Jiwa, Alam, dan Tuhan
Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.
AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.
Bahasa Indonesia
JIWA, ALAM, DAN TUHAN
Menurut filsafat Vedanta, manusia tersusun dari tiga substansi, boleh dikatakan demikian. Yang paling luar adalah tubuh, bentuk kasar manusia, yang di dalamnya terdapat instrumen-instrumen penginderaan, seperti mata, hidung, telinga, dan sebagainya. Mata ini bukanlah organ penglihatan; ia hanyalah instrumen. Di belakangnya terdapat organ. Demikian pula, telinga bukanlah organ pendengaran; ia hanyalah instrumen, dan di belakangnya terdapat organ, atau apa yang dalam fisiologi modern disebut pusat. Organ-organ itu dalam bahasa Sanskerta disebut Indriya. Apabila pusat yang mengatur mata dirusak, mata tidak akan dapat melihat; demikian pula dengan seluruh indra kita. Organ-organ itu pun tidak dapat menginderai apa pun dengan sendirinya, kecuali ada sesuatu yang lain melekat padanya. Sesuatu itu adalah pikiran. Berulang kali Anda mengamati bahwa Anda sedang tenggelam dalam suatu renungan tertentu, lalu jam berdentang dan Anda tidak mendengarnya. Mengapa? Telinga ada di sana; getaran masuk ke dalamnya dan diteruskan ke otak, namun Anda tidak mendengar, karena pikiran tidak bersatu dengan organ. Kesan-kesan dari benda-benda eksternal dibawa kepada organ-organ, dan apabila pikiran melekat padanya, ia menerima kesan itu dan memberinya, seakan-akan, sebuah warna, yang disebut keakuan, "Aku". Ambillah contoh seekor nyamuk yang menggigit jari saya ketika saya sedang sibuk dengan suatu pekerjaan. Saya tidak merasakannya, karena pikiran saya sedang melekat pada sesuatu yang lain. Kemudian, ketika pikiran saya bersatu dengan kesan yang disampaikan kepada Indriya, timbul suatu reaksi. Dengan reaksi inilah saya menjadi sadar akan nyamuk itu. Jadi, sekadar pikiran yang melekat pada organ-organ pun belum cukup; harus ada reaksi yang berbentuk kehendak. Kemampuan dari mana reaksi ini muncul, yakni kemampuan pengetahuan atau intelek, disebut "Buddhi". Pertama, harus ada instrumen eksternal, kemudian organ, lalu pikiran harus melekat pada organ, kemudian harus muncul reaksi intelek, dan apabila semua itu telah lengkap, seketika itu juga muncullah gagasan "Aku dan objek eksternal", dan terjadilah persepsi, suatu konsep, suatu pengetahuan. Organ eksternal, yang hanyalah instrumen, berada di dalam tubuh, dan di belakangnya terdapat organ internal yang lebih halus; kemudian ada pikiran, lalu kemampuan intelektual, lalu keakuan, yang berkata, "Aku" — aku melihat, aku mendengar, dan sebagainya. Seluruh proses ini berlangsung melalui sejumlah daya tertentu; Anda boleh menyebutnya daya kehidupan; dalam bahasa Sanskerta ia disebut Prana. Bagian kasar manusia ini, tubuh ini, yang di dalamnya terdapat instrumen-instrumen eksternal, dalam bahasa Sanskerta disebut Sthula Sharira, tubuh kasar; di belakangnya datang rangkaian yang dimulai dari organ-organ, pikiran, intelek, dan keakuan. Semua ini bersama daya kehidupan membentuk satu kesatuan majemuk yang disebut tubuh halus, Sukshma Sharira. Daya-daya ini tersusun dari unsur-unsur yang sangat halus, demikian halusnya sehingga betapa pun besarnya cedera pada tubuh ini tidak akan dapat menghancurkannya; ia bertahan melewati segala guncangan yang menimpa tubuh ini. Tubuh kasar yang kita lihat tersusun dari materi kasar, dan oleh karena itu ia selalu diperbaharui dan berubah secara terus-menerus. Akan tetapi, organ-organ internal, pikiran, intelek, dan keakuan tersusun dari materi yang paling halus, demikian halusnya sehingga akan bertahan selama berabad-abad lamanya. Mereka begitu halus sehingga tak ada apa pun yang dapat menahannya; mereka dapat menembus segala penghalang. Tubuh kasar tidak berkesadaran, demikian pula tubuh halus, karena tersusun dari materi halus. Walaupun satu bagian disebut pikiran, yang lain intelek, dan yang ketiga keakuan, namun sekilas pandang kita melihat bahwa tidak satu pun dari ketiganya dapat menjadi "Yang Mengetahui". Tidak satu pun dari mereka dapat menjadi pengamat, saksi, pihak yang untuknya tindakan itu dilakukan, dan yang melihat tindakan itu. Segala pergerakan dalam pikiran, atau kemampuan berintelek, atau keakuan, mestilah untuk pihak lain. Karena tersusun dari materi halus, mereka tidak dapat bersinar dengan sendirinya. Cahaya mereka tidak bisa berasal dari diri mereka sendiri. Penampakan meja ini, misalnya, tidak mungkin bersumber dari benda material apa pun. Oleh karena itu, mesti ada seseorang di belakang mereka semua, yang merupakan penampak sejati, pelihat sejati, penikmat sejati, dan dalam bahasa Sanskerta Ia disebut Atman (Diri sejati), Jiwa manusia, Diri sejati manusia. Dialah yang sesungguhnya melihat segala sesuatu. Instrumen-instrumen eksternal dan organ-organ menangkap kesan-kesan dan menyampaikannya kepada pikiran, dan pikiran kepada intelek, dan intelek memantulkannya seperti pada sebuah cermin, dan di belakangnya adalah Jiwa yang memandangnya dan memberikan perintah-perintah-Nya serta arahan-arahan-Nya. Dialah penguasa segala instrumen ini, tuan rumah, raja yang bertakhta di dalam tubuh. Kemampuan keakuan, kemampuan berintelek, kemampuan berpikir, organ-organ, instrumen-instrumen, tubuh, semuanya mematuhi perintah-Nya. Dialah yang menampakkan semuanya. Inilah Atman manusia. Demikian pula, kita dapat melihat bahwa apa yang ada di bagian kecil alam semesta haruslah juga ada di seluruh alam semesta. Apabila keselarasan adalah hukum alam semesta, setiap bagian alam semesta tentu dibangun di atas rencana yang sama dengan keseluruhannya. Maka, secara alami kita berpikir bahwa di belakang bentuk material kasar yang kita sebut alam semesta kita ini, mesti ada alam semesta yang tersusun dari materi yang lebih halus, yang kita sebut pikiran, dan di belakangnya mesti ada Jiwa, yang menjadikan segala pikiran ini mungkin, yang memerintah, yang merupakan raja yang bertakhta atas alam semesta ini. Jiwa yang berada di belakang setiap pikiran dan setiap tubuh itu disebut Pratyagatman, Atman individual, dan Jiwa yang berada di belakang alam semesta sebagai pembimbing, penguasa, dan penyelenggaranya, adalah Tuhan.
Hal berikutnya yang perlu dipertimbangkan adalah dari manakah segala hal ini berasal. Jawabannya adalah: Apa yang dimaksud dengan berasal? Jika maksudnya bahwa sesuatu dapat dihasilkan dari ketiadaan, itu mustahil. Seluruh penciptaan, penampakan ini, tidak mungkin dihasilkan dari nol. Tidak ada yang dapat dihasilkan tanpa sebab, dan akibat tidak lain adalah sebab yang menampakkan diri kembali. Ini sebuah gelas. Andaikan kita memecahkannya berkeping-keping, menghaluskannya, dan dengan bahan kimia hampir-hampir melenyapkannya. Apakah ia akan kembali ke nol? Tentu tidak. Bentuknya akan rusak, tetapi partikel-partikel yang membentuknya akan tetap ada; partikel itu akan berada di luar jangkauan indra kita, tetapi tetap ada, dan sangat mungkin dari materi tersebut dibuat gelas lain. Jika hal ini benar untuk satu kasus, ia akan benar untuk setiap kasus. Sesuatu tidak dapat dibuat dari ketiadaan. Sesuatu pun tidak dapat dibuat kembali menjadi ketiadaan. Ia dapat menjadi semakin halus dan semakin halus, lalu kembali menjadi semakin kasar dan semakin kasar. Tetesan hujan diangkat dari samudra dalam bentuk uap, lalu hanyut menembus udara menuju pegunungan; di sana ia kembali berubah menjadi air dan mengalir kembali sejauh ratusan mil ke samudra induknya. Biji menghasilkan pohon. Pohon mati, hanya menyisakan biji. Biji itu kembali tumbuh menjadi pohon lain, yang kembali berakhir sebagai biji, dan seterusnya. Perhatikanlah seekor burung, bagaimana dari telur ia muncul, menjadi burung yang indah, menjalani hidupnya, lalu mati, hanya menyisakan telur-telur lain yang mengandung benih burung-burung yang akan datang. Demikian pula dengan binatang-binatang; demikian pula dengan manusia. Segala sesuatu bermula, seakan-akan, dari benih-benih tertentu, rudimen-rudimen tertentu, bentuk-bentuk halus tertentu, dan menjadi semakin kasar dan semakin kasar seraya berkembang; lalu kembali ia surut menjadi bentuk halus itu dan mengendap. Seluruh alam semesta berjalan dengan cara ini. Tibalah saatnya ketika seluruh alam semesta meleleh dan menjadi semakin halus serta akhirnya lenyap sepenuhnya, seakan-akan, tetapi tetap ada sebagai materi yang sangat halus. Kita mengetahui melalui sains modern dan astronomi bahwa bumi ini sedang mendingin, dan pada saatnya ia akan menjadi sangat dingin, lalu pecah berkeping-keping dan menjadi semakin halus hingga akhirnya kembali menjadi eter. Namun partikel-partikelnya akan tetap ada untuk membentuk materi dari mana bumi lain akan diluncurkan. Bumi itu pun akan lenyap, lalu yang lain akan muncul. Demikianlah alam semesta ini akan kembali kepada sebab-sebabnya, dan kembali materi-materinya akan berhimpun dan mengambil bentuk, bagaikan gelombang yang turun, lalu naik kembali, dan mengambil rupa. Tindakan kembali kepada sebab dan keluar lagi, mengambil bentuk, dalam bahasa Sanskerta disebut Sankocha dan Vikasha, yang berarti menyusut dan mengembang. Seluruh alam semesta, seakan-akan, menyusut, lalu mengembang kembali. Dalam istilah sains modern yang lebih lazim, ia melibat (involution) dan mengurai (evolution). Anda mendengar tentang evolusi, bagaimana segala bentuk tumbuh dari bentuk yang lebih rendah, perlahan-lahan naik dan naik. Hal ini sangat benar, tetapi setiap evolusi mengandaikan adanya involusi sebelumnya. Kita tahu bahwa jumlah total energi yang tampak di alam semesta selalu sama pada setiap waktu, dan bahwa materi tidak dapat dihancurkan. Anda sama sekali tidak dapat mengurangi satu partikel pun dari materi. Anda tidak dapat menghilangkan satu foot-pound energi pun atau menambahkannya. Jumlah totalnya selalu sama. Hanya penampakannya yang beragam, yang melibat dan mengurai. Maka siklus ini adalah evolusi dari involusi siklus sebelumnya, dan siklus ini akan kembali melibat, menjadi semakin halus dan semakin halus, lalu darinya akan muncul siklus berikutnya. Seluruh alam semesta berjalan dengan cara demikian. Dengan demikian kita menemukan bahwa tidak ada penciptaan dalam arti bahwa sesuatu diciptakan dari ketiadaan. Untuk menggunakan kata yang lebih tepat, yang ada adalah penampakan, dan Tuhan adalah Penampak alam semesta ini. Alam semesta, seakan-akan, dihembuskan keluar dari-Nya, lalu menyusut kembali ke dalam-Nya, dan kembali Ia menghembuskannya keluar. Sebuah perumpamaan yang sangat indah diberikan dalam Veda — "Yang Esa Kekal itu menghembuskan keluar alam semesta ini dan menariknya kembali." Sebagaimana kita dapat menghembuskan keluar sebutir kecil debu dan menariknya kembali. Itu semua sangat baik, tetapi mungkin akan ditanyakan: Bagaimana kita memulainya pada siklus pertama? Jawabannya adalah: Apa makna dari siklus pertama? Tidak ada siklus pertama. Jika Anda dapat memberi awal pada waktu, seluruh konsep waktu akan runtuh. Cobalah memikirkan suatu batas tempat waktu dimulai, Anda harus memikirkan waktu di luar batas itu. Cobalah memikirkan tempat ruang dimulai, Anda harus memikirkan ruang di luar tempat itu. Waktu dan ruang adalah tak terhingga, dan oleh karena itu tidak memiliki awal maupun akhir. Ini gagasan yang lebih baik daripada bahwa Tuhan menciptakan alam semesta dalam lima menit lalu tertidur, dan sejak itu terus tidur. Sebaliknya, gagasan ini memberi kita Tuhan sebagai Sang Pencipta yang Kekal. Inilah rangkaian gelombang yang naik dan turun, dan Tuhan mengarahkan proses kekal ini. Sebagaimana alam semesta tanpa awal dan tanpa akhir, demikian pula Tuhan. Kita melihat bahwa harus demikian adanya, karena jika kita katakan ada suatu waktu ketika tidak ada penciptaan, baik dalam bentuk kasar maupun halus, maka tidak ada pula Tuhan, sebab Tuhan kita kenal sebagai Sakshi, Saksi alam semesta. Apabila alam semesta tidak ada, Ia pun tidak ada. Satu konsep mengikuti yang lain. Gagasan tentang sebab kita peroleh dari gagasan tentang akibat, dan jika tidak ada akibat, tidak akan ada sebab. Maka secara alami menyusullah bahwa karena alam semesta kekal, Tuhan pun kekal.
Jiwa juga mestilah kekal. Mengapa? Pertama-tama kita melihat bahwa jiwa bukanlah materi. Ia bukan tubuh kasar, juga bukan tubuh halus, yang kita sebut pikiran atau renungan. Ia bukan tubuh jasmani, dan bukan pula apa yang dalam Kekristenan disebut tubuh rohani. Tubuh kasar dan tubuh rohani itulah yang dapat berubah. Tubuh kasar dapat berubah hampir setiap menit dan mati, tetapi tubuh rohani bertahan melewati periode-periode yang panjang, sampai seseorang menjadi bebas, ketika ia pun runtuh. Apabila seseorang menjadi bebas, tubuh rohani itu pun bercerai-berai. Tubuh kasar terurai setiap kali manusia mati. Jiwa, karena tidak tersusun dari partikel apa pun, mestilah tak dapat dihancurkan. Apa yang kita maksud dengan kehancuran? Kehancuran adalah penguraian materi-materi yang menyusun sesuatu. Jika gelas ini pecah berkeping-keping, materi-materinya akan terurai, dan itulah kehancuran gelas itu. Penguraian partikel-partikel itulah yang kita maksud dengan kehancuran. Secara alami menyusullah bahwa sesuatu yang tidak tersusun dari partikel tidak dapat dihancurkan, tidak akan pernah dapat diuraikan. Jiwa tidak tersusun dari materi apa pun. Ia adalah kesatuan yang tak terbagi. Oleh karena itu, ia mestilah tak dapat dihancurkan. Untuk alasan yang sama, ia juga mestilah tanpa permulaan. Maka jiwa tanpa permulaan dan tanpa akhir.
Kita memiliki tiga entitas. Inilah alam, yang tak terhingga, namun berubah-ubah. Seluruh alam tanpa awal dan tanpa akhir, tetapi di dalamnya terjadi beragam perubahan. Ia seperti sebuah sungai yang mengalir ke laut selama ribuan tahun. Ia tetap sungai yang sama, tetapi ia berubah setiap menit, partikel-partikel airnya senantiasa berubah letaknya. Lalu ada Tuhan, yang tidak berubah, sang penguasa; dan ada jiwa yang tidak berubah seperti Tuhan, kekal namun berada di bawah penguasa. Yang satu adalah tuan, yang lain pelayan, dan yang ketiga adalah alam.
Tuhan, sebagai sebab dari pemunculan, kelangsungan, dan peleburan alam semesta, mestilah hadir untuk menghasilkan akibat itu. Bukan hanya itu, sebab itu menjadi akibat. Gelas dihasilkan dari bahan-bahan tertentu dan daya-daya tertentu yang dipakai oleh pembuatnya. Di dalam gelas itu terdapat daya-daya itu ditambah bahan-bahannya. Daya yang dipakai telah menjadi daya kohesi, dan apabila daya itu lenyap, gelas akan pecah berkeping-keping; bahan-bahannya juga tak diragukan lagi ada di dalam gelas itu. Hanya bentuknya yang berubah. Sebab telah menjadi akibat. Di mana pun Anda melihat suatu akibat, Anda selalu dapat menelusurinya kepada suatu sebab, dan sebab menampakkan diri sebagai akibat. Maka, jika Tuhan adalah sebab alam semesta, dan alam semesta adalah akibat, maka Tuhan telah menjadi alam semesta. Jika jiwa-jiwa adalah akibat, dan Tuhan adalah sebab, maka Tuhan telah menjadi jiwa-jiwa itu. Setiap jiwa, oleh karena itu, adalah bagian dari Tuhan. "Sebagaimana dari kumpulan api terbang jumlah percikan yang tak terhingga, demikian pula dari Yang Esa Kekal seluruh alam semesta jiwa-jiwa ini telah muncul."
Kita telah melihat bahwa ada Tuhan yang kekal, dan ada alam yang kekal. Dan ada pula jumlah jiwa-jiwa kekal yang tak terhingga. Inilah tahap pertama dalam agama, yang disebut dualisme, tahap ketika manusia melihat dirinya sendiri dan Tuhan terpisah secara kekal, ketika Tuhan adalah entitas yang terpisah pada diri-Nya sendiri, dan manusia adalah entitas yang terpisah pada dirinya sendiri, dan alam adalah entitas yang terpisah pada dirinya sendiri. Inilah dualisme, yang berpegang bahwa subjek dan objek saling berlawanan dalam segala hal. Apabila manusia memandang alam, ia adalah subjek dan alam adalah objek. Ia melihat dualisme antara subjek dan objek. Apabila ia memandang Tuhan, ia melihat Tuhan sebagai objek dan dirinya sebagai subjek. Mereka sepenuhnya terpisah. Inilah dualisme antara manusia dan Tuhan. Inilah biasanya pandangan pertama tentang agama.
Lalu datanglah pandangan lain yang baru saja saya tunjukkan kepada Anda. Manusia mulai menemukan bahwa jika Tuhan adalah sebab alam semesta dan alam semesta adalah akibat, Tuhan sendiri mestilah telah menjadi alam semesta dan jiwa-jiwa, dan ia tidak lain hanyalah sebutir partikel dari mana Tuhan adalah keseluruhannya. Kita tidak lain hanyalah makhluk-makhluk kecil, percikan-percikan dari kumpulan api itu, dan seluruh alam semesta adalah penampakan dari Tuhan sendiri. Inilah langkah berikutnya. Dalam bahasa Sanskerta, ia disebut Vishishtadvaita. Sebagaimana saya memiliki tubuh ini dan tubuh ini meliputi jiwa, dan jiwa berada di dalam dan menembus tubuh ini, demikianlah seluruh alam semesta yang berisi jiwa-jiwa tak terhingga serta alam ini membentuk, seakan-akan, tubuh Tuhan. Apabila tiba masa involusi, alam semesta menjadi semakin halus dan semakin halus, namun tetap menjadi tubuh Tuhan. Apabila tiba penampakan kasar, alam semesta pun tetap menjadi tubuh Tuhan. Sebagaimana jiwa manusia adalah jiwa dari tubuh dan pikiran manusia, demikianlah Tuhan adalah Jiwa dari jiwa-jiwa kita. Anda semua pernah mendengar ungkapan ini dalam setiap agama, "Jiwa dari jiwa-jiwa kita". Itulah maksudnya. Ia, seakan-akan, bermukim di dalamnya, membimbingnya, adalah penguasa semuanya. Dalam pandangan pertama, yakni dualisme, kita masing-masing adalah individu, terpisah secara kekal dari Tuhan dan alam. Dalam pandangan kedua, kita adalah individu-individu, namun tidak terpisah dari Tuhan. Kita bagaikan partikel-partikel kecil yang mengapung dalam satu kumpulan, dan kumpulan itu adalah Tuhan. Kita adalah individu-individu, tetapi satu di dalam Tuhan. Kita semua berada di dalam-Nya. Kita semua adalah bagian dari-Nya, dan oleh karena itu kita adalah Satu. Namun di antara manusia dengan manusia, manusia dengan Tuhan, ada individualitas yang tegas, terpisah namun tidak terpisah.
Kemudian datanglah pertanyaan yang lebih halus lagi. Pertanyaannya adalah: Dapatkah ketakterhinggaan memiliki bagian-bagian? Apa yang dimaksud dengan bagian-bagian ketakterhinggaan? Jika Anda menalarnya, Anda akan menemukan bahwa hal itu mustahil. Ketakterhinggaan tidak dapat dibagi, ia senantiasa tetap tak terhingga. Jika ia dapat dibagi, masing-masing bagian akan menjadi tak terhingga. Dan tidak mungkin ada dua ketakterhinggaan. Andaikan ada, yang satu akan membatasi yang lain, dan keduanya akan menjadi terbatas. Ketakterhinggaan hanya dapat berupa satu, tak terbagi. Maka kesimpulannya akan tercapai bahwa yang tak terhingga itu satu dan bukan banyak, dan Jiwa Tak Terhingga yang satu itu memantulkan diri-Nya melalui ribuan dan ribuan cermin, tampak sebagai sekian banyak jiwa yang berbeda. Itulah Jiwa Tak Terhingga yang sama, yang menjadi latar belakang alam semesta, yang kita sebut Tuhan. Jiwa Tak Terhingga yang sama itu juga adalah latar belakang pikiran manusia, yang kita sebut jiwa manusia.
English
SOUL, NATURE, AND GOD
According to the Vedanta philosophy, man consists of three substances, so to say. The outermost is the body, the gross form of man, in which are the instruments of sensation, such as the eyes, nose, ears, and so forth. This eye is not the organ of vision; it is only the instrument. Behind that is the organ. So, the ears are not the organs of hearing; they are the instruments, and behind them is the organ, or what, in modern physiology, is called the centre. The organs are called Indriyas in Sanskrit. If the centre which governs the eyes be destroyed, the eyes will not see; so with all our senses. The organs, again, cannot sense anything by themselves, until there be something else attached to them. That something is the mind. Many times you have observed that you were deeply engaged in a certain thought, and the clock struck and you did not hear it. Why? The ear was there; vibrations entered it and were carried into the brain, yet you did not hear, because the mind was not joined to the organ. The impressions of external objects are carried to the organs, and when the mind is attached to them, it takes the impressions and gives them, as it were, a colouring, which is called egoism, "I". Take the case of a mosquito biting me on the finger when I am engaged in some work. I do not feel it, because my mind is joined to something else. Later, when my mind is joined to the impression conveyed to the Indriyas, a reaction comes. With this reaction I become conscious of the mosquito. So even the mind joining itself to the organs is not sufficient; there must come the reaction in the form of will. This faculty from which the reaction comes, the faculty of knowledge or intellect, is called "Buddhi" First, there must be the external instrument, next the organ, next the mind must join itself to the organ, then must come the reaction of intellect, and when all these things are complete, there immediately flashes the idea, "I and the external object", and there is a perception, a concept, knowledge. The external organ, which is only the instrument, is in the body, and behind that is the internal organ which is finer; then there is the mind, then the intellectual faculty, then egoism, which says, "I" — I see, I hear, and so forth. The whole process is carried on by certain forces; you may call them vital forces; in Sanskrit they are called Prâna. This gross part of man, this body, in which are the external instruments, is called in Sanskrit, Sthula Sharira, the gross body; behind it comes the series, beginning with the organs, the mind, the intellect, the egoism. These and the vital forces form a compound which is called the fine body, the Sukshma Sharira. These forces are composed of very fine elements, so fine that no amount of injury to this body can destroy them; they survive all the shocks given to this body. The gross body we see is composed of gross material, and as such it is always being renewed and changing continuously. But the internal organs, the mind, the intellect, and the egoism are composed of the finest material, so fine that they will endure for aeons and aeons. They are so fine that they cannot be resisted by anything; they can get through any obstruction. The gross body is non-intelligent, so is the fine, being composed of fine matter. Although one part is called mind, another the intellect, and the third egoism, yet we see at a glance that no one of them can be the "Knower". None of them can be the perceiver, the witness, the one for whom action is made, and who is the seer of the action. All these movements in the mind, or the faculty of intellection, or egoism, must be for some one else. These being composed of fine matter cannot be self-effulgent. Their luminosity cannot be in themselves. This manifestation of the table, for instance, cannot be due to any material thing. Therefore there must be some one behind them all, who is the real manifester, the real seer, the real enjoyer and He in Sanskrit is called the Atman, the Soul of man, the real Self of man. He it is who really sees things. The external instruments and the organs catch the impressions and convey them to the mind, and the mind to the intellect, and the intellect reflects them as on a mirror, and back of it is the Soul that looks on them and gives His orders and His directions. He is the ruler of all these instruments, the master in the house, the enthroned king in the body. The faculty of egoism, the faculty of intellection, the faculty of cogitation, the organs, the instruments, the body, all of them obey His commands. It is He who is manifesting all of these. This is the Atman of man. Similarly, we can see that what is in a small part of the universe must also be in the whole universe. If conformity is the law of the universe, every part of the universe must have been built on the same plan as the whole. So we naturally think that behind the gross material form which we call this universe of ours, there must be a universe of finer matter, which we call thought, and behind that there must be a Soul, which makes all this thought possible, which commands, which is the enthroned king of this universe. That soul which is behind each mind and each body is called Pratyagâtman, the individual Atman, and that Soul which is behind the universe as its guide, ruler, and governor, is God.
The next thing to consider is whence all these things come. The answer is: What is meant by coming? If it means that something can be produced out of nothing, it is impossible. All this creation, manifestation, cannot be produced out of zero. Nothing can be produced without a cause, and the effect is but the cause reproduced. Here is a glass. Suppose we break it to pieces, and pulverise it, and by means of chemicals almost annihilate it. Will it go back to zero? Certainly not. The form will break, but the particles of which it is made will be there; they will go beyond our senses, but they remain, and it is quite possible that out of these materials another glass may be made. If this is true in one case, it will be so in every case. Something cannot be made out of nothing. Nor can something be made to go back to nothing. It may become finer and finer, and then again grosser and grosser. The raindrop is drawn from the ocean in the form of vapour, and drifts away through the air to the mountains; there it changes again into water and flows back through hundreds of miles down to the mother ocean. The seed produces the tree. The tree dies, leaving only the seed. Again it comes up as another tree, which again ends in the seed, and so on. Look at a bird, how from; the egg it springs, becomes a beautiful bird, lives its life and then dies, leaving only other eggs, containing germs of future birds. So with the animals; so with men. Everything begins, as it were, from certain seeds, certain rudiments, certain fine forms, and becomes grosser and grosser as it develops; and then again it goes back to that fine form and subsides. The whole universe is going on in this way. There comes a time when this whole universe melts down and becomes finer and at last disappears entirely, as it were, but remains as superfine matter. We know through modern science and astronomy that this earth is cooling down, and in course of time it will become very cold, and then it will break to pieces and become finer and finer until it becomes ether once more. Yet the particles will all remain to form the material out of which another earth will be projected. Again that will disappear, and another will come out. So this universe will go back to its causes, and again its materials will come together and take form, like the wave that goes down, rises again, and takes shape. The acts of going back to causes and coming out again, taking form, are called in Sanskrit Sankocha and Vikâsha, which mean shrinking and expanding. The whole universe, as it were, shrinks, and then it expands again. To use the more accepted words of modern science, they are involved and evolved. You hear about evolution, how all forms grow from lower ones, slowly growing up and up. This is very true, but each evolution presupposes an involution. We know that the sum total of energy that is displayed in the universe is the same at all times, and that matter is indestructible. By no means can you take away one particle of matter. You cannot take away a foot-pound of energy or add one. The sum total is the same always. Only the manifestation varies, being involved and evolved. So this cycle is the evolution out of the involution of the previous cycle, and this cycle will again be involved, getting finer and finer, and out of that will come the next cycle. The whole universe is going on in this fashion. Thus we find that there is no creation in the sense that something is created out of nothing. To use a better word, there is manifestation, and God is the manifester of the universe. The universe, as it were, is being breathed out of Him, and again it shrinks into Him, and again He throws it out. A most beautiful simile is given in the Vedas — "That eternal One breathes out this universe and breathes it in." Just as we can breathe out a little particle of dust and breathe it in again. That is all very good, but the question may be asked: How we, it at the first cycle? The answer is: What is the meaning of a first cycle? There was none. If you can give a beginning to time, the whole concept of time will be destroyed. Try to think of a limit where time began, you have to think of time beyond that limit. Try to think where space begins, you will have to think of space beyond that. Time and space are infinite, and therefore have neither beginning nor end. This is a better idea than that God created the universe in five minutes and then went to sleep, and since then has been sleeping. On the other hand, this idea will give us God as the Eternal Creator. Here is a series of waves rising and falling, and God is directing this eternal process. As the universe is without beginning and without end, so is God. We see that it must necessarily be so, because if we say there was a time when there was no creation, either in a gross or a fine form, then there was no God, because God is known to us as Sâkshi, the Witness of the universe. When the universe did not exist, neither did He. One concept follows the other. The idea of the cause we get from the idea of the effect, and if there is no effect, there will be no cause. It naturally follows that as the universe is eternal, God is eternal.
The soul must also be eternal. Why? In the first place we see that the soul is not matter. It is neither a gross body, nor a fine body, which we call mind or thought. It is neither a physical body, nor what in Christianity is called a spiritual body. It is the gross body and the spiritual body that are liable to change. The gross body is liable to change almost every minute and dies, but the spiritual body endures through long periods, until one becomes free, when it also falls away. When a man becomes free, the spiritual body disperses. The gross body disintegrates every time a man dies. The soul not being made of any particles must be indestructible. What do we mean by destruction? Destruction is disintegration of the materials out of which anything is composed. If this glass is broken into pieces, the materials will disintegrate, and that will be the destruction of the glass. Disintegration of particles is what we mean by destruction. It naturally follows that nothing that is not composed of particles can be destroyed, can ever be disintegrated. The soul is not composed of any materials. It is unity indivisible. Therefore it must be indestructible. For the same reasons it must also be without any beginning. So the soul is without any beginning and end.
We have three entities. Here is nature which is infinite, but changeful. The whole of nature is without beginning and end, but within it are multifarious changes. It is like a river that runs down to the sea for thousands of years. It is the same river always, but it is changing every minute, the particles of water are changing their position constantly. Then there is God, unchangeable, the ruler; and there is the soul unchangeable as God, eternal but under the ruler. One is the master, the other the servant, and the third one is nature.
God being the cause of the projection, the continuance, and the dissolution of the universe, the cause must be present to produce the effect. Not only so, the cause becomes the effect. Glass is produced out of certain materials and certain forces used by the manufacturer. In the glass there are those forces plus the materials. The forces used have become the force of adhesion, and if that force goes the glass will fall to pieces; the materials also are undoubtedly in the glass. Only their form is changed. The cause has become the effect. Wherever you see an effect you can always analyze it into a cause, the cause manifests itself as the effect. It follows, if God is the cause of the universe, and the universe is the effect, that God has become the universe. If souls are the effect, and God the cause, God has become the souls. Each soul, therefore, is a part of God. "As from a mass of fire an infinite number of sparks fly, even so from the Eternal One all this universe of souls has come out."
We have seen that there is the eternal God, and there is eternal nature. And there is also an infinite number of eternal souls. This is the first stage in religion, it is called dualism, the stage when man sees himself and God eternally separate, when God is a separate entity by Him, self and man is a separate entity by himself and nature is a separate entity by itself. This is dualism, which holds that the subject and the object are opposed to each other in everything. When man looks at nature, he is the subject and nature the object. He sees the dualism between subject and object. When he looks at God, he sees God as object and himself as the subject. They are entirely separate. This is the dualism between man and God. This is generally the first view of religion.
Then comes another view which I have just shown to you. Man begins to find out that if God is the cause of the universe and the universe the effect, God Himself must have become the universe and the souls, and he is but a particle of which God is the whole. We are but little beings, sparks of that mass of fire, and the whole universe is a manifestation of God Himself. This is the next step. In Sanskrit, it is called Vishishtâdvaita. Just as I have this body and this body covers the soul, and the soul is in and through this body, so this whole universe of infinite souls and nature forms, as it were, the body of God. When the period of involution comes, the universe becomes finer and finer, yet remains the body of God. When the gross manifestation comes, then also the universe remains the body of God. Just as the human soul is the soul of the human body and minds so God is the Soul of our souls. All of you have heard this expression in every religion, "Soul of our souls". That is what is meant by it. He, as it were, resides in them, guides them, is the ruler of them all. In the first view, that of dualism, each one of us is an individual, eternally separate from God and nature. In the second view, we are individuals, but not separate from God. We are like little particles floating in one mass, and that mass is God. We are individuals but one in God. We are all in Him. We are all parts of Him, and therefore we are One. And yet between man and man, man and God there is a strict individuality, separate and yet not separate.
Then comes a still finer question. The question is: Can infinity have parts? What is meant by parts of infinity? If you reason it out, you will find that it is impossible. Infinity cannot be divided, it always remains infinite. If it could be divided, each part would be infinite. And there cannot be two infinites. Suppose there were, one would limit the other, and both would be finite. Infinity can only be one, undivided. Thus the conclusion will be reached that the infinite is one and not many, and that one Infinite Soul is reflecting itself through thousands and thousands of mirrors, appearing as so many different souls. It is the same Infinite Soul, which is the background of the universe, that we call God. The same Infinite Soul also is the background of the human mind which we call the human soul.
Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.