikit banyak sifat eksklusivitas ini. Dan oleh karena itu, dalam sifat dasarnya, agama-agama dualistik pasti akan bertarung dan berselisih satu sama lain, dan inilah yang selama ini selalu mereka lakukan. Lagi pula, kaum dualis ini memperoleh dukungan rakyat dengan menggugah kesombongan orang yang tidak terdidik. Mereka senang merasa bahwa mereka menikmati hak-hak istimewa yang eksklusif. Penganut dualis berpikir bahwa Anda tidak dapat bermoral sampai Anda memiliki Tuhan dengan tongkat di tangan-Nya, siap menghukum Anda. Massa yang tidak berpikir umumnya adalah penganut dualis, dan mereka, orang-orang malang itu, telah dianiaya selama ribuan tahun di setiap negara; oleh karena itu gagasan mereka tentang keselamatan adalah kebebasan dari ketakutan akan hukuman. Saya pernah ditanya oleh seorang rohaniwan di Amerika, "Apa! Anda tidak memiliki Iblis dalam agama Anda? Bagaimana mungkin itu?" Tetapi kita mendapati bahwa manusia-manusia yang terbaik dan terbesar yang pernah lahir di dunia telah bekerja dengan gagasan impersonal yang tinggi itu. Adalah Manusia yang berkata, "Aku dan Bapaku adalah satu", yang kuasanya telah turun kepada jutaan orang. Selama ribuan tahun kuasa itu telah bekerja untuk kebaikan. Dan kita tahu bahwa Manusia yang sama itu, karena ia adalah seorang non-dualis, bersikap welas asih kepada orang-orang lain. Kepada massa yang tidak dapat membayangkan sesuatu yang lebih tinggi daripada Tuhan Personal, ia berkata, "Berdoalah kepada Bapamu di surga." Kepada orang-orang lain yang dapat menangkap gagasan yang lebih tinggi, ia berkata, "Aku adalah pokok anggur, kamu adalah ranting-rantingnya," tetapi kepada para muridnya kepada siapa ia menyatakan dirinya secara lebih penuh, ia memaklumkan kebenaran yang tertinggi, "Aku dan Bapaku adalah satu."

Adalah Buddha yang agung, yang tidak pernah peduli akan dewa-dewa dualis, dan yang telah disebut seorang ateis dan materialis, yang justru bersedia menyerahkan tubuhnya demi seekor kambing yang malang. Manusia itu menggerakkan cita-cita moral tertinggi yang dapat dimiliki bangsa mana pun. Di mana pun ada kode moral, ia adalah seberkas cahaya dari Manusia itu. Kita tidak dapat memaksa hati-hati yang besar di dunia ini ke dalam batas-batas yang sempit, dan menahan mereka di sana, terutama pada saat ini dalam sejarah kemanusiaan ketika ada tingkat perkembangan intelektual yang bahkan tidak pernah diimpikan seratus tahun yang lalu, ketika telah muncul gelombang pengetahuan ilmiah yang bahkan lima puluh tahun yang lalu tidak akan diimpikan oleh siapa pun. Dengan mencoba memaksa orang ke dalam batas-batas yang sempit, Anda merendahkan mereka menjadi hewan dan massa yang tidak berpikir. Anda membunuh kehidupan moral mereka. Yang sekarang dibutuhkan ialah perpaduan dari hati yang terbesar dengan intelektualitas yang tertinggi, dari cinta yang tak terhingga dengan pengetahuan yang tak terhingga. Penganut Vedanta tidak memberi atribut lain kepada Tuhan selain ketiga ini — bahwa Ia adalah Eksistensi Tak Terhingga, Pengetahuan Tak Terhingga, dan Kebahagiaan Tak Terhingga, dan ia memandang ketiga ini sebagai Satu. Eksistensi tanpa pengetahuan dan cinta tidak mungkin ada; pengetahuan tanpa cinta dan cinta tanpa pengetahuan tidak mungkin ada. Yang kita inginkan ialah harmoni dari Eksistensi, Pengetahuan, dan Kebahagiaan yang Tak Terhingga. Sebab itulah tujuan kita. Kita menginginkan harmoni, bukan perkembangan yang berat sebelah. Dan adalah mungkin untuk memiliki intelek seorang Shankara dengan hati seorang Buddha. Saya berharap kita semua akan berjuang untuk mencapai perpaduan yang penuh berkat itu.

English

CHAPTER VI

THE ABSOLUTE AND MANIFESTATION

( Delivered in London, 1896 )

The one question that is most difficult to grasp in understanding the Advaita philosophy, and the one question that will be asked again and again and that will always remain is: How has the Infinite, the Absolute, become the finite? I will now take up this question, and, in order to illustrate it, I will use a figure.

Here is the Absolute (a), and this is the universe (b). The Absolute has become the universe.By this is not only meant the material world, but the mental world, the spiritual world — heavens and earths, and in fact, everything that exists. Mind is the name of a change, and body the name of another change, and so on, and all these changes compose our universe. This Absolute (a) has become the universe (b) by coming through time, space, and causation (c). This is the central idea of Advaita. Time, space, and causation are like the glass through which the Absolute is seen, and when It is seen on the lower side, It appears as the universe. Now we at once gather from this that in the Absolute there is neither time, space, nor causation. The idea of time cannot be there, seeing that there is no mind, no thought. The idea of space cannot be there, seeing that there is no external change. What you call motion and causation cannot exist where there is only One. We have to understand this, and impress it on our minds, that what we call causation begins after, if we may be permitted to say so, the degeneration of the Absolute into the phenomenal, and not before; that our will, our desire and all these things always come after that. I think Schopenhauer's philosophy makes a mistake in its interpretation of Vedanta, for it seeks to make the will everything. Schopenhauer makes the will stand in the place of the Absolute. But the absolute cannot be presented as will, for will is something changeable and phenomenal, and over the line, drawn above time, space, and causation, there is no change, no motion; it is only below the line that external motion and internal motion, called thought begin. There can be no will on the other side, and will therefore, cannot be the cause of this universe. Coming nearer, we see in our own bodies that will is not the cause of every movement. I move this chair; my will is the cause of this movement, and this will becomes manifested as muscular motion at the other end. But the same power that moves the chair is moving the heart, the lungs, and so on, but not through will. Given that the power is the same, it only becomes will when it rises to the plane of consciousness, and to call it will before it has risen to this plane is a misnomer. This makes a good deal of confusion in Schopenhauer's philosophy.

A stone falls and we ask, why? This question is possible only on the supposition that nothing happens without a cause. I request you to make this very clear in your minds, for whenever we ask why anything happens, we are taking for granted that everything that happens must have a why, that is to say, it must have been preceded by something else which acted as the cause. This precedence and succession are what we call the law of causation. It means that everything in the universe is by turn a cause and an effect. It is the cause of certain things which come after it, and is itself the effect of something else which has preceded it. This is called the law of causation and is a necessary condition of all our thinking. We believe that every particle in the universe, whatever it be, is in relation to every other particle. There has been much discussion as to how this idea arose. In Europe, there have been intuitive philosophers who believed that it was constitutional in humanity, others have believed it came from experience, but the question has never been settled. We shall see later on what the Vedanta has to say about it. But first we have to understand this that the very asking of the question "why" presupposes that everything round us has been preceded by certain things and will be succeeded by certain other things. The other belief involved in this question is that nothing in the universe is independent, that everything is acted upon by something outside itself. Interdependence is the law of the whole universe. In asking what caused the Absolute, what an error we are making! To ask this question we have to suppose that the Absolute also is bound by something, that It is dependent on something; and in making this supposition, we drag the Absolute down to the level of the universe. For in the Absolute there is neither time, space, nor causation; It is all one. That which exists by itself alone cannot have any cause. That which is free cannot have any cause; else it would not be free, but bound. That which has relativity cannot be free. Thus we see the very question, why the Infinite became the finite, is an impossible one, for it is self-contradictory. Coming from subtleties to the logic of our common plane, to common sense, we can see this from another side, when we seek to know how the Absolute has become the relative. Supposing we knew the answer, would the Absolute remain the Absolute? It would have become relative. What is meant by knowledge in our common-sense idea? It is only something that has become limited by our mind, that we know, and when it is beyond our mind, it is not knowledge. Now if the Absolute becomes limited by the mind, It is no more Absolute; It has become finite. Everything limited by the mind becomes finite. Therefore to know the Absolute is again a contradiction in terms. That is why this question has never been answered, because if it were answered, there would no more be an Absolute. A God known is no more God; He has become finite like one of us. He cannot be known He is always the Unknowable One.

But what Advaita says is that God is more than knowable. This is a great fact to learn. You must not go home with the idea that God is unknowable in the sense in which agnostics put it. For instance, here is a chair, it is known to us. But what is beyond ether or whether people exist there or not is possibly unknowable. But God is neither known nor unknowable in this sense. He is something still higher than known; that is what is meant by God being unknown and unknowable. The expression is not used in the sense in which it may be said that some questions are unknown ant unknowable. God is more than known. This chair is known, but God is intensely more than that because in and through Him we have to know this chair itself. He is the Witness, the eternal Witness of all knowledge. Whatever we know we have to know in and through Him. He is the Essence of our own Self. He is the Essence of this ego, this I and we cannot know anything excepting in and through that I. Therefore you have to know everything in and through the Brahman. To know the chair you have to know it in and through God. Thus God is infinitely nearer to us than the chair, but yet He is infinitely higher. Neither known, nor unknown, but something infinitely higher than either. He is your Self. "Who would live a second, who would breathe a second in this universe, if that Blessed One were not filling it?" Because in and through Him we breathe, in and through Him we exist. Not the He is standing somewhere and making my blood circulate. What is meant is that He is the Essence of all this, tie Soul of my soul. You cannot by any possibility say you know Him; it would be degrading Him. You cannot get out of yourself, so you cannot know Him. Knowledge is objectification. For instance, in memory you are objectifying many things, projecting them out of yourself. All memory, all the things which I have seen and which I know are in my mind. The pictures, the impressions of all these things, are in my mind, and when I would try to think of them, to know them, the first act of knowledge would be to project them outside. This cannot be done with God, because He is the Essence of our souls, we cannot project Him outside ourselves. Here is one of the profoundest passages in Vedanta: "He that is the Essence of your soul, He is the Truth, He is the Self, thou art That, O Shvetaketu." This is what is meant by "Thou art God." You cannot describe Him by any other language. All attempts of language, calling Him father, or brother, or our dearest friend, are attempts to objectify God, which cannot be done. He is the Eternal Subject of everything. I am the subject of this chair; I see the chair; so God is the Eternal Subject of my soul. How can you objectify Him, the Essence of your souls, the Reality of everything? Thus, I would repeat to you once more, God is neither knowable nor unknowable, but something infinitely higher than either. He is one with us, and that which is one with us is neither knowable nor unknowable, as our own self. You cannot know your own self; you cannot move it out and make it an object to look at, because you are that and cannot separate yourself from it. Neither is it unknowable, for what is better known than yourself? It is really the centre of our knowledge. In exactly the same sense, God is neither unknowable nor known, but infinitely higher than both; for He is our real Self.

First, we see then that the question, "What caused the Absolute?" is a contradiction in terms; and secondly, we find that the idea of God in the Advaita is this Oneness; and, therefore, we cannot objectify Him, for we are always living and moving in Him, whether we know it or not. Whatever we do is always through Him. Now the question is: What are time, space, and causation? Advaita means non-duality; there are no two, but one. Yet we see that here is a proposition that the Absolute is manifesting Itself as many, through the veil of time, space, and causation. Therefore it seems that here are two, the Absolute and Mâyâ (the sum total of time, space, and causation). It seems apparently very convincing that there are two. To this the Advaitist replies that it cannot be called two. To have two, we must have two absolute independent existences which cannot be caused. In the first place time, space, and causation cannot be said to be independent existences. Time is entirely a dependent existence; it changes with every change of our mind. Sometimes in dream one imagines that one has lived several years, at other times several months were passed as one second. So, time is entirely dependent on our state of mind. Secondly, the idea of time vanishes altogether, sometimes. So with space. We cannot know what space is. Yet it is there, indefinable, and cannot exist separate from anything else. So with causation.

The one peculiar attribute we find in time, space, and causation is that they cannot exist separate from other things. Try to think of space without colour, or limits, or any connection with the things around — just abstract space. You cannot; you have to think of it as the space between two limits or between three objects. It has to be connected with some object to have any existence. So with time; you cannot have any idea of abstract time, but you have to take two events, one preceding and the other succeeding, and join the two events by the idea of succession. Time depends on two events, just as space has to be related to outside objects. And the idea of causation is inseparable from time and space. This is the peculiar thing about them that they have no independent existence. They have not even the existence which the chair or the wall has. They are as shadows around everything which you cannot catch. They have no real existence; yet they are not non-existent, seeing that through them all things are manifesting as this universe. Thus we see, first, that the combination of time, space, and causation has neither existence nor non-existence. Secondly, it sometimes vanishes. To give an illustration, there is a wave on the ocean. The wave is the same as the ocean certainly, and yet we know it is a wave, and as such different from the ocean. What makes this difference? The name and the form, that is, the idea in the mind and the form. Now, can we think of a wave-form as something separate from the ocean? Certainly not. It is always associated with the ocean idea. If the wave subsides, the form vanishes in a moment, and yet the form was not a delusion. So long as the wave existed the form was there, and you were bound to see the form. This is Maya.

The whole of this universe, therefore, is, as it were, a peculiar form; the Absolute is that ocean while you and I, and suns and stars, and everything else are various waves of that ocean. And what makes the waves different? Only the form, and that form is time, space, and causation, all entirely dependent on the wave. As soon as the wave goes, they vanish. As soon as the individual gives up this Maya, it vanishes for him and he becomes free. The whole struggle is to get rid of this clinging on to time, space, and causation, which are always obstacles in our way. What is the theory of evolution? What are the two factors? A tremendous potential power which is trying to express itself, and circumstances which are holding it down, the environments not allowing it to express itself. So, in order to fight with these environments, the power is taking new bodies again and again. An amoeba, in the struggle, gets another body and conquers some obstacles, then gets another body and so on, until it becomes man. Now, if you carry this idea to its logical conclusion, there must come a time when that power that was in the amoeba and which evolved as man will have conquered all the obstructions that nature can bring before it and will thus escape from all its environments. This idea expressed in metaphysics will take this form; there are two components in every action, the one the subject, the other the object and the one aim of life is to make the subject master of the object. For instance, I feel unhappy because a man scolds me. My struggle will be to make myself strong enough to conquer the environment, so that he may scold and I shall not feel. That is how we are all trying to conquer. What is meant by morality? Making the subject strong by attuning it to the Absolute, so that finite nature ceases to have control over us. It is a logical conclusion of our philosophy that there must come a time when we shall have conquered all the environments, because nature is finite.

Here is another thing to learn. How do you know that nature is finite? You can only know this through metaphysics. Nature is that Infinite under limitations. Therefore it is finite. So, there must come a time when we shall have conquered all environments. And how are we to conquer them? We cannot possibly conquer all the objective environments. We cannot. The little fish wants to fly from its enemies in the water. How does it do so? By evolving wings and becoming a bird. The fish did not change the water or the air; the change was in itself. Change is always subjective. All through evolution you find that the conquest of nature comes by change in the subject. Apply this to religion and morality, and you will find that the conquest of evil comes by the change in the subjective alone. That is how the Advaita system gets its whole force, on the subjective side of man. To talk of evil and misery is nonsense, because they do not exist outside. If I am immune against all anger, I never feel angry. If I am proof against all hatred, I never feel hatred.

This is, therefore, the process by which to achieve that conquest — through the subjective, by perfecting the subjective. I may make bold to say that the only religion which agrees with, and even goes a little further than modern researches, both on physical and moral lines is the Advaita, and that is why it appeals to modern scientists so much. They find that the old dualistic theories are not enough for them, do not satisfy their necessities. A man must have not only faith, but intellectual faith too. Now, in this later part of the nineteenth century, such an idea as that religion coming from any other source than one's own hereditary religion must be false shows that there is still weakness left, and such ideas must be given up. I do not mean that such is the case in this country alone, it is in every country, and nowhere more than in my own. This Advaita was never allowed to come to the people. At first some monks got hold of it and took it to the forests, and so it came to be called the "Forest Philosophy". By the mercy of the Lord, the Buddha came and preached it to the masses, and the whole nation became Buddhists. Long after that, when atheists and agnostics had destroyed the nation again, it was found out that Advaita was the only way to save India from materialism.

Thus has Advaita twice saved India from materialism Before the Buddha came, materialism had spread to a fearful extent, and it was of a most hideous kind, not like that of the present day, but of a far worse nature. I am a materialist in a certain sense, because I believe that there is only One. That is what the materialist wants you to believe; only he calls it matter and I call it God. The materialists admit that out of this matter all hope, and religion, and everything have come. I say, all these have come out of Brahman. But the materialism that prevailed before Buddha was that crude sort of materialism which taught, "Eat, drink, and be merry; there is no God, soul or heaven; religion is a concoction of wicked priests." It taught the morality that so long as you live, you must try to live happily; eat, though you have to borrow money for the food, and never mind about repaying it. That was the old materialism, and that kind of philosophy spread so much that even today it has got the name of "popular philosophy". Buddha brought the Vedanta to light, gave it to the people, and saved India. A thousand years after his death a similar state of things again prevailed. The mobs, the masses, and various races, had been converted to Buddhism; naturally the teachings of the Buddha became in time degenerated, because most of the people were very ignorant. Buddhism taught no God, no Ruler of the universe, so gradually the masses brought their gods, and devils, and hobgoblins out again, and a tremendous hotchpotch was made of Buddhism in India. Again materialism came to the fore, taking the form of licence with the higher classes and superstition with the lower. Then Shankaracharya arose and once more revivified the Vedanta philosophy. He made it a rationalistic philosophy. In the Upanishads the arguments are often very obscure. By Buddha the moral side of the philosophy was laid stress upon, and by Shankaracharya, the intellectual side. He worked out, rationalised, and placed before men the wonderful coherent system of Advaita.

Materialism prevails in Europe today. You may pray for the salvation of the modern sceptics, but they do not yield, they want reason. The salvation of Europe depends on a rationalistic religion, and Advaita — the non-duality, the Oneness, the idea of the Impersonal God — is the only religion that can have any hold on any intellectual people. It comes whenever religion seems to disappear and irreligion seems to prevail, and that is why it has taken ground in Europe and America.

I would say one thing more in connection with this philosophy. In the old Upanishads we find sublime poetry; their authors were poets. Plato says, inspiration comes to people through poetry, and it seems as if these ancient Rishis, seers of Truth, were raised above humanity to show these truths through poetry. They never preached, nor philosophised, nor wrote. Music came out of their hearts. In Buddha we had the great, universal heart and infinite patience, making religion practical and bringing it to everyone's door. In Shankaracharya we saw tremendous intellectual power, throwing the scorching light of reason upon everything. We want today that bright sun of intellectuality joined with the heart of Buddha, the wonderful infinite heart of love and mercy. This union will give us the highest philosophy. Science and religion will meet and shake hands. Poetry and philosophy will become friends. This will be the religion of the future, and if we can work it out, we may be sure that it will be for all times and peoples. This is the one way that will prove acceptable to modern science, for it has almost come to it. When the scientific teacher asserts that all things are the manifestation of one force, does it not remind you of the God of whom you hear in the Upanishads: "As the one fire entering into the universe expresses itself in various forms, even so that One Soul is expressing Itself in every soul and yet is infinitely more besides?" Do you not see whither science is tending? The Hindu nation proceeded through the study of the mind, through metaphysics and logic. The European nations start from external nature, and now they too are coming to the same results. We find that searching through the mind we at last come to that Oneness, that Universal One, the Internal Soul of everything, the Essence and Reality of everything, the Ever-Free, the Ever-blissful, the Ever-Existing. Through material science we come to the same Oneness. Science today is telling us that all things are but the manifestation of one energy which is the sum total of everything which exists, and the trend of humanity is towards freedom and not towards bondage. Why should men be moral? Because through morality is the path towards freedom, and immorality leads to bondage.

Another peculiarity of the Advaita system is that from its very start it is non-destructive. This is another glory, the boldness to preach, "Do not disturb the faith of any, even of those who through ignorance have attached themselves to lower forms of worship." That is what it says, do not disturb, but help everyone to get higher and higher; include all humanity. This philosophy preaches a God who is a sum total. If you seek a universal religion which can apply to everyone, that religion must not be composed of only the parts, but it must always be their sum total and include all degrees of religious development.

This idea is not clearly found in any other religious system. They are all parts equally struggling to attain to the whole. The existence of the part is only for this. So, from the very first, Advaita had no antagonism with the various sects existing in India. There are dualists existing today, and their number is by far the largest in India, because dualism naturally appeals to less educated minds. It is a very convenient, natural, common-sense explanation of the universe. But with these dualists, Advaita has no quarrel. The one thinks that God is outside the universe, somewhere in heaven, and the other, that He is his own Soul, and that it will be a blasphemy to call Him anything more distant. Any idea of separation would be terrible. He is the nearest of the near. There is no word in any language to express this nearness except the word Oneness. With any other idea the Advaitist is not satisfied just as the dualist is shocked with the concept of the Advaita, and thinks it blasphemous. At the same time the Advaitist knows that these other ideas must be, and so has no quarrel with the dualist who is on the right road. From his standpoint, the dualist will have to see many. It is a constitutional necessity of his standpoint. Let him have it. The Advaitist knows that whatever may be his theories, he is going to the same goal as he himself. There he differs entirely from dualist who is forced by his point of view to believe that all differing views are wrong. The dualists all the world over naturally believe in a Personal God who is purely anthropomorphic, who like a great potentate in this world is pleased with some and displeased with others. He is arbitrarily pleased with some people or races and showers blessing upon them. Naturally the dualist comes to the conclusion that God has favourites, and he hopes to be one of them. You will find that in almost every religion is the idea: "We are the favourites of our God, and only by believing as we do, can you be taken into favour with Him." Some dualists are so narrow as to insist that only the few that have been predestined to the favour of God can be saved; the rest may try ever so hard, but they cannot be accepted. I challenge you to show me one dualistic religion which has not more or less of this exclusiveness. And, therefore, in the nature of things, dualistic religions are bound to fight and quarrel with each other, and this they have ever been doing. Again, these dualists win the popular favour by appealing to the vanity of the uneducated. They like to feel that they enjoy exclusive privileges. The dualist thinks you cannot be moral until you have a God with a rod in His hand, ready to punish you. The unthinking masses are generally dualists, and they, poor fellows, have been persecuted for thousands of years in every country; and their idea of salvation is, therefore, freedom from the fear of punishment. I was asked by a clergyman in America, "What! you have no Devil in your religion? How can that be?" But we find that the best and the greatest men that have been born in the world have worked with that high impersonal idea. It is the Man who said, "I and my Father are One", whose power has descended unto millions. For thousands of years it has worked for good. And we know that the same Man, because he was a nondualist, was merciful to others. To the masses who could not conceive of anything higher than a Personal God, he said, "Pray to your Father in heaven." To others who could grasp a higher idea, he said, "I am the vine, ye are the branches," but to his disciples to whom he revealed himself more fully, he proclaimed the highest truth, "I and my Father are One."

It was the great Buddha, who never cared for the dualist gods, and who has been called an atheist and materialist, who yet was ready to give up his body for a poor goat. That Man set in motion the highest moral ideas any nation can have. Whenever there is a moral code, it is ray of light from that Man. We cannot force the great hearts of the world into narrow limits, and keep them there, especially at this time in the history of humanity when there is a degree of intellectual development such as was never dreamed of even a hundred years ago, when a wave of scientific knowledge has arisen which nobody, even fifty years ago, would have dreamed of. By trying to force people into narrow limits you degrade them into animals and unthinking masses. You kill their moral life. What is now wanted is a combination of the greatest heart with the highest intellectuality, of infinite love with infinite knowledge. The Vedantist gives no other attributes to God except these three — that He is Infinite Existence, Infinite Knowledge, and Infinite Bliss, and he regards these three as One. Existence without knowledge and love cannot be; knowledge without love and love without knowledge cannot be. What we want is the harmony of Existence, Knowledge, and Bliss Infinite. For that is our goal. We want harmony, not one-sided development. And it is possible to have the intellect of a Shankara with the heart of a Buddha. I hope we shall all struggle to attain to that blessed combination.


Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.