Arsip Vivekananda

Akal, Iman, dan Cinta

Jilid5 poem
1,040 kata · 4 menit baca · Writings: Prose and Poems

Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.

AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.

Bahasa Indonesia

AKAL BUDI, IMAN, DAN CINTA

[Swamiji telah menjadikan kediaman keluarga Hale sebagai markas besarnya selama hampir seluruh tahun 1894 sebelum pusat kegiatannya bergeser ke timur menuju Pantai Atlantik. Pada kertas surat milik George W. Hale, dan dengan demikian, diduga selama salah satu masa tinggalnya di kediaman yang disebut terakhir itu, Swamiji menuliskan dengan pensil serangkaian catatan tentang subjek-subjek akal budi, iman, dan cinta, yang baru-baru ini ditemukan. Sayangnya tanggal naskah tersebut tidak dapat ditentukan secara tepat.]

Akal budi — memiliki batas-batasnya — dasarnya —

kemerosotan. Tembok-tembok di sekelilingnya —

Agnostisisme. Ateisme. Namun jangan berhenti

Yang melampaui tengah bekerja mempengaruhi kita setiap

saat — langit bintang-bintang bekerja atas diri kita — bahkan

yang tak terlihat sekalipun. Karena itu harus melampaui — akal budi

semata tak dapat — yang terbatas tidak dapat mencapai yang tak terbatas

Iman — kemerosotan ketika sendirian — fanatisme

bigotri — sektarianisme. Menyempitkan

yang terbatas maka tak dapat mencapai yang tak terbatas

Kadang bertambah dalam intensitas namun kehilangan

ekstensitas — dan pada para bigot dan fanatik menjadi

pemujaan terhadap kebanggaan dan kesombongannya sendiri

Adakah jalan lain — ada Cinta

ia tidak pernah merosot — mendamaikan melembutkan

selalu meluas — alam semesta pun terlalu sempit

bagi keluasannya.

Kita tidak dapat mendefinisikannya, kita hanya dapat menelusuri

perkembangannya dan menggambarkan lingkungan sekitarnya

Ia pada awalnya — seperti gravitasi

terhadap dunia luar — suatu kecenderungan menuju penyatuan

bentuk dan konvensi adalah kematiannya.

Ibadah melalui bentuk — metode — layanan

bentuk — sampai di situ belum ada cinta.

Ketika cinta datang metode pun mati.

Bahasa manusia dan bentuk-bentuk manusiawi Tuhan sebagai ayah, Tuhan sebagai ibu, Tuhan sebagai

kekasih — Surata-vardhanam dsb. Nyanyian-nyanyian

Salomo — Ketergantungan dan kebebasan

Cinta Cinta —

Cintailah istri yang suci — Anasuya Sita —

bukan sebagai kewajiban yang kering dan berat melainkan sebagai

cinta yang selalu menyenangkan — pemujaan Sita —

Kegilaan Cinta — manusia yang mabuk dalam Tuhan

Alegori Radha — yang disalahpahami

Pembatasan semakin bertambah —

Nafsu adalah kematian cinta

Diri adalah kematian cinta

dari individu menuju yang umum

Dari yang konkret menuju yang abstrak — menuju yang mutlak

Orang Muslim yang berdoa dan gadis itu

Simpati — Kabir —

Biarawati Kristen yang dari tangannya mengalir darah

Orang Suci Muslim

Setiap partikel mencari pelengkapnya sendiri

Ketika ia menemukannya ia beristirahat

Setiap manusia mencari — kebahagiaan — dan kestabilan

Pencarian itu nyata namun objek-objeknya sendiri

namun kebahagiaan datang kepada mereka setidaknya sesaat

melalui pencarian objek-objek tersebut.

Satu-satunya objek yang tidak berubah dan satu-satunya pelengkap bagi watak dan

aspirasi Jiwa manusia adalah Tuhan.

Cinta adalah perjuangan Jiwa manusia untuk menemukan

pelengkapnya keseimbangannya yang stabil keistirahatannya yang tak terbatas.

Akal budi — memiliki batas-batasnya — dasarnya —

kemerosotan. Tembok-tembok di sekelilingnya —

Agnostisisme. Ateisme. Namun jangan berhenti

Yang melampaui tengah bekerja mempengaruhi kita setiap

saat — langit bintang-bintang bekerja atas diri kita — bahkan

yang tak terlihat sekalipun. Karena itu harus melampaui — akal budi

semata tak dapat — yang terbatas tidak dapat mencapai yang tak terbatas

Iman — kemerosotan ketika sendirian — fanatisme

bigotri — sektarianisme. Menyempitkan

yang terbatas maka tak dapat mencapai yang tak terbatas

Kadang bertambah dalam intensitas namun kehilangan

ekstensitas — dan pada para bigot dan fanatik menjadi

pemujaan terhadap kebanggaan dan kesombongannya sendiri

Adakah jalan lain — ada Cinta

ia tidak pernah merosot — mendamaikan melembutkan

selalu meluas — alam semesta pun terlalu sempit

bagi keluasannya.

Kita tidak dapat mendefinisikannya, kita hanya dapat menelusuri

perkembangannya dan menggambarkan lingkungan sekitarnya

Ia pada awalnya — seperti gravitasi

terhadap dunia luar — suatu kecenderungan menuju penyatuan

bentuk dan konvensi adalah kematiannya.

Ibadah melalui bentuk — metode — layanan

bentuk — sampai di situ belum ada cinta.

Ketika cinta datang metode pun mati.

Bahasa manusia dan bentuk-bentuk manusiawi Tuhan sebagai ayah, Tuhan sebagai ibu, Tuhan sebagai

kekasih — Surata-vardhanam dsb. Nyanyian-nyanyian

Salomo — Ketergantungan dan kebebasan

Cinta Cinta —

Cintailah istri yang suci — Anasuya Sita —

bukan sebagai kewajiban yang kering dan berat melainkan sebagai

cinta yang selalu menyenangkan — pemujaan Sita —

Kegilaan Cinta — manusia yang mabuk dalam Tuhan

Alegori Radha — yang disalahpahami

Pembatasan semakin bertambah —

Nafsu adalah kematian cinta

Diri adalah kematian cinta

dari individu menuju yang umum

Dari yang konkret menuju yang abstrak — menuju yang mutlak

Orang Muslim yang berdoa dan gadis itu

Simpati — Kabir —

Biarawati Kristen yang dari tangannya mengalir darah

Orang Suci Muslim

Setiap partikel mencari pelengkapnya sendiri

Ketika ia menemukannya ia beristirahat

Setiap manusia mencari — kebahagiaan — dan kestabilan

Pencarian itu nyata namun objek-objeknya sendiri

namun kebahagiaan datang kepada mereka setidaknya sesaat

melalui pencarian objek-objek tersebut.

Satu-satunya objek yang tidak berubah dan satu-satunya pelengkap bagi watak dan

aspirasi Jiwa manusia adalah Tuhan.

Cinta adalah perjuangan Jiwa manusia untuk menemukan

pelengkapnya keseimbangannya yang stabil keistirahatannya yang tak terbatas.

Akal budi — memiliki batas-batasnya — dasarnya —

kemerosotan. Tembok-tembok di sekelilingnya —

Agnostisisme. Ateisme. Namun jangan berhenti

Yang melampaui tengah bekerja mempengaruhi kita setiap

saat — langit bintang-bintang bekerja atas diri kita — bahkan

yang tak terlihat sekalipun. Karena itu harus melampaui — akal budi

semata tak dapat — yang terbatas tidak dapat mencapai yang tak terbatas

Iman — kemerosotan ketika sendirian — fanatisme

bigotri — sektarianisme. Menyempitkan

yang terbatas maka tak dapat mencapai yang tak terbatas

Kadang bertambah dalam intensitas namun kehilangan

ekstensitas — dan pada para bigot dan fanatik menjadi

pemujaan terhadap kebanggaan dan kesombongannya sendiri

Adakah jalan lain — ada Cinta

ia tidak pernah merosot — mendamaikan melembutkan

selalu meluas — alam semesta pun terlalu sempit

bagi keluasannya.

Kita tidak dapat mendefinisikannya, kita hanya dapat menelusuri

perkembangannya dan menggambarkan lingkungan sekitarnya

Ia pada awalnya — seperti gravitasi

terhadap dunia luar — suatu kecenderungan menuju penyatuan

bentuk dan konvensi adalah kematiannya.

Ibadah melalui bentuk — metode — layanan

bentuk — sampai di situ belum ada cinta.

Ketika cinta datang metode pun mati.

Bahasa manusia dan bentuk-bentuk manusiawi Tuhan sebagai ayah, Tuhan sebagai ibu, Tuhan sebagai

kekasih — Surata-vardhanam dsb. Nyanyian-nyanyian

Salomo — Ketergantungan dan kebebasan

Cinta Cinta —

Cintailah istri yang suci — Anasuya Sita —

bukan sebagai kewajiban yang kering dan berat melainkan sebagai

cinta yang selalu menyenangkan — pemujaan Sita —

Kegilaan Cinta — manusia yang mabuk dalam Tuhan

Alegori Radha — yang disalahpahami

Pembatasan semakin bertambah —

Nafsu adalah kematian cinta

Diri adalah kematian cinta

dari individu menuju yang umum

Dari yang konkret menuju yang abstrak — menuju yang mutlak

Orang Muslim yang berdoa dan gadis itu

Simpati — Kabir —

Biarawati Kristen yang dari tangannya mengalir darah

Orang Suci Muslim

Setiap partikel mencari pelengkapnya sendiri

Ketika ia menemukannya ia beristirahat

Setiap manusia mencari — kebahagiaan — dan kestabilan

Pencarian itu nyata namun objek-objeknya sendiri

namun kebahagiaan datang kepada mereka setidaknya sesaat

melalui pencarian objek-objek tersebut.

Satu-satunya objek yang tidak berubah dan satu-satunya pelengkap bagi watak dan

aspirasi Jiwa manusia adalah Tuhan.

Cinta adalah perjuangan Jiwa manusia untuk menemukan

pelengkapnya keseimbangannya yang stabil keistirahatannya yang tak terbatas.

English

REASON, FAITH AND LOVE

[Swamiji had made the home of the Hale family his headquarters during almost all of 1894 before the pivot of his activities moved eastward to the Atlantic Coast. It was on George W. Hale's letter paper and thus, presumably, during one of his stays in the latter's home, that Swamiji jotted down in pencil a series of notes on the subjects of reason, faith, and love, which have recently come to light. Unfortunately the date of the manuscript cannot be accurately determined.]

Reason—has its limits—its base—

its degeneration. The walls round it—

Agnosticism. Atheism. But must not stop

The beyond is acting upon influencing us every

moment—the sky the stars acting upon us—even

those not seen. Therefore must go beyond—reason

alone can't go—finite cannot get at the infinite

Faith its degeneration when alone—bigotry

fanaticism—sectarianism. Narrowing

finite therefore cannot get to the infinite

Sometimes gain in intensity but loses in

extensity—and in bigots & fanatics become

worship of his own pride & vanity

Is there no other way—there is Love

it never degenerates—peaceful softening

ever widening—the universe is too small

for its expansiveness.

We cannot define it we can only trace

it through its development and describe its surroundings

It is at first—what the gravitation

is to the external world—a tendency to unification

forms and conventionalities are its death.

Worship through forms—methods—services

forms—up to then no love.

When love comes method dies.

Human language and human forms God as father, God as mother, God as

the lover—Surata-vardhanam etc. Solomon's Song of

Songs—Dependence and independence

Love Love—

Love the chaste wife—Anasuya Sita—

not as hard dry duty but as ever pleasing

love—Sita worship—

The madness of Love—God intoxicated man

The allegory of Radha—misunderstood

The restriction more increase—

Lust is the death of love

Self is the death of love

individual to general

Concrete to abstract—to absolute

The praying Mohammedan and the girl

The Sympathy—Kabir—

The Christian nun from whose hands blood came

The Mohammedan Saint

Every particle seeking its own complement

When it finds that it is at rest

Every man seeking—happiness—& stability

The search is real but the objects are themselves

but happiness is coming to them momentary at least

through the search of these objects.

The only object unchangeable and the only complement of character and

aspirations of the human Soul is God.

Love is struggle of a human Soul to find its

complement its stable equilibrium its infinite rest.

Reason—has its limits—its base—

its degeneration. The walls round it—

Agnosticism. Atheism. But must not stop

The beyond is acting upon influencing us every

moment—the sky the stars acting upon us—even

those not seen. Therefore must go beyond—reason

alone can't go—finite cannot get at the infinite

Faith its degeneration when alone—bigotry

fanaticism—sectarianism. Narrowing

finite therefore cannot get to the infinite

Sometimes gain in intensity but loses in

extensity—and in bigots & fanatics become

worship of his own pride & vanity

Is there no other way—there is Love

it never degenerates—peaceful softening

ever widening—the universe is too small

for its expansiveness.

We cannot define it we can only trace

it through its development and describe its surroundings

It is at first—what the gravitation

is to the external world—a tendency to unification

forms and conventionalities are its death.

Worship through forms—methods—services

forms—up to then no love.

When love comes method dies.

Human language and human forms God as father, God as mother, God as

the lover—Surata-vardhanam etc. Solomon's Song of

Songs—Dependence and independence

Love Love—

Love the chaste wife—Anasuya Sita—

not as hard dry duty but as ever pleasing

love—Sita worship—

The madness of Love—God intoxicated man

The allegory of Radha—misunderstood

The restriction more increase—

Lust is the death of love

Self is the death of love

individual to general

Concrete to abstract—to absolute

The praying Mohammedan and the girl

The Sympathy—Kabir—

The Christian nun from whose hands blood came

The Mohammedan Saint

Every particle seeking its own complement

When it finds that it is at rest

Every man seeking—happiness—& stability

The search is real but the objects are themselves

but happiness is coming to them momentary at least

through the search of these objects.

The only object unchangeable and the only complement of character and

aspirations of the human Soul is God.

Love is struggle of a human Soul to find its

complement its stable equilibrium its infinite rest.

Reason—has its limits—its base—

its degeneration. The walls round it—

Agnosticism. Atheism. But must not stop

The beyond is acting upon influencing us every

moment—the sky the stars acting upon us—even

those not seen. Therefore must go beyond—reason

alone can't go—finite cannot get at the infinite

Faith its degeneration when alone—bigotry

fanaticism—sectarianism. Narrowing

finite therefore cannot get to the infinite

Sometimes gain in intensity but loses in

extensity—and in bigots & fanatics become

worship of his own pride & vanity

Is there no other way—there is Love

it never degenerates—peaceful softening

ever widening—the universe is too small

for its expansiveness.

We cannot define it we can only trace

it through its development and describe its surroundings

It is at first—what the gravitation

is to the external world—a tendency to unification

forms and conventionalities are its death.

Worship through forms—methods—services

forms—up to then no love.

When love comes method dies.

Human language and human forms God as father, God as mother, God as

the lover—Surata-vardhanam etc. Solomon's Song of

Songs—Dependence and independence

Love Love—

Love the chaste wife—Anasuya Sita—

not as hard dry duty but as ever pleasing

love—Sita worship—

The madness of Love—God intoxicated man

The allegory of Radha—misunderstood

The restriction more increase—

Lust is the death of love

Self is the death of love

individual to general

Concrete to abstract—to absolute

The praying Mohammedan and the girl

The Sympathy—Kabir—

The Christian nun from whose hands blood came

The Mohammedan Saint

Every particle seeking its own complement

When it finds that it is at rest

Every man seeking—happiness—& stability

The search is real but the objects are themselves

but happiness is coming to them momentary at least

through the search of these objects.

The only object unchangeable and the only complement of character and

aspirations of the human Soul is God.

Love is struggle of a human Soul to find its

complement its stable equilibrium its infinite rest.


Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.