Agama yang Menjadi Tempat Kita Dilahirkan
Terjemahan ini dihasilkan dengan bantuan AI dan dapat mengandung kesalahan. Untuk teks rujukan, harap merujuk pada teks asli berbahasa Inggris.
AI-translated. May contain errors. For accurate text, refer to the original English.
Bahasa Indonesia
AGAMA TEMPAT KITA DILAHIRKAN
Pada pertemuan terbuka yang diadakan di Dacca, pada tanggal 31 Maret 1901, Swamiji berbicara dalam bahasa Inggris selama dua jam tentang pokok bahasan di atas di hadapan hadirin yang sangat besar. Berikut ini adalah terjemahan ceramah tersebut dari laporan berbahasa Bengali oleh seorang murid:
Di masa lampau yang jauh, negeri kita menorehkan kemajuan-kemajuan raksasa dalam gagasan-gagasan spiritual. Marilah hari ini, kita hadirkan sejarah purba itu di hadapan mata batin kita. Namun ada satu bahaya besar dalam bermenung atas keagungan masa lampau yang sudah lama berlalu, yaitu bahwa kita berhenti berupaya untuk hal-hal yang baru, dan merasa cukup dengan hanya bervegetasi di atas kemuliaan leluhur yang telah berlalu itu serta membanggakan diri karenanya. Kita harus menjaga diri agar tidak terjebak demikian. Pada zaman dahulu memang, tidak diragukan lagi, ada banyak rishi (peresi/pelihat Weda) dan maharshi yang berhadapan muka dengan Kebenaran. Akan tetapi, jika mengenang keagungan purba kita ini hendak benar-benar bermanfaat, kita pun harus menjadi rishi seperti mereka. Bahkan, bukan hanya itu, saya berkeyakinan teguh bahwa kita akan menjadi rishi yang lebih besar daripada siapa pun yang ditampilkan oleh sejarah kita. Di masa silam, capaian-capaian kita memang gemilang — saya bermegah karenanya, dan saya merasa bangga ketika memikirkannya. Saya bahkan tidak putus asa melihat kemerosotan saat ini, dan saya penuh harap dalam membayangkan apa yang akan datang di masa depan. Mengapa? Sebab saya tahu bahwa benih mengalami transformasi yang sempurna; ya, benih sebagai benih seolah-olah hancur lebih dahulu sebelum tumbuh menjadi pohon. Demikian pula, di tengah kemerosotan kita saat ini bersemayam, hanya tertidur untuk sementara waktu, potensi keagungan masa depan agama kita, siap untuk bangkit kembali, barangkali lebih perkasa dan lebih mulia daripada sebelumnya.
Sekarang marilah kita pertimbangkan apakah landasan-landasan umum kesepakatan dalam agama tempat kita dilahirkan. Pada pandangan pertama, tidak dapat disangkal bahwa kita menjumpai pelbagai perbedaan di antara mazhab-mazhab kita. Sebagian adalah penganut Adwaita, sebagian penganut Wisistadwaita, dan yang lain penganut Dwaita. Sebagian percaya pada Penjelmaan-penjelmaan Tuhan, sebagian pada pemujaan arca, sementara yang lain adalah pendukung doktrin Yang Tanpa Wujud. Lalu mengenai kebiasaan pun, diketahui terdapat pelbagai perbedaan. Orang-orang Jat tidak dianggap keluar kasta sekalipun mereka menikah dengan orang Muslim atau Kristen. Mereka dapat memasuki pura Hindu mana pun tanpa halangan. Di banyak desa di Punjab, orang yang tidak makan daging babi nyaris tidak akan dianggap sebagai seorang Hindu. Di Nepal, seorang brahmana dapat menikah di keempat warna; sedangkan di Bengal, seorang brahmana tidak boleh menikah bahkan di antara sub-bagian kastanya sendiri. Dan seterusnya. Namun di tengah segala perbedaan ini, kita melihat satu titik kesatuan di antara semua orang Hindu, yaitu bahwa tidak ada orang Hindu yang makan daging sapi. Demikian pula, terdapat suatu landasan kesatuan yang besar yang melandasi pelbagai bentuk dan mazhab agama kita.
Pertama, dalam membahas kitab-kitab suci, satu fakta menonjol secara mencolok — bahwa hanya agama-agama yang memiliki satu atau beberapa kitab suci mereka sendiri sebagai landasannya yang berkembang dengan lompatan-lompatan besar dan bertahan hingga hari ini, kendati segala penindasan dan penekanan yang dilancarkan terhadap mereka. Agama Yunani, dengan segala keindahannya, punah karena tidak adanya kitab suci yang menyokongnya; tetapi agama orang Yahudi berdiri dengan kekuatan yang tidak berkurang, karena berlandaskan otoritas Perjanjian Lama. Demikian pula halnya dengan agama Hindu, dengan kitab sucinya, Weda, yang tertua di dunia. Weda terbagi menjadi Karma Kanda dan Jnana Kanda. Entah baik atau buruk, Karma Kanda telah jatuh ke dalam ketidakgunaan di India, meskipun masih ada beberapa brahmana di Dekkan yang sesekali masih melaksanakan Yajna dengan pengorbanan kambing; dan kita juga menjumpai di sana-sini, jejak-jejak Kriya Kanda Weda dalam mantra-mantra yang digunakan sehubungan dengan upacara pernikahan dan Shraddha kita, dan lain-lain. Akan tetapi, tidak ada peluang bagi Karma Kanda untuk dipulihkan pada pijakannya yang asli. Kumarila Bhatta pernah mencoba melakukan itu, namun ia tidak berhasil dalam upayanya.
Jnana Kanda dari Weda mencakup Upanisad (risalah filsafat penutup Weda) dan dikenal dengan nama Vedanta (tradisi filsafat Vedanta), puncak dari Shruti, sebagaimana ia disebut. Di mana pun Anda menjumpai para Acharya mengutip sebuah petikan dari Shruti, kutipan itu tanpa kecuali berasal dari Upanisad. Vedanta kini merupakan agama orang Hindu. Jika ada mazhab di India yang ingin menetapkan gagasan-gagasannya dengan pegangan kuat pada rakyat, mazhab itu harus melandaskannya pada otoritas Vedanta. Mereka semua harus berbuat demikian, entah mereka penganut Dwaita atau Adwaita. Bahkan para Waisnawa pun harus pergi ke Gopalatapini Upanisad untuk membuktikan kebenaran teori mereka sendiri. Apabila sebuah mazhab baru tidak menemukan sesuatu pun di dalam Shruti sebagai penegasan gagasan-gagasannya, mazhab itu bahkan akan sejauh-jauhnya mengarang sebuah Upanisad baru, dan menjadikannya beredar sebagai salah satu karya asli yang lama. Telah banyak hal seperti itu di masa lalu.
Sekarang mengenai Weda, orang Hindu meyakini bahwa Weda bukan sekadar kitab-kitab yang disusun oleh manusia pada zaman jauh di masa silam. Mereka menganggapnya sebagai himpunan kebijaksanaan ilahi yang tiada akhir, yang kadang-kadang termanifestasi dan pada waktu lain tetap tak termanifestasi. Komentator Sayanacharya berkata di suatu tempat dalam karya-karyanya: यो वेदेभ्योऽखिलं जगत् निर्ममे — "Yang menciptakan seluruh alam semesta dari pengetahuan Weda". Tidak seorang pun pernah melihat penyusun Weda, dan tidak mungkin membayangkan ada satu. Para rishi hanyalah para penemu mantra-mantra atau Hukum-hukum Kekal; mereka semata-mata berhadapan muka dengan Weda, tambang pengetahuan yang tak terhingga, yang telah ada sejak waktu tanpa permulaan.
Siapakah para rishi ini? Vatsyayana berkata, "Ia yang telah mencapai melalui sarana yang tepat penyadaran langsung akan Dharma, ia sajalah yang dapat menjadi seorang rishi, sekalipun ia seorang Mleccha berdasarkan kelahirannya." Demikianlah pada zaman dahulu, Wasistha, yang lahir dari hubungan tidak sah, Vyasa, putra seorang perempuan nelayan, Narada, putra seorang hamba perempuan dengan asal-usul tidak pasti, dan banyak orang lain semacam itu mencapai status rishi. Sejujurnya berbicara, hal ini berujung pada satu hal, bahwa tidak boleh dibuat pembedaan terhadap seseorang yang telah menyadari Kebenaran. Jika orang-orang yang baru saja disebut itu semua menjadi rishi, maka, wahai para brahmana Kulin masa kini, betapa jauh lebih besarnya rishi yang dapat Anda jadikan diri Anda! Berjuanglah mengejar status rishi itu, jangan berhenti sebelum Anda mencapai tujuannya, dan seluruh dunia dengan sendirinya akan bersujud di kaki Anda! Jadilah seorang rishi — itulah rahasia kekuatan.
Weda ini adalah satu-satunya otoritas kita, dan setiap orang berhak atasnya.
यथेमां वाचं कल्याणीमावदानि जनेभ्यः।
ब्रह्मराजन्याभ्यां शूद्राय चार्याय च स्वाय चारणाय॥
यथेमां वाचं कल्याणीमावदानि जनेभ्यः।
ब्रह्मराजन्याभ्यां शूद्राय चार्याय च स्वाय चारणाय॥
— Demikianlah sabda Shukla Yajur-Weda (XXVI. 2). Dapatkah Anda menunjukkan otoritas mana pun dari Weda kita ini yang menyatakan bahwa tidak setiap orang berhak atasnya? Purana, tentu saja, mengatakan bahwa suatu kasta tertentu berhak atas resensi Weda tertentu, atau bahwa suatu kasta tertentu tidak berhak mempelajarinya, atau bahwa bagian Weda ini diperuntukkan bagi Satya Yuga dan bagian itu bagi Kali Yuga. Akan tetapi, ingatlah, Weda tidak mengatakan demikian; hanya Purana Anda saja yang mengatakannya. Tetapi dapatkah hamba mendikte tuannya? Smriti (tradisi yang diingat), Purana, Tantra — semua ini dapat diterima hanya sejauh ia bersesuaian dengan Weda; dan di mana pun mereka bertentangan, mereka harus ditolak sebagai tidak dapat diandalkan. Namun pada masa kini, kita telah menempatkan Purana pada kedudukan yang bahkan lebih tinggi daripada Weda! Kajian Weda nyaris lenyap dari Bengal. Betapa saya berharap bahwa hari itu akan segera datang ketika di setiap rumah Weda akan dipuja bersama dengan Shalagrama, Dewa rumah tangga, ketika kaum muda, kaum tua, dan kaum perempuan akan meresmikan pemujaan Weda!
Saya tidak memercayai teori-teori yang dikemukakan oleh para sarjana Barat berkenaan dengan Weda. Mereka hari ini menetapkan kepurbaan Weda pada periode tertentu, dan keesokan harinya kembali membongkarnya dan memajukannya seribu tahun, dan seterusnya. Akan tetapi, mengenai Purana, saya telah mengatakan kepada Anda bahwa kitab-kitab itu hanya berotoritas sejauh ia sesuai dengan Weda, jika tidak, maka tidak. Dalam Purana kita menjumpai banyak hal yang tidak sesuai dengan Weda. Sebagai contoh, tertulis dalam Purana bahwa seseorang hidup sepuluh ribu tahun, dan yang lain dua puluh ribu tahun, tetapi dalam Weda kita menemukan: शतायुर्वै पुरुषः — "Manusia memang hidup seratus tahun." Manakah yang harus kita terima dalam hal ini? Tentu saja Weda. Walaupun ada pernyataan-pernyataan seperti ini, saya tidak meremehkan Purana. Mereka mengandung banyak ajaran yang indah dan mencerahkan serta kata-kata kebijaksanaan tentang Yoga, Bhakti (pengabdian kasih), Jnana (pengetahuan spiritual), dan Karma (hukum tindakan dan akibatnya); itu semua, tentu saja, harus kita terima. Lalu ada Tantra. Arti sesungguhnya dari kata Tantra adalah Sastra, sebagaimana misalnya, Kapila Tantra. Akan tetapi kata Tantra umumnya digunakan dalam pengertian yang terbatas. Di bawah kekuasaan raja-raja yang menganut agama Buddha dan menyebarluaskan doktrin Ahimsa, pelaksanaan Yaga-Yajna Weda menjadi sesuatu yang lampau, dan tidak seorang pun dapat membunuh hewan dalam pengorbanan karena takut kepada raja. Tetapi kemudian di kalangan para penganut Buddha sendiri — yang merupakan orang-orang yang berpindah dari agama Hindu — bagian-bagian terbaik dari Yaga-Yajna ini diambil, dan dipraktikkan secara rahasia. Dari sinilah Tantra-tantra muncul. Kecuali beberapa hal yang menjijikkan dalam Tantra, seperti Wamacara dan sebagainya, Tantra tidak seburuk yang dianggap oleh banyak orang. Banyak pemikiran Vedanta yang tinggi dan luhur terkandung di dalamnya. Bahkan, bagian Brahmana dari Weda sedikit dimodifikasi dan dimasukkan ke dalam tubuh Tantra. Semua bentuk pemujaan dan upacara kita pada masa kini, yang mencakup Karma Kanda, dilaksanakan sesuai dengan Tantra.
Sekarang marilah kita membahas prinsip-prinsip agama kita sedikit. Walaupun ada perbedaan dan kontroversi yang ada di antara pelbagai mazhab kita, di dalamnya pun terdapat beberapa landasan kesatuan. Pertama, hampir semua mazhab mengakui keberadaan tiga hal — tiga entitas — Iswara (Tuhan personal), Atman (Diri sejati), dan Jagat. Iswara adalah Dia yang secara abadi menciptakan, memelihara, dan menghancurkan seluruh alam semesta. Kecuali para penganut Samkhya, semua yang lain percaya pada hal ini. Kemudian doktrin Atman dan kelahiran kembali jiwa; doktrin ini menyatakan bahwa jiwa-jiwa individu yang tak terhitung jumlahnya, setelah berkali-kali mengenakan tubuh demi tubuh, berputar-putar dalam roda kelahiran dan kematian sesuai dengan karma mereka masing-masing; inilah Samsaravada, atau yang umumnya disebut doktrin kelahiran kembali. Lalu ada Jagat atau alam semesta tanpa permulaan dan tanpa akhir. Walaupun sebagian memandang ketiganya sebagai aspek-aspek yang berbeda dari satu saja, dan sebagian lain sebagai tiga entitas yang jelas-jelas berbeda, dan yang lain lagi dengan pelbagai cara lain, namun mereka semua sepakat dalam memercayai ketiga hal ini.
Di sini saya hendak meminta Anda untuk mengingat bahwa orang Hindu, sejak zaman yang tak terkenang, mengetahui Atman sebagai terpisah dari manas, yakni pikiran. Akan tetapi, orang-orang Barat tidak pernah dapat terbang melampaui pikiran. Dunia Barat mengetahui alam semesta sebagai penuh dengan kebahagiaan, dan dengan demikian, baginya alam ini adalah tempat di mana mereka dapat menikmati sepuasnya; sedangkan dunia Timur dilahirkan dengan keyakinan bahwa Samsara ini, keberadaan yang selalu berubah ini, penuh dengan derita, dan dengan demikian, ia tidak lain hanyalah ketidaknyataan, tidak layak dijadikan tukar bagi jiwa demi kegembiraan dan kepemilikan yang fana. Justru karena alasan inilah, dunia Barat senantiasa sangat cekatan dalam tindakan yang terorganisasi, dan demikian pula dunia Timur senantiasa berani dalam pencarian misteri-misteri dunia batin.
Marilah, bagaimanapun juga, kita beralih sekarang kepada satu atau dua aspek lain dari agama Hindu. Ada doktrin Penjelmaan-penjelmaan Tuhan. Dalam Weda kita menjumpai penyebutan Matsya Avatara, yaitu Penjelmaan Ikan saja. Apakah semua orang memercayai doktrin ini atau tidak, bukanlah pokok persoalannya; akan tetapi makna sesungguhnya dari Avataravada ini adalah pemujaan Manusia — melihat Tuhan di dalam manusia adalah penglihatan Tuhan yang sejati. Orang Hindu tidak melalui alam menuju Tuhan alam — ia menuju Tuhan manusia melalui Manusia.
Lalu ada pemujaan arca. Kecuali lima Dewata yang harus dipuja dalam setiap Karma yang bertuah sebagaimana diperintahkan dalam Sastra kita, semua Dewata yang lain semata-mata adalah nama dari kondisi-kondisi tertentu yang mereka pegang. Akan tetapi sekali lagi, kelima Dewata ini tidak lain hanyalah nama-nama yang berbeda dari satu Tuhan Yang Esa. Pemujaan arca secara lahiriah ini, bagaimanapun, telah digambarkan dalam segala Sastra kita sebagai bentuk pemujaan yang paling rendah dari segala bentuk pemujaan yang rendah. Akan tetapi, hal itu tidak berarti bahwa melakukannya adalah hal yang keliru. Meskipun ada banyak ketidakadilan yang telah menyusup ke dalam praktik-praktik pemujaan arca sebagaimana yang sedang berlaku sekarang, saya tidak mengutuknya. Ya, di manakah saya akan berada jika saya tidak diberkati dengan debu kaki suci brahmana ortodoks pemuja arca itu!
Para pembaharu yang berkhotbah menentang pemujaan arca, atau apa yang mereka kecam sebagai penyembahan berhala — kepada mereka saya berkata: "Saudara-saudara, jika Anda layak memuja Tuhan-tanpa-wujud dengan membuang semua bantuan lahiriah, lakukanlah, tetapi mengapa Anda mengutuk orang lain yang tidak dapat melakukan hal yang sama? Sebuah bangunan yang indah dan besar, peninggalan mulia dari masa purba yang berusia uban, karena diabaikan atau tidak digunakan, telah jatuh ke dalam keadaan rusak; tumpukan kotoran dan debu mungkin tergeletak di mana-mana di dalamnya, barangkali, beberapa bagian sedang runtuh ke tanah. Apa yang akan Anda lakukan terhadapnya? Akankah Anda mengulurkan tangan untuk pembersihan dan perbaikan yang diperlukan dan dengan demikian memulihkan yang lama, ataukah Anda akan merobohkan seluruh bangunan itu hingga rata dengan tanah dan berusaha membangun yang lain di tempatnya, mengikuti rencana modern yang murahan yang keawetannya bahkan belum terbukti? Kita harus mereformasinya, yang sesungguhnya berarti membuatnya siap atau sempurna melalui pembersihan dan perbaikan yang diperlukan, bukan dengan merobohkan keseluruhannya. Di situlah fungsi reformasi berakhir. Ketika pekerjaan memperbarui yang lama telah selesai, apa keperluan lebih lanjut yang diembannya? Lakukanlah itu jika Anda mampu, jika tidak, lepaskan tangan!" Sekelompok pembaharu di negeri kita, sebaliknya, ingin membangun mazhab terpisah mereka sendiri. Mereka pun, bagaimanapun, telah melakukan pekerjaan yang baik; semoga berkat-berkat Tuhan dicurahkan ke atas kepala mereka! Tetapi mengapa Anda, orang-orang Hindu, ingin memisahkan diri Anda dari pelipatan bersama yang besar itu? Mengapa Anda merasa malu menyandang nama Hindu, yang merupakan kepunyaan Anda yang terbesar dan paling mulia? Bahtera bangsa kita ini, wahai anak-anak Yang Abadi, wahai sebangsaku, telah berlayar selama berabad-abad, membawa peradaban dan memperkaya seluruh dunia dengan harta-hartanya yang tak ternilai. Selama berpuluh-puluh abad yang gemilang, bahtera bangsa kita ini telah menyeberangi samudra kehidupan, dan telah membawa jutaan jiwa ke pantai yang seberang, melampaui segala derita. Akan tetapi hari ini ia barangkali telah bocor dan rusak, melalui kesalahan Anda sendiri atau sebab apa pun, tidaklah penting. Apakah yang akan Anda lakukan, Anda yang telah menempatkan diri Anda di dalamnya, sekarang? Akankah Anda berkeliling mengutuknya dan saling bertengkar di antara Anda sendiri! Tidakkah Anda semua bersatu padu dan mengerahkan upaya terbaik Anda untuk menyumbat lubang-lubangnya? Marilah kita semua dengan gembira mencurahkan darah hati kita untuk melakukan ini; dan jika kita gagal dalam upaya itu, marilah kita semua tenggelam dan mati bersama, dengan berkat dan bukan kutuk di bibir kita.
Dan kepada para brahmana saya berkata, "Sia-sialah kebanggaan Anda akan kelahiran dan keturunan. Lepaskanlah itu. Status kebrahmanaan, menurut Sastra Anda sendiri, tidak lagi Anda miliki sekarang, sebab Anda telah begitu lama hidup di bawah raja-raja Mleccha. Jika Anda sungguh-sungguh memercayai kata-kata leluhur Anda sendiri, maka pergilah saat ini juga dan lakukanlah penebusan dengan memasuki api yang dinyalakan secara perlahan oleh Tusha (sekam), seperti yang dilakukan Kumarila Bhatta tua itu, yang dengan maksud mengusir para penganut Buddha mula-mula menjadi murid mereka dan kemudian setelah mengalahkan mereka dalam perdebatan menjadi penyebab kematian banyak orang, dan kemudian memasuki Tushanala untuk menebus dosa-dosanya. Jika Anda tidak cukup berani melakukan itu, maka akuilah kelemahan Anda dan ulurkanlah tangan yang menolong, dan bukalah pintu-pintu pengetahuan bagi semua orang, dan berikanlah kepada massa rakyat yang terinjak-injak sekali lagi hak-hak dan keistimewaan-keistimewaan mereka yang adil dan sah."
English
THE RELIGION WE ARE BORN IN
At an open-air meeting convened at Dacca, on the 31st March, 1901, the Swamiji spoke in English for two hours on the above subject before a vast audience. The following is a translation of the lecture from a Bengali report of a disciple:
In the remote past, our country made gigantic advances in spiritual ideas. Let us, today, bring before our mind's eye that ancient history. But the one great danger in meditating over long-past greatness is that we cease to exert ourselves for new things, and content ourselves with vegetating upon that by-gone ancestral glory and priding ourselves upon it. We should guard against that. In ancient times there were, no doubt, many Rishis and Maharshis who came face to face with Truth. But if this recalling of our ancient greatness is to be of real benefit, we too must become Rishis like them. Ay, not only that, but it is my firm conviction that we shall be even greater Rishis than any that our history presents to us. In the past, signal were our attainments — I glory in them, and I feel proud in thinking of them. I am not even in despair at seeing the present degradation, and I am full of hope in picturing to my mind what is to come in the future. Why? Because I know the seed undergoes a complete transformation, ay, the seed as seed is seemingly destroyed before it develops into a tree. In the same way, in the midst of our present degradation lies, only dormant for a time, the potentiality of the future greatness of our religion, ready to spring up again, perhaps more mighty and glorious than ever before.
Now let us consider what are the common grounds of agreement in the religion we are born in. At first sight we undeniably find various differences among our sects. Some are Advaitists, some are Vishishtâdvaitists, and others are Dvaitists. Some believe in Incarnations of God, some in image-worship, while others are upholders of the doctrine of the Formless. Then as to customs also, various differences are known to exist. The Jâts are not outcasted even if they marry among the Mohammedans and Christians. They can enter into any Hindu temple without hindrance. In many villages in the Punjab, one who does not eat swine will hardly be considered a Hindu. In Nepal, a Brâhmin can marry in the four Varnas; while in Bengal, a Brahmin cannot marry even among the subdivisions of his own caste. So on and so forth. But in the midst of all these differences we note one point of unity among all Hindus, and it is this, that no Hindu eats beef. In the same way, there is a great common ground of unity underlying the various forms and sects of our religion.
First, in discussing the scriptures, one fact stands out prominently — that only those religions which had one or many scriptures of their own as their basis advanced by leaps and bounds and survive to the present day notwithstanding all the persecution and repression hurled against them. The Greek religion, with all its beauty, died out in the absence of any scripture to support it; but the religion of the Jews stands undiminished in its power, being based upon the authority of the Old Testament. The same is the case with the Hindu religion, with its scripture, the Vedas, the oldest in the world. The Vedas are divided into the Karma Kânda and the Jnâna Kânda. Whether for good or for evil, the Karma Kanda has fallen into disuse in India, though there are some Brahmins in the Deccan who still perform Yajnas now and then with the sacrifice of goats; and also we find here and there, traces of the Vedic Kriyâ Kânda in the Mantras used in connection with our marriage and Shrâddha ceremonies etc. But there is no chance of its being rehabilitated on its original footing. Kumârila Bhatta once tried to do so, but he was not successful in his attempt.
The Jnana Kanda of the Vedas comprises the Upanishads and is known by the name of Vedanta, the pinnacle of the Shrutis, as it is called. Wherever you find the Âchâryas quoting a passage from the Shrutis, it is invariably from the Upanishads. The Vedanta is now the religion of the Hindus. If any sect in India wants to have its ideas established with a firm hold on the people it must base them on the authority of the Vedanta. They all have to do it, whether they are Dvaitists or Advaitists. Even the Vaishnavas have to go to Gopâlatâpini Upanishad to prove the truth of their own theories. If a new sect does not find anything in the Shrutis in confirmation of its ideas, it will go even to the length of manufacturing a new Upanishad, and making it pass current as one of the old original productions. There have been many such in the past.
Now as to the Vedas, the Hindus believe that they are not mere books composed by men in some remote age. They hold them to be an accumulated mass of endless divine wisdom, which is sometimes manifested and at other times remains unmanifested. Commentator Sâyanâchârya says somewhere in his works यो वेदेभ्योऽखिलं जगत् निर्ममे — "Who created the whole universe out of the knowledge of the Vedas". No one has ever seen the composer of the Vedas, and it is impossible to imagine one. The Rishis were only the discoverers of the Mantras or Eternal Laws; they merely came face to face with the Vedas, the infinite mine of knowledge, which has been there from time without beginning.
Who are these Rishis? Vâtsyâyana says, "He who has attained through proper means the direct realisation of Dharma, he alone can be a Rishi even if he is a Mlechchha by birth." Thus it is that in ancient times, Vasishtha, born of an illegitimate union, Vyâsa, the son of a fisherwoman, Narada, the son of a maidservant with uncertain parentage, and many others of like nature attained to Rishihood. Truly speaking, it comes to this then, that no distinction should be made with one who has realised the Truth. If the persons just named all became Rishis, then, O ye Kulin Brahmins of the present day, how much greater Rishis you can become! Strive after that Rishihood, stop not till you have attained the goal, and the whole world will of itself bow at your feet! Be a Rishi — that is the secret of power.
This Veda is our only authority, and everyone has the right to it.
यथेमां वाचं कल्याणीमावदानि जनेभ्यः।
ब्रह्मराजन्याभ्यां शूद्राय चार्याय च स्वाय चारणाय॥
यथेमां वाचं कल्याणीमावदानि जनेभ्यः।
ब्रह्मराजन्याभ्यां शूद्राय चार्याय च स्वाय चारणाय॥
— Thus says the Shukla Yajur Veda (XXVI. 2). Can you show any authority from this Veda of ours that everyone has not the right to it? The Purânas, no doubt, say that a certain caste has the right to such and such a recension of the Vedas, or a certain caste has no right to study them, or that this portion of the Vedas is for the Satya Yuga and that portion is for the Kali Yuga. But, mark you, the Veda does not say so; it is only your Puranas that do so. But can the servant dictate to the master? The Smritis, Puranas, Tantras — all these are acceptable only so far as they agree with the Vedas; and wherever they are contradictory, they are to be rejected as unreliable. But nowadays we have put the Puranas on even a higher pedestal than the Vedas! The study of the Vedas has almost disappeared from Bengal. How I wish that day will soon come when in every home the Veda will be worshipped together with Shâlagrâma, the household Deity, when the young, the old, and the women will inaugurate the worship of the Veda!
I have no faith in the theories advanced by Western savants with regard to the Vedas. They are today fixing the antiquity of the Vedas at a certain period, and again tomorrow upsetting it and bringing it one thousand years forward, and so on. However, about the Puranas, I have told you that they are authoritative only in so far as they agree with the Vedas, otherwise not. In the Puranas we find many things which do not agree with the Vedas. As for instance, it is written in the Puranas that some one lived ten thousand years, another twenty thousand years, but in the Vedas we find: शतायुर्वै पुरुषः — "Man lives indeed a hundred years." Which are we to accept in this case? Certainly the Vedas. Notwithstanding statements like these, I do not depreciate the Puranas. They contain many beautiful and illuminating teachings and words of wisdom on Yoga, Bhakti, Jnâna, and Karma; those, of course, we should accept. Then there are the Tantras. The real meaning of the word Tantra is Shâstra, as for example, Kâpila Tantra. But the word Tantra is generally used in a limited sense. Under the sway of kings who took up Buddhism and preached broadcast the doctrine of Ahimsâ, the performances of the Vedic Yâga-Yajnas became a thing of the past, and no one could kill any animal in sacrifice for fear of the king. But subsequently amongst the Buddhists themselves — who were converts from Hinduism — the best parts of these Yaga-Yajnas were taken up, and practiced in secret. From these sprang up the Tantras. Barring some of the abominable things in the Tantras, such as the Vâmâchâra etc., the Tantras are not so bad as people are inclined to think. There are many high and sublime Vedantic thoughts in them. In fact, the Brâhmana portions of the Vedas were modified a little and incorporated into the body of the Tantras. All the forms of our worship and the ceremonials of the present day, comprising the Karma Kanda, are observed in accordance with the Tantras.
Now let us discuss the principles of our religion a little. Notwithstanding the differences and controversies existing among our various sects, there are in them, too, several grounds of unity. First, almost all of them admit the existence of three things — three entities — Ishvara, Atman, and the Jagat. Ishvara is He who is eternally creating, preserving and destroying the whole universe. Excepting the Sânkhyas, all the others believe in this. Then the doctrine of the Atman and the reincarnation of the soul; it maintains that innumerable individual souls, having taken body after body again and again, go round and round in the wheel of birth and death according to their respective Karmas; this is Samsâravâda, or as it is commonly called the doctrine of rebirth. Then there is the Jagat or universe without beginning and without end. Though some hold these three as different phases of one only, and some others as three distinctly different entities, and others again in various other ways, yet they are all unanimous in believing in these three.
Here I should ask you to remember that Hindus, from time immemorial, knew the Atman as separate from Manas, mind. But the Occidentals could never soar beyond the mind. The West knows the universe to be full of happiness, and as such, it is to them a place where they can enjoy the most; but the East is born with the conviction that this Samsara, this ever-changing existence, is full of misery, and as such, it is nothing, nothing but unreal, not worth bartering the soul for its ephemeral joys and possessions. For this very reason, the West is ever especially adroit in organised action, and so also the East is ever bold in search of the mysteries of the internal world.
Let us, however, turn now to one or two other aspects of Hinduism. There is the doctrine of the Incarnations of God. In the Vedas we find mention of Matsya Avatâra, the Fish Incarnation only. Whether all believe in this doctrine or not is not the point; the real meaning, however, of this Avatâravâda is the worship of Man — to see God in man is the real God-vision. The Hindu does not go through nature to nature's God — he goes to the God of man through Man.
Then there is image-worship. Except the five Devatâs who are to be worshipped in every auspicious Karma as enjoined in our Shastras, all the other Devatas are merely the names of certain states held by them. But again, these five Devatas are nothing but the different names of the one God Only. This external worship of images has, however, been described in all our Shastras as the lowest of all the low forms of worship. But that does not mean that it is a wrong thing to do. Despite the many iniquities that have found entrance into the practices of image-worship as it is in vogue now, I do not condemn it. Ay, where would I have been if I had not been blessed with the dust of the holy feet of that orthodox, image-worshipping Brahmin!
Those reformers who preach against image-worship, or what they denounce as idolatry — to them I say "Brothers, if you are fit to worship God-without-form discarding all external help, do so, but why do you condemn others who cannot do the same? A beautiful, large edifice, the glorious relic of a hoary antiquity has, out of neglect or disuse, fallen into a dilapidated condition; accumulations of dirt and dust may be lying everywhere within it, maybe, some portions are tumbling down to the ground. What will you do to it? Will you take in hand the necessary cleansing and repairs and thus restore the old, or will you pull the whole edifice down to the ground and seek to build another in its place, after a sordid modern plan whose permanence has yet to be established? We have to reform it, which truly means to make ready or perfect by necessary cleansing and repairs, not by demolishing the whole thing. There the function of reform ends. When the work of renovating the old is finished, what further necessity does it serve? Do that if you can, if not, hands off!" The band of reformers in our country want, on the contrary, to build up a separate sect of their own. They have, however, done good work; may the blessings of God be showered on their heads! But why should you, Hindus, want to separate yourselves from the great common fold? Why should you feel ashamed to take the name of Hindu, which is your greatest and most glorious possession? This national ship of ours, ye children of the Immortals, my countrymen, has been plying for ages, carrying civilisation and enriching the whole world with its inestimable treasures. For scores of shining centuries this national ship of ours has been ferrying across the ocean of life, and has taken millions of souls to the other shore, beyond all misery. But today it may have sprung a leak and got damaged, through your own fault or whatever cause it matters not. What would you, who have placed yourselves in it, do now? Would you go about cursing it and quarrelling among yourselves! Would you not all unite together and put your best efforts to stop the holes? Let us all gladly give our hearts' blood to do this; and if we fail in the attempt, let us all sink and die together, with blessings and not curses on our lips.
And to the Brahmins I say, "Vain is your pride of birth and ancestry. Shake it off. Brahminhood, according to your Shastras, you have no more now, because you have for so long lived under Mlechchha kings. If you at all believe in the words of your own ancestors, then go this very moment and make expiation by entering into the slow fire kindled by Tusha (husks), like that old Kumarila Bhatta, who with the purpose of ousting the Buddhists first became a disciple of the Buddhists and then defeating them in argument became the cause of death to many, and subsequently entered the Tushânala to expiate his sins. If you are not bold enough to do that, then admit your weakness and stretch forth a helping hand, and open the gates of knowledge to one and all, and give the downtrodden masses once more their just and legitimate rights and privileges."
Teks bersumber dari Wikisource, domain publik. Diterbitkan pertama kali oleh Advaita Ashrama.