Meditasi
Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.
AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.
Bahasa Indonesia
MEDITASI
(Disampaikan di Washington Hall, San Francisco, 3 April 1900)
Meditasi telah ditekankan oleh seluruh agama. Keadaan pikiran yang meditatif dinyatakan oleh para Yogi sebagai keadaan tertinggi yang dapat dialami oleh pikiran. Ketika pikiran sedang mengamati suatu objek di luar, ia menyamakan diri dengan objek itu, lalu kehilangan dirinya sendiri. Untuk memakai perumpamaan dari seorang filsuf India kuno: jiwa manusia ibarat sekeping kristal, namun ia mengambil warna dari apa pun yang berada di dekatnya. Apa pun yang disentuh oleh jiwa ... harus diambil warnanya. Itulah kesulitannya. Itulah yang membentuk belenggu. Warnanya begitu kuat sehingga kristal melupakan dirinya sendiri dan menyamakan diri dengan warna tersebut. Andaikan ada bunga merah di dekat kristal, lalu kristal itu mengambil warna merah dan melupakan dirinya, mengira dirinya merah. Kita telah mengambil warna tubuh ini dan telah melupakan siapa diri kita yang sebenarnya. Segala kesulitan yang menyusul muncul dari satu tubuh mati itu. Segala ketakutan, kekhawatiran, kegelisahan, kesusahan, kekeliruan, kelemahan, dan kejahatan kita berasal dari satu kekeliruan besar — yakni anggapan bahwa kita adalah tubuh. Inilah keadaan manusia biasa. Inilah manusia yang mengambil warna bunga di dekatnya. Kita bukanlah tubuh, sebagaimana kristal pun bukanlah bunga merah.
Praktik meditasi pun dilakukan. Kristal mengetahui dirinya sendiri, dan mengambil warnanya sendiri. Meditasilah yang membawa kita lebih dekat kepada kebenaran daripada apa pun yang lain. ...
Di India, dua orang yang bertemu — dalam bahasa Inggris mereka mengatakan, "How do you do?" Salam orang India adalah, "Apakah Anda sedang berdiri di atas diri Anda sendiri?" Begitu Anda berdiri di atas sesuatu yang lain, Anda menanggung risiko menjadi sengsara. Inilah yang saya maksud dengan meditasi — jiwa yang berusaha berdiri di atas dirinya sendiri. Keadaan itu pastilah keadaan jiwa yang paling sehat, ketika ia memikirkan dirinya sendiri, berdiam dalam kemuliaannya sendiri. Bahkan, semua metode lain yang kita miliki — melalui pembangkitan emosi, doa, dan sebagainya — sesungguhnya bertujuan pada satu hal itu juga. Dalam gejolak emosi yang mendalam, jiwa berusaha berdiri di atas dirinya sendiri. Walaupun emosi itu mungkin timbul dari sesuatu yang berada di luar, di sana tetap ada pemusatan pikiran.
Terdapat tiga tahap dalam meditasi. Yang pertama disebut [Dharana], yaitu memusatkan pikiran pada suatu objek. Saya berusaha memusatkan pikiran pada gelas ini, menyingkirkan setiap objek lain dari pikiran saya kecuali gelas ini. Namun pikiran terus berombak . . . Apabila ia telah menjadi kuat dan tidak begitu berombak lagi, keadaan itu disebut [Dhyana], meditasi. Lalu ada keadaan yang lebih tinggi lagi ketika perbedaan antara gelas dan diri saya sendiri lenyap — [Samadhi atau penyerapan]. Pikiran dan gelas menjadi identik. Saya tidak melihat perbedaan apa pun. Semua indra berhenti, dan semua daya yang selama ini bekerja melalui saluran-saluran indra lainnya [terpusat di dalam pikiran]. Maka gelas ini sepenuhnya berada di bawah kuasa pikiran. Hal ini harus disadari. Inilah permainan luar biasa yang dimainkan oleh para Yogi. ... Andaikan objek di luar memang ada. Maka yang sesungguhnya berada di luar kita bukanlah apa yang kita lihat. Gelas yang saya lihat pasti bukan objek eksternal itu sendiri. Sesuatu di luar yang adalah gelas itu, tidak saya ketahui dan tidak akan pernah saya ketahui.
Ada sesuatu yang menimbulkan kesan pada saya. Segera saya mengirim reaksi ke arah sesuatu itu, dan gelas adalah hasil dari paduan kedua hal tersebut. Aksi dari luar — X. Aksi dari dalam — Y. Gelas adalah XY. Ketika Anda memandang X, sebutlah ia dunia luar — sedangkan Y, dunia dalam . . . Apabila Anda mencoba membedakan mana yang merupakan pikiran Anda dan mana yang merupakan dunia — sesungguhnya tidak ada pembedaan seperti itu. Dunia adalah paduan antara Anda dan sesuatu yang lain. ...
Mari kita ambil contoh lain. Anda menjatuhkan batu-batu kecil ke permukaan danau yang tenang. Setiap batu yang Anda jatuhkan diikuti oleh suatu reaksi. Batu itu diselubungi oleh riak-riak kecil di danau. Demikian pula, hal-hal di luar bagaikan batu-batu yang jatuh ke dalam danau pikiran. Maka sesungguhnya kita tidak melihat hal yang di luar . . .; kita hanya melihat riaknya. . . .
Riak-riak yang muncul di dalam pikiran ini telah menyebabkan banyak hal di luar. Kita sedang tidak membicarakan [kelebihan] idealisme dan realisme. Kita anggap saja bahwa benda-benda memang ada di luar, namun apa yang kita lihat berbeda dari benda-benda yang ada di luar, karena yang kita lihat adalah apa yang ada di luar ditambah diri kita sendiri.
Andaikan saya cabut sumbangan saya dari gelas itu. Apa yang tersisa? Hampir tidak ada apa pun. Gelas itu akan lenyap. Apabila saya cabut sumbangan saya dari meja, apa yang tersisa dari meja itu? Tentu bukan meja ini, karena ia adalah campuran antara yang di luar dengan sumbangan saya. Danau yang malang itu harus menimbulkan riak ke arah batu setiap kali [batu] dilemparkan ke dalamnya. Pikiran harus menciptakan riak ke arah setiap sensasi. Andaikan . . . kita dapat menahan pikiran. Seketika itu juga kita menjadi tuan. Kita menolak menyumbangkan bagian kita pada semua fenomena ini.... Apabila saya tidak menyumbangkan bagian saya, fenomena itu harus berhenti.
Anda terus-menerus menciptakan belenggu ini. Bagaimana caranya? Dengan menambahkan bagian Anda. Kita semua merangkai tempat tidur kita sendiri, menempa rantai kita sendiri.... Ketika penyamaan diri antara objek eksternal ini dan diri saya berhenti, maka saya akan mampu menarik sumbangan saya, dan benda itu akan lenyap. Lalu saya akan mengatakan, "Inilah gelasnya", lalu menarik pikiran saya, dan ia pun lenyap.... Apabila Anda dapat menarik bagian Anda, Anda dapat berjalan di atas air. Mengapa air itu harus menenggelamkan Anda lagi? Bagaimana dengan racun? Tidak ada kesulitan lagi. Pada setiap fenomena di alam, Anda menyumbang sekurang-kurangnya separuhnya, dan alam membawa separuhnya. Apabila separuh bagian Anda ditarik, fenomena itu harus berhenti.
... Pada setiap aksi terdapat reaksi yang setara.... Apabila seseorang memukul saya dan melukai saya, itu adalah aksi orang itu dan reaksi tubuh saya. ... Andaikan saya memiliki kuasa atas tubuh sedemikian rupa sehingga saya dapat menahan bahkan reaksi otomatis itu. Mungkinkah kuasa seperti itu diperoleh? Kitab-kitab mengatakan bahwa hal itu mungkin. ... Apabila Anda menemukannya secara kebetulan, itu adalah mukjizat. Apabila Anda mempelajarinya secara ilmiah, itu adalah Yoga.
Saya pernah melihat orang-orang disembuhkan oleh kekuatan pikiran. Itulah si pelaku mukjizat. Kita mengatakan ia berdoa, lalu orang itu disembuhkan. Orang lain berkata, "Sama sekali tidak. Itu hanyalah kekuatan pikiran. Orang itu ilmiah. Ia tahu apa yang sedang ia kerjakan."
Daya meditasi memperoleh segala sesuatu bagi kita. Apabila Anda ingin memperoleh kuasa atas alam, [Anda dapat memperolehnya melalui meditasi]. Melalui daya meditasilah segala fakta ilmiah ditemukan hingga hari ini. Mereka menelaah suatu pokok dan melupakan segalanya, melupakan identitas mereka sendiri dan segalanya, lalu fakta besar itu muncul bagaikan kilat. Sebagian orang menyangka bahwa itu adalah ilham. Tidak ada ilham yang lebih besar daripada hembusan napas keluar; dan tidak pernah ada sesuatu yang diperoleh secara cuma-cuma.
Apa yang disebut sebagai ilham tertinggi adalah karya Yesus. Ia bekerja keras selama berabad-abad dalam kelahiran-kelahiran sebelumnya. Itu adalah hasil dari karyanya yang terdahulu — kerja keras. ... Sungguh tidak masuk akal membicarakan ilham. Andaikan ilham memang demikian, ia akan turun seperti hujan. Orang-orang yang mendapat ilham dalam bidang pemikiran mana pun hanya muncul di antara bangsa-bangsa yang memiliki pendidikan dan [budaya] yang merata. Tidak ada ilham. . . . Apa pun yang dianggap sebagai ilham adalah hasil yang berasal dari sebab-sebab yang sudah ada di dalam pikiran. Pada suatu hari, hasil itu muncul seperti kilat! Karya mereka di masa lalu adalah [sebabnya].
Di situ pun Anda melihat daya meditasi — intensitas pikiran. Orang-orang ini mengaduk-aduk jiwa mereka sendiri. Kebenaran-kebenaran agung pun muncul ke permukaan dan menjadi nyata. Oleh karena itu, praktik meditasi adalah metode pengetahuan yang ilmiah dan agung. Tidak ada pengetahuan tanpa daya meditasi. Dari kebodohan, takhayul, dan sebagainya kita dapat disembuhkan oleh meditasi untuk sementara waktu saja, tidak lebih. [Andaikan] seseorang telah mengatakan kepada saya bahwa apabila Anda meminum racun anu Anda akan mati, lalu orang lain datang pada malam hari dan berkata, "Pergilah, minumlah racun itu!" dan saya tidak mati, [yang terjadi adalah]: pikiran saya, melalui meditasi, memutuskan penyamaan antara racun dan diri saya hanya untuk sementara waktu. Pada kasus [meminum] racun yang lain, saya akan terbunuh.
Apabila saya mengetahui alasannya dan secara ilmiah mengangkat diri saya ke [keadaan meditasi] itu, saya dapat menyelamatkan siapa pun. Demikianlah yang dikatakan kitab-kitab; tetapi sejauh mana kebenarannya, Anda harus menilai sendiri.
Saya ditanya, "Mengapa kalian orang India tidak menaklukkan hal-hal ini? Kalian selalu mengaku lebih unggul daripada bangsa-bangsa lain. Kalian mempraktikkan Yoga dan melakukannya lebih cepat daripada siapa pun. Kalian lebih layak. Laksanakanlah! Apabila kalian bangsa yang besar, kalian seharusnya memiliki sistem yang besar pula. Kalian harus mengucapkan selamat tinggal kepada semua dewa. Biarlah mereka tertidur sementara kalian mengangkat para filsuf agung. Kalian masih seperti bayi-bayi, sama saja tahayulnya dengan dunia lainnya. Dan semua klaim kalian adalah kegagalan. Apabila kalian punya klaim, berdirilah dan bersikaplah berani, maka seluruh surga yang pernah ada akan menjadi milik kalian. Ada kijang kesturi dengan keharuman di dalam dirinya, namun ia tidak tahu dari mana keharuman itu [berasal]. Lalu setelah berhari-hari ia menemukannya di dalam dirinya sendiri. Semua dewa dan iblis itu ada di dalam diri mereka. Temukanlah, dengan kekuatan nalar, pendidikan, dan budaya, bahwa segalanya ada di dalam diri kalian sendiri. Tidak perlu lagi ada dewa-dewa dan takhayul. Kalian ingin menjadi rasional, menjadi Yogi, sungguh-sungguh rohani."
[Jawaban saya: Bagi Anda pun] segala sesuatu bersifat material. Apa yang lebih material daripada Tuhan yang duduk di atas sebuah singgasana? Anda memandang rendah orang miskin yang menyembah arca. Anda tidak lebih baik dari mereka. Dan kalian, para penyembah emas, kalian itu apa? Si penyembah arca menyembah dewanya, sesuatu yang dapat ia lihat. Tetapi Anda bahkan tidak melakukan hal itu. Anda tidak menyembah roh, dan juga tidak menyembah sesuatu yang dapat Anda pahami. ... Para penyembah kata! "Tuhan adalah roh!" Tuhan adalah roh dan harus disembah dalam roh dan keyakinan. Di manakah roh itu berdiam? Di atas pohon? Di atas awan? Apa maksud Anda dengan Tuhan adalah milik kita? Anda adalah roh itu. Itulah kepercayaan dasar yang pertama, yang tidak boleh Anda lepaskan. Saya adalah makhluk rohani. Ia ada di sana. Seluruh keahlian Yoga dan sistem meditasi ini, dan segalanya, hanyalah untuk menemukan Dia di sana.
Mengapa saya mengatakan semua ini sekarang? Sampai Anda menetapkan letaknya, Anda tidak dapat berbicara. Anda menetapkannya di surga dan di seluruh dunia, kecuali di tempat yang tepat. Saya adalah roh, dan oleh karena itu roh dari segala roh pasti ada di dalam jiwa saya. Mereka yang mengira ia berada di tempat lain adalah orang yang tidak tahu. Oleh karena itu, ia harus dicari di sini, di surga ini; seluruh surga yang pernah ada [berada di dalam diri saya sendiri]. Ada para bijak yang, karena mengetahui hal ini, mengarahkan pandangan mereka ke dalam dan menemukan roh dari segala roh di dalam roh mereka sendiri. Itulah ruang lingkup meditasi. Temukanlah kebenaran tentang Tuhan dan tentang jiwa Anda sendiri, dan dengan demikian mencapai pembebasan. ...
Kalian semua mengejar kehidupan, dan kita dapati bahwa itu adalah kebodohan. Ada sesuatu yang jauh lebih tinggi daripada kehidupan sekalipun. Kehidupan ini lebih rendah, bersifat material. Mengapa saya harus hidup sama sekali? Saya adalah sesuatu yang lebih tinggi daripada kehidupan. Hidup selalu merupakan perbudakan. Kita selalu menjadi kacau. ... Segala sesuatu adalah rantai perbudakan yang berkelanjutan.
Anda memperoleh sesuatu, dan tidak seorang pun dapat mengajari yang lain. Melalui pengalamanlah [kita belajar]. ... Pemuda itu tidak dapat diyakinkan bahwa ada kesulitan-kesulitan dalam hidup. Anda tidak dapat meyakinkan orang tua bahwa hidup itu seluruhnya mulus. Ia telah mengalami banyak hal. Itulah perbedaannya.
Dengan daya meditasi kita harus mengendalikan, selangkah demi selangkah, semua hal ini. Kita telah melihat secara filosofis bahwa semua pembedaan ini — roh, pikiran, materi, dan sebagainya — [tidak memiliki keberadaan yang sesungguhnya. ... Apa pun yang ada adalah satu. Tidak mungkin ada banyak. Itulah yang dimaksud dengan ilmu dan pengetahuan. Kebodohan melihat keanekaragaman. Pengetahuan menyadari kesatuan. ... Mereduksi yang banyak menjadi yang satu itulah ilmu. ... Seluruh alam semesta telah dibuktikan menjadi satu. Ilmu itu disebut ilmu Wedanta. Seluruh alam semesta adalah satu. Yang satu itu mengalir melalui seluruh keanekaragaman yang tampak ini. ...
Kita memiliki semua variasi ini sekarang, dan kita melihatnya — apa yang kita sebut lima unsur: padat, cair, gas, bercahaya, dan eter. Setelah itu, keadaan eksistensi bersifat mental, dan di luarnya bersifat rohani. Bukan berarti roh adalah satu hal dan pikiran adalah hal lain, eter hal lain, dan seterusnya. Itu adalah satu eksistensi yang menampakkan diri dalam semua variasi ini. Untuk kembali, yang padat harus menjadi cair. Sebagaimana [unsur-unsur itu berevolusi] demikian pula mereka harus kembali. Yang padat akan menjadi cair, lalu beralih menjadi eter. Inilah gagasan tentang makrokosmos — dan semesta. Ada alam semesta eksternal dan roh semesta, pikiran, eter, gas, cahaya, cair, padat.
Demikian pula dengan pikiran. Saya persis sama dalam mikrokosmos. Saya adalah roh; saya adalah pikiran; saya adalah eter, padat, cair, gas. Yang ingin saya lakukan adalah kembali ke keadaan rohani saya. Tugas setiap individu adalah menjalani kehidupan alam semesta dalam satu kehidupan yang singkat ini. Dengan demikian manusia dapat menjadi bebas dalam kehidupan ini juga. Di dalam masa hidupnya yang singkat, ia akan memiliki kuasa untuk menjalani seluruh rentang kehidupan....
Kita semua berjuang. . . . Sekalipun kita tidak dapat mencapai Yang Mutlak, kita akan sampai di suatu tempat, dan itu akan jauh lebih baik daripada keadaan kita sekarang.
Meditasi terdiri atas praktik [melarutkan segala sesuatu ke dalam Realitas tertinggi — roh]. Yang padat meleleh menjadi cair, yang cair menjadi gas, gas menjadi eter, lalu menjadi pikiran, dan pikiran akan meleleh lenyap. Semuanya adalah roh.
Sebagian para Yogi mengaku bahwa tubuh ini dapat menjadi cair dan sebagainya. Anda akan mampu melakukan apa saja dengannya — membuatnya kecil, atau melewatkannya seperti gas menembus tembok ini — demikian klaim mereka. Saya tidak tahu. Saya belum pernah melihat siapa pun melakukannya. Tetapi hal itu tertulis di dalam kitab-kitab. Kita tidak memiliki alasan untuk tidak memercayai kitab-kitab itu.
Mungkin, sebagian dari kita akan mampu melakukannya dalam kehidupan ini juga. Ia datang seperti kilat, sebagai hasil dari karya kita di masa lalu. Siapa tahu, sebagian dari yang hadir di sini adalah para Yogi tua yang hanya tinggal sedikit lagi untuk menyelesaikan seluruh karyanya. Praktikkanlah!
Meditasi, perlu Anda ketahui, datang melalui suatu proses imajinasi. Anda melewati semua proses pemurnian unsur-unsur ini — membuat yang satu meleleh ke dalam yang lain, dan yang itu meleleh ke dalam yang lebih tinggi lagi, lalu yang itu ke dalam pikiran, dan yang itu ke dalam roh, dan kemudian Anda adalah roh itu.
Roh selalu bebas, mahakuasa, dan mahatahu. Tentu saja, di bawah Tuhan. Tidak mungkin ada banyak Tuhan. Jiwa-jiwa yang telah terbebaskan ini luar biasa berkuasa, hampir mahakuasa. [Namun] tidak ada satu pun yang dapat sekuat Tuhan. Apabila satu [jiwa yang terbebaskan] berkata, "Saya akan membuat planet ini bergerak ke arah ini", lalu yang lain berkata, "Saya akan membuatnya bergerak ke arah itu", [maka akan terjadi kekacauan].
Janganlah Anda membuat kesalahan ini! Ketika saya mengatakan dalam bahasa Inggris, "Saya adalah Tuhan!" itu karena saya tidak menemukan kata yang lebih baik. Dalam bahasa Sanskerta, Tuhan berarti eksistensi mutlak, pengetahuan mutlak, dan kebijaksanaan mutlak, kesadaran tanpa batas yang bercahaya sendiri. Bukan seorang pribadi. Ia tanpa pribadi. ...
Saya tidak pernah menjadi Rama [tidak pernah satu dengan Iswara, aspek pribadi dari Tuhan], tetapi saya [satu dengan Brahman, eksistensi yang tanpa pribadi dan meresapi segalanya]. Di sini ada segumpal besar tanah liat. Dari tanah liat itu saya membuat seekor [tikus] kecil dan Anda membuat seekor [gajah] kecil. Keduanya adalah tanah liat. Lelehkan keduanya. Pada hakikatnya mereka adalah satu. "Aku dan Bapa adalah satu." [Tetapi tikus dari tanah liat tidak akan pernah bisa menjadi satu dengan gajah dari tanah liat itu.]
Saya berhenti di suatu titik; saya memiliki sedikit pengetahuan. Anda sedikit lebih banyak; Anda berhenti di suatu titik yang lain. Ada satu jiwa yang merupakan yang teragung dari semuanya. Inilah Iswara, Tuhan dari Yoga [Tuhan sebagai Pencipta, dengan sifat-sifat]. Ia adalah pribadi itu. Ia mahakuasa. Ia bersemayam di dalam setiap hati. Tidak ada tubuh. Ia tidak memerlukan tubuh. Segala yang Anda peroleh melalui praktik meditasi dan sebagainya, dapat Anda peroleh melalui meditasi terhadap Iswara, Tuhan dari para Yogi. ...
Hal yang sama dapat dicapai melalui meditasi terhadap seorang jiwa agung; atau terhadap keselarasan kehidupan. Meditasi semacam ini disebut meditasi objektif. Maka Anda mulai bermeditasi terhadap hal-hal eksternal tertentu, hal-hal yang objektif, baik di luar maupun di dalam. Apabila Anda mengambil sebuah kalimat yang panjang, itu sama sekali bukan meditasi. Itu sekadar usaha mengumpulkan pikiran melalui pengulangan. Meditasi berarti pikiran diarahkan kembali kepada dirinya sendiri. Pikiran menghentikan semua [gelombang-pikiran], lalu dunia pun berhenti. Kesadaran Anda meluas. Setiap kali Anda bermeditasi, Anda akan mempertahankan pertumbuhan Anda. ... Bekerjalah sedikit lebih keras, lebih dan lebih lagi, maka meditasi akan datang. Anda tidak merasakan tubuh atau hal lain apa pun. Ketika Anda keluar darinya setelah satu jam, Anda telah memperoleh istirahat yang paling indah yang pernah Anda alami dalam hidup Anda. Hanya itulah satu-satunya cara Anda pernah memberikan istirahat kepada sistem Anda. Bahkan tidur yang paling dalam pun tidak akan memberi Anda istirahat seperti itu. Pikiran terus melompat-lompat bahkan dalam tidur yang paling dalam. Hanya beberapa menit [dalam meditasi] itu, otak Anda nyaris berhenti. Hanya sedikit daya hidup yang tetap dipertahankan. Anda melupakan tubuh. Anda boleh dipotong-potong dan tidak akan merasakannya sama sekali. Anda merasakan kenikmatan yang demikian. Anda menjadi sangat ringan. Istirahat yang sempurna inilah yang akan kita peroleh di dalam meditasi.
Kemudian, meditasi terhadap berbagai objek. Ada meditasi terhadap berbagai pusat sepanjang tulang belakang. [Menurut para Yogi, ada dua saraf di dalam kolom tulang belakang, yang disebut Ida dan Pingala. Keduanya adalah saluran utama yang dilalui oleh arus aferen dan eferen.] [Saluran berongga yang disebut Sushumna] berjalan di tengah-tengah kolom tulang belakang. Para Yogi mengaku bahwa saluran ini tertutup, tetapi dengan daya meditasi ia harus dibuka. Energinya harus dikirim ke [dasar tulang belakang], dan Kundalini pun bangkit. Dunia akan diubah. ...
Ribuan makhluk ilahi berdiri di sekeliling Anda. Anda tidak melihat mereka karena dunia kita ditentukan oleh indra-indra kita. Kita hanya dapat melihat sisi luar ini. Marilah kita menyebutnya X. Kita melihat X tersebut menurut keadaan mental kita. Mari kita ambil contoh pohon yang berdiri di luar. Seorang pencuri datang, lalu apa yang ia lihat pada tunggul itu? Seorang polisi. Anak kecil melihat hantu yang besar. Seorang pemuda sedang menanti kekasihnya, dan apa yang ia lihat? Kekasihnya. Padahal tunggul pohon itu tidak berubah. Ia tetap sama. Inilah Tuhan sendiri, dan dengan kebodohan kita, kita melihat-Nya sebagai manusia, sebagai debu, sebagai bisu, sebagai sengsara.
Mereka yang memiliki susunan jiwa yang serupa akan secara alami berkelompok bersama dan hidup di dunia yang sama. Dengan kata lain, Anda hidup di tempat yang sama. Semua surga dan semua neraka ada tepat di sini. Sebagai contoh: [ambil bidang-bidang dalam bentuk] lingkaran-lingkaran besar yang saling memotong pada titik-titik tertentu. . . . Pada bidang ini, di dalam satu lingkaran, kita dapat bersentuhan dengan titik tertentu di [lingkaran] yang lain. Apabila pikiran sampai ke pusatnya, Anda mulai menjadi sadar pada semua bidang. Di dalam meditasi, kadang-kadang Anda menyentuh bidang lain, lalu Anda melihat makhluk-makhluk lain, roh-roh yang tidak bertubuh, dan sebagainya. Anda sampai ke sana dengan daya meditasi. Daya ini, Anda lihat, sedang mengubah indra-indra kita, memurnikan indra-indra kita. Apabila Anda mulai mempraktikkan meditasi selama lima hari, Anda akan merasakan rasa sakit dari dalam pusat-pusat [kesadaran] ini, dan pendengaran [menjadi lebih halus]. ...Itulah sebabnya semua dewa di India memiliki tiga mata. Itulah mata batin yang terbuka dan menampakkan kepada Anda hal-hal yang rohani.
Sebagaimana daya Kundalini ini naik dari satu pusat ke pusat lainnya di tulang belakang, ia mengubah indra-indra, dan Anda mulai melihat dunia ini secara lain. Itulah surga. Anda tidak dapat berbicara. Kemudian Kundalini turun kembali ke pusat-pusat yang lebih rendah. Anda kembali menjadi manusia, hingga Kundalini mencapai otak, semua pusat telah dilewati, dan seluruh penglihatan itu lenyap, dan Anda [mencerap] . . . tidak ada apa pun selain satu eksistensi itu. Anda adalah Tuhan. Segala surga Anda buat dari-Nya, segala dunia berasal dari-Nya. Ia adalah satu-satunya eksistensi. Tidak ada yang lain yang sungguh-sungguh ada.
Catatan
English
MEDITATION
(Delivered at the Washington Hall, San Francisco, April 3, 1900)
Meditation has been laid stress upon by all religions. The meditative state of mind is declared by the Yogis to be the highest state in which the mind exists. When the mind is studying the external object, it gets identified with it, loses itself. To use the simile of the old Indian philosopher: the soul of man is like a piece of crystal, but it takes the colour of whatever is near it. Whatever the soul touches ... it has to take its colour. That is the difficulty. That constitutes the bondage. The colour is so strong, the crystal forgets itself and identifies itself with the colour. Suppose a red flower is near the crystal and the crystal takes the colour and forgets itself, thinks it is red. We have taken the colour of the body and have forgotten what we are. All the difficulties that follow come from that one dead body. All our fears, all worries, anxieties, troubles, mistakes, weakness, evil, are from that one great blunder — that we are bodies. This is the ordinary person. It is the person taking the colour of the flower near to it. We are no more bodies than the crystal is the red flower.
The practice of meditation is pursued. The crystal knows what it is, takes its own colour. It is meditation that brings us nearer to truth than anything else. ...
In India two persons meet. In English they say, "How do you do?" The Indian greeting is, "Are you upon yourself?" The moment you stand upon something else, you run the risk of being miserable. This is what I mean by meditation — the soul trying to stand upon itself. That state must surely be the healthiest state of the soul, when it is thinking of itself, residing in its own glory. No, all the other methods that we have — by exciting emotions, prayers, and all that — really have that one end in view. In deep emotional excitement the soul tries to stand upon itself. Although the emotion may arise from anything external, there is concentration of mind.
There are three stages in meditation. The first is what is called [Dhâranâ], concentrating the mind upon an object. I try to concentrate my mind upon this glass, excluding every other object from my mind except this glass. But the mind is wavering . . . When it has become strong and does not waver so much, it is called [Dhyâna], meditation. And then there is a still higher state when the differentiation between the glass and myself is lost — [Samâdhi or absorption]. The mind and the glass are identical. I do not see any difference. All the senses stop and all powers that have been working through other channels of other senses [are focused in the mind]. Then this glass is under the power of the mind entirely. This is to be realised. It is a tremendous play played by the Yogis. ... Take for granted, the external object exists. Then that which is really outside of us is not what we see. The glass that I see is not the external object certainly. That external something which is the glass I do not know and will never know.
Something produces an impression upon me. Immediately I send the reaction towards that, and the glass is the result of the combination of these two. Action from outside — X. Action from inside — Y. The glass is XY. When you look at X, call it external world — at Y, internal world . . . If you try to distinguish which is your mind and which is the world — there is no such distinction. The world is the combination of you and something else. ...
let us take another example. You are dropping stones upon the smooth surface of a lake. Every stone you drop is followed by a reaction. The stone is covered by the little waves in the lake. Similarly, external things are like the stones dropping into the lake of the mind. So we do not really see the external . . .; we see the wave only. . . .
These waves that rise in the mind have caused many things outside. We are not discussing the [merits of] idealism and realism. We take for granted that things exist outside, but what we see is different from things that exist outside, as we see what exists outside plus ourselves.
Suppose I take my contribution out of the glass. What remains? Almost nothing. The glass will disappear. If I take my contribution from the table, what would remain of the table? Certainly not this table, because it was a mixture of the outside plus my contribution. The poor lake has got to throw the wave towards the stone whenever [the stone] is thrown in it. The mind must create the wave towards any sensation. Suppose . . . we can withhold the mind. At once we are masters. We refuse to contribute our share to all these phenomena.... If I do not contribute my share, it has got to stop.
You are creating this bondage all the time. How? By putting in your share. We are all making our own beds, forging our own chains.... When the identifying ceases between this external object and myself, then I will be able to take my contribution off, and this thing will disappear. Then I will say, "Here is the glass", and then take my mind off, and it disappears.... If you can take away your share, you can walk upon water. Why should it drown you any more? What of poison? No more difficulties. In every phenomenon in nature you contribute at least half, and nature brings half. If your half is taken off, the thing must stop.
... To every action there is equal reaction.... If a man strikes me and wounds me it is that man's actions and my body's reaction. ... Suppose I have so much power over the body that I can resist even that automatic action. Can such power be attained? The books say it can. ... If you stumble on [it], it is a miracle. If you learn it scientifically, it is Yoga.
I have seen people healed by the power of mind. There is the miracle worker. We say he prays and the man is healed. Another man says, "Not at all. It is just the power of the mind. The man is scientific. He knows what he is about."
The power of meditation gets us everything. If you want to get power over nature, [you can have it through meditation]. It is through the power of meditation all scientific facts are discovered today. They study the subject and forget everything, their own identity and everything, and then the great fact comes like a flash. Some people think that is inspiration. There is no more inspiration than there is expiration; and never was anything got for nothing.
The highest so-called inspiration was the work of Jesus. He worked hard for ages in previous births. That was the result of his previous work — hard work. ... It is all nonsense to talk about inspiration. Had it been, it would have fallen like rain. Inspired people in any line of thought only come among nations who have general education and [culture]. There is no inspiration. . . . Whatever passes for inspiration is the result that comes from causes already in the mind. One day, flash comes the result! Their past work was the [cause].
Therein also you see the power of meditation — intensity of thought. These men churn up their own souls. Great truths come to the surface and become manifest. Therefore the practice of meditation is the great scientific method of knowledge. There is no knowledge without the power of meditation. From ignorance, superstition, etc. we can get cured by meditation for the time being and no more. [Suppose] a man has told me that if you drink such a poison you will be killed, and another man comes in the night and says, "Go drink the poison!" and I am not killed, [what happens is this: ] my mind cut out from the meditation the identity between the poison and myself just for the time being. In another case of [drinking] the poison, I will be killed.
If I know the reason and scientifically raise myself up to that [state of meditation], I can save anyone. That is what the books say; but how far it is correct you must appraise.
I am asked, "Why do you Indian people not conquer these things? You claim all the time to be superior to all other people. You practice Yoga and do it quicker than anybody else. You are fitter. Carry it out! If you are a great people, you ought to have a great system. You will have to say good-bye to all the gods. Let them go to sleep as you take up the great philosophers. You are mere babies, as superstitious as the rest of the world. And all your claims are failures. If you have the claims, stand up and be bold, and all the heaven that ever existed is yours. There is the musk deer with fragrance inside, and he does not know where the fragrance [comes from]. Then after days and days he finds it in himself. All these gods and demons are within them. Find out, by the powers of reason, education, and culture that it is all in yourself. No more gods and superstitions. You want to be rational, to be Yogis, really spiritual."
[My reply is: With you too] everything is material What is more material than God sitting on a throne? You look down upon the poor man who is worshipping the image. You are no better. And you, gold worshippers, what are you? The image worshipper worships his god, something that he can see. But you do not even do that. You do not worship the spirit nor something that you can understand. ... Word worshippers! "God is spirit!" God is spirit and should be worshipped in spirit and faith. Where does the spirit reside? On a tree? On a cloud? What do you mean by God being ours? You are the spirit. That is the first fundamental belief you must never give up. I am the spiritual being. It is there. All this skill of Yoga and this system of meditation and everything is just to find Him there.
Why am I saying all this just now? Until you fix the location, you cannot talk. You fix it up in heaven and all the world ever except in the right place. I am spirit, and therefore the spirit of all spirits must be in my soul. Those who think it anywhere else are ignorant. Therefore it is to be sought here in this heaven; all the heaven that ever existed [is within myself]. There are some sages who, knowing this, turn their eyes inward and find the spirit of all spirits in their own spirit. That is the scope of meditation. Find out the truth about God and about your own soul and thus attain to liberation. ...
You are all running after life, and we find that is foolishness. There is something much higher than life even. This life is inferior, material. Why should I live at all? I am something higher than life. Living is always slavery. We always get mixed up. ... Everything is a continuous chain of slavery.
You get something, and no man can teach another. It is through experience [we learn]. ... That young man cannot be persuaded that there are any difficulties in life. You cannot persuade the old man that life is all smooth. He has had many experiences. That is the difference.
By the power of meditation we have got to control, step by step, all these things. We have seen philosophically that all these differentiations — spirit, mind, matter, etc. — [have no real existences. ... Whatever exists is one. There cannot be many. That is what is meant by science and knowledge. Ignorance sees manifold. Knowledge realises one. ... Reducing the many into one is science. ... The whole of the universe has been demonstrated into one. That science is called the science of Vedanta. The whole universe is one. The one runs through all this seeming variety. ...
We have all these variations now and we see them — what we call the five elements: solid, liquid, gaseous, luminous, ethereal. After that the state of existence is mental and beyond that spiritual. Not that spirit is one and mind is another, ether another, and so on. It is the one existence appearing in all these variations. To go back, the solid must become liquid. The way [the elements evolved] they must go back. The solids will become liquid, etherised. This is the idea of the macrocosm — and universal. There is the external universe and universal spirit, mind, ether, gas, luminosity, liquid, solid.
The same with the mind. I am just exactly the same in the microcosm. I am the spirit; I am mind; I am the ether, solid, liquid, gas. What I want to do is to go back to my spiritual state. It is for the individual to live the life of the universe in one short life. Thus man can be free in this life. He in his own short lifetime shall have the power to live the whole extent of life....
We all struggle. . . . If we cannot reach the Absolute, we will get somewhere, and it will be better than we are now.
Meditation consists in this practice [of dissolving every thing into the ultimate Reality — spirit]. The solid melts into liquid, that into gas, gas into ether, then mind, and mind will melt away. All is spirit.
Some of the Yogis claim that this body will become liquid etc. You will be able to do any thing with it — make it little, or gas pass through this wall — they claim. I do not know. I have never seen anybody do it. But it is in the books. We have no reason to disbelieve the books.
Possibly, some of us will be able to do it in this life. Like a flash it comes, as the result of our past work. Who knows but some here are old Yogis with just a little to do to finish the whole work. Practice!
Meditation, you know, comes by a process imagination. You go through all these processes purification of the elements — making the one melt the other, that into the next higher, that into mind, that into spirit, and then you are spirit.
Spirit is always free, omnipotent, omniscient. Of course, under God. There cannot be many Gods. These liberated souls are wonderfully powerful, almost omnipotent. [But] none can be as powerful as God. If one [liberated soul] said, "I will make this planet go this way", and another said, "I will make it go that way", [there would be confusion].
Don't you make this mistake! When I say in English, "I am God!" it is because I have no better word. In Sanskrit, God means absolute existence, knowledge, and wisdom, infinite self-luminous consciousness. No person. It is impersonal. ...
I am never Râma [never one with Ishvara, the personal aspect of God], but I am [one with Brahman, the impersonal, all-pervading existence]. Here is a huge mass of clay. Out of that clay I made a little [mouse] and you made a little [elephant]. Both are clay. Melt both down They are essentially one. "I and my Father are one." [But the clay mouse can never be one with the clay elephant.]
I stop somewhere; I have a little knowledge. You a little more; you stop somewhere. There is one soul which is the greatest of all. This is Ishvara, Lord of Yoga [God as Creator, with attributes]. He is the individual. He is omnipotent. He resides in every heart. There is no body. He does not need a body. All you get by the practice of meditation etc., you can get by meditation upon Ishvara, Lord of Yogis. ...
The same can be attained by meditating upon a great soul; or upon the harmony of life. These are called objective meditations. So you begin to meditate upon certain external things, objective things, either outside or inside. If you take a long sentence, that is no meditation at all. That is simply trying to get the mind collected by repetition. Meditation means the mind is turned back upon itself. The mind stops all the [thought-waves] and the world stops. Your consciousness expands. Every time you meditate you will keep your growth. ... Work a little harder, more and more, and meditation comes. You do not feel the body or anything else. When you come out of it after the hour, you have had the most beautiful rest you ever had in your life. That is the only way you ever give rest to your system. Not even the deepest sleep will give you such rest as that. The mind goes on jumping even in deepest sleep. Just those few minutes [in meditation] your brain has almost stopped. Just a little vitality is kept up. You forget the body. You may be cut to pieces and not feel it at all. You feel such pleasure in it. You become so light. This perfect rest we will get in meditation.
Then, meditation upon different objects. There are meditations upon different centres of the spine. [According to the Yogis, there are two nerves in the spinal column, called Idâ and Pingalâ.They are the main channels through which the afferent and efferent currents travel.] The hollow [canal called Sushumnâ] runs through the middle of the spinal column. The Yogis claim this cord is closed, but by the power of meditation it has to be opened. The energy has to be sent down to [the base of the spine], and the Kundalini rises. The world will be changed. ...
Thousands of divine beings are standing about you. You do not see them because our world is determined by our senses. We can only see this outside. Let us call it X. We see that X according to our mental state. Let us take the tree standing outside. A thief came and what did he see in the stump? A policeman. The child saw a huge ghost. The young man was waiting for his sweetheart, and what did he see? His sweetheart. But the stump of the tree had not changed. It remained the same. This is God Himself, and with our foolishness we see Him to be man, to be dust, to be dumb, miserable.
Those who are similarly constituted will group together naturally and live in the same world. Otherwise stated, you live in the same place. All the heavens and all the hells are right here. For example: [take planes in the form of] big circles cutting each other at certain points. . . . On this plane in one circle we can be in touch with a certain point in another [circle]. If the mind gets to the centre, you begin to be conscious on all planes. In meditation sometimes you touch another plane, and you see other beings, disembodied spirits, and so on. You get there by the power of meditation. This power is changing our senses, you see, refining our senses. If you begin to practise meditation five days, you will feel the pain from within these centres [of conciousness] and hearing [becomes finer]. ...That is why all the Indian gods have three eyes.That is the psychic eye that opens out and shows you spiritual things.
As this power of Kundalini rises from one centre to the other in the spine, it changes the senses and you begin to see this world another. It is heaven. You cannot talk. Then the Kundalini goes down to the lower centres. You are again man until the Kundalini reaches the brain, all the centres have been passed, and the whole vision vanishes and you [perceive] . . . nothing but the one existence. You are God. All heavens you make out of Him, all worlds out of Him. He is the one existence. Nothing else exists.
Notes
Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.